Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Pemanfaatan Teknologi untuk Ciptakan Pasar Finansial yang Lebih Aman dan Efisien

Pemanfaatan teknologi telah terbukti mampu mendukung berbagai sektor kehidupan. Salah satunya, pasar finansial. Data dari Google Cloud bahkan menyebutkan bahwa pasar keuangan termasuk di antara beberapa sektor yang pertama mengadopsi teknologi. Tingkat adopsi paling tinggi ada pada pasar derivatif (pasar investasi untuk jual-beli jenis sekuritas atau instrumen keuangan tertentu). Ke depannya diharapkan teknologi baru bisa membuka jalan untuk kecepatan transfer serta transparansi dana yang lebih baik lagi. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana cloud dapat membantu meningkatkan ketahanan, kinerja, serta keamanan yang memungkinkan visi jangka panjang untuk pasar finansial. Seperti apa? Mari simak ulasannya berikut. Pemanfaatan teknologi cloud saat ini Saat ini, pemanfaatan teknologi cloud sudah mulai meluas. Paling baru, pasar finansial mulai mengadopsi teknologi ML atau machine learning, bahkan dalam skala yang lebih luas lagi. Hal ini membuktikan bahwa teknologi cloud memungkinkan eksperimen kondisi pasar yang jauh lebih mudah, cepat, dan aman, terlebih jika didukung oleh dataset besar dan ML. Dalam sebuah studi yang dilakukan Coalition Greenwich (disponsori Google), terlihat bahwa lebih dari 93% sistem perdagangan, pertukaran, dan penyediaan data dalam beberapa hal menyediakan layanan mereka di cloud. Sekitar 72% industri keuangan, berniat untuk menggunakan data pasar berbasis data cloud public dalam 12 bulan ke depan. Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud Untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Peran machine learning dalam pasar finansial Photo Credit: our-team (Freepik) Andrew Moore, Head of AI and Industry Solutions Google Cloud, menyebutkan bahwa ML akan melakukan 3 hal penting yang memengaruhi pasar finansial: memberi makna, menyediakan layanan pemeliharaan, sekaligus menjadi pelindung. Dengan lebih banyak data dari sebelumnya, ML dapat meningkatkan kemampuan untuk memprosesnya sekaligus menjadi lebih mudah diakses di cloud. Teknologi semacam ini akan sangat membantu dalam aktivitas perdagangan dan mencegah terjadinya pencucian uang, serta mengelola berbagai risiko (guna mendukung kepentingan investor dan regulator). Membangun fondasi pasar finansial untuk masa depan dengan pemanfaatan teknologi Sasaran ketahanan operasional, keamanan, dan privasi akan terus menjadi poin penting dalam membangun fondasi pasar finansial, baik untuk para pelaku maupun regulatornya. Sementara teknologi menjanjikan keuntungan yang nyata, penting bagi para pihak yang terlibat untuk meneliti potensi risiko dan kekhawatiran. Photo Credit: Freepik Untuk saat ini, prioritas pertama penyedia teknologi adalah membangun lingkungan keamanan zero-trust. Termasuk di dalamnya enkripsi saat bergerak dan enkripsi saat diam. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pasar beroperasi aktif tanpa harus mengorbankan kepercayaan pada setiap pertukaran yang berjalan di atas infrastruktur. Arsitektur dan pendekatan multicloud kemungkinan juga menjadi bagian dari solusi untuk ketahanan operasional. Sepanjang waktu, likuiditas telah menjadi hasil dari peningkatan akses, transparansi, dan keamanan. Penyedia teknologi merespons dengan menerima tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan pasar finansial yang lebih cepat, efisien, transparan, dan tentunya aman. Baca juga: Memanfaatkan Fitur Baru Google Chronicle Sebagai Dukungan Operasi Keamanan Sektor keuangan merupakan sektor yang sensitif jika menyangkut keamanan. Untuk bisa mencapai tingkat keamanan yang sempurna, seluruh pihak yang terlibat dalam sektor keuangan, termasuk para regulator, juga harus terbuka pada tiap kemungkinan-kemungkinan yang ada. Termasuk pemanfaatan teknologi baru seperti cloud dan juga machine learning. Apakah Anda juga bergerak di bidang keuangan? Ingin meningkatkan keamanan data sekaligus memperbaiki efisiensi kerja? Google Cloud punya solusinya. Komputasi awan dari Google ini menyediakan berbagai fitur serta layanan yang bukan hanya aman, tapi juga transparan dan efisien. Dapatkan Google Cloud berlisensi resmi hanya di EIKON Technology. Di EIKON Technology, Anda tak hanya bisa mendapatkan Google Cloud resmi, namun juga melakukan personalisasi sesuai kebutuhan usaha Anda. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memanfaatkan Fitur Baru Google Chronicle sebagai Dukungan Operasi Keamanan

