EIKON Technology

virtual machine

Google Meet, Google Workspace

Peningkatan Kualitas Virtual Meeting Saat Bergabung dengan Virtual Machine

Jika Anda menggunakan Virtual Desktop Interface (VDI) seperti Citrix atau VMWare untuk bergabung ke panggilan virtual meeting Google Meet, maka akan terlihat peningkatan kualitas video dan audio. Meet kini akan mendeteksi apakah Anda bergabung dari VDI dan kemudian secara otomatis menyesuaikan sistem agar memberikan performa terbaik. Pengoptimalan ini juga akan membantu mengurangi permintaan pada VDI Anda, seperti penggunaan CPU, GPU, dan memori, sekaligus meningkatkan kualitas rapat dan performa keseluruhan. Cara melakukan update Update terbaru yang ditawarkan Google Meet ini memungkinkan Anda untuk bergabung menggunakan virtual machine (VM) tanpa penurunan kualitas. Menariknya lagi, update ini juga hanya memerlukan pengaturan dari administrator untuk bisa digunakan. Bagi administrator, pastikan Google Meet dapat mendeteksi bahwa ia berjalan di dalam VM dengan mengaktifkan kebijakan Enterprise Hardware Platform API di Chrome. Kunjungi halaman API dan Help Center untuk mempelajari lebih lanjut cara menetapkan kebijakan Chrome untuk pengguna atau browser dan menggunakan VDI dengan Google Meet. Update ini tidak membutuhkan pengaturan tambahan dari end user. Google Meet akan langsung melakukan optimasi pengalaman Anda saat melakukan virtual meeting melalui VDI secara otomatis. Baca juga: Update Google Meet Hardware: Lebih Banyak Opsi untuk Framing di Konsol Admin Ketersediaan update Photo Credit: DCStudio (Freepik) Update Google Meet untuk virtual meeting melalui VDI ini dirilis melalui domain rilis cepat dan domain rilis terjadwal. Untuk kedua domain, perilisan dilakukan secara bertahap, mulai dari tanggal 30 November 2022 (hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur). Perlu diingat, update ini tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk mereka yang masih terdaftar dalam paket berlangganan G Suite Basic dan G Suite Business. Baca juga: Laporan Work Insights untuk Google Chat dan Google Meet, Bagaimana Cara Kerjanya? Cara menyiapkan jaringan Anda untuk virtual meeting Google Meet Untuk menghadirkan virtual meeting berkualitas tinggi, Anda perlu menyiapkan jaringan agar Meet dapat berkomunikasi secara efisien dengan infrastruktur Google. Anda harus: Memastikan lalu lintas Meet memiliki jalur pendek ke internet. Menghindari proxy, inspeksi