EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

4 Alasan Mengapa Harus Memilih Sertifikasi Google Cloud untuk Tim IT Anda

Sekarang ini, semakin banyak perusahaan yang bermigrasi ke cloud. Itu berarti, kebutuhan untuk meningkatkan skill pun semakin tinggi. Tanpa membekali diri dengan skill mengenai komputasi awan, perusahaan Anda tentu akan kalah saing dari mereka yang menguasainya. Dalam laporan Global Knowledge 2021, diketahui bahwa sekitar 42% petinggi perusahaan kesulitan untuk bisa menemukan talenta yang sesuai. Sebab, saat ini permintaan terhadap SDM yang menguasai TI dan sesuai dengan spesifikasi perusahaan masih sangat minim. Masih dari laporan yang sama, diketahui bahwa sekitar 60% perusahaan, minimnya talenta berkualitas menyebabkan mereka kehilangan peluang untuk meraih keuntungan. Sertifikasi Google Cloud hadir untuk membantu Anda mengatasi problem tersebut. Dengan menyediakan berbagai pelatihan mengenai komputasi awan, Google mendorong lahirnya lebih banyak lagi talenta TI berbakat. Mengapa sertifikasi Google Cloud? Ekosistem cloud tidak hanya tentang perangkat dan jaringan yang Anda gunakan, tapi juga mencakup orang-orang yang terlibat di dalamnya. Maka berinvestasi pada skill SDM sama pentingnya dengan berinvestasi pada perangkat baru. Berikut beberapa alasan mengapa sertifikasi Google Cloud adalah investasi yang tepat untuk skill Anda. Bantu percepat implementasi teknologi baru Setiap perusahaan yang baru mengadopsi ekosistem digital tentu ingin mempercepat proses transformasi dan memaksimalkan investasi cloud mereka. Dengan begitu, mereka bisa kembali fokus pada kegiatan bisnis utama. Menurut IDC Software Partner Survey di tahun 2021, hampir 70% perusahaan mitra Google Cloud mengakui bahwa sertifikasi telah mempercepat implementasi teknologi dan menghasilkan produktivitas staf yang lebih besar. Dari laporan yang sama juga diketahui bahwa 85% konsultan TI mitra setuju bahwa “sertifikasi mewakili validasi pengetahuan produk yang lebih luas.” Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Masa Depan Tingkatkan kepuasan dan kesuksesan klien Photo Credit: tirachardz (Freepik) Mendapatkan sertifikasi Google Cloud akan menjadi langkah pertama untuk meningkatkan kepuasan dan kesuksesan klien. Penelitian IDC terhadap lebih dari 600 konsultan dan reseller pada September 2021 menemukan bahwa “tim bersertifikasi penuh memenuhi 95% dari ekspektasi klien mereka. Sedangkan tim yang baru tersertifikasi sebagian mencapai skor rata-rata 36% lebih rendah.” Meningkatkan motivasi tim Saat ini, dunia kerja global tengah menghadapi isu Great Resignation. Hal ini menyebabkan departemen TI dari banyak perusahaan merasa khawatir tentang pengurangan karyawan. Sebab, hal tersebut tentu bisa mengakibatkan proyek terhenti, tujuan bisnis yang tidak terpenuhi, dan anggota tim baru atau yang butuh waktu panjang untuk belajar. Namun ternyata, jika para petinggi berinvestasi dalam pengembangan keterampilan untuk tim TI mereka, para talenta berbakat akan cenderung bertahan. Menurut laporan IDC, pelatihan komprehensif menghasilkan retensi karyawan 133% lebih besar dibandingkan dengan tim yang tidak terlatih. Ketika perusahaan mendukung karyawannya mengembangkan keterampilan, mereka akan cenderung tinggal lebih lama dan produktivitas pun ikut meningkat. Baca juga: Optimalkan Startup Anda dengan Technical Guide for Startups Proyek lebih cepat selesai dari jadwal Photo Credit: Rawpixel Dengan karyawan yang merasa didukung dan dibekali untuk menangani beban kerja, mereka juga bisa tetap terlibat dan berinovasi lebih cepat dengan sertifikasi Google Cloud. “Tim yang tersertifikasi penuh memiliki kemungkinan 35% lebih besar daripada tim yang tersertifikasi sebagian untuk menyelesaikan proyek lebih cepat dari jadwal, biasanya mencapai target mereka dua minggu lebih awal,” menurut penelitian IDC InfoBrief. Sertifikasi tim Anda Sertifikasi Google Cloud lebih dari sekadar segel pengakuan. Sertifikasi ini dapat menjadi kerangka kerja Anda untuk meningkatkan masa kerja staf, meningkatkan produktivitas, memuaskan para pelanggan, dan mendapatkan keuntungan utama lainnya untuk mengembangkan perusahaan Anda di masa depan. Setelah tim Anda tersertifikasi, mereka akan bergabung dengan jaringan profesional TI tepercaya di komunitas tesertifikasi Google Cloud, dengan akses ke resources serta peluang pembelajaran yang berkelanjutan. Baca juga: Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud Sertifikasi Google Cloud lebih dari sekadar pengakuan yang membuktikan keterampilan seseorang. Dengan berinvestasi pada sertifikasi ini, Anda juga telah mendukung karyawan untuk mengembangkan skill mereka di bidang komputasi awan. Dalam jangka panjang, sertifikasi ini juga akan mendorong perusahaan Anda untuk berkembang dan memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan setia. Google Cloud terus berusaha untuk memberikan solusi komputasi awan yang menyeluruh. Selain sertifikasi untuk mendukung SDM perusahaan Anda, layanan dari Google ini juga terus mengembangkan teknologi cloud sesuai dengan perubahan zaman. Kembangkan ekosistem komputasi awan perusahaan Anda dengan Google Cloud bersama EIKON Technology. Kami menawarkan implementasi menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Meet, Google Workspace

Sensasi Video Call ala Google Meet Kini Hadir di Google Duo, Jadi Seperti Apa?

