EIKON Technology

Cloud Computing

Cloud Computing, Google Cloud

3 Kultur Kerja yang Dapat Memengaruhi Kesuksesan DevOps

DevOps adalah tentang alat, praktik, dan cara orang bekerja sama untuk menghadirkan perangkat lunak dengan cepat, andal, sekaligus aman. Riset yang dilakukan oleh tim DORA selama delapan tahun terakhir secara konsisten menunjukkan bahwa kultur kerja merupakan landasan bagi kesuksesan perusahaan dan kesejahteraan karyawannya. Data Google Cloud menunjukkan bahwa perusahaan dengan performa yang memenuhi tujuan kinerja dan profitabilitasnya, cenderung memiliki kultur kerja yang generatif. Laporan State of DevOps 2022 pun mendukung klaim ini. Pada awal tahun 2023 ini Google Cloud memeriksa tiga area utama yang berhubungan dengan dampak kultur kerja DevOps: Dampak pergeseran tatanan kerja yang terjadi sejak awal pandemi terhadap performa perusahaan. Apakah tingkat pergantian tim yang lebih tinggi berdampak pada performa perusahaan. Dampak dari kelelahan kerja karyawan. Pergeseran pengaturan kerja Photo Credit: tonodiaz (Freepik) Pengaturan kerja yang fleksibel kini telah menjadi suatu hal yang lumrah ditemukan di banyak perusahaan. Karyawan di berbagai industri memiliki kesempatan untuk memilih antara pengaturan kerja tatap muka, hybrid, atau jarak jauh sepenuhnya yang paling sesuai dengan kebutuhan. Penelitian yang dilakukan Google menunjukkan bahwa pergeseran ini adalah suatu hal yang positif. Diketahui bahwa pengaturan kerja yang fleksibel dikaitkan dengan kinerja perusahaan yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan dengan pengaturan kerja yang kaku. Itu artinya, kultur kerja employee centric terbukti dapat memberikan manfaat nyata dan langsung bagi perusahaan. Baca juga: Penyempurnaan Facet Google Cloud Search, Seperti Apa? Tingkat pergantian karyawan Pergantian yang terus-menerus dapat memengaruhi produktivitas dan moral. Sebab, anggota tim baru pasti memerlukan waktu untuk bisa beradaptasi. Di samping itu, mereka yang bertahan pun kemungkinan masih perlu beradaptasi dengan perubahan beban kerja dan dinamika tim mereka. Riset yang dilakukan Google menunjukkan bahwa tim yang lebih stabil cenderung memiliki performa yang lebih berkualitas dibandingkan dengan tim yang mengalami lebih banyak pergantian (churn). Sebuah tim yang terus-menerus berurusan dengan perubahan mungkin lebih sulit mengikuti praktik yang menghasilkan dokumentasi berkualitas. Baca juga: Memanfaatkan Confidential Space untuk Kolaborasi Data yang Lebih Aman di Google Cloud Kelelahan karyawan Photo Credit: creativeart (Freepik) Terakhir, penelitian Google Cloud ini juga berfokus pada rasa kelelahan, perasaan takut, sikap apatis, dan sinisme seputar pekerjaan. Mengalami kelelahan dapat menyebabkan orang memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah dan peningkatan omzet perusahaan. Belum lagi, hal tersebut pun berpotensi meningkatkan risiko kesehatan mental dan fisik yang buruk (seperti peningkatan risiko depresi dan kecemasan, dan bahkan penyakit jantung). Temuan Google Cloud menunjukkan bahwa pengaturan kerja yang kaku meningkatkan tingkat kelelahan karyawan sebesar 30%. Secara keseluruhan, ketiga temuan ini menggarisbawahi pentingnya menciptakan kultur kerja yang lebih sehat dan inklusif bagi karyawan baik di tingkat organisasi maupun tim. Baca juga: Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Anda Meski dari temuan di atas diketahui bahwa kultur kerja memiliki peranan besar, namun meningkatkan atau mengubah kultur kerja jelas bukanlah perkara mudah—terutama jika hal tersebut sudah berjalan begitu lama. Perusahaan sebaiknya mencoba lebih memahami pengalaman karyawan mereka dan kemudian menginvestasikan sumber daya untuk mengatasi masalah kultur kerja sebagai bagian dari upaya transformasi DevOps. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana budaya memengaruhi kinerja organisasi, Anda bisa menyimak Laporan Status DevOps 2022 ini. Anda dapat memulai langkah transformasi kultur kerja dengan menerapkan solusi komputasi awan Google Cloud. EIKON Technology sebagai authorized reseller untuk produk-produk Google menyediakan solusi Cloud berlisensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Informasi lebih lanjut mengenai penerapan, silakan klik di sini!

