EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Mengenal Supply Chain Twin, Layanan Terbaru dari Google Cloud

Bulan September 2021 lalu, Google Cloud meluncurkan Supply Chain Twin, sebuah layanan yang memungkinkan perusahaan untuk menciptakan “digital twin”. Apa itu digital twin? Digital twin merupakan representasi virtual dari supply chain fisik yang ada di dunia nyata. Pembuatan digital twin melalui Supply Chain Twin memanfaatkan pengaturan data dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai suppliers, inventories, dan informasi lain yang masih berhubungan. Bukan hanya itu, kombinasi layanan ini dengan modul Supply Chain Pulse, Anda bisa mendapatkan real-time dashboards, analytics  lanjutan, notifikasi potensi gangguan, dan bahkan melakukan kolaborasi di Google Workspace. Dirancang untuk memantau supply chain fisik Photo Credit: Rawpixel Dalam industri retail, supply chain atau rantai pasok sering menjadi penyebab masalah. Kebanyakan perusahaan memiliki visibilitas yang terbatas atas supply chain mereka. Dampaknya, perusahaan akan kesulitan saat harus menghadapi masalah seperti kehabisan stok ritel, inventaris manufaktur semakin usang, hingga gangguan yang berhubungan dengan cuaca. Saat pandemi menyerang, situasi bahkan semakin parah. Dari situasi tersebut, Google menyadari bahwa perusahaan perlu pengetahuan yang lebih up-to-date, terutama yang berkaitan dengan operasional dan inventaris. Dengan begitu, visibilitas mereka terhadap supply chain pun akan meningkat. Supply Chain Twin memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam atas operasional mereka sehingga fungsi supply chain pun bisa lebih optimal. Tipe data yang didukung Supply Chain Twin Layanan terbaru dari Google Cloud ini memungkinkan perusahaan untuk menyertakan data dari berbagai sumber. Menariknya lagi, transfer data ini membutuhkan lebih sedikit waktu integrasi dibanding integrasi tradisional berbasis API. Untuk tipe data yang didukung Supply Chain Twin antara lain: Dari sistem bisnis perusahaan: Memahami operasional lebih baik dengan melakukan integrasi beberapa informasi sekaligus seperti produk, lokasi, pesanan, serta inventaris dari Enterprise Resource Planning (ERP) atau sistem internal lainnya. Dari sistem supplier dan partner: Gambaran yang lebih holistik dari jaringan supplier dan partner usaha dengan melakukan integrasi beberapa jenis data seperti jumlah stok dan inventaris serta status transportasi bahan produksi. Dari sumber umum: Memahami supply chain dalam konteks yang lebih luas dengan menghubungkan data kontekstual dari sumber umum seperti cuaca, risiko, termasuk juga set data publik dari Google. Kombinasi dengan Supply Chain Pulse Photo Credit: Rawpixel Seperti yang telah disebutkan, Twin juga bisa dikombinasikan dengan layanan baru Google Cloud lainnya yaitu Supply Chain Pulse. Kombinasi ini menghasilkan: Visibilitas real time serta analytic lanjutan: Menelusuri operational metrics dengan performance dashboard yang eksekutif, memudahkan Anda untuk mengecek status supply chain. Pengelolaan event berbasis peringatan: Mengatur peringatan pada perangkat mobile Anda yang dipicu oleh perubahan pada key metrics, tepatnya saat key metrics mencapai ambang batas yang telah ditentukan. Kolaborasi lintas tim: Menciptakan workflow bersama yang memungkinkan user untuk melakukan kolaborasi di Google Workspace untuk memecahkan masalah. Optimalisasi dan simulasi berbasis AI: Memicu algoritma berbasis AI untuk menyarankan respon yang tepat atas perubahan situasi, menandai masalah yang lebih kompleks, dan memperhitungkan dampak berdasarkan hipotesis awal. Deployment Supply Chain Twin melalui partner Google Cloud Bagi Anda yang bergerak di industri retail, manufaktur, jaringan layanan kesehatan atau industri lain yang masih berhubungan dengan logistic, bisa melakukan deployment Supply Chain Twin melalui ekosistem partner Google Cloud seperti Pluto7, TCS, dan Deloitte. Sistem ini akan membantu Anda untuk mengintegrasikan Twin dengan dataset dataset yang relevan ke dalam infrastruktur yang tersedia. Sebagai tambahan, Anda juga bisa melakukan augmentasi data menggunakan data partner seperti Climate Engine atau Craft. Kombinasi ini akan menghasilkan dataset yang lebih lengkap karena berisi informasi mengenai kondisi geospasial, keberlanjutan (sustainability), serta manajemen risiko. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Tersedia juga integrasi dengan application partner seperti Automation Anywhere dan project44. Anda bisa menggunakannya untuk memahami siklus hidup produk, melacak pengiriman lintas  operator, hingga memprediksi ETA (estimated time of arrival) atau perkiraan barang tiba. Hingga saat ini, visibilitas yang terbatas akan supply chain atau rantai pasok masih menjadi masalah bagi kebanyakan perusahaan, terlebih bagi perusahaan yang berhubungan dengan logistik seperti retail. Apakah Anda salah satunya? Maka tidak ada salahnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai solusi. Dengan Google Cloud dan Supply Chain Twin yang ada di dalamnya, Anda bisa menciptakan “kembaran virtual” supply chain. Jadi, memonitor supply chain pun akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Buat perusahaan Anda semakin maju dengan memanfaatkan teknologi ini. EIKON Technology sebagai partner resmi Google menyediakan Cloud Service Solutions untuk Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut dengan tim EIKON Technology, Anda cukup klik di sini.

