EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Meningkatkan Kemampuan Komputasi Awan dengan Google Cloud Skill Badges

 Sekarang ini dunia telah memasuki era digitalisasi. Semua orang bisa saling terhubung tanpa harus berada di satu tempat yang sama. Pekerjaan pun kini bermigrasi ke ekosistem cloud seperti Google Cloud.  Meski begitu, sebuah penelitian yang dilakukan McKinsey Digital justru menemukan bahwa 61% HRD percaya bahwa mempekerjakan developer akan menjadi sebuah tantangan terbesar di masa mendatang. Pasalnya, meski sekarang jumlah developer sudah makin banyak, yang kompetisinya sesuai masih sulit untuk ditemukan. Berangkat dari alasan tersebut, sebaiknya para developer mengembangkan portofolio dan meningkatkan skill mereka. Sekadar memiliki skill saja tidak cukup. Skill tersebut juga harus dapat divalidasi agar dapat terus berkembang sesuai dengan teknologi dan lanskap bisnis yang berubah dengan cepat. Itu sebabnya Google Cloud kemudian meluncurkan platform Skill Badges. Lewat program tersebut, pengguna dapat mengasah skill mereka dalam bidang komputasi awan. Bagaimana cara kerjanya? Apa itu Google Cloud Skill Badges Skill Badges merupakan sebuah kredensial mikro yang dikeluarkan untuk menunjukkan kompetensi dan komitmen terkait komputasi cloud. Program ini juga mendukung Anda untuk terus mengikuti solusi dan produk Google Cloud terbaru Keterampilan Google Cloud tersedia secara luas di market cloud. Jika ditotal, setidaknya ada lebih dari 765.000 sertifikasi teknis dan lencana aktif yang bisa Anda peroleh. Untuk setiap skill dan keahlian cloud yang dikuasai, Anda akan mendapat lencana eksklusif. Lencana tersebut dapat dibagikan dan dipasang di resume sebagai bukti dari kemampuan cloud yang sudah Anda kuasai. Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Jaringan Cloud Cara mendapatkan Skill Badges Untuk mendapatkan Skill Badges sebenarnya sangat simpel. Bahkan, layanan ini bisa Anda coba secara gratis melalui Google Cloud Platform. Berikut langkah-langkahnya: Masuk ke halaman Google Cloud Platform kemudian isi formulir yang tersedia. Setelah terdaftar, Anda bisa langsung memilih quest sesuai keahlian yang ingin dikuasai. Tiap quest akan berisi panduan yang bisa Anda pelajari. Menjelang berakhirnya quest, akan muncul challenge lab untuk membuktikan pemahaman dan kemampuan Anda. Jika berhasil menyelesaikan challenge lab Anda akan otomatis mendapatkan skill badge. Bagikan skill badge di media sosial atau resume Anda. Baca juga: Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan Google Cloud Skill Badge untuk meningkatkan peluang karier Photo Credit: Rawpixel Badge keahlian ini telah terbukti mampu meningkatkan “nilai jual” SDM. Setidaknya ini telah berhasil dibuktikan. Dalam sebuah studi global yang dilakukan oleh Gallup. Studi tersebut menemukan bahwa pemilik skill badges merasa lebih lengkap dan siap dengan berbagai keterampilan yang diperoleh melalui pencapaian dari Skill Badges. Mereka pun lebih percaya diri dengan keterampilan cloud, bersemangat untuk mempromosikan keterampilan ke jaringan profesional mereka, dan mampu memanfaatkan skill badges untuk mencapai tujuan pembelajaran di masa mendatang, termasuk sertifikasi Google Cloud. Dalam studi Gallup tersebut diketahui bahwa: 87% pengguna setuju Skill Badges memberi pengalaman cloud langsung di dunia nyata. 86% pengguna setuju bahwa Skill Badges membantu membangun kompetensi cloud mereka. 82% pengguna setuju Skill Badges membantu menunjukkan keterampilan cloud yang berkembang. 90% pengguna setuju bahwa Skill Badges membantu dalam perjalanan sertifikasi Google Cloud. 74% berencana untuk menyelesaikan sertifikasi Google Cloud dalam enam bulan ke depan. Baca juga: Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud Google Cloud tidak sekadar menghadirkan solusi komputasi awan yang canggih dan skalabel, tapi juga membangun sebuah ekosistem yang berkembang. Anda sebagai pengguna pun bisa turut terlibat dalam perkembangan tersebut. Salah satu caranya adalah melalui program Skill Badges ini. Lencana yang Anda peroleh nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan resume maupun portofolio atau dengan kata lain, menambah “nilai jual” Anda di mata perusahaan. Selain Skill Badges Google Cloud juga memiliki berbagai fitur, layanan, dan kapabilitas yang menanti untuk Anda eksplor lebih lanjut. Temukan lebih banyak peluang dengan menerapkan solusi komputasi awan. EIKON Technology sebagai authorized reseller Google menyediakan paket berlangganan yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Silakan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Material Security: Perusahaan Keamanan Email yang Didukung Skalabilitas BigQuery

