EIKON Technology

multicloud

Cloud Computing, Google Cloud

Menimbang Kembali Open Source dan Keamanan Multicloud

Teknologi open source telah menjadi bagian integral dari komputasi sejak era paling awal, bahkan sebelum lahirnya pusat teknologi modern seperti Silicon Valley. Proyek open source merupakan fondasi lahirnya beberapa perangkat lunak paling populer di dunia, seperti Mozilla Firefox dan sistem operasi Linux. Ulasan kali ini akan membahas sekilas tentang konsep dasar teknologi open source, peran yang dimainkannya di dunia multicloud, serta perspektif developer dalam menggunakan teknologi tersebut dalam mendukung pekerjaan mereka sehari-hari. Memahami konsep dasar open source Photo Credit: lucabravo (Freepik) Konsep dasar multicloud ada pada kemampuan untuk menjalankan beban kerja di cloud, sekaligus mampu memilih penyedia yang paling cocok untuk mengerjakan bagian tertentu dari beban kerja. Mengadopsi teknologi dan bahasa open source akan membantu perusahaan untuk mengoptimalkan alat yang mereka butuhkan, terlepas dari penyedia cloud, tanpa takut terkunci di penyedia tertentu. Saat Anda memikirkan tentang berpindah di lingkungan yang berbeda, apakah itu cloud ke cloud, atau desktop pengembang ke tujuan akhir, atau justru dari pusat data ke cloud Anda, perangkat lunak open source selalu memungkinkan Anda melakukan itu. Kemudian, multicloud hanyalah perpanjangan dari itu. Dengan begitu, Anda tak perlu merasa kesulitan jika harus menjalankan perangkat lunak yang sama dengan perangkat yang berbeda. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Tantangan baru dalam keamanan dengan multicloud Photo Credit: creativeart (Freepik) Makin banyaknya perusahaan yang mengadopsi pendekatan multicloud, pertanyaan tentang bagaimana menjaga keamanan di lingkungan yang kompleks ini dan meningkatnya beban tim SecOps lantas menjadi perhatian utama. Tantangan cloud yang dihadapi oleh tim yang lebih tradisional berkisar dari jenis telemetri dan log hingga volume dan kurangnya kejelasan kasus penggunaan deteksi. Namun, masalah tersebut meningkat saat penggunaan diperluas dengan menyertakan banyak cloud. Situasi semacam ini dapat menimbulkan hambatan baru, karena cara menangani sesuatu di satu penyedia kemungkinan akan sama sekali berbeda di penyedia lainnya. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Saat menggunakan multicloud, Anda harus memahami seperti apa cara kerja dengan satu penyedia terlebih dahulu. Ibaratnya, saat Anda perlu memperbaiki 3 buah mobil, maka sebelumnya Anda sudah harus tahu cara memperbaiki sebuah mobil. Pun demikian dengan multicloud.  Anda harus sudah paham betul dengan cara menggunakan cloud sebelum naik ke multicloud. Untuk mengatasi tantangan keamanan multicloud, Anda bisa menerapkan tips berikut ini: Pelajari lebih banyak cloud, bukan lebih sedikit, terlebih jika Anda menggunakan multicloud. Ini karena teknologi multicloud membutuhkan lebih banyak pengetahuan cloud, Anda tidak dapat mempelajari satu penyedia, kemudian menganggapnya selesai. Anda harus memahami perbedaannya agar dapat mengamankan beberapa lingkungan cloud sekaligus. Fokus pada pembelajaran manajemen cloud identity dan perbandingannya dengan fungsi layanan manajemen identitas tradisional Anda. Mulailah dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan di satu cloud, lalu lanjutkan dengan cloud lain yang Anda gunakan. Jelajahi di mana area ancaman berubah di lingkungan cloud saat Anda merencanakan aktivitas deteksi dan respons untuk memahami apakah deteksi tersebut masuk di cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Google Cloud menghadirkan diskusi rutin melalui akun Twitter mereka, @googlecloud. Melalui podcast bertajuk #MulticloudMindset, Anda dapat menyimak informasi mengenai keamanan cloud, pertimbangan dan tantangan utama yang dihadapi tim keamanan, dan beberapa praktik terbaik yang berguna untuk keamanan di lingkungan multicloud. Menggunakan teknologi cloud akan memudahkan Anda untuk mengembangkan perangkat lunak atau program tanpa harus terbatas dengan perangkat tertentu. Cukup dengan koneksi internet saja, Anda sudah bisa terhubung dengan progres pengembangan perangkat lunak, di mana pun dan kapan pun. Google Cloud menawarkan teknologi cloud tercanggih yang telah terjamin keamanannya untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology, authorized reseller produk Google Cloud di Indonesia. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs

Hybrid dan multicloud cenderung menghasilkan log tanpa batas, seperti log aplikasi dan server, log yang terkait dengan layanan cloud, API, orchestrators, gateways, dan hal lain yang berjalan di lingkungan tersebut. Volume tinggi tersebut kemudian menyebabkan sistem logging menjadi lambat dan lebih sulit dikelola saat Anda memerlukannya untuk memecahkan masalah. Saat ini, rangkaian operasi Google Cloud memainkan peran penting dalam modernisasi framework aplikasi apa pun. Selain itu, Google Cloud juga semakin sering digunakan untuk memastikan keandalan dan keamanan aplikasi, menyediakan pemantauan, pencatatan, dan peringatan. Artikel kali ini akan membahas bagaimana hybrid cloud logs dari Google Cloud dapat membantu Anda untuk menemukan insights dan troubleshooting yang lebih baik. Mari pelajari bersama. Meningkatkan kualitas operasi pelanggan Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana Google Cloud bekerja mengelola lingkungan hybrid dan multicloud, mari simak studi kasus mengenai dua pengalaman pelanggan berikut: Pelanggan 1: sebuah perusahaan media besar yang bermasalah dengan pencatatan mereka yang terlalu lambat untuk bisa mendukung pemecahan masalah real-time. Pelanggan 2: sebuah penyedia telekomunikasi besar yang merasa tidak mendapatkan insights berharga dari banyak terabyte log jaringan yang mereka serap tiap harinya. Insights tersebut tidak harus datang real-time. Analisis studi kasus Photo Credit: Rawpixel Kedua pelanggan menggunakan produk open source yang dikelola sendiri dan populer untuk penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Namun seiring dengan meningkatnya volume logs mereka, biaya infrastruktur dan biaya operasional untuk mendukung logs pun ikut meningkat. Keduanya juga berbagi karakteristik berikut: Setup kedua perusahaan perlu penyimpanan SSD serta VMs besar sebagai saluran penyerapan, penyimpanan, dan pengambilan. Kedua perusahaan menghadapi risiko karena ketergantungan pada pada satu resource untuk manajemen log mereka. Keduanya memiliki antrean data pipeline yang menumpuk. Salah satunya bahkan tidak mendapatkan log di saat mereka membutuhkan, misalnya saat mengalami kegagalan aplikasi atau infrastruktur berdampak pada SLA (service level agreement) produk dan layanan mereka). Baca juga: Cloud IDS Untuk Deteksi Ancaman Berbasis Jaringan Sekarang Tersedia Secara Umum Solusi yang ditawarkan Sebagai solusi, mereka perlu mengurangi biaya, mengurangi risiko kegagalan, dan menentukan volume log yang perlu mereka serap dan simpan untuk mendapatkan analytical insights. Dari situ terlihat pola yang