EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

5 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Jaringan Cloud

Merancang jaringan cloud adalah bagian penting dalam perjalanan cloud Anda. Tahap ini akan membantu Anda untuk mendapatkan gambaran desain akhir jaringan cloud, Tentu saja, dalam melakukan perancangan, harus menyesuaikan dengan kasus penggunaan Anda sendiri. Cobalah untuk berpikir ke depan dan menghitung potensi risiko. Pendekatan semacam ini akan sangat menghemat waktu dan membantu menghindari potensi masalah di masa depan. Lima tips berikut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk Anda dalam merancang arsitektur jaringan cloud yang lebih baik. Memilih jaringan auto atau custom mode Saat membuat jaringan VPC, (virtual private cloud), Anda akan dihadapkan pada 2 opsi: auto atau custom mode. Auto mode secara otomatis mengisi subnet di setiap wilayah dari rentang alamat IPv4 10.128.0.0/9. Jenis jaringan ini dapat digunakan untuk VPC terisolasi yang tidak terhubung langsung ke jaringan VPC auto mode lainnya. Ketika Anda menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dan jaringan tersebut memiliki alamat IP yang sama, maka akan terjadi masalah alamat yang tumpang tindih. Oleh karenanya, jika Anda berencana untuk menghubungkan jaringan VPC ke lingkungan lain, disarankan untuk menggunakan jaringan auto mode. Cara ini akan memberi kemampuan untuk merencanakan dan mengontrol pengalamatan IP dan aturan firewall Anda. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Google Cloud VPC bersama atau VPC Network Peering? Google Cloud memungkinkan Anda menghubungkan jaringan VPC yang berbeda bersama-sama dengan menggunakan desain VPC Network Peering atau VPC bersama. Anda harus mempertimbangkan matang-matang, opsi manakah yang paling sesuai kebutuhan. VPC bersama memungkinkan Anda menyiapkan proyek host dan menghubungkan proyek layanan ke dalamnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan VPC Network Peering memungkinkan Anda untuk menghubungkan 2 jaringan VPC. Fitur ini mendukung berbagai perusahaan dan proyek di Google Cloud. Contoh cara kerjanya adalah sebagai berikut: VPC B terhubung ke VPC A dan C. VPC C dan A tidak terhubung langsung sehingga tidak dapat berkomunikasi satu sama lain di VPC B. Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan VPN atau tidak Tergantung pada persyaratan jaringan cloud, Anda dapat memilih untuk menggunakan virtual private network (VPN) secara internal atau eksternal. Cloud VPN mudah diatur dan lebih murah daripada opsi interkoneksi eksternal lainnya. Fitur ini juga dapat dikonfigurasi dalam konfigurasi high availability (HA). Bandwidth yang tersedia per tunnel adalah 3GBit/s, tapi Anda juga dapat menggabungkan beberapa tunnel untuk mencapai bandwidth yang lebih tinggi. Menentukan jenis interkoneksi Untuk interkoneksi tersedia dua pilihan: khusus atau mitra. Keduanya membutuhkan beberapa dukungan dari tim internal dan juga tim penyedia layanan. Anda harus mempertimbangkan kapan interkoneksi benar-benar dibutuhkan. Sebab, pekerjaan ini mungkin memiliki SLA berjangka waktu yang dapat memengaruhi pengiriman. Selain itu, ada beberapa hal lain yang dapat Anda pertimbangkan ketika menentukan interkoneksi: “Apakah Anda memiliki peralatan di fasilitas colocation atau tidak?” “Berapa banyak bandwidth yang dibutuhkan?” “Apakah Anda perlu SLA?” “Di mana harus mengakhiri koneksi di VPC?” Katakanlah Anda ingin mengakhiri proyek yang didedikasikan untuk interkoneksi atau mengakhiri langsung di VPC produksi. Ini adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan saat ada proyek yang menghilang dengan cepat dan Anda ingin menghindari keharusan untuk menyediakan kembali koneksi baru setiap saat. Baca juga: 3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services DNS DNS atau domain name server merupakan elemen penting lainnya dalam desain jaringan cloud. Bergantung pada cara DNS diatur, Anda mungkin harus melakukan konfigurasi tambahan saat menyelesaikan kueri untuk cloud dan lingkungan lokal. Cloud DNS sangat fleksibel dan dapat mendukung berbagai opsi penerusan zona yang dapat dikonfigurasi untuk mendukung kebutuhan lingkungan Anda. Google Cloud juga memiliki beberapa praktik terbaik DNS yang mungkin layak dipertimbangkan untuk desain Anda. Photo Credit: Google Cloud Blog Tips tambahan Selain kelima tips di atas, ada baiknya Anda juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya ekspansi bisnis di masa mendatang. Beberapa contohnya adalah akuisisi, penskalaan lingkungan (meluas hingga skala yang lebih besar), meluncurkan produk baru, menghubungkan ke cloud lokal dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dengan begitu, desain jaringan cloud Anda bisa tetap relevan dalam jangka waktu panjang. Baca juga: Cloud IDS untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia secara Umum Memang mendesain jaringan cloud bukanlah perkara mudah. Semakin diperhatikan, Anda mungkin akan terus menemukan celah yang tidak terpikirkan sebelumnya. Memanfaatkan resources serta layanan yang dimiliki Google seperti Cloud DNS bisa sangat membantu proses tersebut. Agar lebih optimal, Anda bisa berlangganan solusi Google Cloud yang telah disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. EIKON Technology siap mendampingi Anda dalam mengimplementasikan solusi cloud dari Google secara menyeluruh dan komprehensif, mulai dari perencanaan hingga pra-penerapan. Untuk mulai memilih paket Google Cloud Anda, silakan hubungi tim EIKON Technology di sini!

