EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Workspace

Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid

Keterlibatan karyawan merupakan elemen penting suatu bisnis. Sebab, tingkat keterlibatan sangat memengaruhi tingkat produktivitas karyawan. Makin tinggi keterlibatan karyawan, maka makin besar juga tingkat produktivitasnya. Sayangnya, keterlibatan karyawan yang ideal sulit terwujud saat lingkungan kerja beralih pada model hybrid seperti sekarang ini. Masa pandemi mau tak mau mendorong bisnis untuk bisa menggabungkan lingkungan kerja on-site dan off-site hingga muncul suatu model hybrid yang efisien. Akan sulit mengoptimalkan keterlibatan karyawan jika mereka tidak berada di lokasi (atau terkadang zona waktu) yang sama. Jika kondisi tersebut dibiarkan dalam waktu lama, bukan tidak mungkin, produktivitas perusahaan pun akan terancam. Lalu, bagaimana solusinya? Kesetaraan dalam kolaborasi Prasad Setty, Wakil Presiden Digital Work Experience Google Workspace menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam lingkungan kerja hybrid adalah mewujudkan kesetaran dalam kolaborasi. Sebuah kolaborasi kerja dinyatakan setara jika seluruh karyawan dapat berkontribusi dan berkomunikasi dengan mudah, terlepas dari lokasi, peran, tingkat, pengalaman, bahasa, dan preferensi perangkat mereka. Dalam lingkungan kerja hybrid ada banyak sekali hambatan dalam mewujudkan kesetaraan tersebut. Misalnya, saat melakukan video meeting, bisa saja ada karyawan yang mengalami kesulitan sinyal. Contoh lainnya adalah saat rapat dengan peserta yang beragam tingkat pengalamannya. Karyawan junior akan cenderung sulit mengutarakan pendapat karena posisi mereka yang masih baru. Baca juga: Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace Photo Credit: Google Cloud Blog Menurut Setty, permasalahan tersebut bisa diatasi dengan menekankan tiga pilar kesetaraan kolaborasi, yaitu representasi, partisipasi, serta informasi. Kesetaraan dalam representasi Saat melakukan rapat, baik itu secara konvensional maupun melalui video meeting, seluruh peserta akan tampil setara. Di ruang rapat, satu kursi diisi oleh satu peserta. Begitu pula dengan video meeting, tiap peserta muncul dalam kotak-kotak berukuran sama. Namun saat model hybrid diterapkan, keseragaman tersebut hilang. Peserta dari jarak jauh tampak besar di monitor ruang rapat, sementara mereka yang hadir di lokasi justru tampak kecil di layar komputer peserta jarak jauh. Jelas bukanlah sebuah representasi yang setara. Masalah seperti ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan bantuan teknologi. Google Meet misalnya. Dengan dukungan AI, ukuran dan pencahayaan video yang ditampilkan bisa disesuaikan untuk menjaga fokus peserta. Selain itu, kini Meet juga menyediakan kapabilitas untuk membatasi penggunaan data pada jaringan seluler lambat sehingga tidak ada yang harus mematikan video selama panggilan. Kesetaraan dalam partisipasi Photo Credit: Piqsels Saat model WFH (work from home) diterapkan, Anda mungkin berpikir bahwa kesetaraan partisipasi adalah tentang kemampuan untuk bisa menjadi host, menyajikan presentasi, dan berpartisipasi tanpa terbatas lokasi. Namun bagaimana jika sebagian karyawan diminta untuk kembali ke kantor sementara yang lain tetap menjalankan WFH? Bagaimana memastikan karyawan WFH tetap berpartisipasi aktif? Google Meet dengan companion mode bisa menjadi solusi yang efektif. Mode tersebut, memberikan pengalaman rapat yang sama kepada peserta, baik yang berada di lokasi maupun tidak. Setiap peserta bisa menjadi host, melakukan presentasi, dan berpartisipasi dengan cara yang sama, menggunakan alat yang sama, terlepas dari lokasi mereka. Kesetaraan informasi Photo Credit: Piqsels Kesetaraan informasi berhubungan erat dengan akses. Suatu lingkungan kerja dianggap setara jika seluruh karyawan punya akses yang sama menuju informasi tertentu. Menurut Setty, memastikan kelancaran arus informasi merupakan kunci untuk pemikiran jangka panjang yang lebih baik, kreativitas, dan kerja sama tim. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, dukungan teknologi sangat diperlukan. Google menyediakan beberapa aplikasi dan kapabilitas yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan keterlibatan karyawan dalam hal akses informasi, seperti Spaces dan Drive. Keduanya bisa dijadikan pusat informasi untuk mengakses beragam resources perusahaan mulai dari dokumen, percakapan, hingga pembaruan penting secara real-time. Karyawan juga dapat memanfaatkan rekomendasi dari menu @ yang tersebar di seluruh aplikasi Google Workspace untuk melibatkan seluruh pihak terkait. Baca juga: Menghubungkan Karyawan Bekerja secara Hybrid Work dengan Google Workspace Di masa transisi seperti sekarang ini, model kerja yang lama tidak akan efektif lagi dalam meningkatkan keterlibatan karyawan. Model hybrid memunculkan beberapa tantangan baru seperti kesetaraan dalam hal kolaborasi. Beruntung, kini sudah ada banyak sekali teknologi yang bisa Anda manfaatkan untuk mengatasi problem tersebut. Salah satunya adalah platform produktivitas kolaboratif, Google Workspace. Apakah saat ini Anda sedang mengalami masalah dengan keterlibatan karyawan dan kesetaraan kolaborasi karena lingkungan kerja hybrid? Dengan berbagai aplikasi dan kapabilitas, Google Workspace mampu meminimalisir tantangan tersebut. Menariknya lagi, platform ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Dapatkan Google Workspace resmi hanya di EIKON Technology. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Cara Kelola Tugas Tertunda Lebih Cepat di Google Calendar

