Author name: EIKON Technology

Cloud Computing, Collaboration, Google Cloud, Productivity

Mengatur Workflow Data di Google Cloud dengan Google Composer

  Dalam proses pengambilan keputusan, para pelaku bisnis banyak bergantung pada data dan analitik yang berfungsi untuk menghasilkan insight. Demi bisa menghasilkan insight yang berkualitas, para ahli dan teknisi data kerap dituntut untuk membangun alur kerja (workflow) bersifat end-to-end yang dapat menyerap, mengolah, dan menganalisis data secara efektif. Umumnya, workflow tersebut melibatkan beberapa task sekaligus yang harus dirampungkan sesuai urutan tertentu. Seiring dengan beban kerja yang meningkat, akan semakin sulit pula untuk mengerjakan berbagai task tersebut. Namun, selama Anda menyimpan data di Google Cloud, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena hal tersebut bisa diselesaikan dengan Google Composer. Pada dasarnya, Google Composer menawarkan fungsi orkestrasi (orchestration), yakni kombinasi antara pengelolaan, koordinasi, dan automasi workflow.  Google Composer, satu perangkat untuk ragam pengaturan data workload Photo Credit: Google Cloud Google Cloud Platform sebetulnya memiliki beberapa perangkat yang dapat menjalankan fungsi orchestration terhadap workflow. Namun, untuk orchestration terhadap beban kerja yang berbasis data, terutama ETL/ELT, Google Composer dapat menjadi solusi terbaiknya. Google Composer adalah perangkat orchestration yang digunakan untuk menulis, menjadwalkan, hingga memonitor workflows. Perangkat satu ini dirancang dengan menggunakan platform open-source yang cukup populer, Apache Airflow. Melalui Google Composer, Anda dapat menciptakan workflow dari banyak tasks. Nantinya, workflow tersebut dikonfigurasikan dengan cara membuat Directed Acyclic Graph (DAG) pada python. DAG adalah alur satu arah tanpa siklus dari sebuah task, sementara tiap task bertanggung jawab atas unit kerja terpisah. Mampu mengatasi berbagai tantangan selama mengatur workflow data Photo Credit: Markus Spiske (Unsplash) Mayoritas pengguna Google Composer pada Google Cloud adalah teknisi data. Mereka mengakui bahwa Google Composer dapat membantu mengatasi beberapa tantangan yang kerap muncul saat mengatur workflow data. Seiring dengan skala workflow yang semakin rumit, pengaturan task secara efisien pun jadi lebih penting. Untungnya, melalui Google Composer, Anda dapat membuat banyak cabang task maupun menjadikannya parallel berdasarkan status task sebelumnya. Perangkat orchestration pada Google Cloud ini juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung seperti penjadwalan (scheduling). Dengan berbagai keunggulannya, Google Composer meningkatkan pengalaman para teknisi data dalam menggunakan Apache Airflow. Google Composer “menjaga” infrastruktur yang diperlukan untuk memastikan seluruh DAG berjalan baik. Karena tak perlu lagi fokus terhadap manajemen infrastruktur cloud, terlebih dengan adanya fungsi automasi dari Google Composer, maka para teknisi data pun bisa lebih fokus dalam membangun workflow dan pipeline data. Sistem kerja yang efisien tentunya akan berdampak pada hasil yang optimal pula. Namun, Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data Photo Credit: Markus Spiske (Pexels) Google Composer memang menjadi salah satu perangkat powerful yang dapat membantu Anda mengatur workflow data pada Google Cloud. Namun, penting diingat bahwa Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data. Anda juga tak sebaiknya menggunakan Google Composer untuk mengubah maupun menganalisis data dalam jumlah besar. Pasalnya, Google Composer memang tidak dirancang untuk meneruskan data dalam jumlah besar dari satu task ke task yang lain. Selain itu, perangkat satu ini juga tidak dibekali dengan teknologi khusus untuk memproses big data karena sejak awal hanya fokus ditujukan sebagai perangkat dengan fungsi orchestration data. Dengan menggunakan Google Composer, proses pengaturan workflow data pada Google Cloud jadi lebih mudah dan efisien. Untuk mencobanya sendiri, tentu saja Anda harus terlebih dulu berlangganan Google Cloud. Beruntung kini untuk berlangganan Google Cloud, Anda hanya perlu menghubungi EIKON Technology sebagai partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Sebelum berlangganan, Anda dapat berkonsultasi bersama tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda. Langsung saja klik di sini untuk menghubungi EIKON Technology!

