EIKON Technology

kecerdasan buatan

Info

Kiat agar Aplikasi Berbasis Kecerdasan Buatan Tidak Hanya Sekadar Menjadi Model

Seiring dengan meluasnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI, perusahaan mulai mempertimbangkannya sebagai solusi atas tantangan bisnis mereka. Dengan penerapan yang tepat, AI memang bisa menjadi solusi. Namun, penerapan AI memerlukan lebih dari sekadar model. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana penerapan kecerdasan buatan yang tepat, mulai dari ide, identifikasi kasus penggunaan, hingga pembuatan prototipe model AI yang sukses. Memulai dengan tepat Photo Credit: Google Cloud Blog Secara ringkas, berikut komponen utama dalam merancang produk berbasis AI end-to-end: Tentukan strategi yang berfokus pada pengguna. Pahami kebutuhan pengguna agar dapat merancang produk yang tepat untuk mereka. Rencanakan design sprint yang fokus pada Customer User Journey, user experience (UX), dan desain. Definisikan kasus penggunaan yang dapat dipecahkan dengan AI dari design sprint tersebut. Rancang prototipe software yang menunjukkan representasi visual user interface (UI). Rancang kembali prototipe model AI yang disesuaikan dengan kasus penggunaan, tunjukkan dengan rinci proses model menyelesaikan kasus tersebut. Integrasikan prototipe model AI dengan kasus penggunaan dan desain UX sebagai solusi berbasis AI. Baca juga: Tingkatkan Interoperabilitas Google Chat Ddan Platform Perpesanan Lain Lalu, tim seperti apa yang dibutuhkan? Photo Credit: Google Cloud Blog Secara garis besar, tim yang ideal untuk merancang solusi berbasis kecerdasan buatan terdiri dari desainer UX, manajer program, insinyur teknis, dan konsultan AI. Komposisi ini akan memudahkan Anda dalam proses pengembangan dan memberi keuntungan berupa: Keahlian bisnis: Hadirnya manajer program akan menawarkan panduan operasional dan keuangan yang strategis. Mereka juga dapat membantu memastikan kebutuhan bisnis terpenuhi. Baca juga: Manfaat Penggunaan Chatbot AI untuk E-Commerce UX yang ditingkatkan: Desainer UX ahli dalam memahami kebutuhan dan perilaku pengguna, memastikan bahwa aplikasi tersebut intuitif, ramah pengguna, dan mudah digunakan. Manajemen proyek yang efektif: Manajer program dapat membantu Anda menyiapkan struktur dan menjadi pengawas selama proses pengembangan agar tetap mengikuti jadwal serta bujet. Keahlian teknis: Insinyur memiliki keterampilan dan pengetahuan teknis untuk menerjemahkan konsep desain ke dalam program atau aplikasi yang fungsional. Baca juga: Membandingkan ManageEngine Dan Kaseya Sebagai Platform Mobile Device Management, Mana yang Lebih Baik? Membangun aplikasi solusi bisnis berbasis kecerdasan buatan atau AI adalah suatu proses yang kompleks, namun hasilnya sangat bermanfaat bagi bisnis. Google dapat membantu Anda memulai merancang strategi pengembangan aplikasi dan tren terkini terkait AI. Dengan mengikuti kiat yang sudah disebutkan dalam artikel ini, Anda dapat meningkatkan Jangan lupa juga untuk menggunakan solusi komputasi awan Google Cloud untuk memudahkan seluruh proses perancangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Dapatkan sekarang juga melalui EIKON Technology, hubungi kami di sini

Google Workspace

Duet AI for Google Workspace, Optimalkan Alur Kerja Anda dengan Kecerdasan Buatan

