EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Chromebook, Collaboration, Productivity

Memahami Prioritas Kebijakan pada Browser Chrome

  Di era transformasi digital yang begitu pesat, tugas tim IT tak hanya berkutat pada proteksi sistem keamanan teknologi yang digunakan perusahaan, tapi juga sambil memastikan agar para karyawan tetap bisa produktif bekerja. Kabar baiknya, menjalankan kedua prioritas tersebut bukanlah hal sulit selama tim IT Anda menggunakan browser Chrome. Browser Chrome memiliki ratusan kebijakan enterprise yang tersedia di seluruh opsi cloud maupun on-prem. Bersifat fleksibel, kebijakan-kebijakan tersebut dapat Anda atur pada tingkat yang berbeda. Nah, metode yang Anda gunakan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan ini akan menentukan tingkat prioritasnya. Jadi, seandainya suatu hari ada sejumlah kebijakan yang bertentangan, maka Anda bisa tahu mana yang harus diprioritaskan. Untuk memastikan agar seluruh kebijakan dapat berlaku sesuai yang ditetapkan admin IT, mari kenali dulu tingkatan prioritas pada browser Chrome dari yang tertinggi hingga paling rendah berikut ini.   Machine policy   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Ini dia jenis kebijakan dengan tingkat prioritas paling tinggi. Jika seandainya ditemui sejumlah kebijakan yang saling bertentangan, maka machine policy inilah yang akan selalu didahulukan. Pada perangkat Windows, tingkatan prioritas satu ini biasanya dapat diatur pada Group Policy. Sedangkan bagi pengguna perangkat Mac, Anda bisa mengaturnya pada menu Managed Preferences.   Cloud machine policy   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Jenis kebijakan satu ini telah diatur dalam Chrome Browser Cloud Management. Artinya, saat Anda menggunakan Chrome Browser Cloud Management, maka platform pengelolaan browser tersebut akan berjalan berdampingan dengan kebijakan-kebijakan yang sudah ada. Apabila terjadi pertentangan kebijakan, maka machine policy pada perangkat komputer yang akan diprioritaskan. Namun, penting untuk diingat bahwa ada pula kebijakan Google Policy Overrides (GPO) untuk mengubah urutan prioritas. Melalui adanya GPO ini, Anda dapat mengatur agar Cloud Policy ditetapkan sebagai prioritas utama, termasuk dengan tingkatan lebih tinggi dari machine policy lokal.   OS user policy   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Tidak semua pengguna mengakses browser Chrome dari perangkat OS seperti Chromebook. Banyak juga dari Anda yang melakukannya melalui perangkat Windows maupun Mac. Kebijakan OS user inilah yang akan berlaku jika Anda melakukan sign in melalui perangkat Windows atau Mac yang dikelola perusahaan.   Cloud user policy   Photo Credit: Caspar Camille Rubin (Unsplash) Cloud user policy disebut juga dengan kebijakan profil Chrome (Chrome profile policy). Bagi Anda para pengguna Google Workspace, cloud user policy diatur dalam Google Admin Console. Kebijakan tersebut baru akan berlaku saat para pengguna Anda melakukan sign in ke Google dan menerapkannya.   Users settings   Photo Credit: Sigmund (Unsplash) Pengaturan pengguna, atau users settings, merujuk pada default settings yang menjadi kebijakan standar pada browser Chrome atau settings yang diatur secara manual oleh pengguna. Users settings inilah yang memiliki tingkat prioritas paling rendah. Namun, walaupun pengguna bisa mengatur settings secara manual, idealnya pihak administrator tetap bisa membatasi kemampuan pengguna dalam melakukan perubahan settings pada lingkungan perusahaan. Sistem prioritas kebijakan pada browser Chrome memang dapat diterapkan pada berbagai jenis berangkat, mulai dari Windows hingga Mac. Namun, untuk performa lebih optimal, penggunaan perangkat Chrome OS seperti Chromebook sangatlah disarankan. Beruntung kini Chromebook bisa didapatkan dengan mudah dan aman melalui partner resmi produk Google di Indonesia, EIKON Technology. Bahkan Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology untuk memilih produk Chromebook yang benar-benar sesuai kebutuhan. Segera hubungi EIKON Technology dan dapatkan perangkat Chromebook untuk menunjang produktivitas!

