EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Memanfaatkan Microsoft Security Insider untuk Mencegah Ancaman Keamanan Siber

Data dari Microsoft menemukan bahwa terdapat peningkatan hingga 1.070 persen serangan ransomware antara bulan Juli 2020 hingga Juni 2021. Untuk bisa mengatasinya, alat deteksi saja tidak cukup karena ancaman tersebut terus berubah. Microsoft Security Insider sendiri merupakan sebuah situs yang dapat dimanfaatkan oleh para pemilik bisnis untuk mendapatkan berita terbaru, wawasan, serta perspektif mengenai topik-topik paling populer di dunia keamanan siber. Layanan ini hadir setelah Microsoft menemukan bahwa para pengguna menerima setidaknya 24 triliun sinyal ancaman setiap harinya. Dalam artikel kali ini EIKON Technology akan membagikan beberapa insight terbaru mengenai ancaman keamanan siber dalam Microsoft Insider. Mari pelajari bersama. Mempersiapkan serangan Photo Credit: standret (Freepik) Meski tidak semua siap menghadapinya, perubahan selalu menawarkan peluang. Kemajuan teknologi yang sangat pesat memungkinkan manusia untuk dapat bekerja dari jarak jauh dan membantu perusahaan untuk bisa tetap produktif dalam lingkungan kerja yang terus berubah. Sayangnya, lingkungan digital yang semakin kompleks telah memunculkan celah bagi penjahat siber untuk mengeksploitasi keamanan Anda. Laporan terbaru Microsoft Security Insider menemukan bahwa upaya untuk mengelabui pekerja agar mengungkapkan informasi sensitif melalui phishing terkait pekerjaan mereka sedang meningkat. Bahkan, 88% pemilik bisnis mengatakan bahwa serangan phishing telah memengaruhi alur kerja mereka. Seringkali, hal tersebut justru disebabkan oleh kesalahan sederhana dalam dasar-dasar keamanan, seperti tidak mengaktifkan sertifikat (yang kemudian mengarah pada pelanggaran keamanan). Dalam laporan CISO Insider, terdapat tujuh dasar strategi keamanan, termasuk mendapatkan visibilitas, mendidik pengguna, dan mengelola kerentanan. Baca juga: What’s Next in Security: Update Keamanan Microsoft untuk Ancaman Kompleks Mempertahankan rantai pasokan Rantai pasokan yang saling terhubung dan kompleks adalah target yang sangat menarik bagi para penjahat dunia siber. Diketahui, serangan rantai pasokan open-source naik hingga 650% dari tahun ke tahun (mulai tahun 2020). Dalam Microsoft Security Insider, Anda bisa menemukan detail mengenai jumlah rata-rata vendor dalam rantai pasokan perusahaan. Menerapkan sistem keamanan Zero Trust juga akan sangat membantu. Beberapa klien Microsoft mengungkapkan bahwa sistem tersebut telah memberikan “angin segar” bagi keamanan rantai pasokan mereka. Mengatasi kekurangan SDM Masih dari laporan Microsoft Security Insider, diketahui pada November 2021, sekitar 4,5 juta orang di Amerika Serikat berhenti dari pekerjaan mereka. Ini merupakan sebuah rekor baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih lanjut, sekitar 40% karyawan di seluruh dunia sedang mempertimbangkan untuk berhenti dari pekerjaan mereka pada 2022. Hal ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang memasuki tren kekurangan tenaga kerja (seringkali disebut dengan istilah Great Resignation). Bahkan sebelum pandemi, divisi keamanan siber perusahaan berjuang dengan kekurangan tenaga kerja. Itu artinya, para pemilik bisnis harus inovatif dalam mengatasi tantangan tersebut. Beberapa sudah menunjukkan “pergerakan” dengan mengeksplorasi konsep “keamanan adalah pekerjaan semua orang” (security is everyone’s job). Dalam konsep ini, perusahaan harus memastikan tim pengembangan, administrator sistem, dan pengguna telah memahami kebijakan dan risiko keamanan. Di Microsoft Security Insider, Anda akan menemukan berbagai insight mengenai berbagai perusahaan dan divisi TI mereka dalam menghadapi ancaman keamanan. Baca juga: Mencapai Observabilitas yang Lebih Baik dengan Azure Monitor Pelajari Microsoft Security Insider lebih lanjut Photo Credit: Freepik Selain temuan yang telah dipaparkan dalam artikel ini, Microsoft Security Insider juga menyajikan berbagai informasi dan update mengenai dunia keamanan siber. Anda bahkan bisa menemukan penjelasan serta perspektif dari para ahli yang berhubungan langsung dengan masalah ancaman keamanan siber terkini. Microsoft Security Insider pada dasarnya dapat diakses melalui browser. Namun alur kerjanya akan lebih optimal jika Anda juga menggunakan layanan Microsoft seperti Azure dan 365. Sebab, langkah mitigasi akan menjadi jauh lebih cepat dan praktis. Anda tak perlu lagi berpindah-pindah perangkat atau membuka banyak aplikasi. Kini Anda dapat berlangganan layanan dan aplikasi produktivitas untuk perusahaan dari Microsoft. Semuanya telah dibekali dengan teknologi keamanan terbaru. Layanan tersebut juga telah terintegrasi dengan Microsoft Security. Dapatkan segera layanan Microsoft untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

