EIKON Technology

pengembangan aplikasi.

Google Cloud

Memahami Cara Kerja Cloud Load Balancing di Lingkungan Hybrid dan Multicloud

Aplikasi yang beredar saat ini sering kali dirakit di lingkungan terdistribusi, termasuk integrasi layanan di lingkungan multi-cloud, multi-SaaS, dan lokal. Meskipun pendekatan ini memiliki keuntungan yang memungkinkan Anda memilih layanan terbaik yang tersedia untuk mendukung aplikasi, namun penyampaian layanannya di lingkungan heterogen cenderung rumit. Untuk mengatasinya, Cloud Load Balancing mendukung strategi cloud terbuka, yang meliputi: Mendukung kebijakan manajemen traffic universal di lingkungan yang heterogen dengan memanfaatkan open-source dan open-standards. Mengaktifkan global front-end sehingga aplikasi dapat memanfaatkan serangkaian kebijakan umum dan postur keamanan. Menyediakan alat yang memberikan kinerja dan keandalan optimal. Manajemen lalu lintas universal dengan open-source dan open-standards Cloud Load Balancing menciptakan kebijakan traffic yang homogen di seluruh lingkungan heterogen yang terdistribusi dengan mendukung manajemen traffic berbasis standar dalam solusi yang terkelola sepenuhnya, memungkinkan open-source Envoy Proxy sidecars untuk digunakan di lingkungan multi-cloud, menggunakan traffic yang sama sebagai Cloud Load Balancer. Saat perusahaan mulai memodernisasi layanan dan memfaktorkan ulang aplikasi monolitik, mereka memerlukan solusi yang dapat menyediakan manajemen traffic konsisten di seluruh sistem terdistribusi dalam skala besar. Envoy adalah proksi open-source berkinerja tinggi yang berjalan bersama aplikasi untuk memberikan kemampuan jaringan platform-agnostic umum, termasuk: Algoritma load balancing baru, (seperti round robin, ring hash, least conns); Pembagian traffic berbobot; Fault injection; Request mirroring; Cross-origin resource sharing (CORS). Baca juga: Langkah Chrome untuk Memastikan Keamanan Data Anda Hybrid Load Balancing di multi-cloud dan private cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Selama bertahun-tahun Google telah menerapkan Load Balancers di 173+ lokasi Edge Pop, menghadirkan aplikasi pelanggan dalam skala besar di infrastruktur Google. Kini Google Cloud memperkenalkan Hybrid Load Balancing yang memperluas kemampuan Load Balancing di luar jaringan Google ke cloud pribadi dan solusi multi-cloud lokal. Hal ini memungkinkan pelanggan untuk memigrasikan aplikasi ke cloud secara iteratif atau membuat aplikasi hybrid dari layanan yang berjalan di lingkungan heterogen. Mendukung penyampaian aplikasi modern dengan HTTP3/QUIC Cloud Load Balancing adalah solusi load balancing terdistribusi penuh yang menyeimbangkan traffic pengguna (HTTP(s), HTTPS/2, HTTPS/3 dengan gRPC, TCP/SSL, UDP, dan QUIC) ke beberapa backend untuk menghindari kemacetan, mengurangi latensi, meningkatkan keamanan, dan mengurangi biaya. Solusi ini dibangun di atas infrastruktur frontend-serving Google, mendukung jutaan kueri per detik dengan kinerja tinggi yang konsisten dan latensi rendah. Baca juga: Memahami Jaringan Dasar Google Kubernetes Engine Untuk melayani traffic dalam jumlah besar, Google membangun load balancing pertama, Maglev, yang telah melayani sejak 2008. Guna mengakomodasi lalu lintas yang terus meningkat, Maglev secara khusus dioptimalkan untuk Linux Kernel Offload. Maglev juga dilengkapi dengan fitur hashing dan pelacakan koneksi yang konsisten, meminimalkan dampak negatif dari kesalahan tak terduga pada protokol berorientasi koneksi. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengaktif utama lainnya untuk mendukung skala global ini adalah Cloud Load Balancer yang dibangun di atas QUIC (RFC9000), sebuah protokol yang dikembangkan dari gQUIC. HTTP/3 didukung antara Load Balancer HTTP(S) Eksternal, Cloud CDN, dan end client. Setelah diaktifkan, pelanggan biasanya melihat peningkatan dramatis dalam performa dan hasil. Photo Credit: Google Cloud Blog Jika layanan Anda peka terhadap latensi, QUIC akan membuatnya lebih cepat karena membangun koneksi yang lebih sederhana. Saat web client menggunakan TCP dan TLS, diperlukan dua hingga tiga perjalanan bolak-balik dengan server untuk membuat sambungan aman sebelum browser dapat mengirim permintaan. Dengan QUIC, jika klien telah terhubung dengan server tertentu sebelumnya, ia dapat mulai mengirimkan data tanpa bolak-balik, sehingga halaman web Anda akan lebih cepat termuat. QUIC memiliki keunggulan dibandingkan TCP lama sebagai berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Sejak 2008, Google telah menjadi pionir dalam jaringan software-defined, mendukung aplikasi yang berjalan dalam skala besar. Google Cloud Load Balancers mendukung HTTP3 dan QUIC sebagai protokol transportasi web generasi berikutnya, yang secara signifikan meningkatkan latensi lalu lintas pelanggan. Google Load Balancers juga telah memasukkan Envoy proxy sebagai teknologi dasar, yang memberikan manajemen traffic lanjutan yang kompatibel dengan ekosistem open-source Envoy proxy. Baca juga: Migrasi Cloud dengan Cerdas Menggunakan Google Cloud Migration Center Dapatkan solusi Google Cloud untuk mendukung pengembangan aplikasi Anda melalui EIKON Technology, authorized reseller resmi yang dipilih langsung oleh Google untuk melakukan distribusi di Indonesia. Untuk mulai berlangganan, hubungi kami di sini.

