EIKON Technology

Google Cloud Platform

Google Cloud

Memanfaatkan Google Cloud sebagai Pengamanan Tambahan bagi Developer

Komputasi awan atau cloud telah dimanfaatkan untuk mendorong inovasi. Para developer menggunakan cloud sebagai semacam mesin untuk menguji ide-ide baru dan otomatisasi skalabilitas. Dengan banyaknya eksperimen yang harus dijalankan, inovasi di jaringan cloud amat membutuhkan kebebasan dan fleksibilitas. Namun kebebasan sering kali berseberangan dengan keamanan. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan antara keamanan dengan kebebasan inovasi? Keamanan Google Cloud Photo Credit: rawpixel.com (Freepik) Google Cloud terus berupaya untuk menyediakan solusi atas berbagai tantangan keamanan cloud. Sejauh ini, Google Cloud telah mengambil spesialisasi dalam domain keamanan cloud seperti cloud native compliance, arsitektur zero trust, keamanan aplikasi, perlindungan data, dan juga operasi keamanan. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana Google Cloud membantu Anda dalam konfigurasi kontrol keamanan preventif, tentunya masih dengan kapabilitas yang sudah tersedia dalam ekosistem Cloud. Kontrol keamanan preventif, juga dikenal sebagai “pagar pengaman” keamanan, adalah kontrol yang memungkinkan fleksibilitas pengembang untuk berinovasi dalam batas-batas kebijakan keamanan yang ditentukan serta mencegah kesalahan konfigurasi atau kerentanan sebelum dapat dieksploitasi. Infrastruktur sebagai Kode: Proses deploy yang aman Program keamanan cloud yang matang adalah perpaduan antara proses operasional yang berulang dan kontrol otomatis. Untuk membantu memastikan developer berinovasi pada baseline yang aman, sebaiknya pelanggan merancang proses terpusat untuk meminta project GCP baru dan mendaftarkan beban kerja. Hal ini memungkinkan tim keamanan memiliki kemampuan untuk konfigurasi proyek GCP dengan parameter keamanan yang ditentukan. Untuk membantu mengaktifkan pengulangan dan konsistensi proses, penggunaan Google Cloud Project Factory telah disetel otomatis untuk menerapkan proyek berdasarkan opini kepada developer secara terpusat. Baca juga: Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi ke Google Cloud Fungsi pagar pembatas adalah untuk mencegah pelanggaran keamanan sebelum berdampak pada platform produksi. Umumnya, perusahaan menggunakan proses manajemen perubahan yang rumit untuk mengontrol penyebaran serangan secara manual dan mengevaluasi postur keamanan. Google Cloud bekerja sama dengan pelanggan untuk merancang pipeline Infrastructure as Code (IaC) untuk menentukan pemeriksaan kebijakan keamanan dan secara otomatis memvalidasi postur sebelum penerapan. Pola desain tipikal menggunakan alat “policy-as-code”, seperti Terraform Validator, untuk menerapkan pagar pengaman bagi developer sebagai bagian dari pipeline CI/CD. Desain ini memungkinkan pelanggan untuk konfigurasi batasan keamanan berdasarkan persyaratan khusus atau toleransi risiko mereka. Membangun kontrol pencegahan menggunakan kapabilitas GCP Photo Credit: rawpixel.com (Freepik) Google Cloud bekerja untuk menghadirkan cloud paling tepercaya yang menawarkan platform asli dan kapabilitas produk yang memungkinkan kontrol keamanan preventif. Berikut adalah beberapa layanan Google Cloud yang direkomendasikan untuk digunakan dalam penerapan pagar pengaman bagi pengembang: Organization Policy: Memberikan kontrol terpusat dan terprogram mengenai cara resources digunakan. Tim keamanan dapat memilih dari daftar batasan yang tersedia untuk membatasi cara resources dikonfigurasi, mencegah potensi kesalahan konfigurasi terjadi. Misalnya, batasan kebijakan organisasi, constraint/storage.publicAccessPrevention akan mencegah developer mengekspos bucket penyimpanan cloud secara publik. Baca juga: Penambahan Aturan Lifecycle Conditions Baru untuk Google Cloud Storage VPC Service Controls: Mencegah perpindahan data yang tidak sah dengan mengisolasi resource GCP dan membatasi aliran data dengan aturan yang mendetail. Layanan ini memungkinkan Anda mendesain perimeter keamanan berbasis konteks untuk mengamankan layanan berbasis API. Developer yang bekerja pada layanan dengan perimeter VPC Service Controls akan dibatasi pada aturan yang ditentukan oleh administrator, membantu mengurangi risiko pemusnahan data. Cloud IAM: Mengaktifkan akses terperinci untuk memastikan developer hanya memiliki akses ke resources Google Cloud tertentu. Tim keamanan dapat menerapkan prinsip hak istimewa paling rendah, mencegah peran yang terlalu permisif untuk mengurangi serangan ke seluruh platform. Layanan GCP asli di atas telah didukung oleh pipeline Infrastructure as Code. Untuk membantu memastikan perlindungan yang konsisten bagi developer, layanan keamanan preventif harus dikonfigurasi dan diterapkan dengan pipeline IaC terkelola yang telah dibahas sebelumnya. Membangun pola otomatis berulang untuk penyebaran IaC akan menyederhanakan proses bagi developer dan melindungi lingkungan dengan pagar pengaman yang sudah ditentukan. Baca juga: 3 Fitur Security and Compliance di Google Cloud Logging yang Wajib Anda Ketahu Layanan dan kapabilitas asli dari Google Cloud di atas memungkinkan Anda untuk mendapat keamanan terbaik tanpa harus menggunakan produk eksternal. Itu artinya, risiko keamanan yang muncul karena penggunaan produk di luar ekosistem pun dapat diminimalkan. Semua layanan dan kapabilitas yang disebutkan di atas telah tersedia di Google Cloud Platform. Bagi Anda yang ingin memberi keamanan tambahan bagi developer program, gunakan paket solusi komputasi Google Cloud dari EIKON Technology. Sebagai authorized reseller untuk produk-produk Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan solusi Google Cloud resmi dan berlisensi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Update Fitur Google Cloud Deploy: Pemanfaatan di Lingkungan GKE Makin Mudah?

