EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Tampilan Baru Google Cloud SDK + CLI untuk Pengembangan yang Lebih Mudah

Google Cloud SDK merupakan rangkaian libraries serta tools yang memungkinkan Anda untuk bisa berinteraksi dengan berbagai produk dan layanan dari Google Cloud. Dengan memanfaatkan libraries Cloud SDK, Anda bisa langsung melakukan integrasi API menggunakan Client Libraries untuk Java, Python, Node.js, Ruby, Go, .NET, dan PHP. Selain itu Cloud SDK juga menyediakan kapabilitas untuk pembuatan skrip atau interaksi dengan cloud resources dalam skala besar menggunakan Google Cloud CLI. Pengembangan lokal pun bisa dilakukan dengan mudah lewat emulator untuk Pub/Sub, Spanner, Bigtable, hingga Datastore. Kini, Cloud SDK telah melalui tahap rebranding, menghadirkan pengalaman pengembangan aplikasi yang lebih mudah dan telah terintegrasi dengan teknologi dari Google Cloud. Seperti apa perubahannya? Mempermudah penemuan dengan mengganti command line tools Photo Credit: Google Cloud Blog Dalam rebranding tersebut Cloud SDK mengubah nama kumpulan command line developer tools menjadi Google Cloud CLI. Tujuannya tak lain adalah untuk memperjelas bahwa tools tersebut merupakan antarmuka command line yang memungkinkan pengguna bekerja dengan salah satu produk dan layanan Cloud SDK. Meski berganti nama, kumpulan tools tersebut masih berisi gcloud, gsutil, bq, kubectl yang sama, dan berbagai emulator data dan tools untuk pengembangan lokal. Semua skrip yang ada akan tetap berfungsi karena tidak ada perubahan terkait prompt perintah. Nama paket yang ada sebelumnya pun masih berfungsi. Misalnya, di Debian Anda masih bisa menjalankan apt-get install google-cloud-sdk atau menggunakan apt-get install google-cloud-cli yang baru. Nama paket lama akan terus ada selama pelanggan melakukan penyesuaian. Baca juga: Meningkatkan Produktivitas Developer dengan Cloud Client Libraries for Compute Engine Mengurangi kerumitan pengkodean dengan SDK berbasis bahasa Photo Credit: DCStudio (Freepik) Google Cloud memang telah lama menawarkan client libraries untuk seluruh layanannya. Namun seiring berjalannya waktu, Google secara berulang merilis gaya client libraries yang lebih baik melalui Cloud Client Libraries. Kini, Cloud Client Libraries telah tersedia untuk Sebagian besar layanan Google Cloud dan menjadi bagian dari Google Cloud SDK untuk setiap bahasa yang didukung (C#, Go, Java, NodeJS, PHP, Python, dan Ruby. Cloud Client Libraries menyederhanakan integrasi dengan APi Google dan memberikan beberapa manfaat signifikan dibandingkan libraries alternatif atau API layanan mentah. Libraries ini menawarkan manfaat seperti: Cuplikan kode: Lihat cuplikan kode contoh untuk setiap metode (dukungan bahasa tambahan akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang) untuk membantu proses pengembangan Anda. Dokumentasi yang terpusat dan terkini: Pembuatan dokumentasi otomatis (tersedia di cloud.google.com) memberi Anda dokumentasi referensi teknis yang lebih konsisten dan akurat, serta berada dalam satu lokasi sehingga lebih mudah ditemukan. Integrasi yang lebih cepat dengan pagination, operasi yang lebih panjang, dan metode dukungan lainnya: Kurangi kode boilerplate berulang dengan memanfaatkan fungsi dukungan untuk kasus penggunaan umum seperti bekerja dengan kumpulan data besar atau menangani proses asinkron. Kurva pembelajaran yang lebih rendah: Dengan mengikuti gaya idiomatis dari bahasa pemrograman pilihan Anda, client libraries akan terasa lebih mudah dioperasikan. Jadi, Anda bisa mulai coding lebih cepat dan efektif. Integrasi yang lebih mudah di beberapa produk: Dengan memperlihatkan pola tingkat tinggi yang konsisten untuk autentikasi, penyiapan, dan konfigurasi, Anda dapat bekerja lebih cepat di beberapa produk Google Cloud. Untuk menyederhanakan penemuan, penggunaan, dan pengalaman dokumentasi Anda, sebaiknya gunakan Cloud Client Libraries untuk seluruh proyek baru. Untuk proyek lawas, Google akan terus memperbarui seluruh Google API Client Libraries berikut dokumentasi sebelumnya karena masih digunakan secara luas. Bundling frameworks, panduan, dan alat berorientasi bahasa Dengan menyusun SDK berdasarkan bahasa pemrograman, Google Cloud juga akan menyertakan di setiap SDK semua frameworks dan tools khusus bahasa, bersama dengan language agnostic tools (jika tersedia). Sebagai contoh, Google Cloud SDK untuk Java | |–Cloud SDK Libraries (Cloud Client Libraries untuk Java) |–Spring Cloud GCP (Spring Framework untuk Java di Google Cloud) |–Google Cloud CLI |–Use cases and guides |–Optional tooling (ekstensi Cloud Code IDE) Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Functions Dengan memanfaatkan Google Cloud SDK terbaru, Anda bisa menghemat lebih banyak waktu dan tenaga dalam proses pengembangan aplikasi. Untuk memaksimalkan manfaat Cloud SDK, sebaiknya gunakan ekosistem Google Cloud. Dapatkan personalized Google Cloud untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

