EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Workspace

Potong dan Tempel File Lebih Mudah di Google Drive Web dengan Shortcut Keyboard

Google Drive web merupakan salah satu aplikasi dalam rangkaian produktivitas Google Workspace. Lewat aplikasi ini, Anda bisa menyimpan berbagai jenis file dan folder serta membagikannya kepada orang lain dengan mudah. Aplikasi ini juga mendukung kolaborasi kerja yang tinggi. Anda bisa mengatur file untuk bisa disunting oleh orang lain yang diberi akses. Untuk memudahkan kolaborasi kerja, Google Drive web terus melakukan peningkatan. Paling baru adalah shortcut dengan keyboard yang memungkinkan pengguna untuk bisa melakukan potong-tempel file dan folder dengan mudah. Bagaimana cara mengaktifkannya? Melalui blog, Google Workspace menyampaikan detail untuk update ini. Mari simak ringkasannya berikut. Shortcut potong-tempel Google Drive Web Photo Credit: Google Workspace Updates Kini Anda dapat menggunakan salah satu pintasan keyboard populer, yaitu Ctrl + C (atau ⌘+ C di MacOS), Ctrl + X serta Ctrl + V untuk menyalin, memotong, dan menempelkan file Google Drive di versi web (melalui browser Chrome). Update baru ini akan menghemat waktu dengan memungkinkan Anda menyalin satu atau beberapa file dan memindahkannya ke lokasi baru di Drive dan di beberapa tab, dengan langkah yang jauh lebih sederhana. Photo Credit: Google Workspace Updates Menariknya, tautan menuju file beserta judulnya juga akan diambil saat Anda menyalinnya. Itu berarti, Anda dapat menempelkan file dengan mudah ke dalam dokumen atau pun e-mail. Baca juga: Google Drive Update: Lebih Ringkas dengan Sistem Shortcut Atur file lebih mudah tanpa duplikasi Photo Credit: Google Workspace Updates Pintasan Google Drive web ini juga akan membantu Anda dalam mengatur file di beberapa lokasi yang terpisah. Cukup dengan shortcut keyboard Ctrl + C, Ctrl + Shift + V maka sistem secara otomatis akan membuat pintasan tanpa perlu menduplikasi file. Photo Credit: Google Workspace Updates Buka file lebih cepat di tab baru Terakhir, Anda juga dapat membuka file atau folder di tab baru menggunakan Ctrl+Enter. Dengan begitu, Anda bisa dengan mudah melihat banyak file sekaligus atau menggunakan tab berbeda untuk mengatur file di antara dua lokasi folder yang berbeda dengan lebih cepat. Baca juga: Cara Cepat Mencari Data di Google Drive Ketersediaan update Update Google Drive web ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace dan pengguna dengan akun pribadi Google Accounts selama menggunakan Google Chrome. Anda tidak perlu melakukan update secara manual, sebab fitur shortcut keyboard ini berjalan secara otomatis. Untuk domain Rapid Release dimulai pada tanggal 26 Mei 2022 dan akan tersedia untuk seluruh pelanggan paling lambat 3 hari selanjutnya. Sedangkan untuk domain Scheduled Release dimulai pada tanggal 13 Juni 2022 dan akan tersedia untuk seluruh pelanggan paling lambat 3 hari selanjutnya. Keyboard shortcut lain di Google Drive web Selain pintasan Ctrl + C, Ctrl + X, dan Ctrl + V, sebenarnya Google Drive juga telah menerapkan beberapa keyboard shortcut lain, di antaranya: Bergeser ke bawah tanpa mengubah pilihan: Ctrl + panah bawah (Chrome OS, Windows) atau ⌘ + panah bawah (MacOS). Bergeser ke atas tanpa mengubah pilihan: Ctrl + panah atas (Chrome OS, Windows) atau ⌘ + panah atas (MacOS). Bergeser ke kiri tanpa mengubah pilihan: Ctrl + panah kiri (Chrome OS, Windows) atau ⌘ + panah kiri (MacOS). Bergeser ke kanan tanpa mengubah pilihan: Ctrl + panah kanan (Chrome OS, Windows) atau ⌘ + panah kanan (MacOS). Pergi ke panel navigasi (daftar folder): tekan tombol g lalu n atau g lalu f Pergi ke item view: tekan tombol g lalu l Beralih antara kisi dan daftar dalam tampilan item: tekan tombol v Baca juga: 5 Fungsi Google Drive Selain untuk Menyimpan File Demikian ulasan mengenai keyboard shortcut baru yang tersedia di Google Drive web. Apakah Anda sudah pernah mencobanya? Selain pintasan seperti ini, Google Drive beserta aplikasi bawaan Google Workspace juga menyediakan berbagai fitur dan kapabilitas yang akan memudahkan Anda dalam bekerja, baik secara mandiri maupun dengan tim. Google Workspace juga menawarkan fitur kolaborasi yang akan memudahkan Anda bekerja bersama tim. Dengan begitu, produktivitas kerja pun akan meningkat. Terlebih, Google Workspace juga memiliki versi Business yang memang ditujukan untuk keperluan produktivitas skala besar. Dapatkan Google Workspace for Business hanya di EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Kami juga menyediakan layanan konsultasi pra-implementasi untuk memastikan produk bekerja sesuai workflow perusahaan Anda. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Gmail, Google Workspace

