EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Benarkah Desentralisasi Adalah Masa Depan Identitas Digital?

Tanpa disadari, identitas digital perlahan-lahan menjadi identitas utama kita. Makin hari, makin banyak identitas fisik yang berubah menjadi format digital. Kegunaannya pun makin luas, dipakai untuk bekerja, belajar, berbelanja, bahkan bersosialisasi. Transformasi besar ini tidak begitu terasa karena berbagai kemudahan yang ditawarkan. Anda tak perlu lagi khawatir lupa membawa kartu identitas. Sebab semuanya telah tersedia dalam genggaman dan begitu mudah diakses. Namun kini identitas digital disinyalir akan mengalami perubahan. Transisi ini dianggap akan memberikan keamanan, kerahasiaan, dan kepraktisan yang lebih baik lagi. Seperti apa format baru identitas digital ini? Transformasi identitas digital Identitas digital kini tengah berada di ambang transformasi menuju identitas suatu identitas baru yang lebih aman, mementingkan privasi, dan portabel. Sebelumnya, identitas dibangun berdasarkan hubungan tunggal antara perusahaan penyedia layanan dengan masing-masing pengguna. Pengembangan terpisah ini kemudian disimpan dalam sebuah database yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Tanpa banyak disadari, hal ini berpotensi meningkatkan risiko pelanggaran keamanan dan privasi. Di sisi lain, digitalisasi proses bisnis atau identitas fisik tidak mampu meminimalisir risiko tersebut. Pengguna sebenarnya lebih membutuhkan sistem yang dapat menyatukan identitas. Suatu sistem yang dimiliki dan dikelola oleh pengguna sendiri. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI  Perbedaan antara digitalisasi dengan desentralisasi identitas Photo Credit: Microsoft Security Ada beberapa hal yang membuat digitalisasi dan desentralisasi identitas lebih mudah dibedakan. Berikut adalah beberapa di antaranya: Tingkat keamanan Secara sederhana, digitalisasi adalah bentuk digital dari identitas. Meski begitu, bukan berarti tingkat keamanan yang ditawarkan sama. Katakanlah Anda memindai KTP dan kemudian menyimpan file jpg dari dokumen tersebut. Apakah lantas file tersebut bisa menggantikan KTP asli? Tentu tidak. Begitu pula saat file KTP tersebut kemudian Anda unggah ke sebuah aplikasi, maka data identitas pun akan berpindah ke perusahaan pemilik aplikasi. Namun pada desentralisasi, identitas memiliki tingkat keamanan yang sama. Sebab, identitas tersebut dilindungi oleh kredensial digital pemiliknya. Pengguna dapat menggunakan dompet terenkripsi untuk menyimpan dan mengelola identitas tersebut. Jauh dari risiko pencurian data oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Privasi dan perlindungan data Photo Credit: Freepik Dengan meningkatnya digitalisasi, privasi menjadi prioritas utama. Orang-orang semakin sadar akan keberadaan perusahaan yang mengumpulkan data pengguna dan mengambil untung darinya. Beberapa kemudian beralih ke VPN (virtual private network) atau menggunakan informasi samaran. Di beberapa negara juga muncul kebijakan yang mengatur masalah data pribadi pengguna. Salah satunya adalah General Data Protection Regulation (GDPR) yang berlaku di Eropa. Namun sayangnya kebijakan tersebut belum bisa menyelesaikan masalah tersebut sepenuhnya. Konsep identitas baru menerapkan teknologi zero-knowledge proofs. Teknologi ini memungkinkan satu pihak membuktikan kepada pihak lain bahwa pernyataan yang diberikan benar atau salah. Hal ini akan membatasi data yang dibagikan sesuai dengan kehendak pengguna. Bagi perusahaan, teknologi ini akan mengurangi beban pengelolaan personally identifiable information (PII). Sebab, pengguna memiliki kontrol penuh hal-hal yang mereka bagikan. Portabilitas dan visibilitas Photo Credit: Rawpixel Sebelum penyimpanan cloud sepopuler sekarang, pengguna internet biasanya menyimpan back-up data melalui email. Hal ini memang dapat mencegah risiko kehilangan data. Namun bagaimana jika Anda membuat banyak salinan data sehingga sulit mengetahui mana file yang paling baru? Pada konsep desentralisasi, pengguna dapat menyimpan bagian asli dari data identitas sebagai kredensial di perangkat mereka sendiri. Bahkan nantinya kredensial tersebut dapat ditandatangani secara kriptografis menggunakan kunci pribadi. Kemudian perusahaan dapat memverifikasi bahwa data tersebut berasal dari sumber otoritatif. Pengguna dapat mempertahankan visibilitas mengenai penggunaan data dan durasi akses bagi perusahaan. Penggunaan spesifikasi standar terbuka, seperti kredensial yang dapat diverifikasi dari World Wide Web Consortium (W3C), memudahkan pengguna individu dan perusahaan untuk menerima dan menyajikan kredensial di seluruh platform dan layanan. Hal ini memungkinkan orang untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan perusahaan. Baca juga:  Mengatasi Ancaman Keamanan Siber dengan Cyber Signals Anda dapat menemukan solusi identitas digital melalui Microsoft Security, platform keamanan yang memberikan perlindungan kepada pengguna terhadap serangan siber. Untuk perlindungan komprehensif, Microsoft Security akan berjalan optimal pada ekosistem Microsoft. Sebagai dukungan, Anda bisa menerapkan Microsoft Azure sebagai penyimpanan berbasis awan. EIKON Technology menyediakan solusi penerapan cloud service Azure yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi komputasi awan dari Microsoft, silakan klik di sini.