Akhir-akhir ini, ancaman keamanan siber meningkat pesat. Tanpa disadari, prosedur yang harus dilalui untuk mencapai keamanan ketat pun semakin panjang. Anda harus memiliki akses menuju konteks yang relevan sambil harus tetap merespons ancaman berbahaya. Padahal, tumpukan data di divisi TI terus bertambah, lebih-lebih jika perusahaan menerapkan penyimpanan berbasis cloud, on-premise atau kombinasi keduanya. Belum lagi jika Anda tidak familier dengan suatu ancaman yang muncul. Akan sangat sulit menentukan prioritas mana ancaman kritis yang harus ditangani lebih dulu. Untuk mengatasi hal tersebut, Google Chronicle meluncurkan kapabilitas context-aware detection (deteksi kontekstual). Bagaimana cara kerjanya? Mengapa konteks penting dalam keamanan siber Google Chronicle merupakan sebuah layanan cloud yang dirancang untuk kebutuhan perusahaan dalam menyimpan, menganalisis, dan mendapatkan keamanan telemetri jaringan mereka. Layanan ini menormalkan, mengindeks, mengkorelasikan, dan menganalisis data untuk memberikan informasi serta konteks pada aktivitas berisiko. Kapabilitas context-aware detection menitikberatkan penanganan ancaman keamanan siber pada konteks. Mengapa demikian? Katakanlah divisi TI Anda menerima peringatan deteksi untuk makro Excel yang mencurigakan. Umumnya respons yang diberikan adalah: melakukan pencarian host; melihat pengguna mana yang memiliki host tersebut; melakukan pencarian LDAP untuk mengidentifikasi divisi dan tugas mereka; mengidentifikasi bahwa pengguna adalah divisi akuntansi perusahaan; dan mengidentifikasi kecenderungan memakai makro dalam spreadsheet keuangan. Langkah-langkah tersebut memungkinkan analis untuk mengurangi risiko secara kontekstual. Namun, jika perilaku yang sama diamati dari mesin CEO dengan pengguna yang tidak dikenal masuk, jelas memerlukan eskalasi peringatan segera. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan deteksi kontekstual Google Chronicle, semua informasi pendukung dari sumber resmi termasuk telemetri, konteks, hubungan, dan kerentanan tersedia langsung sebagai peristiwa deteksi “tunggal”. Fungsi yang ditawarkan Photo Credit: Google Cloud Blog Adanya kapabilitas baru ini memungkinkan pelanggan Google Chronicle untuk dapat: Prioritaskan ancaman dengan penilaian risiko: membuat konteks yang relevan pada penilaian risiko berbasis heuristik. Tanggapi peringatan lebih cepat: mengurangi waktu yang dihabiskan untuk triase, penggabungan informasi dari sistem keamanan TI yang berbeda secara manual, dan hasil pemindaian kerentanan. Tingkatkan akurasi peringatan: memungkinkan analis untuk menyaring seluruh kelompok ancaman yang mungkin akan muncul di masa mendatang. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Cara kerja deteksi kontekstual Google Chronicle Setelah fitur diaktifkan, pelanggan akan melihat kolom skor risiko baru terisi. Ini akan membantu menyusun prioritas eskalasi. Selain skor risiko, Chronicle juga melakukan kontekstualisasi hasil dengan pengayaan tambahan di sekitar entitas yang terkandung dalam peristiwa untuk menjawab terlebih dahulu mengapa temuan berisiko lebih tinggi memerlukan prioritas. Photo Credit: Google Cloud Blog Dari sana, pelanggan dapat beralih ke Asset View untuk memeriksa host yang terpengaruh dan memeriksa aset prioritas yang diidentifikasi dalam hasil aturan mereka. Atasi kesenjangan paradigma Photo Credit:  Google Cloud Blog Peluncuran ini memperbaiki kesenjangan paradigma dalam analitik terdahulu dan produk SIEM, di mana data secara historis dipisahkan karena biaya yang mahal. Pelanggan kini dapat menjalankan semua telemetri keamanan mereka dan memperkaya sumber data di satu tempat, memberi mereka kemampuan untuk mengembangkan strategi peringatan dan prioritas yang fleksibel. Sederhananya, kapabilitas ini akan mengurangi mean time to response (MTTR) bagi pengguna dengan meminimalisir kebutuhan untuk menunggu pemahaman kontekstual sebelum membuat keputusan dan mengambil tindakan investigasi. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Untuk saat ini kapabilitas context-aware detection pada Google Chronicle memang masih belum diluncurkan untuk umum. Google mengharapkan, saat diumumkan untuk ketersediaan umum, kapabilitas ini sudah jauh lebih stabil dan terintegrasi dengan kontrol keamanan lain di Google Cloud. Google memang menyebutkan bahwa deteksi kontekstual ini akan lebih optimal jika diintegrasikan dengan Google Cloud. Untuk itu, bagi Anda yang belum menggunakan Google Cloud sebaiknya segera mengadopsi layanan berbasis komputasi awan tersebut. Dapatkan Google Cloud dengan sertifikasi resmi hanya di EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk Google di EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace, School

Aplikasi Google Classroom Kini Bisa Jadwalkan Beberapa Kelas Sekaligus

Aplikasi Google Classroom merupakan suatu platform yang menjadi bagian dari Google Apps for Education. Platform yang diperkenalkan Google pada tahun 2014 lalu ini dirancang untuk memudahkan komunikasi antara guru dan para murid. Di tahun 2021, diperkirakan Classroom memiliki lebih dari 150 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Aplikasi Google Classroom juga telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi dan tools Google Apps for Education, seperti Gmail, Google Calendar, Google Docs, Google Slides, hingga Google Sheets. Dengan begitu, kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pun menjadi lebih mudah dijalankan. Tool ini berhasil membuktikan kemampuannya sebagai alat bantu KBM yang efektif di masa pandemi seperti saat ini. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap platform belajar online, Google Classroom pun terus melakukan peningkatan kemampuan. Dalam update terbarunya, tool tersebut menambahkan beberapa detail pada fitur yang telah ada sebelumnya. Seperti apa? Fitur penjadwalan yang lebih detail Photo Credit: Google Workspace Updates Sebelumnya, Google Classroom telah menyediakan fitur penjadwalan untuk guru. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, guru dapat menjadwalkan materi pelajaran untuk para siswa. Pada update kali ini, fitur penjadwalan mengalami beberapa peningkatan. Salah satu peningkatan yang paling menonjol adalah kemampuan untuk menetapkan jadwal tayang materi perjalanan di beberapa kelas sekaligus. Para pengajar juga bisa memanfaatkan fitur ini untuk mengatur: Tenggat waktu pengumpulan tugas siswa. Tanggal posting materi pelajaran. Topik pengajaran yang akan datang. Perlu diingat, sisa tugas yang sudah ada akan tetap sama. Setelah pengaturan, guru dapat memilih kelas mana saja yang akan menerima materi pelajaran. Guru juga bisa menentukan waktu tayang materi pelajaran di perangkat murid. Tersedia 3 opsi yang bisa dipilih, yaitu langsung ditayangkan, diterbitkan pada tanggal tertentu atau disimpan sebagai draft. Harapannya, pembaruan ini akan memudahkan guru untuk menetapkan tugas di berbagai kelas, menghemat waktu mereka yang berharga, serta menyederhanakan perencanaan dan pengelolaan kelas. Beban kerja guru pun akan berkurang. Baca juga: Meeting Semakin Mudah dengan Fitur Baru Google Classroom Tidak ada biaya tambahan Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan untuk fungsi baru ini. Hanya saja, guru perlu fokus dengan beberapa perubahan terjadi. Sebab, beberapa fitur dan capabilities mengalami perubahan. Misalnya, saat menetapkan jadwal pengumpulan tugas. Setelah tugas dijadwalkan, kini guru bisa mengubah tugas di setiap kelas. Namun perlu diperhatikan, memilih opsi “Copy settings to all” akan menghapus semua pengaturan yang dimasukkan sebelumnya. Selain itu, jika sudah menjadwalkan waktu tayang materi pelajaran untuk satu atau beberapa kelas, secara otomatis Anda akan menjadi pemilik file materi yang tersimpan di Google Drive. Anda juga bisa membagi file tersebut dengan pihak terkait misalnya bagian kurikulum sekolah. Tersedia untuk beberapa paket saja Photo Credit: Freepik Fitur penjadwalan ini hanya tersedia untuk pelanggan Google Workspace for Education Fundamentals, Education Standard, Teaching and Learning Upgrade, dan Education Plus. Tidak tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Frontline, dan Nonprofits, serta pelanggan lama G Suite Basic dan Business. Sedikit tambahan informasi, update terbaru ini juga tidak memerlukan pengaturan dari administrator sekolah. Guru dan murid sebagai end-user bisa langsung menggunakannya. Untuk waktu rilisnya sendiri sudah dimulai sejak 17 Maret 2022 dan terus berjalan hingga 15 hari ke depan. Baca juga: 5 Fitur Google Classroom Terbaru Penuhi Kebutuhan Belajar-Mengajar Masa Kini Dengan adanya kapabilitas tambahan pada fitur penjadwalan Google Classroom, guru bisa lebih mudah mengelola materi pelajaran mereka. Waktu penayangan materi dan pengumpulan tugas pun bisa diatur sejak awal agar alur pengajaran lebih tertata. Seperti yang telah disebutkan, aplikasi Google Classroom telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi lain yang ada dalam jaringan Google for Education. Nikmati kelas online berbasis cloud yang lebih optimal dan seamless dengan G Suite for Education. Dapatkan paket G Suite for Education yang terbaik untuk institusi pendidikan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Text-to-Speech API Google Cloud Kini Mendukung Custom Voice

