EIKON Technology

AppSheet

Appsheet, Gmail

Integrasi Appsheet dengan Gmail

Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun lalu, platform Appsheet mendapatkan respon positif bagi para pengguna akun Google Workspace. Pasalnya, platform ini sangat membantu penggunanya dalam mengelola proyek dan hal penting lainnya. Termasuk dalam mengelola akun Gmail mereka. Lalu, apa saja keuntungan dari integrasi Appsheet dengan Gmail ini dan bagaimana mengintegrasikannya? Berikut ulasannya. Sekilas tentang Appsheet Photo: BFA Global Bagi sebagian orang mungkin masih belum mengetahui tentang Appsheet. Terlebih lagi untuk Anda yang baru pertama kali atau awam menggunakannya. Melansir dari laman resmi Google, platform ini merupakan pengembangan untuk membuat aplikasi web maupun seluler tanpa harus memerlukan coding terlebih dahulu. Dengan begitu, pengguna dapat membuat aplikasi dari sumber data dari mana pun. Misalnya saja dari Spreadsheet, Excel, Cloud SQL, maupun Salesforce. Bahkan yang terbaru saat ini juga terintegrasi dengan Gmail.  Hal ini dimungkinkan karena aplikasi ini bersifat dinamis. Keunggulan Integrasi Appsheet dengan Google Workspace Photo: Punto Informatico Bagi pengguna Google Workspace Enterprise Plus, Anda bisa menggunakan fitur-fitur terbaru di Appsheet. Pihak Google mengatakan jika Appsheet Starter dan Core tersedia dalam layanan subscripsi berbayar di semua edisi Google Workspace. Sementara itu, untuk lisensi Appsheet Core tidak terdapat biaya jika pengguna menggunakan Google Workspace Enterprise Plus. Dengan menggunakan layanan Appsheet yang terhubung dengan Gmail, pengguna lebih mudah untuk mengoperasikan Google Workspace tanpa harus meninggalkan atau menutup program penting antara satu akun dengan lainnya. Dengan begitu dapat menghemat waktu dan lebih produktif.  Cara Mengintegrasikan Appsheet dengan Gmail Photo: Kompas.com Pada dasarnya, untuk mengintegrasikan Appsheet dengan Gmail cukup mudah. Di sini, ada perbedaan cara berdasarkan posisi Anda sebagai pengguna. Yakni admin, pengguna (end user), maupun developer. Cara tersebut antara lain adalah: Jika Anda sebagai admin, Appsheet memerlukan layanan tambahan pada perangkat admin. Di sini, admin dapat menyalakan fitur dynamic emails atau mematikannya untuk organisasi pada perangkat admin tersebut. Apabila Anda ada di posisi end user, dynamic emails akan secara otomatis membuat tampilan Appsheet tersemat pada akun Gmail. Lalu, bagi Anda selaku developer, Appsheet dapat digunakan dengan mengaktifkan fitur tambahan melalui Appsheet editor Penutup Photo: New York Post Dari ulasan di atas, dapat kita lihat dan simpulkan bahwa dengan adanya integrasi Appsheet dengan salah satu layanan Google Workspace seperti Gmail tentu sangat membantu bagi para karyawan maupun individu untuk mengelola proyek dengan mudah, aman, dan nyaman. Anda pun tak perlu kesulitan lagi untuk mencari pesan masuk yang penting,atau menghapusnya setelah proyek selesai.  Kini, Anda bisa menggunakan layanan Appsheet dan Google Workspace premium dengan mendapatkannya di EIKON Technology. Di sini, semua produk dan layanan yang ditawarkan memiliki lisensi resmi dari Google pusat. Selain itu, Anda akan mendapatkan layanan after sales sesuai kebutuhan dari produk yang dipilih. Informasi lebih lanjut mengenai produk dan layanan dari kami silakan klik di sini.

Appsheet, Google Docs

Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet

Perkembangan teknologi dalam bisnis membawa perubahan yang sangat signifikan. Tak hanya untuk penjualan saja, tetapi juga untuk melihat pengalaman konsumen dari kurun waktu tertentu. Saat ini, Anda bisa menggunakan berbagai platform seperti Appsheet di Google Docs. Lalu, apa pentingnya keberadaan pengalaman konsumen dan bagaimana mengolahnya menggunakan Appsheet Google Docs? Simak ulasannya berikut ini. Customer Experience sebagai Faktor Kunci Bisnis Photo: Unsplash.com Pengalaman konsumen atau customer experience secara umum bisa diartikan sebagai persepsi konsumen terhadap sebuah brand, produk, dan jasa yang mereka gunakan. Jika pengalaman yang konsumen dapatkan mengarah ke positif, maka bisa dibilang produk atau jasa yang kita tawarkan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Begitu pula sebaliknya, jika mengarah ke hal negatif maka ada yang kurang dengan produk, jasa, atau brand Anda. Di sinilah pentingnya melihat dan menganalisis pengalaman konsumen. Sebab, pengalaman konsumen atau customer experience memiliki tujuan dalam pengembangan bisnis. Misalnya saja meningkatkan loyalitas, meningkatkan kepuasan, hingga memperluas pemasaran dan meningkatkan konversi penjualan. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang, melihat pengalaman konsumen merupakan hal penting untuk pengembangan bisnis ke depannya. Cara Membuat Appsheet di Google Docs Photo: Bitrix24 Di era digital, pengalaman konsumen dapat dilihat dan dianalisis dengan mudah dengan berbagai layanan platform digital. Salah satunya adalah menggunakan aplikasi Appsheet melalui Google Docs. Untuk membuatnya pun tak memerlukan langkah yang sulit. Anda bisa membuatnya di mana saja dan kapan saja selama ada koneksi internet. Langkahnya adalah: Klik “Add Ons”dari Google Doc Anda. Lalu lanjutkan dengan “Get Add-Ons” dan cari fitur “AppSheet”. Install “AppSheet add-on” Anda dan tunggulah beberapa saat hingga terpasang dan bisa digunakan. Jika Google Docs Anda belum siap, tak perlu khawatir karena  AppSheet akan membuat template secara otomatis untuk Anda gunakan. Sehingga, Anda juga lebih mudah melakukan kustomisasi sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk melihat feedback konsumen dari email. Di sini Anda bisa klik tombol “Prepare” di bagian kanan. AppSheet akan memastikan dokumen yang Anda gunakan dengan platform yang ada. Jika ini bisa dilakukan, maka Anda bisa klik “Launch” untuk menggunakan aplikasi. Saat Anda melakukan kustomisasi, nantinya akan ada link untuk Anda download dan dapat dilakukan melalui smartphone. Fitur AppSheet ini tak hanya penting untuk mengevaluasi brand atau bisnis Anda. Di sisi lain juga bisa menjadi data untuk merancang strategi bisnis di masa mendatang. Termasuk dalam melakukan survey kepada konsumen menjadi lebih mudah. Kesimpulan Photo: Unsplash.com Dari ulasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Appsheet di Google Docs memiliki peran penting dalam pengembangan bisnis maupun perusahaan. Terutama untuk memudahkan dalam menganalisis perilaku sekaligus pengalaman konsumen lebih baik dan lebih cepat dari sebelumnya. Jika dulu melihat pengalaman konsumen menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada responden, kini cukup dengan mengisi form secara online. Contohnya dengan menggunakan Appsheet Google Docs ini. Dengan begitu, perusahaan selain lebih cepat mendapatkan data juga membuat bisnis lebih efisien. Terutama dari segi biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir. Kini, Anda dapat menggunakan layanan Appsheet dengan Google Docs dari EIKON Technology. Kami menyediakan layanan yang memiliki lisensi dari Google pusat. Sehingga lebih nyaman digunakan dan tingkat keamanan yang terjamin. Informasi lebih lanjut mengenai layanan Appsheet dari kami, Anda bisa klik di sini. Selain mendapatkan produk terbaik, Anda juga dapat menikmati layanan after sales dan maintenance.