Appsheet, Google Workspace

Kenalan dengan Apps Script Connector for AppSheet untuk Otomatisasi Alur Kerja Google Workspace

Google baru saja meluncurkan Apps Script connector for AppSheet, sebuah kapabilitas yang memungkinkan Anda untuk memanggil fungsi kode Apps Script dari sebuah aplikasi AppSheet tanpa kode. Kapabilitas baru ini memperluas kemampuan AppSheet dalam mengakses resources yang disediakan Apps Script. Contohnya, kini Anda dapat menggunakan Apps Script untuk otomatisasi alur kerja di Google Workspace dengan Workspace APIs for Drive, Docs, Sheets, dan Admin SDK, bahkan layanan Google lainnya seperti YouTube dan BigQuery. Google AppSheet AppSheet sendiri merupakan sebuah platform untuk membangun aplikasi tanpa kode dan alur kerja untuk otomatisasi proses bisnis. Dengannya, Anda dapat merancang dan meluncurkan aplikasi serta otomatisasi tanpa menggunakan kode. Photo Credit: Google Developers Blog Apps Script connector for AppSheet Apps Script connector for AppSheet resmi diperkenalkan pada pertengahan April 2022 ini. Kapabilitas ini menggabungkan beberapa layanan Google sekaligus: AppSheet, Apps Script, Workspace, serta APIs pengembangan Workspace. Integrasi ini memungkinkan para developer untuk memanggil dan meneruskan data ke fungsi Apps Script. Salah satu manfaat terbesar AppSheet adalah memungkinkan Anda untuk menerapkan aplikasi end-to-end yang sebenarnya dengan UI (frontend). Dengan kemampuan baru untuk memanggil kode Apps Script ini, membuat atau mengganti frontend yang ada dengan aplikasi AppSheet tanpa kode menjadi opsi yang sangat memudahkan. Baca juga: Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet Mulai menggunakan Apps Script connector for AppSheet Di AppSheet, konfigurasi dapat dilakukan hanya dengan skrip itu sendiri. Ide intinya adalah pembuat aplikasi memilih skrip Apps Script untuk dipanggil dengan mengonfigurasi “Task” AppSheet, yang merupakan tindakan saat AppSheet Automation dijalankan. Tindakan seperti itu biasanya terjadi dalam konteks baris data tertentu di sumber data AppSheet. Misalnya, otomatisasi dapat dipicu saat catatan data baru dibuat oleh salah satu end-user aplikasi. Terakhir, pembuat aplikasi dapat menentukan nilai untuk diteruskan ke parameter fungsi Apps Script berdasarkan nilai dalam rekaman data aktif. Photo Credit: Google Developers Blog Berikut cara memulainya dalam lima langkah mudah: Di AppSheet, pilih layar Automation, buat Bot baru dengan Event terkait untuk didengarkan, dan terakhir pilih opsi Call a script untuk Task tersebut. Photo Credit: Google Developers Blog Kemudian, di bawah “Apps Script Project”, pilih skrip yang akan dipanggil. Kode ini akan dibuat menggunakan editor Apps Script, dan akan berada di Google Drive App Creator. Photo Credit: Google Developers Blog Setelah dipilih, daftar fungsi yang tersedia di proyek Apps Script akan ditampilkan dalam Function name. Di sini, pilih fungsi yang akan dipanggil dari AppSheet. Jika sudah memilih fungsi yang akan dipanggil, daftar parameternya (data tambahan yang diteruskan saat memanggil fungsi). Photo Credit: Google Developers Blog Untuk setiap parameter fungsi, gunakan AppSheet Expression Assistant untuk menentukan nilai yang akan diteruskan untuk parameter saat otomatisasi dipanggil. Ekspresi dapat berupa kolom sederhana di sumber data aplikasi AppSheet, atau fungsi atau komputasi yang lebih kompleks yang melibatkan banyak kolom. Photo Credit: Google Developers Blog Terakhir, simpan Task di AppSheet Editor menggunakan tombol Save. Selesai! Saat otomatisasi dipicu (misalnya, saat pengguna menambahkan baris data baru), mesin otomatisasi AppSheet akan memanggil fungsi Apps Script yang ditentukan, meneruskan nilai dari ekspresi yang dievaluasi sebagai argumen fungsi. Detail tentang panggilan fungsi akan tersedia di AppSheet Automation Monitor. Baca juga: Tips Meningkatkan Fleksibilitas Kerja dengan AppSheet Dengan adanya kapabilitas Apps Script connector for AppSheet, kini developer dapat memanggil fungsi kode Apps Script dari sebuah aplikasi AppSheet tanpa kode dengan mudah. Menariknya lagi, kapabilitas baru ini juga telah terhubung dengan berbagai resources Workspace APIs for Drive dan bahkan berbagai layanan Google seperti YouTube dan Analytics. Bahkan kapabilitas ini dapat digunakan untuk otomatisasi alur kerja Google Workspace. Untuk mengoptimalkan penggunaan kapabilitas ini memang disarankan integrasi dengan layanan Google lainnya. Integrasi dengan berbagai layanan Google kini jauh lebih mudah melalui Google Workspace. Mulai berlangganan Google Workspace untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Kami siap mendampingi Anda mulai dari proses pemilihan paket hingga penerapan. Informasi lebih lanjut silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual

Salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Anda selama berada di ekosistem Google Workspace adalah dengan memperketat akses. Google telah melakukan beberapa pembaruan yang memungkinkan Anda mengatur akses sesuai kebutuhan. Ini berarti, Anda bisa memberikan keamanan terbaik tanpa harus mengorbankan kemudahan akses menuju berbagai layanan yang ada di Google Workspace. Salah satu update terbaru Google Workspace terkait kontrol akses baru saja diluncurkan bulan April 2022 ini. Dalam pembaruan tersebut, secara spesifik Google memberikan keamanan lanjutan terhadap konsol administrator. Untuk mengetahui detailnya, mari simak uraian berikut. Konsol Admin Google Workspace Untuk setiap paket subscription Workspace, Google menyediakan konsol Admin. Konsol ini merupakan sebuah kontrol terpusat yang mengatur seluruh end-user layanan Workspace dalam perusahaan atau institusi Anda. Dengan administrasi terpusat maka pengelolaan akun end-user pun menjadi cepat dan mudah. Kapabilitas ini juga telah dilengkapi fitur Cloud Identity terintegrasi untuk mengelola pengguna dan menyiapkan opsi keamanan seperti verifikasi 2 langkah dan kunci keamanan. Akses kontekstual konsol Admin Pada update yang diluncurkan tanggal 11 April 2022, Google Workspace mengumumkan ketersediaan akses kontekstual terhadap konsol Admin. Lewat fitur ini Anda dapat mengatur akses menuju konsol Admin dalam konteks pengguna dan perangkat yang digunakan. Misalnya, Anda dapat membatasi akses menuju konsol Admin untuk alamat IP (internet protocol) tertentu. Atau contoh lainnya yaitu memberikan akses hanya untuk pengguna yang menggunakan sistem operasi Chrome versi tertentu. Photo Credit: ArthurHidden (Freepik) Dengan adanya pembaruan ini Anda masih tetap dapat menyetel kebijakan akses, seperti verifikasi 2 langkah atau akses untuk semua anggota unit. Fitur ini menyediakan kontrol granular dan kontekstual tambahan bagi pengguna tersebut. Perlu diingat juga, akses untuk aplikasi akan dievaluasi terus-menerus setelah diberikan. Pengecualian untuk aturan ini adalah akses menuju aplikasi SAML, yang dievaluasi saat masuk. Update ini diharapkan bisa meningkatkan keamanan untuk keseluruhan sistem Anda. Selain itu, dengan membatasi akses menuju konsol Admin, maka risiko terjadi kesalahan pemberian akses pun dapat diminimalisir. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Contoh penerapan akses kontekstual Anda bisa menerapkan fitur akses kontekstual ini untuk beberapa keperluan, misalnya: Memberikan akses menuju aplikasi hanya untuk perangkat milik perusahaan. Membatasi akses menuju folder di Drive hanya jika perangkat penyimpanan milik end-user dienkripsi terlebih dahulu. Menolak akses menuju aplikasi jika pengguna tidak menggunakan jaringan milik perusahaan. Mulai menerapkan fitur akses kontekstual Untuk mulai menerapkan fitur akses kontekstual ini sebenarnya sangat mudah. Setelah Anda melakukan pembaruan (tersedia juga opsi untuk melakukan pembaruan otomatis), Google Workspace secara default akan menampilkan fitur ini. Bagi Anda yang diberi tanggung jawab sebagai administrator bisa mengakses layanan Help Center Google Workspace dan membuka halaman context-aware access overview untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengaturan akses kontekstual ini. Sedangkan untuk end-user tidak melakukan pengaturan apa pun karena fitur ini hanya dapat diakses oleh administrator melalui konsol Admin. Ketersediaan akses kontekstual Photo Credit: lookstudio (Freepik) Fitur akses kontekstual ini telah diluncurkan melalui domain rapid release sekaligus scheduled release pada tanggal 11 April 2022 (hingga 15 hari ke depan untuk keseluruhan visibilitas fitur). Akses kontekstual tersedia untuk paket subscription Google Workspace Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Standard, Education Plus, dan Cloud Identity Premium. Sedangkan untuk pengguna paket subscription Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Frontline, Nonprofits, G Suite Basic, dan G Suite Business belum bisa menggunakan fitur ini.  Baca juga: Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber Meningkatkan keamanan akses adalah kunci untuk meningkatkan keamanan keseluruhan sistem Anda. Dalam Google Workspace, akses dikelola oleh administrator. Itu artinya, jika administrator diberi kendali yang lebih baik, maka keamanan pun bisa ditingkatkan. Adanya fitur akses kontekstual pada Admin konsol Workspace memungkinkan Anda untuk bisa menikmati kemudahan tersebut. Jika sistem produktivitas yang Anda gunakan sekarang masih belum memberikan keamanan akses, Google Workspace bisa dijadikan solusi. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda memilih subscription plan Workspace yang paling sesuai. Anda bahkan bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Komunikasi dan Kolaborasi Hybrid Berbagai Ukuran Tim dengan Google Workspace

Situasi perlahan-lahan kembali normal. Salah satu tandanya adalah makin banyak kantor dan perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid. Beberapa karyawan tetap pergi ke kantor (WFO), sementara sisanya bisa bekerja dari rumah (WFH). Sebagai sebuah platform produktivitas, Google Workspace berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Workspace tidak sekadar menghadirkan suatu platform yang bisa bekerja, tapi juga berusaha menghadirkan pengalaman kerja hybrid yang lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pembaruan dan menambahkan fitur untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Artikel kali ini akan membahas beberapa fitur baru yang dikhususkan untuk memudahkan model kerja hybrid. Apa saja?  In-meeting reactions Bagi sebagian besar perusahaan yang menerapkan sistem hybrid, rapat biasanya menyertakan peserta di lokasi dan juga jarak jauh. Sebisa mungkin, meski rapat dilakukan secara hybrid, harus tetap terpadu dan produktif untuk semua. Google terus menyempurnakan Meet unutk memastikan bahwa seluruh rapat hybrid inklusif dan tentunya aman. Photo Credit: Google Cloud Blog Di bulan April 2022 ini, Google Meet meluncurkan fitur in-meeting reactions. Dengan fitur ini peserta rapat dapat berekspresi dengan memberikan emoji seperti ? ❤️ ?. Reaksi ini akan muncul di kotak video peserta (atau overflow jika kotak video mereka tidak terlihat). Pengalaman livestream yang ditingkatkan Dengan pembaruan ini, pengguna Google Meet dapat menyelenggarakan rapat dengan 500 peserta aktif dan kapabilitas untuk melakukan livestreaming ke audiens hingga 100.000 di seluruh domain Google Workspace tepercaya. Di akhir tahun 2022 nanti, Google berencana untuk meluncurkan fitur Q&A dan polling. Selain itu, Google juga tengah mengembangkan kapabilitas untuk melakukan livestreaming melalui platform YouTube. Jadi, pengguna nantinya bisa langsung menggulirkan rapat ke YouTube dari tab aktivitas Google Meet. Photo Credit: Google Cloud Blog Enkripsi dari sisi pengguna Di bulan Mei 2022 nanti, Google akan meluncurkan sebuah fitur untuk memastikan keamanan Anda dalam komunikasi yang paling sensitif sekali pun. Fitur client-side encryption tersebut akan beroperasi di Google Meet dan kini sedang menguji coba versi beta. Dengan adanya fitur ini pengguna akan mendapat kendali langsung atas kunci enkripsi dan penyedia identitas yang digunakan untuk mengakses kunci tersebut. Di akhir tahun nanti, Google Meet juga akan mencoba enkripsi end-to-end untuk seluruh rapat. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Kolaborasi untuk berbagai ukuran tim Layanan Spaces milik Google Workspace menawarkan solusi terintegrasi dan efektif untuk kolaborasi kapan saja. Anda bisa menjadikan Spaces sebagai tempat berbagi ide dan pengetahuan, mendiskusikan topik, dan mengelola tugas. Kini Google tengah menguji coba tampilan percakapan inline threading. Dengan tampilan ini, anggota sebuah space dapat merespons komentar tertentu dan membuat percakapan sampingan, sambil tetap menjaga dialog awal tetap mengalir. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk lebih mendukung kolaborasi dan transparansi, pada akhir Maret 2022 lalu, Google Workspace menyediakan kapabilitas baru yang memungkinkan pengguna mengundang orang lain untuk bergabung dengan Space melalui tautan bersama.  Spaces juga terus ditingkatkan untuk bisa memenuhi kebutuhan kolaborasi tim, apa pun ukurannya. Dalam update terbaru, Spaces kini dapat menampung hingga 8.000 anggota tim. Rencananya, jumlah tersebut juga akan terus ditambah hingga 25.000 pada akhir tahun 2022 nanti. Dengan begitu, seluruh bagian perusahaan bisa saling berbagi informasi dan melakukan kolaborasi dengan mudah. Baca juga: 5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul Sebagai sebuah platform produktivitas, Google Workspace akan terus menyesuikan perkembangan dunia kerja. Begitu pula saat pandemi menyerang dan mengubah sistem kerja konvensional. Workspace terus melakukan pengembangan agar bisa menyediakan platform yang memudahkan penggunanya dalam melakukan pekerjaan tanpa perlu mengkhawatirkan perubahan sistem kerja. Dengan menyatukan inovasi Google Workspace dalam suara, rapat video, dan ruang kolaborasi yang mendukung pekerjaan hybrid, perusahaan Anda dapat memperoleh manfaat dari strategi yang bebas gesekan, hemat biaya, dan minim risiko keamanan. Kini anda bisa menikmati berbagai kemudahan Google Workspace tersebut melalui EIKON Technology. Sebagai authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google, EIKON Technology menyediakan paket subscription Google Workspace yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda Untuk mulai memilih paket Google Workspace Anda, silakan klik di sini.

