EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Frehservice

Mulai Mengelola Service Desk Anda: SDM, Proses, dan Teknologi yang Diperlukan

Service desk merupakan mekanisme dukungan utama yang bertugas mengelola kontak pelanggan untuk menyediakan bantuan dan akses menuju layanan dari perusahaan Anda. Fungsi utamanya mencakup: Menerima dan menanggapi permintaan dukungan di berbagai saluran komunikasi. Menyusun prioritas pekerjaan berdasarkan dampaknya terhadap bisnis. Mengkomunikasikan masalah dan insiden. Mendukung manajemen insiden dengan melakukan eskalasi masalah, bekerja dengan tim manajemen insiden untuk mengadakan panggilan konferensi, dan memberikan pengingat kepada tim kapan harus menindaklanjuti tindakan. Service desk dapat mengelola tantangan harian dengan banyak cara. Meski begitu, untuk bisa beroperasi dengan optimal, mekanisme ini harus didukung oleh rangkaian SDM, proses, dan teknologi yang kuat. Artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara mengelola service desk secara keseluruhan mulai dari SDM, proses, hingga teknologi yang diperlukan. Mari pelajari bersama. Bagian pertama: Merekrut SDM yang tepat Untuk mengelola sekaligus mengoperasikan service desk dengan baik, setidaknya Anda memerlukan dua posisi: staf dan manajer. Kriteria staf Photo Credit: Piqsels Mampu menerima panggilan telepon dengan baik. Staf tidak harus punya pengalaman di bidang service desk, Anda bisa memilih mereka yang bisa memberikan respons baik saat menerima panggilan telepon. Memiliki latar belakang teknologi yang cukup untuk memperbaiki masalah konfigurasi sederhana dan mau mempelajari solusi mengatasi masalah yang lebih kompleks Memiliki pengetahuan teknis karena banyak service desk yang mencakup spesialisasi dukungan tingkat dua seperti dukungan desktop dan administrasi sistem. Kriteria manajer Memiliki jiwa kepemimpinan dan berorientasi pada teamwork untuk membangun tim yang solid. Memiliki skill di bidang customer service. Memiliki keterampilan teknis dasar untuk membantu eskalasi dan manajemen insiden besar dengan tepat. Berpengalaman dalam hal manajemen pengetahuan serta mengetahui cara membangun dan mengelola basis pengetahuan. Memiliki pandangan yang visioner dan inovatif karena teknologi service desk saat ini sedang berada pada periode transformasi. Baca juga: IT Service Management Modern Bernama Freshservice Bagian kedua: Meminimalisir risiko proses Saat mengelola service desk, ada beberapa hal yang berpotensi menurunkan tingkat kepuasan pelanggan. Anda dapat mempelajarinya untuk merancang proses yang minim risiko. Berikut adalah beberapa di antaranya: Terlalu cepat mematikan saluran. Menu suara yang membingungkan atau terlalu panjang. Gagal dalam membangun pengetahuan. Terlalu banyak menekankan pada waktu tunggu dan durasi panggilan. Bagian ketiga: Memilih teknologi service desk Photo Credit: Rawpixel Selain SDM dan proses, kesuksesan service desk tidak bisa dilepaskan dari penggunaan tools yang tepat. Kami telah merangkumkan untuk Anda beberapa teknologi yang diperlukan untuk membangun service desk. Sistem telepon Sistem yang paling umum digunakan adalah ACD atau automated call distribution. ACD digemari karena dapat menggabungkan menu suara dan perutean berbasis keterampilan untuk mengirimkan panggilan secara efektif. Platform dan portal manajemen layanan Platform manajemen layanan atau terkadang disebut sistem tiket modern akan menawarkan aplikasi manajemen insiden. Terkadang ada juga yang sudah menyediakan aplikasi menuju katalog layanan bawaan untuk mengelola permintaan yang dikirim melalui katalog layanan. Chat, Chatbots Ada baiknya juga untuk mulai mempertimbangkan penggunaan chatbots yang menyediakan integrasi dengan asisten pribadi virtual seperti Siri atau Cortana. Sebab, tambahan fitur tersebut akan meringkas tugas staf. Social Feed Social feeds diperlukan untuk mendukung swarming sekaligus berperan sebagai dukungan peer-to-peer. Pusat dukungan berjalan Untuk membangun pusat dukungan berjalan yang baik, perhatikan beberapa aspek berikut ini: Dukungan untuk masuk dari portal layanan Dukungan untuk masuk melalui tablet yang ada di pusat dukungan berjalan. Kemampuan untuk melihat antrian atau in-line. Kemampuan staf untuk menarik tiket dan mengatur antrian Dukungan integrasi Alat manajemen layanan terbaik sekalipun tidak akan berfungsi dengan baik kecuali alat tersebut dapat berinteraksi dengan aplikasi lain (baik yang berada di dalam platform maupun di sistem eksternal). Pertimbangkan beberapa kapabilitas berikut ini: Manajemen Aset dan software penyediaan, Data Manajemen Konfigurasi dan tools penemuan. Sistem pemantauan, Papan tampilan eksternal untuk menampilkan statistik panggilan, informasi insiden besar terkini, dan tugas lain yang serupa. Sistem notifikasi dan SMS untuk rotasi panggilan serta insiden besar. Kemampuan untuk mengimpor email secara otomatis. Baca juga: 5 Tips Untuk Merancang Manajemen IT Dengan Penerapan AI Kunci utama dalam membangun dan mengelola service desk yang baik adalah ketelitian. Tidak perlu terburu-buru dalam mengambil keputusan, baik itu yang berhubungan dengan pemilihan SDM operator, cara kerja proses, dan teknologinya, Masih belum menemukan teknologi yang tepat untuk merancang service desk Anda? Freshservice bisa dijadikan pilihan. IT service berbasis cloud ini memiliki fitur yang lengkap dan mudah dioperasikan. Jika masih merasa ragu, Anda bisa mencoba free trial Freshservice dari EIKON Technology. Cek detail lengkapnya di sini!