What’s Next in Security: Update Keamanan Microsoft untuk Ancaman Kompleks

 Dalam update keamanan Microsoft terbaru, kompleksitas ancaman menjadi sorotan utama. Akhir-akhir ini, tidak hanya jumlah ancaman yang terus bertambah, tapi pengguna juga belum bisa menemukan solusi menyeluruh. Akibatnya, mereka cenderung menerapkan solusi tambal-sulam yang tidak bekerja sama dengan baik. Jika diamati, pendekatan sedikit demi sedikit ini cenderung lebih mahal, kurang aman, dan menghambat pertumbuhan. Inovasi keamanan terbaru Microsoft Photo Credit: DCStudio (Freepik) Pada 24 Februari 2022, di acara digital What’s Next in Security, Microsoft memaparkan rencana keamanan terbaru mereka. Disebutkan, inovasi keamanan tersebut akan memberi kepercayaan diri kepada pelanggan dalam menghadapi risiko keamanan. Bagi pelanggan yang menggunakan Microsoft dalam skala besar seperti perusahaan dan instansi, diharapkan solusi baru ini juga akan membantu pertumbuhan. Dalam acara tersebut, Vasu Jakkal, Wakil Presiden Perusahaan Microsoft untuk Keamanan, Kepatuhan, dan Identitas, bersama pakar keamanan lainnya juga berbagi berbagai inovasi menarik yang membantu mengurangi risiko dari ancaman terbaru pada keamanan data perusahaan. Baca juga: Harga Microsoft 365 Akan Berubah Maret 2022? Berikut Penjelasannya! Dapatkan informasi tentang tren keamanan terbaru Lanskap keamanan terus berkembang—baik dari perubahan besar seperti adopsi cepat kerja jarak jauh di tahun 2020 atau dari penyebar ancaman keamanan yang mengubah taktik. Untuk membangun strategi keamanan yang kuat, Anda perlu mengetahui tentang risiko yang muncul dan teknologi terbaru. Dalam What’s Next in Security, pengguna dapat mendengar tentang tren keamanan, termasuk apa yang terjadi di pasar saat ini dan proyeksi untuk masa depan. Jeff Pollard, Wakil Presiden dan Analis Utama di Forrester, membahas tentang cara menggabungkan kekuatan pengetahuan manusia dengan teknologi, dan kecerdasan cloud untuk menciptakan solusi keamanan yang inovatif. Perluas perlindungan ke seluruh jaringan cloud Photo Credit: Racool_studio (Freepik) Keamanan yang komprehensif dimulai dengan cakupan. Perusahaan saat ini memindahkan lebih banyak resources dan layanan ke cloud. Perpindahan ini bahkan tidak hanya terjadi pada satu cloud—kebanyakan perusahaan kini menggunakan banyak cloud sekaligus untuk menjalankan bisnis mereka. Untuk bertahan melawan ancaman canggih yang bergerak secara lateral di seluruh sistem dan platform, Anda memerlukan pandangan menyeluruh tentang lingkungan multicloud tersebut. Kelola akses di lingkungan multicloud Akibat adanya pandemi, tempat kerja menjadi lebih fleksibel. Itu artinya, ada lebih banyak orang bekerja dari jarak jauh atau membagi waktu kerjanya antara kantor dan rumah. Di mana pun karyawan Anda berada, mereka perlu dengan mudah mengakses sumber daya dan aplikasi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Melalui What’s Next in Security, Microsoft juga memperkenalkan beberapa teknologi keamanan baru yang membantu pengguna dalam mengelola dan melindungi identitas di lingkungan multicloud. Atasi tantangan keamanan terbesar saat ini Selain kegiatan yang telah disebutkan pada poin-poin sebelumnya, update keamanan Microsoft ini juga menghadirkan informasi mengenai: Pembaruan strategi keamanan yang disesuaikan dengan tren pasar terbaru. Perlindungan identitas, aplikasi, awan, dan end point dengan solusi komprehensif. Cara menghilangkan titik buta (blind spot) dengan pelacakan ancaman proaktif dan deteksi serta extended detection and response (XDR). Penerapan akses hak istimewa paling rendah di seluruh lingkungan cloud. Identifikasi celah keamanan dan cara melindungi lingkungan multicloud dari berbagai ancaman keamanan. Baca juga: Microsoft Viva Kini Tersedia untuk Menunjang Pekerjaan Hybrid Anda Acara What’s Next in Security membuktikan bahwa Microsoft terus memperhatikan perkembangan ancaman keamanan pelanggan. Dalam update keamanan terbarunya, kompleksitas menjadi sorotan utama. Sebab, kini ancaman keamanan bukanlah sekadar serangan yang merugikan suatu aspek saja, tapi juga berpotensi melumpuhkan keseluruhan operasional perusahaan. Produk-produk Microsoft seperti Microsoft 365 dan Azure terus dikembangkan untuk bisa mencegah dan mengatasi ancaman tersebut. Dengan begitu, keamanan pengguna pun tetap terjamin. Tertarik untuk mulai berlangganan produk Microsoft di perusahaan Anda? EIKON Technology menyediakan paket langganan Microsoft yang dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Info

Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan

Dengan berbagai fitur dan kapabilitas, Google Docs telah berhasil membuktikan kemampuannya sebagai aplikasi produktivitas sekaligus kolaborasi. Lewat Docs, Anda dapat mengerjakan sebuah tugas bersama orang lain dengan mudah dan cepat, tanpa harus berpindah perangkat atau bahkan melakukan pendaftaran akun baru. Ini membuktikan visi Google di tahun 2006 yang bercita-cita untuk menghadirkan sebuah aplikasi produktivitas dengan kolaborasi seamless. Meski kala itu cita-cita tersebut tak langsung terwujud, Google terus mengembangkan Docs dengan berbagai fitur dan tools di dalamnya. Bahkan, Google kemudian tak sekadar membuat sebuah aplikasi pengolah kata, tapi juga rangkaian produktivitas yang mendukung kolaborasi kerja. Di penghujung bulan April 2022 ini, Google Docs kembali hadir dengan sedikit pembaruan. Disebutkan, pengguna sekarang dapat merasakan navigasi yang lebih mudah dan cepat. Simak penjelasan detailnya berikut. Update Google Docs: Navigasi fitur yang lebih cepat Dalam pembaruan ini, Google melakukan “sedikit” perbaikan pada menu Docs. Lewat pembaruan tersebut, Anda sekarang dapat mengakses fitur yang paling sering digunakan dengan cepat. Lebih lengkap, pembaruan tersebut mencakup: Menu yang dipersingkat untuk navigasi yang lebih baik. Reorganisasi untuk lokasi fitur yang lebih intuitif. Ikon menonjol untuk pengenalan yang lebih cepat. Photo Credit: Google Workspace Updates Tidak pengaruhi fungsi yang sudah ada Desain baru ini akan meningkatkan kemampuan sistem dalam menemukan fitur-fitur utama, membuatnya lebih cepat, dan lebih mudah untuk menggunakan Google Docs. Perlu diingat, pembaruan ini tidak akan memengaruhi fungsi yang sudah ada sebelumnya. Penataan ulang beberapa fitur dilakukan Google mengikuti penilaian dari pengguna. Diharapkan, tampilan baru ini akan lebih intuitif, serta dapat mempermudah dan mempercepat navigasi fitur. Secara khusus, fungsionalitas terkait Apps Script sekarang dikelompokkan di bawah menu “Extensions” yang baru. Ini termasuk akses menuju Apps Script IDE serta pengelolaan add-ons Docs. Baca juga: Fitur Baru Google Docs: Bikin Tulisan Lebih Enak Dibaca! Mulai menerapkan update Google Docs menyebutkan bahwa update ini akan berlaku secara default untuk seluruh pengguna mulai tanggal 26 April 2022. Tidak diperlukan kontrol admin tambahan untuk bisa menggunakan seluruh kapabilitas yang ada pada update baru ini. Jika Docs pada perangkat Anda tidak menampilkan perubahan atau menemukan gangguan pada update, silakan kunjungi Help Center yang telah disediakan oleh pihak Google. Perlu diingat juga, domain untuk rapid release dan scheduled release tersedia peluncuran yang diperpanjang hingga akhir Mei 2022 nanti. Setelah itu, diperkirakan seluruh end user sudah bisa menikmati navigasi baru ini. Ketersediaan fitur Photo Credit: yanalya (Freepik) Update ini tersedia untuk semua pelanggan Google Workspace, termasuk untuk pengguna individu yang tidak tergabung dalam paket langganan khusus. Selain itu, fitur baru ini juga dapat dinikmati oleh seluruh pelanggan G Suite Basic dan G Suite Bisnis lama. Bagi Anda pemilik Google Account personal juga bisa menikmati layanan baru ini. Tidak perlu melakukan update sistem karena fitur baru ini akan otomatis tampil saat Anda membuka Google Docs. Anda bahkan bisa langsung menggunakannya untuk mengolah dokumen. Baca juga: Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel! Google Docs memang menyediakan berbagai fitur yang memudahkan Anda dalam mengolah kata. Namun jika Anda menginginkan kolaborasi kerja yang lebih optimal, manfaatkan integrasi Docs dengan layanan Google Workspace lain seperti Gmail, Slides, Sheets, hingga Meet. Untuk penggunaan Workspace dalam skala besar, misalnya untuk perusahaan atau institusi pendidikan, Anda bisa memilih berbagai paket Workspace yang telah tersedia. Bingung memilih mana paket Workspace yang paling sesuai dengan kebutuhan kerja Anda? Kami dari EIKON Technology siap membantu. Tidak hanya memilihkan paket, kami juga memastikan Workspace dapat bekerja dengan optimal dalam lingkungan kerja Anda. Untuk informasi selengkapnya mengenai berlangganan Workspace, silakan klik di sini!

