EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts dan Slot Estimator

BigQuery pada mulanya diperkenalkan sebagai sebuah data warehouse. Seiring perkembangannya, platform tersebut merambah ke bidang analitik data dan juga business intelligence. Bukan hanya itu, BigQuery kemudian juga dirancang untuk dapat bekerja tanpa server pada skala yang fleksibel, baik kecil maupun besar. Dengan berbagai kemampuan tersebut tidak mengherankan jika BigQuery kemudian begitu diandalkan untuk menangani berbagai macam beban kerja analitik. Namun ketika pelanggan meningkatkan beban kerja di BigQuery, otomatis persyaratan pemantauan dan pengelolaan mereka pun akan ikut berkembang. Anda tidak perlu khawatir, karena kini telah tersedia beberapa fitur dan kapabilitas untuk mengelola administrasi BigQuery dalam skala besar. Simak ulasan berikut untuk mengetahui penjelasan lengkapnya. Fitur Resource Charts Untuk mengelola administrasi, BigQuery (BQ) telah menyediakan suatu kapabilitas spesifik bernama Administrator Hub. Di dalam kapabilitas tersebut Anda bisa menemukan fitur baru bernama Resource Charts. Fitur ini akan membantu para administrator lebih mudah memahami lingkungan BQ mereka. Photo Credit: Google Cloud Blog Resource Charts membantu administrator mengelola administrasi dengan pengalaman bawaan untuk memantau penggunaan slot mereka, mengelola kapasitas berdasarkan konsumsi historis, memecahkan masalah kinerja pekerjaan, queries yang mampu melakukan diagnosis mandiri, dan mengambil tindakan perbaikan sesuai kebutuhan. Fitur ini juga memberikan visibilitas menuju metrik utama seperti konsumsi slot, kinerja pekerjaan, konkurensi, jumlah byte yang diproses, dan pekerjaan yang gagal. Resource Charts dibuat menggunakan tabel-tabel INFORMATION_SCHEMA, sehingga memungkinkan pelanggan memahami data melalui dashboard yang dibuat khusus. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Fitur Slot Estimator Slot Estimator merupakan sebuah tool BigQuery yang berfungsi sebagai pengelola kapasitas interaktif. Dengan tool ini, administrator dapat memperkirakan dan mengoptimalkan kapasitas BQ berdasarkan performa dan data penggunaan historis. Menggunakan Slot Estimator, pengguna juga dapat menghitung, memprediksi sekaligus menyesuaikan kapasitas berdasarkan beban kerja mereka. Jadi, Anda bisa mengambil keputusan yang tepat dalam hal perencanaan kapasitas. Cara kerja Resource Charts dan Slot Estimator Kedua fitur tersebut bisa Anda temukan pada BigQuery Administrator Hub yang merupakan kontrol pusat untuk memahami, mengelola, dan memantau query, kapasitas, serta keseluruhan lingkungan BQ Anda. Katakanlah saat melakukan pemantauan lingkungan BQ secara real-time di Resource Charts, tampak bahwa penggunaan slot mengalami penurunan selama beberapa jam. Anda pun memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh. Photo Credit: Google Cloud Blog Anda bisa melihat pada bagan Errors yang baru. Jika misalnya terlihat peningkatan tajam pada izin ditolak atau kesalahan yang tidak valid, Anda bisa gunakan filter seperti proyek, reservasi, serta pengguna dan prioritas pekerjaan untuk memahami apa saja yang sudah berubah. Jadi, Anda bisa langsung memperbaikinya. Photo Credit: Google Cloud Blog Tak lama, seorang data analis perusahaan mendatangi Anda dan mengungkapkan bahwa ia merasa alur kerja terasa melambat secara bertahap selama satu minggu terakhir. Untuk menyelesaikan masalah ini, Anda juga bisa memanfaatkan Resource Charts. Dari fitur tersebut akan langsung tampak apa yang bisa menyebabkan alur kerja melambat, misalnya, pemanfaatan slot telah mencapai kapasitas maksimal. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata problem tersebut bisa diatasi dengan meningkatkan workload baru. Saat workload naik maka kapasitas slot pun akan lebih stabil dan penggunaannya bisa lebih optimal. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah mendeteksi penyebab melalui Resource Charts, Anda bisa beralih ke Slot Estimator. Di situ akan tampak pemanfaatan slot yang penuh dan bagaimana penggunaan slot meningkat selama seminggu terakhir. Anda dapat melihat data reservasi dan menganalisis peluang untuk meningkatkan kinerja dengan menambahkan jumlah slot. Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery merupakan suatu data warehouse dengan berbagai kapabilitas mulai dari machine learning, analisis geospasial, hingga business intelligence. Arsitekturnya yang tanpa server memungkinkan Anda sebagai pengguna untuk bisa menemukan jawaban atas berbagai permasalahan terkait pengelolaan data perusahaan. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud Dengan adanya fitur Resource Charts dan Slot Estimator, pengelolaan lingkungan BigQuery pun menjadi semakin mudah. Selain memanfaatkan BQ dan berbagai fitur di dalamnya, untuk penyimpanan data perusahaan dalam skala besar, layanan komputasi awan Google Cloud adalah solusi terbaik. Menggunakan Google Cloud, Anda tidak perlu bingung lagi dengan masalah penyimpanan dan pengelolaan data perusahaan. Dapatkan produk Google Cloud berlisensi resmi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan lewat EIKON Technology. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace

4 Fitur Google Workspace untuk Mudahkan Kolaborasi Kerja

 Bekerja dengan Google Workspace memungkinkan Anda untuk terhubung dengan berbagai aplikasi maupun kapabilitas penunjang produktivitas dan kolaborasi. Dari berbagai aplikasi produktivitas Workspace, Google Docs dan Sheets bisa dibilang merupakan yang paling banyak dipakai. Kedua aplikasi yang diluncurkan tahun 2005 tersebut menawarkan kolaborasi kerja digital secara real-time. Artinya, Anda bisa bekerja sama dengan banyak orang sekaligus meski terpisah jarak dan waktu. Untuk menciptakan ruang kerja kolaboratif yang seamless, Google Workspace pun terus mengembangkan Docs dan Sheets. Fitur dan kapabilitas terus ditambahkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Setelah sukses dengan fitur smart canvas yang diluncurkan tahun lalu, kini Workspace kembali dengan beberapa update untuk mudahkan kolaborasi kerja. Apa saja? Fitur summary dan pageless di Docs Anda harus memeriksa banyak dokumen sekaligus dalam satu waktu? Terkadang, sulit untuk menentukan apakah sebuah dokumen perlu pembacaan menyeluruh atau pembacaan poin-poin saja sudah cukup. Sebagai solusi, kini Google Docs menghadirkan fitur summary. Fitur ini memberikan ringkasan untuk setiap dokumen. Dengan begitu, Anda bisa cepat memahami apa materi yang sedang dibahas dalam sebuah dokumen. Menariknya lagi, ringkasan tersebut bisa dibuat secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (AI). Anda juga bisa menyunting ringkasan sesuai kebutuhan. Photo Credit: Google Cloud Blog Bukan hanya itu, kini Anda juga bisa menerapkan format tanpa halaman di Google Docs. Caranya adalah dengan mengaktifkan format pageless. Saat format tersebut aktif maka Anda dapat menghapus batas halaman dan menyesuaikan ukuran layar perangkat yang sedang digunakan. Dengan format ini, Anda juga bisa menyesuaikan halaman dengan ukuran tabel, gambar, dan bahkan feedback di kolom komentar. Photo Credit: Google Cloud Photo Mempercepat alur kerja dengan building blocks interaktif Bersamaan dengan peluncuran smart canvas, Google Docs juga memperkenalkan fitur building blocks. Dengan fitur tersebut, Anda bisa menambahkan beberapa informasi tambahan tanpa harus meninggalkan aplikasi. Cukup dengan mengetikkan simbol “@” maka Docs secara otomatis akan menampilkan beberapa informasi yang dapat ditambahkan ke dalam dokumen seperti lokasi seseorang, gambar, alamat, template, hingga checklist. Baca juga: Buat Dokumen Lebih Cepat dengan Universal Menu, Fitur Terbaru Google Docs Photo Credit: Google Cloud Photo Buat keputusan berbasis data dengan cepat Sekarang ini, jika Anda ingin bisnis bergerak lebih cepat, maka proses pengambilan keputusan pun harus dilakukan dengan cepat. Masalahnya, keputusan yang terburu-buru diambil justru sangat berisiko. Untuk itulah, tiap pengambilan keputusan sebaiknya didasari dengan data yang valid. Google Sheets kini dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang membantu Anda untuk bisa mendapatkan insight dari data dengan cepat. Tahun 2021 lalu, Google meluncurkan kapabilitas formula suggestions. Kapabilitas tersebut memberikan rekomendasi rumus dan fungsi untuk tiap data yang sedang Anda analisis. Photo Credit: Google Cloud Photo Kecerdasan buatan untuk sistem kerja yang dinamis Mendukung perubahan sistem kerja yang begitu dinamis kini seolah telah menjadi kewajiban tiap perusahaan, baik itu untuk karyawan jarak jauh, hybrid, di kantor atau bahkan mereka yang berada di garda terdepan. Sebisa mungkin, perusahaan harus mampu meminimalisir gesekan yang terjadi karena adanya transformasi digital. Google Docs melalui smart canvas mempermudah pengguna untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja mereka tanpa harus khawatir dengan masalah jarak dan waktu. Selain itu, kolaborasi dengan Docs pun kini telah diperkaya dengan kecerdasan buatan (AI) yang terus dikembangkan oleh Google. Baca juga: Kelebihan Google Docs untuk Membuat Dokumen secara Efektif Docs dan Sheets merupakan dua aplikasi unggulan yang ditawarkan Google Workspace untuk mendukung lingkungan kerja kolaboratif. Google terus berusaha agar keduanya bisa memenuhi beragam kebutuhan kolaborasi para penggunanya. Salah satunya adalah dengan menghadirkan fitur-fitur canggih seperti yang telah dibahas dalam artikel ini. Baik aplikasi Docs dan Sheets akan lebih optimal jika diterapkan pada ekosistem produktivitas kolaboratif Google Workspace. Integrasi dengan Workspace akan memudahkan Anda untuk bekerja bersama secara efisien dan real-time. Dapatkan segera paket Google Workspace untuk lingkungan kerja Anda melalui EIKON Technology, authorized reseller produk-produk Google di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Info

Lynn Langit, Arsitek Cloud dan Peneliti Bioinformatika dengan Pipeline Data Skala Genom Google Cloud Platform

