EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Menjadwalkan Perintah di Google Cloud dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler

Kehadiran Google Cloud CLI memudahkan para engineer untuk memulai pengembangan awal mereka di GCP (Google Cloud Platform) dan melakukan banyak tugas cloud umum. Sebagian besar pengalaman pengembangan awal melalui antarmuka baris perintah menggunakan alat seperti gsutil, gcloud, namun untuk bisa mendapatkan kode produksi perlu penulisan kode seremonial atau membangun integrasi API-level. Developer sering menemukan skenario di mana mereka perlu menjalankan perintah sederhana di lingkungan produksi mereka secara terjadwal. Untuk menjalankannya dengan sukses, mereka diharuskan membuat kode dan membuat jadwal dalam alat orkestrasi seperti Data Fusion. Salah satu skenario tersebut adalah menyalin objek dari satu bucket ke bucket lain, yang umumnya dicapai dengan menggunakan gsutil. Gsutil adalah aplikasi Python untuk berinteraksi dengan Google Cloud Storage melalui baris perintah. Ini dapat digunakan untuk melakukan berbagai fungsi seperti tugas pengelolaan bucket dan objek, termasuk: membuat dan menghapus bucket, mengunggah, mengunduh, menghapus, menyalin, dan memindahkan objek. Artikel kali ini akan menjelaskan cara untuk menjadwalkan perintah seperti Gsutil menggunakan Cloud Run dan Cloud Scheduler. Metodologi ini menghemat waktu dan mengurangi jumlah upaya yang diperlukan untuk pra-kerja dan penyiapan dalam membangun integrasi API level. Arsitektur penjadwalan perintah dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler Photo Credit: Google Cloud Ada pun tiga layanan GCP yang digunakan adalah: Cloud Run: Kode akan dikemas dalam container, gcloud SDK akan diterapkan (atau Anda juga dapat menggunakan base image dengan gcloud SDK yang sudah diinstal). Cloud Scheduler: Memanggil tugas yang dibuat di Cloud Run pada frekuensi berulang. Cloud Storage: Google Cloud Storage (GCS) digunakan untuk penyimpanan dan pengambilan data dalam jumlah berapa pun. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Contoh ini mengharuskan engineer menyiapkan lingkungan mereka untuk Cloud Run dan Cloud Scheduler, membuat tugas Cloud Run, mengemasnya ke dalam image container, mengunggah image container ke Container Registry, lalu melakukan deploy ke Cloud Run. Ikuti langkah-langkahnya  di bawah ini:   Langkah 1: Aktifkan layanan (Cloud Scheduler, Cloud Run) dan buat akun layanan export REGION=<<Region>> export PROJECT_ID=<<project-id>> export PROJECT_NUMBER=<<project-number>> export SERVICE_ACCOUNT=cloud-run-sa   gcloud services enable cloudscheduler.googleapis.com run.googleapis.com cloudbuild.googleapis.com cloudscheduler.googleapis.com –project ${PROJECT_ID}   gcloud iam service-accounts create ${SERVICE_ACCOUNT} \ –description=”Cloud run to copy cloud storage objects between buckets” \ –display-name=”${SERVICE_ACCOUNT}” –project ${PROJECT_ID}   gcloud projects add-iam-policy-binding ${PROJECT_ID} \ –member serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com \ –role “roles/run.invoker” Untuk menerapkan layanan Cloud Run menggunakan akun layanan yang dikelola pengguna, Anda harus memiliki izin untuk meniru identitas (iam.serviceAccounts.actAs) akun layanan tersebut. Izin ini dapat diberikan melalui peran IAM peran/iam.serviceAccountUser.   gcloud iam service-accounts add-iam-policy-binding ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com   \ –member “user:<<your_email>>” \ –role “roles/iam.serviceAccountUser” –project ${PROJECT_ID} Langkah 2: Buat docker image dan dorong ke GCR. Arahkan ke folder gcs-to-gcs dan tekan image   cd gcs-to-gcs gcloud builds submit -t “gcr.io/${PROJECT_ID}/gsutil-gcs-to-gcs” –project ${PROJECT_ID} Langkah 3: Buat tugas dengan GCS_SOURCE dan GCS_DESTINATION untuk bucket gcs-to-gcs. Pastikan untuk memberikan izin (roles/storage.legacyObjectReader) ke GCS_SOURCE dan role/storage.legacyBucketWriter ke GCS_DESTINATION   export GCS_SOURCE=<<Source Bucket>> export GCS_DESTINATION=<<Source Bucket>>   gsutil iam ch \ serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com:objectViewer \   ${GCS_SOURCE}   gsutil iam ch \ serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com:legacyBucketWriter \   ${GCS_DESTINATION}   gcloud beta run jobs create gcs-to-gcs \ –image gcr.io/${PROJECT_ID}/gsutil-gcs-to-gcs \ –set-env-vars GCS_SOURCE=${GCS_SOURCE} \ –set-env-vars GCS_DESTINATION=${GCS_DESTINATION} \ –max-retries 5 \ –service-account ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com \ –region $REGION –project ${PROJECT_ID} Langkah 4: Terakhir, buat jadwal untuk menjalankan pekerjaan.   gcloud scheduler jobs create http gcs-to-gcs \ –location $REGION \ –schedule=”0 1 * * 0″ \  –uri=”https://${REGION}-run.googleapis.com/apis/run.googleapis.com/v1/namespaces/${PROJECT_ID}/jobs/gcs-to-gcs:run” \ –http-method POST \ –oauth-service-account-email ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com –project ${PROJECT_ID} Langkah 5: Buat pemantauan dan peringatan untuk memeriksa apakah Cloud Run gagal. Cloud Run terintegrasi secara otomatis dengan Cloud Monitoring tanpa memerlukan penyiapan atau konfigurasi. Ini berarti metrik layanan Cloud Run Anda ditangkap secara otomatis saat dijalankan. Anda dapat melihat metrik di Cloud Monitoring atau di halaman Cloud Run dalam konsol. Cloud Monitoring menyediakan lebih banyak opsi pembuatan bagan dan pemfilteran. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Langkah-langkah di atas menyajikan metode yang disederhanakan untuk menjalankan perintah CLI yang paling umum diterapkan pada jadwal, dalam pengaturan produksi. Kode dan contoh yang diberikan di atas mudah digunakan dan membantu menghindari kebutuhan integrasi level API untuk menjadwalkan perintah seperti gsutil, gcloud, dan lain sebagainya. GCP merupakan rangkaian layanan komputasi awan yang berjalan pada infrastruktur internal milik Google untuk berbagai produk end-user, seperti mesin pencari Google, Gmail, hingga YouTube. Rangkaian ini juga menyediakan layanan cloud modular termasuk komputasi, penyimpanan data, analitik data, dan machine learning. Untuk menikmati layanan GCP, Anda bisa berlangganan solusi komputasi awan Google Cloud melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search

