EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Workspace

Mengamankan Data Perusahaan dari File Bersama Saat Karyawan Resign

Dalam sebuah perusahaan, karyawan resign merupakan hal yang wajar. Namun, di sini yang harus diperhatikan adalah bagaimana perusahaan melindugi data  fitur shared drive yang selama ini diakses oleh karyawan tersebut. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan dan merugikan, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan berikut ini. Buat Kebijakan Penghapusan Akses dari Karyawan yang Resign Photo: TrainingIndustry Sebagai langkah awal, pihak perusahaan harus membuat kebijakan dan aturan yang jelas mengenai pengelolaan data file sharing bersama dari karyawan yang resign. Hal ini bisa dilakukan dengan diperkuat adanya surat kontrak atau perjanjian yang sah.  Tujuannya adalah sebagai bukti yang mengikat apabila karyawan yang telah resign tersebut berbuat tindakan yang melanggar hukum dengan memanfaatkan data dari  fitur shared drive perusahaan, maka dapat dilakukan tindakan lebih lanjut. Membatasi Akses Fitur Shared Drive Photo: Pinterest Cara berikutnya adalah dengan membatasi akses fitur shared drive perusahaan. Di sini, para admin hanya dapat membagikan akses data yang dibutuhkan untuk karyawan-karyawan tertentu saja. Misalnya dengan menggunakan metode enkripsi data maupun metode autentikasi dua langkah. Pembatasan juga dilakukan untuk penggunaan hardware maupun software dari pihak luar. Sebab, itu akan memungkinkan para pengguna untuk mentransfer data dan menyebarkannya kembali. Ada baiknya pula perusahaan mempertimbangkan penggunaan konfigurasi firewall pada file berbagai seperti Microsoft 365 agar semakin aman saat digunakan para karyawan. Tetapkan Pihak yang Dapat Mengelola Fitur Shared Drive Photo: Pexels Menyambung dari poin di atas sebelumnya, di sini admin harus selektif dan memilah pihak mana saja yang dapat mengelola fitur shared drive perusahaan. Dengan kata lain, jika data itu penting nantinya admin hanya mematikan akses karyawan saja, tanpa harus menghapus semua data-data karyawan yang sudah resign tersebut bila sewaktu-waktu diperlukan untuk kepentingan perusahaan. Meski ini sebenarnya langkah yang dibilang cara lama, namun dalam praktiknya hal tersebut cukup efektif. Jangan lupa, dalam menentukan pihak siapa saja yang dapat mengelola fitur shared drive tim IT perusahaan sebaiknya berkonsultasi pula dengan divisi lain. Misalnya saja dengan pihak legal, personalia, dan tim audit.  Sistem Keamanan Sharing File yang Aman Photo: Pexels Selain hal-hal di atas, Anda juga harus memastikan sistem keamanan fitur shared drive di perusahaan aman. Memang, sekilas fitur ini mungkin akan nampak baik-baik saja. Akan tetapi, ada beberapa fitur yang mengharuskan Anda untuk mengupdate maupun mengupgrade secara berkala. Dengan begitu, keamanannya akan semakin baik. Sebab, jika Anda tidak segera melakukan pembaruan dan sistem keamanan masih menggunakan versi lama, maka hal itu bisa menjadi celah bagi kebocoran data penting perusahaan ke publik dan dapat merugikan. Penutup Photo: Pexels Setidaknya itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga dan mengamankan data perusahaan dari fitur shared drive. Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa mengecek secara berkala fitur berbagi dokumen di perusahaan adalah hal penting. Terlebih jika karyawan Anda resign dan masih memiliki akses di fitur tersebut. Dengan membatasi dan mematikan akses kepada mantan karyawan tersebut, hal itu akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Misalnya saja mencegah kebocoran data penting perusahaan dari tindakan yang merugikan seperti phising maupun kejahatan fraud.  Meskipun mantan karyawan tersebut tidak melakukan hal demikian, bisa saja akun yang dimilikinya dibajak oleh pihak yang tak bertanggungjawab dan membobol data peruashaan dengan akun mantan karyawan tadi. Agar Anda lebih nyaman dalam menggunakan fitur shared drive, sebaiknya pilih produk dengan keamanan tinggi di vendor penyedia layanan yang terpercaya. Salah satunya adalah Google Workspace di EIKON Technology. Kami menyediakan produk Google terbaik dengan lisensi langsung dari pihak Google pusat. Untuk informasi lebih lanjut Anda bisa hubungi CS kami dengan cara klik di sini.

