Security

Chromebook, Collaboration, Security

Pencegahan Ransomware pada Bisnis dengan Chrome OS

  Sistem kerja hybrid, atau hybrid working, semakin banyak diterapkan oleh perusahaan di berbagai belahan dunia. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sistem kerja yang terdistribusi seperti itu menciptakan celah bagi oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan serangan siber. Menurut Harvard Business Review, serangan ransomware mengalami peningkatan hingga 150% sepanjang 2020 lalu. Hal ini tentu sangat meresahkan mengingai ransomware dapat mengenkripsi data Anda, membuat Anda dan tim jadi tidak bisa mengaksesnya. Sudah banyak perusahaan yang menjadi korban ransomware dan harus membayar banyak uang untuk mendekripsi data mereka. Itulah kenapa dibutuhkan perlindungan lebih untuk pencegahan ransomware. Selama menggunakan Chrome OS, Anda tak perlu khawatir karena platform berbasis cloud satu ini secara default telah dibekali dengan proteksi khusus terhadap ransomware. Google Safe Browsing Photo Credit: Christian Wiediger (Unsplash) Pada perangkat Chrome OS, browser bawaan yang disematkan adalah Google Chrome. Melalui Google Chrome inilah biasanya para pengguna mengunjungi berbagai situs web untuk mencari informasi atau melakukan keperluan lain. Sebagai salah satu langkah pencegahan ransomware, Google Chrome telah dilengkapi dengan fitur Google Safe Browsing. Jika pengguna akan mengunjungi situs web atau mengunduh file yang dianggap berbahaya, maka Google Safe Browsing akan langsung memberi peringatan agar Anda terhindar dari risiko ransomware. Sistem update secara otomatis Photo Credit: Anna Auza (Unsplash) Sistem keamanan yang up-to-date menjadi salah satu kunci penting untuk pencegahan ransomware pada bisnis Anda. Lalu, apakah ini artinya Anda harus selalu melakukan update secara manual? Tenang saja, selama menggunakan perangkat Chrome OS, Anda tak perlu khawatir karena sistem operasi rutin melakukan update secara otomatis, termasuk update sistem keamanan. Kabar baiknya lagi, proses update ini selalu berjalan pada background sehingga tak akan mengganggu aktivitas. Data ter-back up secara otomatis ke cloud Photo Credit: Charles Deluvio (Unsplash) Chrome OS merupakan platform yang mengutamakan cloud. Artinya, hanya ada sedikit data pada perangkat yang rentan terhadap ancaman ransomware. Ini karena seluruh data pengguna Anda ter-back up secara otomatis pada sistem cloud. Sementara itu, data-data pekerjaan akan di-back up di layanan penyimpanan cloud seperti Google Drive. Jika seandainya sistem keamanan Chrome OS dijebol oleh ransomware, yang mana sangat jarang terjadi, data dan file Anda di cloud akan tetap aman dan Anda bisa segera mengambil tindakan pemulihan. Pemblokiran executable file Photo Credit: Crew (Unsplash) Executable file adalah file yang dapat dieksekusi (executable). Maksudnya, file tersebut berisi sebuah program yang dapat dijalankan sesuai perintah. Umumnya, executable file diakhiri dengan ekstensi .exe. Nah, ransomware kerap bersembunyi di dalam executable file sehingga ketika dijalankan, file tersebut akan merusak data Anda. Sebagai langkah pencegahan ransomware, Chrome OS memblokir aplikasi-aplikasi berbahaya agar tidak bisa dijalankan pada perangkat Anda. Chrome OS hanya akan menjalankan aplikasi dari Google Play Store yang telah dilengkapi dengan sistem Google Play Protect untuk memindai adanya ancaman malware. OS bersifat read-only, sulit untuk diintervensi Photo Credit: Deepanker Verma (Pexels) Kekhawatiran lain yang kerap muncul terkait ransomware adalah adanya intervensi terhadap sistem operasi pada perangkat itu sendiri; dalam hal ini, Chrome OS. Kabar baiknya, Chrome OS merupakan sistem operasi yang bersifat read-only. Artinya, file sistem pada Chrome OS disimpan di partisi terpisah. Tujuannya agar sistem operasi tidak bisa dimodifikasi oleh aplikasi atau extension apa pun sehingga akan cenderung lebih sulit untuk “disentuh” oleh ancaman ransomware.   Berkat berbagai teknologi pencegahan ransomware pada Chrome OS, hingga kini tidak ada satu pun laporan terkait serangan ransomware yang dialami oleh para pengguna perangkat Chrome OS. Maka dari itu, agar bisnis Anda lebih terlindungi dari ransomware, segera beralih ke perangkat Chrome OS seperti Chromebook. Chromebook tersedia dalam beragam produk dan spesifikasi sehingga dapat Anda pilih sesuai kebutuhan bisnis. Jika bingung menentukan pilihan, langsung saja hubungi EIKON Technology selaku partner resmi produk Google di Indonesia. Tim EIKON Technology akan menjawab segala pertanyaan Anda seputar Chromebooks!

