EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Melindungi Jaringan Cloud Anda di Masa Mendatang dengan Keamanan Data Otonom

 Penggunaan data telah mengalami ekspansi besar-besaran dalam 5 tahun belakangan ini. Temuan dari perusahaan analisis data Domo menyebutkan bahwa 99% data yang beredar sekarang merupakan data yang dibuat dalam 2 tahun terakhir, kurang lebih ada sekitar 2,5 triliun byte data muncul tiap harinya. Teknologi seperti komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) tanpa disadari telah mengubah cara menggunakan data, memperoleh nilai dari data, dan mengumpulkan insight dari data. Data terus bergerak, bergeser, dan bertambah, saat Anda menggabungkan kumpulan data dan mendapatkan nilai baru dalam prosesnya. Pada waktu yang bersamaan, data baru sedang dibuat di tempat lain. Model keamanan data saat ini Sekarang ini, data ada di berbagai lokasi dan memerlukan akses dari lokasi dan media yang berbeda. Namun sayangnya, kebanyakan model keamanan saat ini tidak dirancang untuk hal tersebut. Singkatnya, data Anda tidak cocok dengan model keamanan yang melindunginya. Ini merupakan celah yang terbuka bagi penyerang. Lalu, bagaimana agar data dan model keamanan kembali selaras? Google Cloud telah mengidentifikasi beberapa tantangan seputar pendekatan klasik terhadap keamanan data dan perubahan yang dipicu oleh cloud—yang kini hampir ada di mana-mana. Kasus ini menarik untuk mengadopsi pendekatan modern terhadap keamanan data. Cara paling optimal untuk diterapkan di masa mendatang adalah dengan keamanan data otonom. Baca juga: Mengenal Keamanan Jaringan dan Aplikasi di Ekosistem Google Cloud Keamanan data otonom Photo Credit: Rawpixel Sebuah konsep yang relatif baru, keamanan data otonom adalah model keamanan yang terintegrasi dengan data sepanjang siklus hidupnya. Ini dapat mempermudah pengguna dengan membebaskan mereka dari mendefinisikan dan mendefinisikan ulang banyak sekali aturan tentang siapa yang dapat melakukan apa, kapan, di mana. Keamanan data otonom adalah pendekatan yang sejalan dengan ancaman siber dan perubahan bisnis yang terus berkembang. Keamanan data otonom dapat membantu menjaga aset TI Anda lebih aman dan dapat membuat bisnis dan proses TI lebih cepat. Misalnya, berbagi data dengan mitra dan keputusan akses data secara bersamaan menjadi lebih cepat dan lebih aman. Baca juga: 5 Tips Meningkatkan Keamanan Data saat Menggunakan G Suite Evaluasi keamanan data Anda Photo Credit: DCStudio (Freepik) Untuk mempersiapkan masa depan keamanan data, cobalah untuk mengukur model yang Anda terapkan saat ini. Ajukan pertanyaan kritis untuk mengevaluasi status keamanan Anda dan kemudian mulai menyusun rencana tentang bagaimana Anda dapat mulai memasukkan pilar keamanan data otonom ke dalam model keamanan data. Berikut adalah dua rangkaian pertanyaan yang bisa Anda jadikan titik awal evaluasi. Kumpulan pertanyaan pertama akan membantu Anda mengidentifikasi sifat dan status data. Data apa yang saya miliki? Siapa yang memilikinya? Apakah data tersebut sensitif? Bagaimana cara menggunakannya? Apa nilai yang Anda tekankan dalam menyimpan data? Kemudian kumpulan pertanyaan kedua fokus pada masalah dengan tingkatan yang lebih tinggi, yaitu: Apa pendekatan saya saat ini terhadap keamanan data? Di manakah pendekatan tersebut gagal mendukung bisnis dan melawan ancaman? Apakah pendekatan tersebut telah mendukung bisnis Anda? Haruskah mulai mempertimbangkan untuk membuat perubahan? Jika iya, ke arah mana? Jalan menuju peningkatan keamanan data dimulai dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Google Cloud telah menyediakan dokumentasi lengkap mengenai Keamanan Data Otonom yang dapat Anda akses secara gratis untuk eksplorasi lebih jauh. Baca juga: Langkah Chrome untuk Memastikan Keamanan Data Anda Model keamanan yang berlaku saat ini kebanyakan sudah tidak relevan lagi dengan jenis data yang beredar. Sebagai perusahaan terdepan dalam manajemen data dan keamanan cloud, Google Cloud terus berupaya mengembangkan keamanan data otonom secara optimal agar dapat memenuhi kebutuhan perlindungan data untuk saat ini dan masa mendatang. Dengan inovasi ini, rasanya tak berlebihan jika menjadikan Google Cloud sebagai solusi komputasi awan nomor satu. Tertarik untuk melindungi data komputasi awan perusahaan Anda dengan Google Cloud? EIKON Technology sebagai authorized reseller untuk produk-produk Google menyediakan Google Cloud resmi berlisensi. Kami juga menghadirkan layanan konsultasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan solusi. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!  

