EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Cloud Computing, Google Cloud

Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud

Tanpa disadari, keseharian manusia saat ini dekat dengan sistem rekomendasi, terutama dalam kehidupan di dunia maya. Bingung menentukan makan malam? Cek rekomendasi. Ingin mendengarkan lagu baru? Lihat rekomendasi dari aplikasi streaming. Ingin mencari produk yang serupa? Marketplace telah menyediakan rekomendasi untuk Anda. Dalam sebuah artikel di website Verge, diketahui bahwa sistem rekomendasi dari tim Google Brain telah memengaruhi dinamika kunjungan ke platform streaming video, YouTube. Lebih dari 70% waktu yang dihabiskan pengguna, ternyata dipengaruhi oleh rekomendasi dari algoritma YouTube. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sekitar 20x lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Fakta tersebut membuktikan bahwa rekomendasi kini bukan lagi sekadar menjadi pembeda bagi suatu organisasi, tapi juga menjadi suatu hal yang memang dibutuhkan konsumen dalam keseharian mereka. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai membangun sistem rekomendasi sendiri, Google Cloud menyediakan pendekatan yang patut dicoba. Sistem rekomendasi tersebut terdiri dari Matrix Factorization pada BigQuery Machine Learning (BQML), Recommendations AI, serta Two-Tower built-in algorithm. Bagaimana cara kerjanya? Mulai dengan Matrix Factorization dari BQML Dalam membangun sebuah sistem rekomendasi, collaborative filtering merupakan model dasar. Lalu, mengapa harus menggunakan Matrix Factorization BQML? Ini karena Matrix Factorization sendiri merupakan model yang menerapkan collaborative filtering. Kemudan, BQML memungkinkan Anda untuk dapat membuat sekaligus menjalankan model tersebut dengan SQL standar langsung di gudang data. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Collaborative filtering dimulai dengan membuat interaction matrix. Dalam matriks ini, pengguna ditulis sebagai baris dan produk sebagai kolom yang ada di kumpulan data Anda. Seringkali, tidak tampak interaksi antara baris dan kolom karena tidak semua pengguna berinteraksi dengan seluruh produk yang Anda. Nah, di sinilah embeddings berperan untuk menghasilkan penyematan bagi pengguna. Dengan begitu, Anda bisa mengelompokkan beberapa produk yang mirip atau sesuai dengan kategori produk yang dicari pengguna. Photo Credit: Google Cloud Blog Melanjutkan dengan Recommendations AI Recommendations AI merupakan sebuah layanan yang terkelola sepenuhnya dan berfungsi untuk membantu organisasi dalam menerapkan sistem rekomendasi skalabel. Layanan ini bekerja dengan menggunakan pendekatan deep learning canggih. Termasuk di dalamnya adalah arsitektur mutakhir seperti two-tower encoders. Photo Credit: Google Cloud Blog Penerapan model deep learning akan meningkatkan konteks dan relevansi rekomendasi. Ini karena model tersebut dapat dengan mudah mengatasi keterbatasan. Recommendations AI membantu Anda memanfaatkan penyajian model deep learning sekaligus menangani MLOps yang diperlukan dalam melayani model ini secara global, tentunya dengan latensi rendah. Model secara otomatis dilatih ulang setiap harinya dan disetel ulang setiap tiga bulan sekali untuk menangkap perubahan perilaku pelanggan, tambahan produk, harga, serta promosi. Sedangkan model baru akan dilatih dengan rutinitas CI/CD yang tangguh guna memvalidasi kelayakan mode tersebut sebelum ditayangkan. Two Tower encoders Dalam membangun suatu sistem rekomendasi Anda harus selalu ingat bahwa tujuan utama yang harus dicapai adalah kemampuan untuk menampilkan kumpulan item yang paling relevan dengan kebutuhan pengguna. Item tersebut kemudian disebut sebagai kandidat dan terkadang disertai dengan informasi seperti judul, deskripsi, bahasa, jumlah tampilan, bahkan klik pada item dari waktu ke waktu. Katakanlah Anda sedang membuat sistem rekomendasi film. Tentu saja, sekarang ini film ada jutaan jumlahnya, begitu pun dengan jumlah penontonnya. Penerapan two-tower encoder akan membantu Anda dalam tahap pemilihan kandidat (retrieval) untuk setiap pengguna dan kemudian menilai, mengurutkan, dan menyajikan daftar akhir yang direkomendasikan kepada pengguna. Simak ilustrasi berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Tahap retrieval menyaring daftar kandidat yang ada dengan melakukan encoding pada kandidat dan pengguna. Dengan begitu, keduanya akan berbagi ruang penyematan yang sama. Ruang penyematan yang baik akan menempatkan kandidat yang mirip satu sama lain lebih dekat dan item yang berbeda saling berjauhan. Setelah basis data pengguna dan penyematan kandidat selesai maka Anda bisa mulai menggunakan metode pencarian terdekat untuk kemudian menghasilkan daftar kandidat akhir yang benar-benar relevan dengan pengguna. Baca juga: Merancang Technical Training Yang Lebih Mudah Diakses dengan Google Cloud Keberadaan sistem rekomendasi tanpa disadari telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini bisa menjadi peluang yang bagus bagi Anda untuk meningkatkan jumlah penjualan atau mungkin durasi kunjungan pelanggan. Google Cloud menyediakan sistem yang komprehensif dari hulu ke hilir untuk membangun suatu sistem rekomendasi yang efisien. Untuk hasil terbaik, sebaiknya gunakan Google Cloud yang telah dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Dapatkan personalized Google Cloud berlisensi hanya di EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Workspace

Kini Seluruh Paket Gratis G Suite Berubah Menjadi Google Workspace Berbayar!