Chromebook, Collaboration, Productivity

3 Alasan Mengapa Banyak Perusahaan Berlangganan Chrome Enterprise

  Demi kelancaran bisnis, peran departemen IT sangatlah dibutuhkan di perusahaan. Terutama di era pandemi seperti sekarang yang mengharuskan banyak karyawan bekerja secara remote dari tempat tinggal masing-masing. Melalui pemanfaatan teknologi secara tepat, tim IT menjaga stabilitas performa kerja para karyawan agar tetap produktif. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak tim IT perusahaan yang beralih ke cloud untuk mendukung fleksibilitas kerja, menjaga sistem keamanan secara optimal, sekaligus mengurangi infrastruktur dengan pemeliharaan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mereka pun menggunakan Chrome Enterprise, seperangkat layanan Google yang fokus pada kebutuhan bisnis. Menyediakan aneka perangkat manajemen dan sumber daya berbasis cloud, Chrome Enterprise pun menjadi pilihan banyak perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari dengan fleksibilitas maksimal. Lantas, apa yang membuat Chrome Enterprise begitu diminati banyak perusahaan?   Menyediakan berbagai aplikasi dan sumber daya penunjang kerja   Photo Credit: fauxels (Pexel) Sebagai salah satu perangkat Chrome OS, Chromebook juga turut menjadi bagian dari Chrome Enterprise yang ditawarkan Google. Bukannya tanpa alasan, perangkat Chromebook mampu mengakomodasi kebutuhan kolaborasi kerja secara aman, baik ketika Anda mengakses situs web, membuka aplikasi, atau lainnya. Namun, dalam proses pemindahan workflow ke lingkungan cloud, kemungkinan besar Anda masih akan membutuhkan sejumlah aplikasi berfitur penuh agar tetap produktif. Masalahnya, sering kali aplikasi-aplikasi tersebut tidak bekerja pada sistem cloud. Memahami dilema tersebut, Google pun bekerja sama dengan Parallels Desktop untuk menyediakan solusi yang dapat menjembatani proses transisi perusahaan Anda ke penggunaan aplikasi berbasis cloud secara penuh. Parallels Desktop dijalankan secara “lokal” pada perangkat Chrome dalam edisi atau sesi pengguna Chrome US. Jadi, Anda pun tak membutuhkan koneksi internet. Terlebih, sejak awal Parallels Desktop untuk Chrome Enterprise memang dirancang khusus bagi para pelaku bisnis. Nantinya, para admin IT dapat mengaktifkan akses ke perangkat-perangkat yang terhubung dengan Chrome Enterprise Upgrade saja sehingga lebih aman.   Meningkatkan efisiensi operasional pada seluruh perangkat   Photo Credit: krakenimages (Unsplash) Masih dengan penggunaan Chromebook untuk Chrome Enterprise, admin IT perusahaan dapat menerapkan sistem keamanan berstandar tinggi, menjaga kestabilan produktivitas karyawan, hingga pengawasan IT. Semua hal ini bisa dilakukan dengan harga yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan dengan layanan dari kompetitor. Namun, penting untuk diingat bahwa ini bukan hanya tentang menghemat biaya, tapi juga meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Hal tersebut telah dibuktikan oleh para pelanggan Chrome Enterprise yang mengakui adanya siklus hidup yang cukup panjang pada perangkat Chromebook; mulai dari penggunaan untuk pertama kali, pengalihan penggunaan kepada karyawan baru, hingga akhirnya pencabutan akses saat perangkat tersebut sudah tak dapat dipakai lagi. Riset dari Enterprise Strategy Group (ESG) pun menunjukkan hasil serupa. Mereka meneliti tentang penghematan waktu pada siklus hidup Chromebook jika dibandingkan dengan PC biasa. Hasilnya, Chromebook terbukti mampu menghemat waktu hingga 76% selama proses deployment perangkat dan 96% saat proses peralihan perangkat ke pengguna baru.   Rutin meningkatkan keamanan dan pengalaman pengguna   Photo Credit: Mimi Thian (Unsplash) Sebagai penunjang Chrome Enterprise, Chromebook dilengkapi dengan fitur update OS otomatis yang berlangsung pada “di balik layar” (background). Idealnya, update ini berlangsung selama seminggu sekali. Dengan begitu, Anda pun akan selalu memiliki akses ke fitur-fitur edisi terbaru, termasuk sistem keamanan terkini. Sebagai contoh, update OS yang baru-baru ini dirilis adalah Chrome 84. Melalui update ini, Google memperkenalkan sejumlah fitur baru untuk menunjang produktivitas kerja dan pengawasan IT. Beberapa di antaranya adalah manajemen aplikasi dan extension yang lebih mudah dari Chrome Web Store pada Google Admin Console, overview mode yang kini mendukung pengaturan multimonitor, hingga peningkatan aksesibilitas pada konsol Google Admin melalui penambahan lima belas aturan baru. Jadi, bagi yang ingin tetap produktif menjalankan bisnis walaupun harus bekerja secara remote dengan tim, berlangganan Chrome Enterprise adalah solusinya. Terlebih dengan perangkat Chrome OS seperti Chromebook, berbagai keperluan pekerjaan pun bisa diselesaikan secara lebih efisien melalui fitur-fitur pendukungnya yang begitu canggih. Beruntung kini pembelian Chromebook sangat mudah dilakukan. Anda hanya perlu memastikan untuk menghubungi partner resmi produk Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Menyediakan beragam pilihan Chromebook, Anda pun bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan. Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk dapatkan Chromebook Anda!  