Google Cloud Search merupakan sebuah layanan untuk menelusuri seluruh konten perusahaan Anda, mulai dari Gmail dan Drive, Docs, Spreadsheet, Slide, hingga Calendar. Layanan ini menjawab pertanyaan Anda dan memberikan saran yang relevan. Berikut adalah beberapa contoh kasus penggunaan Google Cloud Search: Karyawan perlu menemukan kebijakan, dokumen, dan konten perusahaan yang dibuat oleh karyawan lain. Anggota tim layanan pelanggan perlu menemukan dokumen pemecahan masalah yang relevan untuk dikirim ke pelanggan. Karyawan perlu mencari informasi internal mengenai suatu proyek perusahaan. Seorang perwakilan penjualan ingin melihat status semua masalah dukungan untuk pelanggan tertentu. Karyawan menginginkan definisi untuk istilah khusus perusahaan. Dalam update terkini, Google Cloud Search bahkan menghadirkan Query API untuk menyempurnakan hasil pencarian. Bagaimana cara kerjanya? Implementasi Google Cloud Search Secara default, Google Cloud Search mengindeks data Google Workspace perusahaan atau instansi Anda, seperti dokumen dan spreadsheet Google. Anda tidak perlu menerapkan penelusuran Google Cloud untuk data Google Workspace. Namun, Anda perlu menerapkan Google Cloud Search untuk data non-Google Workspace, seperti data yang disimpan dalam database pihak ketiga, sistem file seperti Windows Fileshare, OneDrive, atau portal intranet seperti Sharepoint. Langkah-langkah berikut diperlukan untuk menerapkan Google Cloud Search untuk perusahaan Anda: Tentukan kasus penggunaan yang ingin dipecahkan oleh Google Cloud Search. Identifikasi repositori yang menyimpan data yang relevan dengan use case. Identifikasi sistem identitas yang digunakan oleh perusahaan Anda untuk mengelola akses ke data di setiap repositori. Konfigurasikan akses ke Google Cloud Search REST API. Tambahkan sumber data ke Google Cloud Search. Buat dan daftarkan skema untuk setiap sumber data. Tentukan apakah ada konektor konten yang tersedia untuk repositori Anda. Untuk daftar konektor bawaan, lihat direktori konektor Cloud Search. Jika konektor konten tersedia, lewati ke langkah 9. Buat konektor konten untuk mengakses data di setiap repositori dan mengindeksnya ke dalam sumber data Cloud Search. Tentukan apakah Anda memerlukan konektor identitas. Jika Anda tidak memerlukan konektor identitas, langsung ke langkah 11. Buat konektor identitas untuk memetakan repositori atau identitas perusahaan Anda ke identitas Google. Siapkan aplikasi pencarian. Buat antarmuka pencarian untuk melakukan permintaan pencarian. Terapkan konektor dan antarmuka pencarian Anda. Jika Anda menggunakan konektor bawaan, ikuti petunjuk konektor untuk mendapatkan dan menerapkan konektor. Konektor yang tersedia tercantum di Google Cloud Search Connector Directory. Baca juga: Mengenal Keamanan Jaringan dan Aplikasi di Ekosistem Google Cloud Fitur Suggest Filter di Cloud Search Photo Credit: pressfoto (Freepik) Pada tanggal 26 Juli 2022 lalu, Cloud Search meluncurkan fitur Suggest Filters. Dengan menggunakan Cloud Search Query API, administrator dapat menentukan filter yang akan diterapkan sebelumnya ke saran kata kunci saat pengguna mengetik kueri. Ini akan memunculkan saran yang lebih relevan, membantu mengurangi waktu yang dihabiskan pengguna untuk mencari. Dengan filter saran, admin dapat mengonfigurasi saran berdasarkan kasus penggunaan untuk aplikasi pencarian tertentu, mengurangi saran yang tidak relevan. Misalnya, admin dapat menambahkan saran seperti negara, yang akan memunculkan saran berdasarkan dokumen yang sesuai dengan kategori tersebut. Mulai menggunakan fitur Fitur baru ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Cloud Search. Untuk mulai mengaktifkannya, administrator dapat mengikuti developer documentation yang telah disediakan Google. Sedangkan untuk end-user tidak diperlukan pengaturan tambahan. End-user secara otomatis akan melihat filter yang disarankan ketika mengetikkan kueri. Baca juga: Fitur Private Offers dari Google Cloud Marketplace, Apa yang Ditawarkan? Menambahkan saran autocomplete Photo Credit: pressfoto (Freepik) Google Cloud Search menyediakan suggestionFilteringOperators[] untuk menentukan properti yang digunakan ketika menyaring saran autocomplete. Misalnya, Anda dapat menentukan operator genre untuk memfilter saran berdasarkan genre film pilihan pengguna. Kemudian, saat pengguna mengetik kueri penelusurannya, hanya film yang cocok dengan genre pilihannya yang ditampilkan sebagai bagian dari saran autocomplete. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Dengan hadirnya fitur baru ini Anda dapat menambahkan filter agar hasil pencarian benar-benar sesuai kebutuhan pengguna. Google Cloud Search juga merupakan tool yang tepat untuk membantu repositori data perusahaan Anda. Layanan ini bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud terlebih dahulu. Solusi komputasi awan dari Google ini tersedia di EIKON Technology. Untuk informasi mengenai penerapan Google Cloud, silakan klik di sini.

