EIKON TECHNOLOGY BLOG

12

Aug


 

Bayangkan bila Anda berada dalam satu team yang penuh dengan orang-orang yang telah terbukti memiliki kualifikasi diatas rata-rata pada project mereka. Anda pasti yakin perjalanan karir team Anda akan mulus dan sukses, 'kan? Nyatanya, yang terjadi bisa tidak demikian.

Setelah mempelajari riset yang dibuat oleh Google selama 2 tahun, rupanya siapa yang berada dalam team tersebut tidaklah lebih penting dari bagaimana mereka melakukan proses kerjasama team bersama kolega lainnya.

Google bahkan mengemukakan beberapa sales team yang terdiri dari pekerja dengan kualifikasi sedang dapat mencapai target sebanyak 19%, sedangkan team lain yang berisi para "superstar" (sebutan untuk orang-orang yang memiliki kualifikasi tinggi), malah mengalami penurunan target sebanyak 19%, yang mana perbandingannya sebesar 38% untuk nilai tertinggi dan terendah. Shocking? Nope. Here's why.

Perubahan dari "aku" menjadi "kita"

Daripada fokus terhadap pencapaian personal, team yang mencapai target diatas lebih memilih mengumpulkan pekerja yang ingin membuat perubahan dan mencapai sukses bersama-sama, sehingga mereka lebih fokus terhadap proses ketimbang hasil secara gamblang.

Pada lingkungan yang dinamis, riset dari Google menemukan bahwa individu yang berstatus superstar ini memiliki peran yang kecil dalam menyumbang kesuksesan organisasi dibanding mereka (team member) yang bersedia memberikan komitmen serius untuk kerja bersama-sama dalam meraih goal sebagai team, tidak untuk dirinya sendiri.

Mr. Prasad Setty dari Google

Lalu apa yang jadi pematik semangat dan komitmen mereka yang dapat melambungkan angka perbandingan 38% lebih tinggi dari sales team yang berisi para superstars? Berikut ini 3 faktor utama temuan Prasad Setty, VP People Analytics Google, dalam meningkatkan performa kerjasama team:

  • Tingkatkan Interaksi. Ketika Anda ingin meningkatkan interaksi pada team project, kuncinya adalah dengan menyatakan dengan jelas betapa pentingnya pencapaian tujuan yang dapat berdampak secara eksternal. Komunikasikan apa yang membuat suatu project ini dapat menjadi batu loncatan untuk perusahaan secara general, bukan hanya untuk kepentingan atasan semata.

Para pemimpin tidak hanya harus menegaskan dan menjelaskan tentang hasil akhirnya, namun juga harus memahami motivasi apa yang bisa diberikan untuk team member. Beri motivasi personal pada team member sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas diri melalui kerjasama team di project yang sedang berjalan.

  • Berikan Kepercayaan dan Dukungan. Banyak Manager menghabiskan waktu untuk kejelasan peran, tanggung jawab dan struktur, terutama pada saat awal project dimulai. "Namun bila Anda terus menerus mendengungkan struktur, maka team Anda bisa menjadi sangat rapuh" tukas Setty.

"Mereka hanya akan mengerjakan apa yang diperintahkan, tidak lebih, tidak kurang; inovasi dan antusiasme akan terasa jauh berkurang. Team yang kaku akan sulit menerima perubahan, dan mudah merasa tertekan." tambahnya.

Terkadang ketergantungan juga diperlukan sehingga team member dapat mengandalkan satu sama lain sehingga menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Namun juga perlu diingat, terlalu banyak input dari team leader juga dapat merusak suasana saling memiliki dari sebuah team.

Berikan team member Anda kebebasan dan kenyamanan untuk mengerjakan pekerjaan yang telah ditentukan dengan cara mereka. Dengan begitu, mereka dapat memberi hasil maksimal tanpa rasa tertekan.

astro_teller.jpg

  • Belajar Dari Skenario Terburuk. Astro Teller, Head of Google X "Moonshot Project", memiliki metode unik yang bisa dicontoh untuk meningkatkan kerjasama team. Tentu kita semua berharap hasil yang sangat bagus, namun Ia juga mengutarakan pentingnya untuk mengenali skenario terburuk yang bisa terjadi dalam project ini. 

"Ketahuilah semua yang telah kita rencanakan bisa gagal" Tukas Teller. Untuk itu, kita harus menyiapkan solusi dari kegagalan tersebut, dan mengubahnya menjadi kekuatan dengan meningkatkan kualitas layanan, mengurangi kesalahan, dan lakukan tindakan untuk menanggulangi kekhawatiran tersebut. Sehingga dapat menghindari terjadinya saling menyalahkan ketika project tidak berjalan semulus prediksi awal, karena mereka telah mengutarakan masalah secara terbuka sebelumnya.

Dengan begitu, team bisa memberi hasil yang sangat baik seperti terciptanya ikatan team yang kuat pada proses awal pengerjaan project. Para team member juga dapat menyadari beberapa masalah yang bisa timbul dan mengatasinya dengan lebih mudah. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dan respek pada team.

Setelah mengetahui ketiga faktor penting ini, semoga kita bisa belajar untuk membangun kerjasama team yang lebih baik lagi kedepannya. Untuk membantu Anda dalam berkolaborasi, tak ada salahnya menambah wawasan seputar alat kolaborasi berbasis cloud yang dapat membantu proses kerja yang jauh lebih mudah, efisien, dan produktif dengan Google Apps for Work yang terangkum dalam ebook gratis EIKON Technology. Download disini:

New Call-to-action

It's All About The Cloud

Welcome to EIKON Technology blog! We're excited to share our insights about the IT industry and the Cloud. Subscribe today to get the latest news.

  • Cloud News
  • Partner Updates
  • Product Releases
  • Company News

Subscribe To Updates