Info

VM Manager, Manajemen Infrastruktur Compute Engine dalam Jumlah Besar

  Seiring dengan meningkatnya transformasi digital, ketergantungan terhadap sistem cloud jadi semakin besar. Perusahaan akan memindahkan lebih banyak workload ke cloud mereka. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa manajemen cloud bisa cukup rumit, terutama jika Anda belum familiar dengan perangkat yang dipakai untuk mengelola virtual machines (VM) dalam jumlah besar. Alhasil, pihak administrator (admin) pun menemui tantangan baru, yakni terkait pengelolaan keamanan infrastruktur pada skala cloud. Dibutuhkan perangkat khusus untuk mengelola dan mengoperasikan seluruh sumber daya (resources) cloud dari satu tempat. Tak hanya itu, perangkat tersebut juga harus mudah dioperasikan. Menjawab kebutuhan tersebut, Google pun meluncurkan VM Manager. VM Manager adalah rangkaian perangkat manajemen infrastruktur untuk menyederhanakan dan mengautomasi pemeliharaan compute engine VM dalam jumlah besar.  Mengurangi kompleksitas pengelolaan VM melalui satu dashboard utama Photo Credit: Caspar Camille Rubin (Unsplash) Dalam pengelolaan compute engine VM, terutama dalam jumlah besar, umumnya ada tiga hal yang menjadi pekerjaan utama; perawatan, penyesuaian, dan pengamatan. Melalui fitur-fitur bersifat otomatis pada VM Manager, hal-hal tersebut bisa dilakukan secara lebih sederhana.  Kabar baiknya lagi, fitur-fitur VM Manager dapat Anda akses melalui satu dashboard utama sehingga akan mengurangi kompleksitas pengelolaan compute engine VM. Tak hanya itu, adanya dashboard juga memudahkan pelacakan data inventaris secara real-time. Dengan begini, Anda akan mendapatkan insight yang bisa segera ditindaklanjuti sehingga performa infrastruktur pun terjaga. Patch management menjaga sistem selalu up-to-date Photo Credit: ThisisEngineering RAEng (Unsplash) Agar dapat memudahkan manajemen infrastruktur compute engine VM secara optimal, VM Manager dibekali dengan sejumlah layanan mumpuni. Salah satunya adalah patch management yang berfungsi menjaga sistem infrastruktur selalu up-to-date. Caranya adalah dengan memberi izin kepada Anda untuk memasang OS patches pada seluruh VM, menerima data penyesuaian untuk seluruh lingkungan OS, dan mengautomasi pemasangan OS patches di seluruh perangkat VM. Semua ini dapat Anda lakukan melalui satu platform terpusat sehingga begitu mudah dan praktis dijalankan. Menjaga konsistensi konfigurasi dengan configuration management Photo Credit: cottonbro (Pexels) Semakin besar skala suatu perusahaan, maka idealnya ada semakin banyak perangkat VM yang digunakan. Alhasil, dibutuhkan infrastruktur yang dapat mendukung kinerja puluhan hingga ratusan VM secara konsisten, terutama dari segi konfigurasi. Pengelolaan konfigurasi atau configuration management inilah yang dapat membantu Anda mewujudkan hal tersebut. Layanan satu ini memungkinkan Anda untuk menjaga konsistensi konfigurasi pada seluruh perangkat compute engine VM. Hal ini bisa terjadi berkat adanya fitur automated remediation yang meminimalisir praktik manual dan menjaga perangkat Anda tetap “patuh” pada konfigurasi. Lebih mudah identifikasi VM dengan inventory management Photo Credit: ThisisEngineering RAEng (Unsplash) Layanan ketiga adalah manajemen inventaris (management inventory) yang berfungsi mengumpulkan informasi terkait sistem operasi pada perangkat VM. Melalui adanya layanan satu ini, Anda bisa mengidentifikasi VM mana yang menjalankan sistem operasi tertentu hingga mengakses packages yang terpasang pada VM. Kabar baiknya lagi, layanan management inventory pada VM Manager juga terintegrasi dengan produk Google Cloud lain, yaitu Cloud Asset Inventory. Berkat integrasi ini, Anda pun dapat melihat, memonitor, serta menganalisis data Google Cloud secara sederhana. Kehadiran VM Manager dapat menjadi solusi tepat bagi Anda yang selama ini menggunakan perangkat compute engine VM dalam jumlah besar. Agar bisa membuktikan sendiri kehebatan fungsi VM Manager, pastikan Anda sudah memasang infrastruktur Google Cloud terlebih dulu. Jika belum, Anda bisa langsung menghubungi EIKON Technology untuk berlangganan. EIKON Technology adalah partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Tim EIKON Technology akan membantu Anda melakukan migrasi ke Google Cloud sekaligus menentukan infrastruktur cloud yang sesuai kebutuhan Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Chromebook, Collaboration, Productivity, Technology

4 Upaya Chrome OS Membangun Masa Depan Ramah Lingkungan

  Google memiliki dedikasi tinggi dalam menjaga planet dan lingkungan. Berbagai langkah berhasil dicapai demi mewujudkan komitmen tersebut. Sejak 2007, Google telah menjadi perusahaan netral karbon (carbon-neutral). Lalu, pada 2017, Google menjadi perusahaan pertama yang berhasil menyesuaikan 100% konsumsi listrik tahunan dengan pemakaian energi terbarukan. Tak berhenti sampai situ, Google juga memiliki target agar seluruh data center dapat beroperasi menggunakan energi bebas karbon pada 2030 nanti. Sebagai salah satu produk unggulan Google, Chrome OS pun turut ambil bagian dalam mendukung misi tersebut. Tak hanya menyediakan software dan hardware computing yang sifatnya berkelanjutan (sustainable), Chrome OS juga melakukan berbagai langkah penting berikut ini demi membangun masa depan yang ramah lingkungan. Kurangi jejak karbon, optimalkan efisiensi energi Photo Credit: Kelly Lacy (Pexels) Sejak awal diperkenalkan, Chrome OS menawarkan kemampuan manajemen daya dengan sistem charging efisien dan optimalisasi performa perangkat. Salah satu klien Google yang berhasil membuktikan hal tersebut adalah Kingston dan Sutton, keduanya merupakan organisasi dewan untuk kerajaan di London. Setelah menggunakan lebih dari 3.800 perangkat Chrome OS, Kingston dan Sutton berhasil menurunkan gas rumah kaca dan konsumsi energi tahunan hingga 32%. Sebagai informasi, perangkat Chrome OS yang digunakan adalah Chromebook Acer dan Citrix sebagai aplikasi workspace-nya. Perangkat dirancang dengan bahan baku yang dapat didaur ulang Photo Credit: Sigmund (Pexels) Dalam merancang berbagai perangkatnya, Chrome OS selalu memastikan agar desain dan komponen-komponennya bersifat tahan lama. Tidak bekerja sendiri, berbagai partner Chrome OS seperti Acer dan HP pun turut mendukung misi tersebut. HP Elite c1030 Chromebook Enterprise, misalnya, berhasil menjadi perangkat Chromebook pertama yang diproduksi menggunakan plastik dari laut. Bahkan ternyata HP telah mengumpulkan lebih dari 780 ton plastik (setara 60 juta botol plastik) dari laut untuk didaur ulang menjadi bahan pembuatan produk-produk HP. Tak hanya HP, Acer juga telah melakukan langkah serupa. Lebih dari 7,6 juta perangkat Chrome OS dikirimkan menggunakan plastik ramah lingkungan (plastik PCR). Di samping itu, Acer juga telah mengurangi penggunaan plastik baru (virgin plastic) pada kemasan produk hingga 60%. Memperpanjang siklus hidup perangkat untuk minimalisir limbah elektronik Photo Credit: Sahand Babali (Unsplash) Cara lain yang dilakukan Chrome OS untuk membangun masa depan ramah lingkungan adalah dengan memperpanjang siklus hidup perangkat. Dengan begitu, limbah pemakaian elektronik pun dapat diminimalisir. Kini, perangkat-perangkat terbaru Chromebook mampu menerima pembaruan update OS hingga delapan tahun. Selama periode tersebut, performa perangkat tidak akan menurun sehingga mampu berfungsi optimal dalam waktu lama. Sistem supply chain yang lebih ramah lingkungan Photo Credit: Reproductive Health Supplies Coalition (Unsplash) Banyak partner Gogole yang menggunakan Chrome OS untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan (supply chain), logistik, dan operasional harian. Salah satunya adalah Insight Enterprise yang bergerak di bidang inovasi digital. Melalui penggunaan perangkat eco-friendly seperti Chromebook dari Google, Insight Enterprise dapat membantu para karyawannya untuk produktif bekerja secara mobile dengan penghematan sumber daya. Selain Insight Enterprise, partner lain yang juga merasakan dampak positif serupa adalah CDW. Menawarkan berbagai produk teknologi, CDW fokus meningkatkan efisiensi energi pada aktivitas operasional mereka sekaligus memaksimalkan dampak dari upaya daur ulang mereka. Hal ini memungkinkan CDW untuk menjalankan bisnis yang sustainable pada berbagai sektornya. Chrome OS tak hanya menyediakan solusi atas kebutuhan produktivitas Anda, tapi juga dibarengi dengan upaya konkret untuk menjaga planet dan lingkungan. Anda bisa ambil bagian dalam upaya positif tersebut dengan menggunakan perangkat Chrome OS seperti Chromebook untuk bekerja sehari-hari. Terlebih, kini pembelian Chromebook bisa dilakukan secara mudah. Kini di Indonesia telah hadir partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Sebelum membeli, Anda bisa berkonsultasi lebih dulu dengan tim EIKON Technology untuk memilih produk Chromebook yang paling sesuai kebutuhan produktivitas. Segera hubungi EIKON Technology untuk mendapatkan perangkat Chromebook Anda!