3 Kunci Utama Transformasi Industri yang Berkelanjutan

Industrialisasi global tanpa disadari telah menimbulkan dampak yang begitu berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Gas rumah kaca meningkat, polusi udara makin tak terkendali, hingga perubahan iklim yang sulit diprediksi. Waktu yang tersedia pun semakin menipis. Untuk menanggulangi masalah tersebut, paling tidak emisi harus berkurang lima kali lebih cepat dibanding dekade-dekade sebelumnya. Apa yang harus dilakukan? Pada tahun 2021, sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Accenture yang mensurvei lebih dari 1.200 CEO di seluruh dunia. Setengah dari CEO yang disurvei mengatakan bahwa cuaca ekstrem sangat memengaruhi rantai pasokan mereka dan 81% sedang mengembangkan produk dan layanan baru yang memanfaatkan elektrifikasi serta desain dan bahan berkelanjutan. Namun, bagaimana industri bisa bergerak lebih cepat untuk menyelamatkan bumi? Justin Keeble, Managing Director of Global Sustainability Google Cloud, menyebutkan ada tiga kunci utama untuk mewujudkan transformasi industri yang berkelanjutan: kepemimpinan, kolaborasi, dan teknologi. Mari bahas satu per satu. Kepemimpinan Photo Credit: krakenimages (Unsplash) Tak dapat dipungkiri, peran para pemimpin perusahaan begitu krusial dalam mewujudkan suatu model bisnis yang berkelanjutan. Perlu adanya kesadaran pada level atas perusahaan untuk bisa mewujudkan suatu tindakan yang tidak hanya performatif, tapi benar-benar memberikan keberlanjutan yang nyata. Pemimpin yang memiliki keyakinan dan kompetitif dalam menciptakan model bisnis baru dengan menerapkan keberlanjutan, pasti akan jauh lebih unggul di masa mendatang. Baca juga: Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud Kolaborasi Photo Credit: Toa Heftiba (Unsplash) Perubahan iklim tanpa disadari telah mengubah kualitas hubungan. Entah itu hubungan antar negara, pemerintah dengan bisnis, perusahaan dengan partner mereka, hingga perusahaan dengan pelanggan. Langkah perbaikan hubungan tidak akan ada artinya jika hanya satu pihak yang berusaha sendiri. Mereka perlu bekerja sama untuk bisa menimbulkan reaksi. Perusahaan perlu bekerja dengan investor dan tentunya pelanggan, untuk bisa mewujudkan transformasi model bisnis. Mereka juga harus bekerja di level industri untuk memastikan terciptanya ekosistem yang sesuai dengan model bisnis baru tersebut. Di sinilah kolaborasi diperlukan. Kerja sama transparan dari semua pihak yang terlibat serta komitmen kuat akan mempercepat proses pemecahan masalah perubahan iklim. Teknologi Photo Credit: Alex Knight (Unsplash) Pemanfaatan teknologi digital akan memungkinkan industri melakukan pengukuran lingkungan dan langkah perbaikan yang jauh lebih besar. Hal ini sudah terbukti di masa pandemi. Saat virus COVID menyerang, lebih mudah mengetahui seberapa cepat individu, pemerintah, dan bisnis mengubah cara mereka beroperasi. Teknologi akan menjadi penyokong utama bisnis dalam transformasi tersebut dengan sumber energi baru yang lebih bersih, elektrifikasi mobilitas, hingga cara kerja yang lebih cerdas dan efisien. Pemanfaatan data yang masif seperti sekarang ini juga memudahkan para pemimpin untuk lebih cepat dalam mengambil keputusan penting. Baca juga: 4 Upaya Chrome OS Membangun Masa Depan Ramah Lingkungan Pemanfaatan komputasi awan fokus pada analitik dan rekayasa perangkat lunak dengan cara yang seefisien mungkin. Teknologi cloud mengoptimalkan sistem yang ada sekaligus memungkinkan perubahan sistem besar yang meluas ke segala hal. Google Cloud mengoperasikan cloud terbersih di industri saat ini dan juga menawarkan produk, layanan, serta penelitian baru untuk membuat peningkatan yang lebih cepat. Ingin menjadi bagian dari transformasi industri yang berkelanjutan? Anda bisa mulai dengan mengadopsi solusi Google Cloud. Dengan Google Cloud, berbagai proses bisnis bisa disederhanakan sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan efisien dan lebih ramah lingkungan. Dapatkan personalized Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Workspace

Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber

Serangan siber terhadap bidang pemerintahan belakangan ini terus meningkat. Mau tak mau, para pimpinan instansi dan lembaga pemerintahan harus mempertajam fokus mereka dalam mengamankan jaringan, infrastruktur, dan data sebagai perlindungan terhadap ancaman keamanan siber yang sangat berbahaya. Situasi tersebut sedikit banyak telah mengubah kebiasaan sehari-hari. Tanpa banyak disadari, Anda menjadi begitu waspada saat menemukan sebuah tautan. Padahal mungkin saja tautan tersebut berisi file penting dari rekan kerja. Hal lainnya adalah Anda harus menghafal banyak kata sandi untuk bisa melakukan pekerjaan tertentu. Google Cloud kini menawarkan rangkaian tools berbasis cloud di Google Workspace yang menyediakan cara aman untuk berkolaborasi dan bekerja secara virtual, memungkinkan para karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa rasa takut berlebihan terhadap ancaman keamanan siber. Fortifying Federal Networks Akhir-akhir ini, keamanan siber menjadi fokus utama para pimpinan dunia. Salah satunya, presiden AS, Joe Biden yang mengeluarkan Executive Order (EO) dan mandat untuk meningkatkan keamanan siber pemerintah federal. Dalam mengamankan jaringan federal, berikut adalah pendekatan yang dilakukan EO: Arsitektur Zero Trust: Zero Trust merupakan pendekatan keamanan yang menitikberatkan pada mekanisme berlapis untuk mendapatkan kepercayaan pengguna. Mekanisme tersebut terus diverifikasi untuk mengizinkan pengguna mengakses aplikasi dan resources. Otentikasi Multi-Faktor: Untuk mendukung Zero Trust, otentikasi multi-faktor memerlukan dua atau lebih informasi (selain ID pengguna dan password) pengguna untuk keperluan verifikasi identitas. Jika seluruh informasi sesuai maka pengguna bisa memakai tools atau aplikasi yang dibutuhkan.  Endpoints: Komputer dan smartphone Anda adalah endpoints atau titik akhir. Setiap titik akhir yang ada harus dipantau dan dilindungi. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan bahwa perangkat tersebut memang bisa dipercaya. Keamanan endpoints sangat penting karena perlindungan keamanan dari perusahaan sering kali tidak tersedia dalam perangkat. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Upaya Google memperkuat keamanan siber Photo Credit: pressfoto (Freepik) Google telah menginvestasikan dana hingga total US$10 miliar selama lima tahun ke depan untuk memperkuat keamanan siber, termasuk memperluas program Zero Trust, membantu mengamankan rantai pasokan software, dan meningkatkan keamanan open-source. Google juga masih melanjutkan program mereka sebagai pelopor metode keamanan Zero Trust dan berkomitmen untuk membantu menerapkan model ini di lini keamanan siber pemerintah. Dengan Google Workspace, tim TI dan tenaga kerja pemerintah dapat merasakan keamanan terbaik. Untuk membantu navigasi implementasi program, Google Cloud telah membuat program Work Safer yang kini sudah bisa Anda temukan di berbagai partner Google. Program ini dirancang untuk membantu perusahaan, karyawan, dan rekan bisnis mereka agar dapat berkolaborasi dan berkomunikasi secara aman di lingkungan kerja hybrid seperti sekarang ini. Didukung oleh akses menuju keamanan Google Cloud untuk email, rapat, pesan, dokumen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Langkah ini secara unik menyatukan solusi cloud-native Zero Trust dari Google Workspace dengan BeyondCorp Enterprise, menghasilkan akses aman dengan perlindungan data terintegrasi yang dapat membantu tim TI Anda beralih dari teknologi lawas untuk mewujudkan potensi penuh kolaborasi sistem keamanan, Google Cloud, dan Google Workspace. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda Saat Menggunakan Google Workspace Bantu tim Anda untuk lebih fokus pada keahlian terbaik mereka, bukan pada ancaman atau serangan keamanan siber selanjutnya. Setiap tools Google telah dirancang untuk dapat mencegah pelanggaran dan menjaga jaringan kerja dan data perusahaan Anda tetap aman. Manfaatkan program Google Workspace Work Safer untuk potensi kolaborasi kerja yang lebih aman dan nyaman di masa mendatang. Work Safer dan berbagai tools keamanan dari Google akan bekerja dengan optimal jika Anda menerapkan ekosistem Google Workspace. Pasalnya, setiap tools, layanan, dan kapabilitas yang ada telah terintegrasi di Workspace dan siap untuk langsung digunakan. Ciptakan lingkungan kolaborasi yang aman dan bebas gangguan bersama Google Workspace. Dapatkan paket terbaik untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology. Untuk konsultasi langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Menghubungkan Data SAP Lewat Cloud Data Fusion dengan Google Cloud Cortex Framework