Info

5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya

Saat ini, multicloud telah menjadi kebutuhan banyak perusahaan, baik yang berskala besar maupun sedang. Hal ini tidak mengherankan jika melihat perkembangan dunia TI yang semakin kompleks dari hari ke hari. Semakin kompleks sistem yang ada maka satu layanan cloud saja rasanya tidak akan cukup. Jelas Anda bisa memilih untuk menjadi ahli salah satu cloud saja. Meski begitu, memiliki kefasihan terhadap beberapa jenis cloud sekaligus terbukti bisa membuka peluang yang lebih luas. Setidaknya, dua dari tiga raksasa penyedia cloud (Google Cloud, Amazon Web Service, dan Microsoft Azure) membuka beberapa pilihan karier yang dioptimalkan untuk perkembangan cloud di masa depan. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana cara untuk mulai mempelajari ekosistem multicloud. Seperti apa tipsnya? Mari simak penjelasannya berikut ini. Tips mempelajari ekosistem multicloud Dari bagian pembuka kita bisa tahu bahwa kedekatan dengan beberapa cloud sekaligus dapat membuka peluang karier yang lebih luas. Namun, mempelajari satu jenis cloud saja terkadang sudah terasa berat. Lalu bagaimana cara memetakan karier multicloud tanpa merasa “lelah” mempelajari satu jenis cloud yang belum Anda kenal sebelumnya? Pahami konsep inti dengan baik Seperti yang Anda ketahui, setiap cloud berbeda. Meski begitu, jika diperhatikan, semua cloud yang ada sebenarnya memiliki pendekatan dasar yang sama seperti dari segi jaringan virtual, ketersediaan, tinggi, hingga IAM. Hal inilah yang perlu menjadi dasar pemikiran Anda saat mulai mempelajari ekosistem multicloud. Akan lebih baik jika Anda langsung belajar pada ahlinya. Coba cari tahu tentang arsitek cloud yang telah tersertifikasi. Sebab, dalam hal penerapan multicloud, praktek akan membantu Anda untuk lebih cepat paham daripada sekadar membaca materi. Perkuat pemahaman cloud utama Anda Photo Credit: Piqsels Sebelum terjun dalam ekosistem multicloud, penting bagi seorang insinyur cloud untuk memiliki tingkat kefasihan tinggi pada salah satu penyedia cloud. Ini karena kebanyakan lowongan cloud engineering yang ada saat ini, memerlukan keahlian dengan pemahaman signifikan pada cloud tertentu. Perlu diingat, seorang pakar multicloud sekalipun pasti memiliki satu satu jenis cloud yang lebih dikuasai. Cara terbaik untuk mulai “menyeberang” ke multicloud setelah memperkuat cloud utama Anda adalah bekerja dalam sebuah tim dengan kepakaran cloud yang berbeda-beda.  Pengalaman langsung seperti ini akan memudahkan Anda untuk lebih dekat dengan jenis cloud baru. Serap pengetahuan sebanyak mungkin pada cloud sekunder Agar Anda tidak hanya jalan di tempat, pastikan untuk selalu memacu diri. Sambil memperdalam pemahaman cloud utama, mulai ambil sertifikasi cloud sekunder Anda. Langkah seperti ini akan membantu Anda mendapatkan pekerjaan melalui pemahaman cloud utama dan “menyadari” keberadaan cloud lain. Jadi, saat nanti muncul peluang untuk membangun cloud sekunder, Anda sudah siap. Baca juga: 5 Tips Penggunaan Multicloud Yang Efektif untuk Dapatkan Lebih Banyak Manfaat Manfaatkan sebaik mungkin layanan cloud-native Inti penggunaan cloud adalah memanfaatkan layanan terbaik dari cloud tersebut. Biasanya, hal tersebut berarti memanfaatkan layanan terkelola asli yang andal. Di sisi lain, ekosistem cloud saat ini sudah semakin matang. Dengan menginvestasikan waktu Anda untuk mempelajari alat lintas cloud tersebut maka akan ada lebih banyak lagi pintu untuk membangun hal-hal menarik dalam cloud. Pelajari lingua franca cloud Photo Credit: Piqsels Jika diibaratkan, penyedia cloud yang berbeda ibarat sebuah perumahan. Dalam sebuah perumahan, ada beberapa bangunan rumah dengan cluster berbeda namun menerapkan konsep arsitektur yang sama. Cloud pada dasarnya sama saja. Ada banyak blok, namun sebenarnya dibangun dengan satu konsep umum. Manusia seringkali belajar dengan memanfaatkan analogi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Begitu pula dengan mempelajari multicloud. Anda akan lebih mudah memahami fitur-fitur Azure jika bisa memahami cara kerja fitur yang serupa pada Google Cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Sedikit tips tambahan, saat mempelajari ekosistem multicloud, usahakan untuk selalu mengikuti pendapat tepercaya yang bisa membantu Anda memfilter hal-hal tak perlu. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Anda dapat membuat agenda rutin untuk mengikuti kelas atau event virtual. Cara efektif lainnya adalah dengan membangun proyek sampingan sebagai praktek untuk mengasah pemahaman Anda. Seperti yang sudah dibahas di atas, mempelajari ekosistem multicloud akan lebih mudah jika Anda memiliki dasar yang kuat pada cloud utama. Jika pilihan cloud utama jatuh pada Google Cloud, sebaiknya Anda mulai berlangganan layanan resminya agar mudah mengakses seluruh layanan dan tools di dalamnya. Dapatkan Google Cloud secara legal dengan sertifikat resmi dari Google melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Cloud IDS untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia Secara Umum

