EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Mengenal Supply Chain Twin, Layanan Terbaru dari Google Cloud

Bulan September 2021 lalu, Google Cloud meluncurkan Supply Chain Twin, sebuah layanan yang memungkinkan perusahaan untuk menciptakan “digital twin”. Apa itu digital twin? Digital twin merupakan representasi virtual dari supply chain fisik yang ada di dunia nyata. Pembuatan digital twin melalui Supply Chain Twin memanfaatkan pengaturan data dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai suppliers, inventories, dan informasi lain yang masih berhubungan. Bukan hanya itu, kombinasi layanan ini dengan modul Supply Chain Pulse, Anda bisa mendapatkan real-time dashboards, analytics  lanjutan, notifikasi potensi gangguan, dan bahkan melakukan kolaborasi di Google Workspace. Dirancang untuk memantau supply chain fisik Photo Credit: Rawpixel Dalam industri retail, supply chain atau rantai pasok sering menjadi penyebab masalah. Kebanyakan perusahaan memiliki visibilitas yang terbatas atas supply chain mereka. Dampaknya, perusahaan akan kesulitan saat harus menghadapi masalah seperti kehabisan stok ritel, inventaris manufaktur semakin usang, hingga gangguan yang berhubungan dengan cuaca. Saat pandemi menyerang, situasi bahkan semakin parah. Dari situasi tersebut, Google menyadari bahwa perusahaan perlu pengetahuan yang lebih up-to-date, terutama yang berkaitan dengan operasional dan inventaris. Dengan begitu, visibilitas mereka terhadap supply chain pun akan meningkat. Supply Chain Twin memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam atas operasional mereka sehingga fungsi supply chain pun bisa lebih optimal. Tipe data yang didukung Supply Chain Twin Layanan terbaru dari Google Cloud ini memungkinkan perusahaan untuk menyertakan data dari berbagai sumber. Menariknya lagi, transfer data ini membutuhkan lebih sedikit waktu integrasi dibanding integrasi tradisional berbasis API. Untuk tipe data yang didukung Supply Chain Twin antara lain: Dari sistem bisnis perusahaan: Memahami operasional lebih baik dengan melakukan integrasi beberapa informasi sekaligus seperti produk, lokasi, pesanan, serta inventaris dari Enterprise Resource Planning (ERP) atau sistem internal lainnya. Dari sistem supplier dan partner: Gambaran yang lebih holistik dari jaringan supplier dan partner usaha dengan melakukan integrasi beberapa jenis data seperti jumlah stok dan inventaris serta status transportasi bahan produksi. Dari sumber umum: Memahami supply chain dalam konteks yang lebih luas dengan menghubungkan data kontekstual dari sumber umum seperti cuaca, risiko, termasuk juga set data publik dari Google. Kombinasi dengan Supply Chain Pulse Photo Credit: Rawpixel Seperti yang telah disebutkan, Twin juga bisa dikombinasikan dengan layanan baru Google Cloud lainnya yaitu Supply Chain Pulse. Kombinasi ini menghasilkan: Visibilitas real time serta analytic lanjutan: Menelusuri operational metrics dengan performance dashboard yang eksekutif, memudahkan Anda untuk mengecek status supply chain. Pengelolaan event berbasis peringatan: Mengatur peringatan pada perangkat mobile Anda yang dipicu oleh perubahan pada key metrics, tepatnya saat key metrics mencapai ambang batas yang telah ditentukan. Kolaborasi lintas tim: Menciptakan workflow bersama yang memungkinkan user untuk melakukan kolaborasi di Google Workspace untuk memecahkan masalah. Optimalisasi dan simulasi berbasis AI: Memicu algoritma berbasis AI untuk menyarankan respon yang tepat atas perubahan situasi, menandai masalah yang lebih kompleks, dan memperhitungkan dampak berdasarkan hipotesis awal. Deployment Supply Chain Twin melalui partner Google Cloud Bagi Anda yang bergerak di industri retail, manufaktur, jaringan layanan kesehatan atau industri lain yang masih berhubungan dengan logistic, bisa melakukan deployment Supply Chain Twin melalui ekosistem partner Google Cloud seperti Pluto7, TCS, dan Deloitte. Sistem ini akan membantu Anda untuk mengintegrasikan Twin dengan dataset dataset yang relevan ke dalam infrastruktur yang tersedia. Sebagai tambahan, Anda juga bisa melakukan augmentasi data menggunakan data partner seperti Climate Engine atau Craft. Kombinasi ini akan menghasilkan dataset yang lebih lengkap karena berisi informasi mengenai kondisi geospasial, keberlanjutan (sustainability), serta manajemen risiko. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Tersedia juga integrasi dengan application partner seperti Automation Anywhere dan project44. Anda bisa menggunakannya untuk memahami siklus hidup produk, melacak pengiriman lintas  operator, hingga memprediksi ETA (estimated time of arrival) atau perkiraan barang tiba. Hingga saat ini, visibilitas yang terbatas akan supply chain atau rantai pasok masih menjadi masalah bagi kebanyakan perusahaan, terlebih bagi perusahaan yang berhubungan dengan logistik seperti retail. Apakah Anda salah satunya? Maka tidak ada salahnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai solusi. Dengan Google Cloud dan Supply Chain Twin yang ada di dalamnya, Anda bisa menciptakan “kembaran virtual” supply chain. Jadi, memonitor supply chain pun akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Buat perusahaan Anda semakin maju dengan memanfaatkan teknologi ini. EIKON Technology sebagai partner resmi Google menyediakan Cloud Service Solutions untuk Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut dengan tim EIKON Technology, Anda cukup klik di sini.