Kecepatan inovasi suatu perusahaan bergantung pada dua faktor, yaitu akses menuju kumpulan tools dan layanan yang tetap serta menyediakan kumpulan data yang relevan untuk layanan tersebut. Google Cloud Cortex Framework menyelesaikan faktor pertama dengan menyediakan akselerator solusi. Akselerator solusi tersebut dapat diterapkan untuk mengatasi berbagai kasus penggunaan dan scenario industri, menggabungkan praktik terbaik, dan membangun pengalaman kumulatif Google Cloud dalam bekerja dengan lingkungan perusahaan. Untuk memecahkan faktor kedua, Anda bisa memanfaatkan Cloud Data Fusion dengan menyediakan jalur integrasi data yang dapat diskalakan untuk konsolidasi kumpulan data SAP dan non-SAP perusahaan Anda dalam BigQuery, data warehouse milik Google Cloud. Percepat data dan strategi analitik Anda Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan Google Cloud Cortex Framework, Anda bisa memanfaatkan fondasi data yang kaya dari blok penyusun dan template untuk lingkungan SAP. Hal ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan wawasan baru melalui fondasi data skalabel yang dapat menggabungkan data SAP dan juga non-SAP. Framework ini hadir dengan data mart operasional yang telah ditentukan dan skrip proses pengambilan data untuk BigQuery untuk menghilangkan dugaan pemodelan dan pemrosesan data. Dengan template pembelajaran mesin, Anda bisa mendapatkan akses menuju kapabilitas tingkat lanjut untuk keperluan bisnis seperti rekomendasi produk serta segmentasi calon pelanggan. Cloud Data Fusion menghadirkan integrasi data cloud-native Cloud Data Fusion merupakan layanan integrasi dan penyerapan data cloud-native terkelola sepenuhnya yang dapat membantu pengembang, insinyur data, dan analis bisnis membangun serta mengelola pipeline ETL/ELT secara efisien. Layanan ini juga menyediakan berbagai macam plug-in untuk sumber dan target data, baik yang ada di Google Cloud, cloud lain, maupun penyimpanan on-premises perusahaan Anda. Anda juga bisa menggunakan plug-in SAP SLT Replication dari Cloud Data Fusion, Anda dapat melakukan integrasi data secara terus-menerus dan mendekati real-time dari SAP ERP ke BigQuery dengan memanfaatkan perangkat dan kemampuan SAP Landscape Transformation Replication Server (SLT) yang ada. Cara ini akan membantu Anda untuk memastikan data siap digabungkan dengan data lain secara mudah. Baca juga: Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud dengan Dataplex Cloud Data Fusion memungkinkan integrasi data dengan Google Cloud Cortex Framework Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan Cloud Data Fusion untuk integrasi data akan memberikan manfaat berikut: Cloud Data Fusion merupakan lingkungan visual yang lengkap. Anda dapat menggunakan Pipeline Studio untuk mendesain pipeline yang membaca dari SAP ECC atau S/4HANA dan banyak sumber data lainnya dengan cepat. Itu berarti, Anda bisa menggabungkan data dari sistem SAP dan non-SAP kemudian memuatnya ke Google Cloud Cortex Data Foundation dan memberikan wawasan dalam format yang mudah digunakan, sehingga tidak memerlukan domain khusus. Cloud Data Fusion menerapkan skala secara horizontal untuk menjalankan pipeline. Langkah ini menghasilkan kinerja dan skalabilitas yang lebih baik. Plug-in SAP SLT Replication memungkinkan sistem SAP SLT menulis data ke penyimpanan Google Cloud untuk melacak semua perubahan, sementara pipeline Cloud Data Fusion akan menangani langkah-langkah untuk memindahkan data ke BigQuery. Cloud Data Fusion menyediakan banyak plug-in untuk aplikasi perusahaan dan gudang data yang ada di luar SAP. Dengan makin bertambahnya daftar akselerator solusi dari Google Cloud Cortex Framework, makin banyak pula kasus penggunaan pada sumber data dari vendor perangkat lunak lain. Jadi, memilih platform integrasi data yang dapat menangani berbagai titik akhir sumber data akan memungkinkan organisasi Anda memanfaatkan tool yang sama terlepas dari sistem sumber yang diterapkan pada lanskap Anda. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Dengan Google Cloud Cortex Framework dan Cloud Data Fusion, Anda dapat memanfaatkan berbagai layanan Google Cloud untuk mendapatkan insight atas data yang ada dalam sistem SAP, menggunakan integrasi data cloud-native dalam skala besar, menerapkan tampilan BigQuery yang telah ditentukan sebelumnya, dan template ML serta dasbor Looker plug-and-play untuk mendapatkan insight lebih cepat untuk kebutuhan bisnis umum. Dapatkaan segera Google Cloud untuk mendukung penyimpanan data perusahaan Anda melalui EIKON Technology, official reseller Google. Di EIKON Technology, Anda tidak sekadar mendapatkan produk resmi berlisensi, namun juga layanan konsultasi pemasangan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul

Lingkungan kerja hybrid sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Transisi dari lingkungan kerja konvensional menjadi hybrid terbukti memunculkan perubahan yang signifikan. Itu berarti, para pemilik bisnis harus mampu menyediakan infrastruktur yang dapat memfasilitasi transisi tersebut. Di satu sisi, perusahaan juga harus mengevaluasi apa saja yang diperlukan untuk menarik dan mempertahankan karyawan. Ya, kedua tantangan tersebut sebenarnya masih saling berkaitan. Pemilik bisnis dan pimpinan perusahaan bisa mulai melakukan perombakan terhadap budaya perusahaan yang fokus pada lingkungan kerja hybrid dan strategi DEI atau diversity, equity, dan inclusion (keragaman, kesetaraan, dan inklusi) secara bersamaan. Bagaimana caranya? 5 langkah untuk ciptakan budaya kerja hybrid yang unggul Photo Credit: Rawpixel Bisa dibilang, strategi DEI telah menjadi keharusan dalam bisnis saat ini. Perusahaan harus berusaha untuk meminimalisir bias yang sering kali tidak disadari, memberikan gaji berbasis pasar untuk tiap pekerja, dan memperkenalkan program training yang mendukung pengembangan bakat SDM. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan: Edukasi untuk pimpinan perusahaan terkait lingkungan kerja hybrid dan strategi DEI Saat Anda mulai membangun infrastruktur untuk lingkungan kerja hybrid, sangat penting untuk memahami tentang bias bawah sadar. Sebaiknya perusahaan menerapkan strategi pembelajaran DEI holistik, yang di dalamnya terdapat pemahaman mengenai bias bawah sadar dan pengembangan infrastruktur untuk perubahan perilaku jangka panjang. Gunakan alat yang mendukung DEI dan lingkungan kerja hybrid Photo Credit: Rawpixel Perusahaan bisa mulai memanfaatkan teknologi dan software HR berbasis AI untuk mendukung proses transisi. Misalnya, menggunakan alat kolaborasi seperti Google Workspace yang mampu memastikan keterlibatan setiap orang, di mana pun mereka berada. Bisa juga dengan membeli solusi perekrutan yang telah diperkaya dengan teknologi AI untuk mengurangi kemungkinan diskriminasi saat menilai kandidat. Baca juga: Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Perkuat kultur dengan kombinasi DEI dan meritokrasi Pastikan perusahaan Anda memiliki pedoman eksplisit yang memastikan bahwa sistem dan proses perekrutan atau promosi karyawan, dilakukan secara transparan dan adil. Salah satu cara untuk bisa mencapai hal tersebut adalah dengan menentukan kualifikasi pekerjaan yang terperinci dan metrik tiap peran yang jelas untuk memahami keterampilan yang dibutuhkan tiap-tiap jabatan. Penting juga untuk memastikan bahwa sistem tersebut bebas bias. Beberapa perusahaan besar telah menggunakan alat analitik untuk mengevaluasi kinerja sistem rekrutmen dan promosi mereka. Menciptakan program upskilling untuk melatih para karyawan Banyak perusahaan yang merasa kesulitan untuk menemukan SDM denga keahlian yang tepat. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini adlaah dengan berinvestasi dalam melatih SDM yang sudah dimiliki perusahaan. Perusahaan harus mengembangkan bakat yang beragam di setiap tingkat untuk menciptakan jalur kandidat yang nantinya bisa berkembang hingga mencapai level manajemen senior. Selain itu, perusahaan harus mampu merancang program yang bisa memberikan peningkatan keterampilan bagi karyawan pemula dan tingkat menengah. Selalu ingat bahwa uang bukanlah segalanya Photo Credit: Rawpixel Pada kebanyakan kasus, karyawan memilih hengkang karena alasan uang, namun bertahan karena budaya perusahaan. Itu berarti, dengan memberikan pengalaman terbaik bagi karyawan, perusahaan bisa mempertahankan mereka. Seperti apa kira-kira pengalaman yang sebaiknya diberikan kepada karyawan? Tiap perusahaan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, cobalah untuk mengamati apa kira-kira yang diperlukan karyawan. Anda bisa menawari mereka untuk bekerja di luar kantor, menerapkan jadwal yang fleksibel, hingga memberi program lanjutan seperti tunjangan penitipan anak. Meski begitu, rasa memiliki karyawan bisa ditumbuhkan dengan melibatkan mereka. Sebuah penelitian McKinsey menemukan bahwa karyawan yang lebih sering dilibatkan, menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap perusahaan. Sebaliknya, jika karyawan tidak pernah dilibatkan, mereka akan merasa tidak dihargai. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Pandemi mau tak mau mengubah kebiasaan hidup manusia, termasuk dalam hal pekerjaan. Adanya pandemi menyebabkan lingkungan kerja bertransisi ke model hybrid yang menggabungkan model konvensional dan remote (jarak jauh). Sayangnya, lingkungan kerja hybrid rentan menimbulkan bias dan berpotensi menurunkan tingkat keterlibatan karyawan. Dikhawatirkan, kondisi ini bisa menyebabkan tingkat retensi naik. Anda bisa menerapkan langkah-langkah di atas untuk mengatasi tantangan yang muncul karena proses transisi ke lingkungan kerja hybrid. Jangan lupa juga untuk memilih infrastruktur yang memang mendukung sistem hybrid seperti solusi komputasi awan Google Cloud yang kini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut terkait pilihan paket Google Cloud untuk mendukung lingkungan kerja hybrid, klik di sini!

