EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Industri Manufaktur yang Lebih Cerdas dengan Solusi Terbaru dari Google Cloud

Sekarang ini, industri manufaktur sedang bergerak maju dalam transformasi digital. Sudah banyak perusahaan yang menggunakan teknologi inovatif seperti cloud dan AI (kecerdasan buatan) untuk memperkuat daya saing dan memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurut data daru McKinsey, hampir dua pertiga perusahaan manufaktur sudah menggunakan solusi cloud. Setelah perusahaan mulai melakukan transformasi digital, sebenarnya tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana menskalakan proyek transformasi digital dari tahap konsep hingga produksi. Untuk memastikan produsen dapat menskalakan upaya transformasi digital mereka ke dalam produksi, Google Cloud mengumumkan solusi manufaktur baru, yang dirancang khusus untuk kebutuhan produsen. Bagaimana cara kerjanya? Solusi manufaktur dari Google Cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Sebenarnya, apa saja solusi manufaktur baru yang ditawarkan oleh Google Cloud? Mari membahasnya satu per satu! Manufacturing Data Engine adalah solusi cloud dasar untuk memproses, kontekstualisasi, dan menyimpan data pabrik. Platform ini dapat mengambil data dari semua jenis mesin, mendukung berbagai data (dari telemetri hingga data gambar) melalui koneksi pribadi, aman, dan berbiaya rendah. Dengan normalisasi data bawaan dan kemampuan pengayaan konteks, layanan ini menyediakan model data umum, dengan warehouse yang dioptimalkan pabrik untuk penyimpanan. Manufacturing Connect adalah platform yang dikembangkan bersama Litmus Automation. Layanan ini terhubung dengan hampir semua aset manufaktur melalui library ekstensif yang berisi lebih dari 250 protokol mesin. Mampu menerjemahkan data mesin menjadi kumpulan data yang dapat dicerna dan mengirimkannya ke Manufacturing Data Engine. Dengan mendukung workload dalam container, Anda juga dapat menjalankan visualisasi data latensi rendah, analitik, dan kapabilitas ML langsung. Selain itu, di Manufacturing Data Engine Anda juga bisa menemukan kumpulan analisis data dan kasus penggunaan AI yang diaktifkan oleh Google Cloud dan partner mereka: Manufacturing analytics & insights: Integrasi langsung dengan template Looker yang menghadirkan dasbor dan analitik. Model analitik dan data tanpa kode yang mudah digunakan, model ini memberdayakan insinyur manufaktur dan manajer pabrik untuk membuat dan memodifikasi dasbor, menambahkan mesin baru, hingga melakukan persiapan secara otomatis. Predictive maintenance: Model pemeliharaan prediktif yang dapat langsung diterapkan dalam beberapa minggu dengan tingkat akurasi tinggi. Anda bahkan dapat terus menyempurnakan model melalui kerja sama dengan teknisi Google Cloud. Machine-level anomaly detection: Integrasi yang dibuat khusus dengan memanfaatkan Time Series Insights API Google Cloud pada mesin real-time dan data sensor untuk mengidentifikasi anomali dan memberikan peringatan. Baca juga: Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud Berdayakan insinyur pabrik untuk membangun pusat manufaktur cerdas Selama beberapa tahun terakhir, industri manufaktur menyumbang lebih dari 10% dari produk domestik bruto AS, atau 24% dari PDB dengan nilai tidak. Manufaktur juga merupakan sektor yang mempekerjakan sekitar 15 juta orang, mewakili 10% dari total pekerjaan AS. Namun, lebih dari 20% tenaga kerja pabrikan di AS rata-rata berusia 44 tahun. Pola serupa pun terjadi di seluruh dunia. Artinya, makin sulit  menemukan SDM baru untuk menggantikan tenaga kerja yang pensiun. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengaktifkan tenaga kerja mereka yang ada, sekaligus membuatnya lebih menarik bagi talenta muda untuk bergabung. Keseimbangan ini mengharuskan teknologi penting seperti Cloud dan AI dapat diakses, lebih mudah digunakan, dan tertanam kuat dalam operasi sehari-hari pabrik. Photo Credit: Google Cloud Blog Solusi manufaktur Google Cloud dirancang dengan tujuan ini. Menggabungkan implementasi yang cepat dan kemudahan penggunaan, alat digital yang kuat ditempatkan langsung ke tenaga kerja mengoptimalkan operasi dengan cara baru. Bagian kunci dari solusi ini adalah pengaturan dan penggunaan yang rendah hingga tanpa kode, sangat cocok untuk berbagai macam end user. Dibuat untuk skala, solusi ini memungkinkan peluncuran berbasis template dan mendorong penggunaan kembali melalui standarisasi. Dirancang dengan mempertimbangkan praktik terbaik, produsen dapat memfokuskan resources berharga pada kasus penggunaan, bukan infrastruktur yang mendasarinya. AI untuk ekosistem manufaktur yang cerdas Sudah banyak produsen yang membuktikan nilai solusi AI dalam mendorong biaya dan optimalisasi produksi. Beberapa perusahaan manufaktur AS bahkan memiliki paten aktif pada inisiatif AI. Menurut penelitian Google pada Juni 2021, 66% produsen melaporkan tingkat ketergantungan pada AI meningkat. Google Cloud membantu produsen menerapkan teknologi cloud dan AI untuk membantu pabrik berjalan lebih cepat dan lancar. Pelanggan yang menggunakan Manufacturing Data Engine dari Google Cloud bisa langsung mengakses Vertex AI yang menawarkan alat AI/ML terintegrasi mulai dari AutoML untuk insinyur manufaktur, hingga alat AI canggih untuk para ahli. Baca juga: Memimpin dengan Google Cloud & Partners untuk Modernisasi Infrastruktur Industri Manufaktur Semua solusi manufaktur cerdas tersebut bisa Anda akses hanya dengan berlangganan solusi komputasi awan untuk perusahaan dari Google Cloud. Untuk proses implementasinya, Anda dapat menghubungi kami, EIKON Technology. EIKON Technology merupakan authorized partner yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Di samping menyediakan produk, kami juga menawarkan konsultasi menyeluruh mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Cloud

Optimalkan Startup Anda dengan Technical Guide for Startups, Panduan Teknis Praktis dari Google Cloud

