EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Info

Memanfaatkan Zero-touch Enrollment untuk Setup Chromebook Skala Besar

  Proses setup manual Chromebook pada dasarnya dirancang mudah untuk diikuti. Namun bagaimana jika Anda harus melakukan setup perangkat Chromebook dalam skala besar? Nah, Zero-touch Enrollment adalah solusi atas permasalahan tersebut. Zero-touch Enrollment atau ZTE merupakan sebuah tool yang dirancang untuk memudahkan Anda dalam melakukan setup serta deployment perangkat Chromebook, terutama dalam skala besar. Tool ini cocok untuk Chromebook yang digunakan secara massal, seperti untuk keperluan perusahaan atau sekolah.  Bagaimana cara setup Chromebook dengan Zero-touch Enrollment? Mari pelajari bersama prosesnya dalam ulasan berikut. Apa itu Zero-touch Enrollment? Zero-touch Enrollment atau ZTE merupakan alternatif untuk mendaftarkan perangkat Chrome Anda, terutama Chromebook. Dengan tool ZTE, perangkat Chromebook secara otomatis akan terdaftar dalam konsol Google Admin. Jadi, Anda tidak perlu lagi mendaftarkan perangkat secara manual satu persatu. Apa saja yang diperlukan untuk ZTE? Photo Credit: PxHere Untuk bisa mendaftarkan perangkat Chromebooks melalui layanan Zero-Touch Enrollment, ada beberapa hal yang perlu Anda siapkan terlebih dahulu yaitu: Perangkat Chromebooks. Pastikan perangkat Chromebooks mendukung layanan Zero-Touch Enrollment. Anda bisa melihat daftar perangkat yang kompatibel di sini. Penyedia layanan ZTE. Anda bisa menghubungi pihak manufaktur Chromebooks untuk menanyakan ketersediaan ZTE. Alternatif lain adalah melalui partner resmi yang telah diakui Google seperti EIKON Technology. Token pra-penyediaan (pre-provisioning token). Untuk mendapatkan token ini, Anda bisa menyimak langkah-langkahnya di bawah. Google Workspace yang mendukung layanan Zero-touch Enrollment. Ada dua edisi Workspace yang kompatibel dengan layanan ZTE: Google Workspace for Education Plus serta Google Workspace Enterprise Plus. Jika sudah memiliki keempat persyaratan tersebut, Anda bisa langsung mengambil token pra-penyediaan dengan cara berikut ini: Login pada konsol Google Admin. Buka menu Devices > Chrome > Devices. Pilih OU teratas (root) atau bisa juga sub organizational unit, sesuaikan dengan kebutuhan. Selesai memilih OU yang dikehendaki, klik Enroll devices. Jika proses berhasil, Anda akan mendapatkan token berupa 30 karakter alfanumerik. Perlu diingat, token pra-penyediaan selalu terhubung dengan sebuah OU dan dapat dibatalkan (revoke) kapan saja melalui konsol Google Admin. Token tersebut dapat digunakan untuk beberapa perangkat sekaligus. Keuntungan menggunakan ZTE Photo Credit: Pxfuel Selain memudahkan proses setup Chromebook dalam skala besar, ZTE juga menawarkan beberapa kemudahan lain. Salah satu fitur unggulannya adalah Simplify Device Provisioning. Melalui fitur ini, deploy perangkat secara massal dapat dilakukan tanpa harus melakukan setup secara manual. Fitur lain, Enforced Management, memungkinkan pengguna tunggal untuk langsung menggunakan perangkat Chromebook, bahkan sesaat setelah unboxing device. Proses enrollment yang seragam juga otomatis membuat seluruh perangkat terisi dengan aplikasi serta policy sesuai kebutuhan perusahaan atau institusi. Perbedaan ZTE dengan White Glove enrollment Jika dilihat sekilas, ZTE mirip dengan enrollment perangkat model White Glove. Sebab keduanya berkaitan dengan OU.  Namun ZTE memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki sistem White Glove. Misalnya, dengan ZTE, Anda bisa mengatur OU mana yang diinginkan. Sementara White Glove hanya bisa terpasang pada struktur OU teratas yaitu root. Selain itu, White Glove juga harus melalui tahap pengecekan dead unit, sedangkan ZTE tidak. Dengan begitu, perangkat bisa lebih cepat dikirim dan digunakan. Bukan hanya itu, ZTE juga memungkinkan Anda untuk lebih bebas mengatur konfigurasi Wi-Fi. Pada sistem White Glove, konfigurasi serta policy Wi-Fi telah diatur sebelum perangkat dikirimkan.    Photo Credit: Pxfuel Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Zero-touch Enrollment membuat proses deploy perangkat Chromebook menjadi lebih cepat. Hal ini tentu akan sangat membantu untuk penggunaan perangkat Chromebook dalam skala besar seperti pada perusahaan atau institusi pendidikan. Konfigurasi policy dan bahkan aplikasi yang terpasang dalam perangkat pun bisa dibuat seragam sesuai kebutuhan perusahaan. Hingga saat ini, penyedia layanan Zero-touch Enrollment di Indonesia memang masih terbatas jumlahnya. Namun Anda tidak perlu khawatir karena EIKON Technology sudah menjadi partner pra-penyediaan (pre-provisioning) resmi yang ditunjuk oleh Google Chrome Enterprise. Untuk aktivasi perangkat Chromebook skala besar melalui ZTE, Anda cukup mengunjungi website resmi EIKON Technology di eikontechnology.com. Masih merasa ragu? Diskusikan kebutuhan Anda dengan kami. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology.

Google Slide, Google Workspace, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Keunggulan Aplikasi Presentasi Google Slides dan Microsoft PowerPoint