Gmail, Google Workspace, Info

Berusia 50 Tahun, Simbol @ pada Email Terus Mendorong Kolaborasi

  Email menjadi kebutuhan penting di era Internet of Things (IoT) saat ini. Namun, sadarkah Anda jika email mungkin saja tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya simbol ‘@’ setiap kali mengirimkan pesan kepada penerima? Simbol sederhana ini setidaknya telah 50 tahun mendorong kemajuan teknologi informasi. Pada mulanya, penggunaan simbol ‘@’ untuk teknologi informasi dikembangkan oleh Ray Tomlinson di tahun 1971 saat memecahkan permasalahan yang ada pada ARPANET. Dimana perusahaan itu disebut-sebut sebagai cikal bakal perusahaan  teknologi internet modern saat ini. Tomlinson menciptakan sistem alamat yang menempatkan simbol ‘@’ ini pada sebuah host komputer. Pada awal masa percobaan teknik ini, hanya bisa digunakan untuk komputer lain di jarak 10 kaki saja, namun penemuan tersebut membawa perubahan besar di era teknologi. Simbol ‘@’ yang Merentang Zaman Source: BBC Jauh sebelum Ray Tomlinson menggunakan simbol ‘@’sebagai salah satu hal penting dalam menghubungkan masyarakat di era digital, simbol ini juga sering digunakan untuk berbagai hal. Di Italia, simbol tersebut dikenal dengan istilah ‘the snail’ karena sekilas memang terliihat seperti cangkang siput. Masyarakat Belanda, menyebut simbol itu dengan istilah ‘monkey tail’. Sejak kapan penggunaan simbol ini memang menjadi simpang siur. Namun, berdasarkan data-data simbol tersebut digunakan secara umum pada abad ke-16. Kini, simbol ‘@’ menjadi bagian penting dalam dunia internet. Misalnya saja di berbagai aplikasi seperti Gmail, Twitter, Instagram, hingga WhatsApp untuk menandai seseorang yang ingin kita kirimi pesan.  Kelahiran Gmail Source: IDN Times Sejak 30 tahun setelah Tomlinson menggunakan simbol ‘@’, seorang teknisi Google bernama Paul Buchheit membuat eksperimennya pada email. Buccheit berusaha menemukan solusi yang menurutnya, penggunaan email pada masa awal-awalnya dulu cukup menyusahkan. Lalu, dirinya mencoba membuat Gmail semakin mudah dengan menggunakan simbol tersebut untuk menandai pengguna lainnya. Pada awal masa percobaannya, Buchheit tidak begitu yakin dengan solusi tersebut. Namun, saat Gmail diluncurkan pada 1 April 2004 silam, banyak pihak juga meragukannya. Sampai kemudian, simbol ini benar-benar memiliki manfaat besar sampai sekarang pada layanan Google Workspace. Pada layanan Google inilah simbol ‘@’ memiliki kontribusi besar dalam platform seperti Docs, Slides, Sheets, Meet, dan Chat. Saat ini juga tercatat sekitar 3 miliar pengguna di dunia merasakan manfaat besar dari simbol sederhana. Mengapa Fitur Gmail Membuatnya Lebih Aman Source: Email Marketing Journal Nampaknya, Gmail menjadi tren baru di era teknologi khususnya untuk mengirim perpesanan elektronik atau email. Akan tetapi, Google pun menyadari masih banyak kekurangan pada fitur Gmail versi pertama kali dimunculkan. Salah satunya adalah mengenai isu pesan spam yang cukup mengganggu penggunanya. Termasuk permasalahan-permasalahan lainnya. Seiring berjalannya waktu, Google pun terus berinovasi dalam menangani masalah tersebut. Ini terlihat pada pembaruan-pembaruan yang dilakukan pada Google Workspace. Contohnya, beberapa waktu lalu yang meluncurkan fitur baru Gmail yakni Brand Indicators for Message Identification (BIMI). Fitur Gmail BIMI ini memberikan banyak manfaat. Terutama bagi brand maupun perusahaan. Misalnya terhadap validasi dan otentikasi kepemilikan logo. BIMI dapat memberikan penerima pesan dengan fitur keamanan Gmail terbaik. Mulai dari sumber email dan lainnya untuk memberikan manfaat terbaik. Dengan adanya pembaruan-pembaruan tersebut, membuat Gmail di masa kini menjadi lebih powerfull, lebih aman, dan bisa lebih diandalkan untuk berbagai keperluan di bidang industri maupun perusahaan pada era perkembangan teknologi digital.  Penutup Source: Stuff.co.nz Itulah ulasan singkat dibalik penggunaan simbol ‘@’ pada email, termasuk email dari Google yakni Gmail. Meski simbol tersebut terlihat sederhana namun membawa manfaat penting bagi perkembangan dunia teknologi sampai saat ini. Terutama teknologi komunikasi dan informasi. Kini, fitur Gmail pun semakin beragam. Anda dapat menggunakannya tak hanya untuk kepentingan individu saja. Melainkan pula untuk keperluan bisnis maupun perusahaan. Salah satunya adalah dengan menggunakan layanan Google Workspace yang bisa Anda dapatkan di EIKON Technology. Di sini, kami menyediakan layanan berbagai ragam fitur Gmail untuk keperluan bisnis dengan pelayanan yang dapat diandalkan. Informasi lebih lanjut mengenai produk Google Workspace kami, Anda bisa klik di sini.

Google Cloud

Kelebihan Service Directory Google Cloud

Seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan perusahaan dan bisnis dalam hal komputasi awan pun semakin tinggi. Misalnya untuk penyimpanan data penting maupun menunjang aktivitas lainnya. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan layanan Service Directory Google Cloud. Bagaimana platform ini bekerja dan apa saja keunggulannya? Berikut ulasannya untuk Anda. Mengenal Service Directory Google Cloud Source: Google Cloud Secara umum melansir dari blog milik Google Cloud,  Service Directory Google Cloud merupakan sebuah platform yang memiliki pengaturan terintegrasi secara penuh untuk menemukan, menerbitkan, dan mengaktifkan koneksi layanan pada jaringan-jaringan komputasi awan lainnya. Platform ini memberikan informasi secara langsung atau realtime mengenai layanan yang Anda gunakan dalam satu tempat. Di samping itu juga dapat memungkinkan para penggunanya untuk menginventarisir layanan dalam skala besar. Misalnya saja penggunaan pada perusahaan maupun bisnis. Keunggulan Service Directory Google Cloud Source: Global Techoutlook Lalu, apa sajakah keunggulan dan kelebihan dari  Service Directory Google Cloud  untuk perusahaan atau manajemen bisnis Anda? Berikut beberapa di antaranya yang perlu diketahui sebelum memilihnya. Dalam hal ini ialah terkait sebagai solusi dalam memecahkan permsalahan manajemen yang ada di sebuah perusahaan. Manajemen Servis Keunggulan pertama adalah dalam hal manajemen servis. Service Directory Google Cloud dapat digunakan dalam mengelola layanan sedemikian rupa. Dengan begitu, organisasi maupun perusahaan atau bisnis Anda takperlu khawatir mengenai kemampuan, tingkat redundansi, hingga pemeliharaan jaringan yang terintegrasi dan dapat digunakan berdasarkan kebutuhan yang ada. Akses Kontrol Kedua, unggul dalam hal akses kontrol. Dengan fitur ini, pengguna dapat mengatur mengenai siapa saja yang dapat mendaftarkan dan memecahkan permaslaahan yang ada menggunakan IAM. Termasuk dalam menetapkan layanan direktori kepada tim, akun layanan, dan juga organisasi. Interoperabilitas Ketiga ialah mengenai interoperabilitas yang dimilikinya. Service Directory Google Cloud merupakan layanan penamaan yang universal dan berfungsi pada seluruh jaringan Google Cloud, multi-cloud, maupun jaringan lokal. Anda dapat melakukan migrasi di antara lingkungan jaringan tersebut dengan menggunakan nama layanan yang sama pada saat mendaftar nantinya. Menggunakan Cloud DNS dengan Service Directory Source: Lumit.it Cloud DNS pada infrastruktur yang dikeluarkan oleh Google, memiliki banyak keunggulan. Di antaranya adalah lebih cepat, scalable, dan reliable. Di sampin itu, Cloud DNS juga memberikan kemudahan dalam pengaturan DNS internal dalam penggunaan jaringan pribadi pada Google Cloud. Berikut adalah bagaimana Anda bisa menggunakan zona Service Directory dalam  membuat nama layanan yang tersedia dengan memanfaatkan pencarian DNS: DNS dapat terdaftar dan terintegrasi dengan Service Directory dengan menggunakan Service Directory API. Ini bisa digunakan pada Google Clod dan layanan lain selain Google Cloud. Baik untuk eksternal maupun internal klien dapat melihat beberapa layanan servis melalui laman https://servicedirectory.googleapis.com/  Untuk bisa menggunakan DNS, buatlah zona Service Directory pada cloud DNS yang terhubung dengan nama yang ada pada Service Directory Internal klien bisa memecahkannya melalui DNS, HTTP, atau GRPC. Sedangkan untuk eksternal klien atau klien yang tidak termasuk dalam jaringan pribadi dapat menggunakan HTTP atau GRPC untuk membuat nama pada layanan. Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Service Directory Google Cloud memberikan banyak manfaat dan keunggulan. Terutama untuk penyimpanan berbagai ragam file bisnis maupun perusahaan pada cloud dalam jumlah yang cukup besar. Untuk mendapatkan layanan terbaik menggunakan platform Google Cloud terbaik, Anda bisa memilih vendor terpercaya. Salah satunya adalah EIKON Technology yang memiliki lisensi dari Google pusat untuk kenyamanan dan keamanan data bisnis maupun perusahaan. Informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami dengan cara klik di sini.

