EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

API Management yang Lebih Efisien dengan Apigee dari Google Cloud

APIs merupakan standar untuk membangun sekaligus berbagi aplikasi modern yang mendukung banyak perusahaan saat ini. Semua bisnis modern yang ada sekarang menggunakan API untuk bergerak cepat namun tetap bisa menjaga sisi kompetitifnya. Meski begitu, seiring dengan berjalannya waktu, penyampaian, pengelolaan, serta analisis terhadap API, data, dan services yang aman menjadi semakin kompleks dan menantang. Sebab, ekosistem perusahaan kini terus berkembang dan bahkan mampu melampaui pusat data lokal mereka dalam menyertakan cloud (baik itu pribadi maupun publik), SaaS, dan berbagai titik akhir TI lainnya. Di sinilah API Management hadir sebagai sebuah solusi praktis. Apa itu API Management Photo Credit: Google Cloud Blog Coba bayangkan Anda punya beberapa backend services seperti REST/SOAP, beberapa microservices, sebuah service bus dan sedikit tambahan services dari pihak ketiga. Dari rangkaian tersebut, Anda mendapatkan beberapa pengguna layanan: partner bisnis, karyawan, hingga para pelanggan. Mereka menggunakan aplikasi Anda yang memerlukan backend services atau memulai tindakan dengan sebuah API. Para pengembang membuat aplikasi baru menggunakan API untuk berpartisipasi dalam ekosistem. Semua hal yang dibutuhkan untuk memproduksi API, mulai dai portal pengembang, pengemasan API, opsi keamanan yang fleksiber, hingga mengubah metric operasional menjadi analitis bisnis. Itulah yang dimaksud dengan API Management. Apa itu Apigee Google Cloud menawarkan Apigee untuk membantu Anda mendapatkan API Management yang lebih baik. Apigee sendiri merupakan sebuah API Management yang berfungsi sebagai alat modernisasi aplikasi dan monetisasi saluran bisnis. Dengan menggunakan Apigee, Anda bisa memiliki control akses aplikasi ke data dan backend services lebih mudah. Apigee juga menawarkan pengembangan aplikasi dengan alat untuk mengakses, mengelola, dan menyediakan API seperti: API Services Alat yang digunakan untuk mengarahkan traffic dari aplikasi ke backend services. API Services juga bertugas sebagai gateway perusahaan yang mengatur dan mencegah penyalahgunaan backend services. Dengan API Services, Anda dapat menerapkan pembatasan dan menentukan kuota pada services untuk melindungi backend. Developer Portal Apigee menawarkan portal pengembang untuk melayani pengguna API dan juga pengembang aplikasi. Mereka bisa mendaftar untuk menggunakan API, mendapatkan kredensial akses layanan, serta dokumentasi untuk mempelajari cara menggunakan API. API Monetization Memanfaatkan API Monetization Anda bisa membuat berbagai paket monetisasi yang membebankan biaya kepada pengembang (bisa juga dengan membayar mereka melalui sistem bagi hasil) untuk penggunaan API Anda. API Analytics Tool yang satu ini membantu tim API Anda untuk mengukur segala hal, mulai dari metrik keterlibatan pengembang hingga metric bisnis dan operasional. Analitis ini akan membantu tim API meningkatkan aplikasi. Bukan hanya itu, API Analytics juga mampau menjawab pertanyaan mengenai pola traffic, pengembang teratas, hingga mengenali metode API yang sedang populer. Baca juga: Kelebihan Service Directory Google Cloud Apigee memberi Anda kebebasan untuk memilih antara konfigurasi atau pengkodean. Ada sejumlah kebijakan yang melakukan hal-hal dasar dan Anda bisa memasukkan beberapa di antaranya untuk meminta token atau sekadar menambahkan response caching jika ingin melakukan pengembangan berbasis kode. Anda juga bisa membuat kebijakan sendiri, memasukkan atau kemudian menggabungkannya dengan kebijakan yang sudah ada. Langkah ini bisa dilakukan dengan JavaScript Java atau Python. Perbedaan Apigee API Management dengan API Gateway Photo Credit: PxHere API Gateway sendiri merupakan bagian kecil dari platform API Management. Ini memungkinkan untuk memberikan akses yang aman dan mendapatkan sorotan terhadap layanan Anda di Google Cloud (App Engine, Cloud Functions, Cloud Run, Compute Engine, hingga GKE) melalui REST API yang telah terdefinisi dengan baik sehingga mampu bekerja secara konsisten di semua layanan, terlepas dari implementasi layanan yang digunakan. Dengan API yang konsisten maka: Layanan Anda akan lebih mudah digunakan bagi para pengembang aplikasi. Implementasi backend services dapat diubah tanpa harus mempengaruhi API publik. Memudahkan akses untuk menggunakan fitur skala, pemantauan, dan keamanan yang ada dalam Google Cloud Platform (GCP), Apigee, di sisi lain, dilengkapi dengan sebuah gateway. Namun Apigee dapat membantu mendorong konsumsi API karena telah mencakup portal pengembang, pemantauan, monetisasi, operasi API lanjutan, dan kemungkinan ekstensi lainnya. Dengan adanya kebijakan bawaan, gateway Apigee memiliki kemampuan yang lebih baik. Apigee juga bisa dihubungkan dengan arbitrary backends. Photo Credit: Max Pixel Dengan memanfaatkan API Management Apigee, Anda bisa mendapatkan navigasi yang lebih baik saat mengembangkan aplikasi, terutama untuk urusan backend services. Segala kemudahan yang ditawarkan Apigee bisa Anda dapatkan dengan berlangganan Google Cloud secara legal. Dapatkan Google Cloud yang resmi dan memiliki sertifikat keaslian hanya di EIKON Technology. EIKON Technology sendiri merupakan partner resmi yang ditunjuk langsung oleh Google sebagai reseller produk mereka untuk wilayah Indonesia. Klik di sini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai Google Cloud dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Mengelola BigQuery Lebih Mudah dengan Resource Charts dan Slot Estimator