Info

Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud

  Pesatnya perkembangan digital membuat industri manufaktur harus menghadapi banyak tantangan, mulai dari besarnya biaya operasional hingga meningkatnya ekspektasi pelanggan. Kabar baiknya, berbagai tantangan tersebut tidak mustahil untuk diatasi selama ada data bisnis. Terlebih, kini umumnya perusahaan manufaktur telah menerapkan System Application and Product in Data Process (SAP) yang memang fokus pada pengolahan data. Namun, analisis data saja belumlah cukup untuk membangun industri manufaktur berbasis digital yang mampu meningkatkan produksi, meminimalisir masalah, dan jeli menemukan peluang. Agar bisa menghasilkan data yang lebih mendalam, perusahaan manufaktur perlu menggabungkan data SAP dengan data dari machine learning (ML). Caranya adalah melalui integrasi antara aplikasi SAP perusahaan dengan kemampuan ML, artificial intelligence (AI), dan analitik data dari Google Cloud. Kombinasi SAP Google Cloud mendukung percepatan digitalisasi perusahaan manufaktur. Migrasi ke sistem cloud dengan risiko minim Photo Credit: Science in HD (Unsplash) Bagi perusahaan manufaktur yang telah mengadaptasi SAP, Anda pasti paham betapa rumit prosesnya. Karenanya, wajar jika Anda merasa khawatir untuk melakukan integrasi SAP dengan Google Cloud. Bagaimana jika prosesnya lebih rumit dan memakan banyak waktu? Tenang saja, layanan Google Cloud dirancang dengan proses yang sederhana dan dilengkapi sistem keamanan mumpuni. Jika ingin mempercepat proses integrasi, Anda bisa menggunakan template otomatis SAP Google Cloud yang telah disediakan dan mengonsolidasi data SAP dalam cloud. Semua hal tersebut telah tergabung dalam Cloud Acceleration Program untuk para pengguna SAP. Menyediakan solusi migrasi bersifat pre-built, proses integrasi SAP Google Cloud pun bisa berjalan secara lebih efisien dan minim risiko. Manajemen dan integrasi data secara lebih efisien Photo Credit: Christino Morillo (Pexels) Dengan menjalankan SAP pada Google Cloud, Anda dan tim di perusahaan manufaktur dapat memanfaatkan layanan penyimpanan data yang fleksibel tanpa harus mengeluarkan biaya untuk perawatan infrastrukturnya. Nantinya, Anda tak hanya bisa mendapatkan insight berdasarkan riwayat data, tapi juga dari data-data yang bersifat real-time. Jika ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal, gabungkan pula data-data tersebut dengan sinyal data dari perangkat Google Cloud, misalnya maps, shopping, dan weather. Dengan begini, perusahaan manufaktur dapat memperoleh insight mendalam atas berbagai faktor penting dalam proses bisnis, mulai dari perencanaan hingga kebutuhan konsumen. Analitik data dilengkapi teknologi machine learning Photo Credit: Brett Sayles (Pexels) Dalam menyimpan dan mengolah data, Google juga memanfaatkan BigQuery, warehouse analisis data tanpa server yang dirancang dengan sistem scalable. Artinya, Anda bisa terus menyesuaikan pemakaian Google BigQuery sesuai kebutuhan sehingga membantu efisiensi biaya pengeluaran. Google BigQuery mampu menganalisis data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, termasuk sistem SAP Google Cloud, untuk menghasilkan insight yang mendalam. Bahkan Anda juga bisa mendapatkan prediksi tren dengan memanfaatkan Cloud AutoML yang dilengkapi dengan teknologi machine-learning. Dengan prediksi tren, perusahaan manufaktur dapat mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif terhadap masa depan bisnis. Contohnya untuk membantu meningkatkan hasil produksi, mengurangi keterlambatan produksi, dan sebagainya. Sudah saatnya industri manufaktur meningkatkan intensitas digitalisasi dalam pekerjaan sehari-hari. Menerapkan integrasi SAP Google Cloud merupakan solusi yang tepat. Sebagai langkah awal, pastikan Anda lebih dulu berlangganan Google Cloud melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Untuk mempermudah migrasi ke Google Cloud, Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology. Klik di sini untuk mempelajari lebih jauh tentang Google Cloud atau langsung saja hubungi EIKON Technology! 

Collaboration, Google Cloud, Productivity

Transformasi Industri FMCG dengan Sistem SAP Google Cloud

  Sejak beberapa tahun belakangan ini, industri fast-moving consumer goods (FMCG)—atau disebut juga dengan consumer packaged goods (CPG)—sedang bergelut dengan perubahan. Konsumen mulai menginginkan pengalaman yang lebih personal dengan brand FMCG. Tak hanya itu, mereka pun memiliki standar yang meningkat terkait tanggung jawab sosial dan transparansi brand. Tuntutan perubahan pada industri FMCG juga ditujukan pada model bisnis yang dijalankan. Jika sebelumnya mayoritas konsumen mendapatkan produk FMCG dengan mendatangi supermarket, kini mulai banyak dari mereka yang mengandalkan layanan berlangganan (subscription) atau pengantaran langsung (direct-to-consumer). Menjawab berbagai tantangan tersebut, banyak perusahaan CPG mulai mengarahkan model bisnis ke arah digital. Alhasil, dibutuhkan pemanfaatan teknologi cloud yang dikenal memiliki keamanan dan fleksibilitas tinggi. Mengingat bahwa banyak perusahaan CPG yang menggunakan SAP, Anda bisa mengintegrasikannya dengan Google Cloud untuk mencapai target digitalisasi perusahaan. Sediakan data maksimal untuk analisis lebih mendalam Photo Credit: Fatos Bytyqi (Unsplash) SAP merupakan singkatan dari System Application and Product in Data Processing, yang diterapkan untuk mendukung aktivitas kerja di perusahaan atau organisasi agar bisa berjalan secara otomatis. Dengan begitu, efisiensi dan produktivitas kerja pun dapat meningkat. Idealnya, sistem SAP terdiri dari bermacam-macam modul dengan tugas masing-masing sesuai perintah. Seluruh modul tersebut akan saling terintegrasi untuk menyajikan data akurat kepada Anda. Nah, melalui kombinasi SAP Google Cloud, Anda bisa mendapatkan data atau insight secara lebih optimal. Beberapa perangkat analitik Google, contohnya Looker dan BigQuery, dapat membantu perusahaan menghubungkan data pelanggan, operasional, dan bisnis sekaligus. Caranya adalah melalui penyatuan sistem SAP dengan sinyal data Google seperti Maps, Ads, atau Shopping. Data tersebut mampu menjalankan tugas-tugas kompleks secara cepat, sehingga perusahaan dapat melakukan analisis secara mendalam dan mendapatkan insight baru seputar pelanggan dan bisnis mereka. Relatif lebih efisien, lebih hemat biaya Photo Credit: Scott Graham (Unsplash) Salah satu kelebihan sistem SAP Google Cloud adalah sifatnya yang scalable. Artinya, Anda bisa terus menyesuaikan pemakaian sistem berdasarkan perkembangan bisnis dan pasar, termasuk di industri FMCG. Hal ini memungkinkan Anda untuk melakukan efisiensi biaya. Anda hanya perlu mengeluarkan biaya untuk hal-hal yang memang diperlukan. Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh IDC, penggunaan sistem SAP pada Google Cloud mampu mengurangi biaya operasional tiga tahun hingga 46%, dengan potensi downtime yang menurun hingga 83% dan peningkatan efisiensi tim IT hingga 56%. Dengan begini, Anda dan tim di perusahaan FMCG pun bisa mengalokasikan biaya lebih untuk hal-hal krusial lain seperti eksekusi strategi marketing, riset pasar, hingga aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Membangun built-in intelligence dengan teknologi AI dan machine learning Google Photo Credit: Sai Kiran Anagani (Unsplash) Mengikuti tren pasar memang baik untuk dilakukan, terutama bagi perusahaan FMCG yang produk-produknya begitu dekat dengan konsumen. Namun, akan lebih baik jika Anda memiliki kemampuan untuk memprediksi tren tersebut dan menjadi brand yang inovatif. Dibekali teknologi machine learning dan artificial intelligence (AI), sistem SAP Google Cloud mampu memprediksi tren secara akurat. Hal ini dapat membantu banyak divisi di perusahaan FMCG dalam menjalankan tugas masing-masing. Bagi tim marketing, misalnya, kemampuan prediksi tren dari SAP Google Cloud bisa membantu mengevaluasi hasil promosi dan efektivitas biaya pengeluaran. Lalu, bagi tim supply chain, mereka dapat menggunakan hasil prediksi untuk memonitor inventaris sehingga meminimalisir terjadinya kehabisan stok.   Bagi perusahaan FMCG yang selama ini telah menggunakan sistem SAP, tingkatkan performanya melalui integrasi dengan Google Cloud. Berbagai kemudahan di atas akan Anda dapatkan dan digitalisasi perusahaan pun tak lagi mustahil dilakukan. Jadi, jangan buang-buang waktu lagi. Namun, pastikan Anda hanya berlangganan SAP Google Cloud dari partner resmi produk Google yang tepercaya seperti EIKON Technology. Anda bahkan bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan FMCG Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!    