Chromebook, Productivity, Security

5 Langkah Mengatur Chrome Device Management untuk Pertama Kali

  Perangkat Chrome, atau disebut juga dengan Chromebook, menawarkan banyak keuntungan untuk para penggunanya. Sejak awal, Chromebook dirancang dengan software update otomatis, perlindungan maksimal terhadap virus, pencegahan kerusakan sistem, hingga sistem proteksi keamanan data. Dengan begitu, Anda sebagai pengguna pun bisa lebih fokus mengerjakan hal-hal produktif. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak perusahaan mulai beralih ke Chromebook untuk menunjang pekerjaan sehari-hari. Nah, agar nantinya Anda bisa menggunakan Chromebook secara lancar, diperlukan pengaturan khusus yang dinamakan Chrome Device Management. Berikut ini langkah-langkah melakukan pengaturan Chrome Device Management pada perangkat Chromebook yang baru.   Dapatkan lisensi perangkat Google Chrome   Photo Credit: PhotoMIX Company (Pexels) Menurut kebijakan lisensi Google, Anda diwajibkan memiliki satu lisensi untuk setiap perangkat Chrome yang akan digunakan di perusahaan. Tersedia dua jenis lisensi yang bisa Anda pilih. Yaitu lisensi standar Chrome Device Management dan lisensi untuk single app kiosk. Anda bisa mendapatkannya secara online atau menghubungi tim Google. Lisensi standar memberikan Anda akses menyeluruh ke semua pengaturan dan kebijakan yang digunakan di perusahaan Anda. Bahkan waktu perpanjangan lisensi pun bisa Anda tentukan sendiri, baik yang bersifat tahunan hingga seumur hidup. Sementara itu, lisensi single app kiosk memungkinkan manajer atau administrator untuk mengakses seluruh pengaturan dan kebijakan untuk perangkat-perangkat Chrome yang dijalankan sebagai kiosk. Contoh dari perangkat Chrome bersifat kiosk adalah mesin register POS di toko retail atau perangkat registrasi di resepsionis hotel.   Segera daftarkan perangkat Chrome   Photo Credit: Nathan Dumlao (Unsplash) Setelah mendapatkan lisensi, Anda perlu mendaftarkan seluruh perangkat Chrome pada konsol Chrome Admin. Penting untuk diingat bahwa pendaftaran perangkat ini harus dilakukan sebelum pengguna melakukan sign in pada Chromebook. Hanya dengan beginilah perangkat-perangkat tersebut dapat menjalankan aturan atau kebijakan penggunaan yang telah ditetapkan pihak admin. Sebaliknya, jika ada pengguna yang sign in perangkat sebelum pendaftaran, maka aturan pemakaian yang ditetapkan admin tak akan berlaku pada perangkat tersebut. Tenang saja, cara mendaftarkan perangkat Chrome tidaklah sulit. Pada konsol Chrome Admin, ketik Ctrl+Alt+E untuk masuk ke halaman pendaftaran. Anda akan diminta memasukkan username dan password yang Anda terima pada surat penyambutan (welcome letter) Google Admin. Setelahnya, Anda akan dipandu hingga proses pendaftaran perangkat selesai.   Mengatur setelan pengguna dan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Begitu semua perangkat telah terdaftar pada konsol Google Admin, kini saatnya mengatur setelan pengguna (user settings) dan perangkat Chrome. Perlu diingat bahwa user settings tidak dapat dikonfigurasi untuk perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.  Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan pada halaman user settings, mulai dari memblokir aplikasi atau extensions tertentu, mengonfigurasi sistem single sign-on pada seluruh perangkat Chrome, hingga membuat koleksi aplikasi Chrome di Chrome Web Store untuk para pengguna.   Kelola pengaturan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) User settings yang telah Anda buat sebelumnya akan berlaku untuk seluruh pengguna perangkat Chrome, bahkan jika pengguna tersebut merupakan pengguna tamu (guest user) atau melakukan log in menggunakan akun Google pribadi mereka. Namun, ingat, ada beberapa pengaturan yang tidak tersedia bagi pengguna perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.   Buat unit organisasi   Photo Credit: Anete Lusina (Unsplash) Setelah proses pendaftaran dan user settings berhasil dilakukan, kini saatnya membuat unit organisasi. Tujuannya adalah mengumpulkan sejumlah perangkat Chrome tertentu agar bisa diterapkan konfigurasi yang sama. Jangan khawatir, caranya sangat mudah. Pada konsol Chrome Admin, masuklah ke Chrome Device Management, lalu pilih opsi Chrome Devices. Nantinya Anda akan menemukan informasi berisi perangkat-perangkat Chrome yang beroperasi menggunakan domain Anda. Jadi, bukan hanya pemakaian Chromebook yang begitu mudah dan praktis, tapi juga pengaturan Chrome Device Management saat pertama kali Anda hendak menggunakan perangkat tersebut. Buktikan sendiri dengan segera beralih ke Chromebook! Anda bisa mendapatkan perangkat Chrome untuk kebutuhan perusahaan dengan menghubungi partner resmi produk Google, EIKON Technology. Bahkan untuk membantu kelancaran pengaturan Chrome Device Management nanti, tim EIKON Technology juga dapat membantu Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!  

