EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Docs, Google Workspace

Sinkronisasi Offline Tersedia untuk Dokumen Microsoft Office, Bagaimana Cara Kerjanya?

 Pada tahun 2019 lalu, Google Workspace mengumumkan fitur penyuntingan Office untuk mempermudah pengguna bekerja dengan file dokumen dari Microsoft Office, baik di Google Docs, Spreadsheet, maupun Slide. Kini di tahun 2022 ini Google Workspace meluncurkan fitur yang lebih baik sehingga memungkinkan Anda untuk bisa bekerja di mana saja dengan Google Docs, Spreadsheet, dan Slide dalam mode offline. Mulai hari ini, Anda dapat bekerja secara offline dengan file Microsoft Office melalui desktop. Bagaimana cara mengaktifkan sinkronisasi offline tersebut? Sinkronisasi offline untuk dokumen Microsoft Office Fitur baru ini menghadirkan manfaat kolaborasi Google Workspace pada file Microsoft Office Anda. Saat perangkat offline, kini Anda bisa tetap menyunting, berkomentar, dan berkolaborasi di file Office menggunakan Docs, Spreadsheet, dan Slide. Setiap perubahan yang dibuat pada file saat offline akan disinkronkan ke Drive secara otomatis setelah Anda terhubung kembali. Baca juga: Kenapa Microsoft Office 365 Lebih Baik dari Microsoft Office Biasa Pengaturan fitur dari administrator Photo Credit: DCStudio (Freepik) Perubahan ini hanya berlaku untuk file yang telah dibuka dalam mode pengeditan Office. Untuk administrator, akses offline diizinkan secara default. Untuk menyiapkan akses offline ke editor Google Docs, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini: Opsi 1: Izinkan pengguna mengaktifkan akses offline Metode termudah untuk mengizinkan akses offline adalah dengan mengaktifkan akses offline untuk seluruh pengguna melalui cara berikut: Masuk ke konsol Google Admin. Dari halaman beranda konsol Admin, buka Apps Google Workspace Drive and Docs. Klik Features and Applications. Di sebelah opsi Offline, pilih “Allow users to enable offline access” (disarankan). File terbaru akan disinkronkan dan disimpan di komputer pengguna dan komputer yang telah diberi akses. Beri tahu pengguna Anda cara menyinkronkan file untuk penggunaan offline. Opsi 2: Gunakan kebijakan untuk mengontrol akses offline dari komputer Sebagai administrator, Anda dapat menggunakan kebijakan untuk mengontrol akses offline ke Docs, Spreadsheet, dan Slide di komputer yang menjalankan sistem operasi Windows, Mac, dan Linux. Opsi ini mengharuskan Anda untuk mendorong kebijakan terkelola ke setiap komputer. Jika Anda memilih opsi ini sebelum menyiapkan kebijakan, pengguna akan kehilangan kapabilitas ini jika mereka sudah memiliki akses sebelumnya. Setelah Anda memilih opsi ini, pengguna dapat mengaktifkan akses offline hanya jika kebijakan terkelola diinstal di komputer mereka. Namun perlu diingat, opsi ini tidak tersedia untuk perangkat ChromeOS atau perangkat seluler (ponsel dan tablet). Baca juga: Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan Pengaturan fitur untuk end user Sebelum mengaktifkan akses offline, Anda harus terhubung ke internet dan menggunakan browser Google Chrome atau Microsoft Edge. Selain itu, jangan gunakan penjelajahan pribadi. Pastikan Anda memasang dan mengaktifkan ekstensi Chrome Offline Google Documents. Anda juga harus memiliki cukup ruang yang tersedia di perangkat untuk bisa menyimpan file. Ketersediaan fitur Photo Credit: DCStudio (Freepik) Fitur baru ini tersedia untuk semua pelanggan Google Workspace, serta pelanggan G Suite Basic dan G Suite lama. Selain itu, fitur juga tersedia untuk pengguna dengan Google Accounts pribadi. Peluncuran akan dilakukan secara bertahap baik untuk domain rilis cepat sekaligus rilis terjadwal mulai tanggal 27 Juni 2022 (hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Baca juga: Buat Dokumen Lebih Cepat dengan Universal Menu, Fitur Terbaru Google Docs Sebagai platform produktivitas kolaboratif, Google Workspace menyediakan berbagai fitur dan kapabilitas yang terus ditingkatkan. Platform ini juga menyediakan paket berlangganan untuk penggunaan skala besar, seperti perusahaan dan instansi. EIKON Technology, authorized partner Google menyediakan paket berlangganan Workspace untuk penggunaan skala besar. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.  

