EIKON Technology

Info

Info

Ringkasan Percakapan Google Chat, Bantu Anda Pantau Pesan di Spaces

 Pada bulan Mei 2022 lalu, Google telah mengumumkan rencana peluncuran ringkasan percakapan Google Chat versi web. Sebagai update dari kabar tersebut, pada tanggal 19 Oktober 2022 kemarin, Google menyediakan ringkasan percakapan di Chat yang memungkinkan Anda untuk mengikuti percakapan dari pesan yang belum terbaca sekaligus melakukan navigasi ke utas yang paling relevan. Tentang Spaces di Google Chat Photo Credit: Google Workspace Updates Google Chat telah menghadirkan kapabilitas yang akan membantu Anda tetap terhubung dengan rekan kerja. Kapabilitas tersebut bernama Spaces. Lewat Spaces, Anda dapat berbagi file, menetapkan tugas, dan tetap terhubung. Selain itu, Google Chat juga menyediakan Group conversation yang memungkinkan Anda untuk melakukan percakapan dengan grup, misalnya untuk mendiskusikan hasil rapat. Baik Spaces maupun Group conversation dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan satu atau beberapa orang sekaligus yang masih ada dalam satu lingkup kerja. Baca juga: Fitur Pencegahan Data Google Chat Sekarang Tersedia dalam Versi Open Beta Ringkasan percakapan Google Chat Photo Credit: Google Workspace Updates Saat bekerja, Anda pasti pernah mengalami yang namanya berpindah dari rapat virtual, membuka dan membalas email, hingga tergabung dalam percakapan. Dengan Google Workspace, semua kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam satu ekosistem, bahkan satu aplikasi. Namun terkadang perpindahan tersebut bisa membuat Anda merasa kebingungan atau tertinggal. Untuk membantu Anda dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, Google Chat menghadirkan ringkasan percakapan. Melalui ringkasan percakapan ini Anda dapat dengan mudah memahami percakapan yang sudah lewat dan mengikuti percakapan terbaru. Mulai menggunakan fitur Untuk mendapatkan fitur ringkasan di Google Chat ini tidak diperlukan pengaturan dari administrator domain kerja Anda. Fitur ini akan tersedia secara otomatis di akun tiap pengguna. Penting untuk diingat, fitur ringkasan ini akan aktif secara default. Anda bisa menonaktifkannya melalui menu Conversation Summary dengan langkah-langkah sebagai berikut. Baca juga: Kapabilitas Data Loss Prevention Google Chat Kini Tersedia untuk Umum Untuk mengaktifkan & menonaktifkan ringkasan percakapan di Google Chat Di komputer Anda, buka Google Chat. Klik Settings > Conversation summary. Centang atau hapus centang pada kotak di samping “Show summaries in spaces that have many unread messages”. Untuk mengaktifkan & menonaktifkan ringkasan percakapan di Gmail Di komputer Anda, buka Gmail. Klik Settings > See all settings > Chat and Meet. Klik Manage chat settings > Conversation summary. Centang atau hapus centang pada kotak di samping “Show summaries in spaces that have many unread messages”. Ketersediaan fitur Ringkasan Chat dirilis untuk domain rilis cepat mulai tanggal 19 Oktober 2022 (kemungkinan membutuhkan waktu lebih dari 15 hari untuk visibilitas fitur) dan domain rilis terjadwal mulai dari tanggal 2 November 2022 (kemungkinan membutuhkan waktu lebih dari 15 hari untuk visibilitas fitur). Keduanya dirilis dalam format extended rollout. Fitur ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace Essentials, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Plus, Education Standard, the Teaching and Learning Upgrade, Frontline, dan Nonprofits. Namun masih belum tersedia untuk pelanggan Google Workspace Business Starter, Education Fundamentals, serta G Suite Basic dan G Suite Business yang merupakan rangkaian produktivitas pendahulu Google Workspace. Fitur ini juga belum tersedia untuk pemilik Google Account pribadi. Baca juga: Google Chat Update: Lebih Banyak Opsi Bahasa di Smart Replies Fitur ringkasan di Google Chat ini memastikan Anda untuk bisa tetap terhubung dengan diskusi dan percakapan yang sudah lewat. Kapabilitas ini akan lebih optimal dengan integrasi aplikasi yang ditawarkan oleh ekosistem produktivitas Google Workspace. EIKON Technology menghadirkan rangkaian produktivitas Google Workspace yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Info

Cara Menggunakan Google Slide di Meet, Ternyata Mudah!