Google Workspace

Kelola Aktivitas Penyimpanan Lebih Mudah dengan Alat Manajemen Penyimpanan Baru Google Workspace

Untuk mengelola aktivitas dan kebijakan penyimpanan, Google Workspace telah menyediakan Admin console. Anda bisa menunjuk administrator dari perusahaan untuk mengelola konsol tersebut. Baru-baru ini Google meluncurkan sebuah pembaruan yang menghadirkan alat manajemen baru pada Admin Console. Seperti apa? Alat manajemen penyimpanan baru Photo Credit: Google Workspace Updates Alat manajemen penyimpanan baru ini diluncurkan untuk memberikan visibilitas, kontrol, dan insight tambahan kepada para pelanggan Google Workspace. Itu berarti, kini Anda dapat mengelola kapasitas penyimpanan untuk seluruh pengguna, grup, dan bahkan keseluruhan perusahaan dengan mudah dan cepat. Alat baru ini bisa ditemukan pada Admin console. Pada konsol tersebut Anda bisa memantau seluruh aktivitas yang berhubungan dengan penyimpanan. Semuanya dapat diakses dan dikelola dari satu sumber. Dengan menggunakan alat manajemen penyimpanan baru ini, administrator dapat: Melihat ringkasan penggunaan penyimpanan yang digunakan di keseluruhan perusahaan. Memantau penyimpanan yang digunakan oleh produk tertentu seperti Drive atau Gmail. Mengecek pengguna penyimpanan teratas di perusahaan. Mencocokkan drive bersama dengan penyimpanan paling banyak digunakan di perusahaan. Mengelola dan menghapus drive bersama berdasarkan penggunaan penyimpanan, termasuk kapabilitas untuk mengurutkan dan menghapus satu atau beberapa drive bersama sekaligus. Memeriksa peringatan batas penyimpanan laporan terperinci Access tentang penggunaan penyimpanan. Menerapkan batas penyimpanan untuk pengguna. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual Bantu admin kelola penyimpanan lebih mudah Admin dapat menggunakan alat baru ini untuk melihat berapa banyak penyimpanan yang digunakan di perusahaan atau institusi Anda. Mereka juga dapat memastikan limit kapasitas penyimpanan dari waktu ke waktu agar tidak terjadi overload. Di Storage Settings, admin dapat mengelola batas penyimpanan Google Workspace yang digunakan di perusahaan atau institusi Anda. Pengaturan ini akan menampilkan batas penyimpanan untuk keseluruhan perusahaan dan dapat disesuaikan untuk unit dan grup tertentu. Perlu diingat, setelan ini dinonaktifkan secara default. Saat setelan diaktifkan maka Anda dapat membuat batas penyimpanan individual. Google telah menyediakan Help Center yang dapat diakses kapan saja untuk membantu admin mengelola fitur baru ini. Mengatur kebijakan penyimpanan dengan cepat Photo Credit: Google Workspace Updates Alat manajemen penyimpanan baru ini memungkinkan admin untuk dapat mengontrol semua kebijakan penyimpanan yang diterapkan sebelumnya, memungkinkan mereka mengontrol default dan membuat peran khusus untuk mengelola kebijakan penyimpanan bagi organisasi atau pengguna mereka di unit atau grup organisasi tertentu. Hanya saja, pada tahap peluncuran pertama (25 April 2022), hanya Super Admin yang akan memiliki akses ke alat manajemen penyimpanan. Selama beberapa bulan mendatang, akses akan diperluas ke admin yang didelegasikan, admin pengguna, dan admin reseller. Mulai menggunakan alat manajemen penyimpanan Seperti yang telah disebutkan, fitur baru ini baru bisa diakses oleh Super Admin Google Workspace. Bagi Super Admin, layanan baru ini dapat diakses melalui: Opsi “Storage” yang ada di bagian kiri menu navigasi. Kotak “Storage” baru yang ada pada halaman muka Admin console Google Workspace Menu Account kemudian pilih Settings dan klik Storage. Bagi Anda pelanggan Workspace dapat mengakses Help Center untuk mempelajari tentang penyimpanan dan pengelolaan aktivitas drive yang digunakan bersama. Begitu juga unutk pelanggan Workspace for Education, Google telah menyediakan laman khusus yang membahas tentang manajemen kapasitas dan aktivitas penyimpanan. Ketersediaan Photo Credit: Freepik Setelah diluncurkan pada tanggal 25 April 2022 lalu, fitur ini baru tersedia untuk Super Admin Google Workspace. Fitur ini juga bisa digunakan oleh Super Admin yang mengelola paket subscription G Suite Basic dan G Suite Business. Baca juga: Fitur Baru Penyimpanan Google Cloud Memastikan Data Aman Agar seluruh beban kerja Anda tidak terhambat, dibutuhkan manajemen penyimpanan yang baik. Alat manajemen penyimpanan baru untuk Admin console Google Workspace membuat proses tersebut menjadi jauh lebih mudah dan simpel. Selain fitur manajemen penyimpanan ini, Workspace juga masih memiliki berbagai fitur, layanan, dan kapabilitas untuk menyederhanakan pekerjaan Anda. Mulai bekerja lebih pintar dengan Google Workspace. EIKON Technology sebagai authorized reseller Google menyediakan paket berlangganan Workspace yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Azure, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Mencapai Observabilitas yang Lebih Baik dengan Azure Monitor