Email kini bukan sekadar alat komunikasi elektronik. Banyak perusahaan yang mengandalkan email sebagai sebuah sistem penyimpanan untuk laporan keuangan, dokumen hukum, dan bahkan catatan personalia. Dari operasi sehari-hari hingga komunikasi klien dan karyawan, email masih tetap relevan sebagai komunikasi digital. Namun sayangnya email juga punya kelemahan. Bisa dibilang, email adalah sumber risiko yang paling umum dan target yang disukai oleh penjahat siber. Banyak pendekatan keamanan email yang berusaha membuatnya lebih aman dengan memblokir email berbahaya, tapi masih membiarkan data di kotak surat tidak terjaga saat muncul pelanggaran. Material Security mengambil pendekatan berbeda. Dengan asumsi bahwa pelaku kejahatan sudah memiliki akses ke kotak surat, perusahaan keamanan email tersebut mencoba mengurangi tingkat pelanggaran dengan memberikan perlindungan tambahan untuk email sensitif. Seperti apa? Material: Solusi keamanan email yang dibangun dengan BigQuery Dengan fokus utama untuk meningkatkan keamanan email, Material Security terus mengembangkan solusi yang dapat mengurangi tingkat pelanggaran. Salah satunya bisa Anda rasakan pada fitur Leak Prevention yang ada di Material. Fitur tersebut menemukan dan menyunting konten sensitif dalam arsip email, tapi menyediakan opsi untuk dipulihkan dengan langkah autentikasi sederhana bila diperlukan. Fitur lainnya meliputi: ATO Prevention: menghentikan penyerang menyalahgunakan email pengaturan ulang kata sandi untuk membajak layanan lain. Phishing Herd Immunity: otomatisasi respons tim keamanan terhadap laporan phishing karyawan. Visibility and Control: menyediakan analisis risiko, pencarian real-time, dan alat lain untuk analisis dan manajemen keamanan. Produk Material dapat pada penyedia email cloud mana pun, dan memungkinkan pelanggan mempertahankan kontrol data dengan model penerapan penyewa tunggal. Baca juga: Update Google Workspace untuk Cegah Email Phishing Mendukung aplikasi SaaS berbasis data dengan Google BigQuery Email pada dasarnya merupakan kumpulan data besar yang tidak terstruktur. Itu berarti, untuk melindunginya perlu pemrosesan data dalam jumlah besar dengan cepat, suatu hal yang identik dengan data warehouse BigQuery dari Google Cloud. BigQuery sendiri dipilih karena dinilai sangat cepat dan sangat skalabel. Cara kerjanya pun sejalan dengan pendekatan keamanan Material. BigQuery menyediakan platform lengkap untuk analisis data skala besar di dalam Google Cloud, mulai dari penyerapan, pemrosesan dan penyimpanan data yang disederhanakan, analisis yang andal, AI/ML, serta kemampuan berbagi data. Bersama-sama, kemampuan ini menjadikan BigQuery sebagai platform analisis keamanan andal yang diaktifkan melalui model penerapan unik Material. Photo Credit: Rawpixel Setiap pelanggan mendapatkan proyek Google Cloud mereka sendiri, dilengkapi dengan data warehouse BigQuery yang penuh dengan data yang dinormalisasi di seluruh jejak email mereka. Tim keamanan dapat menanyakan warehouse secara langsung untuk mendukung penyelidikan internal dan membuat pelaporan kustom dan real-time, membangun dan memelihara infrastruktur skala besar tanpa beban. Solusi Material beresonansi dengan pelanggan dari berbagai bidang termasuk perusahaan terkemuka seperti Mars, Compass, Lyft, DoorDash, dan Flexport. Baca juga: 8 Tips Memilih Email Hosting yang Teraman dan Terpercaya Built with BigQuery Photo Credit: Rawpixel Material merupakan perusahaan keamanan yang mengedepankan pemikiran inovatif, desain yang terampil, dan eksekusi strategis. BigQuery merupakan bagian dasar dari kesuksesan Material. Meniru formula ini pun kini lebih mudah bagi ISV melalui layanan Built with BigQuery yang diumumkan pada event Google Data Cloud Summit April lalu. Dengan Built with BigQuery, Google membantu perusahaan teknologi seperti Material membangun aplikasi inovatif di cloud data Google dengan akses yang disederhanakan ke teknologi, dukungan teknis yang membantu dan berdedikasi, serta program go-to-market bersama. Perusahaan yang berpartisipasi dalam Built with BigQuery dapat: Mulai cepat dengan sandbox yang telah dikonfigurasi sebelumnya dari Google. Percepat desain dan arsitektur produk dengan akses ke pakar yang ditunjuk dari ISV Center of Excellence. Mereka akan memberikan wawasan tentang kasus penggunaan utama, pola arsitektur, dan bahkan praktik terbaik. Meningkatkan kesuksesan dengan program pemasaran bersama untuk mendorong kesadaran, menambah permintaan, dan meningkatkan adopsi. Baca juga: Membuat Email dengan Domain Sendiri? Begini Caranya! Selain Material Security, Google Cloud sendiri sebenarnya sudah memiliki sistem keamanan yang komprehensif. Untuk penggunaan skala besar, admin dapat mengatur keamanan, terutama dari segi akses melalui Google Cloud Console. Email native Google, Gmail pun telah dibekali dengan keamanan andal yang meminimalisir risiko kejahatan siber. Google memang menawarkan solusi yang komprehensif untuk aspek TI perusahaan. Bagi Anda yang ingin mengembangkan perusahaan dengan dukungan teknologi, Google adalah pilihan tepat. Misalnya untuk komputasi awan, Anda bisa mengandalkan Google Cloud. Solusi ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technolgy, authorized reseller Google untuk Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Cloud