Google Cloud Deploy resmi diperkenalkan pada bulan Januari 2022 lalu. Layanan tersebut diluncurkan dengan tujuan utama untuk mempermudah pembuatan dan pengoperasian pengiriman software berkelanjutan ke lingkungan Google Kubernetes Engine (GKE). Pada bulan Agustus kemarin, Google memperkenalkan beberapa penambahan fitur Google Cloud Deploy, terutama yang masih berkaitan dengan kecepatan orientasi, manajemen jalur pengiriman, dan perluasan fitur perusahaan. Seperti apa cara kerja fitur baru yang ditawarkan? Orientasi yang lebih cepat dengan Skaffold Skaffold merupakan open-source tool yang mengatur pengembangan berkelanjutan, continuous integration (CI), continuous delivery (CD), serta merupakan bagian integral dari Google Cloud Deploy. Melalui Skaffold dan Google Cloud Deploy, loop pengembangan aplikasi lokal dapat terhubung dengan CD secara mulus, menghadirkan konsistensi pada siklus hidup tool pengiriman software menyeluruh Anda. Google Cloud Deploy sekarang memungkinkan Anda membuat konfigurasi Skaffold untuk aplikasi manifes tunggal jika belum tersedia ada. Saat membuat rilis, perintah baru ‘gcloud deploy releases create … –from-k8s-manifest‘ menyediakan manifes aplikasi dan menghasilkan konfigurasi Skaffold. Hal ini memungkinkan tim pengembangan aplikasi dan operator pengiriman berkelanjutan Anda membiasakan diri dengan Google Cloud Deploy, mengurangi konfigurasi tahap awal dan gesekan pembelajaran saat mereka membangun kemampuan pengiriman berkelanjutan. Baca juga: Cara Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Pengelolaan delivery pipeline Delivery pipeline terus menerus digunakan. Rilis terbaru Google Cloud Deploy menavigasi urutan perkembangan saat mereka mencapai target produksi. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Dalam hal ini, Anda mungkin perlu mengelola jalur pengiriman dan resources terkait secara lebih hati-hati. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Dengan tambahan penangguhan delivery pipeline, kini Anda dapat menjeda sementara pipeline yang bermasalah untuk membatasi semua aktivitas peluncuran. Dengan menghentikan aktivitas, Anda dapat melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi masalah dan penyebabnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Ketika meninjau masalah manifes rilis, Anda mungkin ingin membandingkan manifes aplikasi antara rilis dan lingkungan target untuk menentukan waktu terjadinya perubahan aplikasi dan penyebabnya. Namun, membandingkan manifes aplikasi bisa jadi sulit, karena mengharuskan Anda untuk menggunakan baris perintah untuk mencari dan membedakan beberapa file. Untuk membantu, Google Cloud Deploy kini memiliki Release inspector, yang memudahkan peninjauan manifes aplikasi serta membandingkan rilis dengan target dalam delivery pipeline. Photo Credit: Google Cloud Blog Kemudian jika Anda memperhatikan listing peluncuran di konsol Google Cloud Deploy, tampak masih terbatas pada rilis atau target tertentu. Listing peluncuran delivery pipeline yang lengkap kini dapat Anda temukan di halaman detail delivery pipeline. Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur untuk perusahaan yang kini diperluas Lingkungan perusahaan sering kali memiliki banyak persyaratan untuk dapat beroperasi, seperti kontrol keamanan, logging, dukungan Terraform, dan ketersediaan regional. Sebelumnya, Google telah memperkenalkan dukungan untuk VPC Security Controls (VPC-SC) dalam versi Pratinjau. Kini, dukungan tersebut telah tersedia untuk umum. Terkadang, ketika meninjau manifest-render dan log penerapan aplikasi mungkin tidak cukup untuk pemecahan masalah. Untuk situasi ini, telah hadir penambahan log platform layanan Google Cloud Deploy, yang dapat memberikan detail tambahan penyelesaian masalah. Terraform memainkan peran penting dalam meluncurkan resource Google Cloud. Sekarang Anda dapat menerapkan delivery pipeline dari Google Cloud Deploy dan menargetkan resource menggunakan penyedia Terraform Google Cloud Platform. Terlebih Google Cloud Deploy kini telah tersedia di 9 region tambahan, sehingga jumlah total region Google Cloud Deploy di seluruh dunia menjadi 15. Baca juga: Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi Ke Google Cloud Dengan peningkatan fitur ini, Google Cloud Deploy pengguna dapat membuat dan mengoperasikan pengiriman software berkelanjutan ke lingkungan Google Kubernetes Engine secara mudah serta lebih minim risiko. Semua ini bisa Anda nikmati dengan pemanfaatan solusi komputasi awan Google Cloud yang bisa didapatkan melalui EIKON Technology. EIKON Technology menyediakan solusi berbasis komputasi yang efektif untuk memperkuat bisnis Anda secara signifikan. Kami menyediakan solusi komputasi awan Google Cloud berlisensi resmi yang penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