Transformasi digital kini semakin terasa. Semakin banyak perusahaan yang memigrasikan beban kerja mereka ke layanan cloud seperti Azure atau bahkan membangun aplikasi cloud-native sendiri. Namun ketika mengadopsi cloud, mereka juga harus tetap mempertahankan lingkungan kerja yang sudah ada sebelumnya. Pada tahap ini, penting untuk dapat memantau kesehatan, keamanan, dan kinerja sistem mission-critical mereka. Observabilitas adalah praktik terbaik untuk mewujudkan manajemen yang tertata dengan baik dan efisien. Microsoft memiliki Azure Monitor, sebuah pendekatan terhadap observabilitas yang menekankan pada proses simpel. Seperti apa cara kerjanya? Mengenal Azure Monitor Photo Credit: Microsoft Azure Blog Dalam proses migrasi ke cloud, monitoring adalah proses penting yang tidak boleh dilewatkan. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan bahwa seluruh beban kerja yang dipindahkan benar-benar telah berada dalam jaringan cloud. Akan lebih baik lagi jika monitoring dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Azure Monitor menghadirkan kapabilitas monitoring dengan dukungan teknologi canggih. Pemantauan bisa dilakukan langsung dengan adanya sampel dan rekomendasi. Pengguna juga bisa menemukan peringatan yang efektif, kueri yang optimal, serta laporan yang dapat disesuaikan. Azure Monitor juga telah terintegrasi dengan platform data yang dirancang mampu menangani ribuan terabyte data per hari dengan andal. Tersedia juga opsi perluasan melalui Azure Arc sehingga Anda dapat memiliki fleksibilitas untuk menjalankan aplikasi mereka di mana saja dan memantau atau mengelolanya secara efektif. Baca juga: 4 Update Terbaru dari Microsoft Teams Kemampuan observasi di seluruh level Insight yang kaya: Anda dapat memanfaatkan visualisasi, laporan, dan alat diagnostik yang dikurasi untuk resources tertentu menggunakan insight dari Azure Monitor melalui fitur Application Insights. Pelacakan terdistribusi: Pelacakan adalah pilar utama observabilitas. Dengan Azure Monitor, Anda dapat dengan mudah menghubungkan transaksi end-to-end dari aplikasi hingga dependensi ke infrastruktur. Ada beberapa tampilan topologi bawaan seperti Application Map, VM Map, dan Network Map untuk visualisasi arsitektur atau menelusuri transaksi. Analisis log: Inti dari Azure Monitor adalah platform log terpusat yang menyimpan semua log di seluruh pemantauan, keamanan, dan manajemen Azure. Anda bahkan dapat mengirim log kustom, menentukan skema dan transformasi, dan memanfaatkan kekuatan penuh analitik log. Platform yang terbuka dan dapat diperluas Photo Credit: pressfoto (Freepik) Mitra dan integrasi: Meski Azure Monitor menyediakan kemampuan pengamatan dan analitik yang kaya, pelanggan dapat memilih untuk menggunakan solusi pemantauan atau analitik apa pun yang sesuai dengan kebutuhan. Seluruh resources yang didapat dari Azure dapat diintegrasikan dengan solusi mitra seperti Datadog dan Elastic. Solusi open-source: Jika Anda perlu menggunakan metrik open-source atau solusi logging bersama Azure Monitor, tersedia dukungan untuk beberapa proyek CNCF (Cloud Native Computing Foundation). Anda dapat dengan mulus mengikis metrik Prometheus untuk klaster Kubernetes dengan insight dari Container atau mengirim kustom log ke Azure Monitor. Dasbor operasional: Di luar kemampuan dasbor dan pelaporan yang tersedia di Azure, Grafana menyediakan solusi visualisasi single-pane-of-glass yang sangat kaya untuk lingkungan multi-cloud. Khusus dirancang untuk skenario mission-critical Photo Credit: yanalya (Freepik) Privasi: Azure Monitor sepenuhnya mematuhi GDPR dan tidak mengumpulkan PII secara langsung. Azure juga mendukung pembersihan data berdasarkan permintaan. Keamanan: Untuk semua log di Azure Monitor, tersedia enkripsi data dengan customer-managed keys (CMK) di Azure Key Vaults. Ada lebih banyak keamanan di tingkat infrastruktur dengan enkripsi AES 256-bit. Anda dapat memanfaatkan dukungan tautan pribadi untuk terhubung dengan aman ke salah satu endpoint jaringan pribadi Anda. Kepatuhan: Azure Monitor menyediakan kapabilitas untuk membantu Anda memenuhi persyaratan kepatuhan apa pun di perusahaan, industri atau geografi Anda. Anda dapat memanfaatkan log aktivitas dan log audit untuk kepatuhan keamanan dan menyimpan atau mengarsipkan data tertentu untuk jangka waktu yang lama (hingga 7 tahun) sesuai kebutuhan, dengan dukungan tambahan untuk kekekalan data (di Azure Storage). Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI Tertarik untuk mulai memanfaatkan berbagai fitur dan kapabilitas yang ditawarkan Azure Monitor? Solusi ini bekerja dengan optimal pada infrastruktur cloud milik Microsoft, yakni Azure. EIKON Technology menyediakan beberapa opsi berlangganan Azure yang bisa Anda pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Anda juga bisa melakukan coba gratis Microsoft Azure terlebih dulu di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Benarkah Desentralisasi Adalah Masa Depan Identitas Digital?