Chromebook, Collaboration, Productivity

Leaptakers, Platform Google untuk Mengapresiasi Para Pekerja IT

  Di balik kelancaran aplikasi yang kita gunakan, keamanan akses sistem cloud, hingga kemudahan pemakaian berbagai produk teknologi lain, terdapat tim IT yang telah berjasa besar. Mereka bekerja keras demi memastikan agar para pengguna bisa selalu menikmati teknologi dengan aman dan nyaman. Di Google, tim IT menjadi bagian penting dalam tulang punggung perusahaan. Begitu banyak kisah inspiratif yang menarik perhatian Google, mulai dari tim DevOps yang mengubah jaringan rumah sakit agar keluarga pasien bisa tetap konsultasi dengan dokter selama masa lockdown pandemi, hingga para inovator yang membantu pemerintah mengirimkan kebutuhan darurat dengan drone. Google yakin bahwa masih ada banyak sekali kisah inspiratif serupa dari para pekerja IT lain di seluruh dunia. Agar ada semakin banyak orang yang mengetahui kisah-kisah tersebut, Google pun menciptakan platform bernama Leaptakers. Melalui platform Google ini, para pekerja IT dapat berbagi cerita tentang berbagai project yang pernah mereka kerjakan. Bentuk apresiasi Google terhadap para pekerja IT Photo Credit: Annie Spratt (Unsplash) Kehadiran tim IT begitu penting di tengah era digital seperti sekarang. Berkat dedikasi dan kemampuan mumpuni mereka, tercipta begitu banyak sistem dan produk teknologi yang memudahkan kehidupan manusia. Sayangnya, masih banyak dari tim IT yang kurang mendapat apresiasi atas kerja keras mereka. Terlebih, tim IT kerap kali tidak memiliki waktu untuk meresapi betapa besar dampak hasil kerja mereka. Setelah menyelesaikan satu project, kemungkinan besar mereka akan langsung beralih mengerjakan project lainnya. Demi memberi sorotan lebih kepada para pekerja IT di seluruh dunia, Google baru-baru ini memperkenalkan program bernama Leaptakers. Melalui platform Google ini, para pekerja IT bisa berbagi cerita tentang project-project yang pernah mereka kerjakan, tantangan yang dihadapi, hingga dampak signifikan dari karya IT yang telah dihasilkan. Leaptakers menjadi salah satu cara Google untuk merayakan kerja keras tim IT. Di samping itu, para pekerja IT juga dapat memanfaatkan Leaptakers untuk meresapi betapa signifikan dampak yang telah mereka berikan terhadap kehidupan manusia melalui kerja keras mereka. Bisa juga menominasikan orang lain Photo Credit: Campaign Creators (Unsplash) Jadi, bagi para pekerja IT di mana pun Anda berada, jangan ragu untuk berbagi cerita tentang project yang pernah Anda kerjakan. Semua bisa Anda bagikan melalui platform Google bernama Leaptakers. Caranya pun sangat mudah. Anda hanya perlu klik di sini dan mengisi formulir berisi ragam pertanyaan yang telah disediakan Google. Jika semua telah terisi, klik tombol Submit Your Story dan cerita Anda telah terkirim ke Google! Lalu, jika Anda memiliki teman sesama pekerja IT yang menurut Anda pantas mendapat sorotan, Anda bisa menominasikannya. Bagikan saja link ini kepada mereka agar mereka bisa turut berbagi cerita tentang project-project IT menakjubkan lainnya. Google akan membuat project video kompilasi Photo Credit: Wahid Khene (Unsplash) Pengiriman cerita melalui platform Google Leaptakers akan ditutup pada 16 Juli 2021. Setelah itu, Google akan melakukan seleksi dan memilih sejumlah project utama untuk dikompilasi dalam sebuah video. Tentunya video ini juga akan dibagikan oleh Google secara online. Tenang saja, seluruh cerita lain yang masuk akan tetap ditampilkan pada platform khusus Leaptakers. Bahkan nantinya Anda dan para pekerja IT lain juga tetap bisa terus berbagi cerita melalui platform tersebut. Dengan begini, akan ada semakin banyak kisah inspiratif dari tim IT yang bisa diketahui orang lain.   Jika Anda termasuk salah satu anggota tim IT yang selama ini berkutat dengan banyak project berarti, jangan ragu membagikan cerita Anda melalui platform Google yang baru, Leaptakers. Pastikan Anda menggunakan perangkat yang powerful seperti Chromebook agar pengisian formulir berjalan lancar dan terhindar dari system crash. Anda bisa mendapatkan perangkat Chromebook terbaru dari berbagai produsen IT ternama melalui EIKON Technology, partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia! Langsung saja klik di sini atau hubungi tim EIKON Technology sekarang juga!  