TACO: Membangun Jaringan Cloud untuk Hadapi Tantangan yang Akan Datang

PT Tangkas Cipta Optimal (TACO Group) adalah penyedia solusi permukaan yang terdepan, lantai vinyl mewah, dan produk hardware furnitur untuk pelanggan komersial dan residensial di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu distributor terbesar High Pressure Laminates (HPL) dan anak perusahaan pelengkapnya, TACO Group melakukan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur dan operasi penjualan yang mempertahankan pengakuan TACO sebagai merek nasional premium. Untuk mempertahankan posisi tersebut, TACO Group berencana melakukan migrasi ke cloud platform yang dinilai lebih fleksibel, stabil, dan tentunya aman. Simak bagaimana akhirnya TACO Group menemukan cloud platform terbaik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan berikut. Tantangan yang dihadapi Photo Credit: teksomolika (Freepik) Sebagai sebuah perusahaan yang sedang berkembang, TACO Group perlu meningkatkan eksposurnya ke pasar daripada sebelumnya. Sebelumnya, TACO sudah memanfaatkan official website untuk mengenalkan sekaligus memasarkan produk. Hanya saja, pengelolaannya kurang efisien dan belum bisa memenuhi ekspektasi. Dengan teknologi sebagai tulang punggungnya, TACO ingin meningkatkan ketersediaan serta skalabilitas situs web mereka. Di waktu bersamaan, perusahaan juga harus memikirkan tentang keamanan sistem. Solusi yang ditawarkan Untuk mencapai tujuan perusahaan, TACO Group berencana menggunakan cloud platform untuk memantau server web dan juga domain name system mereka. EIKON Technology menawarkan Google Cloud Platform sebagai solusi untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh TACO. Dengan Google Cloud Platform, TACO Group dapat mendatangkan potensi sebanyak mungkin. Sementara perusahaan terus berinovasi, TACO bisa selalu mengandalkan EIKON dan Google untuk terus menyediakan alat yang dibutuhkan untuk membangun cloud platform sebaik mungkin sesuai kebutuhan perusahaan. Hasil Segera setelah menggunakan Google Cloud Platform (GCP), ketersediaan serta up time situs resmi milik TACO Group meningkat. Di saat yang bersamaan, masalah keamanan pun bisa teratasi. Ini karena GCP menerapkan serverless computing (sebuah model eksekusi komputasi awan yang dijalankan oleh Content Security Policy). Selain itu, untuk memelihara infrastruktur juga menjadi jauh lebih baik. Sebab, potensi terjadinya latensi semakin rendah dan ketika muncul, bisa langsung diatasi dengan cepat. Semua dilakukan tanpa adanya biaya tambahan, bahkan keseluruhan biaya yang dibutuhkan pun berkurang, Dengan begitu, perusahaan bisa tetap fokus pada kegiatan bisnis utama. “Seiring dengan inovasi yang dilakukan, TACO dapat mengandalkan EIKON dan Google untuk terus menyediakan alat yang dibutuhkan untuk membangun platform sebaik mungkin,” – TACO Group. Kami bantu Anda temukan solusi terbaik Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Keberadaan official website terbukti mampu meningkatkan eksposur perusahaan. Dengan membuat sebuah website maka target pasar bisa lebih mudah mengetahui produk yang ditawarkan. Selain itu, memanfaatkan website, perusahaan juga dapat menjaga komunikasi dengan para konsumen. TACO Group memanfaatkan website untuk mendapatkan eksposur yang lebih baik. Harapannya, produk mereka dapat dikenal lebih banyak orang lagi. Untuk menjawab tantangan tersebut, EIKON Technology menawarkan solusi melalui Google Cloud Platform (GCP). GCP menawarkan skalabilitas tinggi, layanan yang terintegrasi, kolaborasi yang baik, serverless computing, dan tentunya biaya perawatan rendah, sehingga keseluruhan proyek pun jauh lebih efisien. Apakah Anda memiliki rencana untuk merancang website perusahaan? Atau justru sedang menghadapi tantangan yang sama dengan TACO Group? EIKON Technology siap membantu Anda dengan menyediakan berbagai solusi yang disesuaikan kebutuhan perusahaan. Setelah proses migrasi, kami juga akan memberikan pendampingan untuk memastikan sistem berjalan semestinya. Untuk mengetahui solusi yang Anda butuhkan, silakan klik di sini!   