 Google Calendar atau kadang disebut gCal merupakan sebuah aplikasi manajemen waktu dan layanan penjadwalan yang dikembangkan oleh Google. Aplikasi ini pertama kali diperkenalkan pada April 2006 dan dirilis untuk publik pada tahun 2009. Seiring perkembangannya, Google Calendar tak lagi sebatas aplikasi penunjuk kalender saja, tapi juga menawarkan pengelolaan jadwal penggunanya. Aplikasi ini bahkan terintegrasi dengan aplikasi dan layanan Google lain seperti Gmail. Itu berarti, dengan Calendar, Anda bisa menambahkan kegiatan dari Gmail ke jadwal secara otomatis. Google Calendar hadir untuk memudahkan Anda dalam mengatur waktu melalui berbagai fitur yang disediakan. Dengan begitu, produktivitas kerja pun bisa meningkat. Dalam update terbaru Calendar, Anda diberi keleluasaan untuk mengelola tugas yang tertunda. Simak ulasan kali ini untuk mengetahui langkah-langkahnya. Baca juga: Baru! Google Calendar for Web Kini Tampil dengan Grafis User Interface Fitur Kelola tugas tertunda Selain menyediakan fitur untuk mengelola events atau kegiatan, Google Calendar juga punya fitur untuk bantu Anda mengatur tugas. Dengan fitur tersebut, Anda bisa membuat daftar tugas yang harus dikerjakan dalam satu hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Dalam update yang disampaikan melalui blog Google Workspace Updates, diketahui bahwa kini Anda dapat membuat perubahan langsung pada tugas-tugas yang tertunda atau telah lewat waktu tanpa harus menuju My Tasks atau Tugas Saya. Photo Credit: Google Workspace Updates Itu artinya, jika Anda punya tugas yang sudah dijadwalkan dan tidak ditandai “selesai” dalam 30 hari terakhir, secara otomatis sistem akan memberikan tombol “x pending tasks”. Tombol tersebut akan menampilkan seluruh tugas tertunda dalam sebuah daftar lengkap. Terlebih, sekarang Anda bisa langsung membuat perubahan pada tugas tersebut atau menandainya “selesai”. Sebab, update terbaru ini menyediakan sebuah menu drop-down saat Anda mengeklik kegiatan di satu hari tersebut. Untuk semua perangkat Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur tersebut akan tersedia untuk Google Calendar versi web, Android, dan iOS. Untuk versi web, akan diluncurkan dalam dua fase. Fase pertama, untuk Rapid Release sudah bisa menikmati fitur ini sejak 6 Februari 2022 lalu. Sedangkan fase kedua adalah untuk Scheduled Release akan dimulai pada 3 Maret 2022. Namun, mungkin diperlukan waktu hingga 15 hari di kedua fase rilis hingga fitur berfungsi sepenuhnya. Peluncuran akan dimulai untuk pengguna Android pada 17 Februari, sementara pengguna iOS harus menunggu hingga 1 Maret untuk mulai menikmatinya. Fitur Calendar akan tersedia untuk semua pelanggan Google Workspace, G Suite Basic lama, dan G Suite Business lama. Cegah acara yang tak diinginkan Photo Credit: Google Workspace Updates Selain fitur kelola tugas tertunda, Google Calendar sebelumnya juga telah merilis update yang memungkinkan Anda mencegah undangan acara yang tak diinginkan muncul secara otomatis pada jadwal. Opsi tersebut bisa Anda temukan pada menu “Events settings”, tepatnya pada opsi “Automatically add invitations”. Calendar menyediakan tiga opsi yang bisa dipilih: Yes, untuk menambahkan undangan secara otomatis. Yes, untuk tidak mengirim pemberitahuan acara kecuali Anda menjawab “Ya” atau “Mungkin”. Tidak, untuk hanya menampilkan undangan yang sudah ditanggapi. Selain itu, Google juga menyediakan pilihan untuk membatasi undangan dari orang tertentu saja. Anda dapat mengaturnya dalam menu “Add invitations to my calendar”. Pengaturan tersebut menyediakan dua opsi, yaitu: From everyone: menambahkan undangan secara otomatis dari siapa pun. When I respond to the invitation in email: menambahkan undangan secara otomatis hanya saat Anda sudah menjawab email undangan acara. Baca juga: Manfaat Google Calendar untuk Bisnis Google Calendar kini bukanlah sekadar aplikasi untuk menunjukkan tanggal, melainkan dapat Anda gunakan dalam penjadwalan kegiatan sehari-hari. Menariknya lagi, kini Calendar telah terintegrasi dengan platform produktivitas Google Workspace. Google Workspace akan memberikan Anda pengalaman terbaik dalam menggunakan seluruh aplikasi dan layanan produktivitas dari Google, termasuk Calendar. Dapatkan segera Google Workspace untuk tingkatkan produktivitas perusahaan Anda hanya di EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik di sini!

Google Workspace

Mencoba Update Baru Google Chat versi Web: Temukan Orang Lebih Mudah!

Google Chat merupakan sebuah aplikasi pesan bisnis yang memungkinkan Anda untuk melakukan percakapan 1:1 maupun grup dengan beberapa orang sekaligus. Aplikasi ini juga telah terintegrasi dengan layanan Google lain, yaitu Google Spaces. Keduanya merupakan bagian dari platform produktivitas andalan Google, Workspace. Sejak diperkenalkan kepada publik di tahun 2017 lalu, Google Chat terus mengalami peningkatan layanan dan tentu saja fitur. Nah, apa saja kemudahan yang bisa dinikmati dari update terbaru Google Chat? Mengenal Google Chat Photo Credit: Google Chat Google Chat sendiri merupakan sebuah aplikasi percakapan yang fokus untuk keperluan bisnis. Jika dilihat dari kegunaannya, sekilas Google Chat mirip dengan aplikasi percakapan lama milik Google, Hangouts. Bahkan tak berlebihan jika menyebut bahwa Google Chat adalah kembaran dari Google Hangouts. Sebenarnya, Chat (bersama dengan Google Meet) memang didesain oleh Google untuk menggantikan Hangouts. Meski begitu, Chat memiliki beberapa fitur dan layanan yang tentu saja tidak bisa ditemukan pada Hangouts. Cara mengakses Google Chat Untuk saat ini, Chat bisa diakses melalui aplikasi mobile maupun lewat web. Versi aplikasi mobile bisa diunduh secara gratis melalui Google Play Store atau melalui iOS App Store. Namun umumnya jika smartphone Anda sudah memiliki Gmail, bisa langsung mengakses Chat melalui platform berkirim surat elektronik tersebut. Jika Anda ingin mengakses Chat melalui desktop pun bisa. Caranya adalah dengan membuka Google Chat versi web. Selain itu, Chat juga bisa diakses melalui Google Workspace. Baca juga: Aplikasi Gmail Sekarang Bisa Digunakan untuk Panggilan Suara dan Video Update terbaru Google Chat Google baru saja melakukan update pada sistem Chat. Update ini diklaim mampu memberikan pengalaman chatting yang lebih intuitif sekaligus mudah dilakukan. Bukan hanya itu, update terbaru ini juga menawarkan navigasi yang lebih mudah menuju percakapan maupun ruang yang relevan. Beberapa kemudahan yang bisa Anda nikmati dari update terbaru Chat di antaranya: Saran akun berdasarkan aktivitas obrolan saat Anda mengeklik search bar. Saran cerdas untuk temukan orang, ruang, dan pesan grup saat Anda mulai mengetik search bar. Photo Credit: Google Workspace Updates Untuk saat ini, update tersebut baru tersedia pada Google Chat versi web. Namun kemudahan ini dapat dinikmati oleh seluruh pengguna Chat, baik Anda yang merupakan pengguna Google Workspace, G Suite Basic, maupun Google Business. Update ini juga sudah bisa dinikmati lewat Google Account personal. Nikmati pengalaman chat yang lebih mudah Photo Credit: Rawpixel Dengan adanya update tersebut, Anda bisa menikmati pengalaman chat yang lebih mudah dan seamless. Adanya saran saat melakukan penelusuran akan menghemat banyak waktu Anda yang berharga. Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk sekadar menemukan orang dan ruang yang tepat. Terlebih, kemudahan ini juga memberikan pengalaman penelusuran yang sejalan dengan Google Chat di aplikasi mobile serta aplikasi Google Workspace lainnya seperti Gmail maupun Google Drive. Melakukan update Seluruh proses update pada Chat biasanya dilakukan secara otomatis, termasuk untuk pembaruan kali ini. Bagi Anda yang berada dalam ekosistem Google Workspace, update ini juga tidak memerlukan kontrol dan persetujuan dari administrator. Untuk bantuan dan informasi lebih lanjut, Google menyediakan Pusat Bantuan yang bisa diakses secara gratis. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Dengan adanya update terbaru pada Google Chat ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari orang, grup atau percakapan lama. Seluruh kemudahan yang ditawarkan ini pun telah terintegrasi dengan platform produktivitas Google Workspace. Ingin meningkatkan produktivitas tim Anda? Google Workspace adalah solusinya. Dengan berbagai aplikasi dan fitur yang mendukung produktivitas tim seperti Drive, Docs, Sheets, Slides, dan Chat, Google Workspace siap bantu Anda menemukan performa kerja terbaik. Dapatkan personalized Google Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology, partner resmi Google untuk distribusi Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Siap-siap, Google Currents Bakal Digeser Google Spaces. Apa yang Berubah?

