EIKON Technology

Info

Info

Memperkenalkan Rangkaian Operasi Google Cloud

Saat menjalankan berbagai macam tools dan aplikasi pada Google Cloud, terkadang karena satu dan hal lain dapat menjadi hambatan. Seperti terjadinya kerusakan dan kendala pada sistem sehingga berdampak pada kenyamanan penyimpanan data. Bahkan, Anda terkadang dihadapkan pada banyak tools untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itulah, Operasi Google Cloud Suite hadir dan bisa Anda coba. Mengenal Operasi Suite di Google Cloud Photo: Google Clouds Operasi Google Cloud Suite diciptakan untuk membantu proses monitoring permasalahan layanan yang digunakan dengan berbasis skala. Misalnya untuk penggunaan DevOps, SREs, maupun ITOps pada sebuah tim dengan memaksimalkan penggunaan Google SRE. Platform ini juga menawarkan beberapa kelebihan lain, terutama dalam proses monitoring, logging, hingga observasi permasalahan pada layanan. Seperti proses pelacakan. Adapun hal dasar yang menjadi titik fokusnya adalah menawarkan solusi operasi end-to-end termasuk telemetry, out-of-box dashboard, dan lainnya. Apa Saja yang Termasuk Cloud Operation Photo: YouTube Operasi Google Cloud Suite memiliki beberapa layanan utama. Adapun yang sering digunakan di antaranya adalah cloud logging, cloud monitoring, dan Application Performance Management (APM). Berikut penjelasan secara singkat mengenai ketiganya. Cloud Logging Pertama adalah cloud logging, yakni sebuah layanan dengan skalabilitas tinggi untuk mengagregasi log data dari infrastruktur IT maupun aplikasi yang terhubung dengan Google Cloud ke dalam satu lokasi khusus. Cloud logging akan mengumpulkan data dari Google Cloud secara otomatis maupun source lainnya. Misalnya sebuah aplikasi melalui pihak ketiga dan API. Hal ini akan memberikan kontrol secara penuh untuk menentukan dimana log data akan disimpan, melakukan ekspor data ke Cloud Storage maupun Cloud Pub. Saat ini Cloud Logging memiliki fitur Log Analytics untuk membuat log secara otomatis tetap terhubung dengan BigQuery. Tak hanya itu saja, juga ada fitur Log Explorer yang memiliki kemampuan lebih baik dalam memfilter log dan mengkonversinya menjadi metrik log dasar untuk proses monitoring, analisis, hingga visualisasi bila diperlukan. Cloud Monitoring Berikutnya adalah cloud monitoring. Layanan ini menyediakan beberapa sistem metrik yang dibuat pada layanan Google Cloud. Cloud monitoring juga terintegrasi dengan berbagai layanan yang disediakan oleh pihak ketiga, termasuk di luar layanan Google Cloud Monitoring. Metrik yang mudah dikustomisasi juga bisa diterapkan pada aplikasi dan layanan diluar source dari Google Cloud maupun API. Melalui metrik tersebut, Anda dapat dengan mudah membuat charts dan dashboard, notifikasi dan peringatan, SLO Monitoring, serta cek uptime dengan mudah. Application Performance Management (APM) Layanan Operasi Google Cloud Suite adalah Application Performance Management (APM). Layanan ini merupakan gabungan untuk memonitor maupun untuk mendeteksi masalah yang ada pada Cloud Logging maupun Cloud Monitoring dengan Cloud Trace, Cloud Debugger, dan Cloud Profiler. Tujuannya adalah untuk mereduksi pengeluaran dan latensi. Dengan begitu,penggunaan aplikasi akan lebih optimal. Jadi, kinerjanya adalah Cloud Trace adalah melacak hubungan layanan terhadap tingkat latency. Sementara, Cloud profiler akan melacak fungsi-fungsi berdasarkan Codebase, dan Cloud Debugger akan membantu Anda dalam menemukan akar permasalahan dari segi metode yang digunakan maupun problem pada kode secara spesifik dan sistematis. Bagaimana Cara Kerja Operasi Suite di Google Cloud Photo: Global Cloud Platforms Untuk menggunakan tools dari Google Cloud, Anda bisa langsung melalui cloud console atau bisa juga dengan API untuk mengakses data di IDE. Tools Operasi Google Cloud membantu dalam Reduce Mean Time to Recover (MTTR) dan mengoptimalisasi performa aplikasi yang Anda jalankan. Dilihat dari sudut pandang keamanan, maka bisa dikatakan Operasi Google Cloud ini bisa diandalkan. Hal itu karena data akan diamankan menggunakan sistem enkripsi pada Cloud Logging. Dengan menggunakan log akses transparansi tentu akan memudahkan pengguna untuk mengakses data dengan aman, cepat, dan nyaman. Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Operasi Google Cloud cukup penting bagi organisasi maupun perusahaan di era digital seperti saat ini. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memilih layanan Google Cloud di vendor yang sudah terpercaya seperti EIKON Technology. Keunggulan di kami adalah, kami memiliki lisensi resmi dari Google pusat dan bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk yang ditawarkan, Anda bisa hubungi kami di sini.