Info

Mengelola Chrome Extensions Melalui Group Policy bagi User Windows

  Demi mendukung produktivitas harian, terutama yang berkaitan dengan aktivitas online browsing, banyak perusahaan memasang extensions atau fungsi tambahan pada browser Google Chrome mereka. Seiring dengan kebutuhan kerja yang meningkat, jumlah Chrome extensions yang dipasang pun ikut bertambah. Nah, banyaknya extensions tersebut kerap berujung pada kesulitan untuk mengelolanya. Terlebih, terkadang ada beberapa extensions tertentu yang dapat mengakses data secara lebih mendalam pada situs-situs yang Anda kunjungi. Sebagai pihak yang biasanya ditunjuk menjadi admin Chrome untuk kebutuhan korporasi, IT perusahaan pun membutuhkan solusi agar mereka bisa memonitor extensions secara lebih intens. Google sebetulnya telah memiliki Chrome Browser Cloud Management sebagai cara paling mudah untuk mengelola extensions. Masalahnya, tidak semua pengguna memakai sistem Chrome OS, yang memang hanya ada pada perangkat Chromebook. Beberapa pengguna, mungkin termasuk Anda, masih harus menggunakan Group Policy pada Windows untuk mengelola extensions. Berikut adalah beberapa opsi yang paling sering dipilih untuk mengelola Chrome extensions melalui Group Policy. Cara memasang Chrome extensions  Photo Credit: cottonbro (Pexels) Terkait pemasangan extensions pada Chrome, Anda perlu mengetahui sejumlah opsi yang kerap dipakai oleh para pengguna. Cek beberapa di antaranya berikut ini:   Extension Install Allow List – Daftar extensions yang telah Anda setujui untuk di-install atau dipasang pada browser Anda. Extension Install Force List – Mengesampingkan kebijakan daftar blokir, extensions tidak dapat dinonaktifkan sepenuhnya saat dicopot pemasangannya. Extension Install Sources – Kebijakan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan fungsi pemasangan terdahulu pada beberapa URL tertentu yang telah Anda sebutkan dalam kebijakan. Extension Allowed Types – Daftar extensions yang Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Extensions yang tidak disebutkan dalam daftar ini tidak akan bisa terpasang.   Cara memblokir Chrome extensions Photo Credit: Luca Sammarco (Pexels) Demi alasan keamanan dan privasi, kemungkinan akan ada beberapa Chrome extensions yang harus Anda blokir agar tidak dipasang oleh karyawan perusahaan. Setidaknya ada dua kebijakan dalam Group Policy yang mengatur tentang hal ini, yaitu:   Extension Install Block List – Daftar extensions yang tidak akan Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Jika seandainya extension tersebut telah terpasang, maka akan dinonaktifkan. Apabila ada karyawan atau pengguna yang tetap berusaha memasangnya, maka extension pun segera diblokir. Tombol Add to Chrome pada Chrome web store akan berubah warna menjadi merah sebagai tanda bahwa suatu extension tidak bisa dipasang. Block External Extensions – Pengaturan ini akan memblokir extensions dari sumber eksternal yang sedang dipasang. Contohnya, jika suatu aplikasi yang telah terpasang ternyata menambah extensions pada Chrome, maka extensions tersebut akan segera diblokir dari proses pemasangan.   Pengaturan lain yang lebih advanced Photo Credit: Arnold Francisca (Unsplash) Selain beberapa pengaturan di atas, sebetulnya masih ada sejumlah jenis pengaturan dengan fungsi lain yang lebih advanced atau membutuhkan keahlian lebih. Anda perlu menggunakan script JSON sehingga penerapannya pun relatif lebih rumit. Beberapa fungsi yang dapat Anda gunakan dalam kebijakan satu ini adalah: Mencegah beberapa extensions tertentu agar berhenti berfungsi pada situs-situs tertentu. Menampilkan pesan custom pada pengguna untuk memberi tahu bahwa suatu extension telah diblokir. Memperbolehkan pemasangan extensions atau melakukan pemblokiran dengan memberikan izin atau akses khusus.   Bagi yang ingin mengaktifkan pengaturan bersifat advanced pada Chrome extensions, tapi tidak familiar dengan script JSON, Google menyarankan Anda untuk menggunakan Chrome Browser Cloud Management. Hampir seluruh fungsi dan pengaturan Chrome extensions di sana tidak membutuhkan penulisan script JSON. Namun, untuk itu, Anda juga perlu beralih menggunakan perangkat bersistem Chrome OS, Chromebook. Tenang saja, Anda bisa mendapatkannya dengan mudah melalui partner resmi produk Google di Indonesia, EIKON Technology.  Menyediakan beragam tipe perangkat Chromebook dari berbagai merek, Anda pun bisa memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang agar tidak kehabisan!