Trik Restore Items di 5 Aplikasi Google

Ketika Anda menghapus item dari aplikasi Google seperti Gmail, Drive, Photos, Contacts atau bahkan tab di Chrome, sistem akan memindahkannya ke folder sampah. Secara otomatis, item akan dihapus secara permanen setelah periode waktu tertentu. Sebenarnya, sebelum melewati periode waktu tersebut, Anda bisa melakukan restore items. Caranya pun sangat simpel. Mari bahas satu per satu. Restore email yang terhapus di Gmail Buka Gmail di browser web. Klik ikon Sampah/Trash. Centang setiap email yang ingin dipulihkan. Klik ikon folder dengan panah menunjuk ke kanan (ikon Pindah ke). Pilih salah satu lokasi untuk memulihkan email yang sudah dipilih. Photo Credit: Tech Republic Perlu diingat, Sampah berbeda dengan Arsip (Archive). E-mail yang diarsipkan masih bisa diakses melalui menu All-Mail. Namun e-mail yang dihapus akan masuk ke folder Sampah dan akan terhapus permanen secara otomatis setelah 30 hari. Restore item yang terhapus di Google Drive Photo Credit: Tech Republic Buka Google Drive di web. Klik menu Sampah/Trash. Pilih item yang ingin dipulihkan. Klik ikon berbentuk jam untuk memulihkan item dari sampah. Item akan dihapus dari folder Sampah dan prompt singkat yang menyertakan opsi untuk Tampilkan Lokasi File. Baca juga: 5 Fungsi Google Drive Selain untuk Menyimpan File Restore foto yang terhapus di Google Photos Photo Credit: Tech Republic Buka Google Photos melalui web browser. Klik menu Sampah/Trash. Pilih foto yang ingin Anda restore. Gambar akan muncul dan ditampilkan di browser. Klik opsi Restore Restore tab yang tertutup di Google Chrome Photo Credit: Tech Republic Untuk mengembalikan tab yang tidak sengaja tertutup di Google Chrome, Anda cukup menekan kombinasi 3 tombol keyboard. Untuk sistem operasi Windows atau Chromebook, tekan Ctrl+Shift+T. Sedangkan untuk sistem operasi macOS, tekan Command+Shift+T. Bisa juga dengan membuka kembali tab melalui opsi Riwayat (History). Pilih ikon tiga titik vertikal di bagian kanan atas. Kemudian klik menu Riwayat untuk mengakses tab yang baru saja ditutup,. Untuk membuka, Anda tinggal memilih alamat web yang diinginkan. Baca juga: Bagaimana Tim IT Membantu User Memaksimalkan Penggunaan Chrome Anda juga dapat mengakses dan mencari semua situs yang tersimpan di riwayat Chrome. Pada sistem Windows atau Chromebook, tekan Ctrl+H. Sedangkan di perangkat macOS, tekan Command+Y. Jika Anda lebih suka mengetik, buka chrome://history/ pada address bar. Ini berguna jika Anda ingin menemukan situs yang telah dikunjungi, tapi tab atau jendelanya tidak lagi terbuka. Restore kontak yang terhapus di Google Contacts Buka Google Contacts melalui web. Klik menu Sampah/Trash. Centanglah setiap kontak yang ingin dipulihkan. Klik opsi Pulihkan (Recover) yang ada di sebelah kanan opsi Hapus selamanya (Delete  forever). Photo Credit: Tech Republic Trik ini tidak berlaku untuk kontak yang diakses melalui item menu Kontak Lainnya (Other Contacts). Daftar tersebut biasanya disusun dari e-mail atau interaksi lain dan bukan merupakan catatan Google Contacts yang sebenarnya. Jika Anda menghapus informasi dari daftar ini, kontak tersebut akan dihapus begitu saja dan tidak akan muncul di folder Sampah. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud Contact Center AI untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan Aplikasi produktivitas yang ditawarkan Google memang menawarkan antarmuka yang praktis dan simpel sehingga mudah untuk dioperasikan, bahkan oleh mereka yang masih awam. Bahkan melakukan prosedur restore pun sangat mudah. Seluruh aplikasi produktivitas Google bisa Anda temukan di platform Google Workspace. Dengan menerapkannya di perusahaan atau instansi Anda, maka produktivitas karyawan pun akan meningkat. Dapatkan segera Google Workspace for Business hanya di EIKON Technology, authorized reseller yang ditunujuk langsung oleh Google. Kami menyediakan layanan konsultasi untuk memastikan agar Anda mendapat solusi terbaik. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Cloud Computing, Google Cloud

Cara Google Cloud Amankan Rantai Pasok Software Anda

Google Cloud baru saja mengumumkan ketersediaan umum untuk Assured Open-Source Software (Assured OSS). Layanan tersebut dibuat untuk membantu pelanggan mengamankan perangkat lunak open-source mereka dengan menyediakan rangkaian open-source yang digunakan Google. Itu berarti, rangkaian yang tersedia sudah terjamin keamanannya. Dengan mendapatkan jaminan keamanan dari penggunaan rangkaian open-source ini, pelanggan Google Cloud dapat meningkatkan postur keamanan dan bahkan membuat perangkat lunak mereka sendiri menggunakan tools yang digunakan Google seperti Cloud Build, Artifact Registry, dan Container/Artifact Analysis. Assured OSS kemudian dapat dimasukkan ke dalam rantai pasok perangkat lunak Anda untuk memberikan jaminan keamanan tambahan selama proses pengembangan dan pengiriman. Membangun keamanan ke dalam rantai pasokan perangkat lunak Anda Photo Credit: Google Cloud Blog Proses pengembangan perangkat lunak dimulai dengan jaminan dari Google Cloud. Ini karena ADna sebagai pengembang dapat menggunakan rangkaian perangkat lunak open-source dari layanan Assured OSS melalui integrated development environment (IDE). Saat pengembang memasukkan kode ke repositori kode Git, sistem secara otomatis akan mengaktifkan Cloud Build untuk membangun aplikasi mereka dengan cara yang sama seperti rangkaian Assured OSS dibuat. Ini termasuk Cloud Build yang secara otomatis membuat, menandatangani, dan menyimpan asal build, yang dapat memberikan jaminan hingga SLSA level 2. Baca juga: Resiko Keamanan Software Komputer yang Sudah Kadaluwarsa Deteksi kerentanan yang dapat disesuaikan Photo Credit: Rawpixel Sebagai bagian dari build pipeline, artefak yang dibangun disimpan dalam Artifact Registry dan secara otomatis dipindai untuk kerentanan, mirip dengan cara paket Assured OSS dipindai. Pemindaian kerentanan dapat lebih ditingkatkan menggunakan kebijakan Kristis Signer untuk menentukan kriteria kerentanan yang dapat divalidasi oleh build pipeline. Perlu diingat, selama proses, hanya aplikasi yang sudah diperiksa yang diizinkan masuk, seperti Google Kubernetes Engine (GKE) dan Cloud Run. Google Cloud menyediakan kerangka kerja kebijakan Otorisasi Biner untuk menentukan dan menerapkan persyaratan pada aplikasi sebelum diterima ke dalam runtime. Kepercayaan terakumulasi dalam bentuk pengesahan, yang dapat didasarkan pada berbagai faktor termasuk penggunaan alat dan repositori yang telah terjamin keamanannya, persyaratan pemindaian kerentanan, atau bahkan proses manual seperti tinjauan kode dan pengujian QA. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Peluncuran dengan tingkat keamanan tinggi Setelah aplikasi selesai dibuat dan disimpan dengan melewati pemindaian kerentanan dan pengesahan yang membangun kepercayaan, Anda bisa langsung meluncurkannya. Google Cloud Deploy dapat membantu merampingkan proses pengiriman berkelanjutan ke GKE, dengan metrik pengiriman bawaan serta kemampuan keamanan dan audit. Peluncuran ke GKE dapat dikonfigurasi dengan persetujuan untuk memastikan bahwa stakeholder atau otoritas berwenang telah menyetujui penerapan aplikasi ke lingkungan target. Saat aplikasi disebarkan ke runtime, Otorisasi Biner digunakan untuk memastikan bahwa hanya aplikasi yangtelah ditandatangani oleh Cloud Build atau telah berhasil mengumpulkan pengesahan di seluruh rantai pasokan yang diizinkan untuk berjalan. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Rantai pasok perangkat lunak ini memungkinkan Anda untuk membangun aplikasi dengan cara yang sama seperti rangkaian Assured OSS Google Cloud dan mengirimkannya secara aman ke runtime dengan jaminan tambahan yang disediakan oleh Cloud Deploy dan Binary Authorization. Hasilnya, Anda dapat memvalidasi integritas aplikasi yang dikembangkan dan memiliki tingkat kepercayaan lebih besar dalam keamanan aplikasi yang sedang berjalan. Semua kemudahan yang ditawarkan Assured OSS bisa Anda nikmati secara leluasa dengan berlangganan solusi komputasi awan dari Google Cloud. Masih ragu dengan penerapan Google Cloud di lingkungan kerja Anda? EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi disamping implementasi jaringan komputasi awan dengan Google Cloud. Tim kami siap membantu Anda mulai dari tahap perencanaan hingga pasca-pemasangan nanti. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memahami Keamanan Infrastruktur Google Cloud