Google Cloud

Mempelajari Update Keamanan Terbaru Cloud Storage dari Google

Cloud Storage merupakan layanan web penyimpanan file online yang ada dalam infrastruktur Google Cloud Platform. Sebagai sebuah platform untuk menyimpan file, keamanan Cloud Storage terus ditingkatkan. Dalam update terbaru mereka, enkripsi menjadi fokus utama. Seperti yang sudah Anda ketahui, enkripsi merupakan elemen penting dalam mengamankan data sensitif, baik saat disimpan di dalam cloud maupun saat hanya transit. Kini, Storage dapat mengenkripsi data dari sisi server menggunakan kunci enkripsi standar yang dikelola Google sekaligus mengenkripsi data menggunakan kunci enkripsi yang dikelola user melalui Cloud Key Management Service (Cloud KMS). Mengapa harus menggunakan Cloud KMS di Cloud Storage? Cloud KMS memiliki pengaturan yang memungkinkan Anda untuk mengelola kunci enkripsi secara terpusat. Bukan hanya terpusat, tapi juga dengan cepat dan scalable sehingga Anda bisa bekerja dengan efisien. Cloud KMS juga menghasilkan kunci enkripsi yang bisa dikelola oleh user secara mandiri (disebut customer-managed encryption keys atau CMEK). Kunci enkripsi ini nantinya berfungsi sebagai lapisan keamanan tambahan selain kunci default dari Google. Sekarang, Anda dapat mengatur kunci ini sebagai kunci default dan pengaturan tersebut pun bisa diubah kapan saja. Photo Credit: Pxfuel Selain CMEK yang berbasis software, Cloud Storage juga mendukung CMEK berbasis hardware, terutama untuk hardware yang di-hosting dalam modul keamanan hardware FIPS 140-2 Level 3 sebagai bagian dari layanan Cloud HSM. Jadi, Anda dapat melindungi workload paling sensitif sekalipun tanpa harus mengatur cluster operations HSM. Peningkatan performa KMS Dalam update terbaru, permintaan untuk mengurangi bandwith dan menurunkan KMS billing akan dikelompokkan menurut perilaku permintaan Cloud KMS di Cloud Storage. Permintaan yang identic akan digabungkan di seluruh mode enkripsi yang didukung Cloud KMS, termasuk kunci enkripsi user yang berbasis software. Dengan adanya perubahan ini, operasi enkripsi akan berjalan lebih cepat, baik itu dalam proses baca dan tulis untuk data baru, audit log Cloud KMS yang tidak diduplikasi, dan bahkan keseluruhan charge Cloud KMS akan lebih rendah. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Bagi Anda yang sering menjalankan workload dengan intensitas tinggi akan menemukan penurunan signifikan dalam throughput ke KMS. Hasilnya, billing untuk operasi kriptografi KMS semua jenis kunci KNS pun turut berkurang. Cloud KMS untuk object composition Photo Credit: StartupStockPhotos (Pixabay) Update keamanan terbaru Cloud Storage bisa ditemukan pada fitur object composition. Sekarang ini, object composition sudah banyak digunakan untuk berbagai macam aplikas, baik itu untuk menggabungkan segmen-segmen video hingga mengunggah kumpulan data berskala besar. Dengan makin banyaknya pengguna Cloud Storage untuk memanfaatkan fitur object composition ini, Google pun meningkatkan performanya agar dapat berjalan di berbagai mode enkripsi. Kini, object composition sudah mendukung kunci enkripsi yang dikelola oleh user (CMEK). Dengan begitu, Anda dapat mengelola CMEK sekaligus menjalankan object composition untuk berbagai keperluan bisnis dalam satu waktu. Untuk membuat objek yang dienkripsi dengan CMEK, Anda harus menentukan nama resource untuk kunci Cloud KMS. Tujuannya adalah agar objek baru tersebut dapat dienkripsi sebagai parameter query. Jika Anda menggunakan JSON API, ketikkan HTTP request berikut ini:   01   POST https://storage.googleapis.com/storage/v1/b/bucket/o/destinationObject/compose Sedangkan Anda yang menggunakan XML API, tentukan nama resource kunci Cloud KMS untuk permintaan header goog-encryption-kms-key-name. Bisa juga dengan menentukan kunci Cloud KMS saat Anda menggunakan gsutil untuk menjalankan object composition. Enkripsi yang lebih baik Sebagai sebuah proses krusial, enkripsi harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak ada hal yang berlebihan jika itu menyangkut keamanan data, terutama data sensitif Anda idi Cloud Storage. Baik saat sedang menjalankan proses penyusunan objek atau workload analitik, enkripsi yang lebih baik dan aman tentu akan meningkatkan skalabilitas workload Anda.   Keamanan data selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Jika sampai detik ini Anda masih bimbang dalam memilih layanan penyimpanan data berbasis online, Cloud Storage dapat dijadikan pertimbangan. Dengan sistem keamanan yang terus ditingkatkan, bahkan dalam proses yang paling krusial seperti enkripsi, layanan penyimpanan dari Google ini akan membantu Anda. Ingin mengenal layanan Google Cloud sebelum memutuskan untuk berlangganan? Tidak jadi masalah, kami dari EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi untuk membantu menentukan cloud service solution yang paling tepat untuk Anda. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite?

