EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Mempelajari Update Keamanan Terbaru Cloud Storage dari Google

Cloud Storage merupakan layanan web penyimpanan file online yang ada dalam infrastruktur Google Cloud Platform. Sebagai sebuah platform untuk menyimpan file, keamanan Cloud Storage terus ditingkatkan. Dalam update terbaru mereka, enkripsi menjadi fokus utama. Seperti yang sudah Anda ketahui, enkripsi merupakan elemen penting dalam mengamankan data sensitif, baik saat disimpan di dalam cloud maupun saat hanya transit. Kini, Storage dapat mengenkripsi data dari sisi server menggunakan kunci enkripsi standar yang dikelola Google sekaligus mengenkripsi data menggunakan kunci enkripsi yang dikelola user melalui Cloud Key Management Service (Cloud KMS). Mengapa harus menggunakan Cloud KMS di Cloud Storage? Cloud KMS memiliki pengaturan yang memungkinkan Anda untuk mengelola kunci enkripsi secara terpusat. Bukan hanya terpusat, tapi juga dengan cepat dan scalable sehingga Anda bisa bekerja dengan efisien. Cloud KMS juga menghasilkan kunci enkripsi yang bisa dikelola oleh user secara mandiri (disebut customer-managed encryption keys atau CMEK). Kunci enkripsi ini nantinya berfungsi sebagai lapisan keamanan tambahan selain kunci default dari Google. Sekarang, Anda dapat mengatur kunci ini sebagai kunci default dan pengaturan tersebut pun bisa diubah kapan saja. Photo Credit: Pxfuel Selain CMEK yang berbasis software, Cloud Storage juga mendukung CMEK berbasis hardware, terutama untuk hardware yang di-hosting dalam modul keamanan hardware FIPS 140-2 Level 3 sebagai bagian dari layanan Cloud HSM. Jadi, Anda dapat melindungi workload paling sensitif sekalipun tanpa harus mengatur cluster operations HSM. Peningkatan performa KMS Dalam update terbaru, permintaan untuk mengurangi bandwith dan menurunkan KMS billing akan dikelompokkan menurut perilaku permintaan Cloud KMS di Cloud Storage. Permintaan yang identic akan digabungkan di seluruh mode enkripsi yang didukung Cloud KMS, termasuk kunci enkripsi user yang berbasis software. Dengan adanya perubahan ini, operasi enkripsi akan berjalan lebih cepat, baik itu dalam proses baca dan tulis untuk data baru, audit log Cloud KMS yang tidak diduplikasi, dan bahkan keseluruhan charge Cloud KMS akan lebih rendah. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Bagi Anda yang sering menjalankan workload dengan intensitas tinggi akan menemukan penurunan signifikan dalam throughput ke KMS. Hasilnya, billing untuk operasi kriptografi KMS semua jenis kunci KNS pun turut berkurang. Cloud KMS untuk object composition Photo Credit: StartupStockPhotos (Pixabay) Update keamanan terbaru Cloud Storage bisa ditemukan pada fitur object composition. Sekarang ini, object composition sudah banyak digunakan untuk berbagai macam aplikas, baik itu untuk menggabungkan segmen-segmen video hingga mengunggah kumpulan data berskala besar. Dengan makin banyaknya pengguna Cloud Storage untuk memanfaatkan fitur object composition ini, Google pun meningkatkan performanya agar dapat berjalan di berbagai mode enkripsi. Kini, object composition sudah mendukung kunci enkripsi yang dikelola oleh user (CMEK). Dengan begitu, Anda dapat mengelola CMEK sekaligus menjalankan object composition untuk berbagai keperluan bisnis dalam satu waktu. Untuk membuat objek yang dienkripsi dengan CMEK, Anda harus menentukan nama resource untuk kunci Cloud KMS. Tujuannya adalah agar objek baru tersebut dapat dienkripsi sebagai parameter query. Jika Anda menggunakan JSON API, ketikkan HTTP request berikut ini:   01   POST https://storage.googleapis.com/storage/v1/b/bucket/o/destinationObject/compose Sedangkan Anda yang menggunakan XML API, tentukan nama resource kunci Cloud KMS untuk permintaan header goog-encryption-kms-key-name. Bisa juga dengan menentukan kunci Cloud KMS saat Anda menggunakan gsutil untuk menjalankan object composition. Enkripsi yang lebih baik Sebagai sebuah proses krusial, enkripsi harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak ada hal yang berlebihan jika itu menyangkut keamanan data, terutama data sensitif Anda idi Cloud Storage. Baik saat sedang menjalankan proses penyusunan objek atau workload analitik, enkripsi yang lebih baik dan aman tentu akan meningkatkan skalabilitas workload Anda.   Keamanan data selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Jika sampai detik ini Anda masih bimbang dalam memilih layanan penyimpanan data berbasis online, Cloud Storage dapat dijadikan pertimbangan. Dengan sistem keamanan yang terus ditingkatkan, bahkan dalam proses yang paling krusial seperti enkripsi, layanan penyimpanan dari Google ini akan membantu Anda. Ingin mengenal layanan Google Cloud sebelum memutuskan untuk berlangganan? Tidak jadi masalah, kami dari EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi untuk membantu menentukan cloud service solution yang paling tepat untuk Anda. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator

Mengatur sebuah pemrograman dalam sebuah perusahaan maupun bisnis besar haruslah dilakukan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Salah satunya adalah ketika menggunakan aplikasi pendukung agar data tetap aman dan bisa didistribusikan dengan baik. Untuk hal itu, Anda bisa mencoba Cloud Spanner Emulator. Platform ini diluncurkan pada tahun 2017 lalu. Peruntukannya memang ditujukan pada industri berskala besar. Mulai dari pengaturan aplikasi untuk ritel, sosial media perusahaan, dan juga bagi industri gaming. Pada platform ini juga memiliki beberapa model deployment Google Cloud. Apa sajakah? Berikut beberapa di antaranya. Model Deployment Google Cloud Emulator Lokal Source: Unsplash.com Model pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan menggunakan emulator lokal. Adapun yang termasuk dalam emulator lokal di sini antara lain adalah Docker Image, Gcloud Commands, Linux Binaries, dan Bazel. Untuk biaya deployment menggunakan emulator ini memang gratis untuk beberapa kasus tertentu. Beberapa emulator lokal tersebut dapat digunakan pada kasu-kasus tertentu saja. Misalnya saja untuk melakukan uji coba pada saat pengembangan penyimpanan data dan sebagainya. Cara seperti ini dilakukan karena memang lebih mudah dan cepat. Hanya saja, jika pengguna menggunakan mode deployment ini ada kemungkinan mengenai konfigurasi, data, dan aset lainnya akan hilang selama proses restart emulator tersebut. Jadi, ada baiknya Anda pertimbangkan dengan baik sebelum memilihnya. Model Deployment Google Cloud pada Remote GCE Source: Gasworld Selanjutnya, mode untuk deployment Google Cloud bisa menggunakan emulator pada Remote GCE. Beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk hal ini adalah deployment manual atau Gcloud deployment. Atau cara lainnya adalah melalui fitur Terraform. Setidaknya, bila menggunakan mode ini ada beberapa keuntungan dan hal lainnya seperti: Mode ini memang tersedia gratis untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para pengguna Cloud Spanner, terutama untuk mengelola tim Anda. Meskipun konfigurasi, skema, dan data bisa hilang saat restart, di sisi lain memungkinkan bagi para developer untuk memecahkan masalah yang ada secara kolaboratif. Penggunaan Terraform untuk proses deployment pada mode ini memang disarankan. Hal ini karena untuk mempermudah alur pengaturan menjadi lebih baik. Model Deployment Google Cloud pada Cloud Run Source: GCN.com Terakhir, untuk mode deployment Google Cloud bisa melalui Cloud Run. Sebagian orang menilai jika mode yang ketiga ini menjadi pilihan yang tepat. Terutama bagi Anda yang ingin menggunakan REST maupun gRPC. Cloud Run ini dibangun atas gRPC ini. Jadi, apabila aplikasi yang Anda pakai menggunakan library dari RPC API, maka emulator bisa digunakan dalam menerima koneksi pada port 9010. Di sisi lain, bila Anda ingin menggunakan interface REST, maka dapat melakukan konfigurasi Cloud Run untuk mengirimkan request ke port 9020. Mengenai masalah biaya yang dikeluarkan, memang ini berbeda dari mode deployment pertama. Untuk mode ini memang berbayar dan harganya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kesimpulan Source: Grand Canyon University Dari ulasan di atas, kita bisa mengetahui jika mode deployment Google Cloud memang beragam. Anda bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan bisnis. Maka dari itu, diperlukan perhitungan dan juga pertimbangan yang matang bagi Anda maupun tim developer untuk memilih mana yang terbaik. Di samping itu, Anda pun dapat menggandeng vendor penyedia layanan Google Cloud yang terpercaya seperti EIKON Technology. Tujuannya adalah, selain mempermudah proses deployment juga akan memberikan kenyamanan. Terutama dalam hal jaminan keamanan data penting dan krusial milik perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud yang kami tawarkan, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba

Sebagai sebuah solusi one stop cloud, Google Cloud terus berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuhan penggunanya. Bagi Anda pengguna Cloud skala besar, berikut empat fitur terbaru yang bisa digunakan untuk memudahkan proses pengelolaan. Mari simak detail lengkapnya dalam poin-poin di bawah ini. Google Transfer Appliance Photo Credit: Rawpixel Bagi Anda yang baru mulai melakukan transformasi digital dan berpindah ke Cloud, proses transfer data bisa menjadi masalah tersendiri. Sebagai pengguna Cloud dalam skala besar, tentu data yang Anda simpan berjumlah besar. Sebagai solusinya, Anda bisa memanfaatkan fitur terbaru Cloud, Google Transfer Appliance. Google Transfer Appliance merupakan perangkat penyimpanan fisik yang dapat memuat data dari fasilitas lokal. Dengan memanfaatkan fitur baru ini, Anda dapat memindahkan data dari fasilitas penyimpanan lokal secara otomatis. Lebih hemat biaya dan tentunya waktu. Saat penyimpanan penuh, Google Transfer Appliance akan langsung mengirimkan data dalam mode offline ke Google Cloud. Sedangkan dalam mode online Anda dapat melakukan streaming data yang disalin perangkat pada Cloud Storage. Menjalankan fungsi serverless Photo Credit: Rawpixel Salah satu model pendekatan deployment yang diterapkan di Cloud adalah model serverless (tanpa server). Dengan model pendekatan ini, Anda tidak harus menjalankan instance atau container mesin virtual secara terus-menerus. Sebaliknya, Anda bisa memilih waktu operasi sesuai dengan kebutuhan. Model deployment seperti ini dapat terwujud melalui perangkat serverless Google, Cloud Functions yang merupakan function as a service (FaaS). Meski begitu, perlu diingat bahwa meski serverless tidak “memaksa” instance untuk terus berjalan, function tetap memerlukan waktu untuk dapat dimulai dan dijalankan, terutama jika instance sempat dimatikan sebelumnya (cold start). Google menawarkan waktu tunggu lebih singkat yang diberi nama instance minimum atau min. Lebih banyak context Fitur terbaru Google Cloud juga berusaha untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan resource mesin virtual. Google kemudian meluncurkan sebuah alat yang telah disempurnakan dengan lebih banyak context dan juga visibilitas untuk menjalankan workloads. Fitur ini dapat diakses melalui Google Cloud Console. Dari sana, developer dapat membuka VM mana pun dan mengakses visualisasi bawaan. Dengan begitu, developer bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail terkait masalah-masalah umum seperti masalah memori, jaringan, CPU, Disk, dan bahkan live processes. Unattended Project Recommender Photo Credit: Piqsels Seiring berjalannya waktu, dalam menggunakan layanan cloud, Anda akan menemukan resources yang berjalan di cloud yang sudah tidak diperlukan lagi. Jika sebelumnya mencari resources semacam ini harus melalui proses manual, Anda pengguna Google Cloud tidak perlu bersusah payah lagi. Sekarang telah tersedia fitur Unattended Project Recommender yang merupakan bagian dari Active Assist. Dengan rekomendasi otomatis ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mencari resources yang menganggur. Bukan hanya itu, fitur baru ini juga melindungi Anda dari risiko keamanan yang mungkin timbul akibat resources usang. Unattended Project Recommender sendiri memanfaatkan mesin untuk mengidentifikasi resources menurut API, aktivitas jaringan, billing, penggunaan layanan cloud, serta sinyal lain yang bisa menjadi indikator  penentu. Dengan hadirnya fitur-fitur baru dari Google Cloud diharapkan setiap masalah yang dihadapi para user dapat menemukan solusi, terutama bagi Anda yang menggunakan layanan Cloud dalam skala besar. Anda pemilik perusahaan atau instansi yang membutuhkan penyimpanan data berskala besar? Google Cloud bisa menjadi solusi penyimpanan yang bukan hanya efisien tapi juga aman. Nikmati segala kemudahan yang ditawarkan hanya dengan berlangganan layanan Google Cloud dari sekarang. EIKON Technology siap memfasilitasi Anda untuk keperluan tersebut. Klik di sini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai subscription layanan Google Cloud.