Apa yang menjadi pertimbangan utama Anda dalam memilih penyedia jaringan cloud? Salah satu pertimbangan penting dalam memilih penyedia cloud adalah keamanan infrastruktur. Tanpa infrastruktur yang aman, aplikasi yang Anda jalankan tentu akan rentan terhadap serangan. Google Cloud, sebagai penyedia jaringan cloud terbesar di dunia, menerapkan pendekatan keamanan infrastruktur yang unik. Sebab, layanan dari Google ini tidak bergantung pada satu teknologi saja dalam mengamankan infrastrukturnya. Namun, Google Cloud membangun sistem keamanan melalui lapisan progresif yang pada akhirnya memberikan pertahanan secara mendalam. Pertahanan yang mendalam Photo Credit: Google Cloud Blog Seperti yang telah disebutkan, sistem keamanan Google Cloud terdiri dari beberapa lapis pertahanan. Masing-masing menerapkan teknologi yang variatif agar tidak mudah terkecoh serangan keamanan. Berikut adalah beberapa lapisan pertahanan dalam infrastruktur Google Cloud: Keamanan fisik pusat data Pusat data Google menerapkan keamanan berlapis dengan kartu akses elektronik yang dirancang khusus, alarm, penghalang akses kendaraan, pagar keliling, detektor logam, biometrik, hingga deteksi intrusi sinar laser. Selain itu, pusat data juga dipantau selama 24/7 non-stop dengan kamera beresolusi tinggi yang dapat mendeteksi adanya penyusup. Hanya karyawan terdaftar yang boleh memasuki pusat data. Infrastruktur perangkat keras Dari bangunan fisik hingga server yang dibuat khusus, peralatan jaringan, dan chip keamanan khusus hingga tumpukan perangkat lunak tingkat rendah yang berjalan di setiap mesin, seluruh infrastruktur perangkat keras dikontrol, diamankan, dan diperkuat oleh keamanan Google. Penerapan layanan Aplikasi biner apa pun yang berjalan di infrastruktur Google diterapkan dengan aman. Tidak ada asumsi kepercayaan antar layanan. Selain itu, beberapa mekanisme diterapkan untuk membangun dan memelihara kepercayaan. Infrastruktur Google dirancang untuk menjadi multitenant. Baca juga: Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya yang Lebih Akurat Layanan penyimpanan Data yang disimpan di infrastruktur Google secara otomatis dienkripsi saat tidak digunakan, serta didistribusikan untuk ketersediaan dan keandalan. Ini membantu menjaga data dari akses yang tidak sah dan gangguan layanan. Identitas pengguna Identitas, pengguna, dan layanan diautentikasi dengan kuat. Akses ke data sensitif dilindungi oleh alat canggih seperti kunci keamanan yang tahan terhadap serangan phishing. Komunikasi internet Komunikasi melalui internet ke layanan cloud Google dienkripsi saat transit. Skala infrastruktur memungkinkannya untuk menyerap banyak serangan denial-of-service (DoS), dan perlindungan berlapis-lapis selanjutnya dapat mengurangi risiko DoS apa pun. Keamanan operasional dan perangkat Tim operasi Google mengembangkan dan menerapkan perangkat lunak infrastruktur menggunakan praktik keamanan yang ketat. Mereka bekerja untuk mendeteksi ancaman dan merespons insiden secara non-stop. Di samping itu, karena Google berjalan pada infrastruktur yang sama yang tersedia untuk pelanggan Google Cloud, semua pelanggan mendapatkan keuntungan langsung dari operasi dan keahlian keamanan ini. Pengesahan end-to-end Photo Credit: DCStudio (Freepik) Infrastruktur perangkat keras Google dirancang khusus dari komponen terkecil sekali pun. Tujuannya tak lain adalah untuk memenuhi persyaratan spesifik secara tepat, termasuk keamanan. Server dan perangkat lunak Google dirancang hanya untuk tujuan menyediakan layanan Google. Layanan dibuat khusus dan tidak menyertakan komponen yang tidak perlu seperti kartu video atau interkoneksi periferal yang dapat menimbulkan kerentanan. Hal yang sama berlaku untuk perangkat lunak, termasuk perangkat lunak tingkat rendah dan OS server, yang merupakan versi Linux yang telah diperkuat. Baca juga: Temukan Log Lebih Cepat dengan Update Logs Explorer Google Cloud Console Selanjutnya, Google merancang dan menyertakan perangkat keras khusus untuk keamanan. Salah satu contohnya bernama Titan, chip yang dibuat khusus untuk membangun akar kepercayaan perangkat keras pada mesin dan periferal di infrastruktur cloud. Google juga membuat jaringan khusus perangkat keras dan perangkat lunak untuk meningkatkan kinerja dan keamanan. Ini semua disesuaikan dengan desain pusat data khusus Google, yang mencakup beberapa lapisan perlindungan fisik dan logis. Melacak asal dari bagian paling dasar tumpukan perangkat keras ini memungkinkan Google mengontrol dasar-dasar postur keamanannya. Pendekatan ini sangat membantu Google mengurangi masalah vendor di tengah. Jika kerentanan ditemukan, langkah-langkah dapat segera diambil untuk mengembangkan dan meluncurkan perbaikan. Baca juga: Menghemat Biaya Workload Proyek Google Cloud dengan Dukungan VM Spot Itulah sekilas tentang keamanan infrastruktur Google Cloud dan beberapa layanan yang membantu melindungi aplikasi Anda di Google Cloud. Untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai infrastruktur Google Cloud, Anda bisa menyimak whitepaper ini. Apakah keamanan infrastruktur yang tinggi membuat Anda tertarik untuk menggunakan Google Cloud? Kami dari EIKON Technology dengan senang hati akan membantu proses implementasi jaringan komputasi awan dari Google Cloud. Mulai dari perencanaan hingga pasca-pemasangan, Anda akan didampingi oleh ahlinya. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Chromebook, Google Cloud, Google Workspace