Menghemat Biaya Workload Proyek Google Cloud dengan Dukungan VM Spot

Menjelang akhir bulan Mei 2022 ini. Google mengumumkan ketersediaan umum untuk penerapan VM Spot pada proyek Google Cloud Anda. Lebih lengkap mengenai perilisan ini dapat Anda simak di sini. Aplikasi modern seperti layanan mikro, containerized workloads, dan aplikasi skalabel horizontal dirancang untuk tetap bertahan bahkan ketika mesin yang mendasarinya tidak. Arsitektur ini memungkinkan Anda memanfaatkan Spot VM untuk mengakses kapasitas dan menjalankan aplikasi dengan harga murah. Google Cloud memperkirakan, penghematan bisa mencapai 60 – 91% dari harga VM on-demand dengan VM Spot. Untuk semakin mempermudah penggunaan VM Spot, Google Cloud juga menyertakan dukungan Spot VM dalam berbagai alat. Apa saja? Mari simak penjelasannya berikut. Google Kubernetes Engine (GKE) Containerized workloads sering kali cocok untuk VM Spot karena umumnya tidak memiliki status dan toleran terhadap kesalahan. Google Kubernetes Engine (GKE) menyediakan orkestrasi container. Dengan dukungan untuk VM Spot, Anda bisa gunakan GKE untuk mengelola VM Spot agar lebih hemat biaya. Pada klaster yang menjalankan GKE versi 1.20 dan yang lebih baru, fitur kubelet graceful node shutdown diaktifkan secara default, memungkinkan kubelet untuk mengetahui pemberitahuan preemption, menghentikan Pod yang berjalan pada node dengan mulus, memulai ulang Spot VM, serta menjadwal ulang Pod.   Baca juga: Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya Yang Lebih Akurat Terraform Photo Credit: Rawpixel Terraform memudahkan pengelolaan infrastruktur sebagai kode. Dukungan Spot VM kini tersedia untuk Terraform di Google Cloud. Menggunakan template Terraform untuk menerapkan dukungn Spot VM di seluruh lingkungan Anda, termasuk jaringan, disk, dan akun layanan. Dukungan ini akan menghasilkan peningkatan penerapan yang berkelanjutan. Terraform bekerja lebih baik bersama GKE untuk mendefinisikan dan mengelola kumpulan node secara terpisah dari bidang kontrol klaster. Kombinasi ini akan meningkatkan sumber daya komputasi Anda sekaligus mengizinkan GKE menangani penskalaan dan pemulihan otomatis untuk agar VM memadai setelah preemption. Baca juga: 5 Alasan Mengapa Google Cloud VMware Engine Adalah Solusi VMware Terbaik Slurm Photo Credit: standret (Freepik) Slurm merupakan salah satu pengelola beban kerja HPC (high-performance computing) dengan format open-source terkemuka. Produknya bahkan diterapkan pada superkomputer TOP 500 di seluruh dunia. Selama lima tahun terakhir, Google telah bekerja dengan SchedMD, perusahaan di balik Slurm, untuk merilis versi Slurm yang terus ditingkatkan di Google Cloud. SchedMD baru-baru ini merilis skrip Slurm untuk Google Cloud terbaru. Skrip ini bisa Anda temukan di platform Google Cloud Marketplace serta repositori GitHub milik SchedMD. Versi terbaru Slurm untuk Google Cloud ini telah menyertakan dukungan untuk Spot VM melalui Bulk API. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang perilisan ini di blog Google Cloud. Baca juga: Cara Membangun Data Mesh di Google Cloud Dengan Dataplex Dukungan VM Spot pada proyek Google Cloud memungkinkan Anda untuk bsia menghemat lebih banyak biaya. Terlebih kini beberapa platform juga sudah menyediakan dukungan tersebut, misalnya GKE dan juga Terraform. Google Cloud menyediakan solusi yang menyeluruh dan tentunya efisien untuk berbagai proyek komputasi Anda, terutama untuk proyek skala besar. Jika Anda masih merasa ragu, kami dari EIKON Technology menyediakan konsultasi pra-instalasi Google Cloud. Kami akan mencarikan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda. EIKON Technology merupakan authorized reseller yang ditunjuk oleh Google untuk mendistribusikan produknya di Indonesia. Seluruh solusi yang kami tawarkan, termasuk Google Cloud, dipastikan memiliki lisensi resmi dan bergaransi. Untuk menanyakan informasi mengenai Google Cloud serta implementasinya, silakan hubungi kami di sini.

Google Cloud

Google Cloud VMware Engine: Optimalkan Biaya Lisensi Aplikasi dengan Custom Core Counts

Kini makin banyak perusahaan yang memigrasikan beban kerja mereka ke cloud. Bahkan termasuk aplikasi yang dilisensikan dan dibebankan berdasar jumlah inti fisik di dalam klaster atau pada node yang mendasarinya. Untuk memudahkan pelanggan dalam mengoptimalkan biaya lisensi aplikasi VMWare Engine, Google Cloud memperkenalkan kapabilitas custom core counts. Dengan kapabilitas tersebut, pengguna akan diberi kebebasan dalam melakukan konfigurasi klaster untuk memenuhi persyaratan lisensi khusus aplikasi, sekaligus menghemat lebih banyak biaya. Selain itu, Anda juga dapat mengatur jumlah inti CPU yang diperlukan untuk beban kerja saat pembuatan klaster. Dengan begitu, jumlah inti yang dilisensikan pun akan berkurang secara efektif. Anda bahkan bisa menentukan jumlah inti fisik per node dalam kelipatan 4 (8, 12, dan seterusnya hingga 36). VMware Engine juga membuat tiap node yang baru ditambahkan ke klaster dengan jumlah inti yang sama per node (termasuk saat mengganti node yang gagal). Baca juga: 3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services Untuk memulai kapabilitas custom core counts pun sangat mudah. Anda bisa melakukannya hanya dalam 3 langkah simpel (tahapan akan menyesuaikan inti dalam sebuah klaster). Mari simak bersama bagaimana kapabilitas ini bekerja. Mulai menggunakan custom core counts pada VMWare Engine Untuk mulai menggunakan kapabilitas custom core counts yang ada di VMWare Engine Google Cloud, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut: Selama pembuatan private cloud, pilih jumlah inti yang ingin Anda atur per node. Gambar berikut menunjukkan proses pemilihan. Photo Credit: Google Cloud Blog Tambahkan informasi mengenai jaringan untuk komponen manajemen. Photo Credit: Google Cloud Blog Periksa ulang input agar tidak terjadi kesalahan dan buat private cloud dengan custom core yang dihitung per klaster node. Photo Credit: Google Cloud Blog Selesai! Kini Anda sudah berhasil membuat sebuah private cloud dengan klaster yang memiliki 3 node. Pada tiap node terdapat 24 inti yang telah diaktifkan (48 vCPU). Itu berarti, Anda bisa mendapatkan total 72 inti yang diaktifkan dalam klaster. Baca juga: Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMwere Engine Dengan memanfaatkan kapabilitas ini Anda dapat dengan leluasa menyesuaikan ukuran klaster untuk memenuhi kebutuhan lisensi aplikasi. Apabila Anda menjalankan aplikasi yang dilisensikan pada basis per-inti, maka hanya perlu melisensikan 72 inti dengan jumlah inti khusus, bukan 108 inti (dari perhitungan 36 inti dikalikan 3 node). Jika ingin menambahkan klaster baru pada private cloud yang sudah berjalan. Anda hanya perlu melakukan 1 langkah tambahan untuk mengaktifkan jumlah custom inti, sebagai berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Selain kapabilitas custom core counts, Google Cloud juga tengah mengembangkan beberapa kapabilitas lain di VMware Engine. Untuk mengetahui rilis terbarunya, Anda bisa mengakses halaman rilis WMware Engine. Baca juga: Membuat Aplikasi yang Lebih Cerdas dengan Document AI, Workflows, dan Cloud Function Mengembangkan aplikasi sendiri memang bukanlah perkara mudah. Ada banyak sekali elemen yang harus Anda perhatikan. Terlewat satu saja, maka aplikasi tidak akan bisa berfungsi sesuai keinginan Anda. Google Cloud melalui VMware Engine menyediakan solusi yang komprehensif untuk mengembangkan aplikasi Anda dalam jaringan komputasi awan. Tertarik untuk mulai menggunakan Google Cloud sebagai solusi komputasi awan Anda? Dapatkan solusi Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, kami hanya menyediakan produk berlisensi dan bergaransi resmi. EIKON Technology juga menawarkan layanan pemasangan yang menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Untuk langsung terhubung dengan tim EIKON Technology, silakan klik di sini.