Google Cloud

Kelola Administrasi BigQuery Lebih Mudah dengan Fitur Resource Charts dan Slot Estimator

BigQuery pada mulanya diperkenalkan sebagai sebuah data warehouse. Seiring perkembangannya, platform tersebut merambah ke bidang analitik data dan juga business intelligence. Bukan hanya itu, BigQuery kemudian juga dirancang untuk dapat bekerja tanpa server pada skala yang fleksibel, baik kecil maupun besar. Dengan berbagai kemampuan tersebut tidak mengherankan jika BigQuery kemudian begitu diandalkan untuk menangani berbagai macam beban kerja analitik. Namun ketika pelanggan meningkatkan beban kerja di BigQuery, otomatis persyaratan pemantauan dan pengelolaan mereka pun akan ikut berkembang. Anda tidak perlu khawatir, karena kini telah tersedia beberapa fitur dan kapabilitas untuk mengelola administrasi BigQuery dalam skala besar. Simak ulasan berikut untuk mengetahui penjelasan lengkapnya. Fitur Resource Charts Untuk mengelola administrasi, BigQuery (BQ) telah menyediakan suatu kapabilitas spesifik bernama Administrator Hub. Di dalam kapabilitas tersebut Anda bisa menemukan fitur baru bernama Resource Charts. Fitur ini akan membantu para administrator lebih mudah memahami lingkungan BQ mereka. Photo Credit: Google Cloud Blog Resource Charts membantu administrator mengelola administrasi dengan pengalaman bawaan untuk memantau penggunaan slot mereka, mengelola kapasitas berdasarkan konsumsi historis, memecahkan masalah kinerja pekerjaan, queries yang mampu melakukan diagnosis mandiri, dan mengambil tindakan perbaikan sesuai kebutuhan. Fitur ini juga memberikan visibilitas menuju metrik utama seperti konsumsi slot, kinerja pekerjaan, konkurensi, jumlah byte yang diproses, dan pekerjaan yang gagal. Resource Charts dibuat menggunakan tabel-tabel INFORMATION_SCHEMA, sehingga memungkinkan pelanggan memahami data melalui dashboard yang dibuat khusus. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Fitur Slot Estimator Slot Estimator merupakan sebuah tool BigQuery yang berfungsi sebagai pengelola kapasitas interaktif. Dengan tool ini, administrator dapat memperkirakan dan mengoptimalkan kapasitas BQ berdasarkan performa dan data penggunaan historis. Menggunakan Slot Estimator, pengguna juga dapat menghitung, memprediksi sekaligus menyesuaikan kapasitas berdasarkan beban kerja mereka. Jadi, Anda bisa mengambil keputusan yang tepat dalam hal perencanaan kapasitas. Cara kerja Resource Charts dan Slot Estimator Kedua fitur tersebut bisa Anda temukan pada BigQuery Administrator Hub yang merupakan kontrol pusat untuk memahami, mengelola, dan memantau query, kapasitas, serta keseluruhan lingkungan BQ Anda. Katakanlah saat melakukan pemantauan lingkungan BQ secara real-time di Resource Charts, tampak bahwa penggunaan slot mengalami penurunan selama beberapa jam. Anda pun memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh. Photo Credit: Google Cloud Blog Anda bisa melihat pada bagan Errors yang baru. Jika misalnya terlihat peningkatan tajam pada izin ditolak atau kesalahan yang tidak valid, Anda bisa gunakan filter seperti proyek, reservasi, serta pengguna dan prioritas pekerjaan untuk memahami apa saja yang sudah berubah. Jadi, Anda bisa langsung memperbaikinya. Photo Credit: Google Cloud Blog Tak lama, seorang data analis perusahaan mendatangi Anda dan mengungkapkan bahwa ia merasa alur kerja terasa melambat secara bertahap selama satu minggu terakhir. Untuk menyelesaikan masalah ini, Anda juga bisa memanfaatkan Resource Charts. Dari fitur tersebut akan langsung tampak apa yang bisa menyebabkan alur kerja melambat, misalnya, pemanfaatan slot telah mencapai kapasitas maksimal. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata problem tersebut bisa diatasi dengan meningkatkan workload baru. Saat workload naik maka kapasitas slot pun akan lebih stabil dan penggunaannya bisa lebih optimal. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah mendeteksi penyebab melalui Resource Charts, Anda bisa beralih ke Slot Estimator. Di situ akan tampak pemanfaatan slot yang penuh dan bagaimana penggunaan slot meningkat selama seminggu terakhir. Anda dapat melihat data reservasi dan menganalisis peluang untuk meningkatkan kinerja dengan menambahkan jumlah slot. Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery merupakan suatu data warehouse dengan berbagai kapabilitas mulai dari machine learning, analisis geospasial, hingga business intelligence. Arsitekturnya yang tanpa server memungkinkan Anda sebagai pengguna untuk bisa menemukan jawaban atas berbagai permasalahan terkait pengelolaan data perusahaan. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud Dengan adanya fitur Resource Charts dan Slot Estimator, pengelolaan lingkungan BigQuery pun menjadi semakin mudah. Selain memanfaatkan BQ dan berbagai fitur di dalamnya, untuk penyimpanan data perusahaan dalam skala besar, layanan komputasi awan Google Cloud adalah solusi terbaik. Menggunakan Google Cloud, Anda tidak perlu bingung lagi dengan masalah penyimpanan dan pengelolaan data perusahaan. Dapatkan produk Google Cloud berlisensi resmi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan lewat EIKON Technology. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace

4 Fitur Google Workspace untuk Mudahkan Kolaborasi Kerja

 Bekerja dengan Google Workspace memungkinkan Anda untuk terhubung dengan berbagai aplikasi maupun kapabilitas penunjang produktivitas dan kolaborasi. Dari berbagai aplikasi produktivitas Workspace, Google Docs dan Sheets bisa dibilang merupakan yang paling banyak dipakai. Kedua aplikasi yang diluncurkan tahun 2005 tersebut menawarkan kolaborasi kerja digital secara real-time. Artinya, Anda bisa bekerja sama dengan banyak orang sekaligus meski terpisah jarak dan waktu. Untuk menciptakan ruang kerja kolaboratif yang seamless, Google Workspace pun terus mengembangkan Docs dan Sheets. Fitur dan kapabilitas terus ditambahkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Setelah sukses dengan fitur smart canvas yang diluncurkan tahun lalu, kini Workspace kembali dengan beberapa update untuk mudahkan kolaborasi kerja. Apa saja? Fitur summary dan pageless di Docs Anda harus memeriksa banyak dokumen sekaligus dalam satu waktu? Terkadang, sulit untuk menentukan apakah sebuah dokumen perlu pembacaan menyeluruh atau pembacaan poin-poin saja sudah cukup. Sebagai solusi, kini Google Docs menghadirkan fitur summary. Fitur ini memberikan ringkasan untuk setiap dokumen. Dengan begitu, Anda bisa cepat memahami apa materi yang sedang dibahas dalam sebuah dokumen. Menariknya lagi, ringkasan tersebut bisa dibuat secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (AI). Anda juga bisa menyunting ringkasan sesuai kebutuhan. Photo Credit: Google Cloud Blog Bukan hanya itu, kini Anda juga bisa menerapkan format tanpa halaman di Google Docs. Caranya adalah dengan mengaktifkan format pageless. Saat format tersebut aktif maka Anda dapat menghapus batas halaman dan menyesuaikan ukuran layar perangkat yang sedang digunakan. Dengan format ini, Anda juga bisa menyesuaikan halaman dengan ukuran tabel, gambar, dan bahkan feedback di kolom komentar. Photo Credit: Google Cloud Photo Mempercepat alur kerja dengan building blocks interaktif Bersamaan dengan peluncuran smart canvas, Google Docs juga memperkenalkan fitur building blocks. Dengan fitur tersebut, Anda bisa menambahkan beberapa informasi tambahan tanpa harus meninggalkan aplikasi. Cukup dengan mengetikkan simbol “@” maka Docs secara otomatis akan menampilkan beberapa informasi yang dapat ditambahkan ke dalam dokumen seperti lokasi seseorang, gambar, alamat, template, hingga checklist. Baca juga: Buat Dokumen Lebih Cepat dengan Universal Menu, Fitur Terbaru Google Docs Photo Credit: Google Cloud Photo Buat keputusan berbasis data dengan cepat Sekarang ini, jika Anda ingin bisnis bergerak lebih cepat, maka proses pengambilan keputusan pun harus dilakukan dengan cepat. Masalahnya, keputusan yang terburu-buru diambil justru sangat berisiko. Untuk itulah, tiap pengambilan keputusan sebaiknya didasari dengan data yang valid. Google Sheets kini dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang membantu Anda untuk bisa mendapatkan insight dari data dengan cepat. Tahun 2021 lalu, Google meluncurkan kapabilitas formula suggestions. Kapabilitas tersebut memberikan rekomendasi rumus dan fungsi untuk tiap data yang sedang Anda analisis. Photo Credit: Google Cloud Photo Kecerdasan buatan untuk sistem kerja yang dinamis Mendukung perubahan sistem kerja yang begitu dinamis kini seolah telah menjadi kewajiban tiap perusahaan, baik itu untuk karyawan jarak jauh, hybrid, di kantor atau bahkan mereka yang berada di garda terdepan. Sebisa mungkin, perusahaan harus mampu meminimalisir gesekan yang terjadi karena adanya transformasi digital. Google Docs melalui smart canvas mempermudah pengguna untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja mereka tanpa harus khawatir dengan masalah jarak dan waktu. Selain itu, kolaborasi dengan Docs pun kini telah diperkaya dengan kecerdasan buatan (AI) yang terus dikembangkan oleh Google. Baca juga: Kelebihan Google Docs untuk Membuat Dokumen secara Efektif Docs dan Sheets merupakan dua aplikasi unggulan yang ditawarkan Google Workspace untuk mendukung lingkungan kerja kolaboratif. Google terus berusaha agar keduanya bisa memenuhi beragam kebutuhan kolaborasi para penggunanya. Salah satunya adalah dengan menghadirkan fitur-fitur canggih seperti yang telah dibahas dalam artikel ini. Baik aplikasi Docs dan Sheets akan lebih optimal jika diterapkan pada ekosistem produktivitas kolaboratif Google Workspace. Integrasi dengan Workspace akan memudahkan Anda untuk bekerja bersama secara efisien dan real-time. Dapatkan segera paket Google Workspace untuk lingkungan kerja Anda melalui EIKON Technology, authorized reseller produk-produk Google di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Info

Lynn Langit, Arsitek Cloud dan Peneliti Bioinformatika dengan Pipeline Data Skala Genom Google Cloud Platform