Seiring dengan makin populernya asisten digital dan antarmuka yang mendukung percakapan, masyarakat pun makin terbiasa mendengar dan berbicara dengan suara buatan. Namun bagaimana suara buatan tersebut mencerminkan brand Anda? Bagi perusahaan, membangun identitas dan asosiasi brand yang kuat amatlah penting. Hal ini pun berlaku saat mereka memutuskan untuk menerapkan sistem AI (kecerdasan buatan). Merancang suara buatan yang benar-benar bisa mencerminkan brand sangat penting dalam sistem tersebut. Sebagai alternatif solusi, Google Cloud baru saja meluncurkan kapabilitas Custom Voice di Cloud Text-to-Speech (TTS) API mereka. Seperti apa cara kerjanya? Kapabilitas Custom Voice Kapabilitas yang baru saja diperkenalkan Google Cloud ini merupakan bagian dari Text-to-Speech API. Dengan mengaktifkan fitur tersebut, Anda bisa melatih model suara dengan rekaman audio sendiri yang disesuaikan kebutuhan perusahaan. Untuk bisnis yang sedang membangun identitas brand atau meningkatkan brand awareness, mendesain suara buatan yang unik dapat membantu mengubah interaksi aplikasi seluler (atau layanan pelanggan lain yang berdasarkan interactive voice response) menjadi pengalaman pelanggan yang lebih baik lagi. Baca juga: Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud Kelebihan Custom Voice TTS API Photo Credit: Piqsels Text-to-Speech API sebelumnya memang telah menyertakan layanan speech synthesis dengan daftar suara statis. Namun kini, dengan fitur Custom Voice, Anda diberi lebih banyak pilihan dan pengoperasiannya pun telah dibuat semakin mudah. Fitur Custom Voice memungkinkan Anda mengirimkan rekaman audio untuk mendapatkan akses ke suara baru secara langsung di TTS API. Custom Voice TTS dilengkapi dengan panduan tentang persyaratan audio untuk membantu memastikan Anda menghasilkan model suara buatan berkualitas tinggi. Setelah model baru tersebut dilatih, Anda bisa langsung merujuk ID model dalam panggilan ke Cloud TTS API. Tingkat keamanan Text-to-Speech API merupakan bagian dari proses tata kelola Responsible AI Google Cloud. Itu artinya, fitur Custom Voice pun telah melalui evaluasi etis yang mendalam, termasuk hubungannya dengan media sintetis. Langkah ini merupakan tindakan preventif untuk meminimalisir potensi bahaya yang mungkin muncul di masa mendatang. Jika Anda memang tertarik dengan TTS API untuk membangun sistem AI perusahaan, Google menyediakan proses peninjauan untuk membantu memastikan bahwa setiap penggunaan akan tetap selaras dengan proses tata kelola Responsible AI Google Cloud Bukan hanya itu, untuk memverifikasi bahwa aktor suara yang digunakan benar-benar pihak yang memproduksi Audio, pengguna diharuskan untuk mengirim file audio dengan kalimat dari Google Cloud. Misalnya, sistem akan meminta aktor suara Anda untuk merekam kalimat: “Saya setuju bahwa suara saya akan digunakan untuk membuat Custom Voice untuk Text-to-Speech API”. Ketersediaan bahasa Photo Credit: Piqsels Untuk saat ini, fitur Custom Voice Text-to-Speech Google API telah tersedia dalam 11 bahasa internasional, yaitu: Inggris (Amerika Serikat) Inggris (Australia) Inggris (Britania Raya) Spanyol (Amerika Serikat) Spanyol (Spanyol) Prancis (Prancis) Prancis (Kanada) Italia Jerman Portugis (Brazil) Jepang Google Cloud juga sedang mengembangkan bahasa lain untuk mendukung fitur Custom Voice Text-to-Speech. Anda yang sudah mencoba fitur ini juga bisa memberikan masukan untuk keperluan pengembangan aplikasi melalui kontak Google Cloud. Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Function Text-to-Speech (TTS) merupakan salah satu API yang dikembangkan Google Cloud. Dengan memanfaatkan layanan tersebut, Anda bisa mendesain suara buatan untuk mendukung beragam kebutuhan perusahaan, misalnya untuk menunjang layanan pelanggan. Tertarik untuk mulai menerapkan sistem AI di perusahaan Anda? Melalui TTS API serta beragam layanan dan fitur yang ditawarkan Google Cloud, pengembangan sistem AI perusahaan akan jadi lebih fleksibel dan efisien. Dapatkan solusi Google Cloud terbaik untuk bisnis Anda hanya melalui EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Cloud

