Author name: EIKON Technology

Azure, Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Mengenal Azure Healthcare APIs, Platform Layanan Kesehatan dari Microsoft Cloud

 Microsoft merupakan perusahaan pertama yang meluncurkan cloud untuk mengelola data dalam industri perawatan kesehatan, tepatnya di tahun 2019 lalu. Layanan bernama Microsoft Cloud for Healthcare tersebut merupakan cloud dengan layanan pihak pertama yang mengelola data layanan kesehatan secara terstruktur dalam format Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR) asli menggunakan Azure API for FHIR. Mengenal Azure Healthcare APIs Di tahun 2021 ini, Microsoft kembali melakukan inovasi dengan meluncurkan Azure Healthcare APIS. Azure Healthcare sendiri merupakan hasil perluasan layanan data kesehatan Microsoft yang memungkinkan adanya pertukaran beberapa tipe data dalam format FHIR. Platform ini dibuat khusus untuk memenuhi persyaratan dari Protected Health Information (PHI) yang memang dikenal unik. Dengan memanfaatkan Healthcare, Anda dapat menyerap, menyimpan, dan bahkan menyimpan data kesehatan di Microsoft Cloud. Healthcare juga dapat digunakan untuk menyatukan rangkaian PHI yang berbeda sehingga dapat dikembangkan sebagai alat pembelajaran, analitis, hingga Artificial Intelligence (AI). Membuka akses menuju real data Photo Credit: Microsoft Azure Bagi Anda yang bekerja di industri perawatan kesehatan seperti dokter atau peneliti klinis, tentu pernah memerlukan data kesehatan, entah itu data mengenai stok obat, dokumen CT scan atau riwayat diagnosa pasien. Meski terdengar sangat umum dan sering terjadi, kenyataannya, tidak semua pengelola data kesehatan bisa memberikan data tersebut dengan cepat, terlebih untuk database berskala besar. Penyebabnya bisa sangat variatif. Namun dalam kebanyakan kasus adalah karena beberapa penyimpanan data tidak memiliki format yang sama. Otomatis, pengelola data harus mengekstrak data terlebih dulu, dan kemudian data baru bisa disatukan dalam satu batch. Dengan Azure Healthcare APIs permasalahan tersebut dapat diatasi. Ini karena Healthcare memiliki fitur untuk menyesuaikan query sesuai dengan kebutuhan. Platform ini mampu menyerap sekaligus mengekstrak data dari sistem catatan Anda secara otomatis. Data baru pun dapat dikumpulkan dan disimpan secara real time. Berikut adalah beberapa jenis data yang dapat diproses dengan Azure Healthcare APIs: Data terstruktur seperti rekam medis dalam standar HL7 atau C-CD, data dari perangkat medis seperti HealthKit, dan database genomik. Data tidak terstruktur yang masih dapat dipetakan dengan algoritma pemrosesan natural language seperti Text Analytics for Health. Data pencitraan dalam format DICOM (Digital Imaging and Communications in Medicine). Data biometrik. Anda dapat memanfaatkan Azure IoT Connector untuk mengumpulkan data dari perangkat biometrik. Memudahkan pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan Photo Credit: Rawpixel Jika bicara masalah data kesehatan, searchability selalu menjadi topik utama. Banyak fitur, layanan, dan platform yang dibuat agar data kesehatan lebih mudah dicari dan lebih cepat temukan. Hal tersebut memang ada benarnya, namun sebaik-baiknya solusi adalah solusi yang menyelesaikan masalah dari akar. Azure Healthcare APIs tidak sekadar membantu Anda menemukan data lebih cepat, platform ini mampu menyerap dan mengelola data dan kemudian menyimpannya dalam cloud. Dengan begitu, dampak yang dirasakan bukan hanya untuk masa sekarang, tapi juga masa depat. Healthcare membantu Anda untuk membangun sebuah sistem penyimpanan yang tidak hanya “rapi” tapi juga berkelanjutan. Baca juga: 5 Inovasi Besar Diumumkan Di Microsoft Inspire 2021 Dengan adanya sistem penyimpanan data yang rapi dan mudah diakses, keputusan-keputusan bisa diambil lebih cepat. Studi observasional bisa langsung mengakses data yang tersimpan di cloud, uji klinis akan lebih mendalam dengan adanya data penelitian sebelumnya, dan keputusan lain yang berhubungan dengan perawatan kesehatan. Ekspor data lebih cepat Problem lain yang sering ditemukan dalam pengelolaan data perawatan kesehatan adalah masalah ekspor data. Sering kali, data yang diperlukan berada pada sistem penyimpanan yang berbeda. Hasilnya, Anda harus bolak-balik mengekspor data dan barulah kemudian semua data terkumpul dalam satu sistem. Healthcare memiliki connector yang telah disederhanakan sehingga Anda dapat mengekspor data lebih cepat. Data yang terkumpul kemudian dapat digunakan untuk keperluan deep learning dan AI Frameworks melalui virtual machines Azure Data Science atau Azure Synapse. Jika data diperlukan untuk keperluan lain, Microsoft menyediakan Tools for Anonymization untuk mengidentifikasi kumpulan data campuran dengan cepat. Photo Credit: Rawpixel Dari sini bisa disimpulkan bahwa Azure Healthcare APIs mendukung para pelaku industri layanan kesehatan untuk memanfaatkan dan mengelola data mereka dengan baik. Sebab, dengan pemanfaatan data yang baik, akan ada banyak manfaat yang akan didapat. Pasien akan puas dengan layanan yang Anda berikan, diagnosis bisa lebih akurat, dan studi yang berhubungan dengan kesehatan pun memiliki data yang berkualitas dan selalu update. Platform Healthcare merupakan bagian dari Microsoft Cloud. Tertarik untuk mengelola data kesehatan dengan Healthcare? Anda bisa mulai dengan menerapkan Microsoft Cloud sebagai sistem penyimpanan data. EIKON Technology sebagai partner resmi Microsoft, menyediakan layanan berlangganan Microsoft Cloud yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Klik di sini untuk terhubung dengan EIKON Technology!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365, School