Tiap tahap perjalanan startup pasti memerlukan tingkat dukungan dan sumber daya yang berbeda. Dukungan dan sumber daya yang Anda butuhkan saat akan melakukan ekspansi tentu akan berbeda dengan saat baru membangun startup. Namun sering kali pemilik startup tidak menyadari hal tersebut. Mereka pada akhirnya menerapkan dukungan serta sumber daya yang sama pada tiap tahapan. Dampaknya, potensi yang mereka miliki tidak dikelola secara optimal dan hasil yang didapat pun kurang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google Cloud meluncurkan Technical Guide for Startups. Ini merupakan sebuah rangkaian panduan teknis dalam format video yang dapat diakses secara gratis. Hingga saat ini sudah ada puluhan video yang bisa Anda tonton dan pelajari. Paling baru, Google Cloud meluncurkan Build Series yang memang dikhususkan untuk pengembangan startup. Apa saja yang ditawarkan dalam rangkaian video panduan tersebut? Panduan teknis untuk bantu perkembangan startup Anda Photo Credit: pressfoto (Freepik) Secara garis besar, Google Cloud Technical Guides for Startups merupakan rangkaian panduan teknis yang membantu para pemilik dan pelaku startup. Panduan tersebut hadir dalam berbagai format seperti artikel, handbook, dan juga komunitas diskusi. Namun yang paling menarik hadir dalam format seri video. Pada rangkaian video tersebut Anda akan diajak untuk memahami seluk-beluk startup, mulai dari tahap awal hingga penggembangannya. Hingga artikel ini ditulis (pertengahan Mei 2022), Google Cloud telah meluncurkan 2 seri video. Masing-masing seri menggambarkan tiap tahapan dalam perjalanan startup, yaitu: Start Series: Dalam seri ini, Google Cloud memperkenalkan beberapa topik untuk membantu Anda memulai startup di ekosistem mereka. Tahapan ini termasuk menyiapkan proyek, memilih opsi komputasi yang tepat, melakukan konfigurasi database dan jaringan, serta memahami dukungan dan penagihan. Start Series bisa Anda akses di sini. Build Series: Seri ini dirancang untuk membantu Anda dalam mengoptimalkan dan menskalakan penerapan yang ada. Dengan begitu, Anda pun akan lebih mudah menjangkau target audiens. Rencananya, dua seri video tersebut akan dilanjutkan dengan sebuah seri baru mengenai pertumbuhan startup. Seri baru ini diberi judul Grow Series. Berikut deskripsi Grow Series yang telah dirilis Google Cloud: Grow Series: Dalam seri ini, Google Cloud menyediakan panduan teknis yang akan membantu startup Anda tumbuh dan mencapai skala lebih besar dengan berbagai penerapan di ekosistem mereka. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud untuk Menyusun Proyek Data Science Setelah mengikuti rangkaian tersebut, diharapkan Anda sudah bisa mulai menerapkan aplikasi yang berjalan di Google Cloud. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan tentu saja adalah mengembangkan dan mengoptimalkan penerapan tersebut. Google juga menyediakan beberapa dukungan yang bisa Anda manfaatkan untuk kebutuhan tersebut. Memulai Build Series Dengan selesainya Start Series, Google melanjutkan dengan seri mengenai pembangunan startup yang diberi nama Build Series. Build Series fokus pada proses optimalisasi penerapan dan penskalaan bisnis startup, sehingga memungkinkan Anda membangun fondasi untuk mempercepat pertumbuhan di masa depan. Tersedia berbagai topik menarik di dalam Build Series ini, mulai dari program startup hingga solusi analisis data dan pipeline Google Cloud, pembelajaran mesin, manajemen API, dan banyak lagi. Photo Credit: drobotdean (Freepik) Rangkaian panduan ini juga akan memberikan insight terhadap data startup Anda. Agar data tersebut tidak sekadar ada, Google juga memberikan pengetahuan mengenai cara mengelola serta mengamankan aplikasi Anda dengan lebih baik. Dengan begitu, Anda pun dapat mempercepat skala bisnis sekaligus memberikan pemahaman yang baik kepada seluruh end user. Episode pertama Build Series membagikan ikhtisar tentang topik tersebut dan menampilkan situs web baru Google Cloud yang memuat berbagai dukungan dan sumber daya untuk startup. Anda juga bisa menemukan handbook yang dapat dipelajari. Video kick-off dari Build Series Technical Guide for Startups bisa Anda tonton di sini. Baca juga: Pedoman Google Cloud untuk Mengembangkan Solusi Machine Learning Berkualitas Keseluruhan panduan teknis di atas bisa Anda akses melalui website Google Cloud Technical Guide for Startups. Sedangkan playlist video telah tersedia untuk umum di channel YouTube Google Cloud Tech. Selain Google Cloud Technical Guide sebenarnya masih ada banyak sekali layanan yang bisa Anda manfaatkan untuk mengembangkan startup. Namun sebelum memulainya, pastikan Anda telah menerapkan komputasi awan Google Cloud untuk perusahaan. Sebab skala yang dibutuhkan oleh perusahaan Anda jelas lebih besar dari skala komputasi awan untuk pemakaian personal. Untuk mulai menerapkan ekosistem cloud dari Google, EIKON Technology siap membantu Anda. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, kami menyediakan produk legal dan bergaransi resmi. Di samping itu, kami juga menyediakan layanan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini

Google Cloud

Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud

Ekspansi masif dari internet dan komputasi awan (cloud), tanpa disadari telah menyebabkan beban kerja WSC (warehouse-scale computing) menjadi sangat tinggi, hingga mendorong pertumbuhan terbesar dalam permintaan komputasi sepanjang sejarah. Hal ini sebenarnya sangat wajar jika mengingat fungsi WSC yang begitu luas, mulai dari pencarian, berkirim email, berbagi video, hingga peta online. Namun tantangan beban kerja WSC ini tentu harus segera ditemukan solusinya. Ini karena beban kerja berbeda dari komputasi lainnya, terutama dalam hal persyaratan yang berhubungan dengan permintaan skalabilitas, elastisitas, dan ketersediaan. Sudah banyak studi dan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebenarnya, ada banyak sekali solusi yang muncul. Namun jika dilihat dari segi penyebab masalah, diketahui bahwa hal ini masih berhubungan dengan beban kerja. Disebutkan, pemeriksaan sistem WSC menjadi sangat lama karena ada banyak sekali beban kerja yang harus dilacak. Google menghadirkan solusi atas permasalahan ini dengan menyediakan layanan pelacakan beban kerja. Bagaimana layanan tersebut bekerja dalam menangani tantangan WSC ini? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini. Mengenal WSC dan beban kerjanya Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa beban kerja WSC pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda dari tolok ukur tradisional serta memerlukan perubahan arsitektur komputer modern untuk mencapai efisiensi yang optimal. Beban kerja Google memiliki jejak data dan instruksi yang melampaui kapasitas cache CPU modern. Itu artinya, CPU akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk menunggu kode dan data. Sayangnya, permasalahan ini tidak dapat diatasi dengan meningkatkan bandwidth memori. Sebab, ada banyak akses yang berada di jalur kritis untuk pemrosesan permintaan aplikasi. Selain itu, banyak yang sering melupakan bahwa mengurangi latensi akses memori juga sama pentingnya dengan meningkatkan bandwidth memori. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Pelacakan beban kerja Google Karakteristik WSC yang unik tersebut membuat mereka yang ada dalam komunitas arsitektur komputer terus mengembangkan teknologi untuk melacak jejak beban kerja WSC. Dengan melacak beban kerja WSC maka mereka pun akan lebih mudah melakukan penelitian arsitektur. Di awal bulan Mei 2022, Google meluncurkan layanan pelacakan beban kerja Google tertentu. Layanan ini akan membantu Anda dalam memahami beban kerja WSC, terutama saat berinteraksi dengan komponen yang mendasarinya. Dengan format open-source, alat pelacakan ini diharapkan dapat mengembangkan solusi baru untuk front-end dan mengatasi hambatan akses data. Teknologi DynamoRIO Photo Credit: Freepik Untuk bisa melacak jejak beban kerja, Google menggunakan DyanamoRIO pada server komputer yang menjalankan beban kerja. Detail mengenai layanan ini dapat Anda akses melalui link berikut: https://dynamorio.org/google_workload_traces.html. Untuk melindungi privasi pengguna, jejak tersebut hanya akan berisi instruksi dan alamat memori. Jejak tersebut berguna untuk memahami beban  kerja WSC dan menyemai pemeriksaan internal pada prosesor front-end, interkoneksi on-die, cache, dan subsistem memori, dan lain-lain (pada dasarnya, semua area yang bisa memengaruhi beban kerja WSC). Misalnya, menggunakan jejak untuk mengembangkan AsmDB. Ke depannya, layanan pelacakan jejak beban kerja Google ini diharapkan dapat membantu komunitas arsitektur komputer untuk mengembangkan ide-ide baru yang meningkatkan kinerja dan efisiensi beban kerja WSC lainnya. Baca juga: Menghubungkan Data SAP Lewat Cloud Data Fusion Dengan Google Cloud Cortex Framework Google sendiri memiliki layanan komputasi mandiri (Google Computing Service). Layanan tersebut masih merupakan bagian dari Google Cloud. Nah, penerapan teknologi pelacakan beban kerja WSC ini akan lebih optimal jika Anda menggunakan Google Cloud. Untuk penggunaan Google Cloud dalam skala besar seperti pada perusahaan atau instansi pendidikan, tentu tidak bisa disamakan dengan penggunaan layanan cloud individu. Tak perlu khawatir, sebab EIKON Technology menyediakan paket subscriptions Google Cloud resmi dan bergaransi. Anda pun bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Jika sudah menemukan paket yang sesuai, bisa langsung memulai implementasi Google Cloud. Kami juga akan mendampingi mulai dari perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, hubungi kami di sini.

Google Cloud

BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia?

Dulu, ketika harus menjalankan BI (business intelligence) pada kumpulan data besar, pelanggan yang menggunakan data warehouse mau tak mau harus memilih latensi rendah dan mengorbankan kemutakhiran data. Namun kini dengan adanya BigQuery BI Engine, mereka dapat mempercepat dashboard dan laporan yang terhubung ke BigQuery tanpa harus melakukan hal tersebut. Sebenarnya, bagaimana teknologi BigQuery BI Engine ini bekerja? Hasil pengembangan dari versi preview tahun lalu Menggunakan insight terbaru data akan membantu para pengguna data warehouse dalam membuat keputusan yang lebih baik untuk bisnis mereka. BI Engine memungkinkan pelanggan mendapatkan performa tercepat untuk kueri mereka di seluruh alat BI yang terhubung dengan BigQuery. Sebenarnya, layanan ini telah diluncurkan tahun 2021 lalu. Hanya saja, saat itu masih menggunakan format pratinjau yang terbatas. BigQuery BI Engine sendiri merupakan sebuah layanan analisis in-memory yang mempercepat dan memberikan performa kueri dalam hitungan sub-detik untuk dasbor dan laporan yang terhubung ke BigQuery. Layanan ini bekerja dengan banyak tools BI atau dasbor khusus. BI Engine dirancang untuk membantu analis data mengidentifikasi tren lebih cepat, mengurangi risiko, menyesuaikan laju permintaan pelanggan, dan meningkatkan efisiensi operasional dalam iklim bisnis yang terus berubah seperti sekarang ini. Format baru yang tersedia untuk publik ini memungkinkan pelanggan untuk membuat dasbor interaktif cepat menggunakan tools populer seperti Looker, Tableau, Spreadsheet, PowerBI, Qlik atau bahkan aplikasi khusus perusahaan. Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah BI Engine Acceleration terintegrasi BigQuery  Integrasi Native dengan BigQuery API BI Engine terintegrasi secara native dengan BigQuery API. Itu artinya, ketika dasbor Anda menggunakan antarmuka standar seperti SQL, BigQuery API atau driver JDBC/ODBC untuk terhubung ke BigQuery, maka dukungan untuk BI Engine akan muncul secara otomatis. Tidak ada pengaturan tambahan yang harus dilakukan pada aplikasi atau dasbor untuk mengaktifkan dan menjalankan dasbor sub-detik yang dapat diskalakan. Jika Anda menjalankan kueri yang dapat dipercepat dengan BigQuery, maka bisa langsung menggunakan BI Engine. Photo Credit: Google Cloud Blog Penskalaan Cerdas Pelanggan umumnya tak perlu khawatir lagi tentang efisiensi penggunaan memori, BI Engine melakukannya untuk Anda berdasarkan pola akses. Layanan ini telah dibekali teknik canggih seperti pemrosesan vektor, pengkodean data tingkat lanjut, dan caching adaptif untuk membantu memaksimalkan kinerja sekaligus mengoptimalkan penggunaan memori. BI Engine juga dapat membuat replika data yang sama untuk mengaktifkan akses bersamaan dengan cepat dan cermat. Konfigurasi Sederhana Satu-satunya konfigurasi yang diperlukan saat menggunakan BI Engine adalah menyiapkan reservasi memori. Layanan ini telah menyediakan sebuah peningkatan fine-grained masing-masing 1GB. Visibilitas Penuh Pemantauan dan pencatatan sangat penting untuk menjalankan aplikasi di cloud dan juga untuk mendapatkan wawasan tentang kinerja serta peluang optimalisasi. BI Engine telah terintegrasi dengan tools yang sudah dikenal seperti Information Schema untuk detail pekerjaan (rasio pencapaian cache, latensi kueri, dan lain-lain) serta Stackdriver untuk memantau penggunaan. Baca juga: Mengelola BigQuery Lebih Mudah dengan Resource Charts dan Slot Estimator Mulai menggunakan BigQuery BI Engine Photo Credit: Google Cloud Blog BI Engine kini telah tersedia di seluruh wilayah operasional BigQuery, termasuk Indonesia. Untuk mulai menggunakannya, Anda cukup mendaftar ke sandbox BigQuery. Setelah itu, bisa langsung mengaktifkan BI Engine untuk proyek Anda. BigQuery juga telah menyediakan panduan penggunaan layanan, termasuk panduan memulai cepat tools BI populer. Anda juga dapat menonton demo dari Data Cloud Summit untuk melihat tutorial penggunaan BI Engine dengan tools seperti Looker, Data Studio, dan Tableau. Jika telah menerapkan integrasi dengan BigQuery, tersedia program inisiatif Google Cloud Ready – BigQuery. Detail mengenai program tersebut bisa Anda akses di sini. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud BigQuery BI Engine hadir untuk memudahkan Anda dalam mengoperasikan BI, terutama saat harus mengelola data dalam skala besar. Selain itu, BigQuery juga merupakan bagian dari Google Cloud Platform sehingga telah terintegrasi dengan berbagai tools dan layanan yang ada di GCP. Optimalkan kinerja data perusahaan Anda dengan menggunakan solusi komputasi awan dari Google Cloud. Kini Anda bahkan dapat memilih paket berlangganan yang paling sesuai dengan kondisi perusahaan. EIKON Technology sebagai authorized partner siap membantu Anda dalam penerapan Google Cloud, mulai dari perencanaan hingga manajemen pasca-implementasi. Untuk informasi selengkapnya, silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Masa Depan Data dalam Whitepaper Terbaru Google Cloud, Seperti Apa?