Google Cloud

Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud

Meningkatkan keamanan data warehouse merupakan salah satu visi pengembangan Google Cloud. Salah satunya adalah dengan menambahkan pembaruan pada portofolio cetak biru mereka, Secure Data Warehouse Blueprint.   Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan kemampuan cloud untuk menganalisis data sensitif mereka. Namun, sayangnya mereka masih harus menginvestasikan banyak waktu untuk melindungi data sensitif yang tersimpan di dalam data warehouse mereka. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Google Cloud baru saja merancang Secure Data Warehouse Blueprint yang baru. Apa itu Secure Data Warehouse Blueprint? Secure Data Warehouse Blueprint menerapkan praktik keamanan terbaik untuk membantu melindungi data dan mempercepat adopsi solusi Anda. Arsitektur yang diterapkan blueprint ini tidak hanya mencakup siklus hidup data, tapi juga menggabungkan postur tata kelola dan keamanan seperti yang terlihat dalam diagram berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen-komponen dalam Secure Data Warehouse Blueprint Secure Data Warehouse Blueprint terdiri dari beberapa komponen, di antaranya: Area pendaratan untuk menyerap data batch atau streaming. Komponen data warehouse, menangani penyimpanan dan de-identifikasi data, yang nantinya dapat diidentifikasi kembali melalui proses terpisah. Komponen klasifikasi dan tata kelola data mengelola kunci enkripsi, template de-identifikasi, dan taksonomi klasifikasi data. Komponen keamanan membantu dalam deteksi, pemantauan, dan respons. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Memanfaatkan Secure Data Warehouse Blueprint untuk mempercepat analisis bisnis Blueprint ini menyediakan teknik infrastructure as code (IaC) seperti mengkodifikasi infrastruktur dan mendeklarasikan lingkungan Anda sehingga tim IT dapat menganalisis kontrol dan membandingkannya dengan persyaratan perusahaan Anda untuk membuat, menerapkan, dan mengoperasikan data warehouse. Teknik IaC juga dapat membantu menyederhanakan tinjauan peraturan dan kepatuhan yang dilakukan perusahaan Anda. Blueprint ini mendukung fleksibilitas. Anda dapat memulai inisiatif baru atau mengkonfigurasinya untuk diterapkan ke lingkungan yang ada. Katakanlah Anda memilih untuk menggunakan jaringan dan modul logging cetak biru yang ada. Anda masih bisa menyimpan konfigurasi jaringan yang ada dan membandingkannya dengan rekomendasi blueprint untuk menyempurnakan lingkungan data warehouse Anda. Melindungi data dengan pengaturan keamanan berlapis Dengan menggunakan blueprint ini, Anda dapat menunjukkan kepada tim keamanan, risiko, dan kepatuhan kontrol keamanan mana yang diterapkan di lingkungan data warehouse. Diagram berikut menunjukkan tidak hanya layanan yang digunakan dalam arsitektur, tetapi juga bagaimana layanan bekerja sama untuk membantu melindungi data Anda. Kontrol Layanan VPC membuat batasan untuk mengelompokkan layanan berdasarkan masalah fungsional. Jembatan perimeter didefinisikan untuk memungkinkan komunikasi dan untuk memantau antara perimeter Photo Credit: Google Cloud Blog Perimeter tata kelola data mengontrol kunci enkripsi yang disimpan di Cloud HSM, template de-identifikasi yang digunakan oleh Cloud DLP, dan taksonomi klasifikasi data yang ditentukan dalam Data Catalog. Perimeter ini juga berfungsi sebagai lokasi pusat untuk audit logging dan monitoring. Perimeter penyerapan data menggunakan Dataflow untuk mengidentifikasi data Anda berdasarkan template de-identifikasi dan menyimpan data di BigQuery. Perimeter data rahasia mencakup kasus ketika data sensitif butuh diidentifikasi ulang. Pipeline Dataflow terpisah dibuat untuk mengirim data ke dataset BigQuery yang terisolasi pada proyek berbeda. Photo Credit: Piqsels Anda dapat menggunakan layanan tambahan dari blueprint Security Foundations. Blueprint tersebut menggunakan kontrol keamanan bawaan seperti Security Command Center, Cloud Logging, dan Cloud Monitoring. Bagian pencatatan dan pemantauannya menjelaskan bagaimana Security Command Center membantu kebutuhan deteksi ancaman Anda. Di samping itu, ada Security Health Analytics, sebuah layanan bawaan dari Security Command Center yang memantau setiap proyek agar tidak terjadi kesalahan konfigurasi. Log audit dikonfigurasi secara terpusat dengan CMEK untuk membantu pemantauan akses. Keamanan data warehouse Anda akan lebih teruji jika mendapatkan validasi dan perspektif dari luar. Untuk itu, Google Cybersecurity Action Team dan tim keamanan pihak ketiga telah meninjau kontrol serta postur keamanan yang ditetapkan oleh blueprint ini. Anda bisa mempelajari detailnya di sini. Tinjauan eksternal ini akan membantu Anda memahami bahwa penerapan praktik keamanan yang baik akan melindungi data, bahkan yang paling sensitif sekalipun. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Selain Secure Data Warehouse Blueprint yang dibahas dalam artikel ini, Google Cloud juga menawarkan beragam layanan dan solusi untuk meningkatkan keamanan data Anda. Bagi Anda yang belum berlangganan solusi Google Cloud, tidak perlu khawatir. EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Silakan klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program

