EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Tips Membangun Data Team yang Solid untuk Startup EdTech dengan Google Cloud

Pertumbuhan EdTech (Education Technology atau teknologi pendidikan) di Indonesia semakin cepat belakangan ini. Dalam sebuah survei yang dimuat dalam majalah Forbes, industri EdTech secara global diprediksi akan naik hingga US$325 miliar pada tahun 2025 nanti. Sedangkan Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 25% per tahunnya. Angka yang cukup besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Potensi besar tersebut jelas tidak boleh disia-siakan. Terlebih, startup EdTech memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan catatan, startup tersebut memiliki manajemen data pendidikan yang baik. Artikel kali ini akan membahas cara memanfaatkan beberapa platform dari Google Cloud untuk membangun data team yang solid untuk menyokong perkembangan startup EdTech. Mari pelajari detailnya bersama. Membangun data team Photo Credit: Piqsels Sebuah startup yang tidak memiliki data team khusus, kemungkinan besar, tidak akan memiliki manajemen database yang baik. Entah itu data menjadi sulit ditemukan, keamanannya lemah atau bahkan gagal memenuhi ekspektasi pelanggan. Terdapat suatu korelasi antara kematangan data team dengan keberhasilan pemanfaatan data perusahaan EdTech. Dengan memanfaatkan matriks dari Looker’s Analytical Maturity Playbook, Anda bisa menilai tingkat kematangan data team. Baca juga: Fitur Google for Education untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran Selain tingkat kematangan data team, Anda juga perlu ingat bahwa informasi yang didapat dari data bukan hanya akan menjadi aset, tapi juga produk. Ketika data team Anda memiliki pandangan yang sama, mereka akan lebih mudah menentukan tahapan tepat untuk mengembangkan startup EdTech berbasis data yang sukses. Berikut adalah beberapa indikator organisasi data yang matang: Melaporkan fungsionalitas dengan teratur. Terus mengevaluasi potensi peningkatan pada sistem yang ada. Mengelola peluncuran konten pada internal perusahaan. Membenahi akses data dengan Redivis Redivis merupakan sebuah platform yang menghubungkan para peneliti akademis dengan data dan tools untuk memahami kecerdasan teknologi pendidikan. Platform ini dibangun di atas infrastruktur keamanan Google Cloud sehingga menciptakan suatu ekosistem data processing yang skalabel. Redivis mengembangkan suatu sistem akses berjenjang terhadap dataset. Dengan begitu, peneliti dapat meminta akses terpisah menuju dokumentasi dataset untuk menentukan apakah mereka memang dapat menggunakannya atau tidak. Photo Credit: Piqsels Redivis juga didukung oleh audit logs yang detail (didukung oleh Google Cloud Logging) dan kontrol keamanan tinggi pada level aplikasi untuk memperketat akses data. Untuk memberikan lebih banyak insights kepada peneliti, Redivis menghubungkan dataset pribadi mereka dengan dataset public yang di-hosting di BigQuery. Jadi, peneliti dapat menjalankan query pada miliaran catatan dalam hitungan detik. Menyusun sistem pembelajaran yang menyenangkan dengan Classcraft Classcraft merupakan sebuah perusahaan yang dirintis pada tahun 2014 dan bergerak di bidang pendidikan. Misi utama Classcraft adalah untuk membangun suatu lingkungan belajar yang lebih menyenangkan dengan sistem gamifikasi. Dalam pemahaman sederhana, sistem gamifikasi adalah penerapan aturan game di luar permainan itu sendiri. Misalnya, menerapkan sistem leaderboard atau peringkat yang ada di game balapan pada penilaian di ruang kelas. Untuk mencapai misi tersebut, Classcraft menciptakan sebuah data platform yang menerapkan analitik data. Dengan begitu, mereka dapat merumuskan cara baru untuk meningkatkan keterlibatan siswa di kelas. Photo Credit: Piqsels Classcraft kini telah bergabung menjadi Google for Education Build Partner sehingga Anda bisa menikmati seluruh layanannya lebih mudah. Terlebih kini Classcraft juga telah bermigrasi ke Google Cloud dan membangun integrasi dengan platform Google Workspace for Education, Google Classroom, hingga Chrome for Education. Classcraft juga sudah melakukan migrasi database dan infrastruktur analytics ke BigQuery dan Cloud Storage. Baca juga: Manfaat TIK dalam Pendidikan di Era Digital Saat Ini Keberadaan data team sangat penting dalam startup EdTech. Dengan manajemen data yang baik, potensi pengembangan EdTech pun akan semakin besar. Google Cloud melalui platform dan kolaborasi seperti Redivis dan Classcraft menyediakan solusi yang bukan hanya efisien tapi juga komprehensif untuk meningkatkan kematangan data team Anda. Bantu data team Anda untuk berkembang dengan menggunakan personalized Google Cloud. Masih bingung menentukan setup Cloud yang tepat untuk startup EdTech Anda? Tidak perlu khawatir, selain menyediakan produk resmi Google, EIKON Technology juga menyediakan layanan konsultasi untuk Anda. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Functions

