EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

4 Cara Manfaatkan Dynamics 365 untuk Membangun Supply Chain Masa Depan

Dynamics 365 merupakan sebuah rangkaian aplikasi bisnis cerdas. Microsoft mengembangkan aplikasi ini untuk membantu melancarkan alur proses bisnis. Caranya adalah dengan memanfaatkan insights yang prediktif dan berbasis kecerdasan buatan (AI). Secara garis besar, aplikasi ini menawarkan dua fungsi utama, yaitu CRM (customer relationship management) dan ERP (enterprise resource planning) yang berbasis komputasi awan. Dalam update terbarunya, Dynamics 365 mengembangkan rantai pasokan cerdas yang mampu menavigasi gangguan dan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan perilaku pelanggan. Artikel kali ini akan membahas seperti apa inovasi teknologi yang dikembangkan Microsoft untuk Dynamics 365 hingga mampu menciptakan suatu rantai pasokan masa depan. Mari simak bersama Mengubah pemenuhan pesanan menjadi keunggulan kompetitif Menurut laporan Gartner®, salah satu cara untuk mencapai rantai pasokan yang unggul adalah dengan menahan inventaris pusat distribusi. Dengan begitu maka permintaan dari toko online maupun toko fisik bisa tetap terpenuhi. Untuk mencapai tingkat fleksibilitas tersebut maka retail memerlukan sistem yang mampu menawarkan orkestrasi pesanan berbasis AI serta data inventaris real-time omnichannel untuk mengatasi kendala secara proaktif. Dynamics 365 menawarkan solusi untuk situasi tersebut melalui fitur Intelligent Order Management. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, retailer dapat menata kembali masa depan rantai pasokan, bukan hanya untuk mereka, tapi juga secara global. Itu berarti, mereka bisa mengubah pemenuhan pesanan menjadi suatu keunggulan kompetitif. Baca juga: Microsoft Power BI Membantu Analisa Bisnis Anda Lebih Interaktif Memprediksi risiko dan meningkatkan visibilitas dengan insight berbasis AI Photo Credit: Rawpixel Masih dari laporan Gartner®, diketahui bahwa sekitar 76% eksekutif di bidang rantai pasokan mengungkapkan bahwa perusahaan mereka saat ini lebih sering menghadapi gangguan dibandingkan dengan 3 tahun lalu. Sementara itu, sekitar 72% melaporkan bahwa dampak dari situasi tersebut terus meningkat. Dengan naiknya penggunaan e-commerce, sangat penting untuk mendapatkan visibilitas real-time dalam inventaris di setiap simpul rantai pasokan. Untuk itu, Microsoft meluncurkan fitur Supply Chain Insights yang bisa Anda akses melalui Dynamics 365.  Para pemilik usaha bisa memanfaatkan fitur ini untuk memprediksi risiko yang ada pada rantai pasokan mereka berdasarkan kondisi cuaca, berita terkini, hingga peristiwa geopolitik. Selain itu, Microsoft juga telah melakukan peningkatan yang signifikan pada add-in fitur Supply Chain Management pada Dynamics 365. Memanfaatkan fitur tersebut, kini retail bisa mendekati visibilitas inventaris secara real-time di seluruh saluran internal mereka. Ekspansi dengan memindahkan infrastruktur ke cloud Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan ekspansi, migrasi infrastruktur on-premise ke cloud bisa menjadi solusi yang efisien. Dynamics melalui aplikasi Finance, Supply Chain Management, dan Commerce bisa menjadi rangkaian yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan Anda. Cara ini telah diterapkan oleh Servis Industries Limited (SIL), sebuah produsen dan eksportir terkemuka di Pakistan yang sudah malang-melintang selama lebih dari 50 tahun. Dengan memindahkan infrastruktur on-premise ke cloud, kini SIL memiliki gambaran menyeluruh tentang toko ritelnya dan sistem manajemen infrastruktur yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi nasional maupun internasional secara cepat. Transisi ke omnichannel Photo Credit: Rawpixel Sekarang ini, jaringan etalase retail sangat kompleks. Etalase toko fisik dan online pun saling terhubung hingga terkadang sulit untuk diuraikan. Agar tiap permintaan pelanggan tetap bisa terpenuhi maka pemilik retail pun harus mampu merampingkan pengiriman dan memberdayakan operasi harian mereka. Terlebih masa pandemi yang memaksa kebanyakan retail untuk berpindah ke operasi online. Untuk memenuhi tantangan tersebut, Dynamics 365 menyediakan solusi melalui aplikasi Commerce, Finance, dan Supply Chain Management yang didukung oleh aplikasi Microsoft Power Apps dan juga Power BI. Penerapannya akan memungkinkan pemilik retail melakukan transisi ke omnichannel dengan mudah dan lancar. Baca juga: Peran Microsoft Teams dalam Mendukung Hybrid Working di Bidang Manufaktur Adanya pandemi membuat industri retail mengalami perubahan besar-besaran. Para pemilik retail tidak bisa lagi mengandalkan penjualan dari toko fisik, kebanyakan “dipaksa” untuk beralih pada metode online. Situasi tersebut lantas menyadarkan bahwa pada dasarnya sistem retail sangat dinamis dan bisa berubah kapan saja. Microsoft melalui Dynamics 365 menawarkan solusi terbaik untuk Anda. Dengan memanfaatkan rangkaian aplikasi ini, Anda bisa merancang rantai pasokan untuk mengatasi situasi sekarang, sekaligus mempersiapkan masa depan. Agar Dynamics 365 berjalan dengan optimal, sebaiknya Anda juga menerapkan productivity tools dari Microsoft, Office 365. Tenang saja, sekarang ini sudah tersedia Office 365 yang khusus diperuntukkan bagi keperluan bisnis. Dapatkan segera hanya melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Membongkar Mitos Seputar Cloud Spanner