berbeda hingga memunculkan dua opsi solusi berikut: Pelanggan 1: Melakukan routing pada log sistem dan aplikasi dari layanan hybrid dan multicloud mereka ke Cloud Logging untuk pemecahan masalah real-time serta mengurangi biaya dan beban operasional. Pelanggan 2: Melakukan routing pada log jaringan mereka langsung ke BigQuery. Dengan begitu, mereka dapat mengelola biaya dan madapatkan insights yang lebih baik. Pola 1: Cloud Logging untuk manajemen resource dan troubleshooting Pola ini cocok untuk perusahaan yang perlu memecahkan masalah berdasarkan real-time logs. Di sini, fokus utamanya terletak pada log dan metrik penting. Sedangkan log yang tidak diperlukan untuk pemecahan masalah real-time diambil sampelnya dan disaring sesuai kebutuhan. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola di atas sesuai dengan Pelanggan 1 dalam studi kasus ini karena kasus penggunaan mereka difokuskan pada pemecahan masalah dan log jaringan terperinci hanya diperlukan untuk analitik. Keuntungan yang bisa didapat di antaranya: Dikelola sepenuhnya, sehingga pelanggan dapat fokus pada pengembangan aplikasi. Hemat biaya dengan kombinasi Cloud Logging dan BigQuery. Memberikan dasar untuk operasi self-healin di masa depan dengan metrik berbasis log. Pola 2: BigQuery untuk analisis log dalam skenario hybrid dan multicloud Pola ini direkomendasikan untuk pelanggan yang perlu menjalankan model untuk deteksi anomali, pengenalan pola, dan tindakan lain yang terkait dengan log jaringan mereka. Di sini, BigQuery bisa menjadi solusi. Selain karena memiliki biaya rendah, BigQuery juga dilengkapi dengan AI dan ML bawaan serta skala global. Photo Credit: Google Cloud Blog Pola ini menyediakan beberapa keuntungan berikut: Solusi hemat biaya untuk log jaringan volume tinggi. Mesin analitik bawaan untuk log insights. Penggunaan BigQuery API untuk menampilkan data ke dashboard dan menggunakan analytical insights. Baca juga: Do’s Dan Don’ts Yang Harus Diketahui CSP Sebelum Menerapkan Cloud-Native Rangkaian operasi Google Cloud sangat mudah untuk digunakan. Terlebih karena rangkaian ini mendukung berbagai kasus penggunaan lainnya. Contoh studi kasus di atas menunjukkan bahwa solusi yang disediakan Cloud selalu terintegrasi satu sama lain. Jika ingin mendapatkan manfaat maksimal dari Hybrid Cloud Logs, sebaiknya gunakan Google Cloud. Kini, Anda bisa memilih layanan Google Cloud yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan melalui EIKON Technology, authorized partner Google untuk Indonesia. Klik di sini untuk mulai konsultasi dengan tim EIKON Technology!