5 Tips Gunakan Microsoft Education untuk Upgrade Skill Digital SDM

Tanpa disadari, masa pandemi sedikit banyak telah mengubah dunia kerja. Ada banyak aspek pekerjaan yang mengalami transformasi digital. Salah satunya adalah aspek SDM atau sumber daya manusia. Transformasi digital menuntut SDM untuk memiliki skill digital yang mumpuni. Contoh sederhananya adalah perkara meeting. Saat ini, hampir semua meeting tatap muka beralih pada meeting online. Mau tidak mau, tiap SDM harus memiliki skill untuk mengoperasikan aplikasi untuk meeting online. Maka tidak mengherankan jika IT training adalah bagian penting dalam transformasi digital. Dengan mempersiapkan SDM sebaik mungkin, maka perusahaan pun tidak akan tertinggal dalam transformasi digital yang dinamis. Begitu pula dengan para lulusan universitas yang akan terjun ke dunia kerja. Sebaiknya mulai mempersiapkan diri dengan skill digital seawal mungkin. Untuk menjawab situasi tersebut, Microsoft melalui Microsoft Education menawarkan beberapa layanan untuk membantu perusahaan dan juga institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan skill digital SDM. Artikel kali ini, akan membahas beberapa platform Microsoft Education yang bisa Anda manfaatkan untuk tingkatkan skill digital. Microsoft Learn untuk mempelajari skill baru Photo Credit: imperioame (PxHere) Platform pertama dari Microsoft Education yang bisa Anda manfaatkan adalah Microsoft Learn. Learn merupakan platform belajar yang menyediakan materi untuk meningkatkan skill digital dan pemahaman dasar mengenai teknologi. Model pembelajaran Learn pun dibuat interaktif dan dinamis. Pengguna dapat membuat akun di Learn untuk mengakses fitur tambahan seperti collections dari Microsoft. Selain itu, progres belajar dapat dilacak dengan mudah. Kesulitan mengatur materi belajar? Anda bisa mengaktifkan fitur rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Persiapkan sistem training dengan Microsoft Learn for Educators Dalam menghadapi transformasi digital yang sangat dinamis, ada baiknya perusahaan memiliki sistem training sendiri untuk melatih skill SDM. Dalam merancang sistem training perusahaan, Anda tentu memerlukan instruktur yang terlatih. Microsoft Learn menyediakan segmen khusus untuk keperluan tersebut, yaitu Educators. Melalui Educators, perusahaan dapat membantu calon instruktur training dengan menyediakan kurikulum belajar serta materi pengajaran yang terstruktur. Layanan ini telah terhubung dengan layanan Microsoft lainnya seperti Azure, Azure AI, Azure Data, dan bahkan Power Platform. Dapatkan penilaian skill resmi melalui Microsoft Certifications Setiap proses pembelajaran tentu memerlukan tahap penilaian atau assessment untuk mengukur pemahaman peserta didik. Melalui segmen Certifications dari Microsoft Education, karyawan yang telah menyelesaikan training bisa mengikuti assessment dan mendapat sertifikat resmi berisi hasil pencapaian mereka. Proses assessment yang dilakukan Microsoft Education juga di-update secara rutin menyesuaikan perkembangan teknologi terkini. Dengan begitu, penilaian dan sertifikat yang didapat karyawan pun akan selalu relevan. Azure for Students, persiapan skill digital untuk mahasiswa Photo Credit: PxHere Untuk meningkatkan skill digital tidak harus dimulai saat masuk ke dunia kerja. Para mahasiswa bisa mempersiapkan diri dengan memanfaatkan platform digital sebagai media belajar. Salah satunya adalah Azure for Students dari Microsoft. Azure for Students memungkinkan mahasiswa untuk dapat membuat aplikasi sendiri, mengembangkan AI (Artificial Intelligence), hingga memanfaatkan big data Microsoft yang memiliki akses menuju 25 layanan Azure secara gratis. Kembangkan potensi melalui Azure Lab Services Jika sebelumnya ada layanan yang ditujukan untuk mahasiswa, Microsoft juga menyediakan Azure Lab Services Azure yang dirancang khusus untuk tenaga pendidik. Layanan ini memungkinkan pendidik untuk menyiapkan serta menyediakan akses ke VM (virtual machines) untuk mendukung jalannya kegiatan belajar di kelas. Dengan kelas virtual ini, pengajar tidak hanya sekadar mengajar di ruangan kelas, tetapi juga bisa memberikan training pada profesional hingga menjalankan hackathon atau kolaborasi pengembangan proyek software. Photo Credit: Rawpixel Itulah beberapa platform dari Microsoft Education, segmen khusus dari Microsoft yang memang ditujukan untuk keperluan pembelajaran, terutama yang masih berhubungan dengan dunia IT. Perusahaan Anda sedang menjalankan transformasi digital atau justru Anda merupakan bagian dari institusi pendidikan tingkat akhir yang ingin mempersiapkan para mahasiswa dengan skill digital terkini? Microsoft Education dengan platform belajarnya yang selalu update adalah solusi terbaik. Di mana saya dapat terhubung dengan seluruh platform Microsoft Education ini? Untuk saat ini, Anda bisa mendapatkannya secara legal melalui partner resmi yang telah ditunjuk oleh Microsoft. EIKON Technology sebagai salah satu partner resmi Microsoft di Indonesia siap menyediakan akses menuju layanan Microsoft Education. Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi produk, klik di sini.

