School

Education, Google Workspace, School

Read Along: Bantu Siswa Belajar Membaca Lebih Cepat

Di tahun 2019, Google India meluncurkan Bolo, sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu siswa sekolah dasar (SD) belajar membaca. Aplikasi tersebut berhasil membantu lebih dari 30 juta anak di India dan menyediakan lebih dari 120 juta cerita. Pada bulan Agustus 2022 ini, aplikasi tersebut diluncurkan untuk global di 180 negara dan berganti nama menjadi Read Along. Apa saja fitur yang ditawarkan aplikasi belajar ini? Mengenal aplikasi belajar Read Along Aplikasi Read Along pada dasarnya merupakan aplikasi Bolo yang telah dikembangkan dan didukung oleh teknologi canggih seperti text-to-speech dan pengenalan suara (speech recognition) milik Google. Selain itu, Read Along juga sudah mendukung 9 bahasa dunia, yaitu Inggris, Spanyol, Portugis, Hindi, Bengali, Marathi, Tamil, Telugu, dan Gujarat. Seperti pendahulunya, Bolo, Read Along juga diluncurkan dalam versi aplikasi mobile (Android app). Namun kini Google sedang mengembangkan versi web dan Anda bisa mencoba versi public beta di readalong.google.com. Sedikit tambahan informasi, baik Read Along versi aplikasi maupun web dapat diakses dan diunduh secara gratis. Baca juga: Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran Teman belajar Diya Photo Credit: senivpetro (Freepik) Untuk mendorong siswa agar dapat belajar membaca secara mandiri, Read Along telah dilengkapi dengan “seorang” asisten virtual bernama Diya. Ketika siswa membaca cerita, Diya akan mendengarkan. Setelah siswa selesai membaca, Diya akan memberikan penilaian dan mengoreksi jika ada kata-kata yang salah pelafalannya. Bukan cuma itu, Diya juga sudah dibekali kapabiltas untuk memberikan dukungan pada siswa agar mereka tetap semangat belajar membaca. Diya bisa ditemukan pada versi aplikasi maupun website. Selain itu, seluruh cerita yang tersedia di Read Along juga telah disertai dengan ilustrasi menarik yang akan memudahkan siswa membayangkan isi cerita. Baca juga: Google For Education Hadirkan Laporan Transformasi untuk Customer Bantu tenaga pengajar Photo Credit: Freepik Read Along versi web juga membuka peluang baru bagi guru dan pimpinan sekolah di seluruh dunia, untuk memanfaatkan Read Along sebagai alat latihan membaca bagi siswa. Aplikasi ini dapat diakses melalui beberapa browser populer seperti Chrome, Firefox, dan Edge, dengan dukungan untuk iOS dan lebih banyak browser seperti Safari akan segera hadir. Di samping itu, tenaga pengajar juga bisa masuk dari akun unik untuk setiap anak di perangkat yang sama. Sebaiknya gunakan akun Google Workspace for Education di sekolah serta akun Google dengan Family Link di rumah agar penggunaan Read Along tetap aman dan terkontrol. Selain peluncuran situs web, Google juga telah menambahkan beberapa cerita baru di Read Along. Cerita-cerita baru ini merupakan hasil kolaborasi Google dengan content creator YouTube seperti ChuChu TV dan USP Studios. Kolaborasi tersebut mengadaptasi beberapa video populer mereka ke dalam format buku cerita. Google juga melanjutkan kolaborasi dengan Kutuki untuk mengadaptasi koleksi buku alfabet dan fonetik bahasa Inggris serta Hindi yang sangat baik untuk pembaca pemula. Buku-buku tersebut akan tersedia akhir tahun ini. Baca juga: Merancang Sistem Belajar Online yang Aman dengan Google for Education Membaca adalah keterampilan penting untuk dikembangkan pada usia muda. Dengan aplikasi Read Along, anak-anak bisa belajar membaca secara terarah namun tetap menyenangkan. Konten yang ditampilkan pun telah dikurasi dengan ketat sehingga aman untuk anak-anak. Seperti yang telah disebutkan, aplikasi Read Along akan bekerja lebih optimal jika di sekolah siswa juga belajar dengan dukungan Google Workspace for Education. Integrasi antara Read Along dengan Workspace akan memudahkan tenaga pengajar dalam melacak perkembangan belajar siswa. Dapatkan solusi Google Workspace for Education melalui EIKON Technology. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, kami siap memberikan layanan menyeluruh mulai dari konsultasi perencanaan hingga penerapan solusi. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini

Education, Google Workspace, School

Cara Mengakses Tools Teknologi Pendidikan Populer Langsung di Google Classroom

Sekarang ini ada banyak sekali tools teknologi pendidikan (EdTech) yang bisa dimanfaatkan tenaga pendidik dalam kegiatan belajar mengajar. Namun sayangnya, terkadang tools tersebut sulit untuk diakses. Sering kali, guru harus melakukan pendaftaran berulang kali saat ingin mendapatkan tools yang berbeda. Begitu pula ketika mereka menggunakannya. Mau tak mau, harus berulang kali pindah platform. Ini tentu akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Sebagai solusi, Google Classroom meluncurkan integrasi dengan beberapa tools teknologi pendidikan yang banyak digunakan oleh tenaga pendidik. Menariknya, guru hanya perlu sign-on ke akun Classroom mereka untuk bisa mengakses tools. Untuk mengenal integrasi ini lebih jauh, mari simak penjelasannya berikut ini. Integrasi tools teknologi pendidikan Dengan integrasi baru yang mulus dan sistem masuk tunggal, kini para tenaga pendidik yang menggunakan Google Classroom bisa langsung mengakses tools EdTech populer yang paling sesuai untuk kelas mereka langsung. Tidak perlu lagi berpindah-pindah platform untuk menggunakan tools karena semua telah tersedia di satu tempat. Fitur baru ini memungkinkan pendidik untuk menelusuri, menetapkan, dan menilai konten yang menarik untuk kelas mereka sekaligus membantu pendidik dan siswa untuk mengakses tools EdTech mereka tanpa harus melalui berbagai langkah login, seperti mengingat banyak nama pengguna dan sandi, atau harus menavigasi ke situs web dan aplikasi eksternal. Selain menghemat waktu pendidik dan siswa, ini memberikan pengalaman yang lebih efisien saat menggunakan teknologi untuk memberi dampak pada pembelajaran. Baca juga: Google for Education Hadirkan Laporan Transformasi untuk Customer Daftar tools yang telah terintegrasi Photo Credit: Google Blog Google Classroom menyebutkan bahwa mereka telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 15 perusahaan teknologi pendidikan untuk membuat add-on khusus. Ada pun perusahaan yang dimaksud adalah Adobe Express for Education, BookWidgets, CK-12, Edpuzzle, Formative, Genially, Google Arts & Culture, Google Play Books, IXL, Kahoot!, Nearpod, Newsela, PBS LearningMedia, Pear Deck, SAFARI Montage, Sora from OverDrive Education, WeVideo, dan juga Wordwall. Mulai menggunakan fitur Photo Credit: Google Blog Untuk bisa menghadirkan integrasi tools ini, diperlukan konfigurasi dari administrator terlebih dulu. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyetel konfigurasi: Administrator: Admin distrik harus mengaktifkan akses ke add-on agar pendidik dapat menggunakan fitur ini. Kunjungi Help Centerr untuk mempelajari lebih lanjut tentang petunjuk pemasangan, cara menyiapkan fitur add-on, dan masing-masing add-on untuk domain, OU (organizational unit), atau grup. Setelah menyiapkan add-on, distrik Anda dapat menggunakan kit pengembangan profesional ini, yang mencakup presentasi dan rencana pelajaran. Untuk melatih pendidik tentang cara memulai add-on. Mitra add-on Classrom, Genially, juga telah membuat versi interaktif pelatihan pengembangan profesional. Baca juga: Merancang Sistem Belajar Online yang Aman dengan Google for Education Tenaga pendidik: Setelah diaktifkan oleh admin, Anda akan melihat modul “add-on” di dalam layar Assignment and Stream. Dari sana, Anda akan menemukan daftar add-on yang tersedia. Kunjungi Help Center untuk mempelajari lebih lanjut tentang menggunakan add-on di Classroom. Perusahaan EdTech dan developer: Jika Anda tertarik untuk membuat add-on Classroom, Google telah menyediakan ruang untuk menyampaikan minat Anda di sini. Ketersediaan integrasi Integrasi dengan tools teknologi pendidikan ini telah tersedia di Google Classroom. Silakan hubungi administrator untuk mulai menggunakannya. Perlu diingat, add-on ini hanya akan muncul pada Workspace edisi Teaching and Learning Upgrade serta Google Workspace for Education Plus. Integrasi tidak tersedia untuk pelanggan Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Education Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Frontline, and Nonprofits, termasuk G Suite Basic dan G Suite Business. Serta tidak tersedia untuk pengguna dengan Google Account pribadi. Baca juga: Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran Dengan hadirnya integrasi ini, tenaga pendidik bisa langsung mengakses tools teknologi pendidikan populer tanpa harus keluar dari aplikasi Google Classroom. Sebagai raksasa teknologi, Google memang terus mengembangkan berbagai fitur, kapabilitas, hingga tools untuk memudahkan para tenaga pendidik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Ingin mulai menerapkan ekosistem pendidikan dengan dukungan Google. Anda bisa berlangganan Google Workspace for Education melalui EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, kami menawarkan paket berlangganan dengan layanan menyeluruh mulai dari konsultasi pra-implementasi hingga pemantauan pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Workspace, School

