EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Meet, Google Workspace

Google Meet Kini Perluas Akses Noise Cancellation

Google Meet merupakan layanan komunikasi video yang dirancang untuk menggantikan Google Hangouts. Aplikasi ini umumnya digunakan untuk video conference atau video meeting. Di masa pandemi, jumlah penggunanya mengalami peningkatan signifikan. Data dari tahun 2020 bahkan menunjukkan bahwa Meet mendapatkan 3 juta user baru tiap harinya, Hal tersebut tidak mengherankan jika melihat situasi pandemi. Di masa pandemi, banyak pertemuan, rapat, bahkan kegiatan belajar-mengajar yang kemudian beralih ke media online. Momentum kenaikan jumlah user yang signifikan tersebut lantas dimanfaatkan Meet untuk menghadirkan berbagai fitur dan layanan baru. Salah satunya adalah noise cancellation. Dengan fitur ini, user bisa meredam kebisingan di sekelilingnya sehingga suara yang keluar pun lebih jernih. Jalannya meeting pun jadi lebih lancar. Nah, pada update terbaru Google Meet, fitur ini mengalami peningkatan. Seperti apa? Akses yang lebih luas   Dalam update terbaru Google Meet yang diumumkan pada 23 Maret 2022 lalu, terdapat perubahan pada fitur noise cancellation. Kini, semua peserta rapat dapat menggunakan kapabilitas noise cancellation apabila: Kapabilitas noise cancellation tersedia di Google Workspace milik penyelenggara rapat. Pengguna bergabung ke meeting menggunakan hardware Google Meet apa pun. Di samping itu, jika salah satu peserta rapat memiliki kapabilitas noise cancellation, maka fungsi tersebut akan berlaku bagi seluruh peserta rapat lainnya, meski penyelenggara tidak memilikinya. Update ini diharapkan akan membantu pengguna Google Meet dan Google Workspace dalam meningkatkan kualitas rapat dan membatasi gangguan kebisingan di tempat mereka. Baca juga: Device Google Meet Hardware yang Sesuai untuk Bisnis Anda Cara mengaktifkan Photo Credit: DCStudio (Freepik) Peningkatan noise cancellation ini akan otomatis bekerja saat Anda memulai atau mengikuti rapat online. Google menyebutkan bahwa layanan ini telah tersedia untuk seluruh pengguna Meet. Bagi Anda yang menggunakan Google Workspace dari tempat kerja, pembaruan ini tidak membutuhkan pengaturan tambahan dari administrator. Namun jika Anda memerlukan bantuan, Google menyediakan halaman bantuan di Help Center yang bisa diakses di sini.   Ketersediaan layanan Noise cancellation ini memang telah tersedia untuk seluruh pengguna Meet, namun untuk aktivasi otomatisnya, terdapat pengaturan khusus. Berikut detailnya: Noise cancellation diaktifkan secara default untuk: Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Frontline, Enterprise Plus, dan akun pelanggan Workspace Individual. Noise cancellation dinonaktifkan secara default untuk: akun Education Plus serta Teaching and Learning Upgrade. Untuk semua akun Google Workspace: Jika setelan diaktifkan secara default untuk perusahaan Anda dalam rapat dengan orang lain di luar perusahaan, mereka juga dapat menggunakan fitur ini selama rapat berjalan. Pengaturan baru di konsol Admin Selain noise cancellation, pembaruan tersebut juga menghadirkan opsi pengaturan baru di konsol Admin. Dengan setelan baru, administrator kini bisa mengontrol akses ke fitur Google Meet seperti Chat, Present, Q&A, dan Polls. Namun perlu diingat, opsi ini baru tersedia untuk edisi Google Workspace yang telah menyertakan kapabilitas administrator. Sebelumnya, hanya penyelenggara rapat dan rekan penyelenggara yang dapat mengontrol akses ke fitur ini per rapat. Sekarang admin dapat menentukan fitur Meet interaktif mana yang dapat diakses oleh pengguna di domain mereka. Photo Credit: prostooleh (Freepik) Fitur ini memberi administrator lebih banyak kontrol terhadap penggunaan Google Meet di perusahaan mereka. Misalnya, di sekolah, pengaturan ini memungkinkan Anda mengontrol apakah siswa dapat mengirim pesan chat selama rapat video atau tidak. Dalam pengaturan bisnis, khususnya pada rapat perusahaan besar, Anda bisa memberikan kendali kepada penyelenggara untuk melakukan jajak pendapat sehingga memudahkan mereka mengambil keputusan. Baca juga: Update T Terbaru Google Meet: Bisa Meeting Hingga 500 Peserta Dengan adanya peningkatan ini diharapkan pengguna Google Meet bisa meningkatkan kualitas rapat untuk memudahkan pekerjaan mereka. Selain Meet, Google juga menyediakan berbagai aplikasi serta fitur produktivitas lewat Google Workspace. Bagi Anda pemilik perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas sekaligus memunculkan kultur kolaborasi, Google Workspace adalah solusi terbaik. Dapatkan personalized Google Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda hanya di EIKON Technology, authorized reseller yang ditunjuk Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace

ASG: Manfaatkan Google Workspace untuk Bangun Kultur Kolaborasi

Aditya Sarana Graha (ASG) merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, impor, distribusi, dan logistik bahan bangunan serta peralatan rumah tangga. ASG juga telah mengembangkan brand sendiri seperti Wasser, Kirin, dan Arlita serta berkolaborasi dengan brand global ternama seperti Roca, Viessman, dan juga Paloma dalam mendistribusikan produk dan layanan mereka. Dalam kasus ini, EIKON membantu ASG dalam keseluruhan proses deployment, migrasi, hingga manajemen perubahan untuk transisi yang mulus guna mencapai efek terbaik dengan disrupsi yang seminimal mungkin. Tantangan yang dihadapi Photo Credit: yanalya (Freepik) Hingga saat ini, ASG melayani lebih dari 2.000 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagian besar masih belum menerapkan teknologi komunikasi digital dan lebih mengandalkan metode konvensional. Kolaborasi melalui platform belum terwujud karena dikhawatirkan akan mengganggu koordinasi operasional sehari-hari perusahaan. Belum lagi kondisi geografis perusahaan yang terpisah jauh satu sama lain dan ditambah dengan infrastruktur yang masih kurang ideal. Tanpa disadari, situasi tersebut telah menciptakan silo (sekat pemisah) komunikasi dan menghambat terjadinya kolaborasi antara ASG dengan perusahaan mitra. Hal ini merupakan kerugian produktivitas yang sering kali tidak disadari banyak orang. Solusi yang ditawarkan Untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh ASG, EIKON menawarkan solusi melalui Google Workspace. Platform produktivitas Google tersebut menyediakan berbagai fitur dan layanan kolaborasi yang saling terintegrasi. Google Workspace menyediakan berbagai cara untuk berkomunikasi (melalui Google Meet) dan bekerja sama dalam satu versi dokumen (Dokumen/Spreadsheet /Slide) dalam satu Google Drive. Selain itu, penjadwalan dan koordinasi satu sama lain pun jadi jauh lebih sederhana dan mudah melalui Google Calendar. Dengan memanfaatkan aplikasi, fitur, serta layanan tersebut, diharapkan alur produktivitas kerja AGS menjadi jauh lebih lancar dibandingkan saat kolaborasi belum terjadi. Penerapan teknologi produktivitas Google juga diperhitungkan dapat memicu terjadinya efisiensi, baik dari segi biaya, waktu, maupun tenaga sehingga AGS dapat lebih fokus pada bisnis utama mereka. Hasil Kini, sebagian besar rapat AGS dapat dilakukan secara online daripada secara langsung. Dengan begitu, pekerjaan tak hanya menjadi lebih produktif, tapi juga efisien, baik dari segi perjalanan maupun waktu. Kolaborasi dengan Google Workspace di seluruh organisasi telah meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tempat kerja. Yang paling penting, kolaborasi dengan cepat telah menjadi cara kerja baru AGS. Andrew Colin Chandra, Systems Development Director Aditya Sarana Graha menambahkan bahwa penggunaan Google Workspace, “telah menghidupkan tanggung jawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai tujuan perusahaan bersama-sama. Cukup dengan ‘Invite’ dan ‘Share the Docs’ saja!”. Kami bantu Anda temukan solusi terbaik Photo Credit: benzoix (Freepik) Di zaman sekarang, kolaborasi telah menjadi salah satu elemen untuk mewujudkan produktivitas kerja yang lebih baik lagi Terlebih di saat pandemi seperti sekarang. Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang dapat berkolaborasi meski terbatas aturan social distancing atau pembatasan yang ditetapkan oleh pemerintah. Pada kasus ini, kolaborasi amat diperlukan karena AGS memiliki ribuan mitra kerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Kolaborasi digital tidak hanya akan meningkatkan produktivitas kerja, tapi juga memungkinkan terjadinya efisiensi, baik dari segi biaya, waktu, maupun tenaga. Perusahaan Anda pun bisa mencapai produktivitas kerja yang lebih baik lagi dengan memanfaatkan teknologi kolaborasi seperti Google Workspace. Kami siap membantu Anda mewujudkan hal tersebut dengan menyediakan solusi menyeluruh mulai dari pemilihan produk yang paling tepat, pemasangan, migrasi, hingga manajemen perubahan untuk transisi yang mulus guna mencapai efek terbaik dengan disrupsi yang seminimal mungkin. Untuk mengetahui solusi yang Anda butuhkan, silakan klik di sini!

Google Workspace

4 Alasan Mengapa EIKON Technology Adalah Solusi Implementasi Google Workspace Terbaik

Google Workspace merupakan sebuah tool produktivitas yang mendukung kolaborasi kerja. Bukan sekadar productivity tool biasa, Google Workspace menyediakan berbagai aplikasi, layanan, hingga kapabilitas untuk mempermudah pekerjaan, di mana pun Anda berada, di kantor, rumah, hingga di lapangan. Untuk mulai mengimplementasi Google Workspace pada ekosistem kerja Anda, bukanlah hal yang sulit. EIKON Technology siap mendampingi Anda, mulai dari memilih produk, penerapan, migrasi, hingga manajemen tool. Berikut cerita tentang bagaimana klien EIKON memanfaatkan Google Workspace untuk menunjang operasional bisnis mereka. Transformasi digital yang lebih mulus Salah satu tantangan yang dihadapi oleh banyak perusahaan saat ini adalah transformasi digital. Kebanyakan, masih mengandalkan model kerja konvensional. Di waktu yang sama, teknologi berkembang begitu pesat hingga rasanya sulit untuk dikejar. Tanpa adaptasi yang baik, perusahaan akan kesulitan melakukan transformasi digital dengan lancar. Tantangan ini pun dihadapi oleh perusahaan manufaktur, ASG. Dengan lebih dari 2.000 mitra yang tersebar di Indonesia, dan mayoritas masih menerapkan cara kerja konvensional, ASG pun menghadapi tantangan koordinasi operasi harian. Google Workspace menawarkan berbagai layanan yang mudah dijalankan, bahkan oleh mereka yang tidak begitu familier dengan teknologi terkini, seperti Docs, Sheet, dan Slide. Selain itu, tersedia jalur komunikasi baru yang lebih efisien dan interaktif melalui Google Meet. “Yang terpenting, kolaborasi kini telah menjadi cara kerja baru kami, memungkinkan tanggung jawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai tujuan perusahaan.” Andrew Colin Chandra, Systems Development Director Aditya Sarana Graha. Baca juga; Menghubungkan Karyawan Bekerja secara Hybrid dengan Google Workspace Kolaborasi semudah menjentikkan jari Banyak perusahaan yang menggunakan infrastruktur lokal untuk mengelola email dan saluran komunikasi mereka. Untuk perusahaan skala besar, mengelola server, penyimpanan, dn jaringan, jelas bukanlah perkara mudah. User pun selalu dibayangi kemungkinan pembatasan akses, mobilitas rendah, hingga fitur yang terbatas. Dalam Google Workspace, Anda dapat menemukan berbagai tools dan layanan komunikasi sekaligus kolaborasi yang berjalan di cloud. Itu artinya, kapasitas penyimpanan lebih besar, mobilitas lebih cepat, dan tentunya kolaborasi yang lebih mudah. “Pindah ke Google Workspace adalah keputusan tepat yang kami buat di tahun 2019. Ini meningkatkan produktivitas, mobilitas, dan kolaborasi karyawan, terutama selama pandemi. Change = Growth. Go Beyond.” Candra Setianto, CTO Orang Tua Group. Baca juga: 4 Fitur Google Workspace untuk Mudahkan Kolaborasi Kerja Produktif dan efisien Seringkali perusahaan merasa enggan untuk menerapkan teknologi baru dalam operasional mereka. Sebab, penerapan teknologi baru identik dengan biaya yang mahal. Google Workspace menyediakan berbagai versi dan paket dengan harga yang bisa dipilih sesuai bujet Anda. Selain itu, teknologi ini juga berjalan untuk jangka waktu yang panjang. Anda bahkan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya maintenance! “Kini kami dapat berkolaborasi dan berkomunikasi dengan nyaman dan aman menggunakan Google Workspace. Tak perlu berurusan lagi dengan infrastruktur sehingga lebih mudah untuk fokus pada bisnis utama kami. Dengan dukungan dari EIKON Technology, kami bisa memanfaatkan Workspace secara maksimal dengan harga terjangkau.” CNBC Indonesia. Baca juga: Keunggulan Google Workspace untuk Membantu Bisnis Tetap aman dalam fleksibilitas tinggi Sering dengan pesatnya perkembangan teknologi, ancaman keamanan siber pun ikut meningkat. Selain melakukan berbagai tindakan preventif yang melindungi data Anda, ada baiknya untuk mulai memanfaatkan tools untuk meningkatkan keamanan serta melindungi data perusahaan Anda. Di samping menawarkan alat komunikasi dan kolaborasi, Google Workspace juga telah dibekali dengan teknologi keamanan canggih yang terus diperbarui. Bayangkan, Anda bisa mendapatkan fleksibilitas kerja yang tinggi, sekaligus keamanan data yang ketat! “Google secara konsisten mengembangkan Google Workspace dan sebagai pelanggan, kami mendapatkan manfaatnya. Kami bisa mendapatkan software yang lebih baik setiap hari tanpa harus melakukan apa pun. Keamanan penting bagi kami dan Google Workspace mampu memberikan apa yang kami harapkan. Ini membawa begitu banyak efisiensi bagi perusahaan kami.” Charthon A. Kurniawan, Head of IT BDO Indonesia. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda saat Menggunakan Google Workspace Dengan mengimplementasikan Google Workspace dalam ekosistem kerja perusahaan, Anda bisa lebih fokus dalam mengelola bisnis utama. Tidak ada lagi maintenance, komunikasi yang terbatas, dan ancaman pada data, semuanya hanya dengan satu solusi. Buat bisnis Anda semakin maju dan EIKON Technology siap mendampingi Anda. Untuk informasi lebih lanjut,  silakan klik di sini!