Salah satu hambatan dalam membuat aplikasi cerdas adalah manajemen dokumen yang buruk. Padahal dokumen adalah sumber data yang penting dalam menyusun aplikasi cerdas. Ini karena dokumen yang tidak terstruktur akan menyulitkan proses pengambilan data untuk aplikasi. Dokumen dalam bentuk pdf atau gambar, sering kali membuat pemrosesan data menjadi jauh lebih rumit. Sebab, kedua jenis dokumen tersebut masih mengandalkan teknologi yang terfragmentasi dan bahkan metode manual. Google Cloud menghadirkan sebuah solusi komputasi untuk mengatasi tantangan tersebut lewat Document AI, teknologi Serverless, serta Workflows. Mari simak penjelasannya berikut. Mengenal Document AI Document AI secara resmi diperkenalkan ke public pada gelaran Cloud Next 2021. Google menyebutkan bahwa Document AI merupakan sebuah platform yang membantu perusahaan untuk mengubah dokumen menjadi data yang terstruktur dengan bantuan machine learning. Photo Credit: Google Cloud Blog Document AI juga telah didukung teknologi Procurement Document AI, sebuah solusi pengambilan data dari beragam jenis formular, termasuk invoice dan bahkan laporan inventarisasi barang. Semua prosesnya pun sudah dilakukan secara otomatis. Contoh penerapan Document AI Photo Credit: Google Cloud Blog Pada diagram di atas tampak terlihat ada dua alur. Alur pertama menggambarkan karyawan yang mengirimkan laporan pengeluaran (beberapa penerimaan diproses sekaligus). Sedangkan alur kedua menggambarkan manajer yang melakukan validasi atau penolakan laporan karyawan. Mula-mula, karyawan membuka situs web milik perusahaan yang didukung oleh Vue.js untuk kerangka frontend progresif JavaScript dan Shoelace sebagai library untuk menyimpan komponen-komponen web. Katakanlah, website tersebut di-hosting lewat Firebase Hosting sehingga frontend akan memanggil fungsi HTTP yang kemudian memicu eksekusi workflow menggunakan sintaks Workflows YAML.  Baca juga: Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet Document AI connector Workflow tersebut kemudian akan menangani operasi yang berjalan lama tanpa memerlukan kode tambahan. Di sini, Document AI connector secara langsung akan memanggil batch titik akhir pemrosesan. API ini mengembalikan operasi yang berjalan lama dengan dua skenario: Jika Anda melakukan polling pada API, status operasi akan berubah menjadi “RUNNING” hingga akhirnya mencapai status “SUCCEEDED” maka operasi berhasil. Namun jika Anda melakukan polling pada API dan setelah selesai status operasi berubah menjadi “FAILED” maka operasi dinyatakan gagal. Perlu diingat juga, connectors akan tetap menangani operasi yang berjalan lama, meski Anda tidak melakukan polling API beberapa kali hingga status operasi berubah. Penerapan machine learning Photo Credit: Piqsels Document AI dilengkapi machine learning dengan model Vision and Natural Language Processing tercanggih untuk mengekstrak data skema dari dokumen secara cerdas. Dengan begitu, Anda sebagai developer aplikasi tak perlu lagi memikirkan cara menyempurnakan atau membingkai ulang gambar tanda terima atau mencari informasi yang relevan dengan dokumen tanda terima. Beberapa fitur pendukung Document AI Document AI telah dirancang untuk membantu Anda mengembalikan dokumen JSON dalam bidang line_item, currency, supplier_name, total_amount, dan bidang lain yang serupa. Di samping itu, Document AI juga dibekali kemampuan untuk memahami dokumen dan formulir standar seperti invoice, dokumen peminjaman, slip gaji, bahkan identitas seperti SIM. Fungsi cloud pada Document AI mengambil seluruh tanda terima yang relevan dan kemudian membuat penghitungannya sendiri sebelum mengirimkan laporan pengeluaran untuk disetujui manajer. Selain itu, Google juga menyediakan fitur lain seperti Callback. Fitur tersebut akan membantu Anda untuk membuat titik akhir callback. Dengan demikian, eksekusi workflow akan mengikuti callback untuk melanjutkan prosesnya kembali. Baca juga: Membuat Aplikasi Manajemen Inventaris dari Google Sheets dengan AppSheet Dalam merancang sebuah aplikasi, manajemen dokumen sangat penting. Terlebih jika aplikasi yang Anda buat bertujuan untuk menampilkan informasi yang termuat dalam file dokumen, misalnya aplikasi mengenai gaji karyawan atau invoice kepada pelanggan. Agar aplikasi cerdas Anda dapat mengambil data dari file yang berupa dokumen pdf atau bahkan gambar, Google Cloud menyediakan platform Document AI. Seluruh fitur dan layanan yang ada dalam Document AI bisa Anda akses melalui Google Cloud untuk bisnis. Dapatkan solusi berbasis cloud dari Google hanya di EIKON Technology, partner resmi Google untuk Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Cloud

Meningkatkan Produktivitas Developer dengan Cloud Client Libraries for Compute Engine

Memasuki bulan Februari 2022, Google Cloud meluncurkan Cloud Client Libraries for Engine untuk umum. Layanan tersebut diluncurkan dalam 7 bahasa pemrograman, yaitu Java, Python, C++, NodeJS, Go, Ruby, PHP, dan C#. Libraries ini memberikan peningkatan produktivitas developer dan kemudahan penggunaan dengan mengaktifkan style yang lebih idiomatis untuk setiap bahasa pemrograman. Cloud Client Libraries for Compute Engine diklaim mampu memberikan integrasi bahasa yang lebih baik, keamanan yang ditingkatkan, dan dukungan otorisasi pengguna. Compute Engine API dibangun di atas protokol REST standar dan libraries klien yang dirancang lebih sederhana dan intuitif. Bagaimana layanan ini bekerja? Apa itu Cloud Client Libraries Cloud Client Libraries merupakan client libraries terbaru untuk memanggil Google Cloud API. Layanan ini diklaim mampu meningkatkan pengalaman developer dengan menggunakan konvensi dan style alami tiap bahasa pemrograman. Di samping itu, Cloud Client Libraries juga mengurangi kode boilerplate yang harus ditulis. Sebab, client libraries ini dirancang untuk membantu Anda bekerja dengan metafora layanan, daripada detail implementasi atau konsep service API. Menggunakan Cloud Client Libraries dengan Cloud Code Photo Credit: Piqsels Cloud Code merupakan tools yang ada dalam VS Code, IntelliJ, dan Cloud Shell untuk mengembangkan aplikasi cloud. Penggunaan kode ini memungkinkan Anda menggunakan Cloud Client Libraries dengan mudah tanpa perlu meninggalkan IDE. Penerapan kode ini akan membantu Anda: Menjelajahi Cloud APIs. Membaca dokumentasi untuk Cloud APIs. Mengaktifkan Cloud APIs. Menambahkan Cloud Client Libraries ke proyek Anda. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan Dan Keamanan Cloud Deployment Anda Menyiapkan otentikasi pengguna Photo Credit: Piqsels Untuk menjalankan client library ini, Anda harus mengatur autentikasi terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan membuat akun layanan. Berikut langkah-langkahnya: Membuat service account Pada Cloud Console, buka halaman Create service account. Pilih Go to Create service account. Pilih proyek Anda. Pada opsi Service account name, masukkan nama. Nantinya, Service account ID Anda di Cloud Console berdasarkan nama ini. Pada pilihan Service account description, ketikkan deskripsi. Klik Create and continue. Untuk memberikan akses menuju proyek Anda, berikan peran berikut ke akun layanan Anda: Project > Owner. Klik Select a role dan pilih role pertama (atau satu-satunya). Untuk peran tambahan, klik Add another role dan tambahkan setiap peran tambahan. Klik Continue. Klik Done untuk menyelesaikan pembuatan akun layanan. Jangan tutup jendela browser. Anda akan menggunakannya di langkah berikutnya. Membuat kunci akun layanan Pada halaman Cloud Console, klik alamat email untuk akun layanan yang Anda buat. Klik Keys. Klik Add key, lalu klik Create new key. Klik Create. File kunci JSON akan diunduh ke komputer Anda. Klik Close. Mulai menerapkan Cloud Client Libraries Photo Credit: Piqsels Panduan menurut bahasa pemrograman Untuk membantu Anda dalam menggunakan Cloud Client Libraries, Google menyediakan panduan untuk setiap bahasa pemrograman yang telah didukung. Berikut adalah daftar lengkap yang dapat Anda akses: Bahasa Pemrograman Panduan Instalasi Java GitHub Repo Library Reference Supported Java Versions Python GitHub Repo Library Reference C++ GitHub Repo Library Reference Node.js GitHub Repo Library Reference Go GitHub Repo Library Reference Ruby GitHub Repo Library Reference PHP GitHub Repo Library Reference C# GitHub Repo Library Reference Cloud Client Libraries untuk akun pribadi Cloud Client Libraries kini juga telah tersedia untuk akun pribadi. Sama seperti untuk penggunaan skala besar, Google juga menyediakan panduan yang dapat diakses masing-masing pengguna. Panduan tersebut juga telah disusun agar mudah diakses. Dengan begitu, Anda bisa mengakses produk yang relevan lebih cepat. Misalnya, Anda memerlukan informasi mengenai Pub/Sub, maka bisa mengakses halaman Pub/Sub Client Libraries. Bagi Anda yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang client library untuk Compute Engine API, Google telah menyediakan dokumentasi tersendiri yang dapat diakses secara gratis kapan saja, Baca juga: 3 Cara Berinovasi Dengan Biaya Minim Menggunakan Cloud Computing Ada banyak sekali layanan yang bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas developer. Bagi Anda, developer yang memerlukan peningkatan dalam hal client library, layanan Cloud Client Libraries dari Google Cloud bisa dipertimbangkan. Tertarik? Untuk performa yang lebih optimal, gunakan akun Google Cloud yang telah dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Dapatkan Google Cloud sesuai dengan kebutuhan Anda melalui EIKON Technology, partner resmi Google untuk Indonesia. Untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology, klik di sini!