Cloud Spanner merupakan sebuah database untuk level perusahaan yang menawarkan skalabilitas tak terbatas dengan tingkat ketersediaan hingga mencapai 99,999%. Database ini juga tidak memerlukan jendela pemeliharaan dan menerapkan antarmuka PostgreSQL yang familier. Secara garis besar, Cloud Spanner menggabungkan manfaat dari database relasional dengan skalabilitas yang tak tertandingi dan ketersediaan non-relasional. Dengan beragam kegunaan tersebut tidak mengherankan jika pengguna Cloud Spanner sering salah berasumsi. Artikel kali ini akan membahas beberapa “kesalahpahaman” umum terkait Cloud Spanner yang sering ditemukan. Mari simak bersama. Spanner hanya bisa digunakan untuk workload skala besar Cloud Spanner memang dikenal memiliki skalabilitas tak terbatas. Kapabilitas tersebut kemudian menimbulkan asumsi bahwa database tersebut hanya bisa digunakan untuk proyek dengan workload skala besar. Namun benarkah demikian? Ada banyak sekali perusahaan besar yang menggunakan Cloud Spanner. Salah satu contohnya, Uber. Dengan layanan yang begitu luas, jelas workload Uber pun besar sehingga tidak mengherankan jika menggunakan Spanner. Meski begitu, pada kenyataannya ada beberapa perusahaan dengan skala lebih kecil yang menggunakan Spanner seperti Google Password Manager. Tool tersebut memang tidak memiliki workload besar, namun tetap memerlukan Spanner karena para pengguna jelas tidak bisa menoleransi downtime saat mereka harus menggunakan password. Spanner terlalu mahal Photo Credit: Piqsels Saat Anda mempertimbangkan biaya database, perhatikanlah TCO (Total Cost of Ownership) dan nilai yang ditawarkannya alih-alih hanya melihat harga mentah. Spanner memberikan nilai yang signifikan kepada pelanggan dari perhitungan tersebut serta hal-hal penting lainnya seperti ketersediaan, performa harga, dan pengurangan biaya operasional. Dengan Spanner, Anda tidak perlu khawatir lagi dengan masalah keamanan, ketersediaan, dan keandalan data lagi. Terlebih kini sudah ada penawaran Granular Instance Sizing yang memungkinkan Anda untuk bisa memulai layanan hanya dengan US$65/bulan, Baca juga: Lebih Jauh Mengenai Autoscaling pada Bigtable dan Analisis Penghematan Biayanya Saat menggunakan Spanner Anda harus memilih antara skala, konsistensi, dan latensi Hal ini sebenarnya bergantung pada masing-masing kasus penggunaan dan konfigurasi instance. Jadi, pengguna bisa menggunakan Spanner tanpa harus memilih salah satu di antara skala,, konsistensi, dan latensi. Untuk memberikan konsistensi data yang kuat, Cloud Spanner menggunakan skema replikasi sinkron berbasis Paxos. Sedangkan agar latensi rendah, multi-wilayah Spanner dirancang dengan cermat dalam konfigurasi geografis yang memastikan bahwa replika dapat berkomunikasi dengan cukup cepat. Antarmuka Spanner sulit dipahami Spanner menawarkan fleksibilitas untuk berinteraksi dengan database melalui SQL berdasarkan standar ANSI 2011 serta melalui antarmuka REST atau gRPC API. Baru-baru ini, Cloud Spanner juga memperkenalkan antarmuka PostgreSQL. Antarmuka PostgreSQL menyediakan subset yang kaya dari dialek SQL PostgreSQL open-source, termasuk sintaks query umum, fungsi, dan operator. Ini mendukung kumpulan inti tipe data PostgreSQL open-source, sintaks DDL, dan tampilan skema informasi. Satu-satunya cara untuk mencapai observabilitas data adalah dengan Spanner Console Photo Credit: Piqsels Client library Spanner saat ini sudah mendukung Pelacakan dan Metrik dari OpenCensus. Kapabilitas ini memberikan wawasan mengenai kondisi internal klien dan membantu Anda untuk melakukan debug pada masalah produksi. Misalnya, pelacakan dan metrik dari sisi klien menyertakan informasi terkait sesi dan juga transaksi. Spanner juga mendukung penerima OpenTelemetery, yang menyediakan cara mudah bagi Anda untuk memproses dan memvisualisasikan metrik dari tabel Sistem Cloud Spanner dan mengekspornya ke APM (Application Monitoring) pilihan Anda. Hal tersebut juga mencakup kombinasi open-source dari database deret waktu seperti Prometheus yang digabungkan dengan dashboard Grafana. Bisa juga berupa penawaran komersial seperti Splunk, Dynatrace, AppDyamics, hingga NewRelic. ​​Baca juga: Register Domain Lebih Mudah dengan GA Cloud Domain Cloud Spanner merupakan sebuah database dengan skalabilitas raksasa yang dibangun dalam jaringan Google Cloud. Database ini menawarkan tingkat latensi rendah, keamanan tinggi, dan ketangguhan layanan untuk penggunanya yang tersebar di seluruh dunia. Sebelum menggunakan Cloud Spanner, ada baiknya Anda juga menerapkan komputasi awan Google Cloud untuk kinerja yang optimal. Ingin sistem penyimpanan data yang lebih baik lagi? Pilih paket solusi Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology, reseller resmi Google untuk Indonesia. Untuk konsultasi dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Tinggi