Baru-baru ini, Google memperkenalkan sebuah layanan migrasi data bernama Database Migration Program. Layanan ini menawarkan sebuah pendekatan baru untuk memigrasikan database open source maupun kepemilikan yang ada ke layanan database terkelola Google Cloud. Dengan Database Migration Program, Anda akan mendapatkan akses menuju penilaian, peralatan, praktik terbaik, dan sumber daya dari jaringan mitra teknologi basis data khusus dari Google. Program ini juga menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database ke Google Cloud dengan cepat dan hemat biaya. Kemudahan yang ditawarkan penyimpanan cloud Selama beberapa tahun terakhir, sudah banyak perusahaan yang menyadari manfaat cloud dalam perjalanan modernisasi aplikasi mereka. Cloud membantu mereka menjadi lebih efisien, terukur, gesit, dan inovatif. Selain itu, database cloud terkelola biasanya menghasilkan biaya kepemilikan yang lebih rendah secara keseluruhan. Namun, banyak perusahaan terus mengelola database sendiri di cloud instances atau membiarkan database on premise, bahkan saat aplikasi berjalan di cloud. Alasan utamanya adalah kompleksitas migrasi database. Database adalah inti dari operasi sehari-hari setiap perusahaan, membuatnya lebih sulit untuk dipindahkan. Selain itu, migrasi bisa mahal, memakan waktu, dan berisiko. Baca juga: 3 Alasan Mengapa Anda Harus Menambahkan Cloud sebagai Data Strategy Database Migration Program sebagai solusi migrasi data Photo Credit: jcomp (Freepik) Database Migration Program dari Google Cloud ini berupaya mengatasi kerumitan proses tersebut dengan memberikan panduan dan dukungan komprehensif. Penilaian dari Google akan membantu Anda memahami jejak armada database, dependensi dan arsitekturnya. Google Cloud juga terhubung dengan mitra khusus yang dapat membantu lewat keahlian mereka mengenai tools dan resource untuk memindahkan data tanpa mengganggu bisnis Anda. Selain itu, Google Cloud menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database dengan cepat dan hemat biaya. Tiga langkah untuk migrasi data yang sukses Database Migration Program memandu Anda mulai dari tahap penilaian dan perencanaan awal hingga proses migrasi itu sendiri. Tentunya dengan bantuan ahli dari mitra database yang telah memenuhi persyaratan. Berikut cara Google Cloud membantu di setiap tahap perjalanan migrasi database melalui Database Migration Program: Menilai: Pada tahap ini dilakukan penilaian database untuk menemukan dan menganalisis database dan aplikasi yang Anda miliki. Agar proses berjalan lancar, manfaatkan tool dan resources khusus yang telah disediakan. Jangan lupa, Google juga telah terhubung dengan pakar database yang siap memberikan panduan berdasarkan kebutuhan dan persyaratan khusus Anda. Rencanakan: Database Migration Program terhubung dengan mitra database khusus Google Cloud yang dapat membantu Anda membuat rencana migrasi, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan resources dan perkiraan biaya.  Layanan ini juga dapat membantu mengidentifikasi beban kerja yang tepat untuk memulai migrasi Anda. Jalankan: Database Migration Program menyediakan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi sebagian biaya migrasi Anda dengan membantu membayar mitra teknologi spesialis yang melakukan migrasi database. Tidak perlu memindahkan semuanya sekaligus, Anda bisa mulai dengan memindahkan satu departemen atau database pada satu waktu dan menggunakan program lagi sebanyak yang Anda butuhkan. Photo Credit: tirachardz (Freepik) Baca juga: Alur Sederhana untuk Merencanakan Migrasi Cloud Google Cloud terus berupaya untuk menghadirkan solusi dan layanan yang memudahkan Anda dalam mengoptimalkan penggunaan cloud. Hadirnya Database Migration Program dapat dimanfaatkan untuk menyederhanakan migrasi data, suatu proses yang selama ini dianggap sangat kompleks dan membutuhkan waktu lama. Agar tidak ketinggalan berbagai kemudahan tersebut, segera gunakan Google Cloud sebagai solusi penyimpanan database Anda. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda menyediakan produk Google Cloud resmi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Chromebook

