Author name: EIKON Technology

Collaboration, Productivity, Security

FLoC, Inisiatif Baru Google untuk Tingkatkan Privasi Online Pengguna

  Saat melakukan browsing di internet, idealnya sebuah web menggunakan cookie pihak pertama untuk mengenal penggunanya. Biasanya cookie pihak pertama digunakan untuk hal penting seperti mengingat info login pengguna yang kembali ke suatu web. Sebetulnya, tidak ada masalah dengan hal ini. Masalah muncul pada kehadiran cookie pihak ketiga (third-party cookie). Cookie pihak ketiga disebarkan situs web lain yang tidak dikunjungi pengguna. Ia menjadi semacam pelacak untuk memantau aktivitas pengguna selama browsing di web. Info yang didapat akan digunakan untuk menayangkan iklan secara relevan di situs web yang Anda kunjungi. Hal ini tentu berpotensi melanggar privasi online pengguna. Sebagai solusinya, Google meluncurkan sebuah inisiatif teknologi bernama Federated Learning of Cohorts (FLoC). Teknologi ini akan dipasangkan pada browser Google Chrome. Melalui Google FLoC, para pengiklan dapat menargetkan iklan tanpa mengekspos detail data penggunanya. Apa itu Google FLoC? Photo Credit: Christian Wiediger (Unsplash) FLoC adalah sebuah teknologi yang dikembangkan Google untuk mengutamakan privasi online pengguna saat melakukan aktivitas browsing di Chrome. Jika umumnya cookie pihak ketiga melacak pengguna secara individual, maka FLoC akan mengelompokkan para pengguna. Dengan begini, pengguna pun akan tetap tampak anonim bagi para pengiklan atau advertiser. Namun, walaupun anonim, teknologi Google FLoC tetap memungkinkan para pengiklan untuk menayangkan iklan yang ditargetkan secara relevan. Hal ini bisa terjadi berkat adanya Privacy Sandbox, sebuah kolaborasi inisiatif yang dipimpin Google sebagai “tempat” bagi website untuk meminta sedikit informasi khusus tentang pengguna tanpa melampaui batas. Bagaimana cara kerja Google FLoC? Photo Credit: Souvik Banerjee (Unsplash) Seperti yang disebutkan sebelumnya, Google FLoC bekerja dengan mengelompokkan para penggunanya alih-alih memantau pengguna secara individual. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan adanya minat terhadap hal yang sama di antara pengguna-pengguna tertentu. Misalnya, kelompok A adalah fans sepak bola, kelompok B senang menonton film, dan sebagainya. Adanya kelompok-kelompok ini pun dapat “menyamarkan” pengguna individual secara efektif. Pembentukan kelompok dilakukan menggunakan algoritma khusus. Tiap minggunya, Anda dan pengguna lain akan diletakkan pada kelompok yang berbeda. Apabila ada kelompok yang dinilai terlalu kecil, maka akan digabungkan dengan kelompok lain agar jumlah pengguna dalam satu kelompok bisa mencapai minimal beberapa ribu individu. Dengan begini, identifikasi pengguna secara individu pun akan lebih sulit dilakukan. Apakah dampak Google FLoC terhadap pengguna? Photo Credit: Firmbee.com (Unsplash) Bagi pengguna seperti Anda, dampak utama dari Google FLoC adalah privasi online yang lebih terjaga selama Anda browsing web menggunakan Google Chrome. Dampak langsungnya akan cenderung lebih dirasakan oleh para pengiklan yang hendak memasang iklan mereka pada produk-produk Google. Melalui FLoC, Google ingin menyediakan solusi yang sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik untuk pengiklan maupun pengguna. Di satu sisi, FLoC tetap dapat mengizinkan pengiklan untuk menayangkan iklan yang ditargetkan secara relevan. Lalu, di sisi lain, privasi online pengguna tetap terjaga karena pengiklan tidak punya akses untuk memantau pengguna secara individu. Identitas individu “tersamarkan” dalam kelompok-kelompok yang dibentuk oleh Google FLoC. Aktivitas browsing menggunakan Google Chrome kini lebih aman dilakukan berkat adanya Google FLoC. Agar performa Chrome bisa lebih optimal, akan lebih oke jika Anda mengaksesnya dari perangkat Chromebook berbasis Chrome OS. Sama seperti FLoC, perangkat Chromebook juga dilengkapi dengan sistem keamanan Sandbox sehingga privasi akan semakin terjaga. Jadi, tunggu apa lagi? Anda bisa mendapatkan Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Hubungi EIKON Technology sekarang juga! Anda juga bisa menghubungi kantor EIKON Technology yang berbasis di Surabaya dan Jakarta.  