Apa aplikasi presentasi favorit Anda? Apakah PowerPoint dari Microsoft yang memang banyak penggunanya atau justru Anda lebih suka aplikasi berbasis cloud seperti Slides buatan Google? Sekarang sudah ada banyak sekali aplikasi presentasi yang bisa Anda pilih. Namun hingga saat ini, aplikasi buatan raksasa teknologi seperti Google dan Microsoft masih di atas angin. Selain karena kualitas yang sudah terbukti, aplikasi buatan Google dan Microsoft juga terus berinovasi untuk membantu pekerjaan Anda. Lalu, jika keduanya dibandingkan, mana yang akan keluar sebagai juaranya? The classic Microsoft PowerPoint atau justru aplikasi presentasi cloud based Google Slides? Cari tahu jawaban lengkapnya dalam ulasan berikut ini. Membandingkan Google Slides dan Microsoft PowerPoint Photo Credit: Airfocus (Unsplash) Baik Google maupun Microsoft memiliki keunggulannya masing-masing. Microsoft misalnya, telah terbukti mampu bertahan menjadi raksasa teknologi dan perangkat lunak sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1975. Kesuksesan Microsoft pun terus berlanjut saat mereka meluncurkan lini productivity software di tahun 1989. Meski sejarah Google belum sepanjang Microsoft, namun bukan berarti teknologi yang ditawarkan menjadi kalah saing. Sejak didirikan tahun 1998, Google mengalami perkembangan pesat. Salah satu temuannya, Google Search, menduduki peringkat pertama untuk kategori mesin pencari di internet. Di kategori productivity software, Google dan Microsoft pun terus bersaing. Artikel ini membahas salah satu aplikasi pada platform produktivitas mereka yaitu aplikasi presentasi, Google diwakili Slides dan Microsoft dengan PowerPoint. Dari kedua opsi tersebut, siapa juaranya? Dari segi fitur Saat membandingkan aplikasi, fitur selalu menjadi indikator penilaian. Melalui fitur, Anda bisa menilai kinerja aplikasi tersebut. Nah, bagaimana dengan Slides dan PowerPoint? Ciri khas dari Google Slides adalah model kerjanya. Aplikasi ini merupakan cloud based application. Artinya, semua data presentasi yang Anda buat di Slides tersimpan dalam server internet. Selain untuk membuat file presentasi standar, Slides juga memiliki fitur: Pilihan tema yang variatif. Hingga artikel ini dibuat, Google menyediakan 26 tema presentasi gratis. Embed video dan animasi. Simpan otomatis. Anda tidak perlu menekan tombol Save untuk menyimpan file. Revision History untuk melacak perubahan pada file. Dengan fitur ini juga Anda bisa mengembalikan file presentasi pada versi yang sebelumnya. Presentasi dapat dilakukan secara nirkabel dengan perangkat Chromecast, Airplay atau Hangouts. Photo Credit: Google Slides Sebagai aplikasi berbasis cloud, Google Slides juga sangat terbuka dengan sistem kerja kolaborasi real-time. Dengan Slides, Anda bisa mengerjakan file presentasi dengan beberapa orang sekaligus meski terpisah jarak yang jauh. Setelah membahas fitur-fitur Slides, mari mengupas fitur yang ditawarkan PowerPoint. Meski pada dasarnya PowerPoint bukan merupakan aplikasi berbasis cloud, namun Microsoft telah mengintegrasikan seluruh aplikasi produktivitas mereka melalui Microsoft 365. Ada pun fitur-fitur yang ditawarkan PowerPoint antara lain: Ratusan pilihan jenis font. Opsi transisi yang beragam hingga 8 jenis dan animasi hingga 37 jenis. Animasi PowerPoint juga dapat dimodifikasi sesuai keinginan. Tema yang dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan. Chart yang terintegrasi dengan Microsoft Excel. Proofread otomatis. Transfer file presentasi ke halaman web atau blog. Photo Credit: Microsoft PowerPoint Selain itu, Microsoft juga menawarkan beberapa fitur premium seperti PowerPoint Designer untuk membuat cinematic transitions, Broadcast Live untuk “menyiarkan” presentasi secara real-time, dan Presenter View untuk menampilkan file Anda pada layar yang berbeda. Fitur premium ini dapat dinikmati dengan berlangganan Microsoft 365 terlebih dulu. Dari segi harga Selain fitur, harga juga sering dijadikan poin pertimbangan saat memilih aplikasi presentasi. Nah, bagaimana perbandingan harga antara Google Slides dengan Microsoft PowerPoint. Jika Anda melihat Slides sebagai sebuah aplikasi tunggal, maka perbandingan harganya dengan PowerPoint akan sangat tidak seimbang. Sebab, PowerPoint adalah bagian dari Microsoft 365 yang merupakan rangkaian software berbayar. Sementara Slides sebagai aplikasi tunggal dapat digunakan secara gratis. Namun jika Anda ingin menghasilkan sebuah presentasi yang berkualitas, tidak ada salahnya untuk melakukan optimalisasi. PowerPoint dapat terintegrasi dengan seluruh aplikasi produktivitas Microsoft 365. Sedangkan Slides dapat disambungkan dengan Google Workplace  dan beragam aplikasi produktivitas di dalamnya. Tertarik menggunakan Microsoft 365 atau Google Workplace? Sebagai mitra resmi dari Microsoft dan Google, EIKON Technology menyediakan beberapa paket langganan yang bisa Anda pilih. Konsultasikan dengan tim dari EIKON Technology untuk berlangganan paket yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda. Google Slides vs. Microsoft PowerPoint: Pilih yang mana? Lalu dari kedua pilihan aplikasi presentasi di atas, mana yang jadi juaranya? Untuk menentukan juaranya cukup sulit. Sebab, keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya Anda mencari aplikasi yang ekonomis, Slides adalah juaranya. Namun jika Anda perlu fitur dengan model transisi dan animasi yang lebih variatif, PowerPoint pilihan nomor satu. Optimalisasi aplikasi juga masih sangat terbuka. Pada Slides, Anda bisa menghubungkannya dengan Google Workplace. Sedangkan PowerPoint memiliki integrasi dengan aplikasi produktivitas Microsoft lainnya dalam Microsoft 365. Itu dia perbandingan antara Google Slides dan Microsoft PowerPoint. Jika Anda ingin mengulik lebih jauh tentang optimalisasi aplikasi presentasi lewat masing-masing productivity software, jangan ragu untuk menghubungi EIKON Technology. Terafiliasi dengan Google dan Microsoft, EIKON Technology juga siap membantu Anda untuk berlangganan Google Workplace maupun Microsoft 365. Tunggu apa lagi, klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology!

Google Meet, Google Workspace, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365, Rapat online