Langkah Chrome untuk Memastikan Keamanan Data Anda

Keamanan data menjadi sorotan penting akhir-akhir ini. Laporan dari Purplesec menyebutkan bahwa kejahatan siber meningkat hingga 600% selama masa pandemi. Di samping itu, IBM menemukan bahwa kerugian finansial yang disebabkan data breaching telah mencapai US$137.000 selama kebijakan work from home diterapkan. Angka-angka tersebut jelas tidak bisa dianggap remeh. Pengguna internet perlu menerapkan penggunaan alat yang mampu melindungi keamanan data mereka sekaligus memberikan mitigasi risiko yang cepat. Melalui perambannya, Chrome terus berusaha menyediakan solusi yang aman. Secara proaktif, Chrome meningkatkan keamanan web untuk menjaga keamanan data pengguna. Hal ini bisa dilihat dari berbagai inovasi keamanan yang ditawarkan Chrome seperti sandbox dan isolasi situs. Keamanan default Chrome memiliki banyak perlindungan bawaan yang diterapkan secara default. Dengan mengaktifkan pembaruan otomatis, Chrome menawarkan perbaikan cepat dan otomatis kepada perusahaan untuk kerentanan zero day. Chrome juga menghadirkan pertahanan mendalam yang mencakup kemampuan seperti isolasi situs dan sandbox agar kode berbahaya tidak memengaruhi situs lain atau bahkan perangkat pengguna. Infrastruktur pemindaian dari Chrome mendeteksi dan menghapus ekstensi berbahaya dari Chrome Web Store (tercatat, pada tahun 2021, penurunan nyaris mencapai 90%) untuk mencegah pengguna terinfeksi ekstensi berbahaya. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Perlindungan terhadap pengguna Chrome Photo Credit: lookstudio (Freepik) Chrome menawarkan lapisan perlindungan tambahan yang menjaga pengguna tetap aman dan memberikan informasi berguna setiap kali muncul potensi risiko keamanan. Misalnya, Safe Browsing (fitur bawaan Chrome) untuk melindungi perangkat dengan menampilkan peringatan kepada pengguna saat mereka mencoba menavigasi ke situs berbahaya atau mengunduh file berbahaya. Chrome juga memberikan insight mengenai keamanan kata sandi, memberi tahu pengguna jika kata sandi mereka telah disusupi atau bahkan meminta mereka untuk mengubah kata sandi. Kontrol perusahaan Setiap perusahaan pasti memiliki kebutuhan keamanan yang unik. Itulah sebabnya Chrome memberi perlindungan lanjutan dan pengelolaan kebijakan terperinci khusus perusahaan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan ratusan opsi kebijakan, administrator dapat menggunakan berbagai alat pengelolaan, termasuk Chrome Browser Cloud Management, untuk menyesuaikan browser. Chrome Browser Cloud Management menyediakan pengelolaan ekstensi perusahaan yang andal serta prioritas keamanan bagi banyak organisasi. Photo Credit: Google Cloud Blog Alur kerja permintaan ekstensi yang dimiliki Chrome memungkinkan pengguna meminta ekstensi dan administrator mengizinkan atau menolak permintaan tersebut. Baru-baru ini Chrome juga telah merilis penyematan ekstensi yang memungkinkan administrator memasang pin ke versi ekstensi tertentu untuk mendukung proses peninjauan keamanan internal apa pun. Di samping itu, visibilitas dan pelaporan adalah area fokus lain yang mendukung tim IT perusahaan. Melalui Chrome Browser Cloud Management, administrator dapat memperoleh lebih banyak insight mengenai lingkungan browser mereka. Data ini akan membantu tim IT dalam membuat keputusan keamanan, memahami perangkat yang menjalankan Chrome, dan menyelidiki jika masalah muncul. Keamanan Zero Trust Terakhir, Chrome juga dapat membantu Anda dalam melakukan modernisasi strategi keamanan perusahaan dengan migrasi ke model akses Zero Trust. BeyondCorp Enterprise membantu mengamankan end point dengan integrasi Threat and Data Protection secara langsung di Chrome. Ini akan melindungi Anda dari risiko kehilangan data yang disengaja atau tidak disengaja sekaligus mencegah malware dan phising secara real-time. Selain itu, Chrome dan BeyondCorp Enterprise juga telah memberi dukungan kepercayaan perangkat dan sinyal keamanan end point langsung dari browser yang secara signifikan mengurangi penerapan Zero Trusy di lingkungan Anda. Lebih lanjut mengenai keamanan Chrome, Anda bisa mengakses Chrome 2.1 CIS Benchmark yang baru. Indikator tersebut mencakup rekomendasi independen tentang kebijakan Chrome mana yang harus dikonfigurasi untuk membantu mendukung kebutuhan keamanan dan kepatuhan perusahaan. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust Pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service Meski risiko yang mengancam keamanan data terus meningkat, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan apa-apa. Chrome menawarkan beberapa opsi keamanan yang bisa Anda manfaatkan untuk menelusuri internet dengan aman. Agar perlindungan keamanan data semakin optimal, Anda bisa mempertimbangkan perangkat Chromebook. Dengan sistem operasi Chrome, perangkat Chromebook tidak hanya mudah dioperasikan tapi juga mampu menjamin keamanan data Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pilihan perangkat Chromebook, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah

BigQuery baru saja memperkenalkan kapabilitas baru yang memungkinkan Anda untuk bisa menemukan elemen data unik dalam teks tak terstruktur dan JSON yang semi-terstruktur, tanpa harus mengetahui skema tabel terlebih dulu. Pembaruan ini akan membantu Anda meningkatkan kinerja dan biaya saat harus menemukan baris data alih-alih agregasi. Misalnya, mengidentifikasi baris data yang terkait dengan pengguna untuk pelaporan GDPR (General Data Protection Regulation). Indeks penelusuran ini sepenuhnya tanpa server dan dikelola oleh BigQuery. Contoh penggunaan fungsi dan indeks penelusuran BigQuery   Kasus Contoh Penggunaan Dasbor yang perlu filter selektif Mengiris dan memotong data berdasarkan item inventaris yang berbeda Identifikasi subset data yang ditargetkan dalam set data besar Buat kohort pasien dengan mutasi gen yang tepat Proses regulasi yang memerlukan pencarian elemen data spesifik Temukan dan hapus catatan pengguna untuk GDPR Pemecahan masalah pengembang Identifikasi entri log aplikasi yang terkait dengan kode kesalahan tertentu Audit keamanan Tinjau semua aktivitas jaringan dari alamat IP tertentu Bagaimana indeks penelusuran BigQuery bekerja Indeks penelusuran adalah indeks terbalik yang berada di samping data BigQuery utama Anda. Fungsinya adalah untuk mempercepat pencarian titik dengan memberikan insight mengenai lokasi elemen data tertentu di penyimpanan dasar tabel. Berikut adalah beberapa kemudahan yang ditawarkan fitur penelusuran BigQuery: Pencarian skala besar Indeks penelusuran BigQuery menawarkan skala petabyte untuk menyimpan semua log real-time dan historis. Sehingga sesuai untuk analitik keamanan, ancaman sistem yang tidak spesifik dan lokal, beberapa cloud, dan Kubernetes. Misalnya, jika seorang peretas masuk ke GCP, mereka kemungkinan juga akan masuk ke komponen lain dan Anda ingin melacaknya di satu lokasi. Dengan BigQuery, Anda memiliki skalabilitas tanpa batas dan performa kueri yang sangat cepat. Pengguna bahkan dapat mencari di beberapa kolom sekaligus dan tidak perlu khawatir tentang di mana elemen yang mereka cari disimpan. Baca juga: Alasan Mengapa BigQuery Connector For SAP Dapat Memperkuat Strategi Analitis Data Tidak ada harga tambahan Photo Credit: Freepik BigQuery memberikan solusi yang hemat biaya. Anda hanya perlu membayar untuk penyimpanan indeks yang diperlukan, sedangkan biaya pemeliharaan gratis. Ketika digunakan secara efektif, kueri memindai lebih sedikit data yang menghasilkan penghematan biaya. Katakanlah Anda harus menghapus semua data untuk pengguna bernama ‘Ade’ yang muncul hanya dalam 10 catatan petabyte data Anda untuk GDPR. Secara historis, Anda perlu memindai semua tabel tersebut dan membayar pemrosesannya (yang ukurannya bisa beberapa terabyte). Namun dengan indeks BigQuery, hanya perlu memerhatikan sub-kumpulan baris data yang disentuh sehingga mengurangi biaya secara signifikan. Integrasi JSON Log keamanan memiliki skema variabel, jenis, dan berasal dari berbagai sumber yang membuat data tidak dapat diprediksi. Kini Anda dapat memiliki fleksibilitas untuk menyimpan data sebagai JSON yang dilengkapi kemudahan penggunaan SQL untuk kueri. Ini menghilangkan kebutuhan akan pipeline kompleks untuk mempertahankan penghematan biaya dan resources data. Menggunakan penelusuran untuk meningkatkan analisis log di BigQuery Photo Credit: luis_molinero (Freepik) Kemampuan penelusuran ini adalah salah satu dari banyak cara pelanggan untuk meningkatkan analisis log mereka di BigQuery. Dengan adanya proliferasi layanan digital, aplikasi SaaS, dan perangkat IoT, banyak pengguna yang kesulitan untuk menganalisis petabyte log yang mereka kumpulkan. Ini membuat pengidentifikasian ancaman keamanan dari log menjadi rumit dan mahal. Fitur penelusuran ini adalah salah satu fitur yang menjadikan BigQuery sebagai solusi ideal untuk analisis log dan analisis keamanan terpusat. Pelanggan telah menemukan bahwa menggunakan BigQuery sebagai platform analisis terpusat dapat membantu menjawab berbagai skenario pemecahan masalah. Baru-baru ini, Google Cloud telah merilis Community Security Analytics (CSA), yang merupakan kumpulan kueri dan aturan open source untuk membantu Anda mendeteksi ancaman umum berbasis cloud dengan memanfaatkan BigQuery. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud Untuk pelanggan yang ingin memulai analisis log mereka menggunakan BigQuery, fitur penelusuran Log Analytics ini adalah fitur Cloud Logging yang belum diluncurkan secara resmi dan sekarang masih dalam masa preview (Anda bisa mengajukan pendaftaran di sini) Antarmuka baru ini menghadirkan kecanggihan BigQuery dan SQL ke log Anda. Dengan antarmuka pengguna yang dioptimalkan untuk analisis log, Log Analytics menyediakan cara yang mulus untuk menggabungkan dan menganalisis log Anda di Cloud Logging. Kemudahan dari BigQuery ini akan semakin seamless jika Anda bekerja dengan ekosistem Google Cloud. Bagi Anda yang belum berlangganan, EIKON Technology siap membantu Anda menemukan solusi Google Cloud. Di samping produk yang terjamin keasliannya, kami juga menyediakan pendampingan mulai dari persiapan, pemasangan, hingga penerapan. Mulai pilih paket langganan Google Cloud Anda di sini!