Google Cloud

Mempelajari Update Keamanan Terbaru Cloud Storage dari Google

Cloud Storage merupakan layanan web penyimpanan file online yang ada dalam infrastruktur Google Cloud Platform. Sebagai sebuah platform untuk menyimpan file, keamanan Cloud Storage terus ditingkatkan. Dalam update terbaru mereka, enkripsi menjadi fokus utama. Seperti yang sudah Anda ketahui, enkripsi merupakan elemen penting dalam mengamankan data sensitif, baik saat disimpan di dalam cloud maupun saat hanya transit. Kini, Storage dapat mengenkripsi data dari sisi server menggunakan kunci enkripsi standar yang dikelola Google sekaligus mengenkripsi data menggunakan kunci enkripsi yang dikelola user melalui Cloud Key Management Service (Cloud KMS). Mengapa harus menggunakan Cloud KMS di Cloud Storage? Cloud KMS memiliki pengaturan yang memungkinkan Anda untuk mengelola kunci enkripsi secara terpusat. Bukan hanya terpusat, tapi juga dengan cepat dan scalable sehingga Anda bisa bekerja dengan efisien. Cloud KMS juga menghasilkan kunci enkripsi yang bisa dikelola oleh user secara mandiri (disebut customer-managed encryption keys atau CMEK). Kunci enkripsi ini nantinya berfungsi sebagai lapisan keamanan tambahan selain kunci default dari Google. Sekarang, Anda dapat mengatur kunci ini sebagai kunci default dan pengaturan tersebut pun bisa diubah kapan saja. Photo Credit: Pxfuel Selain CMEK yang berbasis software, Cloud Storage juga mendukung CMEK berbasis hardware, terutama untuk hardware yang di-hosting dalam modul keamanan hardware FIPS 140-2 Level 3 sebagai bagian dari layanan Cloud HSM. Jadi, Anda dapat melindungi workload paling sensitif sekalipun tanpa harus mengatur cluster operations HSM. Peningkatan performa KMS Dalam update terbaru, permintaan untuk mengurangi bandwith dan menurunkan KMS billing akan dikelompokkan menurut perilaku permintaan Cloud KMS di Cloud Storage. Permintaan yang identic akan digabungkan di seluruh mode enkripsi yang didukung Cloud KMS, termasuk kunci enkripsi user yang berbasis software. Dengan adanya perubahan ini, operasi enkripsi akan berjalan lebih cepat, baik itu dalam proses baca dan tulis untuk data baru, audit log Cloud KMS yang tidak diduplikasi, dan bahkan keseluruhan charge Cloud KMS akan lebih rendah. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Bagi Anda yang sering menjalankan workload dengan intensitas tinggi akan menemukan penurunan signifikan dalam throughput ke KMS. Hasilnya, billing untuk operasi kriptografi KMS semua jenis kunci KNS pun turut berkurang. Cloud KMS untuk object composition Photo Credit: StartupStockPhotos (Pixabay) Update keamanan terbaru Cloud Storage bisa ditemukan pada fitur object composition. Sekarang ini, object composition sudah banyak digunakan untuk berbagai macam aplikas, baik itu untuk menggabungkan segmen-segmen video hingga mengunggah kumpulan data berskala besar. Dengan makin banyaknya pengguna Cloud Storage untuk memanfaatkan fitur object composition ini, Google pun meningkatkan performanya agar dapat berjalan di berbagai mode enkripsi. Kini, object composition sudah mendukung kunci enkripsi yang dikelola oleh user (CMEK). Dengan begitu, Anda dapat mengelola CMEK sekaligus menjalankan object composition untuk berbagai keperluan bisnis dalam satu waktu. Untuk membuat objek yang dienkripsi dengan CMEK, Anda harus menentukan nama resource untuk kunci Cloud KMS. Tujuannya adalah agar objek baru tersebut dapat dienkripsi sebagai parameter query. Jika Anda menggunakan JSON API, ketikkan HTTP request berikut ini:   01   POST https://storage.googleapis.com/storage/v1/b/bucket/o/destinationObject/compose Sedangkan Anda yang menggunakan XML API, tentukan nama resource kunci Cloud KMS untuk permintaan header goog-encryption-kms-key-name. Bisa juga dengan menentukan kunci Cloud KMS saat Anda menggunakan gsutil untuk menjalankan object composition. Enkripsi yang lebih baik Sebagai sebuah proses krusial, enkripsi harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak ada hal yang berlebihan jika itu menyangkut keamanan data, terutama data sensitif Anda idi Cloud Storage. Baik saat sedang menjalankan proses penyusunan objek atau workload analitik, enkripsi yang lebih baik dan aman tentu akan meningkatkan skalabilitas workload Anda.   Keamanan data selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Jika sampai detik ini Anda masih bimbang dalam memilih layanan penyimpanan data berbasis online, Cloud Storage dapat dijadikan pertimbangan. Dengan sistem keamanan yang terus ditingkatkan, bahkan dalam proses yang paling krusial seperti enkripsi, layanan penyimpanan dari Google ini akan membantu Anda. Ingin mengenal layanan Google Cloud sebelum memutuskan untuk berlangganan? Tidak jadi masalah, kami dari EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi untuk membantu menentukan cloud service solution yang paling tepat untuk Anda. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite?