Masa pandemi membuat kebutuhan akan komunikasi video meningkat. Entah itu untuk bekerja, belajar atau bahkan sekadar bertanya kabar kepada kerabat dan teman. Inilah yang kemudian mendorong Google untuk mengembangkan lini aplikasi video mereka, baik itu Meet maupun Duo. Penggunaan Google Meet sudah tak perlu diragukan lagi. Selama pandemi, penggunaan Meet mengalami peningkatan hingga 60% dari hari ke hari. Namun bagaimana dengan Duo? Meski tidak se-populer Meet, sebenarnya Duo pun memiliki fitur yang cukup komprehensif untuk ukuran aplikasi komunikasi video melalui ponsel. Dalam update terbarunya, Google menghadirkan beberapa fitur unggulan Meet pada Duo. Misalnya, panggilan grup hingga 100 peserta serta kapabilitas untuk menambahkan doodle dan efek kamera. Mari simak penjelasan lengkapnya dalam ulasan berikut. Upgrade Google Duo: Satu solusi yang terhubung Photo Credit: Google Cloud Blog Di bulan Juni 2022 ini, Google akan menambahkan semua fitur yang ada di Google Meet ke aplikasi Google Duo secara bertahap. Dengan begitu, pengguna Duo dapat dengan mudah menjadwalkan video meeting pada waktu yang sesuai untuk semua orang atau menggunakan panggilan video untuk langsung terhubung dengan seseorang atau grup. Akhir tahun 2022, Google juga berencana untuk mengganti aplikasi Duo menjadi Google Meet. Jadi, nantinya seluruh layanan komunikasi video Google berada dalam satu aplikasi Meet, yang tersedia untuk seluruh user tanpa biaya. Fitur panggilan video dari Duo akan tetap ada, termasuk kapabilitas untuk melakukan panggilan video ke teman dan keluarga dengan nomor telepon atau alamat email, menggunakan filter dan efek kamera, mengirim pesan, serta meminta Google Assistant untuk menelepon menggunakan perangkat yang ada. Semua riwayat percakapan, kontak, dan pesan akan terus disimpan dalam aplikasi. Anda pun tak perlu mengunduh aplikasi baru untuk bisa menggunakan layanan Duo. Baca juga: Google Meet Kini Perluas Akses Noise Cancellation Fitur panggilan video yang disempurnakan Photo Credit: Google Cloud Blog Selain memiliki cara baru untuk terhubung, upgrade ini akan memberi fitur yang disempurnakan bagi para pengguna Duo. Fitur dan kapabilitas yang sebelumnya hanya tersedia di Meet, kini bisa dinikmati di aplikasi Duo, termasuk kemampuan untuk: Menyesuaikan latar belakang virtual dalam panggilan dan rapat. Menjadwalkan rapat sehingga semua orang dapat bergabung pada waktu yang nyaman bagi mereka. Menggunakan chat dalam rapat untuk keterlibatan yang lebih dalam. Membagikan konten langsung sehingga memungkinkan interaksi dengan semua peserta dalam panggilan. Mendapatkan real-time close caption untuk mendukung aksesibilitas dan meningkatkan partisipasi dengan lebih baik. Meningkatkan jumlah peserta panggilan video dari batas maksimum 32 menjadi 100 peserta. Integrasi dengan aplikasi Google lainnya, seperti Gmail, Calendar, Assistant, dan Message. Baca juga: Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Satu pengalaman untuk semua orang Upgrade ini merupakan bagian dari misi Google untuk membangun pengalaman koneksi menyeluruh bagi seluruh pengguna. Raksasa teknologi tersebut juga berkomitmen untuk menyatukan teknologi panggilan video dan rapat ke dalam satu solusi yang kuat dan tentunya mudah digunakan. Komunikasi video adalah area fokus utama bagi mereka.  Ke depannya, pengguna dapat menikmati hasil inovasi dan investasi Google Meet untuk membantu orang terhubung, berkolaborasi, dan berbagi pengalaman dengan perangkat apa pun, di rumah, di sekolah, dan di tempat kerja. Baca juga: Kini Join Google Meet Bisa Lewat Docs, Sheets, dan Slides! Selain Duo dan Meet, Google juga masih memiliki aplikasi produktivitas lain seperti Gmail, Sheets, Docs, dan Slides. Semuanya terangkum lengkap dalam platform Google Workspace. Bagi Anda yang ingin membangun ekosistem kerja baru dengan dukungan teknologi serta pemrosesan real-time, Workspace adalah solusi terbaik. Terlebih kini Google Workspace juga menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan atau instansi Anda. Untuk instalasi dan implementasi, silakan hubungi EIKON Technology, official reseller Google khusus wilayah Indonesia. Kami menawarkan proses yang menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga paska-pemasangan. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Gmail, Google Meet, Google sheets, Google Workspace

Bagaimana Sebenarnya Cara Filter Spam Gmail Bekerja?