Google Cloud

Fitur Private Offers dari Google Cloud Marketplace, Apa yang Ditawarkan

Google Cloud Marketplace hadir untuk mempercepat pertumbuhan pelanggan dengan menawarkan beragam solusi transformasi digital. Di tahun 2022 ini, platform tersebut mengalami peningkatan signifikan. Ini mencakup kemampuan teknis baru yang memberikan fleksibilitas pembelian dan pilihan yang dibutuhkan pelanggan saat membeli perangkat lunak melalui Marketplace. Private Offers yang lebih fleksibel Kini fitur Private Offers di Google Cloud Marketplace telah tersedia untuk umum. Dengan kemampuan untuk membuat kesepakatan baru ini, partner Google Cloud dapat membantu pelanggan membeli sesuai keinginan mereka. Seluruh partner Marketplace kini memiliki lebih banyak opsi untuk menyesuaikan harga, jadwal pembayaran, dan persyaratan transaksi Google Cloud Marketplace yang dinegosiasikan secara pribadi, termasuk: Dukungan di seluruh jenis produk: SaaS, Mesin Virtual, dan produk Kubernetes sekarang dapat dibeli melalui Private Offers. Model langganan dan diskon yang diperluas: Commited Use Disounts (CUD), biaya tetap, dan biaya tetap yang ditingkatkan dengan pengalaman penggunaan untuk mendukung bisnis Anda. Jadwal pembayaran yang fleksibel dan opsi durasi kontrak: Private Offers kini menawarkan opsi  pra atau pasca bayar dan pilihan berbagai periode kontrak. Fungsi cicilan prabayar: Memungkinkan pelanggan untuk melakukan beberapa pembayaran prabayar dengan jumlah yang sama atau meningkat selama kontrak. Persyaratan khusus kesepakatan: Unggah perjanjian lisensi yang sudah ada sebelumnya atau yang disesuaikan ke setiap penawaran, memungkinkan pelanggan untuk memanfaatkan persyaratan layanan khusus kesepakatan dan mempercepat proses pembelian dengan mengurangi redlining. Perubahan dan perpanjangan Private Offers: Dukungan untuk pembaruan, memperluas penawaran yang ada, memperbarui paket pelanggan, dan meluncurkan fitur produk baru. Baca juga: Mengenal Keamanan Jaringan dan Aplikasi di Ekosistem Google Cloud Konfigurasi Private Offers Setelah produk dipublikasikan, pelanggan bisa langsung meminta kesepakatan yang dinegosiasikan dengan menghubungi Anda langsung di Marketplace atau melalui penjual Google mereka. Saat mengonfirmasi harga, persyaratan, dan jadwal pembayaran dengan pelanggan secara offline, Anda dapat mulai membuat Private Offers baru di Google Cloud Marketplace > Producer Portal dan memilih produk dan paket SaaS, VM, atau Kubernetes yang mendukung salah satu dari paket berlangganan per kesepakatan. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk produk SaaS, VM, dan Kubernetes dengan model harga Hanya Penggunaan, Anda dapat menyediakan committed use discount (CUD) kepada pelanggan. Khusus untuk produk SaaS, ada dua model langganan tambahan yang tersedia: Flat fee: pelanggan Anda membayar biaya berlangganan yang ditetapkan untuk sejumlah fitur perangkat lunak tertentu. Flat fee with usage: pelanggan Anda membayar biaya untuk menggunakan perangkat lunak, termasuk akses ke fitur dalam jumlah tertentu. Pelanggan membayar biaya tambahan untuk penggunaan sumber daya di luar biaya tetap. Baca juga: Cara Google Cloud Amankan Rantai Pasok Software Anda Menentukan opsi pembayaran Photo Credit: DCStudio (Freepik) Setelah memilih produk dan paket, masukkan detail penerima (jika penawaran ini dijual kembali). Private Offers berlaku untuk semua proyek yang ditetapkan ke akun penagihan mereka. Selanjutnya, berikan kontak penjualan yang dapat dihubungi oleh pelanggan jika mereka memiliki pertanyaan tentang Private Offers ini. Selanjutnya, pilih jadwal pembayaran dan harga diskon yang ingin diberikan kepada pelanggan. Jadwal pascabayar akan menagih pelanggan setiap bulan, sedangkan jadwal prabayar memungkinkan Anda mengonfigurasi jadwal cicilan. Tenor maksimal angsuran bisa sampai satu tahun dengan nilai yang sama atau lebih besar dari sebelumnya. Anda juga dapat menunjukkan durasi kontrak dan menawarkan tenggat waktu penerimaan (maksimal 3 bulan sejak tanggal pembuatan kontrak). Untuk jadwal pascabayar, Anda juga dapat memilih apakah pelanggan dapat secara otomatis memperbarui paket di akhir durasi kontrak. Memilih persyaratan lisensi perangkat lunak Selanjutnya, pilih persyaratan lisensi perangkat lunak untuk solusi Anda. Tersedia opsi end-user license agreement (EULA) standar Google. Namun Anda juga atau dapat mengunggah dan menyusun kesepakatan khusus. Namun data dari Google menemukan bahwa sebgain besar Private Offers menggunakan EULA standar. Setelah semua selesai, Anda bisa mulai meninjau detail untuk akurasi dan melihat pratinjau tampilan kesepakatan. Jika semuanya sudah sesuai, silakan buat tautan menuju Private Offers untuk dikirimkan kepada pelanggan Anda. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud Contact Center AI untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan Google Cloud Marketplace menawarkan beragam pilihan aplikasi yang bisa Anda pilih untuk mengoptimalkan penggunaan solusi komputasi awan dari Google. Menariknya lagi, kini tersedia Private Offers yang memungkinkan Anda untuk menawarkan aplikasi dari Google Cloud Marketplace kepada partner bisnis Anda. Layanan tersebut dapat Anda akses melalui Google Cloud Platform. Solusi komputasi awan dari Google tersebut telah tersedia di EIKON Technology. EIKON sendiri merupakan Google Premier Partner yang memiliki lisensi untuk mendistribusikan beragam produk dan solusi, termasuk Google Cloud. Informasi selengkapnya mengenai langganan, silakan klik di sini!