Google Currents merupakan sebuah aplikasi yang ada dalam rangkaian platform produktivitas Google Workspace (sebelumnya bernama G Suite). Fungsi utamanya adalah sebagai media komunikasi dan diskusi untuk internal perusahaan. Aplikasi ini memungkinkan seluruh elemen perusahaan untuk bisa berinteraksi, termasuk pimpinan dengan para karyawannya. Sayangnya, aplikasi yang pertama kali diperkenalkan pada April 2019 harus undur diri. Google berencana menonaktifkan layanan Currents dan menggantinya dengan aplikasi lain. Ini merupakan salah satu bagian dari rencana besar Google untuk mengembangkan ekosistemnya. Lalu, apa yang harus diantisipasi dari perubahan ini? Berubah menjadi Google Spaces Photo Credit: Piqsels Di tahun 2021 lalu, Google meluncurkan sebuah aplikasi komunikasi baru bernama Spaces. Saat melihat penjelasan fungsi Spaces, mungkin akan timbul pertanyaan, “bukankah ini mirip dengan Currents?”. Saat memperkenalkan Spaces, Google memang tidak secara eksplisit menerangkan bahwa aplikasi tersebut akan menggeser Currents. Namun ternyata, dalam update terbarunya, Google memproyeksikan Spaces untuk bisa menggeser Currents sepenuhnya di tahun 2023 nanti. Rencananya, tahun depan Google akan menutup layanan Currents dan memindahkan konten serta komunitas yang tersisa ke Spaces. Detail lanjut mengenai proses migrasi Currents ke Spaces akan diumumkan Google dalam waktu dekat agar pengguna bisa mempersiapkan diri. Baca juga: Kini Seluruh Paket Gratis G Suite Berubah Menjadi Google Workspace Berbayar! Update terbaru Google Spaces Sementara itu, di bulan Februari 2022 ini, Google juga mengumumkan update terbaru mengenai fitur Spaces. Disebutkan, kini Spaces memiliki kapabilitas untuk membantu para penggunanya tidak sekadar berkomunikasi, tapi juga berkolaborasi. Sebab, sekarang Spaces memang telah terintegrasi dengan produk Google Workspace lainnya seperti Gmail, Calendar, Drive, serta Meet. Google juga meningkatkan kemampuan pencarian, discoverability, serta kepatuhan dan keamanan tingkat perusahaan—hal ini juga termasuk perlindungan data, pencegahan kehilangan data (data loss prevention), dan dukungan Vault. Implikasi transisi Photo Credit: Piqsels Sekarang masuk ke pertanyaan utamanya, mengapa transisi dari Google Currents menjadi Spaces ini penting? Google mengungkapkan bahwa transisi Currents ke Spaces merupakan bagian dari rencana membangun ekosistem hybrid yang lebih dinamis. Dalam klaimnya, Spaces disebutkan dapat memudahkan komunikasi perusahaan, terutama yang berkaitan dengan proyek, update perkembangan perusahaan, hingga membangun tim. Bukan hanya itu, Google juga mengklaim bahwa Spaces menghadirkan berbagai peningkatan yang tidak ada di Currents. Spaces menghapus batasan-batasan yang dirasakan pengguna saat menggunakan aplikasi Currents. Harapannya, aplikasi ini akan memberikan pengalaman kolaborasi berskala besar yang mencerminkan bagaimana cara kerja dunia saat ini. Spaces menyediakan suatu layanan terpusat yang mengajak seluruh anggota tim terlibat dalam diskusi berbasis topik, berbagi pengetahuan dan ide, mengembangkan proyek, serta membangun komunitas dan kultur kerja tim yang lebih baik lagi. Memulai transisi Transisi dari Google Currents menjadi Google Spaces sepenuhnya telah dimulai. Google sudah menonaktifkan beberapa fitur yang ada di Currents, terutama fitur-fitur dengan tingkat penggunaan rendah. Untuk detail selengkapnya, Anda dapat menuju Pusat Bantuan yang disediakan Google. Proses transisi ini bisa dilakukan sepenuhnya oleh Administrator. Jika perusahaan Anda saat ini menggunakan Google Currents, detail mengenai proses transisi dan migrasi konten akan diumumkan dalam waktu dekat. Untuk sekarang, Google Spaces telah tersedia bagi seluruh pengguna platform Google Workspace. Selain untuk perusahaan, layanan komunikasi ini juga bisa digunakan oleh para pemilik Google Accounts pribadi. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Dengan kehadiran Spaces maka Google pun mulai pelan-pelan menonaktifkan fitur pada aplikasi pendahulunya, Currents. Bagi Anda yang sudah menggunakan Currents tak perlu khawatir karena nantinya Google akan menyediakan informasi lengkap mengenai migrasi konten dari Currents ke Spaces. Hadirnya Spaces menunjukkan komitmen Google untuk menciptakan suatu ekosistem kolaborasi yang lebih dinamis. Tertarik untuk mulai menggunakan Spaces sebagai media komunikasi internal perusahaan Anda? Gunakan paket Google Workspace untuk perusahaan. Dapatkan Google Workspace dengan sertifikasi legal hanya melalui EIKON Technology yang merupakan authorized reseller untuk produk-produk Google di Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, klik di sini!