paket, penganalisa protokol, dan kualitas layanan (QoS). Mengukur dan mengoptimalkan latensi, bandwidth, dan jaringan WiFi Anda Siapkan jaringan Anda Photo Credit: Freepik Langkah 1: Izinkan akses ke rentang alamat IP Google Perbarui firewall Anda untuk mengizinkan lalu lintas media mengalir ke dan dari tempat Anda: Untuk media (audio dan video), siapkan port UDP keluar 3478 dan 19302–19309. Jika Anda ingin membatasi jumlah port Chrome WebRTC yang digunakan, lihat setelan Port UDP WebRTC Chrome. Alternatifnya, batasi port tersebut melalui firewall Anda. Untuk lalu lintas web dan autentikasi pengguna, gunakan UDP keluar dan port TCP 443. Langkah 2: Izinkan akses ke pengidentifikasi uniform resource identifiers (URI) Layanan inti Google memerlukan akses jaringan penuh. Jika ada kebijakan pembatasan atau pemfilteran untuk pengguna di jaringan Anda, berikan akses jaringan ke endpoint HTTPS. Langkah 3: Izinkan akses ke rentang alamat IP Google Izinkan akses ke rentang alamat IP untuk mengaktifkan lalu lintas media audio dan video. Jika tempat Anda hanya mendukung traffic Meet melalui port 443, tambahkan SNI Meet ke daftar yang diizinkan firewall atau proxy untuk mengaktifkan traffic audio dan video melalui TLS. Langkah 4: Tinjau persyaratan bandwidth Jaringan Anda harus memiliki bandwidth yang cukup untuk bisa memunculkan virtual meeting berkualitas HD, ditambah bandwidth tambahan untuk kebutuhan lain, seperti streaming langsung. jumlah peserta, berbagi layar, dan faktor lainnya juga mempengaruhi penggunaan bandwidth. Jika jaringan Anda tidak memiliki bandwidth yang cukup, Meet akan menurunkan definisi video agar sesuai dengan batasan jaringan Anda. Jika jaringan Anda tidak memiliki bandwidth yang cukup untuk mendukung video, Meet akan menggunakan audio. Baca juga: Mulai Meeting Lebih Cepat dengan Daftar Tamu dDi Google Meet PC Google Meet PC hingga sekarang masih menjadi aplikasi andalan untuk melakukan virtual meeting. Hadirnya kapabilitas baru ini akan memudahkan Anda untuk bergabung dalam meeting melalui VM tanpa khawatir kualitas video berkurang. Dapatkan Google Workspace for Business untuk mendukung produktivitas kerja Anda dalam skala besar hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google untuk Indonesia, EIKON Technology menyediakan produk-produk Google resmi beserta layanan konsultasi untuk pemasangan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, klik di sini.