Bagaimana cara menggunakan Google Slide saat melakukan rapat virtual melalui Meet? Saat sedang melakukan rapat virtual, Anda mungkin perlu menampilkan file atau dokumen sebagai data penunjang. Akan sangat memakan waktu jika Anda harus berpindah-pindah aplikasi untuk menampilkan file tersebut dalam rapat virtual. Sebagai solusi, Google Meet versi web menghadirkan sebuah kapabilitas baru. Melalui kapabilitas baru ini Anda bisa langsung menampilkan file Google Slide di Meet tanpa harus berpindah aplikasi atau bahkan berpindah tab. Untuk mengetahui cara menggunakan Google Slide di Meet secara seamless, mari simak ulasan berikut ini. Integrasi aplikasi Google Workspace Untuk mendukung produktivitas penggunanya, Google Workspace terus menghadirkan kapabilitas baru dan peningkatan fitur. Hal ini bahkan tidak hanya berlaku untuk satu-dua aplikasi saja, tapi keseluruhan aplikasi yang ada dalam jaringan Workspace. Itu artinya, integrasi antar aplikasi selalu menjadi komitmen Workspace bagi para penggunanya. Baca juga: Inovasi Google Workspace untuk Bantu Optimalkan Ekosistem Kerja Hybrid Anda Cara menggunakan Google Slide di Meet Photo Credit: Google Workspace Updates Banyak pengguna Google Meet yang membagikan konten di layar mereka selama rapat. Di waktu yang bersamaan, mereka juga harus tetap menjaga interaksi dengan para peserta rapat lainnya. Sekarang Anda dapat mengontrol Slide dan berinteraksi dengan audiens di satu layar dengan menampilkan Slide dari Meet. Pengalaman yang diperbarui ini dapat membantu Anda melakukan presentasi dengan lebih percaya diri dan pada akhirnya membuat interaksi digital terasa lebih nyata, sama seperti saat Anda bersama secara fisik. Dengan kata lain, fitur baru ini akan memupuk kolaborasi aktif dengan memungkinkan Anda melihat dan mengontrol konten, sekaligus tetap berinteraksi dengan peserta rapat lainnya di satu tempat. Mulai menggunakan fitur Photo Credit: Google Workspace Updates Cara menggunakan Google Slide di Meet ini tidak memerlukan pengaturan dari administrator sama sekali. End user bisa langsung menggunakannya setelah perilisan fitur. Untuk mulai menampilkan Slide di rapat virtual Meet, masuk ke menu “Present a Tab’ in Meet” > pilih presentasi Google Slide yang ingin ditampilkan. Presentasi Slide ini dapat Anda atur melalui fitur kontrol yang ada di bagian sudut bawah presentasi. Google Meet telah menyusun sebuah halaman khusus mengenai cara menggunakan Google Slide di Meet dan dapat Anda akses di sini. Baca juga: Kini Join Google Meet Bisa Lewat Docs, Sheets, dan Slides! Ketersediaan fitur Fitur baru yang mengintegrasikan Google Slide dengan Google Meet ini dirilis melalui domain rilis cepat dan domain rilis terjadwal. Google menerapkan extended rollout yang dimulai pada tanggal 20 Oktober 2022 (kemungkinan akan menghabiskan waktu hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur). Fitur ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Education Standard, Enterprise Plus, Education Plus, the Teaching and Learning Upgrade, serta Nonprofits. Namun untuk saat ini, fitur belum tersedia bagi pelanggan Google Workspace Essentials, Business Starter, Education Fundamentals, Frontline, dan juga pelanggan G Suite Basic serta G Suite Business lama (rangkaian produktivitas pendahulu Google Workspace). Fitur juga tidak tersedia bagi pengguna dengan Google Account pribadi.  Baca juga: Laporan Work Insights Untuk Google Chat Dan Google Meet, Bagaimana Cara Kerjanya? Demikian ulasan mengenai cara menggunakan Google Slide di rapat virtual melalui Meet. Integrasi akan lebih optimal jika Anda menerapkan ekosistem Google Workspace di tempat kerja Anda. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Workspace yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kami juga menawarkan implementasi solusi yang menyeluruh hingga Anda dapat memanfaatkannya tanpa hambatan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi Google Workspace dari EIKON Technology, hubungi kami di sini!

Info

Miro x Google Meet: Hadirkan Pengalaman Kolaborasi yang Lebih Interaktif

Miro, platform papan tulis kolaboratif online kini tersedia di dalam aplikasi Google Meet. Itu artinya, Anda sebagai pengguna dapat memanfaatkannya untuk pembuatan ide dan pemecahan masalah saat menggunakan Meet untuk berkomunikasi dengan tim. Dengan integrasi ini, Anda dapat berkolaborasi dengan lancar menggunakan papan Miro selama panggilan dengan alat dan template canggih, seperti brainstorming dengan sticky notes digital dan merencanakan workflow yang gesit, untuk kerja tim yang lebih selaras dan inovatif. Integrasi Miro x Google Meet Photo Credit: Google Workspace Updates Miro adalah platform papan tulis kolaboratif online yang memungkinkan tim untuk bekerja bersama secara efektif, mulai dari bertukar pikiran dengan catatan digital hingga merencanakan dan mengelola alur kerja yang tangkas. Dengan Miro, pengguna dapat memanfaatkan serangkaian kemampuan kolaborasi yang lengkap, membuat kerja tim lintas fungsi menjadi mudah, dan mengatur rapat dan workshop. Kini semua fitur canggih tersebut telah tersedia di Google Meet PC. Alat menggambar, template, komentar, dan fitur bermanfaat lainnya dari Miro kini dapat diakses langsung dari Google Meet. Integrasi ini akan mendorong kolaborasi dan partisipasi dari semua peserta rapat, di mana pun lokasinya, secara real-time atau asinkron (tidak serentak). Baca juga: Mulai Meeting Lebih Cepat dengan Daftar Tamu di Google Meet PC Mulai menggunakan Miro di Google Meet Fitur ini akan nonaktif secara default untuk pelanggan Google Workspace for Education dan aktif secara default untuk semua edisi Google Workspace lainnya. Google juga menjelaskan bahwa Miro add-on ini tersedia untuk seluruh pengguna Meet, kecuali pengguna di bawah usia 18 tahun dan pengguna dengan akun Google Family Link. Saat ini, integrasi Miro x Google Meet tersedia saat Anda menggunakan Meet di browser Chrome atau Microsoft Edge (Google Meet versi PC). Baca juga: Fitur De-Reverberation Kini Tersedia di Google Meet PC dan Aplikasi Cara menggunakan Miro dari Google Meet Photo Credit: Google Workspace Updates Miro dapat diakses baik oleh pemilik akun Miro maupun guest (tidak masuk ke akun Miro). Namun jika Anda lebih suka menyimpan semua arsip papan Miro atau ingin lebih cepat mengakses papan yang sudah dibuat sebelumnya, pastikan untuk masuk ke akun Miro terlebih dulu. Sekarang, mari membahas cara meluncurkan Miro dari Google Meet. Berikut langkah-langkahnya: Dalam rapat Google Meet, di kanan bawah, klik Activities. Di bawah “Add-on”, klik Miro . Jika Anda baru pertama kali menggunakan Miro, klik Get Started. Pilih opsi: Buat papan tanpa registrasi . Masuk untuk memilih papan Miro . Jika Anda mengklik Create board without registration, tab Miro baru akan terbuka secara otomatis. Namun jika memutuskan untuk masuk, Anda harus terlebih dahulu memilih antara papan baru atau yang sudah ada, lalu pilih salah satu pengaturan akses: Anyone can edit: Tamu tidak perlu masuk ke akun Miro mereka untuk mengedit papan. Namun tamu tetap harus masuk ke Akun Google mereka. Anyone can comment: Tamu tidak perlu masuk ke akun Miro mereka untuk menambahkan komentar ke papan. Namun tamu tetap harus masuk ke Akun Google mereka. Anyone can vier: Tamu tidak perlu masuk ke akun Miro mereka untuk melihat papan. Namun tamu tetap harus masuk ke Akun Google mereka. Private: Peserta rapat harus masuk atau membuat akun Miro untuk bisa mengakses papan. Setelah Anda memilih salah satu pengaturan akses, tab Miro baru akan terbuka secara otomatis. Di tab Miro, akan tersedia panel Google Meet picture-in-picture. Di bagian bawah panel Meet, klik Invite to collaborate. Ini akan menghasilkan tautan undangan dalam obrolan dalam panel Meet yang kemudian dapat Anda kirim ke orang lain dalam rapat. Untuk melihat dan berkolaborasi di papan Miro, peserta dapat mengklik link yang Anda kirim. Baca juga: Bagaimana Cara Menghapus Peserta dari Panggilan Google Meet PC? Integrasi Miro x Google Meet membantu Anda untuk melakukan kolaborasi dengan tim. Miro menyediakan berbagai fitur menarik seperti sticky notes digital dan perencanaan workflow yang akan memudahkan kolaborasi kerja. Add-on Miro kini tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk untuk edisi Education dan Enterprise. Keduanya bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya mengenai pemasangan, silakan klik di sini.