Chromebook, Security

5 Cara Google Melindungi Privasi dan Keamanan Chrome Anda

  Menjaga keamanan pengguna di ranah online merupakan salah satu prioritas utama Google. Terlebih, ada miliaran orang di dunia yang menggunakan produk browser andalan Google, Chrome, untuk mengakses web. Berbagai cara pun diterapkan untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome agar Anda dapat browsing tanpa rasa khawatir. Berikut beberapa di antaranya.   Proteksi terhadap password    Photo Credit: Dan Nelson (Unsplash) Sebagai pengguna aktif internet, kemungkinan besar Anda memiliki banyak akun di berbagai website. Demi alasan keamanan, tiap website pun mempunyai password berbeda untuk sign in. Dengan banyaknya password yang harus diingat, tentu hal tersebut cukup menyulitkan. Untungnya, Anda tak perlu melakukan hal tersebut karena telah hadir Password Manager yang dapat menyimpan password akun-akun online Anda secara aman. Tak hanya itu, tersedia pula fitur Password Checkup yang akan memberi notifikasi apabila ternyata ada password yang berpotensi mudah diretas.   Fitur Safe Browsing untuk mencegah risiko kejahatan siber   Photo Credit: Vlada Karpovich (Pexels) Bentuk perlindungan privasi dan keamanan Chrome tidak hanya diberikan pada informasi password akun online Anda, tapi juga untuk aktivitas browsing secara keseluruhan. Tahukah Anda bahwa Chrome dilengkapi dengan fitur bernama Safe Browsing? Jika Anda hendak membuka atau mengunjungi website yang berpotensi mengandung virus atau bahaya lain, fitur Safe Browsing inilah yang akan memperingatkan Anda, begitu juga saat Anda mengunduh file mencurigakan dari internet. Dengan begini, risiko kejahatan siber seperti malware dan phising pun dapat diminimalisir. Kontrol sendiri iklan yang mau Anda lihat     Photo Credit: Pixabay (Pexels) Saat sedang browsing, kemungkinan besar Anda pernah melihat iklan online yang ditampilkan pada beberapa website tertentu. Apabila Anda merasa heran kenapa iklan tersebut ditampilkan kepada Anda, maka Anda bisa klik opsi Why This Ad yang tertera pada iklan tersebut. Lalu, jika Anda tidak suka dengan iklan tertentu karena dianggap tidak cocok atau relevan, Anda juga bisa memblokirnya dengan menggunakan fitur Mute This Ad. Fitur-fitur menjadi langkah untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome Anda melalui kontrol terhadap iklan. Google ingin memberikan transparansi sejelas mungkin terkait pemasangan iklan, bahwa mereka tidak menjual informasi personal Anda kepada pengiklan maupun pihak mana pun.   Bisa menghapus data secara otomatis   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Saat Anda browsing melalui Chrome, berbagai data pun akan disimpan, mulai dari aktivitas penggunaan web, riwayat lokasi, hingga riwayat pencarian YouTube. Sebagai bentuk perlindungan privasi dan keamanan Chrome, Google telah menyediakan fitur khusus untuk menghapus data-data tersebut secara otomatis. Dinamakan Auto-delete, fitur ini mampu menghapus berbagai data riwayat yang tersimpan di Chrome secara otomatis setelah 3-18 bulan. Di samping itu, Anda juga bisa mengontrol data apa saja yang disimpan akun Google Anda melalui fitur kontrol on/off pada Google Account.   Tingkatkan privasi dengan mode Incognito   Photo Credit: Canva Studio (Pexels) Sejak diluncurkan bersama Chrome pada 2008, mode Incognito menjadi salah satu fitur kontrol privasi yang paling populer digunakan. Saat mode Incognito diaktifkan, riwayat aktivitas browsing Anda pada Chrome tidak akan tersimpan pada Google Account Anda. Melihat popularitas mode Incognito yang cukup tinggi, sejak 2019 lalu pun Google menambahkan mode tersebut pada Google Maps dan YouTube. Untuk mengaktifkan mode ini, Anda hanya perlu masuk ke Google Account dengan tap foto profil di bagian kanan atas laman Chrome. Apa pun aktivitas online yang Anda lakukan melalui Chrome, sudah menjadi kewajiban Google untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome Anda. Apabila ingin mendapatkan proteksi yang lebih maksimal, disarankan untuk mengakses Chrome menggunakan Chromebook, perangkat laptop bersistem Chrome OS. Sistem ChromeOS memiliki fitur update otomatis, termasuk pada fitur-fitur privasi dan keamanan yang ada dalam Chrome. Alhasil, sistem privasi dan keamanan Chrome Anda pun akan selalu up-to-date. Karenanya, jangan tunda lagi dan segera dapatkan perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk cari tahu lebih lanjut seputar Chromebook atau tanyakan langsung kepada tim EIKON Technology!  

Chromebook, Security

BeyondCorp Enterprise, Pengembangan Prinsip Zero Trust pada Google Chrome

  Sejak pertama kali dirilis pada 2008, Google Chrome selalu berkomitmen untuk terus meningkatkan sistem keamanan web. Berbagai fitur, inovasi, dan inisiatif pun dilakukan demi memberikan pengalaman web browsing dengan keamanan optimal bagi para pengguna. Sebagai salah satu upaya untuk terus menciptakan web browser yang aman, Google Chrome bekerja sama dengan tim Google Cloud Security menjalankan suatu inisiatif baru. Inisiatif ini dinamakan BeyondCorp Enterprise, yang dikembangkan berdasarkan prinsip zero trust. Melalui adanya BeyondCorp Enterprise, kini Google Chrome mampu memberikan proteksi keamanan yang lebih baik dan bersifat real-time tanpa perangkat lunak (software) tambahan. Proteksi dalam bentuk apa saja yang disediakan oleh BeyondCorp Enterprise? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini! Dikembangkan berdasarkan prinsip zero trust Photo Credit: Jefferson Santos (Unsplash) Seperti disebutkan sebelumnya, pengembangan BeyondCorp Enterprise dilakukan berdasarkan prinsip zero trust. Konsep utama di balik prinsip ini adalah tidak ada jaringan web yang bisa dipercaya secara default sehingga aksesnya harus selalu diamankan dan diautorisasi. Melalui pemasangan pada Chrome, BeyondCorp Enterprise dapat memberikan solusi bersifat zero trust untuk melindungi data Anda, proteksi lebih baik secara real-time dari berbagai ancaman, sekaligus menyediakan informasi penting tentang perangkat untuk membantu Anda menentukan apakah perangkat tersebut berhak mendapatkan akses web.  Berbagai kelebihan tersebut sudah langsung terpasang pada Chrome. Artinya, Anda tak perlu mengunduh software tambahan apa pun untuk bisa mendapatkan perlindungan lebih dari BeyondCorp Enterprise. Lebih baik dalam mencegah kebocoran data dan kejahatan siber Photo Credit: Google Peningkatan keamanan web menjadi fokus utama BeyondCorp Enterprise. Mengusung prinsip zero trust, BeyondCorp Enterprise mampu meningkatkan performa Chrome dalam mencegah risiko kebocoran data di web, khususnya untuk data-data yang bersifat sensitif. Tim IT perusahaan kini dapat menerapkan aturan khusus untuk menentukan tipe data apa saja yang bisa diunggah dan diunduh. Dengan begini, karyawan perusahaan pun tidak akan asal mengunggah maupun mengunduh data yang bisa saja berbahaya untuk keamanan perusahaan. Tak hanya itu, BeyondCorp Enterprise juga menunjang pencegahan potensi kejahatan siber seperti malware dan phishing. Adanya prinsip zero trust memungkinkan BeyondCorp Enterprise untuk mengecek URL secara real-time dan melakukan pemindaian mendalam terhadap file untuk melacak adanya malware. Peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman risiko Photo Credit: Google Di samping mengoptimalkan proteksi keamanan terhadap jaringan web pada Chrome, BeyondCorp Enterprise juga dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman risiko kejahatan siber. Melalui BeyondCorp Enterprise berbasis prinsip zero-trust, kini perusahaan atau organisasi akan mendapatkan lebih banyak informasi mendalam seputar adanya potensi ancaman atau aktivitas online yang mencurigakan. Informasi tersebut dapat diakses melalui laporan berbasis cloud. Sebagai contoh, jika seandainya ada seorang karyawan mengunduh file berbahaya menggunakan perangkat perusahaan, atau misalnya karyawan tersebut log in pada situs phishing, maka Anda akan langsung mendapatkan notifikasi sehingga bisa segera mengambil tindakan yang sesuai.   Berkat inisiatif BeyondCorp Enterprise dengan prinsip zero trust, kini Anda dan segenap tim di perusahaan bisa menggunakan Chrome secara lebih aman dan nyaman. Terlebih jika Anda mengaksesnya melalui perangkat Chromebook yang berbasis Chrome OS, sistem operasi yang khusus diciptakan untuk Chromebook. Hal tersebut memungkinkan Chrome untuk memberikan performa yang lebih optimal. Tidak percaya? Anda bisa membuktikannya sendiri dengan mendapatkan perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Menyediakan banyak jenis perangkat Chromebook dengan beragam fitur, tim EIKON Technology akan membantu Anda memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga di sini!  