Bisa dibilang, kapabilitas filter spam yang dimiliki Gmail adalah garda terdepan yang melindungi pengguna dari ancaman kejahatan siber. Data dari Google Cloud menunjukkan bahwa kemampuan filtrasi tersebut mampu memblokir lebih dari 99,9% spam, phishing, dan malware agar tidak bisa mencapai kotak masuk pengguna. Seiring waktu, Google juga terus meningkatkan keamanan sistem mereka agar bisa tetap memberi perlindungan yang relevan. Namun sebenarnya, bagaimana cara filter spam yang ada di Gmail bekerja? Mari simak penjelasannya berikut ini. Mengenal filter spam Photo Credit: master1305 (Freepik) Kapabilitas filter spam hadir untuk menghentikan pesan yang tidak diinginkan, tidak diminta atau berbahaya agar tidak masuk ke inbox, sehingga pengguna bisa tetap fokus pada konten yang ingin mereka terima. Perlindungan dan sistem Gmail dirancang mengikuti prinsip tersebut. Pengguna pada dasarnya sudah sangat familier dengan kapabilitas ini. Hanya saja, terkadang timbul pertanyaan mengenai cara kerja alat klasifikasi email buatan Google tersebut. Dalam blog resmi Google disebutkan bahwa pengguna dari berbagai spektrum, mulai dari pengguna individu hingga perusahaan kerap mempertanyakan cara kerja penyaringan spam di Gmail. Sebab, baru-baru ini, muncul beberapa kesalahpahaman mengenai cara kerja penyaringan spam Gmail. Ada yang menilai bahwa filter spam Gmail memang bekerja, tapi tidak konsisten. Umumnya, filter berhasil menyaring spam, namun tak jarang pesan berbahaya tetap masuk ke inbox pengguna. Untuk mengetahui penjelasan mengenai fenomena ini, Anda bisa simak penjelasan pada poin selanjutnya. Baca juga:  8 Tips Memilih Email Hosting yang Teraman dan Terpercaya Cara kerja filter spam Gmail Untuk melindungi pengguna dalam skala besar, Gmail mengandalkan pembelajaran mesin (machine learning) yang didukung oleh umpan balik dari pengguna untuk menangkap spam. Sistem kemudian mengidentifikasi pola dalam kumpulan data besar sehingga lebih mudah untuk beradaptasi dengan cepat saat menghadapi taktik spam yang terus berubah. Gmail menggunakan sejumlah filter berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan pesan yang dianggap sebagai spam. Kapabilitas ini menimbang berbagai sinyal, termasuk karakteristik alamat IP, domain/subdomain, otentikasi untuk pesan massal, serta input pengguna. Umpan balik pengguna, seperti ketika pengguna menandai email tertentu sebagai spam atau sinyal bahwa mereka menginginkan email pengirim di kotak masuk mereka, juga merupakan elemen krusial dalam proses pemfilteran Gmail. Baca juga:  Update Google Workspace untuk Cegah Email Phishing Jaminan untuk pengirim email Photo Credit: Rawpixel Di waktu yang bersamaan, para pengirim email juga ingin mendapat kepastian bahwa pesan yang mereka kirim telah sampai ke inbox yang dimaksud. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, Gmail menawarkan beberapa tools serta resources gratis untuk memastikan email benar-benar terkirim dan masuk ke inbox penerima. Untuk meningkatkan pengiriman email ke inbox, tool yang direkomendasikan untuk pengiriman massal adalah Postmaster Tools milik Google. Dengan tool ini, setiap pengirim email massal dapat memastikan kesehatan domain mereka. Disarankan bagi pengirim email massal menggunakan tool ini untuk mengakses data dan melakukan diagnostic. Jadi, sistem dapat membantu menemukan cara yang tepat untuk bisa menjangkau penerima yang dituju. Baca juga: 6 Langkah Meningkatkan Keamanan Email dari Serangan Cyber Kapabilitas filter spam dan perlindungan keamanan Gmail dirancang untuk dapat memberikan pengalaman berkirim email terbaik kepada pengguna. Dengan adanya filter, pengguna bisa tetap fokus pada konten yang ingin mereka lihat. Di waktu yang sama, pengirim juga mendapat kepastian bahwa email yang dikirimnya sampai ke tujuan. Photo Credit: Rawpixel Sebagai penyedia layanan email terkemuka, Gmail terus mengembangkan cara untuk memberi perlindungan terbaik. Meski begitu, ada baiknya Anda juga melakukan pengaturan filter spam agar tetap sesuai dengan kebutuhan. Begitu juga dengan pengirim email massal yang disarankan untuk memanfaatkan tool tambahan agar bisa meningkatkan kemampuan pengiriman. Gmail sendiri sekarang merupakan bagian dari Google Workspace. Itu berarti, layanan pengiriman email ini telah terintegrasi dengan aplikasi produktivitas Google seperti Docs, Sheets, dan Slides. Optimalkan kinerja Anda dengan berbagai aplikasi, layanan, serta fitur Google Workspace. Untuk paket berlangganan dalam skala besar, silakan hubungi EIKON Technology!