Info

Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan

Dengan berbagai fitur dan kapabilitas, Google Docs telah berhasil membuktikan kemampuannya sebagai aplikasi produktivitas sekaligus kolaborasi. Lewat Docs, Anda dapat mengerjakan sebuah tugas bersama orang lain dengan mudah dan cepat, tanpa harus berpindah perangkat atau bahkan melakukan pendaftaran akun baru. Ini membuktikan visi Google di tahun 2006 yang bercita-cita untuk menghadirkan sebuah aplikasi produktivitas dengan kolaborasi seamless. Meski kala itu cita-cita tersebut tak langsung terwujud, Google terus mengembangkan Docs dengan berbagai fitur dan tools di dalamnya. Bahkan, Google kemudian tak sekadar membuat sebuah aplikasi pengolah kata, tapi juga rangkaian produktivitas yang mendukung kolaborasi kerja. Di penghujung bulan April 2022 ini, Google Docs kembali hadir dengan sedikit pembaruan. Disebutkan, pengguna sekarang dapat merasakan navigasi yang lebih mudah dan cepat. Simak penjelasan detailnya berikut. Update Google Docs: Navigasi fitur yang lebih cepat Dalam pembaruan ini, Google melakukan “sedikit” perbaikan pada menu Docs. Lewat pembaruan tersebut, Anda sekarang dapat mengakses fitur yang paling sering digunakan dengan cepat. Lebih lengkap, pembaruan tersebut mencakup: Menu yang dipersingkat untuk navigasi yang lebih baik. Reorganisasi untuk lokasi fitur yang lebih intuitif. Ikon menonjol untuk pengenalan yang lebih cepat. Photo Credit: Google Workspace Updates Tidak pengaruhi fungsi yang sudah ada Desain baru ini akan meningkatkan kemampuan sistem dalam menemukan fitur-fitur utama, membuatnya lebih cepat, dan lebih mudah untuk menggunakan Google Docs. Perlu diingat, pembaruan ini tidak akan memengaruhi fungsi yang sudah ada sebelumnya. Penataan ulang beberapa fitur dilakukan Google mengikuti penilaian dari pengguna. Diharapkan, tampilan baru ini akan lebih intuitif, serta dapat mempermudah dan mempercepat navigasi fitur. Secara khusus, fungsionalitas terkait Apps Script sekarang dikelompokkan di bawah menu “Extensions” yang baru. Ini termasuk akses menuju Apps Script IDE serta pengelolaan add-ons Docs. Baca juga: Fitur Baru Google Docs: Bikin Tulisan Lebih Enak Dibaca! Mulai menerapkan update Google Docs menyebutkan bahwa update ini akan berlaku secara default untuk seluruh pengguna mulai tanggal 26 April 2022. Tidak diperlukan kontrol admin tambahan untuk bisa menggunakan seluruh kapabilitas yang ada pada update baru ini. Jika Docs pada perangkat Anda tidak menampilkan perubahan atau menemukan gangguan pada update, silakan kunjungi Help Center yang telah disediakan oleh pihak Google. Perlu diingat juga, domain untuk rapid release dan scheduled release tersedia peluncuran yang diperpanjang hingga akhir Mei 2022 nanti. Setelah itu, diperkirakan seluruh end user sudah bisa menikmati navigasi baru ini. Ketersediaan fitur Photo Credit: yanalya (Freepik) Update ini tersedia untuk semua pelanggan Google Workspace, termasuk untuk pengguna individu yang tidak tergabung dalam paket langganan khusus. Selain itu, fitur baru ini juga dapat dinikmati oleh seluruh pelanggan G Suite Basic dan G Suite Bisnis lama. Bagi Anda pemilik Google Account personal juga bisa menikmati layanan baru ini. Tidak perlu melakukan update sistem karena fitur baru ini akan otomatis tampil saat Anda membuka Google Docs. Anda bahkan bisa langsung menggunakannya untuk mengolah dokumen. Baca juga: Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel! Google Docs memang menyediakan berbagai fitur yang memudahkan Anda dalam mengolah kata. Namun jika Anda menginginkan kolaborasi kerja yang lebih optimal, manfaatkan integrasi Docs dengan layanan Google Workspace lain seperti Gmail, Slides, Sheets, hingga Meet. Untuk penggunaan Workspace dalam skala besar, misalnya untuk perusahaan atau institusi pendidikan, Anda bisa memilih berbagai paket Workspace yang telah tersedia. Bingung memilih mana paket Workspace yang paling sesuai dengan kebutuhan kerja Anda? Kami dari EIKON Technology siap membantu. Tidak hanya memilihkan paket, kami juga memastikan Workspace dapat bekerja dengan optimal dalam lingkungan kerja Anda. Untuk informasi selengkapnya mengenai berlangganan Workspace, silakan klik di sini!