Tanpa disadari, identitas digital perlahan-lahan menjadi identitas utama kita. Makin hari, makin banyak identitas fisik yang berubah menjadi format digital. Kegunaannya pun makin luas, dipakai untuk bekerja, belajar, berbelanja, bahkan bersosialisasi. Transformasi besar ini tidak begitu terasa karena berbagai kemudahan yang ditawarkan. Anda tak perlu lagi khawatir lupa membawa kartu identitas. Sebab semuanya telah tersedia dalam genggaman dan begitu mudah diakses. Namun kini identitas digital disinyalir akan mengalami perubahan. Transisi ini dianggap akan memberikan keamanan, kerahasiaan, dan kepraktisan yang lebih baik lagi. Seperti apa format baru identitas digital ini? Transformasi identitas digital Identitas digital kini tengah berada di ambang transformasi menuju identitas suatu identitas baru yang lebih aman, mementingkan privasi, dan portabel. Sebelumnya, identitas dibangun berdasarkan hubungan tunggal antara perusahaan penyedia layanan dengan masing-masing pengguna. Pengembangan terpisah ini kemudian disimpan dalam sebuah database yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Tanpa banyak disadari, hal ini berpotensi meningkatkan risiko pelanggaran keamanan dan privasi. Di sisi lain, digitalisasi proses bisnis atau identitas fisik tidak mampu meminimalisir risiko tersebut. Pengguna sebenarnya lebih membutuhkan sistem yang dapat menyatukan identitas. Suatu sistem yang dimiliki dan dikelola oleh pengguna sendiri. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI  Perbedaan antara digitalisasi dengan desentralisasi identitas Photo Credit: Microsoft Security Ada beberapa hal yang membuat digitalisasi dan desentralisasi identitas lebih mudah dibedakan. Berikut adalah beberapa di antaranya: Tingkat keamanan Secara sederhana, digitalisasi adalah bentuk digital dari identitas. Meski begitu, bukan berarti tingkat keamanan yang ditawarkan sama. Katakanlah Anda memindai KTP dan kemudian menyimpan file jpg dari dokumen tersebut. Apakah lantas file tersebut bisa menggantikan KTP asli? Tentu tidak. Begitu pula saat file KTP tersebut kemudian Anda unggah ke sebuah aplikasi, maka data identitas pun akan berpindah ke perusahaan pemilik aplikasi. Namun pada desentralisasi, identitas memiliki tingkat keamanan yang sama. Sebab, identitas tersebut dilindungi oleh kredensial digital pemiliknya. Pengguna dapat menggunakan dompet terenkripsi untuk menyimpan dan mengelola identitas tersebut. Jauh dari risiko pencurian data oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Privasi dan perlindungan data Photo Credit: Freepik Dengan meningkatnya digitalisasi, privasi menjadi prioritas utama. Orang-orang semakin sadar akan keberadaan perusahaan yang mengumpulkan data pengguna dan mengambil untung darinya. Beberapa kemudian beralih ke VPN (virtual private network) atau menggunakan informasi samaran. Di beberapa negara juga muncul kebijakan yang mengatur masalah data pribadi pengguna. Salah satunya adalah General Data Protection Regulation (GDPR) yang berlaku di Eropa. Namun sayangnya kebijakan tersebut belum bisa menyelesaikan masalah tersebut sepenuhnya. Konsep identitas baru menerapkan teknologi zero-knowledge proofs. Teknologi ini memungkinkan satu pihak membuktikan kepada pihak lain bahwa pernyataan yang diberikan benar atau salah. Hal ini akan membatasi data yang dibagikan sesuai dengan kehendak pengguna. Bagi perusahaan, teknologi ini akan mengurangi beban pengelolaan personally identifiable information (PII). Sebab, pengguna memiliki kontrol penuh hal-hal yang mereka bagikan. Portabilitas dan visibilitas Photo Credit: Rawpixel Sebelum penyimpanan cloud sepopuler sekarang, pengguna internet biasanya menyimpan back-up data melalui email. Hal ini memang dapat mencegah risiko kehilangan data. Namun bagaimana jika Anda membuat banyak salinan data sehingga sulit mengetahui mana file yang paling baru? Pada konsep desentralisasi, pengguna dapat menyimpan bagian asli dari data identitas sebagai kredensial di perangkat mereka sendiri. Bahkan nantinya kredensial tersebut dapat ditandatangani secara kriptografis menggunakan kunci pribadi. Kemudian perusahaan dapat memverifikasi bahwa data tersebut berasal dari sumber otoritatif. Pengguna dapat mempertahankan visibilitas mengenai penggunaan data dan durasi akses bagi perusahaan. Penggunaan spesifikasi standar terbuka, seperti kredensial yang dapat diverifikasi dari World Wide Web Consortium (W3C), memudahkan pengguna individu dan perusahaan untuk menerima dan menyajikan kredensial di seluruh platform dan layanan. Hal ini memungkinkan orang untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan perusahaan. Baca juga:  Mengatasi Ancaman Keamanan Siber dengan Cyber Signals Anda dapat menemukan solusi identitas digital melalui Microsoft Security, platform keamanan yang memberikan perlindungan kepada pengguna terhadap serangan siber. Untuk perlindungan komprehensif, Microsoft Security akan berjalan optimal pada ekosistem Microsoft. Sebagai dukungan, Anda bisa menerapkan Microsoft Azure sebagai penyimpanan berbasis awan. EIKON Technology menyediakan solusi penerapan cloud service Azure yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi komputasi awan dari Microsoft, silakan klik di sini.

Appsheet, Google Workspace

Kenalan dengan Apps Script Connector for AppSheet untuk Otomatisasi Alur Kerja Google Workspace

