EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

5 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Jaringan Cloud

Merancang jaringan cloud adalah bagian penting dalam perjalanan cloud Anda. Tahap ini akan membantu Anda untuk mendapatkan gambaran desain akhir jaringan cloud, Tentu saja, dalam melakukan perancangan, harus menyesuaikan dengan kasus penggunaan Anda sendiri. Cobalah untuk berpikir ke depan dan menghitung potensi risiko. Pendekatan semacam ini akan sangat menghemat waktu dan membantu menghindari potensi masalah di masa depan. Lima tips berikut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk Anda dalam merancang arsitektur jaringan cloud yang lebih baik. Memilih jaringan auto atau custom mode Saat membuat jaringan VPC, (virtual private cloud), Anda akan dihadapkan pada 2 opsi: auto atau custom mode. Auto mode secara otomatis mengisi subnet di setiap wilayah dari rentang alamat IPv4 10.128.0.0/9. Jenis jaringan ini dapat digunakan untuk VPC terisolasi yang tidak terhubung langsung ke jaringan VPC auto mode lainnya. Ketika Anda menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dan jaringan tersebut memiliki alamat IP yang sama, maka akan terjadi masalah alamat yang tumpang tindih. Oleh karenanya, jika Anda berencana untuk menghubungkan jaringan VPC ke lingkungan lain, disarankan untuk menggunakan jaringan auto mode. Cara ini akan memberi kemampuan untuk merencanakan dan mengontrol pengalamatan IP dan aturan firewall Anda. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Google Cloud VPC bersama atau VPC Network Peering? Google Cloud memungkinkan Anda menghubungkan jaringan VPC yang berbeda bersama-sama dengan menggunakan desain VPC Network Peering atau VPC bersama. Anda harus mempertimbangkan matang-matang, opsi manakah yang paling sesuai kebutuhan. VPC bersama memungkinkan Anda menyiapkan proyek host dan menghubungkan proyek layanan ke dalamnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan VPC Network Peering memungkinkan Anda untuk menghubungkan 2 jaringan VPC. Fitur ini mendukung berbagai perusahaan dan proyek di Google Cloud. Contoh cara kerjanya adalah sebagai berikut: VPC B terhubung ke VPC A dan C. VPC C dan A tidak terhubung langsung sehingga tidak dapat berkomunikasi satu sama lain di VPC B. Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan VPN atau tidak Tergantung pada persyaratan jaringan cloud, Anda dapat memilih untuk menggunakan virtual private network (VPN) secara internal atau eksternal. Cloud VPN mudah diatur dan lebih murah daripada opsi interkoneksi eksternal lainnya. Fitur ini juga dapat dikonfigurasi dalam konfigurasi high availability (HA). Bandwidth yang tersedia per tunnel adalah 3GBit/s, tapi Anda juga dapat menggabungkan beberapa tunnel untuk mencapai bandwidth yang lebih tinggi. Menentukan jenis interkoneksi Untuk interkoneksi tersedia dua pilihan: khusus atau mitra. Keduanya membutuhkan beberapa dukungan dari tim internal dan juga tim penyedia layanan. Anda harus mempertimbangkan kapan interkoneksi benar-benar dibutuhkan. Sebab, pekerjaan ini mungkin memiliki SLA berjangka waktu yang dapat memengaruhi pengiriman. Selain itu, ada beberapa hal lain yang dapat Anda pertimbangkan ketika menentukan interkoneksi: “Apakah Anda memiliki peralatan di fasilitas colocation atau tidak?” “Berapa banyak bandwidth yang dibutuhkan?” “Apakah Anda perlu SLA?” “Di mana harus mengakhiri koneksi di VPC?” Katakanlah Anda ingin mengakhiri proyek yang didedikasikan untuk interkoneksi atau mengakhiri langsung di VPC produksi. Ini adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan saat ada proyek yang menghilang dengan cepat dan Anda ingin menghindari keharusan untuk menyediakan kembali koneksi baru setiap saat. Baca juga: 3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services DNS DNS atau domain name server merupakan elemen penting lainnya dalam desain jaringan cloud. Bergantung pada cara DNS diatur, Anda mungkin harus melakukan konfigurasi tambahan saat menyelesaikan kueri untuk cloud dan lingkungan lokal. Cloud DNS sangat fleksibel dan dapat mendukung berbagai opsi penerusan zona yang dapat dikonfigurasi untuk mendukung kebutuhan lingkungan Anda. Google Cloud juga memiliki beberapa praktik terbaik DNS yang mungkin layak dipertimbangkan untuk desain Anda. Photo Credit: Google Cloud Blog Tips tambahan Selain kelima tips di atas, ada baiknya Anda juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya ekspansi bisnis di masa mendatang. Beberapa contohnya adalah akuisisi, penskalaan lingkungan (meluas hingga skala yang lebih besar), meluncurkan produk baru, menghubungkan ke cloud lokal dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dengan begitu, desain jaringan cloud Anda bisa tetap relevan dalam jangka waktu panjang. Baca juga: Cloud IDS untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia secara Umum Memang mendesain jaringan cloud bukanlah perkara mudah. Semakin diperhatikan, Anda mungkin akan terus menemukan celah yang tidak terpikirkan sebelumnya. Memanfaatkan resources serta layanan yang dimiliki Google seperti Cloud DNS bisa sangat membantu proses tersebut. Agar lebih optimal, Anda bisa berlangganan solusi Google Cloud yang telah disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. EIKON Technology siap mendampingi Anda dalam mengimplementasikan solusi cloud dari Google secara menyeluruh dan komprehensif, mulai dari perencanaan hingga pra-penerapan. Untuk mulai memilih paket Google Cloud Anda, silakan hubungi tim EIKON Technology di sini!