Info

Menggunakan Google Cloud Spot VMs untuk Menjalankan Workloads dengan Efisien

Google Cloud baru saja meluncurkan public preview untuk hasil proyek kolaborasi mereka dengan Spot by NetApp yaitu Spot VMs. Apa itu Spot VMs? Dalam komputasi awan yang dimiliki Google, terdapat kapasitas “sisa” yang tidak terpakai. Melalui Spot VMs, pengguna Google Cloud bisa meminjam ruang kapasitas tersebut dengan harga yang lebih terjangkau, bahkan 91% lebih hemat dari harga ruang kapasitas baru. Artikel ini akan membahas bagaimana caranya menggunakan layanan Google Cloud Spot VMs tersebut untuk menjalankan workloads, terutama untuk workloads yang berjenis fault-tolerant. Mari simak penjelasannya berikut ini. Mengenal Google Cloud Spot VMs   Photo Credit: Google Cloud Blog Aplikasi modern seperti micro service, workload yang terkemas, serta aplikasi skalabel horizontal, dirancang untuk mampu bekerja bahkan di saat mesin tempat penyimpanannya sedang mengalami gangguan. Desain arsitektur ini pada akhirnya menghasilkan ruang kapasitas “sisa” pada cloud. Melalui Spot VMs, Anda yang menggunakan Google Cloud pun bisa mengakses kapasitas sisa tersebut. Google menawarkan layanan ini dengan biaya yang sangat terjangkau. Anda bisa menghemat sekitar 60-91% dari harga VM asli. Tersedia juga pilihan optimalisasi biaya melalui integrasi dengan Google Kubernetes Engine (GKE) Standar. Integrasi ini akan membuat aplikasi scalable Anda berjalan lebih mulus. Keuntungan menggunakan Google Spot VMs dalam proyek Anda Bagi Anda yang sudah tidak sabar untuk menggunakan Google Spot VMs, layanan ini sudah mulai diterapkan pada bulan Oktober 2021 lalu. Dengan memanfaatkan Spot VMs, Anda bisa merasakan manfaat berupa: Efisiensi TCO: Bagi pemilik bisnis, penghitungan TCO atau total cost of ownership sangat penting. Dengan menghitung TCO, maka perencanaan pengadaan struktur cloud akan menjadi lebih rinci. Adanya penghematan hingga 91% jelas akan sangat menguntungkan keuangan perusahaan. Terlebih jika Anda menggabungkan Spot VM dengan layanan Custom Machine Types dari Google dan menambahkan Spot GPU serta Spot SSD lokal. TCO akan lebih efisien tanpa harus mengorbankan kinerja. Otomatisasi yang lebih baik: Integrasi Spot VM dengan GKE akan melancarkan seluruh rangkaian proses deploy. Saat Spot VM tersedia, peningkatan skala bisa dilakukan secara otomatis dan diakhiri tanpa hambatan dengan fitur pre-emption. Proses deploy pun bisa selesai dengan gangguan minimal. Kemudahan penggunaan dan integrasi: Semua resources yang tersedia pun menjadi milik Anda sepenuhnya tanpa batas durasi tertentu. Anda juga bisa memanfaatkan fitur Termination Action untuk menghapus seluruh properti perusahaan yang tersimpan. Langkah ini bisa dilakukan saat proses pre-emption berjalan. Anda juga bisa membersihkan Spot VM yang telah digunakan sebelum dikembalikan. Tersedia di seluruh dunia: Spot VM diluncurkan di seluruh dunia dengan performa yang 100% sama dengan performa VM baru. Perbedaan antara Spot VM dengan VM baru hanyalah pada harga yang ditawarkan. Sebab, resources dapat diklaim kembali kapan saja dengan pemberitahuan 30 detik sebelumnya. Baca juga: Tips Mengatur Budget Departemen IT, Hemat Hingga 60%! Spot VM sangat cocok untuk berbagai jenis workloads, terutama yang berjenis fault-tolerant. Penerapannya bahkan sangat luas, bisa digunakan pada sektor efek visual, keuangan, genomik, perkiraan, dan bahkan simulasi. Untuk mulai mencobanya pun tidak sulit, cukup menambahkan perintah –provisioning_model= Spot pada permintaan Anda dan mode penghematan akan langsung bekerja. Harga yang dinamis Photo Credit: asawin (PxHere) Untuk memaksimalkan penghematan, Google Cloud VMs diluncurkan dengan penetapan harga yang dinamis. Diskon harga yang diterapkan bervariasi, yang terendah adalah 60% dan yang tertinggi 91% lebih hemat dari harga asli. Model penetapan ini bertujuan agar setiap pengguna Google Cloud bisa merasakan pengalaman dengan Spot VM. Jumlah diskon akan terus berubah tiap bulannya, namun tetap dengan diskon minimal 60% dan maksimal 91%. Anda juga bisa melihat perkiraan harga untuk melihat perubahan harga di bulan selanjutnya. Model ini akan efektif mulai tahun 2022 nanti. Untuk rangkaian serta lokasi VM bisa dilihat pada tabel berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk mendapatkan hasil yang lebih hemat dan optimal, Anda bisa memanfaatkan integrasi dengan GKE. Pada GKE, Anda bisa membuat node Spot dengan menggunakan perintah –spot;. Sedangkan node pre-emptible bisa ditambahkan dengan –preemptible. Jika Anda sudah menggunakan GKE versi 1.21, tersedia perintah enable_graceful_node_shutdown untuk menjalankan Spot dengan lebih mulus. Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Google Cloud Operations Suite? Dengan menggunakan Google Cloud Spot VMs, berbagai jenis workloads, bahkan untuk tipe fault-tolerant bisa lebih mudah dijalankan. Menariknya lagi, layanan ini juga menerapkan model penetapan harga yang dinamis sehingga Anda bisa mendapatkan diskon mulai dari 60-91%. Layanan Spot VMs ini akan bekerja lebih baik pada infrastruktur cloud yang memang dikhususkan untuk bisnis. Belum menerapkan solusi tersebut pada bisnis Anda? Sebagai official reseller Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai produk Google secara legal, termasuk di antaranya adalah layanan Google Cloud. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan EIKON Technology!