Awal tahun 2021 lalu, Google meluncurkan Cloud IDS. Yakni sebuah platform komputasi awan yang berfokus pada penguatan keamanan jaringan. Salah satunya dengan mendeteksi ancaman sejak dini untuk mencegah kerugian yang lebih besar di kemudian hari. Apa saja kemampuan Cloud IDS dan platform apa saja yang bisa digunakan? Simak ulasannya di tulisan ini sampai akhir. Kemampuan Cloud IDS Photo: Kaspersky Cloud IDS dirancang dengan Palo Alto Network, dimana perusahaan ini menyediakan berbagai fitur dan teknologi terbaik dalam mendeteksi ancaman. Adapun beberapa kemampuan pendeteksian yang dapat dilakukan oleh Cloud IDS dengan baik di antaranya adalah: Layanan yang dapat digunakan sudah tersedia di berbagai regional atau wilayah. Layanan auto-scaling juga tersedia di berbagai regional, dimana hal ini memudahkan dalam merancang jaringan lebih baik. Dapat digunakan bagi para pengguna Google Cloud HIPAA Memiliki sertifikasi ISO27001 Terintegrasi dengan Chronicle, yakni fitur analisa keamanan dari Google yang dapat membantu dalam investigasi ancaman pada jaringan. Platform yang Sudah Terintegrasi Cloud IDS dan Bisa Anda Pilih Keamanan dalam jaringan Cloud IDS cukup penting bagi sebuah organisasi besar maupun perusahaan. Agar lebih baik dalam penerapannya, ada beberapa platform yang bisa dipadukan dengan Cloud IDS ini. Mulai dari Avaya, Lytic, dan Meditech. Berikut ulasan ringkasnya. Avaya Photo: Klob.id Avaya menjadi salah satu pelopor dalam platform komunikasi berbasis cloud dan collaboration solutions. Cloud IDS dapat digunakan untuk Avaya dengan lingkungan Google Cloud dalam mendeteksi ancaman pada jaringan. Keunggulan dari platform Avaya ini adalah mudah untuk disetel dan diterapkan pada jaringan Anda dalam waktu yang singkat. Selain itu, proses pemindaian di Avaya semakin mudah dengan adanya fitur scanner running untuk pengujian penggunaan. Tak hanya itu saja, Avaya juga dapat terhubung dengan Google Cloud IDS UI. Cloud IDS – Lytics Photo: Lytics Platform berikutnya adalah Lytics yang bisa digunakan untuk platform Google Cloud berskala besar. Salah satunya adalah penggunaan untuk jaringan di sebuah perusahaan. Khususnya jaringan untuk penggunaan pada Google SREs. Implementasi dari Lytics dapat memangkas biaya pengeluaran. Kemudian, tidak berdampak pada infrastruktur IT yang ada. Lytics dapat diandalkan untuk mendeteksi ancaman dengan cepat. Dengan begitu, akan mudah untuk memetakan tindakan apa yang harus dilakukan oleh tim IT di sebuah perusahaan guna mencegah ancaman yang akan datang. Meditech Photo: Meditech.com Terakhir, untuk pengamanan jaringan dari ancaman dapat menggunakan Meditech. Terutama di bidang kesehatan yang terintegrasi dengan data rekaman kesehatan pasien atau electronic health record (EHR) di sektor medis. Selain itu, Meditech memberikan kenyamanan dalam perekaman kesehatan secara tepat guna, efisien, dan meningkatkan kepuasan bagi para pasien. Fitur keamanan di Meditech pun menggunakan Cloud IDS dari Palo Alto Networks dan juga Chronicle untuk mencegah ancaman dalam hal perlindungan data pasien tetap berada di tempat yang aman dan tidak disalahgunakan. Memulai Cloud IDS Photo: NETDepot Setelah Anda mengetahui kemampuan Cloud IDS beserta beberapa pilihan yang dapat digunakan, penting pula untuk mengetahui bagaimana cara untuk memulainya. Sebagai langkah awal, Anda bisa memulainya dengan menggunakan konsol GCP. Untuk mendeteksi dan mengidentifikasi permasalahan dan ancaman pada Cloud IDS, Anda bisa menggunakan platform Chronicle. Dimana Anda bisa menyimpan data penting dan menganalisis log ancaman melalui telemetri data dan bisa melakukan investigasi dan tindakan pencegahan terhadap ancaman dengan cepat. Apabila Anda ingin mengaplikasikannya, ada baiknya untuk perhatikan Google Cloud yang digunakan oleh perusahaan maupun organisasi Anda. Maka dari itulah, Anda perlu membeli layanan Google Cloud yang original di vendor terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang memiliki lisensi resmi dari Google pusat. Informasi lebih lanjut mengenai produk yang ditawarkan, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Do’s dan Don’ts yang Harus Diketahui CSP Sebelum Menerapkan Cloud-Native

Seiring dengan perkembangan teknologi, CSP (communication service providers) atau penyedia layanan komunikasi terus mengoptimalkan jaringan 5G. Situasi tersebut sangat memungkinkan terjadinya adopsi pendekatan cloud-native.   Dalam sebuah penelitian yang dilakukan perusahaan riset IT Gartner, dengan situasi seperti sekarang, di tahun 2025 nanti platform cloud-native akan menjadi fondasi bagi 95% inovasi digital baru. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan setidaknya 40% dibandingkan tahun 2021. Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk mengadopsi pendekatan cloud-native pada jaringan, sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mendapatkan pandangan dari mereka yang sudah terjun lebih dulu. Berikut adalah beberapa saran yang sebaiknya dilakukan CSP sebelum menerapkan cloud-native pada jaringan 5G mereka.  Do: Manfaatkan pendekatan cloud-native untuk menyederhanakan jaringan Saat pertama kali diperkenalkan, jaringan 5G menawarkan pertambahan nilai bagi CSP. Meski begitu, pertama-tama sebaiknya Anda harus memikirkan penyederhanaan jaringan tersebut. Semakin canggih teknologi jaringan, maka semakin kompleks pula sistemnya. Belum lagi, meski saat ini jaringan sudah ada pada level 5G, sifat gelombang masih terpengaruh jaringan tetap. Adopsi pendekatan cloud-native dapat membantu CSP untuk memutus siklus tersebut sekaligus menyederhanakan jaringan telekomunikasi, mulai dari bagaimana jaringan dibangun hingga bagaimana mereka dioperasikan. Don’t: Tidak mengembangkan proses operasional lama pada cloud Ada perbedaan yang signifikan antara migrasi ke cloud dengan mengadopsi pendekatan cloud-native. Saat Anda melakukan migrasi sistem dan aplikasi ke cloud, akan ada kecenderungan untuk membawa proses operasional lama dalam proses tersebut. Di sisi lain, pendekatan cloud-native akan mendorong Anda untuk memikirkan kembali bagaimana suatu aplikasi dibangun dan sebisa mungkin memisahkannya dari operasi lama, terutama yang menghambat kecepatan inovasi. Selain itu, pendekatan cloud-native  biasanya digabungkan dengan metode pengiriman yang gesit, yakni DevOps. Dengan begitu, Anda bisa menggunakan rekayasa keandalan untuk mengoperasikan data dan API terbuka. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan Dan Keamanan Cloud Deployment Anda Do: Pahami bahwa operator akan terus memiliki dan mengontrol jaringan Saat mempertimbangkan pendekatan cloud-native pada jaringan, pertanyaan mengenai keamanan, privasi, dan kontrol akan selalu muncul. Pertama-tama, Anda perlu ingat bahwa operator sebagai pemilik jaringan akan terus mengelola dan mengontrol jaringan mereka, termasuk data yang berjalan di dalamnya. Kedua, Google Cloud sebagai penyedia cloud-native menjadikan keamanan user sebagai prioritas utama. Sebagai bukti, Google menerapkan prinsip kepercayaan yang mengatur pendekatan terhadap keamanan. Terakhir, jika bekerja sama dengan Google Cloud, CSP bisa memanfaatkan infrastruktur dan investasi secure-by-design yang dirancang Google. Do: Susun skala pada platform data Anda Photo Credit: Rawpixel Pada poin sebelumnya telah dibahas mengenai kontrol. Untuk menjaga keamanan kontrol jaringan maka CSP haru memiliki tata kelola data yang penting. Selain konsolidasi dan normalisasi data, Anda juga harus menetapkan standar kualitas data, kepemilikan data, manajemen siklus hidup, interoperability, dan pertukaran data. Dengan begitu, Anda bisa benar-benar fokus dalam memberikan nilai bisnis melalui 5G, IoT, bahkan penggunaan optimalisasi jaringan yang didorong oleh data dan analitik. Sebagai contoh adalah penggunaan data dan otomatisasi untuk membantu mendeteksi anomali pada jaringan. Jika Anda memilki skala pada platform data maka tahap tersebut bisa dilihat sebagai bagian pertama dari jaringan otonom untuk kemudian dilanjutkan dengan analisis penyebab. Don’t: Terbiasa merancang infrastruktur terpisah untuk workload tervirtualisasi dan terkemas Photo Credit: Rawpixel Meski saat ini ada banyak vendor perangkat lunak yang sedang dalam proses migrasi menuju workload terkemas cloud-native, workload tervirtualisasi akan tetap ada selama beberapa waktu. Di waktu yang sama, status quo penerapan infrastruktur terpisah untuk workload yang tervirtualisasi dan terkemas akan memunculkan kompleksitas yang tidak perlu, membatasi skala, dan menciptakan silo yang tidak bisa dikelola dan tidak berkelanjutan. Solusinya adalah memiliki satu set infrastruktur terkelola dengan Kubernetes yang berjalan di atas serta kemampuan untuk menempatkan sekaligus mengatur CNF, VNF, dan bahkan aplikasi edge dengan mulus. Google Distributed Cloud dibangun dengan kemampuan yang diperlukan untuk memungkinkan terjadinya koeksistensi antara CNF dan VM sehingga silo infrastruktur tidak akan muncul kembali. Baca juga: 5 Cara Manfaatkan Google Cloud untuk Mudahkan Integrasi Post-Merger Dari sini bisa disimpulkan bahwa CSP memerlukan pendekatan yang lebih modern untuk membangun, mengoperasikan, dan memelihara jaringan. Google Cloud melalui layanan cloud-native bisa menjadi solusi yang efektif untuk permasalahan tersebut. Jika perusahaan Anda menghadapi permasalahan yang sama, Google Cloud layak untuk dipertimbangkan. Terlebih jika Anda menggunakan paket Cloud yang memang dikhususkan untuk memenuhi keperluan perusahaan. Paket Google Cloud tersebut bisa Anda dapatkan secara resmi melalui EIKON Technology, official reseller untuk produk –produk Google. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut!