Google baru saja meluncurkan Apps Script connector for AppSheet, sebuah kapabilitas yang memungkinkan Anda untuk memanggil fungsi kode Apps Script dari sebuah aplikasi AppSheet tanpa kode. Kapabilitas baru ini memperluas kemampuan AppSheet dalam mengakses resources yang disediakan Apps Script. Contohnya, kini Anda dapat menggunakan Apps Script untuk otomatisasi alur kerja di Google Workspace dengan Workspace APIs for Drive, Docs, Sheets, dan Admin SDK, bahkan layanan Google lainnya seperti YouTube dan BigQuery. Google AppSheet AppSheet sendiri merupakan sebuah platform untuk membangun aplikasi tanpa kode dan alur kerja untuk otomatisasi proses bisnis. Dengannya, Anda dapat merancang dan meluncurkan aplikasi serta otomatisasi tanpa menggunakan kode. Photo Credit: Google Developers Blog Apps Script connector for AppSheet Apps Script connector for AppSheet resmi diperkenalkan pada pertengahan April 2022 ini. Kapabilitas ini menggabungkan beberapa layanan Google sekaligus: AppSheet, Apps Script, Workspace, serta APIs pengembangan Workspace. Integrasi ini memungkinkan para developer untuk memanggil dan meneruskan data ke fungsi Apps Script. Salah satu manfaat terbesar AppSheet adalah memungkinkan Anda untuk menerapkan aplikasi end-to-end yang sebenarnya dengan UI (frontend). Dengan kemampuan baru untuk memanggil kode Apps Script ini, membuat atau mengganti frontend yang ada dengan aplikasi AppSheet tanpa kode menjadi opsi yang sangat memudahkan. Baca juga: Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet Mulai menggunakan Apps Script connector for AppSheet Di AppSheet, konfigurasi dapat dilakukan hanya dengan skrip itu sendiri. Ide intinya adalah pembuat aplikasi memilih skrip Apps Script untuk dipanggil dengan mengonfigurasi “Task” AppSheet, yang merupakan tindakan saat AppSheet Automation dijalankan. Tindakan seperti itu biasanya terjadi dalam konteks baris data tertentu di sumber data AppSheet. Misalnya, otomatisasi dapat dipicu saat catatan data baru dibuat oleh salah satu end-user aplikasi. Terakhir, pembuat aplikasi dapat menentukan nilai untuk diteruskan ke parameter fungsi Apps Script berdasarkan nilai dalam rekaman data aktif. Photo Credit: Google Developers Blog Berikut cara memulainya dalam lima langkah mudah: Di AppSheet, pilih layar Automation, buat Bot baru dengan Event terkait untuk didengarkan, dan terakhir pilih opsi Call a script untuk Task tersebut. Photo Credit: Google Developers Blog Kemudian, di bawah “Apps Script Project”, pilih skrip yang akan dipanggil. Kode ini akan dibuat menggunakan editor Apps Script, dan akan berada di Google Drive App Creator. Photo Credit: Google Developers Blog Setelah dipilih, daftar fungsi yang tersedia di proyek Apps Script akan ditampilkan dalam Function name. Di sini, pilih fungsi yang akan dipanggil dari AppSheet. Jika sudah memilih fungsi yang akan dipanggil, daftar parameternya (data tambahan yang diteruskan saat memanggil fungsi). Photo Credit: Google Developers Blog Untuk setiap parameter fungsi, gunakan AppSheet Expression Assistant untuk menentukan nilai yang akan diteruskan untuk parameter saat otomatisasi dipanggil. Ekspresi dapat berupa kolom sederhana di sumber data aplikasi AppSheet, atau fungsi atau komputasi yang lebih kompleks yang melibatkan banyak kolom. Photo Credit: Google Developers Blog Terakhir, simpan Task di AppSheet Editor menggunakan tombol Save. Selesai! Saat otomatisasi dipicu (misalnya, saat pengguna menambahkan baris data baru), mesin otomatisasi AppSheet akan memanggil fungsi Apps Script yang ditentukan, meneruskan nilai dari ekspresi yang dievaluasi sebagai argumen fungsi. Detail tentang panggilan fungsi akan tersedia di AppSheet Automation Monitor. Baca juga: Tips Meningkatkan Fleksibilitas Kerja dengan AppSheet Dengan adanya kapabilitas Apps Script connector for AppSheet, kini developer dapat memanggil fungsi kode Apps Script dari sebuah aplikasi AppSheet tanpa kode dengan mudah. Menariknya lagi, kapabilitas baru ini juga telah terhubung dengan berbagai resources Workspace APIs for Drive dan bahkan berbagai layanan Google seperti YouTube dan Analytics. Bahkan kapabilitas ini dapat digunakan untuk otomatisasi alur kerja Google Workspace. Untuk mengoptimalkan penggunaan kapabilitas ini memang disarankan integrasi dengan layanan Google lainnya. Integrasi dengan berbagai layanan Google kini jauh lebih mudah melalui Google Workspace. Mulai berlangganan Google Workspace untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Kami siap mendampingi Anda mulai dari proses pemilihan paket hingga penerapan. Informasi lebih lanjut silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual

Salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Anda selama berada di ekosistem Google Workspace adalah dengan memperketat akses. Google telah melakukan beberapa pembaruan yang memungkinkan Anda mengatur akses sesuai kebutuhan. Ini berarti, Anda bisa memberikan keamanan terbaik tanpa harus mengorbankan kemudahan akses menuju berbagai layanan yang ada di Google Workspace. Salah satu update terbaru Google Workspace terkait kontrol akses baru saja diluncurkan bulan April 2022 ini. Dalam pembaruan tersebut, secara spesifik Google memberikan keamanan lanjutan terhadap konsol administrator. Untuk mengetahui detailnya, mari simak uraian berikut. Konsol Admin Google Workspace Untuk setiap paket subscription Workspace, Google menyediakan konsol Admin. Konsol ini merupakan sebuah kontrol terpusat yang mengatur seluruh end-user layanan Workspace dalam perusahaan atau institusi Anda. Dengan administrasi terpusat maka pengelolaan akun end-user pun menjadi cepat dan mudah. Kapabilitas ini juga telah dilengkapi fitur Cloud Identity terintegrasi untuk mengelola pengguna dan menyiapkan opsi keamanan seperti verifikasi 2 langkah dan kunci keamanan. Akses kontekstual konsol Admin Pada update yang diluncurkan tanggal 11 April 2022, Google Workspace mengumumkan ketersediaan akses kontekstual terhadap konsol Admin. Lewat fitur ini Anda dapat mengatur akses menuju konsol Admin dalam konteks pengguna dan perangkat yang digunakan. Misalnya, Anda dapat membatasi akses menuju konsol Admin untuk alamat IP (internet protocol) tertentu. Atau contoh lainnya yaitu memberikan akses hanya untuk pengguna yang menggunakan sistem operasi Chrome versi tertentu. Photo Credit: ArthurHidden (Freepik) Dengan adanya pembaruan ini Anda masih tetap dapat menyetel kebijakan akses, seperti verifikasi 2 langkah atau akses untuk semua anggota unit. Fitur ini menyediakan kontrol granular dan kontekstual tambahan bagi pengguna tersebut. Perlu diingat juga, akses untuk aplikasi akan dievaluasi terus-menerus setelah diberikan. Pengecualian untuk aturan ini adalah akses menuju aplikasi SAML, yang dievaluasi saat masuk. Update ini diharapkan bisa meningkatkan keamanan untuk keseluruhan sistem Anda. Selain itu, dengan membatasi akses menuju konsol Admin, maka risiko terjadi kesalahan pemberian akses pun dapat diminimalisir. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Contoh penerapan akses kontekstual Anda bisa menerapkan fitur akses kontekstual ini untuk beberapa keperluan, misalnya: Memberikan akses menuju aplikasi hanya untuk perangkat milik perusahaan. Membatasi akses menuju folder di Drive hanya jika perangkat penyimpanan milik end-user dienkripsi terlebih dahulu. Menolak akses menuju aplikasi jika pengguna tidak menggunakan jaringan milik perusahaan. Mulai menerapkan fitur akses kontekstual Untuk mulai menerapkan fitur akses kontekstual ini sebenarnya sangat mudah. Setelah Anda melakukan pembaruan (tersedia juga opsi untuk melakukan pembaruan otomatis), Google Workspace secara default akan menampilkan fitur ini. Bagi Anda yang diberi tanggung jawab sebagai administrator bisa mengakses layanan Help Center Google Workspace dan membuka halaman context-aware access overview untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengaturan akses kontekstual ini. Sedangkan untuk end-user tidak melakukan pengaturan apa pun karena fitur ini hanya dapat diakses oleh administrator melalui konsol Admin. Ketersediaan akses kontekstual Photo Credit: lookstudio (Freepik) Fitur akses kontekstual ini telah diluncurkan melalui domain rapid release sekaligus scheduled release pada tanggal 11 April 2022 (hingga 15 hari ke depan untuk keseluruhan visibilitas fitur). Akses kontekstual tersedia untuk paket subscription Google Workspace Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Standard, Education Plus, dan Cloud Identity Premium. Sedangkan untuk pengguna paket subscription Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Frontline, Nonprofits, G Suite Basic, dan G Suite Business belum bisa menggunakan fitur ini.  Baca juga: Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber Meningkatkan keamanan akses adalah kunci untuk meningkatkan keamanan keseluruhan sistem Anda. Dalam Google Workspace, akses dikelola oleh administrator. Itu artinya, jika administrator diberi kendali yang lebih baik, maka keamanan pun bisa ditingkatkan. Adanya fitur akses kontekstual pada Admin konsol Workspace memungkinkan Anda untuk bisa menikmati kemudahan tersebut. Jika sistem produktivitas yang Anda gunakan sekarang masih belum memberikan keamanan akses, Google Workspace bisa dijadikan solusi. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda memilih subscription plan Workspace yang paling sesuai. Anda bahkan bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Komunikasi dan Kolaborasi Hybrid Berbagai Ukuran Tim dengan Google Workspace

Situasi perlahan-lahan kembali normal. Salah satu tandanya adalah makin banyak kantor dan perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid. Beberapa karyawan tetap pergi ke kantor (WFO), sementara sisanya bisa bekerja dari rumah (WFH). Sebagai sebuah platform produktivitas, Google Workspace berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Workspace tidak sekadar menghadirkan suatu platform yang bisa bekerja, tapi juga berusaha menghadirkan pengalaman kerja hybrid yang lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pembaruan dan menambahkan fitur untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Artikel kali ini akan membahas beberapa fitur baru yang dikhususkan untuk memudahkan model kerja hybrid. Apa saja?  In-meeting reactions Bagi sebagian besar perusahaan yang menerapkan sistem hybrid, rapat biasanya menyertakan peserta di lokasi dan juga jarak jauh. Sebisa mungkin, meski rapat dilakukan secara hybrid, harus tetap terpadu dan produktif untuk semua. Google terus menyempurnakan Meet unutk memastikan bahwa seluruh rapat hybrid inklusif dan tentunya aman. Photo Credit: Google Cloud Blog Di bulan April 2022 ini, Google Meet meluncurkan fitur in-meeting reactions. Dengan fitur ini peserta rapat dapat berekspresi dengan memberikan emoji seperti ? ❤️ ?. Reaksi ini akan muncul di kotak video peserta (atau overflow jika kotak video mereka tidak terlihat). Pengalaman livestream yang ditingkatkan Dengan pembaruan ini, pengguna Google Meet dapat menyelenggarakan rapat dengan 500 peserta aktif dan kapabilitas untuk melakukan livestreaming ke audiens hingga 100.000 di seluruh domain Google Workspace tepercaya. Di akhir tahun 2022 nanti, Google berencana untuk meluncurkan fitur Q&A dan polling. Selain itu, Google juga tengah mengembangkan kapabilitas untuk melakukan livestreaming melalui platform YouTube. Jadi, pengguna nantinya bisa langsung menggulirkan rapat ke YouTube dari tab aktivitas Google Meet. Photo Credit: Google Cloud Blog Enkripsi dari sisi pengguna Di bulan Mei 2022 nanti, Google akan meluncurkan sebuah fitur untuk memastikan keamanan Anda dalam komunikasi yang paling sensitif sekali pun. Fitur client-side encryption tersebut akan beroperasi di Google Meet dan kini sedang menguji coba versi beta. Dengan adanya fitur ini pengguna akan mendapat kendali langsung atas kunci enkripsi dan penyedia identitas yang digunakan untuk mengakses kunci tersebut. Di akhir tahun nanti, Google Meet juga akan mencoba enkripsi end-to-end untuk seluruh rapat. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Kolaborasi untuk berbagai ukuran tim Layanan Spaces milik Google Workspace menawarkan solusi terintegrasi dan efektif untuk kolaborasi kapan saja. Anda bisa menjadikan Spaces sebagai tempat berbagi ide dan pengetahuan, mendiskusikan topik, dan mengelola tugas. Kini Google tengah menguji coba tampilan percakapan inline threading. Dengan tampilan ini, anggota sebuah space dapat merespons komentar tertentu dan membuat percakapan sampingan, sambil tetap menjaga dialog awal tetap mengalir. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk lebih mendukung kolaborasi dan transparansi, pada akhir Maret 2022 lalu, Google Workspace menyediakan kapabilitas baru yang memungkinkan pengguna mengundang orang lain untuk bergabung dengan Space melalui tautan bersama.  Spaces juga terus ditingkatkan untuk bisa memenuhi kebutuhan kolaborasi tim, apa pun ukurannya. Dalam update terbaru, Spaces kini dapat menampung hingga 8.000 anggota tim. Rencananya, jumlah tersebut juga akan terus ditambah hingga 25.000 pada akhir tahun 2022 nanti. Dengan begitu, seluruh bagian perusahaan bisa saling berbagi informasi dan melakukan kolaborasi dengan mudah. Baca juga: 5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul Sebagai sebuah platform produktivitas, Google Workspace akan terus menyesuikan perkembangan dunia kerja. Begitu pula saat pandemi menyerang dan mengubah sistem kerja konvensional. Workspace terus melakukan pengembangan agar bisa menyediakan platform yang memudahkan penggunanya dalam melakukan pekerjaan tanpa perlu mengkhawatirkan perubahan sistem kerja. Dengan menyatukan inovasi Google Workspace dalam suara, rapat video, dan ruang kolaborasi yang mendukung pekerjaan hybrid, perusahaan Anda dapat memperoleh manfaat dari strategi yang bebas gesekan, hemat biaya, dan minim risiko keamanan. Kini anda bisa menikmati berbagai kemudahan Google Workspace tersebut melalui EIKON Technology. Sebagai authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google, EIKON Technology menyediakan paket subscription Google Workspace yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda Untuk mulai memilih paket Google Workspace Anda, silakan klik di sini.