Google Cloud

Otomatisasi Log Uploads dengan Google Cloud Transfer

gcloud transfer command-line merupakan sebuah tool yang berfungsi untuk mengakses layanan cloud Google, baik menggunakan scripts atau dari command line. Tool ini juga dapat digunakan untuk menjalankan otomatisasi lainnya. Dengan tool ini Anda dapat menulis script untuk menjalankan instance sesuai dengan kebutuhan. Artikel kali ini akan membahas bagaimana cara menggunakan gcloud transfer command-line untuk common task, yaitu untuk mengunggah log ke cloud. Mari simak langkah-langkahnya berikut ini: Persiapan Untuk menjalankan gcloud transfer command-line, Anda memerlukan perangkat yang menjalankan sistem operasi Linux dengan setidaknya 8 GB RAM untuk melanjutkan. Namun jika Anda tidak memilikinya, bisa beralih ke Compute Engine virtual machine. Alat ini cocok untuk transfer data dalam jumlah besar (bahkan hingga petabytes). Langkah pertama, buatlah beberapa log untuk diunggah. Selanjutnya, Anda bisa menambahkan script berikut:   $ mkdir my-logs $ cd my-logs $ echo “i am a petabyte” > logs.txt Di gcloud CLI. Jika Anda belum melakukannya, silakan unduh gcloud CLI. Anda akan diminta untuk masuk ke akun Google selama proses penginstalan. Bagaimana dengan biaya untuk menyelesaikan tutorial ini dalam proyek Google Cloud? Biaya pekerjaan transfer adalah US$0,0125 per GB. Tabel harga lengkap bisa dilihat di sini. Selanjutnya, Anda memerlukan bucket Google Cloud Storage untuk mengunggah. Untuk membuat bucket, silakan jalankan perintah berikut:   $ gsutil mb [globally unique bucket ID] Menggunakan transfer gcloud Selanjutnya, beri izin yang diperlukan untuk menggunakan semua fitur transfer gcloud:   $ gcloud transfer authorize Menambahkan transfer dari satu bucket cloud ke bucket lainnya dengan gcloud sangatlah mudah. Menyiapkan sistem file lokal Anda untuk menangani pekerjaan transfer memerlukan sedikit lebih banyak pekerjaan. Sebagai tambahan, Anda perlu mengunduh “agent”. Pada dasarnya, agent merupakan sebuah docker yang menjalankan program yang didedikasikan untuk menyalin file. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Sebelum memasang agent apa pun, Anda memerlukan agent pool. Saat tugas transfer menugaskan pekerjaan ke pool, agent mana pun di dalam pool kemungkinan besar akan menyalin file. Gunakan agent pool untuk memastikan hanya agent dengan akses menuju file yang Anda inginkan untuk menjalankan tugas transfer.   $ gcloud transfer agent-pools create [pool ID] Untuk memasang sebuah agent pada sistem Anda jalankan:   $ gcloud transfer agents install –pool=[pool ID] Kini Anda bisa mengunggah fake logs. Storage Transfer Service bekerja paling baik dengan absolute paths, jadi gunakan perintah “pwd” untuk mendapatkan jalur menuju folder Anda saat ini. Pastikan Anda sudah berada di dalam folder “my-logs”. Untuk mengunggah dari sistem file POSIX, Anda memerlukan sebuah skema “posix://” (pada Linux dan Mac).   $ gcloud transfer jobs create posix://$(pwd) gs://[bucket ID] –source-agent-pool=[pool ID] Perintah di atas akan mengembalikan metadata pekerjaan transfer baru Anda. Untuk memantau transfer, jalankan perintah di bawah ini dengan nilai untuk kunci “nama” yang dikembalikan:  $ gcloud transfer jobs monitor [transfer job ID] $ gsutil ls gs://[bucket ID] Otomatisasi Katakanlah Anda ingin mengunggah log setiap tengah malam sepanjang tahun 2022 dan 2023. Anda pasti membutuhkan kapabilitas untuk menjadwalkan transfer data reguler dalam jumlah besar. gcloud adalah tool yang tepat untuk itu, terlebih jika dibandingkan dengan tool Google lain seperti gsutil. Untuk melakukan hal tersebut, Anda hanya perlu memperbarui pengaturan jadwal pekerjaan dengan menambahkan perintah:   $ gcloud transfer jobs update [transfer job ID] –schedule-repeats-every=24h  \    –schedule-starts=2022-01-01  \    –schedule-repeats-until=2023-01-01 Jika terdapat virtual machine lainnya, Anda dapat memasang agent pada mesin tersebut di pool yang sama seperti sebelumnya. Dengan catatan, tiap mesin tidak memiliki pengaturan khusus. Namun apabila Anda ingin tiap mesin mengunggah log ke tujuan cloud yang berbeda, gcloud transfer command-line telah menyediakan script untuk dijalankan sekali di setiap perangkat. Pastikan agent pool dan argumen tujuan berbeda untuk tiap perangkat. Cara lainnya, dengan menggunakan satu mesin untuk mengunggah ke lokasi yang sama, Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Seperti yang telah disebutkan, gcloud transfer command-line merupakan suatu tool yang ada dalam ekosistem Google Cloud. Maka dari itu, operasionalnya akan lebih mudah jika Anda menggunakan layanan komputasi Google Cloud. Belum memiliki Google Cloud untuk perusahaan Anda? Tak perlu khawatir, kini Anda bisa mendapatkan personalized Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Cloud