Google Cloud Operations merupakan suite yang digunakan untuk mengelola infrastruktur, software, dan bahkan performa aplikasi Cloud. Dulunya, Operations bernama Stackdriver sebelum diakuisisi oleh Google pada tahun 2014. Stackdriver sendiri merupakan layanan manajemen sistem komputasi awan (cloud computing). Google Cloud Operations menyediakan data yang mendalam tentang system metrics dan application logs. Salah satu layanan Operations, Cloud Monitoring mengumpulkan system-level metrics seperti CPU, disk space, dan memori. Sedangkan layanan Operations lainnya, Cloud Logging mengambil log data dari aplikasi seperti server web Nginx. Artikel ini akan membahas tentang bagaimana cara kerja dua layanan Google Cloud Operations tersebut. Mari pelajari bersama. Cloud Monitoring Layanan Cloud Monitoring mengumpulkan system metrics serta log data. Data yang didapat kemudian digabungkan dan divisualisasikan hingga menghasilkan informasi pada  dashboard. Di samping itu, Monitoring juga memiliki fitur peringatan agar admin cloud dapat merespons masalah lebih cepat. Cloud Logging Photo Credit: Rawpixel Logging digunakan untuk menangkap log aplikasi di lokasi yang terpusat, sehingga memudahkan manajemen log dan menyediakan data dari kondisi aplikasi. Pada sebuah virtual machine (VM), pemantauan log sebenarnya merupakan tugas sepele, bisa dilakukan hanya dengan menghubungkan VM ke mesin dan memeriksa aplikasi atau log sistem. Meski begitu, ada kalanya, pemantauan log menjadi tugas yang sulit, terutama saat beberapa VM dioperasikan bersamaan, Cloud Logging memungkinkan admin cloud untuk bisa melacak down system, bahkan di beberapa VM sekaligus. Selain itu, admin juga dapat menyempurnakan filter untuk menemukan masalah yang sebenarnya. Cara kerja Google Cloud Operations Untuk mengetahui cara kerja Google Cloud Operations, mari kita ambil contoh dari infrastruktur yang terdiri dari server web Nginx yang berjalan di sebuah VM. Operations bekerja dengan memanfaatkan dua agent (Monitoring dan Logging) untuk menghasilkan gambaran sistem beserta aplikasi yang ada di dalamnya. Agent pertama, Monitoring, memberikan data terkait memori pada VM. Logging bekerja dengan memanfaatkan collectd dan berinteraksi dengan Google API untuk melaporkan memori. Agent kedua, Logging, mengumpulkan informasi yang berkaita dengan status aplikasi dari log aplikasi dan sistem. Agent ini berbasis fluentd. Setelah Monitoring dan Logging terpasang, Anda bisa melanjutkan ke server web Nginx. Untuk melakukan instalasi, jalankan perintah berikut: sudo apt install Nginx –y Setelah setup selesai, agent akan langsung mengirim data ke Google Cloud Console. Untuk mengolah data tersebut, Anda bisa mengikuti langkah berikut: Memantau query Ada kalanya data yang dikirim ke Console sangat banyak jumlahnya, sehingga proses penyaringan menjadi sulit. Sebagai solusi, Anda bisa memanfaatkan Monitoring Query Language allows untuk menyaring noise (gangguan) dan melacak masalah. Dengan fitur ini, Anda bisa langsung menemukan error atau data point yang berhubungan. Memantau dashboards Photo Credit: Rawpixel Cloud menawarkan dashboard standar dan khusus untuk pengumpulan data yang dilakukan Cloud Operations.User bahkan dapat membangun dashboard khusus untuk query sehingga informasi bisa langsung tersedia. Dashboard menyediakan gambaran fokus atas data point dalam proses deployment cloud. Untuk melakukan set up dashboard, Anda harus membuat beberapa jenis widgets dan melakukan verifikasi terhadap data yang ditampilkan. Anda bisa memanfaatkan fitur automation untuk memudahkan proses tersebut. Baca juga: 4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba Google Cloud memungkinkan user untuk dapat berinteraksi dengan dashboard API. Cukup dengan mengirim permintaan POST ke sebuah endpoint HTTP atau bisa juga ke interface gcloud command-line interface, yang merupakan CLI tool utama dari Google Cloud. Untuk membuat dashboard dengan API, jalankan perintah berikut: gcloud monitoring dashboards create –config-from-file=your-dash.json Bagian “file=your-dash.json” menjelaskan widget apa yang dibuat dalam dashboard Anda dan menggunakan format JSON. Log query Untuk membiasakan diri dengan Logging, Anda bisa menyiapkan pemantauan terhadap akses menuju Nginx dan error logs. Cukup dengan menambahkan konfigurasi berikut pada setelan /etc/google-fluentd/google-fluentd.conf dalam VM. Setup ini akan memastikan entri access.log dan error.log dapat masuk dalam konsol Google Cloud Logging. <source> @type tail format apache2 path /var/log/Nginx/access.log,/var/log/Nginx/error.log pos_file /var/lib/google-fluentd/pos/Nginx-access-log.pos read_from_head true tag Nginx-access-error </source> Setelah menambahkan konfigurasi di atas, lakukan restart pada agent google-fluentd. Dalam beberapa saat, Cloud Logging akan mulai mengirim data ke Google Cloud Console. Selain itu, Anda juga bisa melakukan query data dari Logs Explorer, yang merupakan user interface Cloud Logging untuk dianalisis. Gunakan query berikut untuk menampilkan log data apa pun dari akses Nginx serta error logs: resource.type=”gce_instance” log_name=”projects/<PROJECT_ID>/logs/Nginx-access-error” Dengan memanfaatkan Google Cloud Operations, Anda dapat mengelola cloud dan seluruh elemen di dalamnya, Dengan tambahan Monitoring dan Logging agent, Anda bahkan bisa menemukan solusi atas permasalahan yang muncul di dalam Cloud. Belum bisa menemukan layanan penyedia cloud yang dapat memenuhi semua kebutuhan Anda? Atau Anda memerlukan komputasi awan berskala besar? Cloud dengan fitur dan layanan yang lengkap seperti Google Cloud adalah solusinya. Untuk mulai berlangganan Google Cloud, EIKON Technology siap membantu Anda. EIKON Technology merupakan authorized partner dari Google. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator

Mengatur sebuah pemrograman dalam sebuah perusahaan maupun bisnis besar haruslah dilakukan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Salah satunya adalah ketika menggunakan aplikasi pendukung agar data tetap aman dan bisa didistribusikan dengan baik. Untuk hal itu, Anda bisa mencoba Cloud Spanner Emulator. Platform ini diluncurkan pada tahun 2017 lalu. Peruntukannya memang ditujukan pada industri berskala besar. Mulai dari pengaturan aplikasi untuk ritel, sosial media perusahaan, dan juga bagi industri gaming. Pada platform ini juga memiliki beberapa model deployment Google Cloud. Apa sajakah? Berikut beberapa di antaranya. Model Deployment Google Cloud Emulator Lokal Source: Unsplash.com Model pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan menggunakan emulator lokal. Adapun yang termasuk dalam emulator lokal di sini antara lain adalah Docker Image, Gcloud Commands, Linux Binaries, dan Bazel. Untuk biaya deployment menggunakan emulator ini memang gratis untuk beberapa kasus tertentu. Beberapa emulator lokal tersebut dapat digunakan pada kasu-kasus tertentu saja. Misalnya saja untuk melakukan uji coba pada saat pengembangan penyimpanan data dan sebagainya. Cara seperti ini dilakukan karena memang lebih mudah dan cepat. Hanya saja, jika pengguna menggunakan mode deployment ini ada kemungkinan mengenai konfigurasi, data, dan aset lainnya akan hilang selama proses restart emulator tersebut. Jadi, ada baiknya Anda pertimbangkan dengan baik sebelum memilihnya. Model Deployment Google Cloud pada Remote GCE Source: Gasworld Selanjutnya, mode untuk deployment Google Cloud bisa menggunakan emulator pada Remote GCE. Beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk hal ini adalah deployment manual atau Gcloud deployment. Atau cara lainnya adalah melalui fitur Terraform. Setidaknya, bila menggunakan mode ini ada beberapa keuntungan dan hal lainnya seperti: Mode ini memang tersedia gratis untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para pengguna Cloud Spanner, terutama untuk mengelola tim Anda. Meskipun konfigurasi, skema, dan data bisa hilang saat restart, di sisi lain memungkinkan bagi para developer untuk memecahkan masalah yang ada secara kolaboratif. Penggunaan Terraform untuk proses deployment pada mode ini memang disarankan. Hal ini karena untuk mempermudah alur pengaturan menjadi lebih baik. Model Deployment Google Cloud pada Cloud Run Source: GCN.com Terakhir, untuk mode deployment Google Cloud bisa melalui Cloud Run. Sebagian orang menilai jika mode yang ketiga ini menjadi pilihan yang tepat. Terutama bagi Anda yang ingin menggunakan REST maupun gRPC. Cloud Run ini dibangun atas gRPC ini. Jadi, apabila aplikasi yang Anda pakai menggunakan library dari RPC API, maka emulator bisa digunakan dalam menerima koneksi pada port 9010. Di sisi lain, bila Anda ingin menggunakan interface REST, maka dapat melakukan konfigurasi Cloud Run untuk mengirimkan request ke port 9020. Mengenai masalah biaya yang dikeluarkan, memang ini berbeda dari mode deployment pertama. Untuk mode ini memang berbayar dan harganya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kesimpulan Source: Grand Canyon University Dari ulasan di atas, kita bisa mengetahui jika mode deployment Google Cloud memang beragam. Anda bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan bisnis. Maka dari itu, diperlukan perhitungan dan juga pertimbangan yang matang bagi Anda maupun tim developer untuk memilih mana yang terbaik. Di samping itu, Anda pun dapat menggandeng vendor penyedia layanan Google Cloud yang terpercaya seperti EIKON Technology. Tujuannya adalah, selain mempermudah proses deployment juga akan memberikan kenyamanan. Terutama dalam hal jaminan keamanan data penting dan krusial milik perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud yang kami tawarkan, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba

Sebagai sebuah solusi one stop cloud, Google Cloud terus berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuhan penggunanya. Bagi Anda pengguna Cloud skala besar, berikut empat fitur terbaru yang bisa digunakan untuk memudahkan proses pengelolaan. Mari simak detail lengkapnya dalam poin-poin di bawah ini. Google Transfer Appliance Photo Credit: Rawpixel Bagi Anda yang baru mulai melakukan transformasi digital dan berpindah ke Cloud, proses transfer data bisa menjadi masalah tersendiri. Sebagai pengguna Cloud dalam skala besar, tentu data yang Anda simpan berjumlah besar. Sebagai solusinya, Anda bisa memanfaatkan fitur terbaru Cloud, Google Transfer Appliance. Google Transfer Appliance merupakan perangkat penyimpanan fisik yang dapat memuat data dari fasilitas lokal. Dengan memanfaatkan fitur baru ini, Anda dapat memindahkan data dari fasilitas penyimpanan lokal secara otomatis. Lebih hemat biaya dan tentunya waktu. Saat penyimpanan penuh, Google Transfer Appliance akan langsung mengirimkan data dalam mode offline ke Google Cloud. Sedangkan dalam mode online Anda dapat melakukan streaming data yang disalin perangkat pada Cloud Storage. Menjalankan fungsi serverless Photo Credit: Rawpixel Salah satu model pendekatan deployment yang diterapkan di Cloud adalah model serverless (tanpa server). Dengan model pendekatan ini, Anda tidak harus menjalankan instance atau container mesin virtual secara terus-menerus. Sebaliknya, Anda bisa memilih waktu operasi sesuai dengan kebutuhan. Model deployment seperti ini dapat terwujud melalui perangkat serverless Google, Cloud Functions yang merupakan function as a service (FaaS). Meski begitu, perlu diingat bahwa meski serverless tidak “memaksa” instance untuk terus berjalan, function tetap memerlukan waktu untuk dapat dimulai dan dijalankan, terutama jika instance sempat dimatikan sebelumnya (cold start). Google menawarkan waktu tunggu lebih singkat yang diberi nama instance minimum atau min. Lebih banyak context Fitur terbaru Google Cloud juga berusaha untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan resource mesin virtual. Google kemudian meluncurkan sebuah alat yang telah disempurnakan dengan lebih banyak context dan juga visibilitas untuk menjalankan workloads. Fitur ini dapat diakses melalui Google Cloud Console. Dari sana, developer dapat membuka VM mana pun dan mengakses visualisasi bawaan. Dengan begitu, developer bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail terkait masalah-masalah umum seperti masalah memori, jaringan, CPU, Disk, dan bahkan live processes. Unattended Project Recommender Photo Credit: Piqsels Seiring berjalannya waktu, dalam menggunakan layanan cloud, Anda akan menemukan resources yang berjalan di cloud yang sudah tidak diperlukan lagi. Jika sebelumnya mencari resources semacam ini harus melalui proses manual, Anda pengguna Google Cloud tidak perlu bersusah payah lagi. Sekarang telah tersedia fitur Unattended Project Recommender yang merupakan bagian dari Active Assist. Dengan rekomendasi otomatis ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mencari resources yang menganggur. Bukan hanya itu, fitur baru ini juga melindungi Anda dari risiko keamanan yang mungkin timbul akibat resources usang. Unattended Project Recommender sendiri memanfaatkan mesin untuk mengidentifikasi resources menurut API, aktivitas jaringan, billing, penggunaan layanan cloud, serta sinyal lain yang bisa menjadi indikator  penentu. Dengan hadirnya fitur-fitur baru dari Google Cloud diharapkan setiap masalah yang dihadapi para user dapat menemukan solusi, terutama bagi Anda yang menggunakan layanan Cloud dalam skala besar. Anda pemilik perusahaan atau instansi yang membutuhkan penyimpanan data berskala besar? Google Cloud bisa menjadi solusi penyimpanan yang bukan hanya efisien tapi juga aman. Nikmati segala kemudahan yang ditawarkan hanya dengan berlangganan layanan Google Cloud dari sekarang. EIKON Technology siap memfasilitasi Anda untuk keperluan tersebut. Klik di sini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai subscription layanan Google Cloud.