Google Cloud

Jenis Pemrosesan Data Perusahaan

Pengolahan data perusahaan menjadi hal penting agar data-data penting menjadi lebih aman. Selain itu, dengan pengolahan data perusahaan dapat memproyeksikan apa saja yang harus dilakukan nantinya dan mengambil keputusan yang tepat. Saat ini, pengolahan data dapat lebih mudah menggunakan layanan seperti Google Cloud. Lalu, apa saja jenis dan metode pemrosesan data perusahaan? Data Value Chain Source: Unsplash.comJenis pemrosesan dan pengolahan data yang pertama adalah Data Value Chain. Jenis ini merupakan yang paling penting sebab menjadi rangkaian utama dan tahapan awal dalam proses pengolahan data untuk input dalam sebuah sistem dan menjadi output yang berguna bagi perusahaan. Tanpa menggunakan jenis data ini, akan sulit dilakukan pemrograman lebih lanjut menggunakan tools maupun software tertentu bagi perusahaan. Untuk bisa mengolah data pertama tersebut, idealnya Anda bisa menggunakan tools khusus seperti ETL. Khususnya bagi data yang tertulis dan dijadikan sebagai perimeternya. Pada tahapan pemrosesan Data Value Chain, penting juga dipertimbangkan mengenai kecepatan pemrosesan datanya. Misalnya berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengolah data bila menggunakan fitur-fitur terbaik seperti layanan di Google Cloud. Type of Organization Source: Unsplash.com Selanjutnya adalah Type of Organization. Dimana dalam hal ini, pengolahan data dan pemrosesan berdasarkan tipe organisasinya. Oleh karena itulah, berbeda jenis organisasinya beda pula strategi yang diterapkan. Kemudian, penting pula mengenai personil atau sumber daya manusia yang bertanggung jawab menangani proses pengolahan data tersebut. Misalnya saja untuk proses pengolahan data pada warehouse. Di sini, pengguna dapat memilih menggunakan fitur Google Cloud maupun BigQuery. Bila data yang akan diproses cukup besar dan banyak, maka bisa pula menggunakan tool ETL. Caranya adalah dengan mulai memasukkan data-data penting dalam BigQuery SQL dan dilanjutkan dengan menggunakan ETL. Pengolahan data dan pemrosesan Type of Organization masih terbagi lagi menjadi tiga tipe utama. Yakni Data Analyst Driven, Data Engineering Driven, dan Blended Organization. Metode yang Digunakan Source: Pexels.com Selain dari jenis, pengolahan data dan pemrosesannya bagi sebuah perusahaan dapat dilakukan dalam beberapa metode. Hingga saat ini setidaknya ada tiga metode yang sering digunakan yakni batch processing, real time processing, dan distributed processing.   Batch Processing   Metode pertama ini menitikberatkan penggolongan data yang akan diproses nantinya. Biasanya, pengelompokan data ini dilakukan agar lebih mudah dipilah dan lebih nyaman. Selain itu, teknik ini juga dinilai lebih praktis dan efisien serta cepat. Waktu pemrosesannya dan pengolahan datanya bisa dipilih sesuai kebutuhan secara berkala.  Misalnya saja mingguan, bulanan, hingga tahunan. Keunggulan metode ini lebih mudah untuk mengelompokkan data besar saat diproses. Di sisi lain kelemahannya adalah Anda perlu memfilter data yang terkadang memakan waktu yang cukup lama.   Real Time Processing   Real time processing merupakan metode berikutnya yang cukup banyak digunakan. Seperti namanya, pengolahan data dan pemrosesannya dilakukan pada waktu yang sama. Prosesnya dapat menggunakan sistem yang terintegrasi dengan jaringan komputasi awan seperti Google Cloud. Contohnya adalah mengenai input barang pada perusahaan yang harus dilakukan pada saat itu juga. Apabila terjadi perubahan maupun pembatalan masukan data, maka data yang ada pun akan segera terupdate. Sehingga Anda tak perlu lagi melakukan pengecekan satu per satu layaknya teknik pertama karena semuanya berjalan secara otomatis.   Distributed Processing   Terakhir adalah distributed processing, di mana pada proses ini pengolahan data dan pemrosesannya bisa dibilang cukup kompleks. Yakni melibatkan terminal jarak jauh yang terhubung ke server pusat yang membantu pengguna melakukan pengolahan dan pemrosesan data. Pengolahan data menggunakan metode ini dipilih karena lebih responsif terhadap masalah yang dihadapi. Di sisi lain, yang menjadi kekurangannya adalah memerlukan fasilitas yang cukup mahal dan terminalnya terkadang tidak efisien. Setidaknya itulah beberapa jenis pengolahan data dan pemrosesannya yang perlu Anda ketahui. Untuk pengolahan data menggunakan Google Cloud lebih nyaman dan aman, Anda dapat berlangganan di EIKON Technology dan bisa dipilih berdasarkan kebutuhan perusahaan.