Tampilan Baru Google Cloud SDK + CLI untuk Pengembangan yang Lebih Mudah

Google Cloud SDK merupakan rangkaian libraries serta tools yang memungkinkan Anda untuk bisa berinteraksi dengan berbagai produk dan layanan dari Google Cloud. Dengan memanfaatkan libraries Cloud SDK, Anda bisa langsung melakukan integrasi API menggunakan Client Libraries untuk Java, Python, Node.js, Ruby, Go, .NET, dan PHP. Selain itu Cloud SDK juga menyediakan kapabilitas untuk pembuatan skrip atau interaksi dengan cloud resources dalam skala besar menggunakan Google Cloud CLI. Pengembangan lokal pun bisa dilakukan dengan mudah lewat emulator untuk Pub/Sub, Spanner, Bigtable, hingga Datastore. Kini, Cloud SDK telah melalui tahap rebranding, menghadirkan pengalaman pengembangan aplikasi yang lebih mudah dan telah terintegrasi dengan teknologi dari Google Cloud. Seperti apa perubahannya? Mempermudah penemuan dengan mengganti command line tools Photo Credit: Google Cloud Blog Dalam rebranding tersebut Cloud SDK mengubah nama kumpulan command line developer tools menjadi Google Cloud CLI. Tujuannya tak lain adalah untuk memperjelas bahwa tools tersebut merupakan antarmuka command line yang memungkinkan pengguna bekerja dengan salah satu produk dan layanan Cloud SDK. Meski berganti nama, kumpulan tools tersebut masih berisi gcloud, gsutil, bq, kubectl yang sama, dan berbagai emulator data dan tools untuk pengembangan lokal. Semua skrip yang ada akan tetap berfungsi karena tidak ada perubahan terkait prompt perintah. Nama paket yang ada sebelumnya pun masih berfungsi. Misalnya, di Debian Anda masih bisa menjalankan apt-get install google-cloud-sdk atau menggunakan apt-get install google-cloud-cli yang baru. Nama paket lama akan terus ada selama pelanggan melakukan penyesuaian. Baca juga: Meningkatkan Produktivitas Developer dengan Cloud Client Libraries for Compute Engine Mengurangi kerumitan pengkodean dengan SDK berbasis bahasa Photo Credit: DCStudio (Freepik) Google Cloud memang telah lama menawarkan client libraries untuk seluruh layanannya. Namun seiring berjalannya waktu, Google secara berulang merilis gaya client libraries yang lebih baik melalui Cloud Client Libraries. Kini, Cloud Client Libraries telah tersedia untuk Sebagian besar layanan Google Cloud dan menjadi bagian dari Google Cloud SDK untuk setiap bahasa yang didukung (C#, Go, Java, NodeJS, PHP, Python, dan Ruby. Cloud Client Libraries menyederhanakan integrasi dengan APi Google dan memberikan beberapa manfaat signifikan dibandingkan libraries alternatif atau API layanan mentah. Libraries ini menawarkan manfaat seperti: Cuplikan kode: Lihat cuplikan kode contoh untuk setiap metode (dukungan bahasa tambahan akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang) untuk membantu proses pengembangan Anda. Dokumentasi yang terpusat dan terkini: Pembuatan dokumentasi otomatis (tersedia di cloud.google.com) memberi Anda dokumentasi referensi teknis yang lebih konsisten dan akurat, serta berada dalam satu lokasi sehingga lebih mudah ditemukan. Integrasi yang lebih cepat dengan pagination, operasi yang lebih panjang, dan metode dukungan lainnya: Kurangi kode boilerplate berulang dengan memanfaatkan fungsi dukungan untuk kasus penggunaan umum seperti bekerja dengan kumpulan data besar atau menangani proses asinkron. Kurva pembelajaran yang lebih rendah: Dengan mengikuti gaya idiomatis dari bahasa pemrograman pilihan Anda, client libraries akan terasa lebih mudah dioperasikan. Jadi, Anda bisa mulai coding lebih cepat dan efektif. Integrasi yang lebih mudah di beberapa produk: Dengan memperlihatkan pola tingkat tinggi yang konsisten untuk autentikasi, penyiapan, dan konfigurasi, Anda dapat bekerja lebih cepat di beberapa produk Google Cloud. Untuk menyederhanakan penemuan, penggunaan, dan pengalaman dokumentasi Anda, sebaiknya gunakan Cloud Client Libraries untuk seluruh proyek baru. Untuk proyek lawas, Google akan terus memperbarui seluruh Google API Client Libraries berikut dokumentasi sebelumnya karena masih digunakan secara luas. Bundling frameworks, panduan, dan alat berorientasi bahasa Dengan menyusun SDK berdasarkan bahasa pemrograman, Google Cloud juga akan menyertakan di setiap SDK semua frameworks dan tools khusus bahasa, bersama dengan language agnostic tools (jika tersedia). Sebagai contoh, Google Cloud SDK untuk Java | |–Cloud SDK Libraries (Cloud Client Libraries untuk Java) |–Spring Cloud GCP (Spring Framework untuk Java di Google Cloud) |–Google Cloud CLI |–Use cases and guides |–Optional tooling (ekstensi Cloud Code IDE) Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Functions Dengan memanfaatkan Google Cloud SDK terbaru, Anda bisa menghemat lebih banyak waktu dan tenaga dalam proses pengembangan aplikasi. Untuk memaksimalkan manfaat Cloud SDK, sebaiknya gunakan ekosistem Google Cloud. Dapatkan personalized Google Cloud untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