Productivity, Security

Cara Mengubah Password di Chrome Hanya dengan Single Tap

  Demi keamanan dan kenyamanan Anda sebagai pengguna, mayoritas website mengharuskan Anda untuk menggunakan password saat sign in ke halaman mereka. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa mengingat password bukanlah hal mudah, terlebih jika ada Anda terdaftar dalam banyak website. Wajar jika akhirnya Anda menggunakan password yang sama untuk beberapa website sekaligus. Sayangnya, hal ini berisiko tinggi karena data akun Anda jadi lebih rentan bocor. Untuk menghindari hal tersebut, Anda pun perlu tahu cara mengubah password pada website-website tersebut. Masalahnya, mengubah password juga bukan hal sepele. Anda harus membuka website yang dimaksud, sign in, masuk ke menu pengaturan akun, dan mengubah password. Jika ada banyak website yang harus diganti password-nya, tentunya hal ini akan memakan waktu. Namun, selama menggunakan Chrome, Anda bisa melakukan hal tersebut secara jauh lebih praktis. Memberi peringatan jika ada password yang tidak aman Photo Credit: Google Sebagai layanan browser unggulan Google, Chrome dilengkapi dengan sistem pengelolaan password yang kuat. Saat memasukkan password untuk sign in pertama kali pada suatu website, Chrome akan memberi pilihan apakah Anda ingin agar Chrome mengingat informasi sign in tersebut. Jadi, ketika kembali melakukan sign in pada website yang sama, Anda tak perlu mengetik ulang password. Melalui fitur Safety Check, Chrome mengecek apakah password yang ia ingat tersebut telah bocor atau disalahgunakan. Jika iya, Chrome akan segera memberi peringatan kepada Anda. Tak hanya itu, browser Google satu ini juga akan memberitahukan cara mengubah password agar Anda bisa segera mengambil tindakan. Dengan begini, Anda pun dapat meminimalisir terjadinya risiko yang lebih besar lagi. Bisa langsung ubah password saat itu juga Photo Credit: Dan Nelson (Unsplash) Kabar baiknya, untuk cara mengubah password tersebut, Anda tak perlu mengunjungi satu per satu website yang dimaksud. Kini telah hadir fitur baru bernama Single Tap yang memungkinkan Anda untuk mengubah password melalui Chrome secara mudah, cepat, dan praktis. Saat sign in pada website tertentu, lalu ternyata Chrome menemukan bahwa password Anda telah mengalami kebocoran, maka Chrome akan langsung memunculkan tombol Change Password. Begitu Anda menekan tombol tersebut, Chrome pun akan mengarahkan Anda pada website yang bersangkutan sekaligus membantu Anda melakukan proses penggantian password. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua website mendukung fitur Single Tap dari Chrome ini. Tenang saja, walau begitu, fitur Password Manager akan selalu membantu Anda menciptakan password yang unik dan kuat untuk berbagai akun website. Didukung dengan teknologi Duplex Photo Credit: luis gomes (Pexels) Demi memudahkan cara mengubah password melalui fitur Single Tap, Chrome menggunakan teknologi Duplex. Diperkenalkan pertama kali pada 2019, Duplex merupakan teknologi artificial intelligence (AI) yang juga menjadi tenaga utama di balik Google Assistant. Khusus untuk kebutuhan web, teknologi Duplex yang digunakan disebut dengan Duplex on the Web. Teknologi AI ini mampu mengambil alih berbagai aktivitas dasar saat web browsing, contohnya scrolling dan mengisi form. Dengan begini, Anda pun bisa lebih fokus melakukan aktivitas lain yang lebih penting saat browsing. Kini, Duplex on the Web telah melebarkan sayap untuk membantu Anda mengetahui adanya kebocoran data akun. Tak hanya itu, Anda juga bisa langsung mengubah password saat itu juga melalui fitur Single Tap. Kehadiran fitur Single Tap pada Chrome sangat membantu Anda dalam cara mengubah password secara cepat dan mudah. Kabar baiknya lagi, browser Chrome sudah kompatibel dengan banyak perangkat seperti Windows dan MacOS. Namun, jika ingin mendapatkan manfaat maksimal dari Chrome, maka menggunakan perangkat Chromebook dengan sistem ChromeOS merupakan pilihan tepat. Anda bisa mendapatkannya melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology.  Cari tahu lebih banyak di sini atau segera hubungi tim EIKON Technology!  

Collaboration, Technology

Google Docking Station Baru untuk Perangkat Chrome OS

  Docking station, disebut juga sebagai universal port replicator, merupakan sebuah aksesori yang menghubungkan laptop dengan perangkat eksternal yang mampu menambah fungsi laptop tersebut. Pemasangan docking station dapat menambah kenyamanan pengguna. Bahkan Anda akan merasa seperti sedang menggunakan komputer desktop, bukan laptop. Kini, pengguna Chromebook juga dapat merasakan pengalaman serupa. Baru-baru ini, Google meluncurkan produk docking station untuk perangkat Chrome OS. Bagaimana bentuk dari Google Docking Station ini? Apa saja fungsinya? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini! Merupakan bagian dari program Works with Chromebook Photo Credit: Nathan Dumlao (Unsplash) Pada Maret 2020, Google meluncurkan program bernama ‘Works with Chromebook’ untuk menyediakan berbagai aksesoris penunjang perangkat Chrome OS. Melalui program ini, dipastikan bahwa aksesoris-aksesoris tersebut telah resmi diuji dan divalidasi untuk bekerja dengan baik pada perangkat Chrome OS. Beberapa contohnya seperti keyboard, mouse, dan charger. Google Docking Station menjadi aksesori terbaru yang tergabung dalam program ‘Works with Chromebook’ per Mei 2021 lalu. Rencananya, Google Docking Station akan diluncurkan secara bertahap dalam beberapa bulan kedepan. Dalam mewujudkan rencana tersebut, Google menggandeng sejumlah partner dari bidang teknologi. Beberapa di antaranya adalah Acer, Hyper, Targus, StarTech.com, dan Belkin. Dengan adanya kerja sama ini, akan tersedia banyak pilihan Google Docking Station yang nantinya bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Hadir dalam dua jenis docking station, dengan fitur update otomatis Photo Credit: Andrew Neel (Unsplash) Secara umum, setidaknya ada dua tipe docking station yang disediakan oleh Google. Tipe pertama adalah dock berukuran lebih besar yang dapat menunjang tiga display eksternal via HDMI, DP, dan USB-C. Sementara itu, tipe kedua adalah dock berukuran lebih kecil dengan satu HDMI eksternal sehingga cocok bagi Anda yang membutuhkan docking station bersifat ringkas untuk kebutuhan perjalanan atau kerja remote. Walaupun memiliki fitur berbeda, kedua tipe Google Docking Station tersebut sama-sama dibekali dengan kemampuan update firmware dan software Chrome OS secara otomatis. Dengan begini, Anda pun akan selalu mendapatkan versi OS terkini dengan fitur-fitur terbaru. Kompatibel juga untuk Windows dan Mac Photo Credit: Solen Feyissa (Unsplash) Demi menunjang aktivitas kerja, banyak perusahaan yang menggunakan perangkat campuran dari berbagai produsen atau platform. Google memahami benar kebutuhan tersebut. Walaupun sebetulnya Google Docking Station dirancang untuk penggunaan Chrome OS, aksesori satu ini juga kompatibel dengan perangkat berbasis Windows maupun MacOS. Jadi, bagi yang sehari-hari bekerja menggunakan perangkat Windows atau MacOS di samping Chrome OS, Anda dapat memakai Google Docking Station untuk meningkatkan fungsi perangkat-perangkat tersebut.   Dengan kata lain, apa pun perangkat yang Anda gunakan untuk bekerja, Google Docking Station tetap dapat kompatibel dengannya. Namun, untuk mendapatkan fungsi optimal, penggunaan perangkat Chrome OS tetaplah disarankan. Anda bisa mendapatkannya melalui EIKON Technology selaku partner resmi produk Google di Indonesia. Tersedia beragam pilihan perangkat Chrome OS yang dapat menunjang produktivitas kerja sehari-hari Anda. Ditambah dengan Google Docking Station, fungsi perangkat pun akan semakin meningkat sehingga memaksimalkan pekerjaan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!  