Info

5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya

Saat ini, multicloud telah menjadi kebutuhan banyak perusahaan, baik yang berskala besar maupun sedang. Hal ini tidak mengherankan jika melihat perkembangan dunia TI yang semakin kompleks dari hari ke hari. Semakin kompleks sistem yang ada maka satu layanan cloud saja rasanya tidak akan cukup. Jelas Anda bisa memilih untuk menjadi ahli salah satu cloud saja. Meski begitu, memiliki kefasihan terhadap beberapa jenis cloud sekaligus terbukti bisa membuka peluang yang lebih luas. Setidaknya, dua dari tiga raksasa penyedia cloud (Google Cloud, Amazon Web Service, dan Microsoft Azure) membuka beberapa pilihan karier yang dioptimalkan untuk perkembangan cloud di masa depan. Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana cara untuk mulai mempelajari ekosistem multicloud. Seperti apa tipsnya? Mari simak penjelasannya berikut ini. Tips mempelajari ekosistem multicloud Dari bagian pembuka kita bisa tahu bahwa kedekatan dengan beberapa cloud sekaligus dapat membuka peluang karier yang lebih luas. Namun, mempelajari satu jenis cloud saja terkadang sudah terasa berat. Lalu bagaimana cara memetakan karier multicloud tanpa merasa “lelah” mempelajari satu jenis cloud yang belum Anda kenal sebelumnya? Pahami konsep inti dengan baik Seperti yang Anda ketahui, setiap cloud berbeda. Meski begitu, jika diperhatikan, semua cloud yang ada sebenarnya memiliki pendekatan dasar yang sama seperti dari segi jaringan virtual, ketersediaan, tinggi, hingga IAM. Hal inilah yang perlu menjadi dasar pemikiran Anda saat mulai mempelajari ekosistem multicloud. Akan lebih baik jika Anda langsung belajar pada ahlinya. Coba cari tahu tentang arsitek cloud yang telah tersertifikasi. Sebab, dalam hal penerapan multicloud, praktek akan membantu Anda untuk lebih cepat paham daripada sekadar membaca materi. Perkuat pemahaman cloud utama Anda Photo Credit: Piqsels Sebelum terjun dalam ekosistem multicloud, penting bagi seorang insinyur cloud untuk memiliki tingkat kefasihan tinggi pada salah satu penyedia cloud. Ini karena kebanyakan lowongan cloud engineering yang ada saat ini, memerlukan keahlian dengan pemahaman signifikan pada cloud tertentu. Perlu diingat, seorang pakar multicloud sekalipun pasti memiliki satu satu jenis cloud yang lebih dikuasai. Cara terbaik untuk mulai “menyeberang” ke multicloud setelah memperkuat cloud utama Anda adalah bekerja dalam sebuah tim dengan kepakaran cloud yang berbeda-beda.  Pengalaman langsung seperti ini akan memudahkan Anda untuk lebih dekat dengan jenis cloud baru. Serap pengetahuan sebanyak mungkin pada cloud sekunder Agar Anda tidak hanya jalan di tempat, pastikan untuk selalu memacu diri. Sambil memperdalam pemahaman cloud utama, mulai ambil sertifikasi cloud sekunder Anda. Langkah seperti ini akan membantu Anda mendapatkan pekerjaan melalui pemahaman cloud utama dan “menyadari” keberadaan cloud lain. Jadi, saat nanti muncul peluang untuk membangun cloud sekunder, Anda sudah siap. Baca juga: 5 Tips Penggunaan Multicloud Yang Efektif untuk Dapatkan Lebih Banyak Manfaat Manfaatkan sebaik mungkin layanan cloud-native Inti penggunaan cloud adalah memanfaatkan layanan terbaik dari cloud tersebut. Biasanya, hal tersebut berarti memanfaatkan layanan terkelola asli yang andal. Di sisi lain, ekosistem cloud saat ini sudah semakin matang. Dengan menginvestasikan waktu Anda untuk mempelajari alat lintas cloud tersebut maka akan ada lebih banyak lagi pintu untuk membangun hal-hal menarik dalam cloud. Pelajari lingua franca cloud Photo Credit: Piqsels Jika diibaratkan, penyedia cloud yang berbeda ibarat sebuah perumahan. Dalam sebuah perumahan, ada beberapa bangunan rumah dengan cluster berbeda namun menerapkan konsep arsitektur yang sama. Cloud pada dasarnya sama saja. Ada banyak blok, namun sebenarnya dibangun dengan satu konsep umum. Manusia seringkali belajar dengan memanfaatkan analogi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Begitu pula dengan mempelajari multicloud. Anda akan lebih mudah memahami fitur-fitur Azure jika bisa memahami cara kerja fitur yang serupa pada Google Cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Sedikit tips tambahan, saat mempelajari ekosistem multicloud, usahakan untuk selalu mengikuti pendapat tepercaya yang bisa membantu Anda memfilter hal-hal tak perlu. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Anda dapat membuat agenda rutin untuk mengikuti kelas atau event virtual. Cara efektif lainnya adalah dengan membangun proyek sampingan sebagai praktek untuk mengasah pemahaman Anda. Seperti yang sudah dibahas di atas, mempelajari ekosistem multicloud akan lebih mudah jika Anda memiliki dasar yang kuat pada cloud utama. Jika pilihan cloud utama jatuh pada Google Cloud, sebaiknya Anda mulai berlangganan layanan resminya agar mudah mengakses seluruh layanan dan tools di dalamnya. Dapatkan Google Cloud secara legal dengan sertifikat resmi dari Google melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni

Penerapan strategi multicloud bukan lagi menjadi hal aneh, terlebih di era yang serba digital seperti sekarang ini. Laporan riset yang dilakukan Flexera menunjukkan bahwa dari 750 perusahaan korporat di Amerika Serikat, 92% persen di antaranya sudah menerapkan strategi multicloud. Strategi multicloud diterapkan karena perusahaan ingin mendapatkan yang terbaik dalam hal penyimpanan data mereka. Meski multicloud kemudian mengambil bagian terbaik dari tiap penyedia layanan cloud, strategi ini kemudian menimbulkan kompleksitas, baik itu dari segi integrasi, orkestrasi, hingga tata kelola data. Tantangannya tidak hanya berhenti di situ. Ketika perusahaan membangun dan menjalankan jaringan data mereka di cloud, dalam waktu yang bersamaan mereka juga mengelola analitik di seluruh penyedia cloud yang dipakai. Tanpa disadari, hal ini akan menimbulkan silo data yang menyebabkan gesekan bagi analis data. Sebagai solusi, perusahaan yang menerapkan strategi multicloud sebaiknya juga menerapkan analisis multicloud untuk memudahkan para analis data memecah silo data. Google Cloud menyediakan solusi atas permasalahan tersebut melalui BigQuery Omni. Seperti apa kemudahan analisis data multicloud dengan BigQuery Omni ini? Analisis data lintas cloud yang lebih mudah Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery Omni menawarkan kemudahan dalam melakukan analitik data, baik yang tersimpan dalam satu cloud maupun lintas cloud. Dalam versi general yang Q4 tahun 2021 ini, BigQuery memungkinkan Anda untuk melakukan analitik data lintas cloud mulai dari Google Cloud, Amazon Web Services (AWS), dan juga Microsoft Azure. Bahkan Google memastikan Anda akan mendapatkan koneksi yang aman untuk mengakses data S3 di AWS maupun data Azure Blob Storage milik Azure. Dengan begitu, analis data bisa membuat kueri data secara langsung cukup melalui interface BigQuery saja, tanpa harus membuka tempat data berada. Fungsionalitas dan integrasi tinggi BigQuery Omni tidak sekadar menyediakan layanan analitik lintas cloud biasa, tapi platform ini juga menyediakan lebih banyak fungsionalitas dan integrasi, bahkan di seluruh cloud. Katakanlah Anda ingin menggabungkan data kompetitor yang tersimpan di AWS dengan data engagement ads di Google Cloud agar lebih memahami efektivitas campaign yang sedang berjalan. Dengan BigQuery, Anda bisa langsung melakukannya hanya dengan membuka satu interface. Lebih simpel hemat biaya. Layanan multicloud yang seamless Photo Credit: Rawpixel BigQuery Omni menyediakan konsol pengoperasian satu panel kaca di semua cloud penyimpanan data. Hal ini kemudian memungkinkan tim analis untuk memperluas skill mereka dalam memaksimalkan potensi bisnis perusahaan tanpa harus mempelajari keterampilan baru. Perusahaan juga tidak perlu khawatir tentang lokasi data disimpan. Ini karena BigQuery Omni sendiri didesain menggunakan APIs (Application Programming Interface) yang sama dengan pendahulunya, Google BigQuery. Pada Google BigQuery, lokasi penyimpanan (baik itu AWS, Azure, maupun Cloud) begitu diperhatikan karena merupakan detail implementasi mereka. Pola keamanan yang konsisten Pada skala perusahaan, ada lebih banyak asset data yang dibuat. Maka dari itu, menerapkan pemberian akses yang tepat bisa menjadi tantangan tersendiri. Tim keamanan data perusahaan perlu kontrol menyeluruh terhadap akses data. Bukan hanya itu, mereka juga perlu detail sebanyak mungkin untuk keperluan sinkronisasi data yang aman. Dengan BigQuery, Anda tidak perlu khawatir dengan keamanan data lagi. Sebab, akses menuju data bisa dikontrol dengan mudah oleh tim keamanan namun tetap dengan pola keamanan yang konsisten. Mendorong terjadinya inovasi Photo Credit: Rawpixel Penerapan analisis data lintas cloud menjauhkan perusahaan dari potensi penimbunan data yang tidak konsisten. Dengan memanfaatkan layanan seperti BigQuery Omni, Anda bisa dengan mudah mendapatkan data yang tepat untuk pengambilan keputusan. Saat proses pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan cepat maka perusahaan pun bisa lebih berkembang. Kemungkinan untuk melahirkan inovasi baru pun bukan hal mustahil. Jadi, mengapa tidak mulai menerapkan strategi multicloud dengan analitik BigQuery Omni dari sekarang? Baca juga:  Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud Dengan adanya layanan analitik data seperti BigQuery Omni maka penerapan strategi multicloud menjadi tidak terlalu rumit lagi. Perusahaan pun bisa menghemat banyak waktu dan tentunya biaya karena seluruh proses analitik bisa dilakukan dengan satu interface saja. Ingin mulai menerapkan strategi multicloud di perusahaan? Anda bisa mulai dengan menerapkan infrastruktur cloud seperti Google Cloud. Dengan menerapkan cloud computing, perusahaan pun bisa mencapai efisiensi bisnis. Google Cloud bisa Anda dapatkan melalui official partner Google seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lengkap mengenai Google Cloud.