Google Cloud

Menyederhanakan Disaster Recovery dengan Cloud Spanner

Disaster recovery sama pentingnya dengan perlindungan data bagi aplikasi penting perusahaan. Perencanaannya harus mampu melindungi aplikasi (dan data di dalamnya) dari bencana alam serta insiden yang disebabkan oleh manusia, seperti pengiriman bug yang bisa menyebabkan timbulnya bad data. Bagaimana perencanaan disaster recovery yang ideal untuk mengatasi insiden? RPO dan RTO Photo Credit: Google Cloud Blog Sebagai bagian dari rencana, pemilik aplikasi harus mempertimbangkan kedua RPO (Recovery Point Objective), yang berkaitan dengan usia data siap dipulihkan serta RTO (Recovery Time Objective), yang berhubungan dengan total waktu yang disiapkan untuk mengembalikan aplikasi setelah insiden. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Cloud Spanner CPU sebagai strategi disaster recovery Cloud Spanner merupakan database relasional yang terkelola sepenuhnya dengan skala tak terbatas, konsistensi kuat, dan ketersediaan hingga 99,999%. Layanan ini menyediakan replikasi yang transparan dan sinkron di seluruh zona dengan konfigurasi regional. Juga, konfigurasi multi-region di seluruh region. Secara inheren, arsitektur Cloud Spanner mengatasi beberapa penyebab insiden yang harus diatasi oleh solusi disaster recovery konvensional. Terlepas dari ketersediaan tinggi yang ditawarkan Cloud Spanner, pemilik aplikasi tetap membutuhkan perlindungan data. Sebab, masih ada kemungkinan kesalahan pengguna atau bug aplikasi yang dapat menyebabkan salah simpan nilai ke dalam database. Sebagai solusi, Cloud Spanner menawarkan backup/restore dan point-in-time recovery. Optimalisasi backup Cloud Spanner Pencadangan Cloud Spanner konsisten secara transaksional. Itu berarti, saat pencadangan dibuat, pencadangan menangkap konten database yang tepat (seperti timestamp pencadangan atau timestamp komit transaksi granularity mikrodetik). Arsitektur ini memastikan bahwa semua data terkait transaksi yang dilakukan disertakan dalam pencadangan. Namun semua pembaruan sebagian yang masih terkait dengan transaksi tidak terikat dikecualikan. Pemulihan point-in-time memungkinkan pemulihan dari timestamp yang dipilih pengguna (dengan semantik yang sama sebagai cadangan). Photo Credit: Google Cloud Blog Katakanlah Anda punya database 10 TB yang mendukung suatu aplikasi penting perusahaan. Maka Anda bisa secara teratur mengambil cadangan sebagai bagian dari rencana disaster recovery. Di banyak sistem, mencadangkan database besar bisa makan waktu berjam-jam dan dapat meningkatkan beban CPU sehingga berdampak buruk. Photo Credit: Google Cloud Blog Cloud Spanner telah memecahkan masalah ini dengan CPU Optimized Backups. Dengan fitur ini, Cloud Spanner memisahkan sumber daya CPU yang digunakan untuk instances database pelanggan dari sumber daya CPU yang digunakan untuk pembuatan cadangan. Keuntungan menggunakan Cloud Spanner CPU sebagai solusi disaster recovery Pelanggan tak perlu lagi menyediakan kapasitas komputasi tambahan. Jadi, ruang kepala CPU bisa digunakan untuk pencadangan. Beban CPU pada instances pelanggan karena pencadangan berkurang hampir nol. Artinya, tidak ada dampak buruk terhadap beban kerja produksi saat pencadangan. Pekerjaan batch yang membuat cadangan dapat diskalakan secara independen dari jumlah server di instances pelanggan. Sistem file yang mendasarinya sangat terdistribusi dan memungkinkan bandwidth baca yang pada dasarnya tidak terbatas. Dengan CPU Optimized Backups, ukuran pekerjaan pencadangan dipisahkan menurut ukuran instances pelanggan, sehingga memungkinkan pencadangan untuk database besar mencapai ukuran yang sangat besar (berpotensi, ribuan mesin). Hal lain yang perlu diperhatikan Photo Credit: Freepik Kinerja backup bergantung pada berbagai faktor, termasuk beberapa faktor khusus seperti detail skema. Oleh karenanya, tidak ada estimasi performa yang sangat spesifik. Meskipun begitu, diketahui bahwa sebagian besar pencadangan database biasanya selesai dalam waktu satu hingga dua jam (termasuk database berukuran ratusan TB). CPU Optimized Backups melanjutkan tradisi inovasi teknis dalam perlindungan data Cloud Spanner dan pemulihan bencana. Fungsionalitas pemulihan yang ada memanfaatkan pencadangan per zona untuk mengaktifkan pemulihan cepat tanpa penyalinan data lintas zona. Point-in-time memungkinkan pemulihan yang fleksibel. Meski begitu, tidak ada perubahan harga pencadangan dengan CPU Optimized Backups. Baca juga: Membongkar Mitos Seputar Cloud Spanner Cloud Spanner merupakan database NewSQL yang menggabungkan skalabilitas dan ketersediaan tinggi NoSQL dengan model relasional, dukungan transaksional, dan SQL RDBMS. Arsitektur ini tersedia di Google Cloud Platform sejak tahun 2017 lalu. Dengan menggunakan Google Cloud Platform, Anda pun bisa menikmati seluruh kemudahan Cloud Spanner dalam menyederhanakan disaster recovery plan. Lindungi keamanan data perusahaan Anda dari berbagai potensi risiko dengan Google Cloud. Dapatkan Google Cloud hanya di EIKON Technology, reseller resmi produk-produk Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Info