Info

Merancang Sistem Belajar Online yang aman dengan Google for Education

Google for Education merupakan layanan pembelajaran kolaboratif berbasis cloud. Layanan ini memungkinkan penggunanya untuk bisa memanfaatkan aplikasi serta  fitur yang dikembangkan Google sebagai alat produktivitas untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar. Google for Education sendiri dikembangkan dengan mengutamakan keselamatan, keamanan, dan privasi para penggunanya. Bentuk proteksi tersebut bisa Anda temukan melalui berbagai fitur keamanan bawaan yang memberikan perlindungan otomatis serta visibilitas dan kontrol yang lebih luas untuk memastikan agar lingkungan belajar tetap aman dan terlindungi. Mari pelajari lebih jauh mengenai fitur keamanan yang ditawarkan Google for Education dalam ulasan berikut ini. Tiga prinsip keamanan Google for Education Photo Credit: Mohamed Hassan (PxHere) Keamanan default: Google melindungi Anda dengan fitur keamanan tercanggih di dunia. Sebelum Anda melakukan pengaturan keamanan, Google secara default telah mengaktifkan kontrol keamanan yang disesuaikan dengan lingkungan digital sekolah Anda. Proteksi default ini bahkan mampu melindungi Anda dari ancaman bahaya seperti ransomware. Desain yang privat: Google menerapkan praktik pengolahan data yang bertanggung jawab untuk menghormati privasi Anda. Hal ini pun diterapkan pada Google for Education dengan standar privasi data paling ketat seperti FERPA, COPPA, dan GDPR. Kendali di tangan Anda: Kepemilikan data di Core Workspace Services ada di tangan Anda sepenuhnya. Anda memegang hak kekayaan intelektual penuh atas data yang dimiliki. Anda bisa mengontrol siapa saja yang bisa mengaksesnya dan kapan waktu untuk mengaksesnya. Seluruh kendali ada pada Anda. Fitur baru dengan visibilitas dan kontrol yang lebih luas Untuk membantu para administrator dan para pengajar dalam membangun sistem pembelajaran digital yang aman, Google menambahkan beberapa fitur keamanan tambahan. Selain itu, Anda juga bisa menemukan pembaruan terkait pemberitahuan privasi untuk memudahkan pengajar, siswa, dan bahkan wali murid. Google juga meningkatkan layanan dan kontrol privasi dengan struktur yang lebih sederhana menggunakan bahasa yang lebih jelas agar lebih mudah dipahami. Baca juga: Mengapa Belajar Menjadi Lebih Mudah dengan Google for Education? Setelan akses berdasarkan usia Photo Credit: HippoPx Kemudahan lain yang bisa Anda temukan pada Google for Education adalah setelan akses berbasis usia. Dengan fitur ini Anda bisa mengatur akses menuju berbagai platform Google seperti YouTube, Photos, serta Maps. Bersamaan dengan peluncuran fitur ini, Google mengharuskan pengguna layanan seperti pengajar, staf, dan administrator untuk berusia 18 tahun ke atas. Jika melanggar batasan usia tersebut maka tidak akan bisa mengakses unit organisasi atau grup di Admin Console. Sedangkan pengaturan untuk siswa di bawah usia 18 tahun akan otomatis menyesuaikan dengan kebijakan baru. Setelah fitur ini aktif maka siswa yang berusia di bawah 18 tahun akan dibatasi aksesnya dalam menggunakan platform Google. Misalnya, saat mengakses YouTube mereka bisa tetap menyaksikan konten dari guru, tapi tidak bisa mengunggah video, memberikan komentar atau streaming dengan akun sekolah mereka. Keamanan tambahan Di Indonesia, Google Search secara default telah diatur ke mode SafeSearch sehingga siswa bisa melakukan pencarian dengan aman. Menggunakan Google for Education, proteksi tersebut bisa ditingkatkan dengan pengaturan SafeSites, Guest Mode, dan Incognito Mode. Dalam layanan Google for Education, mode SafeSearch dan SafeSites akan otomatis aktif. Sedangkan Guest Mode dan Incognito Mode akan dinonaktifkan secara otomatis saat Google Search digunakan. Administrator bisa melakukan pengaturan ulang terkait hal ini kapan saja diperlukan. Baca juga: Belajar Lebih Aman dengan Google for Education Menciptakan sistem belajar yang aman dan kondusif bagi siswa jelas bukan perkara mudah. Google for Education hadir untuk memudahkan Anda, pengajar dalam merancang sebuah sistem belajar yang bukan hanya aman tapi juga mudah diaplikasikan siswa. Tertarik untuk mulai menerapkan di sekolah Anda? Untuk bisa menikmati berbagai kemudahan, Anda harus berlangganan layanan Google Workspace for Education. EIKON Technology sebagai reseller resmi produk Google menyediakan layanan berlangganan Google Workspace for Education yang aman dan tepercaya untuk Anda. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Workspace