Google Cloud

Google Cloud Menghadirkan Cloud Composer

Komputasi awan atau cloud computing memang memiliki sifat yang kompleks dalam penerapannya. Namun, kini hambatan tersebut menjadi lebih mudah teratasi dengan menggunakan Cloud Composer dari Google Cloud.  Platform ini menggunakan Apache Airflow. Pengguna pun lebih mudah dalam melakukan manajemen alur kerja menggunakan cloud. Apa saja keunggulan dan fitur-fitur yang dimilikinya serta bagaimana alur kerjanya? Simak ulasannya di artikel ini. Keunggulan Cloud Composer dari Google Cloud Source: DevelopersIO Dalam penggunaannya, Cloud Composer dari Google Cloud bisa dibilang lebih unggul bila dibandingkan fitur lainnya. Dengan begitu, Anda dapat melakukan dan menjalankan tugas dengan mudah dalam mengembangkan bisnis perusahaan. Bila diringkas kembali, keunggulan dari Cloud Composer ini antara lain sebagai berikut: Penggunaan yang mudah dan cepat. Hal ini karena ketika Anda melakukan registrasi pada akun Google Cloud, prosesnya tak membutuhkan waktu lama. Anda hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk membuat dan meluncurkan project yang dibuat. Kemudian, dapat memilih pemrograman Python dan melakukan konfigurasi. Pembagian data lebih mudah dengan menggunakan fitur DAGs yang secara otomatis tersemat di Google Cloud Storage. Mendukung untuk pengoperasian dengan menggunakan fitur pemrograman Python terbaru. Jika pada awalnya Cloud Composer mendukung hanya untuk generasi Python 2.7, kini penggunaannya bisa dilakukan pada sistem Python terbaru yakni 3.6. Hal itu akan membuat implementasinya lebih baik dan lebih cepat bila dibandingkan seri sebelumnya. Fitur Utama yang Dimiliki Source: The Spoon Keunggulan Cloud Composer yang sudah disebutkan di atas, tidak terlepas dari dukungan fitur utamanya yang dimiliki. Google Cloud sendiri menggunakan berbagai fitur terbaik di layanan ini seperti: Portabilitas yang tinggi dimana Cloud Composer dibangun pada Apache Airflow yang membuatnya mudah dioperasikan pada berbagai platform. Dengan begitu, juga akan menyesuaikan infrastruktur. Terdapat fungsi multi cloud yang dapat digunakan dengan produk-produk cloud lainnya yang diperlukan. Selain itu juga memungkinkan untuk dioperasikan menggunakan hybrid cloud terutama untuk penyimpanan data dan memberikan skalabilitas yang tidak terbatas. Kompatibel dengan bahasa pemrograman Python yang dapat memberikan kenyamanan dalam pelayanan yang cepat, aman, dan mudah. Terintegrasi dengan layanan lainnya melalui APIs dan mendukung untuk produk layanan Google lainnya seperti Big Query, Cloud Datastore, Dataflow and Dataproc, AI Platform. Beberapa komponennya juga dapat digantikan dengan mudah menggunakan AWS maupun Azure secara analog. Bagaimana Cara Kerjanya? Source: DevCommunity Cara dan alur  kerja Cloud Composer menggunakan sistem Directed Acyclic Graphs (DAGs). Dengan fitur ini, memungkinkan platform untuk mengumpulkan data-data mengenai tugas yang akan dikerjakan dan telah dijadwalkan. Kemudian, mengolahnya kembali. DAGs ini dapat dibuat pada skrip Python dan dependensinya menggunakan kode. Tujuannya adalah untuk memastikan semua task dapat berjalan dengan baik di waktu yang sudah ditentukan tanpa hambatan berarti. Dengan begitu, bisa lebih mudah mengerjakan tugas Anda dalam satu platform. Seperti mengumpulkan data, mengirimkan email kepada penerima yang memiliki akses dan sebagainya. Cloud Composer Dilengkapi Fitur Keamanan Canggih Source: Pexels.com Mengenai faktor keamanan dan kenyamanan, Cloud Composer dari Google Cloud ini memang sudah tak diragukan lagi. Hal ini karena memiliki berbagai ragam fitur keamanan yang mendukung. Sehingga, data lebih terjamin. Berikut beberapa fitur keamanannya: Menggunakan Private IP yang mana data tidak bisa diakses oleh publik dan terlindung dari penggunaan internet publik. Di sini, developer dapat mengakses data namun tidak bisa mengaksesnya menggunakan perangkat luar yang tidak memiliki izin akses yang diberikan. Menggunakan sistem Private IP+Web Server ACLs dan alur kerjanya lebih terlindungi dengan sistem otentikasi. Kemudian dapat membatasi penggunaan dari luar dan Anda bisa lebih mudah mengontrol Private IP. Dengan adanya VPC Native Mode akan membatasi akses komponen dari Cloud Composer pada jaringan VPC yang sama. Jadi, penggunaannya pun lebih mudah dan terlindungi. Begitu pula dengan VPC Service Controls yang dimilikinya. Memiliki fitur enkripsi data yang mumpuni dan bisa terintegrasi dengan Secret Manager untuk melindungi akses maupun password untuk proses otentikasi sistem eksternal. Itulah ulasan ringkas mengenai Cloud Composes baik dari segi keunggulan maupun fiturnya. Anda bisa menggunakan fitur terbaik ini dengan memilih penyedia layanan Google Cloud Indonesia seperti EIKON Technology. Dengan pengalamannya menangani berbagai perusahaan besar dalam hal komputasi awan, EIKON Technology juga memiliki berbagai macam layanan yang dapat Anda pilih untuk mendukung kenyamanan dan keamanan data bisnis di perusahaan Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud dari kami, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud, Info