Google Cloud

Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema

Saat ini, kebutuhan akan ruang penyimpanan data bertumbuh dengan pesat. Penting untuk bisa menangkap, memproses, sekaligus menganalisis metadata dan metrik pekerjaan/kueri untuk keperluan audit, pelacakan, penyesuaian kinerja, hingga perencanaan kapasitas. Untuk memberikan akses dan visibilitas yang mudah terhadap metadata dan metrik BigQuery, Google Cloud meluncurkan Information Schema pada tahun 2020 lalu. Layanan ini memberi pelanggan “lensa” untuk bisa menggunakan metadata dan indikator performa untuk setiap tugas/kueri/API BigQuery. Penyimpanan yang terkait dengan Information Schema Views gratis. Pengguna cukup membayar biaya Compute yang terkait. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pembelanjaan BigQuery. Dua yang paling umum adalah penyimpanan dan pemrosesan. Ulasan kali ini akan membahas tentang cara mudah untuk menganalisis dan menguraikan metrik kunci BigQuery menggunakan Information Schema. Analisis dan visualisasi titik konsumsi slot waktu dan konkurensi Tujuan dari kueri ini adalah untuk mengumpulkan informasi semua pekerjaan yang berjalan selama rentang waktu dan kemudian dipecah menjadi interval yang lebih kecil hingga satuan detik (Point in Time). Tutorial ini menggunakan skrip SQL yang bisa Anda akses di sini. Salin dan tempelkan pada BigQuery UI untuk memulai. Sebelumnya, tutorial ini mendeklarasikan 5 jenis variabel yang berhubungan dengan waktu, yaitu:     DECLARE _RANGE_START_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_END_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_INTERVAL_SECONDS int64; DECLARE _UTC_OFFSET INT64; DECLARE _RANGE_START_TS_UTC timestamp; Atur nilai untuk 5 variabel yang dideklarasikan. Empat variabel pertama perlu diatur secara manual oleh individu yang menjalankan kueri. Variabel pertama (_TIMEZONE) harus mewakili waktu lokal Anda. Variabel kedua (_RANGE_START_TS_LOCAL) dan ketiga (_RANGE_END_TS_LOCAL) akan menggunakan Zona Waktu lokal yang ingin Anda analisis. Variabel keempat (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) mewakili ukuran interval waktu yang Anda inginkan. Point in Tima akan dikumpulkan di sini. Untuk menganalisis apa yang terjadi selama rentang waktu 5 menit, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ‘1’. Ini akan menghasilkan 300 titik data pada X-Axis. Untuk menganalisis apa yang terjadi untuk rentang waktu 1 jam, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ’10’. Ini akan menghasilkan 360 titik data pada X-Axis. Ada baiknya Anda mengorbankan “akurasi” untuk rentang waktu yang lebih besar guna menghasilkan bagan yang lebih mudah dibaca. Variabel kelima (UTC_OFFSET) mewakili offset antara zona waktu Anda dengan UTC yang ditentukan secara lokal. Baca juga: BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia? Tabel turunan ‘kunci’ Tabel turunan ‘kunci’ membuat satu set hasil kolom dengan satu baris untuk setiap interval (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) yang ada dalam rentang waktu yang ingin Anda analisis. Tahapan ini dapat dilakukan dengan beberapa fungsi array yang sangat rapi. Pertama, Anda dapat memanfaatkan fungsi GENERATE_TIMESTAMP_ARRAY yang akan menghasilkan baris (alias sebagai POINT_IN_TIME) timestamp antara variabel _RANGE_START_TS_UTC dan _RANGE_END_TS_UTC untuk setiap interval waktu yang ditentukan dalam _RANGE_INTERVAL_SECONDS. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan sedikit proses slicing (mengiris) dan dicing (memotong), Anda juga dapat membuat Stacked Area Chart yang berdasarkan pengguna dalam slot detik. Photo Credit: Google Cloud Blog Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah Tutorial ini jelas belum bisa merangkum seluruh kapabilitas yang mampu dijalankan oleh Information Schema. Namun Anda tidak perlu khawatir karena Google Cloud sebenarnya telah memberikan beberapa resources untuk dipelajari yang bisa Anda akses melalui blog resmi mereka. Di sana Anda juga bisa menemukan pendapat dan persepsi dari para pakar komputasi awan. Semuanya bisa diakses secara gratis, kapan saja dan di mana saja. Ekosistem Google Cloud memang menawarkan solusi komputasi awan yang komprehensif. Selain kapabilitas untuk menganalisis dan memvisualisasikan data dari BigQuery, Cloud juga masih memiliki beragam fitur serta layanan yang bisa Anda eksplorasi lebih jauh. Belum menggunakan Google Cloud? Anda bisa mendapatkan solusi komputasi awan dari Google ini melalui EIKON Technology. Kami siap menyediakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Google Cloud

5 Alasan Mengapa Google Cloud VMware Engine adalah Solusi VMware Terbaik

Google Cloud VMware Engine menawarkan VMware cloud-native yang dibangun di atas infrastruktur Google Cloud, menghasilkan performa dan skalabilitas tinggi. Layanan ini memungkinkan pelanggan untuk mengadopsi Google Cloud dengan cepat dan mudah. Dengan sedikit modifikasi pada beban kerja vSphere, layanan ini menyatukan VMware dan Google Cloud dalam satu platform untuk berbagai kebutuhan. Berikut adalah 7 aspek yang membuat Google Cloud VMware Engine unggul dari alternatif lain dalam menjalankan beban kerja VMware di cloud, menyederhanakan operasi, dan membantu Anda berinovasi lebih cepat. Jaringan khusus data center 100Gbps Node Google Cloud VMware Engine hadir dengan redundant switching dan jaringan khusus data center 100 Gbps khusus tanpa kelebihan langganan bandwidth. Hal ini sulit ditemukan pada alternatif lain karena umumnya mereka menerapkan kelebihan langganan. Padahal, aspek ini sangat penting saat menjalankan beban kerja yang sensitif terhadap latensi. Baca juga: Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud Jaringan global tanpa perutean yang rumit Photo Credit: jcomp (Freepik) Jaringan Google Cloud VMware Engine dibangun berdasarkan arsitektur jaringan Google Cloud yang kuat. Dengan mode perutean regional dan global yang disederhanakan, Anda dapat merancang jaringan global tanpa perlu membuat dan menghubungkan desain jaringan regional. Pengguna akan mendapat akses Layer 3 secara langsung. Di lingkungan cloud lain Anda mungkin harus melakukan konfigurasi jaringan khusus antar wilayah dan hal ini sering kali memerlukan tunnel berbasis VPN melalui WAN untuk mengaktifkan komunikasi jaringan global yang seragam. Tentu akan menambah kompleksitas penyebaran dan operasional, di samping biaya. Model yang terpadu dan terintegrasi dengan cloud Google Cloud VMware Engine merupakan layanan pihak pertama yang dikelola, dioperasikan, dan didukung sepenuhnya oleh Google. Dengan identitas, penagihan, dan kontrol akses yang terintegrasi penuh, Anda akan menikmati pengalaman end-to-end yang jauh lebih sederhana. Menariknya lagi, layanan Google Cloud VMware Engine ini dapat diakses melalui Google Cloud Console, seperti layanan Google Cloud lainnya. Anda juga dapat mengakses layanan Google Cloud lain secara pribadi dari VMware private cloud yang berjalan di VMware Engine melalui koneksi lokal. Baca juga: Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMwere Engine Fleksibilitas dalam kompatibilitas ekosistem pihak ketiga Dengan Google Cloud VMware Engine, Anda dapat menyiapkan tools atau produk pihak ketiga lokal VMware yang memerlukan hak istimewa tambahan. Kemampuan ini akan membantu Anda mencapai konsistensi operasional, sekaligus memastikan bahwa tools yang telah diinvestasikan dan digunakan selama bertahun-tahun dapat berfungsi di Google Cloud VMware Engine. Bukan hanya itu, di area utama seperti enkripsi data vSAN, tersedia alternatif di samping Google Cloud Key Management Service (KMS)—yang diaktifkan secara default di penyimpanan data vSAN. VMware Engine juga menyediakan KMS eksternal seperti Fortanix, HyTrust, dan Thales. Node yang padat dengan penyimpanan tinggi Photo Credit: pressfoto (Freepik) Node Google Cloud VMware Engine terhitung padat di kelasnya. Bahkan tiap node yang ada telah dibekali Prosesor Intel® Xeon® Scalable Processors dan dilengkapi dengan 36 core, 72 hyperthreaded cores, memori 768 GB, data NVMe 19,2 TB, dan penyimpanan cache NVMe 3,2 TB. Ditambah dengan kelebihan langganan, maka akan menghasilkan rasio konsolidasi yang tinggi, storage:core per dolar, dan memory:core per dolar yang menarik. Selain itu, Anda juga bisa menjalankan node ini dengan cepat di cloud pribadi VMware dalam waktu kurang dari satu jam, mengaktifkan kapasitas VMware yang konsisten sesuai permintaan di Google Cloud. Baca juga: Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud Kelima aspek yang disebutkan di atas hanyalah beberapa contoh inovasi yang ditawarkan oleh infrastruktur Google Cloud VMware Engine. Layanan ini berfokus pada pelanggan sehingga terus dikembangkan untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan yang muncul. Selain itu, migrasi ke Google cloud dapat menghemat hingga 38% pada TCO (total cost of ownership). Berencana untuk mulai melakukan migrasi data ke cloud? EIKON Technology siap mendampingi Anda. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, kami menyediakan berbagai solusi komputasi dari Google yang legal, aman, dan bergaransi. Selain produk, EIKON Technology juga memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga implementasi produk. Untuk memilih layanan Google Cloud sesuai kebutuhan Anda, silakan klik di sini.