Profesi yang berkaitan dengan pengolahan data kini semakin diminati. Ilmuwan data dan data analis makin banyak jumlahnya. Namun pernahkah Anda menjumpai seseorang yang ahli dalam beberapa bidang terkait data sekaligus? Mari bertemu Lynn Langit, seorang pengusaha wanita asal Minnesota, Amerika Serikat. Langit merupakan pemilik sebuah perusahaan konsultan, Lynn Langit Consulting LLC. Diwaktu yang bersamaan, Langit juga merupakan seorang arsitek cloud, developer program, serta pendidik di bidang analitik data. Saat ini, Langit sedang mengerjakan pipeline bioinformatika (genomik). Bagaimana perjalanan Lynn Langit dengan Google Cloud Platform? Berawal dari rasa penasaran Photo Credit: Piqsels Mulanya, Lynn Langit bukanlah praktisi di bidang data. Perempuan asal Minnesota, Amerika Serikat ini memang mengawali kariernya di perusahaan teknologi. Hanya saja, saat itu ia justru lebih fokus pada sisi bisnis. Saat mulai meniti karier, Langit justru merasa tertarik dengan data. Kala itu, ia merasa bahwa data memiliki kekuatan besar yang bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan. Hingga akhirnya di tahun 2007, ia memutuskan untuk “menyeberang” dan menjadi praktisi analitik data. Langit belajar secara otodidak. Ia mengikuti kursus hingga mencari materi dari berbagai modul online. Materi yang dipelajarinya pertama kali berhubungan dengan data base dan pergudangan data, khususnya bagian membangun dan menyetel database perusahaan. Barulah setelah Hadoop/NoSQL tersedia, ia beralih ke Big Data. Baca juga: Tips Membangun Data Team yang Solid untuk Startup EdTech dengan Google Cloud Tak ragu beralih teknologi Langit memulai proses belajarnya dengan memanfaatkan teknologi Microsoft. Ia bahkan mendapatkan seluruh sertifikasi Microsoft hanya dalam waktu satu tahun. Saat Langit menyadari bahwa industri mulai bergeser dari sistem local ke cloud, ia pun beralih dari pemrograman ke komputasi awan. Ia memulai dengan Amazon Web Services (AWS), namun kemudian beralih dan bertahan dengan Google Cloud Platform (GCP) hingga sekarang. Untuk saat ini, Langit berkutat dengan bidang data pipeline, data ops, serta machine learning (ML). Belajar otodidak bukan hal mustahil Satu hal yang menarik dari Langit adalah keteguhannya untuk mempelajari data. Ia mempelajari data secara mandiri dan disiplin. Meski begitu, Langit tak pernah kehabisan bahan untuk dipelajari. Dalam ekosistem Google Cloud sendiri, mulanya ia mempelajari BigQuery, sebuah produk data analitik. Baginya, BigQuery merupakan sebuah gerbang yang menghubungkannya dengan platform data yang lebih besar, terbuka, cerdas, dan terpadu. Sebab, BigQuery menggabungkan ilmu mengenai analitik data, database, AI/ML, serta business intelligence. Proyek penelitian bioinformatika Photo Credit: Piqsels Bagi Langit, tidak pernah ada kata berhenti untuk mempelajari data. Ia bahkan selalu terbuka untuk mempelajari bidang baru. Saat ini, ia sedang mengerjakan sebuah proyek yang berhubungan dengan kesehatan manusia dan upaya menanggulangi pandemi. Dalam proyek tersebut, Langit membantu para ilmuwan dan peneliti bioinformatika dengan pipeline data berskala genomik. Lagi-lagi, ia juga mempelajari bidang tersebut secara otodidak. Seluruh proses belajar mandiri tersebut bahkan dibagikan melalui halaman GitHub miliknya. Langit juga berbagi materi lain dalam kursus Google Cloud Platform berformat open source lewat GitHub. Kursus tersebut ditujukan pada para peneliti yang baru mulai bekerja dengan GCP. Menariknya, kursus yang diadakan Langit benar-benar didesain untuk pemula. Anda bahkan bisa menemukan materi tentang cara membuat akun GCP. Anda juga bisa seperti Lynn Langit Kisah Lynn Langit membuktikan bahwa ilmu mengenai data bisa dipelajari secara mandiri. Sebab, kini sudah ada banyak sekali resources yang bisa Anda gunakan untuk mempelajari data, bahkan dari materi paling dasar sekali pun. Siap untuk memulai petualangan Anda bersama Google Cloud Platform? Anda bisa mulai mempelajarinya dengan rekomendasi dari Google berikut. Lewat sistem tersebut, Anda dapat memperoleh lencana khusus serta sertifikasi sepanjang proses pembelajaran. Jangan lupa juga untuk bergabung dengan program Cloud Innovator untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai tips, trik, dan event praktisi data lainnya. Anda juga bisa terhubung dengan komunitas data Google lewat acara virtual “Latest Google Cloud data analytics innovations”. Daftar sekarang untuk menjawab seluruh rasa penasaran Anda terhadap data langsung dengan para petinggi Google Cloud Platform. Jangan lewatkan juga demo produk dan fitur terbaru Google Cloud termasuk BigQuery, Dataproc, Dataplex, Dataflow, dan banyak lagi. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Selain memperkaya materi seputar analitik data seperti yang dilakukan Lynn Langit, ada baiknya Anda juga mulai membiasakan diri dengan Google Cloud Platform. Dapatkan solusi komputasi awan Google Cloud berlisensi resmi hanya di EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini!

Google Cloud

3 Alasan Mengapa Anda Harus Menambahkan Cloud sebagai Data Strategy

Saat ini, ada banyak sekali perusahaan yang menerapkan infrastruktur sistem data dengan serangkaian parameter ketat sebelum implementasinya. Sayangnya, hal ini bisa membatasi fleksibilitas dan juga penggunaan jangka panjang. Padahal, “living systems” yang fleksibel mampu mengubah kapasitas dengan cepat. Itu berarti, peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih besar pun terbuka lebar. Cloud bisa menjadi solusi yang efisien jika Anda ingin membangun sistem data live. Langkah ini akan membantu perusahaan Anda lebih cepat merespons perubahan yang terjadi. Berikut adalah alasan mengapa Anda harus menambahkan komputasi cloud sebagai bagian dari data strategy, terutama jika ingin mulai menerapkan sistem data live. Data harus selalu tersedia Saat pandemi melanda dunia, banyak perusahaan yang memindahkan atau bahkan membuat sistem agar karyawan mereka bisa bekerja dari jarak jauh. Perubahan ini mau tak mau menguji batas sistem data yang mereka miliki. Membangun cloud menjadi suatu sistem data yang fleksibel telah terbukti dapat menyelesaikan masalah tersebut. Migrasi ke penyimpanan cloud akan membuat data lebih mudah diakses. Anda juga bisa selalu menambahkannya kapan pun dan di mana pun, tanpa harus pergi ke kantor. Langkah ini juga bisa menjadi cara yang efisien untuk mencadangkan data mentah dan menambah lapisan keamanan tambahan. Baca juga: Mengintip Solusi Digital Assets Team yang Baru Diluncurkan Google Cloud Data harus diperbarui secara real-time Photo Credit: Rawpixel Perusahaan akan lebih cepat beradaptasi jika efisiensi data lebih tinggi. Saat perusahaan cepat beradaptasi maka otomatis proses pengambilan keputusan pun akan ikut menjadi lebih cepat. Memiliki solusi data yang terus diperbarui secara real-time akan membantu perusahaan membuat keputusan yang bahkan mendekati real-time. Hal ini telah dibuktikan oleh pemerintah daerah Negara Bagian Wyoming, Amerika Serikat dalam proses distribusi vaksin. Sistem data mengumpulkan data penduduk yang telah menerima pasien secara real-time. Dengan begitu, pemangku kebijakan pun bisa mengambil keputusan terkait penanggulangan pandemi lebih cepat. Sistem data real-time tidak hanya dibutuhkan di masa pandemi. Krisis lain seperti bencana alam, kekurangan pakan, hingga berbagai ancaman kesehatan masyarakat, semuanya bisa ditangani dengan efisien jika menerapkan sistem data real-time. Di sinilah cloud bisa membantu sistem data Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Data harus mudah digunakan Untuk membedakan sistem data yang fungsional dengan sistem data fenomenal sebenarnya tidak sulit. Sistem data yang fungsional pasti menyediakan data yang mudah digunakan serta dipahami. Menyimpan data di cloud adalah langkah awal yang tepat, tapi perusahaan juga harus bisa mengakses dan menggunakannya dengan cepat. Photo Credit: freepic.diller (Freepik) Di sinilah sistem data konvensional sering mengalami hambatan. Kebanyakan sistem TI konvensional menerapkan data strategy yang diidentifikasi sebelum implementasi dimulai. Hal ini akan menyebabkan data baru yang digunakan secara berbeda, harus melalui proses adaptasi terlebih dahulu. Proses ini sering kali makan banyak waktu dan sulit dijalankan. Data memang tersedia, tapi tidak bisa digunakan. Sistem data yang memanfaatkan cloud akan memberikan aksesibilitas sekaligus penggunaan data yang lebih baik. Google Cloud misalnya, Anda bisa menemukan tool yang bisa disesuaikan seperti Contact Center AI dan Document AI. Tool tersebut memungkinkan perusahaan untuk bisa bekerja dengan data yang terus berubah. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Google Cloud memiliki serangkaian tools untuk membuat sistem data yang terintegrasi. Sistem tersebut bahkan nantinya dapat dikembangkan seiring dengan naiknya permintaan atau untuk menyesuaikan kebutuhan pembangunan perusahaan. Sistem data Google Cloud telah terbukti efisien dalam memenuhi situasi tersebut. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai melakukan migrasi data ke cloud, Google Cloud adalah solusi terbaik. Kini, Anda bisa mendapatkan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, Google Apps Partner untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Mengintip Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise, Infrastruktur Skala Perusahaan Hasil Kolaborasi dengan VMware