Google Cloud

Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Anda

Selama ini infrastruktur cloud fokus pada kecepatan mentah dan feed blok penyusun seperti VM, container, jaringan, dan penyimpanan. Google Cloud merancang infrastruktur khusus, arsitektur preskriptif, dan ekosistem untuk menghadirkan infrastruktur yang dioptimalkan untuk beban kerja. Berikut adalah penjelasan untuk beberapa di antaranya, mari simak bersama. Blok pembangun infrastruktur untuk beban kerja yang mengutamakan cloud Untuk sebagian besar proyek baru, pengembang lebih memilih beban kerja yang dioptimalkan cloud-first, dan hampir setengah dari semua pengembang menggunakan container saat ini. Google Kubernetes Engine (GKE) adalah layanan pengelolaan container otomatis dan skalabel di pasaran saat ini, dan dengan GKE Autopilot, pengembang dapat memulai lebih cepat daripada penyedia cloud terkemuka lainnya. Mengubah beban kerja tradisional Photo Credit: DCStudio (Freepik) Tidak semua beban kerja lahir di cloud. Google Cloud menawarkan berbagai program dan kemampuan untuk membantu mengoptimalkan beban kerja tradisional untuk era cloud baru, terlepas dari apakah Anda ingin memigrasikannya apa adanya, melakukan pengoptimalan ringan, atau memodernisasi dan mentransformasikan sepenuhnya: Migration Center (kini dalam Pratinjau): Untuk perusahaan yang ingin bermigrasi ke cloud dan mengubah bisnis mereka, Migration Center dapat mengurangi kerumitan, waktu, dan biaya dengan menyediakan pengalaman migrasi dan modernisasi terintegrasi. Ini menyatukan alat penilaian, perencanaan, migrasi, dan modernisasi di satu lokasi terpusat dengan platform data bersama sehingga Anda dapat bekerja lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih mudah. Google Cloud VMware Engine: Google Cloud adalah mitra VMware pertama yang memasarkan dengan dukungan VMware Cloud Universal, menyederhanakan migrasi VM VMware lokal ke VMware Engine di cloud. Dengan SLA ketersediaan 99,99% yang terdepan di pasar cloud dalam satu situs, VMware Engine telah membantu perusahaan besar pindah ke Google Cloud. Dual Run for Google Cloud (kini dalam Pratinjau): Solusi ini membantu menghilangkan banyak risiko umum yang terkait dengan modernisasi mainframe dengan memungkinkan pelanggan menjalankan beban kerja secara bersamaan pada mainframe mereka yang ada dan versi modern mereka di Google Cloud. Ini berarti pelanggan dapat melakukan pengujian real-time dan dengan cepat mengumpulkan data tentang kinerja dan stabilitas tanpa gangguan pada bisnis mereka. Google Cloud Workload Manager (kini dalam Pratinjau untuk beban kerja SAP, dan tersedia di Google Cloud Console): Menyediakan analisis otomatis sistem perusahaan Anda di Google Cloud untuk membantu meningkatkan kualitas, keandalan, dan kinerja sistem. Google Cloud Workload Manager mengevaluasi beban kerja SAP Anda dengan mendeteksi penyimpangan dari standar yang didokumentasikan dan praktik terbaik untuk membantu mencegah masalah secara proaktif. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud sebagai Pengamanan Tambahan bagi Developer Melindungi beban kerja Photo Credit: pressfoto (Freepik) Pada tahun 2022 ini Google Cloud telah memperluas jumlah region yang didukung dengan bucket dua region (GA) Cloud Storage, sehingga Anda dapat memastikan bahwa seluruh beban kerja terlindungi. Jika terjadi pemadaman, aplikasi Anda dapat dengan mudah mengakses data di wilayah alternatif. Anda juga dapat menambahkan replikasi Turbo (GA) dengan bucket dua wilayah. Replikasi turbo didukung oleh SLA Recovery Point Objective (RPO) 15 menit. Selain itu, Google Cloud juga baru-baru ini mengumumkan layanan Backup and DR (GA). Layanan ini adalah solusi perlindungan data terintegrasi untuk aplikasi dan database penting yang memungkinkan Anda mengelola kebijakan perlindungan data dan pemulihan bencana secara terpusat langsung di dalam Google Cloud Console, dan sepenuhnya melindungi database dan aplikasi hanya dengan beberapa klik saja. Baca juga: Google Cloud Backup and DR, Apa Keunggulannya? Optimalkan biaya Beban kerja pelanggan memerlukan opsi teknis dan komersial yang dapat memberikan pengembalian terbaik atas investasi mereka. Berikut adalah beberapa peningkatan baru yang dapat membantu: Flex CUD (segera hadir): Flex CUD (Flexible Committed Use Discounts) membantu Anda menghemat hingga 46% dari harga VM Compute Engine sesuai permintaan, dengan imbalan komitmen satu atau tiga tahun. Seperti CUD standar, Anda dapat menerapkan Flex CUD di seluruh project dalam akun penagihan yang sama, ke VM dengan ukuran berbeda, dan di seluruh sistem operasi. Batch: Layanan terkelola sepenuhnya yang membantu Anda menjalankan tugas batch dengan mudah, andal, dan dalam skala besar. Tanpa harus install perangkat lunak tambahan apa pun, Batch secara dinamis dan efisien mengelola penyediaan sumber daya, penjadwalan, antrean, dan eksekusi, membebaskan Anda untuk fokus menganalisis hasil. Tidak ada biaya untuk menggunakan Batch, dan Anda hanya perlu membayar sumber daya yang digunakan untuk menyelesaikan tugas. Baca juga: Update Fitur Google Cloud Deploy: Pemanfaatan di Lingkungan GKE Makin Mudah? Ini hanya beberapa contoh dari banyak cara yang dihadirkan Google Cloud untuk membantu Anda mengelola beban kerja. Google Cloud terus berusaha untuk menjadi ‘cloud infrastruktur terbuka’ yang paling intuitif untuk digunakan karena semuanya dirancang berdasarkan beban kerja Anda, memberikan manfaat TCO (Total Cost of Ownership) yang luar biasa. Nikmati segala manfaat di atas dengan berlangganan solusi komputasi awan dari Google Cloud melalui EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, EIKON Technology menyediakan produk resmi berlisensi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Google Cloud Deploy Memperkenalkan Verifikasi Pasca Deployment