Google Cloud Operations merupakan suite yang digunakan untuk mengelola infrastruktur, software, dan bahkan performa aplikasi Cloud. Dulunya, Operations bernama Stackdriver sebelum diakuisisi oleh Google pada tahun 2014. Stackdriver sendiri merupakan layanan manajemen sistem komputasi awan (cloud computing). Google Cloud Operations menyediakan data yang mendalam tentang system metrics dan application logs. Salah satu layanan Operations, Cloud Monitoring mengumpulkan system-level metrics seperti CPU, disk space, dan memori. Sedangkan layanan Operations lainnya, Cloud Logging mengambil log data dari aplikasi seperti server web Nginx. Artikel ini akan membahas tentang bagaimana cara kerja dua layanan Google Cloud Operations tersebut. Mari pelajari bersama. Cloud Monitoring Layanan Cloud Monitoring mengumpulkan system metrics serta log data. Data yang didapat kemudian digabungkan dan divisualisasikan hingga menghasilkan informasi pada  dashboard. Di samping itu, Monitoring juga memiliki fitur peringatan agar admin cloud dapat merespons masalah lebih cepat. Cloud Logging Photo Credit: Rawpixel Logging digunakan untuk menangkap log aplikasi di lokasi yang terpusat, sehingga memudahkan manajemen log dan menyediakan data dari kondisi aplikasi. Pada sebuah virtual machine (VM), pemantauan log sebenarnya merupakan tugas sepele, bisa dilakukan hanya dengan menghubungkan VM ke mesin dan memeriksa aplikasi atau log sistem. Meski begitu, ada kalanya, pemantauan log menjadi tugas yang sulit, terutama saat beberapa VM dioperasikan bersamaan, Cloud Logging memungkinkan admin cloud untuk bisa melacak down system, bahkan di beberapa VM sekaligus. Selain itu, admin juga dapat menyempurnakan filter untuk menemukan masalah yang sebenarnya. Cara kerja Google Cloud Operations Untuk mengetahui cara kerja Google Cloud Operations, mari kita ambil contoh dari infrastruktur yang terdiri dari server web Nginx yang berjalan di sebuah VM. Operations bekerja dengan memanfaatkan dua agent (Monitoring dan Logging) untuk menghasilkan gambaran sistem beserta aplikasi yang ada di dalamnya. Agent pertama, Monitoring, memberikan data terkait memori pada VM. Logging bekerja dengan memanfaatkan collectd dan berinteraksi dengan Google API untuk melaporkan memori. Agent kedua, Logging, mengumpulkan informasi yang berkaita dengan status aplikasi dari log aplikasi dan sistem. Agent ini berbasis fluentd. Setelah Monitoring dan Logging terpasang, Anda bisa melanjutkan ke server web Nginx. Untuk melakukan instalasi, jalankan perintah berikut: sudo apt install Nginx –y Setelah setup selesai, agent akan langsung mengirim data ke Google Cloud Console. Untuk mengolah data tersebut, Anda bisa mengikuti langkah berikut: Memantau query Ada kalanya data yang dikirim ke Console sangat banyak jumlahnya, sehingga proses penyaringan menjadi sulit. Sebagai solusi, Anda bisa memanfaatkan Monitoring Query Language allows untuk menyaring noise (gangguan) dan melacak masalah. Dengan fitur ini, Anda bisa langsung menemukan error atau data point yang berhubungan. Memantau dashboards Photo Credit: Rawpixel Cloud menawarkan dashboard standar dan khusus untuk pengumpulan data yang dilakukan Cloud Operations.User bahkan dapat membangun dashboard khusus untuk query sehingga informasi bisa langsung tersedia. Dashboard menyediakan gambaran fokus atas data point dalam proses deployment cloud. Untuk melakukan set up dashboard, Anda harus membuat beberapa jenis widgets dan melakukan verifikasi terhadap data yang ditampilkan. Anda bisa memanfaatkan fitur automation untuk memudahkan proses tersebut. Baca juga: 4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba Google Cloud memungkinkan user untuk dapat berinteraksi dengan dashboard API. Cukup dengan mengirim permintaan POST ke sebuah endpoint HTTP atau bisa juga ke interface gcloud command-line interface, yang merupakan CLI tool utama dari Google Cloud. Untuk membuat dashboard dengan API, jalankan perintah berikut: gcloud monitoring dashboards create –config-from-file=your-dash.json Bagian “file=your-dash.json” menjelaskan widget apa yang dibuat dalam dashboard Anda dan menggunakan format JSON. Log query Untuk membiasakan diri dengan Logging, Anda bisa menyiapkan pemantauan terhadap akses menuju Nginx dan error logs. Cukup dengan menambahkan konfigurasi berikut pada setelan /etc/google-fluentd/google-fluentd.conf dalam VM. Setup ini akan memastikan entri access.log dan error.log dapat masuk dalam konsol Google Cloud Logging. <source> @type tail format apache2 path /var/log/Nginx/access.log,/var/log/Nginx/error.log pos_file /var/lib/google-fluentd/pos/Nginx-access-log.pos read_from_head true tag Nginx-access-error </source> Setelah menambahkan konfigurasi di atas, lakukan restart pada agent google-fluentd. Dalam beberapa saat, Cloud Logging akan mulai mengirim data ke Google Cloud Console. Selain itu, Anda juga bisa melakukan query data dari Logs Explorer, yang merupakan user interface Cloud Logging untuk dianalisis. Gunakan query berikut untuk menampilkan log data apa pun dari akses Nginx serta error logs: resource.type=”gce_instance” log_name=”projects/<PROJECT_ID>/logs/Nginx-access-error” Dengan memanfaatkan Google Cloud Operations, Anda dapat mengelola cloud dan seluruh elemen di dalamnya, Dengan tambahan Monitoring dan Logging agent, Anda bahkan bisa menemukan solusi atas permasalahan yang muncul di dalam Cloud. Belum bisa menemukan layanan penyedia cloud yang dapat memenuhi semua kebutuhan Anda? Atau Anda memerlukan komputasi awan berskala besar? Cloud dengan fitur dan layanan yang lengkap seperti Google Cloud adalah solusinya. Untuk mulai berlangganan Google Cloud, EIKON Technology siap membantu Anda. EIKON Technology merupakan authorized partner dari Google. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator

Mengatur sebuah pemrograman dalam sebuah perusahaan maupun bisnis besar haruslah dilakukan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Salah satunya adalah ketika menggunakan aplikasi pendukung agar data tetap aman dan bisa didistribusikan dengan baik. Untuk hal itu, Anda bisa mencoba Cloud Spanner Emulator. Platform ini diluncurkan pada tahun 2017 lalu. Peruntukannya memang ditujukan pada industri berskala besar. Mulai dari pengaturan aplikasi untuk ritel, sosial media perusahaan, dan juga bagi industri gaming. Pada platform ini juga memiliki beberapa model deployment Google Cloud. Apa sajakah? Berikut beberapa di antaranya. Model Deployment Google Cloud Emulator Lokal Source: Unsplash.com Model pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan menggunakan emulator lokal. Adapun yang termasuk dalam emulator lokal di sini antara lain adalah Docker Image, Gcloud Commands, Linux Binaries, dan Bazel. Untuk biaya deployment menggunakan emulator ini memang gratis untuk beberapa kasus tertentu. Beberapa emulator lokal tersebut dapat digunakan pada kasu-kasus tertentu saja. Misalnya saja untuk melakukan uji coba pada saat pengembangan penyimpanan data dan sebagainya. Cara seperti ini dilakukan karena memang lebih mudah dan cepat. Hanya saja, jika pengguna menggunakan mode deployment ini ada kemungkinan mengenai konfigurasi, data, dan aset lainnya akan hilang selama proses restart emulator tersebut. Jadi, ada baiknya Anda pertimbangkan dengan baik sebelum memilihnya. Model Deployment Google Cloud pada Remote GCE Source: Gasworld Selanjutnya, mode untuk deployment Google Cloud bisa menggunakan emulator pada Remote GCE. Beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk hal ini adalah deployment manual atau Gcloud deployment. Atau cara lainnya adalah melalui fitur Terraform. Setidaknya, bila menggunakan mode ini ada beberapa keuntungan dan hal lainnya seperti: Mode ini memang tersedia gratis untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para pengguna Cloud Spanner, terutama untuk mengelola tim Anda. Meskipun konfigurasi, skema, dan data bisa hilang saat restart, di sisi lain memungkinkan bagi para developer untuk memecahkan masalah yang ada secara kolaboratif. Penggunaan Terraform untuk proses deployment pada mode ini memang disarankan. Hal ini karena untuk mempermudah alur pengaturan menjadi lebih baik. Model Deployment Google Cloud pada Cloud Run Source: GCN.com Terakhir, untuk mode deployment Google Cloud bisa melalui Cloud Run. Sebagian orang menilai jika mode yang ketiga ini menjadi pilihan yang tepat. Terutama bagi Anda yang ingin menggunakan REST maupun gRPC. Cloud Run ini dibangun atas gRPC ini. Jadi, apabila aplikasi yang Anda pakai menggunakan library dari RPC API, maka emulator bisa digunakan dalam menerima koneksi pada port 9010. Di sisi lain, bila Anda ingin menggunakan interface REST, maka dapat melakukan konfigurasi Cloud Run untuk mengirimkan request ke port 9020. Mengenai masalah biaya yang dikeluarkan, memang ini berbeda dari mode deployment pertama. Untuk mode ini memang berbayar dan harganya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kesimpulan Source: Grand Canyon University Dari ulasan di atas, kita bisa mengetahui jika mode deployment Google Cloud memang beragam. Anda bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan bisnis. Maka dari itu, diperlukan perhitungan dan juga pertimbangan yang matang bagi Anda maupun tim developer untuk memilih mana yang terbaik. Di samping itu, Anda pun dapat menggandeng vendor penyedia layanan Google Cloud yang terpercaya seperti EIKON Technology. Tujuannya adalah, selain mempermudah proses deployment juga akan memberikan kenyamanan. Terutama dalam hal jaminan keamanan data penting dan krusial milik perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud yang kami tawarkan, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba

Sebagai sebuah solusi one stop cloud, Google Cloud terus berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuhan penggunanya. Bagi Anda pengguna Cloud skala besar, berikut empat fitur terbaru yang bisa digunakan untuk memudahkan proses pengelolaan. Mari simak detail lengkapnya dalam poin-poin di bawah ini. Google Transfer Appliance Photo Credit: Rawpixel Bagi Anda yang baru mulai melakukan transformasi digital dan berpindah ke Cloud, proses transfer data bisa menjadi masalah tersendiri. Sebagai pengguna Cloud dalam skala besar, tentu data yang Anda simpan berjumlah besar. Sebagai solusinya, Anda bisa memanfaatkan fitur terbaru Cloud, Google Transfer Appliance. Google Transfer Appliance merupakan perangkat penyimpanan fisik yang dapat memuat data dari fasilitas lokal. Dengan memanfaatkan fitur baru ini, Anda dapat memindahkan data dari fasilitas penyimpanan lokal secara otomatis. Lebih hemat biaya dan tentunya waktu. Saat penyimpanan penuh, Google Transfer Appliance akan langsung mengirimkan data dalam mode offline ke Google Cloud. Sedangkan dalam mode online Anda dapat melakukan streaming data yang disalin perangkat pada Cloud Storage. Menjalankan fungsi serverless Photo Credit: Rawpixel Salah satu model pendekatan deployment yang diterapkan di Cloud adalah model serverless (tanpa server). Dengan model pendekatan ini, Anda tidak harus menjalankan instance atau container mesin virtual secara terus-menerus. Sebaliknya, Anda bisa memilih waktu operasi sesuai dengan kebutuhan. Model deployment seperti ini dapat terwujud melalui perangkat serverless Google, Cloud Functions yang merupakan function as a service (FaaS). Meski begitu, perlu diingat bahwa meski serverless tidak “memaksa” instance untuk terus berjalan, function tetap memerlukan waktu untuk dapat dimulai dan dijalankan, terutama jika instance sempat dimatikan sebelumnya (cold start). Google menawarkan waktu tunggu lebih singkat yang diberi nama instance minimum atau min. Lebih banyak context Fitur terbaru Google Cloud juga berusaha untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan resource mesin virtual. Google kemudian meluncurkan sebuah alat yang telah disempurnakan dengan lebih banyak context dan juga visibilitas untuk menjalankan workloads. Fitur ini dapat diakses melalui Google Cloud Console. Dari sana, developer dapat membuka VM mana pun dan mengakses visualisasi bawaan. Dengan begitu, developer bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail terkait masalah-masalah umum seperti masalah memori, jaringan, CPU, Disk, dan bahkan live processes. Unattended Project Recommender Photo Credit: Piqsels Seiring berjalannya waktu, dalam menggunakan layanan cloud, Anda akan menemukan resources yang berjalan di cloud yang sudah tidak diperlukan lagi. Jika sebelumnya mencari resources semacam ini harus melalui proses manual, Anda pengguna Google Cloud tidak perlu bersusah payah lagi. Sekarang telah tersedia fitur Unattended Project Recommender yang merupakan bagian dari Active Assist. Dengan rekomendasi otomatis ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mencari resources yang menganggur. Bukan hanya itu, fitur baru ini juga melindungi Anda dari risiko keamanan yang mungkin timbul akibat resources usang. Unattended Project Recommender sendiri memanfaatkan mesin untuk mengidentifikasi resources menurut API, aktivitas jaringan, billing, penggunaan layanan cloud, serta sinyal lain yang bisa menjadi indikator  penentu. Dengan hadirnya fitur-fitur baru dari Google Cloud diharapkan setiap masalah yang dihadapi para user dapat menemukan solusi, terutama bagi Anda yang menggunakan layanan Cloud dalam skala besar. Anda pemilik perusahaan atau instansi yang membutuhkan penyimpanan data berskala besar? Google Cloud bisa menjadi solusi penyimpanan yang bukan hanya efisien tapi juga aman. Nikmati segala kemudahan yang ditawarkan hanya dengan berlangganan layanan Google Cloud dari sekarang. EIKON Technology siap memfasilitasi Anda untuk keperluan tersebut. Klik di sini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai subscription layanan Google Cloud.