Info

Fitur Baru Google Docs: Bikin Tulisan Lebih Enak Dibaca!

 Google Docs merupakan sebuah aplikasi pengolah kata online yang merupakan bagian dari rangkaian Google Docs Editors berbasis web. Dalam aplikasi tersebut Anda bisa menemukan beberapa fitur untuk memudahkan penulisan sekaligus penyuntingan seperti Voice Typing dan Script Editor, serta fitur standar pengolah kata. Baru-baru ini Google Docs memperkenalkan sebuah fitur baru untuk memudahkan pengguna memproduksi tulisan yang lebih baik dan mudah dibaca. Seperti apa? Assistive writing Photo Credit: Google Workspace Updates Google Docs baru saja memperkenalkan fitur untuk meningkatkan kualitas tulisan penggunanya. Selain memperbaiki kesalahan tata bahasa dan ejaan, fitur ini juga akan membantu Anda untuk membuat tulisan yang lebih ringkas, inklusif, dan bahkan memberikan peringatan saat terdapat kata-kata yang tidak pantas. Sebenarnya, fitur semacam ini sudah ditawarkan melalui pihak ketiga seperti Grammarly (yang terintegrasi dengan Google Docs). Dengan adanya fitur ini diharapkan pengguna tidak perlu repot-repot mengakses web di luar Docs untuk memperbaiki tulisan. Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur bantuan ini nantinya akan muncul dalam garis bawah (underline) berwarna ungu. Tiap kata atau kalimat yang dinilai tidak efektif atau mengandung hal-hal tidak pantas maka akan langsung digarisbawahi. Saran penulisan Fitur assistive writing tersebut hadir dengan beberapa saran penulisan yang memberikan variasi tone dan gaya penulisan, seperti: Word choice: Kata-kata yang lebih dinamis atau relevan secara kontekstual. Active voice: Tampilkan kalimat aktif, bukan pasif.  Conciseness: Frasa yang lebih ringkas. Inclusive language: Pemilihan kata atau frasa yang lebih inklusif. Word warnings: Mempertimbangkan kembali kata-kata yang tidak pantas. Baca juga: Buat Dokumen Lebih Cepat dengan Universal Menu, Fitur Terbaru Google Docs Ketersediaan fitur Sayangnya, ketersediaan fitur ini masih terbatas. Google menyebutkan bahwa fitur “Tone and Style” hanya akan tersedia bagi pelanggan paket Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan Education Plus. Sementara itu, fitur “Word Warnings” bisa dinikmati pengguna Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Education Standard, Education Plus, serta Teaching and Learning Up. Mulai menggunakan fitur Photo Credit: marymarkevich (Freepik) Untuk menggunakan fitur ini, end user memang tidak perlu menunggu persetujuan dari administrator. Hanya, saja ada beberapa pengaturan tambahan yang perlu diperhatikan, yaitu: Administrator Fitur ini akan aktif secara default dan dapat dinonaktifkan melalui konsol admin untuk paket Google Workspace Education tertentu yang memenuhi syarat. Dalam beberapa minggu mendatang, Google akan memperkenalkan kontrol admin untuk sisa paket Google Workspace yang memenuhi syarat. Untuk edisi tersebut, fitur ini akan aktif secara default dan dapat dinonaktifkan di tingkat domain, organizational unit, dan grup. End users Fitur ini akan aktif secara default dan dapat dinonaktifkan oleh pengguna. Detail lengkap mengenai fitur ini bisa dicek di sini. Rapid release fitur ini akan dimulai pada tanggal 31 Maret 2022 hingga 15 hari ke depan. Sedangkan untuk scheduled release dimulai tanggal 14 April 2022 hingga 15 hari ke depan. Baca juga: Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel! Dengan adanya fitur assistive writing ini, pengguna akan lebih mudah membuat tulisan yang efektif sekaligus terhindar dari potensi penggunaan kata dan frasa sensitif. Bagi Anda yang bergerak di industri media atau institusi pendidikan, fitur ini tentu akan sangat membantu. Dapatkan segera paket Google Workspace yang telah dilengkapi dengan fitur assistive writing ini hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google untuk Indonesia, kami memastikan produk yang Anda terima resmi dan bergaransi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai langganan Google Workspace, silakan klik di sini.  