Alur Sederhana Untuk Merencanakan Migrasi Cloud

Migrasi cloud bagi sebuah bisnis terkadang tak dapat dihindari. Terutama bila ingin mendapatkan efisiensi dan pelayanan yang lebih baik. Apalagi saat ini Anda dapat memilih penyedia layanan migrasi cloud menggunakan Google Cloud yang terbaik. Meski begitu, ada beberapa alur sederhana yang perlu diperhatikan saat merencanakan migrasi cloud. Apa sajakah? Simak ulasannya berikut ini. Persiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia Source: Unsplash.com Sebagai langkah awal dalam merencanakan migrasi cloud, yang harus diperhatikan adalah mengenai kesiapan infrastruktur yang dimiliki oleh bisnis maupun perusahaan Anda. Pastikan semua infrastruktur perangkat IT berjalan dengan baik dengan fitur maupun teknologi yang mendukung proses migrasi. Berikutnya persiapkan pula mengenai personil atau sumber daya yang akan mengurusi migrasi cloud ini. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan bagi personil ini untuk melakukan migrasi secara baik. Misalnya saja mengenai pengelolaan, kontrol akses, maupun aset.  Tentukan Strategi Migrasi Cloud yang Tepat Menentukan strategi penting dilakukan agar migrasi cloud yang menggunakan fitur Google Cloud dapat berjalan lancar. Di sini, Anda bisa memilih antara single cloud atau multiple cloud. Hal itu tergantung skala sistem yang dimigrasi nantinya. Perhitungkan prioritas dan pilotingnya. Strategi tersebut juga perlu mempertimbangkan dan memperhitungkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi nantinya. Misalnya saja gangguan pada saat operasional dan besaran biaya ketika proses migrasi. Begitu pula dengan berapa lama waktu yang diperlukan, waktu downtime maksimal dan kemungkinan risiko kegagalan saat proses migrasi ini. Jangan Lupa Hapus Legacy yang Sudah Tak Dipakai Source: Pexels.com Ketika melakukan migrasi, Anda masih memiliki legacy pada sistem sebelumnya. Legacy ini sebaiknya Anda pilah terlebih dahulu. Mana yang masih digunakan dan mana yang sudah tak digunakan. Di sini memang diperlukan kejelian dan kerjasama tim agar sistem dapat berjalan dengan baik. Maka dari itu, penting sekiranya bagi Anda menghapus legacy yang tak dipakai maupun tak digunakan. Mengapa demikian? Sebab, jika sistem itu tidak dihapus bisa saja dimanfaatkan dan menjadi celah bagi penyerang untuk masuk dalam sistem. Terlebih lagi jika itu terdapat sistem yang sifatnya sensitif. Termasuk sistem data yang bisa diakses oleh pihak internal maupun yang sifatnya publik. Buat Aturan Manajemen Sistem Baru Google Cloud Anda Hal yang tidak kalah penting lainnya ketika Anda akan menjalankan migrasi cloud ialah dengan menetapkan aturan dan manajemen sistem yang baru, Biasanya, sistem operasional ini tidaklah jauh berbeda dengan sistem sebelumnya. Misalnya saja mengenai pembagian kontrol pemberian akses kepada pihak-pihak bertanggung jawab. Kemudian, memastikan sistem konfigurasi keamanan yang digunakan berjalan dengan baik. Khususnya bagi cloud yang dapat diakses oleh publik dan itu sangat rentan terhadap penyerangan. Termasuk pula mengenai maintenance yang harus dilakukan secara berkala. Memilih Layanan Cloud Terpercaya Source: Pexels.com Alur migrasi cloud yang terakhir adalah dengan memilih layanan Google Cloud yang terpercaya. Untuk hal ini, sebaiknya Anda perlu pertimbangkan layanan apa saja yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, biaya operasional harus diperhitungkan dengan matang. Memang, layanan ini memiliki harga beragam dan semua itu tergantung pada fitur dan teknologi yang ditawarkan. Tak hanya itu saja, penyedia layanan Google Cloud juga harus memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi pada regulasi yang ditentukan pemerintah. Di Indonesia sendiri, mengenai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) mengacu pada aturan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (KOMINFO) serta perundang-undangan yang berlaku. Lalu, vendor penyedia layanan migrasi cloud setidaknya juga memiliki sertifikasi PCI DSS. Untuk layanan di Indonesia yang memiliki persyaratan tersebut antara lain adalah EIKON Technology. Dengan adanya sertifikasi dan tingkat kepatuhan tersebut, setidaknya membuat perusahaan dan bisnis Anda menjadi lebih aman dan nyaman. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan ini di EIKON Technology, Anda bisa klik di sini. Bagaimana, cukup mudah bukan untuk merencanakan alur migrasi cloud bisnis Anda menggunakan fitur dari Google Cloud. Kini, saatnya Anda mempraktikkannya.

