EIKON Technology

Info

Info

5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya

Saat ini, multicloud telah menjadi kebutuhan banyak perusahaan, baik yang berskala besar maupun sedang. Hal ini tidak mengherankan jika melihat perkembangan dunia TI yang semakin kompleks dari hari ke hari. Semakin kompleks sistem yang ada maka satu layanan cloud saja rasanya tidak akan cukup. Jelas Anda bisa memilih untuk menjadi ahli salah satu cloud saja. Meski begitu, memiliki kefasihan terhadap beberapa jenis cloud sekaligus terbukti bisa membuka peluang yang lebih luas. Setidaknya, dua dari tiga raksasa penyedia cloud (Google Cloud, Amazon Web Service, dan Microsoft Azure) membuka beberapa pilihan karier yang dioptimalkan untuk perkembangan cloud di masa depan. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana cara untuk mulai mempelajari ekosistem multicloud. Seperti apa tipsnya? Mari simak penjelasannya berikut ini. Tips mempelajari ekosistem multicloud Dari bagian pembuka kita bisa tahu bahwa kedekatan dengan beberapa cloud sekaligus dapat membuka peluang karier yang lebih luas. Namun, mempelajari satu jenis cloud saja terkadang sudah terasa berat. Lalu bagaimana cara memetakan karier multicloud tanpa merasa “lelah” mempelajari satu jenis cloud yang belum Anda kenal sebelumnya? Pahami konsep inti dengan baik Seperti yang Anda ketahui, setiap cloud berbeda. Meski begitu, jika diperhatikan, semua cloud yang ada sebenarnya memiliki pendekatan dasar yang sama seperti dari segi jaringan virtual, ketersediaan, tinggi, hingga IAM. Hal inilah yang perlu menjadi dasar pemikiran Anda saat mulai mempelajari ekosistem multicloud. Akan lebih baik jika Anda langsung belajar pada ahlinya. Coba cari tahu tentang arsitek cloud yang telah tersertifikasi. Sebab, dalam hal penerapan multicloud, praktek akan membantu Anda untuk lebih cepat paham daripada sekadar membaca materi. Perkuat pemahaman cloud utama Anda Photo Credit: Piqsels Sebelum terjun dalam ekosistem multicloud, penting bagi seorang insinyur cloud untuk memiliki tingkat kefasihan tinggi pada salah satu penyedia cloud. Ini karena kebanyakan lowongan cloud engineering yang ada saat ini, memerlukan keahlian dengan pemahaman signifikan pada cloud tertentu. Perlu diingat, seorang pakar multicloud sekalipun pasti memiliki satu satu jenis cloud yang lebih dikuasai. Cara terbaik untuk mulai “menyeberang” ke multicloud setelah memperkuat cloud utama Anda adalah bekerja dalam sebuah tim dengan kepakaran cloud yang berbeda-beda.  Pengalaman langsung seperti ini akan memudahkan Anda untuk lebih dekat dengan jenis cloud baru. Serap pengetahuan sebanyak mungkin pada cloud sekunder Agar Anda tidak hanya jalan di tempat, pastikan untuk selalu memacu diri. Sambil memperdalam pemahaman cloud utama, mulai ambil sertifikasi cloud sekunder Anda. Langkah seperti ini akan membantu Anda mendapatkan pekerjaan melalui pemahaman cloud utama dan “menyadari” keberadaan cloud lain. Jadi, saat nanti muncul peluang untuk membangun cloud sekunder, Anda sudah siap. Baca juga: 5 Tips Penggunaan Multicloud Yang Efektif untuk Dapatkan Lebih Banyak Manfaat Manfaatkan sebaik mungkin layanan cloud-native Inti penggunaan cloud adalah memanfaatkan layanan terbaik dari cloud tersebut. Biasanya, hal tersebut berarti memanfaatkan layanan terkelola asli yang andal. Di sisi lain, ekosistem cloud saat ini sudah semakin matang. Dengan menginvestasikan waktu Anda untuk mempelajari alat lintas cloud tersebut maka akan ada lebih banyak lagi pintu untuk membangun hal-hal menarik dalam cloud. Pelajari lingua franca cloud Photo Credit: Piqsels Jika diibaratkan, penyedia cloud yang berbeda ibarat sebuah perumahan. Dalam sebuah perumahan, ada beberapa bangunan rumah dengan cluster berbeda namun menerapkan konsep arsitektur yang sama. Cloud pada dasarnya sama saja. Ada banyak blok, namun sebenarnya dibangun dengan satu konsep umum. Manusia seringkali belajar dengan memanfaatkan analogi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Begitu pula dengan mempelajari multicloud. Anda akan lebih mudah memahami fitur-fitur Azure jika bisa memahami cara kerja fitur yang serupa pada Google Cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Sedikit tips tambahan, saat mempelajari ekosistem multicloud, usahakan untuk selalu mengikuti pendapat tepercaya yang bisa membantu Anda memfilter hal-hal tak perlu. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Anda dapat membuat agenda rutin untuk mengikuti kelas atau event virtual. Cara efektif lainnya adalah dengan membangun proyek sampingan sebagai praktek untuk mengasah pemahaman Anda. Seperti yang sudah dibahas di atas, mempelajari ekosistem multicloud akan lebih mudah jika Anda memiliki dasar yang kuat pada cloud utama. Jika pilihan cloud utama jatuh pada Google Cloud, sebaiknya Anda mulai berlangganan layanan resminya agar mudah mengakses seluruh layanan dan tools di dalamnya. Dapatkan Google Cloud secara legal dengan sertifikat resmi dari Google melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Cloud IDS untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia Secara Umum

