EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud, Info

BDO Indonesia: Transformasi Kolaborasi Cloud yang Aman

BDO Indonesia merupakan salah satu jaringan kantor akuntan publik, pajak, dan penasihat terbesar di dunia. Hingga sekarang, BDO Indonesia melayani lebih dari 1.658 kantor di 167 negara dan wilayah di seluruh dunia sebagai klien. Dengan karakteristik yang fleksibel, kombinasi dari perusahaan lokal dan sekitar 91,054 profesional yang tersebar di berbagai belahan dunia. Meningkatkan keamanan dan kepatuhan (compliance) adalah fokus utama proyek EIKON dengan BDO Indonesia. EIKON membantu BDO Indonesia untuk menerapkan manajemen endpoint menggunakan Google Workspace Enterprise Edition dengan tujuan mengamankan serta melindungi data penting perusahaan. Tantangan yang dihadapi Photo Credit: tirachardz (Freepik) Mengelola endpoint membutuhkan banyak upaya. Tidak hanya dari sisi IT, tetapi juga bisa sangat melelahkan dari sisi pengguna. Terlebih di BDO Indonesia ada banyak sekali karyawan yang bekerja dari jarak jauh (remote). Perusahaan harus bisa memastikan tiap karyawan bisa mengakses data yang mereka butuhkan tanpa harus mengorbankan keamanannya. Baik keamanan karyawan maupun keamanan perusahaan itu sendiri. Bagian IT perusahaan tidak hanya dituntut untuk bisa memberikan akses yang mudah bagi seluruh karyawan, tapi juga memastikan bahwa akses yang mereka berikan aman. Dengan begitu, data perusahaan bisa tetap aman dan terhindar dari ancaman kejahatan siber. Para karyawan pun bisa bekerja dengan lancar tanpa harus melalui kerumitan; contohnya, harus menggunakan VPN (virtual private network) untuk bisa mengakses data perusahaan. Di atas kertas, hal ini memang tidak mustahil untuk dilakukan. Namun di lapangan, prakteknya bisa sangat memakan banyak waktu dan tenaga. Solusi yang ditawarkan EIKON membantu BDO Indonesia untuk menemukan solusi keamanan yang tepat. Dengan begitu, BDO Indonesia dapat menyediakan lingkungan yang aman bagi karyawan selama bekerja di dalam maupun di luar jaringan perusahaan. Di saat yang bersamaan, perusahaan juga memberikan kemudahan bagi pengguna untuk mengakses seluruh data yang mereka butuhkan. EIKON mengimplementasikan hal tersebut dengan menyusun strategi peluncuran Advanced Endpoint Management untuk BDO Indonesia menggunakan Google Workspace Enterprise Edition. Hasil Google Workspace menyediakan sebuah inovasi solusi untuk meningkatkan keamanan data perusahaan serta endpoint yang sekaligus memudahkan pengguna akhir untuk mengakses data dan berkolaborasi dengan orang lain. BDO Indonesia telah melihat dampak yang luar biasa dengan mengimplementasikan Google Workspace Enterprise Edition. Setelah penerapan, BDO Indonesia mampu mengelola endpoint mereka dengan aman. Dengan begitu, perusahaan dapat mengarahkan fokus pada apa yang benar-benar penting bagi bisnis mereka. “Google secara konsisten berinvestasi dalam solusi Google Workspace mereka. Sebagai pelanggan, kami mendapatkan banyak keuntungan dari hal tersebut. Perusahaan kami bisa mendapatkan software yang lebih baik setiap hari tanpa harus melakukan apa pun. Keamanan penting bagi kami dan Google Workspace mampu memberikan apa yang kami harapkan. Ini membawa begitu banyak efisiensi bagi perusahaan kami.” – Charthon A. Kurniawan, Head of IT, BDO Indonesia Kami bantu Anda temukan solusi terbaik Photo Credit: Racool_studio (Freepik) Sekarang ini, sudah bukan hal aneh jika suatu perusahaan memiliki karyawan yang tersebar di seluruh belahan dunia. Mereka bekerja secara remote dengan dukungan teknologi. Sayangnya, kemudahan tersebut juga menyembunyikan potensi bahaya. Di saat karyawan mengakses data perusahaan dari jaringan luar, otomatis keamanan perusahaan pun menjadi rentan. Sebagai solusi biasanya perusahaan akan menyarankan karyawan untuk memasang aplikasi atau software VPN. Cara tersebut memang bisa membantu, tapi dari sisi karyawan, jelas akan mengganggu pekerjaan mereka. Waktu mereka yang sebenarnya bisa digunakan untuk produktivitas justru dihabiskan untuk mengunduh VPN dan menunggu jaringan siap. Tantangan seperti ini pernah dihadapi oleh BDO Indonesia. Kini, mereka telah berhasil menjawab tantangan tersebut dengan memanfaatkan Google Workspace Enterprise Edition. Apakah perusahaan Anda juga menghadapi tantangan yang sama? EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik untuk perusahaan Anda dengan menyediakan berbagai solusi dari Google Workspace. Untuk terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace, Info

Practice Sets: Fitur Baru Google Classroom untuk Pembelajaran yang Lebih Personal