Collaboration, Productivity, Security

FLoC, Inisiatif Baru Google untuk Tingkatkan Privasi Online Pengguna

  Saat melakukan browsing di internet, idealnya sebuah web menggunakan cookie pihak pertama untuk mengenal penggunanya. Biasanya cookie pihak pertama digunakan untuk hal penting seperti mengingat info login pengguna yang kembali ke suatu web. Sebetulnya, tidak ada masalah dengan hal ini. Masalah muncul pada kehadiran cookie pihak ketiga (third-party cookie). Cookie pihak ketiga disebarkan situs web lain yang tidak dikunjungi pengguna. Ia menjadi semacam pelacak untuk memantau aktivitas pengguna selama browsing di web. Info yang didapat akan digunakan untuk menayangkan iklan secara relevan di situs web yang Anda kunjungi. Hal ini tentu berpotensi melanggar privasi online pengguna. Sebagai solusinya, Google meluncurkan sebuah inisiatif teknologi bernama Federated Learning of Cohorts (FLoC). Teknologi ini akan dipasangkan pada browser Google Chrome. Melalui Google FLoC, para pengiklan dapat menargetkan iklan tanpa mengekspos detail data penggunanya. Apa itu Google FLoC? Photo Credit: Christian Wiediger (Unsplash) FLoC adalah sebuah teknologi yang dikembangkan Google untuk mengutamakan privasi online pengguna saat melakukan aktivitas browsing di Chrome. Jika umumnya cookie pihak ketiga melacak pengguna secara individual, maka FLoC akan mengelompokkan para pengguna. Dengan begini, pengguna pun akan tetap tampak anonim bagi para pengiklan atau advertiser. Namun, walaupun anonim, teknologi Google FLoC tetap memungkinkan para pengiklan untuk menayangkan iklan yang ditargetkan secara relevan. Hal ini bisa terjadi berkat adanya Privacy Sandbox, sebuah kolaborasi inisiatif yang dipimpin Google sebagai “tempat” bagi website untuk meminta sedikit informasi khusus tentang pengguna tanpa melampaui batas. Bagaimana cara kerja Google FLoC? Photo Credit: Souvik Banerjee (Unsplash) Seperti yang disebutkan sebelumnya, Google FLoC bekerja dengan mengelompokkan para penggunanya alih-alih memantau pengguna secara individual. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan adanya minat terhadap hal yang sama di antara pengguna-pengguna tertentu. Misalnya, kelompok A adalah fans sepak bola, kelompok B senang menonton film, dan sebagainya. Adanya kelompok-kelompok ini pun dapat “menyamarkan” pengguna individual secara efektif. Pembentukan kelompok dilakukan menggunakan algoritma khusus. Tiap minggunya, Anda dan pengguna lain akan diletakkan pada kelompok yang berbeda. Apabila ada kelompok yang dinilai terlalu kecil, maka akan digabungkan dengan kelompok lain agar jumlah pengguna dalam satu kelompok bisa mencapai minimal beberapa ribu individu. Dengan begini, identifikasi pengguna secara individu pun akan lebih sulit dilakukan. Apakah dampak Google FLoC terhadap pengguna? Photo Credit: Firmbee.com (Unsplash) Bagi pengguna seperti Anda, dampak utama dari Google FLoC adalah privasi online yang lebih terjaga selama Anda browsing web menggunakan Google Chrome. Dampak langsungnya akan cenderung lebih dirasakan oleh para pengiklan yang hendak memasang iklan mereka pada produk-produk Google. Melalui FLoC, Google ingin menyediakan solusi yang sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik untuk pengiklan maupun pengguna. Di satu sisi, FLoC tetap dapat mengizinkan pengiklan untuk menayangkan iklan yang ditargetkan secara relevan. Lalu, di sisi lain, privasi online pengguna tetap terjaga karena pengiklan tidak punya akses untuk memantau pengguna secara individu. Identitas individu “tersamarkan” dalam kelompok-kelompok yang dibentuk oleh Google FLoC. Aktivitas browsing menggunakan Google Chrome kini lebih aman dilakukan berkat adanya Google FLoC. Agar performa Chrome bisa lebih optimal, akan lebih oke jika Anda mengaksesnya dari perangkat Chromebook berbasis Chrome OS. Sama seperti FLoC, perangkat Chromebook juga dilengkapi dengan sistem keamanan Sandbox sehingga privasi akan semakin terjaga. Jadi, tunggu apa lagi? Anda bisa mendapatkan Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Hubungi EIKON Technology sekarang juga! Anda juga bisa menghubungi kantor EIKON Technology yang berbasis di Surabaya dan Jakarta.  