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Project Flash: Proyek Pemantauan Ketersediaan Virtual Machine Azure Terbaru

Project Flash merupakan kumpulan kapabilitas di seluruh Azure Engineering, yang bertujuan untuk mengembangkan ekosistem pemantauan ketersediaan virtual machine (VM) Azure menjadi solusi terpusat, holistik, dan mudah dipahami yang dapat diandalkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhan observabilitas spesifik mereka. Di bulan Februari 2022 lalu, Project Flash berhasil menyelesaikan tahap pertama dengan meluncurkan preview data ketersediaan VM di Azure Resource Graph dan private preview metrik ketersediaan VM di Azure Monitor. Namun sebenarnya, apa itu Project Flash? Apa itu Project Flash Seperti namanya, Project Flash merupakan komitmen Microsoft Azure untuk membangun jalan yang cepat dan kuat untuk memantau ketersediaan virtual machine (VM) selengkap mungkin (hal ini merupakan syarat utama agar aplikasi bekerja dengan efisien). Project Flash merupakan misi Azure untuk memastikan pelanggan dapat: Mengonsumsi data yang akurat dan dapat ditindaklanjuti pada gangguan ketersediaan VM (misalnya, VM reboot dan restart, aplikasi macet karena pembaruan driver jaringan dan pembaruan host OS 30 detik), bersama detail kegagalan yang tepat. Analisis dan waspadai tren ketersediaan VM untuk debug yang cepat dan pelaporan dari bulan ke bulan. Pantau data dalam skala besar secara berkala dan membuat dashboard khusus untuk tetap mendapatkan informasi terbaru tentang status ketersediaan semua sumber daya. Otomatis menerima root cause analyses (RCA) yang merinci VM terdampak, penyebab dan durasi waktu henti, perbaikan konsekuen, dan sejenisnya (semua untuk mengaktifkan investigasi yang ditargetkan dan analisis post-mortem). Menerima pemberitahuan instan mengenai perubahan penting dalam ketersediaan VM untuk memicu tindakan perbaikan dengan cepat dan mencegah dampak terhadap end user. Menyesuaikan dan otomatisasi kebijakan pemulihan platform secara dinamis, berdasarkan sensitivitas beban kerja yang terus berubah dan kebutuhan failover. Baca juga: Mendukung Semua Aplikasi Dengan Infrastructure Azure Opsi pemantauan baru Di fase pertama, Project Flash menyediakan opsi yang berbeda untuk mengakses data ketersediaan virtual machine (VM) secara mudah sehingga kebutuhan observabilitas dapat terpenuhi. Tujuannya adalah untuk menjaga konsistensi data dengan standar kualitas yang sama ketatnya di semua fitur dan solusi yang ada, seperti Resource Health atau Activity Log, untuk memberikan tampilan agnostik yang konsisten dari solusi yang Anda pilih. Analisis skala besar untuk ketersediaan virtual machine Photo Credit: Microsoft Azure Blog Azure Resource Graph merupakan sebuah layanan Azure yang diadopsi secara luas karena kemampuannya yang efisien untuk melakukan query di banyak subscriptions sekaligus dan memiliki latensi rendah. Nantinya, Azure akan menambahkan detail kegagalan dan skenario VM yang diturunkan ke tabel Health Resources di Azure Resource Graphs. Detail ini memastikan Anda bisa mendapat informasi yang tepat mengenai penyebab dan dampak dari setiap kegagalan. Jadi, Anda bisa melakukan failover, reboot in place atau mengambil langkah mitigasi yang sesuai untuk meminimalisir dampak pada end user. Metrik ketersediaan virtual machine di Azure Monitor Photo Credit: Microsoft Azure Blog Metrik di Azure Monitor merupakan platform untuk memantau dan menganalisis representasi deret waktu ketersediaan VM untuk debugging yang cepat dan mudah, menerima peringatan tentang tren terkait, menangkap indikator awal ketersediaan yang menurun, berkolerasi dengan metrik platform lain, dan sebagainya. Metrik ini memungkinkan Anda untuk melacak “denyut nadi” VM (selama perilaku yang diharapkan, metrik akan menampilkan nilai 1). Sebagai respons terhadap gangguan ketersediaan VM, metrik akan turun ke 0 selama dampak berjalan. Jika terjadi pemadaman infrastruktur Azure, sistem akan memunculkan nilai 0 yang ditampilkan sebagai garis putus-putus pada portal. Untuk saat ini, Azure baru meluncurkan private preview metrik sebagai fase pertama dari rencana peluncuran mereka. Pengguna yang sudah mencoba preview bisa memberikan feedback agar nantinya layanan dapat ditingkatkan. Dalam jangka waktu dekat, Azure akan menambahkan detail kegagalan seperti dimensi metrik dan platform log, yang memungkinkan pengguna mengetahui skenario kegagalan. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman Dengan adanya Project Flash ini, Azure menawarkan kemudahan bagi para penggunanya untuk melakukan pemantauan virtual machine. Microsoft Azure sendiri merupakan sebuah layanan komputasi awan yang dirancang untuk membangun, menguji, meluncurkan, dan mengelola aplikasi serta layanan melalui data center milik Microsoft. Solusi komputasi Azure kini sudah bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Di EIKON Technology, kami menyediakan layanan free trial agar Anda bisa mencoba Azure terlebih dulu sebelum memutuskan untuk membeli. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Info