Google Workspace

Kapabilitas Sovereign Controls di Google Workspace, Apa Fungsinya?

Di bulan Mei 2022 Google Workspace baru saja meluncurkan sebuah kapabilitas baru bernama Sovereign Controls. Lewat kapabilitas ini pengguna dapat menentukan pengaturan kedaulatan digital, baik itu untuk penggunaan di sektor publik maupun swasta. Jadi, mereka nantinya dapat mengontrol, membatasi, dan memantau transfer data dari dan ke Uni Eropa (UE) mulai akhir tahun 2022. Kapabilitas Soverign Controls di bangun di atas beberapa kapabilitas yang sudah ada sebelumnya, seperti Client-side encryption, Data regions, dan juga Access Controls. Seperti apa cara kerjanya?  Tawarkan kontrol pelanggan yang ditingkatkan Enkripsi merupakan kontrol teknis penting yang membatasi akses penyedia cloud ke data pelanggan. Google Workspace sendiri telah menggunakan standar kriptografi terbaru untuk mengenkripsi semua data saat istirahat dan sedang transit. European Data Protection Board merekomendasikan untuk menyertakan enkripsi sebagai bagian dari tindakan tambahan untuk melindungi data. Pendekatan unik Google Workspace terhadap enkripsi sisi klien memberi pelanggan kontrol privasi otoritatif atas data mereka melalui kunci enkripsi yang dapat mereka pegang di dalam situs, dalam batas negara atau dalam batas lain yang mereka tetapkan. Google tidak pernah memiliki akses ke kunci atau pemegang kunci. Tingkat enkripsi tersebut diberikan tanpa memerlukan klien desktop lawas, sambil mempertahankan pengalaman berkualitas tinggi yang sama untuk. Perusahaan dapat memilih untuk menggunakan Client-side encryption secara menyeluruh untuk semua penggunanya atau membuat aturan tersendiri. Client-side encryption kini tersedia secara umum untuk Google Drive, Docs, Spreadsheet, dan Slides, serta akan diperluas untuk Gmail, Google Calendar, dan Meet pada akhir tahun 2022.  Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda saat Menggunakan Google Workspace Memperluas kontrol lokasi data Photo Credit: jannoon028 (Freepik) Data regions yang dimiliki Google Workspace memungkinkan pelanggan untuk mengontrol lokasi penyimpanan data tertutup mereka saat istirahat. Sekarang ini, karyawan dan perusahaan sedang mengadopsi cara kerja baru di dunia hybrid, mereka tentu akan memerlukan akses aman ke data untuk mencapai hasil yang diinginkan. Namun tren ini, dikombinasikan dengan arsitektur teknis yang kompleks, dapat memunculkan tantangan signifikan untuk mempertahankan kendali atas tempat data berada. Arsitektur cloud-native Google memastikan Workspace berfungsi sepenuhnya di dalam browser, tanpa memerlukan cache atau perangkat lunak yang dipasang pada perangkat karyawan. Google Workspace juga mengadopsi pendekatan zero-trust, dengan keamanan bawaan yang memberikan kontrol ke perangkat dan pengguna geo-fence melalui Context Aware Access. SendControl dan transparansi akses administratif Photo Credit: Racool_studio (Freepik) Saat berpindah ke layanan berbasis cloud, perusahaan perlu visibilitas dan kontrol yang lebih besar atas semua bentuk akses administratif ke sistem mereka, termasuk siapa yang memiliki akses, sifat dan keadaan akses itu sendiri. Mereka juga harus memiliki kapabilitas untuk menentukan bahwa hanya anggota tertentu yang berhak memiliki akses. Berdasarkan pendekatan ini, Google Workspace akan menerapkan serangkaian Access Control baru pada akhir tahun 2023 yang memungkinkan pelanggan untuk: Membatasi dan/atau setujui akses dukungan Google melalui Access Approvals. Membatasi dukungan pelanggan untuk staf dukungan yang berbasis di UE melalui Access Management. Memastikan dukungan 24 jam dari staf Google Engineering, bila diperlukan, dengan infrastruktur desktop virtual jarak jauh. Membuat laporan log komprehensif tentang akses data dan tindakan melalui Transparansi Akses, yang sudah tersedia di GA. Baca juga: Update Google Workspace untuk Cegah Email Phishing Sovereign Controls Google Workspace akan memberikan kedaulatan digital melalui serangkaian kapabilitas komprehensif untuk perusahaan yang bekerja di seluruh wilayah UE. Secara paralel, Google Cloud akan terus menyediakan mekanisme hukum untuk transfer data internasional kepada pelanggan, termasuk menyediakan perlindungan yang ditawarkan oleh kerangka transfer data UE yang baru setelah diterapkan. Google Workspace terus dikembangkan agar dapat beroperasi di atas fondasi yang aman, sehingga memberikan kemampuan untuk menjaga keamanan pengguna, keamanan data, dan informasi pribadi mereka. Meski Soverign Controls untuk saat ini hanya tersedia di UE, Google Workspace sendiri sudah menerapkan sistem keamanan komprehensif untuk penggunaan skala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tingkatkan keamanan data Anda saat melakukan kolaborasi kerja dengan implementasi Google Workspace. Kami dari EIKON Technology siap mendampingi Anda mulai dari tahap perencanaan hingga pasca-implementasi. Masih ragu? Hubungi kami di sini untuk konsultasi mengenai implementasi Google Workspace!