Productivity, Security

Cara Mengubah Password di Chrome Hanya dengan Single Tap

  Demi keamanan dan kenyamanan Anda sebagai pengguna, mayoritas website mengharuskan Anda untuk menggunakan password saat sign in ke halaman mereka. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa mengingat password bukanlah hal mudah, terlebih jika ada Anda terdaftar dalam banyak website. Wajar jika akhirnya Anda menggunakan password yang sama untuk beberapa website sekaligus. Sayangnya, hal ini berisiko tinggi karena data akun Anda jadi lebih rentan bocor. Untuk menghindari hal tersebut, Anda pun perlu tahu cara mengubah password pada website-website tersebut. Masalahnya, mengubah password juga bukan hal sepele. Anda harus membuka website yang dimaksud, sign in, masuk ke menu pengaturan akun, dan mengubah password. Jika ada banyak website yang harus diganti password-nya, tentunya hal ini akan memakan waktu. Namun, selama menggunakan Chrome, Anda bisa melakukan hal tersebut secara jauh lebih praktis. Memberi peringatan jika ada password yang tidak aman Photo Credit: Google Sebagai layanan browser unggulan Google, Chrome dilengkapi dengan sistem pengelolaan password yang kuat. Saat memasukkan password untuk sign in pertama kali pada suatu website, Chrome akan memberi pilihan apakah Anda ingin agar Chrome mengingat informasi sign in tersebut. Jadi, ketika kembali melakukan sign in pada website yang sama, Anda tak perlu mengetik ulang password. Melalui fitur Safety Check, Chrome mengecek apakah password yang ia ingat tersebut telah bocor atau disalahgunakan. Jika iya, Chrome akan segera memberi peringatan kepada Anda. Tak hanya itu, browser Google satu ini juga akan memberitahukan cara mengubah password agar Anda bisa segera mengambil tindakan. Dengan begini, Anda pun dapat meminimalisir terjadinya risiko yang lebih besar lagi. Bisa langsung ubah password saat itu juga Photo Credit: Dan Nelson (Unsplash) Kabar baiknya, untuk cara mengubah password tersebut, Anda tak perlu mengunjungi satu per satu website yang dimaksud. Kini telah hadir fitur baru bernama Single Tap yang memungkinkan Anda untuk mengubah password melalui Chrome secara mudah, cepat, dan praktis. Saat sign in pada website tertentu, lalu ternyata Chrome menemukan bahwa password Anda telah mengalami kebocoran, maka Chrome akan langsung memunculkan tombol Change Password. Begitu Anda menekan tombol tersebut, Chrome pun akan mengarahkan Anda pada website yang bersangkutan sekaligus membantu Anda melakukan proses penggantian password. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua website mendukung fitur Single Tap dari Chrome ini. Tenang saja, walau begitu, fitur Password Manager akan selalu membantu Anda menciptakan password yang unik dan kuat untuk berbagai akun website. Didukung dengan teknologi Duplex Photo Credit: luis gomes (Pexels) Demi memudahkan cara mengubah password melalui fitur Single Tap, Chrome menggunakan teknologi Duplex. Diperkenalkan pertama kali pada 2019, Duplex merupakan teknologi artificial intelligence (AI) yang juga menjadi tenaga utama di balik Google Assistant. Khusus untuk kebutuhan web, teknologi Duplex yang digunakan disebut dengan Duplex on the Web. Teknologi AI ini mampu mengambil alih berbagai aktivitas dasar saat web browsing, contohnya scrolling dan mengisi form. Dengan begini, Anda pun bisa lebih fokus melakukan aktivitas lain yang lebih penting saat browsing. Kini, Duplex on the Web telah melebarkan sayap untuk membantu Anda mengetahui adanya kebocoran data akun. Tak hanya itu, Anda juga bisa langsung mengubah password saat itu juga melalui fitur Single Tap. Kehadiran fitur Single Tap pada Chrome sangat membantu Anda dalam cara mengubah password secara cepat dan mudah. Kabar baiknya lagi, browser Chrome sudah kompatibel dengan banyak perangkat seperti Windows dan MacOS. Namun, jika ingin mendapatkan manfaat maksimal dari Chrome, maka menggunakan perangkat Chromebook dengan sistem ChromeOS merupakan pilihan tepat. Anda bisa mendapatkannya melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology.  Cari tahu lebih banyak di sini atau segera hubungi tim EIKON Technology!  