Sebelum bernama Google Workspace seperti sekarang, platform produktivitas tersebut dinamai G Suite. Tahun 2020 lalu, G Suite berubah menjadi Google Workspace untuk menyongsong “masa depan dunia kerja”. Setelah transisi tersebut, plans yang tersedia G Suite berangsur-angsur dipindahkan ke Google Workspace dan di tahun 2022 ini, seluruh edisi gratis G Suite dihapuskan. Apa saja perubahan yang timbul? Notifikasi melalui email administrator Photo Credit: 9to5Google Transisi ini sebenarnya telah disampaikan melalui email administrator layanan. Dalam notifikasi tersebut, Google menyampaikan bahwa seluruh pengguna G Suite yang tersisa akan dipindahkan ke Google Workspace secara otomatis. Untuk jenis plan yang diterapkan akan mengikuti penggunaan sebelumnya di G Suite. Dengan demikian, kini paket gratis yang tersedia di Google Workspace hanyalah plans untuk Nonprofits dan Education (versi Fundamental). Jika pada G Suite layanan seperti Gmail, Google Drive, dan Documents bisa diakses secara gratis, perubahan tersebut mau tak mau membuat pengguna harus membayar. Namun dalam versi berbayar ini Anda bisa menikmati layanan baru seperti membuat domain khusus yang bisa Anda atur sendiri (tidak lagi terbatas pada gmail.com). Mekanisme billing Photo Credit: Google Workspace Bagi Anda yang bermigrasi dari G Suite ke Google Workspace diberikan waktu hingga 1 Mei 2022 untuk bisa memilih paket baru. Opsi lain adalah membiarkan Google menentukan paket untuk Anda secara otomatis. Anda tidak perlu khawatir karena pemilihan paket akan disesuaikan dengan paket yang digunakan pada edisi gratis G Suite. Perlu diingat juga, jika Anda memilih opsi kedua, maka billing atau tagihan baru akan dimulai 2 bulan setelah migrasi otomatis. Jika Anda tidak memasukkan detail billing hingga 1 Juli 2022, Google akan melakukan penangguhan akun selama 60. Selama periode penangguhan, Anda tidak akan bisa mengakses Gmail, Calendar, dan Meet. Penangguhan akan otomatis berakhir saat Anda melakukan pembayaran. Baca juga: Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran Paket Google Workspace untuk migrasi dari G Suite ini dimulai dari harga $6 per pengguna/bulan yaitu untuk paket Business Starter dan akan naik menjadi $18 /pengguna/bulan. Untuk bisnis skala kecil yang hanya memiliki satu akun Gmail juga bisa melakukan upgrade ke paket Workspace Individual seharga $9,99/bulan. Google juga menawarkan diskon selama 12 bulan atau layanan ekspor gratis data organisasi Anda. Detail mengenai penawaran ini bisa Anda simak dalam halaman dukungan Google Workspace. Migrasi atau tidak? Perubahan  dari yang semula gratis menjadi berbayar tentu akan menjadi pertimbangan untuk tetap meneruskan penggunaan layanan Google atau berpaling pada layanan lain yang serupa. Meski begitu, peningkatan layanan Google juga patut dipertimbangkan. Sejak berubah menjadi Google Workspace, ada banyak sekali fitur dan layanan yang mampu meningkatkan produktivitas kerja dengan efisien. Salah satunya adalah Integrated Gmail. Layanan ini memberikan pengalaman kolaborasi seamless yang sangat mudah dioperasikan. Selain itu, ada juga transisi Hangouts ke Google Chat. Setelah berubah menjadi Google Chat, ada banyak sekali fitur percakapan yang membuat komunikasi di dua tempat yang berbeda terasa begitu nyata tanpa hambatan. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Melakukan upgrade dari edisi lama G Suite ke Google Workspace tidak akan makan banyak waktu. Prosesnya pun relatif mudah diikuti dan tidak akan mengganggu end user di tempat Anda. Migrasi bahkan akan semakin mudah jika Anda membiarkan Google melakukan upgrade otomatis. Terlebih, untuk mendukung transisi ini, Google juga menawarkan opsi diskon selama 12 bulan setelah 1 Juli 2022. Jika Anda merasa kurang sreg dengan paket Google Workspace yang dipilihkan Google, masih tersedia beragam paket lain. Anda bisa memilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis. Masih ragu memilih? Tim EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai distributor resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan produk resmi bergaransi dengan proses aplikasi yang mudah. Untuk mulai konsultasi mengenai Google Workspace dengan EIKON Technology, klik di sini!

Google Cloud

10 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan Transformasi Digital Berbasis Cloud

Percepatan transformasi digital berbasis cloud memang membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan, tapi di waktu yang bersamaan juga berpotensi memunculkan tantangan. Agar bisa memiliki performa yang optimal, tetap relevan dengan pasar, dan mampu meningkatkan kualitas, perusahaan harus memprioritaskan proses adopsi cloud yang aman, terjamin, dan tentunya mendukung lingkungan teknologi baru tersebut. Pengaturan pra-adopsi cloud Adopsi cloud dalam skala besar oleh perusahaan jelas memerlukan pengaturan sejumlah aktivitas yang signifikan, termasuk di dalamnya adalah: Memikirkan kembali hasil yang didapatkan dari pemanfaatan teknologi baru serta mengatur agar hasil tersebut bisa benar-benar diterapkan dengan mengubah cara merancang, menyampaikan, dan mengelola software di seluruh bagian perusahaan. Melakukan refactoring proses keamanan, kontrol, dan tata kelola risiko guna memastikan bahwa perusahaan tetap berada dalam profil risiko yang sesuai kapasitas serta tetap mematuhi peraturan selama dan setelah transformasi. Menerapkan model organisasi dan operasi baru untuk memberdayakan peningkatan keterampilan dan kemampuan yang lebih mendalam serta mendorong penerapan budaya yang sesuai untuk mencapai kesuksesan bisnis. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Peran aktif seluruh elemen perusahaan Photo Credit: Piqsels Dari poin-poin di atas bisa disimpulkan bahwa setiap elemen perusahaan memiliki peran signifikan dalam proses transformasi digital berbasis cloud. Peranan kunci tentu tetap dipegang oleh jajaran direksi perusahaan yang bertugas mengawasi dan mendukung manajemen perusahaan dalam proses transformasi. 10 hal yang harus dipertimbangkan sebelum transformasi digital berbasis cloud Dalam melakukan transformasi digital berbasis cloud, ada banyak sekali hal yang harus diperhatikan agar perubahan tersebut memberikan hasil yang diinginkan. Berikut adalah 10 hal yang sebaiknya Anda jadikan pertimbangan saat akan melakukan  tranformasi digital berbasis cloud: Pengaturan pemanfaatan teknologi cloud Sebelum melakukan transformasi berbasis cloud, Anda harus tahu bagaimana penggunaan teknologi cloud diatur dalam perusahaan. Jangan lupa juga untuk memastikan adanya akuntabilitas yang jelas sehingga terdapat kejelasan Tingkat kesesuaian cloud Anda juga harus tahu sejauh mana tingkat kesesuaian teknologi cloud yang diterapkan dengan strategi bisnis perusahaan. Pastikan juga untuk menentukan pendekatan cloud yang sesuai agar bisa mencapai hasil yang diinginkan. Pendekatan teknis Sebelum mengadopsi teknologi cloud dalam transformasi digital perusahaan Anda, pastikan sudah ada pendekatan teknis dan arsitektur yang jelas untuk penggunaan cloud. Tujuannya adalah agar infrastruktur dan aplikasi yang Anda gunakan terpelihara dengan baik dan tetap dalam keadaan aman. Penilaian keterampilan SDM pun harus benar-benar diperhatikan sebelum mengadopsi teknologi cloud untuk transformasi digital. Ada baiknya Anda melakukan penilaian keterampilan untuk menentukan apa yang sebenarnya diperlukan perusahaan ke depannya. Photo Credit: Piqsels Model operasi Penting halnya untuk memastikan bahwa model operasi yang diterapkan perusahaan benar-benar sesuai dengan teknologi cloud. Framework risiko dan pengendalian Ketahui seperti apa profil risiko perusahaan dan potensi perubahannya di masa mendatang. Anda juga harus bisa memastikan perusahaan tetap berada pada profil risiko yang aman. Fungsi risiko dan audit Mengetahui bagaimana fungsi risiko dan audit independen menyesuaikan pendekatan mereka terkait adopsi cloud oleh perusahaan. Regulator dan otoritas lain Melibatkan regulator dan otoritas lain dalam proses adopsi teknologi cloud agar mereka bisa mengikuti perkembangan strategi organisasi dan rencana migrasi proses bisnis. Prioritas sumber daya Anda harus tahu sumber daya mana saja yang harus diprioritaskan sehingga proses adopsi cloud memungkinkan. Prioritas tersebut juga harus bisa mempertahankan fokus yang memadai dalam mengelola teknologi yang sudah ada lebih dulu. Photo Credit: Piqsels Penyedia cloud Pastikan bahwa teknologi cloud yang Anda adopsi ke perusahaan merupakan serangkaian praktek terbaik dari pihak penyedia cloud. Ada baiknya juga untuk memilih penyedia cloud yang terus meningkatkan dan memperbaiki teknologinya dari pengalaman pelanggan. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Adopsi teknologi cloud dalam transformasi digital jelas bukanlah suatu proses singkat yang langsung terlihat hasilnya. Bahkan saat nanti teknologi tersebut sudah benar-benar tertanam dalam perusahaan Anda, masih terdapat potensi perubahan. Ini karena sifat teknologi cloud yang sangat dinamis. Semoga tips mengenai hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan transformasi digital ini bisa membantu Anda. Jika memang tertarik untuk mulai mengadopsi teknologi cloud, layanan Google Cloud bisa jadi permulaan yang baik. Anda bisa mendapatkan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik di sini!