Awal tahun 2021 lalu, Google meluncurkan Cloud IDS. Yakni sebuah platform komputasi awan yang berfokus pada penguatan keamanan jaringan. Salah satunya dengan mendeteksi ancaman sejak dini untuk mencegah kerugian yang lebih besar di kemudian hari. Apa saja kemampuan Cloud IDS dan platform apa saja yang bisa digunakan? Simak ulasannya di tulisan ini sampai akhir. Kemampuan Cloud IDS Photo: Kaspersky Cloud IDS dirancang dengan Palo Alto Network, dimana perusahaan ini menyediakan berbagai fitur dan teknologi terbaik dalam mendeteksi ancaman. Adapun beberapa kemampuan pendeteksian yang dapat dilakukan oleh Cloud IDS dengan baik di antaranya adalah: Layanan yang dapat digunakan sudah tersedia di berbagai regional atau wilayah. Layanan auto-scaling juga tersedia di berbagai regional, dimana hal ini memudahkan dalam merancang jaringan lebih baik. Dapat digunakan bagi para pengguna Google Cloud HIPAA Memiliki sertifikasi ISO27001 Terintegrasi dengan Chronicle, yakni fitur analisa keamanan dari Google yang dapat membantu dalam investigasi ancaman pada jaringan. Platform yang Sudah Terintegrasi Cloud IDS dan Bisa Anda Pilih Keamanan dalam jaringan Cloud IDS cukup penting bagi sebuah organisasi besar maupun perusahaan. Agar lebih baik dalam penerapannya, ada beberapa platform yang bisa dipadukan dengan Cloud IDS ini. Mulai dari Avaya, Lytic, dan Meditech. Berikut ulasan ringkasnya. Avaya Photo: Klob.id Avaya menjadi salah satu pelopor dalam platform komunikasi berbasis cloud dan collaboration solutions. Cloud IDS dapat digunakan untuk Avaya dengan lingkungan Google Cloud dalam mendeteksi ancaman pada jaringan. Keunggulan dari platform Avaya ini adalah mudah untuk disetel dan diterapkan pada jaringan Anda dalam waktu yang singkat. Selain itu, proses pemindaian di Avaya semakin mudah dengan adanya fitur scanner running untuk pengujian penggunaan. Tak hanya itu saja, Avaya juga dapat terhubung dengan Google Cloud IDS UI. Cloud IDS – Lytics Photo: Lytics Platform berikutnya adalah Lytics yang bisa digunakan untuk platform Google Cloud berskala besar. Salah satunya adalah penggunaan untuk jaringan di sebuah perusahaan. Khususnya jaringan untuk penggunaan pada Google SREs. Implementasi dari Lytics dapat memangkas biaya pengeluaran. Kemudian, tidak berdampak pada infrastruktur IT yang ada. Lytics dapat diandalkan untuk mendeteksi ancaman dengan cepat. Dengan begitu, akan mudah untuk memetakan tindakan apa yang harus dilakukan oleh tim IT di sebuah perusahaan guna mencegah ancaman yang akan datang. Meditech Photo: Meditech.com Terakhir, untuk pengamanan jaringan dari ancaman dapat menggunakan Meditech. Terutama di bidang kesehatan yang terintegrasi dengan data rekaman kesehatan pasien atau electronic health record (EHR) di sektor medis. Selain itu, Meditech memberikan kenyamanan dalam perekaman kesehatan secara tepat guna, efisien, dan meningkatkan kepuasan bagi para pasien. Fitur keamanan di Meditech pun menggunakan Cloud IDS dari Palo Alto Networks dan juga Chronicle untuk mencegah ancaman dalam hal perlindungan data pasien tetap berada di tempat yang aman dan tidak disalahgunakan. Memulai Cloud IDS Photo: NETDepot Setelah Anda mengetahui kemampuan Cloud IDS beserta beberapa pilihan yang dapat digunakan, penting pula untuk mengetahui bagaimana cara untuk memulainya. Sebagai langkah awal, Anda bisa memulainya dengan menggunakan konsol GCP. Untuk mendeteksi dan mengidentifikasi permasalahan dan ancaman pada Cloud IDS, Anda bisa menggunakan platform Chronicle. Dimana Anda bisa menyimpan data penting dan menganalisis log ancaman melalui telemetri data dan bisa melakukan investigasi dan tindakan pencegahan terhadap ancaman dengan cepat. Apabila Anda ingin mengaplikasikannya, ada baiknya untuk perhatikan Google Cloud yang digunakan oleh perusahaan maupun organisasi Anda. Maka dari itulah, Anda perlu membeli layanan Google Cloud yang original di vendor terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang memiliki lisensi resmi dari Google pusat. Informasi lebih lanjut mengenai produk yang ditawarkan, Anda bisa klik di sini.

Info

Mengenal Resources dan Tools baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman

Mengetahui cara implementasi AI yang aman dan bertanggung jawab kini menjadi semakin penting. Sebab, tanpa disadari, AI atau Artificial Intelligence kian sulit untuk dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Relevansi AI dengan kehidupan manusia menjadi semakin tinggi, sehingga rasanya tidak ada bidang yang tidak tersentuh perkembangan AI. Agar tidak terjadi penyalahgunaan dalam perkembangan AI, perusahaan IT banyak meluncurkan resources dan tools untuk memastikan agar proses implementasi tetap bertanggung jawab dan tidak menyalahi aturan yang ada. Salah satunya Microsoft Azure. Dalam event bertajuk “Put Responsible AI into Practice” Azure memperkenalkan beberapa resource dan tool baru untuk membantu implementasi AI yang lebih bertanggung jawab. Seperti apa? Panduan implementasi AI Azure Meski kesadaran untuk melakukan implementasi AI dengan aman dan bertanggung jawab sudah tumbuh dalam masyarakat, sayangnya masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana caranya. Masih banyak perusahaan yang menggunakan teknologi AI tidak memiliki pemahaman mendalam tentang “tanggung jawab” dalam implementasi AI. Tidak jarang, perusahaan terlalu mengandalkan AI mereka. Sebagian besar karena tidak adanya kejelasan tentang bagaimana menjalankan prinsip-prinsip mereka. Baca juga: Cara Back Up Data Menggunakan Azure Back Up Untuk membantu menyelesaikan permasalahan tersebut, Azure bekerja sama dengan BCG mengembangkan “10 Panduan Pimpinan Produk dalam Implementasi AI yang Bertanggung Jawab”, sebuah resource yang berisi panduan jelas dan dapat ditindaklanjuti oleh para pimpinan teknis perusahaan dalam menilai, merancang, dan melakukan validasi tanggung jawab sistem AI. “Sepuluh Panduan Implementasi AI” Photo Credit: Rawpixel Panduan tersebut kemudian dikelompokkan dalam tiga fase besar yaitu: Menilai dan mempersiapkan Mengevaluasi manfaat produk, teknologi, potensi risiko, dan kesiapan tim. Merancang, membangun, dan mendokumentasikan Meninjau dampak, pertimbangan unik, dan praktik dokumentasi. Validasi dan dukungan Memilih prosedur pengujian dan dukungan untuk memastikan produk berfungsi sebagaimana seharusnya. Dengan adanya resource baru tersebut, Azure berharap akan ada lebih banyak lagi perusahaan yang menerapkan AI dan bertanggung jawab dalam setiap prosesnya. Responsible AI dashboard Dalam event tersebut, Azure juga memperkenalkan Responsible AI (RAI) dashboard yang dirancang untuk membantu para data scientist dan developers dalam memahami, melindungi, dan mengendalikan data serta model AI. Dashboard tersebut berisi kumpulan kemampuan AI seperti interpretasi, analisis kesalahan, kontrafaktual, dan inferensi biasa. Layanan tersebut sudah dapat diakses khalayak umum melalui Azure Machine Learning. Photo Credit: Microsoft Azure Blog Perusahaan yang telah menerapkan Responsible AI Photo Credit: Rawpixel Data dari Azure menunjukkan bahwa sudah ada banyak perusahaan dari berbagai industri, yang bekerja dengan memanfaatkan kemampuan AI dari Azure, termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan tools AI. Novartis Salah satunya datang dari industri kesehatan yakni Novartis yang merupakan perusahaan obat-obatan asal Swiss. Pada awal tahun 2021 lalu, Novartis secara resmi mengumumkan delapan prinsip penggunaan AI secara etis. Hingga tahun 2021, Novartis telah menanamkan AI dalam alur kerja mereka, termasuk untuk alur kerja yang melibatkan partner mereka (eksternal perusahaan). Perwakilan dari Novartis menyebutkan bahwa penggunaan RAI dashboard memungkinkan tim mereka untuk dapat menilai akurasi dan keandalan dari sebuah sistem AI. Dengan begitu, keberadaan tools tersebut berhasil membantu Novartis untuk melaksanakan prinsip mereka terkait penggunaan AI secara etis. Philips Selain itu, ada juga Philips yang merupakan perusahaan teknologi. Dengan menggabungkan Azure dan perangkat Fairlearn, Philips berhasil mengurangi bias yang muncul pada keseluruhan model pembelajaran mesin mereka. Hasilnya, Philips berhasil memproduksi mesin peralatan kesehatan yang membantu pengelolaan kesejahteraan dan perawatan pasien lebih baik. Scandinavian Airlines Implementasi AI yang aman dan bertanggung jawab juga sudah berlaku di Scandinavian Airlines, perusahaan penerbangan yang berkantor di tiga negara: Denmark, Norwegia, dan Swedia. Scandinavian Airlines sendiri merupakan pelanggan Azure Machine Learning dan menggunakan kemampuan interpretasi AI di unit deteksi penipuan. Baca juga: 5 Fitur Microsoft Azure Yang Perlu Anda Ketahui Perkembangan AI memang terbukti bisa meringankan kehidupan manusia. Namun di satu sisi, inovasi teknologi tersebut juga rentan terhadap penyalahgunaan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Azure terus memperbaharui resources dan tools mereka. Dalam update terbarunya, Azure meluncurkan panduan implementasi AI yang bertanggung jawab serta RAI atau Responsible AI dashboard. Tertarik dengan solusi implementasi AI yang bertanggung jawab dari Azure? Tidak sulit, Anda cukup berlangganan Microsoft Azure karena seluruh kemudahan tersebut telah tersedia di dalamnya. Untuk berlangganan pun mudah, Anda bisa mendapatkan produk Azure resmi dan bersertifikat Microsoft melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk free trial Azure selama 30 hari!

Info

Tips Meningkatkan Fleksibilitas Kerja dengan AppSheet

Setelah memasuki masa new normal, banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid, alias kombinasi antara bekerja di kantor dan rumah. Beberapa bahkan masih menerapkan model work from home (WFH). Transisi model kerja seperti ini tentu menuntut adanya fleksibilitas yang tinggi. Tanpa adanya fleksibilitas, akan sulit mengontrol sekaligus memantau perkembangan workflow. Salah satu solusi yang kini mulai banyak dilirik adalah dengan mengaplikasikan tool produktivitas dan kolaborasi seperti Google Workspace. Kabar baiknya lagi, kini Google Workspace telah dilengkapi dengan kemampuan untuk merancang custom apps serta otomatisasi melalui AppSheet. AppSheet sendiri merupakan platform pengembangan aplikasi tanpa kode dari Google Cloud. Platform tersebut dibuat untuk mudah dioperasikan, bahkan oleh mereka yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang programming. Bagaimana AppSheet dapat membantu meningkatkan fleksibilitas kerja di masa new normal seperti sekarang ini? Mari pelajari bersama dalam ulasan berikut. Menyederhanakan proses kerja Fleksibilitas kerja bisa ditingkatkan dengan bantuan aplikasi yang tepat. Belum menemukan aplikasi yang sesuai untuk perusahaan Anda sendiri? AppSheet bisa menjadi solusi untuk merancang aplikasi yang menjawab kebutuhan perusahaan. Katakanlah Anda ingin menyederhanakan proses inventarisasi kantor, AppSheet menyediakan beberapa fitur yang dapat digunakan untuk melakukan inspeksi, pelacakan inventaris, hingga pemusatan informasi yang lebih terstruktur. Google Sheet bisa dimanfaatkan untuk menyimpan backend data Anda, terlebih jika data yang tersimpan tidak akan bertambah secara eksponensial. Pengalihan data dapat dilakukan dengan mudah melalui Google Cloud SQL. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk memulainya, Anda bisa langsung membuka AppSheet melalui Google Sheet dengan cara klik Tools > AppSheet > Create an App. Data yang saling terkait Setelah berhasil membuat aplikasi, Anda bisa melihat data mana saja yang saling terkait, bagaimana potongan data saling berhubungan, tampilan seperti apa yang disajikan kepada pengguna, serta pratinjau interaktif langsung dari aplikasi sehingga Anda bisa menyempurnakan aplikasi secara intuitif. Aplikasi manajemen kantor yang dibuat melalui AppSheet akan menawarkan pengaturan gedung serta fitur administrasi untuk mengelola peralatan, informasi pemeliharaan, bahkan Anda juga bisa menyesuaikan dengan kondisi terkini, misalnya penjadwalan desinfeksi ruangan. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengguna kemudian dapat memesan ruang dan peralatan melalui aplikasi, tanpa harus mencari formulir atau bahkan masuk ke komputer kerja mereka. Reservasi merupakan salah satu fitur otomatisasi di AppSheet, bisa melakukan tindakan yang telah dikonfigurasi sebelumnya saat dipicu. Photo Credit: Google Cloud Blog Seperti terlihat pada screenshot di atas, saat sebuah tindakan dipicu—baik dengan menekan tombol, memindai kode QR atau mengetuk tag RFC—Anda cukup menyetelnya melalui kolom “Reserved by” dan “Reserved at”. Proses yang lebih ringkas dengan otomatisasi Photo Credit: Google Cloud Blog Melalui fitur AppSheet Automation, Anda bisa mengurangi tugas berulang sekaligus meringkas proses lebih jauh. Salah satu contoh penerapannya adalah saat pengguna sering lupa mematikan sumber daya setelah selesai bekerja. Dengan AppSheet Automation, aplikasi akan memeriksa semua sumber daya yang telah dicadangkan selama lebih dari empat jam secara berkala. Jika tidak terdapat respon maka otomatisasi akan langsung membersihkan sumber daya dan melepaskannya. Optimalkan untuk beberapa peran Photo Credit: Google Cloud Blog Memanfaatkan AppSheet, Anda bisa merancang satu aplikasi dengan banyak peran sekaligus. Untuk sebuah aplikasi manajemen kantor misalnya, pengelola kantor akan memiliki tampilan sekaligus dashboard khusus yang berbeda dengan pekerja kantor lainnya. Dengan begitu, proses otomatisasi pun bisa langsung disesuaikan dengan masing-masing peran. AppSheet juga mendukung fitur-fitur canggih seperti kode QR, NFC, dan integrasi sensor Bluetooth. Hal ini dapat membantu pengguna memeriksa lokasi atau ruang kerja, meringkas beberapa tugas sekaligus, membantu pengguna melakukan navigasi, sekaligus berkolaborasi dengan aman di dalam kantor. Baca juga: Formula dan Expressions, Kunci Utama Membuat Aplikasi Tanpa Coding AppSheet adalah sebuah platform pengembangan aplikasi tanpa kode. Dengan memanfaatkan platform tersebut, Anda bisa merancang sebuah aplikasi meski tidak memiliki dasar terkait programming. Sifatnya yang dinamis membuat AppSheet dapat diakses melalui browser hingga smartphone. AppSheet Core akan otomatis didapatkan jika perusahaan Anda telah berlangganan Google Workspace Enterprise Plus. Belum berlangganan atau ingin meningkatkan subscription Anda? EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai reseller dengan lisensi resmi dari Google, EIKON Technology menyediakan berbagai produk dari Google termasuk Google Workspace dan segala fitur di dalamnya, termasuk AppSheet. Dapatkan segera di sini!