Chromebook, Security

Menghubungkan Pekerjaan Karyawan dengan Chromebook

  Kata siapa perangkat Chromebook hanya bisa digunakan oleh pelajar? Fitur-fitur canggih yang tersemat di dalamnya juga bisa dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaan karyawan. Terlebih, Chromebook hadir dalam bentuk laptop sehingga karyawan bisa lebih mudah membawanya ke mana pun. Kerja remote pun tak lagi jadi halangan. Berbekal Chrome OS yang dirancang Google, laptop Chromebook dikenal sangat user-friendly. Penggunaannya sangat simpel dan mudah, bahkan bagi yang belum pernah memakainya sama sekali untuk bekerja. Tak hanya itu, pekerjaan karyawan juga dapat terhubung dengan Chromebook secara mudah dan praktis! Set up perangkat Chromebook dapat dilakukan secara online Photo Credit: Thought Catalog (Unsplash) Mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung sampai saat ini, kemungkinan besar masih banyak pula beberapa dari Anda yang melangsungkan sistem work from home (WFH). Alhasil, para karyawan harus membawa pulang perangkat Chromebook mereka untuk bekerja. Set up ulang pun perlu dilakukan agar pekerjaan karyawan dapat terhubung dengan Chromebook. Kabar baiknya, hal tersebut sangatlah mudah dilakukan secara online. Kuncinya adalah dengan berlangganan Chrome Enterprise Upgrades sehingga Anda dapat mengelola seluruh Chromebook karyawan secara remote. Dengan Chrome Enterprise Upgrades, Anda bisa memasang Chrome OS dalam versi lebih advanced yang memang khusus ditujukan untuk keperluan bisnis. Sedangkan untuk set up yang dilakukan secara individu oleh masing-masing karyawan, mereka hanya perlu menghubungkan Chromebook pada jaringan Wi-Fi dan perangkat pun sudah bisa digunakan. Tak ada software apa pun yang harus Anda pasang. Aktifkan fitur Sync untuk menghubungkan perangkat dengan informasi akun Google Photo Credit: Andrew Neel (Unsplash) Karena bekerja menggunakan Chrome OS, maka Chromebook akan meminta Anda untuk memasukkan informasi akun Google. Dari sinilah berbagai pekerjaan karyawan bisa terhubung dengan Chromebook melalui fitur bernama Sync. Fitur tersebut dapat Anda aktifkan melalui browser Google Chrome. Langsung saja buka aplikasi Chrome pada perangkat Chromebook, klik Profile di bagian kanan atas, sign in ke akun Google Anda, dan klik Turn On Sync. Secara otomatis, Anda juga akan langsung sign in ke akun Gmail, YouTube, dan berbagai layanan Google lainnya. Tak hanya itu, Anda pun dapat mengakses informasi lain yang tersinkronisasi dengan akun Google Anda seperti password dan bookmarks. Dengan begini, data pekerjaan karyawan yang disimpan menggunakan akun Google pun bisa Anda akses kembali secara mudah. Bisa gunakan Citrix untuk menunjang sinkronisasi Photo Credit: Brooke Cagle (Unsplash) Dalam bekerja, Google paham betul bahwa Anda kerap membutuhkan resource tambahan untuk menunjang produktivitas. Itulah kenapa Chromebook pun dirancang agar mudah dihubungkan dengan pemakaian berbagai aplikasi. Salah satunya adalah Citrix yang dapat membantu menghubungkan pekerjaan karyawan dengan Chromebook. Disebut juga sebagai Citrix Workspace, aplikasi satu ini merupakan sebuah platform manajemen berbasis cloud yang akan memberikan akses instan ke semua aplikasi web, aplikasi virtual, dokumen digital, hingga desktop melalui satu all-in-one interface. Aplikasi Citrix Workspace bisa Anda dapatkan melalui Chrome Web Store. Hadir dalam bentuk Extension, Citrix Workspace dapat langsung dipasangkan pada browser Chrome di perangkat Chromebook Anda.   Berbasis cloud dan bersifat user-friendly, perangkat Chromebook memiliki pengoperasian yang begitu simpel. Bahkan jika sebelumnya tidak pernah menggunakannya pun, Anda tetap bisa menghubungkan pekerjaan karyawan dengan Chromebook secara mudah. Masih tidak percaya? Buktikan sendiri dengan membeli perangkat Chromebook melalui partner resmi Google seperti EIKON Technology. Telah bekerja sama dengan produsen teknologi ternama seperti Acer dan Asus, perangkat Chromebook hadir dalam berbagai desain dan fitur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk mendapatkan perangkat Chromebook!  