Google Workspace

Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace

Tahun 2021 membuktikan bahwa hybrid semakin sulit untuk dilepaskan dari dunia kerja. Transformasi digital sekaligus pandemi membuat banyak perusahaan beralih pada model kerja hybrid untuk menjalankan aktivitas mereka. Meski menawarkan berbagai keuntungan dan kemudahan, model kerja hybrid tentu memiliki kelemahan. Salah satu kendala yang sering ditemukan pada penerapan model kerja hybrid adalah masalah inklusi. Meeting yang dilakukan secara hybrid seringkali terasa kurang inklusif. Percakapan seolah terjadi satu arah saja dan sering kali terdapat pihak yang merasa kurang dilibatkan dalam sebuah hybrid meeting. Google Workspace yang merupakan platform kolaborasi kerja berbasis cloud berusaha memecahkan permasalahan tersebut dengan menawarkan berbagai fitur solutif. Berikut adalah beberapa fitur dari Google Workspace untuk bantu Anda ciptakan meeting dalam format hybrid yang lebih inklusif. Companion mode Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan memanfaatkan fitur Companion mode ini, seluruh peserta di ruang meeting akan saling terhubung dengan mulus, meski terpisah jarak jauh. Saat mode ini aktif, Anda juga bisa memberikan seluruh peserta akses menuju fitur host lanjutan. Anda bisa mengaktifkan Companion mode melalui laptop yang terhubung dengan perangkat keras Google Meet atau Nest Hub Max. Mode ini juga dilengkapi dengan fitur-fitur interaktif seperti chat, screen sharing, polls, hand raising, serta kontrol lanjutan untuk host meeting. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda Saat Menggunakan Google Workspace Menjadwalkan meeting Peserta meeting Anda datang dari lokasi dengan zona waktu yang berbeda? Melakukan penjadwalan jelas tidak boleh dilewatkan. Google Workspace menyediakan beberapa fitur scheduling yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan peserta meeting. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda atur dengan fitur scheduling Google Workspace: Sinkronisasi Google Calendar peserta dengan jadwal meeting untuk menghindari terjadinya bentrokan waktu. Menyesuaikan jadwal meeting dengan zona waktu masing-masing peserta. Jadi, Anda bisa mengukur mana peserta yang harus datang lebih awal dan mana peserta yang sebaiknya datang terlambat agar bisa masuk dalam panggilan meeting. Meminta peserta untuk menentukan lokasi mereka saat meeting. Melakukan rotasi peran fasilitator dan pencatat agar setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi lebih jauh. Menyiapkan meeting dengan Spaces Photo Credit: Google Cloud Blog Spaces merupakan titik pusat kolaborasi di Google Spaces. Fitur ini telah terintegrasi dengan beragam tools dari Google seperti Drive, Docs, Sheets, Slides, Meet, Gmail, Calendar, hingga Tasks. Anda bisa memanfaatkan fitur Spaces ini untuk mempersiapkan meeting. Lewat Spaces, para peserta meeting hybrid bisa meninjau dokumen yang berhubungan dengan materi presentasi. Spaces juga menyediakan ruang interaksi yang bisa digunakan untuk mendapatkan follow up dari meeting. Fitur pelengkap meeting Photo Credit: Google Cloud Blog Hybrid meeting yang baik tidak akan terasa seperti dua percakapan terpisah. Untuk meningkatkan inklusivitas dalam hybrid meeting, Google Workspace menawarkan beberapa solusi di antaranya: Menerima peserta meeting yang datang lebih awal dan menyediakan fitur check-in. Anda juga bisa memutarkan video atau tayangan untuk mengisi waktu peserta yang datang di awal waktu, Mendorong peserta untuk mengaktifkan Companion mode dan fitur hand raising di Google Meet agar komunikasi terasa lebih nyata dan tidak saling bertindihan. Mendorong Fasilitator meeting untuk berperan aktif dalam setiap meeting. Menyediakan fitur yang memudahkan peserta dalam memberikan umpan balik. Misalnya melalui fitur Agenda, Chat atau bisa juga melalui polls. Mengaktifkan teks terjemahan agar seluruh peserta meeting bisa mengikuti jalannya acara tanpa hambatan berarti. Setelah meeting selesai Tak dapat dipungkiri, hybrid meeting bisa mendatangkan kelelahan yang bahkan terasa lebih berat dibanding meeting konvensional. Nah, untuk memastikan agar para peserta rapat benar-benar mendapatkan manfaat, sebaiknya lakukan hal-hal berikut setelah meeting melalui Google Workspace berakhir: Mengirimkan catatan follow-up untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta meeting atas waktu mereka. Anda juga bisa memanfaatkan catatan ini untuk meminta umpan balik dari peserta. Sertakan catatan/rekaman, action items, dan keputusan yang diambil saat rapat agar peserta yang berhalangan hadir tidak merasa tertinggal. Unggah catatan atau temuan lain yang didapat saat meeting di Spaces. Dengan begitu, seluruh peserta bisa berkontribusi dengan mudah. Untuk rapat yang berulang, Anda bisa melakukan jajak pendapat secara rutin menggunakan Google Form. Tanyakan kepada peserta apa saja hal-hal yang sebaiknya ditingkatkan dari meeting. Jajak pendapat ini juga bisa disetel anonim agar peserta lebih leluasa dalam menyampaikan pendapat. Baca juga: Menghubungkan Karyawan Bekerja Secara Hybrid Work dengan Google Workspace Menyusun hybrid meeting yang inklusif memanglah bukan suatu perkara mudah. Akan selalu ada saat di mana komunikasi terasa tidak saling berkaitan. Memanfaatkan platform Google Workspace dan berbagai fitur di dalamnya akan bantu Anda meningkatkan inklusivitas hybrid meeting. Belum menerapkan Google Workspace pada perusahaan Anda? Kini telah tersedia Google Workspace for Business yang memang dirancang khusus untuk kebutuhan bisnis. Dapatkan segera Google Workspace for Business untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Google Workspace, klik di sini!