Cara Sinkronisasi Server Apple DEP dan Google Mobile Device Management

Kini, untuk edisi Google Workspace tertentu, admin dapat melakukan sinkronisasi on-demand antara server Apple DEP dan Google Mobile Device Management (MDM) untuk perangkat milik perusahaan. Selain itu, mereka juga dapat melihat kapan sinkronisasi ini terakhir kali dijalankan. Meskipun sinkronisasi ini dilakukan secara otomatis setiap beberapa jam sekali, sekarang admin dapat meminta sinkronisasi untuk kebutuhan yang sensitif terhadap waktu. Misalnya, admin dapat menggunakan opsi ini untuk segera memulai sinkronisasi untuk perubahan inventaris sensitif pada perangkat Apple. Fitur tersedia dalam menu “Sync DEP Devices” di konsol Google Admin, tepatnya di bawah menu Devices > Mobile and endpoints > iOS Settings > Apple certificates. Cara sinkronisasi perangkat iOS dengan Google Mobile Device Management Photo Credit: Google Workspace Updates Administrator dapat mengelola iPhone dan iPad milik perusahaan di konsol Google Admin. Untuk melakukannya, hubungkan Apple Business Manager atau Apple School Manager dengan langganan Google Workspace atau Cloud Identity Anda. Langkah 1: Siapkan Pendaftaran Apple Anda harus masuk sebagai super administrator untuk tugas ini. Admin yang memiliki hak istimewa Google Mobile Device Management tapi bukan super administrator masih bisa melihat alur penyiapan. Namun jika mereka tidak dapat mengunduh public key. Kemudian, ikuti panduan berikut: Masuk ke konsol Google Admin. Dari halaman beranda konsol Admin, buka menu Devices. Di sebelah kiri, klik pengaturan Mobile & endpoints Settings iOS. Klik Apple certificates Set Up Enrollment. Klik Get public key. Public key akan diunduh ke perangkat Anda. Buka Apple Business Manager atau Apple School Manager dan masuk dengan ID Apple bisnis Anda. Di bagian Device Enrollment Program: Klik Manage Servers. Jika Anda telah menyiapkan MDM Server untuk digunakan pada perangkat ini, klik. Jika tidak, buat server baru. Saat diminta, unggah public key yang Anda unduh dari konsol Admin. Unduh server token dari Apple. Kembali ke konsol Admin. Di bawah ID Apple Bisnis, masukkan ID Apple yang Anda gunakan untuk mendapatkan token. Entri ini membantu Anda melacak admin mana yang melakukan penyiapan. Klik Upload Server Token, pilih token yang Anda unduh dari Apple, dan klik Buka. Klik Save & Continue. Token dan tanggal kedaluwarsanya kini terdaftar di halaman pengaturan. Setel pengingat kalender untuk memperbarui token sebelum kedaluwarsa. Baca juga: Proteksi Baru Terhadap Perubahan Konfigurasi Google Workspace, Seperti Apa? Langkah 2: Konfigurasi pengaturan perangkat Anda dapat mengontrol cara perangkat iOS disiapkan saat pengguna pertama kali login. Masuk ke konsol Google Admin. Dari halaman beranda konsol Admin, buka menu Devices. Di sebelah kiri, klik pengaturan Mobile & endpoints Settings iOS. Klik Company-owned iOS device setup Device enrollment settings. Klik Save. Langkah 3: Konfigurasi batasan perangkat iOS Untuk perangkat yang diawasi, Anda dapat mengontrol akses pengguna ke lebih banyak aplikasi dan setelan. Anda dapat mengonfigurasi setelan pengelolaan ini menurut unit organisasi. Misalnya, Anda dapat mengizinkan pengguna di beberapa unit organisasi untuk memasang aplikasi, tetapi memblokir penginstalan aplikasi untuk unit organisasi lain. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual Langkah 4: Mendaftarkan dan mendistribusikan perangkat iOS milik perusahaan Photo Credit: Rawpixel Buka Apple Business Manager atau Apple School Manager dan masuk dengan ID Apple bisnis Anda. Tetapkan perangkat ke MDM Server yang Anda sambungkan ke manajemen endpoint Google. Nomor seri perangkat yang ingin Anda kelola melalui pengelolaan endpoint Google harus sudah ada di sistem (dimasukkan oleh pengecer Apple resmi Anda). Untuk menetapkan semua perangkat ke server secara default, setel default assignment. Untuk mendaftarkan perangkat secara massal, unduh file CSV dari nomor serinya, lalu unggah file CSV. Untuk menetapkan perangkat satu per satu, masukkan nomor seri. Perlu diingat, diperlukan waktu hingga 24 jam agar perangkat siap digunakan setelah Anda menetapkannya ke server MDM. Untuk menggunakan perangkat lebih cepat, sinkronkan perangkat secara manual di konsol Admin. Ikuti langkah-langkah di Sinkronkan perangkat secara manual. Distribusikan perangkat ke pengguna Anda. Baca juga: 3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda Saat Menggunakan Google Workspace Dengan memanfaatkan Google Mobile Device Management, Anda dapat mengelola perangkat milik perusahaan, bahkan perangkat yang tidak diproduksi atau menggunakan sistem operasi Google. Dalam update terbarunya, layanan ini sudah dapat mengelola perangkat keluaran Apple lewat metode sinkronisasi yang sudah dijelaskan di atas. Google Mobile Device Management tersedia dalam Workspace for Education yang bisa Anda dapatkan di EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Workspace, School

Aplikasi Google Classroom Kini Bisa Jadwalkan Beberapa Kelas Sekaligus

Aplikasi Google Classroom merupakan suatu platform yang menjadi bagian dari Google Apps for Education. Platform yang diperkenalkan Google pada tahun 2014 lalu ini dirancang untuk memudahkan komunikasi antara guru dan para murid. Di tahun 2021, diperkirakan Classroom memiliki lebih dari 150 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Aplikasi Google Classroom juga telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi dan tools Google Apps for Education, seperti Gmail, Google Calendar, Google Docs, Google Slides, hingga Google Sheets. Dengan begitu, kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pun menjadi lebih mudah dijalankan. Tool ini berhasil membuktikan kemampuannya sebagai alat bantu KBM yang efektif di masa pandemi seperti saat ini. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap platform belajar online, Google Classroom pun terus melakukan peningkatan kemampuan. Dalam update terbarunya, tool tersebut menambahkan beberapa detail pada fitur yang telah ada sebelumnya. Seperti apa? Fitur penjadwalan yang lebih detail Photo Credit: Google Workspace Updates Sebelumnya, Google Classroom telah menyediakan fitur penjadwalan untuk guru. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, guru dapat menjadwalkan materi pelajaran untuk para siswa. Pada update kali ini, fitur penjadwalan mengalami beberapa peningkatan. Salah satu peningkatan yang paling menonjol adalah kemampuan untuk menetapkan jadwal tayang materi perjalanan di beberapa kelas sekaligus. Para pengajar juga bisa memanfaatkan fitur ini untuk mengatur: Tenggat waktu pengumpulan tugas siswa. Tanggal posting materi pelajaran. Topik pengajaran yang akan datang. Perlu diingat, sisa tugas yang sudah ada akan tetap sama. Setelah pengaturan, guru dapat memilih kelas mana saja yang akan menerima materi pelajaran. Guru juga bisa menentukan waktu tayang materi pelajaran di perangkat murid. Tersedia 3 opsi yang bisa dipilih, yaitu langsung ditayangkan, diterbitkan pada tanggal tertentu atau disimpan sebagai draft. Harapannya, pembaruan ini akan memudahkan guru untuk menetapkan tugas di berbagai kelas, menghemat waktu mereka yang berharga, serta menyederhanakan perencanaan dan pengelolaan kelas. Beban kerja guru pun akan berkurang. Baca juga: Meeting Semakin Mudah dengan Fitur Baru Google Classroom Tidak ada biaya tambahan Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan untuk fungsi baru ini. Hanya saja, guru perlu fokus dengan beberapa perubahan terjadi. Sebab, beberapa fitur dan capabilities mengalami perubahan. Misalnya, saat menetapkan jadwal pengumpulan tugas. Setelah tugas dijadwalkan, kini guru bisa mengubah tugas di setiap kelas. Namun perlu diperhatikan, memilih opsi “Copy settings to all” akan menghapus semua pengaturan yang dimasukkan sebelumnya. Selain itu, jika sudah menjadwalkan waktu tayang materi pelajaran untuk satu atau beberapa kelas, secara otomatis Anda akan menjadi pemilik file materi yang tersimpan di Google Drive. Anda juga bisa membagi file tersebut dengan pihak terkait misalnya bagian kurikulum sekolah. Tersedia untuk beberapa paket saja Photo Credit: Freepik Fitur penjadwalan ini hanya tersedia untuk pelanggan Google Workspace for Education Fundamentals, Education Standard, Teaching and Learning Upgrade, dan Education Plus. Tidak tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Frontline, dan Nonprofits, serta pelanggan lama G Suite Basic dan Business. Sedikit tambahan informasi, update terbaru ini juga tidak memerlukan pengaturan dari administrator sekolah. Guru dan murid sebagai end-user bisa langsung menggunakannya. Untuk waktu rilisnya sendiri sudah dimulai sejak 17 Maret 2022 dan terus berjalan hingga 15 hari ke depan. Baca juga: 5 Fitur Google Classroom Terbaru Penuhi Kebutuhan Belajar-Mengajar Masa Kini Dengan adanya kapabilitas tambahan pada fitur penjadwalan Google Classroom, guru bisa lebih mudah mengelola materi pelajaran mereka. Waktu penayangan materi dan pengumpulan tugas pun bisa diatur sejak awal agar alur pengajaran lebih tertata. Seperti yang telah disebutkan, aplikasi Google Classroom telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi lain yang ada dalam jaringan Google for Education. Nikmati kelas online berbasis cloud yang lebih optimal dan seamless dengan G Suite for Education. Dapatkan paket G Suite for Education yang terbaik untuk institusi pendidikan Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace, Productivity, School

