Author name: EIKON Technology

Info

Layanan Zero-touch Enrollment untuk Perangkat Chrome OS

Saat menggunakan perangkat Chrome OS, terutama dalam skala besar seperti di tingkat perusahaan, perlu ditetapkan kebijakan pemakaian perangkat. Tujuannya agar Anda dan tim bisa menggunakan perangkat Chrome OS secara efektif sehingga berdampak baik terhadap produktivitas kerja. Pengaturan kebijakan perangkat dilakukan melalui konsol Google Admin. Namun, untuk bisa melakukan hal tersebut, Anda harus terlebih dulu mendaftarkan perangkat OS yang akan digunakan. Kini, proses pendaftaran (disebut juga dengan deployment) tak hanya bisa dilakukan secara manual, tapi juga melalui metode zero-touch enrollment. Metode tersebut memungkinkan Anda untuk mendaftarkan perangkat OS baru secara otomatis sehingga lebih mudah dan praktis. Namun, bagaimana sebetulnya cara kerja zero-touch enrollment? Pelajari lebih dalam melalui ulasan berikut ini. Apa yang dimaksud dengan zero-touch enrollment? Photo Credit: Mikhail Nilov (Unsplash) Dilansir dari laman web Google, zero-touch enrollment diartikan sebagai metode alternatif dari pendaftaran perangkat Chrome OS secara manual. Pada metode ini, mitra pra-penyediaan (distributor, reseller, atau produsen perangkat) mengirimkan instruksi kepada Google untuk mendaftarkan perangkat Chrome secara otomatis pada domain milik pengguna setelah perangkat tersebut dihidupkan dan terhubung dengan internet. Dengan kata lain, pengguna tidak harus melakukan pendaftaran perangkat OS sendiri. Namun, penting diketahui bahwa ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan untuk menerapkan metode zero-touch enrollment, yaitu: Token pra-penyediaan (disebut juga pre-provisioning token) yang dibuat dari konsol Google Admin. Mitra pra-penyediaan resmi yang telah ditunjuk untuk membantu proses pendaftaran perangkat Chrome OS. Layanan upgrade Chrome Enterprise, Education, dan Non-Profit. Apa keunggulan layanan zero-touch enrollment pada perangkat Chrome OS? Photo Credit: George Milton (Unsplash) Demi mendukung kenyamanan dan produktivitas para karyawannya, kini banyak perusahaan menyediakan perangkat yang hanya bisa digunakan untuk bekerja. Walaupun terdengar praktis, perusahaan kerap berurusan dengan masalah deployment, setup perangkat, hingga instalasi aplikasi. Mengingat biasanya ada banyak perangkat yang diberikan kepada tiap karyawan, maka keseluruhan proses deployment pun memakan waktu cukup lama. Nah, metode zero-touch enrollment pada perangkat Chrome OS mampu memberi solusi atas permasalahan tersebut. Melalui metode enrollment, perusahaan dapat melakukan proses deployment perangkat Chrome OS secara massal dan online. Alhasil, perangkat pun bisa langsung digunakan oleh karyawan dengan menggunakan konfigurasi yang telah ditetapkan perusahaan secara otomatis. Di mana Anda bisa mendapatkan layanan tersebut untuk perangkat Chrome OS? Photo Credit: Mikhail Nilov (Unsplash) Bersifat online dan otomatis, metode enrollment memberikan kemudahan dalam proses deployment perangkat Chrome OS, khususnya bagi perusahaan yang biasanya melakukan hal tersebut pada banyak perangkat sekaligus. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua perangkat Chrome OS mendukung zero-touch enrollment. Cek di sini untuk mengetahui perangkat Chrome OS mana saja yang telah mendukung metode tersebut. Layanan ZTE pada perangkat Chrome OS hanya bisa didapatkan melalui mitra resmi Google. Di Indonesia, mitra penyediaan layanan zero-touch enrollment yang telah tercatat dan diakui Google adalah EIKON Technology. Nama EIKON Technology bahkan sudah terdaftar di sini. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menggunakan layanan zero-touch enrollment yang disediakan EIKON Technology? Anda hanya perlu mengunjungi situs resmi EIKON Technology di eikontechnology.com. Sebagai alternatif, Anda juga bisa langsung klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology. Tinggalkan pesan atau ceritakan kebutuhan Anda dan tim EIKON Technology akan segera kembali menghubungi Anda.  

Google Workspace, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter: Mana yang Lebih Baik untuk Bisnis?

