EIKON Technology

penyerapan data

Cloud Computing, Google Cloud

Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud

Google BigQuery Write API resmi diluncurkan tahun 2021 lalu. Write API sendiri merupakan jalur penyerapan data pilihan BigQuery yang menawarkan batching dan streaming dengan performa tinggi dalam satu API terpadu. Apa saja keunggulannya? Mengenal fitur BigQuery Write API Sejak pertama diperkenalkan, BigQuery Write API terus melakukan penyempurnaan untuk meningkatkan performa dan kemampuan. Dengan begitu, pengguna pun lebih mudah menyerap data secara langsung ke BigQuery. Beberapa fitur tersebut di antaranya: Menyerap data langsung ke BigQuery tanpa harus menyusunnya di Google Cloud Storage terlebih dahulu sehingga menyederhanakan alur kerja. Menyalurkan pemrosesan data dan langsung membacanya, memungkinkan Anda membangun aplikasi data dengan latensi rendah dan respons cepat. Menjamin pengiriman tepat satu kali, yang memastikan Anda tidak perlu menulis logika deduplikasi khusus. Mendukung transaksi baris batch-level, memungkinkan percobaan ulang yang aman dan deteksi pembaruan skema. Menyerap data ke BigQuery Ada beberapa cara untuk menyerap data ke dalam penyimpanan terkelola BigQuery. Metode penyerapan spesifik akan tergantung pada workload Anda. Umumnya, disesuaikan untuk tugas pemuatan satu kali dan tugas batch berulang (karena latensi batch tidak menjadi masalah). Anda dapat menggunakan BigQuery Data Transfer Service atau BigQuery Load Jobs. Di samping itu, Anda juga bisa menggunakan BigQuery Write API. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah Dengan Resource Charts dan Slot Estimator Photo Credit: Google Cloud Blog Membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Job Sebelum BigQuery Write API diperkenalkan, penyerapan data bisa dilakukan melalui BigQuery Load Job atau Streaming API. Di manakah letak perbedaannya? Jika dibandingkan, ada beberapa perbandingan utama antara BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, yakni: Transaksi tingkat aliran: Pada BigQuery Write API, satu aliran hanya dapat dilakukan sekali, memungkinkan Anda melakukan percobaan ulang yang aman. Alur kerja yang lebih sederhana: Dengan menulis langsung ke penyimpanan BigQuery, Anda dapat menghindari mengekspor data ke Google Cloud Storage dan kemudian memuatnya ke BigQuery. Hal ini tidak bisa dilakukan pada BigQuery Load Jobs. SLO: BigQuery Write API memiliki tingkat SLO yang sama dengan BigQuery API lain yang ada seperti Query Jobs dan legacy Streaming API. Membandingkan BigQuery Write API dengan legacy Streaming API Jika poin sebelumnya membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, kali ini mari simak perbandingannya dengan legacy Streaming API. Beberapa perbandingan yang paling mudah dikenali di antaranya: Menulis idempotency: Streaming API lawas hanya mendukung deduplikasi pada periode waktu yang singkat (urutan beberapa menit). Namun, BigQuery Write API memastikan bahwa satu penambahan hanya dapat terjadi sekali pada offset tertentu pada aliran yang sama, sehingga menjamin idempotency penulisan. Throughput yang lebih tinggi: Write API memiliki kuota default tiga kali lebih banyak (3GB/detik) dibandingkan dengan legacy Streaming API (1GB/detik), menghasilkan throughput yang lebih tinggi dalam proses penyerapan data. Kuota tambahan dapat diberikan berdasarkan permintaan pengguna. Biaya lebih rendah: Biaya Write API per GB 50% lebih hemat dibandingkan dengan Streaming API lawas. Selain itu, karena BigQuery Write API telah mendukung proses batch sekaligus streaming terpadu, Anda tidak perlu lagi menggunakan API terpisah untuk menangani semua workloads dalam skala besar. Batch dan Streaming API terpadu Photo Credit: Piqsels Write API didukung oleh streaming backend baru. Dukungan tersebut membuat Write API dapat menangani throughput yang jauh lebih besar dengan keandalan data lebih baik dari backend lama. Backend baru tersebut merupakan adalah sistem penyimpanan terstruktur berskala exabyte di belakang BigQuery. Sistem tersebut dibuat untuk mendukung pemrosesan berbasis streaming, tepatnya untuk analisis streaming yang skalabel di semua mesin analitis di GCP. Tidak seperti pendahulunya yang dioptimalkan untuk pemrosesan batch mode, streaming backend baru ini memperlakukan streaming sebagai beban kerja kelas satu. Di samping itu, backend ini juga telah mendukung streaming dan pemrosesan real-time dengan tingkat throughput yang tinggi. Baca juga: Jenis Pemrosesan Data Perusahaan Bagi Anda yang memerlukan penyerapan data dengan proses batching dan streaming berperforma tinggi dalam satu API terpadu, BigQuery Write API bisa dijadikan pilihan. BigQuery akan bekerja lebih baik jika berada dalam ekosistem Google. Untuk itu, ada baiknya juga jika Anda menggunakan layanan komputasi awan dari Google saat menggunakanWrite API. Dapatkan layanan cloud yang didukung ekosistem Google lewat Google Cloud. Sekarang, Anda bisa mengelola Google Cloud yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Tim EIKON Technology yang merupakan authorized reseller Google di Indonesia, siap menyediakannya untuk Anda. Untuk informasi lebih lanjut, klik di siniv!