Google Cloud

Mengenal Cloud IDS, Sistem Deteksi Ancaman Keamanan Jaringan dari Google

Cloud IDS (Intrusion Detection System) merupakan sebuah solusi keamanan siber yang dikembangkan oleh Google. Sistem keamanan berfungsi sebagai pendeteksi ancaman terhadap jaringan. Memanfaatkan layanan keamanan ini, segala risiko yang membahayakan keamanan data di dalam cloud pun dapat diminimalisir. Cloud IDS dirancang untuk mudah disiapkan sekaligus diterapkan. Tanpa perlu melalui proses panjang, hanya dengan beberapa klik saja, Anda sudah bisa memanfaatkan layanan keamanan ini. Dalam satu sistem saja, Anda sudah dapat menikmati pengalaman terintegrasi dari Google Cloud sekaligus teknologi deteksi ancaman tercanggih milik Palo Alto Networks. Untuk mengenal lebih jauh mengenai Cloud IDS, Anda bisa membaca ulasannya berikut ini. Deteksi ancaman jaringan pada cloud-native Cloud IDS pertama kali diperkenalkan pada publik di bulan Juli 2021 lalu. Sistem keamanan tersebut diciptakan sebagai jawaban atas masalah keamanan jaringan, terutama yang muncul pada cloud-native. Cloud-native merupakan sebuah pendekatan dalam pengembangan software yang memanfaatkan komputasi awan (cloud computing) untuk membangun aplikasi. Karakteristik aplikasi yang lahir dari cloud-native adalah modern dan dapat dijalankan dalam lingkungan yang dinamis, baik itu private, public, maupun hybrid clouds. Photo Credit: PxHere Mengingat sifat cloud-native yang dinamis, akan ada banyak sekali celah keamanan yang bisa dimasuki penyusup. Nah, Cloud IDS mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan menawarkan sistem keamanan dengan visibilitas yang luas terhadap traffic yang masuk ke dalam lingkungan cloud. Bukan hanya itu, sistem keamanan ini juga merupakan sebuah solusi end-to-end. Sistem keamanan terus diperbarui mengikuti update dari Palo Alto Neteworks. Dengan begitu, Anda bisa segera tahu saat ada model ancaman baru atau muncul anomali yang mengindikasikan adanya ancaman. Baca juga: “3 Fitur Baru BeyondCorp Enterprise Untuk Tingkatkan Keamanan Akses Resources Perusahaan Anda” Dibangun dengan teknologi deteksi terbaik Photo Credit: Google Cloudo Seperti yang telah disebutkan, Cloud IDS adalah produk kerja sama antara Google dengan Palo Alto Networks. Artinya, saat menggunakan sistem Clouds ID, Anda otomatis menikmati dua layanan sekaligus, infrastrukur cloud tepercaya dari Google sekaligus teknologi deteksi ancaman terbaik dari Palo Alto Networks. Palo Alto Networks sendiri tidak perlu diragukan untuk masalah keamanan siber. Perusahaan yang bermarkas di Santa Clara, California, Amerika Serikat ini memiliki mesin analisis ancaman serta tim riset ekstensif yang terus-menerus memperbarui threat database mereka. Bukan hanya itu, Palo Alto Networks juga memiliki mekanisme deteksi ancaman yang variatif guna mengatasi segala macam ancaman keamanan yang bisa muncul pada jaringan. Mampu mendeteksi ancaman jaringan paling kritis Keunggulan utama dari Clouds IDS adalah visibilitas luas menuju semua traffic yang masuk ke lingkungan cloud Anda. Selain itu, sistem ini juga dapat memantau workloads di Kubernetes Engine (GKE), workloads di Compute Engine (GCE) atau bahkan workloads di kedua infrastruktur tersebut. Dengan begitu, Anda bisa lebih mudah mendeteksi ancaman seperti malware, spyware, serangan C2 (command and control), dan ancaman berbasis lainnya. Bukan hanya itu, Anda juga bisa mendeteksi adanya upaya eksploitasi dan evasi terhadap jaringan serta layers pada aplikasi. Fitur lain yang sangat memudahkan adalah prioritized list. Dengan memanfaatkan fitur tersebut, ancaman yang masuk akan diurutkan berdasar tingkat keparahannya. Jadi, Anda bisa segera mencari solusi terbaik untuk mengatasi ancaman jaringan yang paling berbahaya. Photo Credit: Raw Pixel Saat ini, Cloud IDS memang masih dalam status preview. Namun bukan berarti Anda tidak bisa menjajal sistem keamanannya yang canggih sekarang. Untuk mencoba layanan keamanan ini, Anda cukup mengakses webpage Clouds IDS dan klik opsi “Get started for free”. Sambil menunggu rilis lengkap Clouds IDS, Anda bisa mulai mengaplikasikan infrastruktur cloud milik Google yaitu Google Cloud untuk proses produksi yang lebih dinamis dan praktis. Google Cloud sendiri bisa Anda dapatkan dengan berlangganan melalui authorized partner yang sudah ditunjuk oleh Google. Untuk Anda yang berada di Indonesia bisa mulai berlangganan melalui EIKON Technology. Melalui EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia, Anda dapat berlangganan Google Cloud secara legal dan cepat. Hubungi EIKON Technology sekarang juga di sini!

Info

Aplikasi Sistem Zero Trust Terpadu dengan BeyondCorp dan BeyondProd

Akhir-akhir ini, istilah zero trust sering digunakan dalam pembahasan tentang keamanan siber. Namun, ada kalanya istilah tersebut salah dipahami maknanya. Banyak yang mengira bahwa Zero Trust berarti “tidak percaya pada apa pun” ada juga mengartikan sebagai “akses yang 100% aman bahkan tanpa menggunakan VPN (Virtual Private Network). Benarkah demikian? Pada dasarnya, inti dari pendekatan Zero Trust adalah meyakini bahwa tiap komponen tunggal dari sebuah sistem yang kompleks dan berhubungan berpotensi menimbulkan risiko keamanan yang signifikan. Jadi, “trust” sendiri adalah sesuatu yang perlu dibangun melalui berbagai mekanisme dan harus terus melalui proses verifikasi. Pendekatan ini sendiri telah diterapkan oleh Google pada sebagian besar aspek operasi mereka. Melalui BeyondCorp Enterprise, Google meluncurkan layanan yang mencakup perlindungan terhadap threat dengan integrasi data. BeyondCorp kemudian dikembangkan lagi hingga akhirnya melahirkan layanan keamanan cloud-native untuk sistem internal, BeyondProd. BeyondProd layanan berbasis zero trust dari Google Photo Credit: Google Cloud BeyondProd sendiri pertama diperkenalkan melalui white paper yang diterbitkan Google di penghujung tahun 2019.  Secara garis besar, BeyondProd mengembangkan prinsip-prinsip keamanan siber berikut: Perlindungan tepi jaringan komputer (network edge), sehingga workload terpisah dari serangan jaringan dan traffic yang berbahaya. Tidak ada “mutual trust” antar layanan. Jadi, layanan hanya dapat digunakan oleh pengguna yang dikenal dan diberi akses khusus. Langkah ini akan menghalangi penyerang untuk mengakses layanan. Mesin tepercaya yang dirancang dengan teknologi Titan. Penggunaan mesin ini akan membatasi akses kode hanya dari sumber yang jelas, menggunakan konfigurasi resmi, dan hanya bisa dijalankan pada lingkungan yang telah terverifikasi. Penggunaan choke point untuk penerapan policy yang konsisten. Penggantian rollout yang lebih sederhana dan bisa berjalan otomatis. Dengan begitu, perubahan pada infrastruktur lebih mudah dievaluasi. Security patches pun bisa dijalankan dengan efek minimal pada proses produksi. Penyekatan antara workloads yang berbagi sistem operasi. Jika satu workload tersusupi maka keamanan workload lainnya yang berjalan di satu host tidak akan terpengaruh.. Perbedaan BeyondCorp dengan BeyondProd BeyondCorp lahir sebagai solusi atas perubahan model kerja masyarakat. Seperti yang Anda ketahui, saat ini banyak orang yang bekerja di luar kantor (remote). Otomatis, mereka pun berada di luar batas keamanan jaringan siber kantor. BeyondCorp menawarkan solusi dengan menciptakan sebuah batas keamanan di luar metode konvensional yang hanya berpatokan pada kredensial serta atribut perangkat. Baca juga: “BeyondCorp Enterprise, Pengembangan Prinsip Zero Trust pada Google Chrome” Pendekatan yang diterapkan BeyondProd pun hampir mirip. BeyondProd menerapkan zero trust untuk melindungi jaringan. Dengan menggunakan BeyondProd, layanan mikro bisa tetap berjalan meski user tidak berada di dalam pusat data yang dilindungi firewall. BeyondProd memungkinkan layanan tersebut untuk tetap berjalan secara aman di public cloud, private cloud, bahkan dalam lokasi yang di-host oleh pihak ketiga. Dalam masalah kepercayaan pengguna, BeyondCorp menitikberatkan pada keadaan perangkat sadar konteks (context-aware), bukan kemampuan untuk terhubung ke jaringan perusahaan. Sedangkan BeyondProd  fokus pada karakteristik seperti asal kode dan identitas layanan, bukan lokasi jaringan produksi (seperti IP atau identitas host). Mengaplikasikan prinsip BeyondProd Photo Credit: Raw Pixel Google secara terbuka menawarkan layanan BeyondProd kepada pengguna Google Cloud. Anda bisa menemukan fitur-fitur khas BeyondProd dalam platform tersebut, misalnya Anthos melalui fitur Binary Authorization dan Anthos Service Mesh. Jika ingin menerapkan prinsip BeyondProd di lingkungan Anda sendiri, Google menyediakan beberapa komponen yang dapat diakses melalui Anthos, Google Kubernetes Engine (GKE), dan juga beberapa open source seperti: Envoy, untuk pemutusan TLS dan kebijakan traffic masuk. Anthos Service Mesh, perangkat keamanan zero trust untuk mengamankan layanan dan komunikasi di dalamnya secara otomatis. Anthos Identity Services, Layanan Identitas Anthos untuk mendukung federasi identitas di seluruh lingkungan. Otorisasi Biner. Anthos Config Management Policy Controller. Node GKE terlindung. gVisor atau GKE Sandbox, untuk penyekatan workloads. Seluruh kemudahan dan keamanan yang ditawarkan BeyondProd dapat Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud. Nah, untuk berlangganan Google Cloud sendiri, sebaiknya hubungi partner resmi yang telah diakui Google untuk mendistribusikan produk mereka. Di Indonesia sendiri ada EIKON Technology. EIKON Technology merupakan mitra resmi Google di Indonesia yang menyediakan produk serta solusi dari Google secara legal. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Info