3 Cara Meningkatkan Keamanan Anda saat Menggunakan Google Workspace

Keamanan merupakan salah satu elemen yang terus mengalami peningkatan di Google Workspace. Bukan hal yang aneh mengingat bahwa Google Workspace sendiri merupakan platform yang digunakan untuk mengolah data dan selalu ada kemungkinan bahwa data tersebut bersifat sensitif. Artikel kali ini akan membahas update fitur keamanan Google Workspace untuk menghindari ancaman tingkat lanjut. Mari simak bersama ulasannya berikut. Memanfaatkan pengembangan Alert Center Alert Center merupakan fitur yang menyediakan  notifikasi real-time yang bisa segera ditindaklanjuti. Semua aktivitas yang terkait dengan keamanan domain akan langsung terlacak dalam fitur ini. Dengan adanya AlertCenter maka administrator dapat mengatasi gangguan notifikasi keamanan. Tampilannya pun kini dibuat lebih terpadu dengan daftar prioritas ancaman mulai dari yang paling berbahaya hingga yang kurang berbahaya. Sehingga administrator bisa lebih fokus pada hal yang penting sambil tetap melindungi keamanan domain. Photo Credit: Google Cloud Blog Kini Google telah mengembangkan AlertCenter dengan menambahkan layanan VirusTotal. Dengan VirusTotal, administrator bisa menggali notifikasi ancaman lebih dalam untuk bisa mengambil tindakan yang lebih efektif dalam mengatasi ancaman. Fitur blokir di Google Drive Platform Google Drive memungkinkan Anda untuk dapat menyimpan, berbagi, dan berkolaborasi di mana saja. Kemampuan berbagi Drive memang terbukti mampu mendorong produktivitas, tapi sayangnya hal ini bisa menjadi celah keamanan. Akan selalu ada oknum jahat yang ingin menyalahgunakan fitur berbagi Drive untuk melakukan tindakan merugikan. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk mengatasinya, Google menawarkan fitur blokir pengguna. Dengan mengaktifkan pemblokiran pengguna, Anda bisa membatasi akses menuju data yang tersimpan dalam Drive. Blokir bisa dilakukan dengan tiga cara: Blokir pengguna lain agar tidak membagikan konten apa pun dengan Anda di masa mendatang. Ini bisa diterapkan pada user yang sering membagikan konten spam. Hapus seluruh file dan folder yang telah dibagikan pengguna lain. Cara ini akan membersihkan drive Anda dari konten spam yang mengganggu. Hapus akses user lain ke drive Anda meski sebelumnya Anda sudah memberikan akses. Membatasi akses menuju resource Google Workspace Photo Credit: Google Cloud Blog Memastikan data organisasi untuk tetap aman bukanlah perkara sepele. Ada banyak ancaman yang mengintai tiap saat, mulai dari serangan virus, aplikasi yang tidak sesuai dengan standar keamanan, hingga risiko kebocoran akses kepada pihak yang tidak bertanggungjawab. Untuk mengatasi hal tersebut Google menawarkan solusi berupa peningkatan keamanan akses resource Google Workspace. Photo Credit: Google Cloud Blog Dalam pengembangan ini, administrator dapat memblokir semua akses OAuth 2.0 API dengan kontrol akses aplikasi dan akses kontekstual baik untuk Google mobile maupun versi desktop. Ada kalanya Anda tanpa sengaja mengunduh dan meng-install aplikasi yang berbahaya. Padahal aplikasi tersebut dapat mencuri data perusahaan. Dengan membatasi akses aplikasi pihak ketiga maupun aplikasi internal untuk mengakses data Workspace akan meminimalisir terjadinya kebocoran data perusahaan. Baca juga: Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Perkuat Kolaborasi Kerja Kesimpulan Pengembangan ini diharapkan dapat membantu user beserta data sensitifnya dari risiko penyalahgunaan dan ancaman keamanan selama menggunakan Google Workspace. Untuk keamanan tambahan, Anda bisa menyaksikan Google Cloud Security Talks. Konten tersebut akan membahas seputar tips dan trik untuk meningkatkan keamanan Anda selama menggunakan layanan dan platform yang dikembangkan Google. Google Workspace rentang dengan ancaman keamanan karena di dalamnya banyak data yang bersifat sensitif dan rahasia. Anda bisa memanfaatkan cara-cara di atas untuk melindungi data selama bekerja dengan Workspace. Tertarik dengan fitur keamanan Workspace namun belum menerapkannya di lingkungan kerja Anda? Tidak sulit kok untuk mulai berlangganan Google Workspace. Melalui EIKON Technology, Anda bisa mendapatkan akses Workspace secara resmi. Bahkan Anda bisa memilih  layanan Workspace yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, Klik di sini untuk informasi lebih lanjut!

Google Cloud

Meningkatkan Keamanan Akses Penyimpanan Data Google Cloud Melalui Enkripsi Data Ubiquitous

Saat melakukan pemindahan data ke Google Cloud Anda akan langsung dihadapkan dengan masalah proteksi data. Anda harus mengatur sistem yang mampu melindungi data dari akses yang tidak terotorisasi. Namun di satu sisi Anda tentu tidak ingin pilihan penyimpanan dan pemrosesan data menjadi terbatas. Menggunakan layanan cloud publik memang mengharuskan Anda untuk memberikan kepercayaan penuh pada penyedia layanan cloud. Terasa tidak nyaman mungkin, terutama untuk data yang bersifat sensitif dan rahasia.  Lalu bagaimana cara meningkatkan keamanan data yang tersimpan dalam Google Cloud? Simak penjelasannya berikut ini. Manfaatkan fitur proteksi tambahan Photo Credit: Google Cloud Blog Google Cloud mengatasi problem tersebut dengan menyediakan beberapa fitur proteksi tambahan seperti Cloud External Key Manager (EKM). Fitur ini bisa digunakan saat Anda harus mengenkripsi data tidak aktif untuk menyimpan dan mengelola kunci di luar infrastruktur milik Google. Selain itu, Google Cloud juga menyediakan layanan Confidential Computing. Anda bisa memanfaatkannya untuk mengenkripsi data yang sedang digunakan dengan kunci prosesor (tapi tidak tersedia di Google). Enkripsi data ubiquitous Meski pemanfaatan kedua fitur tersebut memang dapat mengurangi risiko terjadinya kebocoran akses data, Anda tetap harus memperhitungkan faktor risiko lain yaitu proses transfer data. Saat data sedang transit dari satu status dan akan menuju status lainnya, risiko terjadinya kebocoran akses akan semakin besar. Bagaimana solusinya? Google Cloud menawarkan solusi dengan mengembangkan enkripsi data yang bersifat ubiquitous. Artinya, proses enkripsi data bisa dilakukan dengan “komunikasi” antar komputer. Dengan demikian, interaksi antara pengguna dengan komputer pun bisa diminimalisir. Saat interaksi pengguna dan komputer menurun maka risiko terjadinya kebocoran akses pun bisa ikut diminimalisir. Dengan enkripsi data ubiquitous ini Anda dapat: Mengontrol akses menuju data, baik itu saat data sedang berada di penyimpanan, memori, maupun saat sedang di tengah proses transfer. Memanfaatkan sepenuhnya komputasi dan daya penyimpanan Google Cloud. Mengurangi tingkat kepercayaan implisit terhadap Google. Layanan enkripsi baru ini dirancang dengan memanfaatkan komputasi rahasia Google Cloud serta EKM, yang dikombinasikan dengan layanan pihak ketiga seperti Thales untuk memastikan Anda bisa tetap menggunakan pengaturan EKM yang sudah ada. Dengan begitu, proses enkripsi data saat harus dikirimkan ke cloud bisa berjalan mulus. Di samping itu, Google juga memanfaatkan fitur pengesahan confidential VM untuk memastikan bahwa kunci enkripsi hanya dapat digunakan pada kalangan terbatas. Baca juga: Fitur Baru Penyimpanan Google Cloud Memastikan Data Aman Cara mengaktifkan enkripsi data ubiquitous Photo Credit: HippoPx Untuk mengaktifkan enkripsi data ubiquitous dan memanfaatkannya Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut: Buat kunci enkripsi di luar Google Cloud terlebih dulu. Anda bisa menggunakan layanan pengelolaan kunci eksternal yang sedang digunakan (ada baiknya jika Anda menggunakan Thales Ciphertrust untuk integrasi dengan EKM nanti). Beri akses menuju kunci enkripsi EKM Anda ke layanan confidential VM. Gunakan gsutil untuk mengunggah data Anda ke Google Cloud Storage (GCS) dengan menggunakan lib. Proses enkripsi ini akan lebih mudah jika menggunakan kunci yang sudah dibuat pada Langkah 1. Dalam proses pengajuan di layanan confidential VM, gunakan gsutil untuk mengunduh data GCS. Cara ini akan mendekripsi data Anda tanpa harus membuka kunci di luar confidential VM. Jika di tengah proses pengajuan terlihat upaya untuk mengakses data GCS pada non-confidential VM maka proses dekripsi akan otomatis batal. Photo Credit: Google Cloud Blog Konfigurasi tambahan Anda juga bisa menambahkan beberapa perlindungan tambahan. Google Cloud biasanya secara opsional akan meminta lebih dari satu pihak untuk melakukan otorisasi akses menuju kunci enkripsi Anda. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan kunci Cloud KMS sebagai tambahan kunci enkripsi lokal untuk setiap proses dekripsi. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan kontrol yang lebih luas atas berbagai model akses kunci. Sebab cara ini akan membagi kemampuan cloud untuk mengenkripsi dan mendekripsi kunci di beberapa platform. Kesimpulan Proteksi terhadap data adalah poin krusial dalam penyimpanan data menggunakan Google Cloud. Membatasi akses menuju data sering dijadikan langkah preventif untuk mencegah kebocoran akses data. Melalui enkripsi data ubiquitous, Google Cloud memberikan perlindungan terhadap data saat proses enkripsi dan dekripsi. Dengan berbagai fitur keamanan yang canggih, menyimpan data di Google Cloud memang terbukti lebih aman dibandingkan dengan metode penyimpanan konvensional. Untuk Anda yang ingin mulai memanfaatkan penyimpanan cloud, EIKON Technology siap membantu. Sebagai partner resmi Google, EIKON Technology menyediakan layanan berlangganan Google Cloud yang legal. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service