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

5 Fitur Baru Microsoft Teams untuk Kegiatan Belajar Daring

Di masa pandemi, kegiatan belajar dan mengajar berubah menjadi sistem daring dan pertemuan tatap muka dikurangi. Otomatis, sarana pembelajaran pun berubah. Papan tulis dan spidol berubah menjadi laptop dan aplikasi video meeting. Untuk kegiatan belajar dan mengajar, ada baiknya Anda menggunakan aplikasi video meeting yang memang dikhususkan untuk pendidikan, seperti Microsoft Teams. Platform kolaborasi dari Microsoft ini memiliki segmen Education yang memang dikhususkan untuk kegiatan belajar dan mengajar baik itu secara daring maupun hibrid (kombinasi daring dan luring). Microsoft Teams terus melakukan peningkatan fitur untuk memenuhi segala kebutuhan tenaga pendidik maupun siswa. Berikut adalah beberapa fitur terbaru dari Microsoft Teams for Education yang bisa Anda manfaatkan dalam kegiatan belajar daring. Reading Progress Photo Credit: Microsoft Tech Community Membaca adalah suatu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Biasanya, aktivitas membaca digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Untuk membantu para guru dan tenaga pendidik dalam memandu aktivitas membaca para siswa, Microsoft Teams meluncurkan Reading Progress. Fitur terbaru dari Teams ini bisa digunakan untuk memantau perkembangan siswa dalam membaca materi. Selain itu, bagi Anda pengajar materi bahasa Inggris, Reading Progress juga bisa digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam membaca kalimat berbahasa Inggris. Sistem dapat menilai kemampuan baca siswa secara otomatis, bahkan mendeteksi kesalahan. Namun, Anda juga bisa melakukan penilaian manual dengan menonaktifkan menu “Auto-detect”. Navigasi class team yang lebih mudah Photo Credit: Microsoft Tech Community Dalam update terbaru Microsoft Teams, guru dapat mengakses fitur Assignments, Grades, Class Notebook, dan Insights dari channel mana pun yang ada di dalam class team. Pada halaman muka class team  Anda bisa langsung menemukan navigasi yang telah ditingkatkan dan lebih mudah digunakan. Update ini tersedia baik untuk pendidik maupun siswa yang menggunakan tampilan grid. Selain itu, administrator kini juga bisa menghapus navigasi yang telah disematkan sebelumnya. Jadi, pada navigasi siswa hanya akan ditampilkan Class Notebook, Assignments, serta Grades. Education Insights Photo Credit: Microsoft Tech Community Agar kegiatan belajar mengajar tetap lancar, pendidik sebaiknya memiliki gambaran mengenai kondisi siswa mereka. Namun pendidik bukanlah superhero yang memiliki kekuatan untuk membaca pikiran. Teams menawarkan solusi atas permasalahan tersebut dengan meluncurkan fitur Education Insights. Melalui Education Insight, pendidik bisa mengakses informasi yang berhubungan dengan kondisi siswa seperti data kehadiran, keterlibatan tugas, hingga aktivitas kelas. Informasi tersebut kemudian bisa diolah untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi siswa. Tersedia versi mobile Untuk memudahkan Anda mengakses informasi siswa, Microsoft juga meluncurkan Education Insights dalam versi mobile. Dalam versi mobile ini bahkan tersedia fitur chat. Dengan begitu, Anda bisa langsung berkomunikasi dengan siswa saat dirasa ada yang perlu dikonsultasikan. Photo Credit: Microsoft Tech Community Dynamic View Fitur berikutnya yang ditambahkan pada Microsoft Teams Education adalah Dynamic View. Dengan Dynamic View, seluruh konten di dalam class dapat ditampilkan. Video presentasi dapat ditampilkan berdampingan dengan video peserta class. Selain itu, komentar dari chat juga bisa langsung dimunculkan. Dynamic View sekarang tersedia dalam Teams versi desktop dan mobile. Lebih banyak bahasa dalam live captions Selain Dynamic View, untuk menunjang class, Teams juga meningkatkan kemampuan live captions mereka. Sekarang telah tersedia 27 bahasa dalam live captions Teams. Dengan mengaktifkan live captions ini, Anda akan langsung menemukan real-time caption saat kelas berlangsung. Firefly untuk kelas yang lebih interaktif Photo Credit: Rawpixel Salah satu tantangan dalam menjalankan kelas daring adalah mempertahankan atensi siswa. Di kelas daring, siswa akan cenderung mudah kehilangan fokus atau bahkan merasa jenuh. Sebagai solusi, pendidik biasanya merancang kelas yang dinamis dan interaktif. Sayangnya, merancang kelas interaktif bukanlah sebuah hal mudah. Teams menjawab tantangan tersebut dengan meluncurkan Firefly. Melalui Firefly, guru bisa mendapatkan akses menuju tools dan resources lain untuk merancang kelas interaktif. Semuanya tersedia dalam satu tempat, Firefly. Kegiatan belajar dan mengajar daring tentu menghadirkan tantangan-tantangan baru yang tidak Anda temukan dalam model belajar konvensional. Tidak ada salahnya untuk mulai memanfaatkan teknologi dalam merancang sistem belajar daring. Bagi Anda yang masih kesulitan dalam merancang kegiatan belajar yang interaktif, Microsoft Teams for Education bisa dijadikan pilihan. Teams for Education menawarkan beragam fitur yang memudahkan sistem belajar daring seperti Teams Class, Reading Process, dan juga Firefly yang baru saja dirilis. Seluruh fitur dan layanan dalam Microsoft Teams bisa Anda nikmati dengan berlangganan Microsoft 365. Tertarik untuk mencoba? EIKON Technology menawarkan paket Free Trials khusus untuk Anda! Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud

Transformasi digital masih dianggap sebagai strategi yang efisien untuk bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Dengan memanfaatkan teknologi untuk menggantikan metode-metode tradisional, alur kerja perusahaan pun akan lebih ringkas sekaligus efisien. Salah satu bentuk transformasi digital yang mulai digencarkan banyak perusahaan adalah penggunaan komputasi awan (cloud computing). Di Indonesia sendiri, migrasi cloud dinilai punya potensi besar, mengingat jumlah pengguna internet di tanah air yang mencapai lebih dari 200 juta user. Google sebagai raksasa teknologi di dunia pun tidak ketinggalan dalam menyediakan layanan komputasi awan melalui Google Cloud. Melalui Google Cloud, proses migrasi digital bisa dilakukan lebih cepat dan hemat. Berikut beberapa fitur unggulan Cloud untuk memudahkan proses migrasi digital Anda. Active Assist Photo Credit: Geralt (Pixabay) Active Assist merupakan rangkaian tools yang disusun berdasarkan data dan menghasilkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Fungsi utamanya adalah mengurangi kerumitan dalam penggunaan Cloud, termasuk mengatasi kesulitan administrasi. Jadi, Anda dapat melakukan optimalisasi keamanan, kinerja, dan tentunya biaya penggunaan Cloud. Apa saja yang bisa dilakukan Active Assist?  Fitur ini dapat menjalankan perintah otomatis untuk menyesuaikan, mengurangi, dan bahkan mematikan mesin, disk, hingga IP yang tidak terpakai guna mengurangi biaya operasi cloud. Selain itu, Active Assist juga dapat membantu Anda untuk menerima pemberitahuan baru serta melakukan konfigurasi ulang pada perintah peningkatan ukuran otomatis. Peningkatan skala grup VM pun dapat diatur melalui fitur bantuan ini. Di dalam Active Assist Anda juga bisa menemukan Policy Analyzer. Memanfaatkan Policy Analyzer ini Anda dapat mengontrol masalah akses serta akun pengguna cloud. Kecerdasan jaringan Photo Credit: Google Cloud Salah satu keistimewaan hosting melalui Google Cloud adalah kompleksitas jaringan yang ditawarkan. Saat menggunakan Cloud, Anda otomatis berbagi infrastruktur jaringan yang sama dengan layanan Google lainnya seperti YouTube, Google Workspace, dan tentu saja raksasa mesin pencari, Google Search. Artinya, Anda dapat terhubung dalam jaringan berskala global. Bukan hanya itu, adanya koneksi dengan layanan Google lain seperti YouTube dan Search juga memudahkan Anda dalam membangun koneksi dengan pengguna. Jaringan dengan Google Workspaca akan menghadirkan akses menuju serangkaian tools untuk akselerasi transformasi digital perusahaan Anda. VM Manager Photo Credit: Google Cloud Meski pada umumnya perusahaan besar memiliki tool untuk manajemen aset serta manajemen patch. Sayangnya, tool tersebut biasanya berharga mahal dan biasanya dijual terpisah sehingga Anda pun perlu lebih banyak vendor penyedia. Belum lagi sistem pemeliharaan guna menjaga kinerja tool agar tetap berfungsi optimal dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi problem tersebut, Google Cloud dibekali fitur VM Manager. Apa itu VM Manager? Fitur ini merupakan rangkaian tools yang dirancang untuk melakukan pemeliharaan armada besar VM (virtual machine) yang dihos melalui Google Compute Engine secara otomatis. Tools tersebut meliputi: Manajemen patch Dapat digunakan untuk mengetahui status patch VM, baik itu dalam sistem operasi Windows maupun Linux, menyoroti rekomendasi serta penerapan patch otomatis, membuat jadwal patching yang fleksibel, hingga mengamati status patch di seluruh armada VM  Anda. Manajemen konfigurasi Berfungsi untuk mempertahankan konfigurasi konsisten di seluruh VM, bahkan dilengkapi dengan fitur perbaikan otomatis. Manajemen inventaris Terakhir ada manajemen inventaris yang berfungsi sebagai tool untuk mengumpulkan sistem operasi dan perangkat lunak (terkadang juga package information). Selain itu, tool ini juga terintegrasi dengan Cloud Asset Inventory. Kombinasi keduanya dapat digunakan untuk menyederhanakan pengelolaan lingkungan cloud Anda secara detail dan lengkap. Dengan memanfaatkan fitur-fitur Google Cloud di atas, Anda dapat mengurangi beban manajemen infrastruktur, menurunkan biaya hosting infrastruktur cloud, hingga meningkatkan keamanan data perusahaan Anda secara signifikan. Langkah Anda menuju transformasi digital yang sesungguhnya pun lebih mudah dan minim risiko. Semua kemudahan tersebut dapat dinikmati dengan berlangganan Google Cloud. Bagaimana caranya? Berlangganan layanan Google Cloud kini bisa melalui authorized reseller atau partner resmi Google. Untuk wilayah Indonesia, Anda bisa menghubungi EIKON Technology yang merupakan partner resmi Google. Masih merasa ragu? Konsultasikan kebutuhan infrastruktur cloud Anda dengan tim EIKON Technology sekarang juga. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Mengenal Supply Chain Twin, Layanan Terbaru dari Google Cloud