Google Cloud, Info

BDO Indonesia: Transformasi Kolaborasi Cloud yang Aman

BDO Indonesia merupakan salah satu jaringan kantor akuntan publik, pajak, dan penasihat terbesar di dunia. Hingga sekarang, BDO Indonesia melayani lebih dari 1.658 kantor di 167 negara dan wilayah di seluruh dunia sebagai klien. Dengan karakteristik yang fleksibel, kombinasi dari perusahaan lokal dan sekitar 91,054 profesional yang tersebar di berbagai belahan dunia. Meningkatkan keamanan dan kepatuhan (compliance) adalah fokus utama proyek EIKON dengan BDO Indonesia. EIKON membantu BDO Indonesia untuk menerapkan manajemen endpoint menggunakan Google Workspace Enterprise Edition dengan tujuan mengamankan serta melindungi data penting perusahaan. Tantangan yang dihadapi Photo Credit: tirachardz (Freepik) Mengelola endpoint membutuhkan banyak upaya. Tidak hanya dari sisi IT, tetapi juga bisa sangat melelahkan dari sisi pengguna. Terlebih di BDO Indonesia ada banyak sekali karyawan yang bekerja dari jarak jauh (remote). Perusahaan harus bisa memastikan tiap karyawan bisa mengakses data yang mereka butuhkan tanpa harus mengorbankan keamanannya. Baik keamanan karyawan maupun keamanan perusahaan itu sendiri. Bagian IT perusahaan tidak hanya dituntut untuk bisa memberikan akses yang mudah bagi seluruh karyawan, tapi juga memastikan bahwa akses yang mereka berikan aman. Dengan begitu, data perusahaan bisa tetap aman dan terhindar dari ancaman kejahatan siber. Para karyawan pun bisa bekerja dengan lancar tanpa harus melalui kerumitan; contohnya, harus menggunakan VPN (virtual private network) untuk bisa mengakses data perusahaan. Di atas kertas, hal ini memang tidak mustahil untuk dilakukan. Namun di lapangan, prakteknya bisa sangat memakan banyak waktu dan tenaga. Solusi yang ditawarkan EIKON membantu BDO Indonesia untuk menemukan solusi keamanan yang tepat. Dengan begitu, BDO Indonesia dapat menyediakan lingkungan yang aman bagi karyawan selama bekerja di dalam maupun di luar jaringan perusahaan. Di saat yang bersamaan, perusahaan juga memberikan kemudahan bagi pengguna untuk mengakses seluruh data yang mereka butuhkan. EIKON mengimplementasikan hal tersebut dengan menyusun strategi peluncuran Advanced Endpoint Management untuk BDO Indonesia menggunakan Google Workspace Enterprise Edition. Hasil Google Workspace menyediakan sebuah inovasi solusi untuk meningkatkan keamanan data perusahaan serta endpoint yang sekaligus memudahkan pengguna akhir untuk mengakses data dan berkolaborasi dengan orang lain. BDO Indonesia telah melihat dampak yang luar biasa dengan mengimplementasikan Google Workspace Enterprise Edition. Setelah penerapan, BDO Indonesia mampu mengelola endpoint mereka dengan aman. Dengan begitu, perusahaan dapat mengarahkan fokus pada apa yang benar-benar penting bagi bisnis mereka. “Google secara konsisten berinvestasi dalam solusi Google Workspace mereka. Sebagai pelanggan, kami mendapatkan banyak keuntungan dari hal tersebut. Perusahaan kami bisa mendapatkan software yang lebih baik setiap hari tanpa harus melakukan apa pun. Keamanan penting bagi kami dan Google Workspace mampu memberikan apa yang kami harapkan. Ini membawa begitu banyak efisiensi bagi perusahaan kami.” – Charthon A. Kurniawan, Head of IT, BDO Indonesia Kami bantu Anda temukan solusi terbaik Photo Credit: Racool_studio (Freepik) Sekarang ini, sudah bukan hal aneh jika suatu perusahaan memiliki karyawan yang tersebar di seluruh belahan dunia. Mereka bekerja secara remote dengan dukungan teknologi. Sayangnya, kemudahan tersebut juga menyembunyikan potensi bahaya. Di saat karyawan mengakses data perusahaan dari jaringan luar, otomatis keamanan perusahaan pun menjadi rentan. Sebagai solusi biasanya perusahaan akan menyarankan karyawan untuk memasang aplikasi atau software VPN. Cara tersebut memang bisa membantu, tapi dari sisi karyawan, jelas akan mengganggu pekerjaan mereka. Waktu mereka yang sebenarnya bisa digunakan untuk produktivitas justru dihabiskan untuk mengunduh VPN dan menunggu jaringan siap. Tantangan seperti ini pernah dihadapi oleh BDO Indonesia. Kini, mereka telah berhasil menjawab tantangan tersebut dengan memanfaatkan Google Workspace Enterprise Edition. Apakah perusahaan Anda juga menghadapi tantangan yang sama? EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik untuk perusahaan Anda dengan menyediakan berbagai solusi dari Google Workspace. Untuk terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini!

Google Workspace, Info

Practice Sets: Fitur Baru Google Classroom untuk Pembelajaran yang Lebih Personal

Google Classroom telah terbukti membantu kegiatan belajar-mengajar di masa pandemi. Maka tak mengherankan jika jumlah penggunanya pun mengalami peningkatan signifikan. Data dari Bloomberg menyebutkan bahwa user Google Classroom naik dua kali lipat pada awal masa pandemi di tahun 2020 lalu. Tingkat demand yang tinggi tak lantas membuat Google bersantai. Justru sebaliknya, setelah mengalami lonjakan jumlah pengguna, Classroom terus mengalami peningkatan. Paling baru, Google berencana meluncurkan fitur Practice sets untuk membantu pembelajaran yang lebih privat antara pengajar dan siswa. Seperti apa? Hambatan dalam pengajaran online Photo Credit: gpointstudio (Freepik) Penggunaan teknologi seperti Google Classroom memang terbukti mampu membantu memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan meski di tengah pandemi. Hanya saja, di masa pandemi, kondisi tiap siswa tidak sama. Ada yang merasa lebih nyaman mengikuti kelas online, namun tentu ada juga yang lebih suka dengan metode pengajaran konvensional. Bagi para pengajar, hal ini tentu menimbulkan tantangan tersendiri. Sebab, kebutuhan para siswa dalam mendapatkan materi pelajaran tidak bisa disamaratakan. Menjawab tantangan tersebut, Google Classroom menghadirkan fitur Practice sets. Uji coba dengan versi beta Google mengumumkan fitur ini bulan Maret 2022 lalu. Rencananya, fitur tersebut akan tersedia di Google Classroom. Practice sets pada dasarnya merupakan serangkaian fitur yang membantu para pengajar untuk lebih fokus pada keunikan masing-masing siswa. Sebelum diluncurkan untuk publik, fitur ini akan diluncurkan dalam versi beta untuk setiap pengajar yang menggunakan Teaching and Learning Upgrade dalam beberapa bulan mendatang. Baca juga: Google For Education Hadirkan Laporan Transformasi untuk Customer Mengenal fitur Practice sets Photo Credit: Google Blog Klaim utama Practice sets adalah untuk membantu menciptakan jalur pembelajaran yang lebih privat antara pengajar dan siswa. Dengan memanfaatkan fitur ini pengajar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk mengenal kebutuhan unik masing-masing siswa dan memberi mereka lebih banyak tanggapan pribadi. Practice sets memungkinkan pengajar untuk mengubah konten pengajaran mereka menjadi tugas yang interaktif untuk membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. Fitur ini nantinya juga mencakup alat penilaian otomatis. Itu berarti, para pengajar tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk menilai tugas para siswa secara manual. Bantu guru membuat konsep pengajaran Menariknya lagi, fitur ini juga diklaim akan membantu para pengajar dalam menentukan konsep yang membutuhkan lebih banyak waktu pengajaran dan siswa yang membutuhkan dukungan ekstra. Fitur ini juga didukung oleh performance insight untuk meudahkan mereka dalam membentuk rencana pelajaran di masa mendatang. Tingkatkan kepercayaan diri siswa Photo Credit: Freepik Di sisi lain, para siswa akan menerima tanggapan secara real time setiap mereka selesai mengerjakan tugas. Mereka juga akan mendapatkan petunjuk pengerjaan soal melalui penjelasan visual dan video. Dengan begitu, mereka bisa tetap mengerjakan tugas yang dirasa sulit. Practice set bahkan akan merayakan keberhasilan siswa dengan animasi dan confetti ketika mereka berhasil memecahkan masalah. Google kini sedang menguji Practice sets dengan beberapa sekolah sebelum peluncuran beta yang direncanakan akhir tahun ini. Fitur ini akan tersedia untuk semua pengajar yang menggunakan Teaching and Learning Upgrade dalam Google Classroom. Institusi yang menggunakan Google Workspace for Education Plus juga akan memiliki akses ke fitur tersebut setelah diluncurkan. Baca juga: Merancang Sistem Belajar Online Yang Aman dengan Google For Education Fitur ini rencananya akan diluncurkan dalam versi beta pada akhir tahun 2022 nanti. Bagi Anda yang tak sabar ingin menjajal fitur Practice sets, bisa mulai berlangganan Google Workspace for Education dari sekarang. Dengan begitu, saat fitur resmi diluncurkan bisa langsung digunakan. Dapatkan Google Workspace for Education untuk institusi atau lembaga pendidikan milik Anda hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, EIKON Technology hanya menawarkan produk resmi bergaransi. Kami juga menyediakan layanan pendampingan hingga aplikasi terpasang dan bisa digunakan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Info