Info

Mengenal Resources dan Tools baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman

Mengetahui cara implementasi AI yang aman dan bertanggung jawab kini menjadi semakin penting. Sebab, tanpa disadari, AI atau Artificial Intelligence kian sulit untuk dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Relevansi AI dengan kehidupan manusia menjadi semakin tinggi, sehingga rasanya tidak ada bidang yang tidak tersentuh perkembangan AI. Agar tidak terjadi penyalahgunaan dalam perkembangan AI, perusahaan IT banyak meluncurkan resources dan tools untuk memastikan agar proses implementasi tetap bertanggung jawab dan tidak menyalahi aturan yang ada. Salah satunya Microsoft Azure. Dalam event bertajuk “Put Responsible AI into Practice” Azure memperkenalkan beberapa resource dan tool baru untuk membantu implementasi AI yang lebih bertanggung jawab. Seperti apa? Panduan implementasi AI Azure Meski kesadaran untuk melakukan implementasi AI dengan aman dan bertanggung jawab sudah tumbuh dalam masyarakat, sayangnya masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana caranya. Masih banyak perusahaan yang menggunakan teknologi AI tidak memiliki pemahaman mendalam tentang “tanggung jawab” dalam implementasi AI. Tidak jarang, perusahaan terlalu mengandalkan AI mereka. Sebagian besar karena tidak adanya kejelasan tentang bagaimana menjalankan prinsip-prinsip mereka. Baca juga: Cara Back Up Data Menggunakan Azure Back Up Untuk membantu menyelesaikan permasalahan tersebut, Azure bekerja sama dengan BCG mengembangkan “10 Panduan Pimpinan Produk dalam Implementasi AI yang Bertanggung Jawab”, sebuah resource yang berisi panduan jelas dan dapat ditindaklanjuti oleh para pimpinan teknis perusahaan dalam menilai, merancang, dan melakukan validasi tanggung jawab sistem AI. “Sepuluh Panduan Implementasi AI” Photo Credit: Rawpixel Panduan tersebut kemudian dikelompokkan dalam tiga fase besar yaitu: Menilai dan mempersiapkan Mengevaluasi manfaat produk, teknologi, potensi risiko, dan kesiapan tim. Merancang, membangun, dan mendokumentasikan Meninjau dampak, pertimbangan unik, dan praktik dokumentasi. Validasi dan dukungan Memilih prosedur pengujian dan dukungan untuk memastikan produk berfungsi sebagaimana seharusnya. Dengan adanya resource baru tersebut, Azure berharap akan ada lebih banyak lagi perusahaan yang menerapkan AI dan bertanggung jawab dalam setiap prosesnya. Responsible AI dashboard Dalam event tersebut, Azure juga memperkenalkan Responsible AI (RAI) dashboard yang dirancang untuk membantu para data scientist dan developers dalam memahami, melindungi, dan mengendalikan data serta model AI. Dashboard tersebut berisi kumpulan kemampuan AI seperti interpretasi, analisis kesalahan, kontrafaktual, dan inferensi biasa. Layanan tersebut sudah dapat diakses khalayak umum melalui Azure Machine Learning. Photo Credit: Microsoft Azure Blog Perusahaan yang telah menerapkan Responsible AI Photo Credit: Rawpixel Data dari Azure menunjukkan bahwa sudah ada banyak perusahaan dari berbagai industri, yang bekerja dengan memanfaatkan kemampuan AI dari Azure, termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan tools AI. Novartis Salah satunya datang dari industri kesehatan yakni Novartis yang merupakan perusahaan obat-obatan asal Swiss. Pada awal tahun 2021 lalu, Novartis secara resmi mengumumkan delapan prinsip penggunaan AI secara etis. Hingga tahun 2021, Novartis telah menanamkan AI dalam alur kerja mereka, termasuk untuk alur kerja yang melibatkan partner mereka (eksternal perusahaan). Perwakilan dari Novartis menyebutkan bahwa penggunaan RAI dashboard memungkinkan tim mereka untuk dapat menilai akurasi dan keandalan dari sebuah sistem AI. Dengan begitu, keberadaan tools tersebut berhasil membantu Novartis untuk melaksanakan prinsip mereka terkait penggunaan AI secara etis. Philips Selain itu, ada juga Philips yang merupakan perusahaan teknologi. Dengan menggabungkan Azure dan perangkat Fairlearn, Philips berhasil mengurangi bias yang muncul pada keseluruhan model pembelajaran mesin mereka. Hasilnya, Philips berhasil memproduksi mesin peralatan kesehatan yang membantu pengelolaan kesejahteraan dan perawatan pasien lebih baik. Scandinavian Airlines Implementasi AI yang aman dan bertanggung jawab juga sudah berlaku di Scandinavian Airlines, perusahaan penerbangan yang berkantor di tiga negara: Denmark, Norwegia, dan Swedia. Scandinavian Airlines sendiri merupakan pelanggan Azure Machine Learning dan menggunakan kemampuan interpretasi AI di unit deteksi penipuan. Baca juga: 5 Fitur Microsoft Azure Yang Perlu Anda Ketahui Perkembangan AI memang terbukti bisa meringankan kehidupan manusia. Namun di satu sisi, inovasi teknologi tersebut juga rentan terhadap penyalahgunaan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Azure terus memperbaharui resources dan tools mereka. Dalam update terbarunya, Azure meluncurkan panduan implementasi AI yang bertanggung jawab serta RAI atau Responsible AI dashboard. Tertarik dengan solusi implementasi AI yang bertanggung jawab dari Azure? Tidak sulit, Anda cukup berlangganan Microsoft Azure karena seluruh kemudahan tersebut telah tersedia di dalamnya. Untuk berlangganan pun mudah, Anda bisa mendapatkan produk Azure resmi dan bersertifikat Microsoft melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk free trial Azure selama 30 hari!