Bulan September 2021 lalu, Google Cloud meluncurkan Supply Chain Twin, sebuah layanan yang memungkinkan perusahaan untuk menciptakan “digital twin”. Apa itu digital twin? Digital twin merupakan representasi virtual dari supply chain fisik yang ada di dunia nyata. Pembuatan digital twin melalui Supply Chain Twin memanfaatkan pengaturan data dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai suppliers, inventories, dan informasi lain yang masih berhubungan. Bukan hanya itu, kombinasi layanan ini dengan modul Supply Chain Pulse, Anda bisa mendapatkan real-time dashboards, analytics  lanjutan, notifikasi potensi gangguan, dan bahkan melakukan kolaborasi di Google Workspace. Dirancang untuk memantau supply chain fisik Photo Credit: Rawpixel Dalam industri retail, supply chain atau rantai pasok sering menjadi penyebab masalah. Kebanyakan perusahaan memiliki visibilitas yang terbatas atas supply chain mereka. Dampaknya, perusahaan akan kesulitan saat harus menghadapi masalah seperti kehabisan stok ritel, inventaris manufaktur semakin usang, hingga gangguan yang berhubungan dengan cuaca. Saat pandemi menyerang, situasi bahkan semakin parah. Dari situasi tersebut, Google menyadari bahwa perusahaan perlu pengetahuan yang lebih up-to-date, terutama yang berkaitan dengan operasional dan inventaris. Dengan begitu, visibilitas mereka terhadap supply chain pun akan meningkat. Supply Chain Twin memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam atas operasional mereka sehingga fungsi supply chain pun bisa lebih optimal. Tipe data yang didukung Supply Chain Twin Layanan terbaru dari Google Cloud ini memungkinkan perusahaan untuk menyertakan data dari berbagai sumber. Menariknya lagi, transfer data ini membutuhkan lebih sedikit waktu integrasi dibanding integrasi tradisional berbasis API. Untuk tipe data yang didukung Supply Chain Twin antara lain: Dari sistem bisnis perusahaan: Memahami operasional lebih baik dengan melakukan integrasi beberapa informasi sekaligus seperti produk, lokasi, pesanan, serta inventaris dari Enterprise Resource Planning (ERP) atau sistem internal lainnya. Dari sistem supplier dan partner: Gambaran yang lebih holistik dari jaringan supplier dan partner usaha dengan melakukan integrasi beberapa jenis data seperti jumlah stok dan inventaris serta status transportasi bahan produksi. Dari sumber umum: Memahami supply chain dalam konteks yang lebih luas dengan menghubungkan data kontekstual dari sumber umum seperti cuaca, risiko, termasuk juga set data publik dari Google. Kombinasi dengan Supply Chain Pulse Photo Credit: Rawpixel Seperti yang telah disebutkan, Twin juga bisa dikombinasikan dengan layanan baru Google Cloud lainnya yaitu Supply Chain Pulse. Kombinasi ini menghasilkan: Visibilitas real time serta analytic lanjutan: Menelusuri operational metrics dengan performance dashboard yang eksekutif, memudahkan Anda untuk mengecek status supply chain. Pengelolaan event berbasis peringatan: Mengatur peringatan pada perangkat mobile Anda yang dipicu oleh perubahan pada key metrics, tepatnya saat key metrics mencapai ambang batas yang telah ditentukan. Kolaborasi lintas tim: Menciptakan workflow bersama yang memungkinkan user untuk melakukan kolaborasi di Google Workspace untuk memecahkan masalah. Optimalisasi dan simulasi berbasis AI: Memicu algoritma berbasis AI untuk menyarankan respon yang tepat atas perubahan situasi, menandai masalah yang lebih kompleks, dan memperhitungkan dampak berdasarkan hipotesis awal. Deployment Supply Chain Twin melalui partner Google Cloud Bagi Anda yang bergerak di industri retail, manufaktur, jaringan layanan kesehatan atau industri lain yang masih berhubungan dengan logistic, bisa melakukan deployment Supply Chain Twin melalui ekosistem partner Google Cloud seperti Pluto7, TCS, dan Deloitte. Sistem ini akan membantu Anda untuk mengintegrasikan Twin dengan dataset dataset yang relevan ke dalam infrastruktur yang tersedia. Sebagai tambahan, Anda juga bisa melakukan augmentasi data menggunakan data partner seperti Climate Engine atau Craft. Kombinasi ini akan menghasilkan dataset yang lebih lengkap karena berisi informasi mengenai kondisi geospasial, keberlanjutan (sustainability), serta manajemen risiko. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Tersedia juga integrasi dengan application partner seperti Automation Anywhere dan project44. Anda bisa menggunakannya untuk memahami siklus hidup produk, melacak pengiriman lintas  operator, hingga memprediksi ETA (estimated time of arrival) atau perkiraan barang tiba. Hingga saat ini, visibilitas yang terbatas akan supply chain atau rantai pasok masih menjadi masalah bagi kebanyakan perusahaan, terlebih bagi perusahaan yang berhubungan dengan logistik seperti retail. Apakah Anda salah satunya? Maka tidak ada salahnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai solusi. Dengan Google Cloud dan Supply Chain Twin yang ada di dalamnya, Anda bisa menciptakan “kembaran virtual” supply chain. Jadi, memonitor supply chain pun akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Buat perusahaan Anda semakin maju dengan memanfaatkan teknologi ini. EIKON Technology sebagai partner resmi Google menyediakan Cloud Service Solutions untuk Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut dengan tim EIKON Technology, Anda cukup klik di sini.