Privacy Tracking Google Workspace Ditunda, Mengapa?

Di awal tahun 2022, Google Workspace mengumumkan bahwa di akhir bulan Maret, kontrol “Web & App Activity” akan diubah. Namun hingga artikel ini ditulis (6/4), perubahan tersebut masih belum dijalankan. Sebelumnya, update kontrol “Web & App Activity” dijadwalkan akan meluncur pada tanggal 29 Maret 2022. Namun Google kemudian memutuskan untuk menunda peluncuran hingga Mei 2022 nanti. Untuk alasannya sendiri, Google tidak memberikan detail lebih lanjut. Kontrol “Web & App Activity” Pada rencana awal, bagi para pengguna Google Workspace berbayar, kontrol “Web & App Activity” akan dihapus dari panel kontrol administrator dan akan dibagi menjadi dua setelan berbeda. Namun hingga sekarang, pengaturan baru tersebut tak kunjung diluncurkan. Saat rencana tersebut pertama kali diumumkan, publik meresponsnya dengan pertanyaan besar. Sebab, muncul banyak perubahan yang membingungkan terjadi. Pertama, administrator tak lagi memiliki kontrol atas pengaturan privasi. Itu artinya, kontrol privasi sepenuhnya diberikan kepada setiap pengguna. Dalam pengertian lain, rencana tersebut juga mengindikasikan bahwa Google tak lagi menganggap pengaturan privasi pengguna. Perusahaan yang sebelumnya memilih untuk tidak terdeteksi pada tracking, kini mau tak mau harus mengaktifkan tracking. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Apa yang sebenarnya dilakukan Privacy Tracking Google Workspace? Photo Credit: Rawpixel Anda mungkin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dilakukan Privacy Tracking Google Workspace. Pada dasarnya, kontrol  Web & App Activity merupakan sebuah checkbox yang memungkinkan Google untuk melacak dan menyimpan hampir semua aktivitas Anda di akun Google (termasuk pengaturan lokasi, bahasa, alamat IP, hingga penelusuran teks dan audio di Sebagian besar produk Google). Fitur tersebut juga memiliki kapabilitas untuk menyimpan iklan yang pernah Anda klik atau barang yang sebelumnya dibeli di marketplace serta informasi tambahan mengenai perangkat, seperti aplikasi terbaru yang Anda gunakan, nama kontak yang baru ditelusuri, dan History Chrome, bahkan diagnostic perangkat Android. Search History checkbox Privacy Tracking Google Workspace juga menghadirkan “Search History”checkbox baru yang menyediakan pelacakan khusus untuk berbagai layanan Google Workspace (yang berarti aplikasi bisnis seperti Gmail, Calendar, Docs, Contacts, Drive, Google Chat, dan Keep, serta aplikasi lain yang disertakan dalam persyaratan Google Workspace) Namun Search History tidak menyertakan Google Search, Google Maps, YouTube, dan aplikasi Google lain yang tidak termasuk dalam persyaratan Workspace. Google menyebutkan hal ini dilakukan karena Workspace merupakan layanan berbayar dan menjamin bahwa mereka “tidak pernah menggunakan data pengguna di layanan inti Google Workspace untuk iklan”. Sebab pada akun gratis, aktivitas akan direkam dan digunakan sebagai data untuk iklan. “Misteri” lain yang belum terpecahkan Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Google memilih untuk tidak mengaktifkan privacy-preserving default dan tampaknya setiap perubahan akan menghasilkan lebih banyak pelacakan. Jika perusahaan Anda memilih untuk keluar dari pelacakan dan ingin kembali ke pengaturan sebelumnya, administrator harus mengirim email ke setiap anggota dan berharap mereka meluangkan waktu untuk mematikan pengaturan. Sayangnya, kebanyakan pengguna individu cenderung kurang paham teknologi daripada administrator organisasi dan cenderung tidak mau mengacaukan pengaturan tersebut. Untuk mematikan pengaturan, buka halaman My Activity, di mana Anda dapat mengontrol “Web & App Activity”. Google mengatakan bahwa pengaturan “Search History” yang baru akan berada di tautan “Other Google activity” yang ada di sidebar. Jika Anda tidak melihat “Search History”, itu artinya perusahaan Anda belum mendapatkan perubahan privasi, periksalah kembali dalam beberapa hari. Baca juga: 5 Cara Google Melindungi Privasi dan Keamanan Chrome Anda Dari sini bisa disimpulkan bahwa update Privacy Tracking Google Workspace akan ditunda hingga Mei 2022. Google sendiri tidak menyebutkan detail mengapa terjadi penundaan tersebut. Namun bisa dipastikan bahwa Google Workspace sedang mengupayakan pengaturan yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk Anda yang ingin meningkatkan kapabilitas Google Workspace, tersedia beberapa paket yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai dari untuk keperluan pekerjaan, hingga pendidikan, semuanya tersedia di Google Workspace. Tingkatkan produktivitas usaha Anda dengan Google Workspace resmi hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology hanya menyediakan produk resmi dan berlisensi. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Info