Menerapkan Keamanan Chrome pada Google Cloud dan Workspace

Google Cloud baru saja meluncurkan Chrome Enterprise Connectors Framework, sebuah cara baru untuk mengintegrasikan browser Chrome dengan platform keamanan seperti Splunk, Palo Alto Networks, dan CrowdStrike dengan mudah. Di waktu yang bersamaan, Google juga memperluas dukungan untuk Workspace dan produk Cloud lainnya, termasuk Google Cloud Pub/Sub, Chronicle, BeyondCorp Enterprise, dan Chrome Browser Cloud Management, untuk membantu tim TI mendapatkan informasi berguna mengenai potensi ancaman keamanan dari Chrome. Ini akan membantu melindungi pengguna ketika mereka: Diarahkan menuju situs berbahaya yang dikenal. Mengunduh atau mengunggah file dengan malware yang dikenal. Menggunakan kembali kata sandi perusahaan di situs yang tidak disetujui. Mengubah kata sandi perusahaan setelah menggunakannya kembali di situs yang tidak disetujui. Menariknya, kapabilitas baru ini bisa dinikmati secara gratis oleh perusahaan yang sudah menggunakan produk Google. Lalu, bagaimana menghubungkan integrasi Chrome Enterprise Connectors Framework ini? Memulai dengan mudah Semua integrasi baru ini disetel dan dikonfigurasi Chrome Browser Cloud Management, yang dapat diakses melalui konsol Google Admin. Bagi Anda yang belum memiliki akun bisa mengikuti panduan ini. Lewat Google Admin, Anda dapat mengelola banyak aspek dari browser end-user. Setelah berada di konsol Admin, Anda dapat melakukan konfigurasi pelaporan peristiwa Keamanan untuk melihat laporan secara langsung di log audit konsol. Photo Credit: Google Cloud Blog Integrasi dengan Google Workspace Untuk pelanggan Google Workspace, tim TI secara otomatis akan mendapat akses ke konsol Google Admin. Dari sana, perusahaan dapat mendaftar dan mendapatkan informasi mendetail tentang penerapan browser mereka. Anda juga dapat menetapkan kebijakan hingga mengelola ekstensi. Kebijakan pengelolaan Chrome dapat disetel agar berfungsi bersama dengan kebijakan berbasis pengguna apa pun yang mungkin diterapkan melalui Workspace. Baca juga: Memanfaatkan Zero-Touch Enrollment Uuntuk Setup Chromebook Skala Besar Setelah mengaktifkan pelaporan peristiwa Keamanan, Anda kemudian dapat melihat peristiwa pelaporan dalam log audit. Pelanggan Google Workspace Premium, termasuk yang menggunakan paket Enterprise Plus atau Education Plus, dapat menggunakan Workspace Security Investigation Tool untuk mengidentifikasi, melakukan triase, dan bertindak atas potensi ancaman keamanan. Photo Credit: Google Cloud Blog Integrasi dengan Google Cloud BeyondCorp Enterprise BeyondCorp Enterprise, adalah produk pertama yang berintegrasi dengan Chrome sebagai bagian dari perlindungan data dan ancaman bisnis. Baru-baru ini, Google meluncurkan BeyondCorp Enterprise Essentials untuk mempermudah perjalanan Zero Trust pelanggan dan menawarkan lapisan keamanan yang konsisten. Baca juga: Langkah Chrome untuk Memastikan Keamanan Data Anda Fitur-fitur ini menyaring dan memblokir URL berbahaya secara real-time, mengidentifikasi situs phishing, menghentikan unduhan dan transfer konten berbahaya, mencegah hilangnya data sensitif, melarang penggunaan konten yang dilindungi, dan menegakkan kebijakan perlindungan data. Selain perlindungan keamanan ini, semua peristiwa keamanan dan wawasan dari Chrome, seperti transfer malware dan kunjungan situs yang tidak aman, tersedia untuk pelanggan BeyondCorp Enterprise dan BeyondCorp Enterprise Essentials. Photo Credit: Google Cloud Blog Integrasi dengan Google Chronicle  Google Chronicle menghadirkan deteksi, investigasi, dan respons ancaman modern dengan menyatukan semua telemetri keamanan. Awal tahun 2022 ini, Google meluncurkan deteksi kontekstual untuk untuk memprioritaskan peringatan dengan konteks tambahan. Sekarang, data penting berbasis web dari Chrome pun dapat dilihat bersama peristiwa keamanan lain. Artinya, tim keamanan dapat menggunakan konteks tambahan untuk membuat keputusan yang lebih baik. Photo Credit: Google Cloud Blog Chrome telah bekerja selama bertahun-tahun untuk menjaga keamanan pengguna dan data perusahaan. Dengan berbagai opsi integrasi yang disediakan, tim TI memiliki fleksibilitas untuk bekerja dengan berbagai teknologi Google atau solusi keamanan siber pilihan mereka sendiri untuk mengamankan lingkungan mereka. Google Cloud Pub/Sub Photo Credit: Google Cloud Blog Banyak profesional TI telah menggunakan Pub/Sub untuk menyatukan sumber data mereka. Dengan integrasi Chrome, peristiwa keamanan yang dikirim ke Pub/Sub kemudian dapat dimasukkan ke dalam alat pelaporan keamanan atau platform intelijen keamanan pilihan. Baca juga: 5 Kelebihan Chromebook untuk Produktivitas Pekerjaan yang Perlu Anda Ketahui Dengan memanfaatkan integrasi baru ini Anda dapat meningkatkan keamanan pada berbagai layanan Google seperti Cloud dan juga Workspace. Selain itu, Anda juga bisa menerapkan penggunaan Chrome Device untuk membangun ekosistem kerja berbasis cloud yang aman. Chrome Device sendiri merupakan perangkat yang didesain untuk kebutuhan kerja. Dengan performa yang cepat dan telah mendukung kolaborasi real-time, Chrome Device akan meningkatkan produktivitas kerja Anda. Kini, Chrome Device bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Untuk informasi lengkap mengenai spesifikasi Chrome Device, silakan klik di sini.