Saat analitis workload dan footprint di BigQuery (BQ) meningkat, otomatis syarat pemantauan dan pengelolaan pun berkembang. Selain karena skala pengelolaan yang semakin besar, tapi manajemen kapasitas pun semakin kompleks. Pengguna jelas ingin mengoptimalkan lingkungan BigQuery mereka. Google Cloud menyediakan BigQuery Administrator Hub yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola BigQuery dalam skala besar melalui dua fitur unggulannya, Resource Charts dan Slot Estimator. Keduanya dapat digunakan untuk membantu administrator memahami lingkungan  BQ mereka. Fitur Resource Charts Resource Charts membantu administrator dengan berbagai experience bawaan untuk memantau penggunaan slot, mengelola kapasitas bedasarkan konsumsi historis, memecahkan masalah kinerja pekerjaan, self-diagnose queries, dan mengambil tindakan korektif sesuai kebutuhan. Resource Charts memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap metrik utama seperti konsumsi slot, performa job, konkurensi, byte yang diproses, dan job yang gagal. Fitur ini dibuat dan di-render menggunakan tabel INFORMATION_SCHEMA sehingga memungkinkan pelanggan memahami data melalui dashboard yang dibuat khusus hingga memudahkan proses pemantauan mereka sendiri. Fitur Slot Estimator Sedangkan Slot Estimator merupakan sebuah management tool untuk mengelola kapasitas interaktif. Dengan fitur ini, administrator dapat memperkirakan dan mengoptimalkan kapasitas BQ mereka berdasarkan performa. Di satu sisi, Slot Estimator juga memudahkan pelanggan untuk membuat keputusan yang tepat mengenai perencanaan kapasitas berdasarkan penggunaan historis. Fitur ini juga membantu pelanggan untuk memperkirakan dan mengoptimalkan kapasitas mereka berdasarkan workload serta kinerja. Mulai memanfaatkan Resource Charts Saat masuk ke UI BigQuery, Anda akan menemukan Administrator Hub yang merupakan pusat untuk memahami, mengelola, memantau queries, kapasitas, serta lingkungan BQ. Ketika memantau lingkungan BQ secara real-time menggunakan Resource Charts, Anda bisa melihat penurunan penggunaan slot selama beberapa saat ke depan dan memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut. Anda juga bisa melihat bagan Errors untuk melihat peningkatan tajam pada bagian izin yang ditolak dan kesalahan invalid. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat diselidiki lebih lanjut menggunakan filter seperti projects, reservations, serta users and job priorities untuk memahami berbagai perubahan yang telah terjadi dan mengambil tindakan perbaikan. Dengan begitu, Anda dapat menggunakan slot secara efisien.   Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Slot Estimator untuk optimalisasi kapasitas Ada kalanya pekerjaan berjalan lebih lambat dan hal tersebut berlangsung lama. Jika dibiarkan, gangguan semacam ini jelas akan menghambat produktivitas kerja. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengandalkan Resource Charts dan Slot Estimator. Pertama, gunakan Resource Charts untuk mengetahui pemanfaatan slot. Biasanya, pekerjaan yang melambat disebabkan oleh pemanfaatan slot yang telah mencapai kapasitas maksimal. Jika ditelusuri lebih lanjut, Anda akan menemukan bahwa peningkatan alur kerja baru akan membantu terjadinya peningkatan slot yang stabil, bahkan semua slot dapat digunakan sepenuhnya secara konstan. Photo Credit: Google Cloud Blog Kedua, buka tab Slot Estimator. Pada tab tersebut Anda bisa melihat tampilan 100% untuk pemanfaatan slot penuh yang serupa. Selain itu, tab Slot Estimator juga menampilkan data peningkatan penggunaan slot selama satu minggu sebelumnya. Anda bisa melihat data reservasi kemudian menganalisis peluang untuk menambahkan jumlah slot yang berbeda. Terakhir, jika Anda sudah memutuskan untuk menambahkan slot dalam jumlah yang sesuai, bisa langsung melakukan pembelian slot untuk reservasi tertentu dalam konteks. Ketersediaan fitur Photo Credit: Google Cloud Guides Baik Resource Charts maupun Slot Estimator untuk saat ini baru tersedia dalam versi preview untuk pengguna Google Cloud melalui layanan Reservations. Manfaatkan layanan Reservations ini untuk mulai mencoba kedua fitur manajemen BQ tersebut. Dengan begitu, kompatibilitasnya dengan BigQuery Anda bisa dipastikan. Google juga menyediakan layanan feedback jika Anda ingin memberikan masukan untuk performa Resource Charts dan Slot Estimator. Baik fitur Resource Charts dan Slot Estimator akan sangat membantu dalam pengelolaan BQ, terutama yang berskala besar. Kedua fitur tersebut akan bekerja dengan baik dan lancar jika Anda menggunakan solusi dari Google Cloud. Dapatkan Google Cloud hanya melalui reseller resmi Google seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk dapatkan informasi lebih lanjut!

Google Cloud

Memilih Jaringan Konektivitas di Jaringan Google Cloud

Jaringan Google Cloud menjadi platform jaringan yang sangat penting bagi perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Melalui jaringan ini, Anda dapat menyimpan semua data dan sumber daya secara efisien. Selain itu, juga dapat dihubungkan dengan jaringan Google lainnya secara mudah. Lalu, bagaimana memilih jaringan konektivitas di Google Cloud ini? Simak ulasannya berikut. Mengaktifkan Jaringan Google Cloud Photo: Google Cloud untuk bisa menikmati layanan Google Cloud dan jaringan Google lainnya, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan.Mulai dari menggunakan Cloud Interconect dan Cloud VPN, menggunakan Network Connectivity Center, melalui teknik peering API Google, dan melalui provider Content Delivery Network (CDN). Cloud Interconnect Cara yang pertama adalah melalui Cloud Interconect. Cara ini memungkinkan Anda untuk melakukannya dalam dua opsi yakni menggunakan teknik Dedicated Interconnect atau menggunakan teknik Partner Interconnect untuk menghubungkan ke jaringan PVC. Jika bandwidth memerlukan ukuran yang cukup besar mulai 10Gbps hingga 100Gbps, maka Anda bisa memilih jaringan Google dengan teknik Dedicated Interconnect. Lalu, jika bandwdith standar dalam 50 Mbps hingga 50 Gbps, Anda dapat menggunakan teknik yang kedua yakni Partner Interconnect dalam mengaktifkan jaringan Google Cloud. Cloud VPN Berikutnya, mengaktifkan jaringan Google Cloud bisa menggunakan Cloud VPN. Langkah seperti ini memungkinkan pengguna dengan mudah menghubungkan jaringan lokal pada jaringan VPC dengan koneksi yang aman dengan VPN IPSec. Proses pemindahan ini semakin nyaman karena dienkripsi menggunakan VPN Gateway satu dan dideskripsi lagi oleh VPN Gateway lainnya. Network Connectivity Center Photo: e-Pasje Cara yang ketiga adalah melalui Network Connectivity Center. Ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan dukungan jaringan atau layanan yang berada di luar Google Cloud dengan menggunakan jaringan Google pada Wide Area Network (WAN). Cara seperti ini direkomendasikan bagi pengguna dengan manajemen yang baik dan saling terhubung. Kemudian, jaringan lokal yang Anda miliki dapat terhubung pada hub melalui HA VPN maupun attachment dari VLAN yang terhubung pada Google Cloud. Mengkoneksikan  Jaringan Google Cloud ke Google Workspace dan API Google Keempat, Anda bisa mengaktifkan jaringan Google Cloud dengan menggunakan API Google dan Google Workspace. Hanya saja cara ini terbatas pada dua platform tersebut saja. Caranya  pun bisa dilakukan melalui dua teknik yakni Direct Peering dan Carrier Peering. Direct Peering adalah cara yang dilakukan untuk terhubung langsung dengan Google Cloud melalui Google Edge Location. Sedangkan Carrier Peering dapat dilakukan dengan menghubungkan lewat ISP.  Mengkoneksikan ke Provider CDN Cara terakhir yang dapat Anda gunakan adalah menggunakan CDN Interconnect yang disediakan oleh pihak ketiga penyedia CDN melalui teknik peering yang terhubung dengan jaringan Google di berbagai lokasi. Yakni dengan mengarahkan traffic jaringan VPC ke jaringan penyedia layanan. Nantinya traffic jaringan Anda dari Google Cloud melalui salah satu tautan akan mendapatkan keuntungan langsung dari penyedia CDN secara berbayar. Penagihannya pun dilakukan dengan otomatis. Cara seperti ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang sering melakukan pembaruan konten. Memilih Jaringan Google Cloud dari Platform Terpercaya Photo: Cio.com Itulah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memilih jaringan Google Cloud yang mudah, aman, dan nyaman. Untuk keperluan bisnis dan perusahaan, pilihlah layanan dari Google yang terpercaya. Hal ini penting dilakukan untuk melindungi data-data krusial milik perusahaan agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab melalui tindak kejahatan siber. Selain itu, Anda bisa memilih vendor penyedia layanan produk Google seperti Google Cloud ini yang sudah memiliki reputasi baik dan dipercaya oleh banyak perusahaan. Salah satunya adalah EIKON Technology yang menyediakan layanan produk Google dengan lisensi langsung dari Google Pusat. Kami juga memiliki layanan purnajual bagi pelanggan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di sini