Cloud Computing, Google Cloud

Menimbang Kembali Open Source dan Keamanan Multicloud

Teknologi open source telah menjadi bagian integral dari komputasi sejak era paling awal, bahkan sebelum lahirnya pusat teknologi modern seperti Silicon Valley. Proyek open source merupakan fondasi lahirnya beberapa perangkat lunak paling populer di dunia, seperti Mozilla Firefox dan sistem operasi Linux. Ulasan kali ini akan membahas sekilas tentang konsep dasar teknologi open source, peran yang dimainkannya di dunia multicloud, serta perspektif developer dalam menggunakan teknologi tersebut dalam mendukung pekerjaan mereka sehari-hari. Memahami konsep dasar open source Photo Credit: lucabravo (Freepik) Konsep dasar multicloud ada pada kemampuan untuk menjalankan beban kerja di cloud, sekaligus mampu memilih penyedia yang paling cocok untuk mengerjakan bagian tertentu dari beban kerja. Mengadopsi teknologi dan bahasa open source akan membantu perusahaan untuk mengoptimalkan alat yang mereka butuhkan, terlepas dari penyedia cloud, tanpa takut terkunci di penyedia tertentu. Saat Anda memikirkan tentang berpindah di lingkungan yang berbeda, apakah itu cloud ke cloud, atau desktop pengembang ke tujuan akhir, atau justru dari pusat data ke cloud Anda, perangkat lunak open source selalu memungkinkan Anda melakukan itu. Kemudian, multicloud hanyalah perpanjangan dari itu. Dengan begitu, Anda tak perlu merasa kesulitan jika harus menjalankan perangkat lunak yang sama dengan perangkat yang berbeda. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Tantangan baru dalam keamanan dengan multicloud Photo Credit: creativeart (Freepik) Makin banyaknya perusahaan yang mengadopsi pendekatan multicloud, pertanyaan tentang bagaimana menjaga keamanan di lingkungan yang kompleks ini dan meningkatnya beban tim SecOps lantas menjadi perhatian utama. Tantangan cloud yang dihadapi oleh tim yang lebih tradisional berkisar dari jenis telemetri dan log hingga volume dan kurangnya kejelasan kasus penggunaan deteksi. Namun, masalah tersebut meningkat saat penggunaan diperluas dengan menyertakan banyak cloud. Situasi semacam ini dapat menimbulkan hambatan baru, karena cara menangani sesuatu di satu penyedia kemungkinan akan sama sekali berbeda di penyedia lainnya. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Saat menggunakan multicloud, Anda harus memahami seperti apa cara kerja dengan satu penyedia terlebih dahulu. Ibaratnya, saat Anda perlu memperbaiki 3 buah mobil, maka sebelumnya Anda sudah harus tahu cara memperbaiki sebuah mobil. Pun demikian dengan multicloud.  Anda harus sudah paham betul dengan cara menggunakan cloud sebelum naik ke multicloud. Untuk mengatasi tantangan keamanan multicloud, Anda bisa menerapkan tips berikut ini: Pelajari lebih banyak cloud, bukan lebih sedikit, terlebih jika Anda menggunakan multicloud. Ini karena teknologi multicloud membutuhkan lebih banyak pengetahuan cloud, Anda tidak dapat mempelajari satu penyedia, kemudian menganggapnya selesai. Anda harus memahami perbedaannya agar dapat mengamankan beberapa lingkungan cloud sekaligus. Fokus pada pembelajaran manajemen cloud identity dan perbandingannya dengan fungsi layanan manajemen identitas tradisional Anda. Mulailah dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan di satu cloud, lalu lanjutkan dengan cloud lain yang Anda gunakan. Jelajahi di mana area ancaman berubah di lingkungan cloud saat Anda merencanakan aktivitas deteksi dan respons untuk memahami apakah deteksi tersebut masuk di cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Google Cloud menghadirkan diskusi rutin melalui akun Twitter mereka, @googlecloud. Melalui podcast bertajuk #MulticloudMindset, Anda dapat menyimak informasi mengenai keamanan cloud, pertimbangan dan tantangan utama yang dihadapi tim keamanan, dan beberapa praktik terbaik yang berguna untuk keamanan di lingkungan multicloud. Menggunakan teknologi cloud akan memudahkan Anda untuk mengembangkan perangkat lunak atau program tanpa harus terbatas dengan perangkat tertentu. Cukup dengan koneksi internet saja, Anda sudah bisa terhubung dengan progres pengembangan perangkat lunak, di mana pun dan kapan pun. Google Cloud menawarkan teknologi cloud tercanggih yang telah terjamin keamanannya untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology, authorized reseller produk Google Cloud di Indonesia. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Cloud Computing, Google Cloud, Microsoft

Cara Memigrasikan Pengguna Active Directory Lokal ke Google Cloud Managed Microsoft AD

Salah satu manfaat migrasi cloud adalah akses ke layanan terkelola, yang dapat mengurangi biaya operasional. Untuk perusahaan yang beroperasi di lingkungan yang berpusat pada Microsoft, Google Cloud menawarkan Managed Service untuk Microsoft Active Directory yang berjalan di virtual machine (VM) Windows. Managed Microsoft AD memberikan manfaat seperti pembaruan server AD otomatis, pemeliharaan, konfigurasi keamanan default, dan tidak memerlukan manajemen hardware. Biasanya, saat memigrasikan objek Active Directory, pengguna yang sudah ada tidak dapat terus mengakses resources di domain baru, kecuali riwayat security identifier (SID) dipertahankan. Ini dapat menyebabkan pekerjaan tambahan bagi administrator karena izin harus dibuat ulang setelah migrasi. Agar migrasi lebih mulus, Google Cloud meluncurkan kapabilitas baru di Managed Microsoft AD, yakni dukungan untuk migrasi pengguna AD dengan riwayat SID. Kini, pengguna dapat mempertahankan entri Access Control List (ACL) historis sehingga pengguna dapat mengakses resources tanpa harus membuat ulang izin setelah migrasi. Langkah-langkah untuk memigrasikan pengguna AD lokal ke Managed Microsoft AD Untuk memulai, Anda dapat menggunakan Active Directory Migration Tool (ADMT) untuk memigrasikan domain AD lokal ke Managed Microsoft AD secara khusus dengan riwayat SID. 1. Persiapkan Active Directory dan Managed Microsoft AD lokal Anda Sebagai prasyarat untuk migrasi, pengguna harus menyiapkan two-way trust antara domain AD lokal yang ada dan domain Managed Microsoft AD yang baru. Baik pengguna individu maupun tim, dapat melakukan aktivitas migrasi. Saat tim terlibat, sebaiknya tambahkan anggota tim ke grup domain lokal di Managed Microsoft AD. Pengguna dapat terhubung ke domain Managed Microsoft AD dan menggunakan alat Active Directory standar seperti Active Directory Users and Computers (ADUC). Baca juga: Memanfaatkan Confidential Space untuk Kolaborasi Data di Google Cloud 2. Siapkan Google Compute Engine Virtual Machine dan ADMT Photo Credit: DCStudio (Freepik)Selanjutnya, install dan siapkan Microsoft Active Directory Migration Tool (ADMT) dan Microsoft SQL Server 2016 Express di Google Compute Engine Virtual Machine. Gabungkan VM ke domain Google Cloud Managed Microsoft AD. 3. Aktifkan izin pada Managed Microsoft AD Setelah pengguna menyiapkan Active Directory lokal dan Managed Microsoft AD, mereka dapat mengaktifkan izin yang diperlukan di Managed Microsoft AD untuk memigrasikan pengguna dengan riwayat SID. Gunakan perintah gCloud CLI berikut: gcloud beta active-directory domains migration enable DOMAIN_NAME \ –onprem-domains=SOURCE_DOMAIN_NAME \ –disable-sid-filtering-domains=SID_FILTERING_DOMAIN_NAME Setelah pengguna mengaktifkan izin, tambahkan grup lokal domain ke “Cloud Service Administrators” dan “Cloud Service Migrate SID Administrators” sehingga pengguna yang ditunjuk akan memiliki izin untuk Active Directory dengan riwayat SID. Baca juga: Migrasi Cloud dengan Google Cloud Migration Center 4. Konfigurasikan ADMT dan install layanan PES Untuk memigrasikan sandi dengan aman selama migrasi domain, pengguna harus menggunakan layanan Microsoft Password Export Server (PES). Sebelum install PES di domain lokal, buat kunci enkripsi di VM yang menjalankan ADMT. Gunakan perintah berikut untuk membuat kunci enkripsi: admt key /option:create /sourcedomain:[SOURCE_DOMAIN_NAME] /keyfile:[KEY_FILE_PATH] /keypassword:{[PASSWORD]} 5. Migrasikan pengguna AD ke Google Cloud Managed Microsoft AD Selanjutnya, migrasikan pengguna & grup AD beserta riwayat SID. Pengguna harus menggunakan User Account Migration Wizard di alat ADMT. Pilih opsi “Migrate user SIDs to target domain” di halaman Account Transition Options. Photo Credit: Google Cloud Blog Jendela proses migrasi akan menampilkan status berapa banyak pengguna, grup, dan komputer yang telah dimigrasikan. Anda dapat mengeklik “View Log” untuk memeriksa kesalahan pada log migrasi dan memeriksa detail operasi. Setelah proses migrasi selesai, verifikasi bahwa pengguna ada di domain Managed Microsoft AD menggunakan alat Active Directory Users and Computers. Pengguna juga dapat menggunakan login AD untuk memverifikasi bahwa akses diatur dengan benar. Baca juga: Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Sekarang proses migrasi objek AD selesai. Ini termasuk untuk pengguna beserta riwayat SID dari domain AD lokal ke domain Managed Microsoft AD yang baru. Setelah migrasi berhasil, sebaiknya nonaktifkan izin pengguna yang diaktifkan untuk migrasi. Google Cloud terus mengembangkan kapabilitas untuk memudahkan berbagai tugas kerja Anda. Manfaatkan ekosistem komputasi awan terkelola Cloud dengan berlangganan melalui EIKON Technology, authorized reseller Google untuk Indonesia. EIKON Technology menawarkan paket langganan komprehensif, mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Cloud Computing, Google Cloud