Tak dapat dipungkiri, pendekatan berbasis data yang kini banyak diterapkan oleh perusahaan membuat volume data tumbuh secara eksponensial. Sayangnya, pengguna masih merasa kesulitan dalam mengelola data dan mengekstraksi nilai data, terutama dengan skala. Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Misalnya, akses menuju penyimpanan data, tools yang tidak konsisten, resources dan format data baru yang masih berkembang, masalah kepatuhan (compliance), hingga pertimbangan keamanan. Untuk membantu Anda dalam mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan tersebut, Google Cloud menyusun sebuah whitepaper baru. Kali ini, apa yang menjadi fokus utama? Mari simak penjelasannya berikut! Masa depan data: Terpadu, fleksibel, dan mudah diakses Photo Credit: Rawpixel Dalam whitepaper baru tersebut Google Cloud menitikberatkan pada masa depan data. Digambarkan, data di masa depan akan lebih terpadu, sangat fleksibel, dan mudah diakses. Ini sekaligus menjawab kebutuhan pelanggan layanan Google Cloud yang menginginkan hasil maksimal dari data mereka. Contoh sederhananya, saat Anda perlu menggabungkan data yang berasal dari sistem lama dengan teknologi baru perusahaan. Agar kombinasi tersebut bisa bekerja, apakah Anda harus memindahkan seluruh data tersebut ke cloud? Haruskah data dikumpulkan dalam satu cloud atau justru sebaiknya didistribusikan ke beberapa cloud? Bagaimana Anda mengekstrak nilai sebenarnya dari data tersebut tanpa memunculkan lebih banyak silo? Dalam kasus tersebut, gerak Anda untuk menganalisis data pun akan cenderung terbatas. Mau tak mau, Anda harus melakukan analisis dalam batch alih-alih memprosesnya secara real-time. Hal ni tentu akan menambah kompleksitas arsitektur Anda dan jelas butuh pemeliharaan yang mahal untuk mengatasi latensi. Atau bisa jadi Anda harus menghadapi data tak terstruktur. Perlu diingat bahwa faktor pendorong yang ada sangatlah beragam. Namun kebanyakan terjadi karena akses yang tidak memadai menuju data. Terkadang hal tersebut juga diperburuk oleh silo dan kapabilitas yang tidak memadai untuk memproses dan memahami masalah. Baca juga: Ada yang Baru di Google Cloud EKM, Apa Saja? Manfaatkan aset data secara efektif Photo Credit: pressfoto (Freepik) Rangkaian teknologi modern harusnya terdiri dari rangkaian streaming yang dapat diskalakan dengan data Anda, mampu menyediakan analitik real-time, menggabungkan dan memahami berbagai jenis data, serta memungkinkan Anda menggunakan AI/ML untuk memperoleh insight dan menjalankan proses secara prediktif. Secara garis besar, untuk bisa memanfaatkan data secara efektif,, maka: Seluruh data yang ada di perusahaan harus disatukan. Bahkan data yang ada di seluruh pemasok, mitra, dan platform. Gunanya adalah untuk menghilangkan silo perusahaan dan teknologi. Data tak terstruktur harus dibuka dan dimanfaatkan dalam strategi analitik Anda. Rangkaian teknologi harus terpadu dan cukup fleksibel untuk mendukung kasus penggunaan, mulai dari analisis data offline hingga real-time streaming dan penerapan ML (machine learning). Hal ini harus bisa dilakukan tanpa mempertahankan beberapa rangkaian yang sudah ada sebelumnya. Rangkaian teknologi harus dapat diakses sesuai permintaan, menyediakan dukungan untuk berbagai platform, bahasa pemrograman, alat, dan standar terbuka yang kompatibel dengan keahlian pekerja yang ada. Jika semua persyaratan tersebut terpenuhi maka Anda sudah siap untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Bagi para pemilik bisnis akan memiliki dukungan dalam menghadapi ekspektasi pelanggan yang berubah. Di saat yang bersamaan Anda juga akan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap insinyur dan ilmuwan data perusahaan. Baca juga: 10 Hal yang Harus Diperhatikan sebelum Melakukan Transformasi Digital Berbasis Cloud Demikian ulasan mengenai whitepaper baru dari Google Cloud. Bagi Anda yang ingin mempelajari whitepaper lebih lanjut, bisa mengunduh salinannya di sini. Atau Anda justru belum menggunakan layanan Google Cloud? Google Cloud sendiri merupakan salah satu penyedia layanan komputasi awan besar di dunia. Layanan yang ditawarkan sangat komprehensif sehingga cocok untuk kebutuhan data berskala besar seperti di perusahaan maupun instansi. Untuk mulai berlangganan layanan Google Cloud, silakan hubungi kami dari EIKON Technology, authorized partner yang menyediakan produk-produk resmi Google. Untuk langsung terhubung, silakan klik di sini!