Google Cloud

Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan

Sekarang ini, banyak perusahaan yang menerapkan campuran jaringan sangat luas, mulai dari SD-WAN, WAN khusus seperti MPLS, interkoneksi cloud, hingga VPN. Di saat mereka memindahkan WAN tersebut ke cloud untuk memanfaatkan turn-up yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, dan kecepatan fitur pun otomatis akan meningkat. Saat workload berpindah ke lingkungan cloud dan multi-cloud seperti ini, menyederhanakan model jaringan perusahaan menjadi sangat penting. Setiap penyedia cloud utama menggunakan model abstraksi yang berbeda untuk melakukan konfigurasi jaringan atau koneksi antar resources. Beberapa menggunakan gateway, beberapa menggunakan koneksi atau tautan. Tahun 2021 lalu Google Cloud memperkenalkan Network Connectivity Center yang menyediakan solusi manajemen sederhana untuk koneksi jaringan Anda. Bagaimana cara penggunaanya? Memahami konektivitas jaringan cloud Jaringan cloud mengacu pada kemampuan untuk menghubungkan dua resources sekaligus di dalam sebuah cloud, lintas cloud atau dengan pusat data lokal. Penyedia cloud perlu menyediakan tiga jenis konektivitas utama, yakni: Site-to-cloud: Antara resources cloud dengan pusat data lokal Site-to-site: Menghubungkan resources lokal sekaligus VPC-to-VPC – Konektivitas antar resources cloud Berikut penjelasan untuk masing-masing konektivitas; Site-to-cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-cloud dilakukan melalui interkoneksi cloud atau VPN cloud. Pertukaran rute otomatis antara resources lokal dan beberapa VPC dapat dilakukan menggunakan VPC transit. Dalam pendekatan baru, konektivitas ini menambahkan penyedia cloud ke mesh SD-WAN menggunakan virtual router di Google Cloud. Network Connectivity Center menghadirkan kapasitas untuk sinkronisasi rute alat secara dinamis melalui BGP ke Cloud Router. Ini memungkinkan terjadinya konektivitas antara pusat data lokal dan kantor cabang, beserta beban kerja cloud mereka melalui konektivitas yang mendukung SD-WAN. Kapabilitas ini tersedia secara global di seluruh 29+ region Google Cloud. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Site-to-site Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-site memungkinkan konektivitas jaringan secara langsung antara dua atau lebih titik koneksi hybrid (VPN, Interkoneksi atau SD-WAN). Network Connectivity Center menyederhanakan model ini dengan otomatisasi pengumuman perutean di lingkungan ini, sehingga semua situs yang terhubung ke Network Connectivity Center global dapat berkomunikasi secara bebas dengan cara apa pun. VPC-to-VPC Photo Credit: Google Cloud Blog Anda dapat membuat jaringan penuh atau sebagian dari koneksi VPC menggunakan beberapa teknologi. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah peering VPC Teknologi tersebut memberikan konektivitas pribadi berperforma tinggi dan latensi rendah untuk jaringan pelanggan yang terhubung melalui konektivitas hybrid dan Network Connectivity Center ke beberapa VPC yang berisi beban kerja. Kemampuan ini juga dapat disegmentasikan melalui kebijakan firewall granular sesuai kebutuhan. Anda pun bisa menggunakan model VPC transit untuk menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dalam topologi hub dan spoke. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Dengan integrasi yang erat dengan router pihak ketiga seperti yang disebutkan sebelumnya, Anda juga dapat memanfaatkan solusi yang didukung pihak ketiga seperti firewall generasi berikutnya untuk menghubungkan VPC bersama-sama guna memenuhi persyaratan kepatuhan dan segmentasi tertentu. Network Connectivity Center memungkinkan Anda untuk melakukan sinkronisasi tabel perutean peralatan ini dengan tabel perutean VPC. Itu berarti, proses pengaturan konfigurasi yang berlebihan pun menjadi jauh lebih sederhana. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Jaringan Google Cloud Dengan situasi sekarang yang mendorong perusahaan untuk terus memigrasikan berbagai jenis beban kerja ke penyedia cloud publik, topologi jaringan pun menjadi lebih kompleks. Melalui Network Connectivity Center, Google Cloud menghadirkan sebuah solusi yang mampu menjaga model jaringan dengan metode sederhana. Layanan Network Connectivity Center tersedia dalam ekosistem Google Cloud. Solusi komputasi awan Google Cloud hadir untuk memudahkan Anda dalam mengelola jaringan konektivitas perusahaan yang kompleks dengan mudah dan efisien. Dapatkan segera solusi Google Cloud hanya di EIKON Technology, distributor resmi Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Industri Manufaktur yang Lebih Cerdas dengan Solusi Terbaru dari Google Cloud