Appsheet, Google Cloud

Membuat Aplikasi Manajemen Inventaris dari Google Sheets dengan AppSheet

  Pada dasarnya, mengelola inventaris produk merupakan tugas yang cukup sulit, baik untuk bisnis retail berskala besar maupun kecil. Umumnya, mayoritas pebisnis menggunakan spreadsheet untuk mengelola inventaris produk. Di sinilah masalah biasanya muncul mengingat ada begitu banyak data yang harus dikelola dan dianalisis. Jika Anda mengalami masalah serupa, saatnya mulai menyederhanakan proses kerja dengan mengembangkan aplikasi manajemen inventaris sendiri. Kini telah hadir AppSheet yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Bahkan aplikasi tersebut bisa Anda buat langsung dari spreadsheet di Google Sheets! Karena aplikasi merupakan rancangan sendiri, Anda pun dapat menyesuaikan sistemnya sesuai kebutuhan bisnis. Berikut ini langkah-langkah membuat aplikasi manajemen inventaris dari Google Sheets dengan menggunakan AppSheet.   Rapikan data dan siapkan aplikasi   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet telah menyediakan berbagai sampel atau template aplikasi yang bisa Anda modifikasi sesuai kebutuhan, termasuk untuk manajemen inventaris. Nah, aplikasi-aplikasi tersebut terhubung dengan sumber data seperti Google Sheets. Namun, sebelum mengintegrasikan data Sheets Anda dengan AppSheet, pastikan untuk merapikan data terlebih dulu agar nantinya mudah dikelola pada aplikasi. Tak perlu bingung, Google telah menyediakan template Google Sheet berisi tiga tabel yang bisa Anda salin di sini. Ketiga tabel ini berisi: Product – untuk informasi produk Sales – untuk produk atau item yang telah terjual atau dihapus dari stok Purchases – untuk produk-produk yang ditambahkan stoknya Jika data telah tertata rapi, saatnya mengubahnya menjadi aplikasi. Pada Google Sheets, buka menu Tools > AppSheet > Create an App. AppSheet akan langsung mengubah data Anda menjadi aplikasi AppSheet.   Atur barcode scanner   Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet dapat menggunakan kamera pada perangkat mobile Anda untuk memindai data yang dilengkapi barcode. Untuk melakukan ini, masuklah ke menu AppSheet Editor > Data > Columns. Lalu, tandai kolom Product Barcode pada tabel Purchases dan Sales dengan label searchable dan scannable. Kini aplikasi manajemen inventaris Anda sudah bisa merekam berbagai aktivitas inventaris, baik saat ada stok masuk maupun keluar. Anda hanya perlu men-tap tombol pemindai barcode yang terletak di bawah opsi Sell atau Add Stock, kemudian langsung saja scan produk atau item yang diinginkan.   Perhitungkan tingkat persediaan secara real-time   Photo Credit: Blog Google Cloud Salah satu tujuan pembuatan aplikasi adalah agar Anda bisa mengecek status atau tingkat inventaris dari setiap produk secara real-time. Ada formula yang perlu digunakan untuk mengetahui hal tersebut, yaitu: stok saat ini + stok masuk – stok keluar. Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatur aplikasi agar bisa secara otomatis merekam status inventaris secara real-time. Caranya dengan menghubungkan seluruh data yang ada di dalam tabel. Mengingat bahwa setiap tabel memiliki kolom barcode produk, Anda bisa menggunakan data tersebut untuk menghubungkan aplikasi. Hubungkan kolom Product Barcode pada tabel Sales dan Purchases dengan kolom Product Barcode pada tabel Product. Caranya, masuklah ke menu Data > Columns > Sales. Lalu, klik Product Barcode untuk mengedit kolom dengan mengikuti tiga langkah ini: Beri nama “Product Barcode” pada kolom Buka daftar Type, lalu klik Ref Pilih Products sebagai ReferencedTableName Jika sudah, Anda bisa mengulangi langkah yang sama untuk tabel Purchases. Baru setelah itu Anda bisa “mengajarkan” aplikasi untuk menghitung level atau status inventaris. Masuklah ke menu Data > Columns, lalu pada tabel Products pilih Add Virtual Column. Kemudian, masukkan formula berikut ini pada kotak yang muncul: COUNT([Related Purchases]) – COUNT([Related Sales]) + [Initial Stock] Sekarang cobalah masuk ke menu UX > View > Product List View, lalu pilih opsi Deck View atau Table View. Klik Current Stock untuk menjadikannya salah satu header pada aplikasi manajemen inventaris AppSheet. Kini Anda pun bisa melihat status persediaan setiap produk secara real-time.   Tampilkan opsi “Restock Needed” pada produk yang stoknya rendah   Photo Credit: Blog Google Cloud Agar bisa terus memenuhi permintaan pasar, penting bagi Anda untuk memastikan stok produk tidak kosong. Melalui AppSheet, Anda bisa mengatur agar aplikasi menunjukkan produk mana saja yang perlu distok ulang. Pertama, tentukan jumlah restock yang setiap produk. Untuk menentukan jumlah secara tepat, cobalah meninjau data terdahulu dan menganalisis perkiraan permintaan (demand forecast). Kedua, masuk ke menu Data > Slice, lalu klik Create a Slice dan namakan “Restock Needed”. Atur Source Table sebagai Product dan Row Filter Condition menjadi: [Current Stock] <= [Restock Level]. Nantinya, aplikasi akan memunculkan data apabila level stok produk terkini (current level) lebih rendah atau sama dengan restock level. Ketiga, masuklah ke menu UX > Views > New View. Pilih opsi Restock Needed (Slice) sebagai sumber data Anda. Kemudian, pilih tipe tampilan yang Anda inginkan, bisa dalam deck maupun table. Kini Anda telah berhasil membuat aplikasi manajemen inventaris tanpa perlu melakukan coding! Masih dengan AppSheet, Anda juga bisa menambahkan fungsi tambahan seperti notifikasi email atau new views. Buktikan sendiri kemudahan membuat aplikasi tanpa coding dengan berlangganan AppSheet. Mengingat bahwa AppSheet masih merupakan bagian dari Google Cloud, Anda bisa berlangganan melalui partner resmi Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet

Manfaat Transformasi Digital pada Bidang Manufaktur

Perkembangan teknologi telah mendorong banyak perusahaan untuk melakukan transformasi digital, termasuk pada industri manufaktur. Agar tidak tertinggal dari para kompetitor, perusahaan manufaktur perlu menerapkan modernisasi terhadap operasional kerja mereka. Kuncinya adalah dengan mengautomasi proses kerja (workflow), pencatatan data, manajemen yang efisien, hingga penggunaan teknologi terkini. Melalui transformasi digital, perusahan manufaktur pun dapat merasakan berbagai manfaat berikut ini. Meningkatkan efisiensi kerja Photo Credit: Kateryna Babaieva (Pexels) Pada umumnya, industri manufaktur memiliki lingkungan kerja yang bergerak cepat. Puluhan hingga ratusan bekerja biasanya berkolaborasi dalam satu project sehingga membutuhkan komunikasi dan akuntabilitas yang kuat. Idealnya, berbagai tugas harus diselesaikan secara berurutan demi memastikan kepatuhan dan keamanan. Apabila hal tersebut dilakukan secara manual menggunakan sistem berbasis kertas maupun spreadsheet, kemungkinan besar akan ada banyak hal yang terlewatkan. Misalnya laporan kertas yang hilang atau tulisan tangan seseorang yang sulit dibaca. Demi efisiensi, banyak perusahaan digital yang kini menggunakan aplikasi untuk mempercepat persetujuan, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Semua dilakukan sebagai bagian dari transformasi digital. Sebagai contoh, di perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perakitan mobil, banyak proses perlu diperiksa di berbagai tahapan produksi. Misalnya, pihak manufaktur bertugas memastikan bahwa lampu dan klakson telah dipasang dengan tepat. Saat mobil mencapai tahap pemeriksaan terakhir, seluruh sistem harus mendapat persetujuan dari teknisi yang bertanggung jawab. Nah, dengan menggunakan aplikasi, tim perakitan mobil dapat memonitor siapa saja yang bertugas memeriksa proses-proses tersebut, kapan persetujuan dilakukan, dan lainnya. Hal ini akan memudahkan Anda untuk memastikan tiap proses berjalan lancar. Mengurangi biaya pengeluaran Photo Credit: Spencer Davis (Unsplash) Seiring dengan meningkatnya efisiensi kerja yang dibawa oleh transformasi digital pada perusahaan manufaktur, biaya pengeluaran pun akan ikut berkurang. Berkat mekanisme digitalisasi berbasis data, perusahaan jadi bisa menemukan area-area pemborosan yang sebelumnya tidak disadari. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur biasanya menerapkan kontrol proses statistik untuk mengidentifikasi adanya kesalahan produk pada tahap perakitan. Anda bisa menggunakan kamera dan teknologi sensor untuk membantu melakukan identifikasi tersebut sekaligus mengurangi potensi human error. Dengan penerapan teknologi digital sejak area perakitan produk, perusahaan dapat menghindari kesalahan lebih besar yang berpotensi menyebabkan penarikan produk dari para distributor. Transformasi digital pun pada akhirnya membantu perusahaan manufaktur terhindar dari pengeluaran tidak perlu. Alhasil, terciptalah lingkungan kerja manufaktur yang lebih “rapi” , padat, dan tentunya hemat biaya. Meningkatkan visibilitas di area kerja Photo Credit: Sam Moqadam (Unsplash) Di berbagai fasilitas manufaktur, produktivitas bisa cukup sulit untuk dimonitor. Hal ini disebabkan oleh manajer yang kesulitan untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi di lantai produksi, gudang, atau area kerja lainnya. Kabar baiknya, masalah tersebut dapat diatasi dengan menerapkan transformasi digital. Dengan bantuan teknologi baru seperti aplikasi, kamera, sensor, hingga wearables, manajer bisa mendapatkan pandangan terhadap apa yang dihadapi oleh para anggota tim dan apa yang terjadi di seluruh fasilitas manufaktur. Di satu sisi, manajer bisa mendapatkan informasi terkait progress kerja di perusahaan. Sedangkan di sisi lain, para pekerja dapat tetap fokus mengerjakan pekerjaan mereka. Transformasi digital pun tak hanya menjadi langkah modernisasi tempat kerja, tapi justru membawa perubahan yang berarti di industri manufaktur. Selain ketiga poin di atas, tentu masih ada banyak manfaat lain yang bisa didapatkan oleh perusahaan manufaktur melalui transformasi digital di tempat kerja. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penggunaan aplikasi merupakan salah satu cara efisien untuk memulai transformasi digital tersebut. Agar fungsi aplikasi bisa optimal, sebaikny kembangkan aplikasi sendiri menggunakan AppSheet. Merupakan bagian dari Google Cloud, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Buktikan sendiri kehebatannya dengan berlangganan AppSheet melalui partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology! 