Collaboration, Google Cloud, Productivity

4 Update Baru Cloud Asset Inventory Bantu Anda Lebih Mengenali Google Cloud

Cloud Asset Inventory adalah menyediakan layanan inventaris berdasarkan database berbasis waktu. Database tersebut menyimpan riwayat aset metadata Google Cloud dalam lima minggu terakhir. Dengan adanya Cloud Asset Inventory, Anda bisa mencari aset metadata menggunakan bahasa query khusus hingga memonitor perubahan aset melalui notifikasi bersifat real-time. Mengingat pentingnya peran Cloud Asset Inventory tersebut, Google pun rutin memberikan update agar performanya terus meningkat. Dengan begitu, Anda pun bisa menggunakan Google Cloud secara lebih optimal. Berikut beberapa update yang baru-baru ini diberikan Google kepada Cloud Asset Inventory. Integrasi Datadog dan Asset Discovery Photo Credit: Kevin Ku (Pexels) Salah satu layanan utama dari Cloud Asset Inventory adalah asset list, yang berfungsi untuk menyusun daftar aset suatu project dalam jangka waktu tertentu menggunakan Cloud Asset API. Pada update terbaru ini, fitur asset list kini mampu mendeteksi aset (asset discovery) secara lebih cepat dan komprehensif tanpa harus mengekspor data ke tempat penyimpanan yang dituju. Tak hanya itu, kini asset list juga telah terintegrasi dengan Datadog, aplikasi penyedia layanan pemantauan dan keamanan multi-cloud. Datadog mengandalkan integrasi mendalam dengan Cloud Asset Inventory untuk menyediakan layanan asset discovery. User interface baru untuk melihat insight Photo Credit: Google Saat mengakses Cloud Asset Inventory, Anda akan disambut oleh tampilan user interface yang baru. Berkat tampilan baru ini, sekarang preview untuk konsol Cloud Asset Inventory telah tersedia bagi pengguna Google Cloud Platform maupun aplikasi Anthos. Preview tersebut menampilkan informasi seputar riwayat Cloud, detail penggunaan sumber daya, hingga kemampuan search dengan filter yang cukup spesifik. Kini konsol Cloud Asset Inventory dapat difilter berdasarkan level project dan organisasi. Dengan begini, karyawan hanya dapat mengakses data atau sumber daya lain yang izinnya telah diberikan kepada mereka. Tambahan 7 Asset Insight baru Photo Credit: Christina Morillo (Pexels) Cloud Asset Inventory baru saja menambahkan tujuh jenis Asset Insights baru melalui platform Active Assist. Berbagai aset baru ini dapat membantu Anda mendeteksi adanya anomali dalam kebijakan Identity and Access Management (IAM) milik perusahaan. Dari hasil deteksi ini, Anda pun dapat melakukan perbaikan pada sistem keamanan Cloud. Berikut ketujuh jenis Asset Insight baru tersebut: Anggota eksternal dalam kebijakan IAM Pengguna eksternal yang meniru akun layanan Anda Anggota eksternal sebagai editor kebijakan Pengguna eksternal yang dapat melihat bucket penyimpanan cloud Pengguna atau grup yang telah dihapus, tapi masih berada dalam kebijakan IAM Kebijakan IAM yang mencakup seluruh pengguna atau pengguna terotentikasi   Project yang penggunanya tak lagi menjadi owner   Lebih mudah menentukan pihak-pihak yang bisa mengakses data Photo Credit: Google Demi menjaga keamanan resources yang tersimpan di dalam Cloud Asset Inventory, Anda perlu melakukan manajemen atau pengelolaan akses. Untuk membantu Anda melakukan hal tersebut, telah hadir Policy Analyzer baru pada Cloud Asset Inventory yang mampu menganalisis hubungan antara resources dan kebijakan IAM. Analisis tersebut mencakup banyak fungsi, mulai dari ekspansi grup secara efisien, impersonasi akun layanan, hingga perluasan resources. Tak hanya itu, Anda bahkan juga bisa mengekspor hasil analisis ke bucket Cloud Storage atau BigQuery. Dengan adanya update baru pada Cloud Asset Inventory, kini Anda bisa menggunakan Google Cloud secara lebih aman dan optimal. Bagi yang belum berlangganan layanan cloud unggulan Google ini, Anda bisa langsung menghubungi EIKON Technology selaku partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Tim EIKON Technology akan membantu Anda memahami lebih jauh tentang layanan dan infrastruktur Google Cloud. Tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga!  