Google Cloud

Merancang Technical Training yang Lebih Mudah Diakses dengan Google Cloud

Akhir-akhir ini, perkembangan teknologi begitu di dinamis, termasuk dalam hal komputasi awan atau cloud. Para insinyur cloud terus-menerus dihadapkan pada rentetan layanan, produk, dan inovasi teknologi pendukung cloud baru. Hingga penghujung tahun 2021 lalu, Google Cloud sendiri telah merilis ribuan fitur baru dalam ratusan layanan yang mereka miliki. Kombinasi antara teknologi Google dengan rilisan penyedia lainnya akan sangat membantu Anda menyelesaikan tugas berat sekalipun. Meski begitu, tentunya hal tersebut bisa membuat navigasi antar cloud menjadi sangat rumit. Akan sulit bagi insinyur cloud untuk bisa menavigasi, menggunakan cloud, dan  di waktu yang bersamaan, mengikuti dinamika perkembangan lanskap teknologi. Sering kali hal ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi para insinyur cloud. Ada banyak sekali opsi training yang tersedia untuk mengejar ketertinggalan, tapi waktu dan dana yang tersedia sangatlah terbatas. Google Cloud mengadakan kembali technical training untuk para insinyur cloud. Kali ini, training disusun agar lebih informatif dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh pelanggan dan partner Google dari sektor publik. Dengan begitu, Anda bisa mengakses pelatihan dengan mudah dan tentunya tetap sesuai kebutuhan. Materi yang menarik dan sesuai kebutuhan Sekarang ini, memang ada banyak sekali pilihan training umum. Sayangnya, kebanyakan opsi yang ditawarkan masih kurang sesuai dengan teknologi sektor publik. Google Cloud menyusun kurikulum training baru yang memang difokuskan pada teknologi sektor publik. Kurikulum training terbaru dari Google Cloud disusun berdasarkan kasus-kasung penggunaan teknologi sektor publik. Menariknya lagi, materi disampaikan oleh teknisi yang memang memiliki keahlian dalam hal manajemen pelanggan. Meski padat, durasi pelatihan telah disesuaikan dengan kebutuhan para insinyur cloud sehingga bisa diselesaikan dalam waktu yang kurang dari dua jam. Artinya, peserta training bisa langsung menerapkan hasil pembelajaran pada kasus nyata yang sedang mereka hadapi. Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud Untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Mudah ditemukan, mudah diikuti Photo Credit: Piqsels Peluang untuk bisa mengikuti training harus selalu terbuka bagi para insinyur cloud, Jika tidak, mereka akan sulit mengikuti dinamika perkembangan teknologi cloud yang sangat cepat berubah. Platform pelatihan dari Google Cloud memastikan bahwa Anda hanya perlu mendaftar satu kali untuk bisa mengakses seluruh materi yang tersedia. Selain itu, sistem juga secara otomatis akan memberitahu Anda mengenai sesi yang akan datang. Jadi, Anda bisa melakukan persiapan dan mengatur jadwal sesuai kebutuhan. Jika memang belum bisa mengikuti satu sesi training, sistem akan memberikan penawaran berulang hingga Anda bisa menemukan jadwal yang cocok. Menarik dan menyenangkan Kebanyakan sesi training diisi oleh wajah-wajah yang lelah dan tidak bersemangat. Jelas para insinyur cloud memiliki kesibukan tinggi sehingga sulit fokus pada materi yang disampaikan, Namun terkadang sering ditemukan juga, penyampaian materi yang begitu kaku dan kurang “mengundang” partisipasi aktif peserta. Technical training dari Google Cloud dirancang sesuai dengan budaya kerja Google yang interaktif. Setiap materi yang tersedia telah dirancang sedemikian rupa sehingga memunculkan pertukaran interaktif antara peserta dan pemateri. Dengan begitu, peserta pun merasa ikut dilibatkan dan bisa mendapatkan inspirasi baru. Merupakan bagian dari komunitas yang lebih besar Photo Credit: Piqsels Belajar bersama atau dari komunitas partner yang sebaya, entah itu dari segi usia maupun pengalaman, merupakan salah satu cara yang efisien untuk mengatasi tantangan dan kompleksitas penerapan teknologi baru. Platform technical training dari Google Cloud telah terhubung dengan komunitas Public Sector Connect yang memungkinkan Anda untuk terkoneksi dengan para insinyur cloud lain dari berbagai belahan dunia. Komunitas ini juga menyediakan beberapa fasilitas seperti “Coffee Hours” setiap minggu dan sesi kerja kolaborasi. Melalui fasilitas tersebut, Anda bisa belajar dari para ahli yang membagikan perjalanan dan pengalaman mereka menghadapi inovasi cloud. Jadi, saat menemukan masalah suatu masalah, Anda bisa langsung menanyakan pada insinyur lain yang sudah lebih dulu menghadapinya. Baca juga: Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud Platform technical training dari Google Cloud dirancang untuk mudah diakses oleh siapa saja dan di mana saja, Selain itu, pelatihan ini juga didesain untuk dapat diikuti tanpa harus memakan waktu lama. Pelatihan tersebut bisa Anda dapatkan dengan mengakses platform technical training untuk sektor publik dari Google Cloud. Hasil pelatihan akan lebih maksimal jika langsung menerapkannya pada akun Google Cloud milik Anda. Belum menerapkan layanan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda? EIKON Technology menyediakan solusi terbaik Anda. EIKON Technology sendiri merupakan partner resmi untuk distribusi produk-produk Google di Indonesia. Jadi, keaslian produk yang Anda dapatkan melalui EIKON Technology selalu terjamin. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology!