Google Cloud

Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya yang Lebih Akurat

Pernahkah Anda bertanya-tanya berapa biaya untuk menjalankan klaster Google Kubernetes Engine (GKE) tertentu? Apakah konfigurasi dan fitur yang Anda pilih akan memengaruhi total tagihan? Adakah potensi penskalaan otomatis pada tagihan GKE Anda? Saat Anda baru mulai menggunakan GKE, pasti pernah coba memperkirakan hal-hal tersebut sendiri. Namun pada akhirnya, semua itu sering kali menjadi teka-teki yang tak terjawab. Terlebih jika Anda tidak memiliki banyak titik referensi dari infrastruktur yang ada. Baru-baru ini Google Cloud meluncurkan fitur Cost Estimator untuk GKE dalam format pratinjau (preview). Fitur baru ini telah terintegrasi langsung dengan Google Cloud Console sehingga lebih mudah untuk dijalankan. Lalu, bagaimana cara kerjanya sendiri? Mengenal GKE Cost Estimator Photo Credit: Google Cloud Blog Ada banyak sekali fitur yang tersedia di Google Kubernetes Engine (GKE). Cost Estimator ini menjadi fitur pendatang baru yang siap membantu Anda untuk memahami sekaligus mengoptimalkan lingkungan GKE. Misalnya, mengetahui perkiraan biaya agar dapat melakukan penyesuaian beban kerja GKE. Bisa juga memanfaatkan fitur Autopilot untuk membayar sumber daya untuk Pod yang sudah Anda jadwalkan sehingga tidak perlu mengelola biaya node. Fitur Cost Estimator didesain untuk mendukung misi Google Cloud sebagai layanan cloud yang paling hemat biaya sekaligus memiliki performa terbaik. Sejalan dengan misi tersebut, tentunya harus ada transparansi mengenai biaya yang dibebankan kepada pelanggan. Dengan begitu, pelanggan pun lebih nyaman saat menggunakan berbagai fitur dan layanan di dalamnya. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, Dan CA Service Cara kerja GKE Cost Estimator Fitur Cost Estimator dari GKE ini sebenarnya merupakan bagian dari alur pembuatan klaster GKE. Di dalamnya Anda bisa menemukan sejumlah variabel yang dapat memengaruhi biaya pengoperasian komputasi Anda. Selain itu, fitur ini juga memungkinkan Anda untuk bisa melihat rincian biaya pengelolaan, kumpulan node individual, hingga lisensi. Anda juga dapat menggunakannya untuk mempelajari cara mengaktifkan mekanisme penskalaan otomatis yang akan memengaruhi perkiraan pengeluaran biaya, dengan mengubah ukuran estimasi klaster rata-rata. Photo Credit: Google Cloud Blog Kelemahan GKE Cost Estimator Sayangnya, Fitur Cost Estimator dari GKE ini tidak memiliki visibilitas ke seluruh lingkungan komputasi Anda (misalnya, jaringan, logging atau jenis diskon tertentu). Meski begitu, Anda bisa tetap mendapatkan perkiraan keseluruhan dengan tingkat akurasi tinggi. Dengan begitu, Anda pun bisa lebih memahami struktur biaya komputasi GKE. Anda juga bisa menggabungkan fitur ini dengan fitur lain dari GKE seperti Proactive Estimator for Cluster Autoscaler atau Node Auto-provisioning. Kombinasi ini akan menghasilkan perkiraan biaya yang lebih presisi dan jauh lebih mudah dibanding penghitungan manual. Cukup masukkan konfigurasi yang Anda inginkan. Setelah itu, gunakan bilah geser yang disediakan untuk memilih perkiraan nilai rata-rata yang mewakili klaster Anda. Tanpa menunggu lama, sistem pun akan langsung menampilkan perkiraan biaya. Baca juga: Perkuat Perlindungan VM GCE Anda dengan Kunci Keamanan Baru FIDO Google Kubernetes Engine atau GKE merupakan platform unggulan yang dimiliki oleh Google Cloud. Dengan berbagai fitur dan layanan di dalamnya, Anda dapat melakukan otomatisasi peluncuran software lebih cepat. Terlebih, GKE juga terintegrasi dengan platform lain yang masih ada dalam ekosistem Google Cloud sehingga memudahkan Anda untuk bekerja secara efisien. Untuk menggunakan GKE, Anda bisa mulai dengan berlangganan solusi komputasi awan Google Cloud. Dapatkan solusi Google Cloud yang telah disesuaikan dengan penggunaan skala besar hanya di EIKON Technology. Kami merupakan authorized reseller resmi yang dipilih langsung oleh Google untuk melakukan distribusi di Indonesia. Untuk mulai berlangganan, hubungi kami di sini.