Google Cloud

Mempelajari Update Keamanan Terbaru Cloud Storage dari Google

Cloud Storage merupakan layanan web penyimpanan file online yang ada dalam infrastruktur Google Cloud Platform. Sebagai sebuah platform untuk menyimpan file, keamanan Cloud Storage terus ditingkatkan. Dalam update terbaru mereka, enkripsi menjadi fokus utama. Seperti yang sudah Anda ketahui, enkripsi merupakan elemen penting dalam mengamankan data sensitif, baik saat disimpan di dalam cloud maupun saat hanya transit. Kini, Storage dapat mengenkripsi data dari sisi server menggunakan kunci enkripsi standar yang dikelola Google sekaligus mengenkripsi data menggunakan kunci enkripsi yang dikelola user melalui Cloud Key Management Service (Cloud KMS). Mengapa harus menggunakan Cloud KMS di Cloud Storage? Cloud KMS memiliki pengaturan yang memungkinkan Anda untuk mengelola kunci enkripsi secara terpusat. Bukan hanya terpusat, tapi juga dengan cepat dan scalable sehingga Anda bisa bekerja dengan efisien. Cloud KMS juga menghasilkan kunci enkripsi yang bisa dikelola oleh user secara mandiri (disebut customer-managed encryption keys atau CMEK). Kunci enkripsi ini nantinya berfungsi sebagai lapisan keamanan tambahan selain kunci default dari Google. Sekarang, Anda dapat mengatur kunci ini sebagai kunci default dan pengaturan tersebut pun bisa diubah kapan saja. Photo Credit: Pxfuel Selain CMEK yang berbasis software, Cloud Storage juga mendukung CMEK berbasis hardware, terutama untuk hardware yang di-hosting dalam modul keamanan hardware FIPS 140-2 Level 3 sebagai bagian dari layanan Cloud HSM. Jadi, Anda dapat melindungi workload paling sensitif sekalipun tanpa harus mengatur cluster operations HSM. Peningkatan performa KMS Dalam update terbaru, permintaan untuk mengurangi bandwith dan menurunkan KMS billing akan dikelompokkan menurut perilaku permintaan Cloud KMS di Cloud Storage. Permintaan yang identic akan digabungkan di seluruh mode enkripsi yang didukung Cloud KMS, termasuk kunci enkripsi user yang berbasis software. Dengan adanya perubahan ini, operasi enkripsi akan berjalan lebih cepat, baik itu dalam proses baca dan tulis untuk data baru, audit log Cloud KMS yang tidak diduplikasi, dan bahkan keseluruhan charge Cloud KMS akan lebih rendah. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja Bagi Anda yang sering menjalankan workload dengan intensitas tinggi akan menemukan penurunan signifikan dalam throughput ke KMS. Hasilnya, billing untuk operasi kriptografi KMS semua jenis kunci KNS pun turut berkurang. Cloud KMS untuk object composition Photo Credit: StartupStockPhotos (Pixabay) Update keamanan terbaru Cloud Storage bisa ditemukan pada fitur object composition. Sekarang ini, object composition sudah banyak digunakan untuk berbagai macam aplikas, baik itu untuk menggabungkan segmen-segmen video hingga mengunggah kumpulan data berskala besar. Dengan makin banyaknya pengguna Cloud Storage untuk memanfaatkan fitur object composition ini, Google pun meningkatkan performanya agar dapat berjalan di berbagai mode enkripsi. Kini, object composition sudah mendukung kunci enkripsi yang dikelola oleh user (CMEK). Dengan begitu, Anda dapat mengelola CMEK sekaligus menjalankan object composition untuk berbagai keperluan bisnis dalam satu waktu. Untuk membuat objek yang dienkripsi dengan CMEK, Anda harus menentukan nama resource untuk kunci Cloud KMS. Tujuannya adalah agar objek baru tersebut dapat dienkripsi sebagai parameter query. Jika Anda menggunakan JSON API, ketikkan HTTP request berikut ini:   01   POST https://storage.googleapis.com/storage/v1/b/bucket/o/destinationObject/compose Sedangkan Anda yang menggunakan XML API, tentukan nama resource kunci Cloud KMS untuk permintaan header goog-encryption-kms-key-name. Bisa juga dengan menentukan kunci Cloud KMS saat Anda menggunakan gsutil untuk menjalankan object composition. Enkripsi yang lebih baik Sebagai sebuah proses krusial, enkripsi harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak ada hal yang berlebihan jika itu menyangkut keamanan data, terutama data sensitif Anda idi Cloud Storage. Baik saat sedang menjalankan proses penyusunan objek atau workload analitik, enkripsi yang lebih baik dan aman tentu akan meningkatkan skalabilitas workload Anda.   Keamanan data selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Jika sampai detik ini Anda masih bimbang dalam memilih layanan penyimpanan data berbasis online, Cloud Storage dapat dijadikan pertimbangan. Dengan sistem keamanan yang terus ditingkatkan, bahkan dalam proses yang paling krusial seperti enkripsi, layanan penyimpanan dari Google ini akan membantu Anda. Ingin mengenal layanan Google Cloud sebelum memutuskan untuk berlangganan? Tidak jadi masalah, kami dari EIKON Technology menyediakan layanan konsultasi untuk membantu menentukan cloud service solution yang paling tepat untuk Anda. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite?