Google Cloud

5 Cara Mengatur Biaya BigQuery Anda

Apakah Anda pernah merasa khawatir tentang pengendalian biaya BigQuery di beberapa proyek? Ulasan kali ini akan membahas tentang beberapa trik untuk membatasi biaya dan juga memantau konsumsi BigQuery. Anda juga dapat menemukan cara melakukan partisi yang tepat agar biaya yang dikeluarkan tetap sesuai bujet. Mari simak penjelasan lengkapnya bersama. Mengatur kuota tingkat pengguna dan kuota tingkat proyek untuk menetapkan batas penggunaan Photo Credit: Google Cloud Blog Jika Anda memiliki beberapa proyek dan pengguna BigQuery, Anda dapat mengelola biaya dengan meminta kuota khusus yang menentukan batas jumlah data kueri yang diproses per hari. Membuat kuota khusus pada data kueri memungkinkan Anda mengontrol biaya di tingkat proyek atau di tingkat pengguna. Kuota khusus tingkat proyek membatasi penggunaan agregat semua pengguna dalam proyek tersebut. Kuota khusus tingkat pengguna diterapkan secara terpisah ke semua pengguna dan akun layanan dalam suatu proyek. Namun perlu diingat, Anda tidak akan bisa menetapkan kuota khusus untuk pengguna atau akun layanan tertentu. Baca juga: Pengalaman Terpadu Log Gmail di BigQuery, Seperti Apa? Membatasi biaya kueri dengan membatasi jumlah byte yang ditagih Photo Credit: katemangostar (Freepik) Anda dapat membatasi jumlah byte yang ditagih untuk kueri menggunakan setelan byte maksimum yang ditagih. Saat Anda menetapkan byte maksimum yang ditagih, jumlah byte yang akan dibaca kueri bisa diprediksi sebelum eksekusi kueri. Jika jumlah byte yang diperkirakan melebihi batas, maka kueri akan gagal tanpa dikenakan biaya. Jika kueri gagal karena setelan tagihan byte maksimum, pesan error seperti berikut akan ditampilkan: Error: Query exceeded limit for bytes billed 1000000. 10485760 or higher required. Buat anggaran Cloud Billing Hindari tagihan yang membengkak dengan membuat anggaran Cloud Billing untuk memantau semua tagihan Google Cloud Anda di satu tempat. Anggaran memungkinkan Anda melacak pembelanjaan Google Cloud aktual terhadap pembelanjaan yang direncanakan. Setelah menetapkan jumlah anggaran, Anda dapat menetapkan aturan ambang batas peringatan anggaran yang digunakan untuk memicu pemberitahuan email. Email peringatan anggaran membantu Anda mendapat informasi mengenai kesesuaian pembelanjaan dengan anggaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Menulis kueri yang bagus Photo Credit: pressfoto (Freepik) Sebisa mungkin, hindari memilih opsi tambahan (*). Penting untuk diingat juga, menerapkan klausa LIMIT ke kueri tidak akan memengaruhi jumlah data yang dibaca. Selain itu, jangan pernah menjalankan kueri untuk menjelajahi atau melihat pratinjau data tabel. Anda juga disarankan untuk melakukan dry run dan selalu memperkirakan biayanya sebelum menjalankan kueri. Terakhir, selalu pilih data yang Anda butuhkan saja. Baca juga: 3 Fitur Rahasia BigQuery untuk Kelola Data Lebih Baik Partisi tabel sehingga pengguna BigQuery terpaksa menentukan klausa WHERE Tabel yang dipartisi adalah tabel khusus yang dibagi menjadi beberapa segmen. Cara ini akan memudahkan pengelolaan dan kueri data Anda. Dengan membagi tabel besar menjadi partisi yang lebih kecil, Anda dapat meningkatkan kinerja kueri. Anda pun dapat mengontrol biaya dengan mengurangi jumlah byte yang dibaca oleh kueri. Dengan tabel yang dipartisi, pelanggan dipaksa untuk menentukan klausa WHERE dan itu akan memberlakukan limit untuk membatasi pemindaian tabel penuh. Jika kueri menggunakan filter yang memenuhi syarat pada nilai kolom partisi, BigQuery dapat memindai partisi yang cocok dengan filter dan melewati partisi yang tersisa. Proses ini disebut pemangkasan partisi. Pemangkasan partisi adalah mekanisme yang digunakan BigQuery untuk menghilangkan partisi tidak perlu dari pemindaian input. Partisi yang dipangkas tidak disertakan saat menghitung byte yang dipindai oleh kueri. Secara umum, pemangkasan partisi membantu mengurangi biaya kueri. Baca juga: Percepat Migrasi Data BigQuery dengan Penerjemah SQL Otomatis Dengan menerapkan  cara di atas, Anda akan memiliki kontrol penuh atas biaya yang dihabiskan dalam pemanfaatan BigQuery. Namun Anda tak perlu khawatir karena penggunaan BigQuery secara umum dapat diatur untuk bisa menyesuaikan bujet dan kebutuhan. Untuk pemanfaatan BigQuery yang lebih optimal, gunakan solusi komputasi awan Google Cloud. Solusi ini tersedia untuk penggunaan perusahaan, baik itu skala besar, menengah, maupun kecil. Google Cloud resmi dan berlisensi bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology, authorized reseller untuk produk-produk Google. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Cloud

Update Fitur Google Cloud Deploy: Pemanfaatan di Lingkungan GKE Makin Mudah?