Google Cloud

3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs

 Google Cloud VM Spot memungkinkan pelanggan kami memanfaatkan kapasitas idle Google secara maksimal di mana pun dan kapan pun tersedia. Bahkan kini Anda dapat mempertahankan elastisitas sekaligus memanfaatkan diskon terbaik yang ditawarkan Google dengan menerapkan beban kerja yang tepat pada VM Spot. Artikel kali ini membahas beberapa contoh penerapan VM Spot dan praktik terbaik dalam kasus penerapan tersebut. Dengan begitu, Anda dapat memaksimalkan penghematan Google Cloud Spot VM sambil tetap mencapai tujuan aplikasi dan beban kerja. Rendering media Photo Credit: drobotdean (Freepik) Beban kerja rendering (seperti rendering 2D atau 3D) membutuhkan sumber daya TI yang terampil untuk mengelola render farms. Manajemen pekerjaan menjadi lebih sulit ketika pemanfaatan render farms berada pada kapasitas 100%. Spot VM adalah sumber daya yang ideal untuk beban kerja rendering yang toleran terhadap kesalahan. Ketika dikombinasikan dengan sistem antrian, Anda dapat mengintegrasikan pemberitahuan pendahuluan untuk melacak pekerjaan yang ditunda. Ini memungkinkan Anda membangun render farms yang mendapat manfaat dari pengurangan TCO. Jika perender mendukung pengambilan snapshot dari render yang sedang berlangsung pada interval yang ditentukan, menyimpan snapshot ini ke data persisten (Cloud Storage) akan membatasi kehilangan pekerjaan jika VM Spot didahulukan. Ketika VM Spot berikutnya dibuat, Anda dapat melanjutkan dengan menggunakan snapshot di Cloud Storage. Bisa juga memanfaatkan fitur “tangguhkan dan lanjutkan VM” baru yang memungkinkan Anda menyimpan instance VM selama peristiwa preemption, tapi tidak dikenakan biaya apa pun saat VM tidak digunakan. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Masa Depan Pemodelan keuangan Photo Credit: our-team (Freepik) Perusahaan pasar modal memiliki investasi yang signifikan dalam infrastruktur mereka untuk menciptakan jaringan komputasi kelas dunia yang canggih. Sejak komputasi grid dimulai, peneliti internal memanfaatkan grid besar ini di pusat data fisik untuk menguji hipotesis perdagangan mereka dan melakukan back-testing. Namun seiring pertumbuhan bisnis, apa yang terjadi jika semua peneliti memiliki ide cemerlang dan ingin mengujinya pada saat yang bersamaan? Peneliti kemudian harus bersaing satu sama lain untuk sumber daya yang sama. Ini bisa menyebabkan antrean pekerjaan dan peningkatan waktu tunggu untuk menguji ide-ide mereka. Perusahaan pasar modal dapat menggunakan Google Cloud sebagai perpanjangan jaringan lokal mereka dengan memutar sumber daya komputasi sementara. Mereka juga bisa menggunakan cloud dan membangun jaringan di Google Cloud. Dalam kedua skenario tersebut, VM Spot adalah kandidat ideal untuk beban kerja penelitian yang meningkat, mengingat sifat beban kerja yang sementara dan biaya VM yang sangat efisien. Baca juga: Preview Cloud SQL Insights for MySQL untuk Tingkatkan Observabilitas Database Penerapan umum Untuk memanfaatkan Spot VM, kasus penggunaan Anda tidak harus sama persis dengan yang dijelaskan di atas. Jika beban kerja tidak memiliki status, dapat diskalakan, dapat dihentikan dan diperiksa dalam waktu kurang dari 30 detik atau fleksibel terhadap lokasi dan perangkat keras, maka mereka mungkin cocok untuk VM Spot. Ada banyak beberapa tindakan yang dapat diambil untuk membantu memastikan beban kerja Anda berjalan semulus mungkin. Di bawah ini adalah praktik terbaik untuk melakukan deploy spot di belakang Regional Managed Instance Groups (RMIG): RMIG sangat cocok untuk beban kerja Spot mengingat kemampuannya dalam membuat ulang instances yang didahulukan. Menggunakan profil beban kerja Anda, tentukan bentuk distribusi target RMIG. Misalnya, dengan beban kerja penelitian batch, Anda dapat memilih bentuk distribusi target apa pun. Ini akan memungkinkan instances Spot untuk didistribusikan dengan cara apa pun di berbagai zona, sehingga memanfaatkan sumber daya yang kurang dimanfaatkan. Anda dapat menggunakan campuran RMIG sesuai permintaan dan RMIG Spot untuk mempertahankan aplikasi stateful sambil meningkatkan ketersediaan dengan cara yang hemat biaya. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Baik beban kerja Anda adalah rendering grafis, pemodelan keuangan, atau kasus penggunaan stateless lainnya, VM Spot adalah cara terbaik dan termudah untuk mengurangi biaya pengoperasian hingga lebih dari 60%. Dengan mengikuti contoh di atas, Anda dapat memastikan bahwa VM Spot akan menghasilkan hasil yang tepat.. VM Spot menawarkan diskon signifikan dari harga jual untuk mendorong penghematan maksimum asalkan pelanggan memiliki beban kerja fleksibel dan stateless yang dapat menangani preemption. Mulailah hari ini dengan uji coba gratis Google Cloud. Jika sudah mantap untuk mulai menerapkan solusi VM Spot dari Google Cloud, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk mulai konsultasi penerapan Google Cloud, silakan klik di sini.

Google Cloud

Cara Memantau Cloud SQL dengan Audit Database SQL Server

Cloud SQL for SQL Server merupakan sebuah layanan database terkelola sepenuhnya yang berjalan di jaringan Google. Layanan ini memungkinkan Anda untuk dapat menjalankan SQL Server dalam jaringan cloud untuk kemudian ditangani oleh. Tahun 2021 lalu, Google telah meluncurkan fitur yang membantu pengguna untuk dapat memaksimalkan SQL Server; misalnya, dukungan untuk autentikasi Active Directory, SQL Server 2019, serta Cross Region Replicas. Fitur audit database Cloud SQL for SQL Server Di tahun 2022 ini, Google berencana untuk menambahkan fitur keamanan SQL Server lainnya, yakni audit database. Audit database ini memungkinkan Anda memantau perubahan pada database SQL Server, seperti pembuatan database baru, penyisipan data, hingga penghapusan tabel. Cloud SQL menulis log audit yang dihasilkan oleh SQL Server ke disk penyimpanan lokal, sekaligus ke Google Cloud Storage. Anda juga dapat menentukan berapa lama log harus disimpan pada instance (maksimal 7 hari) dan menggunakan fungsi SQL Server untuk memeriksa log. Cloud SQL juga akan secara otomatis menulis semua file audit ke penyimpanan Google Cloud Storage yang Anda kelola, Dengan adanya kapabilitas tersebut, Anda dapat memutuskan berapa lama durasi penyimpanan catatan ini jika dibutuhkan lebih dari tujuh hari atau menggabungkannya dengan file audit dari instance SQL Server lainnya. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Cara mengaktifkan fitur audit database Untuk mengaktifkan fitur pengauditan database, buka Google Cloud Console, kemudian pilih instance Cloud SQL for SQL Server Anda. Setelah itu, pilih opsi Edit dari halaman Overview. Anda juga dapat mengaktifkan SQL Server Audit saat membuat instance Cloud SQL baru. Untuk langkah-langkahnya bisa Anda lihat pada gambar berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Prasyarat file yang akan diaudit Sebelum mengaktifkan fitur audit database, pastikan Anda telah memenuhi prasyarat berikut ini: Bucket Cloud Storage untuk file audit File audit (log audit) diunggah ke lokasi bucket Cloud Storage. Dengan demikian, Anda mungkin perlu membuat bucker dari akun Google Cloud pribadi. Alternatif lainnya adalah menggunakan lokasi bucket yang dimiliki oleh akun lain. Saat mengaktifkan pengauditan, jika Anda memiliki izin yang diperlukan, peran role/storage.objectAdmin diberikan secara otomatis untuk mengunggah file audit ke lokasi bucket dari akun layanan yang diberikan. Catatan: Anda perlu mengelola retensi log di bucket Cloud Storage. Untuk informasi tentang menambahkan kebijakan penyimpanan untuk menentukan periode penyimpanan, lihat halaman Retention policies and retention policy locks. Pengguna yang dapat mengaktifkan audit Untuk mengaktifkan audit dan membuat spesifikasi audit, pengguna sqlserver default harus tersedia. Saat Anda membuat instance Cloud SQL for SQL Server, pengguna sqlserver default telah dibuat. Baca juga: Preview Cloud SQL Insights For MySQL untuk Tingkatkan Observabilitas Database Kegunaan fitur audit database Photo Credit: DCStudio (Freepik) Setelah mengaktifkan fitur audit instance pada Cloud SQL for SQL Server, Anda dapat membuat audit SQL Server dan spesifikasi audit. Ini menentukan informasi apa yang akan dilacak pada database Anda. Selain itu, dengan fitur ini Anda juga dapat menangkap informasi terperinci mengenai berbagai operasi yang dijalankan pada database, termasuk, memantau tiap percobaan login yang berhasil atau gagal. Jika ingin menangkap informasi yang berbeda untuk setiap database, Anda dapat membuat spesifikasi audit yang berbeda untuk setiap database pada instances atau Anda juga bisa membuat spesifikasi audit tingkat server untuk melacak perubahan pada keseluruhan database yang ada. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Masa Depan Fitur audit database SQL Server kini tersedia untuk semua instance Cloud SQL for SQL Server. Anda bisa mengunjungi halaman khusus untuk mempelajari fitur audit database di sini. Adanya fitur audit database ini menambahkan kapabilitas baru pada Cloud SQL for SQL Server, sekaligus memperluas dukungan Google untuk mengelola database Anda. Layanan ini pun telah terintegrasi dengan berbagai layanan dan aplikasi Google, termasuk Cloud. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai memanfaatkan solusi komputasi awan dari Google, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan skala besar, seperti untuk korporasi atau instansi pendidikan. Untuk mulai memilih paket sebagai solusi komputasi awan perusahaan Anda, silakan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365