5 Tips Penggunaan Multicloud yang Efektif untuk Dapatkan Lebih Banyak Manfaat

Multicloud merupakan strategi pengelolaan cloud yang menggabungkan dua atau lebih cloud computing. Dalam penggunaannya, jenis komputasi awan yang digunakan tidak harus selalu sama, tapi bisa juga memadukan beberapa model cloud yang berbeda sekaligus. Misalnya, memadukan layanan private cloud dengan public cloud. Jika dibandingkan dengan arsitektur homogen, multicloud tentu memiliki beberapa keunggulan. Salah satu alasannya adalah untuk mencegah data loss akibat kegagalan pada komponen lokal cloud. Ada juga yang mengadopsi layanan ini untuk menghindari terjadinya vendor lock-in. Dengan berbagai kemudahan tersebut, jelas inovasi komputasi awan yang ini sulit untuk dilewatkan. Nah, agar penggunaan multicloud di perusahaan Anda lebih optimal, simak tipsnya berikut ini. Tentukan alasan yang jelas sebelum adopsi multicloud Arsitektur komputasi awan yang heterogen memang telah terbukti dapat mendatangkan benefit bagi perusahaan. Namun bukan berarti setiap perusahaan harus mengadopsi layanan tersebut untuk beroperasi. Ada kalanya, penggunaan arsitektur yang homogen seperti private cloud on-prem saja justru lebih tepat. Untuk itu, sebelum mengambil keputusan, Anda harus tahu pasti apa alasan menggunakan layanan tersebut. Misalnya, untuk tujuan akomodasi merger atau akuisisi bisnis. Katakanlah perusahaan A mengakuisisi perusahaan B. Sistem komputasi awan yang digunakan perusahaan B adalah Y, sedangkan perusahaan Anda menggunakan Z. Maka multicloud bisa menjadi solusi. Hindari rekayasa berlebihan pada workload dan portabilitas data Photo Credit: PxHere Saat mengadopsi komputasi awan yang heterogen Anda mungkin akan berpikir untuk membangun sebuah “jembatan” guna menghubungkan tiap layanan penyedia cloud. Sebaiknya gagasan tersebut dihindari. Pasalnya, setiap platform penyedia cloud memiliki keunikannya masing-masing. Membangun “jembatan” hanya akan menambah workload tiap cloud. Jika Anda memang menggunakan beberapa public cloud dalam satu waktu, usahakan untuk menggunakan layanan cloud asli. Manfaatkanlah fitur berbeda yang ditawarkan oleh tiap platform. Baru kemudian lakukan integrasi saat diperlukan. Baca juga: Mengatur Workflow Data di Google Cloud dengan Google Composer Pilih komponen dasar yang tepat Salah satu strategi yang efisien untuk memaksimalkan manfaat multicloud adalah dengan memilih komponen dasar yang tepat. Untuk Anda yang menggunakan Google Cloud misalnya, bisa menggunakan komponen dasar dari Google seperti Kubernetes. Dengan menggunakan komponen dasar yang tepat dan cocok dengan cloud lokal, maka Anda bisa mendapatkan pengalaman yang konsisten di seluruh cloud. Hal ini jelas akan memudahkan dalam mengatur container, mengelola infrastruktur serta layanan cloud lokal. Jangan ragu untuk bertanya pada orang lain Photo Credit: Raw Pixel Ada banyak sekali formula yang bisa Anda terapkan agar kinerja multicloud optimal. Namun waktu dan sumber daya yang Anda miliki tentu terbatas. Anda tidak mungkin mencoba semua formula tersebut untuk tahu mana yang paling optimal. Solusinya, jangan ragu untuk bertanya kepada orang lain. Tanyakan pada mereka, arsitektur dan sistem mana yang berhasil. Di waktu yang bersamaan, jangan lupa juga untuk membagikan pengalaman Anda selama merancang komputasi awan heterogen. Meski kelihatannya sepele, trik ini selalu berhasil, terutama untuk menghindari perangkap yang umum terjadi. Update pengetahuan Anda dengan membaca penelitian, mengikuti konferensi atau tonton video untuk mempelajari studi kasus yang sering terjadi. Bergabung dengan komunitas online pun tidak ada salahnya untuk dicoba. Anda juga bisa berkonsultasi dengan layanan penyedia cloud seperti EIKON Technology untuk mengetahui mana sistem yang paling cocok.   Gunakan Google Cloud sebagai jangkar   Sebelum menerapkan multicloud Anda sudah harus bisa menentukan, akan menggunakan on-prem dan menerapkannya pada cloud atau menggunakan cloud dan menerapkannya pada on-prem. Jika Anda memang benar-benar sudah yakin untuk menggunakan multicloud, jelas opsi kedua adalah jawabannya. Anda bisa gunakan Google Cloud sebagai jangkar ke lokasi yang ingin dituju. Untuk kebutuhan ini, fitur Anthos dapat diandalkan. Dengan Anthos, Anda bisa menjalankan armada Kubernetes agar terdistribusi merata di Google Cloud dan seluruh cloud lainnya, Langkah ini sangat efisien untuk mengurangi workload sekaligus mengelola keamanan. Bagaimana, sudah tidak sabar untuk merasakan beragam kemudahan multicloud? Jika jawaban Anda iya, maka mengadopsi layanan Google Cloud bisa dijadikan solusi. Lalu, bagaimana cara mendapatkannya? Untuk masalah itu, Anda bisa mempercayakannya pada EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