Google Classroom telah terbukti membantu kegiatan belajar-mengajar di masa pandemi. Maka tak mengherankan jika jumlah penggunanya pun mengalami peningkatan signifikan. Data dari Bloomberg menyebutkan bahwa user Google Classroom naik dua kali lipat pada awal masa pandemi di tahun 2020 lalu. Tingkat demand yang tinggi tak lantas membuat Google bersantai. Justru sebaliknya, setelah mengalami lonjakan jumlah pengguna, Classroom terus mengalami peningkatan. Paling baru, Google berencana meluncurkan fitur Practice sets untuk membantu pembelajaran yang lebih privat antara pengajar dan siswa. Seperti apa? Hambatan dalam pengajaran online Photo Credit: gpointstudio (Freepik) Penggunaan teknologi seperti Google Classroom memang terbukti mampu membantu memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan meski di tengah pandemi. Hanya saja, di masa pandemi, kondisi tiap siswa tidak sama. Ada yang merasa lebih nyaman mengikuti kelas online, namun tentu ada juga yang lebih suka dengan metode pengajaran konvensional. Bagi para pengajar, hal ini tentu menimbulkan tantangan tersendiri. Sebab, kebutuhan para siswa dalam mendapatkan materi pelajaran tidak bisa disamaratakan. Menjawab tantangan tersebut, Google Classroom menghadirkan fitur Practice sets. Uji coba dengan versi beta Google mengumumkan fitur ini bulan Maret 2022 lalu. Rencananya, fitur tersebut akan tersedia di Google Classroom. Practice sets pada dasarnya merupakan serangkaian fitur yang membantu para pengajar untuk lebih fokus pada keunikan masing-masing siswa. Sebelum diluncurkan untuk publik, fitur ini akan diluncurkan dalam versi beta untuk setiap pengajar yang menggunakan Teaching and Learning Upgrade dalam beberapa bulan mendatang. Baca juga: Google For Education Hadirkan Laporan Transformasi untuk Customer Mengenal fitur Practice sets Photo Credit: Google Blog Klaim utama Practice sets adalah untuk membantu menciptakan jalur pembelajaran yang lebih privat antara pengajar dan siswa. Dengan memanfaatkan fitur ini pengajar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk mengenal kebutuhan unik masing-masing siswa dan memberi mereka lebih banyak tanggapan pribadi. Practice sets memungkinkan pengajar untuk mengubah konten pengajaran mereka menjadi tugas yang interaktif untuk membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. Fitur ini nantinya juga mencakup alat penilaian otomatis. Itu berarti, para pengajar tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk menilai tugas para siswa secara manual. Bantu guru membuat konsep pengajaran Menariknya lagi, fitur ini juga diklaim akan membantu para pengajar dalam menentukan konsep yang membutuhkan lebih banyak waktu pengajaran dan siswa yang membutuhkan dukungan ekstra. Fitur ini juga didukung oleh performance insight untuk meudahkan mereka dalam membentuk rencana pelajaran di masa mendatang. Tingkatkan kepercayaan diri siswa Photo Credit: Freepik Di sisi lain, para siswa akan menerima tanggapan secara real time setiap mereka selesai mengerjakan tugas. Mereka juga akan mendapatkan petunjuk pengerjaan soal melalui penjelasan visual dan video. Dengan begitu, mereka bisa tetap mengerjakan tugas yang dirasa sulit. Practice set bahkan akan merayakan keberhasilan siswa dengan animasi dan confetti ketika mereka berhasil memecahkan masalah. Google kini sedang menguji Practice sets dengan beberapa sekolah sebelum peluncuran beta yang direncanakan akhir tahun ini. Fitur ini akan tersedia untuk semua pengajar yang menggunakan Teaching and Learning Upgrade dalam Google Classroom. Institusi yang menggunakan Google Workspace for Education Plus juga akan memiliki akses ke fitur tersebut setelah diluncurkan. Baca juga: Merancang Sistem Belajar Online Yang Aman dengan Google For Education Fitur ini rencananya akan diluncurkan dalam versi beta pada akhir tahun 2022 nanti. Bagi Anda yang tak sabar ingin menjajal fitur Practice sets, bisa mulai berlangganan Google Workspace for Education dari sekarang. Dengan begitu, saat fitur resmi diluncurkan bisa langsung digunakan. Dapatkan Google Workspace for Education untuk institusi atau lembaga pendidikan milik Anda hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, EIKON Technology hanya menawarkan produk resmi bergaransi. Kami juga menyediakan layanan pendampingan hingga aplikasi terpasang dan bisa digunakan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Info

Privacy Tracking Google Workspace Ditunda, Mengapa?

Di awal tahun 2022, Google Workspace mengumumkan bahwa di akhir bulan Maret, kontrol “Web & App Activity” akan diubah. Namun hingga artikel ini ditulis (6/4), perubahan tersebut masih belum dijalankan. Sebelumnya, update kontrol “Web & App Activity” dijadwalkan akan meluncur pada tanggal 29 Maret 2022. Namun Google kemudian memutuskan untuk menunda peluncuran hingga Mei 2022 nanti. Untuk alasannya sendiri, Google tidak memberikan detail lebih lanjut. Kontrol “Web & App Activity” Pada rencana awal, bagi para pengguna Google Workspace berbayar, kontrol “Web & App Activity” akan dihapus dari panel kontrol administrator dan akan dibagi menjadi dua setelan berbeda. Namun hingga sekarang, pengaturan baru tersebut tak kunjung diluncurkan. Saat rencana tersebut pertama kali diumumkan, publik meresponsnya dengan pertanyaan besar. Sebab, muncul banyak perubahan yang membingungkan terjadi. Pertama, administrator tak lagi memiliki kontrol atas pengaturan privasi. Itu artinya, kontrol privasi sepenuhnya diberikan kepada setiap pengguna. Dalam pengertian lain, rencana tersebut juga mengindikasikan bahwa Google tak lagi menganggap pengaturan privasi pengguna. Perusahaan yang sebelumnya memilih untuk tidak terdeteksi pada tracking, kini mau tak mau harus mengaktifkan tracking. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Apa yang sebenarnya dilakukan Privacy Tracking Google Workspace? Photo Credit: Rawpixel Anda mungkin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dilakukan Privacy Tracking Google Workspace. Pada dasarnya, kontrol  Web & App Activity merupakan sebuah checkbox yang memungkinkan Google untuk melacak dan menyimpan hampir semua aktivitas Anda di akun Google (termasuk pengaturan lokasi, bahasa, alamat IP, hingga penelusuran teks dan audio di Sebagian besar produk Google). Fitur tersebut juga memiliki kapabilitas untuk menyimpan iklan yang pernah Anda klik atau barang yang sebelumnya dibeli di marketplace serta informasi tambahan mengenai perangkat, seperti aplikasi terbaru yang Anda gunakan, nama kontak yang baru ditelusuri, dan History Chrome, bahkan diagnostic perangkat Android. Search History checkbox Privacy Tracking Google Workspace juga menghadirkan “Search History”checkbox baru yang menyediakan pelacakan khusus untuk berbagai layanan Google Workspace (yang berarti aplikasi bisnis seperti Gmail, Calendar, Docs, Contacts, Drive, Google Chat, dan Keep, serta aplikasi lain yang disertakan dalam persyaratan Google Workspace) Namun Search History tidak menyertakan Google Search, Google Maps, YouTube, dan aplikasi Google lain yang tidak termasuk dalam persyaratan Workspace. Google menyebutkan hal ini dilakukan karena Workspace merupakan layanan berbayar dan menjamin bahwa mereka “tidak pernah menggunakan data pengguna di layanan inti Google Workspace untuk iklan”. Sebab pada akun gratis, aktivitas akan direkam dan digunakan sebagai data untuk iklan. “Misteri” lain yang belum terpecahkan Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Google memilih untuk tidak mengaktifkan privacy-preserving default dan tampaknya setiap perubahan akan menghasilkan lebih banyak pelacakan. Jika perusahaan Anda memilih untuk keluar dari pelacakan dan ingin kembali ke pengaturan sebelumnya, administrator harus mengirim email ke setiap anggota dan berharap mereka meluangkan waktu untuk mematikan pengaturan. Sayangnya, kebanyakan pengguna individu cenderung kurang paham teknologi daripada administrator organisasi dan cenderung tidak mau mengacaukan pengaturan tersebut. Untuk mematikan pengaturan, buka halaman My Activity, di mana Anda dapat mengontrol “Web & App Activity”. Google mengatakan bahwa pengaturan “Search History” yang baru akan berada di tautan “Other Google activity” yang ada di sidebar. Jika Anda tidak melihat “Search History”, itu artinya perusahaan Anda belum mendapatkan perubahan privasi, periksalah kembali dalam beberapa hari. Baca juga: 5 Cara Google Melindungi Privasi dan Keamanan Chrome Anda Dari sini bisa disimpulkan bahwa update Privacy Tracking Google Workspace akan ditunda hingga Mei 2022. Google sendiri tidak menyebutkan detail mengapa terjadi penundaan tersebut. Namun bisa dipastikan bahwa Google Workspace sedang mengupayakan pengaturan yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk Anda yang ingin meningkatkan kapabilitas Google Workspace, tersedia beberapa paket yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai dari untuk keperluan pekerjaan, hingga pendidikan, semuanya tersedia di Google Workspace. Tingkatkan produktivitas usaha Anda dengan Google Workspace resmi hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology hanya menyediakan produk resmi dan berlisensi. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Cara Menggunakan Fitur Appointment Booking Google Workspace