Google Cloud

Lebih Jauh Mengenai Autoscaling pada Bigtable dan Analisis Penghematan Biayanya

Cloud Bigtable merupakan sebuah layanan terkelola sepenuhnya yang dapat menskalakan data dengan cepat dan hanya lewat satu tombol saja. Sedang menggunakan layanan ini? Anda dapat melakukan konfigurasi ukuran klaster untuk menghasilkan throughput puncak atau menskalakan data secara terprogram agar sesuai dengan workload. Bigtable kini juga telah mendukung Autoscaling  untuk skala otomatis, memungkinkan Anda mencapai pengelolaan yang lebih baik. Dalam sebuah eksperimennya, Google Cloud menemukan bahwa Autoscaling mampu mengurangi biaya workload diurnal umum (yang dijalankan siang hari) lebih dari 40%. Bayar sesuai kebutuhan Saat menggunakan Bigtable, Anda hanya perlu membayar sesuai kebutuhan saat Autoscaling diaktifkan. Layanan ini secara otomatis menambah atau mengurangi kapasitas sebagai respons terhadap perubahan tuntutan workload Anda. Autoscaling mengklaim penggunanya akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus hal lain yang lebih penting dan mendesak karena masalah pengelolaan infrastruktur. Penerapan Autoscaling mereduksi kemungkinan terjadinya overhead karena manajemen penyediaan kapasitas telah dikelola sedemikian rupa. Autoscaling untuk saat ini telah berfungsi pada klaster HDD sekaligus SDD dan tersedia di seluruh wilayah Bigtable. Mulai menerapkan Bigtable Autoscaling pada Bigtable dikonfigurasi pada tingkat klaster dan dapat diaktifkan menggunakan Cloud Console, fitur command line, gcloud, Cloud Bigtable Admin API, dan library klien Bigtable. Dengan mengaktifkan Autoscaling, Bigtable secara otomatis akan menskalakan jumlah node dalam setiap klaster sebagai respons terhadap perubahan pemanfaatan kapasitas. Bahkan, risiko yang terkait dengan perkiraan kapasitas yang salah pun dapat diturunkan secara signifikan. Hal tersebut mencakup: penyediaan berlebihan (biaya tak perlu) dan kekurangan penyediaan (kehilangan peluang bisnis). Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Autoscaling dapat diaktifkan untuk klaster yang ada atau telah dikonfigurasikan dengan klaster baru. Anda akan memerlukan dua informasi: penggunaan sebuah CPU target dan sebuah lingkup untuk menjaga jumlah node Anda tetap ada di dalam. Layanan ini tidak memerlukan perhitungan, pemrograman atau pemeliharaan yang rumit. Hanya saja, Anda harus selalu memperhatikan jumlah node maksimum. Dalam satu lingkup, tidak boleh lebih dari 10 kali jumlah node minimum. Pemanfaatan penyimpanan merupakan salah satu faktor dalam Autoscaling, tapi target penggunaan penyimpanan ditetapkan oleh Bigtable dan tidak dapat dikonfigurasi. Berikut adalah contoh yang menunjukkan cara mengaktifkan Autoscaling dengan Cloud Console dan command line. Dua cara ini diklaim sebagai cara tercepat untuk memulai. Menggunakan Cloud Console Saat membuat atau melakukan pembaruan pada sebuah instance melalui Cloud Console, Anda dapat memilih antara alokasi node manual (Manual node allocation) atau Autoscaling. Jika Anda memilih Autoscaling, bisa langsung mulai melakukan konfigurasi lingkup node dan target penggunaan CPU. Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan command line Untuk mulai melakukan konfigurasi Autoscaling melalui tool command line yang ada pada gcloud, Anda cukup mengubah parameter Autoscaling saat membuat atau memperbarui klaster. Berikut langkah-langkahnya: Memperbarui klaster yang sudah ada 01  gcloud bigtable clusters update –instance my-instance my-cluster-c1 –autoscaling-min-nodes 1 –autoscaling-max-nodes 10 –autoscaling-cpu-target 60 Membuat klaster baru 01  gcloud bigtable clusters create –instance my-instance my-cluster-c1 –zone=asia-east1-c –autoscaling-min-nodes=1 –autoscaling-max-nodes=10 –autoscaling-cpu-target=60 Photo Credit: Google Cloud Blog Kapan waktu yang tepat untuk menerapkan Bigtable pada workload Bigtable merupakan cara yang fleksibel untuk berbagai kasus penggunaan dengan profil traffic dinamis. Autoscaling pada Bigtable mungkin tidak selalu menjadi konfigurasi yang tepat untuk perusahaan Anda, jadi berikut adalah beberapa panduan kapan penerapan Autoscaling yang ideal. Kapan menggunakan Autoscaling Anda adalah pengguna lama Bigtable yang ingin mengoptimalkan biaya sambil mempertahankan kinerja klaster. Misalnya: pola traffic yang ada pada ritel online. Anda pengguna Bigtable baru atau memiliki workload baru. Menyediakan kapasitas yang cukup untuk memenuhi kasus penggunaan yang tidak diketahui jelas sulit. Bisnis sedang berkembang, namun Anda tidak yakin sejauh mana perkembangannya di masa depan nanti. Anda ingin mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan apa pun. Evaluasi penghematan biaya Google Cloud melakukan sebuah eksperimen sebuah workload yang dijalankan selama 12 jam. Eksperimen tersebut membandingkan biaya yang dikeluarkan saat menggunakan dan tidak menggunakan Autoscaling. Katakanlah biaya satu node Bigtable adalah US$0.65/jam per node. Maka akan terlihat perhitungan biaya seperti di bawah ini: Photo Credit: Google Cloud Blog Pada tabel di atas terlihat bahwa penggunaan Autoscaling dapat menghemat biaya hingga US$87.05 atau dalam persentase berarti sekitar 70%. Baca juga: Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud Dengan memanfaatkan fungsi Autoscaling pada Cloud Bigtable Anda akan punya lebih banyak waktu untuk mengurus keperluan bisnis lainnya. Dari segi ekonomi, Autoscaling juga terbukti lebih hemat dibanding dengan penerapan skala manual. Penggunaan komputasi awan secara umum memang telah terbukti mampu menyederhanakan berbagai proses bisnis. Ingin memigrasikan proses bisnis Anda pada cloud? Google melalui Google Cloud menawarkan solusi untuk Anda. Platform ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology, authorized reseller Google untuk Indonesia. Informasi selengkapnya klik di sini!