Sekarang ini, industri manufaktur sedang bergerak maju dalam transformasi digital. Sudah banyak perusahaan yang menggunakan teknologi inovatif seperti cloud dan AI (kecerdasan buatan) untuk memperkuat daya saing dan memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurut data daru McKinsey, hampir dua pertiga perusahaan manufaktur sudah menggunakan solusi cloud. Setelah perusahaan mulai melakukan transformasi digital, sebenarnya tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana menskalakan proyek transformasi digital dari tahap konsep hingga produksi. Untuk memastikan produsen dapat menskalakan upaya transformasi digital mereka ke dalam produksi, Google Cloud mengumumkan solusi manufaktur baru, yang dirancang khusus untuk kebutuhan produsen. Bagaimana cara kerjanya? Solusi manufaktur dari Google Cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Sebenarnya, apa saja solusi manufaktur baru yang ditawarkan oleh Google Cloud? Mari membahasnya satu per satu! Manufacturing Data Engine adalah solusi cloud dasar untuk memproses, kontekstualisasi, dan menyimpan data pabrik. Platform ini dapat mengambil data dari semua jenis mesin, mendukung berbagai data (dari telemetri hingga data gambar) melalui koneksi pribadi, aman, dan berbiaya rendah. Dengan normalisasi data bawaan dan kemampuan pengayaan konteks, layanan ini menyediakan model data umum, dengan warehouse yang dioptimalkan pabrik untuk penyimpanan. Manufacturing Connect adalah platform yang dikembangkan bersama Litmus Automation. Layanan ini terhubung dengan hampir semua aset manufaktur melalui library ekstensif yang berisi lebih dari 250 protokol mesin. Mampu menerjemahkan data mesin menjadi kumpulan data yang dapat dicerna dan mengirimkannya ke Manufacturing Data Engine. Dengan mendukung workload dalam container, Anda juga dapat menjalankan visualisasi data latensi rendah, analitik, dan kapabilitas ML langsung. Selain itu, di Manufacturing Data Engine Anda juga bisa menemukan kumpulan analisis data dan kasus penggunaan AI yang diaktifkan oleh Google Cloud dan partner mereka: Manufacturing analytics & insights: Integrasi langsung dengan template Looker yang menghadirkan dasbor dan analitik. Model analitik dan data tanpa kode yang mudah digunakan, model ini memberdayakan insinyur manufaktur dan manajer pabrik untuk membuat dan memodifikasi dasbor, menambahkan mesin baru, hingga melakukan persiapan secara otomatis. Predictive maintenance: Model pemeliharaan prediktif yang dapat langsung diterapkan dalam beberapa minggu dengan tingkat akurasi tinggi. Anda bahkan dapat terus menyempurnakan model melalui kerja sama dengan teknisi Google Cloud. Machine-level anomaly detection: Integrasi yang dibuat khusus dengan memanfaatkan Time Series Insights API Google Cloud pada mesin real-time dan data sensor untuk mengidentifikasi anomali dan memberikan peringatan. Baca juga: Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud Berdayakan insinyur pabrik untuk membangun pusat manufaktur cerdas Selama beberapa tahun terakhir, industri manufaktur menyumbang lebih dari 10% dari produk domestik bruto AS, atau 24% dari PDB dengan nilai tidak. Manufaktur juga merupakan sektor yang mempekerjakan sekitar 15 juta orang, mewakili 10% dari total pekerjaan AS. Namun, lebih dari 20% tenaga kerja pabrikan di AS rata-rata berusia 44 tahun. Pola serupa pun terjadi di seluruh dunia. Artinya, makin sulit  menemukan SDM baru untuk menggantikan tenaga kerja yang pensiun. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengaktifkan tenaga kerja mereka yang ada, sekaligus membuatnya lebih menarik bagi talenta muda untuk bergabung. Keseimbangan ini mengharuskan teknologi penting seperti Cloud dan AI dapat diakses, lebih mudah digunakan, dan tertanam kuat dalam operasi sehari-hari pabrik. Photo Credit: Google Cloud Blog Solusi manufaktur Google Cloud dirancang dengan tujuan ini. Menggabungkan implementasi yang cepat dan kemudahan penggunaan, alat digital yang kuat ditempatkan langsung ke tenaga kerja mengoptimalkan operasi dengan cara baru. Bagian kunci dari solusi ini adalah pengaturan dan penggunaan yang rendah hingga tanpa kode, sangat cocok untuk berbagai macam end user. Dibuat untuk skala, solusi ini memungkinkan peluncuran berbasis template dan mendorong penggunaan kembali melalui standarisasi. Dirancang dengan mempertimbangkan praktik terbaik, produsen dapat memfokuskan resources berharga pada kasus penggunaan, bukan infrastruktur yang mendasarinya. AI untuk ekosistem manufaktur yang cerdas Sudah banyak produsen yang membuktikan nilai solusi AI dalam mendorong biaya dan optimalisasi produksi. Beberapa perusahaan manufaktur AS bahkan memiliki paten aktif pada inisiatif AI. Menurut penelitian Google pada Juni 2021, 66% produsen melaporkan tingkat ketergantungan pada AI meningkat. Google Cloud membantu produsen menerapkan teknologi cloud dan AI untuk membantu pabrik berjalan lebih cepat dan lancar. Pelanggan yang menggunakan Manufacturing Data Engine dari Google Cloud bisa langsung mengakses Vertex AI yang menawarkan alat AI/ML terintegrasi mulai dari AutoML untuk insinyur manufaktur, hingga alat AI canggih untuk para ahli. Baca juga: Memimpin dengan Google Cloud & Partners untuk Modernisasi Infrastruktur Industri Manufaktur Semua solusi manufaktur cerdas tersebut bisa Anda akses hanya dengan berlangganan solusi komputasi awan untuk perusahaan dari Google Cloud. Untuk proses implementasinya, Anda dapat menghubungi kami, EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized partner yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Di samping menyediakan produk, kami juga menawarkan konsultasi menyeluruh mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Docs, Google Workspace