Google Cloud Operations merupakan suite yang digunakan untuk mengelola infrastruktur, software, dan bahkan performa aplikasi Cloud. Dulunya, Operations bernama Stackdriver sebelum diakuisisi oleh Google pada tahun 2014. Stackdriver sendiri merupakan layanan manajemen sistem komputasi awan (cloud computing). Google Cloud Operations menyediakan data yang mendalam tentang system metrics dan application logs. Salah satu layanan Operations, Cloud Monitoring mengumpulkan system-level metrics seperti CPU, disk space, dan memori. Sedangkan layanan Operations lainnya, Cloud Logging mengambil log data dari aplikasi seperti server web Nginx. Artikel ini akan membahas tentang bagaimana cara kerja dua layanan Google Cloud Operations tersebut. Mari pelajari bersama. Cloud Monitoring Layanan Cloud Monitoring mengumpulkan system metrics serta log data. Data yang didapat kemudian digabungkan dan divisualisasikan hingga menghasilkan informasi pada  dashboard. Di samping itu, Monitoring juga memiliki fitur peringatan agar admin cloud dapat merespons masalah lebih cepat. Cloud Logging Photo Credit: Rawpixel Logging digunakan untuk menangkap log aplikasi di lokasi yang terpusat, sehingga memudahkan manajemen log dan menyediakan data dari kondisi aplikasi. Pada sebuah virtual machine (VM), pemantauan log sebenarnya merupakan tugas sepele, bisa dilakukan hanya dengan menghubungkan VM ke mesin dan memeriksa aplikasi atau log sistem. Meski begitu, ada kalanya, pemantauan log menjadi tugas yang sulit, terutama saat beberapa VM dioperasikan bersamaan, Cloud Logging memungkinkan admin cloud untuk bisa melacak down system, bahkan di beberapa VM sekaligus. Selain itu, admin juga dapat menyempurnakan filter untuk menemukan masalah yang sebenarnya. Cara kerja Google Cloud Operations Untuk mengetahui cara kerja Google Cloud Operations, mari kita ambil contoh dari infrastruktur yang terdiri dari server web Nginx yang berjalan di sebuah VM. Operations bekerja dengan memanfaatkan dua agent (Monitoring dan Logging) untuk menghasilkan gambaran sistem beserta aplikasi yang ada di dalamnya. Agent pertama, Monitoring, memberikan data terkait memori pada VM. Logging bekerja dengan memanfaatkan collectd dan berinteraksi dengan Google API untuk melaporkan memori. Agent kedua, Logging, mengumpulkan informasi yang berkaita dengan status aplikasi dari log aplikasi dan sistem. Agent ini berbasis fluentd. Setelah Monitoring dan Logging terpasang, Anda bisa melanjutkan ke server web Nginx. Untuk melakukan instalasi, jalankan perintah berikut: sudo apt install Nginx –y Setelah setup selesai, agent akan langsung mengirim data ke Google Cloud Console. Untuk mengolah data tersebut, Anda bisa mengikuti langkah berikut: Memantau query Ada kalanya data yang dikirim ke Console sangat banyak jumlahnya, sehingga proses penyaringan menjadi sulit. Sebagai solusi, Anda bisa memanfaatkan Monitoring Query Language allows untuk menyaring noise (gangguan) dan melacak masalah. Dengan fitur ini, Anda bisa langsung menemukan error atau data point yang berhubungan. Memantau dashboards Photo Credit: Rawpixel Cloud menawarkan dashboard standar dan khusus untuk pengumpulan data yang dilakukan Cloud Operations.User bahkan dapat membangun dashboard khusus untuk query sehingga informasi bisa langsung tersedia. Dashboard menyediakan gambaran fokus atas data point dalam proses deployment cloud. Untuk melakukan set up dashboard, Anda harus membuat beberapa jenis widgets dan melakukan verifikasi terhadap data yang ditampilkan. Anda bisa memanfaatkan fitur automation untuk memudahkan proses tersebut. Baca juga: 4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba Google Cloud memungkinkan user untuk dapat berinteraksi dengan dashboard API. Cukup dengan mengirim permintaan POST ke sebuah endpoint HTTP atau bisa juga ke interface gcloud command-line interface, yang merupakan CLI tool utama dari Google Cloud. Untuk membuat dashboard dengan API, jalankan perintah berikut: gcloud monitoring dashboards create –config-from-file=your-dash.json Bagian “file=your-dash.json” menjelaskan widget apa yang dibuat dalam dashboard Anda dan menggunakan format JSON. Log query Untuk membiasakan diri dengan Logging, Anda bisa menyiapkan pemantauan terhadap akses menuju Nginx dan error logs. Cukup dengan menambahkan konfigurasi berikut pada setelan /etc/google-fluentd/google-fluentd.conf dalam VM. Setup ini akan memastikan entri access.log dan error.log dapat masuk dalam konsol Google Cloud Logging. <source> @type tail format apache2 path /var/log/Nginx/access.log,/var/log/Nginx/error.log pos_file /var/lib/google-fluentd/pos/Nginx-access-log.pos read_from_head true tag Nginx-access-error </source> Setelah menambahkan konfigurasi di atas, lakukan restart pada agent google-fluentd. Dalam beberapa saat, Cloud Logging akan mulai mengirim data ke Google Cloud Console. Selain itu, Anda juga bisa melakukan query data dari Logs Explorer, yang merupakan user interface Cloud Logging untuk dianalisis. Gunakan query berikut untuk menampilkan log data apa pun dari akses Nginx serta error logs: resource.type=”gce_instance” log_name=”projects/<PROJECT_ID>/logs/Nginx-access-error” Dengan memanfaatkan Google Cloud Operations, Anda dapat mengelola cloud dan seluruh elemen di dalamnya, Dengan tambahan Monitoring dan Logging agent, Anda bahkan bisa menemukan solusi atas permasalahan yang muncul di dalam Cloud. Belum bisa menemukan layanan penyedia cloud yang dapat memenuhi semua kebutuhan Anda? Atau Anda memerlukan komputasi awan berskala besar? Cloud dengan fitur dan layanan yang lengkap seperti Google Cloud adalah solusinya. Untuk mulai berlangganan Google Cloud, EIKON Technology siap membantu Anda. EIKON Technology merupakan authorized partner dari Google. Klik di sini untuk langsung terhubung dengan EIKON Technology.