Info

Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs

Hybrid dan multicloud cenderung menghasilkan log tanpa batas, seperti log aplikasi dan server, log yang terkait dengan layanan cloud, API, orchestrators, gateways, dan hal lain yang berjalan di lingkungan tersebut. Volume tinggi tersebut kemudian menyebabkan sistem logging menjadi lambat dan lebih sulit dikelola saat Anda memerlukannya untuk memecahkan masalah. Saat ini, rangkaian operasi Google Cloud memainkan peran penting dalam modernisasi framework aplikasi apa pun. Selain itu, Google Cloud juga semakin sering digunakan untuk memastikan keandalan dan keamanan aplikasi, menyediakan pemantauan, pencatatan, dan peringatan. Artikel kali ini akan membahas bagaimana hybrid cloud logs dari Google Cloud dapat membantu Anda untuk menemukan insights dan troubleshooting yang lebih baik. Mari pelajari bersama. Meningkatkan kualitas operasi pelanggan Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana Google Cloud bekerja mengelola lingkungan hybrid dan multicloud, mari simak studi kasus mengenai dua pengalaman pelanggan berikut: Pelanggan 1: sebuah perusahaan media besar yang bermasalah dengan pencatatan mereka yang terlalu lambat untuk bisa mendukung pemecahan masalah real-time. Pelanggan 2: sebuah penyedia telekomunikasi besar yang merasa tidak mendapatkan insights berharga dari banyak terabyte log jaringan yang mereka serap tiap harinya. Insights tersebut tidak harus datang real-time. Analisis studi kasus Photo Credit: Rawpixel Kedua pelanggan menggunakan produk open source yang dikelola sendiri dan populer untuk penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Namun seiring dengan meningkatnya volume logs mereka, biaya infrastruktur dan biaya operasional untuk mendukung logs pun ikut meningkat. Keduanya juga berbagi karakteristik berikut: Setup kedua perusahaan perlu penyimpanan SSD serta VMs besar sebagai saluran penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Kedua perusahaan menghadapi risiko karena ketergantungan pada pada satu resource untuk manajemen log mereka. Keduanya memiliki antrean data pipeline yang menumpuk. Salah satunya bahkan tidak mendapatkan log di saat mereka membutuhkan, misalnya saat mengalami kegagalan aplikasi atau infrastruktur berdampak pada SLA (service level agreement) produk dan layanan mereka). Baca juga: Cloud IDS Untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia Secara Umum Solusi yang ditawarkan Sebagai solusi, mereka perlu mengurangi biaya, mengurangi risiko kegagalan, dan menentukan volume log yang perlu mereka serap dan simpan untuk mendapatkan analytical insights. Dari situ terlihat pola yang berbeda hingga memunculkan dua opsi solusi berikut: Pelanggan 1: Melakukan routing pada log sistem dan aplikasi dari layanan hybrid dan multicloud mereka ke Cloud Logging untuk pemecahan masalah real-time serta mengurangi biaya dan beban operasional. Pelanggan 2: Melakukan routing pada log jaringan mereka langsung ke BigQuery. Dengan begitu, mereka dapat mengelola biaya dan madapatkan insights yang lebih baik. Pola 1: Cloud Logging untuk manajemen resource dan troubleshooting Pola ini cocok untuk perusahaan yang perlu memecahkan masalah berdasarkan real-time logs. Di sini, fokus utamanya terletak pada log dan metrik penting. Sedangkan log yang tidak diperlukan untuk pemecahan masalah real-time diambil sampelnya dan disaring sesuai kebutuhan. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola di atas sesuai dengan Pelanggan 1 dalam studi kasus ini karena kasus penggunaan mereka difokuskan pada pemecahan masalah dan log jaringan terperinci hanya diperlukan untuk analitik. Keuntungan yang bisa didapat di antaranya: Dikelola sepenuhnya, sehingga pelanggan dapat fokus pada pengembangan aplikasi. Hemat biaya dengan kombinasi Cloud Logging dan BigQuery. Memberikan dasar untuk operasi self-healin di masa depan dengan metrik berbasis log. Pola 2: BigQuery untuk analisis log dalam skenario hybrid dan multicloud Pola ini direkomendasikan untuk pelanggan yang perlu menjalankan model untuk deteksi anomali, pengenalan pola, dan tindakan lain yang terkait dengan log jaringan mereka. Di sini, BigQuery bisa menjadi solusi. Selain karena memiliki biaya rendah, BigQuery juga dilengkapi dengan AI dan ML bawaan serta skala global. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola ini menyediakan beberapa keuntungan berikut: Solusi hemat biaya untuk log jaringan volume tinggi. Mesin analitik bawaan untuk log insights. Penggunaan BigQuery API untuk menampilkan data ke dashboard dan menggunakan analytical insights. Baca juga: Do’s Dan Don’ts Yang Harus Diketahui CSP Sebelum Menerapkan Cloud-Native Rangkaian operasi Google Cloud sangat mudah untuk digunakan. Terlebih karena rangkaian ini mendukung berbagai kasus penggunaan lainnya. Contoh studi kasus di atas menunjukkan bahwa solusi yang disediakan Cloud selalu terintegrasi satu sama lain. Jika ingin mendapatkan manfaat maksimal dari Hybrid Cloud Logs, sebaiknya gunakan Google Cloud. Kini, Anda bisa memilih layanan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk mulai konsultasi dengan tim EIKON Technology!