Info

3 Langkah Mudah Validasi Domain di Google Cloud Platform

Google Cloud Platform (GCP) merupakan sebuah rangkaian komputasi awan (cloud computing) dari Google dengan infrastruktur yang fleksibel dan tanpa server. GCP menawarkan beragam layanan yang menyeluruh mulai dari layanan computing seperti App Engine dan Kubernetes Engine, hingga layanan storage and database seperti Cloud SQL dan Cloud Storage. Bagi Anda pemilik perusahaan yang ingin mulai melangkah menuju transformasi digital, Google Cloud Platform adalah solusi yang layak dipertimbangkan. Dengan memanfaatkan GCP, Anda bisa mulai membangun dan mengembangkan perusahaan di dalam cloud.  Sebagai langkah awal, Anda perlu membangun struktur dasar yang nantinya dikembangkan di dalam cloud. Proses ini dapat dimulai dengan melakukan validasi domain Anda di dalam Google Cloud Platform. Seperti apa langkah-langkahnya? Simak penjelasannya berikut ini.   Validasi domain Google Cloud Platform pertama Anda   Photo Credit: Rawpixel Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah masuk ke halaman Google Admin. Pada address bar ketik https://admin.google.com/ dan tekan enter. Saat Anda tiba pada halaman pertama konsol Google Cloud Platform, Anda akan menemukan dua pilihan. Pilihan pertama adalah untuk verifikasi akun dan pilihan kedua adalah untuk membuat user baru. Pilih opsi pertama. Google membutuhkan data TXT pada DNS untuk membuktikan bahwa Anda memang pemilik domain. Apabila seluruh pengaturan sudah sesuai klik tab “Verify My Domain”. Sistem akan otomatis membawa Anda pada halaman baru berisi deskripsi proses validasi domain. Klik tab “Continue”. Apabila Anda merasa keberatan untuk membagikan data TXT, Google menyediakan opsi validasi lain seperti data CNAME, meta tag (pada website Anda) atau bisa juga dengan mengunggah file HTML pada website Anda yang menggunakan domain tersebut. Setelah proses verifikasi selesai, Anda bisa langsung memilih opsi “Set up GCP Cloud Console now” yang  di bagian bawah halaman pertama GCP.   Menambahkan pengguna dan grup baru   Photo Credit: Rawpixel Setelah proses validasi domain selesai, sekarang Anda bisa mulai mengatur set up Google Cloud untuk perusahaan Anda. Pilihan pertama yang ditawarkan adalah opsi untuk mengatur resource. Berikutnya, ada juga opsi untuk menambahkan user dan juga group baru. Cukup klik “Open” untuk mulai menambahkan. Dalam membangun perusahaan atau organization di Cloud, Anda mungkin akan memerlukan lebih dari satu administrator. GCP juga menyediakan opsi untuk menambahkan administrator dengan tingkat visibility dan control yang bisa Anda atur. Klik tab “Go To the Admin Console”. Sistem akan membuka tab Chrome baru dan membuat user baru di Cloud Identity. Jika sudah, klik “Continue”. Langkah berikutnya adalah membuat grup. Grup di sini mencakup area inti administrasi GCP perusahaan Anda, baik itu organisasi, jaringan, maupun billing (tagihan). Google juga menyediakan beberapa opsi grup tambahan seperti security untuk keamanan, DevOps, serta developers. Jika ingin menghemat waktu, Anda bisa mengikuti saran dari Google dengan klik “Create and Customize Groups”. Setelah proses pembuatan grup selesai, list yang berisi keseluruhan grup beserta user yang ada akan terisi secara otomatis. Selain itu, jika ada user yang terlewat, Anda bisa menambahkannya langsung dengan menggunakan tautan yang ada di samping masing-masing grup.   Menyiapkan akses administrator   Jika Anda sudah selesai menambahkan user serta grup baru, sekarang waktunya untuk menyiapkan akses administrator.  Untuk keperluan ini, klik opsi “Set up administrator access to your organization” (opsi nomor 3) pada halaman Set up Google Cloud for your organization. Dalam menu ini Anda akan mengatur konfigurasi akses kepada administrator yang telah ditunjuk pada langkah sebelumnya. Anda bisa mengatur tingkat visibility bahkan kontrol akses yang mereka peroleh nanti. Photo Credit: Rawpixel Anda juga bisa mengatur akses administratif menuju organization yang telah dibuat dengan memberikan role bagi masing-masing administrator yang telah ditunjuk. Nantinya, Anda juga bisa menambahkan atau menghapus role yang telah diberikan kepada administrator. Itu dia langkah-langkah untuk melakukan validasi domain Anda di Google Cloud Platform. Dengan melakukan validasi domain maka Anda telah meningkatkan sistem keamanan cloud perusahaan. Ini karena adanya segmentasi role terhadap masing-masing administrator akan  mengurangi risiko adanya kebocoran akses menuju organization yang telah Anda buat di GCP. Berminat untuk mulai transformasi digital dengan Google Cloud Platform? Anda bisa mulai dengan berlangganan layanan Google Cloud. Bagaimana caranya? EIKON Technology menyediakan cloud service solutions untuk menjawab kebutuhan Anda. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai produk Google yang terjamin keamanannya. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim dari EIKON Technology.