Google Cloud

Register Domain Lebih Mudah dengan GA Cloud Domain

Pada Februari 2021 lalu, Google meluncurkan Cloud Domain untuk memudahkan pengguna Google Cloud dalam mendaftarkan domain baru. Lantas, apa saja keunggulan dari platform register domain ini dan cara yang harus dilakukan? Berikut ulasannya yang perlu Anda ketahui. Cara Register Domain Photo: Exnet.com Cara register domain pada Cloud Domain sebenarnya cukup mudah. Anda bisa menentukan kapan waktu terbaik bagi tim IT perusahaan untuk melakukannya. Setidaknya ada lima cara dalam melakukan hal tersebut. Pertama, mencari nama domain yang tepat. Kedua, melakukan konfigurasi domain. Ketiga, memilih seting privasi untuk domain Anda. Keempat, spesifikasikan detail kontak. Kelima, melakukan verifikasi registrasi. Mencari Nama Domain yang Tepat Untuk melakukan langkah pertama ini, Anda harus masuk ke laman Cloud Domain terlebih dahulu dan klik ‘Register Domain’. Kemudian, carilah domain yang masih tersedia dan pilih berdasarkan kebutuhan. Harga domain ini akan tersedia dan Anda bisa melakukan klik ‘Add Chart’. Lanjutkan dengan klik menu ‘Continue’. Konfigurasi Domain Langkah selanjutnya adalah konfigurasi DNS untuk domain. Anda bisa memilih DNS yang tersedia. Beberapa DNS ini di antaranya adalah Cloud DNS, Google Domains, dan nama server secara kustom. Jika memilih Cloud DNS maka pilih default ‘New Zone’ dan secara otomatis akan membuat domain. Lalu klik ‘Save and Continue’. Apabila memilih Google Domain, maka Anda bisa memilih mengaktifkan maupun menonaktifkan DNSSEC. Sedangkan jika memilih nama server secara kustom maka setidaknya Anda perlu memasukkkan dua server yang berbeda.  Setting Privasi Domain Ketiga adalah dengan seting privasi domain. Setidaknya di sini ada tiga opsi yang bisa dipilih yakni ‘Privacy Protection On’, ‘Limit Your Info Available to the Public’, dan ‘Make All Contact Info Public’. Setelah memilih salah satunya, lanjutkan dengan klik ‘I Agree’ pada pop-up dan lanjutkan dengan klik ‘Continue’. Spesifikasi Detail Kontak Detail kontak yang diperlukan merupakan dasar dari ICANN untuk mengatasi permasalahan di kemudian hari. Informasi yang Anda cantumkan akan menjadi kontak informasi publik untuk domain Anda dan sebagai database untuk WHOIS. Verikasi Register Domain Proses terakhir adalah verifikasi register domain. Anda perlu melakukan ini setidaknya 15 hari sebelum domain aktif. Untuk melakukannya Anda bisa membuka email verifikasi yang dikisimkan oleh domains-noreply@google.com. Lalu, lanjutkan dengan klik ‘Verifiy Email Now’.  Keunggulan Cloud Domain Photo: Inc. Magazine Register domain melalui Cloud Domain memiliki banyak keunggulan yang dapat dirasakan oleh perusahaan. Melansir dari laman resmi Google Cloud, beberapa keunggulan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut: Dengan Cloud Domain, Anda dapat mengaktifkan pula DNSSEC untuk Public DNS Zone menjadi lebih aman dan terlindungi. Saat mentrasfer domain, Anda dapat menghubungi API dari Cloud DNS untuk melakukan setting dan pembaruan DNS.  Cloud Domain akan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Termasuk ketika Anda menghubungkannya dengan aplikasi dan layanan lain dari Google Cloud. Misalnya saja seperti Cloud Run, Google App Engine, dan juga Cloud DNS. Semua dapat dikelola dengan menggunakan Google Cloud Platform yang sama. Dengan begitu, proses verifikasi dan konfigurasi domain menjadi lebih simpel. Cloud Domain memudhakan Anda dalam melakukan registrasi domain dengan transfer domain melalui pihak ke tiga melalui API. Menggunakan API akan memudahkan Anda dalam mentransfer domain ke Cloud Domain. Penutup Photo: Unpslash Setidaknya itulah cara register domain dengan GA Cloud Domain yang perlu Anda ketahui beserta keuggulannya. Agar semakin nyaman dalam menggunakan jaringan dan layanan cloud computing di perusahaan Anda, perhatikan pula fitur-fitur pendukung lainnya agar semakin aman dan nyaman. Oleh karena itu, Anda bisa memilih layanan pendukung dari produk-produk Google melalui vendor terbaik dan terpercaya seperti EIKON Technology. Kami menyediakan produk dan layanan dari Google untuk perusahaan Anda dengan lisensi resmi dari Google pusat. Dengan begitu data perusahaan menjadi lebih aman. Anda juga akan mendapatkan layanan purna-jual terbaik dari kami dengan layanan penuh 24/7. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk-produk yang kami tawarkan, silakan klik di sini.