Frehservice

Cara Menata Ulang IT Self-Service untuk Meningkatkan Performa Karyawan

Sudah saatnya untuk mengevaluasi portal IT service perusahaan Anda. Coba tanyakan kepada para karyawan bagaimana penilaian mereka terhadap portal IT self-service yang Anda sediakan. Apakah mereka benar-benar puas dengan kinerjanya? Atau justru merasa terpaksa menggunakannya karena memang tidak ada opsi lain? Sebuah temuan dari Freshservice menemukan bahwa 42% dari karyawan yang disurvey menyatakan bahwa mereka kurang menyukai kinerja portal IT self-service yang digunakan perusahaan. Meski begitu, mereka tetap menggunakannya karena memang tidak tersedia pilihan lain. Lalu jika sudah demikian, apa yang sebaiknya dilakukan perusahaan? Pengaruh IT service terhadap performa karyawan Masih dari temuan yang sama, diketahui bahwa setidaknya 23% dari karyawan yang diteliti, mengungkapkan bahwa mereka tidak menyukai portal IT service dari perusahaan karena user experience yang buruk. Jumlah tersebut memang bukanlah mayoritas dari karyawan yang disurvey oleh Freshservice. Walau demikian, tidak menutup kemungkinan angka tersebut akan bertambah jika tak kunjung ada perubahan dari perusahaan. Beralih pada survey lain yang masih berhubungan. Sebuah studi yang dilakukan tim peneliti Harvard Business Review menemukan bahwa 77% karyawan menyatakan, mereka akan mempertimbangkan tawaran dari perusahaan lain jika perusahaan yang sekarang tidak mampu menyediakan kebutuhan tools, teknologi atau informasi untuk menunjang pekerjaan. Baca juga: Mengintip Masa Depan IT Service Dan Operations Management Perkembangan teknologi yang begitu pesat juga ternyata mempengaruhi penilaian karyawan terhadap portal IT service yang digunakan perusahaan. Dari 91% karyawan yang diteliti, 91% mengungkapkan bahwa mereka punya ekspektasi yang lebih besar terhadap kemampuan teknologi masa kini dibandingkan 10 tahun lalu. Lalu, bagaimana solusi yang harus diambil perusahaan? Menerapkan layanan bebas friksi Photo Credit: Rawpixel Saat ini sudah ada beberapa saluran akses yang bisa dianggap sebagai alternatif langsung untuk mengganti portal tradisional seperti: Aplikasi seluler yang mampu memberi karyawan akses menuju dukungan IT “dalam genggaman”. Meski terkadang solusi ini punya hambatan berupa desain portal yang masih begitu sederhana. Akses dari aplikasi kolaborasi kerja seperti Slack dan Microsoft Teams. Akses suara seperti Alexa Amazon, Google Home atau melalui antarmuka suara yang ada pada perangkat Android dan iOS. Kapabilitas cerdas sebagai dukungan Untuk mengoptimalkan kinerja solusi di atas, sekarang Anda juga bisa menemukan beberapa kapabilitas cerdas yang digunakan untuk memberikan layanan dan dukungan melalui saluran akses alternatif tersebut (bisa juga digabungkan dengan saluran tradisional). Beberapa contoh yang sudah mulai banyak dipakai di antaranya: Kemampuan percakapan dengan bantuan kecerdasan buatan Dapat digunakan baik untuk teks maupun chatbot berbasis suara dan asisten virtual. Kapabilitas ini dapat membantu mengoptimalkan performa karyawan dengan bantuan pengetahuan, otomatisasi atau bahkan menangkap permintaan bantuan berbasis manusia (bisa juga melalui penyediaan layanan). Otomatisasi cerdas Kapabilitas ini melakukan pengiriman otomatis langsung untuk membantu kebutuhan karyawan seperti perbaikan masalah atau penyediaan perangkat lunak baru. Mencakup kemampuan pembelajaran mesin dan otomatisasi proses robotik (RPA)6). Penjawab otomatis cerdas Photo Credit: Rawpixel Merupakan otomatisasi cerdas yang ditambahkan ke saluran akses tradisional. Dengan layanan ini, email karyawan kepada bagian dukungan IT akan ditanggapi secara otomatis. Respons yang diberikan adalah hasil pembelajaran mesin yang merinci kemungkinan adanya tindakan dan/atau tautan menuju otomatisasi cerdas guna memberikan apa yang dibutuhkan karyawan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa dengan menggabungkan saluran akses alternatif dan kompatibilitas cerdas, perusahaan akan dapat memberikan layanan serta dukungan langsung yang bebas hambatan. Baca juga: 5 Tips Untuk Merancang Manajemen IT Dengan Penerapan AI Melakukan evaluasi terhadap IT service pada perusahaan sebaiknya dilakukan secara rutin. Bagaimanapun juga, layanan tersebut punya peranan penting dalam menunjang performa karyawan. Makin baik performa IT service yang Anda sediakan, maka makin baik pula performa karyawan. Jika merasa IT service yang Anda gunakan di perusahaan saat ini punya performa yang kurang baik, tidak ada salahnya untuk mulai mencari alternatif lain. Freshservice, sebuah IT service berbasis cloud bisa menjadi pilihan tepat. Dengan kemampuan mengelola insiden, melakukan change management, hingga release management, layanan ini akan membantu Anda meningkatkan performa karyawan dengan efisien. Coba gratis layanan Freshservice sekarang juga di sini!