Google Cloud

Percepat Migrasi Data BigQuery dengan Penerjemah SQL Otomatis

Teknologi komputasi awan memungkinkan Anda untuk dapat melahirkan inovasi tanpa batas dan menemukan kapabilitas yang tidak disadari sebelumnya. Google menawarkan teknologi ini dalam satu antarmuka terpadu. Memigrasikan ekosistem data ke Google Cloud akan membantu Anda untuk memecah silo data sekaligus memanfaatkan potensi data secara optimal. Sayangnya, memindahkan ekosistem data, terutama data warehouse bukanlah suatu hal yang mudah. Salah satu faktor penghambat terbesarnya adalah proses modernisasi logika bisnis sebelumnya, seperti kueri SQL dan prosedur yang sudah tersimpan sebelumnya. Proses ini biasanya akan melibatkan penulisan ulang dan verifikasi kueri manual yang substansial. Selain sangat memakan waktu, proses ini pun rawan kesalahan. Baru-baru ini, Google Cloud menghadirkan sebuah inovasi yang mampu menyederhanakan proses migrasi data warehouse dengan penerjemah SQL otomatis sebagai bagian dari BigQuery Migration Service (BQMS). Pelanggan kini bisa mendapat terjemahan yang benar secara semantik dan dapat dibaca manusia dari kueri SQL lama mereka, di berbagai data warehouse, hanya dengan menekan satu tombol saja. BQMS tersedia secara gratis dan secara signifikan mengurangi waktu, biaya, dan risiko migrasi gudang data ke BigQuery. Penerjemah SQL otomatis Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery Migration Service (BQMS) telah dimanfaatkan oleh perusahaan besar dunia seperti PayPal dalam migrasi data mereka. Kini, BQMS sudah meluncurkan ketersediaan umum sehingga diharapkan ada lebih banyak perusahaan yang bisa memanfaatkannya, termasuk untuk kapabilitas terjemahan SQL otomatis. BQMS telah mendukung kapabilitas untuk menerjemahkan SQL per batch untuk lebih dari 10 dialek ke BigQuery, di antaranya: Amazon Redshift SQL dan Teradata SQL di GA Apa Apache HiveQL, Apache Spark SQL, Azure Synapse T-SQL, Basic Teradata Query (BTEQ), Teradata SPL, IBM Netezza SQL/NZPLSQL, Oracle SQL / Exadata, PL/SQL, Snowflake SQL, dan Vertica SQL (dalam preview) Baca juga: Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema Penerjemah interaktif Photo Credit: Google Cloud Blog Selain itu, Google Cloud telah mendesain agar kapabilitas terjemahan ini memberikan pengalaman yang mirip dengan Google Translate. Kemampuan ini disebut terjemah SQL interaktif yang menyediakan alat terjemahan SQL real-time dan langsung kepada pengguna sehingga memungkinkan terjemahan self-service. Hal ini tidak hanya akan mengurangi waktu dan upaya analis data dalam memigrasikan kueri mereka, tapi juga mampu meningkatkan seberapa cepat mereka belajar memanfaatkan kemampuan modern BigQuery. Baca juga: BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia? Dilengkapi dengan tool pendukung Untuk membuat penggunaan terjemahan SQL lebih mudah dan akurat dalam migrasi data Anda, Google Cloud telah menyertakan rangkaian tools untuk pelanggan yang terbuka dan fleksibel. Rangkaian tools ini bisa Anda gunakan untuk membantu tugas-tugas umum seperti mengekstrak SQL dan skema dari warehouse sumber serta memetakan ulang penamaan skema sumber ke skema tujuan BigQuery. Alat-alat ini juga dapat membantu Anda melakukan otomatisasi pengalaman terjemahan end-to-end, mengurangi intervensi manual dan juga refactoring pasca-terjemahan. Ketika intervensi manual diperlukan, BQMS dengan jelas menggambarkan bagian mana yang perlu ditinjau untuk akurasi serta mana yang tidak dapat diterjemahkan secara otomatis dan harus ditangani di luar BQMS. Mulai menerapkan terjemahan SQL otomatis BQMS Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery Migration Service mempercepat sebagian besar proses migrasi data menyeluruh dengan alat yang terbuka dan canggih. Sekali lagi, kapabilitas terjemahan SQL otomatis BQMS kini telah tersedia untuk publik dan bisa digunakan secara gratis. Dengan memanfaatkan kapabilitas ini, Anda dapat mempercepat sekaligus menurunkan biaya migrasi data ke BigQuery. Jika Anda ingin memanfaatkan BQMS untuk bukti konsep atau migrasi data yang akan datang, Google Cloud telah menyediakan panduan gratis. Di samping itu, Anda juga bisa menghubungi partner resmi yang telah ditunjuk oleh Google Cloud seperti EIKON Technology untuk implementasi platform. Baca juga: Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts dan Slot Google Cloud telah terbukti kemampuannya dalam menyediakan solusi migrasi data, yang bukan hanya lengkap, tapi juga efisien. Kapabilitas terjemahan otomatis SQL dalam BigQuery Migration Service adalah salah satu dari beragam layanan yang dihadirkan Google Cloud untuk membantu Anda menguraikan problem umum dalam migrasi data. Dapatkan segera Google Cloud untuk mendukung transformasi data perusahaan Anda. EIKON Technology siap mendampingi Anda mulai dari tahap perencanaan hingga pasca-implementasi nanti. Untuk terhubung dengan EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memahami Cara Kerja Migrasi dengan Google Cloud VMware Engine