Saat model machine learning (ML) menghasilkan prediksi yang tidak memuaskan, penyebabnya bisa sangat beragam. Bisa jadi karena bug dari suatu program atau bisa juga karena masalah khusus pada ML itu sendiri. Adanya anomaly data pun dapat menyebabkan kinerja model menurun seiring berjalannya waktu. Apabila model kemudian disematkan ke aplikasi, masalah tersebut akan berpotensi menciptakan pengalaman pengguna yang buruk. Terlebih jika model merupakan bagian dari sebuah proses internal, dampaknya bisa memengaruhi pengambilan keputusan bisnis. Tantangan dalam membangun model machine learning Photo Credit: Piqsels Rekayasa perangkat lunak memiliki banyak proses, alat, dan praktik yang berfungsi untuk memastikan kualitas software. Fungsi alat-alat tersebut mencakup pengujian, verifikasi dan validasi, serta pencatatan dan pemantauan perangkat lunak. Sedangkan dalam pemodelan machine learning, tugas membangun, menerapkan, dan mengoperasikan sistem menghadirkan tantangan tambahan yang memerlukan proses sekaligus praktik tambahan. ML tidak hanya bergantung pada data. Sebab, sistem tersebut menginformasikan pengambilan keputusan secara otomatis tidak hanya dari data, tapi juga dari sistem layanan pelatihan ganda. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Dualitas tersebut memang bisa meningkatkan kualitas prediksi ML, namun di waktu yang bersamaan juga bisa mengakibatkan kemiringan penyajian pelatihan. Bukan hanya itu, sistem ML juga rentan mengalami macet dalam proses pengambilan keputusan otomatis. Artinya, anda perlu jenis pengujian dan pemantauan yang berbeda untuk model dan sistem ML dibandingkan dengan sistem software lain. Pedoman pengembangan solusi machine learning Google Cloud Photo Credit: Piqsels Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google menyusun sebuah pedoman komprehensif yang mencakup setiap proses dalam siklus hidup MLOps. Pedoman tersebut juga membahas cara menilai, memastikan, dan mengontrol kualitas solusi machine learning yang sedang Anda kembangkan. Detail pedoman selengkapnya bisa didapatkan di situs Google Cloud. Rangkuman pedoman solusi machine learning Google Secara garis besar, pedoman solusi machine learning yang disusun Google Cloud tersebut membahas 6 topik berbeda. Di sini kami memberikan rangkuman dari pedoman tersebut. Anda bisa menyimaknya dalam poin-poin berikut: Pengembangan model Topik ini membahas tentang bagaimana membangun model ML yang efektif dengan menerapkan pra-pemrosesan data relevan, evaluasi model, serta pengujian model dan teknik debugging. Pelatihan penerapan pipeline Pada bagian ini membahas cara menerapkan rutinitas CI/CD yang mengotomatiskan pengujian untuk fungsi model dan pengujian integrasi komponen alur pelatihan. Panduan ini juga membantu Anda menerapkan strategi penyampaian progresif yang sesuai untuk menerapkan pipeline. Pelatihan berkelanjutan Panduan ini memberikan rekomendasi untuk memperluas alur kerja pelatihan otomatis dengan langkah-langkah yang memvalidasi data input baru untuk pelatihan, sekaligus memvalidasi model output baru yang dihasilkan setelah pelatihan. Bagian ini juga mengajarkan cara melacak metadata dan artefak yang dihasilkan selama proses pelatihan. Model deployment These guidelines address how to implement a CI/CD routine that automates the process of validating compatibility of the model and its dependencies with the target deployment infrastructure. These recommendations also cover how to test the deployed model service and how to apply progressive delivery and online experimentation strategies to decide on a model’s effectiveness. Penerapan model Membahas cara menerapkan rutinitas CI/CD yang mengotomatiskan proses validasi kompatibilitas model dan dependensinya dengan infrastruktur penerapan target. Juga mencakup cara menguji layanan model yang diterapkan dan cara menerapkan strategi pengiriman progresif dan eksperimen online untuk memutuskan efektivitas model. Tata kelola model Menyangkut penetapan standar kualitas model. Bagian ini juga mencakup teknik penerapan prosedur dan alur kerja untuk meninjau dan menyetujui model untuk penyebaran produksi, serta mengelola model yang digunakan dalam produksi. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning  Mengembangkan solusi untuk machine learning memang bukanlah suatu proses yang mudah. Pedoman yang dikeluarkan oleh Google Cloud bisa Anda jadikan panduan untuk membantu. Terlebih, panduan tersebut terus diperbarui dan disesuaikan dengan kondisi terkini. Anda bisa langsung mendapatkan update terbaru jika menggunakan Google Cloud. Belum menggunakan Google Cloud untuk pengembangan sistem machine learning perusahaan Anda? Tim EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi produk untuk membantu Anda menentukan mana solusi Google Cloud yang paling tepat. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO

Setelah rilis versi 8.2 dua tahun lalu, kini OpenSSH memperkenalkan otentikasi FIDO sebagai salah satu opsi dukungan. Itu artinya, kunci pribadi SSH Anda dapat disimpan dan dilindungi dalam keamanan khusus. Cara ini jauh lebih aman dibanding menyimpan kunci pada disk lokal yang lebih rentan disusupi. Lebih lanjut, kapabilitas tersebut juga dikembangkan untuk proses otentikasi virtual machine (VM) dari Google Compute Engine atau GCE yang menggunakan layanan OS Login untuk pengelolaan SSH (Secure Shell). Bagaimana cara kerjanya? Mengenal OpenSSH OpenSSH (atau kadang disebut OpenBSD Secure Shell) merupakan rangkaian utilitas dengan jaringan aman yang dirancang berdasarkan protokol SSH (Secure Shell). Suite ini menyediakan sebuah saluran aman melalui sebuah jaringan tidak aman di dalam sebuah arsitektur client-server. OpenSSH pada dasarnya bukanlah suatu program komputer tunggal, melainkan merupakan serangkaian program yang berfungsi sebagai alternatif untuk protokol tidak terenkripsi seperti Telnet dan FTP (File Transfer Protocol). Suite ini juga telah terintegrasi ke beberapa sistem operasi seperti Microsoft Windows, macOS, dan bahkan sebagian besar Linux. Tersedia juga versi portabel yang ada pada sistem lain. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Otentikasi FIDO FIDO atau Fast Identity Online merupakan sistem otentikasi yang didesain untuk menyelesaikan masalah kekurangan interoperabilitas antar perangkat otentikasi. Anda sering kesulitan mengingat password dan username karena banyaknya aplikasi serta perangkat yang digunakan? Nah, FIDO dirancang untuk mengatasi masalah tersebut. FIDO menawarkan dua rangkaian protokol otentikasi standar, yaitu FIDO U2F (Universal Second Factor) dan FIDO UAF. Keduanya ada dalam arsitektur FIDO yang melayani berbagai pengalaman pengguna saat menggunakan internet. Otentikasi FIDO dalam OpenSSH Photo Credit: Piqsels Pembaruan ini akan mempermudah perlindungan akses menuju VM sensitif dengan menyiapkan otentikasi FIDO ke host dan secara fisik melindungi kunci yang digunakan sebagai pemberi akses. Meski begitu, Anda mungkin masih mempertanyakan bagaimana keamanan di sekitar proses manual untuk menghasilkan dan menyimpan kunci FIDO. Belum lagi masalah siklus hidup kunci keamanan fisik yang bisa membuat Anda kehilangan akses menuju host SSH. Akan selalu ada kemungkinan terkunci jika Anda kehilangan atau salah meletakkan kunci. Google Cloud memberikan solusi dengan melakukan integrasi dukungan tingkat akun industry-first untuk kunci keamanan FIDO dengan SSH. Jadi, Anda bisa mendapatkan semua manfaat otentikasi FIDO saat login SSH tanpa kekurangan apa pun. Mengaktifkan dukungan kunci keamanan lewat OS Login Sekarang, ketika Anda mengaktifkan dukungan kunci keamanan melalui OS Login untuk VM GCE, salah satu kunci keamanan Anda diperlukan untuk menyelesaikan proses login. Satu kunci keamanan yang dikonfigurasi pada akun Google Anda akan langsung diterima saat login. Apabila kehilangan kunci keamanan, Anda bisa dengan mudah memperbarui konfigurasi kunci keamanan (yaitu dengan menghapus kunci yang hilang dan menambahkan kunci baru) dan VM secara otomatis akan mulai menerima konfigurasi baru pada proses login selanjutnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Jika diperlukan, dukungan kunci keamanan FIDO OS Login selanjutnya dapat digabungkan dengan Verifikasi 2 Langkah. Cara ini akan menambahkan lapisan keamanan ekstra dengan sistem otentikasi dua faktor (2FA). Saat sistem ini diaktifkan, pengguna harus memiliki kunci keamanan yang tersedia dan membuktikan akses resmi ke akun Google mereka pada saat login ke instance GCE mereka melalui faktor tambahan. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service Proses otentikasi sangat penting untuk melindungi keamanan akses data. Dengan adanya sistem otentikasi FIDO pada OpenSSH, Anda bisa memastikan keamanan kunci pribadi lebih mudah dan efisien. Sayangnya, terkadang proses otentikasi yang berlapis bisa sangat memakan waktu. Google Cloud dengan integrasi dukungan tingkat akun hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Anda juga bisa menemukan beragam solusi penyimpanan dan keamanan data dengan Google Cloud. Dapatkan solusi komputasi awan tercanggih yang bisa disesuaikan menurut kebutuhan perusahaan Anda dengan Google Cloud. Tertarik untuk mencoba Google Cloud? Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology terkait Google Cloud, silakan klik di sini!