Google Cloud

Mengenal Keamanan Jaringan dan Aplikasi di Ekosistem Google Cloud

Google Cloud memiliki dan mengoperasikan salah satu jaringan tulang punggung terbesar di dunia untuk menghubungkan pusat datanya. Saat lalu lintas Anda berada di jaringan Google, maka tidak perlu lagi transit di internet publik, sehingga kecil kemungkinannya untuk diserang atau dimanipulasi. Dalam jaringan Google, data dienkripsi saat transit dan diberi perlindungan penolakan layanan yang kuat. Dengan keamanan jaringan yang melekat ini, Anda memiliki akses ke layanan yang membantu melindungi aplikasi dari ancaman dan serangan berbasis jaringan lebih jauh lagi. Artikel kali ini akan membahas lebih jauh bagaimana keamanan Google Cloud melindungi jaringan dan aplikasi Anda. Keamanan aplikasi Ketika membangun situs web, aplikasi, atau layanan berbasis API, Anda harus memikirkan sistem perlindungan dari berbagai serangan seperti: Serangan bot: digunakan untuk menghapus situs atau digunakan untuk penipuan. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service): menyebabkan downtime yang tidak direncanakan. Pencurian kredensial: dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari phishing nama pengguna dan sandi atau menggunakan kredensial yang bocor untuk mendapatkan akses ke sistem. Penipuan Aplikasi: dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti pelaku kejahatan menggunakan identitas curian untuk melakukan pembelian (tiket, produk yang dirilis terbatas) atau mengajukan pinjaman bank. Serangan API: dapat mencakup serangan DDoS terhadap API perusahaan yang mencoba memanfaatkannya untuk mendapatkan informasi sensitif. Google Cloud Load Balancing Photo Credit: Google Cloud Blog Saat menggunakan HTTP(S) Load Balancing, Anda telah memanfaatkan penyeimbang beban Layer 7 berbasis proxy. Ini memungkinkan Anda menjalankan dan menskalakan layanan di belakang satu alamat IP eksternal. Skala tempat beroperasi memberikan pertahanan otomatis terhadap serangan DDoS volumetrik serta protokol Layer 3 dan Layer 4. Anda dapat melindungi aplikasi dari semua serangan tersebut dengan menggunakan solusi Web App and API protection (WAAP) Google Cloud. WAAP menggabungkan Cloud Armor, Apigee, dan reCAPTCHA Enterprise untuk membantu Anda mengurangi banyak ancaman umum. Cloud Armor: Proteksi DDoS dan Web Application Firewall Photo Credit: Google Cloud Blog Cloud Armor bekerja dengan Cloud Load Balancing dan membantu mengurangi serangan DDoS. Caranya adalah dengan memfilter permintaan web yang masuk berdasarkan lokasi pengakses atau sejumlah parameter L7 seperti cookie atau query strings. Setiap kebijakan keamanan di Cloud Armor terdiri dari serangkaian aturan yang memfilter lalu lintas berdasarkan kondisi seperti alamat IP pengakses, rentang IP, hingga kode wilayah. Cloud Armor juga merupakan web application firewall (WAF) lengkap dan berisi aturan yang telah dikonfigurasi sebelumnya dari ModSecurity Core Rule Set untuk mencegah serangan web yang paling umum dan upaya eksploitasi kerentanan seperti injeksi SQL dan skrip lintas situs. Baca juga: Memahami Keamanan Infrastruktur Google Cloud reCAPTCHA Enterprise: Melindungi dari bot dan penipuan Photo Credit: Google Cloud Blog Merupakan layanan cloud yang menyediakan perlindungan terhadap penipuan dan bot. Layanan ini memanfaatkan pembelajaran Google Cloud dengan layanan reCAPTCHA yang telah melindungi jutaan situs. Sistem membawa banyak sinyal dari klien JavaScript di browser atau SDK di aplikasi dan mempelajari per situs untuk membedakan aktivitas manusia dengan bot. Dapat bekerja dengan backend situs web apa pun dan tidak mengharuskan pengguna untuk memecahkan teka-teki visual. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Apigee: Keamanan API Apigee menyediakan satu titik pengelolaan untuk API melalui seluruh siklus proses, baik dari perspektif pengembangan maupun operasi. Platform memeriksa permintaan API untuk melindungi, menskalakan, mengadaptasi, mengontrol, dan memantau lalu lintas API. Kebijakan siap pakai Apigee memungkinkan Anda menambah API dengan fitur untuk mengontrol lalu lintas, meningkatkan kinerja, dan menegakkan keamanan tanpa menulis kode apa pun. Baca juga: Cara Google Cloud Amankan Rantai Pasok Software Anda Lalu lintas API dapat dibatasi oleh kuota untuk mencegah penyalahgunaan dan untuk mempertahankan diri dari serangan DDoS. Misalnya, ini dapat menilai batas sesuatu seperti pendaftaran akun atau checkout secara berbeda dari kueri penelusuran di seluruh katalog produk. Contoh Aplikasi Web & Arsitektur keamanan API Photo Credit: Google Cloud Blog Dari sini dapat disimpulkan bahwa Google Cloud telah didukung oleh beberapa layanan dan platform untuk memberikan perlindungan terbaik terhadap jaringan dan aplikasi penggunanya. Tingkatkan keamanan jaringan dan aplikasi Anda dengan solusi komputasi awan Google Cloud. EIKON Technology siap membantu Anda dalam implementasi solusi, mulai dari perencanaan hingga pemeliharaannya nanti. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud, Google Workspace

Komputasi Awan dari Google Cloud untuk Pacu Pertumbuhan Bisnis di Surabaya

Komputasi awan atau cloud computing merupakan suatu inovasi teknologi yang memungkinkan Anda memanfaatkan sistem komputer sebagai sumber daya untuk mendukung berbagai kebutuhan. Salah satunya, kebutuhan penyimpanan data. Salah satu penyedia layanan komputasi awan ini adalah raksasa teknologi, Google. Melalui Google Cloud Platform, perusahaan asal Amerika Serikat tersebut menyediakan layanan cloud yang skalabel sehingga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, baik dalam skala kecil seperti pengguna individu, maupun skala besar di perusahaan mapan. Google Cloud pun dapat dimanfaatkan oleh startup atau UMKM (Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro). Pada tanggal 15 Juni 2022 lalu, EIKON Technology berkesempatan untuk menyelenggarakan talkshow bersama Google Cloud Indonesia sekaligus menghadirkan pembicara dari PT. Pelindo Husada Citra serta PT. Pakuwon Jati. Talkshow ini membahas bagaimana peluang pemanfaatan cloud untuk meningkatkan geliat bisnis di Surabaya. Persiapan hadapi era digitalisasi Photo Credit: Freepik Pertumbuhan teknologi informasi (TI) di Indonesia sedang menunjukkan tren positif. TI dianggap sebagai sebuah solusi yang dapat membantu perusahaan untuk bisa tetap bertahan dalam kompetisi. Terlebih di era digitalisasi seperti sekarang, kompetisi semakin ketat. Kompetitor tak hanya datang dari skala regional maupun nasional, tapi bahkan global. Solusi komputasi awan dari Google Cloud menawarkan dukungan bagi para pelaku bisnis dalam mengembangkan sekaligus mengamankan data. Selain itu, migrasi ke cloud juga dapat membangun kepercayaan bisnis di masa mendatang. Dengan begitu, perusahaan pun bisa lebih fokus pada kegiatan bisnis utama untuk bersaing dengan kompetitor. Megawaty Khie, Country Director, Google Indonesia menyebutkan bahwa pertumbuhan pengguna cloud di Indonesia terus bertambah, “Sejak diperkenalkan 4 tahun lalu, pengguna Google Cloud terus bertambah di Indonesia. Saat ini, sekitar 100-an perusahaan besar telah menjadi mitra Google Cloud. Di Surabaya kami juga bekerja sama dengan Pakuwon Group, Wings Group, Datalabs, dan EIKON Technology,”. Fleksibel, untuk berbagai keperluan bisnis Photo Credit: tirachardz (Freepik) Pemanfaatan Google Cloud pun sangat luas. Solusi komputasi awan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahan dari sektor industri mana pun dan dalam skala apa pun. “Google Cloud bisa dimanfaatkan untuk keperluan bisnis apa saja baik skala kecil, menengah, maupun besar. Bahkan pelaku UMKM dan startup juga bisa memanfaatkan Google Cloud untuk pengembangan usaha mereka. Sebab, pemanfaatannya tidak memerlukan investasi besar. Bahkan dalam jumlah ratusan ribu, pengusaha UMKM bisa memulai bisnisnya dengan memanfaatkan platform Google Cloud meskipun dengan kapasitas yang tidak besar. Nanti kalau bisnisnya sudah berkembang, kapasitas bisa dinaikkan,” jelas Johannes Candra, CEO EIKON Technology. Dari data EIKON Technology, diketahui bahwa perumbuhan pengguna Google Cloud di Indonesia tergolong besar. EIKON mencatat bahwa mereka mengalami pertumbuhan sekitar 30% di tahun 2021. Di tahun sebelumnya (2020), pertumbuhan EIKON bahklan lebih besar lagi, yakni sekitar 40%. Johannes yakin bahwa ke depannya, pasar Google Cloud akan makin cepat pertumbuhannya. Hemat biaya dengan infrastuktur minimal Photo Credit: Freepik Kelebihan lain komputasi awan sebagai solusi penyimpanan adalah efisiensinya. “Enaknya pakai cloud, kita tidak perlu banyak membangun infrastruktur. Kita hanya butuh storage-nya saja. Dimulai dari yang kecil dulu. Kalau dirasa kurang, nanti bisa ditambah. Dan itu hitungan menit sudah jadi,” jelas Johannes Candra. Pemanfaatannya yang fleksibel pun membuat cloud tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang bergerak di bidang TI. Terlebih sebagai Google Cloud Partner dengan spesialisasi Work Transformation – Enterprise, EIKON Technology juga menyediakan layanan Google Workspace. Saat ini beberapa perusahaan besar, dari industri manufaktur hingga keuangan, telah memanfaatkan Google Cloud dan menjadi klien EIKON, di antaranya, BukaLapak, Traveloka, Gojek, ticket.com, Lazada, Alfamart, OT Group, Pakuwon Group, Wings Group, Sinarmas, Maspion Group, Cardig Air, hingga instansi seperti BPJS, Waskita Karya, PP Properti, dan banyak lagi lainnya. Dukung tren kerja masa kini Era digitalisasi memunculkan suatu tren kerja baru. Salah satunya adalah tren WFH dan WFA yang memungkinkan pekerja untuk tidak harus datang ke kantor. Tren yang populer di masa pandemi tersebut tentu memicu hambatan baru, yaitu masalah komunikasi dan kolaborasi. Dengan memanfaatkan layanan dari Google Cloud yang didukung oleh Workspace, perusahaan bisa tetap beroperasi dengan lancar meski para karyawan harus bekerja di luar kantor. Terlebih, pemanfaatan teknologi cloud ini juga dapat menghemat biaya dan waktu. Begitu juga dengan analisis keuangan perusahaan. Memanfaatkan aplikasi yang ada di Workspace data keuangan tidak hanya disimpan dengan aman, tapi juga dianalisis dengan cepat. Jadi, perusahaan bisa cepat mengambil strategi dengan akurat. Bahkan data semua customer yang jumlahnya mencapai puluhan ribu bisa tersimpan dengan aman. “Sejak pandemi, kami banyak memanfaatkan Google Workspace untuk keperluan bisnis Pakuwon Group. Kami akan terus melakukan migrasi data dengan Google Cloud untuk semua unit usaha Pakuwon Group,” kata Minarto Basuki, Direktur Keuangan Pakuwon Group. Photo Credit: our-team (Freepik) Daniel Tjandra, CTO Wings Surya pun menambahkan bahwa teknologi digital seperti cloud pun sangat besar manfaatnya sekarang, terutama bagi para pemilik bisnis. “Misalnya dari sisi marketing, sekarang perusahaan bisa mudah melihat seberapa besar kebutuhan pasar dan seberapa besar yang bisa dipenuhi,” Pun demikian dengan distribusi produk. Dengan dukungan teknologi, perusahaan kini dapat selalu memastikan penyebaran produk, apakah sudah merata ke pasar yang dituju atau belum. Jika terdapat kekurangan pun bisa segera dipenuhi. “Biaya lebih hemat dan market bisa berkembang lebih luas. Storage data bisa menyimpan lebih banyak sehingga menghemat biaya. Bahkan bisa meningkatkan performa kerja,” tandasnya.