Google Cloud

Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science

Data science pada dasarnya merupakan suatu proses mengolah data untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat. Terkadang, seorang data scientist tidak memiliki lanskap yang jelas mengenai tools yang dapat membantu setiap tahap dalam alur kerja data science. Sebab, kebanyakan data scientist lebih mengandalkan machine learning untuk menjawab permasalahan tersebut. Google melalui Google Cloud menyediakan beberapa produk dan layanan yang dapat membantu Anda untuk memiliki lanskap yang lebih baik dalam hal tools proyek data science. Menariknya lagi, Google Cloud telah membagi-bagi layanan tersebut dalam 6 area utama data science. Seperti apa layanan yang ditawarkan? Photo Credit: Pvergadia (Google Cloud Blog) Data engineering  Salah satu tantangan dalam dunia data science adalah keberadaan data potensial yang sulit untuk diakses. Untuk itulah data engineering terus berkembang, meletakkan fondasi penting untuk sistem hilir, melakukan rekayasa data yang melibatkan pengangkutan, pembentukan, dan pengayaan data. Penyerapan dan pra-pemrosesan data di Google Cloud Bisa dibilang, penyerapan data adalah pemindahan data dari satu lokasi ke lokasi lain. Penyerapan juga berhubungan dengan persiapan proses transformasi dan augmentasi data sebelum dikonsumsi. Tantangan terbesarnya adalah skalabilitas global, throughput tinggi, dan ketahanan data. Google Cloud menyediakan solusi berupa Dataflow, sebuah layanan terkelola Apache Beam. Baca juga: Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud Penyimpanan dan katalogisasi data di Google Cloud Untuk data yang terstruktur, Anda bisa mempertimbangkan gudang data seperti atau BigQuery Cloud Databases. Sedangkan untuk data yang tidak terstruktur, layanan Cloud Storage bisa dipilih. Anda juga mungkin bisa mempertimbangkan data lake untuk katalogisasi data. Google menyediakan Data Catalog untuk pembuatan katalog dan manajemen metadata. Photo Credit: Pvergadia (Google Cloud Blog) Data Analysis  Pada proses data analysis inilah nilai suatu data bisa mulai dikenali. Untuk memudahkan Anda dalam data analysis, berikut jenis layanan yang tersedia: Eksplorasi, pra-pemrosesan, dan wawasan data Eksplorasi data merupakan proses yang sangat berulang, melibatkan pemotongan dan pemilahan dan melalui pra-pemrosesan data sebelum akhirnya didapat wawasan data. Google Cloud menyediakan beberapa layanan untuk melakukan eksplorasi, pra-pemrosesan, dan mengungkap wawasan data. Jika Anda mencari lingkungan data science end-to-end yang berbasis notebook, tersedia Vertex AI Workbench. Ada juga Spark on Google Cloud untuk memproses data terstruktur dalam skala petabyte.  Photo Credit: Peqsels Model development Berikutnya ada model development. Pada tahap ini, machine learning mulai memberikan cara baru untuk mengetahui nilai data Anda. Namun terkadang muncul hambatan seperti overhead infrastruktur atau peralihan konteks. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengandalkan Vertex AI Workbench yang merupakan layanan berbasis Jupyter dan sepenuhnya terkelola, skalabel, serta siap untuk pemakaian lingkungan perusahaan. ML engineering  Photo Credit: Markus Winkler (Pexels) ML engineering diperlukan dalam tahap penggabungan semua aktivitas siklus hidup aplikasi, termasuk di dalamnya adalah pengujian, penerapan, dan pemantauan. Fitur  Managed datasets dan Feature Store yang ada pada layanan Vertex AI menyediakan repositori bersama untuk kumpulan data dan fitur yang telah direkayasa, sehingga dapat menyediakan satu sumber kebenaran untuk data. Keduanya juga mendorong penggunaan Kembali serta kolaborasi dalam tim. Insights activation  Pada tahapan ini, data sudah memiliki nilai dan dapat digunakan dalam proses lain. Adna dapat menggunakan Locker dan Data Studio untuk mengaktifkan kasus penggunaan. Dengan begitu Anda bisa mengamati bagaimana data digunakan untuk memengaruhi keputusan bisnis dengan diagram, laporan, dan peringatan.   Orkestrasi Seluruh layanan dan solusi di atas memang menyediakan pondasi utama dalam data science modern. Meski begitu, layanan dan aplikasi tersebut tentu memerlukan orkestrasi untuk mengelola aliran data dari satu layanan ke layanan lain secara otomatis. Nah, di sinilah kombinasi antara data pipelines, ML pipelines, dan MLOps berperan. Orkestrasi yang efektif akan mengurangi jumlah waktu yang diperlukan saat beralih dari penyerapan data ke penerapan mode. Untuk orkestrasi data pipeline, Anda bisa mengandalkan Cloud Composer dan Cloud Scheduler dari Google Cloud.  Baca juga: Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding Di Bidang Energi Google Cloud tidak hanya memberikan solusi yang mudah diakses, tapi juga komprehensif. Anda bahkan bisa menemukan beberapa layanan dan aplikasi yang dapat membantu penyusunan proyek data science. Jadi tunggu apalagi, segera dapatkan Google Cloud untuk tim Anda melalui EIKON Technology, authorized reseller Google Indonesia. Informasi lebih lanjut, klik di sini.