Google Workspace, Info

Google Drive Update: Lebih Ringkas dengan Sistem Shortcut

Sering mengalami kesulitan dalam mengelola file yang tersimpan dalam Google Drive karena melakukan hosting di beberapa lokasi sekaligus? Kini Anda tidak perlu bingung lagi. Pasalnya, Google telah meluncurkan sistem shortcut (pintasan) yang dirancang untuk menyederhanakan struktur file dan folder dalam Google Drive. Dengan Drive update tersebut maka file multi lokasi akan secara otomatis dimigrasikan ke shortcut. Bagaimana cara kerjanya? Mengenal Google Drive shortcuts Peralihan model kerja selama pandemi tanpa disadari membuat kita jauh lebih bergantung pada tools produktivitas berbasis cloud seperti Google Workspace untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau bahkan partner. Di satu sisi, peralihan tersebut memang akan memudahkan, tapi di sisi lain juga bisa menyebabkan penumpukan file dokumen, Sheet, presentasi, dan aset lain yang di-hosting dalam Google Drive. Akibatnya, pengguna akan menghadapi beberapa masalah manajemen file dan tentunya navigasi. Baca juga: 7 Fitur Google Drive Ini Wajib Anda Ketahui Pada Drive update yang dijelaskan dalam artikel kali ini, Google menerapkan beberapa pengaturan yang memudahkan pengguna dalam melakukan manajemen file. Fitur yang paling disoroti adalah Google Drive shortcut. Sistem shortcut ini nantinya akan memudahkan pengguna dalam mengatur file dan folder yang tersimpan dalam Drive. Proses migrasi Perlu diingat proses migrasi untuk update Google Drive ini tentu tidak terjadi secara mendadak. Proses migrasi akan dilakukan secara bertahap mulai dari awal tahun 2022. Ada pun untuk timeline lengkapnya sebagai berikut: Awal tahun 2022. Administrator akan mendapatkan notifikasi melalui email beberapa minggu sebelumnya untuk memulai proses migrasi di dalam domain. o   Catatan penting: Sebelum migrasi dimulai, administrator dapat mengatur waktu untuk membuat shortcuts di dalam shared folders. Sedangkan end users Google Workspace tidak akan mendapatkan notifikasi tersebut. Sebagai gantinya, end user Google Drive akan mendapatkan pemberitahuan melalui banner yang ada pada Drive (baik versi web maupun mobile). End users tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena proses migrasi akan berlangsung otomatis. o   Berlaku untuk seluruh users Google Workspace dan users dengan akun Google pribadi. Photo Credit: Google Workspace Updates Membuat shortcut dengan Drive for Desktop Sebelumnya, jika fitur “Backup and Sync” aktif, maka Anda bisa membuat sebuah folder baru dalam lokasi baru dengan menekan “Shift+Z”.  Namun setelah Drive update kali ini, perintah Shift+Z akan menghasilkan sebuah shortcut alih-alih sebuah folder yang ada di beberapa lokasi. Baca juga: Edisi Google Workspace yang Bisa Anda Pilih untuk Bisnis Fungsi shortcuts yang telah tersedia Photo Credit: Google Workspace Updates Hingga artikel ini ditulis, fitur shortcuts pada Drive masih terus dikembangkan. Salah satu fungsi andalannya adalah memberikan informasi folder dan file yang lebih lengkap. Berikut adalah beberapa detail informasi yang ditampilkan pada shortcuts: Daftar user yang dapat mengakses file serta ketersediaan file untuk diunduh. Ukuran file serta ruang penyimpanan yang telah terpakai. Lokasi asli file. Nama user yang membuat dan melakukan modifikasi file. Informasi tersebut telah tersedia pada Google Drive versi web. Sedangkan versi mobile masih dalam pengembangan dan akan segera diluncurkan. Ketersediaan layanan Photo Credit: Google Workspace Updates Hingga saat ini, fitur shortcut sudah diterapkan pada: Seluruh pengguna Google Workspace, termasuk untuk pengguna G Suite Basic serta G Suite Business. Seluruh pengguna Google Drive yang mendaftar dengan akun Google pribadi. Adanya platform penyimpanan berbasis cloud seperti Google Drive memang terbukti sangat membantu di masa pandemi seperti sekarang. Sebab, Anda tidak perlu bingung lagi dengan masalah menyimpan atau bahkan membagikan file. Selain itu, Drive juga sangat memudahkan dalam pekerjaan yang menuntut kolaborasi. Sayangnya, kemudahan tersebut rentan menimbulkan masalah dalam pengelolaan file. Sistem shortcut yang merupakan Google Drive update menjadi solusi yang memudahkan Anda dalam mengatasi penumpukan file. Ingin kinerja Drive Anda semakin optimal? Gunakan Google Workspace, platform produktivitas dan kolaborasi dari Google yang dirancang untuk memudahkan pekerjaan melalui komputasi cloud. Dapatkan hanya di EIKON Technology, partner sekaligus authenticated reseller produk-produk Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology!