Meeting Semakin Mudah dengan Fitur Baru Google Classroom

Google Classroom mengalami peningkatan pesat dari segi penggunaan saat pandemi COVID-19. Terlebih lagi ketika pemerintah di berbagai negara mulai menerapkan kebijakan untuk memulai kegiatan belajar para siswa dan guru melalui daring atau online. Pada awalnya, Google Classroom yang merupakan bagian dari Google Workspace for Education memiliki fitur terbatas. Namun, seiring banyaknya permintaan dan kemudahan yang diharapkan Google pun menambahkan fitur unggulan. Salah satunya adalah meeting online semakin mudah dan nyaman. Seperti apa fitur baru ini? Simak ulasan berikut. Fitur Baru Google Classroom untuk Meeting Photo: Zee News Fitur baru Google Classroom ini disebut dengan “Ask to Join”. Di mana para peserta di luar kelas secara otomatis tidak akan bisa mengikuti sesi bila tidak menyetujui pesan yang diberikan. Hal ini akan menambah kenyamanan bagi para peserta yang terlibat. Bagi guru, akan mudah untuk melakukan hosting sesi pembelajaran dan mengirimkan link kepada siswa. Layanan ini pun nantinya akan terintegrasi dengan berbagai layanan dari Google lainnya seperti Google Meet.  Manfaat yang Didapatkan Photo: PPLWARE Keberadaan fitur baru Google Classroom ini memiliki banyak manfaat yang bisa didapatkan. Baik itu bagi para staf pengajar, siswa, hingga partisipan lainnya. Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa didapat dari keberadaan Google Classroom untuk meeting ini: Memudahkan guru dan murid untuk mengelola link yang akan digunakan dalam streaming pembelajaran online. Dengan begitu, aksesnya pun tidak sulit. Siswa akan diarahkan di ‘ruang tunggu’ hingga guru sebagai admin disini bergabung untuk memulai sesi. Peserta di luar kelas dapat memiliki pilihan untuk bergabung. Di sini, guru sebagai admin bisa memberikan pesan ‘ask to join’, apabila setuju maka peserta bisa masuk ke dalam sesi meeting atau pembelajaran tersebut. Bagaimana Memulainya? Photo: Google for Education Untuk bisa menggunakan layanan ini, sebenarnya sangat mudah. Anda pun bisa memilih posisi Anda. Baik itu sebagai admin untuk memulai sesi meeting  atau sebagai pengguna (end user). Semua tergantung kebutuhan Anda, namun ada hal penting yang perlu untuk Anda lakukan yakni: Jika Admin sebenarnya tidak ada admin yang mengontrol fitur ini. Namun, Google Meet harus terhubung agar Anda bisa menikmati layanan meeting online dengan nyaman menggunakan Google Classroom. Bila posisi Anda sebagai pengguna atau partisipan (end user) juga tak kalah mudahnya. Fitur tersebut akan otomatis ‘ON’ saat Anda membuat pertemuan online di Google Classroom ini. Pengguna dapat mengakses meeting melalui tautan yang dikirimkan oleh admin. Setelah itu, tunggulah beberapa saat sampai program berjalan dan Anda bisa memulai meeting dengan lancar. Kesimpulan Photo: Washington University of Virginia Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan fitur baru Google Classroom ini memiliki peran penting dalam pembelajaran daring di masa pandemi COVID-19. Jika dahulu keberadaannya sebagai bagian dari Google Workspace for Education sangat terbatas, saat ini pengembangan fiturnya pun beragam. Dengan adanya fitur ini akan semakin memudahkan berbagai pihak yang terlibat dalam pembelajaran daring. Tak hanya itu saja, fitur tersebut juga mampu menjembatani para guru maupun staf pengajar untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik dalam menggunakannya di mana saja dan kapan saja. Dengan begitu, koordinasi pun menjadi semakin mudah dilakukan. Kini, Anda bisa menggunakan Google Classroom dengan berbagai ragam fitur unggulan yang ditawarkan melalui vendor penyedia layanan Google yang resmi di Indonesia yakni EIKON Technology. Di sini tersedia bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk dan layanan dari kami, Anda bisa klik di sini.