Apa yang Baru dalam Aksesibilitas Microsoft 365?

Sebagai sebuah platform produktivitas, Microsoft 365 terus menghadirkan aplikasi dengan kapabilitas yang inklusif. Salah satunya adalah Office dengan fitur-fitur aksesibilitasnya. Anda bisa menemukan fitur seperti Editor, Immersive Reader, hingga Thesaurus, untuk bisa bekerja tanpa harus mengandalkan aplikasi pihak ketiga. Microsoft 365 bahkan terus melakukan pengembangan dan pembaruan yang akan meningkatkan fokus serta produktivitas pengguna. Berikut adalah beberapa di antaranya: Meningkatkan fokus pengguna Photo Credit: Microsoft Blog Notifikasi yang datang terus-menerus adalah salah satu sumber gangguan terbesar di lingkungan kerja hybrid. Ini juga merupakan salah satu hal yang menjadi sorotan pengguna Microsoft Teams. Beberapa bulan yang lalu, Microsoft meluncurkan opsi untuk melakukan konfigurasi notifikasi feed aktivitas dengan klik kanan item individual di feed. Sebelum ini, Microsoft 365 juga menambahkan opsi untuk menonaktifkan notifikasi selama rapat berlangsung. Baca juga: Menciptakan Lingkungan Kerja Inklusif dengan Microsoft Learn Dukungan untuk tingkatkan pekerjaan baca-tulis Photo Credit: Microsoft Blog Prediksi teks dan tanggapan yang disarankan (Text prediction and suggested responses) dapat membantu menghindari kesalahan dan menyederhanakan proses penulisan. Microsoft terus-menerus melakukan integrasi alat tersebut di lebih banyak tempat. Baru-baru ini, prediksi teks telah diluncurkan ke Outlook untuk perangkat iOS dan Android. Telah tersedia pula, dukungan untuk balasan yang disarankan di Outlook dalam bahasa Jepang, Thailand, dan Turki (beberapa bahasa tambahan sedang dalam proses pengembangan). Di Excel, Microsoft telah menambahkan kapabilitas AutoComplete untuk menu dropdown. Anda dapat memanfaatkannya untuk membuat entri data dan validasi lebih cepat. Microsoft telah menyediakan halaman bantuan untuk menggunakan kapabilitas tersebut di sini. Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure Pengembangan fitur aksesibilitas pada Microsoft 365 Sejauh ini, memanfaatkan perangkat suara dan audio terbukti dapat membantu pengguna untuk bekerja lebih efektif daripada mengandalkan teks tertulis. Bagi mereka yang menderita GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas), input suara dapat membantu menangkap gagasan dari orang lain dan membantu mereka tetap dalam pembahasan. Perangkat tersebut juga meningkatkan akses bagi penyandang disabilitas penglihatan dan motorik, serta mereka yang menghadapi keterbatasan sementara seperti mencoba bekerja sambil menggendong anak. Aplikasi Office telah lama menyertakan sejumlah fitur pendikte. Di pertengahan tahun 2022 ini, Microsoft 365 menambahkan kemampuan untuk mencari dengan suara di Microsoft Word untuk Windows. Cukup katakan apa yang Anda cari dan sistem akan menemukannya. Di samping itu, Microsoft juga menawarkan beberapa alat text-to-speech seperti Read Aloud, yang dapat digunakan sendiri atau sebagai bagian dari Immersive Reader untuk “mendengarkan” kesalahan dokumen Anda. Pengembangan lainnya berupa perluasan fitur text-to-speech ke Word untuk iOS dan Android. Selengkapnya bisa Anda simak di sini. Baca juga: Reading Coach, Tool Baru dari Microsoft Education untuk Tingkatkan Literasi Bagi para penyandang disabilitas yang memerlukan bantuan dalam penggunaan produk-produk Microsoft, bisa menghubungi Disability Answer Desk (DAD) untuk mendapatkan dukungan. Sejauh ini, Microsoft juga telah menyediakan opsi dukungan melalui aplikasi Be My Eyes. Pelanggan perusahaan juga dapat menghubungi Enterprise Disability Answer Desk (eDAD) dengan pertanyaan tentang fitur aksesibilitas, kepatuhan produk, dan teknologi bantuan. Dari sini bisa dilihat bahwa inklusivitas memang menjadi salah satu perhatian utama Microsoft 365 dalam mengembangkan produk, aplikasi, hingga fitur untuk pengguna. Ke depannya, diharapkan Microsoft dapat menghadirkan berbagai inovasi yang dapat mendukung penggunaan aplikasi secara inklusif. Bagi Anda yang tertarik untuk menggunakan produk Microsoft 365, EIKON Technology menyediakan produk berlisensi resmi yang implementasinya dapat menyesuaikan kebutuhan Anda. EIKON Technology sendiri merupakan Microsoft Partner yang telah berpengalaman mendampingi penerapan berbagai produk original Microsoft seperti Microsoft 365 dan Azure. Kami juga menyediakan konsultasi menyeluruh mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Membaca Peluang AI dalam Mendorong Inovasi Perangkat Asisten Pribadi dan Bahasa Isyarat