  Melalui Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter, Microsoft dan Google menawarkan rangkaian layanan penunjang produktivitas. Masing-masing memiliki sejumlah paket berlangganan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan bisnis, termasuk bisnis berskala kecil. Untuk kebutuhan tersebut, Microsoft telah menyediakan paket berlangganan Microsoft 365 Business Basic, sedangkan Google hadir dengan Google Workspace Business Starter. Keduanya sama-sama memberikan solusi atas kebutuhan dasar bisnis Anda, mulai dari email, aplikasi produktivitas, video meeting, hingga penyimpanan data. Walau secara garis besar layanan yang diberikan tak jauh berbeda, baik Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter memiliki detail masing-masing. Berikut perbedaan di antara keduanya yang bisa Anda pelajari sebagai pertimbangan sebelum memilih. Aplikasi kerja untuk permudah kolaborasi Photo Credit: Marvin Meyer (Unsplash) Anda tentu sudah tidak asing dengan aplikasi Office milik Microsoft seperti Word, Excel, dan PowerPoint. Jika berlangganan Microsoft 365 Business Basic, Anda akan mendapatkan akses versi web untuk aplikasi Office tersebut. Sementara itu, aplikasi serupa milik Google dikenal dengan nama Docs, Sheets, dan Slides. Ketiganya juga termasuk dalam paket Google Workspace Business Starter. Baik pada Microsoft 365 Business Basic maupun Google Workspace Business Starter, aplikasi-aplikasi tersebut telah menunjang kolaborasi. Artinya, satu file dapat dibuka, ditinjau, hingga diedit oleh banyak pengguna sekaligus. Nilai plus bagi Google Workspace karena mereka memiliki fitur bernama Smart Canvas yang mengintegrasikan berbagai aplikasi Google Workspace. Kini Anda bahkan bisa melakukan panggilan video langsung dari Docs, Sheets, atau Slides. Kapasitas penyimpanan cloud Photo Credit: freestocks (Unsplash) Sebagai pelaku bisnis, Anda pasti memiliki banyak data penting yang perlu disimpan secara aman. Menjawab kebutuhan ini, Microsoft 365 dan Google Workspace sama-sama menyediakan layanan penyimpanan berbasis cloud. Apabila Microsoft memiliki One Drive, maka Google mempunyai Google Drive. Untuk poin ini, Microsoft 365 lebih unggul daripada Google Workspace. Jika berlangganan Microsoft 365 Business Basic, Anda akan mendapatkan kapasitas penyimpanan cloud hingga 1 TB. Sementara itu, Google Workspace Business Starter hanya menawarkan kapasitas sebesar 30 GB. Kemampuan video meeting Photo Credit: Anna Shvets (Pexels) Kebutuhan video meeting atau online conference juga di-cover oleh Microsoft 365 dan Google Workspace melalui aplikasi Microsoft Teams dan Google Meet. Perbedaan keduanya terletak pada jumlah peserta yang dapat bergabung dalam panggilan video. Paket langganan Microsoft 365 Business Basic memungkinkan Anda untuk melakukan video meeting hingga maksimal 300 peserta. Sedangkan pada Google Workspace Business Starter, jumlah maksimal peserta video meeting adalah 100 orang. Layanan email dan tampilannya Photo Credit: Microsoft Outlook Photo Credit: Stephen Phillips (Unsplash) Umumnya, aktivitas bisnis tak bisa lepas dari penggunaan email. Tak perlu khawatir dengan hal tersebut karena Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter menyediakan layanan email yang mumpuni melalui Outlook dan Gmail. Kabar baiknya, baik Outlook dan Gmail memungkinkan Anda untuk menggunakan nama domain kustom sendiri agar bisnis terlihat lebih profesional. Keduanya juga sama-sama terhubung dengan aplikasi kalender untuk memudahkan pencatatan jadwal rapat. Tak hanya dari segi fitur, aspek interface Outlook dan Gmail pun tak kalah menarik. Saat membuka Outlook, Anda akan menemukan fitur top bar bernama Ribbon yang menampilkan banyak opsi. Tersedia pula Ribbon berbeda untuk seluruh tampilan dalam Outlook, termasuk Mail, Contacts, dan Calendar. Sementara itu, Gmail memiliki tampilan yang lebih simpel. Untuk mulai menulis pesan baru, Anda hanya perlu menekan tombol khusus bertuliskan Compose. Gmail juga menyediakan fitur Filter dan Label untuk membantu Anda mengorganisasi pesan masuk secara praktis. Jadi, mana yang lebih baik untuk bisnis? Photo Credit: Vlada Karpovich (Pexels) Jawabannya tentu bergantung pada kebutuhan bisnis Anda. Baik Microsoft 365 dan Google Workspace sama-sama memiliki layanan berkualitas baik untuk menunjang produktivitas bisnis. Jika Anda dan tim memiliki frekuensi kolaborasi yang cukup tinggi, Google Workspace Business Starter dapat menjadi pilihan lebih tepat mengingat adanya fitur Smart Canvas yang mampu memaksimalkan pengalaman kolaborasi. Namun, apabila tim bisnis Anda memiliki anggota lebih dari 100, maka sebaiknya berlangganan Microsoft 365 Business Basic. Kapasitas video meeting hingga 300 peserta, berikut dengan penyimpanan mencapai 1 TB, tentu lebih mampu mengakomodasi kebutuhan bisnis. Jadi, mana yang akan Anda pilih? Microsoft 365 Business Basic atau Google Workspace Business Starter? Apa pun pilihannya, Anda bisa berlangganan keduanya melalui EIKON Technology selaku partner resmi Microsoft dan Google di Indonesia. Baik berlangganan Microsoft 365 maupun Google Workspace, tim EIKON Technology akan membantu Anda menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis. Klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet, Google Cloud