Collaboration, Productivity

4 Fitur Baru Chrome untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja

  Chrome dikenal sebagai layanan aplikasi browser yang dikembangkan oleh Google. Melalui Chrome, Anda bisa melakukan banyak hal untuk menunjang pekerjaan, mulai dari riset data, mencari bahan konten promosi, hingga berkolaborasi dengan rekan kerja satu tim. Memahami pentingnya peran Chrome, Google telah menyematkan sejumlah fitur baru untuk membantu Anda dan pengguna lain dalam meningkatkan produktivitas kerja. Apa saja fitur-fitur Chrome tersebut? Cari tahu selengkapnya di bawah ini! Peningkatan performa secara keseluruhan Photo Credit: PhotoMIX Company (Pexels) Salah satu fitur utama yang baru ditambahkan pada Chrome adalah meningkatkan performa. Berkat adanya peningkatan ini, kini penggunaan Chrome CPU jadi berkurang sehingga dapat mengurangi pemakaian baterai serta meminimalisir timbulnya suara kipas serta mesin panas. Pada perangkat Mac, misalnya, terjadi peningkatan hingga 65% terhadap Dampak Energi (Energy Impact) saat tabs aktif diprioritaskan. Alhasil, penggunaan CPU jadi berkurang hingga 35% dan masa baterai pun bisa bertambah hingga 1,25 jam. Hasil performa serupa juga ditemukan pada perangkat Windows, Linux, dan Chrome OS. Lebih mudah mengelola project dengan Tab Groups Photo Credit: Google Demi keperluan pekerjaan, terkadang Anda harus membuka banyak tabs di Chrome dalam satu waktu. Terlebih jika Anda sedang mengerjakan banyak project, bisa-bisa tabs yang dibuka pun jadi menumpuk. Bukannya pekerjaan cepat selesai, Anda justru bingung mencari tab yang harus diakses untuk tugas tertentu. Mengatasi hal tersebut, fitur baru bernama Tab Groups pun diluncurkan. Melalui fitur Chrome ini, Anda bisa mengelompokkan beberapa tabs dalam satu grup. Agar bisa lebih fokus dan meningkatkan produktivitas kerja, Anda dapat me-minimize maupun memperluas tampilan kelompok tab tersebut. Cara menggunakan Tab Group ini sangatlah mudah. Pada salah satu tab, klik kanan dan pilih opsi Add Tab to New Group. Lalu, untuk mengelompokkan tabs lain ke grup yang sama, Anda hanya perlu menggeser (drag) tabs ke grup tersebut. Mute notifikasi saat Anda presentasi Photo Credit: cottonbro (Pexels) Tak hanya untuk browsing data atau informasi, Chrome juga kerap digunakan untuk online meeting. Bagi yang harus menyampaikan presentasi saat meeting, biasanya Anda akan share screen untuk memperlihatkan materi presentasi. Untuk meminimalisir distraksi selama presentasi berlangsung, Google telah menambahkan fitur Chrome yang baru bernama Mute Notifications. Jadi, saat Anda presentasi, Chrome akan menonaktifkan (mute) seluruh notifikasi sehingga Anda dan tim bisa benar-benar fokus meeting. Kirim tautan ke teks yang telah diberi highlight Photo Credit: Google Dalam aktivitas kerja sehari-hari, Anda dan rekan satu tim biasanya akan saling berbagi tautan atau link untuk keperluan riset data. Namun, ketika membuka link tersebut, Anda dihadapkan dengan berbaris-baris tulisan tanpa tahu bagian mana yang dimaksud oleh rekan kerja Anda. Bukannya meningkatkan produktivitas kerja, hal ini justru berisiko membuang waktu Anda. Kabar baiknya, kini telah hadir fitur baru bernama Link to Highlight yang bisa menjadi solusi atas tantangan tersebut. Melalui fitur Chrome ini, Anda bisa memberikan highlight pada teks yang ingin Anda bagikan, klik kanan pada bagian highlight tersebut, pilih opsi “Copy link to highlight”, lalu membagikannya ke rekan kerja. Jadi, ketika rekan kerja membuka link tersebut, ia akan langsung melihat bagian teks yang telah di-highlight. Tak perlu lagi scroll dan mencari satu per satu sehingga Anda dan rekan satu tim bisa lebih hemat waktu.  Berbagai fitur Chrome terbaru ditambahkan secara rutin untuk memaksimalkan pengalaman para penggunanya, termasuk dalam hal meningkatkan produktivitas kerja. Namun, jika ingin lebih maksimal lagi, disarankan untuk menggunakan perangkat Chromebook. Berbekal sistem Chrome OS, Chromebook menggunakan Chrome sebagai default browser sehingga mendukung seluruh fitur yang disematkan. Anda bisa mendapatkan perangkat Chromebook secara mudah dengan menghubungi EIKON Technology, partner resmi produk Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung langsung dengan tim EIKON Technology sekarang juga!  

Collaboration, Google Workspace, Productivity

Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan untuk Memperkuat Kolaborasi Kerja