Google Cloud

Preview Cloud SQL Insights for MySQL untuk Tingkatkan Observabilitas Database, Apa Kelebihannya?

 Tahun 2021 lalu, Google Cloud meluncurkan Cloud SQL Insights, sebuah tool untuk membantu developer memahami dan menyelesaikan masalah performa database di Cloud SQL for PostgreSQL. Insights dirancang dengan standar terbuka, visualisasi intuitif, dan arsitektur modern. Sejak saat itu, Insights telah menjadi salah satu kapabilitas baru yang paling cepat diadopsi di Cloud SQL. Maka tidak mengherankan jika pelanggan kemudian meminta fungsionalitas yang sama untuk MySQL. Pada awal bulan April 2022 lalu, Google Cloud memperkenalkan versi preview dukungan Cloud SQL for PostgreSQL. Seperti apa? Mengenal Cloud SQL Insights for MySQL Insights merupakan sebuah fitur Cloud SQL di Google Cloud untuk membantu para developer mendiagnosis dan menemukan resolusi atas masalah performa database MySQL. Fitur ini juga memungkinkan iterasi yang lebih cepat pada pengembangan aplikasi dan membebaskan DBA (database administrator) untuk mengerjakan tugas yang lebih strategis seperti pemodelan data, pengoptimalan kueri, dan analisis data. Observabilitas database yang terpusat pada aplikasi Alat pemantauan konvensional memberi tampilan kinerja yang terpusat pada kueri. Tanpa disadari, hal tersebut memutuskan hubungan antara kinerja dengan kode aplikasi, terutama pada arsitektur modern. Insights menawarkan pemantauan database melalui lensa aplikasi. Anda dapat menggunakan tag untuk mengaitkan kueri dengan fungsi bisnis tertentu, seperti pembayaran, inventaris, analisis bisnis, dan pengiriman. Misalnya, Anda dapat dengan cepat mengevaluasi beban database yang disumbangkan oleh alur pengguna tertentu. Berikut adalah tampilan beban basis data yang diurutkan berdasarkan tag: Photo Credit: Google Cloud Blog Pengalaman self-service untuk diagnostik kueri Pemecahan masalah kinerja database membawa beberapa tantangan penting. Misalnya, menentukan kueri mana yang menyebabkan masalah dan mengidentifikasi kode aplikasi tertentu yang menyebabkan masalah. Baca juga: Menyederhanakan Disaster Recovery dengan Cloud Spanner Saat ini, Anda mungkin harus mengandalkan beberapa alat untuk menghubungkan data dengan tugas. Belum lagi, hal ini jelas membutuhkan keahlian dan waktu. Di cloud, tantangan semakin meningkat karena tim pengembangan sering menggunakan beberapa mesin database untuk kasus penggunaan yang berbeda. Insights for MySQL memungkinkan Anda beralih dari deteksi ke diagnosis dengan mulus, hanya dengan satu antarmuka. Mirip dengan Cloud SQL Insights for PostgreSQL, Anda juga dapat mengidentifikasi masalah performa kueri lebih awal dengan dasbor bawaan. Berikut contohnya: Photo Credit: Google Cloud Blog Jejak aplikasi ujung ke ujung ini membantu menentukan sumber kueri bermasalah sesuai konteks, termasuk menurut model, tampilan, pengontrol, rute, pengguna, dan host. Berikut tampilannya: Photo Credit: Google Cloud Blog Photo Credit: Google Cloud Blog Observabilitas database dengan alat favorit Anda dan standar terbuka Agar DevOps bekerja secara efektif, database harus disertakan dalam siklus pengembangan perangkat lunak. Dengan begitu, para pemangku kepentingan seperti pengembang, SRE, insinyur platform, dan DBA dapat berkolaborasi dalam memecahkan masalah kinerja database. Hal ini tentu memerlukan akses ke telemetri database di berbagai alat pemantauan perusahaan. Misal, pengembang perlu akses ke pelacakan basis data di alat APM favorit mereka, tapi di waktu bersamaan, SRE ingin mengakses sinyal database penting di dasbor operasional mereka. Insights membantu meningkatkan observabilitas database dalam alat yang ada, sehingga pengembang dan tim operasi dapat mengatasi masalah lebih awal dan menghemat waktu dalam pemecahan masalah. Insights juga telah terintegrasi dengan Cloud Monitoring, memungkinkan Anda dengan cepat membuat dasbor dan peringatan khusus pada metrik atau tag kueri dan menerima pemberitahuan melalui email, SMS, Slack, PagerDuty, dan banyak lagi. Cloud Monitoring juga memungkinkan Anda membuat dasbor yang disesuaikan. Baca juga: Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud dengan Dataplex Dalam menyelesaikan masalah terkait kinerja database, observabilitas sangatlah penting. Pemahaman yang baik terhadap kinerja database akan membantu Anda untuk lebih mudah menemukan penyebab masalah, yang artinya masalah pun lebih cepat selesai. Dukungan Cloud SQL Insights for MySQL yang baru saja diperkenalkan oleh Google Cloud memberikan Anda kemudahan tersebut. Apabila saat ini Anda masih belum menemukan solusi yang efisien terhadap permasalahan kinerja database, Google Cloud dengan Cloud SQL bisa dijadikan pilihan. Dapatkan solusi Google Cloud resmi berlisensi dan disesuaikan dengan kebutuhan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk mulai berkonsultasi mengenai penerapan Google Cloud, silakan hubungi tim EIKON Technology di sini!   