Kelebihan Video Conference Google Meet dan Microsoft Teams

Apa software video conference terbaik? Anda mungkin menjawab Google Meet atau mungkin Microsoft Teams. Keduanya memang sudah lama dikenal sebagai software video conference. Namun jika harus memilih, mana yang paling tepat untuk Anda? Tren remote working atau kerja jarak jauh makin populer dekade belakangan ini. Mengutip data dari FlexJobs, jumlah pekerja remote di dunia meningkat hingga 159% selama 2005-2017. Jumlah tersebut terus bertambah dan semakin pesat saat dunia memasuki masa pandemi tahun 2020 lalu. Perubahan tren bekerja tersebut juga diikuti dengan kenaikan jumlah penggunaan software video conference.  Pilihan software yang beredar pun semakin beragam. Google dan Microsoft sebagai raksasa teknologi tentu tidak ingin ketinggalan dalam persaingan. Nah, di antara Google Meet dan Microsoft Teams, mana yang terbaik? Head to head Google Meet dan Microsoft Teams Photo Credit: Rawpixel (PxHere) Untuk menentukan mana yang terbaik di antara Google Meet dan Microsoft Teams, ada beberapa aspek yang bisa Anda pertimbangkan. EIKON telah merangkumkan beberapa poin perbandingan yang bisa menjadi pertimbangan. Mari simak bersama.     Dari segi harga Pada dasarnya, baik Meet maupun Teams menyediakan layanan gratis untuk pengguna pribadi. Namun fitur-fitur yang tersedia terbatas. Selain itu, layanan gratis tersebut seringkali dirasa kurang cocok untuk kebutuhan bisnis. Jika menginginkan lebih banyak fitur, Google Workspace dan Microsoft menawarkan beberapa paket berbayar yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan.      Dari segi fitur Photo Credit: Pxfuel Selain harga, hal lain yang bisa Anda pertimbangkan adalah fitur. Meski saat dilihat sekilas keduanya serupa, Meet dan Teams ternyata memiliki  beberapa fitur uniknya masing-masing. Misalnya, Anda hanya bisa menemukan fitur penyesuaian kualitas koneksi berbasis AI (Artificial Intelligence) di Meet. Namun di sisi lain, Teams menawarkan fitur easy guest access yang tidak dimiliki Meet. Perlu diingat, Teams dirancang untuk kebutuhan bisnis, terutama untuk perusahaan dengan kapasitas besar. Jadi tidak mengherankan jika ada banyak sekali fitur komunikasi dan kolaborasi di Teams. Di sisi lain, Meets menawarkan interface yang intuitif dan integrasi yang mudah dengan aplikasi lain di dalam Google Workspace. Bagi pemula, Meets juga relatif lebih mudah digunakan dibanding dengan Teams.     Dari segi user experience Mengapa Meets relatif lebih mudah digunakan pemula? Jawabannya secara garis besar terletak pada desain layout yang sederhana dan tampilan interface yang intuitif. Plus, sudah bukan rahasia lagi jika Google selalu terdepan dalam urusan user experience. Untuk video conference atau online meeting sederhana saja, Meets sudah dapat diintegrasikan dengan aplikasi Google lain seperti Calendar dan tentunya Gmail. Dengan integrasi tersebut, Anda bisa menjadwalkan meeting sekaligus memasang reminder bagi peserta meeting. Meski begitu, bukan berarti Teams kalah jauh. Tampilan Teams memang lebih kompleks dibandingkan dengan Meet. Namun kompleksitas tersebut justru menunjukkan kemampuan Teams. Ini karena desain yang kompleks tersebut menandakan adanya lebih banyak fitur untuk memudahkan pekerjaan Anda. The final verdict Photo Credit: Pxfuel Sekarang kembali pada pertanyaan utamanya, mana yang lebih tepat untuk Anda, Google Meet ataukah Microsoft Team? Jawabannya, tergantung pada kebutuhan Anda. Google Meet menawarkan tampilan interface yang intuitif dan layout yang simpel. Sementara itu, desain Teams memang lebih kompleks tapi fitur komunikasi dan kolaborasi yang ditawarkan lebih lengkap. Dari segi fungsi, Meet dirancang hanya sebagai software video conference. Di sisi lain, Teams adalah platform kolaborasi, yang tidak hanya bisa digunakan untuk video conferencing. Meski begitu, bukan berarti Anda tidak bisa menggunakan Meet untuk kolaborasi kerja. Optimalisasi Meet bisa dilakukan dengan melakukan integrasi ke Google Workspace. Dengan Workspace, Anda dapat menggunakan aplikasi kolaborasi Google seperti Drive, Sheets, dan Documents. Di sisi lain, optimalisasi Teams bisa dilakukan dengan aplikasi produktivitas Microsoft 365 Business. Semoga ulasan mengenai perbandingan antara Google Meet dan Microsoft Teams ini dapat membantu Anda ya. Jika memang tertarik untuk menggunakan software video conference, Anda bisa langsung menghubungi EIKON. EIKON Technology merupakan partner resmi Google dan Microsoft di Indonesia. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology!  