Google Cloud, Info

3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services

Akhir-akhir ini, RISE with SAP menjadi solusi yang efisien bagi para pengguna SAP yang mencari jalur cloud tercepat, sederhana, dan tentunya lebih terjangkau. RISE with SAP sendiri merupakan penawaran berbasis subscriptions yang biasanya mencakup sejumlah aplikasi yang terkelola sepenuhnya, termasuk SAP S/4HANA Cloud dan elemen SAP Business Technology Platform. Sebagai partner RISE with SAP, Google Cloud bekerja sama dengan SAP untuk memastikan konektivitas yang aman, handal, dan memiliki performa tinggi antara aplikasi SAP yang Anda pakai dengan layanan Google Cloud lainnya. Untuk mewujudkannya, Google Cloud fokus pada kemampuan VPC network peering. Simak ulasan berikut untuk mempelajari lebih lanjut mengapa sebaiknya melakukan VPC network peering aplikasi SAP Anda melalui Google Cloud services.   VPC network peering merupakan tautan penting aplikasi SAP Photo Credit: Google Cloud Blog Ketika SAP mengimplementasi aplikasi Anda yang dikelola dengan RISE with SAP di Google Cloud, SAP juga menyediakan sebuah VPC atau virtual private cloud untuk lingkungan SAP tersebut. VPC sendiri berarti sebuah jaringan yang telah tervirtualisasi dan menyediakan fungsionalitas, performa, dan manfaat keamanan yang sama dengan jaringan fisik khusus. Menggunakan VPC network peering untuk menghubungkan lingkungan SAP terkelola milk Anda dengan aplikasi dan Google Cloud services, memberikan tiga manfaat utama: Latensi jaringan Traffic yang tetap berada dalam jaringan Google bisa menikmati latensi yang lebih rendah daripada konektivitas dengan alamat eksternal. Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite? Keamanan jaringan Pemilik layanan tidak perlu mengekspos layanan mereka kepada publik dan VPC network peering juga mendukung bantuan untuk menangani risiko terkait. Biaya jaringan Jaringan yang melalui proses peering bisa menggunakan IP internal untuk berkomunikasi. Ini jauh lebih hemat dibandingkan jika Anda menggunakan bandwidth dari IP eksternal. Harga jaringan regular pun berlaku untuk seluruh traffic. Memperkuat struktur keamanan SAP Photo Credit: Dan Nelson (Pixabay) Meski klaim utama VPC network peering adalah untuk memastikan konektivitas tanpa batas antara aplikasi yang dikelola SAP dengan lingkungan Google Cloud lainnya, namun dalam temuan terbaru justru ditemukan hal lain. VPC network peering telah terbukti mampu membantu pengguna mendapatkan kontrol yang lebih besar atas keamanan lingkungan cloud mereka yang mencakup: Menerapkan kemampuan keamanan jaringan tambahan seperti firewall tingkat tinggi, deteksi awal intrusi, hingga inspeksi paket jaringan yang melampaui langkah-langkah keamanan SAP standar. Integrasi dengan Google Cloud Interconnect untuk menautkan lingkungan lokal dan Google Cloud, termasuk RISE dengan aplikasi terkelola SAP, memungkinkan Anda untuk tidak harus mengirimkan traffic ke internet publik. Meningkatkan nilai aplikasi SAP Anda Jika perusahaan Anda sudah melakukan konfigurasi VPC network peering, segalanya akan menjadi lebih praktis. Selain dua manfaat yang telah disebutkan, Google Cloud juga menawarkan banyak cara agar Anda bisa melengkapi dan bahkan meningkatkan nilai aplikasi SAP, yaitu dengan cara: Menggunakan Google BigQuery untuk menggabungkan dan memperkaya data aplikasi terkelola SAP. Mengandalkan kemampuan Google AI/ML untuk mempertajam analitis prediktif dan memberikan opsi pengambilan keputusan secara real-time. Memanfaatkan Google Kubernetes Engine untuk memulai upaya pengembangan aplikasi cloud-native Anda sendiri. Dengan melakukan VPC network peering pada aplikasi terkelola SAP milik Anda menggunakan Google Cloud maka konektivitas pun menjadi semakin luas dan lebih mudah dikelola. Selain itu, layanan ini juga menawarkan peningkatan keamanan terbaik yang melindungi Anda dari berbagai macam ancaman bahaya. Untuk memastikan agar proses VPC network peering berjalan lancar tanpa hambatan, gunakan hanya Google Cloud yang berlisensi asli. Di Indonesia sendiri, Anda bisa mendapatkan produk Google yang asli melalui official partner yang telah mereka tunjuk seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk konsultasi langsung dengan tim EIKON Technology mengenai Google Cloud services untuk aplikasi SAP.

Info

Mulai Mendesain Website yang Skalabel dengan Google Cloud Platform

Mendesain website jelas bukan sebuah perkara sepele, terlebih jika Anda ingin merancang sebuah website yang skalabel. Ada banyak sekali langkah yang harus diikuti. Belum lagi, terkadang Anda harus menggunakan vendor yang berbeda untuk menyediakan tambahan layanan. Pertanyaan semacam, “apakah website saya aman?” atau “data DNS mana lagi yang perlu ditambahkan?” selalu muncul dan menghambat para operator website. Google Cloud Platform (GCP) hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Sebab, melalui layanan Google Cloud Platform, Anda bisa mendesain website sekaligus mengelolanya di satu lokasi. Bagaimana cara kerjanya? Google Cloud Platform untuk mendesain website Google Cloud Platform menyediakan solusi untuk mengelola website, dari tahap awal hingga akhir. Dengan memanfaatkan platform ini, Anda tidak perlu lagi dengan permasalahan seperti mengelola subscriptions atau bahkan memahami integrasi antar vendor penyusun website. Fitur- fitur di dalamnya memungkinkan Anda untuk mendesain sebuah website yang bukan hanya skalabel, tapi juga handal dan aman. Selain itu, tersedia beragam keuntungan tambahan seperti sertifikat Google Managed SSL gratis dan perlindungan DDoS terbaik melalui Google Cloud Armor. Diagram arsitektur Berikut adalah diagram arsitektur yang menggambarkan seluruh komponen dalam Google Cloud Platform: Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan komponen kuncinya adalah sebagai berikut: Cloud Domains Cloud DNS Compute and Storage Global HTTPs Load Balancer Cloud Armor Cloud CDN Membeli sebuah domain di Google Cloud Saat mendesain sebuah website, proses pembelian dan verfikasi domain adalah salah satu tahapan yang kompleks dan makan waktu. Melalui Cloud Domains, proses tersebut bisa disederhanakan. Sebab, Cloud Domains telah terintegrasi dengan Cloud DNS sehingga pengelolaannya pun mudah. Bukan hanya itu, Cloud Domains juga telah mendapat dukungan API penuh. Jadi, manajemen website pun akan lebih terprogram, terutama jika Anda mengelola portofolio yang lebih besar.   Baca juga: 7 Langkah Cara Membuat Website Menggunakan Google Sites Mengelola DNS dengan Google Cloud Selain Cloud Domains, GCP juga menyediakan solusi Cloud DNS. Solusi yang ditawarkan GCP merupakan sebuah infrastruktur DNS yang terkelola secara skalabel. Manajemen zona DNS dirancang untuk mudah dijalankan, baik untuk zona pribadi maupun publik. Data DNS publik disiarkan secara luas menggunakan jaringan terdistribusi Google. Dengan begitu, proses aktivasi DNSSEC pun menjadi mudah, menjauhkan end-user dari risiko keamanan yang merugikan. Mengamankan traffic website melalui Cloud Armor Photo Credit: Wikimedia Commons Traffic sering menjadi celah keamanan yang membahayakan end-user saat mengakses website. Untuk mencegah hal tersebut, Cloud Armor yang tersedia di GCP bisa menjadi solusi terbaik. Cloud Armor sendiri merupakan pertahanan DDoS sekaligus WAF (Web Application Firewall (WAF) terbaik di kelasnya. Dengan Cloud Armor, Anda bisa memanfaatkan pengaturan WAF yang telah dikonfigurasi dengan Mod Security Rule Set 3.02 sebelumnya, Pengaturan tersebut akan memberikan perlindungan yang adaptif, memastikan website yang Anda rancang tetap terlindungi dari berbagai serangan. Menyiapkan penyeimbang beban https eksternal Penyeimbang beban https eksternal merupakan solusi layer 7 berbasis proxy global. Fungsinya adalah sebagai titik masuk untuk seluruh traffic website Anda menuju Google. Solusi penyeimbangan beban yang disediakan GCP memungkinkan terjadinya manajemen lalu lintas yang terintegrasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Anda juga memadukannya dengan sertifikat Google Managed SSL untuk proses pengelolaan yang berkelanjutan. Cloud CDN untuk caching konten statis Photo Credit: Google Cloud Untuk mengelola konten website yang dapat disimpan dalam cache seperti gambar atau video pendek, gunakanlah Cloud CDN. Dengan Cloud CDN, konten bisa dikirim dengan cepat dan tanpa banyak biaya. Ini karena Google memiliki Cloud CDN yang tersebar di seluruh dunia.  memastikan tiap pengguna dari lokasi yang penting bagi Anda untuk mengakses website dengan cepat. Cloud CDN pun mudah diaktifkan dan dijalankan. Mendesain website bukanlah sebuah proses yang instan. Agar website bisa berjalan lancar, Anda harus memastikan tiap elemen di dalamnya bekerja dengan baik. Google Cloud Platform bisa menjadi solusi yang efisien sekaligus menyeluruh untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology yang merupakan official partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technnology.