Google Cloud

Fitur Baru Penyimpanan Google Cloud Memastikan Data Aman

Data perusahaan merupakan aset paling penting terhadap perkembangan bisnis. Oleh karena itulah, penyimpanan data ini harus dipastikan keamanannya. Agar lebih nyaman dalam proses penyimpanan data ini, Anda bisa menggunakan fitur penyimpanan Google Cloud. Apa saja fitur Google Cloud yang bisa Anda gunakan? Berikut ulasannya yang perlu Anda tahu. Cloud Storage Dual-Region Source: Hp.com Google Cloud Storage menjadi salah satu layanan fitur Google Cloud  yang bisa digunakan untuk menyimpan data dalam jumlah dan kapasitas yang besar maupun data tidak terstruktur. Biasanya, fitur ini sangat cocok digunakan untuk perusahaan. Opsi penyimpanannya pun bisa dipilih berdasarkan kebutuhan. Mulai dari Cloud Datastore bagi penyimpanan non-relasional atau NoSQL dan Cloud SQL yang digunakan sebagai media penyimpanan relasional penuh dengan MySQL maupun database Cloud Bigtable Google. Kini, fitur ini hadir dengan mode dual-region yang saling berkaitan dengan program lainnya seperti Colossus dan Spanner. Cara menggunakan data-region pun cukup mudah, setelah Anda masuk pada menu Google Cloud Storage, masuk menu “Choose Where to Store Your Data” dan pilih “Dual-Region”. Keunggulan dari fitur ini adalah: Dapat melakukan kustomisasi pada dual-region buckets yang dipilih. Dengan begitu, Anda dapat menyimpan data-data penting dari dua tempat yang berbeda. Misalnya saja sebuah perusahaan memiliki data pasar Eropa untuk wilayah Frankfurt dan London. Maka, data-data tersebut dapat tersimpan dengan baik dengan menggunakan fitur dual-region ini. Salah satu hal yang ditakutkan saat proses penyimpanan adalah kehilangan data penting. Kini, hal tersebut dapat diminimalisir dengan menggunakan fitur dual-region buckets dan menggunakan Turbo Replication. Dengan begitu, data dapat kembali normal berkat dukungan replikasi 100% dari SLA dalam kurun waktu sekitar 15 menit. Tentu ini sangat menguntungkan bagi pengguna yang melakukan proses penyimpanan data dalam jumlah besar. Perlindungan dengan Google Kubernetes Enterprise (GKE) Source: Cloud Carib Fitur penyimpanan Google Cloud selanjutnya adalah Google Container Engine. Adapun fitur ini adalah sebuah sistem pengelolaan data untuk container Docker dan berjalan pada sistem cloud publik dari Google. Mesin orkestrasi yang digunakan ialah Google Kubernetes Enterprise yang membuat para developer lebih produktif.  Di sisi lain, fitur ini juga dinilai sangat efisien terhadap sumber daya maupun fleksibilitasnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah, fitur tersebut pun unggul dalam hal penyimpanan data-data krusial milik perusahaan. Berkat keandalannya inilah, GKE dipilih oleh perusahaan besar dunia ketika melakukan proses penyimpanan data. Misalnya saja perusahaan teknologi sekelas Broadcom dan Atos juga menggunakan fitur ini. Filestore Enterprise Source: Teknologi.id Penyimpanan Google Cloud terakhir yang bisa Anda pilih adalah Filestore Enterprise yang masih merupakan bagian dari Filestore di fitur Google Cloud. Keberadaannya memang dikhususkan untuk media penyimpanan yang besar pada tingkatan tier-satu. Terutama dalam hal berbagi file dan data. Termasuk performa yang unggul dalam membaca dan menulis data. Filestore Enterprise menawarkan tingkat keandalan tinggi dengan proses sinkronisasi replikasi menggunakan multiple-zone di beberapa wilayah. Inilah yang menjadi keunggulannya. Yakni ketika di sebuah wilayah tidak mendukung fitur tersebut, maka data akan tersimpan dengan mudah tanpa intervensi. Kesimpulan Source: Quipper.com Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyimpanan data menjadi hal yang penting bagi sebuah perusahaan. Terutama bagi perusahaan yang sedang melakukan migrasi data. Selain itu, keberadaan platform penyimpanan Google Cloud dengan fitur-fitur terbaiknya mampu menjadikan data yang disimpan lebih aman. Dengan begitu akan membuat perusahaan lebih nyaman dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, bahkan bisa meningkatkan keuntungan dengan memanfaatkan fitur Google Cloud secara optimal. Kini, saatnya perusahaan Anda melakukannya dan percayakan pada vendor penyedia layanan Google Cloud yang resmi dan terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang berpengalaman dan memiliki reputasi baik sebagai partner resmi Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Jenis Pemrosesan Data Perusahaan