Salah satu fokus utama Program AI for Accesibility dari Microsoft adalah untuk memajukan inovasi teknologi AI dan mengurangi hambatan data yang berkaitan dengan bahasa isyarat. Oleh karenanya, di tahun 2019 lalu, Microsoft menyelenggarakan sebuah workshop bahasa isyarat. Dari acara tersebut, Abraham Glasser, Ph.D., seorang mahasiswa Ilmu Komputer dan Informasi, serta penutur asli ASL (American Sign Language) berhak atas hibah penelitan 3 tahun. Karya Glasser fokus pada kebutuhan dan peluang yang amat pragmatis: mendorong inklusi dengan berkonsentrasi pada interaksi umum dengan asisten pintar rumahan untuk orang-orang yang menggunakan bahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi utama. Segera bentuk tim peneliti Tindak lanjut dari proposal yang diajukan Glasser adalah sebuah penelitian intensif yang diselenggarakan di CAIR (Center for Accesibility and Inclusion Research) oleh para peneliti dari ces at Rochester Institute of Technology (RIT). CAIR menerbitkan penelitian tentang aksesibilitas komputasi siswa Tuli dan Sulit Mendengar yang menggunakan dua bahasa, Inggris sekaligus ASL.  Untuk memulai penelitian ini, tim menyelidiki bagaimana siswa Tuli dan Sulit Mendengar lebih senang berinteraksi dengan perangkat asisten pribadi mereka, baik itu speaker pintar maupun perangkat lain di rumah yang dapat merespons perintah lisan. Baca juga: Reading Coach, Tool Baru dari Microsoft Education untuk Tingkatkan Literasi Ruang pengembangan teknologi AI dengan bahasa isyarat Sayangnya, saat ini, belum ada perangkat yang memahami perintah dalam ASL atau bahasa isyarat lain; sehingga memperkenalkan kemampuan tersebut merupakan pengembangan teknologi masa depan yang penting untuk mendorong inklusi. Glasser mengeksplorasi skenario simulasi di mana, melalui kamera pada perangkat, teknologi akan dapat melihat penutur, memproses permintaan mereka, dan menampilkan hasil di layar perangkat. Beberapa penelitian sebelumnya fokus pada fase interaksi dengan perangkat asisten pribadi, tapi masih sedikit yang menyertakan pengguna Tuli dan Sulit Mendengar. Tampak bahwa penerapan dan bahkan pengumpulan data yang relevan, masih menjadi hambatan utama dalam pengembangan teknologi AI berbahasa isyarat. Wizard-of-Oz Untuk membuka jalan ke depan bagi kemajuan teknologi, sangat penting untuk memahami kebutuhan pengguna. Glasser menyiapkan pengaturan konferensi video “Wizard-of-Oz.”, seorang “penyihir” juru bahasa isyarat dalam perangkat asisten pribadi pengguna yangbergabung dengan panggilan tanpa terlihat di kamera. Layar dan output perangkat akan muncul di jendela panggilan dan setiap peserta dipandu oleh moderator. Photo Credit: Microsoft Blog Abraham mampu mengidentifikasi cara-cara baru pengguna akan berinteraksi dengan perangkat, seperti perintah “bangun” yang tidak ditangkap dalam penelitian sebelumnya. Tangkapan layar dari berbagai tanda “bangun” yang dihasilkan oleh peserta selama penelitian yang dilakukan dari jarak jauh oleh para peneliti dari RIT. Peserta berinteraksi dengan perangkat asisten pribadi, menggunakan perintah ASL yang diterjemahkan oleh juru bahasa dan mereka secara spontan menggunakan ASL untuk mengaktifkan perangkat asisten pribadi sebelum memberi perintah. Baca juga: What’s Next In Security: Update Keamanan Microsoft untuk Ancaman Kompleks  Kategori yang paling banyak dibutuhkan Photo Credit: Microsoft Blog Selain itu, ringkasan frekuensi perintah menunjukkan kategori yang paling populer adalah “perintah dan kontrol” di mana pengguna menyesuaikan pengaturan perangkat, menavigasi hasil, dan menjawab gaya pertanyaan ya/tidak. Kategori populer berikutnya terkait pertanyaan hiburan, diikuti gaya hidup dan belanja. Pengamatan lain adalah penggunaan tanda tanya di awal pertanyaan ya atau tidak, untuk menarik perhatian perangkat, karena biasanya lebih sering digunakan di akhir pertanyaan. Ketika muncul kesalahan, kebanyakan pengguna hanya akan mengabaikannya dan melanjutkan dengan perintah berbeda. Metode kedua adalah mengulangi perintah dengan kata-kata dan gaya yang sama persis, diikuti dengan menulis ulang perintah. Misalnya, beberapa menyusun ulang pertanyaan mereka atau mengeja untuk menunjukkan penekanan. Hasil penelitian Photo Credit: Microsoft Blog Makalah dengan rincian lengkap penelitian telah dipresentasikan dan diterbitkan dalam Prosiding Konferensi CHI 2022 tentang Faktor SDM dalam Sistem Komputasi, berjudul “Analyzing Deaf and Hard-of-Hearing Users’ Behavior, Usage, and Interaction with a Personal Assistant Device that Understands Sign-Language Input”. Pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian ini kemudian menjadi dasar untuk membangun dataset video rekaman penyandang Tuli dan Sulit Mendengar yang membuat perintah ASL dan berinteraksi dengan perangkat asisten pribadi mereka. Nantinya, kumpulan data tersebut dapat dimanfaatkan lebih lanjut oleh komunitas riset untuk melatih teknologi pengenalan ASL. Bisa juga dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi asisten pribadi dan teknologi bahasa isyarat. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman Penelitian yang dilakukan oleh Glasser dan tim menunjukkan bahwa masih ada ruang yang begitu luas untuk pengembangan teknologi AI dengan dukungan bahasa isyarat. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa Microsoft terus berupaya untuk bisa menghadirkan teknologi, terutama AI yang lebih inklusif. Untuk mengikuti perkembangan teknologi maupun update dari Microsoft, Anda bisa mengikuti blog EIKON Technology. Kami juga menyediakan berbagai solusi dari Microsoft seperti Microsoft 365 dan Azure. Menariknya lagi, Anda pun dapat memilih paket berlangganan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan atau instansi. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Google Cloud, Google Workspace