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365, School

5 Tips Gunakan Microsoft Education untuk Upgrade Skill Digital SDM

Tanpa disadari, masa pandemi sedikit banyak telah mengubah dunia kerja. Ada banyak aspek pekerjaan yang mengalami transformasi digital. Salah satunya adalah aspek SDM atau sumber daya manusia. Transformasi digital menuntut SDM untuk memiliki skill digital yang mumpuni. Contoh sederhananya adalah perkara meeting. Saat ini, hampir semua meeting tatap muka beralih pada meeting online. Mau tidak mau, tiap SDM harus memiliki skill untuk mengoperasikan aplikasi untuk meeting online. Maka tidak mengherankan jika IT training adalah bagian penting dalam transformasi digital. Dengan mempersiapkan SDM sebaik mungkin, maka perusahaan pun tidak akan tertinggal dalam transformasi digital yang dinamis. Begitu pula dengan para lulusan universitas yang akan terjun ke dunia kerja. Sebaiknya mulai mempersiapkan diri dengan skill digital seawal mungkin. Untuk menjawab situasi tersebut, Microsoft melalui Microsoft Education menawarkan beberapa layanan untuk membantu perusahaan dan juga institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan skill digital SDM. Artikel kali ini, akan membahas beberapa platform Microsoft Education yang bisa Anda manfaatkan untuk tingkatkan skill digital. Microsoft Learn untuk mempelajari skill baru Photo Credit: imperioame (PxHere) Platform pertama dari Microsoft Education yang bisa Anda manfaatkan adalah Microsoft Learn. Learn merupakan platform belajar yang menyediakan materi untuk meningkatkan skill digital dan pemahaman dasar mengenai teknologi. Model pembelajaran Learn pun dibuat interaktif dan dinamis. Pengguna dapat membuat akun di Learn untuk mengakses fitur tambahan seperti collections dari Microsoft. Selain itu, progres belajar dapat dilacak dengan mudah. Kesulitan mengatur materi belajar? Anda bisa mengaktifkan fitur rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Persiapkan sistem training dengan Microsoft Learn for Educators Dalam menghadapi transformasi digital yang sangat dinamis, ada baiknya perusahaan memiliki sistem training sendiri untuk melatih skill SDM. Dalam merancang sistem training perusahaan, Anda tentu memerlukan instruktur yang terlatih. Microsoft Learn menyediakan segmen khusus untuk keperluan tersebut, yaitu Educators. Melalui Educators, perusahaan dapat membantu calon instruktur training dengan menyediakan kurikulum belajar serta materi pengajaran yang terstruktur. Layanan ini telah terhubung dengan layanan Microsoft lainnya seperti Azure, Azure AI, Azure Data, dan bahkan Power Platform. Dapatkan penilaian skill resmi melalui Microsoft Certifications Setiap proses pembelajaran tentu memerlukan tahap penilaian atau assessment untuk mengukur pemahaman peserta didik. Melalui segmen Certifications dari Microsoft Education, karyawan yang telah menyelesaikan training bisa mengikuti assessment dan mendapat sertifikat resmi berisi hasil pencapaian mereka. Proses assessment yang dilakukan Microsoft Education juga di-update secara rutin menyesuaikan perkembangan teknologi terkini. Dengan begitu, penilaian dan sertifikat yang didapat karyawan pun akan selalu relevan. Azure for Students, persiapan skill digital untuk mahasiswa Photo Credit: PxHere Untuk meningkatkan skill digital tidak harus dimulai saat masuk ke dunia kerja. Para mahasiswa bisa mempersiapkan diri dengan memanfaatkan platform digital sebagai media belajar. Salah satunya adalah Azure for Students dari Microsoft. Azure for Students memungkinkan mahasiswa untuk dapat membuat aplikasi sendiri, mengembangkan AI (Artificial Intelligence), hingga memanfaatkan big data Microsoft yang memiliki akses menuju 25 layanan Azure secara gratis. Kembangkan potensi melalui Azure Lab Services Jika sebelumnya ada layanan yang ditujukan untuk mahasiswa, Microsoft juga menyediakan Azure Lab Services Azure yang dirancang khusus untuk tenaga pendidik. Layanan ini memungkinkan pendidik untuk menyiapkan serta menyediakan akses ke VM (virtual machines) untuk mendukung jalannya kegiatan belajar di kelas. Dengan kelas virtual ini, pengajar tidak hanya sekadar mengajar di ruangan kelas, tetapi juga bisa memberikan training pada profesional hingga menjalankan hackathon atau kolaborasi pengembangan proyek software. Photo Credit: Rawpixel Itulah beberapa platform dari Microsoft Education, segmen khusus dari Microsoft yang memang ditujukan untuk keperluan pembelajaran, terutama yang masih berhubungan dengan dunia IT. Perusahaan Anda sedang menjalankan transformasi digital atau justru Anda merupakan bagian dari institusi pendidikan tingkat akhir yang ingin mempersiapkan para mahasiswa dengan skill digital terkini? Microsoft Education dengan platform belajarnya yang selalu update adalah solusi terbaik. Di mana saya dapat terhubung dengan seluruh platform Microsoft Education ini? Untuk saat ini, Anda bisa mendapatkannya secara legal melalui partner resmi yang telah ditunjuk oleh Microsoft. EIKON Technology sebagai salah satu partner resmi Microsoft di Indonesia siap menyediakan akses menuju layanan Microsoft Education. Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi produk, klik di sini.