Frehservice

5 Tips untuk Merancang Manajemen IT dengan Penerapan AI

Kemajuan teknologi machine learning dan Natural Language Processing (NLP) telah mendorong kemunculan AI (Artificial Intelligence) sebagai sebuah teknologi transformasi definitive. Sebuah riset dari IDG menemukan bahwa 93% profesional IT mulai mengeksplorasi atau bahkan telah menerapkan AI sebagai upaya modernisasi ITOM  (IT Operations Management) dan ITSM (IT Service Management). Membuktikan bahwa penerapan AI telah menjadi bagian dari hidup manusia. Dengan seluruh antusiasme seputar penerapan AI, tidak mengherankan jika tingkat implementasi dan adopsinya tinggi. Sayangnya, penerapan yang terburu-buru justru gagal memberikan hasil yang diharapkan. Sebab, agar AI memberi hasil realistis, praktisi IT harus memahami potensi AI, termasuk keterbatasannya. Artikel kali ini akan membahas tentang tips merancang manajemen IT yang dilengkapi dengan penerapan AI. Mari simak penjelasannya berikut ini. Identifikasi kebutuhan dan tujuan Photo Credit: Rawpixel Sebelum terjun dan mulai menerapkan AI dalam manajemen IT Anda, pahami terlebih dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan dan masih perlu ditingkatkan. Evaluasi seperti ini akan membantu Anda mengidentifikasi metode penerapan yang tepat serta menyusun daftar prioritas untuk diikuti. Banyak yang menganggap bahwa membangun sistem AI mahal dan rumit. Hal tersebut memang mungkin terjadi jika Anda tidak memahami metode penerapan yang tepat atau tidak memiliki strategi implementasi yang dipikirkan dengan matang. Untuk mencegahnya, pastikan Anda sudah memiliki pemahaman mendalam terkait tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan AI. Kenali opsi AI yang tepat untuk lingkungan ITSM Anda Sebelum merangkul teknologi baru, sebaiknya Anda juga mengetahui apa yang seharusnya dilakukan ITSM dengan kemampuan AI. Katakanlah Anda ingin menerapkan teknologi AI pada suatu proses yang kurang optimal performanya. Padahal jika dievaluasi kembali, penerapan AI kurang sesuai untuk proses tersebut. Jadi, alih-alih implementasi AI, penerapan ITSM modern lebih cocok untuk situasi tersebut. Untuk itu, sebelum terburu-buru mengadopsi teknologi AI, pahami terlebih dulu beberapa opsi lain yang sesuai dengan lingkungan ITSM Anda. Baca juga: Mengenal IT Service Management Modern Bernama Freshservice Tetapkan ekspektasi yang realistis Menerapkan AI memiliki hit and miss tersendiri. Meski AI bisa membantu manajemen IT Anda untuk bekerja lebih cepat dan cerdas, perlu diperhatikan juga bahwa AI perlu infrastruktur yang sesuai, metode penerapan yang tepat, dan data yang relevan untuk mendukung ekspektasi Anda. Memiliki pemahaman yang baik mengenai AI beserta keterbatasannya akan membantu Anda menetapkan ekspektasi realistis. Ada baiknya untuk mulai dari penerapan yang sederhana terlebih dulu sebelum mendalami penerapan yang lebih kompleks. Saat Anda menemukan kesuksesan, coba optimalkan. Miliki praktik manajemen data yang kuat Photo Credit: Rawpixel Tantangan utama bagi proyek AI dimulai dengan tugas untuk mengumpulkan data yang tepat dan relevan. Pada dasarnya, pengumpulan data sendiri tidak terlalu kompleks, namun mengelola dan memiliki data relevan yang berkualitas adalah tantangan tersendiri bagi manajemen IT. Problem tersebut biasanya disebabkan oleh kurangnya praktik pengelolaan data yang kuat dan gagal mendungkung penerapan AI dengan sukses. Anda haru melihat bahwa strategi dan praktik data yang jelas harus sudah ada sebelum mengadopsi teknologi AI. Pilih vendor penyedia AI yang tepat Pada studi terbaru IDG, diketahui bahwa kecepatan implementasi dan integrasi dengan teknologi yang ada termasuk sebagai salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi AI di ITSM. Ini karena perusahaan memposisikan diri dalam proses integrasi AI rumit dengan memilih vendor yang tidak tepat. Akibatnya, perusahaan harus menghabiskan beberapa waktu untuk beralih dari penerapan awal hingga operasi penuh. Sebagai solusi, perusahaan harus teliti saat memilih vendor AI. Jika menurut perkiraan Anda akan menghadapi tantangan integrasi, pilih vendor AI yang memiliki pengaturan integrasi kode rendah atau tanpa kode. Sebagian besar vendor menawarkan alur kerja siap pakai yang dilengkapi plug-in IT umum. Vendor modern membantu Anda mengintegrasi solusi AI dengan sistem yang ada untuk dapat merasakan keuntungan AI sejak penerapan hari pertama. Baca juga: Yuk Kenalan dengan Freshservice untuk Modernkan Manajemen IT Anda Sebagai kesimpulan, sebelum mulai melakukan penerapan AI untuk manajemen IT perusahaan, pastikan Anda menetapkan tujuan yang realistis, pahami lingkungan IT Anda saat ini, dan pilih vendor yang tepat. Masih belum menemukan sistem IT yang tepat untuk perusahaan Anda? Freshservice bisa menjadi solusi. Freshservice merupakan IT service desk berbasis cloud yang menyediakan set up sistem IT yang simpel, efisien, dan tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Dapatkan Freshservice resmi hanya di EIKON Technology. Klik di sini untuk free trial Freshservice!