Google Cloud Deploy resmi diperkenalkan pada bulan Januari 2022 lalu. Layanan tersebut diluncurkan dengan tujuan utama untuk mempermudah pembuatan dan pengoperasian pengiriman software berkelanjutan ke lingkungan Google Kubernetes Engine (GKE). Pada bulan Agustus kemarin, Google memperkenalkan beberapa penambahan fitur Google Cloud Deploy, terutama yang masih berkaitan dengan kecepatan orientasi, manajemen jalur pengiriman, dan perluasan fitur perusahaan. Seperti apa cara kerja fitur baru yang ditawarkan? Orientasi yang lebih cepat dengan Skaffold Skaffold merupakan open-source tool yang mengatur pengembangan berkelanjutan, continuous integration (CI), continuous delivery (CD), serta merupakan bagian integral dari Google Cloud Deploy. Melalui Skaffold dan Google Cloud Deploy, loop pengembangan aplikasi lokal dapat terhubung dengan CD secara mulus, menghadirkan konsistensi pada siklus hidup tool pengiriman software menyeluruh Anda. Google Cloud Deploy sekarang memungkinkan Anda membuat konfigurasi Skaffold untuk aplikasi manifes tunggal jika belum tersedia ada. Saat membuat rilis, perintah baru ‘gcloud deploy releases create … –from-k8s-manifest‘ menyediakan manifes aplikasi dan menghasilkan konfigurasi Skaffold. Hal ini memungkinkan tim pengembangan aplikasi dan operator pengiriman berkelanjutan Anda membiasakan diri dengan Google Cloud Deploy, mengurangi konfigurasi tahap awal dan gesekan pembelajaran saat mereka membangun kemampuan pengiriman berkelanjutan. Baca juga: Cara Meningkatkan Kecepatan dan Keamanan Cloud Deployment Anda Pengelolaan delivery pipeline Delivery pipeline terus menerus digunakan. Rilis terbaru Google Cloud Deploy menavigasi urutan perkembangan saat mereka mencapai target produksi. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Dalam hal ini, Anda mungkin perlu mengelola jalur pengiriman dan resources terkait secara lebih hati-hati. Baca juga: Model Deployment Google Cloud untuk Cloud Spanner Emulator Dengan tambahan penangguhan delivery pipeline, kini Anda dapat menjeda sementara pipeline yang bermasalah untuk membatasi semua aktivitas peluncuran. Dengan menghentikan aktivitas, Anda dapat melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi masalah dan penyebabnya. Photo Credit: Google Cloud Blog Ketika meninjau masalah manifes rilis, Anda mungkin ingin membandingkan manifes aplikasi antara rilis dan lingkungan target untuk menentukan waktu terjadinya perubahan aplikasi dan penyebabnya. Namun, membandingkan manifes aplikasi bisa jadi sulit, karena mengharuskan Anda untuk menggunakan baris perintah untuk mencari dan membedakan beberapa file. Untuk membantu, Google Cloud Deploy kini memiliki Release inspector, yang memudahkan peninjauan manifes aplikasi serta membandingkan rilis dengan target dalam delivery pipeline. Photo Credit: Google Cloud Blog Kemudian jika Anda memperhatikan listing peluncuran di konsol Google Cloud Deploy, tampak masih terbatas pada rilis atau target tertentu. Listing peluncuran delivery pipeline yang lengkap kini dapat Anda temukan di halaman detail delivery pipeline. Photo Credit: Google Cloud Blog Fitur untuk perusahaan yang kini diperluas Lingkungan perusahaan sering kali memiliki banyak persyaratan untuk dapat beroperasi, seperti kontrol keamanan, logging, dukungan Terraform, dan ketersediaan regional. Sebelumnya, Google telah memperkenalkan dukungan untuk VPC Security Controls (VPC-SC) dalam versi Pratinjau. Kini, dukungan tersebut telah tersedia untuk umum. Terkadang, ketika meninjau manifest-render dan log penerapan aplikasi mungkin tidak cukup untuk pemecahan masalah. Untuk situasi ini, telah hadir penambahan log platform layanan Google Cloud Deploy, yang dapat memberikan detail tambahan penyelesaian masalah. Terraform memainkan peran penting dalam meluncurkan resource Google Cloud. Sekarang Anda dapat menerapkan delivery pipeline dari Google Cloud Deploy dan menargetkan resource menggunakan penyedia Terraform Google Cloud Platform. Terlebih Google Cloud Deploy kini telah tersedia di 9 region tambahan, sehingga jumlah total region Google Cloud Deploy di seluruh dunia menjadi 15. Baca juga: Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi Ke Google Cloud Dengan peningkatan fitur ini, Google Cloud Deploy pengguna dapat membuat dan mengoperasikan pengiriman software berkelanjutan ke lingkungan Google Kubernetes Engine secara mudah serta lebih minim risiko. Semua ini bisa Anda nikmati dengan pemanfaatan solusi komputasi awan Google Cloud yang bisa didapatkan melalui EIKON Technology. EIKON Technology menyediakan solusi berbasis komputasi yang efektif untuk memperkuat bisnis Anda secara signifikan. Kami menyediakan solusi komputasi awan Google Cloud berlisensi resmi yang penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memahami Jaringan Dasar Google Kubernetes Engine