Google Cloud

Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud dengan Dataplex

Dataplex merupakan sebuah data fabric cerdas yang berfungsi untuk mengelola, memantau, dan mengatur seluruh data yang tersebar di data lake, data warehouse, dan data mart secara terpusat. Dengan begitu, data tersebut dapat diakses ke berbagai alat data science secara aman, tanpa hambatan. Dengan memanfaatkan Dataplex, perusahaan bisa mendelegasikan kepemilikan, penggunaan, sekaligus berbagi data kepada rekanan bisnis mereka sambil tetap memiliki single pane of glass. Jadi perusahaan bisa tetap konsisten memantau dan mengatur data di berbagai domain yang mereka miliki. Photo Credit: Google Cloud Blog Bukan hanya itu, Dataplex juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI) sehingga dapat melakukan otomatisasi penemuan data, manajemen siklus hidup data, dan kualitas data, sehingga memungkinkan produktivitas data dan mempercepat analitik. Artikel kali ini akan membahas salah satu kasus penggunaan utama Dataplex, yaitu membangun arsitektur data mesh. Bagaimana langkah-langkahnya? Mengenal data mesh Arsitektur data mesh pertama kali diperkenalkan oleh Zamak Deghani dalam sebuah artikel di website Martin Fowler. Dalam tulisannya, Deghani menjelaskan bahwa tumpukan data modern yang bergerak menjauh dari data lake monolitik ke arsitektur domain terdistribusi yang memungkinkan otonomi kepemilikan data mampu memberikan kelincahan. Sebab, domain yang terdesentralisasi memberikan kemampuan manajemen data sekaligus mampu mengatur dan memantau data secara terpusat di seluruh domain. Penjelasan lebih lanjut bisa disimak dalam whitepaper data mesh berikut. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Membuat data mesh dengan Google Cloud Dataplex menyediakan sebuah platform manajemen data untuk membangun domain data independent dalam data mesh yang mencakup perusahaan Anda sambil tetap mempertahankan kontrol pusat untuk mengatur dan memantau data di seluruh domain dengan mudah. Katakanlah Anda memiliki domain seperti contoh berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan Dataplex, Anda bisa mengatur data dan artefak terkait seperti buku catatan, kode, dan bahkan log ke dalam Dataplex Lake yang mewakili domain data. Seluruh data dalam domain tertentu sebagai kumpulan Aset Dataplex dalam data lake bisa dibuat model tanpa memindahkan data secara fisik atau menyimpannya ke dalam sistem penyimpanan tunggal. Data lake dan data zone di Dataplex memungkinkan Anda untuk menyatukan data terdistribusi dan mengaturnya berdasarkan konteks bisnis. Ini membentuk dasar untuk mengelola metadata, menyiapkan kebijakan tata kelola, memantau kualitas data, dan sebagainya, memberi Anda kemampuan untuk mengelola data dalam skala besar. Photo Credit: Google Cloud Blog Menemukan metadata di seluruh sumber data secara otomatis Dataplex menyediakan manajemen metadata dan katalogisasi yang memungkinkan semua anggota domain untuk dengan mudah mencari, menelusuri, dan menemukan tabel dan kumpulan file serta menambahkannya dengan semantik khusus. Setelah data ditambahkan, Dataplex secara otomatis mengekstrak metadata terkait dan terus memperbaruinya. Mengaktifkan interoperabilitas alat Metadata yang dikurasi oleh Dataplex secara otomatis tersedia sebagai runtime metadata untuk mendukung analitik sumber terbuka gabungan melalui Apache SparkSQL, HiveQL, Presto, dan sebagainya. Kelola data dalam skala besar  Dataplex memungkinkan administrator dan pengelola data mengatur kebijakan data IAM mereka secara konsisten dan terukur untuk mengontrol akses data di seluruh data terdistribusi. Ini memberikan kemampuan untuk mengelola data secara terpusat di seluruh domain sambil memungkinkan kepemilikan data yang otonom dan didelegasikan. Aktifkan akses ke data berkualitas tinggi Dataplex menyediakan aturan kualitas data bawaan yang dapat memunculkan gangguan pada data. Anda bisa menjalankan aturan untuk memastikan kualitas data di seluruh data yang ada di BigQuery dan Google Cloud Storage. Eksplorasi data sekali klik Dataplex membantu para insinyur data, ilmuwan data, dan analis data dengan pengalaman eksplorasi data bawaan, self-serve, dan tanpa server untuk menjelajahi data dan metadata secara interaktif, mengembangkan skrip secara iterated, dan menyebarkan serta memantau beban kerja manajemen data. Ini menyediakan manajemen konten di seluruh skrip SQL dan Jupyter notebook  yang memudahkan untuk membuat artefak kode khusus domain dan membagikan atau menjadwalkannya dari antarmuka yang sama. Manajemen data Anda juga dapat memanfaatkan tugas manajemen data bawaan yang menangani tugas-tugas umum seperti tiering, pengarsipan atau penyempurnaan data. Hal ini terintegrasi dengan tools data asli Google Cloud seperti Dataproc Serverless, Dataflow, Data Fusion, dan BigQuery untuk menyediakan platform pengelolaan data terintegrasi. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust Pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service Dengan kumpulan data, metadata, kebijakan, kode, infrastruktur analitik interaktif dan produksi, dan pemantauan data. Dataplex memberikan proposisi nilai inti dari data mesh, yakni data sebagai produk. Dataplex merupakan sebuah data fabric cerdas yang menyatukan data dari berbagai domain. Untuk bisa mengoptimalkan fungsi Dataplex saat membangun data mesh, ada baiknya Anda memanfaatkan integrasinya dengan Google Cloud. Dapatkan solusi komputasi awan dari Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda melalui EIKON Technology, partner resmi Google untuk Indonesia. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid

Keterlibatan karyawan merupakan elemen penting suatu bisnis. Sebab, tingkat keterlibatan sangat memengaruhi tingkat produktivitas karyawan. Makin tinggi keterlibatan karyawan, maka makin besar juga tingkat produktivitasnya. Sayangnya, keterlibatan karyawan yang ideal sulit terwujud saat lingkungan kerja beralih pada model hybrid seperti sekarang ini. Masa pandemi mau tak mau mendorong bisnis untuk bisa menggabungkan lingkungan kerja on-site dan off-site hingga muncul suatu model hybrid yang efisien. Akan sulit mengoptimalkan keterlibatan karyawan jika mereka tidak berada di lokasi (atau terkadang zona waktu) yang sama. Jika kondisi tersebut dibiarkan dalam waktu lama, bukan tidak mungkin, produktivitas perusahaan pun akan terancam. Lalu, bagaimana solusinya? Kesetaraan dalam kolaborasi Prasad Setty, Wakil Presiden Digital Work Experience Google Workspace menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam lingkungan kerja hybrid adalah mewujudkan kesetaran dalam kolaborasi. Sebuah kolaborasi kerja dinyatakan setara jika seluruh karyawan dapat berkontribusi dan berkomunikasi dengan mudah, terlepas dari lokasi, peran, tingkat, pengalaman, bahasa, dan preferensi perangkat mereka. Dalam lingkungan kerja hybrid ada banyak sekali hambatan dalam mewujudkan kesetaraan tersebut. Misalnya, saat melakukan video meeting, bisa saja ada karyawan yang mengalami kesulitan sinyal. Contoh lainnya adalah saat rapat dengan peserta yang beragam tingkat pengalamannya. Karyawan junior akan cenderung sulit mengutarakan pendapat karena posisi mereka yang masih baru. Baca juga: Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Photo Credit: Google Cloud Blog Menurut Setty, permasalahan tersebut bisa diatasi dengan menekankan tiga pilar kesetaraan kolaborasi, yaitu representasi, partisipasi, serta informasi. Kesetaraan dalam representasi Saat melakukan rapat, baik itu secara konvensional maupun melalui video meeting, seluruh peserta akan tampil setara. Di ruang rapat, satu kursi diisi oleh satu peserta. Begitu pula dengan video meeting, tiap peserta muncul dalam kotak-kotak berukuran sama. Namun saat model hybrid diterapkan, keseragaman tersebut hilang. Peserta dari jarak jauh tampak besar di monitor ruang rapat, sementara mereka yang hadir di lokasi justru tampak kecil di layar komputer peserta jarak jauh. Jelas bukanlah sebuah representasi yang setara. Masalah seperti ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan bantuan teknologi. Google Meet misalnya. Dengan dukungan AI, ukuran dan pencahayaan video yang ditampilkan bisa disesuaikan untuk menjaga fokus peserta. Selain itu, kini Meet juga menyediakan kapabilitas untuk membatasi penggunaan data pada jaringan seluler lambat sehingga tidak ada yang harus mematikan video selama panggilan. Kesetaraan dalam partisipasi Photo Credit: Piqsels Saat model WFH (work from home) diterapkan, Anda mungkin berpikir bahwa kesetaraan partisipasi adalah tentang kemampuan untuk bisa menjadi host, menyajikan presentasi, dan berpartisipasi tanpa terbatas lokasi. Namun bagaimana jika sebagian karyawan diminta untuk kembali ke kantor sementara yang lain tetap menjalankan WFH? Bagaimana memastikan karyawan WFH tetap berpartisipasi aktif? Google Meet dengan companion mode bisa menjadi solusi yang efektif. Mode tersebut, memberikan pengalaman rapat yang sama kepada peserta, baik yang berada di lokasi maupun tidak. Setiap peserta bisa menjadi host, melakukan presentasi, dan berpartisipasi dengan cara yang sama, menggunakan alat yang sama, terlepas dari lokasi mereka. Kesetaraan informasi Photo Credit: Piqsels Kesetaraan informasi berhubungan erat dengan akses. Suatu lingkungan kerja dianggap setara jika seluruh karyawan punya akses yang sama menuju informasi tertentu. Menurut Setty, memastikan kelancaran arus informasi merupakan kunci untuk pemikiran jangka panjang yang lebih baik, kreativitas, dan kerja sama tim. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, dukungan teknologi sangat diperlukan. Google menyediakan beberapa aplikasi dan kapabilitas yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan keterlibatan karyawan dalam hal akses informasi, seperti Spaces dan Drive. Keduanya bisa dijadikan pusat informasi untuk mengakses beragam resources perusahaan mulai dari dokumen, percakapan, hingga pembaruan penting secara real-time. Karyawan juga dapat memanfaatkan rekomendasi dari menu @ yang tersebar di seluruh aplikasi Google Workspace untuk melibatkan seluruh pihak terkait. Baca juga: Menghubungkan Karyawan Bekerja secara Hybrid Work dengan Google Workspace Di masa transisi seperti sekarang ini, model kerja yang lama tidak akan efektif lagi dalam meningkatkan keterlibatan karyawan. Model hybrid memunculkan beberapa tantangan baru seperti kesetaraan dalam hal kolaborasi. Beruntung, kini sudah ada banyak sekali teknologi yang bisa Anda manfaatkan untuk mengatasi problem tersebut. Salah satunya adalah platform produktivitas kolaboratif, Google Workspace. Apakah saat ini Anda sedang mengalami masalah dengan keterlibatan karyawan dan kesetaraan kolaborasi karena lingkungan kerja hybrid? Dengan berbagai aplikasi dan kapabilitas, Google Workspace mampu meminimalisir tantangan tersebut. Menariknya lagi, platform ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Dapatkan Google Workspace resmi hanya di EIKON Technology. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Cara Kelola Tugas Tertunda Lebih Cepat di Google Calendar