Chromebook, Productivity, Security

5 Langkah Mengatur Chrome Device Management untuk Pertama Kali

  Perangkat Chrome, atau disebut juga dengan Chromebook, menawarkan banyak keuntungan untuk para penggunanya. Sejak awal, Chromebook dirancang dengan software update otomatis, perlindungan maksimal terhadap virus, pencegahan kerusakan sistem, hingga sistem proteksi keamanan data. Dengan begitu, Anda sebagai pengguna pun bisa lebih fokus mengerjakan hal-hal produktif. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak perusahaan mulai beralih ke Chromebook untuk menunjang pekerjaan sehari-hari. Nah, agar nantinya Anda bisa menggunakan Chromebook secara lancar, diperlukan pengaturan khusus yang dinamakan Chrome Device Management. Berikut ini langkah-langkah melakukan pengaturan Chrome Device Management pada perangkat Chromebook yang baru.   Dapatkan lisensi perangkat Google Chrome   Photo Credit: PhotoMIX Company (Pexels) Menurut kebijakan lisensi Google, Anda diwajibkan memiliki satu lisensi untuk setiap perangkat Chrome yang akan digunakan di perusahaan. Tersedia dua jenis lisensi yang bisa Anda pilih. Yaitu lisensi standar Chrome Device Management dan lisensi untuk single app kiosk. Anda bisa mendapatkannya secara online atau menghubungi tim Google. Lisensi standar memberikan Anda akses menyeluruh ke semua pengaturan dan kebijakan yang digunakan di perusahaan Anda. Bahkan waktu perpanjangan lisensi pun bisa Anda tentukan sendiri, baik yang bersifat tahunan hingga seumur hidup. Sementara itu, lisensi single app kiosk memungkinkan manajer atau administrator untuk mengakses seluruh pengaturan dan kebijakan untuk perangkat-perangkat Chrome yang dijalankan sebagai kiosk. Contoh dari perangkat Chrome bersifat kiosk adalah mesin register POS di toko retail atau perangkat registrasi di resepsionis hotel.   Segera daftarkan perangkat Chrome   Photo Credit: Nathan Dumlao (Unsplash) Setelah mendapatkan lisensi, Anda perlu mendaftarkan seluruh perangkat Chrome pada konsol Chrome Admin. Penting untuk diingat bahwa pendaftaran perangkat ini harus dilakukan sebelum pengguna melakukan sign in pada Chromebook. Hanya dengan beginilah perangkat-perangkat tersebut dapat menjalankan aturan atau kebijakan penggunaan yang telah ditetapkan pihak admin. Sebaliknya, jika ada pengguna yang sign in perangkat sebelum pendaftaran, maka aturan pemakaian yang ditetapkan admin tak akan berlaku pada perangkat tersebut. Tenang saja, cara mendaftarkan perangkat Chrome tidaklah sulit. Pada konsol Chrome Admin, ketik Ctrl+Alt+E untuk masuk ke halaman pendaftaran. Anda akan diminta memasukkan username dan password yang Anda terima pada surat penyambutan (welcome letter) Google Admin. Setelahnya, Anda akan dipandu hingga proses pendaftaran perangkat selesai.   Mengatur setelan pengguna dan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Begitu semua perangkat telah terdaftar pada konsol Google Admin, kini saatnya mengatur setelan pengguna (user settings) dan perangkat Chrome. Perlu diingat bahwa user settings tidak dapat dikonfigurasi untuk perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.  Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan pada halaman user settings, mulai dari memblokir aplikasi atau extensions tertentu, mengonfigurasi sistem single sign-on pada seluruh perangkat Chrome, hingga membuat koleksi aplikasi Chrome di Chrome Web Store untuk para pengguna.   Kelola pengaturan perangkat Chrome   Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) User settings yang telah Anda buat sebelumnya akan berlaku untuk seluruh pengguna perangkat Chrome, bahkan jika pengguna tersebut merupakan pengguna tamu (guest user) atau melakukan log in menggunakan akun Google pribadi mereka. Namun, ingat, ada beberapa pengaturan yang tidak tersedia bagi pengguna perangkat Chrome dengan lisensi single app kiosk.   Buat unit organisasi   Photo Credit: Anete Lusina (Unsplash) Setelah proses pendaftaran dan user settings berhasil dilakukan, kini saatnya membuat unit organisasi. Tujuannya adalah mengumpulkan sejumlah perangkat Chrome tertentu agar bisa diterapkan konfigurasi yang sama. Jangan khawatir, caranya sangat mudah. Pada konsol Chrome Admin, masuklah ke Chrome Device Management, lalu pilih opsi Chrome Devices. Nantinya Anda akan menemukan informasi berisi perangkat-perangkat Chrome yang beroperasi menggunakan domain Anda. Jadi, bukan hanya pemakaian Chromebook yang begitu mudah dan praktis, tapi juga pengaturan Chrome Device Management saat pertama kali Anda hendak menggunakan perangkat tersebut. Buktikan sendiri dengan segera beralih ke Chromebook! Anda bisa mendapatkan perangkat Chrome untuk kebutuhan perusahaan dengan menghubungi partner resmi produk Google, EIKON Technology. Bahkan untuk membantu kelancaran pengaturan Chrome Device Management nanti, tim EIKON Technology juga dapat membantu Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!  