Info

Update Terbaru Google Meet: Bisa Meeting Hingga 500 Peserta

Google Meet atau yang sebelumnya bernama Hangouts Meet, merupakan sebuah aplikasi video conference. Dengan Meet, Anda bisa melakukan virtual meeting dengan banyak orang di mana pun dan kapan pun, selama terdapat akses internet. Selama masa pandemi ini, Google Meet telah menunjukkan performa yang apik untuk mendukung transisi dari ruang meeting fisik menjadi ruang meeting digital. Guna memenuhi kebutuhan tiap penggunanya, Google pun terus melakukan pengembangan pada Meet. Salah satu update terbarunya menghasilkan kemampuan untuk melakukan meetings hingga 500 peserta. Simak detail lengkapnya di sini. Kini Google Meet bisa meetings hingga 500 peserta Photo Credit: Google Meet Help Kapasitas total ruang meeting virtual adalah salah satu hal yang dijadikan pertimbangan saat memilih aplikasi video conference. Sebab, tak jarang meeting harus diselenggarakan dengan banyak peserta, terutama bagi Anda yang memiliki perusahaan atau organisasi besar dengan jumlah anggota banyak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Meet melakukan pengembangan terus-menerus. Dalam update terbaru, Google mengumumkan bahwa kapasitas ruang pertemuan virtual Meet kini telah meningkat hingga mampu menampung 500 peserta. Selain itu, Meet juga menyediakan fitur yang memungkinkan host untuk menggelar live streams dengan 100,000 penonton. Dengan kemampuan ini maka Anda tak perlu kesulitan lagi untuk menyelenggarakan pertemuan atau rapat virtual melalui Google Meet. Terlebih kini Meet juga dilengkapi dengan berbagai fitur baru yang menunjang kenyamanan sekaligus keamanan selama Anda melakukan virtual meeting. Simak poin-poin berikut untuk mengetahui detailnya. Tampilan video yang lebih jernih Photo Credit: Google Meet Help Selain kapasitas, tampilan video juga sering dijadikan pertimbangan dalam memilih aplikasi video conference. Makin jernih tampilan video maka semakin baik kualitas meeting yang Anda selenggarakan. Sebab, tampilan yang jernih akan memudahkan peserta meeting membaca mimik wajah masing-masing, memberikan kesan seolah sedang berada di ruang rapat fisik. Selain itu, video yang jernih juga mempermudah peserta untuk menyimak materi yang sedang disampaikan oleh host. Baca juga: Cara Mudah Menggunakan Google Meet Di HP Google membekali Meet dengan tampilan video yang lebih jernih dalam update terbaru mereka. Selain itu, Anda juga bisa menemukan fitur pengaturan cahaya. Fitur ini hadir untuk melengkapi fitur yang telah diperkenalkan sebelumnya di tahun 2020 yaitu mode low-light (redup). Pilihan background lebih variatif Photo Credit: Google Meet Help Bagi Anda yang sering mengganti background saat meeting, sekarang Google Meet memberikan lebih banyak pilihan. Kini tersedia dua animated background baru yaitu Café dan Condo. Background Café akan memberikan kesan Anda seolah sedang berada di sebuah kafe. Sedangkan Condo menampilkan pemandangan sebuah ruangan kondominium yang netral. Keduanya dilengkapi dengan animasi yang menunjukkan perubahan cuaca seperti cerah, hujan, hingga salju. Sebelumnya, Meet juga telah menawarkan enam pilihan animated background yang menarik yaitu Classroom, Party with Disco Light, Forest dengan animasi tupai dan rubah, Spaceship, Under the Sea, serta Beach with Palm Trees. Ketersediaan layanan Untuk saat ini, update Google Meet di atas sudah bisa dinikmati dengan berlangganan layanan Google Workspace Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan juga Education Plus. Bagi Anda yang menggunakan Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Frontline, Nonprofits, the Teaching and Learning Upgrade atau G Suite Basic and Business harus bersabar terlebih dulu untuk bisa menikmati kemudahan tersebut. Photo Credit: Stocksnap Adanya aplikasi video conference seperti Meet memang terbukti mampu menjadi solusi di tengah situasi pandemi. Melalui Meet, Anda bisa tetap menggelar meeting dengan banyak orang dan tetap menjaga protokol kesehatan. Terlebih dengan adanya pengembangan pada fitur-fitur yang tersemat, Meet bisa memberikan atmosfer meeting virtual serupa dengan meeting konvensional. Update terbaru dari Google untuk Meet bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Workspace Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan Education Plus. Bagaimana caranya mulai berlangganan? Anda bisa menghubungi EIKON Technology. Sebagai Google Apps Partner untuk Indonesia, EIKON Technology telah dipercaya banyak perusahaan besar dalam menyediakan berbagai layanan dari Google, termasuk Workspace dan Education yang mendukung Google Meet. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik di sini.