Membuat Aplikasi Manajemen Inventaris dari Google Sheets dengan AppSheet

  Pada dasarnya, mengelola inventaris produk merupakan tugas yang cukup sulit, baik untuk bisnis retail berskala besar maupun kecil. Umumnya, mayoritas pebisnis menggunakan spreadsheet untuk mengelola inventaris produk. Di sinilah masalah biasanya muncul mengingat ada begitu banyak data yang harus dikelola dan dianalisis. Jika Anda mengalami masalah serupa, saatnya mulai menyederhanakan proses kerja dengan mengembangkan aplikasi manajemen inventaris sendiri. Kini telah hadir AppSheet yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Bahkan aplikasi tersebut bisa Anda buat langsung dari spreadsheet di Google Sheets! Karena aplikasi merupakan rancangan sendiri, Anda pun dapat menyesuaikan sistemnya sesuai kebutuhan bisnis. Berikut ini langkah-langkah membuat aplikasi manajemen inventaris dari Google Sheets dengan menggunakan AppSheet.   Rapikan data dan siapkan aplikasi   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet telah menyediakan berbagai sampel atau template aplikasi yang bisa Anda modifikasi sesuai kebutuhan, termasuk untuk manajemen inventaris. Nah, aplikasi-aplikasi tersebut terhubung dengan sumber data seperti Google Sheets. Namun, sebelum mengintegrasikan data Sheets Anda dengan AppSheet, pastikan untuk merapikan data terlebih dulu agar nantinya mudah dikelola pada aplikasi. Tak perlu bingung, Google telah menyediakan template Google Sheet berisi tiga tabel yang bisa Anda salin di sini. Ketiga tabel ini berisi: Product – untuk informasi produk Sales – untuk produk atau item yang telah terjual atau dihapus dari stok Purchases – untuk produk-produk yang ditambahkan stoknya Jika data telah tertata rapi, saatnya mengubahnya menjadi aplikasi. Pada Google Sheets, buka menu Tools > AppSheet > Create an App. AppSheet akan langsung mengubah data Anda menjadi aplikasi AppSheet.   Atur barcode scanner   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet dapat menggunakan kamera pada perangkat mobile Anda untuk memindai data yang dilengkapi barcode. Untuk melakukan ini, masuklah ke menu AppSheet Editor > Data > Columns. Lalu, tandai kolom Product Barcode pada tabel Purchases dan Sales dengan label searchable dan scannable. Kini aplikasi manajemen inventaris Anda sudah bisa merekam berbagai aktivitas inventaris, baik saat ada stok masuk maupun keluar. Anda hanya perlu men-tap tombol pemindai barcode yang terletak di bawah opsi Sell atau Add Stock, kemudian langsung saja scan produk atau item yang diinginkan.   Perhitungkan tingkat persediaan secara real-time   Photo Credit: Blog Google Cloud Salah satu tujuan pembuatan aplikasi adalah agar Anda bisa mengecek status atau tingkat inventaris dari setiap produk secara real-time. Ada formula yang perlu digunakan untuk mengetahui hal tersebut, yaitu: stok saat ini + stok masuk – stok keluar. Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatur aplikasi agar bisa secara otomatis merekam status inventaris secara real-time. Caranya dengan menghubungkan seluruh data yang ada di dalam tabel. Mengingat bahwa setiap tabel memiliki kolom barcode produk, Anda bisa menggunakan data tersebut untuk menghubungkan aplikasi. Hubungkan kolom Product Barcode pada tabel Sales dan Purchases dengan kolom Product Barcode pada tabel Product. Caranya, masuklah ke menu Data > Columns > Sales. Lalu, klik Product Barcode untuk mengedit kolom dengan mengikuti tiga langkah ini: Beri nama “Product Barcode” pada kolom Buka daftar Type, lalu klik Ref Pilih Products sebagai ReferencedTableName Jika sudah, Anda bisa mengulangi langkah yang sama untuk tabel Purchases. Baru setelah itu Anda bisa “mengajarkan” aplikasi untuk menghitung level atau status inventaris. Masuklah ke menu Data > Columns, lalu pada tabel Products pilih Add Virtual Column. Kemudian, masukkan formula berikut ini pada kotak yang muncul: COUNT([Related Purchases]) – COUNT([Related Sales]) + [Initial Stock] Sekarang cobalah masuk ke menu UX > View > Product List View, lalu pilih opsi Deck View atau Table View. Klik Current Stock untuk menjadikannya salah satu header pada aplikasi manajemen inventaris AppSheet. Kini Anda pun bisa melihat status persediaan setiap produk secara real-time.   Tampilkan opsi “Restock Needed” pada produk yang stoknya rendah   Photo Credit: Blog Google Cloud Agar bisa terus memenuhi permintaan pasar, penting bagi Anda untuk memastikan stok produk tidak kosong. Melalui AppSheet, Anda bisa mengatur agar aplikasi menunjukkan produk mana saja yang perlu distok ulang. Pertama, tentukan jumlah restock yang setiap produk. Untuk menentukan jumlah secara tepat, cobalah meninjau data terdahulu dan menganalisis perkiraan permintaan (demand forecast). Kedua, masuk ke menu Data > Slice, lalu klik Create a Slice dan namakan “Restock Needed”. Atur Source Table sebagai Product dan Row Filter Condition menjadi: [Current Stock] <= [Restock Level]. Nantinya, aplikasi akan memunculkan data apabila level stok produk terkini (current level) lebih rendah atau sama dengan restock level. Ketiga, masuklah ke menu UX > Views > New View. Pilih opsi Restock Needed (Slice) sebagai sumber data Anda. Kemudian, pilih tipe tampilan yang Anda inginkan, bisa dalam deck maupun table. Kini Anda telah berhasil membuat aplikasi manajemen inventaris tanpa perlu melakukan coding! Masih dengan AppSheet, Anda juga bisa menambahkan fungsi tambahan seperti notifikasi email atau new views. Buktikan sendiri kemudahan membuat aplikasi tanpa coding dengan berlangganan AppSheet. Mengingat bahwa AppSheet masih merupakan bagian dari Google Cloud, Anda bisa berlangganan melalui partner resmi Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet

Manfaat Transformasi Digital pada Bidang Manufaktur

Perkembangan teknologi telah mendorong banyak perusahaan untuk melakukan transformasi digital, termasuk pada industri manufaktur. Agar tidak tertinggal dari para kompetitor, perusahaan manufaktur perlu menerapkan modernisasi terhadap operasional kerja mereka. Kuncinya adalah dengan mengautomasi proses kerja (workflow), pencatatan data, manajemen yang efisien, hingga penggunaan teknologi terkini. Melalui transformasi digital, perusahan manufaktur pun dapat merasakan berbagai manfaat berikut ini. Meningkatkan efisiensi kerja Photo Credit: Kateryna Babaieva (Pexels) Pada umumnya, industri manufaktur memiliki lingkungan kerja yang bergerak cepat. Puluhan hingga ratusan bekerja biasanya berkolaborasi dalam satu project sehingga membutuhkan komunikasi dan akuntabilitas yang kuat. Idealnya, berbagai tugas harus diselesaikan secara berurutan demi memastikan kepatuhan dan keamanan. Apabila hal tersebut dilakukan secara manual menggunakan sistem berbasis kertas maupun spreadsheet, kemungkinan besar akan ada banyak hal yang terlewatkan. Misalnya laporan kertas yang hilang atau tulisan tangan seseorang yang sulit dibaca. Demi efisiensi, banyak perusahaan digital yang kini menggunakan aplikasi untuk mempercepat persetujuan, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Semua dilakukan sebagai bagian dari transformasi digital. Sebagai contoh, di perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perakitan mobil, banyak proses perlu diperiksa di berbagai tahapan produksi. Misalnya, pihak manufaktur bertugas memastikan bahwa lampu dan klakson telah dipasang dengan tepat. Saat mobil mencapai tahap pemeriksaan terakhir, seluruh sistem harus mendapat persetujuan dari teknisi yang bertanggung jawab. Nah, dengan menggunakan aplikasi, tim perakitan mobil dapat memonitor siapa saja yang bertugas memeriksa proses-proses tersebut, kapan persetujuan dilakukan, dan lainnya. Hal ini akan memudahkan Anda untuk memastikan tiap proses berjalan lancar. Mengurangi biaya pengeluaran Photo Credit: Spencer Davis (Unsplash) Seiring dengan meningkatnya efisiensi kerja yang dibawa oleh transformasi digital pada perusahaan manufaktur, biaya pengeluaran pun akan ikut berkurang. Berkat mekanisme digitalisasi berbasis data, perusahaan jadi bisa menemukan area-area pemborosan yang sebelumnya tidak disadari. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur biasanya menerapkan kontrol proses statistik untuk mengidentifikasi adanya kesalahan produk pada tahap perakitan. Anda bisa menggunakan kamera dan teknologi sensor untuk membantu melakukan identifikasi tersebut sekaligus mengurangi potensi human error. Dengan penerapan teknologi digital sejak area perakitan produk, perusahaan dapat menghindari kesalahan lebih besar yang berpotensi menyebabkan penarikan produk dari para distributor. Transformasi digital pun pada akhirnya membantu perusahaan manufaktur terhindar dari pengeluaran tidak perlu. Alhasil, terciptalah lingkungan kerja manufaktur yang lebih “rapi” , padat, dan tentunya hemat biaya. Meningkatkan visibilitas di area kerja Photo Credit: Sam Moqadam (Unsplash) Di berbagai fasilitas manufaktur, produktivitas bisa cukup sulit untuk dimonitor. Hal ini disebabkan oleh manajer yang kesulitan untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi di lantai produksi, gudang, atau area kerja lainnya. Kabar baiknya, masalah tersebut dapat diatasi dengan menerapkan transformasi digital. Dengan bantuan teknologi baru seperti aplikasi, kamera, sensor, hingga wearables, manajer bisa mendapatkan pandangan terhadap apa yang dihadapi oleh para anggota tim dan apa yang terjadi di seluruh fasilitas manufaktur. Di satu sisi, manajer bisa mendapatkan informasi terkait progress kerja di perusahaan. Sedangkan di sisi lain, para pekerja dapat tetap fokus mengerjakan pekerjaan mereka. Transformasi digital pun tak hanya menjadi langkah modernisasi tempat kerja, tapi justru membawa perubahan yang berarti di industri manufaktur. Selain ketiga poin di atas, tentu masih ada banyak manfaat lain yang bisa didapatkan oleh perusahaan manufaktur melalui transformasi digital di tempat kerja. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penggunaan aplikasi merupakan salah satu cara efisien untuk memulai transformasi digital tersebut. Agar fungsi aplikasi bisa optimal, sebaikny kembangkan aplikasi sendiri menggunakan AppSheet. Merupakan bagian dari Google Cloud, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Buktikan sendiri kehebatannya dengan berlangganan AppSheet melalui partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology! 