Pengolahan data perusahaan menjadi hal penting agar data-data penting menjadi lebih aman. Selain itu, dengan pengolahan data perusahaan dapat memproyeksikan apa saja yang harus dilakukan nantinya dan mengambil keputusan yang tepat. Saat ini, pengolahan data dapat lebih mudah menggunakan layanan seperti Google Cloud. Lalu, apa saja jenis dan metode pemrosesan data perusahaan? Data Value Chain Source: Unsplash.comJenis pemrosesan dan pengolahan data yang pertama adalah Data Value Chain. Jenis ini merupakan yang paling penting sebab menjadi rangkaian utama dan tahapan awal dalam proses pengolahan data untuk input dalam sebuah sistem dan menjadi output yang berguna bagi perusahaan. Tanpa menggunakan jenis data ini, akan sulit dilakukan pemrograman lebih lanjut menggunakan tools maupun software tertentu bagi perusahaan. Untuk bisa mengolah data pertama tersebut, idealnya Anda bisa menggunakan tools khusus seperti ETL. Khususnya bagi data yang tertulis dan dijadikan sebagai perimeternya. Pada tahapan pemrosesan Data Value Chain, penting juga dipertimbangkan mengenai kecepatan pemrosesan datanya. Misalnya berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengolah data bila menggunakan fitur-fitur terbaik seperti layanan di Google Cloud. Type of Organization Source: Unsplash.com Selanjutnya adalah Type of Organization. Dimana dalam hal ini, pengolahan data dan pemrosesan berdasarkan tipe organisasinya. Oleh karena itulah, berbeda jenis organisasinya beda pula strategi yang diterapkan. Kemudian, penting pula mengenai personil atau sumber daya manusia yang bertanggung jawab menangani proses pengolahan data tersebut. Misalnya saja untuk proses pengolahan data pada warehouse. Di sini, pengguna dapat memilih menggunakan fitur Google Cloud maupun BigQuery. Bila data yang akan diproses cukup besar dan banyak, maka bisa pula menggunakan tool ETL. Caranya adalah dengan mulai memasukkan data-data penting dalam BigQuery SQL dan dilanjutkan dengan menggunakan ETL. Pengolahan data dan pemrosesan Type of Organization masih terbagi lagi menjadi tiga tipe utama. Yakni Data Analyst Driven, Data Engineering Driven, dan Blended Organization. Metode yang Digunakan Source: Pexels.com Selain dari jenis, pengolahan data dan pemrosesannya bagi sebuah perusahaan dapat dilakukan dalam beberapa metode. Hingga saat ini setidaknya ada tiga metode yang sering digunakan yakni batch processing, real time processing, dan distributed processing.   Batch Processing   Metode pertama ini menitikberatkan penggolongan data yang akan diproses nantinya. Biasanya, pengelompokan data ini dilakukan agar lebih mudah dipilah dan lebih nyaman. Selain itu, teknik ini juga dinilai lebih praktis dan efisien serta cepat. Waktu pemrosesannya dan pengolahan datanya bisa dipilih sesuai kebutuhan secara berkala.  Misalnya saja mingguan, bulanan, hingga tahunan. Keunggulan metode ini lebih mudah untuk mengelompokkan data besar saat diproses. Di sisi lain kelemahannya adalah Anda perlu memfilter data yang terkadang memakan waktu yang cukup lama.   Real Time Processing   Real time processing merupakan metode berikutnya yang cukup banyak digunakan. Seperti namanya, pengolahan data dan pemrosesannya dilakukan pada waktu yang sama. Prosesnya dapat menggunakan sistem yang terintegrasi dengan jaringan komputasi awan seperti Google Cloud. Contohnya adalah mengenai input barang pada perusahaan yang harus dilakukan pada saat itu juga. Apabila terjadi perubahan maupun pembatalan masukan data, maka data yang ada pun akan segera terupdate. Sehingga Anda tak perlu lagi melakukan pengecekan satu per satu layaknya teknik pertama karena semuanya berjalan secara otomatis.   Distributed Processing   Terakhir adalah distributed processing, di mana pada proses ini pengolahan data dan pemrosesannya bisa dibilang cukup kompleks. Yakni melibatkan terminal jarak jauh yang terhubung ke server pusat yang membantu pengguna melakukan pengolahan dan pemrosesan data. Pengolahan data menggunakan metode ini dipilih karena lebih responsif terhadap masalah yang dihadapi. Di sisi lain, yang menjadi kekurangannya adalah memerlukan fasilitas yang cukup mahal dan terminalnya terkadang tidak efisien. Setidaknya itulah beberapa jenis pengolahan data dan pemrosesannya yang perlu Anda ketahui. Untuk pengolahan data menggunakan Google Cloud lebih nyaman dan aman, Anda dapat berlangganan di EIKON Technology dan bisa dipilih berdasarkan kebutuhan perusahaan.

Google Cloud

Google Cloud Menghadirkan Cloud Composer

Komputasi awan atau cloud computing memang memiliki sifat yang kompleks dalam penerapannya. Namun, kini hambatan tersebut menjadi lebih mudah teratasi dengan menggunakan Cloud Composer dari Google Cloud.  Platform ini menggunakan Apache Airflow. Pengguna pun lebih mudah dalam melakukan manajemen alur kerja menggunakan cloud. Apa saja keunggulan dan fitur-fitur yang dimilikinya serta bagaimana alur kerjanya? Simak ulasannya di artikel ini. Keunggulan Cloud Composer dari Google Cloud Source: DevelopersIO Dalam penggunaannya, Cloud Composer dari Google Cloud bisa dibilang lebih unggul bila dibandingkan fitur lainnya. Dengan begitu, Anda dapat melakukan dan menjalankan tugas dengan mudah dalam mengembangkan bisnis perusahaan. Bila diringkas kembali, keunggulan dari Cloud Composer ini antara lain sebagai berikut: Penggunaan yang mudah dan cepat. Hal ini karena ketika Anda melakukan registrasi pada akun Google Cloud, prosesnya tak membutuhkan waktu lama. Anda hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk membuat dan meluncurkan project yang dibuat. Kemudian, dapat memilih pemrograman Python dan melakukan konfigurasi. Pembagian data lebih mudah dengan menggunakan fitur DAGs yang secara otomatis tersemat di Google Cloud Storage. Mendukung untuk pengoperasian dengan menggunakan fitur pemrograman Python terbaru. Jika pada awalnya Cloud Composer mendukung hanya untuk generasi Python 2.7, kini penggunaannya bisa dilakukan pada sistem Python terbaru yakni 3.6. Hal itu akan membuat implementasinya lebih baik dan lebih cepat bila dibandingkan seri sebelumnya. Fitur Utama yang Dimiliki Source: The Spoon Keunggulan Cloud Composer yang sudah disebutkan di atas, tidak terlepas dari dukungan fitur utamanya yang dimiliki. Google Cloud sendiri menggunakan berbagai fitur terbaik di layanan ini seperti: Portabilitas yang tinggi dimana Cloud Composer dibangun pada Apache Airflow yang membuatnya mudah dioperasikan pada berbagai platform. Dengan begitu, juga akan menyesuaikan infrastruktur. Terdapat fungsi multi cloud yang dapat digunakan dengan produk-produk cloud lainnya yang diperlukan. Selain itu juga memungkinkan untuk dioperasikan menggunakan hybrid cloud terutama untuk penyimpanan data dan memberikan skalabilitas yang tidak terbatas. Kompatibel dengan bahasa pemrograman Python yang dapat memberikan kenyamanan dalam pelayanan yang cepat, aman, dan mudah. Terintegrasi dengan layanan lainnya melalui APIs dan mendukung untuk produk layanan Google lainnya seperti Big Query, Cloud Datastore, Dataflow and Dataproc, AI Platform. Beberapa komponennya juga dapat digantikan dengan mudah menggunakan AWS maupun Azure secara analog. Bagaimana Cara Kerjanya? Source: DevCommunity Cara dan alur  kerja Cloud Composer menggunakan sistem Directed Acyclic Graphs (DAGs). Dengan fitur ini, memungkinkan platform untuk mengumpulkan data-data mengenai tugas yang akan dikerjakan dan telah dijadwalkan. Kemudian, mengolahnya kembali. DAGs ini dapat dibuat pada skrip Python dan dependensinya menggunakan kode. Tujuannya adalah untuk memastikan semua task dapat berjalan dengan baik di waktu yang sudah ditentukan tanpa hambatan berarti. Dengan begitu, bisa lebih mudah mengerjakan tugas Anda dalam satu platform. Seperti mengumpulkan data, mengirimkan email kepada penerima yang memiliki akses dan sebagainya. Cloud Composer Dilengkapi Fitur Keamanan Canggih Source: Pexels.com Mengenai faktor keamanan dan kenyamanan, Cloud Composer dari Google Cloud ini memang sudah tak diragukan lagi. Hal ini karena memiliki berbagai ragam fitur keamanan yang mendukung. Sehingga, data lebih terjamin. Berikut beberapa fitur keamanannya: Menggunakan Private IP yang mana data tidak bisa diakses oleh publik dan terlindung dari penggunaan internet publik. Di sini, developer dapat mengakses data namun tidak bisa mengaksesnya menggunakan perangkat luar yang tidak memiliki izin akses yang diberikan. Menggunakan sistem Private IP+Web Server ACLs dan alur kerjanya lebih terlindungi dengan sistem otentikasi. Kemudian dapat membatasi penggunaan dari luar dan Anda bisa lebih mudah mengontrol Private IP. Dengan adanya VPC Native Mode akan membatasi akses komponen dari Cloud Composer pada jaringan VPC yang sama. Jadi, penggunaannya pun lebih mudah dan terlindungi. Begitu pula dengan VPC Service Controls yang dimilikinya. Memiliki fitur enkripsi data yang mumpuni dan bisa terintegrasi dengan Secret Manager untuk melindungi akses maupun password untuk proses otentikasi sistem eksternal. Itulah ulasan ringkas mengenai Cloud Composes baik dari segi keunggulan maupun fiturnya. Anda bisa menggunakan fitur terbaik ini dengan memilih penyedia layanan Google Cloud Indonesia seperti EIKON Technology. Dengan pengalamannya menangani berbagai perusahaan besar dalam hal komputasi awan, EIKON Technology juga memiliki berbagai macam layanan yang dapat Anda pilih untuk mendukung kenyamanan dan keamanan data bisnis di perusahaan Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud dari kami, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud, Info