Chromebook, Security

Menghubungkan Pekerjaan Karyawan dengan Chromebook

  Kata siapa perangkat Chromebook hanya bisa digunakan oleh pelajar? Fitur-fitur canggih yang tersemat di dalamnya juga bisa dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaan karyawan. Terlebih, Chromebook hadir dalam bentuk laptop sehingga karyawan bisa lebih mudah membawanya ke mana pun. Kerja remote pun tak lagi jadi halangan. Berbekal Chrome OS yang dirancang Google, laptop Chromebook dikenal sangat user-friendly. Penggunaannya sangat simpel dan mudah, bahkan bagi yang belum pernah memakainya sama sekali untuk bekerja. Tak hanya itu, pekerjaan karyawan juga dapat terhubung dengan Chromebook secara mudah dan praktis! Set up perangkat Chromebook dapat dilakukan secara online Photo Credit: Thought Catalog (Unsplash) Mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung sampai saat ini, kemungkinan besar masih banyak pula beberapa dari Anda yang melangsungkan sistem work from home (WFH). Alhasil, para karyawan harus membawa pulang perangkat Chromebook mereka untuk bekerja. Set up ulang pun perlu dilakukan agar pekerjaan karyawan dapat terhubung dengan Chromebook. Kabar baiknya, hal tersebut sangatlah mudah dilakukan secara online. Kuncinya adalah dengan berlangganan Chrome Enterprise Upgrades sehingga Anda dapat mengelola seluruh Chromebook karyawan secara remote. Dengan Chrome Enterprise Upgrades, Anda bisa memasang Chrome OS dalam versi lebih advanced yang memang khusus ditujukan untuk keperluan bisnis. Sedangkan untuk set up yang dilakukan secara individu oleh masing-masing karyawan, mereka hanya perlu menghubungkan Chromebook pada jaringan Wi-Fi dan perangkat pun sudah bisa digunakan. Tak ada software apa pun yang harus Anda pasang. Aktifkan fitur Sync untuk menghubungkan perangkat dengan informasi akun Google Photo Credit: Andrew Neel (Unsplash) Karena bekerja menggunakan Chrome OS, maka Chromebook akan meminta Anda untuk memasukkan informasi akun Google. Dari sinilah berbagai pekerjaan karyawan bisa terhubung dengan Chromebook melalui fitur bernama Sync. Fitur tersebut dapat Anda aktifkan melalui browser Google Chrome. Langsung saja buka aplikasi Chrome pada perangkat Chromebook, klik Profile di bagian kanan atas, sign in ke akun Google Anda, dan klik Turn On Sync. Secara otomatis, Anda juga akan langsung sign in ke akun Gmail, YouTube, dan berbagai layanan Google lainnya. Tak hanya itu, Anda pun dapat mengakses informasi lain yang tersinkronisasi dengan akun Google Anda seperti password dan bookmarks. Dengan begini, data pekerjaan karyawan yang disimpan menggunakan akun Google pun bisa Anda akses kembali secara mudah. Bisa gunakan Citrix untuk menunjang sinkronisasi Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Dalam bekerja, Google paham betul bahwa Anda kerap membutuhkan resource tambahan untuk menunjang produktivitas. Itulah kenapa Chromebook pun dirancang agar mudah dihubungkan dengan pemakaian berbagai aplikasi. Salah satunya adalah Citrix yang dapat membantu menghubungkan pekerjaan karyawan dengan Chromebook. Disebut juga sebagai Citrix Workspace, aplikasi satu ini merupakan sebuah platform manajemen berbasis cloud yang akan memberikan akses instan ke semua aplikasi web, aplikasi virtual, dokumen digital, hingga desktop melalui satu all-in-one interface. Aplikasi Citrix Workspace bisa Anda dapatkan melalui Chrome Web Store. Hadir dalam bentuk Extension, Citrix Workspace dapat langsung dipasangkan pada browser Chrome di perangkat Chromebook Anda.   Berbasis cloud dan bersifat user-friendly, perangkat Chromebook memiliki pengoperasian yang begitu simpel. Bahkan jika sebelumnya tidak pernah menggunakannya pun, Anda tetap bisa menghubungkan pekerjaan karyawan dengan Chromebook secara mudah. Masih tidak percaya? Buktikan sendiri dengan membeli perangkat Chromebook melalui partner resmi Google seperti EIKON Technology. Telah bekerja sama dengan produsen teknologi ternama seperti Acer dan Asus, perangkat Chromebook hadir dalam berbagai desain dan fitur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk mendapatkan perangkat Chromebook!  

Collaboration, Google Workspace, Security, Technology

Konfigurasi Setting Keamanan Google di Device Google Workspace

  Demi memudahkan perusahaan dalam mengelola penggunaan Google Workspace, Google telah menyediakan platform khusus bernama Admin. Sesuai namanya, platform tersebut hanya bisa diakses oleh orang atau karyawan yang ditunjuk sebagai administrator untuk mengatur sistem keamanan google di device.  Admin telah dilengkapi dengan beragam fitur penunjang keamanan Google Workspace, salah satunya Endpoint Management. Melalui Endpoint Management inilah seorang administrator bisa melakukan konfigurasi setting keamanan pada perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace. Namun, jenis perangkat yang berbeda biasanya membutuhkan setting sistem keamanan Google Workspace yang berbeda pula. Simak penjelasan berikut ini untuk mengetahuinya. Pada perangkat mobile Photo Credit: NordWood Themes (Unsplash) Setidaknya ada dua konfigurasi utama yang bisa dilakukan pada perangkat mobile untuk menjaga keamanan Google Workspace beserta data di dalamnya. Kedua bentuk konfigurasi tersebut adalah password dan lock down. Berikut penjelasannya.   Akses menggunakan password   Photo Credit: NeONBRAND (Unsplash) Lindungi data Google Workspace di dalam perangkat mobile dengan mewajibkan pengguna mengaktifkan screen lock atau password pada perangkat tersebut. Apabila memungkinkan, sebaiknya tentukan juga komposisi password tersebut untuk meningkatkan keamanan. Anda bisa menentukan tipe password, standar tingkat keamanannya, hingga minimal jumlah karakter yang harus disertakan dalam password.   Lock down atau menghapus data pada perangkat yang hilang   Photo Credit: Kevin Ku (Pexels) Tidak ada orang yang ingin kehilangan smartphone mereka, tapi kejadian seperti ini tidak dapat diprediksi. Jika benar terjadi, tentu dapat membahayakan keamanan data di dalamnya. Pun ketika ada karyawan yang resign dari perusahaan, Anda harus memastikan bahwa ia tak lagi memiliki akses terhadap data-data yang tersimpan dalam Google Workspace pada perangkat mobile miliknya. Tak perlu khawatir, sistem keamanan Google Workspace memiliki fitur Lock Down yang memungkinkan Anda untuk menghapus akun kerja karyawan melalui platform Endpoint Management. Saat hal itu dilakukan, seluruh data pekerjaan di dalamnya juga akan ikut terhapus. Dengan begini, risiko data bocor pun bisa diminimalisir. Pada perangkat komputer atau desktop Photo Credit: Surface (Unsplash) Konfigurasi setting keamanan untuk perangkat Google Workspace tak hanya berlaku pada mobile, tapi juga perangkat komputer atau desktop. Bahkan jumlah fitur konfigurasi keamanan Google Workspace pada perangkat komputer relatif lebih banyak dari mobile. Apa saja? Aktifkan verifikasi endpoint Photo Credit: FLY:D (Unsplash) Dengan mengaktifkan sistem verifikasi endpoint pada perangkat komputer, Anda bisa menggunakan akses kontekstual (context-aware) untuk melindungi data perusahaan. Pada saat bersamaan, Anda juga akan mendapatkan informasi lebih tentang perangkat komputer yang mengakses data tersebut.   Batasi sinkronisasi Drive File Stream pada perangkat milik perusahaan   Photo Credit: Ivan Samkov (Pexels) Tahukah bahwa sebenarnya Anda bisa mengerjakan file Drive pada perangkat Windows atau MacOS tanpa harus menggunakan browser? Caranya adalah dengan memanfaatkan Drive File Stream. Namun, untuk menjaga keamanan Google Workspace dan seluruh data perusahaan Anda di dalamnya, batasi pengaturan sinkronisasinya. Sebaiknya, pastikan Drive File Stream hanya bisa dijalankan pada perangkat milik perusahaan yang telah terdaftar dalam inventory.   Gunakan Google Credential Provider for Windows (GCPW)   Photo Credit: Johny vino (Unsplash) Konfigurasi setting keamanan Google satu ini berlaku bagi Anda yang menggunakan perangkat komputer bersistem operasi Windows 10. Setelah sign in pada perangkat mereka menggunakan akun Google, pengguna harus melakukan 2-step verification dan sign-in challenges. Baru setelah itu pengguna bisa mengakses berbagai Google Workspace. Apabila mau, mereka juga bisa mengaktifkan fitur single sign-on (SSO) yang memungkinkan mereka untuk menggunakan aplikasi-aplikasi Google Workspace tanpa harus mengetik ulang username dan password akun Google.   Pada dasarnya, sistem keamanan Google Workspace telah dirancang secara optimal, baik untuk pengguna maupun data-data yang tersimpan di dalamnya. Walau begitu, mengingat ada banyak perangkat yang digunakan untuk mengakses Google Workspace, konfigurasi setting keamanan melalui Endpoint Management tetap perlu dilakukan. Tenang saja, platform Endpoint Management sudah termasuk bagian dari Google Workspace. Artinya, selama Anda berlangganan Google Workspace, maka Anda bisa menggunakan Endpoint Management tanpa biaya tambahan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang edisi langganan Google Workspace, langsung saja klik di sini atau hubungi EIKON Technology selaku re-seller resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia!  