 Google Workspace dibuat dan dikembangkan untuk memungkinkan Anda berkolaborasi secara real-time dengan orang lain. Tahun 2023 ini, Workspace semakin berkembang dengan dukungan artificial intelligence (AI). Kini, kekuatan generative AI telah ditanamkan di semua aplikasi Workspace. Dengan generative AI, aplikasi Workspace akan bekerja lebih optimal dalam membantu Anda menulis, mengatur waktu, memvisualisasikan data, hingga mempercepat alur kerja. Pengembangan terbaru dengan dukungan kecerdasan buatan tersebut bernama Duet AI for Google Workspace. Google dan generative AI Akhir-akhir ini, AI tengah menjadi pembicaraan hangat. Selama satu dekade terakhir, AI telah berevolusi dari yang awalnya hanya berupa prototipe eksperimental, kini penggunaannya semakin meluas. Pengembangan terkini seperti generative AI bahkan mulai mengubah cara manusia berkreasi, saling terhubung, dan berkolaborasi. Bulan Maret 2023 lalu, Google mengumumkan dukungan generative AI dalam Google Cloud, untuk membantu developer dalam mengembangkan aplikasi secara bertanggung jawab. Beberapa contohnya adalah Gen App Builder yang memungkinkan developer merancang aplikasi percakapan generatif dan Vertex AI yang memperluas platform pengembangan aplikasi dengan akses ke model pembelajaran mesin dasar Google. Kini, melalui Duet AI for Google Workspace, Google menghadirkan dukungan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan alur kerja Anda selama menggunakan Workspace. Baca juga: AI Generatif, Teknologi Kecerdasan Buatan Masa Depan untuk Developer dan Google Workspace Bantu kembangkan ide Photo Credit: Google Workspace Duet AI sudah bekerja di belakang layar untuk membantu Anda menulis, baik itu saat menulis email di Gmail maupun saat menuangkan ide di Docs. Paling baru, Google menghadirkan dukungan AI ke Gmail versi mobile. Nantinya, Anda dapat menyusun respons lengkap saat menulis email hanya dengan beberapa kata sebagai perintah. Mengolah data menjadi insight baru Photo Credit: Google Workspace Duet AI hadir untuk membantu Anda menganalisis dan menindaklanjuti data Sheet lebih cepat dengan klasifikasi data otomatis. Kapabilitas “help me organize” di Sheets secara otomatis membuat perencanaan untuk tugas, proyek, atau aktivitas apa pun yang ingin Anda lacak atau kelola. Cukup jelaskan tujuan Anda dan Sheet kemudian akan menyusun perencanaan untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Duet AI membantu Anda membuat perencanaan yang rapi dengan tool yang mudah digunakan. Baca juga: Bard: Teknologi Chatbot AI Google, Bakal Saingi ChatGPT? Menjalin koneksi yang lebih bermakna Photo Credit: Google Workspace Google juga telah memadukan Duet AI dengan Meet dan memperkenalkan kemampuan untuk membuat background unik pada panggilan video Anda. Kapabilitas baru ini membantu pengguna mengekspresikan diri dan memperdalam koneksi selama panggilan video berlangsung, sambil tetap melindungi privasi mereka. Semuanya bisa dilakukan hanya dengan beberapa klik saja. Tetap terkendali Meski perkembangannya begitu pesat, AI bukanlah pengganti kreativitas dan kecerdasan alami manusia. Google telah merancang produknya sesuai dengan AI Principles yang membuat pengguna tetap memegang kendali, memberikan saran yang bisa Anda ubah dan sesuaikan dengan kebutuhan. Google juga telah menyediakan kontrol administratif yang sesuai sehingga Anda dapat menetapkan kebijakan yang tepat bagi lingkungan kerja Anda. Baca juga: Google Cloud Meluncurkan Produk Baru untuk Pengembangan Aplikasi, Lengkap dengan Generative AI Perkembangan AI, terutama generative AI semakin pesat akhir-akhir ini. Penggunaanya pun semakin meluas, bahkan hingga mencapai masyarakat awam. Namun memang tidak dapat dimungkiri bahwa AI memang dapat membantu dan bahkan mengoptimalkan produktivitas. Google menjawab itu semua dengan mengembangkan generative AI yang telah disesuaikan dengan produk dan aplikasi mereka. Untuk Google Workspace misalnya, kecerdasan buatan telah ditanamkan untuk dapat menyederhanakan dan mengotomatisasikan tugas, seperti menyusun draf dan mengambil sumber data. Tertarik untuk mulai mencoba kepintaran generative AI? Anda bisa langsung menikmatinya melalui teknologi Duet AI for Google Workspace. Dapatkan segera rangkaian produktivitas Google Workspace untuk mendukung alur kerja perusahaan atau instansi Anda melalui EIKON Technology. Kami menyediakan produk resmi beserta proses implementasi yang aman dan menyeluruh. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Bard: Teknologi Chatbot AI Google, Bakal Saingi ChatGPT?