Cloud Computing, Collaboration, Google Cloud, Productivity

Mengatur Workflow Data di Google Cloud dengan Google Composer

  Dalam proses pengambilan keputusan, para pelaku bisnis banyak bergantung pada data dan analitik yang berfungsi untuk menghasilkan insight. Demi bisa menghasilkan insight yang berkualitas, para ahli dan teknisi data kerap dituntut untuk membangun alur kerja (workflow) bersifat end-to-end yang dapat menyerap, mengolah, dan menganalisis data secara efektif. Umumnya, workflow tersebut melibatkan beberapa task sekaligus yang harus dirampungkan sesuai urutan tertentu. Seiring dengan beban kerja yang meningkat, akan semakin sulit pula untuk mengerjakan berbagai task tersebut. Namun, selama Anda menyimpan data di Google Cloud, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena hal tersebut bisa diselesaikan dengan Google Composer. Pada dasarnya, Google Composer menawarkan fungsi orkestrasi (orchestration), yakni kombinasi antara pengelolaan, koordinasi, dan automasi workflow.  Google Composer, satu perangkat untuk ragam pengaturan data workload Photo Credit: Google Cloud Google Cloud Platform sebetulnya memiliki beberapa perangkat yang dapat menjalankan fungsi orchestration terhadap workflow. Namun, untuk orchestration terhadap beban kerja yang berbasis data, terutama ETL/ELT, Google Composer dapat menjadi solusi terbaiknya. Google Composer adalah perangkat orchestration yang digunakan untuk menulis, menjadwalkan, hingga memonitor workflows. Perangkat satu ini dirancang dengan menggunakan platform open-source yang cukup populer, Apache Airflow. Melalui Google Composer, Anda dapat menciptakan workflow dari banyak tasks. Nantinya, workflow tersebut dikonfigurasikan dengan cara membuat Directed Acyclic Graph (DAG) pada python. DAG adalah alur satu arah tanpa siklus dari sebuah task, sementara tiap task bertanggung jawab atas unit kerja terpisah. Mampu mengatasi berbagai tantangan selama mengatur workflow data Photo Credit: Markus Spiske (Unsplash) Mayoritas pengguna Google Composer pada Google Cloud adalah teknisi data. Mereka mengakui bahwa Google Composer dapat membantu mengatasi beberapa tantangan yang kerap muncul saat mengatur workflow data. Seiring dengan skala workflow yang semakin rumit, pengaturan task secara efisien pun jadi lebih penting. Untungnya, melalui Google Composer, Anda dapat membuat banyak cabang task maupun menjadikannya parallel berdasarkan status task sebelumnya. Perangkat orchestration pada Google Cloud ini juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung seperti penjadwalan (scheduling). Dengan berbagai keunggulannya, Google Composer meningkatkan pengalaman para teknisi data dalam menggunakan Apache Airflow. Google Composer “menjaga” infrastruktur yang diperlukan untuk memastikan seluruh DAG berjalan baik. Karena tak perlu lagi fokus terhadap manajemen infrastruktur cloud, terlebih dengan adanya fungsi automasi dari Google Composer, maka para teknisi data pun bisa lebih fokus dalam membangun workflow dan pipeline data. Sistem kerja yang efisien tentunya akan berdampak pada hasil yang optimal pula. Namun, Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data Photo Credit: Markus Spiske (Pexels) Google Composer memang menjadi salah satu perangkat powerful yang dapat membantu Anda mengatur workflow data pada Google Cloud. Namun, penting diingat bahwa Google Composer bukanlah perangkat untuk memproses data. Anda juga tak sebaiknya menggunakan Google Composer untuk mengubah maupun menganalisis data dalam jumlah besar. Pasalnya, Google Composer memang tidak dirancang untuk meneruskan data dalam jumlah besar dari satu task ke task yang lain. Selain itu, perangkat satu ini juga tidak dibekali dengan teknologi khusus untuk memproses big data karena sejak awal hanya fokus ditujukan sebagai perangkat dengan fungsi orchestration data. Dengan menggunakan Google Composer, proses pengaturan workflow data pada Google Cloud jadi lebih mudah dan efisien. Untuk mencobanya sendiri, tentu saja Anda harus terlebih dulu berlangganan Google Cloud. Beruntung kini untuk berlangganan Google Cloud, Anda hanya perlu menghubungi EIKON Technology sebagai partner resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Sebelum berlangganan, Anda dapat berkonsultasi bersama tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda. Langsung saja klik di sini untuk menghubungi EIKON Technology!