Azure Spring Cloud merupakan proyek kerja sama Microsoft dengan VMware. Saat diperkenalkan di tahun 2019 lalu, infrastruktur ini diklaim mampu memecahkan tantangan umum yang dihadapi oleh para developer, operator TI, dan tim DevOps saat menjalankan aplikasi Spring Boot dalam skala besar. Seiring berjalannya waktu, Azure Spring Cloud pun melakukan beberapa pengembangan. Paling baru, infrastruktur ini memperkenalkan tier tertinggi: Enterprise pada event SpringOne tahun 2021 lalu. Azure Spring Cloud Enterprise menyertakan komponen runtime Spring yang didukung secara komersial untuk membantu perusahaan mengirim lebih cepat. Solusi modernisasi Spring Photo Credit: Microsoft Azure Blog Sekarang ini, ada banyak perusahaan yang menjalankan aplikasi Spring Boot on-premises. Otomatis, mereka membutuhkan kemampuan tingkat lanjut untuk mempercepat proyek modernisasi Spring. Lewat Azure Spring Cloud Enterprise, Microsoft menawarkan solusi terbaik untuk mengatasi situasi tersebut.  Kolaborasi yang menggabungkan cloud Microsoft dengan portofolio Tanzu VMware yang inovatif tersebut menghasilkan platform yang memungkinkan pengguna untuk menerapkan aplikasi polyglot yang melekat secara portabel di seluruh layanan Azure, cloud mana pun, dan sistem on-premises apa pun. Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure Kelola Spring dan aplikasi polyglot VMware Tanzu Build Service yang ada pada Azure Spring Cloud Enterprise membuat proses pembuatan, pengelolaan, dan tata kelola container pada skala perusahaan secara otomatis dengan dukungan Cloud Native Buildpacks dan VMware Tanzu Buildpacks komersial. Tanzu Build Service menawarkan abstraksi tingkat lanjut untuk membangun aplikasi dan memberikan keseimbangan kontrol sehingga beban operasional pada developer berkurang. Layanan ini juga mampu mendukung pengelolaan aplikasi dalam skala besar. Sementara itu, Tanzu Buildpacks mempermudah pembuatan aplikasi Spring, Java, NodeJS, Python, Go, dan .NET Core serta menawarkan konfigurasi agen pemantauan kinerja aplikasi seperti Application Insights, New Relic, Dynatrace, AppDynamics, dan Elastic. Merutekan permintaan klien ke aplikasi dengan mudah Photo Credit: Microsoft Azure Blog Kini Anda bisa mengelola serta menemukan rute permintaan dan API yang terekspos aplikasi dengan Spring Cloud Gateway for VMware dan API portal for VMware Tanzu. Spring Cloud Gateway for Tanzu akan merutekan beragam permintaan klien ke aplikasi, baik di Azure Spring Cloud, ekosistem Azure, dan/atau teknologi on-premises perusahaan, serta menangani pertimbangan lintas sektor untuk aplikasi di balik Gateway seperti pengamanan, routing, pembatasan kecepatan, caching, pemantauan, ketahanan, dan bahkan menyembunyikan aplikasi. Anda dapat mengatur: Integrasi sistem masuk tunggal dengan penyedia identitas pilihan Anda (tanpa kode atau dependencies tambahan). Aturan routing dinamis ke aplikasi tanpa pemindahan aplikasi apa pun. Permintaan perlambatan tanpa layanan dukungan. Komponen VMware Tanzu yang fleksibel Photo Credit: Microsoft Azure Blog Dengan Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise, pengguna dapat menggunakan komponen VMware Tanzu yang terkelola sepenuhnya di Azure. Selain itu, Anda juga dapat memilih komponen yang ingin digunakan selama pembuatan instance Enterprise. Komponen VMware Tanzu menawarkan peningkatan nilai kepada pelanggan sehingga Anda dapat: Mengembangkan portofolio aplikasi perusahaan Anda. Dari yang semula hanya beberapa aplikasi menjadi ribuan dengan kemampuan observasi end-to-end sambil mendelegasikan kompleksitas operasional ke Microsoft dan VMware. Terapkan aplikasi Spring di Azure Spring Cloud dan lingkungan komputasi lainnya. Mengontrol dependensi build, menerapkan aplikasi polyglot, dan menggunakan komponen middleware Spring Cloud sesuai kebutuhan. Ke depannya, Microsoft Azure dan VMware akan terus menambahkan lebih banyak fitur skala perusahaan, termasuk berbagai komponen Tenzu seperti Application Live View for VMware Tanzu, Application Accelerator for VMware Tanzu, dan juga Spring Cloud Data Flow for VMware Tanzu. Baca juga: 5 Alasan Mengapa Microsoft Azure Cocok untuk Aplikasi Cloud Anda Microsoft Azure merupakan solusi berbasis cloud yang dirancang untuk kebutuhan pembangunan, pengujian, penerapan, dan pengelolaan aplikasi. Dengan adanya Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise ini, pengguna bisa menemukan solusi yang efisien untuk mengatasi gangguan pada operasional Spring Boot. Dapatkan solusi berbasis komputasi awan, Microsoft Azure yang dipersonalisasi khusus untuk menjawab berbagai kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology. Masih ragu? Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology terlebih dulu. Kami juga menyediakan penawaran free trial untuk Anda. Cek informasi selengkapnya di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Project Flash: Proyek Pemantauan Ketersediaan Virtual Machine Azure Terbaru