Appsheet, Google Workspace

AppSheet dan Apps Script, Solusi Pengembangan Aplikasi Lewat Google Workspace

  Selama ini, Google Workspace dikenal sebagai rangkaian software dan perangkat produktivitas serta kolaborasi. Bagi para pekerja, kemungkinan besar Anda bahkan sudah tidak asing lagi dengan Docs, Sheets, Slides, Drive, dan Gmail yang merupakan bagian dari layanan Google Workspace. Namun, lebih dari itu, sebetulnya Google Workspace juga menawarkan fungsi eksternal melalui AppSheet dan Apps Script. Appsheet adalah platform untuk membuat aplikasi tanpa coding. Sedangkan AppS Script adalah platform scripting untuk mengembangkan aplikasi ringan. Baik AppSheet dan Apps Script telah terintegrasi dengan Google Workspace. Artinya, dari Google Workspace Anda bisa melakukan pengembangan aplikasi bisnis, workflow, hingga automasi menggunakan AppSheet atau Apps Script. Membuat aplikasi tanpa coding dengan AppSheet Photo Credit: Blog Google Cloud Diperkenalkan sebagai platform no-code, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa harus memiliki kemampuan coding. AppSheet juga tidak termasuk dalam Google Workspace karena ia merupakan bagian dari Google Cloud. Namun, AppSheet dapat terintegrasi dengan Google Workspace. Proses pengembangan aplikasi sepenuhnya dilakukan pada user interface (UI) AppSheet, yang dibekali dengan teknologi machine learning serta kemampuan untuk mentranslasi kode rumit menjadi bentuk yang mudah digunakan. Umumnya, aplikasi-aplikasi yang dibuat di AppSheet bertujuan untuk mengautomasi atau menyederhanakan proses kerja (workflow). Contohnya seperti aplikasi untuk melacak pengiriman, manajemen inventaris, dan logistik transportasi. AppSheet telah menyediakan sampel atau template aplikasi yang dapat Anda modifikasi sesuai kebutuhan. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan Anda untuk memanfaatkan sumber dan fungsi data. Sumber ini bisa didapatkan dari data yang telah Anda simpan di aplikasi Google Workspace (Sheets, Docs, Calendar, Maps, dan lainnya). Apps Script, cara mudah kustomisasi Google Workspace Photo Credit: Blog Google Cloud Berbeda dari AppSheet yang menjadi bagian dari Google Cloud, Apps Script termasuk dalam Google Workspace. Ia diperkenalkan sebagai platform pengembangan bersifat low-code. Artinya, Anda perlu melakukan coding untuk pengembangan aplikasi di Apps Script. Namun, aktivitas coding yang dibutuhkan tidaklah terlalu berat. Apps Script menggunakan bahasa pemrograman JavaScript dan mengintegrasikannya dengan API Google Workspace. Hal ini dapat memudahkan Anda merancang berbagai solusi bisnis untuk menyederhanakan operasional kerja sehari-hari. Selain itu, Apps Script juga sepenuhnya bekerja dengan basis cloud, yakni memanfaatkan Google Drive. Artinya, tidak ada infrastruktur apa pun yang perlu Anda kelola. Anda juga tak perlu mengunduh apa pun untuk menggunakan Apps Script. Namun, memang pengembangan aplikasi di Apps Script membutuhkan pengalaman coding. Walau begitu, tak perlu khawatir karena Apps Script dirancang dengan meminimalisir kompleksitas. Terlebih, tersedia pula sumber daya untuk mendukung pengembangan aplikasi seperti tutorial online serta contoh skrip. Perpaduan keduanya memberikan hasil powerful Photo Credit: John Schnobrich (Unsplash) Dengan Apps Script, Anda dapat memodifikasi dan memperluas fungsi aplikasi Google Workspace dengan custom logic. Sementara itu, AppSheet memungkinkan Anda membuat pengembangan aplikasi automasi bisnis secara custom dengan memanfaatkan aplikasi Google Workspace. Walaupun memiliki fungsi berbeda, Apps Script dan AppSheet sebetulnya dapat digunakan secara berdampingan untuk menghasilkan suatu output. Katakanlah Anda ingin mengumpulkan dan memformat data dari berbagai sumber, lalu berinteraksi dengan data tersebut. Nah, melalui Apps Script, Anda bisa menggabungkan data dari berbagai sumber seperti Sheets, Docs, dan Calendar. Lalu automasikan pengumpulan data tersebut ke dalam Sheets untuk dimodifikasi kembali menggunakan coding sesuai kebutuhan. Baru setelah itu buatkan aplikasi menggunakan AppSheet dari data hasil modifikasi tersebut. Anda pun kini dapat berinteraksi dengan data tersebut pada UI hasil custom dari AppSheet. AppSheet dan Apps Script memungkinkan Anda untuk memperluas fungsi Google Workspace melalui pengembangan aplikasi secara mudah. Coba buktikan sendiri kecanggihan kedua platform tersebut dengan berlangganan AppSheet maupun Apps Script melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang AppSheet dan Apps Script. Tentunya sambil memandu Anda memilih edisi berlangganan yang paling sesuai kebutuhan. Tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Google Workspace, School

Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran

  Tahun ajaran baru untuk jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, dan SMK resmi dimulai pada pertengahan Juli 2021 lalu. Rencana awal untuk melangsungkan pembelajaran tatap muka terpaksa ditunda akibat meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia. Para guru dan murid pun harus menghadapi tantangan baru. Tak hanya berusaha mempelajari materi baru, mereka juga harus beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Walau mungkin sulit, untungnya hal tersebut tak mustahil dilakukan berkat kehadiran Google Workspace for Education. Merupakan layanan berbasis cloud yang khusus dirancang untuk lembaga pendidikan, Google Workspace for Education menyediakan berbagai perangkat fungsional yang dapat membantu guru dan murid untuk kembali memulai pembelajaran, baik secara remote maupun hybrid. Aplikasi untuk mengoptimalkan aktivitas belajar dan mengajar Photo Credit: Katerina Holmes (Pexels) Salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran online adalah memastikan bahwa setiap murid mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Sebagai bagian dari Google Workspace for Education, perangkat video conference Google Meet mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui Google Meet, guru dapat terhubung dan bertatap muka secara real-time dengan para murid. Beberapa guru bahkan mengintegrasikan papan tulis digital interaktif, Jamboard, ke dalam Google Meet sehingga para murid bisa saling bertukar ide hingga menambahkan gambar secara online. Di samping Google Meet, guru juga bisa menggunakan Google Forms untuk menilai kuis. Google Forms pun dapat dimanfaatkan untuk mengecek keadaan murid dengan memberikan kuesioner seputar kondisi mental mereka. Jika ada murid yang butuh konseling, Anda bisa langsung menjadwalkannya menggunakan Google Calendar. Dukungan untuk murid dan keluarga di luar lingkungan kelas Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Agar aktivitas pembelajaran bisa memberikan hasil optimal, bukan hanya guru dan murid yang harus terlibat, tapi juga orang tua atau wali murid. Salah satu contoh sederhananya adalah ketika orang tua mendampingi mereka selama mengerjakan tugas. Masalahnya, terkadang orang tua sudah memiliki kemauan untuk membantu sang anak, tapi mereka tidak mengerti harus menggunakan alat atau perangkat apa. Misalnya, saat hendak menghadiri kelas online via Google Meet, orang tua kesulitan menemukan tautan menuju kelas virtual tersebut. Memahami hal tersebut, Google telah menyediakan berbagai sumber daya untuk membantu orang tua dan wali murid mendukung pembelajaran anak. Beberapa sumber daya yang dimaksud adalah Google Families, panduan menggunakan Google Workspace for Education, hingga video panduan seputar toolkit khusus untuk wali murid. Lebih optimal dengan sistem keamanan dan privasi yang mumpuni Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Efektivitas pembelajaran tak bisa hanya didukung dengan perangkat fungsional, tapi juga harus aman. Selama menggunakan perangkat, Anda tak perlu khawatir karena Google telah membekalinya dengan sistem keamanan yang kuat dan mengutamakan privasi para pengguna. Menerapkan update otomatis, Google Workspace for Education pun akan selalu menjalankan sistem operasi terbaru dengan keamanan terkini. Tak ketinggalan adanya konsol Google Admin yang memungkinkan sekolah untuk mengonfigurasi kebijakan penggunaan Google Workspace for Education sesuai kebutuhan pembelajaran. Selain itu, Google juga menyediakan informasi seperti Safer Learning with Google for Education Guide dan Guardian’s Guide to Privacy and Security untuk mengedukasi wali murid soal sistem keamanan Google Workspace. Dengan begini, wali murid bisa lebih tenang selama anak mereka mengikuti pembelajaran. Jika berbicara tentang aktivitas pembelajaran, memang belum ada yang bisa menggantikan pertemuan tatap muka langsung. Namun, perangkat teknologi seperti Google Workspace for Education dapat membantu menjembatani kesenjangan sementara ini. Kabar baiknya lagi, cara berlangganan Google Workspace for Education sangatlah mudah karena Anda hanya perlu menghubungi EIKON Technology, partner resmi Google yang tepercaya di Indonesia. Sebelum berlangganan, Anda bahkan bisa mengajukan trial terlebih dulu. Langsung saja klik di sini untuk mendapatkan trial Google Workspace for Education dan mulai berlangganan!

Appsheet

Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Menyederhanakan Proses Kerja