Cloud Computing, Google Cloud

Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud

Google BigQuery Write API resmi diluncurkan tahun 2021 lalu. Write API sendiri merupakan jalur penyerapan data pilihan BigQuery yang menawarkan batching dan streaming dengan performa tinggi dalam satu API terpadu. Apa saja keunggulannya? Mengenal fitur BigQuery Write API Sejak pertama diperkenalkan, BigQuery Write API terus melakukan penyempurnaan untuk meningkatkan performa dan kemampuan. Dengan begitu, pengguna pun lebih mudah menyerap data secara langsung ke BigQuery. Beberapa fitur tersebut di antaranya: Menyerap data langsung ke BigQuery tanpa harus menyusunnya di Google Cloud Storage terlebih dahulu sehingga menyederhanakan alur kerja. Menyalurkan pemrosesan data dan langsung membacanya, memungkinkan Anda membangun aplikasi data dengan latensi rendah dan respons cepat. Menjamin pengiriman tepat satu kali, yang memastikan Anda tidak perlu menulis logika deduplikasi khusus. Mendukung transaksi baris batch-level, memungkinkan percobaan ulang yang aman dan deteksi pembaruan skema. Menyerap data ke BigQuery Ada beberapa cara untuk menyerap data ke dalam penyimpanan terkelola BigQuery. Metode penyerapan spesifik akan tergantung pada workload Anda. Umumnya, disesuaikan untuk tugas pemuatan satu kali dan tugas batch berulang (karena latensi batch tidak menjadi masalah). Anda dapat menggunakan BigQuery Data Transfer Service atau BigQuery Load Jobs. Di samping itu, Anda juga bisa menggunakan BigQuery Write API. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah Dengan Resource Charts dan Slot Estimator Photo Credit: Google Cloud Blog Membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Job Sebelum BigQuery Write API diperkenalkan, penyerapan data bisa dilakukan melalui BigQuery Load Job atau Streaming API. Di manakah letak perbedaannya? Jika dibandingkan, ada beberapa perbandingan utama antara BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, yakni: Transaksi tingkat aliran: Pada BigQuery Write API, satu aliran hanya dapat dilakukan sekali, memungkinkan Anda melakukan percobaan ulang yang aman. Alur kerja yang lebih sederhana: Dengan menulis langsung ke penyimpanan BigQuery, Anda dapat menghindari mengekspor data ke Google Cloud Storage dan kemudian memuatnya ke BigQuery. Hal ini tidak bisa dilakukan pada BigQuery Load Jobs. SLO: BigQuery Write API memiliki tingkat SLO yang sama dengan BigQuery API lain yang ada seperti Query Jobs dan legacy Streaming API. Membandingkan BigQuery Write API dengan legacy Streaming API Jika poin sebelumnya membandingkan BigQuery Write API dengan BigQuery Load Jobs, kali ini mari simak perbandingannya dengan legacy Streaming API. Beberapa perbandingan yang paling mudah dikenali di antaranya: Menulis idempotency: Streaming API lawas hanya mendukung deduplikasi pada periode waktu yang singkat (urutan beberapa menit). Namun, BigQuery Write API memastikan bahwa satu penambahan hanya dapat terjadi sekali pada offset tertentu pada aliran yang sama, sehingga menjamin idempotency penulisan. Throughput yang lebih tinggi: Write API memiliki kuota default tiga kali lebih banyak (3GB/detik) dibandingkan dengan legacy Streaming API (1GB/detik), menghasilkan throughput yang lebih tinggi dalam proses penyerapan data. Kuota tambahan dapat diberikan berdasarkan permintaan pengguna. Biaya lebih rendah: Biaya Write API per GB 50% lebih hemat dibandingkan dengan Streaming API lawas. Selain itu, karena BigQuery Write API telah mendukung proses batch sekaligus streaming terpadu, Anda tidak perlu lagi menggunakan API terpisah untuk menangani semua workloads dalam skala besar. Batch dan Streaming API terpadu Photo Credit: Piqsels Write API didukung oleh streaming backend baru. Dukungan tersebut membuat Write API dapat menangani throughput yang jauh lebih besar dengan keandalan data lebih baik dari backend lama. Backend baru tersebut merupakan adalah sistem penyimpanan terstruktur berskala exabyte di belakang BigQuery. Sistem tersebut dibuat untuk mendukung pemrosesan berbasis streaming, tepatnya untuk analisis streaming yang skalabel di semua mesin analitis di GCP. Tidak seperti pendahulunya yang dioptimalkan untuk pemrosesan batch mode, streaming backend baru ini memperlakukan streaming sebagai beban kerja kelas satu. Di samping itu, backend ini juga telah mendukung streaming dan pemrosesan real-time dengan tingkat throughput yang tinggi. Baca juga: Jenis Pemrosesan Data Perusahaan Bagi Anda yang memerlukan penyerapan data dengan proses batching dan streaming berperforma tinggi dalam satu API terpadu, BigQuery Write API bisa dijadikan pilihan. BigQuery akan bekerja lebih baik jika berada dalam ekosistem Google. Untuk itu, ada baiknya juga jika Anda menggunakan layanan komputasi awan dari Google saat menggunakanWrite API. Dapatkan layanan cloud yang didukung ekosistem Google lewat Google Cloud. Sekarang, Anda bisa mengelola Google Cloud yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Tim EIKON Technology yang merupakan authorized reseller Google di Indonesia, siap menyediakannya untuk Anda. Untuk informasi lebih lanjut, klik di siniv!