Layanan chatbot berbasis AI ChatGPT, kini tengah menjadi perbincangan hangat. Hadir dalam format interaktif, layanan ini mampu memberikan jawaban, mengoreksi kesalahan, hingga menolak permintaan yang tidak pantas. Tanggal 6 Februari 2023 lalu, Sundar Pichai, CEO Google mengumumkan akan segera memulai public testing untuk teknologi chatbot AI mereka yang bernama Bard. Pengumuman tersebut berhasil membuat publik berekspektasi, akankah teknologi baru Google ini dapat menyaingi ChatGPT? Bard, teknologi chatbot AI Google Mengembangkan teknologi berbasis AI (kecerdasan buatan) bukanlah sebuah hal baru bagi Google. Tahun 2021 lalu, Google meluncurkan sebuah kemampuan bahasa dan percakapan yang didukung oleh Language Model for Dialogue Applications (LaMDA). Dari situ, Google kemudian menggarap sebuah layanan percakapan AI dengan dukungan LaMDA, yang diberi nama Bard. Layanan tersebut resmi diperkenalkan pada 6 Februari kemarin dan membuka kesempatan public testing. Bard berupaya menggabungkan luasnya pengetahuan dunia dengan kecerdasan, kekuatan, dan kreativitas model bahasa Google. Teknologi ini didukung oleh data yang diambil dari web untuk memberikan respons berkualitas, dan tentunya, sesuai ekspektasi penggunanya. Baca juga: Perlindungan Spam Google Voice yang Ditingkatkan dengan Label Otomatis Public testing dengan versi ringan LaMDA Photo Credit: jcomp (Freepik) Untuk kebutuhan public testing, Bard hadir dalam versi model ringan LaMDA Google. Model ringan ini hanya membutuhkan daya komputasi yang juga ringan, sehingga dapat diskalakan ke lebih banyak pengguna. Harapannya, feedback yang didapatkan nantinya pun akan lebih banyak. Selanjutnya, feedback dari tester akan digabungkan dengan pengujian internal untuk memastikan respons Bard dapat memenuhi standar kualitas, keamanan, dan landasan yang tinggi dalam penyajian informasi dunia nyata. Menghadirkan manfaat AI ke dalam kehidupan sehari-hari Google memiliki sejarah panjang dalam menggunakan AI. Salah satunya adalah untuk menyempurnakan Google Search. Teknologi AI mereka, seperti BERT, MUM, hingga LaMDA telah menjadi tonggak dalam pengembangan kecerdasan buatan, terutama yang berkaitan dengan bahasa dan juga percakapan. Penggunaan AI diyakini dapat memperdalam pemahaman tentang informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat, sehingga memudahkan orang memahami inti dari apa yang mereka cari secara efisien. Baca juga: Cara Manfaatkan Google Document AI Dan Google Workspace Untuk Menjalankan SAP Build Process Automation Membantu developer berinovasi dengan AI Photo Credit: DCStudio (Freepik) Bulan Maret 2023 nanti, Google mengundang developer, creator, dan juga perusahaan untuk mencoba Generative Language API mereka. API tersebut didukung oleh LaMDA dan dikembangkan dengan berbagai model lainnya. Nantinya, Google berencana membuat rangkaian alat dan API yang memudahkan developer untuk membuat aplikasi yang lebih inovatif dengan AI. Google pun membuka kesempatan bagi perusahaan startup untuk membangun sistem AI yang andal dan tepercaya melalui program kemitraan Google Cloud dengan Cohere, C3.ai, dan Anthropic, yang baru saja diumumkan awal Februari ini. Baca juga: Otomatisasi Pemrosesan Dokumen Identitas dengan Document AI Pemanfaatan AI dalam pengembangan chatbot kini tengah menjadi perbincangan hangat. Layanan chatbot AI seperti ChatGPT pun makin populer. Sebagai rakasasa teknologi yang telah bertahun-tahun mengembangkan teknologi AI bahasa dan percakapan, Google siap menghadirkan “tandingan” ChatGPT, yakni Bard yang dibekali dengan kapabilitas mumpuni LaMDA. Akankah teknologi terbaru dari Google ini mampu menyaingi ChatGPT? Jika melihat track record Google, tentu saja hal tersebut mungkin saja terjadi. Sambil menanti rilis resmi Bard, Anda bisa meningkatkan pengalaman kerja kolaboratif di tengah maraknya penerapan ekosistem hybrid seperti sekarang dengan Google Workspace. Penerapan Workspace di perusahaan atau institusi Anda akan membuat kolaborasi kerja, meski dilakukan di tempat dan waktu terpisah, akan terasa lebih mulus dan aman. Tertarik? Anda bisa mulai berlangganan Workspace melalui EIKON Technology, partner resmi Google Workspace Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi kami di sini!

Scroll to Top