Info

Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings

Untuk memberikan keamanan bagi penggunanya, Google Cloud Platform menyediakan Security Command Center (SCC). Melalui platform tersebut, pengguna dapat mengelola keamanan cloud dan meminimalisir risiko. Google terus meningkatkan performa SCC agar kebutuhan setiap pengguna terpenuhi. Dalam update Cloud terbaru, Google membekali SCC dengan fitur Mute Findings. Bagaimana cara kerjanya?  Mengenal fitur Mute Findings Di saat volume temuan pada Google Cloud Platform tinggi, tim keamanan akan sulit mengidentifikasi, melakukan triase, dan memulihkan risiko kritis. Adanya kemampuan menyesuaikan volume temuan jelas akan sangat membantu. Sebab, beberapa di antaranya mungkin tidak memiliki relevansi dengan kebijakan atau profil risiko perusahaan Anda. Mute Findings akan membantu tim keamanan Anda untuk menyusun prioritas risiko yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Efektivitas operasional keamanan Dengan kemampuan untuk melakukan Mute Findings ini, Anda dapat mengurangi jumlah temuan dan fokus pada masalah keamanan yang paling relevan. Cara ini jelas akan menghemat waktu Anda untuk segera mengenali sekaligus menanggapi risiko yang masih dapat diterima. Salah satu contohnya adalah saat Anda menerima peringatan Google Cloud Platform untuk aset yang terisolasi atau disimpan pada parameter yang dapat diperbolehkan. Jika melihat posisi aset maka peringatan tersebut tidak harus menjadi prioritas utama. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Kemampuan Mute Findings pun tidak hanya berhenti di situ. Setelah dibisukan, temuan akan langsung dicatat agar dapat diaudit. Dengan begitu, Anda bisa meninjau temuan yang telah dibisukan setiap saat. Hanya saja, statusnya disembunyikan pada dashboard SSC dan dapat dikonfigurasikan untuk menghindari pembuatan notifikasi pub/sub sehingga memudahkan Anda untuk fokus pada temuan yang tidak dibisukan.  Contoh penggunaan Mute Findings Pada aset yang ada dalam lingkungan non-produksi. Pada kunci enkripsi yang dikelola pelanggan dalam proyek tidak berisi data penting. Ketika memberikan akses menuju sebuah datastore, yang sengaja dibuka untuk umum. Temuan yang tidak relevan dengan organisasi Anda berdasarkan kebijakan keamanan perusahaan Anda. Cara mengaktifkan Mute Findings Anda bisa langsung menerapkan Mute Findings pada lingkungan Google Cloud dengan cara berikut ini: Menerapkan “mute rules” Mute rules memunkinkan Anda untuk dapat menyesuaikan dan merampingkan proses keamanan dengan membisukan temuan secara otomatis. Anda bisa mengatur kriteria pembisuan sesuai dengan kebutuhan. Jika terdapat temuan yang sesuai dengan kriteria maka secara otomatis akan langsung dibisukan. Photo Credit: Google Cloud Blog Aktivasi manual Anda juga bisa mengaktifkan Mute Findings secara manual Caranya adalah dengan memilih satu atau beberapa temuan sekaligus kemudian membisukannya satu per satu. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengaturan lain yang perlu diingat Selain pengaturan untuk mengaktifkan setelan Mute Findings pada Google Cloud Platform, sebaiknya Anda juga memahami beberapa pengaturan lain seperti: Mengaktifkan kembali temuan Ada kalanya, saat kebijakan organisasi berubah, maka beberapa kriteria temuan tidak akan berlaku lagi. Anda mungkin ingin mengaktifkan kembali temuan yang sudah dibisukan. Tenang saja, prosesnya tidak sulit. Cukup aktifkan kembali pada tampilan temuan dan statusnya akan aktif kembali. Mengaudit ulang temuan Pada Mute Findings, Anda akan menemukan dua atribut tambahan yaitu ‘mute initiator’ dan ‘mute update time’.  Keduanya menyimpan setelan pembisuan serta pengguna yang menerapkan tindakan pembisuan (lengkap dengan tanda waktu). Jadi, Anda bisa mengaudit ulang temuan dengan mudah di masa mendatang. Photo Credit: Google Cloud Blog Mengatur tampilan temuan Tampilan temuan pada SCC diatur menurut konsolidasi ancaman, kesalahan konfigurasi, serta kerentanan risiko. Untuk menemukan temuan yang dibisukan, Anda bisa menuju dashboard kemudian klik More Options > Include muted findings. Photo Credit: Google Cloud Blog Namun jika Anda hanya ingin melihat temuan yang dibisukan, tambahkan “mute=MUTED” pada filter. Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur Mute Findings saat ini sudah tersedia di SCC melalui konsol Google Cloud Platform,. Selain itu, Anda juga bisa menemukannya pada tool gcloud tool serta API. Dengan adanya fitur Mute Findings ini maka proteksi keamanan Google Cloud Platform pun semakin meningkat. Adanya proteksi keamanan tingkat tinggi dan berbagai fitur produktivitas yang membantu pekerjaan membuat Google Cloud selalu bisa diandalkan untuk urusan penyimpanan berbasis awan. Dapatkan segera Google Cloud Platform melalui EIKON Technology. Sebagai premier partner Google Apps Reseller Indonesia, EIKON Technology siap membantu Anda dapatkan benefit maksimal dari Google Cloud Platform. Klik di sini untuk info lebih lanjut!  