Info

Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud

Saat menjalankan berbagai macam tools dan aplikasi pada Google Cloud, terkadang karena satu dan hal lain dapat menjadi hambatan. Seperti terjadinya kerusakan dan kendala pada sistem sehingga berdampak pada kenyamanan penyimpanan data. Bahkan, Anda terkadang dihadapkan pada banyak tools untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itulah, Operasi Google Cloud Suite hadir dan bisa Anda coba. Mengenal Operasi Suite di Google Cloud Photo: Google Clouds Operasi Google Cloud Suite diciptakan untuk membantu proses monitoring permasalahan layanan yang digunakan dengan berbasis skala. Misalnya untuk penggunaan DevOps, SREs, maupun ITOps pada sebuah tim dengan memaksimalkan penggunaan Google SRE. Platform ini juga menawarkan beberapa kelebihan lain, terutama dalam proses monitoring, logging, hingga observasi permasalahan pada layanan. Seperti proses pelacakan. Adapun hal dasar yang menjadi titik fokusnya adalah menawarkan solusi operasi end-to-end termasuk telemetry, out-of-box dashboard, dan lainnya. Apa Saja yang Termasuk Cloud Operation Photo: YouTube Operasi Google Cloud Suite memiliki beberapa layanan utama. Adapun yang sering digunakan di antaranya adalah cloud logging, cloud monitoring, dan Application Performance Management (APM). Berikut penjelasan secara singkat mengenai ketiganya. Cloud Logging Pertama adalah cloud logging, yakni sebuah layanan dengan skalabilitas tinggi untuk mengagregasi log data dari infrastruktur IT maupun aplikasi yang terhubung dengan Google Cloud ke dalam satu lokasi khusus. Cloud logging akan mengumpulkan data dari Google Cloud secara otomatis maupun source lainnya. Misalnya sebuah aplikasi melalui pihak ketiga dan API. Hal ini akan memberikan kontrol secara penuh untuk menentukan dimana log data akan disimpan, melakukan ekspor data ke Cloud Storage maupun Cloud Pub. Saat ini Cloud Logging memiliki fitur Log Analytics untuk membuat log secara otomatis tetap terhubung dengan BigQuery. Tak hanya itu saja, juga ada fitur Log Explorer yang memiliki kemampuan lebih baik dalam memfilter log dan mengkonversinya menjadi metrik log dasar untuk proses monitoring, analisis, hingga visualisasi bila diperlukan. Cloud Monitoring Berikutnya adalah cloud monitoring. Layanan ini menyediakan beberapa sistem metrik yang dibuat pada layanan Google Cloud. Cloud monitoring juga terintegrasi dengan berbagai layanan yang disediakan oleh pihak ketiga, termasuk di luar layanan Google Cloud Monitoring. Metrik yang mudah dikustomisasi juga bisa diterapkan pada aplikasi dan layanan diluar source dari Google Cloud maupun API. Melalui metrik tersebut, Anda dapat dengan mudah membuat charts dan dashboard, notifikasi dan peringatan, SLO Monitoring, serta cek uptime dengan mudah. Application Performance Management (APM) Layanan Operasi Google Cloud Suite adalah Application Performance Management (APM). Layanan ini merupakan gabungan untuk memonitor maupun untuk mendeteksi masalah yang ada pada Cloud Logging maupun Cloud Monitoring dengan Cloud Trace, Cloud Debugger, dan Cloud Profiler. Tujuannya adalah untuk mereduksi pengeluaran dan latensi. Dengan begitu,penggunaan aplikasi akan lebih optimal. Jadi, kinerjanya adalah Cloud Trace adalah melacak hubungan layanan terhadap tingkat latency. Sementara, Cloud profiler akan melacak fungsi-fungsi berdasarkan Codebase, dan Cloud Debugger akan membantu Anda dalam menemukan akar permasalahan dari segi metode yang digunakan maupun problem pada kode secara spesifik dan sistematis. Bagaimana Cara Kerja Operasi Suite di Google Cloud Photo: Global Cloud Platforms Untuk menggunakan tools dari Google Cloud, Anda bisa langsung melalui cloud console atau bisa juga dengan API untuk mengakses data di IDE. Tools Operasi Google Cloud membantu dalam Reduce Mean Time to Recover (MTTR) dan mengoptimalisasi performa aplikasi yang Anda jalankan. Dilihat dari sudut pandang keamanan, maka bisa dikatakan Operasi Google Cloud ini bisa diandalkan. Hal itu karena data akan diamankan menggunakan sistem enkripsi pada Cloud Logging. Dengan menggunakan log akses transparansi tentu akan memudahkan pengguna untuk mengakses data dengan aman, cepat, dan nyaman. Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Operasi Google Cloud cukup penting bagi organisasi maupun perusahaan di era digital seperti saat ini. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memilih layanan Google Cloud di vendor yang sudah terpercaya seperti EIKON Technology. Keunggulan di kami adalah, kami memiliki lisensi resmi dari Google pusat dan bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk yang ditawarkan, Anda bisa hubungi kami di sini.