Pendekatan keamanan zero trust meyakini bahwa rasa percaya baru bisa dicapai setelah melalui berbagai mekanisme dan harus terus diverifikasi. Zero trust sendiri telah diterapkan di Google pada proses end-to-end dalam menjalankan sistem produksi dan melindungi workload pada infrastruktur cloud-native. Layanan ini kemudian disebut dengan BeyondProd. Untuk membangun dan memverifikasi kepercayaan dalam sistem produksi tersebut memerlukan pemahaman bahwa: tiap workload memiliki identitas yang unik dan kredensial untuk otentikasi. lapisan otorisasi yang menentukan komponen sistem mana yang dapat berkomunikasi dengan komponen lain. Mari pelajari lebih lanjut mengenai bagaimana Google menerapkan pendekatan Zero trust untuk mengamankan workload dalam ulasan berikut ini. Remote procedure calls Untuk mulai menerapkan pendekatan Zero touch, Anda bisa mempertimbangkan sebuah arsitektur cloud-native dengan beberapa aplikasi yang dipecah menjadi beberapa microservices. Prosedur data-transfer in-process menjadi remote procedure calls (RPCs) melalui jaringan antar microservices. Tahapan mengamankan RPC: setiap microservices perlu memastikan bahwa RPC yang diterima hanya berasal dari pengirim yang telah diautentikasi dan memiliki wewenang. mengirim RPC hanya kepada penerima yang dituju. memiliki jaminan bahwa RPC tidak dimodifikasi saat transit. Oleh karenanya, service mesh perlu menyediakan identitas layanan, peer-authentication berdasarkan identitas layanan tersebut, enkripsi komunikasi antara peer-identities yang diautentikasi, dan otorisasi komunikasi service-to-service berdasarkan identitas layanan (dan mungkin atribut lainnya). Traffic Director Photo Credit: Rawpixel Untuk memberikan keamanan service mesh yang memenuhi kriteria di atas, Google menyediakan layanan keamanan baru melalui Traffic Director yang menyediakan kredensial workloads untuk GKE (Google Kubernetes) via CA Service, dan penegakan kebijakan untuk mengatur komunikasi antar workload. Kredensial yang dikelola sepenuhnya memberikan dasar untuk menjelaskan identitas workload dan mengamankan koneksi antara workload yang memanfaatkan mutual TLS (mTLS), sambil tetap menerapkan prinsip Zero trust. Hambatan penerapan mTLS Sayangnya, penerapan mTLS untuk keamanan service-to-service melibatkan kerja berat dan overhead yang cukup besar bagi developer, SRE, dan juga tim penerapan. Developer harus menulis kode untuk memuat sertifikat dan kunci dari lokasi yang telah dikonfigurasi sebelumnya untuk bisa menggunakannya dalam koneksi service-to-service merke. Di samping itu, mereka juga harus melakukan kerangka kerja tambahan atau bahkan pemeriksaan keamanan lanjutan berbasis aplikasi pada koneksi tersebut. Tidak hanya berhenti di situ, SRE dan tim penerapan juga harus mengaplikasikan kunci dan sertifikat di semua node yang nanti diperlukan untuk melacak masa kedaluwarsanya. Rotasi sertifikat ini melibatkan pembuatan CSR (certificate signing requests), menunggu tanda tangan dari Certificate Authorities (CA), menginstal sertifikat yang ditandatangani, dan menginstal sertifikat root yang sesuai. Proses ini sangat penting karena jika identitas atau sertifikat root sudah kedaluwarsa maka layanan akan otomatis offline dalam waktu lama. Integrasi tanpa batas sebagai solusi Untuk mengatasi hambatan tersebut, Google menciptakan integrasi tanpa batas antara infrastruktur CA, infrastruktur komputasi atau penerapan, serta infrastruktur mesh service. Dalam implementasinya, Certificate Authority Service (CAS) menyediakan sertifikat untuk mesh service, infrastruktur GKE yang terintegrasi dengan CAS, dan bidang kontrol Traffic Director yang terintegrasi dengan GKE. Photo Credit: Google Cloud Blog Komponen sertifikat GKE terus-menerus berkomunikasi dengan kumpulan CA untuk membuat sertifikat identitas layanan dan membuat sertifikat tersebut tersedia untuk tiap workload yang berjalan di pod GKE. CA secara otomatis diperbaharui dan tiap roots baru akan diserahkan kepada klien sebelum masa kedaluwarsa. Traffic Director sendiri merupakan kontrol service mesh  yang menyediakan kebijakan, konfigurasi, dan kecerdasan untuk entitas bidang data, dan memasok konfigurasi ke aplikasi milik klien serta server. Konfigurasi ini berisi pemindahan yang diperlukan dan informasi keamanan tingkat aplikasi untuk mengaktifkan koneksi mTLS. Kemudian setelah koneksi mTLS aktif maka kebijakan otorisasi yang sesuai dapat diterapkan pada RPC yang mengalir melalui koneksi tersebut. Pada akhirnya workload menggunakan konfigurasi keamanan untuk membuat koneksi mTLS yang sesuai dan menerapkan kebijakan keamanan yang disediakan.  Photo Credit: Rawpixel Pendekatan Zero trust menganggap bahwa kepercayaan baru bisa didapat setelah melalui rangkaian mekanisme khusus dan juga proses validasi yang terus diverifikasi. Google Cloud melalui berbagai layanan di dalamnya berusaha menerapkan pendekatan ini untuk memudahkan Anda mengelola workload. Layanan pengelolaan workload dengan GKE dan Traffic Director tidak akan bisa Anda nikmati tanpa berlangganan Google Cloud. EIKON Technology sebagai partner resmi Google di Indonesia siap membantu Anda mendapatkan Google Cloud secara legal. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Info