3 Fitur Baru BeyondCorp Enterprise untuk Tingkatkan Keamanan Akses Resources Perusahaan Anda

Sejak diluncurkan awal tahun 2021 lalu, BeyondCorp Enterprise terus melakukan evaluasi terhadap produk mereka guna memenuhi setiap kebutuhan pengguna dan tentunya untuk meningkatkan keamanan mereka. Prinsip zero trust yang diusung BeyondCorp pun terus dikembangkan untuk menciptakan sebuah ruang aman bebas dari intaian bahaya kejahatan siber. Nah, Anda bisa membuktikan inovasi yang dilakukan BeyondCorp melalui tiga fitur yang baru mereka luncurkan. Apa saja? Akses certificate-based melalui Kontrol Layanan VPC Photo Credit: Google Cloud Fitur baru BeyondCorp Enterprise yang pertama adalah akses certificate-based untuk Google Cloud Platform (GCP)API melalui Kontrol Layanan VPC (VPC-SC). Autentikasi akses menuju Google Cloud Console dan Google Cloud API dengan menggunakan kredensial sebenarnya bukanlah hal baru. Namun jika kredensial tersebut tidak sengaja terekspos, dampaknya bisa berbahaya. Kredensial dapat ditemukan oknum yang tak bertanggungjawab untuk mendapatkan akses. Dengan adanya akses certificate-based maka risiko pencurian kredensial akan berkurang. Sebab, akses hanya akan diberikan jika sertifikat perangkat dapat diverifikasi oleh sistem. Saat ini Google menawarkan dukungan untuk delapan jenis resources Kontrol Layanan VPC yaitu BigQuery, Cloud KMS, GCS,GCE, GKE, Logging, PubSub, dan Spanner. Jumlah resources tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Konektor On-premises Pada update BeyondCorp Enterprise terbaru, Google menyediakan opsi tambahan untuk menghubungkan resources lokal melalui fitur konektor On-premises mereka. Dengan konektor On-premises ini, Anda dapat mengamankan resources lokal seperti aplikasi berbasis HTTP atau HTTPS di luar Google Cloud dengan menggunakan Identity-Aware Proxy (IAP). Saat Anda mengajukan sebuah aplikasi lokal, IAP akan otomatis mengautentikasi dan menyetujui pengajuan tersebut. Setelah itu, Anda akan diarahkan pada konektor. Konfigurasi kebijakan akses khusus yang lebih mudah Berikutnya, BeyondCorp Enterprise menawarkan lebih banyak atribut pada akses zero trust dalam Access Context Manager. Dengan adanya pembaruan ini, administrator dapat membuat kebijakan kontrol akses yang lebih detail untuk melindungi resources mereka di Google Cloud. Apa saja atribut baru yang bisa Anda sematkan untuk akses zero trust? Waktu dan tanggal Ada kalanya administrator perlu membatasi akses user menuju resources pada hari dan waktu tertentu, terutama saat mereka sedang mengevaluasi akses zero trust. Dengan fitur konfigurasi baru dari BeyondCorp Enterprise, administrator dapar menentukan kontrol akses menuju resources dalam rentang waktu atau tanggal tertentu. Tingkat kekuatan kredensial Photo Credit: Elchinator (Pixabay) Salah satu upaya preventif untuk mencegah pelanggaran keamanan adalah dengan melakukan verifikasi dua langkah (two-steps verification). Dengan menerapkan penilaian terhadap kekuatan kredensial maka perusahaan bisa lebih mudah menerapkan kontrol akses. Chrome Browser Sebelum memberikan akses, administrator akan menilai tingkat keamanan user. User yang mengakses resources perusahaan dengan tingkat keamanan tinggi maka akan lebih mudah mendapat akses. Sebaliknya, user yang memiliki tingkat keamanan rendah cenderung lebih sulit mengakses resources atau bahkan tidak akan mendapat akses sama sekali. Bagaimana administrator menilai tingkat keamanan user? Selain dari tingkat kredensialnya, user juga dinilai dari lingkungan browser atau peramban yang ia gunakan, Melalui fitur baru ini, administrator dapat menentukan akses untuk user dari status manajemen, versi minimum peramban, aktivasi pemeriksaan URL real-time, aktivasi analisis unggah dan unduh file, aktivasi fitur paste (untuk bulk text), hingga aktivasi pelaporan peristiwa. Photo Credit: Firmbee (Pixabay) Meski tergolong baru, inovasi-inovasi yang dilakukan BeyondCorp Enterprise dalam mengupayakan sistem keamanan tingkat tinggi untuk melindungi resources patut diacungi jempol. Buktinya dapat dilihat dari tiga fitur baru yang dibahas dalam artikel ini. Merasa sistem perlindungan resources perusahaan Anda perlu ditingkatkan? BeyondCorp bisa menjadi solusi yang efektif sekaligus praktis. Untuk menggunakan fitur-fiturnya, dapat dilakukan dengan cara berlangganan Google Cloud. Tidak perlu bingung mencari layanan penyedia Google Cloud. Anda cukup menghubungi EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google dalam distribusi produk dan layanan mereka, termasuk Google Cloud. Anda juga bisa berdiskusi dengan tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud yang paling sesuai kebutuhan.

Scroll to Top