Menggunakan Data Advocacy untuk Menangani Data Privasi Konsumen

Ketika peraturan data privasi konsumen semakin ketat dan akhir dari cookie pihak ketiga semakin dekat, perusahaan dari berbagai ukuran cenderung mencari jalan menuju cara kerja yang berpusat pada privasi. Brand yang berhadapan langsung dengan konsumen harus mencermati data pelanggan yang mereka kumpulkan, dan belajar merangkul pendekatan berbasis data pihak pertama. Sementara beberapa brand sudah memahami pentingnya privasi dan persetujuan konsumen, sisanya masih belum tahu harus mulai dari mana. Parahnya lagi, masih banyak yang tidak tahu kebutuhan konsumen dalam hal privasi data. Saat ini, 40% konsumen tidak mempercayai brand untuk menggunakan data mereka secara etis. Meski kesenjangan antara bagaimana brand dan konsumen menyikapi data privasi terlihat jelas, sebaiknya tidak perlu ditekankan. Perusahaan harus mulai memperlakukan data konsumen sebagai pilar bisnis mereka: sebagai nilai yang memandu cara data digunakan, proses dijalankan, dan perilaku tim. Dengan menerapkan panel data advocacy lintas fungsi, brand dapat memastikan bahwa perlindungan data konsumen selalu menjadi perhatian utama. Mengapa harus data advocacy? Brand terbaik melihat pentingnya privasi data pelanggan sebagai peluang, bukan ancaman. Konsumen saat ini tahu pasti apa yang mereka inginkan dan menyerahkan penyampaiannya pada brand. Di sini, transparansi adalah kuncinya. Sebagian besar konsumen menuntut transparansi yang lebih dari brand yang kerap mereka gunakan, tapi sebanyak 40% konsumen bersedia membagikan informasi pribadi jika mereka tahu cara menggunakannya. Data advocacy yang ditanamkan ke dalam perusahaan dapat berfungsi sebagai pedoman untuk mencapai titik tengah persetujuan privasi data. Baca juga: Akses Analisis Data di Connected Sheets untuk Kolaborator dengan Delegated Access Bagaimana penerapannya? Photo Credit: tirachardz (Freepik) Misi data advocacy adalah membangun dan mempertahankan budaya positif persetujuan di seluruh perusahaan. Ini dapat berfungsi sebagai cara untuk mengasah kekuatan data pelanggan untuk bisnis Anda sekaligus memberikan kekuatan persetujuan kepada pelanggan. Namun apa sebenarnya panel data advocacy itu? Panel data advocacy Anda harus mencakup perwakilan dari setiap unit bisnis yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi, mengumpulkan, membuat, berbagi, atau mengakses data dalam bentuk apa pun. Anggota tim ini kemudian harus bersatu untuk menangani dua tujuan utama: menetapkan strategi dan kebijakan tentang penanganan data di seluruh perusahaan serta bereaksi dengan cepat terhadap perkembangan data baru seperti: potensi pelanggaran data, pergeseran sentimen pasar, atau persyaratan kepatuhan baru. Baca juga: Mengenal Data Loss Prevention (DLP), Kebijakan untuk Melindungi Data Sensitif Tips yang bisa Anda terapkan Menurut VP of Consumer Packaged Goods Google Cloud, Giusy Buonfantino, “Lanskap privasi dan ekspektasi konsumen yang berubah menandakan perusahaan harus memikirkan kembali cara mereka mengumpulkan, menganalisis, menyimpan, dan mengelola data konsumen untuk mendorong kinerja bisnis dan memberikan pengalaman yang dipersonalisasi kepada pelanggan.” Perusahaan mengadopsi Customer Data Platforms (CDP) untuk mendorong keterlibatan pelanggan yang berpusat pada privasi. Solusi platform data pelanggan Lytics dibuat dengan Google Cloud BigQuery untuk membantu perusahaan terus mengembangkan cara mereka menangkap dan menggunakan data konsumen. Lytics di BigQuery membantu bisnis mengumpulkan dan menafsirkan data perilaku pelanggan pihak pertama pada platform yang aman dan skalabel dengan machine learning bawaan. Singkatnya, ini bukan hanya tentang perubahan kecil. Ini tentang memulai dengan katalis yang akan mendorong perubahan skala besar. Katalis tersebut adalah panel data advocacy yang akan terus menjadi pusat pertukaran nilai antara brand dan pelanggan Anda. Baca juga: Masa Depan Data dalam Whitepaper Terbaru Google Cloud, Seperti Apa? Perkembangan teknologi mau tak mau mengubah bagaimana cara data dipandang. Kini data ibarat sebuah sumber daya yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, cara Anda menangani data, terutama data privasi konsumen, bisa sangat menentukan kesuksesan bisnis. Cara menangani dan mengelola data yang lama sudah tak lagi relevan karena tidak mampu mengeluarkan potensi terbaik data secara aman. Untuk itulah, Anda perlu membangun panel data advocacy yang baik. Tak lupa, dukung panel Anda agar mampu melindungi data privasi konsumen dengan solusi komputasi awan Google Cloud. Solusi komputasi dengan tingkat keamanan tinggi ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Cloud Computing, Google Cloud