Google Cloud, Info

3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services

Akhir-akhir ini, RISE with SAP menjadi solusi yang efisien bagi para pengguna SAP yang mencari jalur cloud tercepat, sederhana, dan tentunya lebih terjangkau. RISE with SAP sendiri merupakan penawaran berbasis subscriptions yang biasanya mencakup sejumlah aplikasi yang terkelola sepenuhnya, termasuk SAP S/4HANA Cloud dan elemen SAP Business Technology Platform. Sebagai partner RISE with SAP, Google Cloud bekerja sama dengan SAP untuk memastikan konektivitas yang aman, handal, dan memiliki performa tinggi antara aplikasi SAP yang Anda pakai dengan layanan Google Cloud lainnya. Untuk mewujudkannya, Google Cloud fokus pada kemampuan VPC network peering. Simak ulasan berikut untuk mempelajari lebih lanjut mengapa sebaiknya melakukan VPC network peering aplikasi SAP Anda melalui Google Cloud services.   VPC network peering merupakan tautan penting aplikasi SAP Photo Credit: Google Cloud Blog Ketika SAP mengimplementasi aplikasi Anda yang dikelola dengan RISE with SAP di Google Cloud, SAP juga menyediakan sebuah VPC atau virtual private cloud untuk lingkungan SAP tersebut. VPC sendiri berarti sebuah jaringan yang telah tervirtualisasi dan menyediakan fungsionalitas, performa, dan manfaat keamanan yang sama dengan jaringan fisik khusus. Menggunakan VPC network peering untuk menghubungkan lingkungan SAP terkelola milk Anda dengan aplikasi dan Google Cloud services, memberikan tiga manfaat utama: Latensi jaringan Traffic yang tetap berada dalam jaringan Google bisa menikmati latensi yang lebih rendah daripada konektivitas dengan alamat eksternal. Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite? Keamanan jaringan Pemilik layanan tidak perlu mengekspos layanan mereka kepada publik dan VPC network peering juga mendukung bantuan untuk menangani risiko terkait. Biaya jaringan Jaringan yang melalui proses peering bisa menggunakan IP internal untuk berkomunikasi. Ini jauh lebih hemat dibandingkan jika Anda menggunakan bandwidth dari IP eksternal. Harga jaringan regular pun berlaku untuk seluruh traffic. Memperkuat struktur keamanan SAP Photo Credit: Dan Nelson (Pixabay) Meski klaim utama VPC network peering adalah untuk memastikan konektivitas tanpa batas antara aplikasi yang dikelola SAP dengan lingkungan Google Cloud lainnya, namun dalam temuan terbaru justru ditemukan hal lain. VPC network peering telah terbukti mampu membantu pengguna mendapatkan kontrol yang lebih besar atas keamanan lingkungan cloud mereka yang mencakup: Menerapkan kemampuan keamanan jaringan tambahan seperti firewall tingkat tinggi, deteksi awal intrusi, hingga inspeksi paket jaringan yang melampaui langkah-langkah keamanan SAP standar. Integrasi dengan Google Cloud Interconnect untuk menautkan lingkungan lokal dan Google Cloud, termasuk RISE dengan aplikasi terkelola SAP, memungkinkan Anda untuk tidak harus mengirimkan traffic ke internet publik. Meningkatkan nilai aplikasi SAP Anda Jika perusahaan Anda sudah melakukan konfigurasi VPC network peering, segalanya akan menjadi lebih praktis. Selain dua manfaat yang telah disebutkan, Google Cloud juga menawarkan banyak cara agar Anda bisa melengkapi dan bahkan meningkatkan nilai aplikasi SAP, yaitu dengan cara: Menggunakan Google BigQuery untuk menggabungkan dan memperkaya data aplikasi terkelola SAP. Mengandalkan kemampuan Google AI/ML untuk mempertajam analitis prediktif dan memberikan opsi pengambilan keputusan secara real-time. Memanfaatkan Google Kubernetes Engine untuk memulai upaya pengembangan aplikasi cloud-native Anda sendiri. Dengan melakukan VPC network peering pada aplikasi terkelola SAP milik Anda menggunakan Google Cloud maka konektivitas pun menjadi semakin luas dan lebih mudah dikelola. Selain itu, layanan ini juga menawarkan peningkatan keamanan terbaik yang melindungi Anda dari berbagai macam ancaman bahaya. Untuk memastikan agar proses VPC network peering berjalan lancar tanpa hambatan, gunakan hanya Google Cloud yang berlisensi asli. Di Indonesia sendiri, Anda bisa mendapatkan produk Google yang asli melalui official partner yang telah mereka tunjuk seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk konsultasi langsung dengan tim EIKON Technology mengenai Google Cloud services untuk aplikasi SAP.