Memahami 6 Prinsip Penyerapan Data Google Cloud

Transformasi digital membuat penyimpanan silo data beralih pada gudang data berbasis cloud, salah satunya dengan Google Cloud. Hal ini membuat kolaborasi antar unit bisnis serta akses data menjadi lebih mudah. Meski begitu, kemudahan ini juga disertai dengan problem baru yang berkaitan dengan penyerapan data.  Dengan terbukanya data dari berbagai unit bisnis, mau tak mau Anda harus mengembangkan pipeline untuk penyerapan data. Tanpa adanya pipeline ini, data hanya sekadar terbuka tanpa bisa diolah dan dikembangkan. Mengembangkan cloud pipeline, terutama yang berbasis cloud lokal, akan menyerap banyak data ke gudang data cloud Anda tanpa adanya hambatan yang berarti. Google melalui Google Cloud memiliki 6 prinsip yang bisa Anda terapkan dalam perancangan pipeline untuk penyerapan data. Mari simak pembahasannya berikut ini. Perjelas tujuan Anda Photo Credit: Rawpixel Sebelum mengembangkan pipeline untuk penyerapan data, buatlah tujuan yang sejelas mungkin. Anda bisa mulai dengan membuat gambaran mengenai hasil akhir yang ingin dicapai. Perlu diingat, pipeline hanyalah jalan untuk menuju garis akhir Anda dan bukan garis akhir itu sendiri. Katakanlah Anda menginginkan agar “bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan”. Coba buat lebih jelas dengan menentukan siapa subjek yang harus bisa “mendapat pemahaman” dan bagaimana cara untuk “mendapat pemahaman tersebut”. Dengan runtutan berpikir seperti ini, Anda bisa membuat tujuan yang lebih detail dan tentunya lebih relevan dengan pipeline penyerapan data. Rancangan tujuan awal tersebut pun kemudian akan berubah menjadi, “agar tim pengolah data bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dengan menyediakan akses ke data CRM.” Bangun tim Anda Berikutnya, bangun tim Anda. Pastikan Anda memilih orang dengan skill yang tepat, entah itu memiliki keahlian untuk mengembangkan, menerapkan, maupun memelihara data pipeline perusahaan. Bagaimana cara terbaik untuk membangun tim yang handal? Pelajari kembali tujauan Anda. Dari tujuan tersebut Anda bisa punya gambaran mengenai apa saja persyaratan yang diperlukan pipeline penyerapan data perusahaan. Persyaratan tersebut akan membantu Anda untuk mengidentifikasi SDM yang diperlukan sekaligus memperkirakan potensi kelemahan yang memerlukan dukungan tambahan dari pihak ketiga di luar perusahaan. Efisiensi waktu Photo Credit: Rawpixel Dalam mengembangkan pipeline untuk penyerapan data Anda juga harus mempertimbangkan efisiensi waktu. Coba hitung beban pemeliharaan jangka panjang dari pipeline penyerapan data Anda sebelum mengembangkan dan menerapkannya. Langkah ini akan membantu Anda untuk menerapkan pipeline yang efisien dan layak. Google Cloud merekomendasikan beberapa pendekatan untuk membangun pipeline yang efisien: Memanfaatkan produk penyerapan data berbasis interface dari Google Cloud. Dengan menggunakan produk semacam ini, Anda bisa mengurangi jumlah kode yang memerlukan pemeliharaan sekaligus mengurangi waktu pengembangan jalur pipeline. Beberapa produk yang bisa Anda pertimbangkan adalah Google Data Transfer Service serta Fivetran untuk mengelola pipeline penyerapan data dengan aplikasi SaaS. Gunakan template kode yang tersedia saat produk penyerapan data berbasis interface tidak mencukupi. Anda bisa menggunakan template yang tersedia untuk Dataflow. Template tersebut akan memungkinkan Anda untuk menentukan variabel dengan mudah dan hemat waktu. Jika kedua opsi di atas masih belum membantu, gunakan layanan untuk menerapkan kode pada pipeline Anda. Beberapa layanan tersebut di antaranya adalah Dataflow dan Dataproc. Cara ini akan mengurangi biaya operasional pengelolaan konfigurasi pipeline. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi data Prinsip keempat dari Google Cloud terkait dengan penyerapan data adalah meningkatkan kepercayaan dan transparansi data. Meningkatkan kepercayaan dan transparansi bisa dilakukan dengan mengawasi serta mengelola pipeline pada seluruh tools yang Anda gunakan. Adanya banyak pipeline terkadang mengharuskan Anda untuk menerapkan beberapa alat yang berbeda. Sayangnya, hal ini bisa menyebabkan overhead manajemen pipeline karena jumlah jalur terus meningkat. Akan menjadi semakin rumit jika Anda memperhitungkann persyaratan untuk mengawasi saluran data. Anda bisa memanfaatkan layanan monitoring seperti Google Cloud Monitoring Service atau Splunk yang dapat menjalankan metrics, events, serta pengumpulan metadata dari beragam produk secara otomatis. Mengelola biaya Photo Credit: Rawpixel Menurut Google Cloud, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan terkait pengelolaan biaya yaitu: Memilih tools: Tiap jalur pipeline penyerapan data memiliki aturan tersendiri mengenai tingkat latensi, waktu aktif, hingga transformasi. Masing-masing jalur akan memiliki kecocokan dengan tools tertentu. Pastikan Anda memilih tools yang sesuai dengan masing-masing pipeline agar penggunaannya efisien. Terapkan pengendalian biaya: Apabila memang tersedia, jangan ragu untuk manfaatkan layanan pengendalian biaya untuk mencegah kesalahan yang menyebabkan biaya tambahan tak terduga. Catat pengeluaran cloud: Selalu catat pengeluaran Anda untuk seluruh pemanfaatan sumber daya cloud. Dengan begitu, Anda bisa memahami tiap perubahan dalam pembelanjaan cloud dan korelasinya dengan dinamika bisnis perusahaan. Manfaatkan layanan yang terus ditingkatkan Layanan Google Cloud secara konsisten melakukan peningkatan kinerja dan stabilitasnya. Dengan memanfaatkan peningkatan tersebut, pipeline data Anda bisa bekerja dengan optimal dan bahkan lebih efisien. Cara termudah untuk merasakan manfaat dari layanan ini adalah melakukan otomatisasi terhadap manajemen pipeline Anda. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi biaya operasional dari setiap jalur pipeline. Merancang pipeline yang efisien untuk penyerapan data memang tidak mudah, terlebih jika penyimpanan data Anda begitu luas. Anda bisa menerapkan prinsip pengelolaan pipeline dari Google Cloud di atas untuk membuat sekaligus mengelola pipeline dengan lebih optimal. Seluruh tools manajemen pipeline bisa Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud official. Anda bisa berlangganan layanan Google Cloud yang resmi melalui EIKON Technology. EIKON Technology sendiri merupakan official partner Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology.