Google Workspace baru saja memperbarui platform kalendernya. Pada update terbaru ini, pengguna dapat berbagi ketersediaan (availability) dengan para klien di halaman booking khusus, Kini Anda dapat menjadwalkan rapat pada waktu yang sudah ditentukan, bahkan dengan klien yang tidak memiliki akun Google sekalipun. Fitur ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada Juni 2021 lalu. Namun hanya untuk rilis terbatas. Appointment Booking diluncurkan untuk umum mulai 6 April 2022 dan tersedia untuk seluruh pengguna Business Standard dan paket langganan Workspace lain yang lebih tinggi. Untuk menjadwalkan janji temu di Google Workspace, mari simak penjelasan berikut. Mengaktifkan jadwal Google Calendar Appointment Photo Credit: Google Workspace Updates Perlu diingat, fitur Appointment Booking ini hanya tersedia untuk paket langganan Google Workspace Business Standar ke atas. Layanan ini belum tersedia untuk pengguna Workspace Essentials, Business Starter, Frontline, G Suite Basic, dan G Suite Business. Untuk Anda yang menggunakan akun Google Calendar untuk perusahaan atau sekolah, tersedia alternatif melalui appointment slots atau appointment schedules. Jika Anda sudah memiliki akun yang sesuai, bisa langsung mengikuti langkah-langkah berikut ini: Buka Google Calendar di komputer Anda. Kemudian masuk ke “Settings” dan pilih menu “General”. Masuk ke opsi “Appointment schedules”. Untuk mengaktifkan Appointment schedules, centang kotak di samping “Create appointment schedules instead of appointment slots”. Sedangkan untuk menonaktifkan fitur, cukup hapus centang pada kotak. Baca juga: Cara Kelola Tugas Tertunda Lebih Cepat di Google Calendar Cara menggunakan Appointment schedule di Google Calendar  Photo Credit: Rawpixel Bagi pemilik akun Google Workspace yang ditingkatkan, bisa langsung klik tombol “Create” dan pilih opsi “Appointment schedule” pada menu pull-down. Kemudian Anda bisa membuat halaman booking, mencantumkan ketersediaan waktu, dan mengizinkan rekan atau klien untuk memilih jadwal yang paling sesuai. Selain itu, pengguna juga bisa memilih durasi dan lokasi rapat yang sudah ditentukan, baik di dunia nyata maupun melalui video di Google Meet. Sedikit tips tambahan Untuk membuat jadwal janji temu, Anda juga dapat mengklik kapan saja di bagian kalender yang belum memiliki acara yang dijadwalkan. Di jendela yang muncul, klik Appointment schedule. Pilih opsi “Create a new appointment schedule” atau “Add availability to an existing schedule”. Fitur baru ini juga membantu Anda untuk menghindari jadwal yang overlap. Jika Anda memilih opsi “Ya” atau “Maybe” pada suatu event maka halaman booking akan otomatis terisi sesuai waktu yang tercantum. Apa perbedaan Appointment schedule dengan Appointment slots Fitur “Appointment schedule” membuat Google Calendar lebih sesuai dengan platform penjadwalan Calendly sehingga dapat mengintegrasikan lima kalender berbeda, termasuk Google Calendar dan Microsoft Teams. Google Calendar sebenarnya sudah lama memiliki fitur Appointment slots. Namun fitur tersebut hanya ditujukan untuk grup internal, seperti teman sekelas, rekan kerja atau teman. Sedangkan fitur Appointment schedule ini dapat ditujukan untuk siapa saja yang memiliki alamat email, bahkan untuk mereka yang tidak memiliki akun Google. Selain itu, Appointment schedule juga menyediakan kapabilitas deteksi konflik otomatis yang akan menunjukkan waktu-waktu Anda sibuk. Dengan begitu, fitur ini membantu mengurangi waktu yang dihabiskan pengguna untuk menemukan dan melakukan penjadwalan ulang janji temu. Pengguna Workspace juga dapat mengontrol berapa banyak orang yang dapat booking jadwal lebih awal atau menit terakhir, membatasi jumlah janji temu per hari, menambahkan jeda antar rapat, mengumpulkan info tambahan dari orang yang membuat janji, dan mengirimkan email pengingat sebelum rapat. Apakah Appointment slots tak lagi relevan? Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Ada beberapa fitur yang ada pada Appointment slots yang tidak tersedia di Appointment schedule. Google memberikan rekomendasi untuk menggunakan fitur Appointment slots lama, terutama jika Anda perlu menambahkan anggota tim tambahan, melimpahkan dukungan kalender atau memesan ruang konferensi. Baca juga: Manfaat Google Calendar untuk Bisnis Fitur Appointment schedule ini memungkinkan user untuk lebih mudah menata aktivitas dan menghindari penumpukan jadwal. Untuk sekarang, fitur ini baru tersedia pada paket langganan Google Workspace Business Standar ke atas. Tertarik untuk menggunakan Appointment schedule? EIKON Technology menyediakan paket langganan Google Workspace Business dengan lisensi resmi dari Google dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini

Google Docs, Google Workspace

Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel!