Menyederhanakan Disaster Recovery dengan Cloud Spanner

Disaster recovery sama pentingnya dengan perlindungan data bagi aplikasi penting perusahaan. Perencanaannya harus mampu melindungi aplikasi (dan data di dalamnya) dari bencana alam serta insiden yang disebabkan oleh manusia, seperti pengiriman bug yang bisa menyebabkan timbulnya bad data. Bagaimana perencanaan disaster recovery yang ideal untuk mengatasi insiden? RPO dan RTO Photo Credit: Google Cloud Blog Sebagai bagian dari rencana, pemilik aplikasi harus mempertimbangkan kedua RPO (Recovery Point Objective), yang berkaitan dengan usia data siap dipulihkan serta RTO (Recovery Time Objective), yang berhubungan dengan total waktu yang disiapkan untuk mengembalikan aplikasi setelah insiden. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Cloud Spanner CPU sebagai strategi disaster recovery Cloud Spanner merupakan database relasional yang terkelola sepenuhnya dengan skala tak terbatas, konsistensi kuat, dan ketersediaan hingga 99,999%. Layanan ini menyediakan replikasi yang transparan dan sinkron di seluruh zona dengan konfigurasi regional. Juga, konfigurasi multi-region di seluruh region. Secara inheren, arsitektur Cloud Spanner mengatasi beberapa penyebab insiden yang harus diatasi oleh solusi disaster recovery konvensional. Terlepas dari ketersediaan tinggi yang ditawarkan Cloud Spanner, pemilik aplikasi tetap membutuhkan perlindungan data. Sebab, masih ada kemungkinan kesalahan pengguna atau bug aplikasi yang dapat menyebabkan salah simpan nilai ke dalam database. Sebagai solusi, Cloud Spanner menawarkan backup/restore dan point-in-time recovery. Optimalisasi backup Cloud Spanner Pencadangan Cloud Spanner konsisten secara transaksional. Itu berarti, saat pencadangan dibuat, pencadangan menangkap konten database yang tepat (seperti timestamp pencadangan atau timestamp komit transaksi granularity mikrodetik). Arsitektur ini memastikan bahwa semua data terkait transaksi yang dilakukan disertakan dalam pencadangan. Namun semua pembaruan sebagian yang masih terkait dengan transaksi tidak terikat dikecualikan. Pemulihan point-in-time memungkinkan pemulihan dari timestamp yang dipilih pengguna (dengan semantik yang sama sebagai cadangan). Photo Credit: Google Cloud Blog Katakanlah Anda punya database 10 TB yang mendukung suatu aplikasi penting perusahaan. Maka Anda bisa secara teratur mengambil cadangan sebagai bagian dari rencana disaster recovery. Di banyak sistem, mencadangkan database besar bisa makan waktu berjam-jam dan dapat meningkatkan beban CPU sehingga berdampak buruk. Photo Credit: Google Cloud Blog Cloud Spanner telah memecahkan masalah ini dengan CPU Optimized Backups. Dengan fitur ini, Cloud Spanner memisahkan sumber daya CPU yang digunakan untuk instances database pelanggan dari sumber daya CPU yang digunakan untuk pembuatan cadangan. Keuntungan menggunakan Cloud Spanner CPU sebagai solusi disaster recovery Pelanggan tak perlu lagi menyediakan kapasitas komputasi tambahan. Jadi, ruang kepala CPU bisa digunakan untuk pencadangan. Beban CPU pada instances pelanggan karena pencadangan berkurang hampir nol. Artinya, tidak ada dampak buruk terhadap beban kerja produksi saat pencadangan. Pekerjaan batch yang membuat cadangan dapat diskalakan secara independen dari jumlah server di instances pelanggan. Sistem file yang mendasarinya sangat terdistribusi dan memungkinkan bandwidth baca yang pada dasarnya tidak terbatas. Dengan CPU Optimized Backups, ukuran pekerjaan pencadangan dipisahkan menurut ukuran instances pelanggan, sehingga memungkinkan pencadangan untuk database besar mencapai ukuran yang sangat besar (berpotensi, ribuan mesin). Hal lain yang perlu diperhatikan Photo Credit: Freepik Kinerja backup bergantung pada berbagai faktor, termasuk beberapa faktor khusus seperti detail skema. Oleh karenanya, tidak ada estimasi performa yang sangat spesifik. Meskipun begitu, diketahui bahwa sebagian besar pencadangan database biasanya selesai dalam waktu satu hingga dua jam (termasuk database berukuran ratusan TB). CPU Optimized Backups melanjutkan tradisi inovasi teknis dalam perlindungan data Cloud Spanner dan pemulihan bencana. Fungsionalitas pemulihan yang ada memanfaatkan pencadangan per zona untuk mengaktifkan pemulihan cepat tanpa penyalinan data lintas zona. Point-in-time memungkinkan pemulihan yang fleksibel. Meski begitu, tidak ada perubahan harga pencadangan dengan CPU Optimized Backups. Baca juga: Membongkar Mitos Seputar Cloud Spanner Cloud Spanner merupakan database NewSQL yang menggabungkan skalabilitas dan ketersediaan tinggi NoSQL dengan model relasional, dukungan transaksional, dan SQL RDBMS. Arsitektur ini tersedia di Google Cloud Platform sejak tahun 2017 lalu. Dengan menggunakan Google Cloud Platform, Anda pun bisa menikmati seluruh kemudahan Cloud Spanner dalam menyederhanakan disaster recovery plan. Lindungi keamanan data perusahaan Anda dari berbagai potensi risiko dengan Google Cloud. Dapatkan Google Cloud hanya di EIKON Technology, reseller resmi produk-produk Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memahami Peran Visibilitas dalam Resiliensi Keamanan Siber Layanan Kesehatan