3 Kunci Utama Transformasi Industri yang Berkelanjutan

Industrialisasi global tanpa disadari telah menimbulkan dampak yang begitu berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Gas rumah kaca meningkat, polusi udara makin tak terkendali, hingga perubahan iklim yang sulit diprediksi. Waktu yang tersedia pun semakin menipis. Untuk menanggulangi masalah tersebut, paling tidak emisi harus berkurang lima kali lebih cepat dibanding dekade-dekade sebelumnya. Apa yang harus dilakukan? Pada tahun 2021, sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Accenture yang mensurvei lebih dari 1.200 CEO di seluruh dunia. Setengah dari CEO yang disurvei mengatakan bahwa cuaca ekstrem sangat memengaruhi rantai pasokan mereka dan 81% sedang mengembangkan produk dan layanan baru yang memanfaatkan elektrifikasi serta desain dan bahan berkelanjutan. Namun, bagaimana industri bisa bergerak lebih cepat untuk menyelamatkan bumi? Justin Keeble, Managing Director of Global Sustainability Google Cloud, menyebutkan ada tiga kunci utama untuk mewujudkan transformasi industri yang berkelanjutan: kepemimpinan, kolaborasi, dan teknologi. Mari bahas satu per satu. Kepemimpinan Photo Credit: krakenimages (Unsplash) Tak dapat dipungkiri, peran para pemimpin perusahaan begitu krusial dalam mewujudkan suatu model bisnis yang berkelanjutan. Perlu adanya kesadaran pada level atas perusahaan untuk bisa mewujudkan suatu tindakan yang tidak hanya performatif, tapi benar-benar memberikan keberlanjutan yang nyata. Pemimpin yang memiliki keyakinan dan kompetitif dalam menciptakan model bisnis baru dengan menerapkan keberlanjutan, pasti akan jauh lebih unggul di masa mendatang. Baca juga: Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud Kolaborasi Photo Credit: Toa Heftiba (Unsplash) Perubahan iklim tanpa disadari telah mengubah kualitas hubungan. Entah itu hubungan antar negara, pemerintah dengan bisnis, perusahaan dengan partner mereka, hingga perusahaan dengan pelanggan. Langkah perbaikan hubungan tidak akan ada artinya jika hanya satu pihak yang berusaha sendiri. Mereka perlu bekerja sama untuk bisa menimbulkan reaksi. Perusahaan perlu bekerja dengan investor dan tentunya pelanggan, untuk bisa mewujudkan transformasi model bisnis. Mereka juga harus bekerja di level industri untuk memastikan terciptanya ekosistem yang sesuai dengan model bisnis baru tersebut. Di sinilah kolaborasi diperlukan. Kerja sama transparan dari semua pihak yang terlibat serta komitmen kuat akan mempercepat proses pemecahan masalah perubahan iklim. Teknologi Photo Credit: Alex Knight (Unsplash) Pemanfaatan teknologi digital akan memungkinkan industri melakukan pengukuran lingkungan dan langkah perbaikan yang jauh lebih besar. Hal ini sudah terbukti di masa pandemi. Saat virus COVID menyerang, lebih mudah mengetahui seberapa cepat individu, pemerintah, dan bisnis mengubah cara mereka beroperasi. Teknologi akan menjadi penyokong utama bisnis dalam transformasi tersebut dengan sumber energi baru yang lebih bersih, elektrifikasi mobilitas, hingga cara kerja yang lebih cerdas dan efisien. Pemanfaatan data yang masif seperti sekarang ini juga memudahkan para pemimpin untuk lebih cepat dalam mengambil keputusan penting. Baca juga: 4 Upaya Chrome OS Membangun Masa Depan Ramah Lingkungan Pemanfaatan komputasi awan fokus pada analitik dan rekayasa perangkat lunak dengan cara yang seefisien mungkin. Teknologi cloud mengoptimalkan sistem yang ada sekaligus memungkinkan perubahan sistem besar yang meluas ke segala hal. Google Cloud mengoperasikan cloud terbersih di industri saat ini dan juga menawarkan produk, layanan, serta penelitian baru untuk membuat peningkatan yang lebih cepat. Ingin menjadi bagian dari transformasi industri yang berkelanjutan? Anda bisa mulai dengan mengadopsi solusi Google Cloud. Dengan Google Cloud, berbagai proses bisnis bisa disederhanakan sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan efisien dan lebih ramah lingkungan. Dapatkan personalized Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Workspace

Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber

Serangan siber terhadap bidang pemerintahan belakangan ini terus meningkat. Mau tak mau, para pimpinan instansi dan lembaga pemerintahan harus mempertajam fokus mereka dalam mengamankan jaringan, infrastruktur, dan data sebagai perlindungan terhadap ancaman keamanan siber yang sangat berbahaya. Situasi tersebut sedikit banyak telah mengubah kebiasaan sehari-hari. Tanpa banyak disadari, Anda menjadi begitu waspada saat menemukan sebuah tautan. Padahal mungkin saja tautan tersebut berisi file penting dari rekan kerja. Hal lainnya adalah Anda harus menghafal banyak kata sandi untuk bisa melakukan pekerjaan tertentu. Google Cloud kini menawarkan rangkaian tools berbasis cloud di Google Workspace yang menyediakan cara aman untuk berkolaborasi dan bekerja secara virtual, memungkinkan para karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa rasa takut berlebihan terhadap ancaman keamanan siber. Fortifying Federal Networks Akhir-akhir ini, keamanan siber menjadi fokus utama para pimpinan dunia. Salah satunya, presiden AS, Joe Biden yang mengeluarkan Executive Order (EO) dan mandat untuk meningkatkan keamanan siber pemerintah federal. Dalam mengamankan jaringan federal, berikut adalah pendekatan yang dilakukan EO: Arsitektur Zero Trust: Zero Trust merupakan pendekatan keamanan yang menitikberatkan pada mekanisme berlapis untuk mendapatkan kepercayaan pengguna. Mekanisme tersebut terus diverifikasi untuk mengizinkan pengguna mengakses aplikasi dan resources. Otentikasi Multi-Faktor: Untuk mendukung Zero Trust, otentikasi multi-faktor memerlukan dua atau lebih informasi (selain ID pengguna dan password) pengguna untuk keperluan verifikasi identitas. Jika seluruh informasi sesuai maka pengguna bisa memakai tools atau aplikasi yang dibutuhkan.  Endpoints: Komputer dan smartphone Anda adalah endpoints atau titik akhir. Setiap titik akhir yang ada harus dipantau dan dilindungi. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan bahwa perangkat tersebut memang bisa dipercaya. Keamanan endpoints sangat penting karena perlindungan keamanan dari perusahaan sering kali tidak tersedia dalam perangkat. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Upaya Google memperkuat keamanan siber Photo Credit: pressfoto (Freepik) Google telah menginvestasikan dana hingga total US$10 miliar selama lima tahun ke depan untuk memperkuat keamanan siber, termasuk memperluas program Zero Trust, membantu mengamankan rantai pasokan software, dan meningkatkan keamanan open-source. Google juga masih melanjutkan program mereka sebagai pelopor metode keamanan Zero Trust dan berkomitmen untuk membantu menerapkan model ini di lini keamanan siber pemerintah. Dengan Google Workspace, tim TI dan tenaga kerja pemerintah dapat merasakan keamanan terbaik. Untuk membantu navigasi implementasi program, Google Cloud telah membuat program Work Safer yang kini sudah bisa Anda temukan di berbagai partner Google. Program ini dirancang untuk membantu perusahaan, karyawan, dan rekan bisnis mereka agar dapat berkolaborasi dan berkomunikasi secara aman di lingkungan kerja hybrid seperti sekarang ini. Didukung oleh akses menuju keamanan Google Cloud untuk email, rapat, pesan, dokumen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Langkah ini secara unik menyatukan solusi cloud-native Zero Trust dari Google Workspace dengan BeyondCorp Enterprise, menghasilkan akses aman dengan perlindungan data terintegrasi yang dapat membantu tim TI Anda beralih dari teknologi lawas untuk mewujudkan potensi penuh kolaborasi sistem keamanan, Google Cloud, dan Google Workspace. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda Saat Menggunakan Google Workspace Bantu tim Anda untuk lebih fokus pada keahlian terbaik mereka, bukan pada ancaman atau serangan keamanan siber selanjutnya. Setiap tools Google telah dirancang untuk dapat mencegah pelanggaran dan menjaga jaringan kerja dan data perusahaan Anda tetap aman. Manfaatkan program Google Workspace Work Safer untuk potensi kolaborasi kerja yang lebih aman dan nyaman di masa mendatang. Work Safer dan berbagai tools keamanan dari Google akan bekerja dengan optimal jika Anda menerapkan ekosistem Google Workspace. Pasalnya, setiap tools, layanan, dan kapabilitas yang ada telah terintegrasi di Workspace dan siap untuk langsung digunakan. Ciptakan lingkungan kolaborasi yang aman dan bebas gangguan bersama Google Workspace. Dapatkan paket terbaik untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Untuk konsultasi langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Menghubungkan Data SAP Lewat Cloud Data Fusion dengan Google Cloud Cortex Framework

Kecepatan inovasi suatu perusahaan bergantung pada dua faktor, yaitu akses menuju kumpulan tools dan layanan yang tetap serta menyediakan kumpulan data yang relevan untuk layanan tersebut. Google Cloud Cortex Framework menyelesaikan faktor pertama dengan menyediakan akselerator solusi. Akselerator solusi tersebut dapat diterapkan untuk mengatasi berbagai kasus penggunaan dan scenario industri, menggabungkan praktik terbaik, dan membangun pengalaman kumulatif Google Cloud dalam bekerja dengan lingkungan perusahaan. Untuk memecahkan faktor kedua, Anda bisa memanfaatkan Cloud Data Fusion dengan menyediakan jalur integrasi data yang dapat diskalakan untuk konsolidasi kumpulan data SAP dan non-SAP perusahaan Anda dalam BigQuery, data warehouse milik Google Cloud. Percepat data dan strategi analitik Anda Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan Google Cloud Cortex Framework, Anda bisa memanfaatkan fondasi data yang kaya dari blok penyusun dan template untuk lingkungan SAP. Hal ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan wawasan baru melalui fondasi data skalabel yang dapat menggabungkan data SAP dan juga non-SAP. Framework ini hadir dengan data mart operasional yang telah ditentukan dan skrip proses pengambilan data untuk BigQuery untuk menghilangkan dugaan pemodelan dan pemrosesan data. Dengan template pembelajaran mesin, Anda bisa mendapatkan akses menuju kapabilitas tingkat lanjut untuk keperluan bisnis seperti rekomendasi produk serta segmentasi calon pelanggan. Cloud Data Fusion menghadirkan integrasi data cloud-native Cloud Data Fusion merupakan layanan integrasi dan penyerapan data cloud-native terkelola sepenuhnya yang dapat membantu pengembang, insinyur data, dan analis bisnis membangun serta mengelola pipeline ETL/ELT secara efisien. Layanan ini juga menyediakan berbagai macam plug-in untuk sumber dan target data, baik yang ada di Google Cloud, cloud lain, maupun penyimpanan on-premises perusahaan Anda. Anda juga bisa menggunakan plug-in SAP SLT Replication dari Cloud Data Fusion, Anda dapat melakukan integrasi data secara terus-menerus dan mendekati real-time dari SAP ERP ke BigQuery dengan memanfaatkan perangkat dan kemampuan SAP Landscape Transformation Replication Server (SLT) yang ada. Cara ini akan membantu Anda untuk memastikan data siap digabungkan dengan data lain secara mudah. Baca juga: Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud dengan Dataplex Cloud Data Fusion memungkinkan integrasi data dengan Google Cloud Cortex Framework Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan Cloud Data Fusion untuk integrasi data akan memberikan manfaat berikut: Cloud Data Fusion merupakan lingkungan visual yang lengkap. Anda dapat menggunakan Pipeline Studio untuk mendesain pipeline yang membaca dari SAP ECC atau S/4HANA dan banyak sumber data lainnya dengan cepat. Itu berarti, Anda bisa menggabungkan data dari sistem SAP dan non-SAP kemudian memuatnya ke Google Cloud Cortex Data Foundation dan memberikan wawasan dalam format yang mudah digunakan, sehingga tidak memerlukan domain khusus. Cloud Data Fusion menerapkan skala secara horizontal untuk menjalankan pipeline. Langkah ini menghasilkan kinerja dan skalabilitas yang lebih baik. Plug-in SAP SLT Replication memungkinkan sistem SAP SLT menulis data ke penyimpanan Google Cloud untuk melacak semua perubahan, sementara pipeline Cloud Data Fusion akan menangani langkah-langkah untuk memindahkan data ke BigQuery. Cloud Data Fusion menyediakan banyak plug-in untuk aplikasi perusahaan dan gudang data yang ada di luar SAP. Dengan makin bertambahnya daftar akselerator solusi dari Google Cloud Cortex Framework, makin banyak pula kasus penggunaan pada sumber data dari vendor perangkat lunak lain. Jadi, memilih platform integrasi data yang dapat menangani berbagai titik akhir sumber data akan memungkinkan organisasi Anda memanfaatkan tool yang sama terlepas dari sistem sumber yang diterapkan pada lanskap Anda. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Dengan Google Cloud Cortex Framework dan Cloud Data Fusion, Anda dapat memanfaatkan berbagai layanan Google Cloud untuk mendapatkan insight atas data yang ada dalam sistem SAP, menggunakan integrasi data cloud-native dalam skala besar, menerapkan tampilan BigQuery yang telah ditentukan sebelumnya, dan template ML serta dasbor Looker plug-and-play untuk mendapatkan insight lebih cepat untuk kebutuhan bisnis umum. Dapatkaan segera Google Cloud untuk mendukung penyimpanan data perusahaan Anda melalui EIKON Technology, official reseller Google. Di EIKON Technology, Anda tidak sekadar mendapatkan produk resmi berlisensi, namun juga layanan konsultasi pemasangan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul

Lingkungan kerja hybrid sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Transisi dari lingkungan kerja konvensional menjadi hybrid terbukti memunculkan perubahan yang signifikan. Itu berarti, para pemilik bisnis harus mampu menyediakan infrastruktur yang dapat memfasilitasi transisi tersebut. Di satu sisi, perusahaan juga harus mengevaluasi apa saja yang diperlukan untuk menarik dan mempertahankan karyawan. Ya, kedua tantangan tersebut sebenarnya masih saling berkaitan. Pemilik bisnis dan pimpinan perusahaan bisa mulai melakukan perombakan terhadap budaya perusahaan yang fokus pada lingkungan kerja hybrid dan strategi DEI atau diversity, equity, dan inclusion (keragaman, kesetaraan, dan inklusi) secara bersamaan. Bagaimana caranya? 5 langkah untuk ciptakan budaya kerja hybrid yang unggul Photo Credit: Rawpixel Bisa dibilang, strategi DEI telah menjadi keharusan dalam bisnis saat ini. Perusahaan harus berusaha untuk meminimalisir bias yang sering kali tidak disadari, memberikan gaji berbasis pasar untuk tiap pekerja, dan memperkenalkan program training yang mendukung pengembangan bakat SDM. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan: Edukasi untuk pimpinan perusahaan terkait lingkungan kerja hybrid dan strategi DEI Saat Anda mulai membangun infrastruktur untuk lingkungan kerja hybrid, sangat penting untuk memahami tentang bias bawah sadar. Sebaiknya perusahaan menerapkan strategi pembelajaran DEI holistik, yang di dalamnya terdapat pemahaman mengenai bias bawah sadar dan pengembangan infrastruktur untuk perubahan perilaku jangka panjang. Gunakan alat yang mendukung DEI dan lingkungan kerja hybrid Photo Credit: Rawpixel Perusahaan bisa mulai memanfaatkan teknologi dan software HR berbasis AI untuk mendukung proses transisi. Misalnya, menggunakan alat kolaborasi seperti Google Workspace yang mampu memastikan keterlibatan setiap orang, di mana pun mereka berada. Bisa juga dengan membeli solusi perekrutan yang telah diperkaya dengan teknologi AI untuk mengurangi kemungkinan diskriminasi saat menilai kandidat. Baca juga: Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Perkuat kultur dengan kombinasi DEI dan meritokrasi Pastikan perusahaan Anda memiliki pedoman eksplisit yang memastikan bahwa sistem dan proses perekrutan atau promosi karyawan, dilakukan secara transparan dan adil. Salah satu cara untuk bisa mencapai hal tersebut adalah dengan menentukan kualifikasi pekerjaan yang terperinci dan metrik tiap peran yang jelas untuk memahami keterampilan yang dibutuhkan tiap-tiap jabatan. Penting juga untuk memastikan bahwa sistem tersebut bebas bias. Beberapa perusahaan besar telah menggunakan alat analitik untuk mengevaluasi kinerja sistem rekrutmen dan promosi mereka. Menciptakan program upskilling untuk melatih para karyawan Banyak perusahaan yang merasa kesulitan untuk menemukan SDM denga keahlian yang tepat. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini adlaah dengan berinvestasi dalam melatih SDM yang sudah dimiliki perusahaan. Perusahaan harus mengembangkan bakat yang beragam di setiap tingkat untuk menciptakan jalur kandidat yang nantinya bisa berkembang hingga mencapai level manajemen senior. Selain itu, perusahaan harus mampu merancang program yang bisa memberikan peningkatan keterampilan bagi karyawan pemula dan tingkat menengah. Selalu ingat bahwa uang bukanlah segalanya Photo Credit: Rawpixel Pada kebanyakan kasus, karyawan memilih hengkang karena alasan uang, namun bertahan karena budaya perusahaan. Itu berarti, dengan memberikan pengalaman terbaik bagi karyawan, perusahaan bisa mempertahankan mereka. Seperti apa kira-kira pengalaman yang sebaiknya diberikan kepada karyawan? Tiap perusahaan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, cobalah untuk mengamati apa kira-kira yang diperlukan karyawan. Anda bisa menawari mereka untuk bekerja di luar kantor, menerapkan jadwal yang fleksibel, hingga memberi program lanjutan seperti tunjangan penitipan anak. Meski begitu, rasa memiliki karyawan bisa ditumbuhkan dengan melibatkan mereka. Sebuah penelitian McKinsey menemukan bahwa karyawan yang lebih sering dilibatkan, menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap perusahaan. Sebaliknya, jika karyawan tidak pernah dilibatkan, mereka akan merasa tidak dihargai. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Pandemi mau tak mau mengubah kebiasaan hidup manusia, termasuk dalam hal pekerjaan. Adanya pandemi menyebabkan lingkungan kerja bertransisi ke model hybrid yang menggabungkan model konvensional dan remote (jarak jauh). Sayangnya, lingkungan kerja hybrid rentan menimbulkan bias dan berpotensi menurunkan tingkat keterlibatan karyawan. Dikhawatirkan, kondisi ini bisa menyebabkan tingkat retensi naik. Anda bisa menerapkan langkah-langkah di atas untuk mengatasi tantangan yang muncul karena proses transisi ke lingkungan kerja hybrid. Jangan lupa juga untuk memilih infrastruktur yang memang mendukung sistem hybrid seperti solusi komputasi awan Google Cloud yang kini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut terkait pilihan paket Google Cloud untuk mendukung lingkungan kerja hybrid, klik di sini!