Google Cloud

Google Cloud Security Summit: Memetakan Masa Depan Cloud yang Lebih Aman

Ancaman keamanan siber tetap menjadi risiko utama yang mengintai perusahaan. Alasan inilah yang kemudian mendorong Google Cloud untuk memulai Invisible Security. Dalam program tersebut, yang menjadi fokus utama adalah menyediakan solusi untuk meningkatkan keamanan perusahaan maupun instansi pemerintahan melalui ekosistem komputasi awan Google Cloud dan juga produk SaaS yang menghadirkan keamanan tingkat tinggi ke lingkungan lokal dan cloud lain. Pada Google Cloud Security Summit tahun 2022 ini, keamanan ekosistem cloud di masa depan menjadi tema besar. Google Cloud memaparkan bagaimana cara mereka untuk membantu pelanggan di seluruh dunia dalam mengatasi tantangan keamanan mereka yang paling mendesak, yakni mengamankan Software Supply Chain, mempercepat penerapan arsitektur Zero-Trust, meningkatkan tata kelola cloud, dan mengubah analitik dan operasi keamanan. Mari simak detailnya dalam ulasan berikut ini. Mengamankan Software Supply Chain  Photo Credit: DCStudio (Freepik) Dalam mengatasi masalah keamanan pada OSS (open-source software), sering kali perusahaan melakukan “tambal sulam”. Memperbaiki satu kesalahan, kemudian dua masalah baru muncul. Alasan inilah yang menyebabkan serangan terhadap OSS meningkat, bahkan mencapai 650% dari tahun ke tahun. Sebagai bukti komitmen terhadap Software Supply Chain, Google menawarkan sebuah layanan baru bernama Assured Open-Source Software. Layanan ini memungkinkan pengguna OSS dari sektor publik untuk menggabungkan paket OSS yang digunakan Google ke dalam alur kerja pengembang mereka sendiri. Direncanakan layanan ini akan hadir dalam versi pratinjau pada Q3 2022. Baca juga: Membangun Data Warehouse Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Menerapkan arsitektur Zero-Trust Untuk akses menuju arsitektur, Zero-Trust, Google Cloud menawarkan BeyondCorp Enterprise Essentials, sebuah solusi baru yang akan membantu perusahaan dalam mengambil langkah pertama menuju implementasi Zero-Trust. Layanan ini menggabungkan kontrol akses kontekstual untuk aplikasi SaaS atau aplikasi apa pun yang terhubung melalui SAML, serta kemampuan perlindungan data (pencegahan kehilangan data, perlindungan malware dan phishing, serta pemfilteran URL). Ini merupakan sebuah cara sederhana dan efektif untuk melindungi para pekerja, terutama pekerja tambahan atau pengguna yang memanfaatkan model “bawa perangkat Anda sendiri”. Selain itu, Google Cloud juga mengumumkan bahwa konektor aplikasi BeyondCorp Enterprise dan konektor klien akan meluncur pada Q3 2022. Kemampuan ini akan memberi pelanggan lebih banyak pilihan untuk melindungi lingkungan mereka. Konektor aplikasi dapat menyederhanakan koneksi ke aplikasi di cloud lain seperti Azure atau AWS tanpa perlu membuka firewall. Mengubah operasi keamanan Photo Credit: DCStudio (Freepik) Baru-baru ini Google Cloud mengumumkan Autonomic Security Operations (ASO) untuk sektor publik Amerika Serikat, sebuah solusi yang berfokus pada manajemen ancaman. Dengan menggunakan Security Operations Suite Google Cloud, ASO membantu sektor publik mengelola telemetri keamanan siber dalam skala besar, memenuhi persyaratan Event Logging Tier sesuai aturan pemerintah, mempercepat deteksi dan respons, serta meningkatkan produktivitas. Dengan deteksi kontekstual baru di Google Chronicle, informasi pendukung (termasuk telemetri, konteks, hubungan, dan kerentanan) dari sumber resmi (seperti CMDB, IAM, dan DLP) tersedia langsung sebagai peristiwa deteksi “tunggal”. Pelanggan dapat menggunakan kontekstualisasi ini untuk deteksi yang lebih baik dan cepat, memprioritaskan peringatan yang ada, dan mendorong penyelidikan lebih cepat. Rilis terbaru dari Siemplify SOAR dapat membantu tim keamanan bergerak melampaui Security Operations Center konvensional. Fitur barunya bahkan memungkinkan kolaborasi yang lebih transparan antara penyedia layanan dan end-user, memastikan tiap peran disajikan dengan data yang relevan untuk membantu memastikan respons yang cepat, dan membuat buku pedoman yang mendorong otomatisasi menjadi lebih mudah. Baca juga: Memanfaatkan Fitur Baru Google Chronicle sebagai Dukungan Operasi Keamanan Tata kelola cloud Photo Credit: DilokaStudio (Freepik) Google Cloud beroperasi dengan menerapkan model “shared-Fate”. Artinya, Cloud mengambil peran aktif dalam postur keamanan setiap pelanggannya. Model ini menitikberatkan pada keamanan rekayasa ke dalam platform inti Google Cloud, ditambah dengan kontrol keamanan yang dapat dikonfigurasikan sesuai profil risiko Anda. Untuk mendukung penerapan model tersebut, Google Cloud menawarkan solusi Security Foundation sebagai cara untuk membantu perusahaan mengadopsi kemampuan keamanan Google Cloud dengan lebih mudah. Solusi ini selaras dengan panduan preskriptif dari Google Cloud Cybersecurity Action Team dan telah dituangkan dalam dalam Security Foundations Blueprint. Itu artinya, Anda bisa mendapatkan kontrol dibutuhkan dalam perlindungan data, keamanan jaringan, pemantauan keamanan, dan lainnya agar proses implementasi Anda tetap aman dan tentunya hemat biaya. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual Serangan keamanan masih menjadi ancaman terbesar ekosistem cloud. Google Cloud sebagai salah satu penyedia komputasi awan terus berupaya mengembangkan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Google Cloud Security Summit merupakan salah satu bentuk komitmen Google untuk menguraikan potensi keamanan di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tertarik untuk mulai menerapkan teknologi Google Cloud sebagai jaringan komputasi awan di perusahaan Anda? EIKON Technology menyediakan paket implementasi menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi, kami siap mendampingi Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Cloud

Meningkatkan Kemampuan Komputasi Awan dengan Google Cloud Skill Badges

 Sekarang ini dunia telah memasuki era digitalisasi. Semua orang bisa saling terhubung tanpa harus berada di satu tempat yang sama. Pekerjaan pun kini bermigrasi ke ekosistem cloud seperti Google Cloud.  Meski begitu, sebuah penelitian yang dilakukan McKinsey Digital justru menemukan bahwa 61% HRD percaya bahwa mempekerjakan developer akan menjadi sebuah tantangan terbesar di masa mendatang. Pasalnya, meski sekarang jumlah developer sudah makin banyak, yang kompetisinya sesuai masih sulit untuk ditemukan. Berangkat dari alasan tersebut, sebaiknya para developer mengembangkan portofolio dan meningkatkan skill mereka. Sekadar memiliki skill saja tidak cukup. Skill tersebut juga harus dapat divalidasi agar dapat terus berkembang sesuai dengan teknologi dan lanskap bisnis yang berubah dengan cepat. Itu sebabnya Google Cloud kemudian meluncurkan platform Skill Badges. Lewat program tersebut, pengguna dapat mengasah skill mereka dalam bidang komputasi awan. Bagaimana cara kerjanya? Apa itu Google Cloud Skill Badges Skill Badges merupakan sebuah kredensial mikro yang dikeluarkan untuk menunjukkan kompetensi dan komitmen terkait komputasi cloud. Program ini juga mendukung Anda untuk terus mengikuti solusi dan produk Google Cloud terbaru Keterampilan Google Cloud tersedia secara luas di market cloud. Jika ditotal, setidaknya ada lebih dari 765.000 sertifikasi teknis dan lencana aktif yang bisa Anda peroleh. Untuk setiap skill dan keahlian cloud yang dikuasai, Anda akan mendapat lencana eksklusif. Lencana tersebut dapat dibagikan dan dipasang di resume sebagai bukti dari kemampuan cloud yang sudah Anda kuasai. Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Jaringan Cloud Cara mendapatkan Skill Badges Untuk mendapatkan Skill Badges sebenarnya sangat simpel. Bahkan, layanan ini bisa Anda coba secara gratis melalui Google Cloud Platform. Berikut langkah-langkahnya: Masuk ke halaman Google Cloud Platform kemudian isi formulir yang tersedia. Setelah terdaftar, Anda bisa langsung memilih quest sesuai keahlian yang ingin dikuasai. Tiap quest akan berisi panduan yang bisa Anda pelajari. Menjelang berakhirnya quest, akan muncul challenge lab untuk membuktikan pemahaman dan kemampuan Anda. Jika berhasil menyelesaikan challenge lab Anda akan otomatis mendapatkan skill badge. Bagikan skill badge di media sosial atau resume Anda. Baca juga: Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan Google Cloud Skill Badge untuk meningkatkan peluang karier Photo Credit: Rawpixel Badge keahlian ini telah terbukti mampu meningkatkan “nilai jual” SDM. Setidaknya ini telah berhasil dibuktikan. Dalam sebuah studi global yang dilakukan oleh Gallup. Studi tersebut menemukan bahwa pemilik skill badges merasa lebih lengkap dan siap dengan berbagai keterampilan yang diperoleh melalui pencapaian dari Skill Badges. Mereka pun lebih percaya diri dengan keterampilan cloud, bersemangat untuk mempromosikan keterampilan ke jaringan profesional mereka, dan mampu memanfaatkan skill badges untuk mencapai tujuan pembelajaran di masa mendatang, termasuk sertifikasi Google Cloud. Dalam studi Gallup tersebut diketahui bahwa: 87% pengguna setuju Skill Badges memberi pengalaman cloud langsung di dunia nyata. 86% pengguna setuju bahwa Skill Badges membantu membangun kompetensi cloud mereka. 82% pengguna setuju Skill Badges membantu menunjukkan keterampilan cloud yang berkembang. 90% pengguna setuju bahwa Skill Badges membantu dalam perjalanan sertifikasi Google Cloud. 74% berencana untuk menyelesaikan sertifikasi Google Cloud dalam enam bulan ke depan. Baca juga: Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud Google Cloud tidak sekadar menghadirkan solusi komputasi awan yang canggih dan skalabel, tapi juga membangun sebuah ekosistem yang berkembang. Anda sebagai pengguna pun bisa turut terlibat dalam perkembangan tersebut. Salah satu caranya adalah melalui program Skill Badges ini. Lencana yang Anda peroleh nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan resume maupun portofolio atau dengan kata lain, menambah “nilai jual” Anda di mata perusahaan. Selain Skill Badges Google Cloud juga memiliki berbagai fitur, layanan, dan kapabilitas yang menanti untuk Anda eksplor lebih lanjut. Temukan lebih banyak peluang dengan menerapkan solusi komputasi awan. EIKON Technology sebagai authorized reseller Google menyediakan paket berlangganan yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Silakan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Material Security: Perusahaan Keamanan Email yang Didukung Skalabilitas BigQuery