Google Cloud

Temukan Log Lebih Cepat dengan Update Logs Explorer Google Cloud Console

Saat Anda memecahkan masalah, sering kali penyebabnya melibatkan pencarian log spesifik yang dihasilkan oleh infrastruktur dan kode aplikasi. Makin cepat Anda menemukan log, makin cepat juga Anda dapat mengonfirmasi atau menyangkal hipotesis terhadap sebab dan penyelesaian masalah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Google Cloud menghadirkan cara yang lebih sederhana untuk menemukan log di Logs Explorer. Mari pelajari cara kerjanya dalam ulasan berikut. Menyederhanakan proses querying Salah satu problem yang sering dijumpai oleh pengguna adalah menemukan log mereka. Sebagai solusi, Google Cloud melakukan beberapa pembaruan pada Logs Explorer. Berikut beberapa fitur baru yang ditawarkan: Simple text search Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur baru ini melakukan pencarian free text global di seluruh log Anda untuk tiap string yang ditambahkan ke kotak pencarian teks. Misalnya, pencarian “POST OR GET” akan memunculkan log apa pun yang mengandung teks “POST” atau “GET”. Baca juga: Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan Show/hide query toggle Adanya fitur baru memang menyederhanakan prose querying pengguna. Namun Logs Explorer masih perlu mengizinkan pengguna untuk menulis kueri kompleks pada kasus penggunaan tingkat lanjut. Itu sebabnya, Google Cloud menghadirkan fitur Show/hide query toggle yang mampu menampilkan dan menutup bahasa Logging kueri di belakang kueri. Date/time picker Photo Credit: Google Cloud Blog Dalam pembaruan ini, lokasi date/time picker dipindahkan agar lebih mudah ditemukan. Meski menyebabkan relokasi pada tampilan antarmuka Logs Explorer, update ini hadir dengan serangkaian peningkatan yang secara aktif dikembangkan oleh Google Cloud untuk mempermudah pengguna dalam menemukan log yang tepat.. Date/time display Photo Credit: Google Cloud Blog Penanggalan bisa menjadi masalah tersendiri dalam proses querying karena aspek tampilan. Pada pembaruan ini, opsi Jump to time dan Enter custom range yang ada pada menu date/time range kini akan tampil dalam format penanggalan pilihan Anda. Misalnya, Anda memilih format dd/mm/yyyy maka tanggal 25 Mei 2022 akan tampil dalam format 25/05/2022 di Google Cloud Console. Begitu juga untuk tampilan tanggal. Anda bisa memilih format AM/PM atau 24 jam. Resource, logName, and severity dropdown Photo Credit: Google Cloud Blog Logs Explorer kini memindahkan dropdown untuk resource, logName, dan severity sehingga lebih mudah ditemukan. Menu dropdown ini juga telah ditingkatkan sehingga dapat menjalankan kueri setiap kali pemilihan dibuat. Ini membuatnya lebih mudah untuk mempersempit log dengan cepat. Summary fields Photo Credit: Google Cloud Blog Kini Logs Explorer menambahkan summary fields sebagai default pada hasil log. Itu berarti, Anda bisa lebih cepat mengambil tindakan langsung dari baris log. Misalnya, pada log App Engine, adanya summary fields sebagai default akan menyoroti latensi yang dapat membantu Anda memfilter log jauh lebih mudah dan cepat. Logs Explorer juga memungkinkan Anda untuk menambahkan summary fields dengan pengaturan pribadi. Jadi, Anda pun dapat menentukan prioritas pada baris log. Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mendesain Jaringan Cloud Logs Explorer merupakan satu fitur krusial yang ada di Google Cloud Console. Lewat fitur ini, Anda bisa menemukan log dari berbagai bidang log. Dengan adanya pembaruan, maka pengguna bisa lebih mudah menemukan log yang dicarinya. Google Cloud Console sendiri adalah platform yang komplet dan sangat membantu dalam proses pengembangan, peluncuran, sekaligus penskalaan aplikasi maupun website. Sebuah platform yang penting untuk pengembang, insinyur DevOps, hingga SRE. Platform ini tersedia di dalam ekosistem Google Cloud. Dapatkan solusi Google Cloud untuk perusahaan atau institusi Anda melalui EIKON Technology, authorized partner yang ditunjuk langsung oleh Google untuk mendistribusikan produk mereka di Indonesia. Tunggu apalagi? Klik di sini untuk mendapatkan penawaran solusi Google Cloud terbaik.