Google Docs baru saja menambahkan fitur Markdown pada Google Docs versi web. Update ini memungkinkan Anda untuk bisa menyunting dokumen dengan text shortcut. Jadi, tak perlu lagi bolak-balik klik icon atau menekan keyboard shortcut. Lalu bagaimana cara kerjanya? Apa itu Markdown? Markdown merupakan sebuah bahasa markup ringan yang dibuat oleh John Gruber di tahun 2004. Dengan memanfaatkan bahasa tersebut, Anda bisa menambahkan berbagai elemen pemformatan ke dokumen teks tanpa harus menggunakan icon bantuan atau keyboard shortcut. Kini, Markdown sudah menjadi salah satu bahasa markup populer di dunia. Menggunakan Markdown berbeda dengan menggunakan editor WYSIWYG yang ada pada aplikasi semacam Microsoft Word. Pada editor tersebut, untuk mengubah format teks Anda harus mengeklik tombol tertentu. Pada Markdown, Anda cukup menambahkan karakter tertentu pada teks maka formatnya pun akan langsung berubah. Baca juga: Buat Dokumen Lebih Cepat dengan Universal Menu, Fitur Terbaru Google Docs Cara kerja Markdown di Google Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Seperti yang sudah disebutkan pada poin sebelumnya, Markdown mengubah format teks dengan menambahkan karakter tertentu. Karakter tersebut sebenarnya sudah punya “pakem” sendiri, yaitu Markdown syntax. Di Google Docs sendiri, memang tidak seluruh Markdown syntax berlaku. Google memilih beberapa yang dinilai paling sering digunakan oleh para user seperti fungsi bold dan mengatur heading. Berikut adalah beberapa Markdown syntax yang berlaku di Google Docs versi web: # untuk Heading 1. ## untuk Heading 2. ### untuk Heading 3. _  atau * di awal dan akhir kata untuk fungsi italic (membuat teks miring). ** di awal dan akhir kata untuk fungsi bold (membuat teks tebal). [] di awal dan akhir kata kemudian diikuti (alamat URL) untuk membuat hyperlink. Misalnya Anda ingin mengetik Google Workspace di sini. Maka tinggal mengetikkan **Google Workspace** [_di sini_]( https://workspace.eikontechnology.com/). Google menyebutkan bahwa untuk saat ini, Markdown syntax yang berlaku adalah sebagai berikut: Headings. Italic dan bold. Bold + italic. Strikethrough atau garis coret tengah. Hyperlink. Mengaktifkan Markdown di Google Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Sebelum mulai mengetik dengan Markdown, Anda harus memastikan bahwa fitur tersebut memang sudah tersedia dan aktif. Untuk melakukan pengecekan tidaklah sulit. Cukup klik menu “Tools” yang ada pada bagian atas Google Docs kemudian pilih opsi “Preferences”. Saat menu “Preferences” terbuka, pastikan sudah ada opsi “Automatically detect markdown” dan pastikan checkbox yang ada di sebelahnya sudah tercentang. Jika belum tercentang, segera klik box yang kosong dan kemudian klik tab “OK” untuk menyimpan pengaturan. Ketersediaan Fitur Markdown ini tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk mereka yang masih berlangganan G Suite Basic dan Business. Seluruh pemilik akun Google pribadi yang ingin menggunakan Google Docs juga bisa mencoba fitur Markdown ini. Pengaturan Markdown tidak memerlukan izin dari administrator karena memang ditujukan untuk seluruh end user Google Docs. Untuk cara mengaktifkannya cukup mengikuti panduan yang telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Perlu diingat juga, update ini mulai diluncurkan pada tanggal 29 Maret 2022. Proses rollout akan terus berjalan hingga 15 hari setelahnya. Diperkirakan pada tanggal 13 April 2022 nanti, seluruh end user Google Docs sudah bisa menikmati fitur Markdown ini. Baca juga: Cara Mengedit Google Docs secara Offline Dengan Mudah Kini Anda sudah bisa melakukan pemformatan dengan Markdown di Google Docs versi web. Selain Docs, Google juga memiliki berbagai aplikasi dan layanan produktivitas untuk memudahkan pekerjaan Anda. Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi Google lain akan lebih cepat dengan Google Workspace, platform yang menampung seluruh aplikasi produktivitas Google seperti Docs, Sheets, hingga Meet. Untuk penerapan Google Workspace skala besar seperti untuk keperluan perusahaan, Anda bisa menghubungi kami, EIKON Technology. Kami merupakan authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Untuk langsung terhubung dengan kami, silakan klik di sini!