Google Cloud

Kelebihan Service Directory Google Cloud

Seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan perusahaan dan bisnis dalam hal komputasi awan pun semakin tinggi. Misalnya untuk penyimpanan data penting maupun menunjang aktivitas lainnya. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan layanan Service Directory Google Cloud. Bagaimana platform ini bekerja dan apa saja keunggulannya? Berikut ulasannya untuk Anda. Mengenal Service Directory Google Cloud Source: Google Cloud Secara umum melansir dari blog milik Google Cloud,  Service Directory Google Cloud merupakan sebuah platform yang memiliki pengaturan terintegrasi secara penuh untuk menemukan, menerbitkan, dan mengaktifkan koneksi layanan pada jaringan-jaringan komputasi awan lainnya. Platform ini memberikan informasi secara langsung atau realtime mengenai layanan yang Anda gunakan dalam satu tempat. Di samping itu juga dapat memungkinkan para penggunanya untuk menginventarisir layanan dalam skala besar. Misalnya saja penggunaan pada perusahaan maupun bisnis. Keunggulan Service Directory Google Cloud Source: Global Techoutlook Lalu, apa sajakah keunggulan dan kelebihan dari  Service Directory Google Cloud  untuk perusahaan atau manajemen bisnis Anda? Berikut beberapa di antaranya yang perlu diketahui sebelum memilihnya. Dalam hal ini ialah terkait sebagai solusi dalam memecahkan permsalahan manajemen yang ada di sebuah perusahaan. Manajemen Servis Keunggulan pertama adalah dalam hal manajemen servis. Service Directory Google Cloud dapat digunakan dalam mengelola layanan sedemikian rupa. Dengan begitu, organisasi maupun perusahaan atau bisnis Anda takperlu khawatir mengenai kemampuan, tingkat redundansi, hingga pemeliharaan jaringan yang terintegrasi dan dapat digunakan berdasarkan kebutuhan yang ada. Akses Kontrol Kedua, unggul dalam hal akses kontrol. Dengan fitur ini, pengguna dapat mengatur mengenai siapa saja yang dapat mendaftarkan dan memecahkan permaslaahan yang ada menggunakan IAM. Termasuk dalam menetapkan layanan direktori kepada tim, akun layanan, dan juga organisasi. Interoperabilitas Ketiga ialah mengenai interoperabilitas yang dimilikinya. Service Directory Google Cloud merupakan layanan penamaan yang universal dan berfungsi pada seluruh jaringan Google Cloud, multi-cloud, maupun jaringan lokal. Anda dapat melakukan migrasi di antara lingkungan jaringan tersebut dengan menggunakan nama layanan yang sama pada saat mendaftar nantinya. Menggunakan Cloud DNS dengan Service Directory Source: Lumit.it Cloud DNS pada infrastruktur yang dikeluarkan oleh Google, memiliki banyak keunggulan. Di antaranya adalah lebih cepat, scalable, dan reliable. Di sampin itu, Cloud DNS juga memberikan kemudahan dalam pengaturan DNS internal dalam penggunaan jaringan pribadi pada Google Cloud. Berikut adalah bagaimana Anda bisa menggunakan zona Service Directory dalam  membuat nama layanan yang tersedia dengan memanfaatkan pencarian DNS: DNS dapat terdaftar dan terintegrasi dengan Service Directory dengan menggunakan Service Directory API. Ini bisa digunakan pada Google Clod dan layanan lain selain Google Cloud. Baik untuk eksternal maupun internal klien dapat melihat beberapa layanan servis melalui laman https://servicedirectory.googleapis.com/  Untuk bisa menggunakan DNS, buatlah zona Service Directory pada cloud DNS yang terhubung dengan nama yang ada pada Service Directory Internal klien bisa memecahkannya melalui DNS, HTTP, atau GRPC. Sedangkan untuk eksternal klien atau klien yang tidak termasuk dalam jaringan pribadi dapat menggunakan HTTP atau GRPC untuk membuat nama pada layanan. Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Service Directory Google Cloud memberikan banyak manfaat dan keunggulan. Terutama untuk penyimpanan berbagai ragam file bisnis maupun perusahaan pada cloud dalam jumlah yang cukup besar. Untuk mendapatkan layanan terbaik menggunakan platform Google Cloud terbaik, Anda bisa memilih vendor terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang memiliki lisensi dari Google pusat untuk kenyamanan dan keamanan data bisnis maupun perusahaan. Informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami dengan cara klik di sini.