Google Cloud

Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema

Saat ini, kebutuhan akan ruang penyimpanan data bertumbuh dengan pesat. Penting untuk bisa menangkap, memproses, sekaligus menganalisis metadata dan metrik pekerjaan/kueri untuk keperluan audit, pelacakan, penyesuaian kinerja, hingga perencanaan kapasitas. Untuk memberikan akses dan visibilitas yang mudah terhadap metadata dan metrik BigQuery, Google Cloud meluncurkan Information Schema pada tahun 2020 lalu. Layanan ini memberi pelanggan “lensa” untuk bisa menggunakan metadata dan indikator performa untuk setiap tugas/kueri/API BigQuery. Penyimpanan yang terkait dengan Information Schema Views gratis. Pengguna cukup membayar biaya Compute yang terkait. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pembelanjaan BigQuery. Dua yang paling umum adalah penyimpanan dan pemrosesan. Ulasan kali ini akan membahas tentang cara mudah untuk menganalisis dan menguraikan metrik kunci BigQuery menggunakan Information Schema. Analisis dan visualisasi titik konsumsi slot waktu dan konkurensi Tujuan dari kueri ini adalah untuk mengumpulkan informasi semua pekerjaan yang berjalan selama rentang waktu dan kemudian dipecah menjadi interval yang lebih kecil hingga satuan detik (Point in Time). Tutorial ini menggunakan skrip SQL yang bisa Anda akses di sini. Salin dan tempelkan pada BigQuery UI untuk memulai. Sebelumnya, tutorial ini mendeklarasikan 5 jenis variabel yang berhubungan dengan waktu, yaitu:     DECLARE _RANGE_START_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_END_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_INTERVAL_SECONDS int64; DECLARE _UTC_OFFSET INT64; DECLARE _RANGE_START_TS_UTC timestamp; Atur nilai untuk 5 variabel yang dideklarasikan. Empat variabel pertama perlu diatur secara manual oleh individu yang menjalankan kueri. Variabel pertama (_TIMEZONE) harus mewakili waktu lokal Anda. Variabel kedua (_RANGE_START_TS_LOCAL) dan ketiga (_RANGE_END_TS_LOCAL) akan menggunakan Zona Waktu lokal yang ingin Anda analisis. Variabel keempat (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) mewakili ukuran interval waktu yang Anda inginkan. Point in Tima akan dikumpulkan di sini. Untuk menganalisis apa yang terjadi selama rentang waktu 5 menit, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ‘1’. Ini akan menghasilkan 300 titik data pada X-Axis. Untuk menganalisis apa yang terjadi untuk rentang waktu 1 jam, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ’10’. Ini akan menghasilkan 360 titik data pada X-Axis. Ada baiknya Anda mengorbankan “akurasi” untuk rentang waktu yang lebih besar guna menghasilkan bagan yang lebih mudah dibaca. Variabel kelima (UTC_OFFSET) mewakili offset antara zona waktu Anda dengan UTC yang ditentukan secara lokal. Baca juga: BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia? Tabel turunan ‘kunci’ Tabel turunan ‘kunci’ membuat satu set hasil kolom dengan satu baris untuk setiap interval (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) yang ada dalam rentang waktu yang ingin Anda analisis. Tahapan ini dapat dilakukan dengan beberapa fungsi array yang sangat rapi. Pertama, Anda dapat memanfaatkan fungsi GENERATE_TIMESTAMP_ARRAY yang akan menghasilkan baris (alias sebagai POINT_IN_TIME) timestamp antara variabel _RANGE_START_TS_UTC dan _RANGE_END_TS_UTC untuk setiap interval waktu yang ditentukan dalam _RANGE_INTERVAL_SECONDS. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan sedikit proses slicing (mengiris) dan dicing (memotong), Anda juga dapat membuat Stacked Area Chart yang berdasarkan pengguna dalam slot detik. Photo Credit: Google Cloud Blog Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah Tutorial ini jelas belum bisa merangkum seluruh kapabilitas yang mampu dijalankan oleh Information Schema. Namun Anda tidak perlu khawatir karena Google Cloud sebenarnya telah memberikan beberapa resources untuk dipelajari yang bisa Anda akses melalui blog resmi mereka. Di sana Anda juga bisa menemukan pendapat dan persepsi dari para pakar komputasi awan. Semuanya bisa diakses secara gratis, kapan saja dan di mana saja. Ekosistem Google Cloud memang menawarkan solusi komputasi awan yang komprehensif. Selain kapabilitas untuk menganalisis dan memvisualisasikan data dari BigQuery, Cloud juga masih memiliki beragam fitur serta layanan yang bisa Anda eksplorasi lebih jauh. Belum menggunakan Google Cloud? Anda bisa mendapatkan solusi komputasi awan dari Google ini melalui EIKON Technology. Kami siap menyediakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Google Cloud

Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan

Sekarang ini, banyak perusahaan yang menerapkan campuran jaringan sangat luas, mulai dari SD-WAN, WAN khusus seperti MPLS, interkoneksi cloud, hingga VPN. Di saat mereka memindahkan WAN tersebut ke cloud untuk memanfaatkan turn-up yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, dan kecepatan fitur pun otomatis akan meningkat. Saat workload berpindah ke lingkungan cloud dan multi-cloud seperti ini, menyederhanakan model jaringan perusahaan menjadi sangat penting. Setiap penyedia cloud utama menggunakan model abstraksi yang berbeda untuk melakukan konfigurasi jaringan atau koneksi antar resources. Beberapa menggunakan gateway, beberapa menggunakan koneksi atau tautan. Tahun 2021 lalu Google Cloud memperkenalkan Network Connectivity Center yang menyediakan solusi manajemen sederhana untuk koneksi jaringan Anda. Bagaimana cara penggunaanya? Memahami konektivitas jaringan cloud Jaringan cloud mengacu pada kemampuan untuk menghubungkan dua resources sekaligus di dalam sebuah cloud, lintas cloud atau dengan pusat data lokal. Penyedia cloud perlu menyediakan tiga jenis konektivitas utama, yakni: Site-to-cloud: Antara resources cloud dengan pusat data lokal Site-to-site: Menghubungkan resources lokal sekaligus VPC-to-VPC – Konektivitas antar resources cloud Berikut penjelasan untuk masing-masing konektivitas; Site-to-cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-cloud dilakukan melalui interkoneksi cloud atau VPN cloud. Pertukaran rute otomatis antara resources lokal dan beberapa VPC dapat dilakukan menggunakan VPC transit. Dalam pendekatan baru, konektivitas ini menambahkan penyedia cloud ke mesh SD-WAN menggunakan virtual router di Google Cloud. Network Connectivity Center menghadirkan kapasitas untuk sinkronisasi rute alat secara dinamis melalui BGP ke Cloud Router. Ini memungkinkan terjadinya konektivitas antara pusat data lokal dan kantor cabang, beserta beban kerja cloud mereka melalui konektivitas yang mendukung SD-WAN. Kapabilitas ini tersedia secara global di seluruh 29+ region Google Cloud. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Site-to-site Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-site memungkinkan konektivitas jaringan secara langsung antara dua atau lebih titik koneksi hybrid (VPN, Interkoneksi atau SD-WAN). Network Connectivity Center menyederhanakan model ini dengan otomatisasi pengumuman perutean di lingkungan ini, sehingga semua situs yang terhubung ke Network Connectivity Center global dapat berkomunikasi secara bebas dengan cara apa pun. VPC-to-VPC Photo Credit: Google Cloud Blog Anda dapat membuat jaringan penuh atau sebagian dari koneksi VPC menggunakan beberapa teknologi. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah peering VPC Teknologi tersebut memberikan konektivitas pribadi berperforma tinggi dan latensi rendah untuk jaringan pelanggan yang terhubung melalui konektivitas hybrid dan Network Connectivity Center ke beberapa VPC yang berisi beban kerja. Kemampuan ini juga dapat disegmentasikan melalui kebijakan firewall granular sesuai kebutuhan. Anda pun bisa menggunakan model VPC transit untuk menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dalam topologi hub dan spoke. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Dengan integrasi yang erat dengan router pihak ketiga seperti yang disebutkan sebelumnya, Anda juga dapat memanfaatkan solusi yang didukung pihak ketiga seperti firewall generasi berikutnya untuk menghubungkan VPC bersama-sama guna memenuhi persyaratan kepatuhan dan segmentasi tertentu. Network Connectivity Center memungkinkan Anda untuk melakukan sinkronisasi tabel perutean peralatan ini dengan tabel perutean VPC. Itu berarti, proses pengaturan konfigurasi yang berlebihan pun menjadi jauh lebih sederhana. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Jaringan Google Cloud Dengan situasi sekarang yang mendorong perusahaan untuk terus memigrasikan berbagai jenis beban kerja ke penyedia cloud publik, topologi jaringan pun menjadi lebih kompleks. Melalui Network Connectivity Center, Google Cloud menghadirkan sebuah solusi yang mampu menjaga model jaringan dengan metode sederhana. Layanan Network Connectivity Center tersedia dalam ekosistem Google Cloud. Solusi komputasi awan Google Cloud hadir untuk memudahkan Anda dalam mengelola jaringan konektivitas perusahaan yang kompleks dengan mudah dan efisien. Dapatkan segera solusi Google Cloud hanya di EIKON Technology, distributor resmi Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Industri Manufaktur yang Lebih Cerdas dengan Solusi Terbaru dari Google Cloud

Sekarang ini, industri manufaktur sedang bergerak maju dalam transformasi digital. Sudah banyak perusahaan yang menggunakan teknologi inovatif seperti cloud dan AI (kecerdasan buatan) untuk memperkuat daya saing dan memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurut data daru McKinsey, hampir dua pertiga perusahaan manufaktur sudah menggunakan solusi cloud. Setelah perusahaan mulai melakukan transformasi digital, sebenarnya tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana menskalakan proyek transformasi digital dari tahap konsep hingga produksi. Untuk memastikan produsen dapat menskalakan upaya transformasi digital mereka ke dalam produksi, Google Cloud mengumumkan solusi manufaktur baru, yang dirancang khusus untuk kebutuhan produsen. Bagaimana cara kerjanya? Solusi manufaktur dari Google Cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Sebenarnya, apa saja solusi manufaktur baru yang ditawarkan oleh Google Cloud? Mari membahasnya satu per satu! Manufacturing Data Engine adalah solusi cloud dasar untuk memproses, kontekstualisasi, dan menyimpan data pabrik. Platform ini dapat mengambil data dari semua jenis mesin, mendukung berbagai data (dari telemetri hingga data gambar) melalui koneksi pribadi, aman, dan berbiaya rendah. Dengan normalisasi data bawaan dan kemampuan pengayaan konteks, layanan ini menyediakan model data umum, dengan warehouse yang dioptimalkan pabrik untuk penyimpanan. Manufacturing Connect adalah platform yang dikembangkan bersama Litmus Automation. Layanan ini terhubung dengan hampir semua aset manufaktur melalui library ekstensif yang berisi lebih dari 250 protokol mesin. Mampu menerjemahkan data mesin menjadi kumpulan data yang dapat dicerna dan mengirimkannya ke Manufacturing Data Engine. Dengan mendukung workload dalam container, Anda juga dapat menjalankan visualisasi data latensi rendah, analitik, dan kapabilitas ML langsung. Selain itu, di Manufacturing Data Engine Anda juga bisa menemukan kumpulan analisis data dan kasus penggunaan AI yang diaktifkan oleh Google Cloud dan partner mereka: Manufacturing analytics & insights: Integrasi langsung dengan template Looker yang menghadirkan dasbor dan analitik. Model analitik dan data tanpa kode yang mudah digunakan, model ini memberdayakan insinyur manufaktur dan manajer pabrik untuk membuat dan memodifikasi dasbor, menambahkan mesin baru, hingga melakukan persiapan secara otomatis. Predictive maintenance: Model pemeliharaan prediktif yang dapat langsung diterapkan dalam beberapa minggu dengan tingkat akurasi tinggi. Anda bahkan dapat terus menyempurnakan model melalui kerja sama dengan teknisi Google Cloud. Machine-level anomaly detection: Integrasi yang dibuat khusus dengan memanfaatkan Time Series Insights API Google Cloud pada mesin real-time dan data sensor untuk mengidentifikasi anomali dan memberikan peringatan. Baca juga: Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud Berdayakan insinyur pabrik untuk membangun pusat manufaktur cerdas Selama beberapa tahun terakhir, industri manufaktur menyumbang lebih dari 10% dari produk domestik bruto AS, atau 24% dari PDB dengan nilai tidak. Manufaktur juga merupakan sektor yang mempekerjakan sekitar 15 juta orang, mewakili 10% dari total pekerjaan AS. Namun, lebih dari 20% tenaga kerja pabrikan di AS rata-rata berusia 44 tahun. Pola serupa pun terjadi di seluruh dunia. Artinya, makin sulit  menemukan SDM baru untuk menggantikan tenaga kerja yang pensiun. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengaktifkan tenaga kerja mereka yang ada, sekaligus membuatnya lebih menarik bagi talenta muda untuk bergabung. Keseimbangan ini mengharuskan teknologi penting seperti Cloud dan AI dapat diakses, lebih mudah digunakan, dan tertanam kuat dalam operasi sehari-hari pabrik. Photo Credit: Google Cloud Blog Solusi manufaktur Google Cloud dirancang dengan tujuan ini. Menggabungkan implementasi yang cepat dan kemudahan penggunaan, alat digital yang kuat ditempatkan langsung ke tenaga kerja mengoptimalkan operasi dengan cara baru. Bagian kunci dari solusi ini adalah pengaturan dan penggunaan yang rendah hingga tanpa kode, sangat cocok untuk berbagai macam end user. Dibuat untuk skala, solusi ini memungkinkan peluncuran berbasis template dan mendorong penggunaan kembali melalui standarisasi. Dirancang dengan mempertimbangkan praktik terbaik, produsen dapat memfokuskan resources berharga pada kasus penggunaan, bukan infrastruktur yang mendasarinya. AI untuk ekosistem manufaktur yang cerdas Sudah banyak produsen yang membuktikan nilai solusi AI dalam mendorong biaya dan optimalisasi produksi. Beberapa perusahaan manufaktur AS bahkan memiliki paten aktif pada inisiatif AI. Menurut penelitian Google pada Juni 2021, 66% produsen melaporkan tingkat ketergantungan pada AI meningkat. Google Cloud membantu produsen menerapkan teknologi cloud dan AI untuk membantu pabrik berjalan lebih cepat dan lancar. Pelanggan yang menggunakan Manufacturing Data Engine dari Google Cloud bisa langsung mengakses Vertex AI yang menawarkan alat AI/ML terintegrasi mulai dari AutoML untuk insinyur manufaktur, hingga alat AI canggih untuk para ahli. Baca juga: Memimpin dengan Google Cloud & Partners untuk Modernisasi Infrastruktur Industri Manufaktur Semua solusi manufaktur cerdas tersebut bisa Anda akses hanya dengan berlangganan solusi komputasi awan untuk perusahaan dari Google Cloud. Untuk proses implementasinya, Anda dapat menghubungi kami, EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized partner yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Di samping menyediakan produk, kami juga menawarkan konsultasi menyeluruh mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Cloud