Alur Sederhana Untuk Merencanakan Migrasi Cloud

Migrasi cloud bagi sebuah bisnis terkadang tak dapat dihindari. Terutama bila ingin mendapatkan efisiensi dan pelayanan yang lebih baik. Apalagi saat ini Anda dapat memilih penyedia layanan migrasi cloud menggunakan Google Cloud yang terbaik. Meski begitu, ada beberapa alur sederhana yang perlu diperhatikan saat merencanakan migrasi cloud. Apa sajakah? Simak ulasannya berikut ini. Persiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia Source: Unsplash.com Sebagai langkah awal dalam merencanakan migrasi cloud, yang harus diperhatikan adalah mengenai kesiapan infrastruktur yang dimiliki oleh bisnis maupun perusahaan Anda. Pastikan semua infrastruktur perangkat IT berjalan dengan baik dengan fitur maupun teknologi yang mendukung proses migrasi. Berikutnya persiapkan pula mengenai personil atau sumber daya yang akan mengurusi migrasi cloud ini. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan bagi personil ini untuk melakukan migrasi secara baik. Misalnya saja mengenai pengelolaan, kontrol akses, maupun aset.  Tentukan Strategi Migrasi Cloud yang Tepat Menentukan strategi penting dilakukan agar migrasi cloud yang menggunakan fitur Google Cloud dapat berjalan lancar. Di sini, Anda bisa memilih antara single cloud atau multiple cloud. Hal itu tergantung skala sistem yang dimigrasi nantinya. Perhitungkan prioritas dan pilotingnya. Strategi tersebut juga perlu mempertimbangkan dan memperhitungkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi nantinya. Misalnya saja gangguan pada saat operasional dan besaran biaya ketika proses migrasi. Begitu pula dengan berapa lama waktu yang diperlukan, waktu downtime maksimal dan kemungkinan risiko kegagalan saat proses migrasi ini. Jangan Lupa Hapus Legacy yang Sudah Tak Dipakai Source: Pexels.com Ketika melakukan migrasi, Anda masih memiliki legacy pada sistem sebelumnya. Legacy ini sebaiknya Anda pilah terlebih dahulu. Mana yang masih digunakan dan mana yang sudah tak digunakan. Di sini memang diperlukan kejelian dan kerjasama tim agar sistem dapat berjalan dengan baik. Maka dari itu, penting sekiranya bagi Anda menghapus legacy yang tak dipakai maupun tak digunakan. Mengapa demikian? Sebab, jika sistem itu tidak dihapus bisa saja dimanfaatkan dan menjadi celah bagi penyerang untuk masuk dalam sistem. Terlebih lagi jika itu terdapat sistem yang sifatnya sensitif. Termasuk sistem data yang bisa diakses oleh pihak internal maupun yang sifatnya publik. Buat Aturan Manajemen Sistem Baru Google Cloud Anda Hal yang tidak kalah penting lainnya ketika Anda akan menjalankan migrasi cloud ialah dengan menetapkan aturan dan manajemen sistem yang baru, Biasanya, sistem operasional ini tidaklah jauh berbeda dengan sistem sebelumnya. Misalnya saja mengenai pembagian kontrol pemberian akses kepada pihak-pihak bertanggung jawab. Kemudian, memastikan sistem konfigurasi keamanan yang digunakan berjalan dengan baik. Khususnya bagi cloud yang dapat diakses oleh publik dan itu sangat rentan terhadap penyerangan. Termasuk pula mengenai maintenance yang harus dilakukan secara berkala. Memilih Layanan Cloud Terpercaya Source: Pexels.com Alur migrasi cloud yang terakhir adalah dengan memilih layanan Google Cloud yang terpercaya. Untuk hal ini, sebaiknya Anda perlu pertimbangkan layanan apa saja yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, biaya operasional harus diperhitungkan dengan matang. Memang, layanan ini memiliki harga beragam dan semua itu tergantung pada fitur dan teknologi yang ditawarkan. Tak hanya itu saja, penyedia layanan Google Cloud juga harus memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi pada regulasi yang ditentukan pemerintah. Di Indonesia sendiri, mengenai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) mengacu pada aturan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (KOMINFO) serta perundang-undangan yang berlaku. Lalu, vendor penyedia layanan migrasi cloud setidaknya juga memiliki sertifikasi PCI DSS. Untuk layanan di Indonesia yang memiliki persyaratan tersebut antara lain adalah EIKON Technology. Dengan adanya sertifikasi dan tingkat kepatuhan tersebut, setidaknya membuat perusahaan dan bisnis Anda menjadi lebih aman dan nyaman. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan ini di EIKON Technology, Anda bisa klik di sini. Bagaimana, cukup mudah bukan untuk merencanakan alur migrasi cloud bisnis Anda menggunakan fitur dari Google Cloud. Kini, saatnya Anda mempraktikkannya.