Google Cloud

Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni

Penerapan strategi multicloud bukan lagi menjadi hal aneh, terlebih di era yang serba digital seperti sekarang ini. Laporan riset yang dilakukan Flexera menunjukkan bahwa dari 750 perusahaan korporat di Amerika Serikat, 92% persen di antaranya sudah menerapkan strategi multicloud. Strategi multicloud diterapkan karena perusahaan ingin mendapatkan yang terbaik dalam hal penyimpanan data mereka. Meski multicloud kemudian mengambil bagian terbaik dari tiap penyedia layanan cloud, strategi ini kemudian menimbulkan kompleksitas, baik itu dari segi integrasi, orkestrasi, hingga tata kelola data. Tantangannya tidak hanya berhenti di situ. Ketika perusahaan membangun dan menjalankan jaringan data mereka di cloud, dalam waktu yang bersamaan mereka juga mengelola analitik di seluruh penyedia cloud yang dipakai. Tanpa disadari, hal ini akan menimbulkan silo data yang menyebabkan gesekan bagi analis data. Sebagai solusi, perusahaan yang menerapkan strategi multicloud sebaiknya juga menerapkan analisis multicloud untuk memudahkan para analis data memecah silo data. Google Cloud menyediakan solusi atas permasalahan tersebut melalui BigQuery Omni. Seperti apa kemudahan analisis data multicloud dengan BigQuery Omni ini? Analisis data lintas cloud yang lebih mudah Photo Credit: Google Cloud Blog BigQuery Omni menawarkan kemudahan dalam melakukan analitik data, baik yang tersimpan dalam satu cloud maupun lintas cloud. Dalam versi general yang Q4 tahun 2021 ini, BigQuery memungkinkan Anda untuk melakukan analitik data lintas cloud mulai dari Google Cloud, Amazon Web Services (AWS), dan juga Microsoft Azure. Bahkan Google memastikan Anda akan mendapatkan koneksi yang aman untuk mengakses data S3 di AWS maupun data Azure Blob Storage milik Azure. Dengan begitu, analis data bisa membuat kueri data secara langsung cukup melalui interface BigQuery saja, tanpa harus membuka tempat data berada. Fungsionalitas dan integrasi tinggi BigQuery Omni tidak sekadar menyediakan layanan analitik lintas cloud biasa, tapi platform ini juga menyediakan lebih banyak fungsionalitas dan integrasi, bahkan di seluruh cloud. Katakanlah Anda ingin menggabungkan data kompetitor yang tersimpan di AWS dengan data engagement ads di Google Cloud agar lebih memahami efektivitas campaign yang sedang berjalan. Dengan BigQuery, Anda bisa langsung melakukannya hanya dengan membuka satu interface. Lebih simpel hemat biaya. Layanan multicloud yang seamless Photo Credit: Rawpixel BigQuery Omni menyediakan konsol pengoperasian satu panel kaca di semua cloud penyimpanan data. Hal ini kemudian memungkinkan tim analis untuk memperluas skill mereka dalam memaksimalkan potensi bisnis perusahaan tanpa harus mempelajari keterampilan baru. Perusahaan juga tidak perlu khawatir tentang lokasi data disimpan. Ini karena BigQuery Omni sendiri didesain menggunakan APIs (Application Programming Interface) yang sama dengan pendahulunya, Google BigQuery. Pada Google BigQuery, lokasi penyimpanan (baik itu AWS, Azure, maupun Cloud) begitu diperhatikan karena merupakan detail implementasi mereka. Pola keamanan yang konsisten Pada skala perusahaan, ada lebih banyak asset data yang dibuat. Maka dari itu, menerapkan pemberian akses yang tepat bisa menjadi tantangan tersendiri. Tim keamanan data perusahaan perlu kontrol menyeluruh terhadap akses data. Bukan hanya itu, mereka juga perlu detail sebanyak mungkin untuk keperluan sinkronisasi data yang aman. Dengan BigQuery, Anda tidak perlu khawatir dengan keamanan data lagi. Sebab, akses menuju data bisa dikontrol dengan mudah oleh tim keamanan namun tetap dengan pola keamanan yang konsisten. Mendorong terjadinya inovasi Photo Credit: Rawpixel Penerapan analisis data lintas cloud menjauhkan perusahaan dari potensi penimbunan data yang tidak konsisten. Dengan memanfaatkan layanan seperti BigQuery Omni, Anda bisa dengan mudah mendapatkan data yang tepat untuk pengambilan keputusan. Saat proses pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan cepat maka perusahaan pun bisa lebih berkembang. Kemungkinan untuk melahirkan inovasi baru pun bukan hal mustahil. Jadi, mengapa tidak mulai menerapkan strategi multicloud dengan analitik BigQuery Omni dari sekarang? Baca juga:  Transformasi Digital Lebih Mudah dengan Google Cloud Dengan adanya layanan analitik data seperti BigQuery Omni maka penerapan strategi multicloud menjadi tidak terlalu rumit lagi. Perusahaan pun bisa menghemat banyak waktu dan tentunya biaya karena seluruh proses analitik bisa dilakukan dengan satu interface saja. Ingin mulai menerapkan strategi multicloud di perusahaan? Anda bisa mulai dengan menerapkan infrastruktur cloud seperti Google Cloud. Dengan menerapkan cloud computing, perusahaan pun bisa mencapai efisiensi bisnis. Google Cloud bisa Anda dapatkan melalui official partner Google seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lengkap mengenai Google Cloud.

Scroll to Top