Chromebook, Info

Trik Optimalisasi Chrome Browser untuk Tingkatkan Produktivitas Kerja

  Siapa tak kenal Chrome Browser? Bisa dibilang, Chrome adalah browser yang paling banyak digunakan di dunia saat ini. Sebagai browser paling populer, Chrome pun dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk menunjang produktivitas kerja. Artikel ini akan mengulas beberapa trik optimalisasi Chrome Browser agar dapat meningkatkan produktivitas kerja. Anda bisa menerapkannya langsung pada perusahaan atau pun divisi IT perusahaan untuk menunjang produktivitas, efisiensi, serta keamanan mereka. Berikut adalah beberapa trik yang bisa Anda bagikan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan maksimal saat menggunakan Chrome Browser. Jalan pintas melalui address bar Photo Credit: Google Support Chrome Browser punya banyak jalan pintas atau shortcut yang tersembunyi pada address bar mereka. Dengan mengetahui pintasan tersebut, Anda bisa menghemat banyak waktu saat bekerja. Setelah sebelumnya menambahkan tindakan “Kelola Kata Sandi” untuk mengelola pengaturan privasi dan keamanan, kini Google telah menambahkan 16 tindakan baru. Salah satunya adalah pintasan untuk membuat dokumen Google Docs baru. Untuk “memancing” tindakan tersebut, Anda cukup mengetik trigger words “new Google doc” pada address bar. Bagi Anda yang tak ingin berlama-lama membuka opsi menu keamanan Chrome Browser untuk melakukan pemeriksaan keamanan, bisa mengetik trigger words “safety check” pada address bar. Pintasan tersebut akan membawa Anda pada halaman pemeriksaan keamanan Chrome. Sayangnya, fitur jalan pintas ini baru tersedia dalam bahasa Inggris. Namun, Google terus berupaya untuk menghadirkan trigger words dalam bahasa lain. Pisahkan penjelajahan pribadi dan pekerjaan Anda Photo Credit: Monisphoto_com (Pixabay) Seperti yang sudah disebutkan, ada banyak sekali kegunaan Chrome Browser. Maka tidak mengherankan jika browser yang satu ini digunakan untuk berbagai keperluan. Selain keperluan pekerjaan, tak jarang, Chrome pun dipakai untuk penjelajahan pribadi. Saat bekerja, ada kalanya Anda perlu mengecek keperluan pribadi bukan? Nah, hal tersebut bisa menjadi masalah keamanan. Sering terjadi kasus salah pengiriman file karena data penjelajahan pribadi dan pekerjaan tercampur. Untuk mengatasinya, Chrome menghadirkan fitur “Profile”. Dengan fitur ini, Anda bisa membuat akun terpisah untuk keperluan pribadi dan pekerjaan. Data pribadi seperti bookmark, kata sandi, hingga riwayat penjelajahan akan tersimpan dalam akun tersebut dan tidak akan berpindah kecuali Anda memang berpindah akun. Fitur ini dapat diakses dengan klik gambar profil Anda di bagian kanan atas browser. Untuk berpindah akun, pilih opsi “Other Profiles” atau “Profil Lain”.  Temukan tab lebih cepat Saat bekerja, terkadang Anda harus membuka banyak tab sekaligus di browser. Biasanya hal ini terjadi saat load kerja sedang tinggi. Banyaknya tab yang terbuka seringkali menimbulkan masalah. Paling sering terjadi adalah kesulitan menemukan tab yang diperlukan. Akibatnya, Anda harus menghabiskan waktu untuk membuka tab satu persatu. Sekarang, Anda tidak perlu kembali pada situasi. Chrome menyediakan fitur “Grup Tab” serta penelusuran tab untuk membantu Anda. Untuk membuat grup, cukup klik kanan pada tab browser yang terbuka kemudian klik opsi “Add Tab to new group”. Sedangkan untuk mencari tab, klik ikon panah di bagian kanan atas browser (tepat di sebelah ikon Minimize). Seluruh tab yang terbuka akan langsung ditampilkan. Menjelajah lebih aman Photo Credit: JESHOOTS_com (Pixabay) Masalah lain yang mungkin terjadi saat Anda membuka banyak tab di Chrome adalah seluruh tab ikut crashing saat ada satu tab bermasalah. Chrome mengatasi permasalahan tersebut dengan menghadirkan fitur keamanan Site Isolation. Dengan Site Isolation ini, masing-masing tab akan berjalan pada proses render yang berbeda. Jadi, tiap tab terpisah satu sama lain. Selain mengatasi crash, Site Isolation juga meningkatkan keamanan Anda saat menjelajah dengan Chrome Browser. Site Isolation membuat tiap tab berjalan pada sandbox. Dengan begitu, jika Anda tidak sengaja masuk ke web berbahaya, web tersebut tidak akan bisa mengakses informasi yang terbuka di tab lain.  Untuk mengaktifkan Site Isolation, Anda cukup mengetik perintah “chrome://flags/#enable-site-per-process” pada address bar. Jika sudah masuk dalam halaman Site Isolation, klik “Enable” untuk mengaktifkan fitur. Manfaatkan fitur terbaru Chrome adalah browser yang dinamis dan berkembang. Inovasi terus dilakukan agar segala kebutuhan user selalu terpenuhi, termasuk untuk urusan produktivitas kerja. Google melakukan update secara berkala pada Chrome Browser. Anda sebagai user bisa menikmati update tersebut melalui fitur-fitur baru yang disematkan pada Chrome. Salah satu fitur terbaru dari Chrome adalah Tab Groups. Dengan fitur tersebut, Anda bisa mengelompokkan beberapa tabs dalam satu grup. Bukan cuma itu, update sistem juga dilakukan untuk memperbaiki performa Chrome secara keseluruhan. Pada update terbaru, CPU Usage dapat diminimalisir. Hasilnya, mesin tidak cepat panas dan baterai lebih awet. Lebih lengkap mengenai fitur-fitur terbaru Chrome dapat Anda simak di sini.   Jika merasa fitur-fitur Chrome Browser tersebut belum cukup, Anda bisa mempertimbangkan perangkat Chromebook. Dengan sistem operasi Chrome OS, Chromebook adalah perangkat paling optimal untuk menjalankan seluruh aplikasi produktivitas dari Google. Agar produktivitas kerja semakin baik, optimalisasi Chrome Browser juga bisa diiringi dengan penggunaan productivity software dari Google yaitu Google Workspace. Bagaimana cara mendapatkannya? EIKON Technology sebagai partner resmi Google di Indonesia siap membantu Anda mendapatkan produk-produk Google dengan mudah dan tentunya legal. Klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology segera.  

Cloud Computing

Migrasi Chrome OS Lebih Mudah dengan Parallels Desktop

  Chrome OS mulai menunjukkan kebolehannya. Terbukti, dalam laporan yang dirilis IDC (International Data Corporation) bulan Februari 2021 lalu, Chrome berhasil menempati peringkat kedua operating system terlaris di dunia. Dengan fitur unggulan seperti opsi manajemen jarak jauh, keamanan berlapis, serta penggunaan cloud, tidak mengherankan jika Chrome makin banyak peminatnya. Meski begitu, masih banyak pengguna yang belum bisa seratus persen bermigrasi ke Chrome. Beberapa akhirnya memilih model kerja hybrid yang memadukan OS lama mereka dengan Chrome. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah untuk pengguna personal, namun untuk penggunaan berskala besar tentu akan sangat merepotkan. Di sinilah Parallels Desktop mengambil peran. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.  Migrasi Chrome OS Perubahan akan selalu terasa sulit pada mulanya, termasuk saat Anda harus mengubah OS. Tidak heran jika banyak orang kemudian memilih model kerja hybrid terlebih dulu sebelum akhirnya melakukan migrasi total pada OS mereka.  Terlebih jika migrasi tersebut berskala besar, seperti penggunaan untuk bisnis perusahaan. Tentu migrasi tidak bisa dilakukan secara kontan. Beberapa jenis pekerjaan mungkin sudah memiliki pakem tersendiri yang mengakibatkan migrasi harus dilakukan secara bertahap. Untuk menjawab tantangan tersebut, Chrome OS menawarkan beberapa kemudahan dalam proses migrasi mereka. Di tahun 2020 lalu, bekerja sama dengan Corel Corporation, Chrome menghadirkan Parallels Desktop untuk migrasi OS yang lebih mudah dan simpel. Bagaimana detailnya? Mengenal Parallels Desktop Photo Credit: Parallels Desktop Parallels Desktop adalah software besutan Corel Corporation. Perangkat lunak satu ini dirancang untuk memudahkan proses migrasi OS tanpa perlu melakukan reboot. Untuk penggunaannya, Parallels dapat digunakan baik untuk keperluan personal maupun bisnis. Berikut adalah beberapa fitur unggulan Parallels Desktop untuk Chrome OS: Akses mudah menuju aplikasi Windows, termasuk Microsoft Office. Transisi seamless antara Chrome dengan Windows, memungkinkan Anda untuk membuka file Chrome menggunakan aplikasi Windows maupun sebaliknya, File yang dapat diakses dalam kondisi online maupun offline. Mendukung perangkat kamera, mikrofon, hingga audio and docking sehingga Anda bisa menggunakan aplikasi komunikasi Windows seperti Skype dan Microsoft Teams. Perangkat yang mendukung Parallels Desktop Sebelum melakukan instalasi Parallels Desktop pada perangkat Anda, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu syarat utama adalah jenis perangkat. Berikut adalah beberapa spesifikasi perangkat yang kompatibel dengan Parallels: Menggunakan prosesor Intel Core i5 atau i7. Dalam update terbaru, software ini juga dapat dijalankan pada perangkat dengan prosesor AMD Ryzen 5 atau 7 AMD Ryzen seperti Lenovo ThinkPad C13 Yoga dan HP Chromebook Enterprise c645. Beberapa jenis Chromebox juga telah mendukung Parallels, termasuk di antaranya adalah HP Chromebox G3. Seri Latitude dari Dell juga masuk dalam jajaran perangkat yang mendukung Parallels, mencakup model 5300 2-in-1, 5400 serta 7410. Persyaratan RAM lebih  mudah dijangkau. Dalam versi terbarunya, Parallels sudah dapat diakses perangkat dengan RAM 8GB. Sebelumnya, Parallels hanya direkomendasikan untuk perangkat dengan minimal RAM 16GB. Hal lain yang perlu diperhatikan Photo Credit: Samuel Bourke (Pixabay)  Sudah memiliki perangkat yang kompatibel untuk Parallels? Sebelum masuk dalam proses instalasi, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan. Agar proses instalasi lancar dan seluruh fitur Parallels dapat digunakan pada perangkat Chrome, pastikan Anda telah memiliki Windows 10 ISO, lisensi Chrome Enterprise Upgrade, serta key license Parallels Desktop untuk Chrome OS. Jangan lupa juga untuk masuk ke akun Administrator sebelum melakukan instalasi. Dengan Parallels Desktop, migrasi ke Chrome OS dapat dilakukan dengan mudah dan seamless. Proses instalasinya bahkan tidak memerlukan reboot pada perangkat. Selain memanfaatkan Parallels, untuk mencapai efisiensi kerja, Anda bisa memanfaatkan productivity software lain dari Google seperti Google Workspace. Masih bingung software penunjang mana yang paling sesuai untuk bisnis Anda? Kontak kami, EIKON Technology untuk mendapatkan solusi terbaik untuk Anda.  