  Produktivitas kerja berjalan beriringan dengan tingkat efisiensi. Idealnya, semakin tinggi tingkat efisiensi kerja, maka produktivitas juga akan ikut meningkat. Untuk mewujudkannya, penyederhanaan proses kerja (workflow) pun dibutuhkan. Caranya dengan menggunakan bantuan aplikasi. Agar penggunaan aplikasi bisa tepat fungsi, sebaiknya kembangkan sendiri aplikasi secara custom sesuai kebutuhan kerja. Tak perlu bingung, kini telah hadir AppSheet dari Google Cloud yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Artinya, walaupun tidak memiliki pengetahuan tentang coding, Anda tetap bisa mengembangkan aplikasi untuk menyederhanakan workflow. Berikut ini tips seputar cara membuat aplikasi tanpa coding menggunakan AppSheet. Ragam aplikasi automasi yang dapat Anda buat sekarang juga Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet menyediakan template aplikasi yang dapat Anda konfigurasi atau kustomisasi sesuai kebutuhan workflow perusahaan. Beberapa contoh template aplikasi automasi yang tersedia di AppSheet adalah aplikasi manajemen event, aplikasi untuk mendeteksi anomali data, dan aplikasi pengadaan barang. Setiap template aplikasi dilengkapi dengan fitur fungsionalitas workflow bawaan yang bisa Anda uji dan tinjau terlebih dulu sebelum benar-benar mengembangkan aplikasi secara custom. Membuat aplikasi mobile dengan Google Maps dan geolokasi dalam lima menit Photo Credit: Henry Perks (Unsplash) Sebagai bagian dari Google Cloud, AppSheet menawarkan cara membuat aplikasi tanpa coding yang bisa dengan mudah diintegrasikan dengan produk Google lainnya. Misalnya, dengan menyertakan Google Maps pada AppSheet, Anda dapat membuat aplikasi geolokasi sederhana hanya dalam beberapa menit Jika ingin menghasilkan aplikasi geolokasi yang lebih detail, AppSheet menyediakan fitur yang memungkinkan Anda untuk mendorong pengguna melakukan tugas tertentu berdasarkan update pekerjaan mereka. Tujuannya agar project kerja tetap berjalan sesuai rencana. Cara mengembangkan aplikasi manajemen inventaris dari Google Sheet Photo Credit: Blog Google Cloud Manajemen inventaris menjadi salah satu aplikasi paling populer untuk cara membuat aplikasi tanpa coding di AppSheet. Hal ini tak terlepas dari tutorial bersifat mendalam (in-depth) yang disediakan oleh AppSheet, termasuk langkah-langkah yang dijabarkan secara detail. Panduan langkah tersebut tak hanya membantu Anda memahami konsep pembuatan aplikasi manajemen inventaris di AppSheet, tapi juga dapat meningkatkan kemampuan Anda dalam pengembangan aplikasi tanpa coding secara umum. Gunakan Google Docs untuk membuat aplikasi pengalaman konsumen Photo Credit: Luke Southern (Unsplash) Kemungkinan besar Anda sudah tak asing lagi dengan aplikasi Google Docs yang biasa digunakan untuk membuat dokumen. Namun, lebih dari itu, ternyata Google Docs juga dapat Anda manfaatkan untuk membuat aplikasi tanpa coding. Tentunya masih dengan bantuan AppSheet dari Google Cloud. Melalui AppSheet, Google Docs dapat diintegrasikan untuk mengembangkan aplikasi terkait customer experience. Caranya cukup klik menu Add Ons pada Google Docs, klik Get Add-Ons dan masukkan AppSheet. Nantinya, aplikasi ini akan memungkinkan konsumen untuk memberikan ulasan hingga memberikan tanda tangan elektronik. Melalui AppSheet, penerapan cara membuat aplikasi tanpa coding sama sekali tidak mustahil dilakukan. Mulai dari template aplikasi manajamen inventaris hingga manajemen event, Anda dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan untuk menyederhanakan proses kerja secara efisien. Kabar baiknya, AppSheet dapat digunakan secara gratis, tapi terbatas hanya untuk sepuluh pengguna. Agar bisa mendapatkan fungsi optimal dari AppSheet, tersedia sejumlah edisi berlangganan secara premium, mulai dari Starter hingga Enterprise Plus. Cukup hubungi EIKON Technology untuk mulai berlangganan AppSheet. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memilih edisi langganan yang paling sesuai kebutuhan bisnis. Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk membuat aplikasi tanpa coding menggunakan AppSheet!

Appsheet

Strategi Mengoptimalkan Machine Learning as a Service (MLaaS)

  Mengingat pentingnya machine learning dalam menyediakan berbagai solusi, banyak perusahaan rela berinvestasi besar-besaran untuk mengembangkan machine learning sebagai bagian penting dari bisnis mereka. Para ahli bahkan memprediksi bahwa per 2026 nanti, jumlah investasi yang dikeluarkan perusahaan untuk machine learning akan mencapai 12,3 miliar Dolar. Namun, bagaimana dengan perusahaan yang tak mempunyai biaya sebanyak itu untuk mengembangkan program machine learning sendiri? Di sinilah Machine Learning as a Service (MLaaS) memberikan solusi. Menawarkan berbagai perangkat yang dapat dengan mudah diadopsi dan dikustomisasi sesuai kebutuhan bisnis, MLaaS memungkinkan perusahaan berskala kecil untuk turut merasakan manfaat machine learning tanpa harus mengeluarkan banyak waktu dan biaya. Agar penerapan MLaaS bisa optimal, berikut beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan. Gabungkan dengan penggunaan platform no-code Photo Credit: Priscilla Du Preez (Unsplash) Bagaimana caranya Anda menggunakan machine learning tanpa harus merancang program sendiri maupun mengembangkan artificial intelligence (AI)? Jawabannya adalah dengan memanfaatkan platform no-code seperti AppSheet dari Google Cloud. Dengan platform no-code, Anda bisa membuat aplikasi yang didukung oleh algoritma machine learning tanpa harus menulis coding sama sekali. Platform no-code memudahkan Anda merancang aplikasi bersifat custom yang memungkinkan pembuat aplikasi maupun penggunanya untuk memanfaatkan langsung sumber data. Misalnya, data yang disimpan dalam database atau spreadsheet dapat ditampilkan sebagai insight atau tren strategis untuk membentuk strategi suatu departemen di perusahaan. Karena tidak memerlukan coding, maka karyawan non-IT pun bisa turut mengembangkan aplikasi bersifat Machine Learning as a Service di platform no-code seperti AppSheet. Walau begitu, bukan berarti perusahaan Anda jadi tidak membutuhkan tim IT. Sebaliknya, tim IT justru bisa menjadi pihak yang bertanggung jawab memelihara tata kelola aplikasi menggunakan platform no-code agar semua berjalan sesuai aturan. Anggap MLaaS sebagai sebuah investasi Photo Credit: Firos nv (Unsplash) Machine Learning as a Service sangat mungkin dikembangkan berkat adanya platform no-code seperti AppSheet. Namun, bagi perusahaan yang belum familiar dengan teknologi satu ini, wajar jika mereka merasa ragu untuk mencoba. Hal yang perlu diingat adalah MLaaS dapat menjadi investasi berharga untuk perusahaan Anda. Coba bayangkan jika Anda mengembangkan sistem machine learning konvensional, Anda harus berulang kali membuat dan menguji aplikasi bisnis baru berdasarkan workflow tim IT. Apabila memang ada sumber daya tenaga, waktu, dan biaya yang mencukupi, mungkin hal tersebut bukanlah suatu masalah. Namun, jika sumber daya cenderung terbatas, Anda tentu akan sulit membagi fokus. Adanya MLaaS memungkinkan Anda dan seluruh anggota tim di perusahaan—bukan hanya tim IT—untuk ikut terlibat dalam perencanaan dan eksekusi. Hal ini sangatlah baik karena para karyawan inilah yang paham betul permasalahan di lapangan, sehingga mereka bisa merancang aplikasi secara tepat fungsi dan sasaran. Identifikasi early adopter dan yakinkan mereka untuk menggunakan MLaaS Photo Credit: fauxels (Pexels) Strategi selanjutnya dalam optimalisasi Machine Learning as a Service adalah mengidentifikasi early adopter di perusahaan. Siapa kira-kira yang akan merasakan paling banyak manfaat dari pengembangan aplikasi no-code? Jika sudah berhasil mengidentifikasi, saatnya Anda meyakinkan mereka untuk mendukung penerapan MLaaS di perusahaan. Kuncinya adalah membuat para early adopter ini memahami besarnya nilai yang ditawarkan MLaaS. Jelaskan bahwa MLaaS mampu menghasilkan solusi atas berbagai kerumitan bisnis dalam skala yang besar. Terlebih, MLaaS juga memberikan kendali kepada seluruh anggota tim untuk menganalisis pemecahan masalah yang selama ini mungkin belum terjamah. Terus menggunakan MLaaS secara berulang Photo Credit: cottonbro (Pexels) Pada dasarnya, aplikasi machine learning akan semakin pintar seiring dengan meningkatnya frekuensi penggunaan. Itulah kenapa teknologi ini disebut dengan machine learning, yang memang betul-betul mempelajari pola penggunaan secara terus-menerus agar bisa memberikan hasil terbaik untuk bisnis Anda. Hal ini tentunya berlaku pula pada Machine Learning as a Service. Dengan kata lain, penggunaan MLaaS sebagai bagian dari transformasi digital di perusahaan merupakan sebuah proses berkelanjutan. Semakin sering Anda menggunakan aplikasi buatan sendiri dalam kegiatan operasional sehari-hari, maka aplikasi tersebut akan memberikan performa yang semakin baik dari hari-hari sebelumnya. Walau dengan sumber daya terbatas, perusahaan berskala kecil dapat merasakan manfaat machine learning melalui penggunaan platform no-code seperti AppSheet untuk mengembangkan aplikasi berbasis Machine Learning as a Service. Mengingat bahwa AppSheet merupakan bagian dari Google Cloud, Anda dapat mengaksesnya dengan menghubungi partner resmi Google di Indonesia. Tak perlu pusing mencari, EIKON Technology telah dikenal selama bertahun-tahun sebagai partner premium Google yang tepercaya di Indonesia. Klik di sini untuk segera terhubung dengan tim EIKON Technology dan berlangganan AppSheet dari Google!