Google Meet, Google Workspace

Google Meet Kini Perluas Akses Noise Cancellation

Google Meet merupakan layanan komunikasi video yang dirancang untuk menggantikan Google Hangouts. Aplikasi ini umumnya digunakan untuk video conference atau video meeting. Di masa pandemi, jumlah penggunanya mengalami peningkatan signifikan. Data dari tahun 2020 bahkan menunjukkan bahwa Meet mendapatkan 3 juta user baru tiap harinya, Hal tersebut tidak mengherankan jika melihat situasi pandemi. Di masa pandemi, banyak pertemuan, rapat, bahkan kegiatan belajar-mengajar yang kemudian beralih ke media online. Momentum kenaikan jumlah user yang signifikan tersebut lantas dimanfaatkan Meet untuk menghadirkan berbagai fitur dan layanan baru. Salah satunya adalah noise cancellation. Dengan fitur ini, user bisa meredam kebisingan di sekelilingnya sehingga suara yang keluar pun lebih jernih. Jalannya meeting pun jadi lebih lancar. Nah, pada update terbaru Google Meet, fitur ini mengalami peningkatan. Seperti apa? Akses yang lebih luas   Dalam update terbaru Google Meet yang diumumkan pada 23 Maret 2022 lalu, terdapat perubahan pada fitur noise cancellation. Kini, semua peserta rapat dapat menggunakan kapabilitas noise cancellation apabila: Kapabilitas noise cancellation tersedia di Google Workspace milik penyelenggara rapat. Pengguna bergabung ke meeting menggunakan hardware Google Meet apa pun. Di samping itu, jika salah satu peserta rapat memiliki kapabilitas noise cancellation, maka fungsi tersebut akan berlaku bagi seluruh peserta rapat lainnya, meski penyelenggara tidak memilikinya. Update ini diharapkan akan membantu pengguna Google Meet dan Google Workspace dalam meningkatkan kualitas rapat dan membatasi gangguan kebisingan di tempat mereka. Baca juga: Device Google Meet Hardware yang Sesuai untuk Bisnis Anda Cara mengaktifkan Photo Credit: DCStudio (Freepik) Peningkatan noise cancellation ini akan otomatis bekerja saat Anda memulai atau mengikuti rapat online. Google menyebutkan bahwa layanan ini telah tersedia untuk seluruh pengguna Meet. Bagi Anda yang menggunakan Google Workspace dari tempat kerja, pembaruan ini tidak membutuhkan pengaturan tambahan dari administrator. Namun jika Anda memerlukan bantuan, Google menyediakan halaman bantuan di Help Center yang bisa diakses di sini.   Ketersediaan layanan Noise cancellation ini memang telah tersedia untuk seluruh pengguna Meet, namun untuk aktivasi otomatisnya, terdapat pengaturan khusus. Berikut detailnya: Noise cancellation diaktifkan secara default untuk: Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Frontline, Enterprise Plus, dan akun pelanggan Workspace Individual. Noise cancellation dinonaktifkan secara default untuk: akun Education Plus serta Teaching and Learning Upgrade. Untuk semua akun Google Workspace: Jika setelan diaktifkan secara default untuk perusahaan Anda dalam rapat dengan orang lain di luar perusahaan, mereka juga dapat menggunakan fitur ini selama rapat berjalan. Pengaturan baru di konsol Admin Selain noise cancellation, pembaruan tersebut juga menghadirkan opsi pengaturan baru di konsol Admin. Dengan setelan baru, administrator kini bisa mengontrol akses ke fitur Google Meet seperti Chat, Present, Q&A, dan Polls. Namun perlu diingat, opsi ini baru tersedia untuk edisi Google Workspace yang telah menyertakan kapabilitas administrator. Sebelumnya, hanya penyelenggara rapat dan rekan penyelenggara yang dapat mengontrol akses ke fitur ini per rapat. Sekarang admin dapat menentukan fitur Meet interaktif mana yang dapat diakses oleh pengguna di domain mereka. Photo Credit: prostooleh (Freepik) Fitur ini memberi administrator lebih banyak kontrol terhadap penggunaan Google Meet di perusahaan mereka. Misalnya, di sekolah, pengaturan ini memungkinkan Anda mengontrol apakah siswa dapat mengirim pesan chat selama rapat video atau tidak. Dalam pengaturan bisnis, khususnya pada rapat perusahaan besar, Anda bisa memberikan kendali kepada penyelenggara untuk melakukan jajak pendapat sehingga memudahkan mereka mengambil keputusan. Baca juga: Update T Terbaru Google Meet: Bisa Meeting Hingga 500 Peserta Dengan adanya peningkatan ini diharapkan pengguna Google Meet bisa meningkatkan kualitas rapat untuk memudahkan pekerjaan mereka. Selain Meet, Google juga menyediakan berbagai aplikasi serta fitur produktivitas lewat Google Workspace. Bagi Anda pemilik perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas sekaligus memunculkan kultur kolaborasi, Google Workspace adalah solusi terbaik. Dapatkan personalized Google Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda hanya di EIKON Technology, authorized reseller yang ditunjuk Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace

ASG: Manfaatkan Google Workspace untuk Bangun Kultur Kolaborasi

Aditya Sarana Graha (ASG) merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, impor, distribusi, dan logistik bahan bangunan serta peralatan rumah tangga. ASG juga telah mengembangkan brand sendiri seperti Wasser, Kirin, dan Arlita serta berkolaborasi dengan brand global ternama seperti Roca, Viessman, dan juga Paloma dalam mendistribusikan produk dan layanan mereka. Dalam kasus ini, EIKON membantu ASG dalam keseluruhan proses deployment, migrasi, hingga manajemen perubahan untuk transisi yang mulus guna mencapai efek terbaik dengan disrupsi yang seminimal mungkin. Tantangan yang dihadapi Photo Credit: yanalya (Freepik) Hingga saat ini, ASG melayani lebih dari 2.000 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagian besar masih belum menerapkan teknologi komunikasi digital dan lebih mengandalkan metode konvensional. Kolaborasi melalui platform belum terwujud karena dikhawatirkan akan mengganggu koordinasi operasional sehari-hari perusahaan. Belum lagi kondisi geografis perusahaan yang terpisah jauh satu sama lain dan ditambah dengan infrastruktur yang masih kurang ideal. Tanpa disadari, situasi tersebut telah menciptakan silo (sekat pemisah) komunikasi dan menghambat terjadinya kolaborasi antara ASG dengan perusahaan mitra. Hal ini merupakan kerugian produktivitas yang sering kali tidak disadari banyak orang. Solusi yang ditawarkan Untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh ASG, EIKON menawarkan solusi melalui Google Workspace. Platform produktivitas Google tersebut menyediakan berbagai fitur dan layanan kolaborasi yang saling terintegrasi. Google Workspace menyediakan berbagai cara untuk berkomunikasi (melalui Google Meet) dan bekerja sama dalam satu versi dokumen (Dokumen/Spreadsheet /Slide) dalam satu Google Drive. Selain itu, penjadwalan dan koordinasi satu sama lain pun jadi jauh lebih sederhana dan mudah melalui Google Calendar. Dengan memanfaatkan aplikasi, fitur, serta layanan tersebut, diharapkan alur produktivitas kerja AGS menjadi jauh lebih lancar dibandingkan saat kolaborasi belum terjadi. Penerapan teknologi produktivitas Google juga diperhitungkan dapat memicu terjadinya efisiensi, baik dari segi biaya, waktu, maupun tenaga sehingga AGS dapat lebih fokus pada bisnis utama mereka. Hasil Kini, sebagian besar rapat AGS dapat dilakukan secara online daripada secara langsung. Dengan begitu, pekerjaan tak hanya menjadi lebih produktif, tapi juga efisien, baik dari segi perjalanan maupun waktu. Kolaborasi dengan Google Workspace di seluruh organisasi telah meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tempat kerja. Yang paling penting, kolaborasi dengan cepat telah menjadi cara kerja baru AGS. Andrew Colin Chandra, Systems Development Director Aditya Sarana Graha menambahkan bahwa penggunaan Google Workspace, “telah menghidupkan tanggung jawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai tujuan perusahaan bersama-sama. Cukup dengan ‘Invite’ dan ‘Share the Docs’ saja!”. Kami bantu Anda temukan solusi terbaik Photo Credit: benzoix (Freepik) Di zaman sekarang, kolaborasi telah menjadi salah satu elemen untuk mewujudkan produktivitas kerja yang lebih baik lagi Terlebih di saat pandemi seperti sekarang. Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang dapat berkolaborasi meski terbatas aturan social distancing atau pembatasan yang ditetapkan oleh pemerintah. Pada kasus ini, kolaborasi amat diperlukan karena AGS memiliki ribuan mitra kerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Kolaborasi digital tidak hanya akan meningkatkan produktivitas kerja, tapi juga memungkinkan terjadinya efisiensi, baik dari segi biaya, waktu, maupun tenaga. Perusahaan Anda pun bisa mencapai produktivitas kerja yang lebih baik lagi dengan memanfaatkan teknologi kolaborasi seperti Google Workspace. Kami siap membantu Anda mewujudkan hal tersebut dengan menyediakan solusi menyeluruh mulai dari pemilihan produk yang paling tepat, pemasangan, migrasi, hingga manajemen perubahan untuk transisi yang mulus guna mencapai efek terbaik dengan disrupsi yang seminimal mungkin. Untuk mengetahui solusi yang Anda butuhkan, silakan klik di sini!

Google Workspace

4 Alasan Mengapa EIKON Technology Adalah Solusi Implementasi Google Workspace Terbaik

Google Workspace merupakan sebuah tool produktivitas yang mendukung kolaborasi kerja. Bukan sekadar productivity tool biasa, Google Workspace menyediakan berbagai aplikasi, layanan, hingga kapabilitas untuk mempermudah pekerjaan, di mana pun Anda berada, di kantor, rumah, hingga di lapangan. Untuk mulai mengimplementasi Google Workspace pada ekosistem kerja Anda, bukanlah hal yang sulit. EIKON Technology siap mendampingi Anda, mulai dari memilih produk, penerapan, migrasi, hingga manajemen tool. Berikut cerita tentang bagaimana klien EIKON memanfaatkan Google Workspace untuk menunjang operasional bisnis mereka. Transformasi digital yang lebih mulus Salah satu tantangan yang dihadapi oleh banyak perusahaan saat ini adalah transformasi digital. Kebanyakan, masih mengandalkan model kerja konvensional. Di waktu yang sama, teknologi berkembang begitu pesat hingga rasanya sulit untuk dikejar. Tanpa adaptasi yang baik, perusahaan akan kesulitan melakukan transformasi digital dengan lancar. Tantangan ini pun dihadapi oleh perusahaan manufaktur, ASG. Dengan lebih dari 2.000 mitra yang tersebar di Indonesia, dan mayoritas masih menerapkan cara kerja konvensional, ASG pun menghadapi tantangan koordinasi operasi harian. Google Workspace menawarkan berbagai layanan yang mudah dijalankan, bahkan oleh mereka yang tidak begitu familier dengan teknologi terkini, seperti Docs, Sheet, dan Slide. Selain itu, tersedia jalur komunikasi baru yang lebih efisien dan interaktif melalui Google Meet. “Yang terpenting, kolaborasi kini telah menjadi cara kerja baru kami, memungkinkan tanggung jawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai tujuan perusahaan.” Andrew Colin Chandra, Systems Development Director Aditya Sarana Graha. Baca juga; Menghubungkan Karyawan Bekerja secara Hybrid dengan Google Workspace Kolaborasi semudah menjentikkan jari Banyak perusahaan yang menggunakan infrastruktur lokal untuk mengelola email dan saluran komunikasi mereka. Untuk perusahaan skala besar, mengelola server, penyimpanan, dn jaringan, jelas bukanlah perkara mudah. User pun selalu dibayangi kemungkinan pembatasan akses, mobilitas rendah, hingga fitur yang terbatas. Dalam Google Workspace, Anda dapat menemukan berbagai tools dan layanan komunikasi sekaligus kolaborasi yang berjalan di cloud. Itu artinya, kapasitas penyimpanan lebih besar, mobilitas lebih cepat, dan tentunya kolaborasi yang lebih mudah. “Pindah ke Google Workspace adalah keputusan tepat yang kami buat di tahun 2019. Ini meningkatkan produktivitas, mobilitas, dan kolaborasi karyawan, terutama selama pandemi. Change = Growth. Go Beyond.” Candra Setianto, CTO Orang Tua Group. Baca juga: 4 Fitur Google Workspace untuk Mudahkan Kolaborasi Kerja Produktif dan efisien Seringkali perusahaan merasa enggan untuk menerapkan teknologi baru dalam operasional mereka. Sebab, penerapan teknologi baru identik dengan biaya yang mahal. Google Workspace menyediakan berbagai versi dan paket dengan harga yang bisa dipilih sesuai bujet Anda. Selain itu, teknologi ini juga berjalan untuk jangka waktu yang panjang. Anda bahkan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya maintenance! “Kini kami dapat berkolaborasi dan berkomunikasi dengan nyaman dan aman menggunakan Google Workspace. Tak perlu berurusan lagi dengan infrastruktur sehingga lebih mudah untuk fokus pada bisnis utama kami. Dengan dukungan dari EIKON Technology, kami bisa memanfaatkan Workspace secara maksimal dengan harga terjangkau.” CNBC Indonesia. Baca juga: Keunggulan Google Workspace untuk Membantu Bisnis Tetap aman dalam fleksibilitas tinggi Sering dengan pesatnya perkembangan teknologi, ancaman keamanan siber pun ikut meningkat. Selain melakukan berbagai tindakan preventif yang melindungi data Anda, ada baiknya untuk mulai memanfaatkan tools untuk meningkatkan keamanan serta melindungi data perusahaan Anda. Di samping menawarkan alat komunikasi dan kolaborasi, Google Workspace juga telah dibekali dengan teknologi keamanan canggih yang terus diperbarui. Bayangkan, Anda bisa mendapatkan fleksibilitas kerja yang tinggi, sekaligus keamanan data yang ketat! “Google secara konsisten mengembangkan Google Workspace dan sebagai pelanggan, kami mendapatkan manfaatnya. Kami bisa mendapatkan software yang lebih baik setiap hari tanpa harus melakukan apa pun. Keamanan penting bagi kami dan Google Workspace mampu memberikan apa yang kami harapkan. Ini membawa begitu banyak efisiensi bagi perusahaan kami.” Charthon A. Kurniawan, Head of IT BDO Indonesia. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda saat Menggunakan Google Workspace Dengan mengimplementasikan Google Workspace dalam ekosistem kerja perusahaan, Anda bisa lebih fokus dalam mengelola bisnis utama. Tidak ada lagi maintenance, komunikasi yang terbatas, dan ancaman pada data, semuanya hanya dengan satu solusi. Buat bisnis Anda semakin maju dan EIKON Technology siap mendampingi Anda. Untuk informasi lebih lanjut,  silakan klik di sini!