Google Cloud Deploy memperkenalkan fitur baru yang disebut deployment verification. Dengan fitur ini, pengembang dan operator dapat mengatur dan menjalankan pengujian pasca penerapan tanpa harus melakukan integrasi pengujian yang lebih ekstensif. Laporan State of DevOps tahun 2021 menunjukkan bahwa pengujian berkelanjutan adalah penentu utama dari keberhasilan pengiriman berkelanjutan. Dengan menggabungkan pengujian awal dan rutin selama proses pengiriman, serta penguji yang bekerja bersama pengembang, tim dapat mengulangi dan membuat perubahan pada produk, layanan, atau aplikasi mereka dengan lebih cepat. Bagaimana dengan melakukan pengujian pasca pengiriman untuk menentukan apakah kondisi tertentu terpenuhi guna validasi penerapan lebih lanjut? Bagi sebagian besar pengguna, kemampuan untuk menjalankan tes ini tetap penting bagi bisnis mereka dan merupakan kemampuan yang banyak dibutuhkan dari alat pengiriman berkelanjutan. Fitur baru ini bergantung pada fase Skaffold baru bernama “verify”, fase ini memungkinkan pengembang dan operator untuk menambahkan daftar wadah uji untuk dijalankan pasca penerapan dan dipantau untuk keberhasilan/kegagalan. Cara menggunakan Artikel ini menggunakan python-hello-world dari Cloud Code Samples untuk menunjukkan cara kerja deployment verification. Dengan pemicu Cloud Build, file yang dikonfigurasi, dan Cloud Deploy Pipeline yang telah dibuat, Anda bisa mulai mencoba fitur verifikasi pasca penerapan. Pertama, Anda perlu memodifikasi skaffold.yaml untuk memasukkan fase verifikasi baru: Photo Credit: Google Cloud Blog Kemungkinan untuk menggunakan image container apa pun (baik container yang berdiri sendiri atau dibuat oleh Skaffold) memberi pengembang fleksibilitas melakukan pengujian sederhana hingga skenario yang lebih kompleks. Dalam contoh ini, mari coba gunakan ‘wget‘ untuk memeriksa apakah halaman “/ hello” ada dan apakah sudah aktif (http 200 response). Meskipun Anda dapat menggunakan probe kesiapan Kubernetes untuk memeriksa apakah aplikasi/pod siap menerima permintaan, fitur Cloud Deploy yang baru ini memungkinkan pengguna untuk melakukan pengujian terkontrol yang telah ditentukan sebelumnya. Baca juga: Google Cloud Backup and DR, Apa Keunggulannya? Sekarang mari lihat clouddeploy.yaml. Verifikasi pasca penerapan dapat digunakan untuk target yang berbeda berdasarkan profil Skaffold yang berbeda, dalam kasus target ‘dev‘, juga perlu konfigurasi target yang ingin diverifikasikan penerapannya. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah perubahan ini, Anda bisa langsung memicu proses CI/CD menggunakan ‘gcloud builds submit‘ atau mendorong kode ke repo sumber untuk memicu Cloud Build. Setelah fase build (juga dikenal sebagai Continuous Integration), Cloud Build akan membuat rilis Google Cloud Deploy dan menerapkannya melalui pipeline pengiriman yang ditentukan ke target ‘dev‘. Baca juga: Cara Menunda Notifikasi Monitoring Melalui Cloud Alerting Google Cloud Untuk memeriksa status penerapan, buka Cloud Deploy lalu navigasikan ke pipeline pengiriman dan klik rilis terakhir di daftar rilis. Pada halaman detail rilis, pilih peluncuran terakhir dari daftar peluncuran. Photo Credit: Google Cloud Blog Tangkapan layar di atas menunjukkan verifikasi penempatan pos berhasil. Anda dapat mengeklik log verifikasi untuk melihat detailnya. Jika alamat verifikasi ‘wget’ di skaffold.yaml diubah dan prosesnya dijalankan kembali, Anda bisa langsung melihat apa yang terjadi ketika verifikasi gagal. Photo Credit: Google Cloud Blog Saat verifikasi penerapan gagal, peluncuran juga akan gagal Semua uji verifikasi penerapan harus lulus. Jika uji verifikasi penerapan gagal, peluncuran juga gagal. Namun, Anda masih bisa menjalankan kembali verifikasi pasca penerapan untuk peluncuran yang gagal. Anda juga dapat menerima pemberitahuan Pub/Sub saat verifikasi dimulai dan diselesaikan. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud sebagai Pengamanan Tambahan bagi Developer Halaman tutorial Google Cloud Deploy kini telah diperbarui dengan panduan verifikasi penerapan. Tutorial interaktif ini akan memandu Anda melalui langkah-langkah untuk menyiapkan dan menggunakan layanan Google Cloud Deploy. Pipeline ini mencakup verifikasi penerapan otomatis, yang menjalankan pemeriksaan pada setiap tahap untuk menguji keberhasilan aplikasi. Hadirnya fitur baru ini kembali menunjukkan kapabilitas Google Cloud sebagai dukungan untuk proyek pengembangan aplikasi. Dapatkan segera Google Cloud untuk proyek pengembangan aplikasi Anda hanya di EIKON Technology, authorized reseller Google. Kami menawarkan solusi menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Appsheet, Google Workspace