Di tengah budaya kerja yang semakin bergeser ke arah hybrid, peran teknologi pun jadi semakin penting bagi banyak pekerja. Dengan tingkat fleksibilitas yang semakin tinggi, di mana banyak dari Anda yang bekerja secara remote dari tempat masing-masing, kebutuhan akan teknologi yang aman dan mengedepankan privasi pun ikut meningkat. Sebagai program andalan untuk menunjang produktivitas kerja, Google Workspace sejak awal dirancang dengan sistem keamanan dan privasi yang optimal. Seiring berjalannya waktu, berbagai update dan inovasi terus dilakukan demi memberikan rasa aman kepada para pengguna. Baru-baru ini, sistem keamanan Google Workspace kembali mendapatkan peningkatan. Tujuannya agar kolaborasi kerja menggunakan Google Workspace bisa semakin kuat karena para pengguna tak perlu khawatir akan privasi dan keamanan mereka. Inovasi apa saja yang diberikan Google terhadap sistem keamanan Workspace? Cek selengkapnya di bawah ini! Trust Rules, kontrol lebih bagi admin untuk mengatur data Photo Credit: Google Kolaborasi online dapat berjalan efektif apabila pertukaran ide dan informasi dapat berlangsung kondusif. Tak hanya membutuhkan pengelolaan file atau data secara tepat, tapi Anda juga harus memastikan bahwa data tersebut selalu berada di tangan yang tepat. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sistem keamanan Google Workspace mendapatkan fitur baru bernama Trust Rules for Drive. Melalui Trust Rules, pihak administrator (admin) akan memiliki kontrol lebih dalam menentukan data yang dapat dibagikan, baik ke sesama karyawan internal maupun pihak eksternal. Berkat adanya aturan-aturan tersebut, admin berhak menerapkan pembatasan akses sharing secara spesifik untuk grup karyawan tertentu. Versi beta dari Trust Rules for Drive akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang. Nantinya, fitur keamanan satu ini hanya akan tersedia untuk pengguna langganan Google Workspace Enterprise dan Google Workspace Education Plus. Memperkuat privasi dan keamanan data dengan client-side encryption Photo Credit: Google Pada dasarnya, Google Workspace telah menggunakan sistem cryptography standar untuk mengenkripsi sejumlah data yang tersimpan dalam Google Cloud. Inovasi terbaru pada sistem keamanan Google Workspace akan memberikan Anda kontrol langsung terhadap kunci-kunci enkripsi tersebut serta layanan identitas yang Anda pilih untuk mengaksesnya. Dinamakan client-side encryption, fitur ini membuat data pengguna jadi tidak bisa diuraikan atau “dipecah” oleh Google. Namun, tenang saja, Anda tetap bisa menikmati beragam layanan Google Workspace seperti mengakses file di Drive dari perangkat mobile hingga berbagi file kepada pihak eksternal. Didukung dengan sistem enkripsi lain yang diterapkan Google, pengguna Google Workspace pun akan mendapatkan proteksi lebih terhadap data-data mereka. Hal ini tentu akan sangat membantu Anda dalam menyimpan data sensitif seperti riwayat medis pasien dan data finansial perusahaan. Lebih efektif mencegah data hilang melalui Drive Labels  Photo Credit: Google Sistem keamanan Google Workspace yang baru juga hadir dalam fitur bernama Drive Labels, yang memungkinkan Anda untuk mengklasifikasikan data-data di Drive. Dengan begini, Anda pun bisa mengelola dan menangani data-data tersebut secara tepat. Terintegrasi dengan sistem Data Loss Prevention (DLP), Drive Labels memberi kemampuan pada pihak admin untuk menetapkan aturan yang sesuai dengan level sensitivitas data. Jadi, semakin tinggi tingkat sensitivitas suatu data, maka akan semakin sulit untuk diakses sembarangan. Jika seandainya Anda lupa mengklasifikasikan data, tak perlu khawatir karena Drive Labels memiliki fitur klasifikasi otomatis yang dilakukan berdasarkan aturan DLP dari admin. Namun, fitur klasifikasi otomatis ini hanya akan tersedia pada edisi Google Workspace Enterprise Standard, Enterprise Plus, dan Education Plus.   Berbagai inovasi pada sistem keamanan Google Workspace tersebut memberikan kepercayaan lebih kepada para penggunanya. Dengan begini, kolaborasi kerja pun bisa dilakukan tanpa mengkhawatirkan privasi dan keamanan. Namun, pastikan untuk berlangganan Google Workspace terlebih dulu agar dapat menggunakan fitur-fitur keamanan tersebut. Setidaknya ada empat edisi yang bisa Anda pilih untuk berlangganan Google Workspace sesuai kebutuhan. Jika bingung menentukan pilihan, langsung saja hubungi EIKON Technology selaku partner resmi produk Google di Indonesia. Tim EIKON Technology akan memberikan penjelasan kepada Anda dan membantu melakukan pendaftaran untuk berlangganan.