Google Cloud

Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud

Ketika perusahaan perlu mempercepat proses migrasi ke cloud, kebanyakan dari mereka mengalami tantangan migrasi fase tengah dan akhir. Data dari Google Cloud menemukan bahwa 41% dari perusahaan pengguna  menghadapi tantangan tersebut saat mengoptimalkan aplikasi di cloud setelah migrasi. Sedangkan 38% masih harus berjuang dengan masalah kinerja pada workload yang dipindahkan ke cloud. Lebih lanjut, proses migrasi juga membuat perusahaan meningkatkan ketergantungan terhadap konsultan dan penyedia layanan pihak ketiga, terutama pada tahap awal. Beberapa juga masih bergantung pada pihak ketiga hingga manajemen pasca-implementasi. Untuk membantu pelanggan menyelesaikan tantangan tersebut dengan simpel dan cepat, Google Cloud merancang sebuah solusi komprehensif RAMP atau Rapid Assessment & Migration Program (RAMP). Untuk mengetahui bagaimana Google Cloud dan RAMP menyederhanakan proses migrasi ke cloud, mari simak ulasan berikut ini. Perluasan fokus pada TCO/ROI pasca-migrasi Photo Credit: ArthurHidden (Freepik) Sebagai salah satu penyedia komputasi awan, Google Cloud terus berinovasi dalam mengembangkan teknologi migrasi. Sebisa mungkin, pengguna mendapatkan pengalaman migrasi yang mudah dan minim hambatan. Tidak hanya pada proses migrasi, tapi Google Cloud juga memperhatikan tahapan-tahapan pasca-migrasi. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan perusahaan pengguna dapat mengimplementasikan cloud dengang optimal. RAMP sendiri merupakan kerangka kerja holistik berdasarkan analisis TCO dan ROI pelanggan. Teknologi ini diproyeksikan untuk mendukung perjalanan pelanggan dalam mengimplementasikan solusi cloud sepenuhnya, mulai dari menilai lanskap digital mereka di berbagai sumber (termasuk cloud lokal), mengidentifikasi workload target yang diprioritaskan, membangun rencana migrasi yang komprehensif, hingga modernisasi sistem. Baca juga: Mengintip 6 Titik Pengembangan Utama Google Cloud untuk Transformasi Database Percepat migrasi dengan mitra ahli Google Cloud Pelanggan kini juga dapat menikmati pengalaman migrasi yang lebih efisien melalui ekosistem mitra ahli Google Cloud. Pada bulan April 2022 lalu, Google telah mengumumkan pembaruan untuk program pendanaan mitra dengan paket penilaian dan konsumsi baru. Langkah ini diharapkan dapat menyederhanakan sekaligus mempercepat proses migrasi pelanggan dengan sedikit biaya. Paket-paket tersebut menawarkan jalur preskriptif untuk menunjukkan inisiatif infrastruktur dan modernisasi aplikasi. Dengan begitu, perusahaan mitra pun akan lebih berdaya dalam mendukung pelanggan di setiap tahapan, mulai dari penemuan dan perencanaan hingga migrasi dan modernisasi. Melalui ekosistem mitra ini, nantinya pelanggan Google berkesempatan untuk menerima: Paket pendanaan yang berbeda untuk penilaian, perencanaan, dan migrasi Proses persetujuan yang lebih cepat untuk penerapan yang dipercepat Lebih banyak mitra yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam RAMP dan mengakses paket pendanaan baru ini Mencapai keberlanjutan melalui migrasi Photo Credit: senivpetro (Freepik) Area fokus utama RAMP lainnya adalah untuk membantu perusahaan mengoptimalkan perencanaan migrasi dan memaksimalkan ROI mereka dengan memasukkan pertimbangan bisnis dan teknis mereka di awal proses. Ini juga termasuk tujuan keberlanjutan yang mereka miliki. Untuk membantu upaya keberlanjutan perusahaan pelanggan, Google Cloud menyediakan Digital Sustainability Report yang disertai dengan penilaian IT. Itu artinya, pelanggan dapat menambahkan aspek keberlanjutan pada strategi migrasi mereka. Laporan tersebut akan memberikan insight yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur dan mengurangi dampak lingkungan, Menariknya, laporan ini juga telah mengikuti beberapa praktik terbaik Google Cloud yang telah mencapai carbon neutral selama beberapa dekade terakhir. Baca juga: Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud Sebagai salah satu raksasa penyedia layanan komputasi awan, Google Cloud terus meluncurkan inovasi baru yang dirancang untuk memudahkan pengalaman pelanggan. Begitu pula dengan teknologi RAMP ini yang diharapkan dapat mempercepat proses migrasi ke cloud. Untuk masalah komputasi awan, Google Cloud memang menyediakan berbagai solusi yang komprehensif. Bahkan solusi yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang baru memulai transformasi digital mereka. Apakah Anda juga sedang mempertimbangkan migrasi ke cloud. EIKON Technology sebagai partner resmi yang ditunjuk oleh Google menyediakan paket berlangganan Google Cloud resmi dan bergaransi. Kami juga siap mendampingi Anda mulai dari perencanaan hingga proses implementasi. Untuk mulai memilih paket Google Cloud Anda, silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Meningkatkan Keamanan Konsol Admin Google Workspace dengan Akses Kontekstual

Salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Anda selama berada di ekosistem Google Workspace adalah dengan memperketat akses. Google telah melakukan beberapa pembaruan yang memungkinkan Anda mengatur akses sesuai kebutuhan. Ini berarti, Anda bisa memberikan keamanan terbaik tanpa harus mengorbankan kemudahan akses menuju berbagai layanan yang ada di Google Workspace. Salah satu update terbaru Google Workspace terkait kontrol akses baru saja diluncurkan bulan April 2022 ini. Dalam pembaruan tersebut, secara spesifik Google memberikan keamanan lanjutan terhadap konsol administrator. Untuk mengetahui detailnya, mari simak uraian berikut. Konsol Admin Google Workspace Untuk setiap paket subscription Workspace, Google menyediakan konsol Admin. Konsol ini merupakan sebuah kontrol terpusat yang mengatur seluruh end-user layanan Workspace dalam perusahaan atau institusi Anda. Dengan administrasi terpusat maka pengelolaan akun end-user pun menjadi cepat dan mudah. Kapabilitas ini juga telah dilengkapi fitur Cloud Identity terintegrasi untuk mengelola pengguna dan menyiapkan opsi keamanan seperti verifikasi 2 langkah dan kunci keamanan. Akses kontekstual konsol Admin Pada update yang diluncurkan tanggal 11 April 2022, Google Workspace mengumumkan ketersediaan akses kontekstual terhadap konsol Admin. Lewat fitur ini Anda dapat mengatur akses menuju konsol Admin dalam konteks pengguna dan perangkat yang digunakan. Misalnya, Anda dapat membatasi akses menuju konsol Admin untuk alamat IP (internet protocol) tertentu. Atau contoh lainnya yaitu memberikan akses hanya untuk pengguna yang menggunakan sistem operasi Chrome versi tertentu. Photo Credit: ArthurHidden (Freepik) Dengan adanya pembaruan ini Anda masih tetap dapat menyetel kebijakan akses, seperti verifikasi 2 langkah atau akses untuk semua anggota unit. Fitur ini menyediakan kontrol granular dan kontekstual tambahan bagi pengguna tersebut. Perlu diingat juga, akses untuk aplikasi akan dievaluasi terus-menerus setelah diberikan. Pengecualian untuk aturan ini adalah akses menuju aplikasi SAML, yang dievaluasi saat masuk. Update ini diharapkan bisa meningkatkan keamanan untuk keseluruhan sistem Anda. Selain itu, dengan membatasi akses menuju konsol Admin, maka risiko terjadi kesalahan pemberian akses pun dapat diminimalisir. Baca juga: Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous Contoh penerapan akses kontekstual Anda bisa menerapkan fitur akses kontekstual ini untuk beberapa keperluan, misalnya: Memberikan akses menuju aplikasi hanya untuk perangkat milik perusahaan. Membatasi akses menuju folder di Drive hanya jika perangkat penyimpanan milik end-user dienkripsi terlebih dahulu. Menolak akses menuju aplikasi jika pengguna tidak menggunakan jaringan milik perusahaan. Mulai menerapkan fitur akses kontekstual Untuk mulai menerapkan fitur akses kontekstual ini sebenarnya sangat mudah. Setelah Anda melakukan pembaruan (tersedia juga opsi untuk melakukan pembaruan otomatis), Google Workspace secara default akan menampilkan fitur ini. Bagi Anda yang diberi tanggung jawab sebagai administrator bisa mengakses layanan Help Center Google Workspace dan membuka halaman context-aware access overview untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengaturan akses kontekstual ini. Sedangkan untuk end-user tidak melakukan pengaturan apa pun karena fitur ini hanya dapat diakses oleh administrator melalui konsol Admin. Ketersediaan akses kontekstual Photo Credit: lookstudio (Freepik) Fitur akses kontekstual ini telah diluncurkan melalui domain rapid release sekaligus scheduled release pada tanggal 11 April 2022 (hingga 15 hari ke depan untuk keseluruhan visibilitas fitur). Akses kontekstual tersedia untuk paket subscription Google Workspace Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Standard, Education Plus, dan Cloud Identity Premium. Sedangkan untuk pengguna paket subscription Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Frontline, Nonprofits, G Suite Basic, dan G Suite Business belum bisa menggunakan fitur ini.  Baca juga: Memanfaatkan Google Workspace untuk Perlindungan Keamanan Siber Meningkatkan keamanan akses adalah kunci untuk meningkatkan keamanan keseluruhan sistem Anda. Dalam Google Workspace, akses dikelola oleh administrator. Itu artinya, jika administrator diberi kendali yang lebih baik, maka keamanan pun bisa ditingkatkan. Adanya fitur akses kontekstual pada Admin konsol Workspace memungkinkan Anda untuk bisa menikmati kemudahan tersebut. Jika sistem produktivitas yang Anda gunakan sekarang masih belum memberikan keamanan akses, Google Workspace bisa dijadikan solusi. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda memilih subscription plan Workspace yang paling sesuai. Anda bahkan bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Membangun Data Warehouse yang Aman dengan Blueprint Keamanan Baru Google Cloud