AppSheet dan Apps Script, Solusi Pengembangan Aplikasi Lewat Google Workspace

  Selama ini, Google Workspace dikenal sebagai rangkaian software dan perangkat produktivitas serta kolaborasi. Bagi para pekerja, kemungkinan besar Anda bahkan sudah tidak asing lagi dengan Docs, Sheets, Slides, Drive, dan Gmail yang merupakan bagian dari layanan Google Workspace. Namun, lebih dari itu, sebetulnya Google Workspace juga menawarkan fungsi eksternal melalui AppSheet dan Apps Script. Appsheet adalah platform untuk membuat aplikasi tanpa coding. Sedangkan AppS Script adalah platform scripting untuk mengembangkan aplikasi ringan. Baik AppSheet dan Apps Script telah terintegrasi dengan Google Workspace. Artinya, dari Google Workspace Anda bisa melakukan pengembangan aplikasi bisnis, workflow, hingga automasi menggunakan AppSheet atau Apps Script. Membuat aplikasi tanpa coding dengan AppSheet Photo Credit: Blog Google Cloud Diperkenalkan sebagai platform no-code, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa harus memiliki kemampuan coding. AppSheet juga tidak termasuk dalam Google Workspace karena ia merupakan bagian dari Google Cloud. Namun, AppSheet dapat terintegrasi dengan Google Workspace. Proses pengembangan aplikasi sepenuhnya dilakukan pada user interface (UI) AppSheet, yang dibekali dengan teknologi machine learning serta kemampuan untuk mentranslasi kode rumit menjadi bentuk yang mudah digunakan. Umumnya, aplikasi-aplikasi yang dibuat di AppSheet bertujuan untuk mengautomasi atau menyederhanakan proses kerja (workflow). Contohnya seperti aplikasi untuk melacak pengiriman, manajemen inventaris, dan logistik transportasi. AppSheet telah menyediakan sampel atau template aplikasi yang dapat Anda modifikasi sesuai kebutuhan. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan Anda untuk memanfaatkan sumber dan fungsi data. Sumber ini bisa didapatkan dari data yang telah Anda simpan di aplikasi Google Workspace (Sheets, Docs, Calendar, Maps, dan lainnya). Apps Script, cara mudah kustomisasi Google Workspace Photo Credit: Blog Google Cloud Berbeda dari AppSheet yang menjadi bagian dari Google Cloud, Apps Script termasuk dalam Google Workspace. Ia diperkenalkan sebagai platform pengembangan bersifat low-code. Artinya, Anda perlu melakukan coding untuk pengembangan aplikasi di Apps Script. Namun, aktivitas coding yang dibutuhkan tidaklah terlalu berat. Apps Script menggunakan bahasa pemrograman JavaScript dan mengintegrasikannya dengan API Google Workspace. Hal ini dapat memudahkan Anda merancang berbagai solusi bisnis untuk menyederhanakan operasional kerja sehari-hari. Selain itu, Apps Script juga sepenuhnya bekerja dengan basis cloud, yakni memanfaatkan Google Drive. Artinya, tidak ada infrastruktur apa pun yang perlu Anda kelola. Anda juga tak perlu mengunduh apa pun untuk menggunakan Apps Script. Namun, memang pengembangan aplikasi di Apps Script membutuhkan pengalaman coding. Walau begitu, tak perlu khawatir karena Apps Script dirancang dengan meminimalisir kompleksitas. Terlebih, tersedia pula sumber daya untuk mendukung pengembangan aplikasi seperti tutorial online serta contoh skrip. Perpaduan keduanya memberikan hasil powerful Photo Credit: John Schnobrich (Unsplash) Dengan Apps Script, Anda dapat memodifikasi dan memperluas fungsi aplikasi Google Workspace dengan custom logic. Sementara itu, AppSheet memungkinkan Anda membuat pengembangan aplikasi automasi bisnis secara custom dengan memanfaatkan aplikasi Google Workspace. Walaupun memiliki fungsi berbeda, Apps Script dan AppSheet sebetulnya dapat digunakan secara berdampingan untuk menghasilkan suatu output. Katakanlah Anda ingin mengumpulkan dan memformat data dari berbagai sumber, lalu berinteraksi dengan data tersebut. Nah, melalui Apps Script, Anda bisa menggabungkan data dari berbagai sumber seperti Sheets, Docs, dan Calendar. Lalu automasikan pengumpulan data tersebut ke dalam Sheets untuk dimodifikasi kembali menggunakan coding sesuai kebutuhan. Baru setelah itu buatkan aplikasi menggunakan AppSheet dari data hasil modifikasi tersebut. Anda pun kini dapat berinteraksi dengan data tersebut pada UI hasil custom dari AppSheet. AppSheet dan Apps Script memungkinkan Anda untuk memperluas fungsi Google Workspace melalui pengembangan aplikasi secara mudah. Coba buktikan sendiri kecanggihan kedua platform tersebut dengan berlangganan AppSheet maupun Apps Script melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang AppSheet dan Apps Script. Tentunya sambil memandu Anda memilih edisi berlangganan yang paling sesuai kebutuhan. Tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Info

Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding di Bidang Energi

Industri energi memiliki peran signifikan dalam menggerakkan dunia modern. Demi membantu perusahan energi dalam memenuhi kebutuhan, berbagai teknologi automasi pun bermunculan. Tak hanya meningkatkan produktivitas pada sektor energi, teknologi automasi juga mampu menghemat biaya hingga 800 miliar Dolar. Sayangnya, para ahli memprediksi bahwa baru ada 18% organisasi di bidang energi yang memanfaatkan teknologi automasi pada skala enterprise. Salah satu alasan utamanya adalah kurangnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian secara teknis di bidang tersebut. Kabar baiknya, kini telah hadir solusi bagi pelaku bisnis energi untuk menerapkan teknologi automasi. Jawabannya adalah dengan AppSheet, platform yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan suatu aplikasi tanpa perlu melakukan coding. AppSheet masih merupakan bagian dari Google Cloud Photo Credit: Mitchell Luo (Unsplash) Menggabungkan teknologi artificial intelligence (AI) dan pengembangan aplikasi tanpa coding, AppSheet memberikan peluang kepada perusahaan energi untuk mengautomasi proses kerja (workflow) tanpa harus menulis coding sedikit pun. Artinya, Anda yang tidak memiliki ilmu coding pun bisa turut menggunakan AppSheet. Dalam membantu para penggunanya, AppSheet akan memanfaatkan sumber daya milik Google, khususnya Google Cloud. Sejak Januari 2020 lalu, AppSheet telah resmi diakuisisi oleh Google dan bergabung dengan tim Google Cloud. Beragam hal yang bisa dilakukan dengan AppSheet di bidang energi Melalui layanan pengembangan aplikasi tanpa coding, AppSheet dirancang agar bisa bisa membantu perusahaan energi untuk meningkatkan efisiensi di berbagai lingkup kerja, mulai dari pemeliharaan perangkat, pengangkutan material, hingga pelaporan terjadinya insiden. Berikut penjelasannya.   Pemeliharaan perangkat Photo Credit: Science in HD (Unsplash) Dalam menyediakan energi kepada para konsumen, perusahaan sangat bergantung pada penggunaan banyak perangkat atau peralatan. Mayoritas perangkat ini tak hanya berukuran besar, tapi juga mahal. Dibutuhkan investasi yang tidak sedikit, baik dalam hal pembelian, pengoperasian, hingga pemeliharaan. Itulah kenapa para pekerja di bidang energi dituntut untuk memahami prosedur pemakaian alat-alat tersebut secara tepat dan aman. Tak hanya itu, mereka juga perlu melakukan inspeksi dan melakukan pemeliharaan secara rutin untuk memastikan alat-alat tersebut selalu bekerja optimal. Di sinilah AppSheet dapat membantu Anda. Melalui pengembangan aplikasi tanpa coding, Anda bisa menciptakan proses inspeksi dan pemeliharaan alat secara mulus. Berkat adanya alat-alat yang ditenagai teknologi Internet of Things (IoT), AppSheet akan memberi tahu Anda jadwal pemeliharaan suatu alat, termasuk jika alat tersebut membutuhkan perbaikan dalam waktu dekat.   