Info

Cegah Ancaman dan Penyalahgunaan, Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan

    Google Workspace tidak hanya dirancang untuk menunjang produktivitas harian, tapi juga agar bisa digunakan secara aman. Update sistem keamanan dilakukan secara rutin untuk melindungi pengguna dari potensi ancaman dan penyalahgunaan pihak tak bertanggung jawab. Dengan begitu, admin IT pun bisa memiliki kontrol penuh untuk mencegah terjadinya pembobolan keamanan pada sistem Google Workspace perusahaan. Mewujudkan hal tersebut, sejumlah fitur keamanan pun telah ditambahkan dalam Google Workspace pada pertengahan Mei 2021 lalu. Optimalisasi sistem Alert Center dengan pemasangan VirusTotal Photo Credit: Google Cloud Sistem keamanan Google Workspace telah dibekali dengan Alert Center, yang akan memberikan notifikasi real-time kepada admin IT jika ditemukan aktivitas janggal pada domain Google Workspace perusahaan. Melalui update keamanan edisi kali ini, Google mengoptimasi Alert Center dengan menambahkan program bernama VirusTotal. Berkat adanya integrasi VirusTotal dengan Alert Center pada sistem keamanan Google Workspace, kini pihak admin IT bisa mendapatkan laporan analisis terkait ancaman keamanan secara lebih mendetail. Namun, tenang saja, Google tidak akan membagi informasi pengguna kepada VirusTotal. Berikut beberapa elemen analisis yang disediakan VirusTotal untuk mendukung sistem keamanan Google Workspace:   Threat graph – Berdasarkan setiap ancaman yang muncul, VirusTotal akan menganalisis hubungan di antara ancaman-ancaman tersebut dan menampilkannya dalam bentuk grafik sehingga bisa lebih mudah dipahami. In-the-wild details – Menyediakan data rincian waktu dan geografis terkait kejadian ancaman keamanan hingga teknik-teknik yang umum digunakan pelaku kejahatan. Indicators of compromise – Memeriksa hubungan ancaman keamanan dengan unsur lain yang ada dalam database VirusTotal, sehingga memungkinkan analis untuk memetakan infrastruktur jaringan berbahaya seperti server command-and-control dan distribution sites.   Pemblokiran pengguna pada Google Drive Photo Credit: Google Cloud Sebagai bagian dari Google Workspace, Drive mendukung produktivitas dan kolaborasi kerja melalui fitur penyimpanan dan share berbasis cloud. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa ancaman penyalahgunaan dari pihak-pihak tak bertanggung jawab masihlah ada. Demi mencegah masalah tersebut, Google pun meningkatkan kontrol keamanan melalui fitur pemblokiran pengguna (user blocking). Fitur satu ini memungkinkan Anda untuk menghapus akses orang lain terhadap konten Anda di dalam Drive. Bahkan jika sebelumnya Anda pernah berbagi konten dengan orang tersebut, Anda tetap bisa menghapus aksesnya saat diperlukan. Tak hanya itu, Anda juga bisa memblokir pengguna tertentu agar tidak membagikan konten kepada Anda. Fitur ini dapat Anda gunakan terhadap pengguna yang sebelumnya pernah membagikan konten spam kepada Anda. Lalu, kini Anda dapat pula menghapus seluruh konten spam dari satu pengguna tertentu dalam waktu bersamaan. Pembatasan akses pihak ketiga dalam Google Workspace Photo Credit: Google Cloud Data perusahaan idealnya bersifat sensitif karena mengandung beragam informasi dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Untuk membantu Anda menjaga keamanan data yang tersimpan di Google Workspace, Google melakukan dua bentuk peningkatan terkait pembatasan akses data, yaitu pemblokiran seluruh akses OAuth 2.0 API dan akses kontekstual baru (context-aware) untuk aplikasi seluler dan desktop Google. Pemblokiran akses OAuth 2.0 API dilakukan melalui fitur kontrol akses aplikasi. Melalui fitur baru ini, admin dapat memblokir seluruh akses API pihak ketiga terhadap Google Workspace dan data pengguna. Saat semua cakupan OAuth 2.0 diblokir, maka pengguna tidak bisa memakai akun Google Workspace untuk sign in ke aplikasi dan website pihak ketiga mana pun. Sedangkan pada akses bersifat context-aware, admin dapat mengontrol akses menuju aplikasi berdasarkan elemen tertentu seperti identitas pengguna, lokasi, hingga IP address. Dengan begini, hanya pengguna dengan hak khusus yang bisa mengakses aplikasi-aplikasi tersebut.   Agar Anda dan tim bisa menggunakan Google Workspace dengan aman dan nyaman, sistem keamanan pun senantiasa mengalami pembaruan. Namun, fitur-fitur keamanan lanjutan tersebut baru bisa Anda dapatkan jika upgrade langganan Google Workspace ke edisi premium seperti Enterprise Standard dan Enterprise Plus. Di Indonesia, berlangganan Google Workspace dapat Anda lakukan dengan menghubungi partner resmi Google seperti EIKON Technology. Nantinya, Anda akan mendapat bantuan dari tim EIKON Technology dalam memilih edisi langganan Google Workspace yang paling sesuai kebutuhan. Bahkan jika butuh panduan untuk mengoptimalkan sistem keamanannya, Anbisa juga bisa langsung menanyakan pada tim EIKON Technology. Jadi, jangan tunda lagi. Tingkatkan perlindungan Google Workspace Anda dengan upgrade langganan ke edisi premium!  