Appsheet, Google Workspace

AppSheet dan Apps Script, Solusi Pengembangan Aplikasi Lewat Google Workspace

  Selama ini, Google Workspace dikenal sebagai rangkaian software dan perangkat produktivitas serta kolaborasi. Bagi para pekerja, kemungkinan besar Anda bahkan sudah tidak asing lagi dengan Docs, Sheets, Slides, Drive, dan Gmail yang merupakan bagian dari layanan Google Workspace. Namun, lebih dari itu, sebetulnya Google Workspace juga menawarkan fungsi eksternal melalui AppSheet dan Apps Script. Appsheet adalah platform untuk membuat aplikasi tanpa coding. Sedangkan AppS Script adalah platform scripting untuk mengembangkan aplikasi ringan. Baik AppSheet dan Apps Script telah terintegrasi dengan Google Workspace. Artinya, dari Google Workspace Anda bisa melakukan pengembangan aplikasi bisnis, workflow, hingga automasi menggunakan AppSheet atau Apps Script. Membuat aplikasi tanpa coding dengan AppSheet Photo Credit: Blog Google Cloud Diperkenalkan sebagai platform no-code, AppSheet memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa harus memiliki kemampuan coding. AppSheet juga tidak termasuk dalam Google Workspace karena ia merupakan bagian dari Google Cloud. Namun, AppSheet dapat terintegrasi dengan Google Workspace. Proses pengembangan aplikasi sepenuhnya dilakukan pada user interface (UI) AppSheet, yang dibekali dengan teknologi machine learning serta kemampuan untuk mentranslasi kode rumit menjadi bentuk yang mudah digunakan. Umumnya, aplikasi-aplikasi yang dibuat di AppSheet bertujuan untuk mengautomasi atau menyederhanakan proses kerja (workflow). Contohnya seperti aplikasi untuk melacak pengiriman, manajemen inventaris, dan logistik transportasi. AppSheet telah menyediakan sampel atau template aplikasi yang dapat Anda modifikasi sesuai kebutuhan. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan Anda untuk memanfaatkan sumber dan fungsi data. Sumber ini bisa didapatkan dari data yang telah Anda simpan di aplikasi Google Workspace (Sheets, Docs, Calendar, Maps, dan lainnya). Apps Script, cara mudah kustomisasi Google Workspace Photo Credit: Blog Google Cloud Berbeda dari AppSheet yang menjadi bagian dari Google Cloud, Apps Script termasuk dalam Google Workspace. Ia diperkenalkan sebagai platform pengembangan bersifat low-code. Artinya, Anda perlu melakukan coding untuk pengembangan aplikasi di Apps Script. Namun, aktivitas coding yang dibutuhkan tidaklah terlalu berat. Apps Script menggunakan bahasa pemrograman JavaScript dan mengintegrasikannya dengan API Google Workspace. Hal ini dapat memudahkan Anda merancang berbagai solusi bisnis untuk menyederhanakan operasional kerja sehari-hari. Selain itu, Apps Script juga sepenuhnya bekerja dengan basis cloud, yakni memanfaatkan Google Drive. Artinya, tidak ada infrastruktur apa pun yang perlu Anda kelola. Anda juga tak perlu mengunduh apa pun untuk menggunakan Apps Script. Namun, memang pengembangan aplikasi di Apps Script membutuhkan pengalaman coding. Walau begitu, tak perlu khawatir karena Apps Script dirancang dengan meminimalisir kompleksitas. Terlebih, tersedia pula sumber daya untuk mendukung pengembangan aplikasi seperti tutorial online serta contoh skrip. Perpaduan keduanya memberikan hasil powerful Photo Credit: John Schnobrich (Unsplash) Dengan Apps Script, Anda dapat memodifikasi dan memperluas fungsi aplikasi Google Workspace dengan custom logic. Sementara itu, AppSheet memungkinkan Anda membuat pengembangan aplikasi automasi bisnis secara custom dengan memanfaatkan aplikasi Google Workspace. Walaupun memiliki fungsi berbeda, Apps Script dan AppSheet sebetulnya dapat digunakan secara berdampingan untuk menghasilkan suatu output. Katakanlah Anda ingin mengumpulkan dan memformat data dari berbagai sumber, lalu berinteraksi dengan data tersebut. Nah, melalui Apps Script, Anda bisa menggabungkan data dari berbagai sumber seperti Sheets, Docs, dan Calendar. Lalu automasikan pengumpulan data tersebut ke dalam Sheets untuk dimodifikasi kembali menggunakan coding sesuai kebutuhan. Baru setelah itu buatkan aplikasi menggunakan AppSheet dari data hasil modifikasi tersebut. Anda pun kini dapat berinteraksi dengan data tersebut pada UI hasil custom dari AppSheet. AppSheet dan Apps Script memungkinkan Anda untuk memperluas fungsi Google Workspace melalui pengembangan aplikasi secara mudah. Coba buktikan sendiri kecanggihan kedua platform tersebut dengan berlangganan AppSheet maupun Apps Script melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang AppSheet dan Apps Script. Tentunya sambil memandu Anda memilih edisi berlangganan yang paling sesuai kebutuhan. Tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Appsheet

Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Menyederhanakan Proses Kerja