Keamanan siber belakangan ini menjadi salah satu perhatian utama banyak pihak, termasuk pemerintah. Bahkan sektor-sektor yang sebelumnya tidak terlalu mempermasalahkan keamanan siber, kini mulai bergerak untuk mencari solusi terbaik. Salah satunya sektor healthcare atau perawatan kesehatan. Para pihak yang terlibat mulai sadar bahwa institusi yang membentuk jaringan perawatan kesehatan global memberikan kepercayaan mereka pada langkah-langkah dan teknologi keamanan siber guna memastikan sistem tetap bekerja sekaligus menangkis gelombang serangan yang terus-menerus datang. Mengapa beberapa institusi berhasil sementara yang lain tidak? Saat ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada beberapa penyebab. Salah satunya adalah visibilitas. Institusi yang memiliki tingkat keamanan siber tinggi umumnya memiliki mekanisme visibilitas yang baik. Mari pelajari bagaimana visibilitas dapat memengaruhi keamanan siber sektor kesehatan. Mekanisme visibilitas dalam perawatan kesehatan Jika diibaratkan, ketiadaan visibilitas bagaikan seorang pasien yang mengonsumsi 10 jenis obat berbeda, namun dokter hanya mengetahui 5 di antaranya. Inilah gambaran hubungan antara institusi kesehatan saat ini dengan teknologi yang mereka gunakan. Kebanyakan tidak memahami teknologi apa yang sedang digunakan. Visibilitas memetakan aset teknologi tersebut (termasuk software, hardware, konfigurasi, siapa yang membuatnya, dan dari mana komponen berasal) dan kemudian membantu memprioritaskan aset tersebut dalam menjaga keamanan sistem dan jaringan, tidak peduli seberapa kompleks layanan kesehatan tersebut. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Membangun visibilitas yang efektif untuk keamanan siber Membangun visibilitas ke dalam aset teknologi memerlukan pendekatan terstruktur. Menggunakan panduan seperti NIST Cybersecurity Framework (CSF) memberikan model mental penting yang dapat digunakan untuk mendapat gambaran jelas tentang kekuatan dan kelemahan profil risiko keamanan siber organisasi. Visibilitas lebih dari sekadar melihat semua aset yang dimiliki, tapi juga tentang memahami aset mana yang penting dan harus dilindungi dengan cara apa pun. Tanpa keseimbangan yang tepat, Anda memang melindungi segalanya, namun tidak melindungi apa yang penting. Di sinilah kesadaran struktural masuk. Photo Credit: Google Cloud Blog Kesadaran struktural ditetapkan sebagai salah satu penerapan kontrol yang ditangkap dalam fungsi NIST CSF, Identify dan Protect. Kontrol ini berfokus pada mengidentifikasi aset, tagihan materi, pembuatnya, ketergantungannya pada aset lain, perlindungan dan kerentanan yang mereka miliki, serta ancaman yang mereka hadapi. Sementara visibilitas membantu membuat peta aset teknologi yang akurat, kesadaran struktural dibangun di atas visibilitas itu dan menjawab pertanyaan seperti, “Apa cara aktor ancaman dapat membahayakan aset itu? Apa yang bisa hilang? Bagaimana kemungkinan besar itu akan terjadi?”. Strategi inventarisasi Google Cloud Membangun pemetaan teknologi layanan bukanlah perkara mudah. Organisasi harus meluangkan waktu untuk mengotomatiskan pembuatan dan pemeliharaan inventaris, sehingga mereka dapat mempertahankan tampilan terbaru dari semua item pada waktu tertentu. Terutama pada organisasi dengan lingkungan yang sangat dinamis. Google Cloud memberikan praktik terbaik dalam menemukan dan membuat katalog aset melalui Cloud Architecture Center. Google Cloud Asset Inventory dan Security Command Center dapat digunakan untuk inventarisasi berbagai sumber daya yang berjalan di Google Cloud. Cloud Build, platform CI/CD Google Cloud, mengimplementasikan SLSA 1 dan memberikan audit tepercaya untuk artefak software yang diterapkan melalui pipeline terkelola. Cloud DLP melakukan inventarisasi dan melabeli data yang kemudian disimpan di Google Cloud Storage dan layanan seperti BigQuery. Photo Credit: DCStudio (Freepik) Penting untuk diingat bahwa saat memulai jalur ini, tujuannya bukanlah untuk mendapat visibilitas 100% ke setiap komponen pada setiap perangkat yang terhubung ke setiap jaringan. Keberhasilan atau kegagalan tidak tercapai ketika proses inventarisasi telah mencapai ‘persentase selesai’ yang ditentukan secara sewenang-wenang. Di sini yang diutamakan adalah perluasan visibilitas dan pengembangan kesadaran struktural pada aset yang berisiko, sehingga resiliensinya dapat ditingkatkan. Untuk mencapai resiliensi, Anda harus merancang dan membangun keamanan siber yang menghadirkan keselamatan, integritas, dan ketersediaan teknologi untuk merawat pasien secara langsung. Visibilitas kepada teknologi yang Anda andalkan, berarti memahami mana yang bisa dipercayai dan mana yang tidak. Meningkatkan visibilitas adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan menuju resiliensi. Baca juga: Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts Dari sini bisa disimpulkan bahwa Google Cloud menawarkan solusi yang komprehensif untuk membantu Anda mencapai visibilitas ideal. Dengan begitu, resiliensi keamanan siber dalam teknologi perawatan kesehatan pun akan tercapai. Dapatkan segera Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan institusi perawatan kesehatan Anda, hanya melalui EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produk-produk mereka. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini

Google Cloud

Pemanfaatan Teknologi untuk Ciptakan Pasar Finansial yang Lebih Aman dan Efisien

Pemanfaatan teknologi telah terbukti mampu mendukung berbagai sektor kehidupan. Salah satunya, pasar finansial. Data dari Google Cloud bahkan menyebutkan bahwa pasar keuangan termasuk di antara beberapa sektor yang pertama mengadopsi teknologi. Tingkat adopsi paling tinggi ada pada pasar derivatif (pasar investasi untuk jual-beli jenis sekuritas atau instrumen keuangan tertentu). Ke depannya diharapkan teknologi baru bisa membuka jalan untuk kecepatan transfer serta transparansi dana yang lebih baik lagi. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana cloud dapat membantu meningkatkan ketahanan, kinerja, serta keamanan yang memungkinkan visi jangka panjang untuk pasar finansial. Seperti apa? Mari simak ulasannya berikut. Pemanfaatan teknologi cloud saat ini Saat ini, pemanfaatan teknologi cloud sudah mulai meluas. Paling baru, pasar finansial mulai mengadopsi teknologi ML atau machine learning, bahkan dalam skala yang lebih luas lagi. Hal ini membuktikan bahwa teknologi cloud memungkinkan eksperimen kondisi pasar yang jauh lebih mudah, cepat, dan aman, terlebih jika didukung oleh dataset besar dan ML. Dalam sebuah studi yang dilakukan Coalition Greenwich (disponsori Google), terlihat bahwa lebih dari 93% sistem perdagangan, pertukaran, dan penyediaan data dalam beberapa hal menyediakan layanan mereka di cloud. Sekitar 72% industri keuangan, berniat untuk menggunakan data pasar berbasis data cloud public dalam 12 bulan ke depan. Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud Untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Peran machine learning dalam pasar finansial Photo Credit: our-team (Freepik) Andrew Moore, Head of AI and Industry Solutions Google Cloud, menyebutkan bahwa ML akan melakukan 3 hal penting yang memengaruhi pasar finansial: memberi makna, menyediakan layanan pemeliharaan, sekaligus menjadi pelindung. Dengan lebih banyak data dari sebelumnya, ML dapat meningkatkan kemampuan untuk memprosesnya sekaligus menjadi lebih mudah diakses di cloud. Teknologi semacam ini akan sangat membantu dalam aktivitas perdagangan dan mencegah terjadinya pencucian uang, serta mengelola berbagai risiko (guna mendukung kepentingan investor dan regulator). Membangun fondasi pasar finansial untuk masa depan dengan pemanfaatan teknologi Sasaran ketahanan operasional, keamanan, dan privasi akan terus menjadi poin penting dalam membangun fondasi pasar finansial, baik untuk para pelaku maupun regulatornya. Sementara teknologi menjanjikan keuntungan yang nyata, penting bagi para pihak yang terlibat untuk meneliti potensi risiko dan kekhawatiran. Photo Credit: Freepik Untuk saat ini, prioritas pertama penyedia teknologi adalah membangun lingkungan keamanan zero-trust. Termasuk di dalamnya enkripsi saat bergerak dan enkripsi saat diam. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pasar beroperasi aktif tanpa harus mengorbankan kepercayaan pada setiap pertukaran yang berjalan di atas infrastruktur. Arsitektur dan pendekatan multicloud kemungkinan juga menjadi bagian dari solusi untuk ketahanan operasional. Sepanjang waktu, likuiditas telah menjadi hasil dari peningkatan akses, transparansi, dan keamanan. Penyedia teknologi merespons dengan menerima tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan pasar finansial yang lebih cepat, efisien, transparan, dan tentunya aman. Baca juga: Memanfaatkan Fitur Baru Google Chronicle Sebagai Dukungan Operasi Keamanan Sektor keuangan merupakan sektor yang sensitif jika menyangkut keamanan. Untuk bisa mencapai tingkat keamanan yang sempurna, seluruh pihak yang terlibat dalam sektor keuangan, termasuk para regulator, juga harus terbuka pada tiap kemungkinan-kemungkinan yang ada. Termasuk pemanfaatan teknologi baru seperti cloud dan juga machine learning. Apakah Anda juga bergerak di bidang keuangan? Ingin meningkatkan keamanan data sekaligus memperbaiki efisiensi kerja? Google Cloud punya solusinya. Komputasi awan dari Google ini menyediakan berbagai fitur serta layanan yang bukan hanya aman, tapi juga transparan dan efisien. Dapatkan Google Cloud berlisensi resmi hanya di EIKON Technology. Di EIKON Technology, Anda tak hanya bisa mendapatkan Google Cloud resmi, namun juga melakukan personalisasi sesuai kebutuhan usaha Anda. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memanfaatkan Fitur Baru Google Chronicle sebagai Dukungan Operasi Keamanan