Google Workspace, School

Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran

  Tahun ajaran baru untuk jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, dan SMK resmi dimulai pada pertengahan Juli 2021 lalu. Rencana awal untuk melangsungkan pembelajaran tatap muka terpaksa ditunda akibat meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia. Para guru dan murid pun harus menghadapi tantangan baru. Tak hanya berusaha mempelajari materi baru, mereka juga harus beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Walau mungkin sulit, untungnya hal tersebut tak mustahil dilakukan berkat kehadiran Google Workspace for Education. Merupakan layanan berbasis cloud yang khusus dirancang untuk lembaga pendidikan, Google Workspace for Education menyediakan berbagai perangkat fungsional yang dapat membantu guru dan murid untuk kembali memulai pembelajaran, baik secara remote maupun hybrid. Aplikasi untuk mengoptimalkan aktivitas belajar dan mengajar Photo Credit: Katerina Holmes (Pexels) Salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran online adalah memastikan bahwa setiap murid mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Sebagai bagian dari Google Workspace for Education, perangkat video conference Google Meet mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui Google Meet, guru dapat terhubung dan bertatap muka secara real-time dengan para murid. Beberapa guru bahkan mengintegrasikan papan tulis digital interaktif, Jamboard, ke dalam Google Meet sehingga para murid bisa saling bertukar ide hingga menambahkan gambar secara online. Di samping Google Meet, guru juga bisa menggunakan Google Forms untuk menilai kuis. Google Forms pun dapat dimanfaatkan untuk mengecek keadaan murid dengan memberikan kuesioner seputar kondisi mental mereka. Jika ada murid yang butuh konseling, Anda bisa langsung menjadwalkannya menggunakan Google Calendar. Dukungan untuk murid dan keluarga di luar lingkungan kelas Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Agar aktivitas pembelajaran bisa memberikan hasil optimal, bukan hanya guru dan murid yang harus terlibat, tapi juga orang tua atau wali murid. Salah satu contoh sederhananya adalah ketika orang tua mendampingi mereka selama mengerjakan tugas. Masalahnya, terkadang orang tua sudah memiliki kemauan untuk membantu sang anak, tapi mereka tidak mengerti harus menggunakan alat atau perangkat apa. Misalnya, saat hendak menghadiri kelas online via Google Meet, orang tua kesulitan menemukan tautan menuju kelas virtual tersebut. Memahami hal tersebut, Google telah menyediakan berbagai sumber daya untuk membantu orang tua dan wali murid mendukung pembelajaran anak. Beberapa sumber daya yang dimaksud adalah Google Families, panduan menggunakan Google Workspace for Education, hingga video panduan seputar toolkit khusus untuk wali murid. Lebih optimal dengan sistem keamanan dan privasi yang mumpuni Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Efektivitas pembelajaran tak bisa hanya didukung dengan perangkat fungsional, tapi juga harus aman. Selama menggunakan perangkat, Anda tak perlu khawatir karena Google telah membekalinya dengan sistem keamanan yang kuat dan mengutamakan privasi para pengguna. Menerapkan update otomatis, Google Workspace for Education pun akan selalu menjalankan sistem operasi terbaru dengan keamanan terkini. Tak ketinggalan adanya konsol Google Admin yang memungkinkan sekolah untuk mengonfigurasi kebijakan penggunaan Google Workspace for Education sesuai kebutuhan pembelajaran. Selain itu, Google juga menyediakan informasi seperti Safer Learning with Google for Education Guide dan Guardian’s Guide to Privacy and Security untuk mengedukasi wali murid soal sistem keamanan Google Workspace. Dengan begini, wali murid bisa lebih tenang selama anak mereka mengikuti pembelajaran. Jika berbicara tentang aktivitas pembelajaran, memang belum ada yang bisa menggantikan pertemuan tatap muka langsung. Namun, perangkat teknologi seperti Google Workspace for Education dapat membantu menjembatani kesenjangan sementara ini. Kabar baiknya lagi, cara berlangganan Google Workspace for Education sangatlah mudah karena Anda hanya perlu menghubungi EIKON Technology, partner resmi Google yang tepercaya di Indonesia. Sebelum berlangganan, Anda bahkan bisa mengajukan trial terlebih dulu. Langsung saja klik di sini untuk mendapatkan trial Google Workspace for Education dan mulai berlangganan!

Google Workspace, Productivity, School

Belajar Lebih Aman dengan Google for Education

Dalam merancang setiap produk, tim Google for Education selalu mengutamakan privasi dan keamanan para penggunanya. Fitur-fitur keamanan pun rutin ditingkatkan agar bisa memberikan proteksi terhadap data yang tersimpan di aplikasi-aplikasi Google for Education. Hal ini merupakan salah satu komitmen Google untuk menyediakan lingkungan pembelajaran online yang aman dan terlindungi tanpa mengorbankan privasi para pengguna. Dengan begitu, mereka pun bisa benar-benar fokus dalam aktivitas belajar dan mengajar. Tiga prinsip utama pengembangan Google for Education Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Demi mewujudkan komitmen tersebut, Google for Education selalu menerapkan tiga prinsip utama dalam proses pengembangan setiap produk. Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing prinsip tersebut:   Secure by default – Google for Education dilengkapi dengan sistem keamanan bersifat built-in yang akan secara otomatis melindungi Anda dari berbagai ancaman siber seperti ransomware. Private by design – Menjunjung tinggi privasi para pengguna, Google tidak menggunakan data dari Google Workspace for Education Core Services untuk kepentingan iklan apa pun. Tak hanya itu, Google juga sama sekali tidak menjual data personal para pengguna ke pihak mana pun. Kontrol di tangan pengguna – Pengguna memegang hak kekayaan intelektual penuh atas data mereka sendiri. Sebagai pengguna, Anda juga berhak mengontrol siapa yang bisa mengunduh data tersebut dan kapan bisa diunduh. Jika terjadi hal tak diinginkan, Anda akan mendapat peringatan bersifat real-time. Tidak ketinggalan dashboard khusus untuk mendapatkan laporan terkait status keamanan Anda.   Kebijakan default baru untuk pengguna Chrome dari kalangan K-12 Photo Credit: Tima Miroshnichenko (Pexels) Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, Google for Education pun dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan seperti SafeSites, SafeSearch, Incognito Mode, dan Guest Mode. Sudah banyak sekolah yang mengaktifkan fitur-fitur tersebut untuk meningkatkan keamanan penggunaan Google for Education. Kini, Google telah menerapkan kebijakan default baru pada aktivitas web browsing untuk institusi K-12 atau setara jenjang pendidikan kelas 1 SD hingga 12 SMA. Melalui kebijakan baru ini, fitur SafeSites dan SafeSearch akan aktif secara default, sedangkan Incognito Mode dan Guest Mode akan nonaktif secara default. Namun, tenang saja, admin tetap dapat mengubah kebijakan tersebut pada Chrome OS untuk unit organisasi individual. Misalnya, memberikan akses penggunaan Guest Mode untuk para pengguna pada domain mereka. Penyesuaian akses berdasarkan usia pengguna Photo Credit: Katerina Holmes (Pexels) Baru-baru ini, Google meluncurkan kebijakan baru yang memudahkan admin untuk mengatur akses penggunaan aplikasi berdasarkan usia pengguna. Seluruh admin dari institusi pendidikan dasar dan menengah wajib memberi informasi siapa saja pengguna Google for Education yang telah berusia di atas delapan belas tahun dan berada dalam jaringan unit organisasi.  Perubahan tersebut akan berlaku setelah 1 September 2021. Sebagai contoh, nantinya murid berusia di bawah delapan belas tahun yang termasuk dalam domain K-12 tetap bisa menonton video YouTube yang ditugaskan guru, tapi mereka tidak dapat mengunggah video, memberikan komentar, maupun melakukan live stream menggunakan akun Google dari sekolah. Jika admin tidak menyesuaikan pengaturan hingga 1 September 2021, maka seluruh pengguna dari institusi pendidikan dasar dan menengah secara default akan tercatat berusia di bawah delapan belas tahun. Sedangkan institusi pendidikan dengan jenjang lebih tinggi akan tercatat berusia di atas delapan belas tahun. Namun, kebijakan terkait usia ini tidak bersifat mutlak. Artinya, admin dapat kembali melakukan penyesuaian berdasarkan usia asli tiap pengguna di institusi pendidikan masing-masing. Dilengkapi sistem keamanan optimal, Google for Education menawarkan pengalaman belajar online yang melindungi privasi para penggunanya. Buktikan sendiri dengan berlangganan Google for Education melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology siap membantu menjawab segala pertanyaan Anda seputar Google for Education. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology!