  Produktivitas kerja berjalan beriringan dengan tingkat efisiensi. Idealnya, semakin tinggi tingkat efisiensi kerja, maka produktivitas juga akan ikut meningkat. Untuk mewujudkannya, penyederhanaan proses kerja (workflow) pun dibutuhkan. Caranya dengan menggunakan bantuan aplikasi. Agar penggunaan aplikasi bisa tepat fungsi, sebaiknya kembangkan sendiri aplikasi secara custom sesuai kebutuhan kerja. Tak perlu bingung, kini telah hadir AppSheet dari Google Cloud yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding. Artinya, walaupun tidak memiliki pengetahuan tentang coding, Anda tetap bisa mengembangkan aplikasi untuk menyederhanakan workflow. Berikut ini tips seputar cara membuat aplikasi tanpa coding menggunakan AppSheet. Ragam aplikasi automasi yang dapat Anda buat sekarang juga Photo Credit: Blog Google Cloud AppSheet menyediakan template aplikasi yang dapat Anda konfigurasi atau kustomisasi sesuai kebutuhan workflow perusahaan. Beberapa contoh template aplikasi automasi yang tersedia di AppSheet adalah aplikasi manajemen event, aplikasi untuk mendeteksi anomali data, dan aplikasi pengadaan barang. Setiap template aplikasi dilengkapi dengan fitur fungsionalitas workflow bawaan yang bisa Anda uji dan tinjau terlebih dulu sebelum benar-benar mengembangkan aplikasi secara custom. Membuat aplikasi mobile dengan Google Maps dan geolokasi dalam lima menit Photo Credit: Henry Perks (Unsplash) Sebagai bagian dari Google Cloud, AppSheet menawarkan cara membuat aplikasi tanpa coding yang bisa dengan mudah diintegrasikan dengan produk Google lainnya. Misalnya, dengan menyertakan Google Maps pada AppSheet, Anda dapat membuat aplikasi geolokasi sederhana hanya dalam beberapa menit Jika ingin menghasilkan aplikasi geolokasi yang lebih detail, AppSheet menyediakan fitur yang memungkinkan Anda untuk mendorong pengguna melakukan tugas tertentu berdasarkan update pekerjaan mereka. Tujuannya agar project kerja tetap berjalan sesuai rencana. Cara mengembangkan aplikasi manajemen inventaris dari Google Sheet Photo Credit: Blog Google Cloud Manajemen inventaris menjadi salah satu aplikasi paling populer untuk cara membuat aplikasi tanpa coding di AppSheet. Hal ini tak terlepas dari tutorial bersifat mendalam (in-depth) yang disediakan oleh AppSheet, termasuk langkah-langkah yang dijabarkan secara detail. Panduan langkah tersebut tak hanya membantu Anda memahami konsep pembuatan aplikasi manajemen inventaris di AppSheet, tapi juga dapat meningkatkan kemampuan Anda dalam pengembangan aplikasi tanpa coding secara umum. Gunakan Google Docs untuk membuat aplikasi pengalaman konsumen Photo Credit: Luke Southern (Unsplash) Kemungkinan besar Anda sudah tak asing lagi dengan aplikasi Google Docs yang biasa digunakan untuk membuat dokumen. Namun, lebih dari itu, ternyata Google Docs juga dapat Anda manfaatkan untuk membuat aplikasi tanpa coding. Tentunya masih dengan bantuan AppSheet dari Google Cloud. Melalui AppSheet, Google Docs dapat diintegrasikan untuk mengembangkan aplikasi terkait customer experience. Caranya cukup klik menu Add Ons pada Google Docs, klik Get Add-Ons dan masukkan AppSheet. Nantinya, aplikasi ini akan memungkinkan konsumen untuk memberikan ulasan hingga memberikan tanda tangan elektronik. Melalui AppSheet, penerapan cara membuat aplikasi tanpa coding sama sekali tidak mustahil dilakukan. Mulai dari template aplikasi manajamen inventaris hingga manajemen event, Anda dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan untuk menyederhanakan proses kerja secara efisien. Kabar baiknya, AppSheet dapat digunakan secara gratis, tapi terbatas hanya untuk sepuluh pengguna. Agar bisa mendapatkan fungsi optimal dari AppSheet, tersedia sejumlah edisi berlangganan secara premium, mulai dari Starter hingga Enterprise Plus. Cukup hubungi EIKON Technology untuk mulai berlangganan AppSheet. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda memilih edisi langganan yang paling sesuai kebutuhan bisnis. Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk membuat aplikasi tanpa coding menggunakan AppSheet!

Appsheet

Strategi Mengoptimalkan Machine Learning as a Service (MLaaS)