Google Kubernetes Engine atau GKE merupakan sebuah platform open-source yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola beban kerja dan layanan containerized yang berjalan di lingkungan terkelola sepenuhnya, memanfaatkan infrastruktur Google Cloud. Artikel kali ini akan menjelaskan apa saja jaringan dasar GKE serta cara kerjanya. Mari simak bersama. IP addressing Photo Credit: jannoon028 (Freepik) Beragam komponen jaringan di Kubernetes memanfaatkan alamat dan port IP untuk berkomunikasi. Alamat IP sendiri merupakan alamat unik yang digunakan untuk mengidentifikasi beragam komponen di dalam jaringan. Komponen-komponen Google Kubernetes Engine  Container: Komponen terkecil untuk menjalankan proses-proses di dalam aplikasi. Pod: Kumpulan container yang secara fisik dikelompokkan bersama. Node: Mesin pekerja dalam sebuah klaster yang terdiri dari beberapa pods.  Layanan yang tersedia di Google Kubernetes Engine ClusterIP: Menetapkan alamat ke layanan. Load balancer: Memuat traffic internal penyeimbang atau traffic eksternal ke node dalam klaster. Ingress: Jenis Load balancer khusus yang menangani traffic HTTP(S). Alamat IP ditetapkan dari berbagai subnet ke komponen dan layanan. Variable length subnet mask (VLSM) digunakan untuk membuat blok CIDR. Jumlah host yang tersedia pada subnet tergantung pada subnet mask yang digunakan. Alur penetapan alamat akan IP terlihat seperti ini: Node diberi alamat IP dari klaster jaringan VPC. Alamat IP penyeimbang beban internal secara default ditetapkan dari blok Node IPv4. Jika perlu, Anda dapat membuat rentang tertentu untuk penyeimbang beban dan menggunakan opsi loadBalancerIP untuk menentukan alamat dari rentang tersebut. Pod diberikan alamat dari berbagai alamat Pod yang berjalan pada node tersebut. Pod maks default per node adalah 110. Untuk mengalokasikan alamat ke nomor ini jumlahnya dikalikan dengan 2 (110*2=220) dan subnet terdekat digunakan yaitu /24. Ini memungkinkan buffer untuk penjadwalan pod. Batas ini dapat disesuaikan pada waktu pembuatan. Container berbagi alamat IP dari Pod yang mereka jalankan. Alamat layanan (IP cluster) ditetapkan dari kumpulan alamat yang disediakan untuk layanan. Baca juga: Cost Estimator: Fitur Baru GKE untuk Perkiraan Biaya yang Lebih Akurat Domain Naming System (DNS) Photo Credit: Rawpixel DNS memungkinkan resolusi nama ke alamat IP. Ini memungkinkan entri nama otomatis dibuat untuk layanan. Ada beberapa opsi di GKE, yaitu: kube-dns: Layanan add-on asli Kubernetes. Kube-dns berjalan pada penerapan yang diekspos melalui IP cluster. Secara default, pod dalam sebuah klaster menggunakan layanan ini untuk kueri DNS. Cloud DNS: Layanan terkelola Google Cloud DNS yang dapat digunakan untuk mengelola klaster DNS. Load Balancers Mengontrol akses dan mendistribusikan traffic di seluruh resources yang berantakan. Beberapa opsi di Google Kubernetes Engine adalah Internal Load balancers dan External Load balancers. Baca juga: Penerapan Keamanan Zero Trust pada Workload dengan GKE, Traffic Director, dan CA Service Ingress Photo Credit: Google Cloud Blog Berfungsi menangani traffic HTTP(S) yang ditujukan ke layanan di klaster Anda. Layanan ini menggunakan resources tipe Ingress. Saat digunakan, ini akan membuat penyeimbang beban HTTP(S) untuk GKE. Saat mengonfigurasi, Anda dapat menetapkan alamat IP statis ke penyeimbang beban, untuk memastikan alamat tidak berubah. Dengan GKE, Anda dapat menyediakan Ingress eksternal dan internal. GKE juga memungkinkan Anda memanfaatkan load balancing container-native yang mengarahkan traffic langsung ke IP pod menggunakan Network Endpoint Groups (NEGs). Operations Di GKE Anda memiliki beberapa cara untuk mendesain jaringan klaster, yaitu: Standard: Mode ini memungkinkan admin untuk mengonfigurasi infrastruktur yang mendasari klaster. Mode ini bermanfaat jika Anda membutuhkan tingkat kontrol yang lebih dalam. Autopilot: GKE menyediakan dan mengelola infrastruktur dasar klaster. Cara ini telah dikonfigurasi sebelumnya untuk memberi Anda sedikit kebebasan manajemen. Private Cluster: Dapat digunakan ketika Anda memerlukan klien untuk memiliki akses ke internet (misalnya untuk pembaruan. Perlu diingat, cara ini hanya mengizinkan koneksi IP internal. Private Service Access: Memungkinkan VPC Anda berkomunikasi dengan service producer services melalui alamat IP pribadi. Baca juga: Memahami Keamanan Infrastruktur Google Cloud Google Kubernetes Engine menawarkan cara sederhana untuk menyiapkan Cluster Kubernetes. Layanan ini dirancang khusus untuk mendukung penerapan Kubernetes terkelola di Google Cloud, memungkinkan Anda mendapat praktik langsung dalam mengonfigurasi image Docker, container, dan menerapkan aplikasi Kubernetes yang lengkap. Google Kubernetes Engine telah terintegrasi dengan Google Cloud sehingga memudahkan Anda dalam manajemen klaster melalui komputasi awan. EIKON Technology menyediakan solusi Google Cloud resmi, berlisensi, dan tentunya dapat disesuaikan untuk kebutuhan perusahaan. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Google Cloud

Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi ke Google Cloud

Salah satu alasan yang sering disebutkan ketika terjadi migrasi ke Google Cloud adalah pengurangan biaya. Elastisitas layanan cloud memungkinkan Anda untuk membayar sesuai dengan pemakaian saja. Dengan kata lain, Anda hanya perlu membayar untuk layanan yang digunakan. Alasan lainnya adalah karena keamanan. Ini karena pengembangan di cloud memungkinkan visibilitas dan tata kelola yang lebih baik atas resources dan data penerapan Anda. Namun, dalam perjalanan mewujudkan penghematan biaya, skalabilitas, peningkatan keamanan, kinerja, keandalan, dan pengelolaan cloud ini, ada kalanya Anda merasa kebingungan. Ini karena Google Cloud sangat rumit. Setidaknya terdapat ratusan produk dalam Google Cloud sehingga terkadang dapat menyulitkan Anda untuk memanfaatkan berbagai peluang yang disediakan. Berangkat dari situasi tersebut, Google Cloud memperkenalkan Active Assist. Mengenal Active Assist Photo Credit: Google Cloud Blog Active Assist Google Cloud menyatukan informasi dari penggunaan beban kerja Anda, log, dan konfigurasi resources, lalu menggunakan machine learning serta business logic untuk membantu mengoptimalkan penerapan secara proaktif dari segi biaya, keamanan, kinerja, keandalan, pengelolaan, dan bahkan keberlanjutan. Baca juga: 3 Fitur Security and Compliance di Google Cloud Logging yang Wajib Anda Ketahui Solusi terbaik dari Active Assist Berikut adalah beberapa rekomendasi tools untuk optimalisasi biaya, yang merupakan salah satu bagian dari portofolio luas Active Assist: Cost Optimization Recommenders Photo Credit: pressfoto (Freepik) Google Cloud memudahkan pengguna menjalankan virtual machine (VM) dan hanya membayar selama resources berjalan. Namun, ada kasus ketika prototipe membuat mesin hanya memerlukan lebih sedikit CPU dan memori virtual daripada yang dialokasikan. Active Assist dapat membantu dalam kedua situasi tersebut dengan menghadirkan visibilitas ke peluang pengoptimalan biaya. Idle VM Recommender Idle VM Recommender mengidentifikasi VM yang belum digunakan dalam 14 hari terakhir dan menyampaikan notifikasi sehingga Anda dapat mematikannya atau menghapusnya dari proyek. Active Assist menggunakan metrik sistem untuk mengklasifikasikan VM sebagai idle saat memenuhi kriteria berikut: VM memiliki pemanfaatan CPU kurang dari 0,03 selama 97% dari waktu selama jendela observasi; VM telah menerima kurang dari 2.600 byte per detik untuk 95% waktu proses VM; VM telah mengirim kurang dari 1.000 byte per detik 95% dari waktu. Active Assist juga dapat membantu Anda mengidentifikasi resource idle lainnya, termasuk instance Cloud SQL dan resource idle yang terkait dengan VM, seperti IP dan persistent disk. VM Machine Type Recommender  VM Machine Type Recommender dapat membantu Anda mengoptimalkan pemanfaatan resources dari instance VM dengan menyarankan konfigurasi jenis mesin yang lebih efisien untuk beban kerja yang berjalan di dalamnya. Misalnya, jika mengidentifikasi aplikasi yang berjalan di VM ternyata menggunakan memori rendah, tool ini akan merekomendasikan Anda untuk beralih ke jenis mesin yang alokasi memorinya lebih rendah. Baca juga: Menjadwalkan Perintah di Google Cloud dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler Predictive Autoscaler Solusi lain, Google Cloud menyediakan Predictive Autoscaler yang menggunakan kemampuan machine learning untuk menanggapi kebutuhan kapasitas sekaligus memperkirakannya. Ini menciptakan VM lebih cepat dari permintaan yang meningkat, memungkinkan cukup waktu bagi aplikasi Anda untuk melakukan inisialisasi. Model perkiraannya terus belajar dan beradaptasi dengan pola mingguan dan harian menggunakan riwayat CPU grup instance Anda. Unattended Project Recommender Photo Credit: Google Cloud Blog Unattended Project Recommender memberikan rekomendasi yang membantu Anda menemukan, mengklaim kembali, dan menghapus proyek tanpa pengawasan. Ini membantu mengoptimalkan biaya, keamanan, dan keberlanjutan dalam satu waktu. Menariknya lagi, tool ini juga memberi dampak pengurangan emisi karbon untuk setiap “proyek yang tidak dijaga”, menunjukkan emisi yang dihemat jika Anda menghapus proyek dan melepaskan semua sumber dayanya. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Dengan memanfaatkan Active Assist dari Google Cloud, Anda dapat mengoptimalkan biaya migrasi lebih baik lagi. Anda bahkan bisa menyesuaikan tagihan biaya sesuai dengan kebutuhan. Tertarik untuk bermigrasi ke cloud? Google Cloud menawarkan solusi komputasi awan terlengkap yang telah didukung dengan beragam pilihan tools untuk memudahkan Anda baik dari segi pemakaian maupun efisiensi biaya. EIKON Technology menyediakan Google Cloud resmi dan berlisensi. Kami juga menyediakan solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan produktivitas Anda. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami di sini!

Google Cloud

Penambahan Aturan Lifecycle Conditions Baru untuk Google Cloud Storage

Google Cloud Storage baru saja memperkenalkan aturan lifecycle conditions baru. Aturan lifecycle adalah kondisi yang harus dipenuhi objek sebelum tindakan yang ditentukan dalam aturan terjadi. Penambahan aturan lifecycle ini diharapkan dapat membantu pelanggan mengelola biaya penyimpanan mereka dengan cara baru. Ada dua fitur baru yang disertakan dalam peluncuran ini. Prefix/suffix lifecycle conditions Photo Credit: senivpetro (Freepik) Sebelumnya, Google Cloud Storage sudah menyediakan beberapa aturan lifecycle conditions yang bisa dipilih pelanggan. Aturan tersebut di antaranya: Age CreatedBefore CustomTimeBefore DaysSinceCustomTime DaysSinceNoncurrentTime IsLive MatchesStorageClass MatchesPrefix and MatchesSuffix NoncurrentTimeBefore NumberOfNewerVersions Kini pelanggan dapat menambahkan kondisi pada nama objek, cukup dengan menambahkan prefix (awalan) atau suffix (akhiran). Kondisi prefix dan suffix dapat bermanfaat untuk beberapa penggunaan. Berikut adalah contoh penerapan yang umum digunakan: Mengelola prefix objek umum secara terpisah. Mengelompokkan objek menggunakan prefix umum merupakan praktik yang sering terjadi, seperti dalam kumpulan data. Sekarang, lifecycle condition dapat diterapkan pada grup tersebut menggunakan aturan MatchesPrefix. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Mengelola kategori objek secara terpisah. Menggunakan ekstensi pada kunci objek untuk menunjukkan format data seperti .mp4, .zip, dan .csv adalah sebuah praktik umum. Sebab tak jarang, semua format tersebut ada dalam satu lokasi. Untuk bisa mengelolanya secara terpisah, terkadang pelanggan memanfaatkan ekstensi. Misalnya, ketika pelanggan memiliki objek biner besar yang jarang dibaca, namun metadata tentang mereka dengan ekstensi berbeda cukup sering dibaca (contohnya .mov dan .xml). Dengan lifecycle conditions baru, pelanggan bisa dengan mudah menjaga metadata tetap “panas” sambil tetap menghemat biaya. Sebab, kini pelanggan dapat mengatur sebagian besar agar tetap “dingin” dengan aturan MatchesSuffix. Baca juga: Mempelajari Update Keamanan Terbaru Cloud Storage dari Google Pembersihan unggahan multi-bagian yang tidak lengkap Photo Credit: pressfoto (Freepik) Pada tahun 2021, Google Cloud Storage meluncurkan protokol Multipart Upload di XML API. Ini memberi pelanggan jalur migrasi yang lebih mulus dengan peningkatan kompatibilitas S3. Satu masalah umum dengan unggahan multi-bagian adalah bahwa mereka terkadang ditinggalkan. Penyimpanan sebagian tidak gratis, jadi memangkas unggahan yang ditinggalkan adalah hal yang penting. Sekarang, pelanggan dapat “mengatur dan melupakannya” dengan dukungan lifecycle Google Cloud Storage untuk unggahan multi-bagian yang tidak lengkap. Fitur lifecycle baru ini telah tersedia untuk semua pelanggan Google Cloud Storage. Perlu diketahui juga, fitur ini juga dapat diakses melalui Google Cloud Storage API, Google Cloud Storage GUI, gsutil, penyimpanan gcloud, dan library klien. Baca juga: Menjadwalkan Perintah di Google Cloud Dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler Lifecycle conditions dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pelanggan dalam mengelola biaya penyimpanan Google Cloud Storage. Penambahan aturan ini menghadirkan cara baru dalam menghemat biaya yang digunakan untuk penyimpanan. Selain lifecycle conditions, Google Cloud Storage juga menghadirkan berbagai fitur dan kapabilitas untuk memudahkan pelanggan dalam mengelola penyimpanan berbasis komputasi awan, bahkan dalam hal pengelolaan biaya. Tertarik untuk mulai menggunakan solusi Google Cloud Storage? EIKON Technology sebagai authorized partner Google menyediakan solusi Google Cloud Storage berlisensi dan proses implementasi menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Meet, Google Workspace