Google Cloud

Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous

Saat melakukan pemindahan data ke Google Cloud Anda akan langsung dihadapkan dengan masalah proteksi data. Anda harus mengatur sistem yang mampu melindungi data dari akses yang tidak terotorisasi. Namun di satu sisi Anda tentu tidak ingin pilihan penyimpanan dan pemrosesan data menjadi terbatas. Menggunakan layanan cloud publik memang mengharuskan Anda untuk memberikan kepercayaan penuh pada penyedia layanan cloud. Terasa tidak nyaman mungkin, terutama untuk data yang bersifat sensitif dan rahasia.  Lalu bagaimana cara meningkatkan keamanan data yang tersimpan dalam Google Cloud? Simak penjelasannya berikut ini. Manfaatkan fitur proteksi tambahan Photo Credit: Google Cloud Blog Google Cloud mengatasi problem tersebut dengan menyediakan beberapa fitur proteksi tambahan seperti Cloud External Key Manager (EKM). Fitur ini bisa digunakan saat Anda harus mengenkripsi data tidak aktif untuk menyimpan dan mengelola kunci di luar infrastruktur milik Google. Selain itu, Google Cloud juga menyediakan layanan Confidential Computing. Anda bisa memanfaatkannya untuk mengenkripsi data yang sedang digunakan dengan kunci prosesor (tapi tidak tersedia di Google). Enkripsi data ubiquitous Meski pemanfaatan kedua fitur tersebut memang dapat mengurangi risiko terjadinya kebocoran akses data, Anda tetap harus memperhitungkan faktor risiko lain yaitu proses transfer data. Saat data sedang transit dari satu status dan akan menuju status lainnya, risiko terjadinya kebocoran akses akan semakin besar. Bagaimana solusinya? Google Cloud menawarkan solusi dengan mengembangkan enkripsi data yang bersifat ubiquitous. Artinya, proses enkripsi data bisa dilakukan dengan “komunikasi” antar komputer. Dengan demikian, interaksi antara pengguna dengan komputer pun bisa diminimalisir. Saat interaksi pengguna dan komputer menurun maka risiko terjadinya kebocoran akses pun bisa ikut diminimalisir. Dengan enkripsi data ubiquitous ini Anda dapat: Mengontrol akses menuju data, baik itu saat data sedang berada di penyimpanan, memori, maupun saat sedang di tengah proses transfer. Memanfaatkan sepenuhnya komputasi dan daya penyimpanan Google Cloud. Mengurangi tingkat kepercayaan implisit terhadap Google. Layanan enkripsi baru ini dirancang dengan memanfaatkan komputasi rahasia Google Cloud serta EKM, yang dikombinasikan dengan layanan pihak ketiga seperti Thales untuk memastikan Anda bisa tetap menggunakan pengaturan EKM yang sudah ada. Dengan begitu, proses enkripsi data saat harus dikirimkan ke cloud bisa berjalan mulus. Di samping itu, Google juga memanfaatkan fitur pengesahan confidential VM untuk memastikan bahwa kunci enkripsi hanya dapat digunakan pada kalangan terbatas. Baca juga: Fitur Baru Penyimpanan Google Cloud Memastikan Data Aman Cara mengaktifkan enkripsi data ubiquitous Photo Credit: HippoPx Untuk mengaktifkan enkripsi data ubiquitous dan memanfaatkannya Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut: Buat kunci enkripsi di luar Google Cloud terlebih dulu. Anda bisa menggunakan layanan pengelolaan kunci eksternal yang sedang digunakan (ada baiknya jika Anda menggunakan Thales Ciphertrust untuk integrasi dengan EKM nanti). Beri akses menuju kunci enkripsi EKM Anda ke layanan confidential VM. Gunakan gsutil untuk mengunggah data Anda ke Google Cloud Storage (GCS) dengan menggunakan lib. Proses enkripsi ini akan lebih mudah jika menggunakan kunci yang sudah dibuat pada Langkah 1. Dalam proses pengajuan di layanan confidential VM, gunakan gsutil untuk mengunduh data GCS. Cara ini akan mendekripsi data Anda tanpa harus membuka kunci di luar confidential VM. Jika di tengah proses pengajuan terlihat upaya untuk mengakses data GCS pada non-confidential VM maka proses dekripsi akan otomatis batal. Photo Credit: Google Cloud Blog Konfigurasi tambahan Anda juga bisa menambahkan beberapa perlindungan tambahan. Google Cloud biasanya secara opsional akan meminta lebih dari satu pihak untuk melakukan otorisasi akses menuju kunci enkripsi Anda. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan kunci Cloud KMS sebagai tambahan kunci enkripsi lokal untuk setiap proses dekripsi. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan kontrol yang lebih luas atas berbagai model akses kunci. Sebab cara ini akan membagi kemampuan cloud untuk mengenkripsi dan mendekripsi kunci di beberapa platform. Kesimpulan Proteksi terhadap data adalah poin krusial dalam penyimpanan data menggunakan Google Cloud. Membatasi akses menuju data sering dijadikan langkah preventif untuk mencegah kebocoran akses data. Melalui enkripsi data ubiquitous, Google Cloud memberikan perlindungan terhadap data saat proses enkripsi dan dekripsi. Dengan berbagai fitur keamanan yang canggih, menyimpan data di Google Cloud memang terbukti lebih aman dibandingkan dengan metode penyimpanan konvensional. Untuk Anda yang ingin mulai memanfaatkan penyimpanan cloud, EIKON Technology siap membantu. Sebagai partner resmi Google, EIKON Technology menyediakan layanan berlangganan Google Cloud yang legal. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service

Pendekatan keamanan zero trust meyakini bahwa rasa percaya baru bisa dicapai setelah melalui berbagai mekanisme dan harus terus diverifikasi. Zero trust sendiri telah diterapkan di Google pada proses end-to-end dalam menjalankan sistem produksi dan melindungi workload pada infrastruktur cloud-native. Layanan ini kemudian disebut dengan BeyondProd. Untuk membangun dan memverifikasi kepercayaan dalam sistem produksi tersebut memerlukan pemahaman bahwa: tiap workload memiliki identitas yang unik dan kredensial untuk otentikasi. lapisan otorisasi yang menentukan komponen sistem mana yang dapat berkomunikasi dengan komponen lain. Mari pelajari lebih lanjut mengenai bagaimana Google menerapkan pendekatan Zero trust untuk mengamankan workload dalam ulasan berikut ini. Remote procedure calls Untuk mulai menerapkan pendekatan Zero touch, Anda bisa mempertimbangkan sebuah arsitektur cloud-native dengan beberapa aplikasi yang dipecah menjadi beberapa microservices. Prosedur data-transfer in-process menjadi remote procedure calls (RPCs) melalui jaringan antar microservices. Tahapan mengamankan RPC: setiap microservices perlu memastikan bahwa RPC yang diterima hanya berasal dari pengirim yang telah diautentikasi dan memiliki wewenang. mengirim RPC hanya kepada penerima yang dituju. memiliki jaminan bahwa RPC tidak dimodifikasi saat transit. Oleh karenanya, service mesh perlu menyediakan identitas layanan, peer-authentication berdasarkan identitas layanan tersebut, enkripsi komunikasi antara peer-identities yang diautentikasi, dan otorisasi komunikasi service-to-service berdasarkan identitas layanan (dan mungkin atribut lainnya). Traffic Director Photo Credit: Rawpixel Untuk memberikan keamanan service mesh yang memenuhi kriteria di atas, Google menyediakan layanan keamanan baru melalui Traffic Director yang menyediakan kredensial workloads untuk GKE (Google Kubernetes) via CA Service, dan penegakan kebijakan untuk mengatur komunikasi antar workload. Kredensial yang dikelola sepenuhnya memberikan dasar untuk menjelaskan identitas workload dan mengamankan koneksi antara workload yang memanfaatkan mutual TLS (mTLS), sambil tetap menerapkan prinsip Zero trust. Hambatan penerapan mTLS Sayangnya, penerapan mTLS untuk keamanan service-to-service melibatkan kerja berat dan overhead yang cukup besar bagi developer, SRE, dan juga tim penerapan. Developer harus menulis kode untuk memuat sertifikat dan kunci dari lokasi yang telah dikonfigurasi sebelumnya untuk bisa menggunakannya dalam koneksi service-to-service merke. Di samping itu, mereka juga harus melakukan kerangka kerja tambahan atau bahkan pemeriksaan keamanan lanjutan berbasis aplikasi pada koneksi tersebut. Tidak hanya berhenti di situ, SRE dan tim penerapan juga harus mengaplikasikan kunci dan sertifikat di semua node yang nanti diperlukan untuk melacak masa kedaluwarsanya. Rotasi sertifikat ini melibatkan pembuatan CSR (certificate signing requests), menunggu tanda tangan dari Certificate Authorities (CA), menginstal sertifikat yang ditandatangani, dan menginstal sertifikat root yang sesuai. Proses ini sangat penting karena jika identitas atau sertifikat root sudah kedaluwarsa maka layanan akan otomatis offline dalam waktu lama. Integrasi tanpa batas sebagai solusi Untuk mengatasi hambatan tersebut, Google menciptakan integrasi tanpa batas antara infrastruktur CA, infrastruktur komputasi atau penerapan, serta infrastruktur mesh service. Dalam implementasinya, Certificate Authority Service (CAS) menyediakan sertifikat untuk mesh service, infrastruktur GKE yang terintegrasi dengan CAS, dan bidang kontrol Traffic Director yang terintegrasi dengan GKE. Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen sertifikat GKE terus-menerus berkomunikasi dengan kumpulan CA untuk membuat sertifikat identitas layanan dan membuat sertifikat tersebut tersedia untuk tiap workload yang berjalan di pod GKE. CA secara otomatis diperbaharui dan tiap roots baru akan diserahkan kepada klien sebelum masa kedaluwarsa. Traffic Director sendiri merupakan kontrol service mesh  yang menyediakan kebijakan, konfigurasi, dan kecerdasan untuk entitas bidang data, dan memasok konfigurasi ke aplikasi milik klien serta server. Konfigurasi ini berisi pemindahan yang diperlukan dan informasi keamanan tingkat aplikasi untuk mengaktifkan koneksi mTLS. Kemudian setelah koneksi mTLS aktif maka kebijakan otorisasi yang sesuai dapat diterapkan pada RPC yang mengalir melalui koneksi tersebut. Pada akhirnya workload menggunakan konfigurasi keamanan untuk membuat koneksi mTLS yang sesuai dan menerapkan kebijakan keamanan yang disediakan.  Photo Credit: Rawpixel Pendekatan Zero trust menganggap bahwa kepercayaan baru bisa didapat setelah melalui rangkaian mekanisme khusus dan juga proses validasi yang terus diverifikasi. Google Cloud melalui berbagai layanan di dalamnya berusaha menerapkan pendekatan ini untuk memudahkan Anda mengelola workload. Layanan pengelolaan workload dengan GKE dan Traffic Director tidak akan bisa Anda nikmati tanpa berlangganan Google Cloud. EIKON Technology sebagai partner resmi Google di Indonesia siap membantu Anda mendapatkan Google Cloud secara legal. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Memahami 6 Prinsip Penyerapan Data Google Cloud