Info

Meminimalisir Dampak Situasi Darurat dengan On-Call Management Freshservice

Satu hal yang sering luput dari pemanfaatan teknologi adalah mitigasi terhadap situasi darurat seperti pemadaman listrik atau bencana alam. Baik startup maupun perusahaan besar, tidak akan bisa terhindar dari dampak situasi darurat, yang bisa dilakukan adalah mengupayakan cara meminimalisir dampak tersebut. Untungnya, untuk mengatasi hal tersebut Anda juga bisa memanfaatkan bantuan teknologi. Salah satu caranya adalah dengan layanan on-call management dari Freshservice. Layanan ini memungkinkan tim IT perusahaan Anda untuk bisa segera merespon situasi darurat. Bagaimana caranya? Mengapa perusahaan memerlukan on-call management Dengan bantuan on-call management dari Freshservice, Anda bisa menghilangkan segala keraguan yang timbul saat terjadi situasi darurat. Caranya adalah dengan mengizinkan tim IT untuk melakukan konfigurasi jadwal ketersediaan agen serta menentukan kebijakan terkait proses eskalasi. Dengan begitu, respon terhadap situasi bisa lebih cepat diberikan. On-call management juga mengurangi Mean Time to Acknowledge (MTTA) atau waktu yang dibutuhkan suatu problem hingga mendapat perhatian dari agen terkait. Langkah ini sangat efisien untuk mempercepat proses penyelesaian situasi kritis, bahkan meminimalisir dampaknya. Lima poin penting on-call management Freshservice Ada lima hal yang menjadi pilar utama layanan on-call management dari Freshservice yaitu on-call schedule, on-call rotation, escalation paths, notification channels & rules, serta on-call calendar. Berikut penjelasan untuk masing-masing poin: On-call schedule On-call schedule menampilkan ketersediaan. Jadi, Anda bisa memastikan bahwa pihak yang dibutuhkan untuk menangani situasi darurat akan selalu ada. Fitur ini menyediakan beberapa jadwal panggilan yang dapat dipetakan ke layanan dan grup terkait. Jadwal akan terdiri dari waktu shift yang berisi ketersediaan untuk saat-saat tertentu seperti akhir pekan atau hari libur. Baca juga: IT Service Management Modern Bernama Freshservice On-call rotation On-call rotation merupakan proses distribusi kerja antar seluruh anggota tim. Tujuannya adalah agar seluruh elemen tim dapat berkontribusi, belajar, dan mengambil tanggung jawab. Setiap shift akan dipetakan ke daftar anggota on-call sebagai primer, sekunder, dan tersier menurut pengalaman dan ketersediaan. Anda juga bisa melakukan rotasi shift berdasarkan periode waktu khusus. Photo Credit: Freshworks Blog Escalation paths Escalation paths mengatur bagaimana anggota yang ada dalam daftar on-call mendapat pemberitahuan terkait situasi darurat. Fitur ini juga mencantumkan anggota yang tidak termasuk dalam grup, tapi masih memiliki kompetensi untuk menyelesaikan problem. Jika insiden tetap tidak terselesaikan bahkan setelah anggota di semua level telah dihubungi, jalur eskalasi yang sama akan diulang. Eskalasi berakhir ketika insiden diakui atau diselesaikan. Photo Credit: Freshworks Blog Notification Channels & Rules Notification channels merupakan sarana komunikasi bagi anggota penting dan pemangku kepentingan perusahaan. Di Freshservice, pemberitahuan akan dikirim melalui email, SMS, bahkan telepon, sesuai kebutuhan. Sedangkan Notification rules adalah syarat untuk mengirim pemberitahuan kepada anggota penting dan pemangku kepentingan. Ini juga termasuk anggota yang akan diinformasikan di setiap tingkat eskalasi. Photo Credit: Freshworks Blog On-call calendar On-call calendar memberikan rangkuman ketersediaan anggota dan jadwal yang terkait dengannya. Fitur ini bisa diatur agar menampilkan jadwal berdasarkan hari, minggu atau bulan. Anda juga bisa mengekspor jadwal dari perangkat apa pun sesuai pilihan. Jadi, Anda bisa memeriksa anggota yang masuk dalam daftar on-call kapan saja. Photo Credit: Freshworks Blog Tiap terjadi downtime, pasti ada kerugian yang diderita perusahaan, baik itu perusahaan besar yang sudah maupun perusahaan rintisan seperti start-up. Seringkali, downtime tidak bisa dihindari, sekeras apa pun usaha Anda. Meski begitu, upaya untuk meminimalisir dampaknya selalu tersedia dan terus dikembangkan. Salah satunya adalah dengan layanan on-call management Freshservice. Dari artikel ini bisa disimpulkan bahwa layanan on-call management dari Freshservice mampu memangkas beberapa proses rumit dalam eskalasi masalah. Jadi, Anda bisa segera mengambil tindakan yang tepat dan tentunya minim risiko. Tertarik untuk menerapkan on-call management dan layanan lain dari Freshservice. Anda bisa mendapatkannya hanya di EIKON Technology. Klik di sini untuk mulai free-trial layanan on-call management Freshservice!

Info

Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning

BigQuery Explainable AI (XAI) adalah rangkaian tools dan framework yang dirancang untuk membantu Anda menginterpretasikan model machine learning dalam mengambil keputusan. BigQuery sendiri merupakan gudang penyimpanan data yang mendukung XAI dengan komprehensif, baik dari metodologi maupun jenis XAI. Dengan skala data BigQuery, Anda bisa mendapatkan jutaan penjelasan untuk suatu keputusan yang diambil machine learning dalam hitungan detik dan dengan satu query SQL saja. Mengenal Explainable AI Semakin hari, kebutuhan untuk mengetahui cara kerja bagian dalam model machine learning semakin tinggi. Terlebih kini permintaan terhadap artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML) terus naik. Dalam sebuah studi yang dimuat di Forbes, diketahui bahwa 76% perusahaan kini menjadikan AI dan ML sebagai prioritas investasi utama untuk pengeluaran IT mereka. Di samping itu, sebuah survey yang dilakukan PwC menunjukkan bahwa 82% CEO perusahaan percaya bahwa setiap keputusan berbasis AI harus dapat dijelaskan model penalarannya agar dapat dipercaya. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah Dengan Resource Charts Dan Slot Estimator Selain BigQuery Explainable AI, Google Cloud juga menyediakan beberapa tools dan frameworks lain untuk membantu Anda menginterpretasikan model ML. Misalnya, Vertex Explainavle AI yang di dalamnya terdapat AutoML Tables, AutoML Vision, serta model-model yang telah dilatih khusus. Lalu, bagaimana sebenarnya Explainable AI bekerja dalam BigQuery? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasannya dalam poin berikut. Dua jenis Explainable AI Photo Credit: Rawpixel  Jika dilihat dari fitur yang digunakan untuk melatih model AI, Explainable AI bisa dikelompokkan menjadi dua jenis explainability: global explainability dan local explainability. Apa perbedaan di antara keduanya? Untuk memudahkan Anda mempelajari perbedaannya, perhatikan studi kasus berikut ini. Katakanlah Anda memiliki sebuah model ML yang bisa memperkirakan harga rumah berdasarkan tiga pertimbangan: (1) jumlah ruang kamar, (2) jarak rumah ke pusat kota, dan (3) usia bangunan rumah. Pendekatan global explainability Jika menggunakan pendekatan global explainability maka bisa diketahui bahwa model ML yang Anda miliki akan memutuskan bahwa fitur (1) dan fitur (2) memiliki pengaruh yang lebih besar dalam memprediksi harga rumah dibanding fitur (3). Ini karena pendekatan global explainability menjelaskan pengaruh keseluruhan fitur yang ada pada model dan membantu Anda memahami apakah suatu fitur punya pengaruh yang lebih besar dibanding fitur lain dalam memprediksi model. Pendekatan ini akan sangat membantu jika Anda memiliki ratusan atau bahkan ribuan fitur dan ingin mengetahui manakah fitur yang paling besar kontribusinya terhadap model. Anda juga bisa mempertimbangkan global explainability untuk mengidentifikasi dan dan memangkas fitur yang dirasa kurang penting untuk meningkatkan kemampuan generalisasi model. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud Dengan BigQuery Omni Pendekatan local explainability Kembali pada studi kasus. Jika harga rumah A diprediksi sebesar Rp700 juta, dengan pendekatan local explainability akan menjelaskan harga dasarnya (katakanlah Rp500 juta) dan bagaimana setiap fitur berkontribusi terhadap harga yang diprediksi. Misalnya, model ML Anda mengatakan bahwa fitur (1) akan menambahkan Rp100 juta dari harga dasar. Kemudian fitur (2) menambahkan Rp50 juta dan fitur (3) menambahkan Rp50 juta. Maka model bisa memprediksi bahwa harga rumah A adalah sekitar Rp700 juta. Intinya, pendekatan local explainability adalah tentang memahami porsi kontribusi yang tepat dari setiap fitur yang digunakan model dalam membuat setiap prediksi. Model ML apa yang diterapkan BigQuery Explainable AI? BigQuery Explainable AI berlaku untuk berbagai model ML, termasuk untuk model pembelajaran terawasi untuk data IID dan model deret waktu. Dokumentasi untuk BigQuery Explainable AI memberikan penjelasan singkat mengenai berbagai cara menerapkan kemampuan menjelaskan tiap model. Perhatikan bahwa setiap metode yang dapat dijelaskan pasti memiliki nilainya sendiri dan kemudian dibahas lebih dalam melalui dokumentasi.   Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan adanya BigQuery Explainable AI, diharapkan Anda bisa lebih mudah menginterpretasikan bagaimana model ML mengambil keputusan. Tertarik untuk mulai menerapkan teknologi Explainable AI ini? BigQuery Explainable AI akan memberikan performa optimalnya jika Anda menggunakan  layanan Google Cloud. Dapatkan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda melalui EIKON Technology, distributor resmi produk-produk Google di Indonesia. Informasi selengkapnya, klik di sini!