Project Flash merupakan kumpulan kapabilitas di seluruh Azure Engineering, yang bertujuan untuk mengembangkan ekosistem pemantauan ketersediaan virtual machine (VM) Azure menjadi solusi terpusat, holistik, dan mudah dipahami yang dapat diandalkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhan observabilitas spesifik mereka. Di bulan Februari 2022 lalu, Project Flash berhasil menyelesaikan tahap pertama dengan meluncurkan preview data ketersediaan VM di Azure Resource Graph dan private preview metrik ketersediaan VM di Azure Monitor. Namun sebenarnya, apa itu Project Flash? Apa itu Project Flash Seperti namanya, Project Flash merupakan komitmen Microsoft Azure untuk membangun jalan yang cepat dan kuat untuk memantau ketersediaan virtual machine (VM) selengkap mungkin (hal ini merupakan syarat utama agar aplikasi bekerja dengan efisien). Project Flash merupakan misi Azure untuk memastikan pelanggan dapat: Mengonsumsi data yang akurat dan dapat ditindaklanjuti pada gangguan ketersediaan VM (misalnya, VM reboot dan restart, aplikasi macet karena pembaruan driver jaringan dan pembaruan host OS 30 detik), bersama detail kegagalan yang tepat. Analisis dan waspadai tren ketersediaan VM untuk debug yang cepat dan pelaporan dari bulan ke bulan. Pantau data dalam skala besar secara berkala dan membuat dashboard khusus untuk tetap mendapatkan informasi terbaru tentang status ketersediaan semua sumber daya. Otomatis menerima root cause analyses (RCA) yang merinci VM terdampak, penyebab dan durasi waktu henti, perbaikan konsekuen, dan sejenisnya (semua untuk mengaktifkan investigasi yang ditargetkan dan analisis post-mortem). Menerima pemberitahuan instan mengenai perubahan penting dalam ketersediaan VM untuk memicu tindakan perbaikan dengan cepat dan mencegah dampak terhadap end user. Menyesuaikan dan otomatisasi kebijakan pemulihan platform secara dinamis, berdasarkan sensitivitas beban kerja yang terus berubah dan kebutuhan failover. Baca juga: Mendukung Semua Aplikasi Dengan Infrastructure Azure Opsi pemantauan baru Di fase pertama, Project Flash menyediakan opsi yang berbeda untuk mengakses data ketersediaan virtual machine (VM) secara mudah sehingga kebutuhan observabilitas dapat terpenuhi. Tujuannya adalah untuk menjaga konsistensi data dengan standar kualitas yang sama ketatnya di semua fitur dan solusi yang ada, seperti Resource Health atau Activity Log, untuk memberikan tampilan agnostik yang konsisten dari solusi yang Anda pilih. Analisis skala besar untuk ketersediaan virtual machine Photo Credit: Microsoft Azure Blog Azure Resource Graph merupakan sebuah layanan Azure yang diadopsi secara luas karena kemampuannya yang efisien untuk melakukan query di banyak subscriptions sekaligus dan memiliki latensi rendah. Nantinya, Azure akan menambahkan detail kegagalan dan skenario VM yang diturunkan ke tabel Health Resources di Azure Resource Graphs. Detail ini memastikan Anda bisa mendapat informasi yang tepat mengenai penyebab dan dampak dari setiap kegagalan. Jadi, Anda bisa melakukan failover, reboot in place atau mengambil langkah mitigasi yang sesuai untuk meminimalisir dampak pada end user. Metrik ketersediaan virtual machine di Azure Monitor Photo Credit: Microsoft Azure Blog Metrik di Azure Monitor merupakan platform untuk memantau dan menganalisis representasi deret waktu ketersediaan VM untuk debugging yang cepat dan mudah, menerima peringatan tentang tren terkait, menangkap indikator awal ketersediaan yang menurun, berkolerasi dengan metrik platform lain, dan sebagainya. Metrik ini memungkinkan Anda untuk melacak “denyut nadi” VM (selama perilaku yang diharapkan, metrik akan menampilkan nilai 1). Sebagai respons terhadap gangguan ketersediaan VM, metrik akan turun ke 0 selama dampak berjalan. Jika terjadi pemadaman infrastruktur Azure, sistem akan memunculkan nilai 0 yang ditampilkan sebagai garis putus-putus pada portal. Untuk saat ini, Azure baru meluncurkan private preview metrik sebagai fase pertama dari rencana peluncuran mereka. Pengguna yang sudah mencoba preview bisa memberikan feedback agar nantinya layanan dapat ditingkatkan. Dalam jangka waktu dekat, Azure akan menambahkan detail kegagalan seperti dimensi metrik dan platform log, yang memungkinkan pengguna mengetahui skenario kegagalan. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman Dengan adanya Project Flash ini, Azure menawarkan kemudahan bagi para penggunanya untuk melakukan pemantauan virtual machine. Microsoft Azure sendiri merupakan sebuah layanan komputasi awan yang dirancang untuk membangun, menguji, meluncurkan, dan mengelola aplikasi serta layanan melalui data center milik Microsoft. Solusi komputasi Azure kini sudah bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Di EIKON Technology, kami menyediakan layanan free trial agar Anda bisa mencoba Azure terlebih dulu sebelum memutuskan untuk membeli. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