Google Cloud

Apa Itu Fungsi Autoscaling yang Baru Diluncurkan di Cloud Bigtable?

Cloud Bigtable merupakan sebuah layanan database NoSQL yang skalabel yang dirancang khusus untuk mengelola beban kerja operasional dan analitis besar. Layanan ini telah digunakan oleh banyak perusahaan besar seperti Twitter dan The Home Depot. Bigtable memiliki lebih dari 10 Exabytes data terkelola dan mampu memproses lebih dari 5 miliar permintaan per detik secara optimal. Sejak pertama kali diperkenalkan, Bigtable terus dikembangkan. Dalam update terbarunya, layanan ini menyediakan sebuah kemampuan baru yakni Autoscaling. Secara garis besar, Autoscaling digunakan untuk menambah atau mengurangi kapasitas sebagai respons atas perubahan permintaan pada aplikasi Anda. Mari simak penjelasan selengkapnya mengenai fungsi Autoscaling pada Cloud Bigtable berikut. Berfungsi optimalkan biaya Kecepatan digitalisasi yang terus meningkat di sebagian besar aspek kehidupan pada akhirnya mendorong konsumsi pengalaman digital. Bagi pemilik aplikasi, fenomena tersebut jelas akan meningkatkan permintaan pelanggan. Oleh karenanya, kemampuan untuk meningkatkan dan menurunkan skala aplikasi agar bisa merespon perubahan permintaan pelanggan dengan cepat menjadi sangat penting bagi pemilik bisnis. Autoscaling pada Cloud Bigtable secara otomatis akan mengelompokkan jumlah node dalam klaster ke atas atau bawah sesuai tuntutan penggunaan yang berubah. Secara signifikan, hal tersebut akan menurunkan risiko penyediaan yang berlebihan dan menimbulkan biaya yang sebenarnya tidak diperlukan. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Bantu tingkatkan pengelolaan Photo Credit: Google Cloud Blog Tidak hanya itu, fungsi Autoscaling yang ada di Cloud Bigtable juga memiliki akses langsung menuju server Bigtable. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan solusi scaling otomatis yang sangat responsif. Pelanggan dapat menentukan konfigurasi Autoscaling untuk klaster Bigtable mereka dengan Cloud Console, gcloud, Bigtable admin API, bahkan library mereka. Solusi ini berfungsi pada klaster SSD maupun HDD dan tersedia di semua sektor Bigtable. Siapkan 2x batas penyimpanan  Sekarang ini data dihasilkan dengan kecepatan yang luar biasa. Di saat yang bersamaan, banyak aplikasi membutuhkan akses menuju data tersebut untuk memberikan pengalaman pelanggan yang unggul. Namun sayangnya, saluran data yang mendukung kemampuan tersebut perlu throughput tinggi dan akses latensi yang rendah untuk menuju data dalam jumlah besar. Nah, untuk memenuhi kebutuhan workload yang disokong penyimpanan, Bigtable telah menggandakan kapasitas penyimpanan per node hingga dua kali lipat. Jadi, Anda bisa menyimpan lebih banyak data dan tidak perlu lagi menekan kebutuhan data.  Pengelolaan dengan grup klaster Photo Credit: Piqsels Kebanyakan perusahaan yang ada saat ini harus melayani pengguna dari berbagai wilayah sambil terus memberikan pengalaman terbaik untuk mereka. Guna mendukung fungsi Autoscaling, Bigtable juga meluncurkan sebuah kemampuan untuk menerapkan instance Bigtable di lebih dari 8 wilayah sekaligus. Jadi, Anda bisa menempatkan data sedekat mungkin dengan para end users. Jumlah wilayah yang lebih banyak akan membantu memastikan aplikasi Anda punya performa optimal untuk memberikan pengalaman pelanggan yan konsisten, di mana pun pelanggan Anda berada. Update lain dari Bigtable Selain fungsi Autoscaling, pada update baru Bigtable Anda juga bisa menemukan fungsi yang akan membantu Anda mengurangi biaya dan overhead manajemen, yaitu: Batas penyimpanan 2X Memungkinkan Anda untuk menyimpan lebih banyak data dengan harga lebih murah, terutama berharga untuk beban kerja penyimpanan yang telah dioptimalkan. Grup klaster Memberikan fleksibilitas untuk menentukan bagaimana Anda mengarahkan lalu lintas aplikasi untuk memastikan pengalaman yang luar biasa bagi para pelanggan. Metrik pemanfaatan yang lebih terperinci Meningkatkan kemampuan pengamatan, pemecahan masalah yang lebih cepat, dan manajemen beban kerja yang lebih baik. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Cloud Bigtable merupakan sebuah layanan database NoSQL untuk mengelola beban kerja operasional dan analitis besar. Bagi Anda pemilik aplikasi yang memiliki pengguna yang tersebar di berbagai wilayah, Bigtable adalah sebuah solusi efisien. Terlebih dengan adanya fungsi baru Autoscaling. Layanan komputasi awan belakangan ini memang berkembang dengan pesat. Semakin hari perkembangan cloud pun semakin bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Belum menggunakan cloud di perusahaan Anda? Dapatkan solusi Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda hanya di EIKON Technology, authorized reseller untuk produk-produk Google di Indonesia. Informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Cloud