Lynn Langit, Arsitek Cloud dan Peneliti Bioinformatika dengan Pipeline Data Skala Genom Google Cloud Platform

Profesi yang berkaitan dengan pengolahan data kini semakin diminati. Ilmuwan data dan data analis makin banyak jumlahnya. Namun pernahkah Anda menjumpai seseorang yang ahli dalam beberapa bidang terkait data sekaligus? Mari bertemu Lynn Langit, seorang pengusaha wanita asal Minnesota, Amerika Serikat. Langit merupakan pemilik sebuah perusahaan konsultan, Lynn Langit Consulting LLC. Diwaktu yang bersamaan, Langit juga merupakan seorang arsitek cloud, developer program, serta pendidik di bidang analitik data. Saat ini, Langit sedang mengerjakan pipeline bioinformatika (genomik). Bagaimana perjalanan Lynn Langit dengan Google Cloud Platform? Berawal dari rasa penasaran Photo Credit: Piqsels Mulanya, Lynn Langit bukanlah praktisi di bidang data. Perempuan asal Minnesota, Amerika Serikat ini memang mengawali kariernya di perusahaan teknologi. Hanya saja, saat itu ia justru lebih fokus pada sisi bisnis. Saat mulai meniti karier, Langit justru merasa tertarik dengan data. Kala itu, ia merasa bahwa data memiliki kekuatan besar yang bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan. Hingga akhirnya di tahun 2007, ia memutuskan untuk “menyeberang” dan menjadi praktisi analitik data. Langit belajar secara otodidak. Ia mengikuti kursus hingga mencari materi dari berbagai modul online. Materi yang dipelajarinya pertama kali berhubungan dengan data base dan pergudangan data, khususnya bagian membangun dan menyetel database perusahaan. Barulah setelah Hadoop/NoSQL tersedia, ia beralih ke Big Data. Baca juga: Tips Membangun Data Team yang Solid untuk Startup EdTech dengan Google Cloud Tak ragu beralih teknologi Langit memulai proses belajarnya dengan memanfaatkan teknologi Microsoft. Ia bahkan mendapatkan seluruh sertifikasi Microsoft hanya dalam waktu satu tahun. Saat Langit menyadari bahwa industri mulai bergeser dari sistem local ke cloud, ia pun beralih dari pemrograman ke komputasi awan. Ia memulai dengan Amazon Web Services (AWS), namun kemudian beralih dan bertahan dengan Google Cloud Platform (GCP) hingga sekarang. Untuk saat ini, Langit berkutat dengan bidang data pipeline, data ops, serta machine learning (ML). Belajar otodidak bukan hal mustahil Satu hal yang menarik dari Langit adalah keteguhannya untuk mempelajari data. Ia mempelajari data secara mandiri dan disiplin. Meski begitu, Langit tak pernah kehabisan bahan untuk dipelajari. Dalam ekosistem Google Cloud sendiri, mulanya ia mempelajari BigQuery, sebuah produk data analitik. Baginya, BigQuery merupakan sebuah gerbang yang menghubungkannya dengan platform data yang lebih besar, terbuka, cerdas, dan terpadu. Sebab, BigQuery menggabungkan ilmu mengenai analitik data, database, AI/ML, serta business intelligence. Proyek penelitian bioinformatika Photo Credit: Piqsels Bagi Langit, tidak pernah ada kata berhenti untuk mempelajari data. Ia bahkan selalu terbuka untuk mempelajari bidang baru. Saat ini, ia sedang mengerjakan sebuah proyek yang berhubungan dengan kesehatan manusia dan upaya menanggulangi pandemi. Dalam proyek tersebut, Langit membantu para ilmuwan dan peneliti bioinformatika dengan pipeline data berskala genomik. Lagi-lagi, ia juga mempelajari bidang tersebut secara otodidak. Seluruh proses belajar mandiri tersebut bahkan dibagikan melalui halaman GitHub miliknya. Langit juga berbagi materi lain dalam kursus Google Cloud Platform berformat open source lewat GitHub. Kursus tersebut ditujukan pada para peneliti yang baru mulai bekerja dengan GCP. Menariknya, kursus yang diadakan Langit benar-benar didesain untuk pemula. Anda bahkan bisa menemukan materi tentang cara membuat akun GCP. Anda juga bisa seperti Lynn Langit Kisah Lynn Langit membuktikan bahwa ilmu mengenai data bisa dipelajari secara mandiri. Sebab, kini sudah ada banyak sekali resources yang bisa Anda gunakan untuk mempelajari data, bahkan dari materi paling dasar sekali pun. Siap untuk memulai petualangan Anda bersama Google Cloud Platform? Anda bisa mulai mempelajarinya dengan rekomendasi dari Google berikut. Lewat sistem tersebut, Anda dapat memperoleh lencana khusus serta sertifikasi sepanjang proses pembelajaran. Jangan lupa juga untuk bergabung dengan program Cloud Innovator untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai tips, trik, dan event praktisi data lainnya. Anda juga bisa terhubung dengan komunitas data Google lewat acara virtual “Latest Google Cloud data analytics innovations”. Daftar sekarang untuk menjawab seluruh rasa penasaran Anda terhadap data langsung dengan para petinggi Google Cloud Platform. Jangan lewatkan juga demo produk dan fitur terbaru Google Cloud termasuk BigQuery, Dataproc, Dataplex, Dataflow, dan banyak lagi. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Selain memperkaya materi seputar analitik data seperti yang dilakukan Lynn Langit, ada baiknya Anda juga mulai membiasakan diri dengan Google Cloud Platform. Dapatkan solusi komputasi awan Google Cloud berlisensi resmi hanya di EIKON Technology, authorized partner Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini!