Google Meet, Google Workspace, Productivity, Rapat online

6 Fitur Baru Google Meet Tingkatkan Pengalaman Panggilan Video

  Tahun lalu, Google mengumumkan bahwa mereka menyediakan layanan Google Meet secara gratis. Sejak saat itu, Google Meet telah membantu jutaan penggunanya untuk tetap terhubung dengan satu sama lain selama pandemi. Pengembangan terhadap Google Meet terus dilakukan demi meningkatkan pengalaman pengguna dalam melakukan panggilan video. Berbagai fitur baru Google Meet pun rutin diluncurkan. Kali ini, fitur-fitur Google Meet tersebut tak hanya akan semakin memudahkan aktivitas panggilan video, tapi juga memberikan sedikit keseruan! Apa saja-fitur-fitur tersebut? Cari tahu selengkapnya di bawah ini! Memindahkan atau sembunyikan feed video sendiri Photo Credit: Google Melalui feedback yang diberikan, banyak pengguna Google menyampaikan bahwa mereka bisa berkonsentrasi lebih baik selama panggilan video jika tidak melihat diri sendiri. Berdasarkan feedback tersebut, Google Meet pun memberi kendali kepada Anda untuk mengatur ulang posisi dan ukuran feed video Anda sendiri. Bahkan Anda juga bisa menyembunyikan feed video Anda jika memang itu membuat Anda lebih nyaman. Lebih banyak space untuk melihat konten dan feed video peserta lain Photo Credit: Google Dengan feed video diri sendiri yang berkurang ukurannya, atau bahkan disembunyikan, kini Anda punya lebih banyak space untuk melihat feed video para peserta lain dalam panggilan video. Hal ini didukung dengan adanya tampilan baru yang lebih fresh. Tak hanya itu, dalam beberapa bulan mendatang, fitur baru Google Meet juga akan hadir dalam bentuk pin dan unpin konten. Melalui fitur Google Meet ini, nantinya Anda bisa pin beberapa tiles sekaligus pada layar panggilan video. Misalnya, saat online meeting, Anda dapat men-highlight kotak presentasi dan pembicara agar lebih fokus menyimak. Data Saver untuk menghemat pemakaian data Photo Credit: Ono Kosuki (Pexels) Pada situasi tertentu, terkadang panggilan video tetap harus dilakukan saat Anda dalam perjalanan. Masalahnya, tidak semua tempat menyediakan koneksi Wi-Fi yang memadai sehingga Anda pun harus mengandalkan paket data agar tetap bisa terhubung dengan internet. Memahami kebutuhan tersebut, Data Saver hadir sebagai fitur baru Google Meet untuk membantu membatasi penggunaan data pada jaringan mobile. Dengan begini, Anda pun bisa menghemat biaya pembelian paket data pula. Penyesuaian brightness secara otomatis Photo Credit: Google Salah satu tantangan melakukan panggilan video adalah wajah masing-masing peserta yang kurang terlihat, biasanya disebabkan kurangnya cahaya di tempat mereka berada. Bisa juga karena seseorang tengah duduk membelakangi jendela sehingga terjadi backlight. Menjawab tantangan tersebut, Google Meet versi web kini telah dibekali dengan kemampuan baru. Jika seorang pengguna tampak kurang terang, secara otomatis Google Meet akan mendeteksinya dan langsung meningkatkan brightness sehingga bisa dilihat lebih jelas oleh peserta lainnya. Autozoom untuk melihat peserta lain dengan lebih jelas Photo Credit: Matilda Wormwood (Pexels) Fitur baru Google Meet lainnya adalah Autozoom. Ditenagai oleh artificial intelligence (AI), Autozoom berfungsi membantu para peserta lain dalam panggilan video agar bisa melihat Anda secara lebih jelas. Melalui fitur Autozoom, mereka bisa memperbesar (zoom in) tampilan Anda sekaligus memposisikan Anda tepat di depan kamera. Namun, fitur Google Meet satu ini hanya bisa diakses oleh pengguna yang telah berlangganan Google Workspace berbayar. Ubah background dengan tampilan video Photo Credit: Google Melakukan panggilan video dengan Google Meet akan semakin seru dengan kehadiran fitur baru satu ini. Dalam update terbaru Google Meet, kini Anda bisa mengubah background dengan tampilan video. Penggunaan background video memungkinkan Anda untuk menjaga privasi sekaligus membuat sesi panggilan video jadi lebih seru dan menyenangkan. Saat ini, ada tiga opsi video yang bisa Anda pilih untuk dijadikan background, yaitu tema ruang kelas, pesta, dan hutan. Secara bertahap, Google akan terus melakukan penambahan.   Itulah keenam fitur baru Google Meet yang sudah bisa mulai Anda gunakan sejak akhir April 2021 lalu. Namun, mengingat tidak semua fitur tersebut dapat dipakai gratis, sebaiknya jangan tunggu lama untuk berlangganan Google Workspace berbayar. Tenang saja, Google Workspace menyediakan beberapa edisi langganan dengan harga berbeda yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Langsung saja pelajari perbedaannya di sini atau segera hubungi re-seller remi produk Google seperti EIKON Technology. Dengan berlangganan Google Workspace, Anda pun bisa meningkatkan pengalaman panggilan video dengan menggunakan Google Meet!   Meta desc: Berbagai fitur baru Google Meet diluncurkan untuk tingkatkan pengalaman pengguna dalam melangsungkan panggilan video.  