Update Google Assistant untuk Perangkat Meeting: Perintah Suara yang Lebih Terkontrol

Di tanggal 22 Agustus 2022 lalu, Google Assistant memperbarui perintah suara “Hey Google” pada perangkat keras (hardware) Google Meet. Dengan update ini, Google Assistant hanya akan aktif ketika perangkat sedang tidak digunakan untuk rapat dan dalam rentang 10 menit dari rapat yang akan datang. Lalu, apakah update ini akan langsung otomatis berjalan? Update kontrol suara Google Assistant Dengan update terbaru untuk perangkat meeting Google Meet ini, maka Assistant mengalami penyesuaian. Google Assistant tidak akan muncul ketika Anda berkata “Hey Google” jika perangkat sedang digunakan rapat atau akan dipakai rapat (jarak 10 menit dari acara). Ini akan membantu Anda menghindari aktivasi Assistant yang tidak disengaja. Selain update kontrol suara ini, Google juga memperluas jenis perangkat yang dapat mendukung kontrol “Hey Google”, di antaranya adalah perangkat Logitech Rally Bar, Logitech Rally Bar Mini, serta perangkat Seri One Desk 27 yang akan segera meluncur di kuartal IV tahun 2022 ini. Baca juga: Meet Hardware Dapat Membantu Produktivitas Kerja Saat Work from Home Keterangan tambahan Photo Credit: DCStudio (Freepik) Perlu diingat, hardware Google Meet menerima update otomatis yang menyempurnakan perangkat maupun software pada perangkat. Namun, kemajuan perangkat keras dan teknologi akhirnya membuat perangkat lama menjadi ketinggalan zaman. Oleh karenanya, ada kemungkinan jika Anda masih menggunakan hardware Google Meet yang lama, update kontrol suara ini tidak akan muncul. Update Chrome OS di perangkat Google Meet disediakan setiap tiga bulan, sehingga perangkat Anda akan selalu berada setidaknya satu versi di belakang versi Chrome OS terbaru. Jenis perangkat yang didukung Untuk memudahkan Anda, berikut adalah daftar hardware Google Meet yang bisa menerima update baru ini: Nama produk Tanggal auto-update expiration (AUE) Acer Chromebase for Meetings 24V2 (CA24V2) Juni 2025 Asus Chromebox 3 (CN65) Juni 2025 CTL Chromebox CBx1 Juni 2025 ASUS Google Meet Compute System Juni 2028 CTL Google Meet Compute System Juni 2028 Meet Compute System – Series One Juni 2028 ASUS Google Meet Compute System (Intel 10th Gen) Juni 2028 Meet Compute System – Series One (Intel 10th Gen) Juni 2028 Agar auto-update bisa berjalan, semua perangkat harus dibeli dari pengecer bersertifikat. Tanggal saat perangkat tidak lagi dijual dikendalikan oleh produsen dan tidak ada hubungannya dengan tanggal AUE model. Tanggal akhir penjualan tidak dimunculkan dalam tabel AUE. Baca juga: Device Google Meet Hardware yang Sesuai untuk Bisnis Anda Jenis perangkat yang tidak didukung Auto-update tak berlaku untuk perangkat meeting berikut karena sudah melampaui tanggal AUE: Asus Chromebox CN62 (Juni 2021) Acer Chromebox CXI2 / CXV2 (Juni 2021) Acer Chromebase for Meetings CA24V (Juni 2021) HP Chromebox G1 (September 2019) Dell Chromebox (September 2019) Asus Chromebox CN60 (September 2019) Samsung Series 3 (Maret 2018) Untuk bisa menikmati update kontrol suara Google Assistant ini, Anda perlu melakukan pembaruan manual sebab auto-update sudah tidak berjalan lagi. Ketersediaan fitur Photo Credit: tirachardz (Freepik) Fitur baru ini dirilis secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun rilis terjadwal. Perilisan dimulai pada tanggal 29 Agustus 2022 (hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas fitur). Tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace, termasuk mereka yang masih menggunakan rangkaian G Suite Basic dan G Suite Business. Fitur juga akan secara otomatis muncul pada perangkat Google Meet yang belum mencapai tanggal AUE. Baca juga: Meningkatkan Kualitas Meet dengan Perangkat Chromebook Perangkat Google Meet memang terus dikembangkan untuk bisa menghadirkan pengalaman rapat virtual yang seamless dan dapat mendorong kontribusi seluruh peserta. Anda bisa mendapatkan perangkat ini melalui EIKON Technology. Sebagai reseller dengan sertifikasi resmi Google, kami memastikan produk hardware Google Meet yang ditawarkan bisa digunakan secara optimal. Di samping itu, EIKON Technology juga menawarkan Google Workspace for Business untuk mendukung kolaborasi kerja di perusahaan Anda. Untuk informasi lengkap mengenai rencana implementasi, silakan hubungi kami di sini!