Cara Membuat Dokumen Kolaboratif dengan Template Tabel Baru Google Docs

Selama masa pandemi dan kebijakan WFH (work from home) berlaku, kebutuhan akan platform dan aplikasi produktivitas yang menyediakan sistem kolaborasi meningkat. Sebab, tanpanya, pekerjaan akan sulit untuk dilakukan dari jarak jauh (remote). Para raksasa teknologi pun berlomba untuk menghadirkan platform kolaborasi. Bagi yang sudah menyediakan—seperti Google—terus melakukan perbaikan dan update untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Google sendiri sebenarnya sudah memiliki platform produktivitas kolaboratif bernama Workspace. Dalam platform tersebut Anda bisa menemukan berbagai aplikasi produktivitas yang dapat menunjang kolaborasi secara remote, salah satunya Google Docs. Google Docs dapat digunakan bersamaan oleh beberapa user sekaligus meski mereka terpisah jarak. Otomatis di masa pandemi, aplikasi ini menjadi laris-manis. Tak ingin mengecewakan para pelanggan, Google pun terus melakukan pengembangan terhadap Docs. Paling baru adalah fitur penambahan template tabel dan juga dropdown chips yang akan memudahkan Anda melakukan kolaborasi. Seperti apa cara kerjanya? Dropdown chips Photo Credit: Google Workspace Updates Blog Dalam update yang diumumkan melalui blog resmi Google Workspace, diketahui bahwa Docs kini punya dua fitur baru, yaitu template tabel serta dropdown chips. Fitur dropdown chips dapat digunakan untuk menunjukkan status dokumen atau berbagai pencapaian proyek yang diuraikan dalam dokumen Anda dengan mudah dan cepat. Tersedia dua pilihan default dropdowns, yaitu: Project Status (Status Proyek). Opsi ini mencakup pilihan untuk menampilkan informasi: “Not Started”, “Blocked”, “In Progress”, dan “Complete”. Katakanlah Anda ingin menyampaikan bahwa dokumen terkait telah selesai dikerjakan, maka bisa memilih opsi “Complete”. Review Status (Status Peninjauan). Opsi ini mencakup untuk menampilkan informasi: “Not Started”, “In Progress”, “Under Review”, dan “Approverd”. Misalnya Anda diberi tanggung jawab sebagai editor dan masih perlu menyunting dokumen yang ditugaskan, bisa menambahkan status “Under Review” pada dokumen tersebut menggunakan dropdown chips Menariknya lagi, Anda juga bisa menambahkan status custom sesuai kebutuhan pada fitur dropdown chips ini. Google juga menyediakan beberapa pilihan warna yang bisa Anda pilih sesuka hati. Jadi, Anda pun bisa menampilkan status suatu dokumen di Google Docs tanpa harus melalui langkah-langkah yang rumit. Baca juga: Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel! Template tabel Selain fitur dropdown chips, pada update terbaru Google Docs Anda juga bisa menemukan fitur template tabel. Lewat fitur ini pengguna dapat menyisipkan building block yang umum digunakan saat penyusunan alur kerja seperti: Pelacak konten dalam dokumen Aset proyek Pelacak ulasan Peta perjalanan produk Photo Credit: Google Workspace Updates Blog Kolom yang ada dalam template tabel juga menyertakan contoh baris konten untuk membantu Anda mengenai cara penggunaannya dengan jelas dan mudah dipahami. Selain itu, kolom yang tersedia juga bisa diubah sesuai kebutuhan. Ketersediaan Baik fitur dropdown chips maupun template tabel dari Google Docs ini akan tersedia untuk seluruh end user Google Workspace. Bahkan, Anda yang tergabung dalam paket berlangganan G Suite Basic dan G Suite Business lama juga masih bisa menikmati layanan baru ini secara default. Tidak berlangganan paket Google Workspace? Tidak perlu khawatir karena kedua fitur Google Docs ini juga bisa digunakan oleh pengguna dengan Google Accounts personal. Fitur dropdown chips akan disebarkan baik melalui domain rapid release maupun scheduled release. Update akan muncul secara otomatis mulai dari tanggal 2 Mei 2022 dan akan terus berjalan hingga 15 hari ke depan. Sedangkan untuk fitur template tabel, domain rapid release dimulai pada tanggal 2 Mei 2022 hingga 15 hari ke depan. Untuk domain scheduled release hadir pada tanggal 9 Mei 2022 hingga 15 hari ke depan. Visibilitas terhadap keseluruhan fitur juga bisa dirasakan di tanggal yang sama. Mulai menggunakan fitur dropdown chips dan template tabel Photo Credit: Google Workspace Updates Blog Untuk bisa menggunakan kedua fitur baru dari Google Docs ini sangat mudah. Anda bahkan tidak perlu meminta bantuan kepada pihak administrator. Sebab, keduanya tersedia di Google Accounts personal end user. Selain itu, Google Docs juga tidak menyediakan admin control untuk fitur ini. Sebab, fitur baru ini cenderung personal dan dibuat agar bisa menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Bagi end user, fitur baru ini tersedia secara default. Anda dapat memasukkan dropdown chips pada dokumen dengan klik menu Insert > Dropdown. Sedangkan untuk menyisipkan template tabel, pilih opsi Insert > Table > Table. Baca juga: Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan Fitur baru ini berjalan di aplikasi Google Docs. Namun jika Anda memiliki tugas kerja yang kompleks, Docs saja akan kurang lengkap. Tidak perlu khawatir, dengan Google Workspace Anda bisa menemukan beberapa aplikasi produktivitas yang saling terintegrasi seperti Docs, Gmail, Sheets, hingga Slides. Tentu saja semuanya cocok untuk digunakan kerja remote. Untuk penggunaan skala besar Anda bisa berlangganan Google Workspace for Business. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, EIKON Technology tidak hanya menyediakan produk Google Workspace, tapi juga menawarkan konsultasi perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Cloud

Optimalkan Startup Anda dengan Technical Guide for Startups, Panduan Teknis Praktis dari Google Cloud