Google Workspace, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Google Workspace vs. Microsoft 365, Mana Lebih Unggul?

  Google Workspace atau Microsoft 365? Sebagai raksasa teknologi, baik Google maupun Microsoft sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya dalam menghasilkan productivity software. Rilisan masing-masing perusahaan, Google Workspace (sebelumnya G Suite) dan Microsoft 365 menawarkan beragam fitur untuk mendukung produktivitas kerja, seperti: Sekilas, keduanya memang terlihat sama. Namun jika dibandingkan dengan saksama, Google dan Microsoft ternyata menerapkan pendekatan yang berbeda dalam merancang kedua productivity software tersebut, terutama dalam hal perancangan cloud serta desain app. Berikut perbandingan lebih lanjut antara Google Workspace dengan Microsoft 365. Layanan e-mail Photo Credit: Pxfuel Untuk layanan e-mail bisnis, Google menawarkan Gmail dengan optimasi Chrome web browser. Sedangkan Microsoft punya Exchange Online yang dikombinasikan dengan desktop client Outlook. Keduanya telah dilengkapi dengan fitur pengamanan standar seperti proteksi anti-malware, filter spam, hingga group alias. Perbedaan yang mencolok terlihat pada kapasitas penyimpanan kotak masuk (inbox). Kapasitas terkecil ada pada plan Business Starter milik Workspace, yaitu sebesar 30GB. Sedangkan kapasitas terkecil Microsoft 365 adalah 50GB (Business Basic). Baik Google maupun Microsoft menawarkan kapasitas unlimited untuk plan tertinggi mereka, Enterprise. Aplikasi produktivitas Salah satu highlight dari productivity software adalah aplikasi penunjang produktivitas. Aplikasi produktivitas Google seperti Docs, Sheets, dan Slides dirancang untuk penggunaan berbasis browser. Selain itu, aplikasi tersebut juga hadir dalam format mobile.   Format browser-based milik Google Workspace ini akan memudahkan Anda yang memerlukan kolaborasi kerja real-time. Satu file kerja dapat dikerjakan sekaligus oleh beberapa orang dalam satu waktu, meski terpisah jarak jauh. Di sisi lain, aplikasi produktivitas Microsoft 365 berbasis desktop. Word, Excel, dan PowerPoint yang merupakan aplikasi unggulan Microsoft dapat diakses baik melalui sistem operasi Windows maupun Mac. Fitur yang tersemat pada aplikasi Microsoft 365 sudah terbukti sejak lama kualitasnya. Aplikasi Word misalnya, memiliki fitur canggih dan detail untuk mengolah kata. Cocok untuk perusahaan yang memerlukan fitur detail dan tidak terlalu bergantung pada kolaborasi real time.   Penyimpanan berbasis cloud Tidak bisa dipungkiri, penyimpanan berbasis cloud (cloud storage) kini telah menjadi kebutuhan tersendiri bagi perusahaan. Baik Google maupun Microsoft berusaha menjawab tantangan tersebut. Google meluncurkan Google Drive, sedangkan Microsoft dengan OneDrive. Alokasi ruang penyimpanan terkecil Google Drive adalah 30GB. Perlu diingat, Drive membagi cloud storage mereka dengan penyimpanan Gmail. Sedangkan OneDrive menyediakan ruang penyimpanan 1TB. Sama seperti e-mail, kapasitas penyimpanan cloud ini juga dapat di-upgrade. Pada plan termahal (Enterprise),  Anda bisa mendapatkan ruang penyimpanan unlimited. Fitur komunikasi Photo Credit: McKinsey (Raw Pixel) Fitur lain yang perlu diperhatikan adalah layanan komunikasi. Produktivitas kerja perusahaan Anda akan terganggu tanpa adanya sistem komunikasi yang baik bukan?  Productivity software Google Workspace telah dilengkapi dengan fitur komunikasi Google Meet yang dapat digunakan untuk agenda meeting online, konferensi video, hingga video call. Tersedia pula Google Chat untuk mengirim pesan teks. Microsoft 365 tak mau kalah dengan menghadirkan Microsoft Teams. Aplikasi komunikasi ini merupakan pengembangan dari Skype for Business dan Lync milik Microsoft. Teams menyediakan fitur untuk video call, meeting, dan konferensi video.   Mana lebih unggul? Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus tahu apa kebutuhan perusahaan. Jika perusahaan Anda menitikberatkan pada kolaborasi real-time dan kebanyakan pekerjaan berbasis online, maka Google Workspace adalah jawabannya. Namun jika perusahaan Anda memerlukan aplikasi produktivitas yang detail dan tidak harus terpaku pada progres real-time, Microsoft 365 bisa dijadikan pilihan. Sudah menetapkan pilihan Anda? Bagaimana ya, cara mendapatkan productivity software tersebut? Tidak perlu bingung, baik paket berlangganan Google Workspace maupun Microsoft 365 bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Masih ragu? Tim EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi untuk membantu menentukan productivity software terbaik untuk Anda. Klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology.  