Google Cloud

Memigrasikan Instances ke MIG Stateful GCP Menggunakan Skrip Python

Managed instance group (MIG) GCP Compute Engine mendukung konfigurasi VM apa pun yang Anda perlukan, sekaligus membantu mengelola VM. Misalnya, ketika VM tiba-tiba berhenti berjalan, maka MIG GCP akan membuat ulang VM sesuai konfigurasi yang Anda tetapkan. Anda juga dapat menyiapkan health check berbasis aplikasi untuk memastikan aplikasi memberi respons seperti yang diharapkan. Jika Anda baru mulai bekerja dengan GCP dan ingin melakukan deploy aplikasi stateful, maka sangat disarankan untuk menggunakan konfigurasi MIG stateful. MIG stateful memungkinkan Anda untuk mempertahankan status unik setiap instances pada VM restart, recreation, auto-healing, maupun update. Artikel kali ini ditujukan kepada mereka yang sudah memiliki aplikasi stateful yang berjalan pada instance Compute Engine mandiri (tidak terkelola) dan ingin memigrasikannya secara otomatis ke MIG stateful menggunakan skrip Python. Kode skrip dan petunjuk terperinci untuk penggunaan dan pemasangannya bisa Anda simak di sini. Persyaratan skrip Photo Credit: Rawpixel Sebelum menjalankan skrip, pastikan instance Anda yang ada memenuhi kriteria berikut: Semua instances sumber harus memiliki konfigurasi yang sama. Boot disk harus stateless. Jika ingin mempertahankan status, Anda masih dapat membuat MIG stateful, namun sistem operasi atau software tidak dapat diperbarui dengan meluncurkan pembaruan boot image. Skrip akan menghentikan instance VM sumber Anda. Skrip membiarkan semua VM sumber berhenti agar mudah dikembalikan jika MIG tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Baca juga: API Management yang Lebih Efisien dengan Apigee dari GCP Langkah-langkah skrip Photo Credit: Rawpixel Hentikan semua instance Jika perlu, buat boot disk image Buat template instance berdasarkan properti instance yang dipilih, abaikan disk data yang dilampirkan dan buat MIG kosong. Untuk setiap instance dalam grup asli, lakukan langkah-langkah berikut: Kloning semua instance disks kecuali boot disk. Buat instances di MIG berdasarkan instance template dan sertakan disk kloning dari instances sumber. Cetak perintah untuk membersihkan instances sumber setelah Anda memverifikasi bahwa MIG stateful telah memenuhi kebutuhan. Baca juga: Mulai Mendesain Website yang Skalabel dengan GCP Contoh penggunaan Sekarang coba bayangkan beberapa konfigurasi instance dan tunjukkan bagaimana skrip berjalan. Katakanlah Anda memiliki tiga instance mandiri dengan nama “alpha“, “beta“, dan “gamma” di zona us-central1-a yang ingin dimigrasikan ke MIG dengan nama “greek“. Instance “alpha” memiliki dua disk tambahan: “alpha-disk-1” dan “alpha-disk-2“, instance “beta” memiliki satu disk tambahan “beta-disk-1“, dan “gamma” memiliki nol disk tambahan. Pada saat yang sama kami ingin membuat image disk untuk image boot. Jalankan perintah berikut: $ python3 migrate_script.py -s alpha beta gamma -z us-central1-a -m greek –image_for_boot_disk Berikut output untuk tiap langkah: Semua instance dihentikan di awal.   Instance alpha is not stopped. Stopping … Instance alpha stopped  ========== Instance beta is not stopped. Stopping … Instance beta stopped ========== Instance gamma is not stopped. Stopping … Instance gamma stopped ========== Setelan flag “image_for_boot_disk”, secara otomatis membuat sebuah image untuk boot disk.   Creating disk image for boot image alpha … Disk image alpha-image-ed0d24 created ========== Secara default, “alpha” dipilih untuk menentukan konfigurasi mesin di instance template.   Creating base instance template … Instance template alpha-template-004cb8 created ========== Sebuah MIG “gamma” kosong dibuat.   Creating empty MIG gamma… MIG gamma created ========== Untuk setiap instance individu, buatlah salinan pada semua disknya (agar tidak merusak data instance sumber) dan melampirkannya ke VM di MIG.   Creating disk alpha-disk-1-bb2a30 from disk alpha-disk-1 ========== Creating disk alpha-disk-2-f7344b from disk alpha-disk-2 ========== Adding instance alpha-b7273d to greek MIG ========== Creating disk beta-disk-1–7498a2 from disk beta-disk-1 ========== Adding instance beta-6475c6 to greek MIG ========== Adding instance gamma-17d7c7 to greek MIG ========== Migration successfully finished. Time spent: 457 seconds. Baca juga: Menghemat Biaya Workload Proyek GCP dengan Dukungan VM Spot Prosedur migrasi instances di atas dapat dijalankan cukup dengan menggunakan managed instance group (MIG) dari GCP Compute Engine. Anda tak perlu berpindah ke aplikasi lain dan tersedia opsi untuk menggunakan bahasa pemrograman Python. GCP atau Google Cloud Platform menyediakan berbagai aplikasi, layanan, dan juga kapabilitas yang akan memudahkan Anda dalam mengelola VM (virtual machine). Dapatkan solusi komputasi awan dari Google ini hanya di EIKON Technology, authorized reseller untuk produk-produk Google di Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Cloud, Google Workspace