Optimalkan Startup Anda dengan Technical Guide for Startups, Panduan Teknis Praktis dari Google Cloud

Tiap tahap perjalanan startup pasti memerlukan tingkat dukungan dan sumber daya yang berbeda. Dukungan dan sumber daya yang Anda butuhkan saat akan melakukan ekspansi tentu akan berbeda dengan saat baru membangun startup. Namun sering kali pemilik startup tidak menyadari hal tersebut. Mereka pada akhirnya menerapkan dukungan serta sumber daya yang sama pada tiap tahapan. Dampaknya, potensi yang mereka miliki tidak dikelola secara optimal dan hasil yang didapat pun kurang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google Cloud meluncurkan Technical Guide for Startups. Ini merupakan sebuah rangkaian panduan teknis dalam format video yang dapat diakses secara gratis. Hingga saat ini sudah ada puluhan video yang bisa Anda tonton dan pelajari. Paling baru, Google Cloud meluncurkan Build Series yang memang dikhususkan untuk pengembangan startup. Apa saja yang ditawarkan dalam rangkaian video panduan tersebut? Panduan teknis untuk bantu perkembangan startup Anda Photo Credit: pressfoto (Freepik) Secara garis besar, Google Cloud Technical Guides for Startups merupakan rangkaian panduan teknis yang membantu para pemilik dan pelaku startup. Panduan tersebut hadir dalam berbagai format seperti artikel, handbook, dan juga komunitas diskusi. Namun yang paling menarik hadir dalam format seri video. Pada rangkaian video tersebut Anda akan diajak untuk memahami seluk-beluk startup, mulai dari tahap awal hingga penggembangannya. Hingga artikel ini ditulis (pertengahan Mei 2022), Google Cloud telah meluncurkan 2 seri video. Masing-masing seri menggambarkan tiap tahapan dalam perjalanan startup, yaitu: Start Series: Dalam seri ini, Google Cloud memperkenalkan beberapa topik untuk membantu Anda memulai startup di ekosistem mereka. Tahapan ini termasuk menyiapkan proyek, memilih opsi komputasi yang tepat, melakukan konfigurasi database dan jaringan, serta memahami dukungan dan penagihan. Start Series bisa Anda akses di sini. Build Series: Seri ini dirancang untuk membantu Anda dalam mengoptimalkan dan menskalakan penerapan yang ada. Dengan begitu, Anda pun akan lebih mudah menjangkau target audiens. Rencananya, dua seri video tersebut akan dilanjutkan dengan sebuah seri baru mengenai pertumbuhan startup. Seri baru ini diberi judul Grow Series. Berikut deskripsi Grow Series yang telah dirilis Google Cloud: Grow Series: Dalam seri ini, Google Cloud menyediakan panduan teknis yang akan membantu startup Anda tumbuh dan mencapai skala lebih besar dengan berbagai penerapan di ekosistem mereka. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Setelah mengikuti rangkaian tersebut, diharapkan Anda sudah bisa mulai menerapkan aplikasi yang berjalan di Google Cloud. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan tentu saja adalah mengembangkan dan mengoptimalkan penerapan tersebut. Google juga menyediakan beberapa dukungan yang bisa Anda manfaatkan untuk kebutuhan tersebut. Memulai Build Series Dengan selesainya Start Series, Google melanjutkan dengan seri mengenai pembangunan startup yang diberi nama Build Series. Build Series fokus pada proses optimalisasi penerapan dan penskalaan bisnis startup, sehingga memungkinkan Anda membangun fondasi untuk mempercepat pertumbuhan di masa depan. Tersedia berbagai topik menarik di dalam Build Series ini, mulai dari program startup hingga solusi analisis data dan pipeline Google Cloud, pembelajaran mesin, manajemen API, dan banyak lagi. Photo Credit: drobotdean (Freepik) Rangkaian panduan ini juga akan memberikan insight terhadap data startup Anda. Agar data tersebut tidak sekadar ada, Google juga memberikan pengetahuan mengenai cara mengelola serta mengamankan aplikasi Anda dengan lebih baik. Dengan begitu, Anda pun dapat mempercepat skala bisnis sekaligus memberikan pemahaman yang baik kepada seluruh end user. Episode pertama Build Series membagikan ikhtisar tentang topik tersebut dan menampilkan situs web baru Google Cloud yang memuat berbagai dukungan dan sumber daya untuk startup. Anda juga bisa menemukan handbook yang dapat dipelajari. Video kick-off dari Build Series Technical Guide for Startups bisa Anda tonton di sini. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Keseluruhan panduan teknis di atas bisa Anda akses melalui website Google Cloud Technical Guide for Startups. Sedangkan playlist video telah tersedia untuk umum di channel YouTube Google Cloud Tech. Selain Google Cloud Technical Guide sebenarnya masih ada banyak sekali layanan yang bisa Anda manfaatkan untuk mengembangkan startup. Namun sebelum memulainya, pastikan Anda telah menerapkan komputasi awan Google Cloud untuk perusahaan. Sebab skala yang dibutuhkan oleh perusahaan Anda jelas lebih besar dari skala komputasi awan untuk pemakaian personal. Untuk mulai menerapkan ekosistem cloud dari Google, EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, kami menyediakan produk legal dan bergaransi resmi. Di samping itu, kami juga menyediakan layanan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini

Google Cloud

Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud

Ekspansi masif dari internet dan komputasi awan (cloud), tanpa disadari telah menyebabkan beban kerja WSC (warehouse-scale computing) menjadi sangat tinggi, hingga mendorong pertumbuhan terbesar dalam permintaan komputasi sepanjang sejarah. Hal ini sebenarnya sangat wajar jika mengingat fungsi WSC yang begitu luas, mulai dari pencarian, berkirim email, berbagi video, hingga peta online. Namun tantangan beban kerja WSC ini tentu harus segera ditemukan solusinya. Ini karena beban kerja berbeda dari komputasi lainnya, terutama dalam hal persyaratan yang berhubungan dengan permintaan skalabilitas, elastisitas, dan ketersediaan. Sudah banyak studi dan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebenarnya, ada banyak sekali solusi yang muncul. Namun jika dilihat dari segi penyebab masalah, diketahui bahwa hal ini masih berhubungan dengan beban kerja. Disebutkan, pemeriksaan sistem WSC menjadi sangat lama karena ada banyak sekali beban kerja yang harus dilacak. Google menghadirkan solusi atas permasalahan ini dengan menyediakan layanan pelacakan beban kerja. Bagaimana layanan tersebut bekerja dalam menangani tantangan WSC ini? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini. Mengenal WSC dan beban kerjanya Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa beban kerja WSC pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda dari tolok ukur tradisional serta memerlukan perubahan arsitektur komputer modern untuk mencapai efisiensi yang optimal. Beban kerja Google memiliki jejak data dan instruksi yang melampaui kapasitas cache CPU modern. Itu artinya, CPU akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk menunggu kode dan data. Sayangnya, permasalahan ini tidak dapat diatasi dengan meningkatkan bandwidth memori. Sebab, ada banyak akses yang berada di jalur kritis untuk pemrosesan permintaan aplikasi. Selain itu, banyak yang sering melupakan bahwa mengurangi latensi akses memori juga sama pentingnya dengan meningkatkan bandwidth memori. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Pelacakan beban kerja Google Karakteristik WSC yang unik tersebut membuat mereka yang ada dalam komunitas arsitektur komputer terus mengembangkan teknologi untuk melacak jejak beban kerja WSC. Dengan melacak beban kerja WSC maka mereka pun akan lebih mudah melakukan penelitian arsitektur. Di awal bulan Mei 2022, Google meluncurkan layanan pelacakan beban kerja Google tertentu. Layanan ini akan membantu Anda dalam memahami beban kerja WSC, terutama saat berinteraksi dengan komponen yang mendasarinya. Dengan format open-source, alat pelacakan ini diharapkan dapat mengembangkan solusi baru untuk front-end dan mengatasi hambatan akses data. Teknologi DynamoRIO Photo Credit: Freepik Untuk bisa melacak jejak beban kerja, Google menggunakan DyanamoRIO pada server komputer yang menjalankan beban kerja. Detail mengenai layanan ini dapat Anda akses melalui link berikut: https://dynamorio.org/google_workload_traces.html. Untuk melindungi privasi pengguna, jejak tersebut hanya akan berisi instruksi dan alamat memori. Jejak tersebut berguna untuk memahami beban  kerja WSC dan menyemai pemeriksaan internal pada prosesor front-end, interkoneksi on-die, cache, dan subsistem memori, dan lain-lain (pada dasarnya, semua area yang bisa memengaruhi beban kerja WSC). Misalnya, menggunakan jejak untuk mengembangkan AsmDB. Ke depannya, layanan pelacakan jejak beban kerja Google ini diharapkan dapat membantu komunitas arsitektur komputer untuk mengembangkan ide-ide baru yang meningkatkan kinerja dan efisiensi beban kerja WSC lainnya. Baca juga: Menghubungkan Data SAP Lewat Cloud Data Fusion Dengan Google Cloud Cortex Framework Google sendiri memiliki layanan komputasi mandiri (Google Computing Service). Layanan tersebut masih merupakan bagian dari Google Cloud. Nah, penerapan teknologi pelacakan beban kerja WSC ini akan lebih optimal jika Anda menggunakan Google Cloud. Untuk penggunaan Google Cloud dalam skala besar seperti pada perusahaan atau instansi pendidikan, tentu tidak bisa disamakan dengan penggunaan layanan cloud individu. Tak perlu khawatir, sebab EIKON Technology menyediakan paket subscriptions Google Cloud resmi dan bergaransi. Anda pun bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Jika sudah menemukan paket yang sesuai, bisa langsung memulai implementasi Google Cloud. Kami juga akan mendampingi mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, hubungi kami di sini.

Google Cloud

Masa Depan Data dalam Whitepaper Terbaru Google Cloud, Seperti Apa?