 Google Calendar atau kadang disebut gCal merupakan sebuah aplikasi manajemen waktu dan layanan penjadwalan yang dikembangkan oleh Google. Aplikasi ini pertama kali diperkenalkan pada April 2006 dan dirilis untuk publik pada tahun 2009. Seiring perkembangannya, Google Calendar tak lagi sebatas aplikasi penunjuk kalender saja, tapi juga menawarkan pengelolaan jadwal penggunanya. Aplikasi ini bahkan terintegrasi dengan aplikasi dan layanan Google lain seperti Gmail. Itu berarti, dengan Calendar, Anda bisa menambahkan kegiatan dari Gmail ke jadwal secara otomatis. Google Calendar hadir untuk memudahkan Anda dalam mengatur waktu melalui berbagai fitur yang disediakan. Dengan begitu, produktivitas kerja pun bisa meningkat. Dalam update terbaru Calendar, Anda diberi keleluasaan untuk mengelola tugas yang tertunda. Simak ulasan kali ini untuk mengetahui langkah-langkahnya. Baca juga: Baru! Google Calendar for Web Kini Tampil dengan Grafis User Interface Fitur Kelola tugas tertunda Selain menyediakan fitur untuk mengelola events atau kegiatan, Google Calendar juga punya fitur untuk bantu Anda mengatur tugas. Dengan fitur tersebut, Anda bisa membuat daftar tugas yang harus dikerjakan dalam satu hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Dalam update yang disampaikan melalui blog Google Workspace Updates, diketahui bahwa kini Anda dapat membuat perubahan langsung pada tugas-tugas yang tertunda atau telah lewat waktu tanpa harus menuju My Tasks atau Tugas Saya. Photo Credit: Google Workspace Updates Itu artinya, jika Anda punya tugas yang sudah dijadwalkan dan tidak ditandai “selesai” dalam 30 hari terakhir, secara otomatis sistem akan memberikan tombol “x pending tasks”. Tombol tersebut akan menampilkan seluruh tugas tertunda dalam sebuah daftar lengkap. Terlebih, sekarang Anda bisa langsung membuat perubahan pada tugas tersebut atau menandainya “selesai”. Sebab, update terbaru ini menyediakan sebuah menu drop-down saat Anda mengeklik kegiatan di satu hari tersebut. Untuk semua perangkat Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur tersebut akan tersedia untuk Google Calendar versi web, Android, dan iOS. Untuk versi web, akan diluncurkan dalam dua fase. Fase pertama, untuk Rapid Release sudah bisa menikmati fitur ini sejak 6 Februari 2022 lalu. Sedangkan fase kedua adalah untuk Scheduled Release akan dimulai pada 3 Maret 2022. Namun, mungkin diperlukan waktu hingga 15 hari di kedua fase rilis hingga fitur berfungsi sepenuhnya. Peluncuran akan dimulai untuk pengguna Android pada 17 Februari, sementara pengguna iOS harus menunggu hingga 1 Maret untuk mulai menikmatinya. Fitur Calendar akan tersedia untuk semua pelanggan Google Workspace, G Suite Basic lama, dan G Suite Business lama. Cegah acara yang tak diinginkan Photo Credit: Google Workspace Updates Selain fitur kelola tugas tertunda, Google Calendar sebelumnya juga telah merilis update yang memungkinkan Anda mencegah undangan acara yang tak diinginkan muncul secara otomatis pada jadwal. Opsi tersebut bisa Anda temukan pada menu “Events settings”, tepatnya pada opsi “Automatically add invitations”. Calendar menyediakan tiga opsi yang bisa dipilih: Yes, untuk menambahkan undangan secara otomatis. Yes, untuk tidak mengirim pemberitahuan acara kecuali Anda menjawab “Ya” atau “Mungkin”. Tidak, untuk hanya menampilkan undangan yang sudah ditanggapi. Selain itu, Google juga menyediakan pilihan untuk membatasi undangan dari orang tertentu saja. Anda dapat mengaturnya dalam menu “Add invitations to my calendar”. Pengaturan tersebut menyediakan dua opsi, yaitu: From everyone: menambahkan undangan secara otomatis dari siapa pun. When I respond to the invitation in email: menambahkan undangan secara otomatis hanya saat Anda sudah menjawab email undangan acara. Baca juga: Manfaat Google Calendar untuk Bisnis Google Calendar kini bukanlah sekadar aplikasi untuk menunjukkan tanggal, melainkan dapat Anda gunakan dalam penjadwalan kegiatan sehari-hari. Menariknya lagi, kini Calendar telah terintegrasi dengan platform produktivitas Google Workspace. Google Workspace akan memberikan Anda pengalaman terbaik dalam menggunakan seluruh aplikasi dan layanan produktivitas dari Google, termasuk Calendar. Dapatkan segera Google Workspace untuk tingkatkan produktivitas perusahaan Anda hanya di EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik di sini!

Google Workspace

Mencoba Update Baru Google Chat versi Web: Temukan Orang Lebih Mudah!

Google Chat merupakan sebuah aplikasi pesan bisnis yang memungkinkan Anda untuk melakukan percakapan 1:1 maupun grup dengan beberapa orang sekaligus. Aplikasi ini juga telah terintegrasi dengan layanan Google lain, yaitu Google Spaces. Keduanya merupakan bagian dari platform produktivitas andalan Google, Workspace. Sejak diperkenalkan kepada publik di tahun 2017 lalu, Google Chat terus mengalami peningkatan layanan dan tentu saja fitur. Nah, apa saja kemudahan yang bisa dinikmati dari update terbaru Google Chat? Mengenal Google Chat Photo Credit: Google Chat Google Chat sendiri merupakan sebuah aplikasi percakapan yang fokus untuk keperluan bisnis. Jika dilihat dari kegunaannya, sekilas Google Chat mirip dengan aplikasi percakapan lama milik Google, Hangouts. Bahkan tak berlebihan jika menyebut bahwa Google Chat adalah kembaran dari Google Hangouts. Sebenarnya, Chat (bersama dengan Google Meet) memang didesain oleh Google untuk menggantikan Hangouts. Meski begitu, Chat memiliki beberapa fitur dan layanan yang tentu saja tidak bisa ditemukan pada Hangouts. Cara mengakses Google Chat Untuk saat ini, Chat bisa diakses melalui aplikasi mobile maupun lewat web. Versi aplikasi mobile bisa diunduh secara gratis melalui Google Play Store atau melalui iOS App Store. Namun umumnya jika smartphone Anda sudah memiliki Gmail, bisa langsung mengakses Chat melalui platform berkirim surat elektronik tersebut. Jika Anda ingin mengakses Chat melalui desktop pun bisa. Caranya adalah dengan membuka Google Chat versi web. Selain itu, Chat juga bisa diakses melalui Google Workspace. Baca juga: Aplikasi Gmail Sekarang Bisa Digunakan untuk Panggilan Suara dan Video Update terbaru Google Chat Google baru saja melakukan update pada sistem Chat. Update ini diklaim mampu memberikan pengalaman chatting yang lebih intuitif sekaligus mudah dilakukan. Bukan hanya itu, update terbaru ini juga menawarkan navigasi yang lebih mudah menuju percakapan maupun ruang yang relevan. Beberapa kemudahan yang bisa Anda nikmati dari update terbaru Chat di antaranya: Saran akun berdasarkan aktivitas obrolan saat Anda mengeklik search bar. Saran cerdas untuk temukan orang, ruang, dan pesan grup saat Anda mulai mengetik search bar. Photo Credit: Google Workspace Updates Untuk saat ini, update tersebut baru tersedia pada Google Chat versi web. Namun kemudahan ini dapat dinikmati oleh seluruh pengguna Chat, baik Anda yang merupakan pengguna Google Workspace, G Suite Basic, maupun Google Business. Update ini juga sudah bisa dinikmati lewat Google Account personal. Nikmati pengalaman chat yang lebih mudah Photo Credit: Rawpixel Dengan adanya update tersebut, Anda bisa menikmati pengalaman chat yang lebih mudah dan seamless. Adanya saran saat melakukan penelusuran akan menghemat banyak waktu Anda yang berharga. Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk sekadar menemukan orang dan ruang yang tepat. Terlebih, kemudahan ini juga memberikan pengalaman penelusuran yang sejalan dengan Google Chat di aplikasi mobile serta aplikasi Google Workspace lainnya seperti Gmail maupun Google Drive. Melakukan update Seluruh proses update pada Chat biasanya dilakukan secara otomatis, termasuk untuk pembaruan kali ini. Bagi Anda yang berada dalam ekosistem Google Workspace, update ini juga tidak memerlukan kontrol dan persetujuan dari administrator. Untuk bantuan dan informasi lebih lanjut, Google menyediakan Pusat Bantuan yang bisa diakses secara gratis. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Dengan adanya update terbaru pada Google Chat ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari orang, grup atau percakapan lama. Seluruh kemudahan yang ditawarkan ini pun telah terintegrasi dengan platform produktivitas Google Workspace. Ingin meningkatkan produktivitas tim Anda? Google Workspace adalah solusinya. Dengan berbagai aplikasi dan fitur yang mendukung produktivitas tim seperti Drive, Docs, Sheets, Slides, dan Chat, Google Workspace siap bantu Anda menemukan performa kerja terbaik. Dapatkan personalized Google Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology, partner resmi Google untuk distribusi Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Siap-siap, Google Currents Bakal Digeser Google Spaces. Apa yang Berubah?