Google Cloud

5 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Jaringan Cloud

Merancang jaringan cloud adalah bagian penting dalam perjalanan cloud Anda. Tahap ini akan membantu Anda untuk mendapatkan gambaran desain akhir jaringan cloud, Tentu saja, dalam melakukan perancangan, harus menyesuaikan dengan kasus penggunaan Anda sendiri. Cobalah untuk berpikir ke depan dan menghitung potensi risiko. Pendekatan semacam ini akan sangat menghemat waktu dan membantu menghindari potensi masalah di masa depan. Lima tips berikut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk Anda dalam merancang arsitektur jaringan cloud yang lebih baik. Memilih jaringan auto atau custom mode Saat membuat jaringan VPC, (virtual private cloud), Anda akan dihadapkan pada 2 opsi: auto atau custom mode. Auto mode secara otomatis mengisi subnet di setiap wilayah dari rentang alamat IPv4 10.128.0.0/9. Jenis jaringan ini dapat digunakan untuk VPC terisolasi yang tidak terhubung langsung ke jaringan VPC auto mode lainnya. Ketika Anda menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dan jaringan tersebut memiliki alamat IP yang sama, maka akan terjadi masalah alamat yang tumpang tindih. Oleh karenanya, jika Anda berencana untuk menghubungkan jaringan VPC ke lingkungan lain, disarankan untuk menggunakan jaringan auto mode. Cara ini akan memberi kemampuan untuk merencanakan dan mengontrol pengalamatan IP dan aturan firewall Anda. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Google Cloud VPC bersama atau VPC Network Peering? Google Cloud memungkinkan Anda menghubungkan jaringan VPC yang berbeda bersama-sama dengan menggunakan desain VPC Network Peering atau VPC bersama. Anda harus mempertimbangkan matang-matang, opsi manakah yang paling sesuai kebutuhan. VPC bersama memungkinkan Anda menyiapkan proyek host dan menghubungkan proyek layanan ke dalamnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Sedangkan VPC Network Peering memungkinkan Anda untuk menghubungkan 2 jaringan VPC. Fitur ini mendukung berbagai perusahaan dan proyek di Google Cloud. Contoh cara kerjanya adalah sebagai berikut: VPC B terhubung ke VPC A dan C. VPC C dan A tidak terhubung langsung sehingga tidak dapat berkomunikasi satu sama lain di VPC B. Photo Credit: Google Cloud Blog Menggunakan VPN atau tidak Tergantung pada persyaratan jaringan cloud, Anda dapat memilih untuk menggunakan virtual private network (VPN) secara internal atau eksternal. Cloud VPN mudah diatur dan lebih murah daripada opsi interkoneksi eksternal lainnya. Fitur ini juga dapat dikonfigurasi dalam konfigurasi high availability (HA). Bandwidth yang tersedia per tunnel adalah 3GBit/s, tapi Anda juga dapat menggabungkan beberapa tunnel untuk mencapai bandwidth yang lebih tinggi. Menentukan jenis interkoneksi Untuk interkoneksi tersedia dua pilihan: khusus atau mitra. Keduanya membutuhkan beberapa dukungan dari tim internal dan juga tim penyedia layanan. Anda harus mempertimbangkan kapan interkoneksi benar-benar dibutuhkan. Sebab, pekerjaan ini mungkin memiliki SLA berjangka waktu yang dapat memengaruhi pengiriman. Selain itu, ada beberapa hal lain yang dapat Anda pertimbangkan ketika menentukan interkoneksi: “Apakah Anda memiliki peralatan di fasilitas colocation atau tidak?” “Berapa banyak bandwidth yang dibutuhkan?” “Apakah Anda perlu SLA?” “Di mana harus mengakhiri koneksi di VPC?” Katakanlah Anda ingin mengakhiri proyek yang didedikasikan untuk interkoneksi atau mengakhiri langsung di VPC produksi. Ini adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan saat ada proyek yang menghilang dengan cepat dan Anda ingin menghindari keharusan untuk menyediakan kembali koneksi baru setiap saat. Baca juga: 3 Alasan untuk Melakukan Peering Aplikasi SAP dengan Google Cloud Services DNS DNS atau domain name server merupakan elemen penting lainnya dalam desain jaringan cloud. Bergantung pada cara DNS diatur, Anda mungkin harus melakukan konfigurasi tambahan saat menyelesaikan kueri untuk cloud dan lingkungan lokal. Cloud DNS sangat fleksibel dan dapat mendukung berbagai opsi penerusan zona yang dapat dikonfigurasi untuk mendukung kebutuhan lingkungan Anda. Google Cloud juga memiliki beberapa praktik terbaik DNS yang mungkin layak dipertimbangkan untuk desain Anda. Photo Credit: Google Cloud Blog Tips tambahan Selain kelima tips di atas, ada baiknya Anda juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya ekspansi bisnis di masa mendatang. Beberapa contohnya adalah akuisisi, penskalaan lingkungan (meluas hingga skala yang lebih besar), meluncurkan produk baru, menghubungkan ke cloud lokal dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dengan begitu, desain jaringan cloud Anda bisa tetap relevan dalam jangka waktu panjang. Baca juga: Cloud IDS untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia secara Umum Memang mendesain jaringan cloud bukanlah perkara mudah. Semakin diperhatikan, Anda mungkin akan terus menemukan celah yang tidak terpikirkan sebelumnya. Memanfaatkan resources serta layanan yang dimiliki Google seperti Cloud DNS bisa sangat membantu proses tersebut. Agar lebih optimal, Anda bisa berlangganan solusi Google Cloud yang telah disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. EIKON Technology siap mendampingi Anda dalam mengimplementasikan solusi cloud dari Google secara menyeluruh dan komprehensif, mulai dari perencanaan hingga pra-penerapan. Untuk mulai memilih paket Google Cloud Anda, silakan hubungi tim EIKON Technology di sini!

Google Cloud

Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema

Saat ini, kebutuhan akan ruang penyimpanan data bertumbuh dengan pesat. Penting untuk bisa menangkap, memproses, sekaligus menganalisis metadata dan metrik pekerjaan/kueri untuk keperluan audit, pelacakan, penyesuaian kinerja, hingga perencanaan kapasitas. Untuk memberikan akses dan visibilitas yang mudah terhadap metadata dan metrik BigQuery, Google Cloud meluncurkan Information Schema pada tahun 2020 lalu. Layanan ini memberi pelanggan “lensa” untuk bisa menggunakan metadata dan indikator performa untuk setiap tugas/kueri/API BigQuery. Penyimpanan yang terkait dengan Information Schema Views gratis. Pengguna cukup membayar biaya Compute yang terkait. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pembelanjaan BigQuery. Dua yang paling umum adalah penyimpanan dan pemrosesan. Ulasan kali ini akan membahas tentang cara mudah untuk menganalisis dan menguraikan metrik kunci BigQuery menggunakan Information Schema. Analisis dan visualisasi titik konsumsi slot waktu dan konkurensi Tujuan dari kueri ini adalah untuk mengumpulkan informasi semua pekerjaan yang berjalan selama rentang waktu dan kemudian dipecah menjadi interval yang lebih kecil hingga satuan detik (Point in Time). Tutorial ini menggunakan skrip SQL yang bisa Anda akses di sini. Salin dan tempelkan pada BigQuery UI untuk memulai. Sebelumnya, tutorial ini mendeklarasikan 5 jenis variabel yang berhubungan dengan waktu, yaitu:     DECLARE _RANGE_START_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_END_TS_LOCAL timestamp; DECLARE _RANGE_INTERVAL_SECONDS int64; DECLARE _UTC_OFFSET INT64; DECLARE _RANGE_START_TS_UTC timestamp; Atur nilai untuk 5 variabel yang dideklarasikan. Empat variabel pertama perlu diatur secara manual oleh individu yang menjalankan kueri. Variabel pertama (_TIMEZONE) harus mewakili waktu lokal Anda. Variabel kedua (_RANGE_START_TS_LOCAL) dan ketiga (_RANGE_END_TS_LOCAL) akan menggunakan Zona Waktu lokal yang ingin Anda analisis. Variabel keempat (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) mewakili ukuran interval waktu yang Anda inginkan. Point in Tima akan dikumpulkan di sini. Untuk menganalisis apa yang terjadi selama rentang waktu 5 menit, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ‘1’. Ini akan menghasilkan 300 titik data pada X-Axis. Untuk menganalisis apa yang terjadi untuk rentang waktu 1 jam, akan tepat untuk mengatur _RANGE_INTERVAL_SECONDS = ’10’. Ini akan menghasilkan 360 titik data pada X-Axis. Ada baiknya Anda mengorbankan “akurasi” untuk rentang waktu yang lebih besar guna menghasilkan bagan yang lebih mudah dibaca. Variabel kelima (UTC_OFFSET) mewakili offset antara zona waktu Anda dengan UTC yang ditentukan secara lokal. Baca juga: BigQuery BI Engine Kini Tersedia untuk Publik, Apa Saja Fitur yang Tersedia? Tabel turunan ‘kunci’ Tabel turunan ‘kunci’ membuat satu set hasil kolom dengan satu baris untuk setiap interval (_RANGE_INTERVAL_SECONDS) yang ada dalam rentang waktu yang ingin Anda analisis. Tahapan ini dapat dilakukan dengan beberapa fungsi array yang sangat rapi. Pertama, Anda dapat memanfaatkan fungsi GENERATE_TIMESTAMP_ARRAY yang akan menghasilkan baris (alias sebagai POINT_IN_TIME) timestamp antara variabel _RANGE_START_TS_UTC dan _RANGE_END_TS_UTC untuk setiap interval waktu yang ditentukan dalam _RANGE_INTERVAL_SECONDS. Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan sedikit proses slicing (mengiris) dan dicing (memotong), Anda juga dapat membuat Stacked Area Chart yang berdasarkan pengguna dalam slot detik. Photo Credit: Google Cloud Blog Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah Tutorial ini jelas belum bisa merangkum seluruh kapabilitas yang mampu dijalankan oleh Information Schema. Namun Anda tidak perlu khawatir karena Google Cloud sebenarnya telah memberikan beberapa resources untuk dipelajari yang bisa Anda akses melalui blog resmi mereka. Di sana Anda juga bisa menemukan pendapat dan persepsi dari para pakar komputasi awan. Semuanya bisa diakses secara gratis, kapan saja dan di mana saja. Ekosistem Google Cloud memang menawarkan solusi komputasi awan yang komprehensif. Selain kapabilitas untuk menganalisis dan memvisualisasikan data dari BigQuery, Cloud juga masih memiliki beragam fitur serta layanan yang bisa Anda eksplorasi lebih jauh. Belum menggunakan Google Cloud? Anda bisa mendapatkan solusi komputasi awan dari Google ini melalui EIKON Technology. Kami siap menyediakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Google Cloud