Collaboration, Google Workspace, Security, Technology

Konfigurasi Setting Keamanan Google di Device Google Workspace

  Demi memudahkan perusahaan dalam mengelola penggunaan Google Workspace, Google telah menyediakan platform khusus bernama Admin. Sesuai namanya, platform tersebut hanya bisa diakses oleh orang atau karyawan yang ditunjuk sebagai administrator untuk mengatur sistem keamanan google di device.  Admin telah dilengkapi dengan beragam fitur penunjang keamanan Google Workspace, salah satunya Endpoint Management. Melalui Endpoint Management inilah seorang administrator bisa melakukan konfigurasi setting keamanan pada perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace. Namun, jenis perangkat yang berbeda biasanya membutuhkan setting sistem keamanan Google Workspace yang berbeda pula. Simak penjelasan berikut ini untuk mengetahuinya. Pada perangkat mobile Photo Credit: NordWood Themes (Unsplash) Setidaknya ada dua konfigurasi utama yang bisa dilakukan pada perangkat mobile untuk menjaga keamanan Google Workspace beserta data di dalamnya. Kedua bentuk konfigurasi tersebut adalah password dan lock down. Berikut penjelasannya.   Akses menggunakan password   Photo Credit: NeONBRAND (Unsplash) Lindungi data Google Workspace di dalam perangkat mobile dengan mewajibkan pengguna mengaktifkan screen lock atau password pada perangkat tersebut. Apabila memungkinkan, sebaiknya tentukan juga komposisi password tersebut untuk meningkatkan keamanan. Anda bisa menentukan tipe password, standar tingkat keamanannya, hingga minimal jumlah karakter yang harus disertakan dalam password.   Lock down atau menghapus data pada perangkat yang hilang   Photo Credit: Kevin Ku (Pexels) Tidak ada orang yang ingin kehilangan smartphone mereka, tapi kejadian seperti ini tidak dapat diprediksi. Jika benar terjadi, tentu dapat membahayakan keamanan data di dalamnya. Pun ketika ada karyawan yang resign dari perusahaan, Anda harus memastikan bahwa ia tak lagi memiliki akses terhadap data-data yang tersimpan dalam Google Workspace pada perangkat mobile miliknya. Tak perlu khawatir, sistem keamanan Google Workspace memiliki fitur Lock Down yang memungkinkan Anda untuk menghapus akun kerja karyawan melalui platform Endpoint Management. Saat hal itu dilakukan, seluruh data pekerjaan di dalamnya juga akan ikut terhapus. Dengan begini, risiko data bocor pun bisa diminimalisir. Pada perangkat komputer atau desktop Photo Credit: Surface (Unsplash) Konfigurasi setting keamanan untuk perangkat Google Workspace tak hanya berlaku pada mobile, tapi juga perangkat komputer atau desktop. Bahkan jumlah fitur konfigurasi keamanan Google Workspace pada perangkat komputer relatif lebih banyak dari mobile. Apa saja? Aktifkan verifikasi endpoint Photo Credit: FLY:D (Unsplash) Dengan mengaktifkan sistem verifikasi endpoint pada perangkat komputer, Anda bisa menggunakan akses kontekstual (context-aware) untuk melindungi data perusahaan. Pada saat bersamaan, Anda juga akan mendapatkan informasi lebih tentang perangkat komputer yang mengakses data tersebut.   Batasi sinkronisasi Drive File Stream pada perangkat milik perusahaan   Photo Credit: Ivan Samkov (Pexels) Tahukah bahwa sebenarnya Anda bisa mengerjakan file Drive pada perangkat Windows atau MacOS tanpa harus menggunakan browser? Caranya adalah dengan memanfaatkan Drive File Stream. Namun, untuk menjaga keamanan Google Workspace dan seluruh data perusahaan Anda di dalamnya, batasi pengaturan sinkronisasinya. Sebaiknya, pastikan Drive File Stream hanya bisa dijalankan pada perangkat milik perusahaan yang telah terdaftar dalam inventory.   Gunakan Google Credential Provider for Windows (GCPW)   Photo Credit: Johny vino (Unsplash) Konfigurasi setting keamanan Google satu ini berlaku bagi Anda yang menggunakan perangkat komputer bersistem operasi Windows 10. Setelah sign in pada perangkat mereka menggunakan akun Google, pengguna harus melakukan 2-step verification dan sign-in challenges. Baru setelah itu pengguna bisa mengakses berbagai Google Workspace. Apabila mau, mereka juga bisa mengaktifkan fitur single sign-on (SSO) yang memungkinkan mereka untuk menggunakan aplikasi-aplikasi Google Workspace tanpa harus mengetik ulang username dan password akun Google.   Pada dasarnya, sistem keamanan Google Workspace telah dirancang secara optimal, baik untuk pengguna maupun data-data yang tersimpan di dalamnya. Walau begitu, mengingat ada banyak perangkat yang digunakan untuk mengakses Google Workspace, konfigurasi setting keamanan melalui Endpoint Management tetap perlu dilakukan. Tenang saja, platform Endpoint Management sudah termasuk bagian dari Google Workspace. Artinya, selama Anda berlangganan Google Workspace, maka Anda bisa menggunakan Endpoint Management tanpa biaya tambahan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang edisi langganan Google Workspace, langsung saja klik di sini atau hubungi EIKON Technology selaku re-seller resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia!  

Info

Kelola Perangkat Google Workspace dengan Endpoint Management

  Demi kelancaran produktivitas kerja sehari-hari, banyak perusahaan menggunakan Google Workspace. Program unggulan Google satu ini memang menyediakan rangkaian aplikasi untuk menunjang pekerjaan Anda, contohnya Docs, Sheets, Slides, Gmail, dan Drive dengan fitur Google Endpoint Management.  Masing-masing karyawan kemungkinan besar menggunakan perangkat berbeda untuk mengaksesnya. Hal ini bisa saja menimbulkan kesulitan bagi para admin perusahaan untuk mengelola penggunaan Google Workspace melalui perangkat-perangkat tersebut. Memahami kebutuhan tersebut, Google pun membekali Google Workspace dengan sebuah tool bernama Google Endpoint Management. Melalui tool ini, perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace dapat Anda kelola dalam satu platform saja. Dapat digunakan untuk berbagai jenis perangkat Photo Credit: Maxim Ilyahov (Unsplash) Lantas, perangkat seperti apa yang dimaksud? Apakah Google Endpoint Management hanya dapat memonitor perangkat buatan Google? Tentu saja tidak. Tool satu ini berlaku untuk seluruh jenis perangkat dan sistem operasi, baik itu Chrome OS, MacOS, Windows, hingga Linux. Bahkan tak hanya untuk perangkat desktop seperti komputer dan laptop, Google Endpoint Management juga compatible dengan perangkat mobile bersistem Android dan iOS. Nantinya, setiap akses Google Workspace dari setiap perangkat akan tercatat dalam Google Endpoint Management. Jika seandainya ditemukan perangkat yang sekiranya mencurigakan atau berpotensi membawa risiko, maka pihak administrator bisa memblokir akses perangkat tersebut. Kelola banyak perangkat dari satu platform saja Photo Credit: Google Workspace Google Endpoint Management dirancang untuk memberikan kemudahan pada para pengguna, terutama di berbagai perusahaan, dalam mengelola setiap perangkat yang mereka gunakan untuk mengakses Google Workspace. Kemudahan tersebut diwujudkan melalui pengelolaan yang bisa dilakukan hanya dengan menggunakan satu platform terpusat. Platform ini biasa disebut dengan konsol admin. Ada banyak hal terkait pengelolaan akses perangkat yang dapat Anda lakukan melalui platform ini, mulai dari menghapus akses perangkat tertentu hingga memasang kata sandi. Semuanya dapat Anda lakukan tanpa perlu mengunduh aplikasi atau software tambahan.  Dilengkapi sistem keamanan data yang mumpuni Photo Credit: Google Workspace Tak hanya memberikan kemudahan, Google Endpoint Management juga dilengkapi dengan sistem keamanan untuk melindungi seluruh data yang Anda hasilkan atau simpan menggunakan Google Workspace.  Salah satunya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, yakni memblokir akses dari perangkat-perangkat tertentu yang dinilai berisiko. Namun, selain itu, Anda juga bisa mengaktifkan screen lock, password, hingga menghapus data bersifat sensitif. Bahkan untuk akses menggunakan perangkat mobile, pengguna harus terlebih dulu mendapat persetujuan dari pihak admin. Sudah tergabung dalam rangkaian Google Workspace Photo Credit: Myriam Jessier (Unsplash) Google Endpoint Management masih merupakan bagian dari Google Workspace. Dengan kata lain, jika Anda telah berlangganan Google Workspace, maka Anda bisa langsung menggunakan Google Endpoint Management. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan lagi. Lalu, bagaimana cara berlangganan Google Workspace bagi yang belum melakukannya? Caranya mudah sekali, Anda hanya perlu menghubungi reseller resmi produk Google seperti EIKON Technology. Nantinya, tim EIKON Technology akan membantu Anda memilih edisi langganan Google Workspace yang sesuai kebutuhan Anda. Jika ada kesulitan dalam penggunaan Google Endpoint Management pun, Anda juga bisa berkonsultasi.   Berkat Google Endpoint Management, mengelola perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace jadi sangat mudah dilakukan. Bahkan hanya melalui satu platform, Anda juga bisa mengatur sistem keamanannya. Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk berlangganan Google Workspace dan permudah pengelolaan perangkat dengan Google Endpoint Management!  