Cloud Computing, Google Cloud

Tips Membangun Sistem Rekomendasi dengan Google Cloud

Tanpa disadari, keseharian manusia saat ini dekat dengan sistem rekomendasi, terutama dalam kehidupan di dunia maya. Bingung menentukan makan malam? Cek rekomendasi. Ingin mendengarkan lagu baru? Lihat rekomendasi dari aplikasi streaming. Ingin mencari produk yang serupa? Marketplace telah menyediakan rekomendasi untuk Anda. Dalam sebuah artikel di website Verge, diketahui bahwa sistem rekomendasi dari tim Google Brain telah memengaruhi dinamika kunjungan ke platform streaming video, YouTube. Lebih dari 70% waktu yang dihabiskan pengguna, ternyata dipengaruhi oleh rekomendasi dari algoritma YouTube. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sekitar 20x lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Fakta tersebut membuktikan bahwa rekomendasi kini bukan lagi sekadar menjadi pembeda bagi suatu organisasi, tapi juga menjadi suatu hal yang memang dibutuhkan konsumen dalam keseharian mereka. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai membangun sistem rekomendasi sendiri, Google Cloud menyediakan pendekatan yang patut dicoba. Sistem rekomendasi tersebut terdiri dari Matrix Factorization pada BigQuery Machine Learning (BQML), Recommendations AI, serta Two-Tower built-in algorithm. Bagaimana cara kerjanya? Mulai dengan Matrix Factorization dari BQML Dalam membangun sebuah sistem rekomendasi, collaborative filtering merupakan model dasar. Lalu, mengapa harus menggunakan Matrix Factorization BQML? Ini karena Matrix Factorization sendiri merupakan model yang menerapkan collaborative filtering. Kemudan, BQML memungkinkan Anda untuk dapat membuat sekaligus menjalankan model tersebut dengan SQL standar langsung di gudang data. Baca juga: Mengenal BigQuery Explainable AI, Alat Interpretasi Model Machine Learning Collaborative filtering dimulai dengan membuat interaction matrix. Dalam matriks ini, pengguna ditulis sebagai baris dan produk sebagai kolom yang ada di kumpulan data Anda. Seringkali, tidak tampak interaksi antara baris dan kolom karena tidak semua pengguna berinteraksi dengan seluruh produk yang Anda. Nah, di sinilah embeddings berperan untuk menghasilkan penyematan bagi pengguna. Dengan begitu, Anda bisa mengelompokkan beberapa produk yang mirip atau sesuai dengan kategori produk yang dicari pengguna. Photo Credit: Google Cloud Blog Melanjutkan dengan Recommendations AI Recommendations AI merupakan sebuah layanan yang terkelola sepenuhnya dan berfungsi untuk membantu organisasi dalam menerapkan sistem rekomendasi skalabel. Layanan ini bekerja dengan menggunakan pendekatan deep learning canggih. Termasuk di dalamnya adalah arsitektur mutakhir seperti two-tower encoders. Photo Credit: Google Cloud Blog Penerapan model deep learning akan meningkatkan konteks dan relevansi rekomendasi. Ini karena model tersebut dapat dengan mudah mengatasi keterbatasan. Recommendations AI membantu Anda memanfaatkan penyajian model deep learning sekaligus menangani MLOps yang diperlukan dalam melayani model ini secara global, tentunya dengan latensi rendah. Model secara otomatis dilatih ulang setiap harinya dan disetel ulang setiap tiga bulan sekali untuk menangkap perubahan perilaku pelanggan, tambahan produk, harga, serta promosi. Sedangkan model baru akan dilatih dengan rutinitas CI/CD yang tangguh guna memvalidasi kelayakan mode tersebut sebelum ditayangkan. Two Tower encoders Dalam membangun suatu sistem rekomendasi Anda harus selalu ingat bahwa tujuan utama yang harus dicapai adalah kemampuan untuk menampilkan kumpulan item yang paling relevan dengan kebutuhan pengguna. Item tersebut kemudian disebut sebagai kandidat dan terkadang disertai dengan informasi seperti judul, deskripsi, bahasa, jumlah tampilan, bahkan klik pada item dari waktu ke waktu. Katakanlah Anda sedang membuat sistem rekomendasi film. Tentu saja, sekarang ini film ada jutaan jumlahnya, begitu pun dengan jumlah penontonnya. Penerapan two-tower encoder akan membantu Anda dalam tahap pemilihan kandidat (retrieval) untuk setiap pengguna dan kemudian menilai, mengurutkan, dan menyajikan daftar akhir yang direkomendasikan kepada pengguna. Simak ilustrasi berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Tahap retrieval menyaring daftar kandidat yang ada dengan melakukan encoding pada kandidat dan pengguna. Dengan begitu, keduanya akan berbagi ruang penyematan yang sama. Ruang penyematan yang baik akan menempatkan kandidat yang mirip satu sama lain lebih dekat dan item yang berbeda saling berjauhan. Setelah basis data pengguna dan penyematan kandidat selesai maka Anda bisa mulai menggunakan metode pencarian terdekat untuk kemudian menghasilkan daftar kandidat akhir yang benar-benar relevan dengan pengguna. Baca juga: Merancang Technical Training Yang Lebih Mudah Diakses dengan Google Cloud Keberadaan sistem rekomendasi tanpa disadari telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini bisa menjadi peluang yang bagus bagi Anda untuk meningkatkan jumlah penjualan atau mungkin durasi kunjungan pelanggan. Google Cloud menyediakan sistem yang komprehensif dari hulu ke hilir untuk membangun suatu sistem rekomendasi yang efisien. Untuk hasil terbaik, sebaiknya gunakan Google Cloud yang telah dipersonalisasi sesuai kebutuhan Anda. Dapatkan personalized Google Cloud berlisensi hanya di EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Workspace

Kini Seluruh Paket Gratis G Suite Berubah Menjadi Google Workspace Berbayar!