Email kini bukan sekadar alat komunikasi elektronik. Banyak perusahaan yang mengandalkan email sebagai sebuah sistem penyimpanan untuk laporan keuangan, dokumen hukum, dan bahkan catatan personalia. Dari operasi sehari-hari hingga komunikasi klien dan karyawan, email masih tetap relevan sebagai komunikasi digital. Namun sayangnya email juga punya kelemahan. Bisa dibilang, email adalah sumber risiko yang paling umum dan target yang disukai oleh penjahat siber. Banyak pendekatan keamanan email yang berusaha membuatnya lebih aman dengan memblokir email berbahaya, tapi masih membiarkan data di kotak surat tidak terjaga saat muncul pelanggaran. Material Security mengambil pendekatan berbeda. Dengan asumsi bahwa pelaku kejahatan sudah memiliki akses ke kotak surat, perusahaan keamanan email tersebut mencoba mengurangi tingkat pelanggaran dengan memberikan perlindungan tambahan untuk email sensitif. Seperti apa? Material: Solusi keamanan email yang dibangun dengan BigQuery Dengan fokus utama untuk meningkatkan keamanan email, Material Security terus mengembangkan solusi yang dapat mengurangi tingkat pelanggaran. Salah satunya bisa Anda rasakan pada fitur Leak Prevention yang ada di Material. Fitur tersebut menemukan dan menyunting konten sensitif dalam arsip email, tapi menyediakan opsi untuk dipulihkan dengan langkah autentikasi sederhana bila diperlukan. Fitur lainnya meliputi: ATO Prevention: menghentikan penyerang menyalahgunakan email pengaturan ulang kata sandi untuk membajak layanan lain. Phishing Herd Immunity: otomatisasi respons tim keamanan terhadap laporan phishing karyawan. Visibility and Control: menyediakan analisis risiko, pencarian real-time, dan alat lain untuk analisis dan manajemen keamanan. Produk Material dapat pada penyedia email cloud mana pun, dan memungkinkan pelanggan mempertahankan kontrol data dengan model penerapan penyewa tunggal. Baca juga: Update Google Workspace untuk Cegah Email Phishing Mendukung aplikasi SaaS berbasis data dengan Google BigQuery Email pada dasarnya merupakan kumpulan data besar yang tidak terstruktur. Itu berarti, untuk melindunginya perlu pemrosesan data dalam jumlah besar dengan cepat, suatu hal yang identik dengan data warehouse BigQuery dari Google Cloud. BigQuery sendiri dipilih karena dinilai sangat cepat dan sangat skalabel. Cara kerjanya pun sejalan dengan pendekatan keamanan Material. BigQuery menyediakan platform lengkap untuk analisis data skala besar di dalam Google Cloud, mulai dari penyerapan, pemrosesan dan penyimpanan data yang disederhanakan, analisis yang andal, AI/ML, serta kemampuan berbagi data. Bersama-sama, kemampuan ini menjadikan BigQuery sebagai platform analisis keamanan andal yang diaktifkan melalui model penerapan unik Material. Photo Credit: Rawpixel Setiap pelanggan mendapatkan proyek Google Cloud mereka sendiri, dilengkapi dengan data warehouse BigQuery yang penuh dengan data yang dinormalisasi di seluruh jejak email mereka. Tim keamanan dapat menanyakan warehouse secara langsung untuk mendukung penyelidikan internal dan membuat pelaporan kustom dan real-time, membangun dan memelihara infrastruktur skala besar tanpa beban. Solusi Material beresonansi dengan pelanggan dari berbagai bidang termasuk perusahaan terkemuka seperti Mars, Compass, Lyft, DoorDash, dan Flexport. Baca juga: 8 Tips Memilih Email Hosting yang Teraman dan Terpercaya Built with BigQuery Photo Credit: Rawpixel Material merupakan perusahaan keamanan yang mengedepankan pemikiran inovatif, desain yang terampil, dan eksekusi strategis. BigQuery merupakan bagian dasar dari kesuksesan Material. Meniru formula ini pun kini lebih mudah bagi ISV melalui layanan Built with BigQuery yang diumumkan pada event Google Data Cloud Summit April lalu. Dengan Built with BigQuery, Google membantu perusahaan teknologi seperti Material membangun aplikasi inovatif di cloud data Google dengan akses yang disederhanakan ke teknologi, dukungan teknis yang membantu dan berdedikasi, serta program go-to-market bersama. Perusahaan yang berpartisipasi dalam Built with BigQuery dapat: Mulai cepat dengan sandbox yang telah dikonfigurasi sebelumnya dari Google. Percepat desain dan arsitektur produk dengan akses ke pakar yang ditunjuk dari ISV Center of Excellence. Mereka akan memberikan wawasan tentang kasus penggunaan utama, pola arsitektur, dan bahkan praktik terbaik. Meningkatkan kesuksesan dengan program pemasaran bersama untuk mendorong kesadaran, menambah permintaan, dan meningkatkan adopsi. Baca juga: Membuat Email dengan Domain Sendiri? Begini Caranya! Selain Material Security, Google Cloud sendiri sebenarnya sudah memiliki sistem keamanan yang komprehensif. Untuk penggunaan skala besar, admin dapat mengatur keamanan, terutama dari segi akses melalui Google Cloud Console. Email native Google, Gmail pun telah dibekali dengan keamanan andal yang meminimalisir risiko kejahatan siber. Google memang menawarkan solusi yang komprehensif untuk aspek TI perusahaan. Bagi Anda yang ingin mengembangkan perusahaan dengan dukungan teknologi, Google adalah pilihan tepat. Misalnya untuk komputasi awan, Anda bisa mengandalkan Google Cloud. Solusi ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technolgy, authorized reseller Google untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Cloud