Akhir-akhir ini, ancaman keamanan siber meningkat pesat. Tanpa disadari, prosedur yang harus dilalui untuk mencapai keamanan ketat pun semakin panjang. Anda harus memiliki akses menuju konteks yang relevan sambil harus tetap merespons ancaman berbahaya. Padahal, tumpukan data di divisi TI terus bertambah, lebih-lebih jika perusahaan menerapkan penyimpanan berbasis cloud, on-premise atau kombinasi keduanya. Belum lagi jika Anda tidak familier dengan suatu ancaman yang muncul. Akan sangat sulit menentukan prioritas mana ancaman kritis yang harus ditangani lebih dulu. Untuk mengatasi hal tersebut, Google Chronicle meluncurkan kapabilitas context-aware detection (deteksi kontekstual). Bagaimana cara kerjanya? Mengapa konteks penting dalam keamanan siber Google Chronicle merupakan sebuah layanan cloud yang dirancang untuk kebutuhan perusahaan dalam menyimpan, menganalisis, dan mendapatkan keamanan telemetri jaringan mereka. Layanan ini menormalkan, mengindeks, mengkorelasikan, dan menganalisis data untuk memberikan informasi serta konteks pada aktivitas berisiko. Kapabilitas context-aware detection menitikberatkan penanganan ancaman keamanan siber pada konteks. Mengapa demikian? Katakanlah divisi TI Anda menerima peringatan deteksi untuk makro Excel yang mencurigakan. Umumnya respons yang diberikan adalah: melakukan pencarian host; melihat pengguna mana yang memiliki host tersebut; melakukan pencarian LDAP untuk mengidentifikasi divisi dan tugas mereka; mengidentifikasi bahwa pengguna adalah divisi akuntansi perusahaan; dan mengidentifikasi kecenderungan memakai makro dalam spreadsheet keuangan. Langkah-langkah tersebut memungkinkan analis untuk mengurangi risiko secara kontekstual. Namun, jika perilaku yang sama diamati dari mesin CEO dengan pengguna yang tidak dikenal masuk, jelas memerlukan eskalasi peringatan segera. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan deteksi kontekstual Google Chronicle, semua informasi pendukung dari sumber resmi termasuk telemetri, konteks, hubungan, dan kerentanan tersedia langsung sebagai peristiwa deteksi “tunggal”. Fungsi yang ditawarkan Photo Credit: Google Cloud Blog Adanya kapabilitas baru ini memungkinkan pelanggan Google Chronicle untuk dapat: Prioritaskan ancaman dengan penilaian risiko: membuat konteks yang relevan pada penilaian risiko berbasis heuristik. Tanggapi peringatan lebih cepat: mengurangi waktu yang dihabiskan untuk triase, penggabungan informasi dari sistem keamanan TI yang berbeda secara manual, dan hasil pemindaian kerentanan. Tingkatkan akurasi peringatan: memungkinkan analis untuk menyaring seluruh kelompok ancaman yang mungkin akan muncul di masa mendatang. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Cara kerja deteksi kontekstual Google Chronicle Setelah fitur diaktifkan, pelanggan akan melihat kolom skor risiko baru terisi. Ini akan membantu menyusun prioritas eskalasi. Selain skor risiko, Chronicle juga melakukan kontekstualisasi hasil dengan pengayaan tambahan di sekitar entitas yang terkandung dalam peristiwa untuk menjawab terlebih dahulu mengapa temuan berisiko lebih tinggi memerlukan prioritas. Photo Credit: Google Cloud Blog Dari sana, pelanggan dapat beralih ke Asset View untuk memeriksa host yang terpengaruh dan memeriksa aset prioritas yang diidentifikasi dalam hasil aturan mereka. Atasi kesenjangan paradigma Photo Credit:  Google Cloud Blog Peluncuran ini memperbaiki kesenjangan paradigma dalam analitik terdahulu dan produk SIEM, di mana data secara historis dipisahkan karena biaya yang mahal. Pelanggan kini dapat menjalankan semua telemetri keamanan mereka dan memperkaya sumber data di satu tempat, memberi mereka kemampuan untuk mengembangkan strategi peringatan dan prioritas yang fleksibel. Sederhananya, kapabilitas ini akan mengurangi mean time to response (MTTR) bagi pengguna dengan meminimalisir kebutuhan untuk menunggu pemahaman kontekstual sebelum membuat keputusan dan mengambil tindakan investigasi. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Untuk saat ini kapabilitas context-aware detection pada Google Chronicle memang masih belum diluncurkan untuk umum. Google mengharapkan, saat diumumkan untuk ketersediaan umum, kapabilitas ini sudah jauh lebih stabil dan terintegrasi dengan kontrol keamanan lain di Google Cloud. Google memang menyebutkan bahwa deteksi kontekstual ini akan lebih optimal jika diintegrasikan dengan Google Cloud. Untuk itu, bagi Anda yang belum menggunakan Google Cloud sebaiknya segera mengadopsi layanan berbasis komputasi awan tersebut. Dapatkan Google Cloud dengan sertifikasi resmi hanya di EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized reseller yang ditunjuk langsung oleh Google. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk Google di EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace, School

Aplikasi Google Classroom Kini Bisa Jadwalkan Beberapa Kelas Sekaligus

Aplikasi Google Classroom merupakan suatu platform yang menjadi bagian dari Google Apps for Education. Platform yang diperkenalkan Google pada tahun 2014 lalu ini dirancang untuk memudahkan komunikasi antara guru dan para murid. Di tahun 2021, diperkirakan Classroom memiliki lebih dari 150 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Aplikasi Google Classroom juga telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi dan tools Google Apps for Education, seperti Gmail, Google Calendar, Google Docs, Google Slides, hingga Google Sheets. Dengan begitu, kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pun menjadi lebih mudah dijalankan. Tool ini berhasil membuktikan kemampuannya sebagai alat bantu KBM yang efektif di masa pandemi seperti saat ini. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap platform belajar online, Google Classroom pun terus melakukan peningkatan kemampuan. Dalam update terbarunya, tool tersebut menambahkan beberapa detail pada fitur yang telah ada sebelumnya. Seperti apa? Fitur penjadwalan yang lebih detail Photo Credit: Google Workspace Updates Sebelumnya, Google Classroom telah menyediakan fitur penjadwalan untuk guru. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, guru dapat menjadwalkan materi pelajaran untuk para siswa. Pada update kali ini, fitur penjadwalan mengalami beberapa peningkatan. Salah satu peningkatan yang paling menonjol adalah kemampuan untuk menetapkan jadwal tayang materi perjalanan di beberapa kelas sekaligus. Para pengajar juga bisa memanfaatkan fitur ini untuk mengatur: Tenggat waktu pengumpulan tugas siswa. Tanggal posting materi pelajaran. Topik pengajaran yang akan datang. Perlu diingat, sisa tugas yang sudah ada akan tetap sama. Setelah pengaturan, guru dapat memilih kelas mana saja yang akan menerima materi pelajaran. Guru juga bisa menentukan waktu tayang materi pelajaran di perangkat murid. Tersedia 3 opsi yang bisa dipilih, yaitu langsung ditayangkan, diterbitkan pada tanggal tertentu atau disimpan sebagai draft. Harapannya, pembaruan ini akan memudahkan guru untuk menetapkan tugas di berbagai kelas, menghemat waktu mereka yang berharga, serta menyederhanakan perencanaan dan pengelolaan kelas. Beban kerja guru pun akan berkurang. Baca juga: Meeting Semakin Mudah dengan Fitur Baru Google Classroom Tidak ada biaya tambahan Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan untuk fungsi baru ini. Hanya saja, guru perlu fokus dengan beberapa perubahan terjadi. Sebab, beberapa fitur dan capabilities mengalami perubahan. Misalnya, saat menetapkan jadwal pengumpulan tugas. Setelah tugas dijadwalkan, kini guru bisa mengubah tugas di setiap kelas. Namun perlu diperhatikan, memilih opsi “Copy settings to all” akan menghapus semua pengaturan yang dimasukkan sebelumnya. Selain itu, jika sudah menjadwalkan waktu tayang materi pelajaran untuk satu atau beberapa kelas, secara otomatis Anda akan menjadi pemilik file materi yang tersimpan di Google Drive. Anda juga bisa membagi file tersebut dengan pihak terkait misalnya bagian kurikulum sekolah. Tersedia untuk beberapa paket saja Photo Credit: Freepik Fitur penjadwalan ini hanya tersedia untuk pelanggan Google Workspace for Education Fundamentals, Education Standard, Teaching and Learning Upgrade, dan Education Plus. Tidak tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Frontline, dan Nonprofits, serta pelanggan lama G Suite Basic dan Business. Sedikit tambahan informasi, update terbaru ini juga tidak memerlukan pengaturan dari administrator sekolah. Guru dan murid sebagai end-user bisa langsung menggunakannya. Untuk waktu rilisnya sendiri sudah dimulai sejak 17 Maret 2022 dan terus berjalan hingga 15 hari ke depan. Baca juga: 5 Fitur Google Classroom Terbaru Penuhi Kebutuhan Belajar-Mengajar Masa Kini Dengan adanya kapabilitas tambahan pada fitur penjadwalan Google Classroom, guru bisa lebih mudah mengelola materi pelajaran mereka. Waktu penayangan materi dan pengumpulan tugas pun bisa diatur sejak awal agar alur pengajaran lebih tertata. Seperti yang telah disebutkan, aplikasi Google Classroom telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi lain yang ada dalam jaringan Google for Education. Nikmati kelas online berbasis cloud yang lebih optimal dan seamless dengan G Suite for Education. Dapatkan paket G Suite for Education yang terbaik untuk institusi pendidikan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Text-to-Speech API Google Cloud Kini Mendukung Custom Voice