Google Cloud

Otomatisasi Log Uploads dengan Google Cloud Transfer

gcloud transfer command-line merupakan sebuah tool yang berfungsi untuk mengakses layanan cloud Google, baik menggunakan scripts atau dari command line. Tool ini juga dapat digunakan untuk menjalankan otomatisasi lainnya. Dengan tool ini Anda dapat menulis script untuk menjalankan instance sesuai dengan kebutuhan. Artikel kali ini akan membahas bagaimana cara menggunakan gcloud transfer command-line untuk common task, yaitu untuk mengunggah log ke cloud. Mari simak langkah-langkahnya berikut ini: Persiapan Untuk menjalankan gcloud transfer command-line, Anda memerlukan perangkat yang menjalankan sistem operasi Linux dengan setidaknya 8 GB RAM untuk melanjutkan. Namun jika Anda tidak memilikinya, bisa beralih ke Compute Engine virtual machine. Alat ini cocok untuk transfer data dalam jumlah besar (bahkan hingga petabytes). Langkah pertama, buatlah beberapa log untuk diunggah. Selanjutnya, Anda bisa menambahkan script berikut:   $ mkdir my-logs $ cd my-logs $ echo “i am a petabyte” > logs.txt Di gcloud CLI. Jika Anda belum melakukannya, silakan unduh gcloud CLI. Anda akan diminta untuk masuk ke akun Google selama proses penginstalan. Bagaimana dengan biaya untuk menyelesaikan tutorial ini dalam proyek Google Cloud? Biaya pekerjaan transfer adalah US$0,0125 per GB. Tabel harga lengkap bisa dilihat di sini. Selanjutnya, Anda memerlukan bucket Google Cloud Storage untuk mengunggah. Untuk membuat bucket, silakan jalankan perintah berikut:   $ gsutil mb [globally unique bucket ID] Menggunakan transfer gcloud Selanjutnya, beri izin yang diperlukan untuk menggunakan semua fitur transfer gcloud:   $ gcloud transfer authorize Menambahkan transfer dari satu bucket cloud ke bucket lainnya dengan gcloud sangatlah mudah. Menyiapkan sistem file lokal Anda untuk menangani pekerjaan transfer memerlukan sedikit lebih banyak pekerjaan. Sebagai tambahan, Anda perlu mengunduh “agent”. Pada dasarnya, agent merupakan sebuah docker yang menjalankan program yang didedikasikan untuk menyalin file. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Sebelum memasang agent apa pun, Anda memerlukan agent pool. Saat tugas transfer menugaskan pekerjaan ke pool, agent mana pun di dalam pool kemungkinan besar akan menyalin file. Gunakan agent pool untuk memastikan hanya agent dengan akses menuju file yang Anda inginkan untuk menjalankan tugas transfer.   $ gcloud transfer agent-pools create [pool ID] Untuk memasang sebuah agent pada sistem Anda jalankan:   $ gcloud transfer agents install –pool=[pool ID] Kini Anda bisa mengunggah fake logs. Storage Transfer Service bekerja paling baik dengan absolute paths, jadi gunakan perintah “pwd” untuk mendapatkan jalur menuju folder Anda saat ini. Pastikan Anda sudah berada di dalam folder “my-logs”. Untuk mengunggah dari sistem file POSIX, Anda memerlukan sebuah skema “posix://” (pada Linux dan Mac).   $ gcloud transfer jobs create posix://$(pwd) gs://[bucket ID] –source-agent-pool=[pool ID] Perintah di atas akan mengembalikan metadata pekerjaan transfer baru Anda. Untuk memantau transfer, jalankan perintah di bawah ini dengan nilai untuk kunci “nama” yang dikembalikan:  $ gcloud transfer jobs monitor [transfer job ID] $ gsutil ls gs://[bucket ID] Otomatisasi Katakanlah Anda ingin mengunggah log setiap tengah malam sepanjang tahun 2022 dan 2023. Anda pasti membutuhkan kapabilitas untuk menjadwalkan transfer data reguler dalam jumlah besar. gcloud adalah tool yang tepat untuk itu, terlebih jika dibandingkan dengan tool Google lain seperti gsutil. Untuk melakukan hal tersebut, Anda hanya perlu memperbarui pengaturan jadwal pekerjaan dengan menambahkan perintah:   $ gcloud transfer jobs update [transfer job ID] –schedule-repeats-every=24h  \    –schedule-starts=2022-01-01  \    –schedule-repeats-until=2023-01-01 Jika terdapat virtual machine lainnya, Anda dapat memasang agent pada mesin tersebut di pool yang sama seperti sebelumnya. Dengan catatan, tiap mesin tidak memiliki pengaturan khusus. Namun apabila Anda ingin tiap mesin mengunggah log ke tujuan cloud yang berbeda, gcloud transfer command-line telah menyediakan script untuk dijalankan sekali di setiap perangkat. Pastikan agent pool dan argumen tujuan berbeda untuk tiap perangkat. Cara lainnya, dengan menggunakan satu mesin untuk mengunggah ke lokasi yang sama, Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Seperti yang telah disebutkan, gcloud transfer command-line merupakan suatu tool yang ada dalam ekosistem Google Cloud. Maka dari itu, operasionalnya akan lebih mudah jika Anda menggunakan layanan komputasi Google Cloud. Belum memiliki Google Cloud untuk perusahaan Anda? Tak perlu khawatir, kini Anda bisa mendapatkan personalized Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Cloud