Sebelum bernama Google Workspace seperti sekarang, platform produktivitas tersebut dinamai G Suite. Tahun 2020 lalu, G Suite berubah menjadi Google Workspace untuk menyongsong “masa depan dunia kerja”. Setelah transisi tersebut, plans yang tersedia G Suite berangsur-angsur dipindahkan ke Google Workspace dan di tahun 2022 ini, seluruh edisi gratis G Suite dihapuskan. Apa saja perubahan yang timbul? Notifikasi melalui email administrator Photo Credit: 9to5Google Transisi ini sebenarnya telah disampaikan melalui email administrator layanan. Dalam notifikasi tersebut, Google menyampaikan bahwa seluruh pengguna G Suite yang tersisa akan dipindahkan ke Google Workspace secara otomatis. Untuk jenis plan yang diterapkan akan mengikuti penggunaan sebelumnya di G Suite. Dengan demikian, kini paket gratis yang tersedia di Google Workspace hanyalah plans untuk Nonprofits dan Education (versi Fundamental). Jika pada G Suite layanan seperti Gmail, Google Drive, dan Documents bisa diakses secara gratis, perubahan tersebut mau tak mau membuat pengguna harus membayar. Namun dalam versi berbayar ini Anda bisa menikmati layanan baru seperti membuat domain khusus yang bisa Anda atur sendiri (tidak lagi terbatas pada gmail.com). Mekanisme billing Photo Credit: Google Workspace Bagi Anda yang bermigrasi dari G Suite ke Google Workspace diberikan waktu hingga 1 Mei 2022 untuk bisa memilih paket baru. Opsi lain adalah membiarkan Google menentukan paket untuk Anda secara otomatis. Anda tidak perlu khawatir karena pemilihan paket akan disesuaikan dengan paket yang digunakan pada edisi gratis G Suite. Perlu diingat juga, jika Anda memilih opsi kedua, maka billing atau tagihan baru akan dimulai 2 bulan setelah migrasi otomatis. Jika Anda tidak memasukkan detail billing hingga 1 Juli 2022, Google akan melakukan penangguhan akun selama 60. Selama periode penangguhan, Anda tidak akan bisa mengakses Gmail, Calendar, dan Meet. Penangguhan akan otomatis berakhir saat Anda melakukan pembayaran. Baca juga: Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran Paket Google Workspace untuk migrasi dari G Suite ini dimulai dari harga $6 per pengguna/bulan yaitu untuk paket Business Starter dan akan naik menjadi $18 /pengguna/bulan. Untuk bisnis skala kecil yang hanya memiliki satu akun Gmail juga bisa melakukan upgrade ke paket Workspace Individual seharga $9,99/bulan. Google juga menawarkan diskon selama 12 bulan atau layanan ekspor gratis data organisasi Anda. Detail mengenai penawaran ini bisa Anda simak dalam halaman dukungan Google Workspace. Migrasi atau tidak? Perubahan  dari yang semula gratis menjadi berbayar tentu akan menjadi pertimbangan untuk tetap meneruskan penggunaan layanan Google atau berpaling pada layanan lain yang serupa. Meski begitu, peningkatan layanan Google juga patut dipertimbangkan. Sejak berubah menjadi Google Workspace, ada banyak sekali fitur dan layanan yang mampu meningkatkan produktivitas kerja dengan efisien. Salah satunya adalah Integrated Gmail. Layanan ini memberikan pengalaman kolaborasi seamless yang sangat mudah dioperasikan. Selain itu, ada juga transisi Hangouts ke Google Chat. Setelah berubah menjadi Google Chat, ada banyak sekali fitur percakapan yang membuat komunikasi di dua tempat yang berbeda terasa begitu nyata tanpa hambatan. Baca juga: 3 Aplikasi untuk Memulai Google Workspace di Smartphone Melakukan upgrade dari edisi lama G Suite ke Google Workspace tidak akan makan banyak waktu. Prosesnya pun relatif mudah diikuti dan tidak akan mengganggu end user di tempat Anda. Migrasi bahkan akan semakin mudah jika Anda membiarkan Google melakukan upgrade otomatis. Terlebih, untuk mendukung transisi ini, Google juga menawarkan opsi diskon selama 12 bulan setelah 1 Juli 2022. Jika Anda merasa kurang sreg dengan paket Google Workspace yang dipilihkan Google, masih tersedia beragam paket lain. Anda bisa memilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis. Masih ragu memilih? Tim EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai distributor resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan produk resmi bergaransi dengan proses aplikasi yang mudah. Untuk mulai konsultasi mengenai Google Workspace dengan EIKON Technology, klik di sini!

Google Cloud

10 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan Transformasi Digital Berbasis Cloud

Percepatan transformasi digital berbasis cloud memang membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan, tapi di waktu yang bersamaan juga berpotensi memunculkan tantangan. Agar bisa memiliki performa yang optimal, tetap relevan dengan pasar, dan mampu meningkatkan kualitas, perusahaan harus memprioritaskan proses adopsi cloud yang aman, terjamin, dan tentunya mendukung lingkungan teknologi baru tersebut. Pengaturan pra-adopsi cloud Adopsi cloud dalam skala besar oleh perusahaan jelas memerlukan pengaturan sejumlah aktivitas yang signifikan, termasuk di dalamnya adalah: Memikirkan kembali hasil yang didapatkan dari pemanfaatan teknologi baru serta mengatur agar hasil tersebut bisa benar-benar diterapkan dengan mengubah cara merancang, menyampaikan, dan mengelola software di seluruh bagian perusahaan. Melakukan refactoring proses keamanan, kontrol, dan tata kelola risiko guna memastikan bahwa perusahaan tetap berada dalam profil risiko yang sesuai kapasitas serta tetap mematuhi peraturan selama dan setelah transformasi. Menerapkan model organisasi dan operasi baru untuk memberdayakan peningkatan keterampilan dan kemampuan yang lebih mendalam serta mendorong penerapan budaya yang sesuai untuk mencapai kesuksesan bisnis. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Peran aktif seluruh elemen perusahaan Photo Credit: Piqsels Dari poin-poin di atas bisa disimpulkan bahwa setiap elemen perusahaan memiliki peran signifikan dalam proses transformasi digital berbasis cloud. Peranan kunci tentu tetap dipegang oleh jajaran direksi perusahaan yang bertugas mengawasi dan mendukung manajemen perusahaan dalam proses transformasi. 10 hal yang harus dipertimbangkan sebelum transformasi digital berbasis cloud Dalam melakukan transformasi digital berbasis cloud, ada banyak sekali hal yang harus diperhatikan agar perubahan tersebut memberikan hasil yang diinginkan. Berikut adalah 10 hal yang sebaiknya Anda jadikan pertimbangan saat akan melakukan  tranformasi digital berbasis cloud: Pengaturan pemanfaatan teknologi cloud Sebelum melakukan transformasi berbasis cloud, Anda harus tahu bagaimana penggunaan teknologi cloud diatur dalam perusahaan. Jangan lupa juga untuk memastikan adanya akuntabilitas yang jelas sehingga terdapat kejelasan Tingkat kesesuaian cloud Anda juga harus tahu sejauh mana tingkat kesesuaian teknologi cloud yang diterapkan dengan strategi bisnis perusahaan. Pastikan juga untuk menentukan pendekatan cloud yang sesuai agar bisa mencapai hasil yang diinginkan. Pendekatan teknis Sebelum mengadopsi teknologi cloud dalam transformasi digital perusahaan Anda, pastikan sudah ada pendekatan teknis dan arsitektur yang jelas untuk penggunaan cloud. Tujuannya adalah agar infrastruktur dan aplikasi yang Anda gunakan terpelihara dengan baik dan tetap dalam keadaan aman. Penilaian keterampilan SDM pun harus benar-benar diperhatikan sebelum mengadopsi teknologi cloud untuk transformasi digital. Ada baiknya Anda melakukan penilaian keterampilan untuk menentukan apa yang sebenarnya diperlukan perusahaan ke depannya. Photo Credit: Piqsels Model operasi Penting halnya untuk memastikan bahwa model operasi yang diterapkan perusahaan benar-benar sesuai dengan teknologi cloud. Framework risiko dan pengendalian Ketahui seperti apa profil risiko perusahaan dan potensi perubahannya di masa mendatang. Anda juga harus bisa memastikan perusahaan tetap berada pada profil risiko yang aman. Fungsi risiko dan audit Mengetahui bagaimana fungsi risiko dan audit independen menyesuaikan pendekatan mereka terkait adopsi cloud oleh perusahaan. Regulator dan otoritas lain Melibatkan regulator dan otoritas lain dalam proses adopsi teknologi cloud agar mereka bisa mengikuti perkembangan strategi organisasi dan rencana migrasi proses bisnis. Prioritas sumber daya Anda harus tahu sumber daya mana saja yang harus diprioritaskan sehingga proses adopsi cloud memungkinkan. Prioritas tersebut juga harus bisa mempertahankan fokus yang memadai dalam mengelola teknologi yang sudah ada lebih dulu. Photo Credit: Piqsels Penyedia cloud Pastikan bahwa teknologi cloud yang Anda adopsi ke perusahaan merupakan serangkaian praktek terbaik dari pihak penyedia cloud. Ada baiknya juga untuk memilih penyedia cloud yang terus meningkatkan dan memperbaiki teknologinya dari pengalaman pelanggan. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Adopsi teknologi cloud dalam transformasi digital jelas bukanlah suatu proses singkat yang langsung terlihat hasilnya. Bahkan saat nanti teknologi tersebut sudah benar-benar tertanam dalam perusahaan Anda, masih terdapat potensi perubahan. Ini karena sifat teknologi cloud yang sangat dinamis. Semoga tips mengenai hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan transformasi digital ini bisa membantu Anda. Jika memang tertarik untuk mulai mengadopsi teknologi cloud, layanan Google Cloud bisa jadi permulaan yang baik. Anda bisa mendapatkan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik di sini!