Info

Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs

Hybrid dan multicloud cenderung menghasilkan log tanpa batas, seperti log aplikasi dan server, log yang terkait dengan layanan cloud, API, orchestrators, gateways, dan hal lain yang berjalan di lingkungan tersebut. Volume tinggi tersebut kemudian menyebabkan sistem logging menjadi lambat dan lebih sulit dikelola saat Anda memerlukannya untuk memecahkan masalah. Saat ini, rangkaian operasi Google Cloud memainkan peran penting dalam modernisasi framework aplikasi apa pun. Selain itu, Google Cloud juga semakin sering digunakan untuk memastikan keandalan dan keamanan aplikasi, menyediakan pemantauan, pencatatan, dan peringatan. Artikel kali ini akan membahas bagaimana hybrid cloud logs dari Google Cloud dapat membantu Anda untuk menemukan insights dan troubleshooting yang lebih baik. Mari pelajari bersama. Meningkatkan kualitas operasi pelanggan Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana Google Cloud bekerja mengelola lingkungan hybrid dan multicloud, mari simak studi kasus mengenai dua pengalaman pelanggan berikut: Pelanggan 1: sebuah perusahaan media besar yang bermasalah dengan pencatatan mereka yang terlalu lambat untuk bisa mendukung pemecahan masalah real-time. Pelanggan 2: sebuah penyedia telekomunikasi besar yang merasa tidak mendapatkan insights berharga dari banyak terabyte log jaringan yang mereka serap tiap harinya. Insights tersebut tidak harus datang real-time. Analisis studi kasus Photo Credit: Rawpixel Kedua pelanggan menggunakan produk open source yang dikelola sendiri dan populer untuk penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Namun seiring dengan meningkatnya volume logs mereka, biaya infrastruktur dan biaya operasional untuk mendukung logs pun ikut meningkat. Keduanya juga berbagi karakteristik berikut: Setup kedua perusahaan perlu penyimpanan SSD serta VMs besar sebagai saluran penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Kedua perusahaan menghadapi risiko karena ketergantungan pada pada satu resource untuk manajemen log mereka. Keduanya memiliki antrean data pipeline yang menumpuk. Salah satunya bahkan tidak mendapatkan log di saat mereka membutuhkan, misalnya saat mengalami kegagalan aplikasi atau infrastruktur berdampak pada SLA (service level agreement) produk dan layanan mereka). Baca juga: Cloud IDS Untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia Secara Umum Solusi yang ditawarkan Sebagai solusi, mereka perlu mengurangi biaya, mengurangi risiko kegagalan, dan menentukan volume log yang perlu mereka serap dan simpan untuk mendapatkan analytical insights. Dari situ terlihat pola yang berbeda hingga memunculkan dua opsi solusi berikut: Pelanggan 1: Melakukan routing pada log sistem dan aplikasi dari layanan hybrid dan multicloud mereka ke Cloud Logging untuk pemecahan masalah real-time serta mengurangi biaya dan beban operasional. Pelanggan 2: Melakukan routing pada log jaringan mereka langsung ke BigQuery. Dengan begitu, mereka dapat mengelola biaya dan madapatkan insights yang lebih baik. Pola 1: Cloud Logging untuk manajemen resource dan troubleshooting Pola ini cocok untuk perusahaan yang perlu memecahkan masalah berdasarkan real-time logs. Di sini, fokus utamanya terletak pada log dan metrik penting. Sedangkan log yang tidak diperlukan untuk pemecahan masalah real-time diambil sampelnya dan disaring sesuai kebutuhan. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola di atas sesuai dengan Pelanggan 1 dalam studi kasus ini karena kasus penggunaan mereka difokuskan pada pemecahan masalah dan log jaringan terperinci hanya diperlukan untuk analitik. Keuntungan yang bisa didapat di antaranya: Dikelola sepenuhnya, sehingga pelanggan dapat fokus pada pengembangan aplikasi. Hemat biaya dengan kombinasi Cloud Logging dan BigQuery. Memberikan dasar untuk operasi self-healin di masa depan dengan metrik berbasis log. Pola 2: BigQuery untuk analisis log dalam skenario hybrid dan multicloud Pola ini direkomendasikan untuk pelanggan yang perlu menjalankan model untuk deteksi anomali, pengenalan pola, dan tindakan lain yang terkait dengan log jaringan mereka. Di sini, BigQuery bisa menjadi solusi. Selain karena memiliki biaya rendah, BigQuery juga dilengkapi dengan AI dan ML bawaan serta skala global. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola ini menyediakan beberapa keuntungan berikut: Solusi hemat biaya untuk log jaringan volume tinggi. Mesin analitik bawaan untuk log insights. Penggunaan BigQuery API untuk menampilkan data ke dashboard dan menggunakan analytical insights. Baca juga: Do’s Dan Don’ts Yang Harus Diketahui CSP Sebelum Menerapkan Cloud-Native Rangkaian operasi Google Cloud sangat mudah untuk digunakan. Terlebih karena rangkaian ini mendukung berbagai kasus penggunaan lainnya. Contoh studi kasus di atas menunjukkan bahwa solusi yang disediakan Cloud selalu terintegrasi satu sama lain. Jika ingin mendapatkan manfaat maksimal dari Hybrid Cloud Logs, sebaiknya gunakan Google Cloud. Kini, Anda bisa memilih layanan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk mulai konsultasi dengan tim EIKON Technology!

Scroll to Top