Bisnis, Collaboration, Google Workspace, Productivity, Technology

Cara Meningkatkan Strategi Marketing Bisnis dengan Google Workspace

  Dalam menyusun strategi marketing bisnis, ada begitu banyak hal yang harus diurus. Contohnya seperti foto dan video untuk konten, jadwal marketing campaign, pemasangan iklan, dan masih banyak lagi. Belum lagi jika Anda dan tim marketing tersebar di banyak kota atau lokasi, menyusun strategi pun jadi terasa lebih menantang. Di sinilah Google Workspace dapat membantu Anda. Menawarkan serangkaian program dan aplikasi penunjang produktivitas, Google Workspace akan menjadi tools terbaik bagi Anda  dalam merancang strategi marketing bisnis. Selain itu, mengingat bahwa Google Workspace berbasis Cloud, maka kolaborasi tim pun tidak mustahil dilakukan walau dari banyak tempat berbeda. Cek poin-poin di bawah ini untuk mengetahui cara mengoptimalkan strategi marketing dengan menggunakan Google Workspace! Buat diri Anda lebih mudah dikenali pada email Photo Credit: Stephen Phillips (Unsplash) Salah satu bagian terpenting dalam penyusunan strategi marketing adalah membangun reputasi bisnis yang positif. Tunjukkan bahwa Anda merupakan bisnis yang kredibel dan dapat dipercaya. Saat mengirim email, misalnya, pastikan agar diri Anda lebih mudah dikenali. Untungnya, hal ini bisa mudah dilakukan melalui layanan email Google Workspace, Gmail. Pada kolom “From” dalam Gmail, selalu cantumkan nama alamat email Anda. Lalu, tuliskan pula kesimpulan isi email secara singkat pada kolom “Subject”. Usahakan agar subject tersebut tidak lebih dari sepuluh kata. Kredibilitas bisnis juga akan lebih terjaga apabila Anda memasang foto pada profil Gmail Anda, bisa berupa foto diri yang sesuai atau logo bisnis. Manfaatkan Google Forms untuk riset pasar Photo Credit: Campaign Creators (Unsplash) Sebagus apa pun strategi marketing bisnis yang Anda lakukan, hal tersebut akan percuma apabila tidak tepat sasaran. Karenanya, penting untuk melakukan riset pasar sebelum meluncurkan marketing campaign. Anda bisa menyebarkan survei kepada target konsumen menggunakan Google Forms. Tak perlu capek-capek keliling, Anda hanya perlu membagikan tautan Google Forms kepada target konsumen bisnis Anda. Lalu, setelah mendapatkan respons atau feedback dari hasil survei tersebut, Anda bisa menyortir dan menganalisis data menggunakan Google Sheets. Mengelola marketing campaign dengan Google Calendar Photo Credit: Omar Al-Ghosson (Unsplash) Agar strategi marketing sukses meninggalkan kesan positif yang bersifat jangka panjang, maka sebaiknya ada campaign yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Penjadwalan pun penting dilakukan agar strategi marketing bisnis dapat berjalan tepat waktu dan sasaran. Tahap penjadwalan inilah yang biasanya cukup menguras waktu karena Anda harus memastikan segalanya sesuai. Terlebih, Anda juga harus menyesuaikan timeline dengan jadwal anggota tim agar  tidak ada strategi marketing yang terbengkalai. Tak perlu bingung, pengelolaan strategi marketing bisa Anda lakukan secara lebih praktis menggunakan Google Calendar. Melalui aplikasi Google Workspace satu ini, Anda bisa mengundang para anggota tim dan assign tugas mereka pada tanggal yang dikehendaki. Bahkan jika ada materi yang perlu dipelajari, Anda dapat langsung melampirkannya di dalam Google Calendar. Tingkatkan online presence melalui Google My Business Photo Credit: henry perks (Unsplash) Era digital telah menuntut segala sesuatunya untuk go online, termasuk bisnis. Karenanya, agar bisnis Anda juga dikenal secara online, tingkatkan presence Anda dengan memanfaatkan Google My Business. Namun, pastikan Anda membangun website terlebih dulu agar target konsumen nantinya bisa mengenal lebih jauh bisnis Anda. Tenang saja, Google Workspace juga menyediakan layanan pembuatan website bernama Sites. Buatlah website yang relevan dengan bisnis dan di-update secara rutin untuk meningkatkan search engine optimization (SEO). Semakin baik SEO-nya, maka website Anda punya peluang lebih tinggi untuk muncul pada peringkat atas hasil pencarian Google. Jika website sudah rampung, daftarkan secara gratis pada Google My Business. Jangan lupa cantumkan nomor telepon aktif dan lokasi bisnis untuk memudahkan target konsumen dalam menemukan dan menjangkau bisnis Anda. Perluas jangkauan audiens dengan Google Ads Photo Credit: Launchpresso (Unsplash) Selain daftar Google My Business, ada cara lain yang juga dapat membantu Anda memperluas jangkauan bisnis, yaitu beriklan melalui Google Ads. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya mengiklankan website menggunakan strategi keywords. Jadi, jika seseorang mengetikkan keyword tertentu, website Anda bisa muncul pada peringkat teratas hasil pencarian Google. Cara lain adalah membuat video iklan untuk kemudian dipasang di produk-produk Google lain. Saat ini, ada banyak bisnis atau brand yang memasang video iklan produk mereka pada YouTube. Mengingat audiens kerap skip iklan di YouTube, pastikan Anda menunjukkan produk Anda pada detik-detik pertama video.   Menyusun strategi marketing bisnis memang bukan hal yang mudah, tapi hal tersebut bisa dioptimalkan dengan menggunakan Google Workspace. Ragam aplikasinya akan mempermudah Anda dalam menyusun strategi marketing secara tepat sasaran. Agar tak lagi menunda-nunda perancangan strategi marketing bisnis, segera berlangganan Google Workspace sekarang juga. Dengan begitu, Anda bisa langsung mengaplikasikan cara-cara di atas dan mendapatkan hasil strategi marketing yang maksimal. Tunggu apa lagi? Segera hubungi EIKON Technology selaku reseller resmi Google Workspace di Indonesia!  