Google Cloud

Mengenal Cloud IDS, Sistem Deteksi Ancaman Keamanan Jaringan dari Google

Cloud IDS (Intrusion Detection System) merupakan sebuah solusi keamanan siber yang dikembangkan oleh Google. Sistem keamanan berfungsi sebagai pendeteksi ancaman terhadap jaringan. Memanfaatkan layanan keamanan ini, segala risiko yang membahayakan keamanan data di dalam cloud pun dapat diminimalisir. Cloud IDS dirancang untuk mudah disiapkan sekaligus diterapkan. Tanpa perlu melalui proses panjang, hanya dengan beberapa klik saja, Anda sudah bisa memanfaatkan layanan keamanan ini. Dalam satu sistem saja, Anda sudah dapat menikmati pengalaman terintegrasi dari Google Cloud sekaligus teknologi deteksi ancaman tercanggih milik Palo Alto Networks. Untuk mengenal lebih jauh mengenai Cloud IDS, Anda bisa membaca ulasannya berikut ini. Deteksi ancaman jaringan pada cloud-native Cloud IDS pertama kali diperkenalkan pada publik di bulan Juli 2021 lalu. Sistem keamanan tersebut diciptakan sebagai jawaban atas masalah keamanan jaringan, terutama yang muncul pada cloud-native. Cloud-native merupakan sebuah pendekatan dalam pengembangan software yang memanfaatkan komputasi awan (cloud computing) untuk membangun aplikasi. Karakteristik aplikasi yang lahir dari cloud-native adalah modern dan dapat dijalankan dalam lingkungan yang dinamis, baik itu private, public, maupun hybrid clouds. Photo Credit: PxHere Mengingat sifat cloud-native yang dinamis, akan ada banyak sekali celah keamanan yang bisa dimasuki penyusup. Nah, Cloud IDS mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan menawarkan sistem keamanan dengan visibilitas yang luas terhadap traffic yang masuk ke dalam lingkungan cloud. Bukan hanya itu, sistem keamanan ini juga merupakan sebuah solusi end-to-end. Sistem keamanan terus diperbarui mengikuti update dari Palo Alto Neteworks. Dengan begitu, Anda bisa segera tahu saat ada model ancaman baru atau muncul anomali yang mengindikasikan adanya ancaman. Baca juga: “3 Fitur Baru BeyondCorp Enterprise Untuk Tingkatkan Keamanan Akses Resources Perusahaan Anda” Dibangun dengan teknologi deteksi terbaik Photo Credit: Google Cloudo Seperti yang telah disebutkan, Cloud IDS adalah produk kerja sama antara Google dengan Palo Alto Networks. Artinya, saat menggunakan sistem Clouds ID, Anda otomatis menikmati dua layanan sekaligus, infrastrukur cloud tepercaya dari Google sekaligus teknologi deteksi ancaman terbaik dari Palo Alto Networks. Palo Alto Networks sendiri tidak perlu diragukan untuk masalah keamanan siber. Perusahaan yang bermarkas di Santa Clara, California, Amerika Serikat ini memiliki mesin analisis ancaman serta tim riset ekstensif yang terus-menerus memperbarui threat database mereka. Bukan hanya itu, Palo Alto Networks juga memiliki mekanisme deteksi ancaman yang variatif guna mengatasi segala macam ancaman keamanan yang bisa muncul pada jaringan. Mampu mendeteksi ancaman jaringan paling kritis Keunggulan utama dari Clouds IDS adalah visibilitas luas menuju semua traffic yang masuk ke lingkungan cloud Anda. Selain itu, sistem ini juga dapat memantau workloads di Kubernetes Engine (GKE), workloads di Compute Engine (GCE) atau bahkan workloads di kedua infrastruktur tersebut. Dengan begitu, Anda bisa lebih mudah mendeteksi ancaman seperti malware, spyware, serangan C2 (command and control), dan ancaman berbasis lainnya. Bukan hanya itu, Anda juga bisa mendeteksi adanya upaya eksploitasi dan evasi terhadap jaringan serta layers pada aplikasi. Fitur lain yang sangat memudahkan adalah prioritized list. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, ancaman yang masuk akan diurutkan berdasar tingkat keparahannya. Jadi, Anda bisa segera mencari solusi terbaik untuk mengatasi ancaman jaringan yang paling berbahaya. Photo Credit: Raw Pixel Saat ini, Cloud IDS memang masih dalam status preview. Namun bukan berarti Anda tidak bisa menjajal sistem keamanannya yang canggih sekarang. Untuk mencoba layanan keamanan ini, Anda cukup mengakses webpage Clouds IDS dan klik opsi “Get started for free”. Sambil menunggu rilis lengkap Clouds IDS, Anda bisa mulai mengaplikasikan infrastruktur cloud milik Google yaitu Google Cloud untuk proses produksi yang lebih dinamis dan praktis. Google Cloud sendiri bisa Anda dapatkan dengan berlangganan melalui authorized partner yang sudah ditunjuk oleh Google. Untuk Anda yang berada di Indonesia bisa mulai berlangganan melalui EIKON Technology. Melalui EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia, Anda dapat berlangganan Google Cloud secara legal dan cepat. Hubungi EIKON Technology sekarang juga di sini!

Scroll to Top