Gmail, Google Workspace, Info

Berusia 50 Tahun, Simbol @ pada Email Terus Mendorong Kolaborasi

  Email menjadi kebutuhan penting di era Internet of Things (IoT) saat ini. Namun, sadarkah Anda jika email mungkin saja tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya simbol ‘@’ setiap kali mengirimkan pesan kepada penerima? Simbol sederhana ini setidaknya telah 50 tahun mendorong kemajuan teknologi informasi. Pada mulanya, penggunaan simbol ‘@’ untuk teknologi informasi dikembangkan oleh Ray Tomlinson di tahun 1971 saat memecahkan permasalahan yang ada pada ARPANET. Dimana perusahaan itu disebut-sebut sebagai cikal bakal perusahaan  teknologi internet modern saat ini. Tomlinson menciptakan sistem alamat yang menempatkan simbol ‘@’ ini pada sebuah host komputer. Pada awal masa percobaan teknik ini, hanya bisa digunakan untuk komputer lain di jarak 10 kaki saja, namun penemuan tersebut membawa perubahan besar di era teknologi. Simbol ‘@’ yang Merentang Zaman Source: BBC Jauh sebelum Ray Tomlinson menggunakan simbol ‘@’sebagai salah satu hal penting dalam menghubungkan masyarakat di era digital, simbol ini juga sering digunakan untuk berbagai hal. Di Italia, simbol tersebut dikenal dengan istilah ‘the snail’ karena sekilas memang terliihat seperti cangkang siput. Masyarakat Belanda, menyebut simbol itu dengan istilah ‘monkey tail’. Sejak kapan penggunaan simbol ini memang menjadi simpang siur. Namun, berdasarkan data-data simbol tersebut digunakan secara umum pada abad ke-16. Kini, simbol ‘@’ menjadi bagian penting dalam dunia internet. Misalnya saja di berbagai aplikasi seperti Gmail, Twitter, Instagram, hingga WhatsApp untuk menandai seseorang yang ingin kita kirimi pesan.  Kelahiran Gmail Source: IDN Times Sejak 30 tahun setelah Tomlinson menggunakan simbol ‘@’, seorang teknisi Google bernama Paul Buchheit membuat eksperimennya pada email. Buccheit berusaha menemukan solusi yang menurutnya, penggunaan email pada masa awal-awalnya dulu cukup menyusahkan. Lalu, dirinya mencoba membuat Gmail semakin mudah dengan menggunakan simbol tersebut untuk menandai pengguna lainnya. Pada awal masa percobaannya, Buchheit tidak begitu yakin dengan solusi tersebut. Namun, saat Gmail diluncurkan pada 1 April 2004 silam, banyak pihak juga meragukannya. Sampai kemudian, simbol ini benar-benar memiliki manfaat besar sampai sekarang pada layanan Google Workspace. Pada layanan Google inilah simbol ‘@’ memiliki kontribusi besar dalam platform seperti Docs, Slides, Sheets, Meet, dan Chat. Saat ini juga tercatat sekitar 3 miliar pengguna di dunia merasakan manfaat besar dari simbol sederhana. Mengapa Fitur Gmail Membuatnya Lebih Aman Source: Email Marketing Journal Nampaknya, Gmail menjadi tren baru di era teknologi khususnya untuk mengirim perpesanan elektronik atau email. Akan tetapi, Google pun menyadari masih banyak kekurangan pada fitur Gmail versi pertama kali dimunculkan. Salah satunya adalah mengenai isu pesan spam yang cukup mengganggu penggunanya. Termasuk permasalahan-permasalahan lainnya. Seiring berjalannya waktu, Google pun terus berinovasi dalam menangani masalah tersebut. Ini terlihat pada pembaruan-pembaruan yang dilakukan pada Google Workspace. Contohnya, beberapa waktu lalu yang meluncurkan fitur baru Gmail yakni Brand Indicators for Message Identification (BIMI). Fitur Gmail BIMI ini memberikan banyak manfaat. Terutama bagi brand maupun perusahaan. Misalnya terhadap validasi dan otentikasi kepemilikan logo. BIMI dapat memberikan penerima pesan dengan fitur keamanan Gmail terbaik. Mulai dari sumber email dan lainnya untuk memberikan manfaat terbaik. Dengan adanya pembaruan-pembaruan tersebut, membuat Gmail di masa kini menjadi lebih powerfull, lebih aman, dan bisa lebih diandalkan untuk berbagai keperluan di bidang industri maupun perusahaan pada era perkembangan teknologi digital.  Penutup Source: Stuff.co.nz Itulah ulasan singkat dibalik penggunaan simbol ‘@’ pada email, termasuk email dari Google yakni Gmail. Meski simbol tersebut terlihat sederhana namun membawa manfaat penting bagi perkembangan dunia teknologi sampai saat ini. Terutama teknologi komunikasi dan informasi. Kini, fitur Gmail pun semakin beragam. Anda dapat menggunakannya tak hanya untuk kepentingan individu saja. Melainkan pula untuk keperluan bisnis maupun perusahaan. Salah satunya adalah dengan menggunakan layanan Google Workspace yang bisa Anda dapatkan di EIKON Technology. Di sini, kami menyediakan layanan berbagai ragam fitur Gmail untuk keperluan bisnis dengan pelayanan yang dapat diandalkan. Informasi lebih lanjut mengenai produk Google Workspace kami, Anda bisa klik di sini.