Google Docs, Google Meet, Google sheets, Google Slide, Google Workspace

Kini Join Google Meet Bisa Lewat Docs, Sheets, dan Slides!

Sebelumnya, untuk join Google Meet pengguna harus membuka link atau mengetikkan kode meeting. Namun kini Anda bisa bergabung dan bahkan memulai meeting tanpa harus membuka aplikasi Google Meet. Seperti apa detailnya? Integrasi Google Meet dengan Docs, Sheets, dan Slides Pada akhir bulan Maret 2022 lalu, Google memperkenalkan Meet versi built-in yang akan terpasang pada aplikasi Docs, Sheets, dan Slides. Meet versi built-in tersebut berbentuk sebuah icon yang akan langsung menghubungkan pengguna ke meeting. Dengan begitu, Anda bisa berkolaborasi saat melakukan meeting atau video conference secara real-time tanpa harus berpindah-pindah aplikasi. Fitur ini akan rilis melalui dua tahapan yaitu rapid release domains serta scheduled release domains. Untuk rapid release domains dimulai sejak tanggal 12 April 2022 hingga 15 hari ke depan (kemungkinan lebih lama lagi). Sedangkan untuk scheduled release domains dimulai pada tanggal 2 Mei 2022 hingga 15 hari ke depan. Sedangkan untuk masalah ketersediaan, fitur join Google Meet dalam Docs, Sheets, dan Slides ini tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk mereka yang masih menggunakan G Suite Basic dan G Suite Business. Baca juga: Google Meet Kini Perluas Akses Noise Cancellation Cara join Google Meet melalui Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Melalui PC, buka sebuah file dengan Docs. Selain Docs, tutorial ini juga berlaku untuk Sheets dan Slides. Jika sudah, lanjut ke poin selanjutnya. Di bagian atas file klik icon Meet. Sistem akan menampilkan 2 pilihan: Untuk join Google Meet yang sudah dijadwalkan, klik meeting yang ingin Anda ikuti Untuk join Google Meet dengan kode meeting, klik “Use a meeting code” dan masukkan kode. Jika ingin memasukkan panggilan ke dalam Docs, Sheets atau Slides, klik “Join the call”. Nanti meeting akan ditampilkan di panel samping file yang sedang dibuka. Namun jika Anda ingin menampilkan file pada panggilan, klik “Share screen”, kemudian pilih tab yang berisi file dan “Share”. Untuk menghentikan presentasi, klik “Stop presenting” di bagian kanan bawah. Cara memulai Google Meet melalui Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Langkah-langkah yang harus dilakukan masih sama dengan tutorial sebelumnya. Namun kini Anda memilih opsi “Start a new meeting”. Undang orang lain ke rapat Anda dengan klik “Copy” dan pilih “Share the meeting link”. Untuk menampilkan dokumen Anda, klik “Share screen” dan kemudian pilih tab yang berisi file, klik “Share”. Sedangkan untuk menghentikan presentasi, klik “Stop presenting” yang ada di bagian kanan bawah. Untuk keluar dari rapat video, di kanan bawah, klik “Leave call”. Fitur Picture-in-Picture Photo Credit: Google Workspace Updates Selain built-in Google Meet, user juga bisa menikmati fitur Picture-in-Pictue (PiP) serta in-call reaction. Dengan fitur PiP, Anda bisa menampilkan hingga 8 video tile dalam format grid. Menariknya lagi, PiP ini juga bisa dimunculkan pada panel sebelah kanan file yang sedang Anda kerjakan. Sedangkan untuk fitur in-call reaction juga akan meluncur di bulan April ini. Enam emoji akan hadir di bagian yang biasanya berisi perintah, “Raise my hand” atau “Show as away”, sementara reaksi yang dikirim akan muncul di atas atau di sebelah kiri video. Baca juga: Meeting Hybrid Yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Dengan hadirnya fitur built-in join Google Meet di Docs, Sheets, dan Slides, integrasi di dalam Workspace pun menjadi jauh lebih mudah dan simpel. Anda bahkan tak perlu lagi melakukan buka tutup aplikasi berbeda untuk menampilkan file dalam sebuah meeting. Untuk menghadirkan pengalaman kolaborasi yang seamless Google Workspace memang terus melakukan berbagai pengembangan. Selain update fitur yang dibahas dalam artikel ini, Google Workspace juga sedang menyiapkan beberapa pembaruan yang akan segera diluncurkan. Buat kolaborasi kerja perusahaan Anda lebih mulus dan simpel dengan Google Workspace. EIKON Technology siap membantu Anda menemukan paket langganan yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk mulai memilih produk, silakan hubungi kami di sini.

Scroll to Top