Mulai Mendesain Website yang Skalabel dengan Google Cloud Platform

Mendesain website jelas bukan sebuah perkara sepele, terlebih jika Anda ingin merancang sebuah website yang skalabel. Ada banyak sekali langkah yang harus diikuti. Belum lagi, terkadang Anda harus menggunakan vendor yang berbeda untuk menyediakan tambahan layanan. Pertanyaan semacam, “apakah website saya aman?” atau “data DNS mana lagi yang perlu ditambahkan?” selalu muncul dan menghambat para operator website. Google Cloud Platform (GCP) hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Sebab, melalui layanan Google Cloud Platform, Anda bisa mendesain website sekaligus mengelolanya di satu lokasi. Bagaimana cara kerjanya? Google Cloud Platform untuk mendesain website Google Cloud Platform menyediakan solusi untuk mengelola website, dari tahap awal hingga akhir. Dengan memanfaatkan platform ini, Anda tidak perlu lagi dengan permasalahan seperti mengelola subscriptions atau bahkan memahami integrasi antar vendor penyusun website. Fitur- fitur di dalamnya memungkinkan Anda untuk mendesain sebuah website yang bukan hanya skalabel, tapi juga handal dan aman. Selain itu, tersedia beragam keuntungan tambahan seperti sertifikat Google Managed SSL gratis dan perlindungan DDoS terbaik melalui Google Cloud Armor. Diagram arsitektur Berikut adalah diagram arsitektur yang menggambarkan seluruh komponen dalam Google Cloud Platform: Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan komponen kuncinya adalah sebagai berikut: Cloud Domains Cloud DNS Compute and Storage Global HTTPs Load Balancer Cloud Armor Cloud CDN Membeli sebuah domain di Google Cloud Saat mendesain sebuah website, proses pembelian dan verfikasi domain adalah salah satu tahapan yang kompleks dan makan waktu. Melalui Cloud Domains, proses tersebut bisa disederhanakan. Sebab, Cloud Domains telah terintegrasi dengan Cloud DNS sehingga pengelolaannya pun mudah. Bukan hanya itu, Cloud Domains juga telah mendapat dukungan API penuh. Jadi, manajemen website pun akan lebih terprogram, terutama jika Anda mengelola portofolio yang lebih besar.   Baca juga: 7 Langkah Cara Membuat Website Menggunakan Google Sites Mengelola DNS dengan Google Cloud Selain Cloud Domains, GCP juga menyediakan solusi Cloud DNS. Solusi yang ditawarkan GCP merupakan sebuah infrastruktur DNS yang terkelola secara skalabel. Manajemen zona DNS dirancang untuk mudah dijalankan, baik untuk zona pribadi maupun publik. Data DNS publik disiarkan secara luas menggunakan jaringan terdistribusi Google. Dengan begitu, proses aktivasi DNSSEC pun menjadi mudah, menjauhkan end-user dari risiko keamanan yang merugikan. Mengamankan traffic website melalui Cloud Armor Photo Credit: Wikimedia Commons Traffic sering menjadi celah keamanan yang membahayakan end-user saat mengakses website. Untuk mencegah hal tersebut, Cloud Armor yang tersedia di GCP bisa menjadi solusi terbaik. Cloud Armor sendiri merupakan pertahanan DDoS sekaligus WAF (Web Application Firewall (WAF) terbaik di kelasnya. Dengan Cloud Armor, Anda bisa memanfaatkan pengaturan WAF yang telah dikonfigurasi dengan Mod Security Rule Set 3.02 sebelumnya, Pengaturan tersebut akan memberikan perlindungan yang adaptif, memastikan website yang Anda rancang tetap terlindungi dari berbagai serangan. Menyiapkan penyeimbang beban https eksternal Penyeimbang beban https eksternal merupakan solusi layer 7 berbasis proxy global. Fungsinya adalah sebagai titik masuk untuk seluruh traffic website Anda menuju Google. Solusi penyeimbangan beban yang disediakan GCP memungkinkan terjadinya manajemen lalu lintas yang terintegrasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Anda juga memadukannya dengan sertifikat Google Managed SSL untuk proses pengelolaan yang berkelanjutan. Cloud CDN untuk caching konten statis Photo Credit: Google Cloud Untuk mengelola konten website yang dapat disimpan dalam cache seperti gambar atau video pendek, gunakanlah Cloud CDN. Dengan Cloud CDN, konten bisa dikirim dengan cepat dan tanpa banyak biaya. Ini karena Google memiliki Cloud CDN yang tersebar di seluruh dunia.  memastikan tiap pengguna dari lokasi yang penting bagi Anda untuk mengakses website dengan cepat. Cloud CDN pun mudah diaktifkan dan dijalankan. Mendesain website bukanlah sebuah proses yang instan. Agar website bisa berjalan lancar, Anda harus memastikan tiap elemen di dalamnya bekerja dengan baik. Google Cloud Platform bisa menjadi solusi yang efisien sekaligus menyeluruh untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology yang merupakan official partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technnology.