Kontrol Privasi yang Lebih Kuat untuk Instansi Pemerintah dengan Enkripsi Client-Side

Instansi pemerintah selalu bekerja dengan data sensitif, seperti data keuangan, informasi pengenal pribadi atau bahkan informasi kepemilikan. Penanganan data ini mengharuskan lembaga untuk memenuhi persyaratan kerahasiaan dan kepatuhan. Pada saat yang sama, instansi tentu tidak ingin berkompromi dengan pengalaman kolaborasi yang mereka berikan kepada karyawan mereka. Kontrol kerahasiaan data dengan kunci enkripsi Photo Credit: Freepik Enkripsi adalah kontrol teknis penting yang membatasi akses penyedia cloud ke data pelanggan. Google Workspace sudah menggunakan standar kriptografi terbaru (Advanced Encryption Standard) untuk mengenkripsi semua data saat istirahat dan dalam transit antar fasilitas kami. Enkripsi client-side Google Workspace memungkinkan instansi pemerintah mempertahankan kerahasiaan dan kontrol penuh atas data dengan memilih bagaimana dan di mana kunci enkripsi mereka disimpan. Ini berarti menyimpan kunci enkripsi di dalam batas negara tertentu, meng-hosting-nya di cloud terpisah atau di lokasi untuk membatasi akses dalam satu jaringan area lokal. Pada saat yang sama, instansi dapat mengatur penggunanya untuk terhubung dengan aman dari perangkat yang disetujui kapan saja untuk mengakses Google Workspace tanpa memerlukan klien desktop. Dengan kontrol tambahan ini, pengguna masih dapat berkolaborasi pada dokumen bersama menggunakan cara yang sama. Baca juga: Temukan Log Lebih Cepat dengan Update Logs Explorer Google Cloud Console Cara kerja enkripsi client-side Instansi memilih bagaimana dan di mana menyimpan kunci enkripsi mereka baik dengan mengelolanya sendiri atau melalui pihak ketiga yang tepercaya. Kemudian, mereka menghubungkan Google Workspace ke layanan utama mereka dan mengaktifkan enkripsi client-side. Mereka juga memiliki fleksibilitas untuk mengaktifkannya bagi pengguna, unit organisasi atau drive bersama tertentu. Setelah itu, pengguna dapat membuat dokumen, spreadsheet atau presentasi terenkripsi baru di dalam Google Drive. Baca juga: Menghemat Biaya Workload Proyek Google Cloud dengan Dukungan VM Spot Membuat dokumen terenkripsi pun mudah. Cukup pilih jenis dokumen yang ingin Anda buat dan pilih opsi “Blank encrypted document” dari menu. Enkripsi client-side saat ini tersedia untuk Google Docs, Spreadsheet, Slide, dan jenis file lain yang didukung oleh Google Drive seperti Office atau PDF. Layanan Google lainnya, termasuk Gmail, Google Calendar, dan Meet, akan memiliki enkripsi client-side pada rilisan selanjutnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengguna juga dapat mengunggah dokumen sensitif yang ada di Google Drive sambil tetap menjaga kerahasiaan lengkap. Pengguna yang perlu melihat atau mengedit dokumen terenkripsi dapat melakukannya dengan akun Google Workspace mana pun, tanpa mengorbankan keamanan dan kerahasiaan. Saat dokumen terenkripsi dibagikan melalui Google Drive, layanan kunci pelanggan memastikan hanya pengguna yang berwenang dan diautentikasi yang dapat membuka dokumen. Photo Credit: Google Cloud Blog Dapatkan pengalaman kolaborasi Google Workspace dengan kunci yang dikontrol pelanggan Google Cloud berkomitmen untuk melengkapi pelanggan dengan solusi teknis canggih yang membuat seluruh pengguna tetap aman, berikut dengan data dan informasi pribadi mereka, termasuk untuk pelanggan dari instansi pemerintah. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang fitur keamanan dan kepatuhan, termasuk enkripsi sisi klien, Anda dapat mendaftar ke program Google Workspace for Government Series kami. Seri ini menampilkan sembilan video pelatihan berbasis demo yang menampilkan tool untuk administrator dan end user yang membantu instansi pemerintah tetap aman dan produktif. Baca juga: Benarkah Desentralisasi Adalah Masa Depan Identitas Digital? Dengan adanya enkripsi client-side ini, instansi pemerintah dapat meningkatkan keamanan jaringan mereka tanpa harus mengorbankan kemudahan akses. Selain fitur ini, Google Cloud juga menyediakan berbagai kapabilitas lain untuk meningkatkan keamanan. Untuk mengoptimalkan kontrol privasi pada instansi Anda, Google Cloud menyediakan berbagai fitur dan kapabilitas yang dapat dimanfaatkan. EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Google Cloud skala besar, termasuk untuk instansi pemerintah. Informasi selengkapnya mengenai biaya berlangganan dan implementasi, silakan klik di sini.