Info

Memahami 6 Prinsip Penyerapan Data Google Cloud

Transformasi digital membuat penyimpanan silo data beralih pada gudang data berbasis cloud, salah satunya dengan Google Cloud. Hal ini membuat kolaborasi antar unit bisnis serta akses data menjadi lebih mudah. Meski begitu, kemudahan ini juga disertai dengan problem baru yang berkaitan dengan penyerapan data.  Dengan terbukanya data dari berbagai unit bisnis, mau tak mau Anda harus mengembangkan pipeline untuk penyerapan data. Tanpa adanya pipeline ini, data hanya sekadar terbuka tanpa bisa diolah dan dikembangkan. Mengembangkan cloud pipeline, terutama yang berbasis cloud lokal, akan menyerap banyak data ke gudang data cloud Anda tanpa adanya hambatan yang berarti. Google melalui Google Cloud memiliki 6 prinsip yang bisa Anda terapkan dalam perancangan pipeline untuk penyerapan data. Mari simak pembahasannya berikut ini. Perjelas tujuan Anda Photo Credit: Rawpixel Sebelum mengembangkan pipeline untuk penyerapan data, buatlah tujuan yang sejelas mungkin. Anda bisa mulai dengan membuat gambaran mengenai hasil akhir yang ingin dicapai. Perlu diingat, pipeline hanyalah jalan untuk menuju garis akhir Anda dan bukan garis akhir itu sendiri. Katakanlah Anda menginginkan agar “bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan”. Coba buat lebih jelas dengan menentukan siapa subjek yang harus bisa “mendapat pemahaman” dan bagaimana cara untuk “mendapat pemahaman tersebut”. Dengan runtutan berpikir seperti ini, Anda bisa membuat tujuan yang lebih detail dan tentunya lebih relevan dengan pipeline penyerapan data. Rancangan tujuan awal tersebut pun kemudian akan berubah menjadi, “agar tim pengolah data bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dengan menyediakan akses ke data CRM.” Bangun tim Anda Berikutnya, bangun tim Anda. Pastikan Anda memilih orang dengan skill yang tepat, entah itu memiliki keahlian untuk mengembangkan, menerapkan, maupun memelihara data pipeline perusahaan. Bagaimana cara terbaik untuk membangun tim yang handal? Pelajari kembali tujauan Anda. Dari tujuan tersebut Anda bisa punya gambaran mengenai apa saja persyaratan yang diperlukan pipeline penyerapan data perusahaan. Persyaratan tersebut akan membantu Anda untuk mengidentifikasi SDM yang diperlukan sekaligus memperkirakan potensi kelemahan yang memerlukan dukungan tambahan dari pihak ketiga di luar perusahaan. Efisiensi waktu Photo Credit: Rawpixel Dalam mengembangkan pipeline untuk penyerapan data Anda juga harus mempertimbangkan efisiensi waktu. Coba hitung beban pemeliharaan jangka panjang dari pipeline penyerapan data Anda sebelum mengembangkan dan menerapkannya. Langkah ini akan membantu Anda untuk menerapkan pipeline yang efisien dan layak. Google Cloud merekomendasikan beberapa pendekatan untuk membangun pipeline yang efisien: Memanfaatkan produk penyerapan data berbasis interface dari Google Cloud. Dengan menggunakan produk semacam ini, Anda bisa mengurangi jumlah kode yang memerlukan pemeliharaan sekaligus mengurangi waktu pengembangan jalur pipeline. Beberapa produk yang bisa Anda pertimbangkan adalah Google Data Transfer Service serta Fivetran untuk mengelola pipeline penyerapan data dengan aplikasi