Cara Google Cloud Amankan Rantai Pasok Software Anda

Google Cloud baru saja mengumumkan ketersediaan umum untuk Assured Open-Source Software (Assured OSS). Layanan tersebut dibuat untuk membantu pelanggan mengamankan perangkat lunak open-source mereka dengan menyediakan rangkaian open-source yang digunakan Google. Itu berarti, rangkaian yang tersedia sudah terjamin keamanannya. Dengan mendapatkan jaminan keamanan dari penggunaan rangkaian open-source ini, pelanggan Google Cloud dapat meningkatkan postur keamanan dan bahkan membuat perangkat lunak mereka sendiri menggunakan tools yang digunakan Google seperti Cloud Build, Artifact Registry, dan Container/Artifact Analysis. Assured OSS kemudian dapat dimasukkan ke dalam rantai pasok perangkat lunak Anda untuk memberikan jaminan keamanan tambahan selama proses pengembangan dan pengiriman. Membangun keamanan ke dalam rantai pasokan perangkat lunak Anda Photo Credit: Google Cloud Blog Proses pengembangan perangkat lunak dimulai dengan jaminan dari Google Cloud. Ini karena ADna sebagai pengembang dapat menggunakan rangkaian perangkat lunak open-source dari layanan Assured OSS melalui integrated development environment (IDE). Saat pengembang memasukkan kode ke repositori kode Git, sistem secara otomatis akan mengaktifkan Cloud Build untuk membangun aplikasi mereka dengan cara yang sama seperti rangkaian Assured OSS dibuat. Ini termasuk Cloud Build yang secara otomatis membuat, menandatangani, dan menyimpan asal build, yang dapat memberikan jaminan hingga SLSA level 2. Baca juga: Resiko Keamanan Software Komputer yang Sudah Kadaluwarsa Deteksi kerentanan yang dapat disesuaikan Photo Credit: Rawpixel Sebagai bagian dari build pipeline, artefak yang dibangun disimpan dalam Artifact Registry dan secara otomatis dipindai untuk kerentanan, mirip dengan cara paket Assured OSS dipindai. Pemindaian kerentanan dapat lebih ditingkatkan menggunakan kebijakan Kristis Signer untuk menentukan kriteria kerentanan yang dapat divalidasi oleh build pipeline. Perlu diingat, selama proses, hanya aplikasi yang sudah diperiksa yang diizinkan masuk, seperti Google Kubernetes Engine (GKE) dan Cloud Run. Google Cloud menyediakan kerangka kerja kebijakan Otorisasi Biner untuk menentukan dan menerapkan persyaratan pada aplikasi sebelum diterima ke dalam runtime. Kepercayaan terakumulasi dalam bentuk pengesahan, yang dapat didasarkan pada berbagai faktor termasuk penggunaan alat dan repositori yang telah terjamin keamanannya, persyaratan pemindaian kerentanan, atau bahkan proses manual seperti tinjauan kode dan pengujian QA. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Peluncuran dengan tingkat keamanan tinggi Setelah aplikasi selesai dibuat dan disimpan dengan melewati pemindaian kerentanan dan pengesahan yang membangun kepercayaan, Anda bisa langsung meluncurkannya. Google Cloud Deploy dapat membantu merampingkan proses pengiriman berkelanjutan ke GKE, dengan metrik pengiriman bawaan serta kemampuan keamanan dan audit. Peluncuran ke GKE dapat dikonfigurasi dengan persetujuan untuk memastikan bahwa stakeholder atau otoritas berwenang telah menyetujui penerapan aplikasi ke lingkungan target. Saat aplikasi disebarkan ke runtime, Otorisasi Biner digunakan untuk memastikan bahwa hanya aplikasi yangtelah ditandatangani oleh Cloud Build atau telah berhasil mengumpulkan pengesahan di seluruh rantai pasokan yang diizinkan untuk berjalan. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Rantai pasok perangkat lunak ini memungkinkan Anda untuk membangun aplikasi dengan cara yang sama seperti rangkaian Assured OSS Google Cloud dan mengirimkannya secara aman ke runtime dengan jaminan tambahan yang disediakan oleh Cloud Deploy dan Binary Authorization. Hasilnya, Anda dapat memvalidasi integritas aplikasi yang dikembangkan dan memiliki tingkat kepercayaan lebih besar dalam keamanan aplikasi yang sedang berjalan. Semua kemudahan yang ditawarkan Assured OSS bisa Anda nikmati secara leluasa dengan berlangganan solusi komputasi awan dari Google Cloud. Masih ragu dengan penerapan Google Cloud di lingkungan kerja Anda? EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi disamping implementasi jaringan komputasi awan dengan Google Cloud. Tim kami siap membantu Anda mulai dari tahap perencanaan hingga pasca-pemasangan nanti. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Cloud Computing, Google Cloud

Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud

Google BigQuery Write API resmi diluncurkan tahun 2021 lalu. Write API sendiri merupakan jalur penyerapan data pilihan BigQuery yang menawarkan batching dan streaming dengan performa tinggi dalam satu API terpadu. Apa saja keunggulannya? Mengenal fitur BigQuery Write API Sejak pertama diperkenalkan, BigQuery Write API terus melakukan penyempurnaan untuk meningkatkan performa dan kemampuan. Dengan begitu, pengguna pun lebih mudah menyerap data secara langsung ke BigQuery. Beberapa fitur tersebut di antaranya: Menyerap data langsung ke BigQuery tanpa harus menyusunnya di Google Cloud Storage terlebih dahulu sehingga menyederhanakan alur kerja. Menyalurkan pemrosesan data dan langsung membacanya, memungkinkan Anda membangun aplikasi data dengan latensi rendah dan respons cepat. Menjamin pengiriman tepat satu kali, yang memastikan Anda tidak perlu menulis logika deduplikasi khusus. Mendukung transaksi baris batch-level, memungkinkan percobaan ulang yang aman dan deteksi pembaruan skema. Menyerap data ke BigQuery Ada beberapa cara untuk menyerap data ke dalam penyimpanan terkelola BigQuery. Metode penyerapan spesifik akan tergantung pada workload Anda. Umumnya, disesuaikan untuk tugas pemuatan satu kali dan tugas batch berulang (karena latensi batch tidak menjadi masalah). Anda dapat menggunakan BigQuery Data Transfer Service atau BigQuery Load Jobs. Di samping itu, Anda juga bisa menggunakan BigQuery Write API. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah Dengan Resource Charts dan Slot Estimator Photo Credit: Google Cloud Blog Membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Job Sebelum BigQuery Write API diperkenalkan, penyerapan data bisa dilakukan melalui BigQuery Load Job atau Streaming API. Di manakah letak perbedaannya? Jika dibandingkan, ada beberapa perbandingan utama antara BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, yakni: Transaksi tingkat aliran: Pada BigQuery Write API, satu aliran hanya dapat dilakukan sekali, memungkinkan Anda melakukan percobaan ulang yang aman. Alur kerja yang lebih sederhana: Dengan menulis langsung ke penyimpanan BigQuery, Anda dapat menghindari mengekspor data ke Google Cloud Storage dan kemudian memuatnya ke BigQuery. Hal ini tidak bisa dilakukan pada BigQuery Load Jobs. SLO: BigQuery Write API memiliki tingkat SLO yang sama dengan BigQuery API lain yang ada seperti Query Jobs dan legacy Streaming API. Membandingkan BigQuery Write API dengan legacy Streaming API Jika poin sebelumnya membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, kali ini mari simak perbandingannya dengan legacy Streaming API. Beberapa perbandingan yang paling mudah dikenali di antaranya: Menulis idempotency: Streaming API lawas hanya mendukung deduplikasi pada periode waktu yang singkat (urutan beberapa menit). Namun, BigQuery Write API memastikan bahwa satu penambahan hanya dapat terjadi sekali pada offset tertentu pada aliran yang sama, sehingga menjamin idempotency penulisan. Throughput yang lebih tinggi: Write API memiliki kuota default tiga kali lebih banyak (3GB/detik) dibandingkan dengan legacy Streaming API (1GB/detik), menghasilkan throughput yang lebih tinggi dalam proses penyerapan data. Kuota tambahan dapat diberikan berdasarkan permintaan pengguna. Biaya lebih rendah: Biaya Write API per GB 50% lebih hemat dibandingkan dengan Streaming API lawas. Selain itu, karena BigQuery Write API telah mendukung proses batch sekaligus streaming terpadu, Anda tidak perlu lagi menggunakan API terpisah untuk menangani semua workloads dalam skala besar. Batch dan Streaming API terpadu Photo Credit: Piqsels Write API didukung oleh streaming backend baru. Dukungan tersebut membuat Write API dapat menangani throughput yang jauh lebih besar dengan keandalan data lebih baik dari backend lama. Backend baru tersebut merupakan adalah sistem penyimpanan terstruktur berskala exabyte di belakang BigQuery. Sistem tersebut dibuat untuk mendukung pemrosesan berbasis streaming, tepatnya untuk analisis streaming yang skalabel di semua mesin analitis di GCP. Tidak seperti pendahulunya yang dioptimalkan untuk pemrosesan batch mode, streaming backend baru ini memperlakukan streaming sebagai beban kerja kelas satu. Di samping itu, backend ini juga telah mendukung streaming dan pemrosesan real-time dengan tingkat throughput yang tinggi. Baca juga: Jenis Pemrosesan Data Perusahaan Bagi Anda yang memerlukan penyerapan data dengan proses batching dan streaming berperforma tinggi dalam satu API terpadu, BigQuery Write API bisa dijadikan pilihan. BigQuery akan bekerja lebih baik jika berada dalam ekosistem Google. Untuk itu, ada baiknya juga jika Anda menggunakan layanan komputasi awan dari Google saat menggunakanWrite API. Dapatkan layanan cloud yang didukung ekosistem Google lewat Google Cloud. Sekarang, Anda bisa mengelola Google Cloud yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Tim EIKON Technology yang merupakan authorized reseller Google di Indonesia, siap menyediakannya untuk Anda. Untuk informasi lebih lanjut, klik di siniv!