Google Cloud

Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts dan Slot Estimator

BigQuery pada mulanya diperkenalkan sebagai sebuah data warehouse. Seiring perkembangannya, platform tersebut merambah ke bidang analitik data dan juga business intelligence. Bukan hanya itu, BigQuery kemudian juga dirancang untuk dapat bekerja tanpa server pada skala yang fleksibel, baik kecil maupun besar. Dengan berbagai kemampuan tersebut tidak mengherankan jika BigQuery kemudian begitu diandalkan untuk menangani berbagai macam beban kerja analitik. Namun ketika pelanggan meningkatkan beban kerja di BigQuery, otomatis persyaratan pemantauan dan pengelolaan mereka pun akan ikut berkembang. Anda tidak perlu khawatir, karena kini telah tersedia beberapa fitur dan kapabilitas untuk mengelola administrasi BigQuery dalam skala besar. Simak ulasan berikut untuk mengetahui penjelasan lengkapnya. Fitur Resource Charts Untuk mengelola administrasi, BigQuery (BQ) telah menyediakan suatu kapabilitas spesifik bernama Administrator Hub. Di dalam kapabilitas tersebut Anda bisa menemukan fitur baru bernama Resource Charts. Fitur ini akan membantu para administrator lebih mudah memahami lingkungan BQ mereka. Photo Credit: Google Cloud Blog Resource Charts membantu administrator mengelola administrasi dengan pengalaman bawaan untuk memantau penggunaan slot mereka, mengelola kapasitas berdasarkan konsumsi historis, memecahkan masalah kinerja pekerjaan, queries yang mampu melakukan diagnosis mandiri, dan mengambil tindakan perbaikan sesuai kebutuhan. Fitur ini juga memberikan visibilitas menuju metrik utama seperti konsumsi slot, kinerja pekerjaan, konkurensi, jumlah byte yang diproses, dan pekerjaan yang gagal. Resource Charts dibuat menggunakan tabel-tabel INFORMATION_SCHEMA, sehingga memungkinkan pelanggan memahami data melalui dashboard yang dibuat khusus. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Fitur Slot Estimator Slot Estimator merupakan sebuah tool BigQuery yang berfungsi sebagai pengelola kapasitas interaktif. Dengan tool ini, administrator dapat memperkirakan dan mengoptimalkan kapasitas BQ berdasarkan performa dan data penggunaan historis. Menggunakan Slot Estimator, pengguna juga dapat menghitung, memprediksi sekaligus menyesuaikan kapasitas berdasarkan beban kerja mereka. Jadi, Anda bisa mengambil keputusan yang tepat dalam hal perencanaan kapasitas. Cara kerja Resource Charts dan Slot Estimator Kedua fitur tersebut bisa Anda temukan pada BigQuery Administrator Hub yang merupakan kontrol pusat untuk memahami, mengelola, dan memantau query, kapasitas, serta keseluruhan lingkungan BQ Anda. Katakanlah saat melakukan pemantauan lingkungan BQ secara real-time di Resource Charts, tampak bahwa penggunaan slot mengalami penurunan selama beberapa jam. Anda pun memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh. Photo Credit: Google Cloud Blog Anda bisa melihat pada bagan Errors yang baru. Jika misalnya terlihat peningkatan tajam pada izin ditolak atau kesalahan yang tidak valid, Anda bisa gunakan filter seperti proyek, reservasi, serta pengguna dan prioritas pekerjaan untuk memahami apa saja yang sudah berubah. Jadi, Anda bisa langsung memperbaikinya. Photo Credit: Google Cloud Blog Tak lama, seorang data analis perusahaan mendatangi Anda dan mengungkapkan bahwa ia merasa alur kerja terasa melambat secara bertahap selama satu minggu terakhir. Untuk menyelesaikan masalah ini, Anda juga bisa memanfaatkan Resource Charts. Dari fitur tersebut akan langsung tampak apa yang bisa menyebabkan alur kerja melambat, misalnya, pemanfaatan slot telah mencapai kapasitas maksimal. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata problem tersebut bisa diatasi dengan meningkatkan workload baru. Saat workload naik maka kapasitas slot pun akan lebih stabil dan penggunaannya bisa lebih optimal. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah mendeteksi penyebab melalui Resource Charts, Anda bisa beralih ke Slot Estimator. Di situ akan tampak pemanfaatan slot yang penuh dan bagaimana penggunaan slot meningkat selama seminggu terakhir. Anda dapat melihat data reservasi dan menganalisis peluang untuk meningkatkan kinerja dengan menambahkan jumlah slot. Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery merupakan suatu data warehouse dengan berbagai kapabilitas mulai dari machine learning, analisis geospasial, hingga business intelligence. Arsitekturnya yang tanpa server memungkinkan Anda sebagai pengguna untuk bisa menemukan jawaban atas berbagai permasalahan terkait pengelolaan data perusahaan. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud Dengan adanya fitur Resource Charts dan Slot Estimator, pengelolaan lingkungan BigQuery pun menjadi semakin mudah. Selain memanfaatkan BQ dan berbagai fitur di dalamnya, untuk penyimpanan data perusahaan dalam skala besar, layanan komputasi awan Google Cloud adalah solusi terbaik. Menggunakan Google Cloud, Anda tidak perlu bingung lagi dengan masalah penyimpanan dan pengelolaan data perusahaan. Dapatkan produk Google Cloud berlisensi resmi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan lewat EIKON Technology. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Scroll to Top