Menghemat Biaya Workload Proyek Google Cloud dengan Dukungan VM Spot

Menjelang akhir bulan Mei 2022 ini. Google mengumumkan ketersediaan umum untuk penerapan VM Spot pada proyek Google Cloud Anda. Lebih lengkap mengenai perilisan ini dapat Anda simak di sini. Aplikasi modern seperti layanan mikro, containerized workloads, dan aplikasi skalabel horizontal dirancang untuk tetap bertahan bahkan ketika mesin yang mendasarinya tidak. Arsitektur ini memungkinkan Anda memanfaatkan Spot VM untuk mengakses kapasitas dan menjalankan aplikasi dengan harga murah. Google Cloud memperkirakan, penghematan bisa mencapai 60 – 91% dari harga VM on-demand dengan VM Spot. Untuk semakin mempermudah penggunaan VM Spot, Google Cloud juga menyertakan dukungan Spot VM dalam berbagai alat. Apa saja? Mari simak penjelasannya berikut. Google Kubernetes Engine (GKE) Containerized workloads sering kali cocok untuk VM Spot karena umumnya tidak memiliki status dan toleran terhadap kesalahan. Google Kubernetes Engine (GKE) menyediakan orkestrasi container. Dengan dukungan untuk VM Spot, Anda bisa gunakan GKE untuk mengelola VM Spot agar lebih hemat biaya. Pada klaster yang menjalankan GKE versi 1.20 dan yang lebih baru, fitur kubelet graceful node shutdown diaktifkan secara default, memungkinkan kubelet untuk mengetahui pemberitahuan preemption, menghentikan Pod yang berjalan pada node dengan mulus, memulai ulang Spot VM, serta menjadwal ulang Pod.   Baca juga: Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya Yang Lebih Akurat Terraform Photo Credit: Rawpixel Terraform memudahkan pengelolaan infrastruktur sebagai kode. Dukungan Spot VM kini tersedia untuk Terraform di Google Cloud. Menggunakan template Terraform untuk menerapkan dukungn Spot VM di seluruh lingkungan Anda, termasuk jaringan, disk, dan akun layanan. Dukungan ini akan menghasilkan peningkatan penerapan yang berkelanjutan. Terraform bekerja lebih baik bersama GKE untuk mendefinisikan dan mengelola kumpulan node secara terpisah dari bidang kontrol klaster. Kombinasi ini akan meningkatkan sumber daya komputasi Anda sekaligus mengizinkan GKE menangani penskalaan dan pemulihan otomatis untuk agar VM memadai setelah preemption. Baca juga: 5 Alasan Mengapa Google Cloud VMware Engine Adalah Solusi VMware Terbaik Slurm Photo Credit: standret (Freepik) Slurm merupakan salah satu pengelola beban kerja HPC (high-performance computing) dengan format open-source terkemuka. Produknya bahkan diterapkan pada superkomputer TOP 500 di seluruh dunia. Selama lima tahun terakhir, Google telah bekerja dengan SchedMD, perusahaan di balik Slurm, untuk merilis versi Slurm yang terus ditingkatkan di Google Cloud. SchedMD baru-baru ini merilis skrip Slurm untuk Google Cloud terbaru. Skrip ini bisa Anda temukan di platform Google Cloud Marketplace serta repositori GitHub milik SchedMD. Versi terbaru Slurm untuk Google Cloud ini telah menyertakan dukungan untuk Spot VM melalui Bulk API. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang perilisan ini di blog Google Cloud. Baca juga: Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud Dengan Dataplex Dukungan VM Spot pada proyek Google Cloud memungkinkan Anda untuk bsia menghemat lebih banyak biaya. Terlebih kini beberapa platform juga sudah menyediakan dukungan tersebut, misalnya GKE dan juga Terraform. Google Cloud menyediakan solusi yang menyeluruh dan tentunya efisien untuk berbagai proyek komputasi Anda, terutama untuk proyek skala besar. Jika Anda masih merasa ragu, kami dari EIKON Technology menyediakan konsultasi pra-instalasi Google Cloud. Kami akan mencarikan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda. EIKON Technology merupakan authorized reseller yang ditunjuk oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Seluruh solusi yang kami tawarkan, termasuk Google Cloud, dipastikan memiliki lisensi resmi dan bergaransi. Untuk menanyakan informasi mengenai Google Cloud serta implementasinya, silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Google Cloud VMware Engine: Optimalkan Biaya Lisensi Aplikasi dengan Custom Core Counts