Frehservice

Mengintip Masa Depan IT Service dan Operations Management

Belakangan, AI (Artificial Intelligence) tidak hanya sekadar menjadi kata kunci yang ramai dibicarakan. Jumlah perusahaan yang sudah mengadopsi AI ke dalam strategi  manajemen layanan mereka juga mengalami peningkatan signifikan. Bahkan diketahui juga, sudah ada banyak perusahaan yang mulai menuai manfaat dari penerapan AI. Fakta tersebut membuktikan bahwa investasi perusahaan kepada Intelligence Service Management bukanlah suatu kesia-siaan. Investasi penerapan Intelligence Service Management bahkan berhasil memenuhi ekspektasi para praktisi IT di dalam perusahaan. Tak jarang pula, implementasi tersebut melampaui ekspektasi awal. Baru-baru ini Freshservice berkolaborasi dengan Frost & Sullivan yang merupakan perusahaan konsultasi bisnis Amerika Serikat untuk mengidentifikasi perkembangan terbaru pada IT Service Management (ITSM) dan IT Operations Management (ITOM). Dari situ bisa diketahui apa yang mungkin terjadi nanti dan ke mana arah transformasi. Artikel kali ini akan membahas bagaimana kolaborasi antara Freshservice dengan Frost & Sullivan dalam meningkatkan kinerja bisnis yang efektif. Secara garis besar, peran IT dalam perusahaan sangat besar. IT harus bisa menjadi inovator yang berpusat pada karyawan dengan pengalaman layanan mandiri yang cerdas. Mari pelajari bersama. Intelligent Service Management Whitepaper Kerja sama antara Freshservice dengan Frost & Sullivan melahirkan sebuah temuan yang kemudian diberi nama Intelligent Service Management Whitepaper. Temuan tersebut mengungkapkan cara untuk: Melakukan integrasi layanan dan manajemen operasi dengan sistem otomatisasi cerdas. Meningkatkan skalabilitas dan efisiensi dengan memanfaatkan chatbot, agen virtual, serta orkestrasi IT. Menunjukkan nilai bisnis dan juga return on investment (ROI) yang cepat melalui platform ITSM yang lebih modern dan cerdas. Temuan tersebut juga menyatakan pentingnya upaya memodernkan ITSM. Dari riset berbasis bisnis yang dilakukan oleh Frost & Sullivan diketahui bahwa penerapan platform ITSM yang lebih modern dan cerdas dapat meningkatkan rasio keuntungan atas investasi yang dilakukan perusahaan. Baca juga: IT Service Management Modern Bernama Freshservice Kemungkinan perkembangan ITSM dan ITOM Photo Credit: Rawpixel Penelitian tersebut kemudian digunakan untuk mengukur sejauh mana perkembangan teknologi cerdas. Dari situ bisa diketahui kemungkinan perkembangan teknologi cerdas di masa depan di antaranya: Adanya sebuah sistem ITSM modern yang lebih intuitif sehingga mudah digunakan. Diprediksi, produk ini dapat menghasilkan ROI yang bagus dalam beberapa bulan. Menariknya lagi, sistem ini juga tidak akan memerlukan waktu lama untuk diadopsi, dipelajari, dan mulai diterapkan. Meningkatkan performa AI dan layanan mandiri dengan dukungan omnichannel. Tools layanan mandiri dan orkestrasi untuk membebaskan agen sevice desk agar bisa menangani masalah yang jauh lebih kompleks. Operasi terpadu yang menggabungkan ITSM dan juga ITOM. Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak pemadaman, memastikan kelangsungan bisnis, dan merampingkan layanan yang sudah ada. Peningkatan tools kolaborasi tim yang terintegrasi dengan mulus memanfaatkan infrastruktur IT yang sudah ada. Enterprise Service Management (ESM) untuk merampingkan sejumlah tugas untuk tim, meningkatkan nilai bisnis, serta menambah ROI. Baca juga: Modernkan Manajemen Layanan IT Perusahaan Anda dengan Freshservice! Pengaruh perkembangan makroekonomi Tanpa disadari, perkembangan makroekonomi di masa sekarang telah mempercepat transformasi digital banyak perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah penyebaran layanan digital cerdas serta pengalaman dukungan. Pada akhirnya, masa depan ITSM akan menjadi sebuah kombinasi yang memadukan teknologi dan sentuhan manusia. Dalam sebuah survei yang dilakukan Harvard Business Review Analytic Service, ditemukan bahwa 77% perusahaan mengatakan, karyawan akan cenderung memilih untuk resign jika perusahaan tidak menyediakan alat, teknologi, serta informasi yang mereka butuhkan untuk bekerja. Photo Credit: Rawpixel Semantara itu, 82% perusahaan menyatakan bahwa kebahagiaan karyawan di tempat kerja secara signifikan dipengaruhi oleh seberapa baik kinerja teknologi di tempat kerja mereka. Oleh karena itu, perusahaan harus siap untuk memasukkan kecerdasan ke dalam sistem manajemen layanan mereka untuk tetap relevan dengan lingkungan bisnis yang terus berubah. Pembahasan kali ini menunjukkan bahwa masa depan ITSM dan ITOM akan masih sangat panjang, terlebih jika kita memperhitungkan kemungkinan masuknya AI. Masih belum terlambat untuk sekarang jika Anda ingin mulai menerapkan IT service yang modern seperti Freshservice. Dengan Freshservice, Anda bisa akan lebih leluasa dalam change management, release management, dan tentunya asset management. Anda bisa mendapatkan platform Freshservice resmi melalui EIKON Technology. Belum familier dengan Freshservice, coba gratis sekarang juga di sini!