Google Meet, Google Workspace, Productivity, Produktivitas, School

4 Update Penting Google for Education dari Event The Anywhere School 2021

  Tahun ini, event tahunan The Anywhere School telah sukses diselenggarakan pada Juni 2021 lalu. The Anywhere School merupakan online event gratis dari Google yang ditujukan kepada guru, admin IT, dan para petinggi di bidang edukasi. Melalui event ini, Google for Education membagikan update seputar produk dan perangkat yang mereka kembangkan untuk memenuhi kebutuhan edukasi. Ada empat produk unggulan yang menjadi fokus utama Google pada event The Anywhere School 2021. Keempat produk ini tergabung dalam program Google for Education, yaitu Google Classroom, Google Meet, Google Workspace for Education, dan Chrome OS. Apa saja update yang diberikan? Cari tahu selengkapnya di bawah ini! Peningkatan keamanan dan kolaborasi pada Google Workspace for Education Photo Credit: Google Pada Mei 2021 lalu, Google meluncurkan fitur Smart Canvas untuk Google Workspace for Business. Fitur ini membuat aplikasi seperti Docs, Slides, dan Sheets menjadi lebih interaktif sehingga memperkuat kolaborasi di antara penggunanya. Ternyata Smart Canvas tak hanya ada pada Google Workspace for Business, tapi juga bisa diakses oleh para pengguna Google Workspace for Education. Hal ini tentunya akan memudahkan para guru dan murid untuk berkolaborasi walaupun tidak bertemu langsung. Tak hanya itu, Google Workspace for Education juga mendapatkan peningkatan sistem keamanan, khususnya bagi Anda yang berlangganan edisi Education, Education Plus, atau Education Standard. Ragam fitur terbaru untuk Google Classroom Photo Credit: Google Produk lain dari Google for Education yang juga mendapat update adalah Google Classroom. Sebagai learning management system (LMS), Classroom telah membantu banyak guru dan murid dalam melangsungkan kegiatan belajar dan mengajar yang efektif secara online. Berikut ini sejumlah fitur terbaru yang akan Anda temukan pada Google Classroom: Fitur impor daftar nama (roster) akan memudahkan pihak admin untuk menyiapkan kelas dalam skala besar sehingga lebih menghemat waktu. Guru atau pengajar kini bisa menambahkan konten atau aktivitas pembelajaran favorit ke dalam Classroom melalui fitur add-ons. Dashboard baru yang menampilkan aktivitas murid di Classroom, memungkinkan guru untuk memantau partisipasi murid. Kini guru bisa memberikan tugas kepada beberapa kelas sekaligus dalam waktu bersamaan. Google Meet jadi lebih mudah dan aman digunakan ​​ Photo Credit: Google Demi meningkatkan pengalaman kelas online, Google Meet sebagai salah satu produk Google for Education juga mendapatkan update. Berbagai fitur ditambahkan agar bisa terus mendukung kebutuhan para guru dan murid secara berkelanjutan. Berkat update tersebut, Google Meet jadi lebih mudah digunakan karena kini mampu mengaktifkan fungsi pin terhadap beberapa pembicara sekaligus dalam waktu bersamaan. Tak hanya itu, layanan panggilan video atau video conference juga mendapat peningkatan kualitas. Kini video conference di Google Meet dapat terintegrasi dengan fitur live streaming secara publik di YouTube. Tidak ketinggalan peningkatan performa pada fitur hand-raising dan teks terjemahan langsung (live translated captions) yang akan memudahkan para peserta untuk berpartisipasi. Personalisasi pada perangkat Chromebook Photo Credit: Google Google for Education memang pada dasarnya dapat diakses melalui beragam perangkat, mulai dari Windows hingga MacOS. Namun, tidak sedikit sekolah yang membagikan perangkat Chromebook agar dapat menjalankan program-program Google for Education secara optimal. Dibekali sistem Chrome OS, Chromebook memang dirancang untuk menjalankan program atau software buatan Google dengan performa maksimal, termasuk Google for Education. Agar para pengguna bisa lebih mudah menggunakan Chromebook, kini sistem login diubah lebih sederhana dengan adanya fitur PIN. Hadir pula fitur Chrome Insights Reports yang memudahkan admin untuk mengecek batas tanggal maksimal dari update otomatis pada Chromebook. Hal ini disebut juga dengan Automatic Update Expiration (AUE). Dengan begini, admin bisa tahu Chromebook mana saja yang AUE-nya akan berakhir sehingga dapat mempertimbangan untuk membeli perangkat baru. Dengan adanya update terbaru, produk-produk Google for Education pun dapat lebih maksimal dalam membantu Anda melakukan berbagai aktivitas pendidikan. Imbangi pula dengan pemakaian perangkat yang punya performa kuat seperti Chromebook. Tenang saja, kini Anda bisa membeli Chromebook dengan mudah dan aman melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai perangkat Chromebook dalam berbagai merek dan spesifikasi. Dibantu tim berpengalaman dan profesional, Anda dapat memilih yang paling sesuai kebutuhan. Klik di sini untuk dapatkan perangkat Chromebook Anda agar bisa segera menggunakan Google for Education!