Collaboration, Google Workspace, Produktivitas, Security, Technology

Keunggulan Google Workspace untuk Membantu Bisnis

    Menjalankan bisnis bukanlah hal yang mudah dilakukan, terlebih jika Anda merupakan pemilik bisnis berskala kecil. Biasanya tanggung jawab Anda jadi berlipat ganda, mulai dari menjadwalkan meeting, mengirimkan email kepada pelanggan, hingga menyusun laporan keuangan.  Namun, walaupun terdengar menantang, hal tersebut tak mustahil dilakukan selama Anda menggunakan tools atau perangkat yang tepat. Google Workspace hadir sebagai solusi untuk membantu Anda dalam menjalankan bisnis tersebut. Aksesibilitas tinggi, kapan pun dan dari mana pun Photo Credit: cottonbro (Pexels) Merupakan platform berbasis cloud, Google Workspace dapat Anda akses selama 24 jam penuh dari mana saja. Kabar baiknya lagi, berbagai aplikasi Google Workspace sudah kompatibel dengan seluruh browser. Anda bisa menggunakan perangkat apa pun untuk mengakses konten dan fitur yang ditawarkan Google Workspace, baik itu dari smartphone Android, PC atau Mac, hingga iPhone. Aksesibilitas tinggi tentunya akan sangat memudahkan pekerjaan, terutama jika anggota tim Anda tersebar di berbagai kota. Terlebih, Google Workspace juga sangat mendukung kolaborasi kerja. Aplikasi seperti Google Docs, Sheets, dan Slides memungkinkan Anda untuk melakukan editing dalam waktu bersamaan pada satu file. Selain itu, melalui fitur Offline, Anda dan tim bisa tetap mengakses data atau bekerja menggunakan Google Workspace tanpa harus terhubung dengan internet. Dengan begini, produktivitas kerja pun bisa terus terjaga. Tingkatkan kredibilitas dengan kustomisasi alamat email Photo Credit: Stephen Phillips (Unsplash) Salah satu aplikasi unggulan dari Google Workspace adalah Gmail. Layanan email ini bisa Anda gunakan secara gratis untuk keperluan bisnis, tapi tentunya dengan berbagai batasan. Anda tidak bisa mengubah domain Gmail menjadi nama bisnis Anda. Namun, dengan upgrade ke Google Workspace versi premium, Anda dapat melakukan hal tersebut. Misalnya, dari yang semula menggunakan alamat ade@gmail.com, Anda bisa mengubahnya jadi ade@bisniscuan.com. Mungkin memang terkesan sederhana, tapi dengan mengubah domain email, bisnis Anda akan terlihat lebih kredibel di mata pelanggan. Tak hanya itu, branding bisnis pun juga jadi lebih kuat. Saat pelanggan menerima email dari alamat yang mencantumkan nama bisnis Anda, lambat laun bisnis Anda akan terpatri dalam benak mereka. Data bisnis lebih aman di dalam Vault Photo Credit: Lukas Blazek (Unsplash) Selama ini, Anda mungkin telah mengenal Google Drive sebagai platform penyimpanan data berbasis cloud yang dikembangkan Google. Di samping itu, ada pula Vault yang bisa dikatakan sebagai versi lebih canggih dari Drive. Vault merupakan layanan pengarsipan buatan Google. Fungsinya pun serupa, yakni menyimpan dan melindungi data, termasuk data bisnis. Hanya saja, Vault dilengkapi dengan sistem teknologi keamanan yang lebih advanced. Pada Vault, Anda bisa menentukan berapa lama data akan disimpan dan siapa saja yang berhak mengaksesnya. Mengingat banyaknya data penting bisnis yang harus dilindungi, Vault dapat menjadi perangkat terbaik untuk memenuhi kebutuhan Anda. Namun, untuk bisa menggunakan Vault, Anda harus terlebih dulu berlangganan Google Workspace edisi Business Plus atau Enterprise. Mengetahui efektivitas kerja melalui Work Insights Photo Credit: Carlos Muza (Unsplash) Produktivitas menjadi salah satu kunci penting kesuksesan suatu bisnis. Memahami betul hal tersebut, Google Workspace pun hadir dengan fitur Work Insights. Melalui fitur ini, Anda bisa mendapatkan insight atau data terkait penggunaan Google Workspace oleh para anggota tim. Tak hanya menyediakan informasi tentang intensitas pemakaian Google Workspace, Work Insights bahkan menyajikannya secara detail berdasarkan level produktivitas, kolaborasi, dan adopsi. Dengan begini, akan mudah bagi Anda untuk mengetahui preferensi tim. Misalnya, data dari Work Insights menunjukkan bahwa hanya ada 58% anggota tim yang menggunakan Sheets. Sementara itu, pemakaian Gmail justru mencapai 96%. Hal ini menunjukkan bahwa tim bisnis Anda nyaman menggunakan Gmail untuk keperluan kerja sehari-hari.   Melalui berbagai aplikasi dan fitur-fitur pendukungnya, Google Workspace hadir untuk membantu para pelaku bisnis dalam mempermudah pekerjaan. Agar bisa menggunakannya secara optimal tanpa batasan, Anda bisa upgrade langganan Google Workspace ke versi premium. Google Workspace menawarkan beberapa edisi premium yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan bisnis. Untuk mengetahui perbedaan masing-masing edisi tersebut, langsung saja hubungi EIKON Technology selaku reseller resmi produk Google di Indonesia. Sebagai alternatif, Anda juga bisa klik di sini untuk mempelajari lebih jauh tentang Google Workspace for Business!    