Info

Mulai Mendesain Website yang Skalabel dengan Google Cloud Platform

Mendesain website jelas bukan sebuah perkara sepele, terlebih jika Anda ingin merancang sebuah website yang skalabel. Ada banyak sekali langkah yang harus diikuti. Belum lagi, terkadang Anda harus menggunakan vendor yang berbeda untuk menyediakan tambahan layanan. Pertanyaan semacam, “apakah website saya aman?” atau “data DNS mana lagi yang perlu ditambahkan?” selalu muncul dan menghambat para operator website. Google Cloud Platform (GCP) hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Sebab, melalui layanan Google Cloud Platform, Anda bisa mendesain website sekaligus mengelolanya di satu lokasi. Bagaimana cara kerjanya? Google Cloud Platform untuk mendesain website Google Cloud Platform menyediakan solusi untuk mengelola website, dari tahap awal hingga akhir. Dengan memanfaatkan platform ini, Anda tidak perlu lagi dengan permasalahan seperti mengelola subscriptions atau bahkan memahami integrasi antar vendor penyusun website. Fitur- fitur di dalamnya memungkinkan Anda untuk mendesain sebuah website yang bukan hanya skalabel, tapi juga handal dan aman. Selain itu, tersedia beragam keuntungan tambahan seperti sertifikat Google Managed SSL gratis dan perlindungan DDoS terbaik melalui Google Cloud Armor. Diagram arsitektur Berikut adalah diagram arsitektur yang menggambarkan seluruh komponen dalam Google Cloud Platform: Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan komponen kuncinya adalah sebagai berikut: Cloud Domains Cloud DNS Compute and Storage Global HTTPs Load Balancer Cloud Armor Cloud CDN Membeli sebuah domain di Google Cloud Saat mendesain sebuah website, proses pembelian dan verfikasi domain adalah salah satu tahapan yang kompleks dan makan waktu. Melalui Cloud Domains, proses tersebut bisa disederhanakan. Sebab, Cloud Domains telah terintegrasi dengan Cloud DNS sehingga pengelolaannya pun mudah. Bukan hanya itu, Cloud Domains juga telah mendapat dukungan API penuh. Jadi, manajemen website pun akan lebih terprogram, terutama jika Anda mengelola portofolio yang lebih besar.   Baca juga: 7 Langkah Cara Membuat Website Menggunakan Google Sites Mengelola DNS dengan Google Cloud Selain Cloud Domains, GCP juga menyediakan solusi Cloud DNS. Solusi yang ditawarkan GCP merupakan sebuah infrastruktur DNS yang terkelola secara skalabel. Manajemen zona DNS dirancang untuk mudah dijalankan, baik untuk zona pribadi maupun publik. Data DNS publik disiarkan secara luas menggunakan jaringan terdistribusi Google. Dengan begitu, proses aktivasi DNSSEC pun menjadi mudah, menjauhkan end-user dari risiko keamanan yang merugikan. Mengamankan traffic website melalui Cloud Armor Photo Credit: Wikimedia Commons Traffic sering menjadi celah keamanan yang membahayakan end-user saat mengakses website. Untuk mencegah hal tersebut, Cloud Armor yang tersedia di GCP bisa menjadi solusi terbaik. Cloud Armor sendiri merupakan pertahanan DDoS sekaligus WAF (Web Application Firewall (WAF) terbaik di kelasnya. Dengan Cloud Armor, Anda bisa memanfaatkan pengaturan WAF yang telah dikonfigurasi dengan Mod Security Rule Set 3.02 sebelumnya, Pengaturan tersebut akan memberikan perlindungan yang adaptif, memastikan website yang Anda rancang tetap terlindungi dari berbagai serangan. Menyiapkan penyeimbang beban https eksternal Penyeimbang beban https eksternal merupakan solusi layer 7 berbasis proxy global. Fungsinya adalah sebagai titik masuk untuk seluruh traffic website Anda menuju Google. Solusi penyeimbangan beban yang disediakan GCP memungkinkan terjadinya manajemen lalu lintas yang terintegrasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Anda juga memadukannya dengan sertifikat Google Managed SSL untuk proses pengelolaan yang berkelanjutan. Cloud CDN untuk caching konten statis Photo Credit: Google Cloud Untuk mengelola konten website yang dapat disimpan dalam cache seperti gambar atau video pendek, gunakanlah Cloud CDN. Dengan Cloud CDN, konten bisa dikirim dengan cepat dan tanpa banyak biaya. Ini karena Google memiliki Cloud CDN yang tersebar di seluruh dunia.  memastikan tiap pengguna dari lokasi yang penting bagi Anda untuk mengakses website dengan cepat. Cloud CDN pun mudah diaktifkan dan dijalankan. Mendesain website bukanlah sebuah proses yang instan. Agar website bisa berjalan lancar, Anda harus memastikan tiap elemen di dalamnya bekerja dengan baik. Google Cloud Platform bisa menjadi solusi yang efisien sekaligus menyeluruh untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology yang merupakan official partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technnology.

Info

Update Terbaru Google Meet: Bisa Meeting Hingga 500 Peserta

Google Meet atau yang sebelumnya bernama Hangouts Meet, merupakan sebuah aplikasi video conference. Dengan Meet, Anda bisa melakukan virtual meeting dengan banyak orang di mana pun dan kapan pun, selama terdapat akses internet. Selama masa pandemi ini, Google Meet telah menunjukkan performa yang apik untuk mendukung transisi dari ruang meeting fisik menjadi ruang meeting digital. Guna memenuhi kebutuhan tiap penggunanya, Google pun terus melakukan pengembangan pada Meet. Salah satu update terbarunya menghasilkan kemampuan untuk melakukan meetings hingga 500 peserta. Simak detail lengkapnya di sini. Kini Google Meet bisa meetings hingga 500 peserta Photo Credit: Google Meet Help Kapasitas total ruang meeting virtual adalah salah satu hal yang dijadikan pertimbangan saat memilih aplikasi video conference. Sebab, tak jarang meeting harus diselenggarakan dengan banyak peserta, terutama bagi Anda yang memiliki perusahaan atau organisasi besar dengan jumlah anggota banyak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Meet melakukan pengembangan terus-menerus. Dalam update terbaru, Google mengumumkan bahwa kapasitas ruang pertemuan virtual Meet kini telah meningkat hingga mampu menampung 500 peserta. Selain itu, Meet juga menyediakan fitur yang memungkinkan host untuk menggelar live streams dengan 100,000 penonton. Dengan kemampuan ini maka Anda tak perlu kesulitan lagi untuk menyelenggarakan pertemuan atau rapat virtual melalui Google Meet. Terlebih kini Meet juga dilengkapi dengan berbagai fitur baru yang menunjang kenyamanan sekaligus keamanan selama Anda melakukan virtual meeting. Simak poin-poin berikut untuk mengetahui detailnya. Tampilan video yang lebih jernih Photo Credit: Google Meet Help Selain kapasitas, tampilan video juga sering dijadikan pertimbangan dalam memilih aplikasi video conference. Makin jernih tampilan video maka semakin baik kualitas meeting yang Anda selenggarakan. Sebab, tampilan yang jernih akan memudahkan peserta meeting membaca mimik wajah masing-masing, memberikan kesan seolah sedang berada di ruang rapat fisik. Selain itu, video yang jernih juga mempermudah peserta untuk menyimak materi yang sedang disampaikan oleh host. Baca juga: Cara Mudah Menggunakan Google Meet Di HP Google membekali Meet dengan tampilan video yang lebih jernih dalam update terbaru mereka. Selain itu, Anda juga bisa menemukan fitur pengaturan cahaya. Fitur ini hadir untuk melengkapi fitur yang telah diperkenalkan sebelumnya di tahun 2020 yaitu mode low-light (redup). Pilihan background lebih variatif Photo Credit: Google Meet Help Bagi Anda yang sering mengganti background saat meeting, sekarang Google Meet memberikan lebih banyak pilihan. Kini tersedia dua animated background baru yaitu Café dan Condo. Background Café akan memberikan kesan Anda seolah sedang berada di sebuah kafe. Sedangkan Condo menampilkan pemandangan sebuah ruangan kondominium yang netral. Keduanya dilengkapi dengan animasi yang menunjukkan perubahan cuaca seperti cerah, hujan, hingga salju. Sebelumnya, Meet juga telah menawarkan enam pilihan animated background yang menarik yaitu Classroom, Party with Disco Light, Forest dengan animasi tupai dan rubah, Spaceship, Under the Sea, serta Beach with Palm Trees. Ketersediaan layanan Untuk saat ini, update Google Meet di atas sudah bisa dinikmati dengan berlangganan layanan Google Workspace Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan juga Education Plus. Bagi Anda yang menggunakan Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Frontline, Nonprofits, the Teaching and Learning Upgrade atau G Suite Basic and Business harus bersabar terlebih dulu untuk bisa menikmati kemudahan tersebut. Photo Credit: Stocksnap Adanya aplikasi video conference seperti Meet memang terbukti mampu menjadi solusi di tengah situasi pandemi. Melalui Meet, Anda bisa tetap menggelar meeting dengan banyak orang dan tetap menjaga protokol kesehatan. Terlebih dengan adanya pengembangan pada fitur-fitur yang tersemat, Meet bisa memberikan atmosfer meeting virtual serupa dengan meeting konvensional. Update terbaru dari Google untuk Meet bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Workspace Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan Education Plus. Bagaimana caranya mulai berlangganan? Anda bisa menghubungi EIKON Technology. Sebagai Google Apps Partner untuk Indonesia, EIKON Technology telah dipercaya banyak perusahaan besar dalam menyediakan berbagai layanan dari Google, termasuk Workspace dan Education yang mendukung Google Meet. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik di sini.