Kini makin banyak perusahaan yang memigrasikan beban kerja mereka ke cloud. Bahkan termasuk aplikasi yang dilisensikan dan dibebankan berdasar jumlah inti fisik di dalam klaster atau pada node yang mendasarinya. Untuk memudahkan pelanggan dalam mengoptimalkan biaya lisensi aplikasi VMWare Engine, Google Cloud memperkenalkan kapabilitas custom core counts. Dengan kapabilitas tersebut, pengguna akan diberi kebebasan dalam melakukan konfigurasi klaster untuk memenuhi persyaratan lisensi khusus aplikasi, sekaligus menghemat lebih banyak biaya. Selain itu, Anda juga dapat mengatur jumlah inti CPU yang diperlukan untuk beban kerja saat pembuatan klaster. Dengan begitu, jumlah inti yang dilisensikan pun akan berkurang secara efektif. Anda bahkan bisa menentukan jumlah inti fisik per node dalam kelipatan 4 (8, 12, dan seterusnya hingga 36). VMware Engine juga membuat tiap node yang baru ditambahkan ke klaster dengan jumlah inti yang sama per node (termasuk saat mengganti node yang gagal). Baca juga: 3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services Untuk memulai kapabilitas custom core counts pun sangat mudah. Anda bisa melakukannya hanya dalam 3 langkah simpel (tahapan akan menyesuaikan inti dalam sebuah klaster). Mari simak bersama bagaimana kapabilitas ini bekerja. Mulai menggunakan custom core counts pada VMWare Engine Untuk mulai menggunakan kapabilitas custom core counts yang ada di VMWare Engine Google Cloud, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut: Selama pembuatan private cloud, pilih jumlah inti yang ingin Anda atur per node. Gambar berikut menunjukkan proses pemilihan. Photo Credit: Google Cloud Blog Tambahkan informasi mengenai jaringan untuk komponen manajemen. Photo Credit: Google Cloud Blog Periksa ulang input agar tidak terjadi kesalahan dan buat private cloud dengan custom core yang dihitung per klaster node. Photo Credit: Google Cloud Blog Selesai! Kini Anda sudah berhasil membuat sebuah private cloud dengan klaster yang memiliki 3 node. Pada tiap node terdapat 24 inti yang telah diaktifkan (48 vCPU). Itu berarti, Anda bisa mendapatkan total 72 inti yang diaktifkan dalam klaster. Baca juga: Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMwere Engine Dengan memanfaatkan kapabilitas ini Anda dapat dengan leluasa menyesuaikan ukuran klaster untuk memenuhi kebutuhan lisensi aplikasi. Apabila Anda menjalankan aplikasi yang dilisensikan pada basis per-inti, maka hanya perlu melisensikan 72 inti dengan jumlah inti khusus, bukan 108 inti (dari perhitungan 36 inti dikalikan 3 node). Jika ingin menambahkan klaster baru pada private cloud yang sudah berjalan. Anda hanya perlu melakukan 1 langkah tambahan untuk mengaktifkan jumlah custom inti, sebagai berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Selain kapabilitas custom core counts, Google Cloud juga tengah mengembangkan beberapa kapabilitas lain di VMware Engine. Untuk mengetahui rilis terbarunya, Anda bisa mengakses halaman rilis WMware Engine. Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Function Mengembangkan aplikasi sendiri memang bukanlah perkara mudah. Ada banyak sekali elemen yang harus Anda perhatikan. Terlewat satu saja, maka aplikasi tidak akan bisa berfungsi sesuai keinginan Anda. Google Cloud melalui VMware Engine menyediakan solusi yang komprehensif untuk mengembangkan aplikasi Anda dalam jaringan komputasi awan. Tertarik untuk mulai menggunakan Google Cloud sebagai solusi komputasi awan Anda? Dapatkan solusi Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, kami hanya menyediakan produk berlisensi dan bergaransi resmi. EIKON Technology juga menawarkan layanan pemasangan yang menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Cloud

Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya yang Lebih Akurat

Pernahkah Anda bertanya-tanya berapa biaya untuk menjalankan klaster Google Kubernetes Engine (GKE) tertentu? Apakah konfigurasi dan fitur yang Anda pilih akan memengaruhi total tagihan? Adakah potensi penskalaan otomatis pada tagihan GKE Anda? Saat Anda baru mulai menggunakan GKE, pasti pernah coba memperkirakan hal-hal tersebut sendiri. Namun pada akhirnya, semua itu sering kali menjadi teka-teki yang tak terjawab. Terlebih jika Anda tidak memiliki banyak titik referensi dari infrastruktur yang ada. Baru-baru ini Google Cloud meluncurkan fitur Cost Estimator untuk GKE dalam format pratinjau (preview). Fitur baru ini telah terintegrasi langsung dengan Google Cloud Console sehingga lebih mudah untuk dijalankan. Lalu, bagaimana cara kerjanya sendiri? Mengenal GKE Cost Estimator Photo Credit: Google Cloud Blog Ada banyak sekali fitur yang tersedia di Google Kubernetes Engine (GKE). Cost Estimator ini menjadi fitur pendatang baru yang siap membantu Anda untuk memahami sekaligus mengoptimalkan lingkungan GKE. Misalnya, mengetahui perkiraan biaya agar dapat melakukan penyesuaian beban kerja GKE. Bisa juga memanfaatkan fitur Autopilot untuk membayar sumber daya untuk Pod yang sudah Anda jadwalkan sehingga tidak perlu mengelola biaya node. Fitur Cost Estimator didesain untuk mendukung misi Google Cloud sebagai layanan cloud yang paling hemat biaya sekaligus memiliki performa terbaik. Sejalan dengan misi tersebut, tentunya harus ada transparansi mengenai biaya yang dibebankan kepada pelanggan. Dengan begitu, pelanggan pun lebih nyaman saat menggunakan berbagai fitur dan layanan di dalamnya. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, Dan CA Service Cara kerja GKE Cost Estimator Fitur Cost Estimator dari GKE ini sebenarnya merupakan bagian dari alur pembuatan klaster GKE. Di dalamnya Anda bisa menemukan sejumlah variabel yang dapat memengaruhi biaya pengoperasian komputasi Anda. Selain itu, fitur ini juga memungkinkan Anda untuk bisa melihat rincian biaya pengelolaan, kumpulan node individual, hingga lisensi. Anda juga dapat menggunakannya untuk mempelajari cara mengaktifkan mekanisme penskalaan otomatis yang akan memengaruhi perkiraan pengeluaran biaya, dengan mengubah ukuran estimasi klaster rata-rata. Photo Credit: Google Cloud Blog Kelemahan GKE Cost Estimator Sayangnya, Fitur Cost Estimator dari GKE ini tidak memiliki visibilitas ke seluruh lingkungan komputasi Anda (misalnya, jaringan, logging atau jenis diskon tertentu). Meski begitu, Anda bisa tetap mendapatkan perkiraan keseluruhan dengan tingkat akurasi tinggi. Dengan begitu, Anda pun bisa lebih memahami struktur biaya komputasi GKE. Anda juga bisa menggabungkan fitur ini dengan fitur lain dari GKE seperti Proactive Estimator for Cluster Autoscaler atau Node Auto-provisioning. Kombinasi ini akan menghasilkan perkiraan biaya yang lebih presisi dan jauh lebih mudah dibanding penghitungan manual. Cukup masukkan konfigurasi yang Anda inginkan. Setelah itu, gunakan bilah geser yang disediakan untuk memilih perkiraan nilai rata-rata yang mewakili klaster Anda. Tanpa menunggu lama, sistem pun akan langsung menampilkan perkiraan biaya. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Google Kubernetes Engine atau GKE merupakan platform unggulan yang dimiliki oleh Google Cloud. Dengan berbagai fitur dan layanan di dalamnya, Anda dapat melakukan otomatisasi peluncuran software lebih cepat. Terlebih, GKE juga terintegrasi dengan platform lain yang masih ada dalam ekosistem Google Cloud sehingga memudahkan Anda untuk bekerja secara efisien. Untuk menggunakan GKE, Anda bisa mulai dengan berlangganan solusi komputasi awan Google Cloud. Dapatkan solusi Google Cloud yang telah disesuaikan dengan penggunaan skala besar hanya di EIKON Technology. Kami merupakan authorized reseller resmi yang dipilih langsung oleh Google untuk melakukan distribusi di Indonesia. Untuk mulai berlangganan, hubungi kami di sini.