  Mengingat pentingnya machine learning dalam menyediakan berbagai solusi, banyak perusahaan rela berinvestasi besar-besaran untuk mengembangkan machine learning sebagai bagian penting dari bisnis mereka. Para ahli bahkan memprediksi bahwa per 2026 nanti, jumlah investasi yang dikeluarkan perusahaan untuk machine learning akan mencapai 12,3 miliar Dolar. Namun, bagaimana dengan perusahaan yang tak mempunyai biaya sebanyak itu untuk mengembangkan program machine learning sendiri? Di sinilah Machine Learning as a Service (MLaaS) memberikan solusi. Menawarkan berbagai perangkat yang dapat dengan mudah diadopsi dan dikustomisasi sesuai kebutuhan bisnis, MLaaS memungkinkan perusahaan berskala kecil untuk turut merasakan manfaat machine learning tanpa harus mengeluarkan banyak waktu dan biaya. Agar penerapan MLaaS bisa optimal, berikut beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan. Gabungkan dengan penggunaan platform no-code Photo Credit: Priscilla Du Preez (Unsplash) Bagaimana caranya Anda menggunakan machine learning tanpa harus merancang program sendiri maupun mengembangkan artificial intelligence (AI)? Jawabannya adalah dengan memanfaatkan platform no-code seperti AppSheet dari Google Cloud. Dengan platform no-code, Anda bisa membuat aplikasi yang didukung oleh algoritma machine learning tanpa harus menulis coding sama sekali. Platform no-code memudahkan Anda merancang aplikasi bersifat custom yang memungkinkan pembuat aplikasi maupun penggunanya untuk memanfaatkan langsung sumber data. Misalnya, data yang disimpan dalam database atau spreadsheet dapat ditampilkan sebagai insight atau tren strategis untuk membentuk strategi suatu departemen di perusahaan. Karena tidak memerlukan coding, maka karyawan non-IT pun bisa turut mengembangkan aplikasi bersifat Machine Learning as a Service di platform no-code seperti AppSheet. Walau begitu, bukan berarti perusahaan Anda jadi tidak membutuhkan tim IT. Sebaliknya, tim IT justru bisa menjadi pihak yang bertanggung jawab memelihara tata kelola aplikasi menggunakan platform no-code agar semua berjalan sesuai aturan. Anggap MLaaS sebagai sebuah investasi Photo Credit: Firos nv (Unsplash) Machine Learning as a Service sangat mungkin dikembangkan berkat adanya platform no-code seperti AppSheet. Namun, bagi perusahaan yang belum familiar dengan teknologi satu ini, wajar jika mereka merasa ragu untuk mencoba. Hal yang perlu diingat adalah MLaaS dapat menjadi investasi berharga untuk perusahaan Anda. Coba bayangkan jika Anda mengembangkan sistem machine learning konvensional, Anda harus berulang kali membuat dan menguji aplikasi bisnis baru berdasarkan workflow tim IT. Apabila memang ada sumber daya tenaga, waktu, dan biaya yang mencukupi, mungkin hal tersebut bukanlah suatu masalah. Namun, jika sumber daya cenderung terbatas, Anda tentu akan sulit membagi fokus. Adanya MLaaS memungkinkan Anda dan seluruh anggota tim di perusahaan—bukan hanya tim IT—untuk ikut terlibat dalam perencanaan dan eksekusi. Hal ini sangatlah baik karena para karyawan inilah yang paham betul permasalahan di lapangan, sehingga mereka bisa merancang aplikasi secara tepat fungsi dan sasaran. Identifikasi early adopter dan yakinkan mereka untuk menggunakan MLaaS Photo Credit: fauxels (Pexels) Strategi selanjutnya dalam optimalisasi Machine Learning as a Service adalah mengidentifikasi early adopter di perusahaan. Siapa kira-kira yang akan merasakan paling banyak manfaat dari pengembangan aplikasi no-code? Jika sudah berhasil mengidentifikasi, saatnya Anda meyakinkan mereka untuk mendukung penerapan MLaaS di perusahaan. Kuncinya adalah membuat para early adopter ini memahami besarnya nilai yang ditawarkan MLaaS. Jelaskan bahwa MLaaS mampu menghasilkan solusi atas berbagai kerumitan bisnis dalam skala yang besar. Terlebih, MLaaS juga memberikan kendali kepada seluruh anggota tim untuk menganalisis pemecahan masalah yang selama ini mungkin belum terjamah. Terus menggunakan MLaaS secara berulang Photo Credit: cottonbro (Pexels) Pada dasarnya, aplikasi machine learning akan semakin pintar seiring dengan meningkatnya frekuensi penggunaan. Itulah kenapa teknologi ini disebut dengan machine learning, yang memang betul-betul mempelajari pola penggunaan secara terus-menerus agar bisa memberikan hasil terbaik untuk bisnis Anda. Hal ini tentunya berlaku pula pada Machine Learning as a Service. Dengan kata lain, penggunaan MLaaS sebagai bagian dari transformasi digital di perusahaan merupakan sebuah proses berkelanjutan. Semakin sering Anda menggunakan aplikasi buatan sendiri dalam kegiatan operasional sehari-hari, maka aplikasi tersebut akan memberikan performa yang semakin baik dari hari-hari sebelumnya. Walau dengan sumber daya terbatas, perusahaan berskala kecil dapat merasakan manfaat machine learning melalui penggunaan platform no-code seperti AppSheet untuk mengembangkan aplikasi berbasis Machine Learning as a Service. Mengingat bahwa AppSheet merupakan bagian dari Google Cloud, Anda dapat mengaksesnya dengan menghubungi partner resmi Google di Indonesia. Tak perlu pusing mencari, EIKON Technology telah dikenal selama bertahun-tahun sebagai partner premium Google yang tepercaya di Indonesia. Klik di sini untuk segera terhubung dengan tim EIKON Technology dan berlangganan AppSheet dari Google!

Appsheet

Formula dan Expressions, Kunci Utama Membuat Aplikasi Tanpa Coding

Merancang aplikasi secara custom dapat menjadi salah satu cara efektif untuk menyederhanakan proses bisnis. Namun, jika Anda tidak memiliki background IT, dari mana Anda harus memulai? Kabar baiknya, kini Anda bisa membuat aplikasi menggunakan platform pengembangan bersifat no-code. Artnya, tak perlu kemampuan coding untuk menghasilkan aplikasi yang dapat membantu transformasi digital pada bisnis. Pastikan Anda memilih platform yang mengutamakan fleksibilitas dan fungsionalitas seperti AppSheet dari Google Cloud. Ini karena AppSheet menggunakan formula dan expressions dalam membuat aplikasi tanpa coding untuk Anda. Kedua hal ini menjadi kunci utama yang memudahkan para pengguna untuk mengembangkan aplikasi di AppSheet. Hanya perlu membutuhkan ilmu dasar spreadsheet ​​ Photo Credit: Campaign Creators (Unsplash) Istilah formula dan expressions mungkin terdengar sangat teknis, terutama bagi Anda yang bukan berasal dari bidang IT. Namun, sebetulnya kedua hal tersebut relatif mudah dipahami. Bahkan jika selama ini Anda terbiasa menggunakan spreadsheet, maka kemungkinan besar Anda akan bisa dengan mudah mengoperasikan platform AppSheet.  Formula adalah rumus yang digunakan untuk mendapatkan nilai dari suatu cell. Sementara itu, expression merujuk pada persamaan yang menggunakan data dan operator untuk mendapatkan hasil atau nilai. Pada AppSheet, expressions sangat mirip dengan formula yang biasa Anda gunakan di Google Sheets atau Excel. Misalnya, jika Anda membuat aplikasi tanpa coding yang memuat data seluruh tugas tim Anda, maka Anda bisa menggunakan formula untuk menyaring tampilan sesuai kriteria khusus, contohnya “tugas yang sudah selesai” dan “tugas yang belum selesai”. Tentu masih banyak hal fungsional lain yang dapat dilakukan formula. Dengan formula, Anda bisa merancang aplikasi tanpa coding yang menampilkan data-data tertentu secara spesifik dalam tampilan sesuai preferensi. Formula menyediakan pengalaman penggunaan aplikasi yang user-friendly dan bersifat dinamis. Tingkatkan penggunaan formula dan expressions dengan automasi  Photo Credit: Maxim Ilyahov (Unsplash) Pada level lebih tinggi, formula dan expressions memungkinkan Anda untuk menciptakan actions. Sebagai contoh, pada tiap tugas yang telah melampaui deadline, Anda bisa merancang agar nantinya aplikasi mengirimkan email berisi pesan yang dapat dengan mudah diedit oleh manajer sebelum dikirimkan ke supervisor. Anda juga dapat mencatat notifikasi email terkirim pada aplikasi. Dalam membuat aplikasi tanpa coding, fungsi formula dan expressions akan semakin powerful jika Anda memasukkan unsur automasi. Pada contoh di atas, pengiriman email mengharuskan manajer untuk membuka pesan serta memencet tombol khusus untuk mengirim dan menyimpan data email.  Aktivitas manual ini dapat diminimalisir jika Anda mengautomasikan aplikasi tanpa coding yang sedang dirancang. Jadi, misalnya, nantinya setiap pagi aplikasi buatan Anda akan mengirimkan notifikasi kepada manajer dan supervisor terkait tugas-tugas yang telah melampaui deadline. Dengan begini, akan tercipta proses kerja terautomasi (automated workflow) yang tidak hanya mengurangi aktivitas kerja manual, tapi juga meminimalisir terjadinya human error. Proses kerja pun bisa berjalan lebih efektif serta efisien. Tips singkat membuat aplikasi tanpa coding Photo Credit: Alex Kotliarsky (Unsplash) Untuk membantu mempermudah proses membuat aplikasi tanpa coding menggunakan formula dan expressions, di AppSheet, berikut sejumlah tips yang dapat Anda terapkan: Filter data menggunakan expressions pada fitur Security Filters atau Slices untuk memastikan pengguna aplikasi hanya akan melihat data yang memang relevan untuk mereka. Gunakan expressions sebagai fungsi “Show If” pada tampilan, action, dan data di seluruh bagian aplikasi untuk memastikan agar fitur-fitur spesifik aplikasi hanya muncul ketika benar-benar relevan terhadap pengguna. Manfaatkan detail pengguna aplikasi untuk meningkatkan fungsionalitas aplikasi sehingga nantinya benar-benar relevan terhadap mereka. Berikut beberapa formula dan expressions yang bisa digunakan:   USEREMAIL () – untuk mendeteksi siapa saja yang menggunakan aplikasi. HERE () – menggunakan data lokasi pengguna untuk menampilkan entri terdekat dengan mereka. CONTEXT () – mempelajari jenis perangkat yang pengguna pakai untuk membuka aplikasi.     Penerapan formula dan expressions memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding secara mudah menggunakan platform AppSheet. Buktikan sendiri dengan berlangganan AppSheet versi premium melalui EIKON Technology, partner resmi Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology!