Appsheet

Langkah Mudah Membuat Email Dinamis dengan AppSheet

Workflow pekerjaan menuntut Anda untuk terus mondar-mandir di beberapa aplikasi sekaligus? Hal ini tentu akan sangat menghambat produktivitas kerja, terlebih jika aplikasi yang Anda gunakan memakan banyak memori. Dengan memanfaatkan AppSheet yang ada dalam Gmail, Anda tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi. AppSheet merupakan platform untuk membuat aplikasi tanpa coding. Dalam perkembangannya, AppSheet hadir pada produk dan layanan lain dari Google. Salah satunya adalah Gmail. Kehadiran AppSheet di Gmail akan memungkinkan Anda untuk membuat email yang lebih dinamis bahkan tanpa coding. Sebab, AppSheet sendiri merupakan platform tanpa coding sehingga dapat dioperasikan dengan mudah, bahkan oleh mereka yang tidak punya pengalaman dalam bidang programming. Simak caranya dalam penjelasan berikut ini! Mengenal cara kerja AppSheet di Gmail Sebelum mulai menggunakan AppSheet di Gmail, mari pelajari bagaimana cara kerjanya. Pada screenshot di bawah, Anda bisa melihat sebuah email permintaan perjalanan yang menunggu persetujuan. Email ini sendiri diteruskan dari aplikasi Permintaan Perjalanan. Dengan AppSheet, Anda bisa membuat sebuah Email Dinamis untuk merespon email tersebut. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan memanfaatkan fitur Email Dinamis dari AppSheet maka detail terbaru tentang permintaan perjalanan tersebut akan ditampilkan langsung pada email. Disebut dinamis karena sumber data terbaru akan selalu ditanyakan tiap email dibuka. Jadi, baik pengirim maupun penerima email bisa langsung mendapatkan update terbaru mengenai email. Orang yang menerima Email Dinamis (atau disebut “approver“) dapat meninjau tiap detail yang ada dalam email. Entah itu menambahkan komentar, membuat keputusan persetujuan, hingga mengirimkan tanggapan mereka langsung dari email. Secara otomatis, tindakan ini akan langsung memperbaharui sumber data aplikasi (dalam contoh kali ini adalah data dari Google Spreadsheet). Baca juga: Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Menyederhanakan Proses Kerja Gambar di bawah menampilkan data pada Google Spreadsheet setelah permintaan perjalanan diberi persetujuan melalui Gmail. Persetujuan dari pengguna ditandai dengan formula “TRUE”. Anda juga bisa melihat detail lain seperti tanggal persetujuan serta catatan tambahan yang muncul pada baris permintaan perjalanan yang ada pada Spreadsheet. Perhatikan screenshot berikut ini: Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk ekstensibilitas ekstra, setelah data tersebut ditulis kembali ke sumber data, maka otomatisasi tambahan pun akan bekerja. Apa saja otomatisasi yang bisa disambungkan ke AppSheet pada Gmail? Anda bisa mengatur beberapa bagian dalam alur kerja seperti mengirim email konfirmasi atau pesan teks SMS. Mulai membuat Email Dinamis dengan AppSheet Untuk mulai membuat Email Dinamis melalui AppSheet tidaklah sulit, prosesnya bahkan hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengatur otomatisasi. Adanya otomatisasi akan memungkinkan aplikasi Anda untuk mendeteksi beberapa tindakan tertentu dan kemudian mengambil tindakan yang sesuai. Baca juga: Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding di Bidang Energi Kembali pada contoh sebelumnya, proses otomatisasi terjadi pada saat muncul sebuah Permintaan Perjalanan. Bot yang telah dibuat sebelumnya akan mendeteksi permintaan tersebut dan kemudian melakukan respon yang sesuai seperti mengirimkan email kepada approver dengan detail kunci. Jika Anda sudah selesai mengatur proses otomatisasi yang diinginkan, beralihlah ke dropdown “Use Dynamic Email” dan pilih tampilan “Approvals”. Dengan memilih opsi tersebut maka pengguna akan mendapatkan email balasan yang berisi persetujuan permintaan perjalanan. Selanjutnya, Anda bisa menambahkan detail lain seperti alamat email penerima serta pesan tambahan. Photo Credit: Rawpixel Sekarang, Anda sudah bisa mulai menggunakan Email Dinamis. Perlu diingat juga, selain Gmail, AppSheet juga dapat ditemukan pada aplikasi maupun layanan lain dari Google seperti Google Sheet. Dengan memanfaatkan AppSheet maka workflows akan menjadi lebih ringkas sehingga produktivitas kerja meningkat. Ingin navigasi aplikasi yang lebih baik lagi? Ada baiknya Anda menggunakan all-in-one platform seperti Google Workspace. Google Workspace menyediakan berbagai tools yang menunjang produktivitas sekaligus kolaborasi, semuanya dalam satu tempat. Anda bisa mendapatkan Google Workspace melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Tips Meningkatkan Fleksibilitas Kerja dengan AppSheet

Setelah memasuki masa new normal, banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid, alias kombinasi antara bekerja di kantor dan rumah. Beberapa bahkan masih menerapkan model work from home (WFH). Transisi model kerja seperti ini tentu menuntut adanya fleksibilitas yang tinggi. Tanpa adanya fleksibilitas, akan sulit mengontrol sekaligus memantau perkembangan workflow. Salah satu solusi yang kini mulai banyak dilirik adalah dengan mengaplikasikan tool produktivitas dan kolaborasi seperti Google Workspace. Kabar baiknya lagi, kini Google Workspace telah dilengkapi dengan kemampuan untuk merancang custom apps serta otomatisasi melalui AppSheet. AppSheet sendiri merupakan platform pengembangan aplikasi tanpa kode dari Google Cloud. Platform tersebut dibuat untuk mudah dioperasikan, bahkan oleh mereka yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang programming. Bagaimana AppSheet dapat membantu meningkatkan fleksibilitas kerja di masa new normal seperti sekarang ini? Mari pelajari bersama dalam ulasan berikut. Menyederhanakan proses kerja Fleksibilitas kerja bisa ditingkatkan dengan bantuan aplikasi yang tepat. Belum menemukan aplikasi yang sesuai untuk perusahaan Anda sendiri? AppSheet bisa menjadi solusi untuk merancang aplikasi yang menjawab kebutuhan perusahaan. Katakanlah Anda ingin menyederhanakan proses inventarisasi kantor, AppSheet menyediakan beberapa fitur yang dapat digunakan untuk melakukan inspeksi, pelacakan inventaris, hingga pemusatan informasi yang lebih terstruktur. Google Sheet bisa dimanfaatkan untuk menyimpan backend data Anda, terlebih jika data yang tersimpan tidak akan bertambah secara eksponensial. Pengalihan data dapat dilakukan dengan mudah melalui Google Cloud SQL. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk memulainya, Anda bisa langsung membuka AppSheet melalui Google Sheet dengan cara klik Tools > AppSheet > Create an App. Data yang saling terkait Setelah berhasil membuat aplikasi, Anda bisa melihat data mana saja yang saling terkait, bagaimana potongan data saling berhubungan, tampilan seperti apa yang disajikan kepada pengguna, serta pratinjau interaktif langsung dari aplikasi sehingga Anda bisa menyempurnakan aplikasi secara intuitif. Aplikasi manajemen kantor yang dibuat melalui AppSheet akan menawarkan pengaturan gedung serta fitur administrasi untuk mengelola peralatan, informasi pemeliharaan, bahkan Anda juga bisa menyesuaikan dengan kondisi terkini, misalnya penjadwalan desinfeksi ruangan. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengguna kemudian dapat memesan ruang dan peralatan melalui aplikasi, tanpa harus mencari formulir atau bahkan masuk ke komputer kerja mereka. Reservasi merupakan salah satu fitur otomatisasi di AppSheet, bisa melakukan tindakan yang telah dikonfigurasi sebelumnya saat dipicu. Photo Credit: Google Cloud Blog Seperti terlihat pada screenshot di atas, saat sebuah tindakan dipicu—baik dengan menekan tombol, memindai kode QR atau mengetuk tag RFC—Anda cukup menyetelnya melalui kolom “Reserved by” dan “Reserved at”. Proses yang lebih ringkas dengan otomatisasi Photo Credit: Google Cloud Blog Melalui fitur AppSheet Automation, Anda bisa mengurangi tugas berulang sekaligus meringkas proses lebih jauh. Salah satu contoh penerapannya adalah saat pengguna sering lupa mematikan sumber daya setelah selesai bekerja. Dengan AppSheet Automation, aplikasi akan memeriksa semua sumber daya yang telah dicadangkan selama lebih dari empat jam secara berkala. Jika tidak terdapat respon maka otomatisasi akan langsung membersihkan sumber daya dan melepaskannya. Optimalkan untuk beberapa peran Photo Credit: Google Cloud Blog Memanfaatkan AppSheet, Anda bisa merancang satu aplikasi dengan banyak peran sekaligus. Untuk sebuah aplikasi manajemen kantor misalnya, pengelola kantor akan memiliki tampilan sekaligus dashboard khusus yang berbeda dengan pekerja kantor lainnya. Dengan begitu, proses otomatisasi pun bisa langsung disesuaikan dengan masing-masing peran. AppSheet juga mendukung fitur-fitur canggih seperti kode QR, NFC, dan integrasi sensor Bluetooth. Hal ini dapat membantu pengguna memeriksa lokasi atau ruang kerja, meringkas beberapa tugas sekaligus, membantu pengguna melakukan navigasi, sekaligus berkolaborasi dengan aman di dalam kantor. Baca juga: Formula dan Expressions, Kunci Utama Membuat Aplikasi Tanpa Coding AppSheet adalah sebuah platform pengembangan aplikasi tanpa kode. Dengan memanfaatkan platform tersebut, Anda bisa merancang sebuah aplikasi meski tidak memiliki dasar terkait programming. Sifatnya yang dinamis membuat AppSheet dapat diakses melalui browser hingga smartphone. AppSheet Core akan otomatis didapatkan jika perusahaan Anda telah berlangganan Google Workspace Enterprise Plus. Belum berlangganan atau ingin meningkatkan subscription Anda? EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai reseller dengan lisensi resmi dari Google, EIKON Technology menyediakan berbagai produk dari Google termasuk Google Workspace dan segala fitur di dalamnya, termasuk AppSheet. Dapatkan segera di sini!