Info

Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings

Untuk memberikan keamanan bagi penggunanya, Google Cloud Platform menyediakan Security Command Center (SCC). Melalui platform tersebut, pengguna dapat mengelola keamanan cloud dan meminimalisir risiko. Google terus meningkatkan performa SCC agar kebutuhan setiap pengguna terpenuhi. Dalam update Cloud terbaru, Google membekali SCC dengan fitur Mute Findings. Bagaimana cara kerjanya?  Mengenal fitur Mute Findings Di saat volume temuan pada Google Cloud Platform tinggi, tim keamanan akan sulit mengidentifikasi, melakukan triase, dan memulihkan risiko kritis. Adanya kemampuan menyesuaikan volume temuan jelas akan sangat membantu. Sebab, beberapa di antaranya mungkin tidak memiliki relevansi dengan kebijakan atau profil risiko perusahaan Anda. Mute Findings akan membantu tim keamanan Anda untuk menyusun prioritas risiko yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Efektivitas operasional keamanan Dengan kemampuan untuk melakukan Mute Findings ini, Anda dapat mengurangi jumlah temuan dan fokus pada masalah keamanan yang paling relevan. Cara ini jelas akan menghemat waktu Anda untuk segera mengenali sekaligus menanggapi risiko yang masih dapat diterima. Salah satu contohnya adalah saat Anda menerima peringatan Google Cloud Platform untuk aset yang terisolasi atau disimpan pada parameter yang dapat diperbolehkan. Jika melihat posisi aset maka peringatan tersebut tidak harus menjadi prioritas utama. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Kemampuan Mute Findings pun tidak hanya berhenti di situ. Setelah dibisukan, temuan akan langsung dicatat agar dapat diaudit. Dengan begitu, Anda bisa meninjau temuan yang telah dibisukan setiap saat. Hanya saja, statusnya disembunyikan pada dashboard SSC dan dapat dikonfigurasikan untuk menghindari pembuatan notifikasi pub/sub sehingga memudahkan Anda untuk fokus pada temuan yang tidak dibisukan.  Contoh penggunaan Mute Findings Pada aset yang ada dalam lingkungan non-produksi. Pada kunci enkripsi yang dikelola pelanggan dalam proyek tidak berisi data penting. Ketika memberikan akses menuju sebuah datastore, yang sengaja dibuka untuk umum. Temuan yang tidak relevan dengan organisasi Anda berdasarkan kebijakan keamanan perusahaan Anda. Cara mengaktifkan Mute Findings Anda bisa langsung menerapkan Mute Findings pada lingkungan Google Cloud dengan cara berikut ini: Menerapkan “mute rules” Mute rules memunkinkan Anda untuk dapat menyesuaikan dan merampingkan proses keamanan dengan membisukan temuan secara otomatis. Anda bisa mengatur kriteria pembisuan sesuai dengan kebutuhan. Jika terdapat temuan yang sesuai dengan kriteria maka secara otomatis akan langsung dibisukan. Photo Credit: Google Cloud Blog Aktivasi manual Anda juga bisa mengaktifkan Mute Findings secara manual Caranya adalah dengan memilih satu atau beberapa temuan sekaligus kemudian membisukannya satu per satu. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengaturan lain yang perlu diingat Selain pengaturan untuk mengaktifkan setelan Mute Findings pada Google Cloud Platform, sebaiknya Anda juga memahami beberapa pengaturan lain seperti: Mengaktifkan kembali temuan Ada kalanya, saat kebijakan organisasi berubah, maka beberapa kriteria temuan tidak akan berlaku lagi. Anda mungkin ingin mengaktifkan kembali temuan yang sudah dibisukan. Tenang saja, prosesnya tidak sulit. Cukup aktifkan kembali pada tampilan temuan dan statusnya akan aktif kembali. Mengaudit ulang temuan Pada Mute Findings, Anda akan menemukan dua atribut tambahan yaitu ‘mute initiator’ dan ‘mute update time’.  Keduanya menyimpan setelan pembisuan serta pengguna yang menerapkan tindakan pembisuan (lengkap dengan tanda waktu). Jadi, Anda bisa mengaudit ulang temuan dengan mudah di masa mendatang. Photo Credit: Google Cloud Blog Mengatur tampilan temuan Tampilan temuan pada SCC diatur menurut konsolidasi ancaman, kesalahan konfigurasi, serta kerentanan risiko. Untuk menemukan temuan yang dibisukan, Anda bisa menuju dashboard kemudian klik More Options > Include muted findings. Photo Credit: Google Cloud Blog Namun jika Anda hanya ingin melihat temuan yang dibisukan, tambahkan “mute=MUTED” pada filter. Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur Mute Findings saat ini sudah tersedia di SCC melalui konsol Google Cloud Platform,. Selain itu, Anda juga bisa menemukannya pada tool gcloud tool serta API. Dengan adanya fitur Mute Findings ini maka proteksi keamanan Google Cloud Platform pun semakin meningkat. Adanya proteksi keamanan tingkat tinggi dan berbagai fitur produktivitas yang membantu pekerjaan membuat Google Cloud selalu bisa diandalkan untuk urusan penyimpanan berbasis awan. Dapatkan segera Google Cloud Platform melalui EIKON Technology. Sebagai premier partner Google Apps Reseller Indonesia, EIKON Technology siap membantu Anda dapatkan benefit maksimal dari Google Cloud Platform. Klik di sini untuk info lebih lanjut!  