Selamat, EIKON Technology Meraih Work Transformation – Enterprise Partner Specialization

Google Cloud mengakui keandalan dan keberhasilan EIKON Technology dalam menghadirkan solusi terbaik untuk transformasi kerja Hari ini (28/6), EIKON Technology dengan gembira mengumumkan telah berhasil meraih titel “Work Transformation – Enterprise Partner Specialization” dalam Program Google Cloud Partner Advantage. Pencapaian tersebut menjadi bukti komitmen EIKON Technology dalam menghadirkan solusi bagi pelanggan di bidang transformasi kerja dengan memanfaatkan teknologi dari Google Cloud. Google Cloud Partner Advantage sendiri merupakan suatu program yang hadir untuk memberikan apresiasi terhadap Partner yang telah memenuhi persyaratan, mampu menunjukkan kemahiran teknis, serta mencapai kesuksesan dalam solusi dan area layanan tertentu. Sedangkan Specialization adalah titel tertinggi yang dapat diperoleh Partner. Bagi Partner yang telah mencapai spesialisasi di bidang layanan Google Cloud yang mapan, kesuksesan pelanggan yang konsisten, dan kemampuan teknis yang terbukti (telah diperiksa oleh Google dan tim penilai dari pihak ketiga). Terdapat 15 spesialisasi tersedia dan salah satunya adalah Work Transformation – Enterprise yang baru saja diraih EIKON Technology. Untuk bisa meraih spesialisasi Work Transformation – Enterprise, EIKON Technology memberikan dukungan nyata dalam penerapan Google Workspace pada perusahaan maupun instansi. Ini mencakup penyediaan layanan di semua alur kerja proyek, mulai dari tata kelola, teknis implementasi, pembekalan SDM, hingga dukungan pascaimplementasi. Pencapaian EIKON Technology dalam mencapai titel “Work Transformation – Enterprise Partner Specialization” merupakan hasil dari perjalanan selama 15 tahun terakhir dalam mengembangkan solusi teknologi inovatif untuk berbagai tantangan bisnis. EIKON Technology memfasilitasi perusahaan maupun institusi pendidikan dalam menerapkan sistem komputasi awan dengan dukungan terbaik dari para ahli. “Sangat menarik untuk melihat bagaimana EIKON Technology memanfaatkan investasinya di Google Cloud untuk menghadirkan solusi kepada pengguna sekaligus tampil menonjol dibandingkan pesaingnya. Spesialisasi ini memberikan sinyal kepada pelanggan dan tim penjualan Google Cloud bahwa EIKON Technology telah menghadirkan tingkat komitmen mendalam dan serangkaian keterampilan yang tak tertandingi untuk pasar.” – Nina Harding, Channel Chief, Global Partner Strategy & Programs Google Cloud Tentang EIKON Technology EIKON Technology merupakan Partner sekaligus Reseller Google Workspace terkemuka di Indonesia yang berlokasi di 2 kota terbesar, Jakarta dan Surabaya. EIKON Technology adalah perusahaan konsultan, outsourcing, dan pengembangan teknologi informasi swasta yang didirikan pada tahun 2007. Sejak menjadi Partner Google Cloud Premier, EIKON Technology telah membantu lebih dari 300.000+ pengguna untuk bermigrasi ke Google Workspace, dan menjadi penyedia layanan komputasi awan yang ahli. Tim EIKON memiliki pengetahuan dan ditunjang pengalaman yang sangat baik untuk membantu pengguna bermigrasi ke Google Workspace dari platform utama seperti Appsheet, Microsoft Exchange, Lotus Notes, ISP Hosting, dan Zimbra. Sebagai Reseller Partner dan Service Partner Google Cloud, EIKON Technology menyediakan produk Google Workspace, Professional Services Organization, Google for Education, Chrome, Google Cloud Platform, and Google Cloud  