Info

7 Alasan Mengapa Anda Membutuhkan Solusi Alert Management

Downtime telah terbukti sangat merusak workflow perusahaan. Perusahaan besar mungkin bisa bertahan dengan resources dan tools yang mereka. Di sisi lain, downtime  pada perusahaan kecil bisa mengancam kelangsungan usaha mereka, terutama jika mereka tidak memiliki bandwidth finansial untuk mengatasi kerugian besar. Alert Management bisa menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Keberadaannya bisa menjadi asisten yang bertindak sebagai repository, penerjemah, analis, hingga operator peringatan. Berikut tujuh cara bagaimana Alert Management menjadi solusi efisien yang dapat membantu operasi Anda. Konten peringatan lengkap Photo Credit: Freshservice Support Notifikasi yang dikirimkan ke email memang menunjukkan perubahan status. Namun seringkali peeringatan tersebut hanya sekadar memberitahu Anda bahwa ada yang sedang beres tanpa informasi lebih lanjut. Padahal, untuk bisa memahami keseluruhan masalah dengan cepat, Anda perlu detail yang lebih lengkap seperti deskripsi masalah, tag, wakut kemunculan problem, dan informasi lain yang tersedia. Di Alert Management, Anda bisa memilih konten apa saja yang akan ditampilkan di notifikasi email. Lengkap, tidak perlu berpindah tool Berpindah dari satu tool ke tool yang lain untuk mengawasi jaringan dan infrastruktur bisa sangat melelahkan dan makan waktu. Alert Management bekerja efisien dengan menyalurkan notifikasi dari seluruh tools pemantauan yang Anda gunakan. Semuanya dirangkum dalam satu panel sehingga Anda bisa mendapatkan gambaran perkembangan status digital setiap saat. Baca juga: IT Service Management Modern Bernama Freshservice Bebas ambiguitas Masing-masing tools pemantauan memiliki cara tertentu, berbicara dalam bahasa yang berbeda, dan menghasilkan pemberitahuan dengan ciri khas tertentu. Terkadang, hal ini bisa menimbulkan kebingungan saat Anda harus menafsirkan suatu kondisi yang sebenarnya serupa. Alert Management bekerja efisien dan sederhana dengan menerjemahkan semua nilai bidang tiap tools ke standar umum. Jadi, tim Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menafsirkan peringatan. Sinyal terpisah dari kebisingan Photo Credit: Piqsels Dengan standar umum yang berlaku, menemukan peringatan berulang akan jadi lebih mudah. Saat informasi yang serupa dibagikan berulang oleh tool, Alert Management akan mengelompokkan pemberitahuan tersebut dalam satu kategori untuk membuat peringatan yang dapat ditindaklanjuti. Tindakan diambil melalui service desk terintegrasi Sistem Alert Management menjembatani kesenjangan antara wawasan dan tindakan dengan koneksi mulus ke service desk. Langkah tersebut akan mempercepat pengambilan keputusan. Terlebih jika Anda telah menetapkan ketentuan tertentu yang secara otomatis akan meningkatkan notifikasi saat, katakanlah, tingkat keparahannya maksimum. Ini akan menghilangkan penyebab lain terjadinya MTTR (Mean Time to Resolution) yang tinggi. Mengkurasi konteks, lebih banyak konteks, bahkan lebih banyak konteks Pengurangan kebisingan sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari proses biner. Bagian lainnya adalah tentang membangun konteks. Saat Alert Management mengurangi kebisingan, di waktu yang sama, layanan tersebut juga membuat peringatan yang kaya (mengelompokkan peringatan serupa bersama-sama) dan insiden yang kaya (mengaitkan semua peringatan terkait). Beberapa tools bahkan melengkapi analisis dengan Machine Learning untuk menemukan pola yang tampaknya tidak terkait. Baca juga: 5 Metrik Utama Mengukur Dampak Cloud FinOps Di Organisasi Anda pada Tahun 2022 Bantu optimalkan jaringan dan infrastruktur Anda Photo Credit: Piqsels Saat tools pemantauan Anda membagikan pemberitahuan tanpa henti, apa yang harus dilakukan dengan semua data tersebut? Alert Managemnt akan menyatukan data tersebut hingga menjadi sebuah “cerita”. Sebuah “cerita” yang menyampaikan perilaku jaringan, resources, node, aplikasi, hingga seluruh operasi digital Anda. Insight tersebut akan memberikan peluang optimalisasi kinerja dan biaya. Alert Management adalah suatu keharusan bagi perusahaan yang peduli dengan reputasi dan optimis dalam pertumbuhan mereka. Manfaatnya bahkan tidak seakdar meminimalisir dan mencegah downtime, tapi juga mempengaruhi budaya perusahaan agar tim dapat fokus pada tugas tingkat tinggi seperti melakukan analisis akar masalah. Solusi Alert Management yang tangguh, gesit, dan cerdas dapat menjadi pembeda kompetitif bagi perusahaan modern yang ingin berkembang. Kini, Anda bisa menikmati segala kemudahannya dengan berlangganan Freshservice secara resmi melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk coba gratis fitur Alert Management dari Freshservice sekarang juga!

Scroll to Top