Microsoft office 365, Office 365, Online recruitment

Terapkan Pembelajaran Fleksibel dengan Windows 11

  Terlepas dari disrupsi yang terjadi sejak 1,5 tahun belakangan ini, sekolah-sekolah di penjuru dunia harus tetap mengedukasi para murid mereka. Agar kegiatan pembelajaran bisa terus berlangsung, terutama pada situasi kurang ideal seperti sekarang, banyak guru yang akhirnya bertransisi ke metode pembelajaran fleksibel seperti remote atau hybrid learning. Dengan sistem remote atau hybrid learning, para murid bisa belajar dan saling berkomunikasi dari mana saja mereka berada. Sebagai bentuk dukungan untuk menyambut era baru dalam sistem pembelajaran, Microsoft merancang Windows 11 dengan pendekatan yang mengedapankan kebutuhan edukasi para guru dan murid. Dilengkapi fitur-fitur pendukung, Windows 11 dapat membantu guru dan murid di seluruh dunia untuk menjalankan sistem pembelajaran fleksibel yang mampu membuka potensi setiap murid secara maksimal. Peningkatan aksesibilitas untuk optimalkan produktivitas Photo Credit: Microsoft – Education Blog Menerapkan konsep design bersifat user-centered, Windows 11 hadir dengan interface yang lebih intuitif dan produktif. Tujuannya agar nantinya para guru dan murid bisa bebas fokus terhadap pembelajaran. Pada perangkat touchscreen, misalnya, Microsoft telah meningkatkan aspek aksesibilitas dan memberikan kontrol pengguna (user control) yang lebih adaptif. Peningkatan ini akan lebih memudahkan Anda untuk mengetik, memindahkan, hingga mengubah ukuran (resize) windows. Tak hanya itu, aspek interaktivitas gestur, suara, dan pen juga mengalami peningkatan cukup signifikan pada Windows 11. Kini Anda bisa mengetik menggunakan perintah suara dan menulis menggunakan digital pen di hampir seluruh aplikasi. Dengan begini, para murid jadi punya lebih banyak pilihan untuk mengakses materi pembelajaran sesuai preferensi mereka. Update fitur untuk meminimalisir distraksi Photo Credit: Annushka Ahuja (Pexels) Sistem pembelajaran fleksibel memang memudahkan murid untuk menerima materi tanpa memusingkan lokasi masing-masing. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa jika dibandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas, sistem fleksibel tersebut relatif lebih banyak distraksi karena guru tidak bisa mengawasi murid secara langsung. Memahami tantangan tersebut, Windows 11 pun dibekali dengan sejumlah tools yang dapat membantu mengurangi gangguan selama pembelajaran berlangsung. Beberapa di antaranya seperti smart camera yang dapat mengaburkan gerakan pada background dan kontrol pengaturan untuk meminimalisir visual yang terlalu “ramai”.  Sistem keamanan dan privasi yang lebih kuat Photo Credit: August de Richelieu (Pexels) Bagi yang selama ini telah menggunakan Windows 10 untuk menunjang sistem pembelajaran fleksibel, Anda tak perlu khawatir karena Windows 11 juga dilengkapi dengan perangkat manajemen yang mudah digunakan, termasuk hands-free setup dan opsi untuk instalasi aplikasi pendidikan secara cepat. Namun, di samping itu, Windows 11 juga mendapat update pada sistem perlindungan privasi dan kontrol keamanan dari perangkat ke cloud. Termasuk pula di dalamnya adalah fitur penjadwalan update berbasis cloud secara bulanan tanpa mengganggu pembelajaran. Tentunya tidak ketinggalan perlindungan terhadap sistem operasi dan informasi yang selalu aktif bekerja. Berbagai fitur keamanan tersebut juga dirancang untuk mampu memblokir konten-konten berbahaya yang tidak pantas diakses oleh para murid. Dengan begitu, bukan hanya murid yang bisa belajar secara optimal di mana pun mereka berada, tapi orang tua juga akan merasa lebih tenang.   Saatnya update ke Windows 11 untuk menjalankan sistem pembelajaran fleksibel secara aman dan efektif. Tentunya Windows 11 juga menunjang Microsoft Teams yang dapat menjadi ruang kelas virtual bagi guru dan murid. Microsoft Teams masih menjadi bagian dari rangkaian program Microsoft 365 yang bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Microsoft yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memilih edisi langganan Microsoft 365 yang paling sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Hubungi EIKON Technology sekarang juga agar bisa menjalankan Microsoft 365 pada Windows 11!