Calender, Google Workspace

Upgrade Otorisasi OAuth 2.0 agar Calendar Interop Tetap Berjalan

Di tahun 2020 lalu, Google Workspace sempat mengumumkan dukungan OAuth 2.0 untuk memastikan Calendar Interop tetap tersedia meski Microsoft sudah menonaktifkan autentikasi dasar di Exchange Online mereka. Pada tanggal 1 Oktober 2022 nanti, Microsoft secara resmi akan mulai menghapus kemampuan untuk menggunakan autentikasi dasar di Exchange Online untuk Exchange Web Services. Ini akan memengaruhi pelanggan Workspace yang menggunakan Calendar Interop dengan autentikasi dasar Microsoft Office 365 untuk menjalankan Microsoft Exchange dan Google Calendar bekerja bersama.  Mengenal Calendar Interop Photo Credit: mamewmy (Freepik) Calendar Interop memungkinkan administrator untuk dapat menjalankan Microsoft Exchange dan Google Calendar bersamaan. Dengan begitu, pengguna kedua sistem kalender tersebut dapat berbagi ketersediaan mereka sehingga semua orang dapat melihat jadwal masing-masing. Dengan Calendar Interop administrator dapat: Mengaktifkan sistem di skala domain. Mengizinkan pengguna Calendar memesan item yang ada di Exchange, seperti ruang rapat, saat mereka menjadwalkan rapat. Menggunakan alat otomatis untuk memverifikasi penyiapan. Melihat pesan kesalahan dan saran untuk mengatasi kesalahan tersebut. Melacak permintaan pengguna lintas sistem untuk informasi ketersediaan di konsol Google Admin. Baca juga: Update Google Calendar: Lebih Banyak Opsi Tersedia untuk Working Location Sedangkan pengguna Calendar dan Exchange yang telah terhubung melalui Calendar Interop dapat: Melihat informasi ketersediaan pengguna, kalender grup atau tim, dan item pada kalender (seperti ruang rapat) di seluruh sistem. Telah mendukung ketersediaan dan pencarian informasi acara tambahan. Untuk ketersediaan, hanya blok “busy” yang terlihat oleh pengguna. Untuk informasi acara tambahan, hanya “title” dan “location” acara yang dapat dilihat. Informasi kalender dapat dilihat untuk peserta rapat di seluruh sistem saat menjadwalkan acara (misalnya, menggunakan opsi “Find a time” di Google Calendar atau “Scheduling Assistant” di Exchange). Selain itu, pengguna Exchange 2016 atau yang lebih baru dapat menambahkan kalender ke Google Calendar dalam tampilan utama mereka. Penting: Interop Kalender menghormati pengaturan privasi tingkat acara. Jika acara ditandai sebagai “private” di Exchange, detail acara tidak akan terlihat di Google Calendar. Demikian pula, jika acara ditandai sebagai “private” di Google Calendar, detailnya tidak akan terlihat di Exchange. Memesan item di Exchange (seperti ruang rapat) saat membuat acara di Google Calendar. Menggunakan Calendar Interop dengan Google Calendar di Android, Apple iOS, dan klien web. Menggunakan Calendar Interop dengan Microsoft Exchange 2013 atau yang lebih baru, atau klien Exchange Online (Microsoft 365). Ini juga termasuk versi Outlook komputer, seluler, dan web. Baca juga: Cara Menampilkan Lokasi Kerja di Google Calendar Meningkatkan autentikasi OAuth 2.0 untuk bisa terus gunakan Calendar Interop Photo Credit: Google Workspace Updates Seperti yang telah disebutkan di bagian awal, untuk bisa terus menggunakan Calendar Interop, administrator perlu melakukan upgrade ke OAuth 2.0. Namun perlu diingat, hal ini hanya berdampak pada implementasi Microsoft Exchange Online (Microsoft 365). Jika saat ini Anda menggunakan implementasi Exchange lokal, maka tidak perlu melakukan upgrade apa pun. Google Workspace telah menyusun sebuah panduan di Help Center untuk membantu administrator dalam menyiapkan Calendar Interop dan langkah-langkah yang diperlukan dalam upgrade ke OAuth 2.0. End-user tidak perlu melakukan pengaturan mandiri karena setelah administrator selesai menyiapkan, Calendar Interop bisa langsung digunakan. Baca juga: Berbagi Janji Temu di Google Calendar Kini Lebih Mudah, Bagaimana Caranya? Dengan Calendar Interop, Anda dapat mengakses informasi yang tersedia di dua sistem kalender sekaligus: Google Calendar sekaligus Microsoft Exchange. Agar tidak kehilangan kapabilitas tersebut, jangan lupa untuk melakukan upgrade ke OAuth 2.0 sebelum tanggal 1 Oktober 2022. Selain Calendar untuk menyusun jadwal Anda, Google Workspace juga menawarkan sejumlah aplikasi produktivitas lainnya seperti Docs dan Slides. Rangkaian produktivitas ini bahkan dapat digunakan untuk skala besar seperti di perusahaan atau instansi pendidikan. Dapatkan rangkaian Google Workspace for Business untuk bisnis Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Google Docs, Google Workspace