4 Update Terbaru dari Microsoft Teams

Sejak diperkenalkan kepada publik di tahun 2017 lalu, Microsoft Teams terus melakukan pengembangan. Jika di awal kemunculannya Teams hadir untuk menggantikan Microsoft Classroom dari Office 365 Education, kini platform tersebut telah dilengkapi dengan berbagai kapabilitas yang memungkinkan para pengguna melakukan beragam aktivitas kolaborasi mulai dari chat hingga video meeting. Pengembangan Microsoft Teams menjadi semakin pesat setelah pandemi melanda. Teams menjadi salah satu platform yang mendapatkan banyak pengguna baru karena meeting konvensional beralih ke model virtual. Dalam update Microsoft Teams terbaru, Anda bisa menemukan beberapa fitur baru dan peningkatan kapabilitas. Apa saja? Mari simak penjelasannya berikut. Meetings Urutan angkat tangan Photo Credit: Microsoft Tech Community Update Microsoft Teams yang pertama datang dari Meetings. Pada aplikasi tersebut kini Anda bisa menemukan fitur yang mengurutkan waktu angkat tangan para peserta meeting. Dengan begitu, Anda bisa memastikan bahwa setiap pendapat akan didengar dan tidak ada peserta yang terlewat.  Rekaman meetings Fitur rekaman di Teams memungkinkan Anda untuk meninjau apa yang mungkin terlewat dan membantu peserta yang berhalangan hadir agar bisa mengejar ketertinggalan. Selama satu tahun terakhir, Microsoft telah beralih ke OneDrive dan SharePoint untuk menyimpan hasil rekaman yang mudah dibagikan. Selain itu, Anda juga bisa menemukan beberapa peningkatan lain seperti: Pilihan kecepatan pemutaran – Kini Anda bisa menonton rekaman dengan kecepatan lebih lambat atau lebih cepat (0.5x hingga 2x). Transkrip kualitas tinggi – Sekarang tersedia atribusi untuk pembicara pada meeting yang mengaktifkan Live Transcription. Perekaman otomatis – Penyelenggara meeting dapat mengatur rapat agar mulai merekam secara otomatis.  Baca juga: Tetap Terhubung dengan Aplikasi Kolaborasi Microsoft Teams Percakapan dan Kolaborasi Menambahkan deskripsi gambar Dengan fitur ini Anda bisa memudahkan para penyandang disabilitas untuk memahami gambar yang terlampir di Outlook. Caranya pun mudah, cukup klik kanan pada gambar dan pilih opsi “Add alt text”. Perangkat Pemberitahuan kapasitas ruang rapat Microsoft Teams Rooms di Windows Photo Credit: Microsoft Tech Community Teams Rooms kini dapat memberi tahu peserta meeting jika ruangan telah melebihi kapasitas. Operator juga bisa menentukan kapasitas ruang rapat untuk setiap akun Teams Rooms dan menggunakan data dari kamera ruang rapat untuk mengidentifikasi berapa banyak peserta rapat. Memisahkan tata letak video di beberapa layar Maksimalkan pembagian layar di Teams Room melalui kapabilitas untuk membagi galeri video di semua tampilan yang tersedia saat konten tidak dibagikan. Cara ini akan membantu memusatkan perhatian pada peserta yang bergabung dari jarak jauh sehingga meeting pun menjadi lebih inklusif dan menarik. Photo Credit: Microsoft Tech Community Hot Desking untuk tampilan Teams Photo Credit: Microsoft Tech Community Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menemukan dan memesan ruang kerja dengan cepat. Mereka bisa langsung melakukan panggilan, mengatur ad-hoc meetings atau masuk untuk mengakses pengalaman Teams yang telah dipersonalisasi.  Keamanan dan Kepatuhan Opsi enkripsi end-to-end (E2EE) untuk panggilan one-to-one Kini, E2EE untuk panggilan one-to-one dengan Teams telah tersedia untuk umum. Dengan adanya fitur ini operator akan memiliki opsi untuk mengaktifkan dan mengontrol fitur setelah mereka menerima pembaruan. Baca juga: Optimalkan Kerja Kolaborasi dengan Microsoft Collaborative Work Management Dengan adanya update Microsoft Teams terbaru, alur kolaborasi kerja pun terasa lebih mudah. Ingin kolaborasi yang lebih seamless? Manfaatkan berbagai fitur dan kapabilitas yang tersedia di Microsoft 365 for Business. Dapatkan Microsoft 365 for Business resmi dan berlisensi hanya di EIKON Technology. Anda bisa mencoba free trials dengan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Mengatasi Ancaman Keamanan Siber dengan Cyber Signals