Chromebook, Security

5 Cara Google Melindungi Privasi dan Keamanan Chrome Anda

  Menjaga keamanan pengguna di ranah online merupakan salah satu prioritas utama Google. Terlebih, ada miliaran orang di dunia yang menggunakan produk browser andalan Google, Chrome, untuk mengakses web. Berbagai cara pun diterapkan untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome agar Anda dapat browsing tanpa rasa khawatir. Berikut beberapa di antaranya.   Proteksi terhadap password    Photo Credit: Dan Nelson (Unsplash) Sebagai pengguna aktif internet, kemungkinan besar Anda memiliki banyak akun di berbagai website. Demi alasan keamanan, tiap website pun mempunyai password berbeda untuk sign in. Dengan banyaknya password yang harus diingat, tentu hal tersebut cukup menyulitkan. Untungnya, Anda tak perlu melakukan hal tersebut karena telah hadir Password Manager yang dapat menyimpan password akun-akun online Anda secara aman. Tak hanya itu, tersedia pula fitur Password Checkup yang akan memberi notifikasi apabila ternyata ada password yang berpotensi mudah diretas.   Fitur Safe Browsing untuk mencegah risiko kejahatan siber   Photo Credit: Vlada Karpovich (Pexels) Bentuk perlindungan privasi dan keamanan Chrome tidak hanya diberikan pada informasi password akun online Anda, tapi juga untuk aktivitas browsing secara keseluruhan. Tahukah Anda bahwa Chrome dilengkapi dengan fitur bernama Safe Browsing? Jika Anda hendak membuka atau mengunjungi website yang berpotensi mengandung virus atau bahaya lain, fitur Safe Browsing inilah yang akan memperingatkan Anda, begitu juga saat Anda mengunduh file mencurigakan dari internet. Dengan begini, risiko kejahatan siber seperti malware dan phising pun dapat diminimalisir. Kontrol sendiri iklan yang mau Anda lihat     Photo Credit: Pixabay (Pexels) Saat sedang browsing, kemungkinan besar Anda pernah melihat iklan online yang ditampilkan pada beberapa website tertentu. Apabila Anda merasa heran kenapa iklan tersebut ditampilkan kepada Anda, maka Anda bisa klik opsi Why This Ad yang tertera pada iklan tersebut. Lalu, jika Anda tidak suka dengan iklan tertentu karena dianggap tidak cocok atau relevan, Anda juga bisa memblokirnya dengan menggunakan fitur Mute This Ad. Fitur-fitur menjadi langkah untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome Anda melalui kontrol terhadap iklan. Google ingin memberikan transparansi sejelas mungkin terkait pemasangan iklan, bahwa mereka tidak menjual informasi personal Anda kepada pengiklan maupun pihak mana pun.   Bisa menghapus data secara otomatis   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Saat Anda browsing melalui Chrome, berbagai data pun akan disimpan, mulai dari aktivitas penggunaan web, riwayat lokasi, hingga riwayat pencarian YouTube. Sebagai bentuk perlindungan privasi dan keamanan Chrome, Google telah menyediakan fitur khusus untuk menghapus data-data tersebut secara otomatis. Dinamakan Auto-delete, fitur ini mampu menghapus berbagai data riwayat yang tersimpan di Chrome secara otomatis setelah 3-18 bulan. Di samping itu, Anda juga bisa mengontrol data apa saja yang disimpan akun Google Anda melalui fitur kontrol on/off pada Google Account.   Tingkatkan privasi dengan mode Incognito   Photo Credit: Canva Studio (Pexels) Sejak diluncurkan bersama Chrome pada 2008, mode Incognito menjadi salah satu fitur kontrol privasi yang paling populer digunakan. Saat mode Incognito diaktifkan, riwayat aktivitas browsing Anda pada Chrome tidak akan tersimpan pada Google Account Anda. Melihat popularitas mode Incognito yang cukup tinggi, sejak 2019 lalu pun Google menambahkan mode tersebut pada Google Maps dan YouTube. Untuk mengaktifkan mode ini, Anda hanya perlu masuk ke Google Account dengan tap foto profil di bagian kanan atas laman Chrome. Apa pun aktivitas online yang Anda lakukan melalui Chrome, sudah menjadi kewajiban Google untuk melindungi privasi dan keamanan Chrome Anda. Apabila ingin mendapatkan proteksi yang lebih maksimal, disarankan untuk mengakses Chrome menggunakan Chromebook, perangkat laptop bersistem Chrome OS. Sistem ChromeOS memiliki fitur update otomatis, termasuk pada fitur-fitur privasi dan keamanan yang ada dalam Chrome. Alhasil, sistem privasi dan keamanan Chrome Anda pun akan selalu up-to-date. Karenanya, jangan tunda lagi dan segera dapatkan perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Klik di sini untuk cari tahu lebih lanjut seputar Chromebook atau tanyakan langsung kepada tim EIKON Technology!  

Chromebook, Security

BeyondCorp Enterprise, Pengembangan Prinsip Zero Trust pada Google Chrome

  Sejak pertama kali dirilis pada 2008, Google Chrome selalu berkomitmen untuk terus meningkatkan sistem keamanan web. Berbagai fitur, inovasi, dan inisiatif pun dilakukan demi memberikan pengalaman web browsing dengan keamanan optimal bagi para pengguna. Sebagai salah satu upaya untuk terus menciptakan web browser yang aman, Google Chrome bekerja sama dengan tim Google Cloud Security menjalankan suatu inisiatif baru. Inisiatif ini dinamakan BeyondCorp Enterprise, yang dikembangkan berdasarkan prinsip zero trust. Melalui adanya BeyondCorp Enterprise, kini Google Chrome mampu memberikan proteksi keamanan yang lebih baik dan bersifat real-time tanpa perangkat lunak (software) tambahan. Proteksi dalam bentuk apa saja yang disediakan oleh BeyondCorp Enterprise? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini! Dikembangkan berdasarkan prinsip zero trust Photo Credit: Jefferson Santos (Unsplash) Seperti disebutkan sebelumnya, pengembangan BeyondCorp Enterprise dilakukan berdasarkan prinsip zero trust. Konsep utama di balik prinsip ini adalah tidak ada jaringan web yang bisa dipercaya secara default sehingga aksesnya harus selalu diamankan dan diautorisasi. Melalui pemasangan pada Chrome, BeyondCorp Enterprise dapat memberikan solusi bersifat zero trust untuk melindungi data Anda, proteksi lebih baik secara real-time dari berbagai ancaman, sekaligus menyediakan informasi penting tentang perangkat untuk membantu Anda menentukan apakah perangkat tersebut berhak mendapatkan akses web.  Berbagai kelebihan tersebut sudah langsung terpasang pada Chrome. Artinya, Anda tak perlu mengunduh software tambahan apa pun untuk bisa mendapatkan perlindungan lebih dari BeyondCorp Enterprise. Lebih baik dalam mencegah kebocoran data dan kejahatan siber Photo Credit: Google Peningkatan keamanan web menjadi fokus utama BeyondCorp Enterprise. Mengusung prinsip zero trust, BeyondCorp Enterprise mampu meningkatkan performa Chrome dalam mencegah risiko kebocoran data di web, khususnya untuk data-data yang bersifat sensitif. Tim IT perusahaan kini dapat menerapkan aturan khusus untuk menentukan tipe data apa saja yang bisa diunggah dan diunduh. Dengan begini, karyawan perusahaan pun tidak akan asal mengunggah maupun mengunduh data yang bisa saja berbahaya untuk keamanan perusahaan. Tak hanya itu, BeyondCorp Enterprise juga menunjang pencegahan potensi kejahatan siber seperti malware dan phishing. Adanya prinsip zero trust memungkinkan BeyondCorp Enterprise untuk mengecek URL secara real-time dan melakukan pemindaian mendalam terhadap file untuk melacak adanya malware. Peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman risiko Photo Credit: Google Di samping mengoptimalkan proteksi keamanan terhadap jaringan web pada Chrome, BeyondCorp Enterprise juga dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman risiko kejahatan siber. Melalui BeyondCorp Enterprise berbasis prinsip zero-trust, kini perusahaan atau organisasi akan mendapatkan lebih banyak informasi mendalam seputar adanya potensi ancaman atau aktivitas online yang mencurigakan. Informasi tersebut dapat diakses melalui laporan berbasis cloud. Sebagai contoh, jika seandainya ada seorang karyawan mengunduh file berbahaya menggunakan perangkat perusahaan, atau misalnya karyawan tersebut log in pada situs phishing, maka Anda akan langsung mendapatkan notifikasi sehingga bisa segera mengambil tindakan yang sesuai.   Berkat inisiatif BeyondCorp Enterprise dengan prinsip zero trust, kini Anda dan segenap tim di perusahaan bisa menggunakan Chrome secara lebih aman dan nyaman. Terlebih jika Anda mengaksesnya melalui perangkat Chromebook yang berbasis Chrome OS, sistem operasi yang khusus diciptakan untuk Chromebook. Hal tersebut memungkinkan Chrome untuk memberikan performa yang lebih optimal. Tidak percaya? Anda bisa membuktikannya sendiri dengan mendapatkan perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Menyediakan banyak jenis perangkat Chromebook dengan beragam fitur, tim EIKON Technology akan membantu Anda memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga di sini!  