Google Workspace

Meeting Hybrid yang Lebih Inklusif dengan Google Workspace

Tahun 2021 membuktikan bahwa hybrid semakin sulit untuk dilepaskan dari dunia kerja. Transformasi digital sekaligus pandemi membuat banyak perusahaan beralih pada model kerja hybrid untuk menjalankan aktivitas mereka. Meski menawarkan berbagai keuntungan dan kemudahan, model kerja hybrid tentu memiliki kelemahan. Salah satu kendala yang sering ditemukan pada penerapan model kerja hybrid adalah masalah inklusi. Meeting yang dilakukan secara hybrid seringkali terasa kurang inklusif. Percakapan seolah terjadi satu arah saja dan sering kali terdapat pihak yang merasa kurang dilibatkan dalam sebuah hybrid meeting. Google Workspace yang merupakan platform kolaborasi kerja berbasis cloud berusaha memecahkan permasalahan tersebut dengan menawarkan berbagai fitur solutif. Berikut adalah beberapa fitur dari Google Workspace untuk bantu Anda ciptakan meeting dalam format hybrid yang lebih inklusif. Companion mode Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan memanfaatkan fitur Companion mode ini, seluruh peserta di ruang meeting akan saling terhubung dengan mulus, meski terpisah jarak jauh. Saat mode ini aktif, Anda juga bisa memberikan seluruh peserta akses menuju fitur host lanjutan. Anda bisa mengaktifkan Companion mode melalui laptop yang terhubung dengan perangkat keras Google Meet atau Nest Hub Max. Mode ini juga dilengkapi dengan fitur-fitur interaktif seperti chat, screen sharing, polls, hand raising, serta kontrol lanjutan untuk host meeting. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda Saat Menggunakan Google Workspace Menjadwalkan meeting Peserta meeting Anda datang dari lokasi dengan zona waktu yang berbeda? Melakukan penjadwalan jelas tidak boleh dilewatkan. Google Workspace menyediakan beberapa fitur scheduling yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan peserta meeting. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda atur dengan fitur scheduling Google Workspace: Sinkronisasi Google Calendar peserta dengan jadwal meeting untuk menghindari terjadinya bentrokan waktu. Menyesuaikan jadwal meeting dengan zona waktu masing-masing peserta. Jadi, Anda bisa mengukur mana peserta yang harus datang lebih awal dan mana peserta yang sebaiknya datang terlambat agar bisa masuk dalam panggilan meeting. Meminta peserta untuk menentukan lokasi mereka saat meeting. Melakukan rotasi peran fasilitator dan pencatat agar setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi lebih jauh. Menyiapkan meeting dengan Spaces Photo Credit: Google Cloud Blog Spaces merupakan titik pusat kolaborasi di Google Spaces. Fitur ini telah terintegrasi dengan beragam tools dari Google seperti Drive, Docs, Sheets, Slides, Meet, Gmail, Calendar, hingga Tasks. Anda bisa memanfaatkan fitur Spaces ini untuk mempersiapkan meeting. Lewat Spaces, para peserta meeting hybrid bisa meninjau dokumen yang berhubungan dengan materi presentasi. Spaces juga menyediakan ruang interaksi yang bisa digunakan untuk mendapatkan follow up dari meeting. Fitur pelengkap meeting Photo Credit: Google Cloud Blog Hybrid meeting yang baik tidak akan terasa seperti dua percakapan terpisah. Untuk meningkatkan inklusivitas dalam hybrid meeting, Google Workspace menawarkan beberapa solusi di antaranya: Menerima peserta meeting yang datang lebih awal dan menyediakan fitur check-in. Anda juga bisa memutarkan video atau tayangan untuk mengisi waktu peserta yang datang di awal waktu, Mendorong peserta untuk mengaktifkan Companion mode dan fitur hand raising di Google Meet agar komunikasi terasa lebih nyata dan tidak saling bertindihan. Mendorong Fasilitator meeting untuk berperan aktif dalam setiap meeting. Menyediakan fitur yang memudahkan peserta dalam memberikan umpan balik. Misalnya melalui fitur Agenda, Chat atau bisa juga melalui polls. Mengaktifkan teks terjemahan agar seluruh peserta meeting bisa mengikuti jalannya acara tanpa hambatan berarti. Setelah meeting selesai Tak dapat dipungkiri, hybrid meeting bisa mendatangkan kelelahan yang bahkan terasa lebih berat dibanding meeting konvensional. Nah, untuk memastikan agar para peserta rapat benar-benar mendapatkan manfaat, sebaiknya lakukan hal-hal berikut setelah meeting melalui Google Workspace berakhir: Mengirimkan catatan follow-up untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta meeting atas waktu mereka. Anda juga bisa memanfaatkan catatan ini untuk meminta umpan balik dari peserta. Sertakan catatan/rekaman, action items, dan keputusan yang diambil saat rapat agar peserta yang berhalangan hadir tidak merasa tertinggal. Unggah catatan atau temuan lain yang didapat saat meeting di Spaces. Dengan begitu, seluruh peserta bisa berkontribusi dengan mudah. Untuk rapat yang berulang, Anda bisa melakukan jajak pendapat secara rutin menggunakan Google Form. Tanyakan kepada peserta apa saja hal-hal yang sebaiknya ditingkatkan dari meeting. Jajak pendapat ini juga bisa disetel anonim agar peserta lebih leluasa dalam menyampaikan pendapat. Baca juga: Menghubungkan Karyawan Bekerja Secara Hybrid Work dengan Google Workspace Menyusun hybrid meeting yang inklusif memanglah bukan suatu perkara mudah. Akan selalu ada saat di mana komunikasi terasa tidak saling berkaitan. Memanfaatkan platform Google Workspace dan berbagai fitur di dalamnya akan bantu Anda meningkatkan inklusivitas hybrid meeting. Belum menerapkan Google Workspace pada perusahaan Anda? Kini telah tersedia Google Workspace for Business yang memang dirancang khusus untuk kebutuhan bisnis. Dapatkan segera Google Workspace for Business untuk perusahaan Anda melalui EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Google Workspace, klik di sini!