Profesi yang berkaitan dengan pengolahan data kini semakin diminati. Ilmuwan data dan data analis makin banyak jumlahnya. Namun pernahkah Anda menjumpai seseorang yang ahli dalam beberapa bidang terkait data sekaligus? Mari bertemu Lynn Langit, seorang pengusaha wanita asal Minnesota, Amerika Serikat. Langit merupakan pemilik sebuah perusahaan konsultan, Lynn Langit Consulting LLC. Diwaktu yang bersamaan, Langit juga merupakan seorang arsitek cloud, developer program, serta pendidik di bidang analitik data. Saat ini, Langit sedang mengerjakan pipeline bioinformatika (genomik). Bagaimana perjalanan Lynn Langit dengan Google Cloud Platform? Berawal dari rasa penasaran Photo Credit: Piqsels Mulanya, Lynn Langit bukanlah praktisi di bidang data. Perempuan asal Minnesota, Amerika Serikat ini memang mengawali kariernya di perusahaan teknologi. Hanya saja, saat itu ia justru lebih fokus pada sisi bisnis. Saat mulai meniti karier, Langit justru merasa tertarik dengan data. Kala itu, ia merasa bahwa data memiliki kekuatan besar yang bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan. Hingga akhirnya di tahun 2007, ia memutuskan untuk “menyeberang” dan menjadi praktisi analitik data. Langit belajar secara otodidak. Ia mengikuti kursus hingga mencari materi dari berbagai modul online. Materi yang dipelajarinya pertama kali berhubungan dengan data base dan pergudangan data, khususnya bagian membangun dan menyetel database perusahaan. Barulah setelah Hadoop/NoSQL tersedia, ia beralih ke Big Data. Baca juga: Tips Membangun Data Team yang Solid untuk Startup EdTech dengan Google Cloud Tak ragu beralih teknologi Langit memulai proses belajarnya dengan memanfaatkan teknologi Microsoft. Ia bahkan mendapatkan seluruh sertifikasi Microsoft hanya dalam waktu satu tahun. Saat Langit menyadari bahwa industri mulai bergeser dari sistem local ke cloud, ia pun beralih dari pemrograman ke komputasi awan. Ia memulai dengan Amazon Web Services (AWS), namun kemudian beralih dan bertahan dengan Google Cloud Platform (GCP) hingga sekarang. Untuk saat ini, Langit berkutat dengan bidang data pipeline, data ops, serta machine learning (ML). Belajar otodidak bukan hal mustahil Satu hal yang menarik dari Langit adalah keteguhannya untuk mempelajari data. Ia mempelajari data secara mandiri dan disiplin. Meski begitu, Langit tak pernah kehabisan bahan untuk dipelajari. Dalam ekosistem Google Cloud sendiri, mulanya ia mempelajari BigQuery, sebuah produk data analitik. Baginya, BigQuery merupakan sebuah gerbang yang menghubungkannya dengan platform data yang lebih besar, terbuka, cerdas, dan terpadu. Sebab, BigQuery menggabungkan ilmu mengenai analitik data, database, AI/ML, serta business intelligence. Proyek penelitian bioinformatika Photo Credit: Piqsels Bagi Langit, tidak pernah ada kata berhenti untuk mempelajari data. Ia bahkan selalu terbuka untuk mempelajari bidang baru. Saat ini, ia sedang mengerjakan sebuah proyek yang berhubungan dengan kesehatan manusia dan upaya menanggulangi pandemi. Dalam proyek tersebut, Langit membantu para ilmuwan dan peneliti bioinformatika dengan pipeline data berskala genomik. Lagi-lagi, ia juga mempelajari bidang tersebut secara otodidak. Seluruh proses belajar mandiri tersebut bahkan dibagikan melalui halaman GitHub miliknya. Langit juga berbagi materi lain dalam kursus Google Cloud Platform berformat open source lewat GitHub. Kursus tersebut ditujukan pada para peneliti yang baru mulai bekerja dengan GCP. Menariknya, kursus yang diadakan Langit benar-benar didesain untuk pemula. Anda bahkan bisa menemukan materi tentang cara membuat akun GCP. Anda juga bisa seperti Lynn Langit Kisah Lynn Langit membuktikan bahwa ilmu mengenai data bisa dipelajari secara mandiri. Sebab, kini sudah ada banyak sekali resources yang bisa Anda gunakan untuk mempelajari data, bahkan dari materi paling dasar sekali pun. Siap untuk memulai petualangan Anda bersama Google Cloud Platform? Anda bisa mulai mempelajarinya dengan rekomendasi dari Google berikut. Lewat sistem tersebut, Anda dapat memperoleh lencana khusus serta sertifikasi sepanjang proses pembelajaran. Jangan lupa juga untuk bergabung dengan program Cloud Innovator untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai tips, trik, dan event praktisi data lainnya. Anda juga bisa terhubung dengan komunitas data Google lewat acara virtual “Latest Google Cloud data analytics innovations”. Daftar sekarang untuk menjawab seluruh rasa penasaran Anda terhadap data langsung dengan para petinggi Google Cloud Platform. Jangan lewatkan juga demo produk dan fitur terbaru Google Cloud termasuk BigQuery, Dataproc, Dataplex, Dataflow, dan banyak lagi. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Selain memperkaya materi seputar analitik data seperti yang dilakukan Lynn Langit, ada baiknya Anda juga mulai membiasakan diri dengan Google Cloud Platform. Dapatkan solusi komputasi awan Google Cloud berlisensi resmi hanya di EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini!

Google Cloud

3 Alasan Mengapa Anda Harus Menambahkan Cloud sebagai Data Strategy

Saat ini, ada banyak sekali perusahaan yang menerapkan infrastruktur sistem data dengan serangkaian parameter ketat sebelum implementasinya. Sayangnya, hal ini bisa membatasi fleksibilitas dan juga penggunaan jangka panjang. Padahal, “living systems” yang fleksibel mampu mengubah kapasitas dengan cepat. Itu berarti, peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih besar pun terbuka lebar. Cloud bisa menjadi solusi yang efisien jika Anda ingin membangun sistem data live. Langkah ini akan membantu perusahaan Anda lebih cepat merespons perubahan yang terjadi. Berikut adalah alasan mengapa Anda harus menambahkan komputasi cloud sebagai bagian dari data strategy, terutama jika ingin mulai menerapkan sistem data live. Data harus selalu tersedia Saat pandemi melanda dunia, banyak perusahaan yang memindahkan atau bahkan membuat sistem agar karyawan mereka bisa bekerja dari jarak jauh. Perubahan ini mau tak mau menguji batas sistem data yang mereka miliki. Membangun cloud menjadi suatu sistem data yang fleksibel telah terbukti dapat menyelesaikan masalah tersebut. Migrasi ke penyimpanan cloud akan membuat data lebih mudah diakses. Anda juga bisa selalu menambahkannya kapan pun dan di mana pun, tanpa harus pergi ke kantor. Langkah ini juga bisa menjadi cara yang efisien untuk mencadangkan data mentah dan menambah lapisan keamanan tambahan. Baca juga: Mengintip Solusi Digital Assets Team yang Baru Diluncurkan Google Cloud Data harus diperbarui secara real-time Photo Credit: Rawpixel Perusahaan akan lebih cepat beradaptasi jika efisiensi data lebih tinggi. Saat perusahaan cepat beradaptasi maka otomatis proses pengambilan keputusan pun akan ikut menjadi lebih cepat. Memiliki solusi data yang terus diperbarui secara real-time akan membantu perusahaan membuat keputusan yang bahkan mendekati real-time. Hal ini telah dibuktikan oleh pemerintah daerah Negara Bagian Wyoming, Amerika Serikat dalam proses distribusi vaksin. Sistem data mengumpulkan data penduduk yang telah menerima pasien secara real-time. Dengan begitu, pemangku kebijakan pun bisa mengambil keputusan terkait penanggulangan pandemi lebih cepat. Sistem data real-time tidak hanya dibutuhkan di masa pandemi. Krisis lain seperti bencana alam, kekurangan pakan, hingga berbagai ancaman kesehatan masyarakat, semuanya bisa ditangani dengan efisien jika menerapkan sistem data real-time. Di sinilah cloud bisa membantu sistem data Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Data harus mudah digunakan Untuk membedakan sistem data yang fungsional dengan sistem data fenomenal sebenarnya tidak sulit. Sistem data yang fungsional pasti menyediakan data yang mudah digunakan serta dipahami. Menyimpan data di cloud adalah langkah awal yang tepat, tapi perusahaan juga harus bisa mengakses dan menggunakannya dengan cepat. Photo Credit: freepic.diller (Freepik) Di sinilah sistem data konvensional sering mengalami hambatan. Kebanyakan sistem TI konvensional menerapkan data strategy yang diidentifikasi sebelum implementasi dimulai. Hal ini akan menyebabkan data baru yang digunakan secara berbeda, harus melalui proses adaptasi terlebih dahulu. Proses ini sering kali makan banyak waktu dan sulit dijalankan. Data memang tersedia, tapi tidak bisa digunakan. Sistem data yang memanfaatkan cloud akan memberikan aksesibilitas sekaligus penggunaan data yang lebih baik. Google Cloud misalnya, Anda bisa menemukan tool yang bisa disesuaikan seperti Contact Center AI dan Document AI. Tool tersebut memungkinkan perusahaan untuk bisa bekerja dengan data yang terus berubah. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Google Cloud memiliki serangkaian tools untuk membuat sistem data yang terintegrasi. Sistem tersebut bahkan nantinya dapat dikembangkan seiring dengan naiknya permintaan atau untuk menyesuaikan kebutuhan pembangunan perusahaan. Sistem data Google Cloud telah terbukti efisien dalam memenuhi situasi tersebut. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai melakukan migrasi data ke cloud, Google Cloud adalah solusi terbaik. Kini, Anda bisa mendapatkan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, Google Apps Partner untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Mengintip Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise, Infrastruktur Skala Perusahaan Hasil Kolaborasi dengan VMware