Google Cloud VMware Engine (GCVE) memungkinkan pengguna untuk menerapkan lingkungan VMware terkelola dalam Enterprise Cloud. Google baru saja meluncurkan sebuah white paper baru berjudul, “Google Cloud VMware Engine Performance Migration & Benchmarks”. White paper tersebut berisi panduan untuk membantu pelanggan dalam memahami arsitektur, kinerja, serta manfaat dari Google Cloud VMware Engine. Namun jika Anda masih belum terbiasa dengan Google Cloud VMware Engine, tidak perlu khawatir. Artikel kali ini akan membahas lebih banyak mengenai layanan baru dari Google Cloud tersebut. Mari pelajari bersama. Transisi lebih mudah dengan Hybrid Cloud Extension Memanfaatkan Google Cloud memungkinkan Anda mengakses layanan dan kemampuan komputasi awan yang ada. Salah satu layanan dan solusi yang disebutkan dalam “Google Cloud VMware Engine Performance Migration & Benchmarks” adalah Hybrid Cloud Extension atau HCX. HCX memberi Anda transisi yang lebih mudah dari penyimpanan lokal ke cloud, memungkinkan administrator sistem untuk dengan cepat menerapkan cloud perusahaan dan menskalakan virtual machine yang mereka butuhkan. Solusi referensi yang diusulkan ini sangat cocok untuk perusahaan yang ingin memulai perjalanan migrasi cloud dan memahami persyaratan teknis dalam proses tanpa harus berkomitmen penuh pada strategi cloud atau strategi pusat data evakuasi mereka. Baca juga: 5 Alasan Mengapa Google Cloud VMware Engine Adalah Solusi VMware Terbaik Migrasi beban kerja yang lebih mulus Photo Credit: Freepik Saat ini, tantangan dalam bidang teknologi informasi (TI) begitu dinamis dan terus bermunculan, termasuk dalam hal komputasi awan. Perusahaan yang menerapkannya pun mau tak mau harus terus menavigasi jalan mereka agar solusi yang diimplementasikan dapat berjalan optimal. Google Cloud VMware Engine memberi kemudahan navigasi bagi para penggunanya dalam memigrasikan beban kerja mereka ke cloud. Namun, pengguna tidak harus memindahkan semuanya ke cloud sekaligus. Ini karena GCVE menyediakan opsi untuk menskalakan infrastruktur TI dari penyimpanan lokal ke cloud sesuai kebutuhan Anda dengan memanfaatkan HCX. HCX juga memungkinkan Anda memigrasikan virtual machine dari penyimpanan lokal ke cloud melalui VPN atau koneksi internet tanpa downtime tambahan. Pengguna bahkan tak harus menyimpan pekerjaan dan keluar dari mesin mereka. Dengan GCVE, Anda dapat terus bekerja selama jam kerja dan operasi. Sementara administrator sistem Anda dapat memigrasikan tim ke cloud tanpa downtime yang berhubungan dengan migrasi mesin virtual. Baca juga; Google Cloud VMware Engine: Optimalkan Biaya Lisensi Aplikasi dengan Custom Core Counts Panduan lengkap gratis Photo Credit: Freepik Kemampuan untuk memigrasikan virtual machine mesin virtual dari penyimpanan lokal ke cloud menimbulkan pertanyaan lain: seberapa cepat virtual machine yang ditargetkan dapat bermigrasi ke cloud? Google menganalisis skenario khusus ini, menilai persyaratan apa yang diperlukan untuk memigrasikan virtual machine lokal ke cloud melalui Virtual Private Network (VPN), dan kemudian menganalisis seberapa cepat koneksi tersebut dibuat dan ditransmisikan melalui HCX. Jawaban atas pertanyaan tersebut semuanya telah dibahas dalam white paper terbaru dari Google Cloud VMware Engine yang berjudul, “Google Cloud VMware Engine Performance Migration & Benchmarks”. White paper tersebut dapat diunduh dan disimpan secara gratis. Anda dapat mempelajarinya untuk memahami proses migrasi dengan memanfaatkan Google Cloud VMware Engine. Tersedia juga panduan, temuan, serta penilaian dari para pakar migrasi Google Cloud. Baca juga:  Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMware Engine Selain VMware Engine, Google Cloud juga masih memiliki beragam solusi yang dirancang untuk menguraikan tantangan TI perusahaan Anda. Menariknya lagi, mereka bahkan menyediakan panduan penggunaan serta pendapat dari pakar untuk implementasi yang optimal, sebagaimana white paper “Google Cloud VMware Engine Performance Migration & Benchmarks” yang tersedia untuk mengoptimalkan GCVE. Tertarik? EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Google Cloud yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Kami juga memastikan proses implementasi solusi cloud dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk mulai membangun solusi komputasi awan Anda dengan Google Cloud, silakan hubungi kami di sini!

Google Cloud

Otomatisasi Pemrosesan Dokumen Identitas dengan Document AI

Berapa kali Anda mengisi formulir yang meminta informasi pribadi? Mungkin terlalu sering untuk dihitung. Beberapa memang menyediakan opsi pengisian otomatis jika Anda sign in, namun ada banyak sekali yang mengharuskan Anda memberi data yang sama secara manual, lagi dan lagi. Google Cloud baru saja meluncurkan Document AI, layanan pemrosesan dokumen berbasis kecerdasan buatan yang siap membantu Anda memecahkan masalah tersebut. Contoh kasus pemrosesan dokumen Berikut adalah beberapa situasi pemrosesan dokumen yang mungkin pernah Anda alami: Rekening keuangan: Perusahaan perlu memvalidasi identitas individu. Saat membuat akun pelanggan, Anda harus menunjukkan identitas yang dikeluarkan pemerintah untuk validasi manual. Imigrasi: Saat melintasi perbatasan, Anda harus melewati pemeriksaan identitas. Gerbang utama umumnya telah menerapkan sistem canggih. Namun, gerbang yang lebih kecil di sepanjang perbatasan terkadang masih menerapkan proses manual yang dapat menyebabkan antrean panjang. Hotel: Saat bepergian ke luar negeri, Anda sering kali harus menunjukkan paspor untuk dipindai saat check-in akomodasi. Terkadang, Anda juga perlu mengisi formulir kertas yang lebih panjang dan menuliskan data yang sama. Dalam contoh ini, info yang diminta sering kali sudah ada di dokumen identitas Anda. Apalagi sudah ada otoritas resmi yang mengesahkannya. Memeriksa atau mengambil data langsung dari sumber asli tidak hanya akan membuat proses lebih cepat dan lebih efektif, tapi juga menghilangkan banyak gesekan bagi end user. Baca juga: Benarkah Desentralisasi Adalah Masa Depan Identitas Digital? Kapabilitas Document AI Document AI yang baru saja diluncurkan Google Cloud telah dibekali dengan kapabilitas canggih seperti: Pemroses identitas Setiap pemroses identitas AI Dokumen adalah model pembelajaran mesin yang dilatih untuk mengekstrak informasi dari dokumen ID standar seperti SIM, KTP/KITAS, dan Paspor. Photo Credit: Google Cloud Blog Pembuatan prosesor Anda dapat membuat prosesor secara manual dari Cloud Console (web admin UI), secara terprogram dengan API atau prosesor berbasis lokasi yang membantu menjamin pemrosesan akan terjadi di setiap prosesor. Pemrosesan dokumen Anda dapat memproses dokumen dengan dua cara, yaitu sinkronisasi permintaan online, untuk menganalisis satu dokumen dan langsung menggunakan hasilnya. Bisa juga secara tidak sinkron dengan permintaan batch, untuk meluncurkan operasi pemrosesan batch pada beberapa dokumen sekaligus atau yang skalanya lebih besar. Antarmuka Document AI Document AI tersedia melalui antarmuka Google Cloud biasa, yakni RPC API (gRPC latensi rendah), REST API (permintaan dan tanggapan JSON), Client libraries (gRPC wrappers, saat ini tersedia untuk Python, Node.js, dan Java), dan Cloud Console (web admin UI). Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas Dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Functions Bidang identitas Respons REST yang khas terlihat seperti berikut: Bidang text dan pages  menyertakan data OCR yang dideteksi oleh model ML yang mendasarinya. Bagian ini umum untuk semua prosesor Document AI. Daftar entities berisi bidang yang secara khusus dideteksi oleh pemroses identitas. Photo Credit: Google Cloud Blog Deteksi penipuan Tersedia dalam versi preview, fitur Identity Doc Fraud Detector membantu mendeteksi upaya perusakan. Biasanya, ketika dokumen identitas tidak “lulus” pendeteksi penipuan, sistem secara otomatis akan memblokir upaya tersebut atau mengalihkan pada prosedur validasi manual. Tahap finalisasi aplikasi pemrosesan dokumen identitas Anda Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan Document AI, Anda bisa menciptakan sebuah sistem pemrosesan dokumen identitas otomatis yang sangat efisien, baik dari segi biaya maupun waktu dalam tahap finalisasi, pastikan Anda telah: Menentukan pengalaman dan arsitektur pengguna. Menerapkan backend dan API-nya. Menerapkan frontend dengan campuran HTML + CSS + JS Menambahkan beberapa fitur: unggahan file, sampel dokumen atau tangkapan webcam. Baca juga: Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber Document AI merupakan sebuah layanan dari Google Cloud yang memungkinkan Anda untuk dapat melakukan pengambilan data secara otomatis dalam skala besar. Dengan begitu, biaya pemrosesan dokumen dapat dihemat. Penasaran? Google Cloud menyediakan fitur coba gratis untuk para penggunanya. Bagi Anda yang tertarik dengan layanan Document AI dan berbagai layanan lain dari Google Cloud, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan penggunaannya. Anda bisa menentukan pemakaian sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Klik di sini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Google Cloud