Info

Layanan Zero-touch Enrollment untuk Perangkat Chrome OS

Saat menggunakan perangkat Chrome OS, terutama dalam skala besar seperti di tingkat perusahaan, perlu ditetapkan kebijakan pemakaian perangkat. Tujuannya agar Anda dan tim bisa menggunakan perangkat Chrome OS secara efektif sehingga berdampak baik terhadap produktivitas kerja. Pengaturan kebijakan perangkat dilakukan melalui konsol Google Admin. Namun, untuk bisa melakukan hal tersebut, Anda harus terlebih dulu mendaftarkan perangkat OS yang akan digunakan. Kini, proses pendaftaran (disebut juga dengan deployment) tak hanya bisa dilakukan secara manual, tapi juga melalui metode zero-touch enrollment. Metode tersebut memungkinkan Anda untuk mendaftarkan perangkat OS baru secara otomatis sehingga lebih mudah dan praktis. Namun, bagaimana sebetulnya cara kerja zero-touch enrollment? Pelajari lebih dalam melalui ulasan berikut ini. Apa yang dimaksud dengan zero-touch enrollment? Photo Credit: Mikhail Nilov (Unsplash) Dilansir dari laman web Google, zero-touch enrollment diartikan sebagai metode alternatif dari pendaftaran perangkat Chrome OS secara manual. Pada metode ini, mitra pra-penyediaan (distributor, reseller, atau produsen perangkat) mengirimkan instruksi kepada Google untuk mendaftarkan perangkat Chrome secara otomatis pada domain milik pengguna setelah perangkat tersebut dihidupkan dan terhubung dengan internet. Dengan kata lain, pengguna tidak harus melakukan pendaftaran perangkat OS sendiri. Namun, penting diketahui bahwa ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan untuk menerapkan metode zero-touch enrollment, yaitu: Token pra-penyediaan (disebut juga pre-provisioning token) yang dibuat dari konsol Google Admin. Mitra pra-penyediaan resmi yang telah ditunjuk untuk membantu proses pendaftaran perangkat Chrome OS. Layanan upgrade Chrome Enterprise, Education, dan Non-Profit. Apa keunggulan layanan zero-touch enrollment pada perangkat Chrome OS? Photo Credit: George Milton (Unsplash) Demi mendukung kenyamanan dan produktivitas para karyawannya, kini banyak perusahaan menyediakan perangkat yang hanya bisa digunakan untuk bekerja. Walaupun terdengar praktis, perusahaan kerap berurusan dengan masalah deployment, setup perangkat, hingga instalasi aplikasi. Mengingat biasanya ada banyak perangkat yang diberikan kepada tiap karyawan, maka keseluruhan proses deployment pun memakan waktu cukup lama. Nah, metode zero-touch enrollment pada perangkat Chrome OS mampu memberi solusi atas permasalahan tersebut. Melalui metode enrollment, perusahaan dapat melakukan proses deployment perangkat Chrome OS secara massal dan online. Alhasil, perangkat pun bisa langsung digunakan oleh karyawan dengan menggunakan konfigurasi yang telah ditetapkan perusahaan secara otomatis. Di mana Anda bisa mendapatkan layanan tersebut untuk perangkat Chrome OS? Photo Credit: Mikhail Nilov (Unsplash) Bersifat online dan otomatis, metode enrollment memberikan kemudahan dalam proses deployment perangkat Chrome OS, khususnya bagi perusahaan yang biasanya melakukan hal tersebut pada banyak perangkat sekaligus. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua perangkat Chrome OS mendukung zero-touch enrollment. Cek di sini untuk mengetahui perangkat Chrome OS mana saja yang telah mendukung metode tersebut. Layanan ZTE pada perangkat Chrome OS hanya bisa didapatkan melalui mitra resmi Google. Di Indonesia, mitra penyediaan layanan zero-touch enrollment yang telah tercatat dan diakui Google adalah EIKON Technology. Nama EIKON Technology bahkan sudah terdaftar di sini. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menggunakan layanan zero-touch enrollment yang disediakan EIKON Technology? Anda hanya perlu mengunjungi situs resmi EIKON Technology di eikontechnology.com. Sebagai alternatif, Anda juga bisa langsung klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology. Tinggalkan pesan atau ceritakan kebutuhan Anda dan tim EIKON Technology akan segera kembali menghubungi Anda.  

Google Workspace, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter: Mana yang Lebih Baik untuk Bisnis?

  Melalui Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter, Microsoft dan Google menawarkan rangkaian layanan penunjang produktivitas. Masing-masing memiliki sejumlah paket berlangganan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan bisnis, termasuk bisnis berskala kecil. Untuk kebutuhan tersebut, Microsoft telah menyediakan paket berlangganan Microsoft 365 Business Basic, sedangkan Google hadir dengan Google Workspace Business Starter. Keduanya sama-sama memberikan solusi atas kebutuhan dasar bisnis Anda, mulai dari email, aplikasi produktivitas, video meeting, hingga penyimpanan data. Walau secara garis besar layanan yang diberikan tak jauh berbeda, baik Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter memiliki detail masing-masing. Berikut perbedaan di antara keduanya yang bisa Anda pelajari sebagai pertimbangan sebelum memilih. Aplikasi kerja untuk permudah kolaborasi Photo Credit: Marvin Meyer (Unsplash) Anda tentu sudah tidak asing dengan aplikasi Office milik Microsoft seperti Word, Excel, dan PowerPoint. Jika berlangganan Microsoft 365 Business Basic, Anda akan mendapatkan akses versi web untuk aplikasi Office tersebut. Sementara itu, aplikasi serupa milik Google dikenal dengan nama Docs, Sheets, dan Slides. Ketiganya juga termasuk dalam paket Google Workspace Business Starter. Baik pada Microsoft 365 Business Basic maupun Google Workspace Business Starter, aplikasi-aplikasi tersebut telah menunjang kolaborasi. Artinya, satu file dapat dibuka, ditinjau, hingga diedit oleh banyak pengguna sekaligus. Nilai plus bagi Google Workspace karena mereka memiliki fitur bernama Smart Canvas yang mengintegrasikan berbagai aplikasi Google Workspace. Kini Anda bahkan bisa melakukan panggilan video langsung dari Docs, Sheets, atau Slides. Kapasitas penyimpanan cloud Photo Credit: freestocks (Unsplash) Sebagai pelaku bisnis, Anda pasti memiliki banyak data penting yang perlu disimpan secara aman. Menjawab kebutuhan ini, Microsoft 365 dan Google Workspace sama-sama menyediakan layanan penyimpanan berbasis cloud. Apabila Microsoft memiliki One Drive, maka Google mempunyai Google Drive. Untuk poin ini, Microsoft 365 lebih unggul daripada Google Workspace. Jika berlangganan Microsoft 365 Business Basic, Anda akan mendapatkan kapasitas penyimpanan cloud hingga 1 TB. Sementara itu, Google Workspace Business Starter hanya menawarkan kapasitas sebesar 30 GB. Kemampuan video meeting Photo Credit: Anna Shvets (Pexels) Kebutuhan video meeting atau online conference juga di-cover oleh Microsoft 365 dan Google Workspace melalui aplikasi Microsoft Teams dan Google Meet. Perbedaan keduanya terletak pada jumlah peserta yang dapat bergabung dalam panggilan video. Paket langganan Microsoft 365 Business Basic memungkinkan Anda untuk melakukan video meeting hingga maksimal 300 peserta. Sedangkan pada Google Workspace Business Starter, jumlah maksimal peserta video meeting adalah 100 orang. Layanan email dan tampilannya Photo Credit: Microsoft Outlook Photo Credit: Stephen Phillips (Unsplash) Umumnya, aktivitas bisnis tak bisa lepas dari penggunaan email. Tak perlu khawatir dengan hal tersebut karena Microsoft 365 Business Basic dan Google Workspace Business Starter menyediakan layanan email yang mumpuni melalui Outlook dan Gmail. Kabar baiknya, baik Outlook dan Gmail memungkinkan Anda untuk menggunakan nama domain kustom sendiri agar bisnis terlihat lebih profesional. Keduanya juga sama-sama terhubung dengan aplikasi kalender untuk memudahkan pencatatan jadwal rapat. Tak hanya dari segi fitur, aspek interface Outlook dan Gmail pun tak kalah menarik. Saat membuka Outlook, Anda akan menemukan fitur top bar bernama Ribbon yang menampilkan banyak opsi. Tersedia pula Ribbon berbeda untuk seluruh tampilan dalam Outlook, termasuk Mail, Contacts, dan Calendar. Sementara itu, Gmail memiliki tampilan yang lebih simpel. Untuk mulai menulis pesan baru, Anda hanya perlu menekan tombol khusus bertuliskan Compose. Gmail juga menyediakan fitur Filter dan Label untuk membantu Anda mengorganisasi pesan masuk secara praktis. Jadi, mana yang lebih baik untuk bisnis? Photo Credit: Vlada Karpovich (Pexels) Jawabannya tentu bergantung pada kebutuhan bisnis Anda. Baik Microsoft 365 dan Google Workspace sama-sama memiliki layanan berkualitas baik untuk menunjang produktivitas bisnis. Jika Anda dan tim memiliki frekuensi kolaborasi yang cukup tinggi, Google Workspace Business Starter dapat menjadi pilihan lebih tepat mengingat adanya fitur Smart Canvas yang mampu memaksimalkan pengalaman kolaborasi. Namun, apabila tim bisnis Anda memiliki anggota lebih dari 100, maka sebaiknya berlangganan Microsoft 365 Business Basic. Kapasitas video meeting hingga 300 peserta, berikut dengan penyimpanan mencapai 1 TB, tentu lebih mampu mengakomodasi kebutuhan bisnis. Jadi, mana yang akan Anda pilih? Microsoft 365 Business Basic atau Google Workspace Business Starter? Apa pun pilihannya, Anda bisa berlangganan keduanya melalui EIKON Technology selaku partner resmi Microsoft dan Google di Indonesia. Baik berlangganan Microsoft 365 maupun Google Workspace, tim EIKON Technology akan membantu Anda menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis. Klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet, Google Cloud

