perangkat Chrome

Chromebook, Collaboration, Security

Pencegahan Ransomware pada Bisnis dengan Chrome OS

  Sistem kerja hybrid, atau hybrid working, semakin banyak diterapkan oleh perusahaan di berbagai belahan dunia. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sistem kerja yang terdistribusi seperti itu menciptakan celah bagi oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan serangan siber. Menurut Harvard Business Review, serangan ransomware mengalami peningkatan hingga 150% sepanjang 2020 lalu. Hal ini tentu sangat meresahkan mengingai ransomware dapat mengenkripsi data Anda, membuat Anda dan tim jadi tidak bisa mengaksesnya. Sudah banyak perusahaan yang menjadi korban ransomware dan harus membayar banyak uang untuk mendekripsi data mereka. Itulah kenapa dibutuhkan perlindungan lebih untuk pencegahan ransomware. Selama menggunakan Chrome OS, Anda tak perlu khawatir karena platform berbasis cloud satu ini secara default telah dibekali dengan proteksi khusus terhadap ransomware. Google Safe Browsing Photo Credit: Christian Wiediger (Unsplash) Pada perangkat Chrome OS, browser bawaan yang disematkan adalah Google Chrome. Melalui Google Chrome inilah biasanya para pengguna mengunjungi berbagai situs web untuk mencari informasi atau melakukan keperluan lain. Sebagai salah satu langkah pencegahan ransomware, Google Chrome telah dilengkapi dengan fitur Google Safe Browsing. Jika pengguna akan mengunjungi situs web atau mengunduh file yang dianggap berbahaya, maka Google Safe Browsing akan langsung memberi peringatan agar Anda terhindar dari risiko ransomware. Sistem update secara otomatis Photo Credit: Anna Auza (Unsplash) Sistem keamanan yang up-to-date menjadi salah satu kunci penting untuk pencegahan ransomware pada bisnis Anda. Lalu, apakah ini artinya Anda harus selalu melakukan update secara manual? Tenang saja, selama menggunakan perangkat Chrome OS, Anda tak perlu khawatir karena sistem operasi rutin melakukan update secara otomatis, termasuk update sistem keamanan. Kabar baiknya lagi, proses update ini selalu berjalan pada background sehingga tak akan mengganggu aktivitas. Data ter-back up secara otomatis ke cloud Photo Credit: Charles Deluvio (Unsplash) Chrome OS merupakan platform yang mengutamakan cloud. Artinya, hanya ada sedikit data pada perangkat yang rentan terhadap ancaman ransomware. Ini karena seluruh data pengguna Anda ter-back up secara otomatis pada sistem cloud. Sementara itu, data-data pekerjaan akan di-back up di layanan penyimpanan cloud seperti Google Drive. Jika seandainya sistem keamanan Chrome OS dijebol oleh ransomware, yang mana sangat jarang terjadi, data dan file Anda di cloud akan tetap aman dan Anda bisa segera mengambil tindakan pemulihan. Pemblokiran executable file Photo Credit: Crew (Unsplash) Executable file adalah file yang dapat dieksekusi (executable). Maksudnya, file tersebut berisi sebuah program yang dapat dijalankan sesuai perintah. Umumnya, executable file diakhiri dengan ekstensi .exe. Nah, ransomware kerap bersembunyi di dalam executable file sehingga ketika dijalankan, file tersebut akan merusak data Anda. Sebagai langkah pencegahan ransomware, Chrome OS memblokir aplikasi-aplikasi berbahaya agar tidak bisa dijalankan pada perangkat Anda. Chrome OS hanya akan menjalankan aplikasi dari Google Play Store yang telah dilengkapi dengan sistem Google Play Protect untuk memindai adanya ancaman malware. OS bersifat read-only, sulit untuk diintervensi Photo Credit: Deepanker Verma (Pexels) Kekhawatiran lain yang kerap muncul terkait ransomware adalah adanya intervensi terhadap sistem operasi pada perangkat itu sendiri; dalam hal ini, Chrome OS. Kabar baiknya, Chrome OS merupakan sistem operasi yang bersifat read-only. Artinya, file sistem pada Chrome OS disimpan di partisi terpisah. Tujuannya agar sistem operasi tidak bisa dimodifikasi oleh aplikasi atau extension apa pun sehingga akan cenderung lebih sulit untuk “disentuh” oleh ancaman ransomware.   Berkat berbagai teknologi pencegahan ransomware pada Chrome OS, hingga kini tidak ada satu pun laporan terkait serangan ransomware yang dialami oleh para pengguna perangkat Chrome OS. Maka dari itu, agar bisnis Anda lebih terlindungi dari ransomware, segera beralih ke perangkat Chrome OS seperti Chromebook. Chromebook tersedia dalam beragam produk dan spesifikasi sehingga dapat Anda pilih sesuai kebutuhan bisnis. Jika bingung menentukan pilihan, langsung saja hubungi EIKON Technology selaku partner resmi produk Google di Indonesia. Tim EIKON Technology akan menjawab segala pertanyaan Anda seputar Chromebooks!