Email, Security

5 Langkah Mengatasi Ancaman Keamanan Email di G Suite

Mengatasi Ancaman Keamanan Email di G Suite- Saat suatu perusahaan menerapkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan maka risiko terhadap serangan phishing dan malware juga akan meningkat. Email salah satu sisi paling populer untuk serangan phishing. Karena phiser terus-menerus mengubah taktik mereka, ancaman ini mungkin sulit dideteksi dan berkali kali admin tidak memiliki kontrol yang dibutuhkan untuk melindungi perusahaan atau untuk sekedar mendeteksi tahap awal jika adanya ancaman keamanan email anda. Ada 3 hal solusi untuk ancaman keamanan agar menjadi efektif: Proaktif, dan memiliki perlindungan default Cerdas, dan mudah beradaptasi dengan pola ancaman yang selalu berubah Mudah digunakan end user dan admin. Melihat syarat diatas G Suite telah berusaha dan berhasil membuat sistem perlindungan keamanan untuk membantu admin dan pengguna mendeteksi dan memulihkan serangan. Berikut adalah contoh bagaimana Anda dapat mengenali dan membantu menghentikan ancaman menggunakan fitur dari G Suite. Kenali Masalahnya Sebagai seorang IT mengelola perusahaan besar tidak mudah. Sudah menjadi hal wajar seorang admin IT mendapat ribuan peringatan setiap hari. Besarnya volume peringatan tidak mengherankan jika banyak dari peringatan itu tidak ditindaklanjuti. Pusat Peringatan G Suite memberikan tampilan tunggal untuk admin, komprehensif tentang pembaruan keamanan paling penting. Di dalam pusat peringatan, admin dapat menerima peringatan dan informasi yang dapat ditindaklanjuti tentang ancaman keamanan terbaru termasuk phishing, malware, akun mencurigakan, dan aktivitas perangkat yag mencurigakan. Misal ada aktivitas perangkat yang mencurigakan maka di dasboard admin akan terdapat informasi ID perangkat dan nomor seri. Evaluasi dan Ambil Tindakan Segera Memperbaiki keamanan yang telah rusak membutuhkan proses yang rumit. Maka diperlukan sistem keamanan yang mudah di aplikasikan agar dapat dengan mudah disebarkan. Pusat peringatan G Suite dan alur kerja pusat keamanan beroperasi bersama dengan baik. Seperti gambar dibawah, kita dapat mengklik tanda investigasi yang secara langsung memuat alat investigasi di dalam pusat keamanan. Alat investigasi memungkinkan admin untuk mengidentifikasi, melakukan triage, dan mengambil tindakan terhadap masalah keamanan di domain perusahaan. Selanjutnya, admin dapat melakukan tindakan massal (di seluruh perusahaan) untuk menghapus email berbahaya dan memeriksa berbagi file untuk melihat dan menghentikan potensi pengosongan data. Menyelidiki Penyebab Masalah Dengan melakukan pivot dan mencari di investigation tool, orang dapat melihat bahwa email yang mencurigakan masuk dengan baris subjek “Time Sensitive perbarui 401 rb kontak Anda ” yang diklik oleh karyawan. Itu bisa menjadi faktor penyebab masalah untuk perangkat di diskusikan. Menentukan Jangkauan Insiden Keamanan Setelah mengetahui bagaimana pengguna ini dapat terdeteksi, kekhawatiran selanjutnya adalah apakah banyak pengguna juga telah terpengaruh. Investiogation tool adalah cara untuk mencari tahu hal ini. Di dalam dasboard yang sama, Anda dapat mencari tahu orang lain di dalam perusahaan yang telah menerima email mencurigakan yang sama. Dalam gambar dibawah sepertinya memiliki masalah yang lebih besar. Limit attack proliferation Dari gambar di atas diketahui bahwa 18 karyawan lain menerima email mencurigakan yang sama, kita perlu menyelesaikan masalah. Dengan menggunakan G Suite kita bisa mengetahui serangan ini lebih awal, kemungkinan sebagian besar karyawan tidak akan membuka email. Dalam alat investigasi, admin super dapat secara proaktif menghapus email mencurigakan dari kotak masuk pengguna. Tindakan ini dicatat dan dapat diaudit oleh organisasi jika diperlukan. EIKON Technology sebagai Google Premier Partner dapat membantu beralih menggunakan G Suite agar bisa mendeteksi serangan phishing dan malware yang masuk kedalam email. Silahkan klik tombol dibawah dan mengisi data diri Anda.

Scroll to Top