Membuat Aplikasi Manajemen Inventaris dari Google Sheets dengan AppSheet

  Pada dasarnya, mengelola inventaris produk merupakan tugas yang cukup sulit, baik untuk bisnis retail berskala besar maupun kecil. Umumnya, mayoritas pebisnis menggunakan spreadsheet untuk mengelola inventaris produk. Di sinilah masalah biasanya muncul mengingat ada begitu banyak data yang harus dikelola dan dianalisis. Jika Anda mengalami masalah serupa, saatnya mulai menyederhanakan proses kerja dengan mengembangkan aplikasi manajemen inventaris sendiri. Kini telah hadir AppSheet yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Bahkan aplikasi tersebut bisa Anda buat langsung dari spreadsheet di Google Sheets! Karena aplikasi merupakan rancangan sendiri, Anda pun dapat menyesuaikan sistemnya sesuai kebutuhan bisnis. Berikut ini langkah-langkah membuat aplikasi manajemen inventaris dari Google Sheets dengan menggunakan AppSheet.   Rapikan data dan siapkan aplikasi   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet telah menyediakan berbagai sampel atau template aplikasi yang bisa Anda modifikasi sesuai kebutuhan, termasuk untuk manajemen inventaris. Nah, aplikasi-aplikasi tersebut terhubung dengan sumber data seperti Google Sheets. Namun, sebelum mengintegrasikan data Sheets Anda dengan AppSheet, pastikan untuk merapikan data terlebih dulu agar nantinya mudah dikelola pada aplikasi. Tak perlu bingung, Google telah menyediakan template Google Sheet berisi tiga tabel yang bisa Anda salin di sini. Ketiga tabel ini berisi: Product – untuk informasi produk Sales – untuk produk atau item yang telah terjual atau dihapus dari stok Purchases – untuk produk-produk yang ditambahkan stoknya Jika data telah tertata rapi, saatnya mengubahnya menjadi aplikasi. Pada Google Sheets, buka menu Tools > AppSheet > Create an App. AppSheet akan langsung mengubah data Anda menjadi aplikasi AppSheet.   Atur barcode scanner   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet dapat menggunakan kamera pada perangkat mobile Anda untuk memindai data yang dilengkapi barcode. Untuk melakukan ini, masuklah ke menu AppSheet Editor > Data > Columns. Lalu, tandai kolom Product Barcode pada tabel Purchases dan Sales dengan label searchable dan scannable. Kini aplikasi manajemen inventaris Anda sudah bisa merekam berbagai aktivitas inventaris, baik saat ada stok masuk maupun keluar. Anda hanya perlu men-tap tombol pemindai barcode yang terletak di bawah opsi Sell atau Add Stock, kemudian langsung saja scan produk atau item yang diinginkan.   Perhitungkan tingkat persediaan secara real-time   Photo Credit: Blog Google Cloud Salah satu tujuan pembuatan aplikasi adalah agar Anda bisa mengecek status atau tingkat inventaris dari setiap produk secara real-time. Ada formula yang perlu digunakan untuk mengetahui hal tersebut, yaitu: stok saat ini + stok masuk – stok keluar. Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatur aplikasi agar bisa secara otomatis merekam status inventaris secara real-time. Caranya dengan menghubungkan seluruh data yang ada di dalam tabel. Mengingat bahwa setiap tabel memiliki kolom barcode produk, Anda bisa menggunakan data tersebut untuk menghubungkan aplikasi. Hubungkan kolom Product Barcode pada tabel Sales dan Purchases dengan kolom Product Barcode pada tabel Product. Caranya, masuklah ke menu Data > Columns > Sales. Lalu, klik Product Barcode untuk mengedit kolom dengan mengikuti tiga langkah ini: Beri nama “Product Barcode” pada kolom Buka daftar Type, lalu klik Ref Pilih Products sebagai ReferencedTableName Jika sudah, Anda bisa mengulangi langkah yang sama untuk tabel Purchases. Baru setelah itu Anda bisa “mengajarkan” aplikasi untuk menghitung level atau status inventaris. Masuklah ke menu Data > Columns, lalu pada tabel Products pilih Add Virtual Column. Kemudian, masukkan formula berikut ini pada kotak yang muncul: COUNT([Related Purchases]) – COUNT([Related Sales]) + [Initial Stock] Sekarang cobalah masuk ke menu UX > View > Product List View, lalu pilih opsi Deck View atau Table View. Klik Current Stock untuk menjadikannya salah satu header pada aplikasi manajemen inventaris AppSheet. Kini Anda pun bisa melihat status persediaan setiap produk secara real-time.   Tampilkan opsi “Restock Needed” pada produk yang stoknya rendah   Photo Credit: Blog Google Cloud Agar bisa terus memenuhi permintaan pasar, penting bagi Anda untuk memastikan stok produk tidak kosong. Melalui AppSheet, Anda bisa mengatur agar aplikasi menunjukkan produk mana saja yang perlu distok ulang. Pertama, tentukan jumlah restock yang setiap produk. Untuk menentukan jumlah secara tepat, cobalah meninjau data terdahulu dan menganalisis perkiraan permintaan (demand forecast). Kedua, masuk ke menu Data > Slice, lalu klik Create a Slice dan namakan “Restock Needed”. Atur Source Table sebagai Product dan Row Filter Condition menjadi: [Current Stock] <= [Restock Level]. Nantinya, aplikasi akan memunculkan data apabila level stok produk terkini (current level) lebih rendah atau sama dengan restock level. Ketiga, masuklah ke menu UX > Views > New View. Pilih opsi Restock Needed (Slice) sebagai sumber data Anda. Kemudian, pilih tipe tampilan yang Anda inginkan, bisa dalam deck maupun table. Kini Anda telah berhasil membuat aplikasi manajemen inventaris tanpa perlu melakukan coding! Masih dengan AppSheet, Anda juga bisa menambahkan fungsi tambahan seperti notifikasi email atau new views. Buktikan sendiri kemudahan membuat aplikasi tanpa coding dengan berlangganan AppSheet. Mengingat bahwa AppSheet masih merupakan bagian dari Google Cloud, Anda bisa berlangganan melalui partner resmi Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet

Manfaat Transformasi Digital pada Bidang Manufaktur

Perkembangan teknologi telah mendorong banyak perusahaan untuk melakukan transformasi digital, termasuk pada industri manufaktur. Agar tidak tertinggal dari para kompetitor, perusahaan manufaktur perlu menerapkan modernisasi terhadap operasional kerja mereka. Kuncinya adalah dengan mengautomasi proses kerja (workflow), pencatatan data, manajemen yang efisien, hingga penggunaan teknologi terkini. Melalui transformasi digital, perusahan manufaktur pun dapat merasakan berbagai manfaat berikut ini. Meningkatkan efisiensi kerja Photo Credit: Kateryna Babaieva (Pexels) Pada umumnya, industri manufaktur memiliki lingkungan kerja yang bergerak cepat. Puluhan hingga ratusan bekerja biasanya berkolaborasi dalam satu project sehingga membutuhkan komunikasi dan akuntabilitas yang kuat. Idealnya, berbagai tugas harus diselesaikan secara berurutan demi memastikan kepatuhan dan keamanan. Apabila hal tersebut dilakukan secara manual menggunakan sistem berbasis kertas maupun spreadsheet, kemungkinan besar akan ada banyak hal yang terlewatkan. Misalnya laporan kertas yang hilang atau tulisan tangan seseorang yang sulit dibaca. Demi efisiensi, banyak perusahaan digital yang kini menggunakan aplikasi untuk mempercepat persetujuan, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Semua dilakukan sebagai bagian dari transformasi digital. Sebagai contoh, di perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perakitan mobil, banyak proses perlu diperiksa di berbagai tahapan produksi. Misalnya, pihak manufaktur bertugas memastikan bahwa lampu dan klakson telah dipasang dengan tepat. Saat mobil mencapai tahap pemeriksaan terakhir, seluruh sistem harus mendapat persetujuan dari teknisi yang bertanggung jawab. Nah, dengan menggunakan aplikasi, tim perakitan mobil dapat memonitor siapa saja yang bertugas memeriksa proses-proses tersebut, kapan persetujuan dilakukan, dan lainnya. Hal ini akan memudahkan Anda untuk memastikan tiap proses berjalan lancar. Mengurangi biaya pengeluaran Photo Credit: Spencer Davis (Unsplash) Seiring dengan meningkatnya efisiensi kerja yang dibawa oleh transformasi digital pada perusahaan manufaktur, biaya pengeluaran pun akan ikut berkurang. Berkat mekanisme digitalisasi berbasis data, perusahaan jadi bisa menemukan area-area pemborosan yang sebelumnya tidak disadari. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur biasanya menerapkan kontrol proses statistik untuk mengidentifikasi adanya kesalahan produk pada tahap perakitan. Anda bisa menggunakan kamera dan teknologi sensor untuk membantu melakukan identifikasi tersebut sekaligus mengurangi potensi human error. Dengan penerapan teknologi digital sejak area perakitan produk, perusahaan dapat menghindari kesalahan lebih besar yang berpotensi menyebabkan penarikan produk dari para distributor. Transformasi digital pun pada akhirnya membantu perusahaan manufaktur terhindar dari pengeluaran tidak perlu. Alhasil, terciptalah lingkungan kerja manufaktur yang lebih “rapi” , padat, dan tentunya hemat biaya. Meningkatkan visibilitas di area kerja Photo Credit: Sam Moqadam (Unsplash) Di berbagai fasilitas manufaktur, produktivitas bisa cukup sulit untuk dimonitor. Hal ini disebabkan oleh manajer yang kesulitan untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi di lantai produksi, gudang, atau area kerja lainnya. Kabar baiknya, masalah tersebut dapat diatasi dengan menerapkan transformasi digital. Dengan bantuan teknologi baru seperti aplikasi, kamera, sensor, hingga wearables, manajer bisa mendapatkan pandangan terhadap apa yang dihadapi oleh para anggota tim dan apa yang terjadi di seluruh fasilitas manufaktur. Di satu sisi, manajer bisa mendapatkan informasi terkait progress kerja di perusahaan. Sedangkan di sisi lain, para pekerja dapat tetap fokus mengerjakan pekerjaan mereka. Transformasi digital pun tak hanya menjadi langkah modernisasi tempat kerja, tapi justru membawa perubahan yang berarti di industri manufaktur. Selain ketiga poin di atas, tentu masih ada banyak manfaat lain yang bisa didapatkan oleh perusahaan manufaktur melalui transformasi digital di tempat kerja. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penggunaan aplikasi merupakan salah satu cara efisien untuk memulai transformasi digital tersebut. Agar fungsi aplikasi bisa optimal, sebaikny kembangkan aplikasi sendiri menggunakan AppSheet. Merupakan bagian dari Google Cloud, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Buktikan sendiri kehebatannya dengan berlangganan AppSheet melalui partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology! 

Scroll to Top