Google Workspace

Meningkatkan Efisiensi Pengembangan Software dengan Google Workspace

Proses pengembangan software membutuhkan kolaborasi lintas fungsi yang kompleks sambil terus meningkatkan produk dan layanan. Google Workspace didesain dengan kapabilitas untuk mendorong inovasi dan kolaborasi di seluruh siklus hidup pengembangan software. Pengembang dapat melakukan standup dan scrum di Google Chat, Meet, dan Spaces, membuat dan berkolaborasi dalam dokumentasi persyaratan di Docs dan Sheets, membuat presentasi tim di Slides, serta mengelola waktu fokus dan ketersediaan mereka dengan Calendar. Ini karena Google Workspace merupakan platform terbuka yang dirancang untuk meningkatkan kinerja software Anda dengan mengintegrasikannya secara mulus. Bagaimana tepatnya Google Workspace meningkatkan efisiensi pengembangan software? Membuat perencanaan dan eksekusi bersama Photo Credit: Google Cloud Blog Google Workspace membuat proses perencanaan pengembangan software menjadi lebih kolaboratif dan efisien. Misalnya, banyak perusahaan menggunakan Asana untuk mengoordinasikan dan mengelola semuanya, mulai dari tugas sehari-hari hingga inisiatif strategis lintas fungsi. Untuk membuat pengalaman lebih lancar, Asana membangun integrasi sehingga pengguna dapat mengakses tugas dan proyek mereka dengan Google Drive, Gmail, dan Chat. Dengan integrasi Google Workspace, Anda dapat mengubah percakapan menjadi tindakan dan membuat tugas baru di Asana, semuanya tanpa meninggalkan Google Workspace. Hingga saat ini, pengguna telah mengunduh add-on Asana untuk Gmail lebih dari 2,5 juta kali, serta lebih dari 3,8 juta pemasangan add-on Asana for Google Workspace untuk Google Drive. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Mulai coding dengan cepat Photo Credit: Google Cloud Blog Google Workspace memudahkan manajer produk serta desainer dan insinyur UX untuk menyetujui apa yang mereka buat dan alasannya. Dengan menyatukan seluruh stakeholders, pengambil keputusan, dan pembuat persyaratan ke dalam satu tempat, baik itu melalui percakapan Gmail, Chat, Docs, Sheets atau Slide. Google Workspace menghilangkan gesekan, membantu tim Anda menyelesaikan spesifikasi produk. Integrasi seperti GitHub for Google Chat membuat seluruh proses pengembangan masuk dengan mudah ke dalam alur kerja pengembang. Dengan integrasi ini, tim dapat dengan cepat mendorong commit baru, membuat pull requests, melakukan tinjauan kode, dan memberikan masukan real-time yang meningkatkan kualitas kode mereka. Mempercepat pengujian Photo Credit: Google Cloud Blog Integrasi seperti Jira for Google Chat mempercepat seluruh proses QA dalam alur kerja pengembangan. Aplikasi ini bertindak sebagai anggota tim dalam percakapan, mengirimkan masalah baru dan pembaruan kontekstual seperti yang dilaporkan untuk meningkatkan kualitas kode Anda, serta memberi tahu semua orang tentang proyek. Baca juga: Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding di Bidang Energi Kirim kode lebih cepat Photo Credit: Google Cloud Blog Jenkins, sebuah integrasi berkelanjutan open-source yang populer dan alat pengiriman berkelanjutan, dapat digunakan pengembang untuk membangun dan menguji produk secara terus-menerus. Bersama dengan alat cloud-native lainnya, Jenkins mendukung praktik DevOps yang kuat dengan memungkinkan Anda terus mengintegrasikan perubahan ke dalam pembuatan software. Pantau layanan secara proaktif Photo Credit: Google Cloud Blog Meningkatkan pengalaman pelanggan memerlukan pengambilan dan pemantauan sumber data untuk meningkatkan kemampuan observasi aplikasi dan infrastruktur. Google Workspace mendukung tim dan organisasi DevOps dengan membantu pemangku kepentingan berkolaborasi dan memecahkan masalah secara lebih efektif. Saat mengintegrasikan Datadog dengan Google Chat, pemantauan data menjadi bagian dari diskusi tim, dan Anda dapat berkolaborasi secara efisien untuk menyelesaikan masalah segera setelah masalah itu muncul. Meningkatkan keandalan layanan Photo Credit: Google Cloud Blog Mengatur tanggapan di seluruh bisnis terhadap interupsi adalah upaya lintas fungsi. Ketika pendapatan dan reputasi merek bergantung pada kepuasan pelanggan, penting untuk mengelola peristiwa yang berdampak pada layanan secara proaktif. Google Workspace mendukung tim respons dengan memastikan bahwa lansiran mendesak menjangkau orang yang tepat dengan menyediakan ruang terpusat bagi tim untuk menemukan insiden, menemukan akar masalahnya, dan menyelesaikannya dengan cepat. PagerDuty untuk Google Chat memberdayakan pengembang, DevOps, operasi TI, dan pemimpin bisnis untuk mencegah dan menyelesaikan insiden yang berdampak pada bisnis untuk pengalaman pelanggan yang luar biasa—semuanya dari Google Chat. Baca juga: Cara Google Cloud Amankan Rantai Pasok Software Anda Dari sini dapat disimpulkan bahwa berbagai aplikasi, tool, serta kapabilitas yang tersedia di Google Workspace dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan software. Salah satunya adalah untuk memantau perkembangan alur kerja tim Anda. Apakah Anda sedang mengembangkan software? Manfaatkan berbagai aplikasi dan kapabilitas yang ditawarkan oleh Google Workspace untuk mengembangkan software dengan praktis, hanya dengan satu platform saja. EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Google Workspace untuk perusahaan maupun instansi. Sebagai authorized partner Google, seluruh produk yang kami tawarkan berlisensi resmi. Untuk terhubung langsung dengan tim kami, silakan klik di sini.

Google Workspace

Mengenal Data Loss Prevention (DLP), Kebijakan untuk Melindungi Data Sensitif di Google Forms