Mengintip Solusi Digital Assets Team yang Baru Diluncurkan Google Cloud

Kemunculan teknologi blockchain memunculkan inovasi yang luar biasa dan memperkenalkan suatu nilai baru bagi konsumen di seluruh dunia. Blockchain juga menunjukkan bahwa teknologi menjadi sangat umum pemakaiannya sekarang ini. Era di mana teknologi menjadi mainstream membuat perusahaan-perusahaan memerlukan infrastruktur yang scalable, aman, dan tentunya berkelanjutan. Google Cloud sebagai penyedia layanan komputasi awan membaca situasi ini dan memberikan solusi berupa Digital Assets Team. Solusi ini dirancang untuk mendukung kebutuhan konsumen dalam pembangunan, bertransaksi, menyimpan nilai, dan menerapkan produk baru pada platform berbasis blockchain. Bagaimana layanan Digital Assets Team ini bekerja.  Fungsi Digital Assets Team Blockchain serta perusahaan berbasis buku besar yang terdistribusi seperti Dapper Labs, Hedera, dan Theta telah menggunakan solusi dari Google Cloud untuk mencapai skalabilitas, fleksibilitas, dan juga keamanan. Di masa mendatang Digital Assets Team Google Cloud akan melakukan sejumlah inisiatif, baik itu jangka pendek maupun panjang untuk mendukung perusahaan di ranah aset digital atau ekosistem blockchain, termasuk di antaranya adalah: Menyediakan node hosting/node remote procedure call (RPC) khusus untuk developer, memungkinkan pengguna untuk menerapkan validator blockchain di Google Cloud melalui hanya dengan satu klik. Berpartisipasi dalam validasi node dan tata kelola on-chain dengan mitra terpilih. Membantu pengembang dan pengguna melakukan hosting node mereka pada cloud terbersih di industri, mendukung inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka. Mendukung tata kelola on-chain melalui partisipasi dari eksekutif dan insinyur senior Google Cloud. Photo Credit: Piqsels Hosting beberapa kumpulan data BigQuery publik di Marketplace Google Cloud, termasuk riwayat transaksi blockchain lengkap untuk Bitcoin, Ethereum, Bitcoin Cash, Dash, Litecoin, Zcash, Theta, Hedera Hashgraph, Band Protocol, Polygon, XRP, dan Dogecoin. Mendorong pengembangan bersama dan integrasi ke dalam ekosistem mitra Google yang tangguh, termasuk berpartisipasi di Google Cloud Marketplace. Merangkul inisiatif go-to-market bersama dengan mitra ekosistem kami di mana Google Cloud dapat menjadi jaringan penghubung antara perusahaan tradisional dan teknologi blockchain. Menjajaki peluang di masa mendatang untuk memungkinkan pelanggan Google Cloud melakukan dan menerima pembayaran dengan mata uang kripto.  Baca juga: Kelebihan Service Directory Google Cloud Pendekatan Google terhadap Blockchain dan Aset Digital Photo Credit: Piqsels Hadirnya blockchain dan aset digital telah mengubah cara dunia dalam menyimpan dan memindahkan informasi beserta nilainya. Google Cloud memandang evolusi teknologi blockchain dan jaringan terdesentralisasi yang ada saat ini serupa dengan kemunculan open source dan internet 10-15 tahun yang lalu. Sama seperti pengembangan open source yang merupakan bagian integral dari permulaan internet, blockchain pun menghasilkan inovasi dan penciptaan nilai bagi konsumen dan bisnis. Alasan inilah yang kemudian mendukung Google Cloud untuk menerapkan teknologi mereka ke pasar blockchain dengan menerapkan prinsip berikut: Konsisten dengan bisnis inti Google Cloud Bisa dibilang, Google Cloud adalah spesialis dalam inovasi yang didukung data dengan infrastruktur terkemuka, solusi industri, dan teknologi mutakhir lainnya. Google hingga saat ini terus mengejar proyek dan kemitraan blockchain yang selaras dengan misi mereka. Kepercayaan dan tata kelola pengguna Jaringan Blockchain menimbulkan pertanyaan baru mengenai kepatuhan hukum dan privasi pengguna. Google mendukung hal tersebut dengan menetapkan komitmen terhadap privasi dan kepercayaan pengguna, serta fokus tanpa kompromi pada kepatuhan terhadap hukum yang berlaku. Baca juga: Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud Digital Assets Team merupakan sebuah solusi yang lahir untuk menjawab perubahan teknologi. Kemunculan blockchain dan aset digital memang mau tak mau mengubah persepsi mengenai penyimpanan dan nilai suatu informasi. Bagi Anda yang tidak ingin tertinggal perkembangan teknologi yang begitu pesat, Google menawarkan layanan komputasi awan melalui Google Cloud. Penerapan Google Cloud dirancang fleksibel sehingga bisa digunakan oleh pengguna pribadi maupun perusahaan. Dapatkan produk Google Cloud resmi dan bergaransi hanya di EIKON Technology, authorized reseller untuk produk-produk Google. Informasi selengkapnya klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Harga Microsoft 365 Akan Berubah Maret 2022? Berikut Penjelasannya!

Memasuki tahun 2022, terdengar berita bahwa harga Microsoft 365 akan mengalami perubahan. Kabar tersebut nyatanya memang bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, informasi perubahan harga Microsoft 365 sebenarnya sudah pernah disampaikan. Tepatnya pada bulan Agustus 2021, Jared Spataro yang merupakan Microsoft’s Corporate Vice President for Microsoft 365 mengungkapkan rencana perubahan harga. Spataro juga menyampaikan detail mengenai kapan perubahan tersebut mulai berlaku, yaitu di tanggal 1 Maret 2022. Mengingat tanggal tersebut semakin dekat, mari simak detail apa saja yang harus Anda ketahui mengenai harga baru Microsoft 365 berikut. Harga baru dan premi bulanan Photo Credit: Piqsels Sesuai dengan blog yang ditulis Jared Spataro, perubahan harga Microsoft 365 akan efektif per 1 Maret 2022 dan berlaku untuk seluruh pengguna. Bagi Anda yang ingin mempertahankan lisensi Office 365 dan membayar tiap bulan, maka akan dikeani tambahan premi 20% yang akan ditambahkan ke tagihan bulanan. Berikut adalah perubahan harga untuk masing-masing paket Microsoft 365: Paket Business Business Basic: naik dari US$5 menjadi US$6/pengguna/bulan. Business Premium: naik dari US$20 menjadi US$22/pengguna/bulan. Paket Enterprise Office 365 E1: naik dari US$8 menjadi US$10/pengguna/bulan. Office 365 E3: naik dari US$20 menjadi US$23/pengguna/bulan. Office 365 E5: naik dari US$35 menjadi US$38/pengguna/bulan. Microsoft 365 E3: naik dari US$32 menjadi US$36/pengguna/bulan. Perlu diingat juga, setelah aturan baru ini berlaku, Anda juga tidak diperkenankan untuk menurunkan versi lisensi Anda ke paket yang lebih sederhana. Misalnya, dari Office 365 E3 turun ke E3 selama perjanjian berlangsung. Baca juga: Upgrade Terbaru Microsoft 365 Menyambut Windows 11 Perkembangan Microsoft 365 Microsoft 365 yang dulunya bernama Office 365 telah melahirkan banyak produk. Menariknya, produk-produk dari Microsoft 365 juga menunjukkan perkembangan yang mengesankan selama dekade terakhir ini. Peningkatan tersebut mencakup peluncuran 24 aplikasi baru seperti platform kolaborasi Microsoft Teams. Selain itu, Microsoft juga meningkatkan sistem keamanan, termasuk di dalamnya adalah fitur pencegahan kehilangan data, manajemen perangkat seluler, hingga reduksi serangan permukaan. Photo Credit: Microsoft Bicara soal perubahan harga, jika ditarik ke belakang, sebenarnya Microsoft selalu menerapkan perubahan harga minimal selama dekade terakhir ini. Terlebih jika mengingat kecanggihan dan keberagaman resources yang digunakan Microsoft untuk mengembangkan layanan mereka. Masa pandemi pun sedikit banyak berpengaruh. Di masa pandemi, pekerjaan jarak jauh menjadi sangat lumrah. Guna memenuhi kebutuhan tersebut dengan optimal maka Microsoft 365 pun terus ditingkatkan. Hasilnya, bisa Anda nikmati melalui berbagai produk dan layanan mereka seperti Microsoft Teams. Cara mengunci tarif saat ini dan menghindari premi bulanan Photo Credit: Piqsels Jika dilihat dari sisi perusahaan yang menggunakan layanan Microsoft 365, perubahan harga ini jelas akan memengaruhi sejumlah keputusan. Perusahaan harus menghitung baik-baik mana opsi yang lebih efisien, mengunci sejumlah lisensi dengan biaya yang ditetapkan (paket tahunan) atau justru memilih fleksibilitas dengan menambah atau mengurangi jumlah lisensi seiring berjalannya waktu. Terdapat opsi untuk mendaftarkan perjanjian lisensi 1-3 tahun sebelum Maret 2022 dengan harga paket tahunan yang baru. Langkah ini bisa menjadi alternatif jika Anda ingin menghindari tambahan 20% premi untuk paket langganan per bulan. Baca juga: 3 Cara Untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud Di Microsoft Azure Perubahan harga ini akan berlaku secara global dengan penyesuaian pasar lokal untuk wilayah tertentu. Sedikit tambahan informasi, tidak ada perubahan harga untuk produk pendidikan dan konsumen untuk saat ini. Masih bingung memutuskan sebaiknya memperpanjang paket langganan tahunan atau justru beralih pada lisensi bulanan? Jangan khawatir, di EIKON Technology, sebelum memilih paket Microsoft 365, Anda bisa berkonsultasi dengan tim terlebih dulu. Tim EIKON Technology akan membantu Anda menemukan versi dan tentunya paket langganan yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini!