Pengangkutan dan pelacakan material Photo Credit: ThisisEngineering RAEng (Unsplash) Sektor energi memiliki supply chain yang cukup rumit, terlebih dengan banyaknya material yang memiliki spesifikasi beragam, baik dari segi kualitas hingga keamanan. Perusahaan energi perlu mengadaptasi sistem yang teratur untuk mengelola dan melacak setiap sumber daya yang terlibat dalam proses supply chain. Dengan begini, Anda bisa memastikan bahwa setiap material benar-benar sampai di tempat yang seharusnya secara tepat waktu. AppSheet dapat membantu Anda melakukan hal tersebut melalui teknologi automasi tanpa coding sehingga efisiensi dan transparansi dalam pengangkutan material pun akan meningkat. AppSheet memungkinkan Anda untuk menciptakan aplikasi tanpa coding bersifat custom yang dilengkapi fitur pelacakan GPS dan pemindaian QR code untuk meningkatkan akurasi pengangkutan material energi. AppSheet bahkan menyediakan sampel aplikasi Barcode Scanner dan Location Tracker yang bisa Anda salin dan kustomisasi untuk kebutuhan di bidang energi.   Penanganan bencana Photo Credit: Pixabay (Pexels) Jika terjadi suatu bencana, perusahaan energi memiliki peran penting dalam memulihkan layanan di area-area terdampak. Untuk melakukan, dibutuhkan pengelolaan efektif dalam pengiriman kru sekaligus memastikan keselamatan mereka. AppSheet bisa membantu Anda mempercepat waktu respons dan menjamin keselamatan kru melalui pembuatan aplikasi tanpa coding secara cepat. Bekali kru pengemudi Anda dengan integrasi Google Maps yang akan secara otomatis menunjukkan rute tercepat mencapai lokasi. Tak hanya itu, aplikasi juga kan mengirimkan informasi real-time di lokasi kepada headquarter. Tidak ketinggalan aplikasi untuk mengidentifikasi kebutuhan akan perlengkapan darurat seperti alat pelindung diri (APD) dan mencocokkannya dengan ketersediaan. AppSheet menyediakan sampel aplikasi Driver Dispatch dan Emergency Management yang bisa Anda salin dan kustomisasi sesuai kebutuhan pelaporan bencana di bidang energi.   Dengan AppSheet dari Google Cloud, para pekerja di bidang energi dapat mengautomasi workflow melalui pengembangan aplikasi tanpa coding. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan AppSheet, Google telah menyediakan beberapa edisi langganan, mulai dari Starter, Core, Enterprise Standard, hingga Enterprise Plus. Lalu, ke mana Anda harus melakukan panggilan untuk mulai berlangganan AppSheet? Tentunya partner Google Workspace resmi yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology. Tim EIKON Technology akan memberikan konsultasi seputar produk-produk Google, termasuk AppSheet. Hubungi sekarang juga!

Scroll to Top