Google Cloud

Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud

Meningkatkan keamanan data warehouse merupakan salah satu visi pengembangan Google Cloud. Salah satunya adalah dengan menambahkan pembaruan pada portofolio cetak biru mereka, Secure Data Warehouse Blueprint.   Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan kemampuan cloud untuk menganalisis data sensitif mereka. Namun, sayangnya mereka masih harus menginvestasikan banyak waktu untuk melindungi data sensitif yang tersimpan di dalam data warehouse mereka. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Google Cloud baru saja merancang Secure Data Warehouse Blueprint yang baru. Apa itu Secure Data Warehouse Blueprint? Secure Data Warehouse Blueprint menerapkan praktik keamanan terbaik untuk membantu melindungi data dan mempercepat adopsi solusi Anda. Arsitektur yang diterapkan blueprint ini tidak hanya mencakup siklus hidup data, tapi juga menggabungkan postur tata kelola dan keamanan seperti yang terlihat dalam diagram berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen-komponen dalam Secure Data Warehouse Blueprint Secure Data Warehouse Blueprint terdiri dari beberapa komponen, di antaranya: Area pendaratan untuk menyerap data batch atau streaming. Komponen data warehouse, menangani penyimpanan dan de-identifikasi data, yang nantinya dapat diidentifikasi kembali melalui proses terpisah. Komponen klasifikasi dan tata kelola data mengelola kunci enkripsi, template de-identifikasi, dan taksonomi klasifikasi data. Komponen keamanan membantu dalam deteksi, pemantauan, dan respons. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Memanfaatkan Secure Data Warehouse Blueprint untuk mempercepat analisis bisnis Blueprint ini menyediakan teknik infrastructure as code (IaC) seperti mengkodifikasi infrastruktur dan mendeklarasikan lingkungan Anda sehingga tim IT dapat menganalisis kontrol dan membandingkannya dengan persyaratan perusahaan Anda untuk membuat, menerapkan, dan mengoperasikan data warehouse. Teknik IaC juga dapat membantu menyederhanakan tinjauan peraturan dan kepatuhan yang dilakukan perusahaan Anda. Blueprint ini mendukung fleksibilitas. Anda dapat memulai inisiatif baru atau mengkonfigurasinya untuk diterapkan ke lingkungan yang ada. Katakanlah Anda memilih untuk menggunakan jaringan dan modul logging cetak biru yang ada. Anda masih bisa menyimpan konfigurasi jaringan yang ada dan membandingkannya dengan rekomendasi blueprint untuk menyempurnakan lingkungan data warehouse Anda. Melindungi data dengan pengaturan keamanan berlapis Dengan menggunakan blueprint ini, Anda dapat menunjukkan kepada tim keamanan, risiko, dan kepatuhan kontrol keamanan mana yang diterapkan di lingkungan data warehouse. Diagram berikut menunjukkan tidak hanya layanan yang digunakan dalam arsitektur, tetapi juga bagaimana layanan bekerja sama untuk membantu melindungi data Anda. Kontrol Layanan VPC membuat batasan untuk mengelompokkan layanan berdasarkan masalah fungsional. Jembatan perimeter didefinisikan untuk memungkinkan komunikasi dan untuk memantau antara perimeter Photo Credit: Google Cloud Blog Perimeter tata kelola data mengontrol kunci enkripsi yang disimpan di Cloud HSM, template de-identifikasi yang digunakan oleh Cloud DLP, dan taksonomi klasifikasi data yang ditentukan dalam Data Catalog. Perimeter ini juga berfungsi sebagai lokasi pusat untuk audit logging dan monitoring. Perimeter penyerapan data menggunakan Dataflow untuk mengidentifikasi data Anda berdasarkan template de-identifikasi dan menyimpan data di BigQuery. Perimeter data rahasia mencakup kasus ketika data sensitif butuh diidentifikasi ulang. Pipeline Dataflow terpisah dibuat untuk mengirim data ke dataset BigQuery yang terisolasi pada proyek berbeda. Photo Credit: Piqsels Anda dapat menggunakan layanan tambahan dari blueprint Security Foundations. Blueprint tersebut menggunakan kontrol keamanan bawaan seperti Security Command Center, Cloud Logging, dan Cloud Monitoring. Bagian pencatatan dan pemantauannya menjelaskan bagaimana Security Command Center membantu kebutuhan deteksi ancaman Anda. Di samping itu, ada Security Health Analytics, sebuah layanan bawaan dari Security Command Center yang memantau setiap proyek agar tidak terjadi kesalahan konfigurasi. Log audit dikonfigurasi secara terpusat dengan CMEK untuk membantu pemantauan akses. Keamanan data warehouse Anda akan lebih teruji jika mendapatkan validasi dan perspektif dari luar. Untuk itu, Google Cybersecurity Action Team dan tim keamanan pihak ketiga telah meninjau kontrol serta postur keamanan yang ditetapkan oleh blueprint ini. Anda bisa mempelajari detailnya di sini. Tinjauan eksternal ini akan membantu Anda memahami bahwa penerapan praktik keamanan yang baik akan melindungi data, bahkan yang paling sensitif sekalipun. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Selain Secure Data Warehouse Blueprint yang dibahas dalam artikel ini, Google Cloud juga menawarkan beragam layanan dan solusi untuk meningkatkan keamanan data Anda. Bagi Anda yang belum berlangganan solusi Google Cloud, tidak perlu khawatir. EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Silakan klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Scroll to Top