Meningkatkan keamanan data warehouse merupakan salah satu visi pengembangan Google Cloud. Salah satunya adalah dengan menambahkan pembaruan pada portofolio cetak biru mereka, Secure Data Warehouse Blueprint.   Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan kemampuan cloud untuk menganalisis data sensitif mereka. Namun, sayangnya mereka masih harus menginvestasikan banyak waktu untuk melindungi data sensitif yang tersimpan di dalam data warehouse mereka. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Google Cloud baru saja merancang Secure Data Warehouse Blueprint yang baru. Apa itu Secure Data Warehouse Blueprint? Secure Data Warehouse Blueprint menerapkan praktik keamanan terbaik untuk membantu melindungi data dan mempercepat adopsi solusi Anda. Arsitektur yang diterapkan blueprint ini tidak hanya mencakup siklus hidup data, tapi juga menggabungkan postur tata kelola dan keamanan seperti yang terlihat dalam diagram berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen-komponen dalam Secure Data Warehouse Blueprint Secure Data Warehouse Blueprint terdiri dari beberapa komponen, di antaranya: Area pendaratan untuk menyerap data batch atau streaming. Komponen data warehouse, menangani penyimpanan dan de-identifikasi data, yang nantinya dapat diidentifikasi kembali melalui proses terpisah. Komponen klasifikasi dan tata kelola data mengelola kunci enkripsi, template de-identifikasi, dan taksonomi klasifikasi data. Komponen keamanan membantu dalam deteksi, pemantauan, dan respons. Baca juga: Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Memanfaatkan Secure Data Warehouse Blueprint untuk mempercepat analisis bisnis Blueprint ini menyediakan teknik infrastructure as code (IaC) seperti mengkodifikasi infrastruktur dan mendeklarasikan lingkungan Anda sehingga tim IT dapat menganalisis kontrol dan membandingkannya dengan persyaratan perusahaan Anda untuk membuat, menerapkan, dan mengoperasikan data warehouse. Teknik IaC juga dapat membantu menyederhanakan tinjauan peraturan dan kepatuhan yang dilakukan perusahaan Anda. Blueprint ini mendukung fleksibilitas. Anda dapat memulai inisiatif baru atau mengkonfigurasinya untuk diterapkan ke lingkungan yang ada. Katakanlah Anda memilih untuk menggunakan jaringan dan modul logging cetak biru yang ada. Anda masih bisa menyimpan konfigurasi jaringan yang ada dan membandingkannya dengan rekomendasi blueprint untuk menyempurnakan lingkungan data warehouse Anda. Melindungi data dengan pengaturan keamanan berlapis Dengan menggunakan blueprint ini, Anda dapat menunjukkan kepada tim keamanan, risiko, dan kepatuhan kontrol keamanan mana yang diterapkan di lingkungan data warehouse. Diagram berikut menunjukkan tidak hanya layanan yang digunakan dalam arsitektur, tetapi juga bagaimana layanan bekerja sama untuk membantu melindungi data Anda. Kontrol Layanan VPC membuat batasan untuk mengelompokkan layanan berdasarkan masalah fungsional. Jembatan perimeter didefinisikan untuk memungkinkan komunikasi dan untuk memantau antara perimeter Photo Credit: Google Cloud Blog Perimeter tata kelola data mengontrol kunci enkripsi yang disimpan di Cloud HSM, template de-identifikasi yang digunakan oleh Cloud DLP, dan taksonomi klasifikasi data yang ditentukan dalam Data Catalog. Perimeter ini juga berfungsi sebagai lokasi pusat untuk audit logging dan monitoring. Perimeter penyerapan data menggunakan Dataflow untuk mengidentifikasi data Anda berdasarkan template de-identifikasi dan menyimpan data di BigQuery. Perimeter data rahasia mencakup kasus ketika data sensitif butuh diidentifikasi ulang. Pipeline Dataflow terpisah dibuat untuk mengirim data ke dataset BigQuery yang terisolasi pada proyek berbeda. Photo Credit: Piqsels Anda dapat menggunakan layanan tambahan dari blueprint Security Foundations. Blueprint tersebut menggunakan kontrol keamanan bawaan seperti Security Command Center, Cloud Logging, dan Cloud Monitoring. Bagian pencatatan dan pemantauannya menjelaskan bagaimana Security Command Center membantu kebutuhan deteksi ancaman Anda. Di samping itu, ada Security Health Analytics, sebuah layanan bawaan dari Security Command Center yang memantau setiap proyek agar tidak terjadi kesalahan konfigurasi. Log audit dikonfigurasi secara terpusat dengan CMEK untuk membantu pemantauan akses. Keamanan data warehouse Anda akan lebih teruji jika mendapatkan validasi dan perspektif dari luar. Untuk itu, Google Cybersecurity Action Team dan tim keamanan pihak ketiga telah meninjau kontrol serta postur keamanan yang ditetapkan oleh blueprint ini. Anda bisa mempelajari detailnya di sini. Tinjauan eksternal ini akan membantu Anda memahami bahwa penerapan praktik keamanan yang baik akan melindungi data, bahkan yang paling sensitif sekalipun. Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Keamanan Google Cloud Platform dengan Mute Findings Selain Secure Data Warehouse Blueprint yang dibahas dalam artikel ini, Google Cloud juga menawarkan beragam layanan dan solusi untuk meningkatkan keamanan data Anda. Bagi Anda yang belum berlangganan solusi Google Cloud, tidak perlu khawatir. EIKON Technology siap menyediakan solusi terbaik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Silakan klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program

Baru-baru ini, Google memperkenalkan sebuah layanan migrasi data bernama Database Migration Program. Layanan ini menawarkan sebuah pendekatan baru untuk memigrasikan database open source maupun kepemilikan yang ada ke layanan database terkelola Google Cloud. Dengan Database Migration Program, Anda akan mendapatkan akses menuju penilaian, peralatan, praktik terbaik, dan sumber daya dari jaringan mitra teknologi basis data khusus dari Google. Program ini juga menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database ke Google Cloud dengan cepat dan hemat biaya. Kemudahan yang ditawarkan penyimpanan cloud Selama beberapa tahun terakhir, sudah banyak perusahaan yang menyadari manfaat cloud dalam perjalanan modernisasi aplikasi mereka. Cloud membantu mereka menjadi lebih efisien, terukur, gesit, dan inovatif. Selain itu, database cloud terkelola biasanya menghasilkan biaya kepemilikan yang lebih rendah secara keseluruhan. Namun, banyak perusahaan terus mengelola database sendiri di cloud instances atau membiarkan database on premise, bahkan saat aplikasi berjalan di cloud. Alasan utamanya adalah kompleksitas migrasi database. Database adalah inti dari operasi sehari-hari setiap perusahaan, membuatnya lebih sulit untuk dipindahkan. Selain itu, migrasi bisa mahal, memakan waktu, dan berisiko. Baca juga: 3 Alasan Mengapa Anda Harus Menambahkan Cloud sebagai Data Strategy Database Migration Program sebagai solusi migrasi data Photo Credit: jcomp (Freepik) Database Migration Program dari Google Cloud ini berupaya mengatasi kerumitan proses tersebut dengan memberikan panduan dan dukungan komprehensif. Penilaian dari Google akan membantu Anda memahami jejak armada database, dependensi dan arsitekturnya. Google Cloud juga terhubung dengan mitra khusus yang dapat membantu lewat keahlian mereka mengenai tools dan resource untuk memindahkan data tanpa mengganggu bisnis Anda. Selain itu, Google Cloud menawarkan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi biaya migrasi, membantu Anda memigrasikan database dengan cepat dan hemat biaya. Tiga langkah untuk migrasi data yang sukses Database Migration Program memandu Anda mulai dari tahap penilaian dan perencanaan awal hingga proses migrasi itu sendiri. Tentunya dengan bantuan ahli dari mitra database yang telah memenuhi persyaratan. Berikut cara Google Cloud membantu di setiap tahap perjalanan migrasi database melalui Database Migration Program: Menilai: Pada tahap ini dilakukan penilaian database untuk menemukan dan menganalisis database dan aplikasi yang Anda miliki. Agar proses berjalan lancar, manfaatkan tool dan resources khusus yang telah disediakan. Jangan lupa, Google juga telah terhubung dengan pakar database yang siap memberikan panduan berdasarkan kebutuhan dan persyaratan khusus Anda. Rencanakan: Database Migration Program terhubung dengan mitra database khusus Google Cloud yang dapat membantu Anda membuat rencana migrasi, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan resources dan perkiraan biaya.  Layanan ini juga dapat membantu mengidentifikasi beban kerja yang tepat untuk memulai migrasi Anda. Jalankan: Database Migration Program menyediakan pendanaan insentif khusus untuk mengimbangi sebagian biaya migrasi Anda dengan membantu membayar mitra teknologi spesialis yang melakukan migrasi database. Tidak perlu memindahkan semuanya sekaligus, Anda bisa mulai dengan memindahkan satu departemen atau database pada satu waktu dan menggunakan program lagi sebanyak yang Anda butuhkan. Photo Credit: tirachardz (Freepik) Baca juga: Alur Sederhana untuk Merencanakan Migrasi Cloud Google Cloud terus berupaya untuk menghadirkan solusi dan layanan yang memudahkan Anda dalam mengoptimalkan penggunaan cloud. Hadirnya Database Migration Program dapat dimanfaatkan untuk menyederhanakan migrasi data, suatu proses yang selama ini dianggap sangat kompleks dan membutuhkan waktu lama. Agar tidak ketinggalan berbagai kemudahan tersebut, segera gunakan Google Cloud sebagai solusi penyimpanan database Anda. Kami dari EIKON Technology siap membantu Anda menyediakan produk Google Cloud resmi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Cloud

Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah

BigQuery baru saja memperkenalkan kapabilitas baru yang memungkinkan Anda untuk bisa menemukan elemen data unik dalam teks tak terstruktur dan JSON yang semi-terstruktur, tanpa harus mengetahui skema tabel terlebih dulu. Pembaruan ini akan membantu Anda meningkatkan kinerja dan biaya saat harus menemukan baris data alih-alih agregasi. Misalnya, mengidentifikasi baris data yang terkait dengan pengguna untuk pelaporan GDPR (General Data Protection Regulation). Indeks penelusuran ini sepenuhnya tanpa server dan dikelola oleh BigQuery. Contoh penggunaan fungsi dan indeks penelusuran BigQuery   Kasus Contoh Penggunaan Dasbor yang perlu filter selektif Mengiris dan memotong data berdasarkan item inventaris yang berbeda Identifikasi subset data yang ditargetkan dalam set data besar Buat kohort pasien dengan mutasi gen yang tepat Proses regulasi yang memerlukan pencarian elemen data spesifik Temukan dan hapus catatan pengguna untuk GDPR Pemecahan masalah pengembang Identifikasi entri log aplikasi yang terkait dengan kode kesalahan tertentu Audit keamanan Tinjau semua aktivitas jaringan dari alamat IP tertentu Bagaimana indeks penelusuran BigQuery bekerja Indeks penelusuran adalah indeks terbalik yang berada di samping data BigQuery utama Anda. Fungsinya adalah untuk mempercepat pencarian titik dengan memberikan insight mengenai lokasi elemen data tertentu di penyimpanan dasar tabel. Berikut adalah beberapa kemudahan yang ditawarkan fitur penelusuran BigQuery: Pencarian skala besar Indeks penelusuran BigQuery menawarkan skala petabyte untuk menyimpan semua log real-time dan historis. Sehingga sesuai untuk analitik keamanan, ancaman sistem yang tidak spesifik dan lokal, beberapa cloud, dan Kubernetes. Misalnya, jika seorang peretas masuk ke GCP, mereka kemungkinan juga akan masuk ke komponen lain dan Anda ingin melacaknya di satu lokasi. Dengan BigQuery, Anda memiliki skalabilitas tanpa batas dan performa kueri yang sangat cepat. Pengguna bahkan dapat mencari di beberapa kolom sekaligus dan tidak perlu khawatir tentang di mana elemen yang mereka cari disimpan. Baca juga: Alasan Mengapa BigQuery Connector For SAP Dapat Memperkuat Strategi Analitis Data Tidak ada harga tambahan Photo Credit: Freepik BigQuery memberikan solusi yang hemat biaya. Anda hanya perlu membayar untuk penyimpanan indeks yang diperlukan, sedangkan biaya pemeliharaan gratis. Ketika digunakan secara efektif, kueri memindai lebih sedikit data yang menghasilkan penghematan biaya. Katakanlah Anda harus menghapus semua data untuk pengguna bernama ‘Ade’ yang muncul hanya dalam 10 catatan petabyte data Anda untuk GDPR. Secara historis, Anda perlu memindai semua tabel tersebut dan membayar pemrosesannya (yang ukurannya bisa beberapa terabyte). Namun dengan indeks BigQuery, hanya perlu memerhatikan sub-kumpulan baris data yang disentuh sehingga mengurangi biaya secara signifikan. Integrasi JSON Log keamanan memiliki skema variabel, jenis, dan berasal dari berbagai sumber yang membuat data tidak dapat diprediksi. Kini Anda dapat memiliki fleksibilitas untuk menyimpan data sebagai JSON yang dilengkapi kemudahan penggunaan SQL untuk kueri. Ini menghilangkan kebutuhan akan pipeline kompleks untuk mempertahankan penghematan biaya dan resources data. Menggunakan penelusuran untuk meningkatkan analisis log di BigQuery Photo Credit: luis_molinero (Freepik) Kemampuan penelusuran ini adalah salah satu dari banyak cara pelanggan untuk meningkatkan analisis log mereka di BigQuery. Dengan adanya proliferasi layanan digital, aplikasi SaaS, dan perangkat IoT, banyak pengguna yang kesulitan untuk menganalisis petabyte log yang mereka kumpulkan. Ini membuat pengidentifikasian ancaman keamanan dari log menjadi rumit dan mahal. Fitur penelusuran ini adalah salah satu fitur yang menjadikan BigQuery sebagai solusi ideal untuk analisis log dan analisis keamanan terpusat. Pelanggan telah menemukan bahwa menggunakan BigQuery sebagai platform analisis terpusat dapat membantu menjawab berbagai skenario pemecahan masalah. Baru-baru ini, Google Cloud telah merilis Community Security Analytics (CSA), yang merupakan kumpulan kueri dan aturan open source untuk membantu Anda mendeteksi ancaman umum berbasis cloud dengan memanfaatkan BigQuery. Baca juga: Mengenal BigQuery Write API dalam Google Cloud Untuk pelanggan yang ingin memulai analisis log mereka menggunakan BigQuery, fitur penelusuran Log Analytics ini adalah fitur Cloud Logging yang belum diluncurkan secara resmi dan sekarang masih dalam masa preview (Anda bisa mengajukan pendaftaran di sini) Antarmuka baru ini menghadirkan kecanggihan BigQuery dan SQL ke log Anda. Dengan antarmuka pengguna yang dioptimalkan untuk analisis log, Log Analytics menyediakan cara yang mulus untuk menggabungkan dan menganalisis log Anda di Cloud Logging. Kemudahan dari BigQuery ini akan semakin seamless jika Anda bekerja dengan ekosistem Google Cloud. Bagi Anda yang belum berlangganan, EIKON Technology siap membantu Anda menemukan solusi Google Cloud. Di samping produk yang terjamin keasliannya, kami juga menyediakan pendampingan mulai dari persiapan, pemasangan, hingga penerapan. Mulai pilih paket langganan Google Cloud Anda di sini!

Scroll to Top