Google Cloud

3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs

 Google Cloud VM Spot memungkinkan pelanggan kami memanfaatkan kapasitas idle Google secara maksimal di mana pun dan kapan pun tersedia. Bahkan kini Anda dapat mempertahankan elastisitas sekaligus memanfaatkan diskon terbaik yang ditawarkan Google dengan menerapkan beban kerja yang tepat pada VM Spot. Artikel kali ini membahas beberapa contoh penerapan VM Spot dan praktik terbaik dalam kasus penerapan tersebut. Dengan begitu, Anda dapat memaksimalkan penghematan Google Cloud Spot VM sambil tetap mencapai tujuan aplikasi dan beban kerja. Rendering media Photo Credit: drobotdean (Freepik) Beban kerja rendering (seperti rendering 2D atau 3D) membutuhkan sumber daya TI yang terampil untuk mengelola render farms. Manajemen pekerjaan menjadi lebih sulit ketika pemanfaatan render farms berada pada kapasitas 100%. Spot VM adalah sumber daya yang ideal untuk beban kerja rendering yang toleran terhadap kesalahan. Ketika dikombinasikan dengan sistem antrian, Anda dapat mengintegrasikan pemberitahuan pendahuluan untuk melacak pekerjaan yang ditunda. Ini memungkinkan Anda membangun render farms yang mendapat manfaat dari pengurangan TCO. Jika perender mendukung pengambilan snapshot dari render yang sedang berlangsung pada interval yang ditentukan, menyimpan snapshot ini ke data persisten (Cloud Storage) akan membatasi kehilangan pekerjaan jika VM Spot didahulukan. Ketika VM Spot berikutnya dibuat, Anda dapat melanjutkan dengan menggunakan snapshot di Cloud Storage. Bisa juga memanfaatkan fitur “tangguhkan dan lanjutkan VM” baru yang memungkinkan Anda menyimpan instance VM selama peristiwa preemption, tapi tidak dikenakan biaya apa pun saat VM tidak digunakan. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Masa Depan Pemodelan keuangan Photo Credit: our-team (Freepik) Perusahaan pasar modal memiliki investasi yang signifikan dalam infrastruktur mereka untuk menciptakan jaringan komputasi kelas dunia yang canggih. Sejak komputasi grid dimulai, peneliti internal memanfaatkan grid besar ini di pusat data fisik untuk menguji hipotesis perdagangan mereka dan melakukan back-testing. Namun seiring pertumbuhan bisnis, apa yang terjadi jika semua peneliti memiliki ide cemerlang dan ingin mengujinya pada saat yang bersamaan? Peneliti kemudian harus bersaing satu sama lain untuk sumber daya yang sama. Ini bisa menyebabkan antrean pekerjaan dan peningkatan waktu tunggu untuk menguji ide-ide mereka. Perusahaan pasar modal dapat menggunakan Google Cloud sebagai perpanjangan jaringan lokal mereka dengan memutar sumber daya komputasi sementara. Mereka juga bisa menggunakan cloud dan membangun jaringan di Google Cloud. Dalam kedua skenario tersebut, VM Spot adalah kandidat ideal untuk beban kerja penelitian yang meningkat, mengingat sifat beban kerja yang sementara dan biaya VM yang sangat efisien. Baca juga: Preview Cloud SQL Insights for MySQL untuk Tingkatkan Observabilitas Database Penerapan umum Untuk memanfaatkan Spot VM, kasus penggunaan Anda tidak harus sama persis dengan yang dijelaskan di atas. Jika beban kerja tidak memiliki status, dapat diskalakan, dapat dihentikan dan diperiksa dalam waktu kurang dari 30 detik atau fleksibel terhadap lokasi dan perangkat keras, maka mereka mungkin cocok untuk VM Spot. Ada banyak beberapa tindakan yang dapat diambil untuk membantu memastikan beban kerja Anda berjalan semulus mungkin. Di bawah ini adalah praktik terbaik untuk melakukan deploy spot di belakang Regional Managed Instance Groups (RMIG): RMIG sangat cocok untuk beban kerja Spot mengingat kemampuannya dalam membuat ulang instances yang didahulukan. Menggunakan profil beban kerja Anda, tentukan bentuk distribusi target RMIG. Misalnya, dengan beban kerja penelitian batch, Anda dapat memilih bentuk distribusi target apa pun. Ini akan memungkinkan instances Spot untuk didistribusikan dengan cara apa pun di berbagai zona, sehingga memanfaatkan sumber daya yang kurang dimanfaatkan. Anda dapat menggunakan campuran RMIG sesuai permintaan dan RMIG Spot untuk mempertahankan aplikasi stateful sambil meningkatkan ketersediaan dengan cara yang hemat biaya. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Baik beban kerja Anda adalah rendering grafis, pemodelan keuangan, atau kasus penggunaan stateless lainnya, VM Spot adalah cara terbaik dan termudah untuk mengurangi biaya pengoperasian hingga lebih dari 60%. Dengan mengikuti contoh di atas, Anda dapat memastikan bahwa VM Spot akan menghasilkan hasil yang tepat.. VM Spot menawarkan diskon signifikan dari harga jual untuk mendorong penghematan maksimum asalkan pelanggan memiliki beban kerja fleksibel dan stateless yang dapat menangani preemption. Mulailah hari ini dengan uji coba gratis Google Cloud. Jika sudah mantap untuk mulai menerapkan solusi VM Spot dari Google Cloud, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk mulai konsultasi penerapan Google Cloud, silakan klik di sini.