Google Cloud

Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMwere Engine

Google Cloud VMware Engine memungkinkan Anda untuk menerapkan lingkungan VMware yang terkelola dengan bantuan hardware khusus dalam hitungan menit, memberikan fleksibilitas untuk menambah dan menghapus node ESXi sesuai permintaan. Fleksibilitas tersebut akan meningkatkan kapasitas komputasi dengan cepat sesuai kebutuhan. Dalam penerapannya, terdapat risiko pembengkakan biaya. Untuk itu, sebaiknya Anda menerapkan strategi pengoptimalan biaya dan melakukan peninjauan. Ulasan kali ini akan membahas beberapa strategi yang bisa Anda terapkan untuk mengoptimalkan biaya penerapan Google Cloud VMware Engine. Seperti apa langkah-langkahnya? Gunakan Committed Use Discounts Photo Credit: Piqsels Committed Use Discounts atau CUDs merupakan potongan harga yang dihitung berdasarkan penggunaan sejumlah node Google Cloud VMware Engine pada region tertentu untuk jangka waktu satu atau tiga tahun. Anda bisa menerapkan diskon ini untuk jumlah minimal node yang akan dijalankan selama periode satu atau tiga tahun. Dengan menjadikan Google Cloud VMware Engine sebagai platform target migrasi Anda, jumlah node pun bisa diubah secara berkala. Optimasi konsumsi penyimpanan Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memastikan konsumsi penyimpanan tidak berlebihan di antaranya: Terapkan kebijakan penyimpanan khusus Alih-alih menerapkan RAID 1 (kebijakan penyimpanan default), sebaiknya pilih RAID 5 atau RAID 6. Sebab, kebijakan penyimpanan yang menggunakan RAID 1 dengan nilai Failures to Tolerance (FTT)=1 cenderung menimbulkan overhead penyimpanan hingga 100%. Sebab, skema blok data RAID 1 menunjukkan pola pengulangan yang tak perlu. Buat disk baru Buatlah disk baru menggunakan format “Thin Provisioning”. Format tersebut akan menghemat ruang penyimpanan. Sebab, Thin Provisioning tidak langsung meluas. Ukurannya akan mengikuti jumlah data yang ditulis ke disk. Baca juga: Menggunakan Google Cloud Spot VMs untuk Menjalankan Workloads dengan Efisien Jangan letakkan Backup pada penyimpanan vSAN Alat pencadangan seperti Actifo menyediakan integrasi lingkungan VMware dan Cloud Storage yang memungkinkan operator memindahkan Backup ke lokasi penyimpanan yang lebih terjangkau. Hindari menyimpan Backup pada penyimpanan vSAN karena lebih boros. Memilih ukuran yang tepat untuk klaster ESXi Photo Credit: Piqsels Mengatur ukuran klaster ESXi Dengan mengatur klaster ESXi sedemikian rupa, maka penggunaan CPU, memori, dan penyimpanan berada pada level tertinggi tapi mendukung penghentian node ESXi tanpa kegagalan workloads. Sebab, mengoperasikan klaster dengan pemanfaatan resources yang mendekati kapasitas penuh dapat menyebabkan pemadaman. Konsolidasi klaster ESXi Jika Anda menjalankan workloads di beberapa klaster, tinjau apakah ada klaster yang dapat dikonsolidasikan untuk penyeimbangan resources yang lebih efisien di seluruh klaster. Konsolidasi Private Clouds Tinjau apakah Private Clouds dapat dikonsolidasikan jika Anda menjalankan lebih dari satu clouds Setiap Private Cloud memerlukan set management VM sendiri. Hal ini bisa menyebabkan overhead pada konsumsi resources secara keseluruhan. Tinjau pemanfaatan resource pada workloads Coba tinjau pemanfaatan resource pada VM setelah menjalankan aplikasi dalam kondisi stabil. Ekstrak metrik vCenter memberikan rekomendasi ukuran yang tepat secara terprogram. Misalnya, jika diketahui bahwa VM mengonsumsi lebih banyak resource CPU dan memori dari seharusnya, sesuaikan parameter VM selama waktu henti aplikasi yang sudah dijadwalkan sebelumnya (memerlukan reboot). Pertimbangkan untuk menjadwalkan eksekusi script yang mengekstrak statistik penggunaan CPU dan memori dari vCenter dan menyimpan data dalam format seperti CSV. Cara ini dapat diimplementasikan dengan PowerShell dari host eksekusi script. Photo Credit: Google Cloud Blog Tentukan kriteria untuk memberikan karakterisasi pada workloads, entah itu terlalu banyak atau justru kurang dimanfaatkan. Caranya adalah dengan membandingkan rata-rata penggunaan CPU dan memori selama minimal 30 hari dengan nilai ambang batas yang wajar. Simak contoh kondisi berikut: Penggunaan CPU (rata-rata 30-hari dan 1-tahun), maka persentasenya kurang dari 50%. Penggunaan CPU (maksimal 30-hari dan 1-tahun), maka persentasenya kurang dari 80%. Terlepas dari rekomendasi di atas, sebaiknya hindari membuat perubahan mendadak dan selalu tinjau data dengan cermat terhadap persyaratan workloads. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, Anda dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan dalam penerapan Google Cloud VMware Engine. Sebelum menerapkannya, pastikan lisensi Google Cloud Anda masih aktif ya. Jika lisensi Anda sudah nonaktif, segera perbarui dengan lisensi produk resmi agar pekerjaan tidak terhambat. Anda bisa memilih paket Google Cloud sesuai kebutuhan perusahaan. Tim EIKON Technology akan membantu Anda untuk menentukan mana paket yang paling cocok. Produk yang akan Anda dapatkan pun dijamin asli dan berlisensi resmi Google. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Alasan Mengapa BigQuery Connector for SAP Dapat Memperkuat Strategi Analitis Data Cloud Anda