Chromebook, Productivity, Security

5 Langkah Mengatur Chrome Device Management untuk Pertama Kali

  Perangkat Chrome, atau disebut juga dengan Chromebook, menawarkan banyak keuntungan untuk para penggunanya. Sejak awal, Chromebook dirancang dengan software update otomatis, perlindungan maksimal terhadap virus, pencegahan kerusakan sistem, hingga sistem proteksi keamanan data. Dengan begitu, Anda sebagai pengguna pun bisa lebih fokus mengerjakan hal-hal produktif. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak perusahaan mulai beralih ke Chromebook untuk menunjang pekerjaan sehari-hari. Nah, agar nantinya Anda bisa menggunakan Chromebook secara lancar, diperlukan pengaturan khusus yang dinamakan Chrome Device Management. Berikut ini langkah-langkah melakukan pengaturan Chrome Device Management pada perangkat Chromebook yang baru.   Dapatkan lisensi perangkat Google Chrome   Photo Credit: PhotoMIX Company (Pexels) Menurut kebijakan lisensi Google, Anda diwajibkan memiliki satu lisensi untuk setiap perangkat Chrome yang akan digunakan di perusahaan. Tersedia dua jenis lisensi yang bisa Anda pilih. Yaitu lisensi standar Chrome Device Management dan lisensi untuk single app kiosk. Anda bisa mendapatkannya secara online atau menghubungi tim Google. Lisensi standar memberikan Anda akses menyeluruh ke semua pengaturan dan kebijakan yang digunakan di perusahaan Anda. Bahkan waktu perpanjangan lisensi pun bisa Anda tentukan sendiri, baik yang bersifat tahunan hingga seumur hidup. Sementara itu, lisensi single app kiosk memungkinkan manajer atau administrator untuk mengakses seluruh pengaturan dan kebijakan untuk perangkat-perangkat Chrome yang dijalankan sebagai kiosk. Contoh dari perangkat Chrome bersifat kiosk adalah mesin register POS di toko retail atau perangkat registrasi di resepsionis hotel.   Segera daftarkan perangkat Chrome   Photo Credit: Nathan Dumlao (Unsplash) Setelah mendapatkan lisensi, Anda perlu mendaftarkan seluruh perangkat Chrome pada konsol Chrome Admin. Penting untuk diingat bahwa pendaftaran perangkat ini harus dilakukan sebelum pengguna melakukan sign in pada Chromebook. Hanya dengan beginilah perangkat-perangkat tersebut dapat menjalankan aturan atau kebijakan penggunaan yang telah ditetapkan pihak admin. Sebaliknya, jika ada pengguna yang sign in perangkat sebelum pendaftaran, maka aturan pemakaian yang ditetapkan admin tak akan berlaku pada perangkat tersebut. Tenang saja, cara mendaftarkan perangkat Chrome tidaklah sulit. Pada konsol Chrome Admin, ketik Ctrl+Alt+E untuk masuk ke halaman pendaftaran. Anda akan diminta memasukkan username dan password yang Anda terima pada surat penyambutan (welcome letter) Google Admin. Setelahnya, Anda akan dipandu hingga proses pendaftaran perangkat selesai.   Mengatur setelan pengguna dan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Begitu semua perangkat telah terdaftar pada konsol Google Admin, kini saatnya mengatur setelan pengguna (user settings) dan perangkat Chrome. Perlu diingat bahwa user settings tidak dapat dikonfigurasi untuk perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.  Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan pada halaman user settings, mulai dari memblokir aplikasi atau extensions tertentu, mengonfigurasi sistem single sign-on pada seluruh perangkat Chrome, hingga membuat koleksi aplikasi Chrome di Chrome Web Store untuk para pengguna.   Kelola pengaturan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) User settings yang telah Anda buat sebelumnya akan berlaku untuk seluruh pengguna perangkat Chrome, bahkan jika pengguna tersebut merupakan pengguna tamu (guest user) atau melakukan log in menggunakan akun Google pribadi mereka. Namun, ingat, ada beberapa pengaturan yang tidak tersedia bagi pengguna perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.   Buat unit organisasi   Photo Credit: Anete Lusina (Unsplash) Setelah proses pendaftaran dan user settings berhasil dilakukan, kini saatnya membuat unit organisasi. Tujuannya adalah mengumpulkan sejumlah perangkat Chrome tertentu agar bisa diterapkan konfigurasi yang sama. Jangan khawatir, caranya sangat mudah. Pada konsol Chrome Admin, masuklah ke Chrome Device Management, lalu pilih opsi Chrome Devices. Nantinya Anda akan menemukan informasi berisi perangkat-perangkat Chrome yang beroperasi menggunakan domain Anda. Jadi, bukan hanya pemakaian Chromebook yang begitu mudah dan praktis, tapi juga pengaturan Chrome Device Management saat pertama kali Anda hendak menggunakan perangkat tersebut. Buktikan sendiri dengan segera beralih ke Chromebook! Anda bisa mendapatkan perangkat Chrome untuk kebutuhan perusahaan dengan menghubungi partner resmi produk Google, EIKON Technology. Bahkan untuk membantu kelancaran pengaturan Chrome Device Management nanti, tim EIKON Technology juga dapat membantu Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!  

Scroll to Top