Cloud Computing, Google Cloud

Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud

Tanpa disadari, keseharian manusia saat ini dekat dengan sistem rekomendasi, terutama dalam kehidupan di dunia maya. Bingung menentukan makan malam? Cek rekomendasi. Ingin mendengarkan lagu baru? Lihat rekomendasi dari aplikasi streaming. Ingin mencari produk yang serupa? Marketplace telah menyediakan rekomendasi untuk Anda. Dalam sebuah artikel di website Verge, diketahui bahwa sistem rekomendasi dari tim Google Brain telah memengaruhi dinamika kunjungan ke platform streaming video, YouTube. Lebih dari 70% waktu yang dihabiskan pengguna, ternyata dipengaruhi oleh rekomendasi dari algoritma YouTube. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sekitar 20x lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Fakta tersebut membuktikan bahwa rekomendasi kini bukan lagi sekadar menjadi pembeda bagi suatu organisasi, tapi juga menjadi suatu hal yang memang dibutuhkan konsumen dalam keseharian mereka. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai membangun sistem rekomendasi sendiri, Google Cloud menyediakan pendekatan yang patut dicoba. Sistem rekomendasi tersebut terdiri dari Matrix Factorization pada BigQuery Machine Learning (BQML), Recommendations AI, serta Two-Tower built-in algorithm. Bagaimana cara kerjanya? Mulai dengan Matrix Factorization dari BQML Dalam membangun sebuah sistem rekomendasi, collaborative filtering merupakan model dasar. Lalu, mengapa harus menggunakan Matrix Factorization BQML? Ini karena Matrix Factorization sendiri merupakan model yang menerapkan collaborative filtering. Kemudan, BQML memungkinkan Anda untuk dapat membuat sekaligus menjalankan model tersebut dengan SQL standar langsung di gudang data. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Collaborative filtering dimulai dengan membuat interaction matrix. Dalam matriks ini, pengguna ditulis sebagai baris dan produk sebagai kolom yang ada di kumpulan data Anda. Seringkali, tidak tampak interaksi antara baris dan kolom karena tidak semua pengguna berinteraksi dengan seluruh produk yang Anda. Nah, di sinilah embeddings berperan untuk menghasilkan penyematan bagi pengguna. Dengan begitu, Anda bisa mengelompokkan beberapa produk yang mirip atau sesuai dengan kategori produk yang dicari pengguna. Photo Credit: Google Cloud Blog Melanjutkan dengan Recommendations AI Recommendations AI merupakan sebuah layanan yang terkelola sepenuhnya dan berfungsi untuk membantu organisasi dalam menerapkan sistem rekomendasi skalabel. Layanan ini bekerja dengan menggunakan pendekatan deep learning canggih. Termasuk di dalamnya adalah arsitektur mutakhir seperti two-tower encoders. Photo Credit: Google Cloud Blog Penerapan model deep learning akan meningkatkan konteks dan relevansi rekomendasi. Ini karena model tersebut dapat dengan mudah mengatasi keterbatasan. Recommendations AI membantu Anda memanfaatkan penyajian model deep learning sekaligus menangani MLOps yang diperlukan dalam melayani model ini secara global, tentunya dengan latensi rendah. Model secara otomatis dilatih ulang setiap harinya dan disetel ulang setiap tiga bulan sekali untuk menangkap perubahan perilaku pelanggan, tambahan produk, harga, serta promosi. Sedangkan model baru akan dilatih dengan rutinitas CI/CD yang tangguh guna memvalidasi kelayakan mode tersebut sebelum ditayangkan. Two Tower encoders Dalam membangun suatu sistem rekomendasi Anda harus selalu ingat bahwa tujuan utama yang harus dicapai adalah kemampuan untuk menampilkan kumpulan item yang paling relevan dengan kebutuhan pengguna. Item tersebut kemudian disebut sebagai kandidat dan terkadang disertai dengan informasi seperti judul, deskripsi, bahasa, jumlah tampilan, bahkan klik pada item dari waktu ke waktu. Katakanlah Anda sedang membuat sistem rekomendasi film. Tentu saja, sekarang ini film ada jutaan jumlahnya, begitu pun dengan jumlah penontonnya. Penerapan two-tower encoder akan membantu Anda dalam tahap pemilihan kandidat (retrieval) untuk setiap pengguna dan kemudian menilai, mengurutkan, dan menyajikan daftar akhir yang direkomendasikan kepada pengguna. Simak ilustrasi berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Tahap retrieval menyaring daftar kandidat yang ada dengan melakukan encoding pada kandidat dan pengguna. Dengan begitu, keduanya akan berbagi ruang penyematan yang sama. Ruang penyematan yang baik akan menempatkan kandidat yang mirip satu sama lain lebih dekat dan item yang berbeda saling berjauhan. Setelah basis data pengguna dan penyematan kandidat selesai maka Anda bisa mulai menggunakan metode pencarian terdekat untuk kemudian menghasilkan daftar kandidat akhir yang benar-benar relevan dengan pengguna. Baca juga: Merancang Technical Training Yang Lebih Mudah Diakses dengan Google Cloud Keberadaan sistem rekomendasi tanpa disadari telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini bisa menjadi peluang yang bagus bagi Anda untuk meningkatkan jumlah penjualan atau mungkin durasi kunjungan pelanggan. Google Cloud menyediakan sistem yang komprehensif dari hulu ke hilir untuk membangun suatu sistem rekomendasi yang efisien. Untuk hasil terbaik, sebaiknya gunakan Google Cloud yang telah dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Dapatkan personalized Google Cloud berlisensi hanya di EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Cloud Computing, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure

Sebagai perusahaan teknologi yang sudah dipercaya sejak dulu, Microsoft terus mengembangkan inovasinya untuk memudahkan pengguna dalam pengelolaan jaringan dan data. Salah satunya adalah melalui cloud Microsoft Azure. Cloud Microsoft Azure memiliki banyak keunggulan. Hal ini karena dapat dikombinasikan dengan jaringan berbeda. Dengan kata lain, Azure tidak hanya bisa digunakan untuk jaringan berbasis cloud saja, melainkan juga untuk hybrid. Dengan begitu, proses pengelolaan manajemen IT di perusahaan Anda menjadi lebih mudah dan aman.  Hal itu semakin baik dengan dukungan lima fitur unggulannya. Yakni Azure SQL, Azure Redis Cache, dan Azure Website Gallery.  Fitur yang ada di dalamnya pun bisa ditingkatkan dengan menggunakan cara yang bisa Anda lakukan. Cara Meningkatkan Cloud Microsoft Azure Photo: Netpluz Asia Ada tiga cara utama yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan pengalaman terbaik bagi perusahaan. Berikut di antaranya yang perlu Anda ketahui. Cloud Microsoft Azure Chaos Studio Pertama adalah dengan menggunakan cloud Microsoft Azure Chaos Studio. Layanan ini diluncurkan untuk mengatasi permasalahan yang kerap terjadi ketika Anda menggunakan dan mencoba aplikasi. Mulai dari melacak hingga memetakan kegagalan pada aplikasi tersebut. Jadi, melalui platform ini, Anda bisa mengatasi permasalahan di aplikasi melalui beberapa simulasi skenario kegagalan. Chaos Studio memungkinkan Anda untuk menggunakannya dan melihat aplikasi lebih baik, terutama dalam mengatasi permasalahan dan kegagalan yang ada. Keunggulannya antara lain, Anda dapat lebih banyak waktu dalam menganalisis aplikasi, memulainya dengan cepat, hingga validasi produk atau aplikasi sebelum diluncurkan nantinya. Cloud Microsoft Azure Landing Zone Photo: Linktech Australia Kedua adalah cloud Microsoft Azure Landing Zone yang bisa Anda gunakan untuk membuat aplikasi untuk cloud. Termasuk saat Anda melakukan moderasi aplikasi tersebut pada lingkungan multisubskripsi Azure. Keunggulan dari cloud Microsoft Azure ini di antaranya adalah lebih scalable dan digunakan dalam mode modular. Adapun yang dimaksud scalable di sini adalah mendukung untuk konfigurasi pada lingkungan jaringan cloud. Sementara itu, semua fitur pada Microsoft Azure Landing Zone ini menggunakan pendekatan modular untuk membangun lingkungan dengan berdasarkan pada desain area yang sudah dibuat. Dengan begitu, mudah untuk dikonfigurasikan dengan platform lainnya seperti Azure SQL Database, Azure Kubernetes Service, dan Azure Virtual Desktop. Cloud Economics Ketiga ada cloud Microsoft Azure Economics. Platform ini memang dikhususkan bagi perusahaan yang ingin menginvestasikan jaringan cloud mereka. Menggunakan platform dan layanan ini akan membuat pengeloaan menjadi lebih mudah.  Agar lebih nyaman, pihak Microsoft pun juga menambahkan dukungan dengan template Power BI berbasis model Excel. Template tersebut akan menguntungkan pengguna sebagaimana mereka menggunakan Azure Hybrid. Dari Azure Cost Management Portal ke Power BI ini bisa Anda gunakan untuk melakukan kustomisasi dan pelaporan. Terlebih lagi adanya integrasi API ini membuat sistem data lebih mudah dan aman. Penutup Photo: Medium.com Itulah beberapa langkah mudah yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan pengalaman dalam menggunakan cloud Microsoft Azure. Kini, mendapatkan Microsoft Azure untuk keperluan bisnis Anda lebih baik. Salah satunya adalah membelinya di vendor terpercaya seperti EIKON Technology. Kami menyediakan platform Microsoft resmi dengan lisensi dari Microsoft. Anda juga bisa memilhnya sesuai dengan kebutuhan. Dapatkan pula layanan purna-jual dan maintenance yang ditawarkan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk-produk Microsoft dari kami, Anda bisa hubungi kami di sini.

Cloud Computing

Migrasi Chrome OS Lebih Mudah dengan Parallels Desktop

  Chrome OS mulai menunjukkan kebolehannya. Terbukti, dalam laporan yang dirilis IDC (International Data Corporation) bulan Februari 2021 lalu, Chrome berhasil menempati peringkat kedua operating system terlaris di dunia. Dengan fitur unggulan seperti opsi manajemen jarak jauh, keamanan berlapis, serta penggunaan cloud, tidak mengherankan jika Chrome makin banyak peminatnya. Meski begitu, masih banyak pengguna yang belum bisa seratus persen bermigrasi ke Chrome. Beberapa akhirnya memilih model kerja hybrid yang memadukan OS lama mereka dengan Chrome. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah untuk pengguna personal, namun untuk penggunaan berskala besar tentu akan sangat merepotkan. Di sinilah Parallels Desktop mengambil peran. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.  Migrasi Chrome OS Perubahan akan selalu terasa sulit pada mulanya, termasuk saat Anda harus mengubah OS. Tidak heran jika banyak orang kemudian memilih model kerja hybrid terlebih dulu sebelum akhirnya melakukan migrasi total pada OS mereka.  Terlebih jika migrasi tersebut berskala besar, seperti penggunaan untuk bisnis perusahaan. Tentu migrasi tidak bisa dilakukan secara kontan. Beberapa jenis pekerjaan mungkin sudah memiliki pakem tersendiri yang mengakibatkan migrasi harus dilakukan secara bertahap. Untuk menjawab tantangan tersebut, Chrome OS menawarkan beberapa kemudahan dalam proses migrasi mereka. Di tahun 2020 lalu, bekerja sama dengan Corel Corporation, Chrome menghadirkan Parallels Desktop untuk migrasi OS yang lebih mudah dan simpel. Bagaimana detailnya? Mengenal Parallels Desktop Photo Credit: Parallels Desktop Parallels Desktop adalah software besutan Corel Corporation. Perangkat lunak satu ini dirancang untuk memudahkan proses migrasi OS tanpa perlu melakukan reboot. Untuk penggunaannya, Parallels dapat digunakan baik untuk keperluan personal maupun bisnis. Berikut adalah beberapa fitur unggulan Parallels Desktop untuk Chrome OS: Akses mudah menuju aplikasi Windows, termasuk Microsoft Office. Transisi seamless antara Chrome dengan Windows, memungkinkan Anda untuk membuka file Chrome menggunakan aplikasi Windows maupun sebaliknya, File yang dapat diakses dalam kondisi online maupun offline. Mendukung perangkat kamera, mikrofon, hingga audio and docking sehingga Anda bisa menggunakan aplikasi komunikasi Windows seperti Skype dan Microsoft Teams. Perangkat yang mendukung Parallels Desktop Sebelum melakukan instalasi Parallels Desktop pada perangkat Anda, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu syarat utama adalah jenis perangkat. Berikut adalah beberapa spesifikasi perangkat yang kompatibel dengan Parallels: Menggunakan prosesor Intel Core i5 atau i7. Dalam update terbaru, software ini juga dapat dijalankan pada perangkat dengan prosesor AMD Ryzen 5 atau 7 AMD Ryzen seperti Lenovo ThinkPad C13 Yoga dan HP Chromebook Enterprise c645. Beberapa jenis Chromebox juga telah mendukung Parallels, termasuk di antaranya adalah HP Chromebox G3. Seri Latitude dari Dell juga masuk dalam jajaran perangkat yang mendukung Parallels, mencakup model 5300 2-in-1, 5400 serta 7410. Persyaratan RAM lebih  mudah dijangkau. Dalam versi terbarunya, Parallels sudah dapat diakses perangkat dengan RAM 8GB. Sebelumnya, Parallels hanya direkomendasikan untuk perangkat dengan minimal RAM 16GB. Hal lain yang perlu diperhatikan Photo Credit: Samuel Bourke (Pixabay)  Sudah memiliki perangkat yang kompatibel untuk Parallels? Sebelum masuk dalam proses instalasi, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan. Agar proses instalasi lancar dan seluruh fitur Parallels dapat digunakan pada perangkat Chrome, pastikan Anda telah memiliki Windows 10 ISO, lisensi Chrome Enterprise Upgrade, serta key license Parallels Desktop untuk Chrome OS. Jangan lupa juga untuk masuk ke akun Administrator sebelum melakukan instalasi. Dengan Parallels Desktop, migrasi ke Chrome OS dapat dilakukan dengan mudah dan seamless. Proses instalasinya bahkan tidak memerlukan reboot pada perangkat. Selain memanfaatkan Parallels, untuk mencapai efisiensi kerja, Anda bisa memanfaatkan productivity software lain dari Google seperti Google Workspace. Masih bingung software penunjang mana yang paling sesuai untuk bisnis Anda? Kontak kami, EIKON Technology untuk mendapatkan solusi terbaik untuk Anda.  