Google Cloud

Fitur Baru Penyimpanan Google Cloud Memastikan Data Aman

Data perusahaan merupakan aset paling penting terhadap perkembangan bisnis. Oleh karena itulah, penyimpanan data ini harus dipastikan keamanannya. Agar lebih nyaman dalam proses penyimpanan data ini, Anda bisa menggunakan fitur penyimpanan Google Cloud. Apa saja fitur Google Cloud yang bisa Anda gunakan? Berikut ulasannya yang perlu Anda tahu. Cloud Storage Dual-Region Source: Hp.com Google Cloud Storage menjadi salah satu layanan fitur Google Cloud  yang bisa digunakan untuk menyimpan data dalam jumlah dan kapasitas yang besar maupun data tidak terstruktur. Biasanya, fitur ini sangat cocok digunakan untuk perusahaan. Opsi penyimpanannya pun bisa dipilih berdasarkan kebutuhan. Mulai dari Cloud Datastore bagi penyimpanan non-relasional atau NoSQL dan Cloud SQL yang digunakan sebagai media penyimpanan relasional penuh dengan MySQL maupun database Cloud Bigtable Google. Kini, fitur ini hadir dengan mode dual-region yang saling berkaitan dengan program lainnya seperti Colossus dan Spanner. Cara menggunakan data-region pun cukup mudah, setelah Anda masuk pada menu Google Cloud Storage, masuk menu “Choose Where to Store Your Data” dan pilih “Dual-Region”. Keunggulan dari fitur ini adalah: Dapat melakukan kustomisasi pada dual-region buckets yang dipilih. Dengan begitu, Anda dapat menyimpan data-data penting dari dua tempat yang berbeda. Misalnya saja sebuah perusahaan memiliki data pasar Eropa untuk wilayah Frankfurt dan London. Maka, data-data tersebut dapat tersimpan dengan baik dengan menggunakan fitur dual-region ini. Salah satu hal yang ditakutkan saat proses penyimpanan adalah kehilangan data penting. Kini, hal tersebut dapat diminimalisir dengan menggunakan fitur dual-region buckets dan menggunakan Turbo Replication. Dengan begitu, data dapat kembali normal berkat dukungan replikasi 100% dari SLA dalam kurun waktu sekitar 15 menit. Tentu ini sangat menguntungkan bagi pengguna yang melakukan proses penyimpanan data dalam jumlah besar. Perlindungan dengan Google Kubernetes Enterprise (GKE) Source: Cloud Carib Fitur penyimpanan Google Cloud selanjutnya adalah Google Container Engine. Adapun fitur ini adalah sebuah sistem pengelolaan data untuk container Docker dan berjalan pada sistem cloud publik dari Google. Mesin orkestrasi yang digunakan ialah Google Kubernetes Enterprise yang membuat para developer lebih produktif.  Di sisi lain, fitur ini juga dinilai sangat efisien terhadap sumber daya maupun fleksibilitasnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah, fitur tersebut pun unggul dalam hal penyimpanan data-data krusial milik perusahaan. Berkat keandalannya inilah, GKE dipilih oleh perusahaan besar dunia ketika melakukan proses penyimpanan data. Misalnya saja perusahaan teknologi sekelas Broadcom dan Atos juga menggunakan fitur ini. Filestore Enterprise Source: Teknologi.id Penyimpanan Google Cloud terakhir yang bisa Anda pilih adalah Filestore Enterprise yang masih merupakan bagian dari Filestore di fitur Google Cloud. Keberadaannya memang dikhususkan untuk media penyimpanan yang besar pada tingkatan tier-satu. Terutama dalam hal berbagi file dan data. Termasuk performa yang unggul dalam membaca dan menulis data. Filestore Enterprise menawarkan tingkat keandalan tinggi dengan proses sinkronisasi replikasi menggunakan multiple-zone di beberapa wilayah. Inilah yang menjadi keunggulannya. Yakni ketika di sebuah wilayah tidak mendukung fitur tersebut, maka data akan tersimpan dengan mudah tanpa intervensi. Kesimpulan Source: Quipper.com Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyimpanan data menjadi hal yang penting bagi sebuah perusahaan. Terutama bagi perusahaan yang sedang melakukan migrasi data. Selain itu, keberadaan platform penyimpanan Google Cloud dengan fitur-fitur terbaiknya mampu menjadikan data yang disimpan lebih aman. Dengan begitu akan membuat perusahaan lebih nyaman dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, bahkan bisa meningkatkan keuntungan dengan memanfaatkan fitur Google Cloud secara optimal. Kini, saatnya perusahaan Anda melakukannya dan percayakan pada vendor penyedia layanan Google Cloud yang resmi dan terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang berpengalaman dan memiliki reputasi baik sebagai partner resmi Google di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Jenis Pemrosesan Data Perusahaan