Kebijakan DLP atau Data Loss Prevention (pencegahan kehilangan data) menguraikan bagaimana perusahaan dapat berbagi dan menjaga informasi. DLP menjelaskan bagaimana menggunakan data dalam pengambilan keputusan tanpa memaparkannya kepada orang-orang yang seharusnya tidak memiliki akses. Pencegahan kehilangan data dapat didefinisikan sebagai teknologi atau prosedur apa pun yang: mengidentifikasi data rahasia dan mencegahnya hilang. Di bulan April 2022 lalu, Google Forms memperkenalkan sebuah fitur baru dalam format beta yang memungkinkan pengguna untuk bisa menanggapi formulir eksternal yang berisi pertanyaan unggah file, sekaligus membantu mencegah kebocoran informasi sensitif dan rahasia. Kini, di penghujung bulan Juni 2022, fitur tersebut telah diluncurkan untuk umum dan akan menerapkan kebijakan DLP yang ada di domain Anda untuk tiap file yang dikirimkan pengguna melalui Google Forms tanpa harus membuat aturan baru atau memperbarui yang sudah ada. Kebijakan Data Less Prevention for Drive di Google Forms Fitur baru ini hadir untuk melindungi keamanan data, baik data perusahaan Anda yang menyediakan formulir, maupun pengguna yang mengisi formulir. Dengan diterapkannya kebijakan DLP atau Data Loss Prevention maka fitur ini juga melindungi informasi dari kemungkinan penghapusan oleh pihak yang tidak memiliki kewenangan atau akses. Untuk mulai menerapkannya, dibutuhkan konfigurasi dari administrator. Photo Credit: Google Workspace Updates Bagi para Administrator, kebijakan DLP for Drive yang ditentukan untuk domain Anda akan diterapkan ke file yang dikirimkan ke pertanyaan unggah file di Google Forms di luar domain. Jika tidak menggunakan DLP for Drive, Anda dapat membuat aturan DLP di tingkat domain, OU atau grup di konsol Admin pada menu Security > Data protection. Anda dapat menerapkan tindakan blokir, peringatkan atau audit. Sedangkan end-user dapat merespons formulir seperti biasa, tetapi kini juga dapat merespons formulir di luar domain mereka, termasuk formulir yang memiliki pertanyaan unggah file. Jika formulir melanggar DLP untuk domain mereka, end-user mungkin melihat peringatan atau diblokir agar tidak mengirimkannya. Baca juga: Update Google Forms: Kini Tersedia Lebih Banyak Pilihan Font Ketersediaan fitur Fitur ini tersedia untuk pelanggan Google Workspace Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Education Standard, dan Education Plus. Namun tidak tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Frontline, Teaching and Learning Upgrade, dan Nonprofits, serta pelanggan G Suite Basic dan Business lama. Selain itu, fitur juga tidak berlaku bagi pengguna dengan akun Google pribadi. Untuk domain rilis cepat, fitur akan mulai diluncurkan secara bertahap pada tanggal 21 Juni 2022 (hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Sedangkan untuk domain rilis terjadwal akan mulai diluncurkan secara bertahap pada tanggal 11 Juli 2022 (hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Baca juga: Google Forms with Change Theme Aturan DLP Dengan DLP Anda dapat membuat dan menerapkan aturan untuk mengontrol konten yang dapat dibagikan pengguna pada file di luar perusahaan. DLP memberi Anda kendali atas apa yang dapat dibagikan pengguna, dan mencegah paparan informasi sensitif yang tidak diinginkan seperti nomor kartu kredit atau nomor identitas. Aturan DLP memicu pemindaian file untuk konten sensitif, dan mencegah pengguna membagikan konten tersebut. Aturan ini akan menentukan sifat insiden DLP, dan insiden memicu tindakan, seperti pemblokiran konten tertentu. Anda dapat mengizinkan berbagi terkontrol untuk anggota domain, unit organisasi, atau grup. Photo Credit: Google Workspace Admin Help Contoh kasus penggunaan DLP Audit penggunaan konten sensitif di Drive yang mungkin telah dibagikan pengguna Anda untuk mengumpulkan informasi tentang file sensitif yang diunggah oleh pengguna. Memperingatkan end-user secara langsung untuk tidak membagikan konten sensitif di luar domain. Mencegah berbagi data sensitif dengan pengguna eksternal Memberi tahu administrator tentang pelanggaran kebijakan atau insiden DLP. Menyelidiki detail insiden dengan informasi tentang pelanggaran kebijakan. Baca juga: Menerapkan Keamanan Chrome pada Google Cloud dan Workspace Dengan diterapkannya kebijakan DLP atau Data Loss Prevention ini diharapkan Anda dapat berbagi file secara aman melalui Google Forms. Selain memperhatikan keamanan, Forms juga menawarkan kemudahan kolaborasi kerja yang seamless dengan integrasi aplikasi produktivitas dalam rangkaian Google Workspace. Terlebih Google Workspace juga menyediakan format penggunaan skala besar khusus untuk perusahaan dan instansi. Anda dapat berlangganan melalui EIKON Technology, authorized reseller produk Google. Kami menyediakan produk berlisensi resmi dengan implementasi yang menyeluruh. Untuk informasi selengkapnya mengenai Google Workspace, silakan klik di sini.

Google Workspace

Google Sites adalah Alat untuk Mendesain Website, Ini Dia Update Fitur Terbarunya!

Google Sites adalah alat pembuatan halaman web yang disertakan sebagai bagian dari rangkaian Google Docs Editors gratis berbasis web yang ditawarkan oleh Google. Dengan memanfaatkan tool ini Anda dapat membuat halaman web secara praktis dan cepat, tanpa harus menggunakan kode-kode khusus sehingga cocok untuk para pemula. Editor situs yang menggunakan Google Sites versi terbaru sekarang dapat menyesuaikan jarak antara konten di situs mereka dengan pengaturan tema khusus yang menawarkan 3 opsi jarak, yaitu Compact, Cozy, dan Comfortable.  Secara default, semua situs yang baru dibuat akan dimulai dengan opsi jarak Comfortable. Fitur baru ini dihadirkan untuk bisa memberikan lebih banyak kontrol visual atas situs Anda, terutama untuk situs kompleks yang memiliki banyak konten di dalamnya. Fitur penyesuaian jarak konten Photo Credit: Google Workspace Updates Google Sites adalah alat pembuat website dengan berbagai fitur dan kapabilitas yang dirancang untuk mudah digunakan, bahkan oleh para web designer pemula. Untuk memberikan kemudahan bagi para penggunanya, Google Sites terus melakukan berbagai updates. Updates paling baru dari Google Sites adalah mengenai pengaturan jarak antar konten. Tool dari Google ini menawarkan 3 pilihan jarak, yakni Compact, Cozy, dan Comfortable. Ketiganya bisa dipilih sesuai kebutuhan dan tentunya selera. Baca juga: 7 Langkah Cara Membuat Website Menggunakan Google Sites Mulai menggunakan fitur baru Google Sites Untuk mulai menggunakan fitur baru ini sangatlah mudah. Sebab, fitur otomatis tersedia setelah tanggal peluncuran. Tanggal peluncuran untuk domain perilisan cepat dimulai pada tanggal 22 Juni 2022 (diluncurkan secara bertahap hingga 15 hari untuk visibilitas fitur) dan untuk domain perilisan terjadwal pada tanggal 13 Juli (diluncurkan secara bertahap hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Fitur baru ini juga tidak memerlukan konfigurasi tambahan dari administrator. End user atau pengguna langsung tool bisa langung membuka halaman muka Google Sites dan masuk ke menu Themes > Custom > Edit > Spacing > Density. Selain itu, Google Sites juga menyediakan tutorial yang bisa Anda akses melalui halaman Help Center Google Workspace. Ketersediaan fitur Fitur baru dari Google Sites ini adalah fitur gratis dan tersedia bagi seluruh pengguna Google Workspace, G Suite Basic, dan G Suite Business. Anda yang memiliki akun Google personal juga bisa menggunakan fitur baru ini di Google Sites secara penuh. Baca juga: 6 Manfaat Website untuk Perusahaan Anda Cara mengubah tampilan situs Photo Credit: lookstudio (Freepik) Anda dapat mengubah tampilan dan gaya situs kapan saja. Google Sites juga memungkinkan penggunanya untuk menggunakan tema bawaan, tema buatan sendiri, maupun mengimpor tema. Berikut langkah-langkahnya: Dengan tema yang sudah dibuat sebelumnya Di komputer, buka situs di Google Sites baru. Di sebelah kanan, klik Themes. Di bawah “Created by Google“, pilih opsi pre-made theme. Dengan tema baru Di komputer, buka situs di Google Sites baru. Di sebelah kanan, klik Themes. Di bawah opsi “Custom”, pilih Create theme. Masukkan nama untuk tema Anda dan pilih Next. Anda juga dapat menambahkan logo dan gambar untuk banner. Pilih palet warna dan pilih Next. Untuk memilih warna tertentu untuk berbagai bagian situs Anda, pilih Customize colors. Pilih font Anda dan pilih Create theme. Anda dapat terus membuat perubahan pada tema baru melalui panel di sebelah kanan. Dengan tema impor dari situs lain Di komputer, buka situs di Google Sites baru. Di sebelah kanan, klik Themes. Di bawah opsi “Custom”, pilih Import theme. Pilih situs yang ingin dituju. Pilih tema yang diinginkan. Klik Import theme. Baca juga: Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Transisi Google Sites Google Sites adalah suatu tool dalam rangkaian produktivitas Google Docs Editor. Dengan memanfaatkan tool ini, Anda dapat mendesain website sendiri tanpa harus melalui proses yang rumit. Bisa dibilang, Google Sites adalah tool yang cocok untuk pemula. Google Sites serta Google Docs Editor merupakan bagian dari rangkaian produktivitas Google Workspace. Itu berarti, tool ini telah terintegrasi dengan aplikasi produktivitas Google seperti Docs, Sheets, dan Slides. Google Workspace sendiri menyediakan paket berlangganan untuk perusahaan maupun instansi sehingga cocok untuk kolaborasi kerja. EIKON Technology sebagai authorized partner Google untuk Indonesia menyediakan paket berlangganan Google Workspace untuk perusahaan maupun instansi pendidikan dengn lisensi resmi. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Workspace