Tiap tahap perjalanan startup pasti memerlukan tingkat dukungan dan sumber daya yang berbeda. Dukungan dan sumber daya yang Anda butuhkan saat akan melakukan ekspansi tentu akan berbeda dengan saat baru membangun startup. Namun sering kali pemilik startup tidak menyadari hal tersebut. Mereka pada akhirnya menerapkan dukungan serta sumber daya yang sama pada tiap tahapan. Dampaknya, potensi yang mereka miliki tidak dikelola secara optimal dan hasil yang didapat pun kurang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google Cloud meluncurkan Technical Guide for Startups. Ini merupakan sebuah rangkaian panduan teknis dalam format video yang dapat diakses secara gratis. Hingga saat ini sudah ada puluhan video yang bisa Anda tonton dan pelajari. Paling baru, Google Cloud meluncurkan Build Series yang memang dikhususkan untuk pengembangan startup. Apa saja yang ditawarkan dalam rangkaian video panduan tersebut? Panduan teknis untuk bantu perkembangan startup Anda Photo Credit: pressfoto (Freepik) Secara garis besar, Google Cloud Technical Guides for Startups merupakan rangkaian panduan teknis yang membantu para pemilik dan pelaku startup. Panduan tersebut hadir dalam berbagai format seperti artikel, handbook, dan juga komunitas diskusi. Namun yang paling menarik hadir dalam format seri video. Pada rangkaian video tersebut Anda akan diajak untuk memahami seluk-beluk startup, mulai dari tahap awal hingga penggembangannya. Hingga artikel ini ditulis (pertengahan Mei 2022), Google Cloud telah meluncurkan 2 seri video. Masing-masing seri menggambarkan tiap tahapan dalam perjalanan startup, yaitu: Start Series: Dalam seri ini, Google Cloud memperkenalkan beberapa topik untuk membantu Anda memulai startup di ekosistem mereka. Tahapan ini termasuk menyiapkan proyek, memilih opsi komputasi yang tepat, melakukan konfigurasi database dan jaringan, serta memahami dukungan dan penagihan. Start Series bisa Anda akses di sini. Build Series: Seri ini dirancang untuk membantu Anda dalam mengoptimalkan dan menskalakan penerapan yang ada. Dengan begitu, Anda pun akan lebih mudah menjangkau target audiens. Rencananya, dua seri video tersebut akan dilanjutkan dengan sebuah seri baru mengenai pertumbuhan startup. Seri baru ini diberi judul Grow Series. Berikut deskripsi Grow Series yang telah dirilis Google Cloud: Grow Series: Dalam seri ini, Google Cloud menyediakan panduan teknis yang akan membantu startup Anda tumbuh dan mencapai skala lebih besar dengan berbagai penerapan di ekosistem mereka. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Setelah mengikuti rangkaian tersebut, diharapkan Anda sudah bisa mulai menerapkan aplikasi yang berjalan di Google Cloud. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan tentu saja adalah mengembangkan dan mengoptimalkan penerapan tersebut. Google juga menyediakan beberapa dukungan yang bisa Anda manfaatkan untuk kebutuhan tersebut. Memulai Build Series Dengan selesainya Start Series, Google melanjutkan dengan seri mengenai pembangunan startup yang diberi nama Build Series. Build Series fokus pada proses optimalisasi penerapan dan penskalaan bisnis startup, sehingga memungkinkan Anda membangun fondasi untuk mempercepat pertumbuhan di masa depan. Tersedia berbagai topik menarik di dalam Build Series ini, mulai dari program startup hingga solusi analisis data dan pipeline Google Cloud, pembelajaran mesin, manajemen API, dan banyak lagi. Photo Credit: drobotdean (Freepik) Rangkaian panduan ini juga akan memberikan insight terhadap data startup Anda. Agar data tersebut tidak sekadar ada, Google juga memberikan pengetahuan mengenai cara mengelola serta mengamankan aplikasi Anda dengan lebih baik. Dengan begitu, Anda pun dapat mempercepat skala bisnis sekaligus memberikan pemahaman yang baik kepada seluruh end user. Episode pertama Build Series membagikan ikhtisar tentang topik tersebut dan menampilkan situs web baru Google Cloud yang memuat berbagai dukungan dan sumber daya untuk startup. Anda juga bisa menemukan handbook yang dapat dipelajari. Video kick-off dari Build Series Technical Guide for Startups bisa Anda tonton di sini. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Keseluruhan panduan teknis di atas bisa Anda akses melalui website Google Cloud Technical Guide for Startups. Sedangkan playlist video telah tersedia untuk umum di channel YouTube Google Cloud Tech. Selain Google Cloud Technical Guide sebenarnya masih ada banyak sekali layanan yang bisa Anda manfaatkan untuk mengembangkan startup. Namun sebelum memulainya, pastikan Anda telah menerapkan komputasi awan Google Cloud untuk perusahaan. Sebab skala yang dibutuhkan oleh perusahaan Anda jelas lebih besar dari skala komputasi awan untuk pemakaian personal. Untuk mulai menerapkan ekosistem cloud dari Google, EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, kami menyediakan produk legal dan bergaransi resmi. Di samping itu, kami juga menyediakan layanan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini

Google Cloud

Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud

Ekspansi masif dari internet dan komputasi awan (cloud), tanpa disadari telah menyebabkan beban kerja WSC (warehouse-scale computing) menjadi sangat tinggi, hingga mendorong pertumbuhan terbesar dalam permintaan komputasi sepanjang sejarah. Hal ini sebenarnya sangat wajar jika mengingat fungsi WSC yang begitu luas, mulai dari pencarian, berkirim email, berbagi video, hingga peta online. Namun tantangan beban kerja WSC ini tentu harus segera ditemukan solusinya. Ini karena beban kerja berbeda dari komputasi lainnya, terutama dalam hal persyaratan yang berhubungan dengan permintaan skalabilitas, elastisitas, dan ketersediaan. Sudah banyak studi dan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebenarnya, ada banyak sekali solusi yang muncul. Namun jika dilihat dari segi penyebab masalah, diketahui bahwa hal ini masih berhubungan dengan beban kerja. Disebutkan, pemeriksaan sistem WSC menjadi sangat lama karena ada banyak sekali beban kerja yang harus dilacak. Google menghadirkan solusi atas permasalahan ini dengan menyediakan layanan pelacakan beban kerja. Bagaimana layanan tersebut bekerja dalam menangani tantangan WSC ini? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini. Mengenal WSC dan beban kerjanya Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa beban kerja WSC pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda dari tolok ukur tradisional serta memerlukan perubahan arsitektur komputer modern untuk mencapai efisiensi yang optimal. Beban kerja Google memiliki jejak data dan instruksi yang melampaui kapasitas cache CPU modern. Itu artinya, CPU akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk menunggu kode dan data. Sayangnya, permasalahan ini tidak dapat diatasi dengan meningkatkan bandwidth memori. Sebab, ada banyak akses yang berada di jalur kritis untuk pemrosesan permintaan aplikasi. Selain itu, banyak yang sering melupakan bahwa mengurangi latensi akses memori juga sama pentingnya dengan meningkatkan bandwidth memori. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Pelacakan beban kerja Google Karakteristik WSC yang unik tersebut membuat mereka yang ada dalam komunitas arsitektur komputer terus mengembangkan teknologi untuk melacak jejak beban kerja WSC. Dengan melacak beban kerja WSC maka mereka pun akan lebih mudah melakukan penelitian arsitektur. Di awal bulan Mei 2022, Google meluncurkan layanan pelacakan beban kerja Google tertentu. Layanan ini akan membantu Anda dalam memahami beban kerja WSC, terutama saat berinteraksi dengan komponen yang mendasarinya. Dengan format open-source, alat pelacakan ini diharapkan dapat mengembangkan solusi baru untuk front-end dan mengatasi hambatan akses data. Teknologi DynamoRIO Photo Credit: Freepik Untuk bisa melacak jejak beban kerja, Google menggunakan DyanamoRIO pada server komputer yang menjalankan beban kerja. Detail mengenai layanan ini dapat Anda akses melalui link berikut: https://dynamorio.org/google_workload_traces.html. Untuk melindungi privasi pengguna, jejak tersebut hanya akan berisi instruksi dan alamat memori. Jejak tersebut berguna untuk memahami beban  kerja WSC dan menyemai pemeriksaan internal pada prosesor front-end, interkoneksi on-die, cache, dan subsistem memori, dan lain-lain (pada dasarnya, semua area yang bisa memengaruhi beban kerja WSC). Misalnya, menggunakan jejak untuk mengembangkan AsmDB. Ke depannya, layanan pelacakan jejak beban kerja Google ini diharapkan dapat membantu komunitas arsitektur komputer untuk mengembangkan ide-ide baru yang meningkatkan kinerja dan efisiensi beban kerja WSC lainnya. Baca juga: Menghubungkan Data SAP Lewat Cloud Data Fusion Dengan Google Cloud Cortex Framework Google sendiri memiliki layanan komputasi mandiri (Google Computing Service). Layanan tersebut masih merupakan bagian dari Google Cloud. Nah, penerapan teknologi pelacakan beban kerja WSC ini akan lebih optimal jika Anda menggunakan Google Cloud. Untuk penggunaan Google Cloud dalam skala besar seperti pada perusahaan atau instansi pendidikan, tentu tidak bisa disamakan dengan penggunaan layanan cloud individu. Tak perlu khawatir, sebab EIKON Technology menyediakan paket subscriptions Google Cloud resmi dan bergaransi. Anda pun bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Jika sudah menemukan paket yang sesuai, bisa langsung memulai implementasi Google Cloud. Kami juga akan mendampingi mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, hubungi kami di sini.