Google Cloud

Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator

Mengatur sebuah pemrograman dalam sebuah perusahaan maupun bisnis besar haruslah dilakukan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Salah satunya adalah ketika menggunakan aplikasi pendukung agar data tetap aman dan bisa didistribusikan dengan baik. Untuk hal itu, Anda bisa mencoba Cloud Spanner Emulator. Platform ini diluncurkan pada tahun 2017 lalu. Peruntukannya memang ditujukan pada industri berskala besar. Mulai dari pengaturan aplikasi untuk ritel, sosial media perusahaan, dan juga bagi industri gaming. Pada platform ini juga memiliki beberapa model deployment Google Cloud. Apa sajakah? Berikut beberapa di antaranya. Model Deployment Google Cloud Emulator Lokal Source: Unsplash.com Model pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan menggunakan emulator lokal. Adapun yang termasuk dalam emulator lokal di sini antara lain adalah Docker Image, Gcloud Commands, Linux Binaries, dan Bazel. Untuk biaya deployment menggunakan emulator ini memang gratis untuk beberapa kasus tertentu. Beberapa emulator lokal tersebut dapat digunakan pada kasu-kasus tertentu saja. Misalnya saja untuk melakukan uji coba pada saat pengembangan penyimpanan data dan sebagainya. Cara seperti ini dilakukan karena memang lebih mudah dan cepat. Hanya saja, jika pengguna menggunakan mode deployment ini ada kemungkinan mengenai konfigurasi, data, dan aset lainnya akan hilang selama proses restart emulator tersebut. Jadi, ada baiknya Anda pertimbangkan dengan baik sebelum memilihnya. Model Deployment Google Cloud pada Remote GCE Source: Gasworld Selanjutnya, mode untuk deployment Google Cloud bisa menggunakan emulator pada Remote GCE. Beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk hal ini adalah deployment manual atau Gcloud deployment. Atau cara lainnya adalah melalui fitur Terraform. Setidaknya, bila menggunakan mode ini ada beberapa keuntungan dan hal lainnya seperti: Mode ini memang tersedia gratis untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para pengguna Cloud Spanner, terutama untuk mengelola tim Anda. Meskipun konfigurasi, skema, dan data bisa hilang saat restart, di sisi lain memungkinkan bagi para developer untuk memecahkan masalah yang ada secara kolaboratif. Penggunaan Terraform untuk proses deployment pada mode ini memang disarankan. Hal ini karena untuk mempermudah alur pengaturan menjadi lebih baik. Model Deployment Google Cloud pada Cloud Run Source: GCN.com Terakhir, untuk mode deployment Google Cloud bisa melalui Cloud Run. Sebagian orang menilai jika mode yang ketiga ini menjadi pilihan yang tepat. Terutama bagi Anda yang ingin menggunakan REST maupun gRPC. Cloud Run ini dibangun atas gRPC ini. Jadi, apabila aplikasi yang Anda pakai menggunakan library dari RPC API, maka emulator bisa digunakan dalam menerima koneksi pada port 9010. Di sisi lain, bila Anda ingin menggunakan interface REST, maka dapat melakukan konfigurasi Cloud Run untuk mengirimkan request ke port 9020. Mengenai masalah biaya yang dikeluarkan, memang ini berbeda dari mode deployment pertama. Untuk mode ini memang berbayar dan harganya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kesimpulan Source: Grand Canyon University Dari ulasan di atas, kita bisa mengetahui jika mode deployment Google Cloud memang beragam. Anda bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan bisnis. Maka dari itu, diperlukan perhitungan dan juga pertimbangan yang matang bagi Anda maupun tim developer untuk memilih mana yang terbaik. Di samping itu, Anda pun dapat menggandeng vendor penyedia layanan Google Cloud yang terpercaya seperti EIKON Technology. Tujuannya adalah, selain mempermudah proses deployment juga akan memberikan kenyamanan. Terutama dalam hal jaminan keamanan data penting dan krusial milik perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan Google Cloud yang kami tawarkan, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

4 Fitur Terbaru Google Cloud yang Bisa Anda Coba

Sebagai sebuah solusi one stop cloud, Google Cloud terus berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuhan penggunanya. Bagi Anda pengguna Cloud skala besar, berikut empat fitur terbaru yang bisa digunakan untuk memudahkan proses pengelolaan. Mari simak detail lengkapnya dalam poin-poin di bawah ini. Google Transfer Appliance Photo Credit: Rawpixel Bagi Anda yang baru mulai melakukan transformasi digital dan berpindah ke Cloud, proses transfer data bisa menjadi masalah tersendiri. Sebagai pengguna Cloud dalam skala besar, tentu data yang Anda simpan berjumlah besar. Sebagai solusinya, Anda bisa memanfaatkan fitur terbaru Cloud, Google Transfer Appliance. Google Transfer Appliance merupakan perangkat penyimpanan fisik yang dapat memuat data dari fasilitas lokal. Dengan memanfaatkan fitur baru ini, Anda dapat memindahkan data dari fasilitas penyimpanan lokal secara otomatis. Lebih hemat biaya dan tentunya waktu. Saat penyimpanan penuh, Google Transfer Appliance akan langsung mengirimkan data dalam mode offline ke Google Cloud. Sedangkan dalam mode online Anda dapat melakukan streaming data yang disalin perangkat pada Cloud Storage. Menjalankan fungsi serverless Photo Credit: Rawpixel Salah satu model pendekatan deployment yang diterapkan di Cloud adalah model serverless (tanpa server). Dengan model pendekatan ini, Anda tidak harus menjalankan instance atau container mesin virtual secara terus-menerus. Sebaliknya, Anda bisa memilih waktu operasi sesuai dengan kebutuhan. Model deployment seperti ini dapat terwujud melalui perangkat serverless Google, Cloud Functions yang merupakan function as a service (FaaS). Meski begitu, perlu diingat bahwa meski serverless tidak “memaksa” instance untuk terus berjalan, function tetap memerlukan waktu untuk dapat dimulai dan dijalankan, terutama jika instance sempat dimatikan sebelumnya (cold start). Google menawarkan waktu tunggu lebih singkat yang diberi nama instance minimum atau min. Lebih banyak context Fitur terbaru Google Cloud juga berusaha untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan resource mesin virtual. Google kemudian meluncurkan sebuah alat yang telah disempurnakan dengan lebih banyak context dan juga visibilitas untuk menjalankan workloads. Fitur ini dapat diakses melalui Google Cloud Console. Dari sana, developer dapat membuka VM mana pun dan mengakses visualisasi bawaan. Dengan begitu, developer bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail terkait masalah-masalah umum seperti masalah memori, jaringan, CPU, Disk, dan bahkan live processes. Unattended Project Recommender Photo Credit: Piqsels Seiring berjalannya waktu, dalam menggunakan layanan cloud, Anda akan menemukan resources yang berjalan di cloud yang sudah tidak diperlukan lagi. Jika sebelumnya mencari resources semacam ini harus melalui proses manual, Anda pengguna Google Cloud tidak perlu bersusah payah lagi. Sekarang telah tersedia fitur Unattended Project Recommender yang merupakan bagian dari Active Assist. Dengan rekomendasi otomatis ini, Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mencari resources yang menganggur. Bukan hanya itu, fitur baru ini juga melindungi Anda dari risiko keamanan yang mungkin timbul akibat resources usang. Unattended Project Recommender sendiri memanfaatkan mesin untuk mengidentifikasi resources menurut API, aktivitas jaringan, billing, penggunaan layanan cloud, serta sinyal lain yang bisa menjadi indikator  penentu. Dengan hadirnya fitur-fitur baru dari Google Cloud diharapkan setiap masalah yang dihadapi para user dapat menemukan solusi, terutama bagi Anda yang menggunakan layanan Cloud dalam skala besar. Anda pemilik perusahaan atau instansi yang membutuhkan penyimpanan data berskala besar? Google Cloud bisa menjadi solusi penyimpanan yang bukan hanya efisien tapi juga aman. Nikmati segala kemudahan yang ditawarkan hanya dengan berlangganan layanan Google Cloud dari sekarang. EIKON Technology siap memfasilitasi Anda untuk keperluan tersebut. Klik di sini untuk konsultasi lebih lanjut mengenai subscription layanan Google Cloud.