Transformasi digital membuat penyimpanan silo data beralih pada gudang data berbasis cloud, salah satunya dengan Google Cloud. Hal ini membuat kolaborasi antar unit bisnis serta akses data menjadi lebih mudah. Meski begitu, kemudahan ini juga disertai dengan problem baru yang berkaitan dengan penyerapan data.  Dengan terbukanya data dari berbagai unit bisnis, mau tak mau Anda harus mengembangkan pipeline untuk penyerapan data. Tanpa adanya pipeline ini, data hanya sekadar terbuka tanpa bisa diolah dan dikembangkan. Mengembangkan cloud pipeline, terutama yang berbasis cloud lokal, akan menyerap banyak data ke gudang data cloud Anda tanpa adanya hambatan yang berarti. Google melalui Google Cloud memiliki 6 prinsip yang bisa Anda terapkan dalam perancangan pipeline untuk penyerapan data. Mari simak pembahasannya berikut ini. Perjelas tujuan Anda Photo Credit: Rawpixel Sebelum mengembangkan pipeline untuk penyerapan data, buatlah tujuan yang sejelas mungkin. Anda bisa mulai dengan membuat gambaran mengenai hasil akhir yang ingin dicapai. Perlu diingat, pipeline hanyalah jalan untuk menuju garis akhir Anda dan bukan garis akhir itu sendiri. Katakanlah Anda menginginkan agar “bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan”. Coba buat lebih jelas dengan menentukan siapa subjek yang harus bisa “mendapat pemahaman” dan bagaimana cara untuk “mendapat pemahaman tersebut”. Dengan runtutan berpikir seperti ini, Anda bisa membuat tujuan yang lebih detail dan tentunya lebih relevan dengan pipeline penyerapan data. Rancangan tujuan awal tersebut pun kemudian akan berubah menjadi, “agar tim pengolah data bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dengan menyediakan akses ke data CRM.” Bangun tim Anda Berikutnya, bangun tim Anda. Pastikan Anda memilih orang dengan skill yang tepat, entah itu memiliki keahlian untuk mengembangkan, menerapkan, maupun memelihara data pipeline perusahaan. Bagaimana cara terbaik untuk membangun tim yang handal? Pelajari kembali tujauan Anda. Dari tujuan tersebut Anda bisa punya gambaran mengenai apa saja persyaratan yang diperlukan pipeline penyerapan data perusahaan. Persyaratan tersebut akan membantu Anda untuk mengidentifikasi SDM yang diperlukan sekaligus memperkirakan potensi kelemahan yang memerlukan dukungan tambahan dari pihak ketiga di luar perusahaan. Efisiensi waktu Photo Credit: Rawpixel Dalam mengembangkan pipeline untuk penyerapan data Anda juga harus mempertimbangkan efisiensi waktu. Coba hitung beban pemeliharaan jangka panjang dari pipeline penyerapan data Anda sebelum mengembangkan dan menerapkannya. Langkah ini akan membantu Anda untuk menerapkan pipeline yang efisien dan layak. Google Cloud merekomendasikan beberapa pendekatan untuk membangun pipeline yang efisien: Memanfaatkan produk penyerapan data berbasis interface dari Google Cloud. Dengan menggunakan produk semacam ini, Anda bisa mengurangi jumlah kode yang memerlukan pemeliharaan sekaligus mengurangi waktu pengembangan jalur pipeline. Beberapa produk yang bisa Anda pertimbangkan adalah Google Data Transfer Service serta Fivetran untuk mengelola pipeline penyerapan data dengan aplikasi SaaS. Gunakan template kode yang tersedia saat produk penyerapan data berbasis interface tidak mencukupi. Anda bisa menggunakan template yang tersedia untuk Dataflow. Template tersebut akan memungkinkan Anda untuk menentukan variabel dengan mudah dan hemat waktu. Jika kedua opsi di atas masih belum membantu, gunakan layanan untuk menerapkan kode pada pipeline Anda. Beberapa layanan tersebut di antaranya adalah Dataflow dan Dataproc. Cara ini akan mengurangi biaya operasional pengelolaan konfigurasi pipeline. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi data Prinsip keempat dari Google Cloud terkait dengan penyerapan data adalah meningkatkan kepercayaan dan transparansi data. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi bisa dilakukan dengan mengawasi serta mengelola pipeline pada seluruh tools yang Anda gunakan. Adanya banyak pipeline terkadang mengharuskan Anda untuk menerapkan beberapa alat yang berbeda. Sayangnya, hal ini bisa menyebabkan overhead manajemen pipeline karena jumlah jalur terus meningkat. Akan menjadi semakin rumit jika Anda memperhitungkann persyaratan untuk mengawasi saluran data. Anda bisa memanfaatkan layanan monitoring seperti Google Cloud Monitoring Service atau Splunk yang dapat menjalankan metrics, events, serta pengumpulan metadata dari beragam produk secara otomatis. Mengelola biaya Photo Credit: Rawpixel Menurut Google Cloud, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan terkait pengelolaan biaya yaitu: Memilih tools: Tiap jalur pipeline penyerapan data memiliki aturan tersendiri mengenai tingkat latensi, waktu aktif, hingga transformasi. Masing-masing jalur akan memiliki kecocokan dengan tools tertentu. Pastikan Anda memilih tools yang sesuai dengan masing-masing pipeline agar penggunaannya efisien. Terapkan pengendalian biaya: Apabila memang tersedia, jangan ragu untuk manfaatkan layanan pengendalian biaya untuk mencegah kesalahan yang menyebabkan biaya tambahan tak terduga. Catat pengeluaran cloud: Selalu catat pengeluaran Anda untuk seluruh pemanfaatan sumber daya cloud. Dengan begitu, Anda bisa memahami tiap perubahan dalam pembelanjaan cloud dan korelasinya dengan dinamika bisnis perusahaan. Manfaatkan layanan yang terus ditingkatkan Layanan Google Cloud secara konsisten melakukan peningkatan kinerja dan stabilitasnya. Dengan memanfaatkan peningkatan tersebut, pipeline data Anda bisa bekerja dengan optimal dan bahkan lebih efisien. Cara termudah untuk merasakan manfaat dari layanan ini adalah melakukan otomatisasi terhadap manajemen pipeline Anda. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi biaya operasional dari setiap jalur pipeline. Merancang pipeline yang efisien untuk penyerapan data memang tidak mudah, terlebih jika penyimpanan data Anda begitu luas. Anda bisa menerapkan prinsip pengelolaan pipeline dari Google Cloud di atas untuk membuat sekaligus mengelola pipeline dengan lebih optimal. Seluruh tools manajemen pipeline bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud official. Anda bisa berlangganan layanan Google Cloud yang resmi melalui EIKON Technology. EIKON Technology sendiri merupakan official partner Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud

Transformasi digital masih dianggap sebagai strategi yang efisien untuk bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Dengan memanfaatkan teknologi untuk menggantikan metode-metode tradisional, alur kerja perusahaan pun akan lebih ringkas sekaligus efisien. Salah satu bentuk transformasi digital yang mulai digencarkan banyak perusahaan adalah penggunaan komputasi awan (cloud computing). Di Indonesia sendiri, migrasi cloud dinilai punya potensi besar, mengingat jumlah pengguna internet di tanah air yang mencapai lebih dari 200 juta user. Google sebagai raksasa teknologi di dunia pun tidak ketinggalan dalam menyediakan layanan komputasi awan melalui Google Cloud. Melalui Google Cloud, proses migrasi digital bisa dilakukan lebih cepat dan hemat. Berikut beberapa fitur unggulan Cloud untuk memudahkan proses migrasi digital Anda. Active Assist Photo Credit: Geralt (Pixabay) Active Assist merupakan rangkaian tools yang disusun berdasarkan data dan menghasilkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Fungsi utamanya adalah mengurangi kerumitan dalam penggunaan Cloud, termasuk mengatasi kesulitan administrasi. Jadi, Anda dapat melakukan optimalisasi keamanan, kinerja, dan tentunya biaya penggunaan Cloud. Apa saja yang bisa dilakukan Active Assist?  Fitur ini dapat menjalankan perintah otomatis untuk menyesuaikan, mengurangi, dan bahkan mematikan mesin, disk, hingga IP yang tidak terpakai guna mengurangi biaya operasi cloud. Selain itu, Active Assist juga dapat membantu Anda untuk menerima pemberitahuan baru serta melakukan konfigurasi ulang pada perintah peningkatan ukuran otomatis. Peningkatan skala grup VM pun dapat diatur melalui fitur bantuan ini. Di dalam Active Assist Anda juga bisa menemukan Policy Analyzer. Memanfaatkan Policy Analyzer ini Anda dapat mengontrol masalah akses serta akun pengguna cloud. Kecerdasan jaringan Photo Credit: Google Cloud Salah satu keistimewaan hosting melalui Google Cloud adalah kompleksitas jaringan yang ditawarkan. Saat menggunakan Cloud, Anda otomatis berbagi infrastruktur jaringan yang sama dengan layanan Google lainnya seperti YouTube, Google Workspace, dan tentu saja raksasa mesin pencari, Google Search. Artinya, Anda dapat terhubung dalam jaringan berskala global. Bukan hanya itu, adanya koneksi dengan layanan Google lain seperti YouTube dan Search juga memudahkan Anda dalam membangun koneksi dengan pengguna. Jaringan dengan Google Workspaca akan menghadirkan akses menuju serangkaian tools untuk akselerasi transformasi digital perusahaan Anda. VM Manager Photo Credit: Google Cloud Meski pada umumnya perusahaan besar memiliki tool untuk manajemen aset serta manajemen patch. Sayangnya, tool tersebut biasanya berharga mahal dan biasanya dijual terpisah sehingga Anda pun perlu lebih banyak vendor penyedia. Belum lagi sistem pemeliharaan guna menjaga kinerja tool agar tetap berfungsi optimal dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi problem tersebut, Google Cloud dibekali fitur VM Manager. Apa itu VM Manager? Fitur ini merupakan rangkaian tools yang dirancang untuk melakukan pemeliharaan armada besar VM (virtual machine) yang dihos melalui Google Compute Engine secara otomatis. Tools tersebut meliputi: Manajemen patch Dapat digunakan untuk mengetahui status patch VM, baik itu dalam sistem operasi Windows maupun Linux, menyoroti rekomendasi serta penerapan patch otomatis, membuat jadwal patching yang fleksibel, hingga mengamati status patch di seluruh armada VM  Anda. Manajemen konfigurasi Berfungsi untuk mempertahankan konfigurasi konsisten di seluruh VM, bahkan dilengkapi dengan fitur perbaikan otomatis. Manajemen inventaris Terakhir ada manajemen inventaris yang berfungsi sebagai tool untuk mengumpulkan sistem operasi dan perangkat lunak (terkadang juga package information). Selain itu, tool ini juga terintegrasi dengan Cloud Asset Inventory. Kombinasi keduanya dapat digunakan untuk menyederhanakan pengelolaan lingkungan cloud Anda secara detail dan lengkap. Dengan memanfaatkan fitur-fitur Google Cloud di atas, Anda dapat mengurangi beban manajemen infrastruktur, menurunkan biaya hosting infrastruktur cloud, hingga meningkatkan keamanan data perusahaan Anda secara signifikan. Langkah Anda menuju transformasi digital yang sesungguhnya pun lebih mudah dan minim risiko. Semua kemudahan tersebut dapat dinikmati dengan berlangganan Google Cloud. Bagaimana caranya? Berlangganan layanan Google Cloud kini bisa melalui authorized reseller atau partner resmi Google. Untuk wilayah Indonesia, Anda bisa menghubungi EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google. Masih merasa ragu? Konsultasikan kebutuhan infrastruktur cloud Anda dengan tim EIKON Technology sekarang juga. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Mengenal Supply Chain Twin, Layanan Terbaru dari Google Cloud