Menyederhanakan Disaster Recovery dengan Cloud Spanner

Disaster recovery sama pentingnya dengan perlindungan data bagi aplikasi penting perusahaan. Perencanaannya harus mampu melindungi aplikasi (dan data di dalamnya) dari bencana alam serta insiden yang disebabkan oleh manusia, seperti pengiriman bug yang bisa menyebabkan timbulnya bad data. Bagaimana perencanaan disaster recovery yang ideal untuk mengatasi insiden? RPO dan RTO Photo Credit: Google Cloud Blog Sebagai bagian dari rencana, pemilik aplikasi harus mempertimbangkan kedua RPO (Recovery Point Objective), yang berkaitan dengan usia data siap dipulihkan serta RTO (Recovery Time Objective), yang berhubungan dengan total waktu yang disiapkan untuk mengembalikan aplikasi setelah insiden. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Cloud Spanner CPU sebagai strategi disaster recovery Cloud Spanner merupakan database relasional yang terkelola sepenuhnya dengan skala tak terbatas, konsistensi kuat, dan ketersediaan hingga 99,999%. Layanan ini menyediakan replikasi yang transparan dan sinkron di seluruh zona dengan konfigurasi regional. Juga, konfigurasi multi-region di seluruh region. Secara inheren, arsitektur Cloud Spanner mengatasi beberapa penyebab insiden yang harus diatasi oleh solusi disaster recovery konvensional. Terlepas dari ketersediaan tinggi yang ditawarkan Cloud Spanner, pemilik aplikasi tetap membutuhkan perlindungan data. Sebab, masih ada kemungkinan kesalahan pengguna atau bug aplikasi yang dapat menyebabkan salah simpan nilai ke dalam database. Sebagai solusi, Cloud Spanner menawarkan backup/restore dan point-in-time recovery. Optimalisasi backup Cloud Spanner Pencadangan Cloud Spanner konsisten secara transaksional. Itu berarti, saat pencadangan dibuat, pencadangan menangkap konten database yang tepat (seperti timestamp pencadangan atau timestamp komit transaksi granularity mikrodetik). Arsitektur ini memastikan bahwa semua data terkait transaksi yang dilakukan disertakan dalam pencadangan. Namun semua pembaruan sebagian yang masih terkait dengan transaksi tidak terikat dikecualikan. Pemulihan point-in-time memungkinkan pemulihan dari timestamp yang dipilih pengguna (dengan semantik yang sama sebagai cadangan). Photo Credit: Google Cloud Blog Katakanlah Anda punya database 10 TB yang mendukung suatu aplikasi penting perusahaan. Maka Anda bisa secara teratur mengambil cadangan sebagai bagian dari rencana disaster recovery. Di banyak sistem, mencadangkan database besar bisa makan waktu berjam-jam dan dapat meningkatkan beban CPU sehingga berdampak buruk. Photo Credit: Google Cloud Blog Cloud Spanner telah memecahkan masalah ini dengan CPU Optimized Backups. Dengan fitur ini, Cloud Spanner memisahkan sumber daya CPU yang digunakan untuk instances database pelanggan dari sumber daya CPU yang digunakan untuk pembuatan cadangan. Keuntungan menggunakan Cloud Spanner CPU sebagai solusi disaster recovery Pelanggan tak perlu lagi menyediakan kapasitas komputasi tambahan. Jadi, ruang kepala CPU bisa digunakan untuk pencadangan. Beban CPU pada instances pelanggan karena pencadangan berkurang hampir nol. Artinya, tidak ada dampak buruk terhadap beban kerja produksi saat pencadangan. Pekerjaan batch yang membuat cadangan dapat diskalakan secara independen dari jumlah server di instances pelanggan. Sistem file yang mendasarinya sangat terdistribusi dan memungkinkan bandwidth baca yang pada dasarnya tidak terbatas. Dengan CPU Optimized Backups, ukuran pekerjaan pencadangan dipisahkan menurut ukuran instances pelanggan, sehingga memungkinkan pencadangan untuk database besar mencapai ukuran yang sangat besar (berpotensi, ribuan mesin). Hal lain yang perlu diperhatikan Photo Credit: Freepik Kinerja backup bergantung pada berbagai faktor, termasuk beberapa faktor khusus seperti detail skema. Oleh karenanya, tidak ada estimasi performa yang sangat spesifik. Meskipun begitu, diketahui bahwa sebagian besar pencadangan database biasanya selesai dalam waktu satu hingga dua jam (termasuk database berukuran ratusan TB). CPU Optimized Backups melanjutkan tradisi inovasi teknis dalam perlindungan data Cloud Spanner dan pemulihan bencana. Fungsionalitas pemulihan yang ada memanfaatkan pencadangan per zona untuk mengaktifkan pemulihan cepat tanpa penyalinan data lintas zona. Point-in-time memungkinkan pemulihan yang fleksibel. Meski begitu, tidak ada perubahan harga pencadangan dengan CPU Optimized Backups. Baca juga: Membongkar Mitos Seputar Cloud Spanner Cloud Spanner merupakan database NewSQL yang menggabungkan skalabilitas dan ketersediaan tinggi NoSQL dengan model relasional, dukungan transaksional, dan SQL RDBMS. Arsitektur ini tersedia di Google Cloud Platform sejak tahun 2017 lalu. Dengan menggunakan Google Cloud Platform, Anda pun bisa menikmati seluruh kemudahan Cloud Spanner dalam menyederhanakan disaster recovery plan. Lindungi keamanan data perusahaan Anda dari berbagai potensi risiko dengan Google Cloud. Dapatkan Google Cloud hanya di EIKON Technology, reseller resmi produk-produk Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Scroll to Top