Google Cloud

Merancang Technical Training yang Lebih Mudah Diakses dengan Google Cloud

Akhir-akhir ini, perkembangan teknologi begitu di dinamis, termasuk dalam hal komputasi awan atau cloud. Para insinyur cloud terus-menerus dihadapkan pada rentetan layanan, produk, dan inovasi teknologi pendukung cloud baru. Hingga penghujung tahun 2021 lalu, Google Cloud sendiri telah merilis ribuan fitur baru dalam ratusan layanan yang mereka miliki. Kombinasi antara teknologi Google dengan rilisan penyedia lainnya akan sangat membantu Anda menyelesaikan tugas berat sekalipun. Meski begitu, tentunya hal tersebut bisa membuat navigasi antar cloud menjadi sangat rumit. Akan sulit bagi insinyur cloud untuk bisa menavigasi, menggunakan cloud, dan  di waktu yang bersamaan, mengikuti dinamika perkembangan lanskap teknologi. Sering kali hal ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi para insinyur cloud. Ada banyak sekali opsi training yang tersedia untuk mengejar ketertinggalan, tapi waktu dan dana yang tersedia sangatlah terbatas. Google Cloud mengadakan kembali technical training untuk para insinyur cloud. Kali ini, training disusun agar lebih informatif dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh pelanggan dan partner Google dari sektor publik. Dengan begitu, Anda bisa mengakses pelatihan dengan mudah dan tentunya tetap sesuai kebutuhan. Materi yang menarik dan sesuai kebutuhan Sekarang ini, memang ada banyak sekali pilihan training umum. Sayangnya, kebanyakan opsi yang ditawarkan masih kurang sesuai dengan teknologi sektor publik. Google Cloud menyusun kurikulum training baru yang memang difokuskan pada teknologi sektor publik. Kurikulum training terbaru dari Google Cloud disusun berdasarkan kasus-kasung penggunaan teknologi sektor publik. Menariknya lagi, materi disampaikan oleh teknisi yang memang memiliki keahlian dalam hal manajemen pelanggan. Meski padat, durasi pelatihan telah disesuaikan dengan kebutuhan para insinyur cloud sehingga bisa diselesaikan dalam waktu yang kurang dari dua jam. Artinya, peserta training bisa langsung menerapkan hasil pembelajaran pada kasus nyata yang sedang mereka hadapi. Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud Untuk Memudahkan Integrasi Post-Merger Perusahaan Mudah ditemukan, mudah diikuti Photo Credit: Piqsels Peluang untuk bisa mengikuti training harus selalu terbuka bagi para insinyur cloud, Jika tidak, mereka akan sulit mengikuti dinamika perkembangan teknologi cloud yang sangat cepat berubah. Platform pelatihan dari Google Cloud memastikan bahwa Anda hanya perlu mendaftar satu kali untuk bisa mengakses seluruh materi yang tersedia. Selain itu, sistem juga secara otomatis akan memberitahu Anda mengenai sesi yang akan datang. Jadi, Anda bisa melakukan persiapan dan mengatur jadwal sesuai kebutuhan. Jika memang belum bisa mengikuti satu sesi training, sistem akan memberikan penawaran berulang hingga Anda bisa menemukan jadwal yang cocok. Menarik dan menyenangkan Kebanyakan sesi training diisi oleh wajah-wajah yang lelah dan tidak bersemangat. Jelas para insinyur cloud memiliki kesibukan tinggi sehingga sulit fokus pada materi yang disampaikan, Namun terkadang sering ditemukan juga, penyampaian materi yang begitu kaku dan kurang “mengundang” partisipasi aktif peserta. Technical training dari Google Cloud dirancang sesuai dengan budaya kerja Google yang interaktif. Setiap materi yang tersedia telah dirancang sedemikian rupa sehingga memunculkan pertukaran interaktif antara peserta dan pemateri. Dengan begitu, peserta pun merasa ikut dilibatkan dan bisa mendapatkan inspirasi baru. Merupakan bagian dari komunitas yang lebih besar Photo Credit: Piqsels Belajar bersama atau dari komunitas partner yang sebaya, entah itu dari segi usia maupun pengalaman, merupakan salah satu cara yang efisien untuk mengatasi tantangan dan kompleksitas penerapan teknologi baru. Platform technical training dari Google Cloud telah terhubung dengan komunitas Public Sector Connect yang memungkinkan Anda untuk terkoneksi dengan para insinyur cloud lain dari berbagai belahan dunia. Komunitas ini juga menyediakan beberapa fasilitas seperti “Coffee Hours” setiap minggu dan sesi kerja kolaborasi. Melalui fasilitas tersebut, Anda bisa belajar dari para ahli yang membagikan perjalanan dan pengalaman mereka menghadapi inovasi cloud. Jadi, saat menemukan masalah suatu masalah, Anda bisa langsung menanyakan pada insinyur lain yang sudah lebih dulu menghadapinya. Baca juga: Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud Platform technical training dari Google Cloud dirancang untuk mudah diakses oleh siapa saja dan di mana saja, Selain itu, pelatihan ini juga didesain untuk dapat diikuti tanpa harus memakan waktu lama. Pelatihan tersebut bisa Anda dapatkan dengan mengakses platform technical training untuk sektor publik dari Google Cloud. Hasil pelatihan akan lebih maksimal jika langsung menerapkannya pada akun Google Cloud milik Anda. Belum menerapkan layanan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda? EIKON Technology menyediakan solusi terbaik Anda. EIKON Technology sendiri merupakan partner resmi untuk distribusi produk-produk Google di Indonesia. Jadi, keaslian produk yang Anda dapatkan melalui EIKON Technology selalu terjamin. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology!

Scroll to Top