Tak dapat dipungkiri, pendekatan berbasis data yang kini banyak diterapkan oleh perusahaan membuat volume data tumbuh secara eksponensial. Sayangnya, pengguna masih merasa kesulitan dalam mengelola data dan mengekstraksi nilai data, terutama dengan skala. Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Misalnya, akses menuju penyimpanan data, tools yang tidak konsisten, resources dan format data baru yang masih berkembang, masalah kepatuhan (compliance), hingga pertimbangan keamanan. Untuk membantu Anda dalam mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan tersebut, Google Cloud menyusun sebuah whitepaper baru. Kali ini, apa yang menjadi fokus utama? Mari simak penjelasannya berikut! Masa depan data: Terpadu, fleksibel, dan mudah diakses Photo Credit: Rawpixel Dalam whitepaper baru tersebut Google Cloud menitikberatkan pada masa depan data. Digambarkan, data di masa depan akan lebih terpadu, sangat fleksibel, dan mudah diakses. Ini sekaligus menjawab kebutuhan pelanggan layanan Google Cloud yang menginginkan hasil maksimal dari data mereka. Contoh sederhananya, saat Anda perlu menggabungkan data yang berasal dari sistem lama dengan teknologi baru perusahaan. Agar kombinasi tersebut bisa bekerja, apakah Anda harus memindahkan seluruh data tersebut ke cloud? Haruskah data dikumpulkan dalam satu cloud atau justru sebaiknya didistribusikan ke beberapa cloud? Bagaimana Anda mengekstrak nilai sebenarnya dari data tersebut tanpa memunculkan lebih banyak silo? Dalam kasus tersebut, gerak Anda untuk menganalisis data pun akan cenderung terbatas. Mau tak mau, Anda harus melakukan analisis dalam batch alih-alih memprosesnya secara real-time. Hal ni tentu akan menambah kompleksitas arsitektur Anda dan jelas butuh pemeliharaan yang mahal untuk mengatasi latensi. Atau bisa jadi Anda harus menghadapi data tak terstruktur. Perlu diingat bahwa faktor pendorong yang ada sangatlah beragam. Namun kebanyakan terjadi karena akses yang tidak memadai menuju data. Terkadang hal tersebut juga diperburuk oleh silo dan kapabilitas yang tidak memadai untuk memproses dan memahami masalah. Baca juga: Ada yang Baru di Google Cloud EKM, Apa Saja? Manfaatkan aset data secara efektif Photo Credit: pressfoto (Freepik) Rangkaian teknologi modern harusnya terdiri dari rangkaian streaming yang dapat diskalakan dengan data Anda, mampu menyediakan analitik real-time, menggabungkan dan memahami berbagai jenis data, serta memungkinkan Anda menggunakan AI/ML untuk memperoleh insight dan menjalankan proses secara prediktif. Secara garis besar, untuk bisa memanfaatkan data secara efektif,, maka: Seluruh data yang ada di perusahaan harus disatukan. Bahkan data yang ada di seluruh pemasok, mitra, dan platform. Gunanya adalah untuk menghilangkan silo perusahaan dan teknologi. Data tak terstruktur harus dibuka dan dimanfaatkan dalam strategi analitik Anda. Rangkaian teknologi harus terpadu dan cukup fleksibel untuk mendukung kasus penggunaan, mulai dari analisis data offline hingga real-time streaming dan penerapan ML (machine learning). Hal ini harus bisa dilakukan tanpa mempertahankan beberapa rangkaian yang sudah ada sebelumnya. Rangkaian teknologi harus dapat diakses sesuai permintaan, menyediakan dukungan untuk berbagai platform, bahasa pemrograman, alat, dan standar terbuka yang kompatibel dengan keahlian pekerja yang ada. Jika semua persyaratan tersebut terpenuhi maka Anda sudah siap untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Bagi para pemilik bisnis akan memiliki dukungan dalam menghadapi ekspektasi pelanggan yang berubah. Di saat yang bersamaan Anda juga akan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap insinyur dan ilmuwan data perusahaan. Baca juga: 10 Hal yang Harus Diperhatikan sebelum Melakukan Transformasi Digital Berbasis Cloud Demikian ulasan mengenai whitepaper baru dari Google Cloud. Bagi Anda yang ingin mempelajari whitepaper lebih lanjut, bisa mengunduh salinannya di sini. Atau Anda justru belum menggunakan layanan Google Cloud? Google Cloud sendiri merupakan salah satu penyedia layanan komputasi awan besar di dunia. Layanan yang ditawarkan sangat komprehensif sehingga cocok untuk kebutuhan data berskala besar seperti di perusahaan maupun instansi. Untuk mulai berlangganan layanan Google Cloud, silakan hubungi kami dari EIKON Technology, authorized partner yang menyediakan produk-produk resmi Google. Untuk langsung terhubung, silakan klik di sini!