Info

Meningkatkan Efisiensi Kerja di Bidang Retail dengan Teknologi No-code Automation

  Bisnis retail dituntut melakukan adaptasi besar-besaran selama pandemi COVID-19. Dari yang semula menawarkan pengalaman belanja di toko, kini bisnis retail harus beralih ke model penjualan digital demi alasan keamanan. Perubahan ini tentunya membawa tantangan tersendiri, tapi untungnya dapat dipermudah dengan mengautomasi aktivitas kerja. Tak dapat dipungkiri bahwa transformasi digital dapat terkesan berat, terlebih jika tidak didampingi oleh tim teknisi IT yang kuat. Namun, tidak begitu halnya jika Anda menggunakan teknologi no-code automation seperti yang disediakan AppSheet dari Google Cloud. AppSheet adalah platform pengembangan aplikasi tanpa coding untuk mengautomasi proses kerja (workflow), yang dapat berlaku pula di bidang retail. Menggabungkan kekuatan artificial intelligence (AI) dan teknologi no-code automation, AppSheet akan membantu meningkatkan efisiensi kerja di bidang retail melalui berbagai cara. Mempercepat pengecekan barang di gudang Photo Credit: Nana Smirnova (Unsplash) Saat tidak bisa menemukan barang yang dicari, umumnya konsumen akan bertanya apakah Anda masih memiliki persediaan barang tersebut di gudang. Untuk memastikannya, Anda perlu mengecek gudang terlebih dulu sehingga tak jarang konsumen harus menunggu cukup lama demi mendapatkan jawaban. Proses tersebut dapat dipersingkat dengan menggunakan aplikasi khusus stok barang yang dikembangan pada platform no-code automation seperti AppSheet. Melalui aplikasi tersebut, Anda bisa memeriksa persediaan barang di gudang langsung dari perangkat mobile sehingga tak perlu langsung mendatangi gudang. Jika stok barang yang dimaksud ternyata telah habis, Anda bisa menggunakan aplikasi yang sama untuk mencari stok di cabang toko atau gudang terdekat. Dengan proses yang lebih singkat, Anda bisa berpeluang menghasilkan lebih banyak penjualan. Berikan pengalaman berkesan kepada konsumen Photo Credit: Arturo Rey (Unsplash) Retail dikenal sebagai bidang bisnis yang sangat kompetitif. Agar bisa unggul, melakukan penjualan saja tidaklah cukup. Anda juga perlu memenangkan hati konsumen. Untungnya, hal ini juga bisa dilakukan melalui teknologi no-code automation. Melalui platform yang dikembangkan di AppSheet, Anda dapat membentuk sistem reward untuk konsumen agar mereka punya motivasi untuk kembali berbelanja di tempat Anda. Beberapa contohnya adalah memberikan loyalty point untuk dikumpulkan, membagikan kode diskon, dan memberikan hadiah khusus saat mereka ulang tahun. Lebih akurat dalam melakukan merchandise planning Photo Credit: Ksenia Chernaya (Pexels) Merchandise planning adalah metode untuk memilih, mengelola, membeli, menampilkan dan menetapkan harga produk agar bisa memberikan returns on investment (ROI) optimal serta menambah value pada brand produk tersebut. Mengingat tujuannya yang begitu penting, tak mengherankan jika umumnya retailer menghabiskan 20% waktu mereka untuk merchandise planning. Teknologi no-code automation dapat membantu melakukan hal tersebut secara optimal. Anda dan tim bisa mengembangkan aplikasi yang mampu menjalankan analisis prediktif untuk mempelajari tren pada masa lalu, saat ini, dan masa depan. Berdasarkan hasil yang didapat, Anda pun dapat mengambil keputusan yang relatif lebih akurat untuk kebutuhan merchandise planning. Peluang untuk mendapatkan ROI yang maksimal pun akan semakin tinggi. Automasi berbagai kegiatan akuntansi Photo Credit: Christina Hawkins (Unsplash) Accounting, atau akuntansi, merupakan salah satu area paling penting dalam kesuksesan suatu bisnis. Melalui praktik akuntansi yang baik, Anda dapat memanfaatkan hasil data untuk mengambil keputusan terkait pengeluaran, payroll, hingga utang dan piutang. Agar lebih mudah dalam melakukan berbagai kegiatan akuntansi, terapkan automasi workflow menggunakan teknologi no-code automation. Automasi workflow akan mempercepat proses berbagai aktivitas akuntansi. Terlebih, jika menggunakan AppSheet, telah tersedia sampel aplikasi Expensing and Procurement yang dapat Anda salin dan modifikasi sesuai kebutuhan bisnis. Penerapan teknologi no-code automation dapat meningkatkan efisiensi bisnis retail melalui berbagai area di atas. Kabar baiknya lagi, untuk melakukan hal tersebut, Anda tidak membutuhkan kemampuan coding karena bisa memanfaatkan platform AppSheet dari Google Cloud. Jadi, tunggu apa lagi? Buktikan sendiri manfaat teknologi no-code automation dengan berlangganan AppSheet melalui partner premium Google di Indonesia, EIKON Technology. Cukup klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology yang akan membantu Anda berlangganan AppSheet dan mulai menggunakannya!