Google Currents merupakan sebuah aplikasi yang ada dalam rangkaian platform produktivitas Google Workspace (sebelumnya bernama G Suite). Fungsi utamanya adalah sebagai media komunikasi dan diskusi untuk internal perusahaan. Aplikasi ini memungkinkan seluruh elemen perusahaan untuk bisa berinteraksi, termasuk pimpinan dengan para karyawannya. Sayangnya, aplikasi yang pertama kali diperkenalkan pada April 2019 harus undur diri. Google berencana menonaktifkan layanan Currents dan menggantinya dengan aplikasi lain. Ini merupakan salah satu bagian dari rencana besar Google untuk mengembangkan ekosistemnya. Lalu, apa yang harus diantisipasi dari perubahan ini? Berubah menjadi Google Spaces Photo Credit: Piqsels Di tahun 2021 lalu, Google meluncurkan sebuah aplikasi komunikasi baru bernama Spaces. Saat melihat penjelasan fungsi Spaces, mungkin akan timbul pertanyaan, “bukankah ini mirip dengan Currents?”. Saat memperkenalkan Spaces, Google memang tidak secara eksplisit menerangkan bahwa aplikasi tersebut akan menggeser Currents. Namun ternyata, dalam update terbarunya, Google memproyeksikan Spaces untuk bisa menggeser Currents sepenuhnya di tahun 2023 nanti. Rencananya, tahun depan Google akan menutup layanan Currents dan memindahkan konten serta komunitas yang tersisa ke Spaces. Detail lanjut mengenai proses migrasi Currents ke Spaces akan diumumkan Google dalam waktu dekat agar pengguna bisa mempersiapkan diri. Baca juga: Kini Seluruh Paket Gratis G Suite Berubah Menjadi Google Workspace Berbayar! Update terbaru Google Spaces Sementara itu, di bulan Februari 2022 ini, Google juga mengumumkan update terbaru mengenai fitur Spaces. Disebutkan, kini Spaces memiliki kapabilitas untuk membantu para penggunanya tidak sekadar berkomunikasi, tapi juga berkolaborasi. Sebab, sekarang Spaces memang telah terintegrasi dengan produk Google Workspace lainnya seperti Gmail, Calendar, Drive, serta Meet. Google juga meningkatkan kemampuan pencarian, discoverability, serta kepatuhan dan keamanan tingkat perusahaan—hal ini juga termasuk perlindungan data, pencegahan kehilangan data (data loss prevention), dan dukungan Vault. Implikasi transisi Photo Credit: Piqsels Sekarang masuk ke pertanyaan utamanya, mengapa transisi dari Google Currents menjadi Spaces ini penting? Google mengungkapkan bahwa transisi Currents ke Spaces merupakan bagian dari rencana membangun ekosistem hybrid yang lebih dinamis. Dalam klaimnya, Spaces disebutkan dapat memudahkan komunikasi perusahaan, terutama yang berkaitan dengan proyek, update perkembangan perusahaan, hingga membangun tim. Bukan hanya itu, Google juga mengklaim bahwa Spaces menghadirkan berbagai peningkatan yang tidak ada di Currents. Spaces menghapus batasan-batasan yang dirasakan pengguna saat menggunakan aplikasi Currents. Harapannya, aplikasi ini akan memberikan pengalaman kolaborasi berskala besar yang mencerminkan bagaimana cara kerja dunia saat ini. Spaces menyediakan suatu layanan terpusat yang mengajak seluruh anggota tim terlibat dalam diskusi berbasis topik, berbagi pengetahuan dan ide, mengembangkan proyek, serta membangun komunitas dan kultur kerja tim yang lebih baik lagi. Memulai transisi Transisi dari Google Currents menjadi Google Spaces sepenuhnya telah dimulai. Google sudah menonaktifkan beberapa fitur yang ada di Currents, terutama fitur-fitur dengan tingkat penggunaan rendah. Untuk detail selengkapnya, Anda dapat menuju Pusat Bantuan yang disediakan Google. Proses transisi ini bisa dilakukan sepenuhnya oleh Administrator. Jika perusahaan Anda saat ini menggunakan Google Currents, detail mengenai proses transisi dan migrasi konten akan diumumkan dalam waktu dekat. Untuk sekarang, Google Spaces telah tersedia bagi seluruh pengguna platform Google Workspace. Selain untuk perusahaan, layanan komunikasi ini juga bisa digunakan oleh para pemilik Google Accounts pribadi. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Dengan kehadiran Spaces maka Google pun mulai pelan-pelan menonaktifkan fitur pada aplikasi pendahulunya, Currents. Bagi Anda yang sudah menggunakan Currents tak perlu khawatir karena nantinya Google akan menyediakan informasi lengkap mengenai migrasi konten dari Currents ke Spaces. Hadirnya Spaces menunjukkan komitmen Google untuk menciptakan suatu ekosistem kolaborasi yang lebih dinamis. Tertarik untuk mulai menggunakan Spaces sebagai media komunikasi internal perusahaan Anda? Gunakan paket Google Workspace untuk perusahaan. Dapatkan Google Workspace dengan sertifikasi legal hanya melalui EIKON Technology yang merupakan authorized reseller untuk produk-produk Google di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, klik di sini!