Pada Februari 2022 lalu, Microsoft baru saja meluncurkan Cyber Signals, sebuah intelligence brief ancaman siber yang disusun berdasarkan data dan penelitian mereka. Brief tersebut nantinya akan diperbarui secara berkala setiap tiga bulan sekali. Selain mengumpulkan ancaman keamanan siber Microsoft, Cyber Signals juga akan melampirkan perspektif para ahli mengenai lanskap ancaman yang ada saat ini. Perspektif tersebut akan membahas taktik, teknik, dan strategi yang banyak digunakan. Harapannya, brief ini akan membantu perusahaan mengatasi berbagai risiko keamanan siber yang terus mengincar setiap saat. Apa saja yang ditawarkan Cyber Signals? Pengumpulan data Cyber Signals Untuk mendapatkan insight terbaru mengenai ancaman keamanan siber, tim riset Cyber Signals mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk analisis terhadap 24 triliun sinyal keamanan Microsoft yang dikombinasikan dengan intelijen mereka (memantau lebih dari 40 kelompok negara-bangsa dan lebih dari 140 kelompok ancaman). Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure Keamanan identitas di dunia maya Dalam edisi pertama Cyber Signals, Microsoft mengangkat topik identitas. Identitas pengguna terdiri dari semua yang mereka katakan dan lakukan, kemudian dicatat sebagai data yang terbentang di lautan aplikasi dan layanan. Meski, aplikasi dan layanan tersebut memberikan utilitas keamanan yang baik, bukan berarti pengguna lantas tidak menjaga keamanan mereka. Justru sebaliknya, Microsoft menemukan bahwa identitas akan selalu menjadi celah keamanan siber. Photo Credit: Rawpixel Sayangnya, ancaman keamanan identitas yang terus meningkat tidak diimbangi dengan sistem keamanan yang optimal. Selama dua tahun terakhir ini, adopsi otentikasi identitas yang kuat, seperti multifactor authentication (MFA) atau solusi tanpa kata sandi (passwordless), masih rendah. Pengguna bahkan menganggapnya belum terlalu penting. Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft menunjukkan bahwa di seluruh industri, hanya sekitar 22% pelanggan yang menggunakan Microsoft Azure Active Directory (Azure AD), yang merupakan Cloud Identity Solution native milik Microsoft. Padahal, solusi keamanan tersebut telah menerapkan perlindungan otentikasi identitas yang kuat sejak akhir tahun 2021 lalu. Solusi ancaman keamanan identitas siber Solusi MFA dan tanpa kata sandi bisa sangat membantu dalam mencegah berbagai ancaman. Microsoft melalui Cyber Signals berkomitmen untuk memberikan edukasi mengenai keamanan identitas siber dan solusinya kepada pelanggan. Dari Januari hingga Desember 2021, Microsoft telah memblokir lebih dari 25,6 miliar serangan otentikasi brute force Azure AD dan menghalangi kurang lebih 35,6 miliar email phishing dengan bantuan Microsoft Defender untuk Office 365. Dengan 8,500 pertahanan keamanan yang melindungi platform, tool, service, dan endpoint, Microsoft memiliki komitmen untuk menggagalkan serangan keamanan siber tingkat lanjut. Untuk mengamankan identitas pelanggan, Microsoft melakukan verifikasi identitas. Sebab, mengandalkan kata sandi saja masih membuka celah untuk disusupi peretas. Cyber Signals: Pedoman untuk hadapi ancaman keamanan siber Photo Credit: Piqsels Belakangan ini, ancaman keamanan siber terus meningkat, baik dari segi volume, kecepatan, dan bahkan kecanggihannya. Mulai dari IoT, taktik ransomware baru, hingga wawasan tentang ekonomi kriminal dunia maya, semuanya dibahas dalam Cyber Signals. Intelligence brief ini memberikan analisis tren dan panduan praktis untuk memperkuat lini pertama pertahanan digital. Terlebih kini jumlah pekerja yang bekerja dari jarak jauh semakin banyak jumlahnya. Otomatis, akses menuju aplikasi dan data bisnis pun semakin rentan. Ini bukan lagi tentang mengamankan data perusahaan, tapi juga menjaga keamanan data pribadi, identitas, perangkat, dan infrastruktur cloud. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure Melalui Cyber Signals, Microsoft membagikan tren, taktik, dan strategi yang digunakan para peretas untuk mendapatkan akses menuju hardware dan software yang menyimpan banyak data sensitif. Selain itu, intelligence brief ini juga membantu para pengguna aplikasi dan layanan Microsoft untuk meningkatkan keamanan pribadi sehingga nantinya terwujud dunia yang jauh lebih aman. Seluruh informasi berharga dalam Cyber Signals mengenai perlindungan keamanan siber bisa diakses gratis melalui website resmi Microsoft. Edisi pertamanya bisa Anda akses dan unduh di sini. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai menerapkan ekosistem Microsoft untuk keperluan perusahaan bisa mendapatkan paket Microsoft for Business melalui EIKON Technology. Untuk konsultasi langsung mengenai produk, silakan klik di sini!

Google Cloud, Google Workspace

Selamat untuk EIKON Technology, Top Achiever 2021 Google Cloud Indonesia!

EIKON Technology kembali membuktikan kapasitasnya sebagai penyedia layanan cloud terkemuka di Indonesia. Pada gelaran Google Cloud Indonesia Partner Kick-Off 2022, tanggal 9 Maret 2022 lalu, EIKON Technology dinobatkan sebagai Top Achiever 2021 Google Workspace – Indonesia untuk kategori Business Result, Commitment, Execution, Expertise. Google Cloud Indonesia Partner Kick-Off 2022 Google Cloud Indonesia Partner Kick-Off sendiri merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Google Cloud untuk memberikan apresiasi kepada para partner mereka di Indonesia. Pada tahun 2022 ini, event digelar secara virtual melalui Google Meet. Google Cloud Indonesia Partner Kick-Off 2022 menjadi ajang pemberian apresiasi kepada partner Google Cloud yang tersebar di seluruh Indonesia atas pencapaian mereka sepanjang tahun 2021 lalu. Dalam event tersebut, EIKON Technology mendapatkan penghargaan Top Achiever 2021 Google Workspace – Indonesia dengan penilaian dalam hal Business Result, Commitment, Execution, dan Expertise. Pada gelaran Google Cloud Indonesia Partner Kick-Off 2022 ini, EIKON Technology juga resmi menjadi Google Cloud Partner Advantage. Ini menempatkan EIKON Technology dalam jajaran perusahaan dunia yang menjadi partner Google Cloud seperti Deloitte, Paloalto, WiX, AtoS, Accenture, SoftBankc Japan, VMware, hingga GitLab. Baca juga: Webinar Google Workspace dari EIKON Technology Bukti komitmen EIKON Technology EIKON Technology merupakan sebuah perusahaan yang berdiri di tahun 2007 dan bergerak dibidang konsultan teknologi informasi, outsourcing, serta pengembangan. Sejak saat itu, EIKON telah menjadi salah satu penyedia layanan komputasi awan (cloud) terkemuka di tanah air. Perjalanan EIKON Technology bersama Google dimulai dengan menjadi salah satu dari 10 Google Apps Partner pertama di dunia, tepatnya pada tahun 2014. Segera setelah itu, EIKON Technology pun menjadi penyedia layanan komputasi awan Google, Cloud kenamaan di Surabaya, Jakarta, dan seluruh Indonesia. EIKON Technology kini menjadi partner resmi Google untuk menjual Google Workspace resmi. Google Workspace sendiri merupakan rangkaian tools produktivitas dari Google yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan kerja. Sebagai reseller resmi yang ditunjuk langsung oleh Google, EIKON Technology melayani pembelian produk untuk wilayah Jakarta, Jogja, Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, Makassar, Malang, Medan, Palembang, Denpasar, Pontianak, Batam, dan kota-kota besar di seluruh indonesia.  Mulai berlangganan Google Workspace di EIKON Technology Photo Credit: katemangostar (Freepik) Pengoperasian Google Workspace sangat mudah. Anda bahkan tidak memerlukan perangkat keras maupun perangkat lunak tambahan. Sebab, layanan ini hanya membutuhkan browser serta koneksi internet. Aplikasi yang disediakan juga dapat dioperasikan di ponsel, tablet, maupun PC. Jika Anda menggunakan Google Workspace dalam skala besar, pengelolaannya pun sangat mudah. Keamanannya pun telah terjamin karena disimpan dengan teknologi canggih milik Google Baca juga: Kini Seluruh Paket Gratis G Suite Berubah Menjadi Google Workspace Berbayar! EIKON Technology menyediakan berbagai jenis paket Google Workspace. Untuk masalah harga Anda tak perlu khawatir karena EIKON menyediakan harga Google Workspace yang relatif murah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Silakan konsultasikan kebutuhan Anda di sini, EIKON Technology dengan senang hati membantu.