Info

Menggunakan Google Cloud Spot VMs untuk Menjalankan Workloads dengan Efisien

Google Cloud baru saja meluncurkan public preview untuk hasil proyek kolaborasi mereka dengan Spot by NetApp yaitu Spot VMs. Apa itu Spot VMs? Dalam komputasi awan yang dimiliki Google, terdapat kapasitas “sisa” yang tidak terpakai. Melalui Spot VMs, pengguna Google Cloud bisa meminjam ruang kapasitas tersebut dengan harga yang lebih terjangkau, bahkan 91% lebih hemat dari harga ruang kapasitas baru. Artikel ini akan membahas bagaimana caranya menggunakan layanan Google Cloud Spot VMs tersebut untuk menjalankan workloads, terutama untuk workloads yang berjenis fault-tolerant. Mari simak penjelasannya berikut ini. Mengenal Google Cloud Spot VMs   Photo Credit: Google Cloud Blog Aplikasi modern seperti micro service, workload yang terkemas, serta aplikasi skalabel horizontal, dirancang untuk mampu bekerja bahkan di saat mesin tempat penyimpanannya sedang mengalami gangguan. Desain arsitektur ini pada akhirnya menghasilkan ruang kapasitas “sisa” pada cloud. Melalui Spot VMs, Anda yang menggunakan Google Cloud pun bisa mengakses kapasitas sisa tersebut. Google menawarkan layanan ini dengan biaya yang sangat terjangkau. Anda bisa menghemat sekitar 60-91% dari harga VM asli. Tersedia juga pilihan optimalisasi biaya melalui integrasi dengan Google Kubernetes Engine (GKE) Standar. Integrasi ini akan membuat aplikasi scalable Anda berjalan lebih mulus. Keuntungan menggunakan Google Spot VMs dalam proyek Anda Bagi Anda yang sudah tidak sabar untuk menggunakan Google Spot VMs, layanan ini sudah mulai diterapkan pada bulan Oktober 2021 lalu. Dengan memanfaatkan Spot VMs, Anda bisa merasakan manfaat berupa: Efisiensi TCO: Bagi pemilik bisnis, penghitungan TCO atau total cost of ownership sangat penting. Dengan menghitung TCO, maka perencanaan pengadaan struktur cloud akan menjadi lebih rinci. Adanya penghematan hingga 91% jelas akan sangat menguntungkan keuangan perusahaan. Terlebih jika Anda menggabungkan Spot VM dengan layanan Custom Machine Types dari Google dan menambahkan Spot GPU serta Spot SSD lokal. TCO akan lebih efisien tanpa harus mengorbankan kinerja. Otomatisasi yang lebih baik: Integrasi Spot VM dengan GKE akan melancarkan seluruh rangkaian proses deploy. Saat Spot VM tersedia, peningkatan skala bisa dilakukan secara otomatis dan diakhiri tanpa hambatan dengan fitur pre-emption. Proses deploy pun bisa selesai dengan gangguan minimal. Kemudahan penggunaan dan integrasi: Semua resources yang tersedia pun menjadi milik Anda sepenuhnya tanpa batas durasi tertentu. Anda juga bisa memanfaatkan fitur Termination Action untuk menghapus seluruh properti perusahaan yang tersimpan. Langkah ini bisa dilakukan saat proses pre-emption berjalan. Anda juga bisa membersihkan Spot VM yang telah digunakan sebelum dikembalikan. Tersedia di seluruh dunia: Spot VM diluncurkan di seluruh dunia dengan performa yang 100% sama dengan performa VM baru. Perbedaan antara Spot VM dengan VM baru hanyalah pada harga yang ditawarkan. Sebab, resources dapat diklaim kembali kapan saja dengan pemberitahuan 30 detik sebelumnya. Baca juga: Tips Mengatur Budget Departemen IT, Hemat Hingga 60%! Spot VM sangat cocok untuk berbagai jenis workloads, terutama yang berjenis fault-tolerant. Penerapannya bahkan sangat luas, bisa digunakan pada sektor efek visual, keuangan, genomik, perkiraan, dan bahkan simulasi. Untuk mulai mencobanya pun tidak sulit, cukup menambahkan perintah –provisioning_model= Spot pada permintaan Anda dan mode penghematan akan langsung bekerja. Harga yang dinamis Photo Credit: asawin (PxHere) Untuk memaksimalkan penghematan, Google Cloud VMs diluncurkan dengan penetapan harga yang dinamis. Diskon harga yang diterapkan bervariasi, yang terendah adalah 60% dan yang tertinggi 91% lebih hemat dari harga asli. Model penetapan ini bertujuan agar setiap pengguna Google Cloud bisa merasakan pengalaman dengan Spot VM. Jumlah diskon akan terus berubah tiap bulannya, namun tetap dengan diskon minimal 60% dan maksimal 91%. Anda juga bisa melihat perkiraan harga untuk melihat perubahan harga di bulan selanjutnya. Model ini akan efektif mulai tahun 2022 nanti. Untuk rangkaian serta lokasi VM bisa dilihat pada tabel berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk mendapatkan hasil yang lebih hemat dan optimal, Anda bisa memanfaatkan integrasi dengan GKE. Pada GKE, Anda bisa membuat node Spot dengan menggunakan perintah –spot;. Sedangkan node pre-emptible bisa ditambahkan dengan –preemptible. Jika Anda sudah menggunakan GKE versi 1.21, tersedia perintah enable_graceful_node_shutdown untuk menjalankan Spot dengan lebih mulus. Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite? Dengan menggunakan Google Cloud Spot VMs, berbagai jenis workloads, bahkan untuk tipe fault-tolerant bisa lebih mudah dijalankan. Menariknya lagi, layanan ini juga menerapkan model penetapan harga yang dinamis sehingga Anda bisa mendapatkan diskon mulai dari 60-91%. Layanan Spot VMs ini akan bekerja lebih baik pada infrastruktur cloud yang memang dikhususkan untuk bisnis. Belum menerapkan solusi tersebut pada bisnis Anda? Sebagai official reseller Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai produk Google secara legal, termasuk di antaranya adalah layanan Google Cloud. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology!

Info

Merancang Sistem Belajar Online yang aman dengan Google for Education

Google for Education merupakan layanan pembelajaran kolaboratif berbasis cloud. Layanan ini memungkinkan penggunanya untuk bisa memanfaatkan aplikasi serta  fitur yang dikembangkan Google sebagai alat produktivitas untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar. Google for Education sendiri dikembangkan dengan mengutamakan keselamatan, keamanan, dan privasi para penggunanya. Bentuk proteksi tersebut bisa Anda temukan melalui berbagai fitur keamanan bawaan yang memberikan perlindungan otomatis serta visibilitas dan kontrol yang lebih luas untuk memastikan agar lingkungan belajar tetap aman dan terlindungi. Mari pelajari lebih jauh mengenai fitur keamanan yang ditawarkan Google for Education dalam ulasan berikut ini. Tiga prinsip keamanan Google for Education Photo Credit: Mohamed Hassan (PxHere) Keamanan default: Google melindungi Anda dengan fitur keamanan tercanggih di dunia. Sebelum Anda melakukan pengaturan keamanan, Google secara default telah mengaktifkan kontrol keamanan yang disesuaikan dengan lingkungan digital sekolah Anda. Proteksi default ini bahkan mampu melindungi Anda dari ancaman bahaya seperti ransomware. Desain yang privat: Google menerapkan praktik pengolahan data yang bertanggung jawab untuk menghormati privasi Anda. Hal ini pun diterapkan pada Google for Education dengan standar privasi data paling ketat seperti FERPA, COPPA, dan GDPR. Kendali di tangan Anda: Kepemilikan data di Core Workspace Services ada di tangan Anda sepenuhnya. Anda memegang hak kekayaan intelektual penuh atas data yang dimiliki. Anda bisa mengontrol siapa saja yang bisa mengaksesnya dan kapan waktu untuk mengaksesnya. Seluruh kendali ada pada Anda. Fitur baru dengan visibilitas dan kontrol yang lebih luas Untuk membantu para administrator dan para pengajar dalam membangun sistem pembelajaran digital yang aman, Google menambahkan beberapa fitur keamanan tambahan. Selain itu, Anda juga bisa menemukan pembaruan terkait pemberitahuan privasi untuk memudahkan pengajar, siswa, dan bahkan wali murid. Google juga meningkatkan layanan dan kontrol privasi dengan struktur yang lebih sederhana menggunakan bahasa yang lebih jelas agar lebih mudah dipahami. Baca juga: Mengapa Belajar Menjadi Lebih Mudah dengan Google for Education? Setelan akses berdasarkan usia Photo Credit: HippoPx Kemudahan lain yang bisa Anda temukan pada Google for Education adalah setelan akses berbasis usia. Dengan fitur ini Anda bisa mengatur akses menuju berbagai platform Google seperti YouTube, Photos, serta Maps. Bersamaan dengan peluncuran fitur ini, Google mengharuskan pengguna layanan seperti pengajar, staf, dan administrator untuk berusia 18 tahun ke atas. Jika melanggar batasan usia tersebut maka tidak akan bisa mengakses unit organisasi atau grup di Admin Console. Sedangkan pengaturan untuk siswa di bawah usia 18 tahun akan otomatis menyesuaikan dengan kebijakan baru. Setelah fitur ini aktif maka siswa yang berusia di bawah 18 tahun akan dibatasi aksesnya dalam menggunakan platform Google. Misalnya, saat mengakses YouTube mereka bisa tetap menyaksikan konten dari guru, tapi tidak bisa mengunggah video, memberikan komentar atau streaming dengan akun sekolah mereka. Keamanan tambahan Di Indonesia, Google Search secara default telah diatur ke mode SafeSearch sehingga siswa bisa melakukan pencarian dengan aman. Menggunakan Google for Education, proteksi tersebut bisa ditingkatkan dengan pengaturan SafeSites, Guest Mode, dan Incognito Mode. Dalam layanan Google for Education, mode SafeSearch dan SafeSites akan otomatis aktif. Sedangkan Guest Mode dan Incognito Mode akan dinonaktifkan secara otomatis saat Google Search digunakan. Administrator bisa melakukan pengaturan ulang terkait hal ini kapan saja diperlukan. Baca juga: Belajar Lebih Aman dengan Google for Education Menciptakan sistem belajar yang aman dan kondusif bagi siswa jelas bukan perkara mudah. Google for Education hadir untuk memudahkan Anda, pengajar dalam merancang sebuah sistem belajar yang bukan hanya aman tapi juga mudah diaplikasikan siswa. Tertarik untuk mulai menerapkan di sekolah Anda? Untuk bisa menikmati berbagai kemudahan, Anda harus berlangganan layanan Google Workspace for Education. EIKON Technology sebagai reseller resmi produk Google menyediakan layanan berlangganan Google Workspace for Education yang aman dan tepercaya untuk Anda. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Memahami 6 Prinsip Penyerapan Data Google Cloud