Google Cloud

Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud

Ketika perusahaan perlu mempercepat proses migrasi ke cloud, kebanyakan dari mereka mengalami tantangan migrasi fase tengah dan akhir. Data dari Google Cloud menemukan bahwa 41% dari perusahaan pengguna  menghadapi tantangan tersebut saat mengoptimalkan aplikasi di cloud setelah migrasi. Sedangkan 38% masih harus berjuang dengan masalah kinerja pada workload yang dipindahkan ke cloud. Lebih lanjut, proses migrasi juga membuat perusahaan meningkatkan ketergantungan terhadap konsultan dan penyedia layanan pihak ketiga, terutama pada tahap awal. Beberapa juga masih bergantung pada pihak ketiga hingga manajemen pasca-implementasi. Untuk membantu pelanggan menyelesaikan tantangan tersebut dengan simpel dan cepat, Google Cloud merancang sebuah solusi komprehensif RAMP atau Rapid Assessment & Migration Program (RAMP). Untuk mengetahui bagaimana Google Cloud dan RAMP menyederhanakan proses migrasi ke cloud, mari simak ulasan berikut ini. Perluasan fokus pada TCO/ROI pasca-migrasi Photo Credit: ArthurHidden (Freepik) Sebagai salah satu penyedia komputasi awan, Google Cloud terus berinovasi dalam mengembangkan teknologi migrasi. Sebisa mungkin, pengguna mendapatkan pengalaman migrasi yang mudah dan minim hambatan. Tidak hanya pada proses migrasi, tapi Google Cloud juga memperhatikan tahapan-tahapan pasca-migrasi. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan perusahaan pengguna dapat mengimplementasikan cloud dengang optimal. RAMP sendiri merupakan kerangka kerja holistik berdasarkan analisis TCO dan ROI pelanggan. Teknologi ini diproyeksikan untuk mendukung perjalanan pelanggan dalam mengimplementasikan solusi cloud sepenuhnya, mulai dari menilai lanskap digital mereka di berbagai sumber (termasuk cloud lokal), mengidentifikasi workload target yang diprioritaskan, membangun rencana migrasi yang komprehensif, hingga modernisasi sistem. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Percepat migrasi dengan mitra ahli Google Cloud Pelanggan kini juga dapat menikmati pengalaman migrasi yang lebih efisien melalui ekosistem mitra ahli Google Cloud. Pada bulan April 2022 lalu, Google telah mengumumkan pembaruan untuk program pendanaan mitra dengan paket penilaian dan konsumsi baru. Langkah ini diharapkan dapat menyederhanakan sekaligus mempercepat proses migrasi pelanggan dengan sedikit biaya. Paket-paket tersebut menawarkan jalur preskriptif untuk menunjukkan inisiatif infrastruktur dan modernisasi aplikasi. Dengan begitu, perusahaan mitra pun akan lebih berdaya dalam mendukung pelanggan di setiap tahapan, mulai dari penemuan dan perencanaan hingga migrasi dan modernisasi. Melalui ekosistem mitra ini, nantinya pelanggan Google berkesempatan untuk menerima: Paket pendanaan yang berbeda untuk penilaian, perencanaan, dan migrasi Proses persetujuan yang lebih cepat untuk penerapan yang dipercepat Lebih banyak mitra yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam RAMP dan mengakses paket pendanaan baru ini Mencapai keberlanjutan melalui migrasi Photo Credit: senivpetro (Freepik) Area fokus utama RAMP lainnya adalah untuk membantu perusahaan mengoptimalkan perencanaan migrasi dan memaksimalkan ROI mereka dengan memasukkan pertimbangan bisnis dan teknis mereka di awal proses. Ini juga termasuk tujuan keberlanjutan yang mereka miliki. Untuk membantu upaya keberlanjutan perusahaan pelanggan, Google Cloud menyediakan Digital Sustainability Report yang disertai dengan penilaian IT. Itu artinya, pelanggan dapat menambahkan aspek keberlanjutan pada strategi migrasi mereka. Laporan tersebut akan memberikan insight yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur dan mengurangi dampak lingkungan, Menariknya, laporan ini juga telah mengikuti beberapa praktik terbaik Google Cloud yang telah mencapai carbon neutral selama beberapa dekade terakhir. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Sebagai salah satu raksasa penyedia layanan komputasi awan, Google Cloud terus meluncurkan inovasi baru yang dirancang untuk memudahkan pengalaman pelanggan. Begitu pula dengan teknologi RAMP ini yang diharapkan dapat mempercepat proses migrasi ke cloud. Untuk masalah komputasi awan, Google Cloud memang menyediakan berbagai solusi yang komprehensif. Bahkan solusi yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang baru memulai transformasi digital mereka. Apakah Anda juga sedang mempertimbangkan migrasi ke cloud. EIKON Technology sebagai partner resmi yang ditunjuk oleh Google menyediakan paket berlangganan Google Cloud resmi dan bergaransi. Kami juga siap mendampingi Anda mulai dari perencanaan hingga proses implementasi. Untuk mulai memilih paket Google Cloud Anda, silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud

Meningkatkan keamanan data warehouse merupakan salah satu visi pengembangan Google Cloud. Salah satunya adalah dengan menambahkan pembaruan pada portofolio cetak biru mereka, Secure Data Warehouse Blueprint.   Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan kemampuan cloud untuk menganalisis data sensitif mereka. Namun, sayangnya mereka masih harus menginvestasikan banyak waktu untuk melindungi data sensitif yang tersimpan di dalam data warehouse mereka. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Google Cloud baru saja merancang Secure Data Warehouse Blueprint yang baru. Apa itu Secure Data Warehouse Blueprint? Secure Data Warehouse Blueprint menerapkan praktik keamanan terbaik untuk membantu melindungi data dan mempercepat adopsi solusi Anda. Arsitektur yang diterapkan blueprint ini tidak hanya mencakup siklus hidup data, tapi juga menggabungkan postur tata kelola dan keamanan seperti yang terlihat dalam diagram berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen-komponen dalam Secure Data Warehouse Blueprint Secure Data Warehouse Blueprint terdiri dari beberapa komponen, di antaranya: Area pendaratan untuk menyerap data batch atau streaming. Komponen data warehouse, menangani penyimpanan dan de-identifikasi data, yang nantinya dapat diidentifikasi kembali melalui proses terpisah. Komponen klasifikasi dan tata kelola data mengelola kunci enkripsi, template de-identifikasi, dan taksonomi klasifikasi data. Komponen keamanan membantu dalam deteksi, pemantauan, dan respons. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Memanfaatkan Secure Data Warehouse Blueprint untuk mempercepat analisis bisnis Blueprint ini menyediakan teknik infrastructure as code (IaC) seperti mengkodifikasi infrastruktur dan mendeklarasikan lingkungan Anda sehingga tim IT dapat menganalisis kontrol dan membandingkannya dengan persyaratan perusahaan Anda untuk membuat, menerapkan, dan mengoperasikan data warehouse. Teknik IaC juga dapat membantu menyederhanakan tinjauan peraturan dan kepatuhan yang dilakukan perusahaan Anda. Blueprint ini mendukung fleksibilitas. Anda dapat memulai inisiatif baru atau mengkonfigurasinya untuk diterapkan ke lingkungan yang ada. Katakanlah Anda memilih untuk menggunakan jaringan dan modul logging cetak biru yang ada. Anda masih bisa menyimpan konfigurasi jaringan yang ada dan membandingkannya dengan rekomendasi blueprint untuk menyempurnakan lingkungan data warehouse Anda. Melindungi data dengan pengaturan keamanan berlapis Dengan menggunakan blueprint ini, Anda dapat menunjukkan kepada tim keamanan, risiko, dan kepatuhan kontrol keamanan mana yang diterapkan di lingkungan data warehouse. Diagram berikut menunjukkan tidak hanya layanan yang digunakan dalam arsitektur, tetapi juga bagaimana layanan bekerja sama untuk membantu melindungi data Anda. Kontrol Layanan VPC membuat batasan untuk mengelompokkan layanan berdasarkan masalah fungsional. Jembatan perimeter didefinisikan untuk memungkinkan komunikasi dan untuk memantau antara perimeter Photo Credit: Google Cloud Blog Perimeter tata kelola data mengontrol kunci enkripsi yang disimpan di Cloud HSM, template de-identifikasi yang digunakan oleh Cloud DLP, dan taksonomi klasifikasi data yang ditentukan dalam Data Catalog. Perimeter ini juga berfungsi sebagai lokasi pusat untuk audit logging dan monitoring. Perimeter penyerapan data menggunakan Dataflow untuk mengidentifikasi data Anda berdasarkan template de-identifikasi dan menyimpan data di BigQuery. Perimeter data rahasia mencakup kasus ketika data sensitif butuh diidentifikasi ulang. Pipeline Dataflow terpisah dibuat untuk mengirim data ke dataset BigQuery yang terisolasi pada proyek berbeda. Photo Credit: Piqsels Anda dapat menggunakan layanan tambahan dari blueprint Security Foundations. Blueprint tersebut menggunakan kontrol keamanan bawaan seperti Security Command Center, Cloud Logging, dan Cloud Monitoring. Bagian pencatatan dan pemantauannya menjelaskan bagaimana Security Command Center membantu kebutuhan deteksi ancaman Anda. Di samping itu, ada Security Health Analytics, sebuah layanan bawaan dari Security Command Center yang memantau setiap proyek agar tidak terjadi kesalahan konfigurasi. Log audit dikonfigurasi secara terpusat dengan CMEK untuk membantu pemantauan akses. Keamanan data warehouse Anda akan lebih teruji jika mendapatkan validasi dan perspektif dari luar. Untuk itu, Google Cybersecurity Action Team dan tim keamanan pihak ketiga telah meninjau kontrol serta postur keamanan yang ditetapkan oleh blueprint ini. Anda bisa mempelajari detailnya di sini. Tinjauan eksternal ini akan membantu Anda memahami bahwa penerapan praktik keamanan yang baik akan melindungi data, bahkan yang paling sensitif sekalipun. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Selain Secure Data Warehouse Blueprint yang dibahas dalam artikel ini, Google Cloud juga menawarkan beragam layanan dan solusi untuk meningkatkan keamanan data Anda. Bagi Anda yang belum berlangganan solusi Google Cloud, tidak perlu khawatir. EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Silakan klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program