5 Cara Mengembangkan Usaha Retail Melampaui Segmentasi Tradisional

Sekarang ini, model interaksi konsumen dengan brand sangat beragam. Alasannya tak lain adalah karena dinamika e-commerce telah berubah selama 2 tahun terakhir. Retail harus paham bagaimana investasi yang tepat dalam akuisisi pelanggan baru. Akan lebih baik jika retail mulai memikirkan pola konsumsi generasi mendatang dari pengalaman digital mereka. Sebab kini personalisasi saja tidak cukup, perlu lebih banyak empati dalam proses. Topik inilah yang menjadi tema utama event eMarketer Tech-Talk bersama Fayez Mohamood (co-founder dan CEO Bluecore), James McDermott (co-founder dan CEO Lytics), serta Mario Ciabarra (founder dan CEO Quantum Metric). Dari pembahasan tersebut, terdapat 5 poin utama yang sebaiknya dipersiapkan oleh retail. Keluar dari segmentasi dan demografi Kini pelanggan dapat berinteraksi dengan brand dari beberapa titik kontak. Sebisa mungkin, retail harus melibatkan pelanggan, terutama dalam hal personalisasi dan juga rekomendasi. Artinya, tak perlu terpaku pada segmentasi dan demografi. Misalnya, dengan mengaktifkan katalog produk yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI). Dengan begitu, pelanggan bisa mendapat rekomendasi produk yang lebih sesuai. Cara ini efektif untuk mendorong pembelian berulang dan meningkatkan pendapatan. Intinya, lihatlah konsumen sebagai individu dengan tujuan interaksi yang sangat bervariasi. Baca juga: Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud Lakukan demokratisasi data Photo Credit: Freepik Dengan munculnya customer data platform (CDP) berbasis cloud, retail bisa lebih cepat membangun dan bertindak berdasarkan profil pelanggan dalam menangkap maksud dan minat mereka. Hal ini memang tidak sesederhana kelihatannya. Memutuskan data mana yang memiliki nilai dan bagaimana menggunakannya adalah inti dari tantangannya. Namun kini CDP telah membuat lebih banyak data dapat diakses oleh data scientist untuk membangun model yang dapat diubah menjadi sistem keterlibatan. Tim internal sebaiknya terus bereksperimen untuk mengetahui pengalaman mana yang benar-benar akan mendorong interaksi yang lebih baik. Manfaatkan AI untuk mengantisipasi perubahan perilaku dan inventaris Beberapa retail memiliki inventaris yang terus berubah untuk bisa menyesuaikan maksud pelanggan. Mereka memastikan pesan kepada pelanggan sesuai, tanpa mengubah frekuensi komunikasi, sehingga meningkatkan pembelian berulang. ‘Real-time’ bukanlah sekadar istilah. Data real-time benar-benar ada di waktu yang nyata dan terkini. Pemanfaatan data dalam analisis perubahan perilaku dan inventaris akan membantu Anda dalam mengambil keputusan, terutama dalam hal inovasi produk yang benar-benar diinginkan pelanggan. Membangun hubungan antara data pelanggan dan empati Singkatnya, model operasi harus mendukung koneksi penuh dari semua interaksi yang relevan. Misalnya, menggabungkan data pembelian sebelumnya dengan data intensi, data penjelajahan, dan data aplikasi seluler. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan koneksi yang lebih personal dengan pelanggan dan memungkinkan retail mendapatkan visibilitas real-time ke dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pelanggan. Baca juga: Meningkatkan Efisiensi Kerja di Bidang Retail dengan Teknologi No-Code Automation Runtuhkan silo yang membatasi perusahaan Photo Credit: Freepik Hampir setiap perusahaan saat ini berfokus untuk lebih fokus pada pelanggan. Namun kebanyakan hanya terstruktur di sekitar tim khusus yang bekerja dalam silo dengan perspektif mereka sendiri. Tanpa disadari, mereka telah “menyandera” data. Tidak mudah memang untuk meruntuhkan silo-silo tersebut. Beberapa perusahaan mempromosikan kolaborasi dengan membangun tim yang mencakup pemasar, data scientist, analis, dan staf kreatif. Perkembangan lain yang menjanjikan: pemasar dan data scientist secara proaktif bermitra dengan tim keuangan dan operasional, terutama seputar desain KPI. Mereka bekerja sama untuk merancang metrik yang berfokus pada pelanggan. Jadi, data tak lagi dilihat dari perspektif pemasaran, produk, UX atau desain, tapi dari lensa pelanggan. Baca juga: Mengenal Supply Chain Twin, Layanan Terbaru dari Google Cloud Tidak mudah memang untuk mengubah orientasi perusahaan. Terlebih untuk perusahaan yang sudah lama beroperasi dan sukses dengan metode konvensional. Meski begitu, dunia kini sudah berubah. Praktik yang sebelumnya berhasil belum tentu akan efektif saat diterapkan sekarang. Google Cloud mendorong industri retail untuk membangun pendekatan yang lebih personal terhadap pelanggan. Selain melalui ekosistem cloud yang telah disediakan, pelanggan juga bisa mengakses insight baru mengenai dunia retail terkini dari perusahaan partner Google Cloud, seperti Bluecore dan Quantum Metric. Informasi selengkapnya mengenai implementasi ekosistem Google Cloud, silakan klik di sini.