BigQuery Connector for SAP merupakan sebuah data warehouse yang dirancang Google Cloud untuk mengintegrasikan data SAP dengan BigQuery. Merupakan sebuah solusi tanpa server, skalabel, dan hemat biaya. Bagaimana cara menggunakan BigQuery Connector for SAP ini untuk memperkuat strategi analitis data cloud? Solusi untuk integrasi data yang disederhanakan Para pelanggan SAP tentu ingin membuka peluang dalam penyimpanan data untuk mengembangkan bisnis mereka. Namun, sayangnya banyak yang menemukan betapa sulitnya mengambil langkah pertama dalam strategi analitis data modern yang diaktifkan cloud. Menurut studi yang dilakukan SAPInsider 2020, lebih dari setengah pelanggan SAP yang disurvei merasa bahwa integrasi data termasuk dalam hambatan teratas mereka. Photo Credit: Piqsels BigQuery Connector for SAP menawarkan sebuah solusi untuk membuat data SAP dapat diakses sepenuhnya dalam BigQuery dengan memanfaatkan perangkat dan skill SAP Landscape Transformation Replication Server (SLT) milik pelanggan. Platform ni merupakan penghubung SAP SLT langsung yang mendekati real-time pertama untuk BIgQuery. Dengan memanfaatkan BigQuery Connector for SAP, Anda tidak perlu lagi menyiapkan infrastruktur tambahan atau middleware pihak ketiga dan dapat diterapkan menggunakan berbagai opsi penerapan yang disematkan atau berdiri sendiri. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Selain itu, BigQuery Connector for SAP tidak dibatasi untuk pelanggan yang telah menerapkan aplikasi SAP mereka di Google Cloud. Pelanggan yang menjalankan aplikasi SAP  on-premise atau di cloud apa pun, juga dapat menerapkan dan menyadari manfaat analitis dari solusi tersebut. Merancang solusi yang fokus pada kebutuhan pelanggan dan investasi jangka panjang Photo Credit: Piqsels BigQuery Connector for SAP dirancang untuk menghadirkan solusi atas permasalahan yang umum terjadi, di antaranya: Kebutuhan performa real-time dengan delta yang direplikasi dalam milidetik. Kemampuan untuk mengintegrasikan data dari hampir semua aplikasi berbasis SAP Netweaver yang berjalan saat ini, terlepas dari lokasi penerapannya (baik untuk on-premises, Google Cloud atau cloud apa pun). Pemetaan jenis data BigQuery otomatis dengan transformasi minimal. Pembuatan tabel target di BigQuery yang langsung dari sumber, jika diperlukan. Integrasi lapisan aplikasi yang menghindari masalah akses database langsung. Memanfaatkan skill sets SAP milik pelanggan, mengubah pengambilan data dan infrastruktur. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,, BigQuery Connector for SAP memanfaatkan SAP SLT sebagai dasar untuk mengembangkan replikasi data langsung antara SAP dan BigQuery untuk lanskap perusahaan internalnya. SLT sebagai bagian dari strategi Business Technology Platform SAP mendukung replikasi data SAP atau sistem pihak ketiga ke SAP HANA secara real-time. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Integrasi data SAP dengan BigQuery  Dengan memanfaatkan SAP SLT, BigQuery Connector for SAP dapat mengintegrasikan aliran data real-time dari sistem SAP mana pun sambil memanfaatkan investasi dan skill sets SAP yang sudah dimiliki pelanggan. Di waktu yang sama, BigQuery Connector for SAP melakukan banyak pekerjaan berat sendiri. Misalnya, secara otomatis menangani proses multi-langkah yang kompleks untuk mengubah tipe data SAP untuk digunakan di BigQuery, memetakan transisi jenis data antara lingkungan SAP dan BigQuery, membuat skema tabel target di BigQuery untuk jenis data yang diubah, membangun tabel BigQuery, dan bahkan beradaptasi saat tipe data baru muncul di lingkungan SAP Anda. Photo Credit: Piqsels Bagi Anda yang ingin menyempurnakan rekomendasi otomatis BigQuery Connector for SAP, konektor ini mendukung tingkat penyesuaian dan pilihan tambahan. Namun jika Anda hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dan memberikan dukungan yang lebih besar kepada tim analisis, BigQuery Connector for SAP telah menyediakan fitur untuk mengubah data integrasi yang rumit menjadi lebih sederhana. BigQuery Connector for SAP merupakan tool yang memungkinkan penggunanya untuk mengangkut dan mengubah data SAP menjadi solusi analisis daya yang diaktifkan oleh akselerator seperti Google Cloud Cortex Framework, seperangkat arsitektur referensi yang komprehensif, akselerator penerapan, dan layanan integrasi yang dirancang untuk memberikan jalur cepat dan mulus bagi pelanggan. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud BigQuery Connector for SAP akan bekerja dengan optimal dalam ekosistem Google Cloud. Belum menggunakan solusi komputasi awan dari Google? Anda bisa mendapatkan Google Cloud dengan lisensi resmi hanya di EIKON Technology. Bingung menentukan mana paket yang paling tepat untuk Anda? Tim EIKON Technology siap membantu Anda mulai dari konsultasi hingga penerapan produk. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology.

Scroll to Top