VM Manager, Manajemen Infrastruktur Compute Engine dalam Jumlah Besar

  Seiring dengan meningkatnya transformasi digital, ketergantungan terhadap sistem cloud jadi semakin besar. Perusahaan akan memindahkan lebih banyak workload ke cloud mereka. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa manajemen cloud bisa cukup rumit, terutama jika Anda belum familiar dengan perangkat yang dipakai untuk mengelola virtual machines (VM) dalam jumlah besar. Alhasil, pihak administrator (admin) pun menemui tantangan baru, yakni terkait pengelolaan keamanan infrastruktur pada skala cloud. Dibutuhkan perangkat khusus untuk mengelola dan mengoperasikan seluruh sumber daya (resources) cloud dari satu tempat. Tak hanya itu, perangkat tersebut juga harus mudah dioperasikan. Menjawab kebutuhan tersebut, Google pun meluncurkan VM Manager. VM Manager adalah rangkaian perangkat manajemen infrastruktur untuk menyederhanakan dan mengautomasi pemeliharaan compute engine VM dalam jumlah besar.  Mengurangi kompleksitas pengelolaan VM melalui satu dashboard utama Photo Credit: Caspar Camille Rubin (Unsplash) Dalam pengelolaan compute engine VM, terutama dalam jumlah besar, umumnya ada tiga hal yang menjadi pekerjaan utama; perawatan, penyesuaian, dan pengamatan. Melalui fitur-fitur bersifat otomatis pada VM Manager, hal-hal tersebut bisa dilakukan secara lebih sederhana.  Kabar baiknya lagi, fitur-fitur VM Manager dapat Anda akses melalui satu dashboard utama sehingga akan mengurangi kompleksitas pengelolaan compute engine VM. Tak hanya itu, adanya dashboard juga memudahkan pelacakan data inventaris secara real-time. Dengan begini, Anda akan mendapatkan insight yang bisa segera ditindaklanjuti sehingga performa infrastruktur pun terjaga. Patch management menjaga sistem selalu up-to-date Photo Credit: ThisisEngineering RAEng (Unsplash) Agar dapat memudahkan manajemen infrastruktur compute engine VM secara optimal, VM Manager dibekali dengan sejumlah layanan mumpuni. Salah satunya adalah patch management yang berfungsi menjaga sistem infrastruktur selalu up-to-date. Caranya adalah dengan memberi izin kepada Anda untuk memasang OS patches pada seluruh VM, menerima data penyesuaian untuk seluruh lingkungan OS, dan mengautomasi pemasangan OS patches di seluruh perangkat VM. Semua ini dapat Anda lakukan melalui satu platform terpusat sehingga begitu mudah dan praktis dijalankan. Menjaga konsistensi konfigurasi dengan configuration management Photo Credit: cottonbro (Pexels) Semakin besar skala suatu perusahaan, maka idealnya ada semakin banyak perangkat VM yang digunakan. Alhasil, dibutuhkan infrastruktur yang dapat mendukung kinerja puluhan hingga ratusan VM secara konsisten, terutama dari segi konfigurasi. Pengelolaan konfigurasi atau configuration management inilah yang dapat membantu Anda mewujudkan hal tersebut. Layanan satu ini memungkinkan Anda untuk menjaga konsistensi konfigurasi pada seluruh perangkat compute engine VM. Hal ini bisa terjadi berkat adanya fitur automated remediation yang meminimalisir praktik manual dan menjaga perangkat Anda tetap “patuh” pada konfigurasi. Lebih mudah identifikasi VM dengan inventory management Photo Credit: ThisisEngineering RAEng (Unsplash) Layanan ketiga adalah manajemen inventaris (management inventory) yang berfungsi mengumpulkan informasi terkait sistem operasi pada perangkat VM. Melalui adanya layanan satu ini, Anda bisa mengidentifikasi VM mana yang menjalankan sistem operasi tertentu hingga mengakses packages yang terpasang pada VM. Kabar baiknya lagi, layanan management inventory pada VM Manager juga terintegrasi dengan produk Google Cloud lain, yaitu Cloud Asset Inventory. Berkat integrasi ini, Anda pun dapat melihat, memonitor, serta menganalisis data Google Cloud secara sederhana. Kehadiran VM Manager dapat menjadi solusi tepat bagi Anda yang selama ini menggunakan perangkat compute engine VM dalam jumlah besar. Agar bisa membuktikan sendiri kehebatan fungsi VM Manager, pastikan Anda sudah memasang infrastruktur Google Cloud terlebih dulu. Jika belum, Anda bisa langsung menghubungi EIKON Technology untuk berlangganan. EIKON Technology adalah partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Tim EIKON Technology akan membantu Anda melakukan migrasi ke Google Cloud sekaligus menentukan infrastruktur cloud yang sesuai kebutuhan Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Scroll to Top