5 Alasan Mengapa Google Cloud VMware Engine adalah Solusi VMware Terbaik

Google Cloud VMware Engine menawarkan VMware cloud-native yang dibangun di atas infrastruktur Google Cloud, menghasilkan performa dan skalabilitas tinggi. Layanan ini memungkinkan pelanggan untuk mengadopsi Google Cloud dengan cepat dan mudah. Dengan sedikit modifikasi pada beban kerja vSphere, layanan ini menyatukan VMware dan Google Cloud dalam satu platform untuk berbagai kebutuhan. Berikut adalah 7 aspek yang membuat Google Cloud VMware Engine unggul dari alternatif lain dalam menjalankan beban kerja VMware di cloud, menyederhanakan operasi, dan membantu Anda berinovasi lebih cepat. Jaringan khusus data center 100Gbps Node Google Cloud VMware Engine hadir dengan redundant switching dan jaringan khusus data center 100 Gbps khusus tanpa kelebihan langganan bandwidth. Hal ini sulit ditemukan pada alternatif lain karena umumnya mereka menerapkan kelebihan langganan. Padahal, aspek ini sangat penting saat menjalankan beban kerja yang sensitif terhadap latensi. Baca juga: Mempercepat Pemeriksaan Sistem dengan Pelacakan Beban Kerja Google Cloud Jaringan global tanpa perutean yang rumit Photo Credit: jcomp (Freepik) Jaringan Google Cloud VMware Engine dibangun berdasarkan arsitektur jaringan Google Cloud yang kuat. Dengan mode perutean regional dan global yang disederhanakan, Anda dapat merancang jaringan global tanpa perlu membuat dan menghubungkan desain jaringan regional. Pengguna akan mendapat akses Layer 3 secara langsung. Di lingkungan cloud lain Anda mungkin harus melakukan konfigurasi jaringan khusus antar wilayah dan hal ini sering kali memerlukan tunnel berbasis VPN melalui WAN untuk mengaktifkan komunikasi jaringan global yang seragam. Tentu akan menambah kompleksitas penyebaran dan operasional, di samping biaya. Model yang terpadu dan terintegrasi dengan cloud Google Cloud VMware Engine merupakan layanan pihak pertama yang dikelola, dioperasikan, dan didukung sepenuhnya oleh Google. Dengan identitas, penagihan, dan kontrol akses yang terintegrasi penuh, Anda akan menikmati pengalaman end-to-end yang jauh lebih sederhana. Menariknya lagi, layanan Google Cloud VMware Engine ini dapat diakses melalui Google Cloud Console, seperti layanan Google Cloud lainnya. Anda juga dapat mengakses layanan Google Cloud lain secara pribadi dari VMware private cloud yang berjalan di VMware Engine melalui koneksi lokal. Baca juga: Cara Mengoptimalkan Biaya Penerapan Google Cloud VMwere Engine Fleksibilitas dalam kompatibilitas ekosistem pihak ketiga Dengan Google Cloud VMware Engine, Anda dapat menyiapkan tools atau produk pihak ketiga lokal VMware yang memerlukan hak istimewa tambahan. Kemampuan ini akan membantu Anda mencapai konsistensi operasional, sekaligus memastikan bahwa tools yang telah diinvestasikan dan digunakan selama bertahun-tahun dapat berfungsi di Google Cloud VMware Engine. Bukan hanya itu, di area utama seperti enkripsi data vSAN, tersedia alternatif di samping Google Cloud Key Management Service (KMS)—yang diaktifkan secara default di penyimpanan data vSAN. VMware Engine juga menyediakan KMS eksternal seperti Fortanix, HyTrust, dan Thales. Node yang padat dengan penyimpanan tinggi Photo Credit: pressfoto (Freepik) Node Google Cloud VMware Engine terhitung padat di kelasnya. Bahkan tiap node yang ada telah dibekali Prosesor Intel® Xeon® Scalable Processors dan dilengkapi dengan 36 core, 72 hyperthreaded cores, memori 768 GB, data NVMe 19,2 TB, dan penyimpanan cache NVMe 3,2 TB. Ditambah dengan kelebihan langganan, maka akan menghasilkan rasio konsolidasi yang tinggi, storage:core per dolar, dan memory:core per dolar yang menarik. Selain itu, Anda juga bisa menjalankan node ini dengan cepat di cloud pribadi VMware dalam waktu kurang dari satu jam, mengaktifkan kapasitas VMware yang konsisten sesuai permintaan di Google Cloud. Baca juga: Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud Kelima aspek yang disebutkan di atas hanyalah beberapa contoh inovasi yang ditawarkan oleh infrastruktur Google Cloud VMware Engine. Layanan ini berfokus pada pelanggan sehingga terus dikembangkan untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan yang muncul. Selain itu, migrasi ke Google cloud dapat menghemat hingga 38% pada TCO (total cost of ownership). Berencana untuk mulai melakukan migrasi data ke cloud? EIKON Technology siap mendampingi Anda. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, kami menyediakan berbagai solusi komputasi dari Google yang legal, aman, dan bergaransi. Selain produk, EIKON Technology juga memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga implementasi produk. Untuk memilih layanan Google Cloud sesuai kebutuhan Anda, silakan klik di sini.