Update Google Forms: Kini Tersedia Lebih Banyak Pilihan Font

Google Forms merupakan aplikasi survei dan bagian dari rangkaian produktivitas Google Docs Editor yang terdiri dari Docs, Spreadsheet, dan Slide. Aplikasi yang digunakan untuk mengumpulkan respons ini dapat diakses secara gratis melalui web. Dalam membuat survei atau formulir digital, Anda tentu membutuhkan konfigurasi tertentu. Entah itu dari segi opsi respons, bentuk formulir, hingga tampilan font yang digunakan. Google Forms pun menawarkan pengaturan tersebut dengan detail. Pada update terbarunya, Google menambahkan opsi untuk mengatur font survei. Seperti apa? Mari simak detailnya berikut ini. Lebih banyak pilihan font Photo Credit: Google Workspace Update Dalam update terbarunya, Google Forms menambahkan opsi styling, ukuran font tambahan, serta kapabilitas untuk menyesuaikan header, sub-header, dan body text secara terpisah. Dengan update ini, pengguna dapat mengubah tampilan serta nuansa formulir lebih mudah. Anda dapat menggunakan tipografi dan ukuran yang berbeda untuk berbagai bagian formulir. Update ini berlaku untuk seluruh pengguna dan tersedia dalam Google Forms versi web sehingga lebih mudah untuk diakses. Selain itu, update mengenai font ini juga tidak memerlukan pengaturan tambahan dari administrator. Anda bisa langsung menemukannya saat membuka aplikasi setelah tanggal pembaruan. Untuk informasi lebih lanjut, Google menyediakan tutorial yang bisa Anda akses melalui Help Center Google Workspace. Baca juga: Google Forms with Change Theme Ketersediaan update aplikasi Pembaruan Google Forms ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace, serta produk G Suite Basic dan G Suite Business. Di samping itu, pengguna dengan Google Account pribadi. Untuk domain rilis cepat, update diluncurkan secara bertahap (hingga 15 hari untuk visibilitas fitur) mulai 21 Juni 2022. Sedangkan untuk domain rilis terjadwal, diluncurkan secara bertahap 15 hari untuk visibilitas fitur) mulai 7 Juli 2022. Baca juga: Komunikasi dan Kolaborasi Hybrid Berbagai Ukuran Tim dengan Google Workspace Cara mengubah tema formulir Photo Credit: Rawpixel (Freepik) Untuk menyesuaikan formulir dengan audiens, Anda dapat menambahkan tema atau mengubah font. Berikut cara untuk mengubah warna, tema atau gambar header pada form: Di halaman muka Google Forms, buka formulir. Klik Customize theme . Di bawah opsi “Color“, Anda dapat memilih warna tema dan warna latar belakang untuk formulir Anda. Untuk menambahkan warna khusus, klik Add custom color. Untuk menambahkan foto Anda sendiri sebagai tema, di bawah menu “Header“, klik Choose image. Jika sudah selesai memilih, simpan dan klik Close . Tema dan tampilan form akan berubah secara otomatis sesuai keinginan Anda. Cara memilih font yang berbeda Di halaman muka Google Forms, buka formulir. Klik Customize theme . Di bawah opsi “Teks”, Anda dapat mengubah jenis font untuk header, pertanyaan, dan teks. Pilih bagian tulisan yang ingin Anda sunting, lalu ubah font dan ukurannya. Klik Close . Baca juga: 3 Cara Mengelola Progres Tugas dengan Google Workspace Dengan adanya pembaruan ini, Anda dapat mengubah tema serta jenis font yang digunakan pada Google Forms. Tampilan formulir pun bisa lebih menyesuaikan selera dan kebutuhan Anda. Google Forms sendiri merupakan bagian dari rangkaian produktivitas kolaboratif Google Workspace. Untuk mengoptimalkan pekerjaan, Anda bisa memanfaatkan aplikasi lainnya sepeti Google Docs, Spreadsheets, dan juga Slides. Anda bahkan dapat menggunakannya dalam skala besar untuk perusahaan maupun instansi seperti sekolah. EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Google Workspace yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan atau instansi Anda. Sebagai authorized partner Google, EIKON Technology menyediakan produk resmi berlisensi dengan implementasi menyeluruh. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.

Scroll to Top