Baru-baru ini, Google memperkenalkan sebuah layanan migrasi data bernama Database Migration Program. Layanan ini menawarkan sebuah pendekatan baru untuk memigrasikan database open source maupun kepemilikan yang ada ke layanan database terkelola Google Cloud. Dengan Database Migration Program, Anda akan mendapatkan akses menuju penilaian, peralatan, praktik terbaik, dan sumber daya dari jaringan mitra teknologi basis data khusus dari Google. Program ini juga menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database ke Google Cloud dengan cepat dan hemat biaya. Kemudahan yang ditawarkan penyimpanan cloud Selama beberapa tahun terakhir, sudah banyak perusahaan yang menyadari manfaat cloud dalam perjalanan modernisasi aplikasi mereka. Cloud membantu mereka menjadi lebih efisien, terukur, gesit, dan inovatif. Selain itu, database cloud terkelola biasanya menghasilkan biaya kepemilikan yang lebih rendah secara keseluruhan. Namun, banyak perusahaan terus mengelola database sendiri di cloud instances atau membiarkan database on premise, bahkan saat aplikasi berjalan di cloud. Alasan utamanya adalah kompleksitas migrasi database. Database adalah inti dari operasi sehari-hari setiap perusahaan, membuatnya lebih sulit untuk dipindahkan. Selain itu, migrasi bisa mahal, memakan waktu, dan berisiko. Baca juga: 3 Alasan Mengapa Anda Harus Menambahkan Cloud sebagai Data Strategy Database Migration Program sebagai solusi migrasi data Photo Credit: jcomp (Freepik) Database Migration Program dari Google Cloud ini berupaya mengatasi kerumitan proses tersebut dengan memberikan panduan dan dukungan komprehensif. Penilaian dari Google akan membantu Anda memahami jejak armada database, dependensi dan arsitekturnya. Google Cloud juga terhubung dengan mitra khusus yang dapat membantu lewat keahlian mereka mengenai tools dan resource untuk memindahkan data tanpa mengganggu bisnis Anda. Selain itu, Google Cloud menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database dengan cepat dan hemat biaya. Tiga langkah untuk migrasi data yang sukses Database Migration Program memandu Anda mulai dari tahap penilaian dan perencanaan awal hingga proses migrasi itu sendiri. Tentunya dengan bantuan ahli dari mitra database yang telah memenuhi persyaratan. Berikut cara Google Cloud membantu di setiap tahap perjalanan migrasi database melalui Database Migration Program: Menilai: Pada tahap ini dilakukan penilaian database untuk menemukan dan menganalisis database dan aplikasi yang Anda miliki. Agar proses berjalan lancar, manfaatkan tool dan resources khusus yang telah disediakan. Jangan lupa, Google juga telah terhubung dengan pakar database yang siap memberikan panduan berdasarkan kebutuhan dan persyaratan khusus Anda. Rencanakan: Database Migration Program terhubung dengan mitra database khusus Google Cloud yang dapat membantu Anda membuat rencana migrasi, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan resources dan perkiraan biaya.  Layanan ini juga dapat membantu mengidentifikasi beban kerja yang tepat untuk memulai migrasi Anda. Jalankan: Database Migration Program menyediakan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi sebagian biaya migrasi Anda dengan membantu membayar mitra teknologi spesialis yang melakukan migrasi database. Tidak perlu memindahkan semuanya sekaligus, Anda bisa mulai dengan memindahkan satu departemen atau database pada satu waktu dan menggunakan program lagi sebanyak yang Anda butuhkan. Photo Credit: tirachardz (Freepik) Baca juga: Alur Sederhana untuk Merencanakan Migrasi Cloud Google Cloud terus berupaya untuk menghadirkan solusi dan layanan yang memudahkan Anda dalam mengoptimalkan penggunaan cloud. Hadirnya Database Migration Program dapat dimanfaatkan untuk menyederhanakan migrasi data, suatu proses yang selama ini dianggap sangat kompleks dan membutuhkan waktu lama. Agar tidak ketinggalan berbagai kemudahan tersebut, segera gunakan Google Cloud sebagai solusi penyimpanan database Anda. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda menyediakan produk Google Cloud resmi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Scroll to Top