Google Cloud

Menggunakan Network Connectivity dari Google Cloud untuk Kelola Beragam Jaringan

Sekarang ini, banyak perusahaan yang menerapkan campuran jaringan sangat luas, mulai dari SD-WAN, WAN khusus seperti MPLS, interkoneksi cloud, hingga VPN. Di saat mereka memindahkan WAN tersebut ke cloud untuk memanfaatkan turn-up yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, dan kecepatan fitur pun otomatis akan meningkat. Saat workload berpindah ke lingkungan cloud dan multi-cloud seperti ini, menyederhanakan model jaringan perusahaan menjadi sangat penting. Setiap penyedia cloud utama menggunakan model abstraksi yang berbeda untuk melakukan konfigurasi jaringan atau koneksi antar resources. Beberapa menggunakan gateway, beberapa menggunakan koneksi atau tautan. Tahun 2021 lalu Google Cloud memperkenalkan Network Connectivity Center yang menyediakan solusi manajemen sederhana untuk koneksi jaringan Anda. Bagaimana cara penggunaanya? Memahami konektivitas jaringan cloud Jaringan cloud mengacu pada kemampuan untuk menghubungkan dua resources sekaligus di dalam sebuah cloud, lintas cloud atau dengan pusat data lokal. Penyedia cloud perlu menyediakan tiga jenis konektivitas utama, yakni: Site-to-cloud: Antara resources cloud dengan pusat data lokal Site-to-site: Menghubungkan resources lokal sekaligus VPC-to-VPC – Konektivitas antar resources cloud Berikut penjelasan untuk masing-masing konektivitas; Site-to-cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-cloud dilakukan melalui interkoneksi cloud atau VPN cloud. Pertukaran rute otomatis antara resources lokal dan beberapa VPC dapat dilakukan menggunakan VPC transit. Dalam pendekatan baru, konektivitas ini menambahkan penyedia cloud ke mesh SD-WAN menggunakan virtual router di Google Cloud. Network Connectivity Center menghadirkan kapasitas untuk sinkronisasi rute alat secara dinamis melalui BGP ke Cloud Router. Ini memungkinkan terjadinya konektivitas antara pusat data lokal dan kantor cabang, beserta beban kerja cloud mereka melalui konektivitas yang mendukung SD-WAN. Kapabilitas ini tersedia secara global di seluruh 29+ region Google Cloud. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Site-to-site Photo Credit: Google Cloud Blog Konektivitas site-to-site memungkinkan konektivitas jaringan secara langsung antara dua atau lebih titik koneksi hybrid (VPN, Interkoneksi atau SD-WAN). Network Connectivity Center menyederhanakan model ini dengan otomatisasi pengumuman perutean di lingkungan ini, sehingga semua situs yang terhubung ke Network Connectivity Center global dapat berkomunikasi secara bebas dengan cara apa pun. VPC-to-VPC Photo Credit: Google Cloud Blog Anda dapat membuat jaringan penuh atau sebagian dari koneksi VPC menggunakan beberapa teknologi. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah peering VPC Teknologi tersebut memberikan konektivitas pribadi berperforma tinggi dan latensi rendah untuk jaringan pelanggan yang terhubung melalui konektivitas hybrid dan Network Connectivity Center ke beberapa VPC yang berisi beban kerja. Kemampuan ini juga dapat disegmentasikan melalui kebijakan firewall granular sesuai kebutuhan. Anda pun bisa menggunakan model VPC transit untuk menghubungkan beberapa VPC secara bersamaan dalam topologi hub dan spoke. Baca juga: Tips Percepat Migrasi Data dengan Database Migration Program Dengan integrasi yang erat dengan router pihak ketiga seperti yang disebutkan sebelumnya, Anda juga dapat memanfaatkan solusi yang didukung pihak ketiga seperti firewall generasi berikutnya untuk menghubungkan VPC bersama-sama guna memenuhi persyaratan kepatuhan dan segmentasi tertentu. Network Connectivity Center memungkinkan Anda untuk melakukan sinkronisasi tabel perutean peralatan ini dengan tabel perutean VPC. Itu berarti, proses pengaturan konfigurasi yang berlebihan pun menjadi jauh lebih sederhana. Baca juga: Memilih Jaringan Konektivitas di Jaringan Google Cloud Dengan situasi sekarang yang mendorong perusahaan untuk terus memigrasikan berbagai jenis beban kerja ke penyedia cloud publik, topologi jaringan pun menjadi lebih kompleks. Melalui Network Connectivity Center, Google Cloud menghadirkan sebuah solusi yang mampu menjaga model jaringan dengan metode sederhana. Layanan Network Connectivity Center tersedia dalam ekosistem Google Cloud. Solusi komputasi awan Google Cloud hadir untuk memudahkan Anda dalam mengelola jaringan konektivitas perusahaan yang kompleks dengan mudah dan efisien. Dapatkan segera solusi Google Cloud hanya di EIKON Technology, distributor resmi Google untuk Indonesia. Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa klik di sini.

Scroll to Top