Google Cloud

Temukan Log Lebih Cepat dengan Update Logs Explorer Google Cloud Console

Saat Anda memecahkan masalah, sering kali penyebabnya melibatkan pencarian log spesifik yang dihasilkan oleh infrastruktur dan kode aplikasi. Makin cepat Anda menemukan log, makin cepat juga Anda dapat mengonfirmasi atau menyangkal hipotesis terhadap sebab dan penyelesaian masalah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google Cloud menghadirkan cara yang lebih sederhana untuk menemukan log di Logs Explorer. Mari pelajari cara kerjanya dalam ulasan berikut. Menyederhanakan proses querying Salah satu problem yang sering dijumpai oleh pengguna adalah menemukan log mereka. Sebagai solusi, Google Cloud melakukan beberapa pembaruan pada Logs Explorer. Berikut beberapa fitur baru yang ditawarkan: Simple text search Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur baru ini melakukan pencarian free text global di seluruh log Anda untuk tiap string yang ditambahkan ke kotak pencarian teks. Misalnya, pencarian “POST OR GET” akan memunculkan log apa pun yang mengandung teks “POST” atau “GET”. Baca juga: Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan Show/hide query toggle Adanya fitur baru memang menyederhanakan prose querying pengguna. Namun Logs Explorer masih perlu mengizinkan pengguna untuk menulis kueri kompleks pada kasus penggunaan tingkat lanjut. Itu sebabnya, Google Cloud menghadirkan fitur Show/hide query toggle yang mampu menampilkan dan menutup bahasa Logging kueri di belakang kueri. Date/time picker Photo Credit: Google Cloud Blog Dalam pembaruan ini, lokasi date/time picker dipindahkan agar lebih mudah ditemukan. Meski menyebabkan relokasi pada tampilan antarmuka Logs Explorer, update ini hadir dengan serangkaian peningkatan yang secara aktif dikembangkan oleh Google Cloud untuk mempermudah pengguna dalam menemukan log yang tepat.. Date/time display Photo Credit: Google Cloud Blog Penanggalan bisa menjadi masalah tersendiri dalam proses querying karena aspek tampilan. Pada pembaruan ini, opsi Jump to time dan Enter custom range yang ada pada menu date/time range kini akan tampil dalam format penanggalan pilihan Anda. Misalnya, Anda memilih format dd/mm/yyyy maka tanggal 25 Mei 2022 akan tampil dalam format 25/05/2022 di Google Cloud Console. Begitu juga untuk tampilan tanggal. Anda bisa memilih format AM/PM atau 24 jam. Resource, logName, and severity dropdown Photo Credit: Google Cloud Blog Logs Explorer kini memindahkan dropdown untuk resource, logName, dan severity sehingga lebih mudah ditemukan. Menu dropdown ini juga telah ditingkatkan sehingga dapat menjalankan kueri setiap kali pemilihan dibuat. Ini membuatnya lebih mudah untuk mempersempit log dengan cepat. Summary fields Photo Credit: Google Cloud Blog Kini Logs Explorer menambahkan summary fields sebagai default pada hasil log. Itu berarti, Anda bisa lebih cepat mengambil tindakan langsung dari baris log. Misalnya, pada log App Engine, adanya summary fields sebagai default akan menyoroti latensi yang dapat membantu Anda memfilter log jauh lebih mudah dan cepat. Logs Explorer juga memungkinkan Anda untuk menambahkan summary fields dengan pengaturan pribadi. Jadi, Anda pun dapat menentukan prioritas pada baris log. Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mendesain Jaringan Cloud Logs Explorer merupakan satu fitur krusial yang ada di Google Cloud Console. Lewat fitur ini, Anda bisa menemukan log dari berbagai bidang log. Dengan adanya pembaruan, maka pengguna bisa lebih mudah menemukan log yang dicarinya. Google Cloud Console sendiri adalah platform yang komplet dan sangat membantu dalam proses pengembangan, peluncuran, sekaligus penskalaan aplikasi maupun website. Sebuah platform yang penting untuk pengembang, insinyur DevOps, hingga SRE. Platform ini tersedia di dalam ekosistem Google Cloud. Dapatkan solusi Google Cloud untuk perusahaan atau institusi Anda melalui EIKON Technology, authorized partner yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produk mereka di Indonesia. Tunggu apalagi? Klik di sini untuk mendapatkan penawaran solusi Google Cloud terbaik.

Scroll to Top