Info

3 Langkah Mudah Validasi Domain di Google Cloud Platform

Google Cloud Platform (GCP) merupakan sebuah rangkaian komputasi awan (cloud computing) dari Google dengan infrastruktur yang fleksibel dan tanpa server. GCP menawarkan beragam layanan yang menyeluruh mulai dari layanan computing seperti App Engine dan Kubernetes Engine, hingga layanan storage and database seperti Cloud SQL dan Cloud Storage. Bagi Anda pemilik perusahaan yang ingin mulai melangkah menuju transformasi digital, Google Cloud Platform adalah solusi yang layak dipertimbangkan. Dengan memanfaatkan GCP, Anda bisa mulai membangun dan mengembangkan perusahaan di dalam cloud.  Sebagai langkah awal, Anda perlu membangun struktur dasar yang nantinya dikembangkan di dalam cloud. Proses ini dapat dimulai dengan melakukan validasi domain Anda di dalam Google Cloud Platform. Seperti apa langkah-langkahnya? Simak penjelasannya berikut ini.   Validasi domain Google Cloud Platform pertama Anda   Photo Credit: Rawpixel Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah masuk ke halaman Google Admin. Pada address bar ketik https://admin.google.com/ dan tekan enter. Saat Anda tiba pada halaman pertama konsol Google Cloud Platform, Anda akan menemukan dua pilihan. Pilihan pertama adalah untuk verifikasi akun dan pilihan kedua adalah untuk membuat user baru. Pilih opsi pertama. Google membutuhkan data TXT pada DNS untuk membuktikan bahwa Anda memang pemilik domain. Apabila seluruh pengaturan sudah sesuai klik tab “Verify My Domain”. Sistem akan otomatis membawa Anda pada halaman baru berisi deskripsi proses validasi domain. Klik tab “Continue”. Apabila Anda merasa keberatan untuk membagikan data TXT, Google menyediakan opsi validasi lain seperti data CNAME, meta tag (pada website Anda) atau bisa juga dengan mengunggah file HTML pada website Anda yang menggunakan domain tersebut. Setelah proses verifikasi selesai, Anda bisa langsung memilih opsi “Set up GCP Cloud Console now” yang  di bagian bawah halaman pertama GCP.   Menambahkan pengguna dan grup baru   Photo Credit: Rawpixel Setelah proses validasi domain selesai, sekarang Anda bisa mulai mengatur set up Google Cloud untuk perusahaan Anda. Pilihan pertama yang ditawarkan adalah opsi untuk mengatur resource. Berikutnya, ada juga opsi untuk menambahkan user dan juga group baru. Cukup klik “Open” untuk mulai menambahkan. Dalam membangun perusahaan atau organization di Cloud, Anda mungkin akan memerlukan lebih dari satu administrator. GCP juga menyediakan opsi untuk menambahkan administrator dengan tingkat visibility dan control yang bisa Anda atur. Klik tab “Go To the Admin Console”. Sistem akan membuka tab Chrome baru dan membuat user baru di Cloud Identity. Jika sudah, klik “Continue”. Langkah berikutnya adalah membuat grup. Grup di sini mencakup area inti administrasi GCP perusahaan Anda, baik itu organisasi, jaringan, maupun billing (tagihan). Google juga menyediakan beberapa opsi grup tambahan seperti security untuk keamanan, DevOps, serta developers. Jika ingin menghemat waktu, Anda bisa mengikuti saran dari Google dengan klik “Create and Customize Groups”. Setelah proses pembuatan grup selesai, list yang berisi keseluruhan grup beserta user yang ada akan terisi secara otomatis. Selain itu, jika ada user yang terlewat, Anda bisa menambahkannya langsung dengan menggunakan tautan yang ada di samping masing-masing grup.   Menyiapkan akses administrator   Jika Anda sudah selesai menambahkan user serta grup baru, sekarang waktunya untuk menyiapkan akses administrator.  Untuk keperluan ini, klik opsi “Set up administrator access to your organization” (opsi nomor 3) pada halaman Set up Google Cloud for your organization. Dalam menu ini Anda akan mengatur konfigurasi akses kepada administrator yang telah ditunjuk pada langkah sebelumnya. Anda bisa mengatur tingkat visibility bahkan kontrol akses yang mereka peroleh nanti. Photo Credit: Rawpixel Anda juga bisa mengatur akses administratif menuju organization yang telah dibuat dengan memberikan role bagi masing-masing administrator yang telah ditunjuk. Nantinya, Anda juga bisa menambahkan atau menghapus role yang telah diberikan kepada administrator. Itu dia langkah-langkah untuk melakukan validasi domain Anda di Google Cloud Platform. Dengan melakukan validasi domain maka Anda telah meningkatkan sistem keamanan cloud perusahaan. Ini karena adanya segmentasi role terhadap masing-masing administrator akan  mengurangi risiko adanya kebocoran akses menuju organization yang telah Anda buat di GCP. Berminat untuk mulai transformasi digital dengan Google Cloud Platform? Anda bisa mulai dengan berlangganan layanan Google Cloud. Bagaimana caranya? EIKON Technology menyediakan cloud service solutions untuk menjawab kebutuhan Anda. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai produk Google yang terjamin keamanannya. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim dari EIKON Technology.

Scroll to Top