Appsheet, Google Cloud

5 Aplikasi Tanpa Coding yang Bisa Anda Buat untuk Automasi Bisnis

  Automasi proses kerja (workflow) menjadi langkah signifikan dalam transformasi digital suatu bisnis. Pasalnya, teknologi automasi menyediakan solusi efektif untuk kebutuhan bisnis di berbagai area. Sayangnya, masih banyak bisnis yang ragu untuk menerapkannya karena khawatir teknologi automasi membutuhkan proses lama dan rumit.  Namun, tidak begitu halnya jika Anda menggunakan AppSheet dari Google Cloud. Mengusung sistem no-code automation, AppSheet memungkinkan Anda dan tim untuk mengembangkan aplikasi automasi workflow tanpa membutuhkan coding. Tak hanya itu, AppSheet juga menyediakan sejumlah sampel aplikasi yang bisa Anda salin dan modifikasi sesuai kebutuhan automasi bisnis. Jadi, aplikasi apa saja yang bisa Anda buat tanpa harus coding untuk automasi bisnis? Manajemen event Photo Credit: Teemu Paananen (Unsplash) Salah satu sektor bisnis yang dapat merasakan manfaat dari pengembangan aplikasi tanpa membutuhkan coding di AppSheet adalah event organizer. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengelolaan event sangatlah rumit karena ada banyak hal yang harus diurus, mulai dari penjadwalan registrasi hingga kerja sama dengan berbagai vendor. Kini Anda bisa menyederhanakan proses tersebut dengan menggunakan sampel aplikasi Event Management yang ada di AppSheet. Melalui sampel ini, Anda bisa merancang aplikasi dengan berbagai fitur pendukung perencanaan event seperti custom maps dan laporan progress kerja. Automasi pembelian dan pengadaan barang Photo Credit: Mikhail Nilov (Pexels) Apa pun bidangnya, suatu bisnis tak dapat dipisahkan dari aktivitas pembelian dan pengadaan marang. Anda tentu paham betul betapa proses pesanan pembelian bisa memakan banyak waktu dan tenaga. Kesalahan sedikit saja dapat berdampak pada ketidakseimbangan stok hingga keterlambatan pembayaran. Di sinilah sampel aplikasi Procurement and Expensing Automation di AppSheet dapat membantu. Melalui aplikasi ini, Anda bisa lebih mudah memproses pesanan penjualan dan laporan pengeluaran, yang secara otomatis terhubung dengan alur pengajuan persetujuan. Dengan begini, pihak yang dibutuhkan bisa cepat memberikan persetujuannya. Deteksi anomali data Photo Credit: Luke Chesser (Unsplash) Keanehan atau anomali data biasanya terjadi ketika suatu titik data menyimpang dari kondisi normal yang selama ini ditunjukkan kumpulan data (dataset). Munculnya anomali data dapat menjadi indikasi atas banyak hal, contohnya saat perilaku konsumen mengalami perubahan atau terjadi gangguan teknis ketika Anda sedang menjalankan event. Itulah kenapa penting bagi bisnis untuk mendeteksi anomali data secara cepat agar penanganannya pun tidak terlambat. Saatnya mengembangkan aplikasi tanpa coding dari AppSheet, yang menyediakan sampel aplikasi Anomaly Detection untuk disalin dan dimodifikasi. Aplikasi ini dapat mengirimkan notifikasi jika ditemukan anomali data, sehingga Anda bisa cepat bertindak. Permintaan persetujuan bersifat hierarki Photo Credit: Andrea Piacquadio (Pexels) Agar proyek bisnis dapat berjalan, biasanya membutuhkan persetujuan atau approval dari stakeholder. Semakin panjang rantai komandonya, maka akan semakin banyak pula approval yang harus Anda dapatkan. Misalnya, saat seorang manajer keuangan membuat suatu keputusan, maka harus disetujui pula oleh direktur mereka, lalu VP, hingga Chief Financial Officer (CFO). Proses mendapatkan approval ini bisa cukup berbelit. Untungnya, proses tersebut bisa disederhanakan melalui aplikasi Hierarchical Approvals yang sampelnya tersedia di AppSheet. Aplikasi tanpa coding ini dapat menentukan dari pihak mana sajakah approval suatu proses kerja dibutuhkan, lalu mengirimkan notifikasi kepada pihak-pihak tersebut. Pesan otomatis Photo Credit: Matilda Wormwood (Pexels) Komunikasi menjadi salah satu hal penting bagi bisnis untuk memelihara hubungan dengan para konsumen. Banyak cara yang bisa dilakukan, contohnya dengan mengirimkan newsletter jika ada produk baru, promosi khusus, atau perubahan kebijakan. Namun, pastikan Anda konsumen tidak terpaksa saat menerimanya. Menggunakan sampel aplikasi Automated Messaging pada AppSheet, Anda bisa memberi pilihan kepada konsumen untuk bersedia menerima pesan promosi dari Anda. Aplikasi ini memungkinkan konsumen untuk melakukan registrasi secara in-app jika mereka memilih untuk menerima pesan tersebut. Ada begitu banyak jenis aplikasi yang bisa Anda buat untuk mendukung automasi workflow bisnis, terlebih jika Anda menggunakan AppSheet dari Google Cloud yang relatif mudah digunakan karena tak membutuhkan kemampuan coding.  Agar transformasi digital pada bisnis segera terwujud, langsung saja hubungi EIKON Technology untuk berlangganan AppSheet versi premium. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology akan membantu Anda menentukan edisi langganan yang paling sesuai kebutuhan automasi bisnis Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Scroll to Top