Info

3 Langkah Mudah Validasi Domain di Google Cloud Platform

Google Cloud Platform (GCP) merupakan sebuah rangkaian komputasi awan (cloud computing) dari Google dengan infrastruktur yang fleksibel dan tanpa server. GCP menawarkan beragam layanan yang menyeluruh mulai dari layanan computing seperti App Engine dan Kubernetes Engine, hingga layanan storage and database seperti Cloud SQL dan Cloud Storage. Bagi Anda pemilik perusahaan yang ingin mulai melangkah menuju transformasi digital, Google Cloud Platform adalah solusi yang layak dipertimbangkan. Dengan memanfaatkan GCP, Anda bisa mulai membangun dan mengembangkan perusahaan di dalam cloud.  Sebagai langkah awal, Anda perlu membangun struktur dasar yang nantinya dikembangkan di dalam cloud. Proses ini dapat dimulai dengan melakukan validasi domain Anda di dalam Google Cloud Platform. Seperti apa langkah-langkahnya? Simak penjelasannya berikut ini.   Validasi domain Google Cloud Platform pertama Anda   Photo Credit: Rawpixel Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah masuk ke halaman Google Admin. Pada address bar ketik https://admin.google.com/ dan tekan enter. Saat Anda tiba pada halaman pertama konsol Google Cloud Platform, Anda akan menemukan dua pilihan. Pilihan pertama adalah untuk verifikasi akun dan pilihan kedua adalah untuk membuat user baru. Pilih opsi pertama. Google membutuhkan data TXT pada DNS untuk membuktikan bahwa Anda memang pemilik domain. Apabila seluruh pengaturan sudah sesuai klik tab “Verify My Domain”. Sistem akan otomatis membawa Anda pada halaman baru berisi deskripsi proses validasi domain. Klik tab “Continue”. Apabila Anda merasa keberatan untuk membagikan data TXT, Google menyediakan opsi validasi lain seperti data CNAME, meta tag (pada website Anda) atau bisa juga dengan mengunggah file HTML pada website Anda yang menggunakan domain tersebut. Setelah proses verifikasi selesai, Anda bisa langsung memilih opsi “Set up GCP Cloud Console now” yang  di bagian bawah halaman pertama GCP.   Menambahkan pengguna dan grup baru   Photo Credit: Rawpixel Setelah proses validasi domain selesai, sekarang Anda bisa mulai mengatur set up Google Cloud untuk perusahaan Anda. Pilihan pertama yang ditawarkan adalah opsi untuk mengatur resource. Berikutnya, ada juga opsi untuk menambahkan user dan juga group baru. Cukup klik “Open” untuk mulai menambahkan. Dalam membangun perusahaan atau organization di Cloud, Anda mungkin akan memerlukan lebih dari satu administrator. GCP juga menyediakan opsi untuk menambahkan administrator dengan tingkat visibility dan control yang bisa Anda atur. Klik tab “Go To the Admin Console”. Sistem akan membuka tab Chrome baru dan membuat user baru di Cloud Identity. Jika sudah, klik “Continue”. Langkah berikutnya adalah membuat grup. Grup di sini mencakup area inti administrasi GCP perusahaan Anda, baik itu organisasi, jaringan, maupun billing (tagihan). Google juga menyediakan beberapa opsi grup tambahan seperti security untuk keamanan, DevOps, serta developers. Jika ingin menghemat waktu, Anda bisa mengikuti saran dari Google dengan klik “Create and Customize Groups”. Setelah proses pembuatan grup selesai, list yang berisi keseluruhan grup beserta user yang ada akan terisi secara otomatis. Selain itu, jika ada user yang terlewat, Anda bisa menambahkannya langsung dengan menggunakan tautan yang ada di samping masing-masing grup.   Menyiapkan akses administrator   Jika Anda sudah selesai menambahkan user serta grup baru, sekarang waktunya untuk menyiapkan akses administrator.  Untuk keperluan ini, klik opsi “Set up administrator access to your organization” (opsi nomor 3) pada halaman Set up Google Cloud for your organization. Dalam menu ini Anda akan mengatur konfigurasi akses kepada administrator yang telah ditunjuk pada langkah sebelumnya. Anda bisa mengatur tingkat visibility bahkan kontrol akses yang mereka peroleh nanti. Photo Credit: Rawpixel Anda juga bisa mengatur akses administratif menuju organization yang telah dibuat dengan memberikan role bagi masing-masing administrator yang telah ditunjuk. Nantinya, Anda juga bisa menambahkan atau menghapus role yang telah diberikan kepada administrator. Itu dia langkah-langkah untuk melakukan validasi domain Anda di Google Cloud Platform. Dengan melakukan validasi domain maka Anda telah meningkatkan sistem keamanan cloud perusahaan. Ini karena adanya segmentasi role terhadap masing-masing administrator akan  mengurangi risiko adanya kebocoran akses menuju organization yang telah Anda buat di GCP. Berminat untuk mulai transformasi digital dengan Google Cloud Platform? Anda bisa mulai dengan berlangganan layanan Google Cloud. Bagaimana caranya? EIKON Technology menyediakan cloud service solutions untuk menjawab kebutuhan Anda. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai produk Google yang terjamin keamanannya. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim dari EIKON Technology.