Gmail, Google Workspace

Update Google Workspace untuk Cegah Email Phishing

Hingga saat ini, email phishing masih menjadi ancaman keamanan digital yang membahayakan. Teknologi phishing bahkan terus berkembang hingga sulit untuk membedakan mana email yang benar-benar aman dan mana yang mengandung ancaman. Tidak ada cara lain yang efektif untuk mencegah phishing selain meningkatkan sistem keamanan Anda. Google Workspace baru saja melakukan update untuk meminimalisir risiko email phishing. Lewat pembaruan ini, Anda bisa berkolaborasi dengan aman tanpa harus khawatir dengan malware yang disebarkan email phishing. Seperti apa update terbaru dari Google Workspace tersebut? Pembaruan notifikasi email Photo Credit: Google Workspace Updates Di masa pandemi seperti sekarang ini, kolaborasi digital menjadi sangat penting. Langkah ini terbukti efektif menghubungkan seluruh karyawan, baik yang bekerja di kantor maupun sedang menerapkan WFH (work from home). Sayangnya, ancaman keamanan digital pun ikut membayangi sistem kolaborasi kerja ini. Baru-baru ini, Workspace, platform kolaborasi yang dikembangkan oleh Google, melakukan perubahan penting dalam menyajikan notifikasi komentar. Notifikasi yang dimaksud adalah pemberitahuan dari aplikasi Google Workspace seperti Docs. Langkah ini dilakukan untuk mencegah phishing dan melindungi pengguna dari ancaman malware. Adanya update ini membantu pengguna untuk melakukan kolaborasi jarak jauh tanpa harus khawatir dengan peretasan dan serangan berbahaya lainnya. Google Workspace kini akan menyertakan alamat email kolaborator dalam notifikasi saat Anda menerima @mention. Jadi, Anda bisa lebih mudah mengidentifikasi kolaborator. Baca juga: Meeting Hybrid Yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Lebih mudah kenali kolaborator Workspace Sebelumnya, ketika kolaborator menambahkan catatan @mention dalam aplikasi Google Workspace, Anda akan mendapatkan email yang memberitahu bahwa seseorang telah melakukan perubahan. Masalahnya adalah, pemberitahuan tersebut hanya berisi nama pemberi komentar tanpa disertai dengan alamat email yang jelas. Hal ini jelas akan menyulitkan Anda untuk mengidentifikasi apakah notifikasi tersebut memang karena kolaborator melakukan perubahan atau justru penyerang siber yang memiliki maksud jahat. Sangat sulit untuk mengetahui apakah email tersebut phishing atau tidak. Dengan adanya update terbaru ini, Anda bisa lebih mudah mengonfirmasi notifikasi tersebut kepada kolaborator. Sebab, alamat email mereka telah dicantumkan dalam notifikasi. Jadi, saat kolaborator menggunakan @mention untuk menyebut Anda dalam aplikasi Google Workspace, sistem secara otomatis akan mengirim pemberitahuan lengkap dengan nama kolaborator dan alamat email mereka ke kotak masuk email Anda. Ketersediaan Photo Credit: Rawpixel Update ini diluncurkan Google Workspace pada tanggal 3 Maret 2022. Dalam rentang waktu 15 hari, seharusnya pembaruan ini sudah bisa dinikmati oleh seluruh pengguna. Menariknya lagi, update ini tidak memerlukan penanganan khusus dari administrator. Pembaruan akan langsung muncul secara default. Jika Anda menemukan kesulitan dalam penggunaannya, Google menyediakan panduan yang bisa diakses di sini. Fitur ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace, termasuk Anda yang masih menggunakan paket G Suite Basic dan Business. Notifikasi anti email phising ini juga bisa dinikmati oleh pengguna dengan akun pribadi Google. Baca juga: Google Workspace Hadirkan Smart Replies di Google Docs Semakin hari, semakin banyak perusahaan yang mengadopsi lingkungan kerja hybrid atau bahkan jarak jauh. Hal ini memang memudahkan di masa pandemi. Namun di satu sisi, kolaborasi digital juga meningkatkan risiko munculnya keamanan digital seperti email phishing. Dengan update notifikasi dari Google Workspace, Anda bisa meminimalisir potensi bahaya keamanan. Untuk bisa memenuhi kebutuhan dan melindungi keamanan pelanggannya, Google Workspace teruse melakukan pembaruan secara berkala. Mulai kolaborasi kerja yang lebih mudah dan aman bersama Google Workspace. Di EIKON Technology, Anda bisa memilih paket Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan dan bujet perusahaan. Untuk konsultasi langsung dengan tim dari EIKON Technoloy, silakan klik di sini!

Scroll to Top