Info

5 Tips Penggunaan Multicloud yang Efektif untuk Dapatkan Lebih Banyak Manfaat

Multicloud merupakan strategi pengelolaan cloud yang menggabungkan dua atau lebih cloud computing. Dalam penggunaannya, jenis komputasi awan yang digunakan tidak harus selalu sama, tapi bisa juga memadukan beberapa model cloud yang berbeda sekaligus. Misalnya, memadukan layanan private cloud dengan public cloud. Jika dibandingkan dengan arsitektur homogen, multicloud tentu memiliki beberapa keunggulan. Salah satu alasannya adalah untuk mencegah data loss akibat kegagalan pada komponen lokal cloud. Ada juga yang mengadopsi layanan ini untuk menghindari terjadinya vendor lock-in. Dengan berbagai kemudahan tersebut, jelas inovasi komputasi awan yang ini sulit untuk dilewatkan. Nah, agar penggunaan multicloud di perusahaan Anda lebih optimal, simak tipsnya berikut ini. Tentukan alasan yang jelas sebelum adopsi multicloud Arsitektur komputasi awan yang heterogen memang telah terbukti dapat mendatangkan benefit bagi perusahaan. Namun bukan berarti setiap perusahaan harus mengadopsi layanan tersebut untuk beroperasi. Ada kalanya, penggunaan arsitektur yang homogen seperti private cloud on-prem saja justru lebih tepat. Untuk itu, sebelum mengambil keputusan, Anda harus tahu pasti apa alasan menggunakan layanan tersebut. Misalnya, untuk tujuan akomodasi merger atau akuisisi bisnis. Katakanlah perusahaan A mengakuisisi perusahaan B. Sistem komputasi awan yang digunakan perusahaan B adalah Y, sedangkan perusahaan Anda menggunakan Z. Maka multicloud bisa menjadi solusi. Hindari rekayasa berlebihan pada workload dan portabilitas data Photo Credit: PxHere Saat mengadopsi komputasi awan yang heterogen Anda mungkin akan berpikir untuk membangun sebuah “jembatan” guna menghubungkan tiap layanan penyedia cloud. Sebaiknya gagasan tersebut dihindari. Pasalnya, setiap platform penyedia cloud memiliki keunikannya masing-masing. Membangun “jembatan” hanya akan menambah workload tiap cloud. Jika Anda memang menggunakan beberapa public cloud dalam satu waktu, usahakan untuk menggunakan layanan cloud asli. Manfaatkanlah fitur berbeda yang ditawarkan oleh tiap platform. Baru kemudian lakukan integrasi saat diperlukan. Baca juga: Mengatur Workflow Data di Google Cloud dengan Google Composer Pilih komponen dasar yang tepat Salah satu strategi yang efisien untuk memaksimalkan manfaat multicloud adalah dengan memilih komponen dasar yang tepat. Untuk Anda yang menggunakan Google Cloud misalnya, bisa menggunakan komponen dasar dari Google seperti Kubernetes. Dengan menggunakan komponen dasar yang tepat dan cocok dengan cloud lokal, maka Anda bisa mendapatkan pengalaman yang konsisten di seluruh cloud. Hal ini jelas akan memudahkan dalam mengatur container, mengelola infrastruktur serta layanan cloud lokal. Jangan ragu untuk bertanya pada orang lain Photo Credit: Raw Pixel Ada banyak sekali formula yang bisa Anda terapkan agar kinerja multicloud optimal. Namun waktu dan sumber daya yang Anda miliki tentu terbatas. Anda tidak mungkin mencoba semua formula tersebut untuk tahu mana yang paling optimal. Solusinya, jangan ragu untuk bertanya kepada orang lain. Tanyakan pada mereka, arsitektur dan sistem mana yang berhasil. Di waktu yang bersamaan, jangan lupa juga untuk membagikan pengalaman Anda selama merancang komputasi awan heterogen. Meski kelihatannya sepele, trik ini selalu berhasil, terutama untuk menghindari perangkap yang umum terjadi. Update pengetahuan Anda dengan membaca penelitian, mengikuti konferensi atau tonton video untuk mempelajari studi kasus yang sering terjadi. Bergabung dengan komunitas online pun tidak ada salahnya untuk dicoba. Anda juga bisa berkonsultasi dengan layanan penyedia cloud seperti EIKON Technology untuk mengetahui mana sistem yang paling cocok.   Gunakan Google Cloud sebagai jangkar   Sebelum menerapkan multicloud Anda sudah harus bisa menentukan, akan menggunakan on-prem dan menerapkannya pada cloud atau menggunakan cloud dan menerapkannya pada on-prem. Jika Anda memang benar-benar sudah yakin untuk menggunakan multicloud, jelas opsi kedua adalah jawabannya. Anda bisa gunakan Google Cloud sebagai jangkar ke lokasi yang ingin dituju. Untuk kebutuhan ini, fitur Anthos dapat diandalkan. Dengan Anthos, Anda bisa menjalankan armada Kubernetes agar terdistribusi merata di Google Cloud dan seluruh cloud lainnya, Langkah ini sangat efisien untuk mengurangi workload sekaligus mengelola keamanan. Bagaimana, sudah tidak sabar untuk merasakan beragam kemudahan multicloud? Jika jawaban Anda iya, maka mengadopsi layanan Google Cloud bisa dijadikan solusi. Lalu, bagaimana cara mendapatkannya? Untuk masalah itu, Anda bisa mempercayakannya pada EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Scroll to Top