Info

Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings

Untuk memberikan keamanan bagi penggunanya, Google Cloud Platform menyediakan Security Command Center (SCC). Melalui platform tersebut, pengguna dapat mengelola keamanan cloud dan meminimalisir risiko. Google terus meningkatkan performa SCC agar kebutuhan setiap pengguna terpenuhi. Dalam update Cloud terbaru, Google membekali SCC dengan fitur Mute Findings. Bagaimana cara kerjanya?  Mengenal fitur Mute Findings Di saat volume temuan pada Google Cloud Platform tinggi, tim keamanan akan sulit mengidentifikasi, melakukan triase, dan memulihkan risiko kritis. Adanya kemampuan menyesuaikan volume temuan jelas akan sangat membantu. Sebab, beberapa di antaranya mungkin tidak memiliki relevansi dengan kebijakan atau profil risiko perusahaan Anda. Mute Findings akan membantu tim keamanan Anda untuk menyusun prioritas risiko yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Efektivitas operasional keamanan Dengan kemampuan untuk melakukan Mute Findings ini, Anda dapat mengurangi jumlah temuan dan fokus pada masalah keamanan yang paling relevan. Cara ini jelas akan menghemat waktu Anda untuk segera mengenali sekaligus menanggapi risiko yang masih dapat diterima. Salah satu contohnya adalah saat Anda menerima peringatan Google Cloud Platform untuk aset yang terisolasi atau disimpan pada parameter yang dapat diperbolehkan. Jika melihat posisi aset maka peringatan tersebut tidak harus menjadi prioritas utama. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Kemampuan Mute Findings pun tidak hanya berhenti di situ. Setelah dibisukan, temuan akan langsung dicatat agar dapat diaudit. Dengan begitu, Anda bisa meninjau temuan yang telah dibisukan setiap saat. Hanya saja, statusnya disembunyikan pada dashboard SSC dan dapat dikonfigurasikan untuk menghindari pembuatan notifikasi pub/sub sehingga memudahkan Anda untuk fokus pada temuan yang tidak dibisukan.  Contoh penggunaan Mute Findings Pada aset yang ada dalam lingkungan non-produksi. Pada kunci enkripsi yang dikelola pelanggan dalam proyek tidak berisi data penting. Ketika memberikan akses menuju sebuah datastore, yang sengaja dibuka untuk umum. Temuan yang tidak relevan dengan organisasi Anda berdasarkan kebijakan keamanan perusahaan Anda. Cara mengaktifkan Mute Findings Anda bisa langsung menerapkan Mute Findings pada lingkungan Google Cloud dengan cara berikut ini: Menerapkan “mute rules” Mute rules memunkinkan Anda untuk dapat menyesuaikan dan merampingkan proses keamanan dengan membisukan temuan secara otomatis. Anda bisa mengatur kriteria pembisuan sesuai dengan kebutuhan. Jika terdapat temuan yang sesuai dengan kriteria maka secara otomatis akan langsung dibisukan. Photo Credit: Google Cloud Blog Aktivasi manual Anda juga bisa mengaktifkan Mute Findings secara manual Caranya adalah dengan memilih satu atau beberapa temuan sekaligus kemudian membisukannya satu per satu. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengaturan lain yang perlu diingat Selain pengaturan untuk mengaktifkan setelan Mute Findings pada Google Cloud Platform, sebaiknya Anda juga memahami beberapa pengaturan lain seperti: Mengaktifkan kembali temuan Ada kalanya, saat kebijakan organisasi berubah, maka beberapa kriteria temuan tidak akan berlaku lagi. Anda mungkin ingin mengaktifkan kembali temuan yang sudah dibisukan. Tenang saja, prosesnya tidak sulit. Cukup aktifkan kembali pada tampilan temuan dan statusnya akan aktif kembali. Mengaudit ulang temuan Pada Mute Findings, Anda akan menemukan dua atribut tambahan yaitu ‘mute initiator’ dan ‘mute update time’.  Keduanya menyimpan setelan pembisuan serta pengguna yang menerapkan tindakan pembisuan (lengkap dengan tanda waktu). Jadi, Anda bisa mengaudit ulang temuan dengan mudah di masa mendatang. Photo Credit: Google Cloud Blog Mengatur tampilan temuan Tampilan temuan pada SCC diatur menurut konsolidasi ancaman, kesalahan konfigurasi, serta kerentanan risiko. Untuk menemukan temuan yang dibisukan, Anda bisa menuju dashboard kemudian klik More Options > Include muted findings. Photo Credit: Google Cloud Blog Namun jika Anda hanya ingin melihat temuan yang dibisukan, tambahkan “mute=MUTED” pada filter. Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur Mute Findings saat ini sudah tersedia di SCC melalui konsol Google Cloud Platform,. Selain itu, Anda juga bisa menemukannya pada tool gcloud tool serta API. Dengan adanya fitur Mute Findings ini maka proteksi keamanan Google Cloud Platform pun semakin meningkat. Adanya proteksi keamanan tingkat tinggi dan berbagai fitur produktivitas yang membantu pekerjaan membuat Google Cloud selalu bisa diandalkan untuk urusan penyimpanan berbasis awan. Dapatkan segera Google Cloud Platform melalui EIKON Technology. Sebagai premier partner Google Apps Reseller Indonesia, EIKON Technology siap membantu Anda dapatkan benefit maksimal dari Google Cloud Platform. Klik di sini untuk info lebih lanjut!  

Scroll to Top