Seiring dengan makin populernya asisten digital dan antarmuka yang mendukung percakapan, masyarakat pun makin terbiasa mendengar dan berbicara dengan suara buatan. Namun bagaimana suara buatan tersebut mencerminkan brand Anda? Bagi perusahaan, membangun identitas dan asosiasi brand yang kuat amatlah penting. Hal ini pun berlaku saat mereka memutuskan untuk menerapkan sistem AI (kecerdasan buatan). Merancang suara buatan yang benar-benar bisa mencerminkan brand sangat penting dalam sistem tersebut. Sebagai alternatif solusi, Google Cloud baru saja meluncurkan kapabilitas Custom Voice di Cloud Text-to-Speech (TTS) API mereka. Seperti apa cara kerjanya? Kapabilitas Custom Voice Kapabilitas yang baru saja diperkenalkan Google Cloud ini merupakan bagian dari Text-to-Speech API. Dengan mengaktifkan fitur tersebut, Anda bisa melatih model suara dengan rekaman audio sendiri yang disesuaikan kebutuhan perusahaan. Untuk bisnis yang sedang membangun identitas brand atau meningkatkan brand awareness, mendesain suara buatan yang unik dapat membantu mengubah interaksi aplikasi seluler (atau layanan pelanggan lain yang berdasarkan interactive voice response) menjadi pengalaman pelanggan yang lebih baik lagi. Baca juga: Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud Kelebihan Custom Voice TTS API Photo Credit: Piqsels Text-to-Speech API sebelumnya memang telah menyertakan layanan speech synthesis dengan daftar suara statis. Namun kini, dengan fitur Custom Voice, Anda diberi lebih banyak pilihan dan pengoperasiannya pun telah dibuat semakin mudah. Fitur Custom Voice memungkinkan Anda mengirimkan rekaman audio untuk mendapatkan akses ke suara baru secara langsung di TTS API. Custom Voice TTS dilengkapi dengan panduan tentang persyaratan audio untuk membantu memastikan Anda menghasilkan model suara buatan berkualitas tinggi. Setelah model baru tersebut dilatih, Anda bisa langsung merujuk ID model dalam panggilan ke Cloud TTS API. Tingkat keamanan Text-to-Speech API merupakan bagian dari proses tata kelola Responsible AI Google Cloud. Itu artinya, fitur Custom Voice pun telah melalui evaluasi etis yang mendalam, termasuk hubungannya dengan media sintetis. Langkah ini merupakan tindakan preventif untuk meminimalisir potensi bahaya yang mungkin muncul di masa mendatang. Jika Anda memang tertarik dengan TTS API untuk membangun sistem AI perusahaan, Google menyediakan proses peninjauan untuk membantu memastikan bahwa setiap penggunaan akan tetap selaras dengan proses tata kelola Responsible AI Google Cloud Bukan hanya itu, untuk memverifikasi bahwa aktor suara yang digunakan benar-benar pihak yang memproduksi Audio, pengguna diharuskan untuk mengirim file audio dengan kalimat dari Google Cloud. Misalnya, sistem akan meminta aktor suara Anda untuk merekam kalimat: “Saya setuju bahwa suara saya akan digunakan untuk membuat Custom Voice untuk Text-to-Speech API”. Ketersediaan bahasa Photo Credit: Piqsels Untuk saat ini, fitur Custom Voice Text-to-Speech Google API telah tersedia dalam 11 bahasa internasional, yaitu: Inggris (Amerika Serikat) Inggris (Australia) Inggris (Britania Raya) Spanyol (Amerika Serikat) Spanyol (Spanyol) Prancis (Prancis) Prancis (Kanada) Italia Jerman Portugis (Brazil) Jepang Google Cloud juga sedang mengembangkan bahasa lain untuk mendukung fitur Custom Voice Text-to-Speech. Anda yang sudah mencoba fitur ini juga bisa memberikan masukan untuk keperluan pengembangan aplikasi melalui kontak Google Cloud. Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Function Text-to-Speech (TTS) merupakan salah satu API yang dikembangkan Google Cloud. Dengan memanfaatkan layanan tersebut, Anda bisa mendesain suara buatan untuk mendukung beragam kebutuhan perusahaan, misalnya untuk menunjang layanan pelanggan. Tertarik untuk mulai menerapkan sistem AI di perusahaan Anda? Melalui TTS API serta beragam layanan dan fitur yang ditawarkan Google Cloud, pengembangan sistem AI perusahaan akan jadi lebih fleksibel dan efisien. Dapatkan solusi Google Cloud terbaik untuk bisnis Anda hanya melalui EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Scroll to Top