Info

Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud

  Pesatnya perkembangan digital membuat industri manufaktur harus menghadapi banyak tantangan, mulai dari besarnya biaya operasional hingga meningkatnya ekspektasi pelanggan. Kabar baiknya, berbagai tantangan tersebut tidak mustahil untuk diatasi selama ada data bisnis. Terlebih, kini umumnya perusahaan manufaktur telah menerapkan System Application and Product in Data Process (SAP) yang memang fokus pada pengolahan data. Namun, analisis data saja belumlah cukup untuk membangun industri manufaktur berbasis digital yang mampu meningkatkan produksi, meminimalisir masalah, dan jeli menemukan peluang. Agar bisa menghasilkan data yang lebih mendalam, perusahaan manufaktur perlu menggabungkan data SAP dengan data dari machine learning (ML). Caranya adalah melalui integrasi antara aplikasi SAP perusahaan dengan kemampuan ML, artificial intelligence (AI), dan analitik data dari Google Cloud. Kombinasi SAP Google Cloud mendukung percepatan digitalisasi perusahaan manufaktur. Migrasi ke sistem cloud dengan risiko minim Photo Credit: Science in HD (Unsplash) Bagi perusahaan manufaktur yang telah mengadaptasi SAP, Anda pasti paham betapa rumit prosesnya. Karenanya, wajar jika Anda merasa khawatir untuk melakukan integrasi SAP dengan Google Cloud. Bagaimana jika prosesnya lebih rumit dan memakan banyak waktu? Tenang saja, layanan Google Cloud dirancang dengan proses yang sederhana dan dilengkapi sistem keamanan mumpuni. Jika ingin mempercepat proses integrasi, Anda bisa menggunakan template otomatis SAP Google Cloud yang telah disediakan dan mengonsolidasi data SAP dalam cloud. Semua hal tersebut telah tergabung dalam Cloud Acceleration Program untuk para pengguna SAP. Menyediakan solusi migrasi bersifat pre-built, proses integrasi SAP Google Cloud pun bisa berjalan secara lebih efisien dan minim risiko. Manajemen dan integrasi data secara lebih efisien Photo Credit: Christino Morillo (Pexels) Dengan menjalankan SAP pada Google Cloud, Anda dan tim di perusahaan manufaktur dapat memanfaatkan layanan penyimpanan data yang fleksibel tanpa harus mengeluarkan biaya untuk perawatan infrastrukturnya. Nantinya, Anda tak hanya bisa mendapatkan insight berdasarkan riwayat data, tapi juga dari data-data yang bersifat real-time. Jika ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal, gabungkan pula data-data tersebut dengan sinyal data dari perangkat Google Cloud, misalnya maps, shopping, dan weather. Dengan begini, perusahaan manufaktur dapat memperoleh insight mendalam atas berbagai faktor penting dalam proses bisnis, mulai dari perencanaan hingga kebutuhan konsumen. Analitik data dilengkapi teknologi machine learning Photo Credit: Brett Sayles (Pexels) Dalam menyimpan dan mengolah data, Google juga memanfaatkan BigQuery, warehouse analisis data tanpa server yang dirancang dengan sistem scalable. Artinya, Anda bisa terus menyesuaikan pemakaian Google BigQuery sesuai kebutuhan sehingga membantu efisiensi biaya pengeluaran. Google BigQuery mampu menganalisis data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, termasuk sistem SAP Google Cloud, untuk menghasilkan insight yang mendalam. Bahkan Anda juga bisa mendapatkan prediksi tren dengan memanfaatkan Cloud AutoML yang dilengkapi dengan teknologi machine-learning. Dengan prediksi tren, perusahaan manufaktur dapat mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif terhadap masa depan bisnis. Contohnya untuk membantu meningkatkan hasil produksi, mengurangi keterlambatan produksi, dan sebagainya. Sudah saatnya industri manufaktur meningkatkan intensitas digitalisasi dalam pekerjaan sehari-hari. Menerapkan integrasi SAP Google Cloud merupakan solusi yang tepat. Sebagai langkah awal, pastikan Anda lebih dulu berlangganan Google Cloud melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Untuk mempermudah migrasi ke Google Cloud, Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology. Klik di sini untuk mempelajari lebih jauh tentang Google Cloud atau langsung saja hubungi EIKON Technology! 

Collaboration, Google Cloud, Productivity

Transformasi Industri FMCG dengan Sistem SAP Google Cloud

  Sejak beberapa tahun belakangan ini, industri fast-moving consumer goods (FMCG)—atau disebut juga dengan consumer packaged goods (CPG)—sedang bergelut dengan perubahan. Konsumen mulai menginginkan pengalaman yang lebih personal dengan brand FMCG. Tak hanya itu, mereka pun memiliki standar yang meningkat terkait tanggung jawab sosial dan transparansi brand. Tuntutan perubahan pada industri FMCG juga ditujukan pada model bisnis yang dijalankan. Jika sebelumnya mayoritas konsumen mendapatkan produk FMCG dengan mendatangi supermarket, kini mulai banyak dari mereka yang mengandalkan layanan berlangganan (subscription) atau pengantaran langsung (direct-to-consumer). Menjawab berbagai tantangan tersebut, banyak perusahaan CPG mulai mengarahkan model bisnis ke arah digital. Alhasil, dibutuhkan pemanfaatan teknologi cloud yang dikenal memiliki keamanan dan fleksibilitas tinggi. Mengingat bahwa banyak perusahaan CPG yang menggunakan SAP, Anda bisa mengintegrasikannya dengan Google Cloud untuk mencapai target digitalisasi perusahaan. Sediakan data maksimal untuk analisis lebih mendalam Photo Credit: Fatos Bytyqi (Unsplash) SAP merupakan singkatan dari System Application and Product in Data Processing, yang diterapkan untuk mendukung aktivitas kerja di perusahaan atau organisasi agar bisa berjalan secara otomatis. Dengan begitu, efisiensi dan produktivitas kerja pun dapat meningkat. Idealnya, sistem SAP terdiri dari bermacam-macam modul dengan tugas masing-masing sesuai perintah. Seluruh modul tersebut akan saling terintegrasi untuk menyajikan data akurat kepada Anda. Nah, melalui kombinasi SAP Google Cloud, Anda bisa mendapatkan data atau insight secara lebih optimal. Beberapa perangkat analitik Google, contohnya Looker dan BigQuery, dapat membantu perusahaan menghubungkan data pelanggan, operasional, dan bisnis sekaligus. Caranya adalah melalui penyatuan sistem SAP dengan sinyal data Google seperti Maps, Ads, atau Shopping. Data tersebut mampu menjalankan tugas-tugas kompleks secara cepat, sehingga perusahaan dapat melakukan analisis secara mendalam dan mendapatkan insight baru seputar pelanggan dan bisnis mereka. Relatif lebih efisien, lebih hemat biaya Photo Credit: Scott Graham (Unsplash) Salah satu kelebihan sistem SAP Google Cloud adalah sifatnya yang scalable. Artinya, Anda bisa terus menyesuaikan pemakaian sistem berdasarkan perkembangan bisnis dan pasar, termasuk di industri FMCG. Hal ini memungkinkan Anda untuk melakukan efisiensi biaya. Anda hanya perlu mengeluarkan biaya untuk hal-hal yang memang diperlukan. Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh IDC, penggunaan sistem SAP pada Google Cloud mampu mengurangi biaya operasional tiga tahun hingga 46%, dengan potensi downtime yang menurun hingga 83% dan peningkatan efisiensi tim IT hingga 56%. Dengan begini, Anda dan tim di perusahaan FMCG pun bisa mengalokasikan biaya lebih untuk hal-hal krusial lain seperti eksekusi strategi marketing, riset pasar, hingga aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Membangun built-in intelligence dengan teknologi AI dan machine learning Google Photo Credit: Sai Kiran Anagani (Unsplash) Mengikuti tren pasar memang baik untuk dilakukan, terutama bagi perusahaan FMCG yang produk-produknya begitu dekat dengan konsumen. Namun, akan lebih baik jika Anda memiliki kemampuan untuk memprediksi tren tersebut dan menjadi brand yang inovatif. Dibekali teknologi machine learning dan artificial intelligence (AI), sistem SAP Google Cloud mampu memprediksi tren secara akurat. Hal ini dapat membantu banyak divisi di perusahaan FMCG dalam menjalankan tugas masing-masing. Bagi tim marketing, misalnya, kemampuan prediksi tren dari SAP Google Cloud bisa membantu mengevaluasi hasil promosi dan efektivitas biaya pengeluaran. Lalu, bagi tim supply chain, mereka dapat menggunakan hasil prediksi untuk memonitor inventaris sehingga meminimalisir terjadinya kehabisan stok.   Bagi perusahaan FMCG yang selama ini telah menggunakan sistem SAP, tingkatkan performanya melalui integrasi dengan Google Cloud. Berbagai kemudahan di atas akan Anda dapatkan dan digitalisasi perusahaan pun tak lagi mustahil dilakukan. Jadi, jangan buang-buang waktu lagi. Namun, pastikan Anda hanya berlangganan SAP Google Cloud dari partner resmi produk Google yang tepercaya seperti EIKON Technology. Anda bahkan bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology untuk menentukan infrastruktur cloud paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan FMCG Anda. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!    