Google Workspace, Info

Google Drive Update: Lebih Ringkas dengan Sistem Shortcut

Sering mengalami kesulitan dalam mengelola file yang tersimpan dalam Google Drive karena melakukan hosting di beberapa lokasi sekaligus? Kini Anda tidak perlu bingung lagi. Pasalnya, Google telah meluncurkan sistem shortcut (pintasan) yang dirancang untuk menyederhanakan struktur file dan folder dalam Google Drive. Dengan Drive update tersebut maka file multi lokasi akan secara otomatis dimigrasikan ke shortcut. Bagaimana cara kerjanya? Mengenal Google Drive shortcuts Peralihan model kerja selama pandemi tanpa disadari membuat kita jauh lebih bergantung pada tools produktivitas berbasis cloud seperti Google Workspace untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau bahkan partner. Di satu sisi, peralihan tersebut memang akan memudahkan, tapi di sisi lain juga bisa menyebabkan penumpukan file dokumen, Sheet, presentasi, dan aset lain yang di-hosting dalam Google Drive. Akibatnya, pengguna akan menghadapi beberapa masalah manajemen file dan tentunya navigasi. Baca juga: 7 Fitur Google Drive Ini Wajib Anda Ketahui Pada Drive update yang dijelaskan dalam artikel kali ini, Google menerapkan beberapa pengaturan yang memudahkan pengguna dalam melakukan manajemen file. Fitur yang paling disoroti adalah Google Drive shortcut. Sistem shortcut ini nantinya akan memudahkan pengguna dalam mengatur file dan folder yang tersimpan dalam Drive. Proses migrasi Perlu diingat proses migrasi untuk update Google Drive ini tentu tidak terjadi secara mendadak. Proses migrasi akan dilakukan secara bertahap mulai dari awal tahun 2022. Ada pun untuk timeline lengkapnya sebagai berikut: Awal tahun 2022. Administrator akan mendapatkan notifikasi melalui email beberapa minggu sebelumnya untuk memulai proses migrasi di dalam domain. o   Catatan penting: Sebelum migrasi dimulai, administrator dapat mengatur waktu untuk membuat shortcuts di dalam shared folders. Sedangkan end users Google Workspace tidak akan mendapatkan notifikasi tersebut. Sebagai gantinya, end user Google Drive akan mendapatkan pemberitahuan melalui banner yang ada pada Drive (baik versi web maupun mobile). End users tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena proses migrasi akan berlangsung otomatis. o   Berlaku untuk seluruh users Google Workspace dan users dengan akun Google pribadi. Photo Credit: Google Workspace Updates Membuat shortcut dengan Drive for Desktop Sebelumnya, jika fitur “Backup and Sync” aktif, maka Anda bisa membuat sebuah folder baru dalam lokasi baru dengan menekan “Shift+Z”.  Namun setelah Drive update kali ini, perintah Shift+Z akan menghasilkan sebuah shortcut alih-alih sebuah folder yang ada di beberapa lokasi. Baca juga: Edisi Google Workspace yang Bisa Anda Pilih untuk Bisnis Fungsi shortcuts yang telah tersedia Photo Credit: Google Workspace Updates Hingga artikel ini ditulis, fitur shortcuts pada Drive masih terus dikembangkan. Salah satu fungsi andalannya adalah memberikan informasi folder dan file yang lebih lengkap. Berikut adalah beberapa detail informasi yang ditampilkan pada shortcuts: Daftar user yang dapat mengakses file serta ketersediaan file untuk diunduh. Ukuran file serta ruang penyimpanan yang telah terpakai. Lokasi asli file. Nama user yang membuat dan melakukan modifikasi file. Informasi tersebut telah tersedia pada Google Drive versi web. Sedangkan versi mobile masih dalam pengembangan dan akan segera diluncurkan. Ketersediaan layanan Photo Credit: Google Workspace Updates Hingga saat ini, fitur shortcut sudah diterapkan pada: Seluruh pengguna Google Workspace, termasuk untuk pengguna G Suite Basic serta G Suite Business. Seluruh pengguna Google Drive yang mendaftar dengan akun Google pribadi. Adanya platform penyimpanan berbasis cloud seperti Google Drive memang terbukti sangat membantu di masa pandemi seperti sekarang. Sebab, Anda tidak perlu bingung lagi dengan masalah menyimpan atau bahkan membagikan file. Selain itu, Drive juga sangat memudahkan dalam pekerjaan yang menuntut kolaborasi. Sayangnya, kemudahan tersebut rentan menimbulkan masalah dalam pengelolaan file. Sistem shortcut yang merupakan Google Drive update menjadi solusi yang memudahkan Anda dalam mengatasi penumpukan file. Ingin kinerja Drive Anda semakin optimal? Gunakan Google Workspace, platform produktivitas dan kolaborasi dari Google yang dirancang untuk memudahkan pekerjaan melalui komputasi cloud. Dapatkan hanya di EIKON Technology, partner sekaligus authenticated reseller produk-produk Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology!

Scroll to Top