Google Cloud

Cara Memantau Cloud SQL dengan Audit Database SQL Server

Cloud SQL for SQL Server merupakan sebuah layanan database terkelola sepenuhnya yang berjalan di jaringan Google. Layanan ini memungkinkan Anda untuk dapat menjalankan SQL Server dalam jaringan cloud untuk kemudian ditangani oleh. Tahun 2021 lalu, Google telah meluncurkan fitur yang membantu pengguna untuk dapat memaksimalkan SQL Server; misalnya, dukungan untuk autentikasi Active Directory, SQL Server 2019, serta Cross Region Replicas. Fitur audit database Cloud SQL for SQL Server Di tahun 2022 ini, Google berencana untuk menambahkan fitur keamanan SQL Server lainnya, yakni audit database. Audit database ini memungkinkan Anda memantau perubahan pada database SQL Server, seperti pembuatan database baru, penyisipan data, hingga penghapusan tabel. Cloud SQL menulis log audit yang dihasilkan oleh SQL Server ke disk penyimpanan lokal, sekaligus ke Google Cloud Storage. Anda juga dapat menentukan berapa lama log harus disimpan pada instance (maksimal 7 hari) dan menggunakan fungsi SQL Server untuk memeriksa log. Cloud SQL juga akan secara otomatis menulis semua file audit ke penyimpanan Google Cloud Storage yang Anda kelola, Dengan adanya kapabilitas tersebut, Anda dapat memutuskan berapa lama durasi penyimpanan catatan ini jika dibutuhkan lebih dari tujuh hari atau menggabungkannya dengan file audit dari instance SQL Server lainnya. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Cara mengaktifkan fitur audit database Untuk mengaktifkan fitur pengauditan database, buka Google Cloud Console, kemudian pilih instance Cloud SQL for SQL Server Anda. Setelah itu, pilih opsi Edit dari halaman Overview. Anda juga dapat mengaktifkan SQL Server Audit saat membuat instance Cloud SQL baru. Untuk langkah-langkahnya bisa Anda lihat pada gambar berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Prasyarat file yang akan diaudit Sebelum mengaktifkan fitur audit database, pastikan Anda telah memenuhi prasyarat berikut ini: Bucket Cloud Storage untuk file audit File audit (log audit) diunggah ke lokasi bucket Cloud Storage. Dengan demikian, Anda mungkin perlu membuat bucker dari akun Google Cloud pribadi. Alternatif lainnya adalah menggunakan lokasi bucket yang dimiliki oleh akun lain. Saat mengaktifkan pengauditan, jika Anda memiliki izin yang diperlukan, peran role/storage.objectAdmin diberikan secara otomatis untuk mengunggah file audit ke lokasi bucket dari akun layanan yang diberikan. Catatan: Anda perlu mengelola retensi log di bucket Cloud Storage. Untuk informasi tentang menambahkan kebijakan penyimpanan untuk menentukan periode penyimpanan, lihat halaman Retention policies and retention policy locks. Pengguna yang dapat mengaktifkan audit Untuk mengaktifkan audit dan membuat spesifikasi audit, pengguna sqlserver default harus tersedia. Saat Anda membuat instance Cloud SQL for SQL Server, pengguna sqlserver default telah dibuat. Baca juga: Preview Cloud SQL Insights For MySQL untuk Tingkatkan Observabilitas Database Kegunaan fitur audit database Photo Credit: DCStudio (Freepik) Setelah mengaktifkan fitur audit instance pada Cloud SQL for SQL Server, Anda dapat membuat audit SQL Server dan spesifikasi audit. Ini menentukan informasi apa yang akan dilacak pada database Anda. Selain itu, dengan fitur ini Anda juga dapat menangkap informasi terperinci mengenai berbagai operasi yang dijalankan pada database, termasuk, memantau tiap percobaan login yang berhasil atau gagal. Jika ingin menangkap informasi yang berbeda untuk setiap database, Anda dapat membuat spesifikasi audit yang berbeda untuk setiap database pada instances atau Anda juga bisa membuat spesifikasi audit tingkat server untuk melacak perubahan pada keseluruhan database yang ada. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Masa Depan Fitur audit database SQL Server kini tersedia untuk semua instance Cloud SQL for SQL Server. Anda bisa mengunjungi halaman khusus untuk mempelajari fitur audit database di sini. Adanya fitur audit database ini menambahkan kapabilitas baru pada Cloud SQL for SQL Server, sekaligus memperluas dukungan Google untuk mengelola database Anda. Layanan ini pun telah terintegrasi dengan berbagai layanan dan aplikasi Google, termasuk Cloud. Bagi Anda yang tertarik untuk mulai memanfaatkan solusi komputasi awan dari Google, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan skala besar, seperti untuk korporasi atau instansi pendidikan. Untuk mulai memilih paket sebagai solusi komputasi awan perusahaan Anda, silakan klik di sini!

Google Cloud, Google Workspace

Selamat, EIKON Technology Meraih Work Transformation – Enterprise Partner Specialization

Google Cloud mengakui keandalan dan keberhasilan EIKON Technology dalam menghadirkan solusi terbaik untuk transformasi kerja Hari ini (28/6), EIKON Technology dengan gembira mengumumkan telah berhasil meraih titel “Work Transformation – Enterprise Partner Specialization” dalam Program Google Cloud Partner Advantage. Pencapaian tersebut menjadi bukti komitmen EIKON Technology dalam menghadirkan solusi bagi pelanggan di bidang transformasi kerja dengan memanfaatkan teknologi dari Google Cloud. Google Cloud Partner Advantage sendiri merupakan suatu program yang hadir untuk memberikan apresiasi terhadap Partner yang telah memenuhi persyaratan, mampu menunjukkan kemahiran teknis, serta mencapai kesuksesan dalam solusi dan area layanan tertentu. Sedangkan Specialization adalah titel tertinggi yang dapat diperoleh Partner. Bagi Partner yang telah mencapai spesialisasi di bidang layanan Google Cloud yang mapan, kesuksesan pelanggan yang konsisten, dan kemampuan teknis yang terbukti (telah diperiksa oleh Google dan tim penilai dari pihak ketiga). Terdapat 15 spesialisasi tersedia dan salah satunya adalah Work Transformation – Enterprise yang baru saja diraih EIKON Technology. Untuk bisa meraih spesialisasi Work Transformation – Enterprise, EIKON Technology memberikan dukungan nyata dalam penerapan Google Workspace pada perusahaan maupun instansi. Ini mencakup penyediaan layanan di semua alur kerja proyek, mulai dari tata kelola, teknis implementasi, pembekalan SDM, hingga dukungan pascaimplementasi. Pencapaian EIKON Technology dalam mencapai titel “Work Transformation – Enterprise Partner Specialization” merupakan hasil dari perjalanan selama 15 tahun terakhir dalam mengembangkan solusi teknologi inovatif untuk berbagai tantangan bisnis. EIKON Technology memfasilitasi perusahaan maupun institusi pendidikan dalam menerapkan sistem komputasi awan dengan dukungan terbaik dari para ahli. “Sangat menarik untuk melihat bagaimana EIKON Technology memanfaatkan investasinya di Google Cloud untuk menghadirkan solusi kepada pengguna sekaligus tampil menonjol dibandingkan pesaingnya. Spesialisasi ini memberikan sinyal kepada pelanggan dan tim penjualan Google Cloud bahwa EIKON Technology telah menghadirkan tingkat komitmen mendalam dan serangkaian keterampilan yang tak tertandingi untuk pasar.” – Nina Harding, Channel Chief, Global Partner Strategy & Programs Google Cloud Tentang EIKON Technology EIKON Technology merupakan Partner sekaligus Reseller Google Workspace terkemuka di Indonesia yang berlokasi di 2 kota terbesar, Jakarta dan Surabaya. EIKON Technology adalah perusahaan konsultan, outsourcing, dan pengembangan teknologi informasi swasta yang didirikan pada tahun 2007. Sejak menjadi Partner Google Cloud Premier, EIKON Technology telah membantu lebih dari 300.000+ pengguna untuk bermigrasi ke Google Workspace, dan menjadi penyedia layanan komputasi awan yang ahli. Tim EIKON memiliki pengetahuan dan ditunjang pengalaman yang sangat baik untuk membantu pengguna bermigrasi ke Google Workspace dari platform utama seperti Appsheet, Microsoft Exchange, Lotus Notes, ISP Hosting, dan Zimbra. Sebagai Reseller Partner dan Service Partner Google Cloud, EIKON Technology menyediakan produk Google Workspace, Professional Services Organization, Google for Education, Chrome, Google Cloud Platform, and Google Cloud  

Scroll to Top