Info

Mengelola Chrome Extensions Melalui Group Policy bagi User Windows

  Demi mendukung produktivitas harian, terutama yang berkaitan dengan aktivitas online browsing, banyak perusahaan memasang extensions atau fungsi tambahan pada browser Google Chrome mereka. Seiring dengan kebutuhan kerja yang meningkat, jumlah Chrome extensions yang dipasang pun ikut bertambah. Nah, banyaknya extensions tersebut kerap berujung pada kesulitan untuk mengelolanya. Terlebih, terkadang ada beberapa extensions tertentu yang dapat mengakses data secara lebih mendalam pada situs-situs yang Anda kunjungi. Sebagai pihak yang biasanya ditunjuk menjadi admin Chrome untuk kebutuhan korporasi, IT perusahaan pun membutuhkan solusi agar mereka bisa memonitor extensions secara lebih intens. Google sebetulnya telah memiliki Chrome Browser Cloud Management sebagai cara paling mudah untuk mengelola extensions. Masalahnya, tidak semua pengguna memakai sistem Chrome OS, yang memang hanya ada pada perangkat Chromebook. Beberapa pengguna, mungkin termasuk Anda, masih harus menggunakan Group Policy pada Windows untuk mengelola extensions. Berikut adalah beberapa opsi yang paling sering dipilih untuk mengelola Chrome extensions melalui Group Policy. Cara memasang Chrome extensions  Photo Credit: cottonbro (Pexels) Terkait pemasangan extensions pada Chrome, Anda perlu mengetahui sejumlah opsi yang kerap dipakai oleh para pengguna. Cek beberapa di antaranya berikut ini:   Extension Install Allow List – Daftar extensions yang telah Anda setujui untuk di-install atau dipasang pada browser Anda. Extension Install Force List – Mengesampingkan kebijakan daftar blokir, extensions tidak dapat dinonaktifkan sepenuhnya saat dicopot pemasangannya. Extension Install Sources – Kebijakan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan fungsi pemasangan terdahulu pada beberapa URL tertentu yang telah Anda sebutkan dalam kebijakan. Extension Allowed Types – Daftar extensions yang Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Extensions yang tidak disebutkan dalam daftar ini tidak akan bisa terpasang.   Cara memblokir Chrome extensions Photo Credit: Luca Sammarco (Pexels) Demi alasan keamanan dan privasi, kemungkinan akan ada beberapa Chrome extensions yang harus Anda blokir agar tidak dipasang oleh karyawan perusahaan. Setidaknya ada dua kebijakan dalam Group Policy yang mengatur tentang hal ini, yaitu:   Extension Install Block List – Daftar extensions yang tidak akan Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Jika seandainya extension tersebut telah terpasang, maka akan dinonaktifkan. Apabila ada karyawan atau pengguna yang tetap berusaha memasangnya, maka extension pun segera diblokir. Tombol Add to Chrome pada Chrome web store akan berubah warna menjadi merah sebagai tanda bahwa suatu extension tidak bisa dipasang. Block External Extensions – Pengaturan ini akan memblokir extensions dari sumber eksternal yang sedang dipasang. Contohnya, jika suatu aplikasi yang telah terpasang ternyata menambah extensions pada Chrome, maka extensions tersebut akan segera diblokir dari proses pemasangan.   Pengaturan lain yang lebih advanced Photo Credit: Arnold Francisca (Unsplash) Selain beberapa pengaturan di atas, sebetulnya masih ada sejumlah jenis pengaturan dengan fungsi lain yang lebih advanced atau membutuhkan keahlian lebih. Anda perlu menggunakan script JSON sehingga penerapannya pun relatif lebih rumit. Beberapa fungsi yang dapat Anda gunakan dalam kebijakan satu ini adalah: Mencegah beberapa extensions tertentu agar berhenti berfungsi pada situs-situs tertentu. Menampilkan pesan custom pada pengguna untuk memberi tahu bahwa suatu extension telah diblokir. Memperbolehkan pemasangan extensions atau melakukan pemblokiran dengan memberikan izin atau akses khusus.   Bagi yang ingin mengaktifkan pengaturan bersifat advanced pada Chrome extensions, tapi tidak familiar dengan script JSON, Google menyarankan Anda untuk menggunakan Chrome Browser Cloud Management. Hampir seluruh fungsi dan pengaturan Chrome extensions di sana tidak membutuhkan penulisan script JSON. Namun, untuk itu, Anda juga perlu beralih menggunakan perangkat bersistem Chrome OS, Chromebook. Tenang saja, Anda bisa mendapatkannya dengan mudah melalui partner resmi produk Google di Indonesia, EIKON Technology.  Menyediakan beragam tipe perangkat Chromebook dari berbagai merek, Anda pun bisa memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang agar tidak kehabisan!

Scroll to Top