Azure Spring Cloud merupakan proyek kerja sama Microsoft dengan VMware. Saat diperkenalkan di tahun 2019 lalu, infrastruktur ini diklaim mampu memecahkan tantangan umum yang dihadapi oleh para developer, operator TI, dan tim DevOps saat menjalankan aplikasi Spring Boot dalam skala besar. Seiring berjalannya waktu, Azure Spring Cloud pun melakukan beberapa pengembangan. Paling baru, infrastruktur ini memperkenalkan tier tertinggi: Enterprise pada event SpringOne tahun 2021 lalu. Azure Spring Cloud Enterprise menyertakan komponen runtime Spring yang didukung secara komersial untuk membantu perusahaan mengirim lebih cepat. Solusi modernisasi Spring Photo Credit: Microsoft Azure Blog Sekarang ini, ada banyak perusahaan yang menjalankan aplikasi Spring Boot on-premises. Otomatis, mereka membutuhkan kemampuan tingkat lanjut untuk mempercepat proyek modernisasi Spring. Lewat Azure Spring Cloud Enterprise, Microsoft menawarkan solusi terbaik untuk mengatasi situasi tersebut.  Kolaborasi yang menggabungkan cloud Microsoft dengan portofolio Tanzu VMware yang inovatif tersebut menghasilkan platform yang memungkinkan pengguna untuk menerapkan aplikasi polyglot yang melekat secara portabel di seluruh layanan Azure, cloud mana pun, dan sistem on-premises apa pun. Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure Kelola Spring dan aplikasi polyglot VMware Tanzu Build Service yang ada pada Azure Spring Cloud Enterprise membuat proses pembuatan, pengelolaan, dan tata kelola container pada skala perusahaan secara otomatis dengan dukungan Cloud Native Buildpacks dan VMware Tanzu Buildpacks komersial. Tanzu Build Service menawarkan abstraksi tingkat lanjut untuk membangun aplikasi dan memberikan keseimbangan kontrol sehingga beban operasional pada developer berkurang. Layanan ini juga mampu mendukung pengelolaan aplikasi dalam skala besar. Sementara itu, Tanzu Buildpacks mempermudah pembuatan aplikasi Spring, Java, NodeJS, Python, Go, dan .NET Core serta menawarkan konfigurasi agen pemantauan kinerja aplikasi seperti Application Insights, New Relic, Dynatrace, AppDynamics, dan Elastic. Merutekan permintaan klien ke aplikasi dengan mudah Photo Credit: Microsoft Azure Blog Kini Anda bisa mengelola serta menemukan rute permintaan dan API yang terekspos aplikasi dengan Spring Cloud Gateway for VMware dan API portal for VMware Tanzu. Spring Cloud Gateway for Tanzu akan merutekan beragam permintaan klien ke aplikasi, baik di Azure Spring Cloud, ekosistem Azure, dan/atau teknologi on-premises perusahaan, serta menangani pertimbangan lintas sektor untuk aplikasi di balik Gateway seperti pengamanan, routing, pembatasan kecepatan, caching, pemantauan, ketahanan, dan bahkan menyembunyikan aplikasi. Anda dapat mengatur: Integrasi sistem masuk tunggal dengan penyedia identitas pilihan Anda (tanpa kode atau dependencies tambahan). Aturan routing dinamis ke aplikasi tanpa pemindahan aplikasi apa pun. Permintaan perlambatan tanpa layanan dukungan. Komponen VMware Tanzu yang fleksibel Photo Credit: Microsoft Azure Blog Dengan Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise, pengguna dapat menggunakan komponen VMware Tanzu yang terkelola sepenuhnya di Azure. Selain itu, Anda juga dapat memilih komponen yang ingin digunakan selama pembuatan instance Enterprise. Komponen VMware Tanzu menawarkan peningkatan nilai kepada pelanggan sehingga Anda dapat: Mengembangkan portofolio aplikasi perusahaan Anda. Dari yang semula hanya beberapa aplikasi menjadi ribuan dengan kemampuan observasi end-to-end sambil mendelegasikan kompleksitas operasional ke Microsoft dan VMware. Terapkan aplikasi Spring di Azure Spring Cloud dan lingkungan komputasi lainnya. Mengontrol dependensi build, menerapkan aplikasi polyglot, dan menggunakan komponen middleware Spring Cloud sesuai kebutuhan. Ke depannya, Microsoft Azure dan VMware akan terus menambahkan lebih banyak fitur skala perusahaan, termasuk berbagai komponen Tenzu seperti Application Live View for VMware Tanzu, Application Accelerator for VMware Tanzu, dan juga Spring Cloud Data Flow for VMware Tanzu. Baca juga: 5 Alasan Mengapa Microsoft Azure Cocok untuk Aplikasi Cloud Anda Microsoft Azure merupakan solusi berbasis cloud yang dirancang untuk kebutuhan pembangunan, pengujian, penerapan, dan pengelolaan aplikasi. Dengan adanya Microsoft Azure Spring Cloud Enterprise ini, pengguna bisa menemukan solusi yang efisien untuk mengatasi gangguan pada operasional Spring Boot. Dapatkan solusi berbasis komputasi awan, Microsoft Azure yang dipersonalisasi khusus untuk menjawab berbagai kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology. Masih ragu? Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology terlebih dulu. Kami juga menyediakan penawaran free trial untuk Anda. Cek informasi selengkapnya di sini!

Scroll to Top