SaaS. Gunakan template kode yang tersedia saat produk penyerapan data berbasis interface tidak mencukupi. Anda bisa menggunakan template yang tersedia untuk Dataflow. Template tersebut akan memungkinkan Anda untuk menentukan variabel dengan mudah dan hemat waktu. Jika kedua opsi di atas masih belum membantu, gunakan layanan untuk menerapkan kode pada pipeline Anda. Beberapa layanan tersebut di antaranya adalah Dataflow dan Dataproc. Cara ini akan mengurangi biaya operasional pengelolaan konfigurasi pipeline. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi data Prinsip keempat dari Google Cloud terkait dengan penyerapan data adalah meningkatkan kepercayaan dan transparansi data. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi bisa dilakukan dengan mengawasi serta mengelola pipeline pada seluruh tools yang Anda gunakan. Adanya banyak pipeline terkadang mengharuskan Anda untuk menerapkan beberapa alat yang berbeda. Sayangnya, hal ini bisa menyebabkan overhead manajemen pipeline karena jumlah jalur terus meningkat. Akan menjadi semakin rumit jika Anda memperhitungkann persyaratan untuk mengawasi saluran data. Anda bisa memanfaatkan layanan monitoring seperti Google Cloud Monitoring Service atau Splunk yang dapat menjalankan metrics, events, serta pengumpulan metadata dari beragam produk secara otomatis. Mengelola biaya Photo Credit: Rawpixel Menurut Google Cloud, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan terkait pengelolaan biaya yaitu: Memilih tools: Tiap jalur pipeline penyerapan data memiliki aturan tersendiri mengenai tingkat latensi, waktu aktif, hingga transformasi. Masing-masing jalur akan memiliki kecocokan dengan tools tertentu. Pastikan Anda memilih tools yang sesuai dengan masing-masing pipeline agar penggunaannya efisien. Terapkan pengendalian biaya: Apabila memang tersedia, jangan ragu untuk manfaatkan layanan pengendalian biaya untuk mencegah kesalahan yang menyebabkan biaya tambahan tak terduga. Catat pengeluaran cloud: Selalu catat pengeluaran Anda untuk seluruh pemanfaatan sumber daya cloud. Dengan begitu, Anda bisa memahami tiap perubahan dalam pembelanjaan cloud dan korelasinya dengan dinamika bisnis perusahaan. Manfaatkan layanan yang terus ditingkatkan Layanan Google Cloud secara konsisten melakukan peningkatan kinerja dan stabilitasnya. Dengan memanfaatkan peningkatan tersebut, pipeline data Anda bisa bekerja dengan optimal dan bahkan lebih efisien. Cara termudah untuk merasakan manfaat dari layanan ini adalah melakukan otomatisasi terhadap manajemen pipeline Anda. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi biaya operasional dari setiap jalur pipeline. Merancang pipeline yang efisien untuk penyerapan data memang tidak mudah, terlebih jika penyimpanan data Anda begitu luas. Anda bisa menerapkan prinsip pengelolaan pipeline dari Google Cloud di atas untuk membuat sekaligus mengelola pipeline dengan lebih optimal. Seluruh tools manajemen pipeline bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud official. Anda bisa berlangganan layanan Google Cloud yang resmi melalui EIKON Technology. EIKON Technology sendiri merupakan official partner Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Scroll to Top