Google Cloud

Lebih Jauh Mengenai Autoscaling pada Bigtable dan Analisis Penghematan Biayanya

Cloud Bigtable merupakan sebuah layanan terkelola sepenuhnya yang dapat menskalakan data dengan cepat dan hanya lewat satu tombol saja. Sedang menggunakan layanan ini? Anda dapat melakukan konfigurasi ukuran klaster untuk menghasilkan throughput puncak atau menskalakan data secara terprogram agar sesuai dengan workload. Bigtable kini juga telah mendukung Autoscaling  untuk skala otomatis, memungkinkan Anda mencapai pengelolaan yang lebih baik. Dalam sebuah eksperimennya, Google Cloud menemukan bahwa Autoscaling mampu mengurangi biaya workload diurnal umum (yang dijalankan siang hari) lebih dari 40%. Bayar sesuai kebutuhan Saat menggunakan Bigtable, Anda hanya perlu membayar sesuai kebutuhan saat Autoscaling diaktifkan. Layanan ini secara otomatis menambah atau mengurangi kapasitas sebagai respons terhadap perubahan tuntutan workload Anda. Autoscaling mengklaim penggunanya akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus hal lain yang lebih penting dan mendesak karena masalah pengelolaan infrastruktur. Penerapan Autoscaling mereduksi kemungkinan terjadinya overhead karena manajemen penyediaan kapasitas telah dikelola sedemikian rupa. Autoscaling untuk saat ini telah berfungsi pada klaster HDD sekaligus SDD dan tersedia di seluruh wilayah Bigtable. Mulai menerapkan Bigtable Autoscaling pada Bigtable dikonfigurasi pada tingkat klaster dan dapat diaktifkan menggunakan Cloud Console, fitur command line, gcloud, Cloud Bigtable Admin API, dan library klien Bigtable. Dengan mengaktifkan Autoscaling, Bigtable secara otomatis akan menskalakan jumlah node dalam setiap klaster sebagai respons terhadap perubahan pemanfaatan kapasitas. Bahkan, risiko yang terkait dengan perkiraan kapasitas yang salah pun dapat diturunkan secara signifikan. Hal tersebut mencakup: penyediaan berlebihan (biaya tak perlu) dan kekurangan penyediaan (kehilangan peluang bisnis). Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Autoscaling dapat diaktifkan untuk klaster yang ada atau telah dikonfigurasikan dengan klaster baru. Anda akan memerlukan dua informasi: penggunaan sebuah CPU target dan sebuah lingkup untuk menjaga jumlah node Anda tetap ada di dalam. Layanan ini tidak memerlukan perhitungan, pemrograman atau pemeliharaan yang rumit. Hanya saja, Anda harus selalu memperhatikan jumlah node maksimum. Dalam satu lingkup, tidak boleh lebih dari 10 kali jumlah node minimum. Pemanfaatan penyimpanan merupakan salah satu faktor dalam Autoscaling, tapi target penggunaan penyimpanan ditetapkan oleh Bigtable dan tidak dapat dikonfigurasi. Berikut adalah contoh yang menunjukkan cara mengaktifkan Autoscaling dengan Cloud Console dan command line. Dua cara ini diklaim sebagai cara tercepat untuk memulai. Menggunakan Cloud Console Saat membuat atau melakukan pembaruan pada sebuah instance melalui Cloud Console, Anda dapat memilih antara alokasi node manual (Manual node allocation) atau Autoscaling. Jika Anda memilih Autoscaling, bisa langsung mulai melakukan konfigurasi lingkup node dan target penggunaan CPU. Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan command line Untuk mulai melakukan konfigurasi Autoscaling melalui tool command line yang ada pada gcloud, Anda cukup mengubah parameter Autoscaling saat membuat atau memperbarui klaster. Berikut langkah-langkahnya: Memperbarui klaster yang sudah ada 01  gcloud bigtable clusters update –instance my-instance my-cluster-c1 –autoscaling-min-nodes 1 –autoscaling-max-nodes 10 –autoscaling-cpu-target 60 Membuat klaster baru 01  gcloud bigtable clusters create –instance my-instance my-cluster-c1 –zone=asia-east1-c –autoscaling-min-nodes=1 –autoscaling-max-nodes=10 –autoscaling-cpu-target=60 Photo Credit: Google Cloud Blog Kapan waktu yang tepat untuk menerapkan Bigtable pada workload Bigtable merupakan cara yang fleksibel untuk berbagai kasus penggunaan dengan profil traffic dinamis. Autoscaling pada Bigtable mungkin tidak selalu menjadi konfigurasi yang tepat untuk perusahaan Anda, jadi berikut adalah beberapa panduan kapan penerapan Autoscaling yang ideal. Kapan menggunakan Autoscaling Anda adalah pengguna lama Bigtable yang ingin mengoptimalkan biaya sambil mempertahankan kinerja klaster. Misalnya: pola traffic yang ada pada ritel online. Anda pengguna Bigtable baru atau memiliki workload baru. Menyediakan kapasitas yang cukup untuk memenuhi kasus penggunaan yang tidak diketahui jelas sulit. Bisnis sedang berkembang, namun Anda tidak yakin sejauh mana perkembangannya di masa depan nanti. Anda ingin mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan apa pun. Evaluasi penghematan biaya Google Cloud melakukan sebuah eksperimen sebuah workload yang dijalankan selama 12 jam. Eksperimen tersebut membandingkan biaya yang dikeluarkan saat menggunakan dan tidak menggunakan Autoscaling. Katakanlah biaya satu node Bigtable adalah US$0.65/jam per node. Maka akan terlihat perhitungan biaya seperti di bawah ini: Photo Credit: Google Cloud Blog Pada tabel di atas terlihat bahwa penggunaan Autoscaling dapat menghemat biaya hingga US$87.05 atau dalam persentase berarti sekitar 70%. Baca juga: Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud Dengan memanfaatkan fungsi Autoscaling pada Cloud Bigtable Anda akan punya lebih banyak waktu untuk mengurus keperluan bisnis lainnya. Dari segi ekonomi, Autoscaling juga terbukti lebih hemat dibanding dengan penerapan skala manual. Penggunaan komputasi awan secara umum memang telah terbukti mampu menyederhanakan berbagai proses bisnis. Ingin memigrasikan proses bisnis Anda pada cloud? Google melalui Google Cloud menawarkan solusi untuk Anda. Platform ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology, authorized reseller Google untuk Indonesia. Informasi selengkapnya klik di sini!

Scroll to Top