Transformasi digital membuat penyimpanan silo data beralih pada gudang data berbasis cloud, salah satunya dengan Google Cloud. Hal ini membuat kolaborasi antar unit bisnis serta akses data menjadi lebih mudah. Meski begitu, kemudahan ini juga disertai dengan problem baru yang berkaitan dengan penyerapan data.  Dengan terbukanya data dari berbagai unit bisnis, mau tak mau Anda harus mengembangkan pipeline untuk penyerapan data. Tanpa adanya pipeline ini, data hanya sekadar terbuka tanpa bisa diolah dan dikembangkan. Mengembangkan cloud pipeline, terutama yang berbasis cloud lokal, akan menyerap banyak data ke gudang data cloud Anda tanpa adanya hambatan yang berarti. Google melalui Google Cloud memiliki 6 prinsip yang bisa Anda terapkan dalam perancangan pipeline untuk penyerapan data. Mari simak pembahasannya berikut ini. Perjelas tujuan Anda Photo Credit: Rawpixel Sebelum mengembangkan pipeline untuk penyerapan data, buatlah tujuan yang sejelas mungkin. Anda bisa mulai dengan membuat gambaran mengenai hasil akhir yang ingin dicapai. Perlu diingat, pipeline hanyalah jalan untuk menuju garis akhir Anda dan bukan garis akhir itu sendiri. Katakanlah Anda menginginkan agar “bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan”. Coba buat lebih jelas dengan menentukan siapa subjek yang harus bisa “mendapat pemahaman” dan bagaimana cara untuk “mendapat pemahaman tersebut”. Dengan runtutan berpikir seperti ini, Anda bisa membuat tujuan yang lebih detail dan tentunya lebih relevan dengan pipeline penyerapan data. Rancangan tujuan awal tersebut pun kemudian akan berubah menjadi, “agar tim pengolah data bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dengan menyediakan akses ke data CRM.” Bangun tim Anda Berikutnya, bangun tim Anda. Pastikan Anda memilih orang dengan skill yang tepat, entah itu memiliki keahlian untuk mengembangkan, menerapkan, maupun memelihara data pipeline perusahaan. Bagaimana cara terbaik untuk membangun tim yang handal? Pelajari kembali tujauan Anda. Dari tujuan tersebut Anda bisa punya gambaran mengenai apa saja persyaratan yang diperlukan pipeline penyerapan data perusahaan. Persyaratan tersebut akan membantu Anda untuk mengidentifikasi SDM yang diperlukan sekaligus memperkirakan potensi kelemahan yang memerlukan dukungan tambahan dari pihak ketiga di luar perusahaan. Efisiensi waktu Photo Credit: Rawpixel Dalam mengembangkan pipeline untuk penyerapan data Anda juga harus mempertimbangkan efisiensi waktu. Coba hitung beban pemeliharaan jangka panjang dari pipeline penyerapan data Anda sebelum mengembangkan dan menerapkannya. Langkah ini akan membantu Anda untuk menerapkan pipeline yang efisien dan layak. Google Cloud merekomendasikan beberapa pendekatan untuk membangun pipeline yang efisien: Memanfaatkan produk penyerapan data berbasis interface dari Google Cloud. Dengan menggunakan produk semacam ini, Anda bisa mengurangi jumlah kode yang memerlukan pemeliharaan sekaligus mengurangi waktu pengembangan jalur pipeline. Beberapa produk yang bisa Anda pertimbangkan adalah Google Data Transfer Service serta Fivetran untuk mengelola pipeline penyerapan data dengan aplikasi SaaS. Gunakan template kode yang tersedia saat produk penyerapan data berbasis interface tidak mencukupi. Anda bisa menggunakan template yang tersedia untuk Dataflow. Template tersebut akan memungkinkan Anda untuk menentukan variabel dengan mudah dan hemat waktu. Jika kedua opsi di atas masih belum membantu, gunakan layanan untuk menerapkan kode pada pipeline Anda. Beberapa layanan tersebut di antaranya adalah Dataflow dan Dataproc. Cara ini akan mengurangi biaya operasional pengelolaan konfigurasi pipeline. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi data Prinsip keempat dari Google Cloud terkait dengan penyerapan data adalah meningkatkan kepercayaan dan transparansi data. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi bisa dilakukan dengan mengawasi serta mengelola pipeline pada seluruh tools yang Anda gunakan. Adanya banyak pipeline terkadang mengharuskan Anda untuk menerapkan beberapa alat yang berbeda. Sayangnya, hal ini bisa menyebabkan overhead manajemen pipeline karena jumlah jalur terus meningkat. Akan menjadi semakin rumit jika Anda memperhitungkann persyaratan untuk mengawasi saluran data. Anda bisa memanfaatkan layanan monitoring seperti Google Cloud Monitoring Service atau Splunk yang dapat menjalankan metrics, events, serta pengumpulan metadata dari beragam produk secara otomatis. Mengelola biaya Photo Credit: Rawpixel Menurut Google Cloud, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan terkait pengelolaan biaya yaitu: Memilih tools: Tiap jalur pipeline penyerapan data memiliki aturan tersendiri mengenai tingkat latensi, waktu aktif, hingga transformasi. Masing-masing jalur akan memiliki kecocokan dengan tools tertentu. Pastikan Anda memilih tools yang sesuai dengan masing-masing pipeline agar penggunaannya efisien. Terapkan pengendalian biaya: Apabila memang tersedia, jangan ragu untuk manfaatkan layanan pengendalian biaya untuk mencegah kesalahan yang menyebabkan biaya tambahan tak terduga. Catat pengeluaran cloud: Selalu catat pengeluaran Anda untuk seluruh pemanfaatan sumber daya cloud. Dengan begitu, Anda bisa memahami tiap perubahan dalam pembelanjaan cloud dan korelasinya dengan dinamika bisnis perusahaan. Manfaatkan layanan yang terus ditingkatkan Layanan Google Cloud secara konsisten melakukan peningkatan kinerja dan stabilitasnya. Dengan memanfaatkan peningkatan tersebut, pipeline data Anda bisa bekerja dengan optimal dan bahkan lebih efisien. Cara termudah untuk merasakan manfaat dari layanan ini adalah melakukan otomatisasi terhadap manajemen pipeline Anda. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi biaya operasional dari setiap jalur pipeline. Merancang pipeline yang efisien untuk penyerapan data memang tidak mudah, terlebih jika penyimpanan data Anda begitu luas. Anda bisa menerapkan prinsip pengelolaan pipeline dari Google Cloud di atas untuk membuat sekaligus mengelola pipeline dengan lebih optimal. Seluruh tools manajemen pipeline bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud official. Anda bisa berlangganan layanan Google Cloud yang resmi melalui EIKON Technology. EIKON Technology sendiri merupakan official partner Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Info