Cloud Computing, Google Cloud

3 Cara Berinovasi dengan Biaya Minim Menggunakan Cloud Computing

Sepanjang 1,5 tahun belakangan ini, pelaku bisnis di berbagai belahan dunia harus menghadapi tantangan yang cukup berat. Seiring dengan kebijakan social distancing untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, banyak perusahaan dituntut beradaptasi melakukan remote working. Tak hanya dalam operasional sehari-hari, adaptasi juga dibutuhkan dalam hal keuangan perusahaan. Mengingat situasi bisnis yang sedang tidak pasti, perusahaan pun dituntut untuk menghemat lebih banyak pengeluaran daripada sebelumnya. Di sisi lain, operasional perusahaan juga tetap harus berjalan optimal agar pemasukan bisa lancar. Cloud computing menawarkan solusi cara berinovasi secara efisien. Teknologi satu ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan operasional kerja sehari-hari sekaligus mengurangi pengeluaran IT hingga 10%. Bagaimana caranya? Kurangi biaya manajemen IT dengan perangkat yang mengutamakan cloud Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Di era remote working seperti sekarang, teknologi cloud computing tidak hanya digunakan untuk menjaga produktivitas kerja, tapi juga memudahkan kolaborasi antar anggota tim. Nah, agar bekerja dengan cloud bisa lebih efektif, sebaiknya gunakan perangkat yang memang khusus dirancang untuk penggunaan cloud seperti Google Chromebook. Dibekali sistem operasi Chrome, Google Chromebook sangat mudah digunakan, memiliki performa cepat, dan dilengkapi sistem keamanan bawaan (built-in) sehingga mendukung penuh aktivitas kerja karyawan. Terlebih, perangkat Google Chromebook mendukung sistem jaringan komputer terpusat atau yang disebut dengan thin client. Dengan menggunakan perangkat think client, perusahaan dapat menghemat pengeluaran jika dibandingkan dengan perangkat desktop maupun laptop biasa. Hasil riset dari BCG Platinion bahkan menyebutkan bahwa cara berinovasi dengan penerapan thin client mampu menghemat biaya hingga 25% dalam sektor teknologi end-user. Manfaatkan SaaS untuk meningkatkan produktivitas Photo Credit: Anete Lusina (Unsplash) Dengan anggota tim perusahaan yang berada di lokasi berbeda karena harus menerapkan social distancing, kebutuhan akan kolaborasi kerja secara efisien pun jadi semakin besar. Kabar baiknya, kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan menggunakan rangkaian Software-as-a-Service (SaaS) seperti Google Workspace. Sebagai suatu program yang menawarkan solusi produktivitas, Google Workspace dapat pula menjadi cara berinovasi hemat biaya. Masih dari hasil riset yang dilakukan BCG Platinion, penerapan SaaS telah terbukti mampu mengurangi biaya komputasi untuk end user hingga 35%. Keunggulan Google Workspace tentu tak hanya dari segi biaya. Kali ini, sebuah studi dari Forrester pada 2020 menunjukkan bahwa penggunaan Google Workspace terbukti mampu meningkatkan pendapatan hingga 1,5%, mengurangi kebutuhan akan dukungan teknis on-demand sebanyak 20%, serta mengurangi risiko kebocoran data hingga lebih dari 95%. Optimalkan teknologi analitik data untuk efisiensi kerja Photo Credit: Mikhail Nilov (Pexels) Idealnya, mayoritas perusahaan sangat bergantung pada data untuk melakukan banyak hal penting seperti menganalisis finansial, memprediksi kebutuhan pasar, hingga mempersiapkan supply-chain. Agar bisa menghasilkan analisis data seakurat mungkin, banyak perusahaan yang mulai menggunakan teknologi analitik dan artificial intelligence (AI). Walau begitu, tak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya pengelolaan data secara efektif cukup rumit dilakukan, belum lagi harus menyiapkan biaya yang tak sedikit untuk perancangan infrastruktur secara lokal (on-premise architecture). Solusi dari tantangan ini adalah dengan beralih ke infrastruktur berbasis cloud seperti Google Cloud. Menurut laporan dari BCG Platinion, cara berinovasi menggunakan platform data berbasis cloud dapat meningkatkan efektivitas hingga 70%. Dalam hal ini, efektivitas yang dimaksud bisa berupa peningkatan penjualan maupun berkurangnya biaya pengadaan barang. Situasi 1,5 tahun belakangan ini memang bisa dikatakan kurang ideal untuk industri bisnis. Para pelaku bisnis dituntut untuk tetap produktif sambil menjaga pengeluaran secara lebih ketat. Beruntung ada teknologi cloud computing seperti Google Cloud yang dapat menjadi cara berinovasi untuk menjawab tantangan tersebut. Lalu, di mana Anda bisa mendapatkan layanan cloud computing tersebut? Tentunya melalui partner resmi produk Google di Indonesia, EIKON Technology, yang dapat membantu Anda untuk mulai mengadopsi Google Cloud. Tenang saja, bagi yang masih belum familiar dengan teknologi satu ini, tim EIKON Technology dapat menjelaskannya secara lebih detail kepada Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Scroll to Top