Pengolahan data perusahaan menjadi hal penting agar data-data penting menjadi lebih aman. Selain itu, dengan pengolahan data perusahaan dapat memproyeksikan apa saja yang harus dilakukan nantinya dan mengambil keputusan yang tepat. Saat ini, pengolahan data dapat lebih mudah menggunakan layanan seperti Google Cloud. Lalu, apa saja jenis dan metode pemrosesan data perusahaan? Data Value Chain Source: Unsplash.comJenis pemrosesan dan pengolahan data yang pertama adalah Data Value Chain. Jenis ini merupakan yang paling penting sebab menjadi rangkaian utama dan tahapan awal dalam proses pengolahan data untuk input dalam sebuah sistem dan menjadi output yang berguna bagi perusahaan. Tanpa menggunakan jenis data ini, akan sulit dilakukan pemrograman lebih lanjut menggunakan tools maupun software tertentu bagi perusahaan. Untuk bisa mengolah data pertama tersebut, idealnya Anda bisa menggunakan tools khusus seperti ETL. Khususnya bagi data yang tertulis dan dijadikan sebagai perimeternya. Pada tahapan pemrosesan Data Value Chain, penting juga dipertimbangkan mengenai kecepatan pemrosesan datanya. Misalnya berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengolah data bila menggunakan fitur-fitur terbaik seperti layanan di Google Cloud. Type of Organization Source: Unsplash.com Selanjutnya adalah Type of Organization. Dimana dalam hal ini, pengolahan data dan pemrosesan berdasarkan tipe organisasinya. Oleh karena itulah, berbeda jenis organisasinya beda pula strategi yang diterapkan. Kemudian, penting pula mengenai personil atau sumber daya manusia yang bertanggung jawab menangani proses pengolahan data tersebut. Misalnya saja untuk proses pengolahan data pada warehouse. Di sini, pengguna dapat memilih menggunakan fitur Google Cloud maupun BigQuery. Bila data yang akan diproses cukup besar dan banyak, maka bisa pula menggunakan tool ETL. Caranya adalah dengan mulai memasukkan data-data penting dalam BigQuery SQL dan dilanjutkan dengan menggunakan ETL. Pengolahan data dan pemrosesan Type of Organization masih terbagi lagi menjadi tiga tipe utama. Yakni Data Analyst Driven, Data Engineering Driven, dan Blended Organization. Metode yang Digunakan Source: Pexels.com Selain dari jenis, pengolahan data dan pemrosesannya bagi sebuah perusahaan dapat dilakukan dalam beberapa metode. Hingga saat ini setidaknya ada tiga metode yang sering digunakan yakni batch processing, real time processing, dan distributed processing.   Batch Processing   Metode pertama ini menitikberatkan penggolongan data yang akan diproses nantinya. Biasanya, pengelompokan data ini dilakukan agar lebih mudah dipilah dan lebih nyaman. Selain itu, teknik ini juga dinilai lebih praktis dan efisien serta cepat. Waktu pemrosesannya dan pengolahan datanya bisa dipilih sesuai kebutuhan secara berkala.  Misalnya saja mingguan, bulanan, hingga tahunan. Keunggulan metode ini lebih mudah untuk mengelompokkan data besar saat diproses. Di sisi lain kelemahannya adalah Anda perlu memfilter data yang terkadang memakan waktu yang cukup lama.   Real Time Processing   Real time processing merupakan metode berikutnya yang cukup banyak digunakan. Seperti namanya, pengolahan data dan pemrosesannya dilakukan pada waktu yang sama. Prosesnya dapat menggunakan sistem yang terintegrasi dengan jaringan komputasi awan seperti Google Cloud. Contohnya adalah mengenai input barang pada perusahaan yang harus dilakukan pada saat itu juga. Apabila terjadi perubahan maupun pembatalan masukan data, maka data yang ada pun akan segera terupdate. Sehingga Anda tak perlu lagi melakukan pengecekan satu per satu layaknya teknik pertama karena semuanya berjalan secara otomatis.   Distributed Processing   Terakhir adalah distributed processing, di mana pada proses ini pengolahan data dan pemrosesannya bisa dibilang cukup kompleks. Yakni melibatkan terminal jarak jauh yang terhubung ke server pusat yang membantu pengguna melakukan pengolahan dan pemrosesan data. Pengolahan data menggunakan metode ini dipilih karena lebih responsif terhadap masalah yang dihadapi. Di sisi lain, yang menjadi kekurangannya adalah memerlukan fasilitas yang cukup mahal dan terminalnya terkadang tidak efisien. Setidaknya itulah beberapa jenis pengolahan data dan pemrosesannya yang perlu Anda ketahui. Untuk pengolahan data menggunakan Google Cloud lebih nyaman dan aman, Anda dapat berlangganan di EIKON Technology dan bisa dipilih berdasarkan kebutuhan perusahaan.

Google Workspace, Gsuite, Gsuite enterprise

Mengenal Smart Compose, Fitur Google Workspace yang Solutif

Google Workspace terus berinovasi dalam mengembangkan fitur-fitur unggulannya. Terutama untuk penggunaan bisnis yang lebih baik. Salah satunya adalah fitur Smart Compose yang dirilis pada tahun lalu. Dengan menggunakan fitur ini, Anda menjadi lebih mudah dalam bekerja dengan Google Document dan juga dalam hal pengiriman email lebih baik. Cara kerja Smart Compose menggunakan algoritma Google dengan menganalisa konteks pada teks untuk selanjutnya melakukan prediksi kata yang akan digunakan selanjutnya. Dengan begitu, pengguna cukup mengetuk kata yang disarankan daripada harus mengetiknya secara manual di Google Document Kirim Email Lebih Cepat Source: Mar Tech Selain dapat digunakan pada Google Document, Smart Compose dari Google Workspace ini juga bisa digunakan pada Gmail Anda. Dengan begitu, pengguna dapat melakukan penjadwalan pengiriman email. Di sisi lain, untuk menghargai pengguna lain agar tidak mengirimkan email di luar jam kerja. Salah satu keunggulannya adalah, misalnya Anda menjadwalkan pengiriman email sesuai yang telah diseting dan direkomendasikan. Contohnya pada pukul 08.00 pagi hari maupun di siang hari pada pukul 14.00. Cara menggunakan Smart Compose di email, Anda cukup tap ikon tiga titik pada sisi kanan atas Gmail yang akan dikirimkan. Lalu, pilihlah opsi “Schedule Send” dan tentukan waktunya. Bila Anda menggunakan website, dapat memilih tombol “Send’ pada “Schedule Send”. Bagaimana Cara Mengaktifkannya di Google Workspace Source: OkeZone Techno Untuk bisa menggunakan fitur Smart Compose di Google Workspace ini sebenarnya cukup mudah. Dalam hal tersebut ada beberapa langkah utama yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu. Berikut beberapa di antaranya yang wajib diketahui, terutama bagi Anda yang baru pertama kali menggunakannya yakni: Bukalah file Anda yang ada pada Google Document, pastikan file tersebut sudah sesuai dengan yang akan Anda edit menggunakan fitur Smart Compose. Setelah itu, coba Anda cek bagian atas dan pada menu klik menu “Alat” dan lanjutkan dengan memilih “Preferensi”. Kemudian, tunggu hingga muncul menu selanjutnya untuk mengaktifkan maupun menonaktifkan Smart Compose ini. Jika Anda menginginkannya klik “Tampilkan Saran Smart Compose”. Langkah terakhir adalah dengan klik “OK” dan Anda pun dapat menggunakan fitur ini dengan mudah. Sebagai catatan, apabila Anda telah menonaktifkan fitur Smart Compose pada Google Document, maka saran yang muncul “Smart Compose” tidak ditampilkan pada jendela pengeditan yang utama maupun pada bagian komentar. Jadi, fitur akan otomatis muncul ketika Anda mengaktifkannya saja. Cara Menerima dan Menolak Saran Source: Detik Inet Dalam menggunakan Google Document yang merupakan bagian dari Google Workspace, fitur Smart Compose akan menampilkan saran-saran dari kata yang Anda ketika. Sehingga, akan mudah melakukan pengetikan. Namun, sebagian pengguna terkadang tidak menggunakannya. Bagi Anda yang ingin menggunakan atau menerima saran pada Smart Compose, maka yang bisa dilakukan adalah: Tekan bagian tombol tap  Anda Lalu, tekanlah bagian tombol panah bagian kanan Untuk pengguna Android maupun iOS, Anda bisa menggeser ke arah kanan di bagian teks yang disarankan. Sementara, bagi Anda yang tidak ingin menggunakan atau menolak saran ini ada cara yang sangat mudah untuk mengabaikannya. Yakni dengan cara terus mengetik pada dokumen hingga saran tidak muncul lagi. Kesimpulan Source: Popular Science Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fitur Smart Compose pada  Google Workspace memberikan kemudahan dan kenyamanan pada pengguna. Terutama untuk melakukan aktivitas-aktivitas penting dalam menunjang pekerjaan Anda. Untuk mendapatkan layanan terbaik dari Google Workspace dan fitur-fitur di dalamnya, Anda bisa berlangganan secara premium melalui EIKON Technology.Kami memberikan produk dari Google yang terbaik bagi Anda dalam memenuhi setiap kebutuhan administrasi maupun bisnis yang lebih baik di era digital. Selamat mencoba!