Google Cloud

Memanfaatkan Google Cloud Contact Center AI untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan

Google Cloud Contact Center AI (CCAI) merupakan sebuah layanan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI). Layanan ini menawarkan interaksi alami yang disampaikan melalui percakapan dengan dukungan AI. Ulasan kali ini akan membahas tentang cara memanfaatkan CCAI yang dikombinasikan dengan Apigee API Management untuk membangun chatbot yang efektif. Mengenal CCAI dan Dialogflow CX Dialogflow CX merupakan modul pemrosesan bahasa alami CCAI yang mampu menerjemahkan baik teks maupun audio dari percakapan menjadi data terstruktur. Salah satu fitur unggulan Dialogflow CX adalah pemenuhan webhook untuk terhubung dengan sistem backend. Baca juga: Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts dan Slot Estimator Setelah agen virtual memicu webhook, Dialogflow CX terhubung ke API backend, menggunakan respons, dan menyimpan informasi yang diperlukan dalam konteksnya. Integrasi ini memungkinkan agen virtual untuk memiliki interaksi yang terinformasi dan terarah dengan end user. Misalnya, untuk memverifikasi jam buka toko, menentukan apakah item tertentu tersedia, dan memeriksa status pesanan. Photo Credit: Google Cloud Blog Mengembangkan API untuk pemenuhan CCAI bukanlah tugas yang mudah. Ada banyak tantangan yang terkait dengannya, termasuk: Kompleksitas: Anda mungkin perlu mengakses API yang tidak terekspos secara eksternal, yang mungkin memerlukan kolaborasi dan aturan signifikan untuk mengaktifkan akses ke data dan sistem yang ada. Ini dapat memunculkan utang teknis dan lebih banyak inefisiensi tanpa API Gateway yang dapat menerjemahkan kompleksitas sistem data secara real-time dan meneruskannya ke pelanggan. Kepuasan pelanggan menurun: Contact center punya peran penting sebagai pendongkrak pengalaman pelanggan. Meningkatkan kecepatan respons dapat meningkatkan pengalaman, tapi hal ini juga bisa menimbulkan gesekan atau penundaan. Caching dan data prefetching adalah aliran yang umum digunakan untuk mengaktifkan respons agen virtual dengan cepat. API Orchestration: API umumnya membutuhkan lebih dari sekadar mengekspos end point karena mereka harus sering berubah sebagai respons terhadap kebutuhan pelanggan. Fleksibilitas ini dapat memerlukan API Orchestration, di mana API dipisahkan dari layanan dan diintegrasikan ke dalam antarmuka yang disesuaikan dengan ekspektasi pola konsumsi dan persyaratan keamanan untuk berinteraksi dengan Dialogflow CX. Baca juga: 3 Kunci Utama Transformasi Industri yang Berkelanjutan Bagaimana Dialogflow dan Apigee memberikan pengalaman chatbot yang lebih baik CCAI akan lebih efektif jika terintegrasi dengan jalinan bisnis melalui API. Semakin banyak fungsionalitas yang Anda tambahkan ke agen, semakin penting untuk menyederhanakan proses orientasi API. Anda perlu menggabungkan pekerjaan berulang, memvalidasi postur keamanan, sekaligus mengidentifikasi dan menerapkan pengoptimalan untuk memastikan pengalaman end user yang luar biasa. Photo Credit: Google Cloud Blog Cara untuk memaksimalkan pengembangan Contact Center AI API dengan Apigee Berikut adalah beberapa praktik terbaik untuk pengembangan Apigee API untuk pemenuhan Dialogflow CX API: Buat satu proxy Apigee API umum Katakanlah Anda memiliki agen virtual Dialogflow CX yang membutuhkan tiga pemenuhan API yang akan digawangi oleh Apigee berupa: Dapatkan daftar film Tambahkan tiket film ke troli Pesan barang di troli Secara teknis, Anda dapat membuat webhook Dialogflow CX terpisah untuk masing-masing API ini, yang dapat menunjuk ke tiga proxy API terpisah. Namun, karena Dialogflow memiliki format permintaan dan respons kepemilikan, membuat tiga proxy API terpisah untuk API pemenuhan tersebut menghasilkan tiga proxy non-RESTful yang sulit digunakan untuk klien mana pun selain agen virtual Dialogflow CX. Photo Credit: Google Cloud Blog Sebagai gantinya, buat proxy Apigee API umum yang bertanggung jawab menangani semua pemenuhan API yang diperlukan oleh agen. Dialogflow CX hanya akan memiliki satu webhook untuk mengirim permintaan ke proxy umum Apigee API. Setiap panggilan webhook dikirim dengan tag webhook yang secara unik mengidentifikasi pemenuhan API yang benar. Pertimbangkan penggunaan rantai proxy Webhook Dialogflow CX memiliki format permintaan dan responsnya sendiri alih-alih mengikuti konvensi RESTful seperti GET untuk pembacaan, POST untuk pembuatan, hingga PUT untuk pembaruan. Hal ini akan mempersulit klien konvensional menggunakan Proksi API yang dibuat untuk Dialogflow CX. Photo Credit: Google Cloud Blog Oleh karena itu, kami merekomendasikan penggunaan rantai proxy. Dengan rantai proxy, Anda dapat memisahkan proxy API menjadi dua kategori: proxy Dialogflow dan proxy sumber daya. Baca juga: Menggunakan Network Connectivity Dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan Tak dapat dipungkiri lagi, contact center merupakan ujung tombak layanan pelanggan. Dengan merancang chatbot yang efektif, Anda bisa memberikan respons kepada pelanggan lebih cepat. Google Cloud Contact Center AI (CCAI) sebagai platform untuk merancang contact center, telah didukung oleh teknologi kecerdasan buatan atau AI sehingga mampu menyediakan respons dengan cepat dan sesuai kebutuhan pelanggan. Sebagai sebuah penyedia komputasi awan. Google Cloud menyediakan berbagai solusi yang komprehensif dan tentunya efisien. CCAI hanyalah bagian kecil dari ekosistem Google Cloud. Untuk mengeksplorasi berbagai fitur dan layanan Cloud, EIKON Technology menawarkan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan usaha Anda. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Scroll to Top