Info

Cegah Penyebaran Virus COVID-19 dengan Air Purifier Ablatum Mini

  Tidak ada yang bisa memprediksi kapan pandemi COVID-19 akan benar-benar berakhir. Terlebih, kini telah muncul virus COVID-19 varian Delta yang tingkat paparannya cukup tinggi, membuat gelombang kedua kasus COVID-19 di Indonesia jadi lebih dahsyat jika dibandingkan sebelumnya. Wajar jika hal tersebut membuat Anda khawatir. Walau begitu, jangan biarkan panik menguasai diri Anda. Tetaplah waspada dengan terus menerapkan protokol kesehatan, menjaga kesehatan diri, serta kebersihan lingkungan. Mengingat kemungkinan besar saat ini Anda menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah, sebaiknya pasanglah air purifier di ruangan. Tahukah Anda bahwa udara di dalam ruangan terbukti lima kali lebih kotor dari udara yang kita hirup di luar ruangan? Risiko terpapar virus dan bakteri pun jadi cenderung lebih besar. Air purifier seperti Ablatum Mini dapat membantu membuat udara dalam ruangan jadi lebih bersih dan sehat. Terbukti secara ilmiah mampu membunuh virus dan bakteri dalam ruangan Photo Credit: Martin Sanchez (Unsplash) Ablatum Mini adalah air purifier yang berfungsi menjernihkan udara di dalam ruangan Anda sehingga lebih sehat ketika dihirup. Bukan sembarang klaim, Ablatum Mini telah lolos uji laboratorium dan terbukti mampu membunuh aneka virus serta bakteri yang beredar melalui partikel-partikel udara di dalam ruangan. Tak hanya itu, Ablatum Mini bahkan telah terakreditasi dan tersertifikasi dari laboratorium independen dalam membunuh virus SARS-CoV-2 dan H1N1 hingga 99,9%. Seperti yang diketahui, SARS-CoV-2 dikenal sebagai virus yang menyebabkan penyakit COVID-19. Jadi, dengan memasang Ablatum Mini di dalam ruangan, Anda telah mengurangi risiko terpapar virus COVID-19. Hebatnya, Ablatum Mini mampu melakukan hal tersebut dalam waktu relatif singkat. Air purifier satu ini dapat mensterilisasi udara di dalam ruangan berukuran 10-80 m3 dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit saja. Ini karena satu perangkat Ablatum Mini mengeluarkan ion hingga empat kali lebih banyak untuk menjaga kejernihan dan kesehatan udara di dalam ruangan Anda. Cara kerja Ablatum Mini Photo Credit: Pretain Technologies Ion plasmacluster adalah air dan oksigen yang terbentuk secara alami di udara, tapi dalam bentuk berbeda. Nah, penting diketahui bahwa ion bi-polar yang ada dalam Ablatum Mini terbuat dari ion positif dan negatif serupa dengan yang beredar secara alami tersebut. Teknologi bi-polar Ablatum Mini menghasilkan 180 juta ion hidrogen positif (H+) dan ion oksigen negatif (O2-) per m3. Proses produksi ion ini berjalan bersamaan dengan ion plasmacluster dan menempel pada permukaan virus, bakteri, serta zat lain di udara, untuk kemudian berubah menjadi OH radikal. Permukaan virus atau bakteri tersebut mayoritas mengandung protein. Dengan kemampuan oksidasi yang kuat, OH radikal akan mengekstrak hidrogen (H) dari protein pada permukaan virus maupun bakteri. Menghilangkan atom hidrogen (H) dari struktur virus, bakteri, maupun patogen lain mampu menonaktifkan zat inti di dalamnya. Nantinya, OH radikal akan terikat dengan atom hidrogen (H) yang telah terlepas tersebut untuk segera membentuk air (H2O). Air ini akan kembali ke udara sehingga akhirnya menciptakan udara yang lebih sehat di dalam ruangan. Desain modern, pemasangan simpel, dan praktis Photo Credit: Pretain Technologies Dengan fungsinya yang begitu penting terhadap pencegahan penyebaran virus COVID-19, jangan bayangkan Ablatum Mini sebagai air purifier berukuran besar yang membutuhkan proses pemasangan rumit. Sebaliknya, pemasangan Ablatum Mini justru begitu mudah, simpel, dan praktis. Bahkan tak akan memakan waktu sampai satu menit! Hal ini tidak terlepas dari desain Ablatum Mini yang berbentuk kotak mungil nan minimalis. Air purifier satu ini tersedia dalam tiga warna dan empat model yang bisa diletakkan di atas meja atau rak hingga dipasang di dinding. Karena bentuknya yang modern, Ablatum Mini akan terlihat seperti pemanis ruangan. Untuk mengaktifkannya, Anda hanya perlu menyalakan tombol on dan Ablatum Mini akan langsung bekerja mensterilisasi ruangan Anda. Tenang saja, Ablatum Mini tidak menimbulkan suara berisik sehingga Anda bisa tetap beraktivitas dengan nyaman di dalam ruangan dengan udara bersih. Tingkatkan kualitas udara di dalam ruangan dengan memasang air purifier Ablatum Mini. Bukan hanya membantu membunuh virus COVID-19, udara yang bersih juga akan berdampak positif terhadap kehidupan sehari-hari. Anda bisa bernapas secara lebih nyaman, reaksi alergi berkurang, tidur jadi lebih nyenyak, dan lebih nyaman beraktivitas. Jadi, tunggu apa lagi? Segera dapatkan air purifier Ablatum Mini dengan menghubungi EIKON Technology untuk kualitas udara yang lebih baik di dalam ruangan!

Scroll to Top