Google Cloud

BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia?

Dulu, ketika harus menjalankan BI (business intelligence) pada kumpulan data besar, pelanggan yang menggunakan data warehouse mau tak mau harus memilih latensi rendah dan mengorbankan kemutakhiran data. Namun kini dengan adanya BigQuery BI Engine, mereka dapat mempercepat dashboard dan laporan yang terhubung ke BigQuery tanpa harus melakukan hal tersebut. Sebenarnya, bagaimana teknologi BigQuery BI Engine ini bekerja? Hasil pengembangan dari versi preview tahun lalu Menggunakan insight terbaru data akan membantu para pengguna data warehouse dalam membuat keputusan yang lebih baik untuk bisnis mereka. BI Engine memungkinkan pelanggan mendapatkan performa tercepat untuk kueri mereka di seluruh alat BI yang terhubung dengan BigQuery. Sebenarnya, layanan ini telah diluncurkan tahun 2021 lalu. Hanya saja, saat itu masih menggunakan format pratinjau yang terbatas. BigQuery BI Engine sendiri merupakan sebuah layanan analisis in-memory yang mempercepat dan memberikan performa kueri dalam hitungan sub-detik untuk dasbor dan laporan yang terhubung ke BigQuery. Layanan ini bekerja dengan banyak tools BI atau dasbor khusus. BI Engine dirancang untuk membantu analis data mengidentifikasi tren lebih cepat, mengurangi risiko, menyesuaikan laju permintaan pelanggan, dan meningkatkan efisiensi operasional dalam iklim bisnis yang terus berubah seperti sekarang ini. Format baru yang tersedia untuk publik ini memungkinkan pelanggan untuk membuat dasbor interaktif cepat menggunakan tools populer seperti Looker, Tableau, Spreadsheet, PowerBI, Qlik atau bahkan aplikasi khusus perusahaan. Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah BI Engine Acceleration terintegrasi BigQuery  Integrasi Native dengan BigQuery API BI Engine terintegrasi secara native dengan BigQuery API. Itu artinya, ketika dasbor Anda menggunakan antarmuka standar seperti SQL, BigQuery API atau driver JDBC/ODBC untuk terhubung ke BigQuery, maka dukungan untuk BI Engine akan muncul secara otomatis. Tidak ada pengaturan tambahan yang harus dilakukan pada aplikasi atau dasbor untuk mengaktifkan dan menjalankan dasbor sub-detik yang dapat diskalakan. Jika Anda menjalankan kueri yang dapat dipercepat dengan BigQuery, maka bisa langsung menggunakan BI Engine. Photo Credit: Google Cloud Blog Penskalaan Cerdas Pelanggan umumnya tak perlu khawatir lagi tentang efisiensi penggunaan memori, BI Engine melakukannya untuk Anda berdasarkan pola akses. Layanan ini telah dibekali teknik canggih seperti pemrosesan vektor, pengkodean data tingkat lanjut, dan caching adaptif untuk membantu memaksimalkan kinerja sekaligus mengoptimalkan penggunaan memori. BI Engine juga dapat membuat replika data yang sama untuk mengaktifkan akses bersamaan dengan cepat dan cermat. Konfigurasi Sederhana Satu-satunya konfigurasi yang diperlukan saat menggunakan BI Engine adalah menyiapkan reservasi memori. Layanan ini telah menyediakan sebuah peningkatan fine-grained masing-masing 1GB. Visibilitas Penuh Pemantauan dan pencatatan sangat penting untuk menjalankan aplikasi di cloud dan juga untuk mendapatkan wawasan tentang kinerja serta peluang optimalisasi. BI Engine telah terintegrasi dengan tools yang sudah dikenal seperti Information Schema untuk detail pekerjaan (rasio pencapaian cache, latensi kueri, dan lain-lain) serta Stackdriver untuk memantau penggunaan. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah dengan Resource Charts dan Slot Estimator Mulai menggunakan BigQuery BI Engine Photo Credit: Google Cloud Blog BI Engine kini telah tersedia di seluruh wilayah operasional BigQuery, termasuk Indonesia. Untuk mulai menggunakannya, Anda cukup mendaftar ke sandbox BigQuery. Setelah itu, bisa langsung mengaktifkan BI Engine untuk proyek Anda. BigQuery juga telah menyediakan panduan penggunaan layanan, termasuk panduan memulai cepat tools BI populer. Anda juga dapat menonton demo dari Data Cloud Summit untuk melihat tutorial penggunaan BI Engine dengan tools seperti Looker, Data Studio, dan Tableau. Jika telah menerapkan integrasi dengan BigQuery, tersedia program inisiatif Google Cloud Ready – BigQuery. Detail mengenai program tersebut bisa Anda akses di sini. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud BigQuery BI Engine hadir untuk memudahkan Anda dalam mengoperasikan BI, terutama saat harus mengelola data dalam skala besar. Selain itu, BigQuery juga merupakan bagian dari Google Cloud Platform sehingga telah terintegrasi dengan berbagai tools dan layanan yang ada di GCP. Optimalkan kinerja data perusahaan Anda dengan menggunakan solusi komputasi awan dari Google Cloud. Kini Anda bahkan dapat memilih paket berlangganan yang paling sesuai dengan kondisi perusahaan. EIKON Technology sebagai authorized partner siap membantu Anda dalam penerapan Google Cloud, mulai dari perencanaan hingga manajemen pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, silakan hubungi kami di sini.

Scroll to Top