Collaboration, Gmail, Google Workspace

Fungsi Fitur “External Labels” di Gmail untuk Pekerjaan

  Meningkatnya kasus kejahatan siber mengharuskan kita untuk selalu waspada dalam beraktivitas di ranah online. Para pelaku selalu mempunyai cara untuk menjerat para korbannya, termasuk melalui email. Itulah kenapa Anda perlu meningkatkan keamanan agar terhindar dari jebakan kejahatan siber. Memahami kebutuhan tersebut, Google meluncurkan fitur baru bernama External Labels pada Gmail. Pada dasarnya, fitur Gmail ini membantu Anda untuk menandai email yang menyertakan penerima atau pihak dari luar organisasi Anda. Bagaimana cara External Labels bekerja? Simak ulasannya berikut ini. Tingkatkan waspada terhadap pesan dari pihak luar Photo Credit: Torsten Dettlaff (Pexels) Ada begitu banyak bentuk ancaman yang mengintai Anda di dunia maya. Bukan hanya kejahatan siber, ancaman tersebut juga bisa hadir dalam bentuk kebocoran data atau informasi penting perusahaan. Nah, External Labels hadir untuk membantu Anda menghindari hal-hal seperti itu. Sesuai namanya, fitur Gmail satu ini memang merupakan label yang berfungsi sebagai peringatan kepada pengguna untuk mewaspadai pesan email dari pihak eksternal organisasi. Jadi, kini seluruh email yang berasal dari luar organisasi akan dilabeli sebagai External. Secara bertahap, fitur External Labels sudah mulai diluncurkan kepada para pengguna Gmail sejak 29 April 2021 lalu. Disertai dengan fitur Warning Banner Photo Credit: Yogas Design (Unsplash) Walau dinamakan External Labels, fitur Gmail satu ini juga disertai dengan Warning Banner. Saat Anda hendak membalas pesan email dari orang yang berasal dari luar organisasi Anda, maka Gmail akan langsung memunculkan banner khusus sebagai peringatan. Dengan begini, Anda bisa benar-benar memastikan bahwa pesan yang akan Anda balas memang merupakan email yang tepat. Kemungkinan terjadinya salah kirim email dan risiko bocornya data ke pihak tak bertanggung jawab pun dapat diminimalisir. Gunakan akun administrator untuk mengaktifkan warning Photo Credit: Tatiana Syrikova (Pexels) Mengingat pentingnya fitur External Labels terhadap keamanan email Anda, sebaiknya Anda dan tim perusahaan segera mengaktifkannya. Namun, penting diketahui bahwa fitur Gmail ini hanya bisa diaktifkan oleh admin atau administrator Google Workspace. Berikut langkah-langkahnya: Admin melakukan sign in untuk masuk ke console Google Admin. Pastikan Anda menggunakan akun administrator untuk sign in, bukan akun Google biasa. Pada halaman Home, masuklah ke menu Apps > Google Workspace > Gmail > End User Access. Pilih organisasi Anda, lalu scroll ke menu Warn dan masuklah ke bagian pengaturan penerima eksternal. Klik checkbox untuk mengaktifkan External Labels, lalu klik Save. Dalam waktu kurang lebih 24 jam, para pengguna internal organisasi akan menerima notifikasi bahwa fitur External Labels telah diaktifkan. Baru setelah inilah label dan banner External akan muncul di seluruh Gmail milik pengguna internal perusahaan.   Demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan para pengguna Gmail, fitur External Labels pun diluncurkan. Dengan beginilah Anda bisa meminimalisir risiko salah kirim pesan yang berujung pada kebocoran data atau informasi krusial perusahaan. Namun, mengingat bahwa fitur Gmail ini hanya bisa diaktifkan oleh administrator, maka Anda dan tim harus terlebih dulu berlangganan Google Workspace. Tenang saja, Google menyediakan berbagai pilihan edisi langganan sehingga Anda bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis perusahaan. Karenanya, segera lindungi Gmail profesional Anda dengan berlangganan Google Workspace. Tak perlu bingung, Anda bisa menghubungi EIKON Technology selaku reseller resmi produk Google yang tepercaya di Indonesia. Dapatkan sekarang juga!    

Scroll to Top