Info

Meningkatkan Privasi dan Keamanan Google Chrome Extension

  Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 250.000 extension tersedia di web store Google Chrome? Bertujuan untuk meningkatkan pengalaman para pengguna dalam mengakses Google Chrome, tidak mengherankan jika setiap harinya ada sekitar empat juta extension yang diunduh. Terdapat berbagai cara untuk meningkatkan privasi dan keamanan Google Chrome Extension. Agar Anda dan pengguna lain bisa memiliki pengalaman optimal saat browsing di Google Chrome, Google selalu memastikan agar extension tersebut memenuhi kriteria privasi dan keamanan yang telah ditetapkan. Pada 2021 ini, Google Chrome extension kembali mengalami peningkatan privasi dan keamanan melalui berbagai penyesuaian. Informasi penggunaan data yang lebih transparan Photo Credit: Google Salah satu bentuk update privasi dan keamanan yang diberikan pada Google Chrome extension adalah peningkatan transparansi. Google telah menyesuaikan kebijakan bagi para developer untuk meningkatkan transparansi pada extensions yang mereka buat. Sejak 18 Januari 2021 lalu, setiap extension diwajibkan untuk menampilkan kebijakan privasi (privacy practice) secara publik. Dalam visual yang jelas dan bahasa yang mudah dimengerti, kebijakan tersebut harus menjelaskan bagaimana extension mengumpulkan dan memakai data milik para pengguna. Tak hanya itu, kini pihak pengembang atau developer extension juga tak bisa menggunakan data pengguna seenaknya karena Google telah menerapkan sejumlah pembatasan baru. Pengguna punya kontrol lebih terhadap data pribadi Photo Credit: Glenn Carstens-Peters (Unsplash) Per 2021 ini, Google Chrome  mengalami perubahan terkait akses data dan izin pengunduhan. Berkat adanya update tersebut, kini Anda sebagai pengguna bisa punya kontrol lebih terhadap data pribadi. Anda berhak menentukan website mana saja yang yang datanya bisa diakses Google Chrome extension saat Anda browsing.  Setelah Anda memberikan akses atau izin kepada extension untuk mengakses data pada website tertentu, pengaturan ini dapat Anda simpan untuk domain tersebut. Bagi yang ingin memberikan akses extension kepada seluruh website yang dikunjungi, Anda juga tetap bisa melakukannya. Namun, kabar baiknya, hal tersebut bukan lagi menjadi sebuah pengaturan default. Update terkait peningkatan kontrol pengguna ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari inisiatif yang telah dilakukan Google tahun lalu. Pada 2020, Google menambahkan ikon bergambar puzzle untuk extension pada menu Toolbar. Fitur ini sejak awal dirancang untuk memberikan kontrol lebih kepada pengguna dalam memberikan akses data website kepada Google Chrome extension. Proteksi lebih melalui Enhanced Safe Browsing Photo Credit: Google Selain kedua update di atas, Google juga melakukan peningkatan privasi dan keamanan extension melalui Google Safe Browsing. Pertama kali diluncurkan pada 2007, Google Safe Browsing telah membantu Chrome dalam mendeteksi extension yang berbahaya sebelum ditampilkan pada Chrome Web Store. Pada 2021 ini, Google Safe Browsing dirancang untuk mampu memberikan lebih banyak proteksi melalui update bernama Enhanced Safe Browsing. Fitur ini bahkan dapat memberikan perlindungan keamanan secara real-time. Saat Anda mengaktifkan mode Enhanced Safe Browsing dan mengunjungi website berpotensi berbahaya, Chrome akan mengecek website tersebut dengan Safe Browsing secara real-time. Lalu, jika Anda sign in ke Chrome, data URL real-time Anda akan terhubung secara sementara dengan akun Google. Dengan begini, Enhanced Safe Browsing dapat mengidentifikasi adanya ancaman siber seperti phishing dan malware yang menarget Anda melalui produk-produk Google lainnya seperti Gmail dan Drive. Keamanan menjadi salah satu faktor penentu pengalaman Anda dalam menggunakan Google Chrome. Berbagai peningkatan pun rutin dilakukan demi memastikan agar Anda selalu memiliki pengalaman terbaik selama browsing melalui Chrome. Akan lebih baik lagi jika Anda melakukan hal tersebut dengan memakai perangkat Chromebook. Berbasis sistem Chrome OS, Chromebook menggunakan Google Chrome sebagai default browser. Alhasil, sejak awal pun privasi dan keamanan Anda selalu dilindungi. Namun, pastikan Anda hanya membeli perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Hubungi sekarang juga!   Meta desc: Agar pengguna bisa browsing dengan maksimal di Google Chrome, berbagai peningkatan privasi dan keamanan pun diberikan pada Google Chrome extension.  

Scroll to Top