Mencoba Windows Server 2022, Apa Saja Upgrade yang Ditawarkan?

Windows Server merupakan sistem operasi yang khusus dikembangkan Microsoft Corporation sebagai server atau pusat data. Sejak diperkenalkan pada tahun 2003, sistem operasi ini sudah banyak digunakan sebagai networking server perusahaan besar dunia seperti raksasa manufaktur pesawat Boeing dan juga instansi pendidikan terkenal, MIT (Massachusetts Institute of Technology). Pada bulan Oktober 2021, Microsoft mengumumkan general availability Windows Server 2022. Dalam upgrade terbaru ini tentu ada beberapa fitur tambahan yang bisa Anda nikmati sebagai pengguna. Salah satunya adalah kemampuan kerja yang lebih seamless dengan adanya scenario baru hybrid cloud. Untuk mengetahui apa saja upgrade fitur yang ditawarkan Microsoft dalam Windows Server 2022, simak ulasannya berikut! Sistem keamanan berlapis Photo Credit: ColossusCloud (Pixabay) Keamanan selalu menjadi pertimbangan utama dalam memilih server atau data center. Tanpa sistem keamanan yang baik, server akan rentan terhadap berbagai ancaman keamanan. Padahal, ancaman keamanan server sangat beragam. Ada yang mengancam data dalam server melalui serangan virus, ada juga ancaman berupa pencurian dan sabotase data. Ancaman keamanan pun bisa berupa gangguan terhadap lokasi penyimpanan server seperti kebakaran dan bencana alam. Windows Server 2022 menawarkan keamanan multi-layer bagi para penggunanya. Sebagai layer keamanan pertama, Microsoft meningkatkan keamanan pada core server Server 2022. Selain itu, pengguna juga bisa mengaktifkan fitur secured connectivity untuk konektivitas jaringan yang lebih aman. Baca juga: Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Sistem Operasi Terbaru dari Microsoft Seperti apa fitur keamanan core server yang ditawarkan Server 2022? Secured-core server menyediakan perangkat keras (hardware), firmware, serta driver bagi pengguna melalui mitra penyedia hardware. Dengan begitu, pengguna server bisa memperkuat sistem mereka, bahkan untuk sistem kritis sekalipun. Tim TI serta teknisi SecOps perusahaan pun akan mudah menerapkan sistem kemanan yang lebih komprehensif. Langkah preventif untuk melindungi data dalam server pun bisa diterapkan pada tiap lapisan, mulai dari hardware, firmware, dan bahkan untuk virtualisasi data server. Keamanan dalam transfer data Selain menawarkan keamanan pada core server, upgrade Windows Server juga meningkatkan keamanan mereka dalam hal transfer data. Dalam rilis terbaru ini Anda bisa menikmati proses enkripsi HTTPS (hypertext transfer protocol secure) yang lebih aman dan cepat. Microsoft juga telah menerapkan enkripsi AES 256 (advanced encryption standard 256 bit) dengan support untuk protokol SMB (server message block) yang telah disesuaikan standar industri, bahkan proses enkripsi ini juga diterapkan untuk melindungi data sensitif pemerintah Amerika Serikat. Dengan kunci bit yang lebih panjang, server akan lebih sulit untuk direta. Skenario hybrid cloud dengan Azure   Photo Credit: Microsoft Azure Upgrade lain yang ditawarkan Windows Server 2022 adalah pendekatan hybrid dan bahkan multicloud . Dalam rilis terbaru , Server telah terintegrasi dengan Azure Arc. Integrasi antar dua platform Microsoft ini memungkinkan Anda untuk bisa melakukan transformasi digital lebih mudah. Bukan hanya itu, Anda juga bisa memanfaatkan beberapa fitur peningkatan File Server seperti SMB Compression. Fitur ini mampu meningkatkan kecepatan tranfer data dengan cara kompresi data saat sedang transit melalui jaringan. Untuk memudahkan pengguna, Microsoft juga telah menyediakan Windows Admin Center. Dengan layanan ini, Anda bisa merasakan manajemen server yang canggih dengan dukungan proxy gateway untuk integrasi Azure. Platform yang lebih fleksibel Photo Credit: Rawpixel Bagi Anda yang melakukan upgrade ke Windows Server 2022 dapat merasakan peningkatan skalabilitas. Ini karena Windows Server 2022 telah menerapkan dukungan memori hingga 48 TB dan 2.048 logical cores dengan 64 socket fisik untuk menjalankan aplikasi Tier1. Anda juga bisa menikmati beberapa peningkatan pada kompatibilitas platform aplikasi Windows seperti HostProcess yang bisa digunakan sebagai konfigurasi node serta implementasi kebijakan jaringan yang lebih konsisten menggunakan Calico. Tersedia juga container support khusus Windows Server 2022 dalam komunitas Kubernetes. Bahkan tersedia peningkatan kemampuan baru pada Azure Kubernetes Service (AKS) serta AKS on Azure Stack HCI. Dengan adanya upgrade baru Windows Server 2022 ini, rasanya Windows sulit untuk diabaikan sebagai penyedia server handal. Tertarik untuk menjadikan Windows sebagai data server perusahaan Anda tapi belum menemukan penyedia yang tepat? EIKON Technology solusinya. Sebagai partner resmi Microsoft, EIKON Technology menyediakan akses menuju berbagai platform layanan serta solusi dari Microsoft secara legal. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Scroll to Top