Chromebook

Cara Baru Explore dan Share di Chrome OS pada Chromebook

Untuk menyempurnakan Chrome OS agar dapat memenuhi kebutuhan para penggunanya, Google terus melakukan pengembangan. Salah satu pengembangan tersebut bisa ditemukan pada browser andalan Google, Chrome terutama pada perangkat Chromebook. Dalam update terbaru, Google menyematkan beberapa fitur baru pada Chrome. Menariknya, pengembangan baru tersebut lahir dari kontribusi para pengguna Chrome OS. Melalui Beta channel Chrome, user dapat menguji pakai fitur-fitur baru Chrome dan kemudian memberikan masukan untuk mengembangkan fitur tersebut. Melalui fasilitas ‘Flags and experiements’, Anda dapat memilih mana fitur yang sedang dalam pengembangan untuk dicoba, bahkan sebelum fitur tersebut dirilis. Nah, apa saja fitur terbaru pada Chrome yang bisa Anda coba? Berikut penjelasannya. Akses history lebih mudah dengan cards Photo Credit: Blog Google Kesulitan menemukan file di Google Docs yang Anda buka kemarin, tapi tidak ingin menghabiskan waktu untuk menelusuri history? Kini, Google sudah menyediakan solusinya untuk Anda melalui fitur cards pada New Tab Page. Dengan memanfaatkan cards, akses menuju halaman yang sudah pernah dikunjungi menjadi lebih mudah. Hebatnya lagi, fitur ini juga memungkinkan Anda untuk mengunjungi kembali tugas-tugas yang pernah dikerjakan hanya dengan perintah sederhana. Anda cukup mengaktifkan flag #ntp-modules. Berikut beberapa jenis perintah yang bisa dicoba:       Resep (#ntp-recipe-tasks-module) Dengan perintah ini, Anda bisa membuka kembali halaman berisi resep yang sudah pernah dikunjungi secara otomatis saat membuka tab baru.       Keranjang Belanja (#ntp-chrome-cart-module): Tidak perlu bingung lagi untuk melanjutkan proses belanja online yang terlewat. Setelah keluar dari halaman e-commerce dan menelusuri situs lain, Anda bisa kembali pada halaman belanja tersebut hanya dengan membuka tab baru.       Dokumen (#ntp-drive-module): Ingin mengakses dokumen Google Docs yang kemarin Anda buka? Melalui cards, Anda bisa mendapatkan akses yang ringkas hanya dengan membuka tab baru. Cara ini juga bisa digunakan untuk menemukan file relevan yang baru saja disunting oleh kolaborator lain. Lebih mudah menelusuri hasil pencarian Photo Credit: 377053 (Pixabay) Saat sedang melakukan pencarian melalui Google Search, ada kalanya Anda perlu mengakses lebih dari satu halaman untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Nah, untuk memudahkan Anda, Google menambahkan baris di bawah address bar di Chrome. Baris tersebut berisi sisa hasil penelusuran sehingga Anda dapat membuka hasil berikutnya tanpa harus kembali ke halaman sebelumnya. Fitur ini bisa dicoba di Chrome Beta dengan mengaktifkan flag #continuous-search. Menambahkan highlight dan membagikan kutipan Photo Credit: Google Chrome Menemukan kalimat menarik saat sedang berselancar dengan Chrome? Sekarang Anda bisa membagikannya dengan memanfaatkan quote card. Caranya cukup dengan mengaktifkan flag #webnotes-stylize di perangkat Anda. Setelah flag aktif, Anda cukup menyorot kalimat yang diinginkan dan kemudian pilih template dengan klik opsi “Create card” pada menu yang tersedia. Dengan memanfaatkan fitur ini, Anda bisa membagikan kalimat-kalimat menarik di web dan kemudian mendekorasinya dengan gambar atau font favorit. Anda bahkan bisa membagikannya pada orang lain. Google terus melakukan riset dan inovasi untuk mengembangkan Chrome OS dan berbagai aplikasi yang ada di dalamnya. Harapannya, sistem operasi dari Google tersebut dapat menjawab semua problem yang dihadapi para penggunanya. Fitur-fitur yang disebutkan dalam artikel ini hanyalah sebagian kecil dari pengembangan Chrome OS oleh Google. Tertarik untuk menggunakan Chrome OS guna memudahkan urusan pekerjaan? Anda bisa mencobanya dengan menggunakan perangkat Chromebook, komputer baru dari Google yang dirancang untuk menyelesaikan berbagai hal dengan bantuan Chrome OS. Dapatkan segera perangkat Chromebook Anda melalui EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Scroll to Top