Bulan September 2021 lalu, Google Cloud meluncurkan Supply Chain Twin, sebuah layanan yang memungkinkan perusahaan untuk menciptakan “digital twin”. Apa itu digital twin? Digital twin merupakan representasi virtual dari supply chain fisik yang ada di dunia nyata. Pembuatan digital twin melalui Supply Chain Twin memanfaatkan pengaturan data dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai suppliers, inventories, dan informasi lain yang masih berhubungan. Bukan hanya itu, kombinasi layanan ini dengan modul Supply Chain Pulse, Anda bisa mendapatkan real-time dashboards, analytics  lanjutan, notifikasi potensi gangguan, dan bahkan melakukan kolaborasi di Google Workspace. Dirancang untuk memantau supply chain fisik Photo Credit: Rawpixel Dalam industri retail, supply chain atau rantai pasok sering menjadi penyebab masalah. Kebanyakan perusahaan memiliki visibilitas yang terbatas atas supply chain mereka. Dampaknya, perusahaan akan kesulitan saat harus menghadapi masalah seperti kehabisan stok ritel, inventaris manufaktur semakin usang, hingga gangguan yang berhubungan dengan cuaca. Saat pandemi menyerang, situasi bahkan semakin parah. Dari situasi tersebut, Google menyadari bahwa perusahaan perlu pengetahuan yang lebih up-to-date, terutama yang berkaitan dengan operasional dan inventaris. Dengan begitu, visibilitas mereka terhadap supply chain pun akan meningkat. Supply Chain Twin memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam atas operasional mereka sehingga fungsi supply chain pun bisa lebih optimal. Tipe data yang didukung Supply Chain Twin Layanan terbaru dari Google Cloud ini memungkinkan perusahaan untuk menyertakan data dari berbagai sumber. Menariknya lagi, transfer data ini membutuhkan lebih sedikit waktu integrasi dibanding integrasi tradisional berbasis API. Untuk tipe data yang didukung Supply Chain Twin antara lain: Dari sistem bisnis perusahaan: Memahami operasional lebih baik dengan melakukan integrasi beberapa informasi sekaligus seperti produk, lokasi, pesanan, serta inventaris dari Enterprise Resource Planning (ERP) atau sistem internal lainnya. Dari sistem supplier dan partner: Gambaran yang lebih holistik dari jaringan supplier dan partner usaha dengan melakukan integrasi beberapa jenis data seperti jumlah stok dan inventaris serta status transportasi bahan produksi. Dari sumber umum: Memahami supply chain dalam konteks yang lebih luas dengan menghubungkan data kontekstual dari sumber umum seperti cuaca, risiko, termasuk juga set data publik dari Google. Kombinasi dengan Supply Chain Pulse Photo Credit: Rawpixel Seperti yang telah disebutkan, Twin juga bisa dikombinasikan dengan layanan baru Google Cloud lainnya yaitu Supply Chain Pulse. Kombinasi ini menghasilkan: Visibilitas real time serta analytic lanjutan: Menelusuri operational metrics dengan performance dashboard yang eksekutif, memudahkan Anda untuk mengecek status supply chain. Pengelolaan event berbasis peringatan: Mengatur peringatan pada perangkat mobile Anda yang dipicu oleh perubahan pada key metrics, tepatnya saat key metrics mencapai ambang batas yang telah ditentukan. Kolaborasi lintas tim: Menciptakan workflow bersama yang memungkinkan user untuk melakukan kolaborasi di Google Workspace untuk memecahkan masalah. Optimalisasi dan simulasi berbasis AI: Memicu algoritma berbasis AI untuk menyarankan respon yang tepat atas perubahan situasi, menandai masalah yang lebih kompleks, dan memperhitungkan dampak berdasarkan hipotesis awal. Deployment Supply Chain Twin melalui partner Google Cloud Bagi Anda yang bergerak di industri retail, manufaktur, jaringan layanan kesehatan atau industri lain yang masih berhubungan dengan logistic, bisa melakukan deployment Supply Chain Twin melalui ekosistem partner Google Cloud seperti Pluto7, TCS, dan Deloitte. Sistem ini akan membantu Anda untuk mengintegrasikan Twin dengan dataset dataset yang relevan ke dalam infrastruktur yang tersedia. Sebagai tambahan, Anda juga bisa melakukan augmentasi data menggunakan data partner seperti Climate Engine atau Craft. Kombinasi ini akan menghasilkan dataset yang lebih lengkap karena berisi informasi mengenai kondisi geospasial, keberlanjutan (sustainability), serta manajemen risiko. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Tersedia juga integrasi dengan application partner seperti Automation Anywhere dan project44. Anda bisa menggunakannya untuk memahami siklus hidup produk, melacak pengiriman lintas  operator, hingga memprediksi ETA (estimated time of arrival) atau perkiraan barang tiba. Hingga saat ini, visibilitas yang terbatas akan supply chain atau rantai pasok masih menjadi masalah bagi kebanyakan perusahaan, terlebih bagi perusahaan yang berhubungan dengan logistik seperti retail. Apakah Anda salah satunya? Maka tidak ada salahnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai solusi. Dengan Google Cloud dan Supply Chain Twin yang ada di dalamnya, Anda bisa menciptakan “kembaran virtual” supply chain. Jadi, memonitor supply chain pun akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Buat perusahaan Anda semakin maju dengan memanfaatkan teknologi ini. EIKON Technology sebagai partner resmi Google menyediakan Cloud Service Solutions untuk Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut dengan tim EIKON Technology, Anda cukup klik di sini.

Scroll to Top