Google Workspace, Productivity, Produktivitas, School

5 Fitur Google Classroom Terbaru Penuhi Kebutuhan Belajar-Mengajar Masa Kini

Sejak 1,5 tahun belakangan ini, penggunaan teknologi di bidang edukasi (ed-tech) mengalami peningkatan. Seiring dengan sejumlah sekolah yang mulai kembali melangsungkan pertemuan tatap muka dan sebagian lainnya masih belajar online, Google optimis bahwa teknologi mampu membantu para guru dan murid dalam melaksanakan aktivitas tersebut. Google Classroom menjadi salah satu produk teknologi yang telah membantu jutaan guru dan murid dalam melangsungkan pembelajaran. Berfungsi sebagai learning management system (LMS), Google Classroom senantiasa memberikan update terhadap fitur-fiturnya agar bisa terus memenuhi kebutuhan pendidikan. Update versi terbaru telah dirilis pada Juni 2021 lalu. Berikut ini sejumlah fitur Google Classroom yang akan semakin menunjang kebutuhan aktivitas belajar-mengajar masa kini. Penjadwalan tugas pada banyak kelas   Photo Credit: Google Agar dapat terus memenuhi kebutuhan pendidikan seiring dengan berkembangnya zaman, Google Classroom sangat terbuka terhadap segala kritik dan masukan. Dari sekian banyak saran yang masuk, salah satu fitur yang paling dinantikan adalah penjadwalan tugas untuk banyak kelas. Tahun ini, fitur Google Classroom tersebut akan segera diluncurkan. Melalui fitur ini, nantinya para guru bisa menjadwalkan berbagai tugas untuk beberapa kelas sekaligus dalam waktu bersamaan. Tentunya hal ini akan sangat menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi. Kemampuan add-ons pada Google Classroom Photo Credit: Google Bagi yang berlangganan Google Classroom edisi Teaching and Learning Upgrade atau Education Plus, sebentar lagi Anda bisa menambahkan konten atau aktivitas favorit dari perangkat ed-tech lain ke dalam Classroom. Dengan kata lain, Anda tak perlu keluar Classroom untuk menggunakan konten atau add-ons tersebut. Sebagai permulaan, Google Classroom bekerja sama dengan sembilan partner. Beberapa di antaranya adalah BookWidgets, Edpuzzle, Kahoot!, dan Adobe Spark for Education. Secara perlahan, Google akan menambahkan konten dari lebih banyak partner.   Peningkatan performa Google Meet di Classroom   Photo Credit: Maria Thalassinou (Unsplash) Integrasi Google Meet pada Classroom telah terbukti memudahkan murid dan guru dalam pembelajaran tatap muka walau tak secara langsung. Mengingat pentingnya hal tersebut, fitur Google Classroom ini pun akan mengalami peningkatan performa dalam beberapa bulan ke depan. Melalui update ini, para guru yang menggunakan Meet pada Classroom akan secara otomatis menjadi co-host saat kelas online atau online meeting. Lalu, hanya murid yang tercantum dalam daftar nama (roster) Classroom yang bisa bergabung dengan Meet. Murid lainnya harus menunggu untuk bergabung hingga ada guru yang memberikan akses link kepada mereka. Sementara itu, pihak di luar roster harus “ask to join” sehingga tidak akan ada partisipan asing yang bisa bergabung sekenanya ke dalam Google Meet.   Dashboard untuk memantau keterlibatan murid   Photo Credit: Google Partisipasi murid berperan sangat penting dalam efektivitas kegiatan belajar-mengajar, terutama jika dilakukan secara online. Fitur Google Classroom satu ini akan membantu para guru dalam memantau tingkat partisipasi atau keterlibatan murid. Google Classroom akan kedatangan dashboard khusus yang dapat memudahkan guru untuk memontior aktivitas keterlibatan murid. Melalui dashboard ini, guru bisa melihat kapan murid terakhir kali aktif menggunakan Google Classroom, kapan mereka terakhir mengumpulkan tugas, hingga seberapa sering mereka berpartisipasi di kelas melalui fitur komentar.   Mode offline pada perangkat Android   Photo Credit: Daniel Romero (Unsplash) Tidak semua murid dan guru mengakses Google Classroom melalui perangkat laptop atau komputer. Ada pula beberapa dari mereka yang menggunakan perangkat Android. Walaupun memang praktis, pemakaian perangkat Android untuk mengakses aplikasi Classroom kerap disertai keluhan akibat pengguna harus selalu online. Kabar baiknya, dalam beberapa bulan mendatang, aplikasi Classroom di Android dapat segera diakses dalam mode offline. Para murid pun bisa mengecek dan mengerjakan tugas di Google Docs tanpa harus terhubung dengan internet.   Kebutuhan pada sektor edukasi akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman, khususnya untuk aktivitas belajar dan mengajar. Google mampu memenuhi beragam kebutuhan tersebut dengan rutin memberikan update pada fitur-fitur Google Classroom. Terlebih jika Anda berlangganan Google Classroom versi premium, pembelajaran online pun jadi lebih optimal mengingat ada fitur-fitur khusus yang tidak akan Anda dapatkan pada versi gratis. Kabar baiknya lagi, Classroom dapat diakses dari perangkat mana pun, baik MacOS, Windows, hingga Linux. Namun, untuk performa optimal, Chromebook merupakan pilihan perangkat yang tepat karena dibekali dengan sistem Chrome OS yang memang dirancang untuk menjalankan program-program Google seperti Classroom. Perangkat Chromebook bisa didapatkan dengan mudah melalui EIKON Technology, partner resmi Google di Indonesia.

Scroll to Top