Cloud Computing, Collaboration, Google Cloud, Productivity

Mengatur Workflow Data di Google Cloud dengan Google Composer

  Dalam proses pengambilan keputusan, para pelaku bisnis banyak bergantung pada data dan analitik yang berfungsi untuk menghasilkan insight. Demi bisa menghasilkan insight yang berkualitas, para ahli dan teknisi data kerap dituntut untuk membangun alur kerja (workflow) bersifat end-to-end yang dapat menyerap, mengolah, dan menganalisis data secara efektif. Umumnya, workflow tersebut melibatkan beberapa task sekaligus yang harus dirampungkan sesuai urutan tertentu. Seiring dengan beban kerja yang meningkat, akan semakin sulit pula untuk mengerjakan berbagai task tersebut. Namun, selama Anda menyimpan data di Google Cloud, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena hal tersebut bisa diselesaikan dengan Google Composer. Pada dasarnya, Google Composer menawarkan fungsi orkestrasi (orchestration), yakni kombinasi antara pengelolaan, koordinasi, dan automasi workflow.  Google Composer, satu perangkat untuk ragam pengaturan data workload Photo Credit: Google Cloud Google Cloud Platform sebetulnya memiliki beberapa perangkat yang dapat menjalankan fungsi orchestration terhadap workflow. Namun, untuk orchestration terhadap beban kerja yang berbasis data, terutama ETL/ELT, Google Composer dapat menjadi solusi terbaiknya. Google Composer adalah perangkat orchestration yang digunakan untuk menulis, menjadwalkan, hingga memonitor workflows. Perangkat satu ini dirancang dengan menggunakan platform open-source yang cukup populer, Apache Airflow. Melalui Google Composer, Anda dapat menciptakan workflow dari banyak tasks. Nantinya, workflow tersebut dikonfigurasikan dengan cara membuat Directed Acyclic Graph (DAG) pada python. DAG adalah alur satu arah tanpa siklus dari sebuah task, sementara tiap task bertanggung jawab atas unit kerja terpisah. Mampu mengatasi berbagai tantangan selama mengatur workflow data Photo Credit: Markus Spiske (Unsplash) Mayoritas pengguna Google Composer pada Google Cloud adalah teknisi data. Mereka mengakui bahwa Google Composer dapat membantu mengatasi beberapa tantangan yang kerap muncul saat mengatur workflow data. Seiring dengan skala workflow yang semakin rumit, pengaturan task secara efisien pun jadi lebih penting. Untungnya, melalui Google Composer, Anda dapat membuat banyak cabang task maupun menjadikannya parallel berdasarkan status task sebelumnya. Perangkat orchestration pada Google Cloud ini juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung seperti penjadwalan (scheduling). Dengan berbagai keunggulannya, Google Composer meningkatkan pengalaman para teknisi data dalam menggunakan Apache Airflow. Google Composer “menjaga” infrastruktur yang diperlukan untuk memastikan seluruh DAG berjalan baik. Karena tak perlu lagi fokus terhadap manajemen infrastruktur cloud, terlebih dengan adanya fungsi automasi dari Google Composer, maka para teknisi data pun bisa lebih fokus dalam membangun workflow dan pipeline data. Sistem kerja yang efisien tentunya akan berdampak pada hasil yang optimal pula. Namun, Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data Photo Credit: Markus Spiske (Pexels) Google Composer memang menjadi salah satu perangkat powerful yang dapat membantu Anda mengatur workflow data pada Google Cloud. Namun, penting diingat bahwa Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data. Anda juga tak sebaiknya menggunakan Google Composer untuk mengubah maupun menganalisis data dalam jumlah besar. Pasalnya, Google Composer memang tidak dirancang untuk meneruskan data dalam jumlah besar dari satu task ke task yang lain. Selain itu, perangkat satu ini juga tidak dibekali dengan teknologi khusus untuk memproses big data karena sejak awal hanya fokus ditujukan sebagai perangkat dengan fungsi orchestration data. Dengan menggunakan Google Composer, proses pengaturan workflow data pada Google Cloud jadi lebih mudah dan efisien. Untuk mencobanya sendiri, tentu saja Anda harus terlebih dulu berlangganan Google Cloud. Beruntung kini untuk berlangganan Google Cloud, Anda hanya perlu menghubungi EIKON Technology sebagai partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Sebelum berlangganan, Anda dapat berkonsultasi bersama tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda. Langsung saja klik di sini untuk menghubungi EIKON Technology!

Scroll to Top