Cara Buat Google Docs dan Tentukan Tugas dengan Mudah

Cara buat Google Docs begitu mudah dan simpel. Anda tidak perlu mengunduh software terpisah sebab aplikasi ini bisa diakses melalui browser. Bahkan jika fitur offline diaktifkan, Anda bisa tetap menggunakan aplikasi meski tidak tersambung ke internet. Bukan hanya itu, fitur di Google Docs pun terus ditingkatkan. Paling baru, kini Anda bisa menetapkan checklist tugas di aplikasi tersebut. Bagaimana cara kerjanya? Integrasi tugas di Google Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Cara buat Google Docs yang simpel membuatnya makin digemari sebagai aplikasi produktivitas. Terlebih aplikasi ini pun dirancang untuk bisa mendukung kolaborasi kerja. Fitur baru ini adalah salah satu buktinya. Dengan fitur baru ini sekarang Anda dapat menambah dan menetapkan checklist, baik untuk diri sendiri maupun rekan kerja. Checklist baru akan secara otomatis muncul di Tasks list penerima tugas. Ketika pengeditan dokumen dilakukan pada item yang ditetapkan di Tasks, seperti perubahan judul, tanggal jatuh tempo, atau status penyelesaian, pembaruan tersebut akan ditampilkan di Docs. Cara buat Google Docs untuk menetapkan tugas baru Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur baru ini memerlukan pengaturan Google Tasks dari administrator. Tanyakan kepada administrator apakah Tasks untuk Anda dan orang-orang di satu domain yang sama sudah diaktifkan atau belum. Setelah aktif, pastikan bahwa Anda memiliki akses untuk mengedit dokumen. Jika status dokumen di Google Workspace adalah View only maka dokumen tersebut tidak bisa diedit. Baca juga: Cara Membuat Dokumen Kolaboratif dengan Template Tabel Baru Google Docs Pengaturan administrator Administrator dapat mengaktifkan atau menonaktifkan Google Tasks untuk pengguna Workspace di satu domain. Pengguna yang mengaktifkan Tasks dapat membuat dan mengelola tugas: Dalam Calendar Di editor Chat, Gmail, atau Docs menggunakan Tasks sidebar Di Docs, dengan menetapkan tugas dari checklist Di Gmail menggunakan tab Tasks di spaces (untuk tim) Mengatur pengguna yang menggunakan Tasks Photo Credit: wayhomestudio (Freepik) Sebelum Anda mulai: Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan layanan bagi pengguna tertentu, tempatkan akun mereka di organizational unit (untuk mengontrol akses menurut departemen) atau tambahkan mereka ke grup akses tersendiri. Sekarang, mari simak langkah-langkahnya: Di konsol Admin, buka Menu > Apps > Google Workspace Tasks. Klik Service status. Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan layanan semua orang di perusahaan Anda, klik On for everyone atau Off for everyone, lalu klik Save. (Opsional) Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan layanan di organizational unit: Di sebelah kiri, pilih organizational unit. Untuk mengubah Service status, pilih On atau Off. Pilih satu: Jika Service status diatur ke Inherited dan Anda ingin mempertahankan setelan yang diperbarui, meskipun setelan induk berubah, klik Override. Jika Service status diatur ke Overridden, klik Inherit untuk kembali ke pengaturan yang sama seperti induknya, atau klik Save untuk menyimpan pengaturan baru, bahkan jika pengaturan induk berubah. Untuk mengaktifkan layanan bagi sekumpulan pengguna di seluruh atau di dalam organizational unit, pilih grup akses. Perlu diingat, perubahan konfigurasi dapat memakan waktu hingga 24 jam, tetapi biasanya terjadi lebih cepat. Baca juga: Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan Ketersediaan fitur Fitur ini tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk mereka yang masih menggunakan G Suite Basic dan G Suite Business lama. Namun sayangnya fitur ini tidak tersedia untuk pengguna dengan Google Account pribadi. Fitur dirilis secara bertahap. Untuk domain rilis cepat dimulai pada tanggal 17 Agustus 2022 (hingga maksimal 15 hari ke depan untuk visibilitas fitur). Sedangkan untuk domain rilis terjadwal mulai diluncurkan pada tanggal 31 Agustus (hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas fitur). Baca juga: Google Docs Kini Support Markdown, Editing Jadi Lebih Simpel! Dengan hadirnya fitur baru ini, cara buat Google Docs sebagai dokumen kolaborasi pun makin mudah. Anda bahkan bisa selalu memantau perubahan pada dokumen. Namun perlu diingat, fitur ini hanya tersedia untuk Workspace dalam penggunaan skala besar, bukan untuk pribadi. Nah, jika Anda tertarik untuk bekerja dengan ekosistem kerja Google Workspace, EIKON Technologu menawarkan edisi Workspace for Business dan Workspace for Education. Keduanya dapat digunakan dalam skala besar untuk mendukung kolaborasi kerja. Kami menawarkan layanan menyeluruh mulai dari perencanaan hingga penerapan. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Collaboration, Google Workspace

Kontrol Preferensi Aksesibilitas yang Lebih Baik di Aplikasi Google Workspace

Selama bertahun-tahun, Google Workspace telah meluncurkan fitur untuk mendukung aksesibilitas yang berkelanjutan. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan bahwa setiap produk yang diluncurkan dapat dengan baik untuk semua orang, termasuk bagi pengguna dengan kebutuhan khusus. Beberapa fitur yang telah diluncurkan di antaranya adalah pembaca layar (screen readers), perangkat braille (braille devices), dan pembesar layar (screen magnifier). Baru-baru ini, Google Workspace meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan preferensi fitur aksesibilitas tersebut untuk aplikasi Docs, Sheets, Slides, dan Drawings secara terpisah. Itu artinya, setelan fitur aksesibilitas akan menyesuaikan masing-masing aplikasi, tak lagi satu setelan untuk semua (one for all) seperti sebelumnya. Preferensi fitur aksesibilitas Photo Credit: Google Workspace Updates Google Workspace memang telah membekali aplikasi produktivitasnya, seperti Docs, Sheets, Slides, dan Drawings dengan fitur aksesibilitas. Hanya saja, pengaturan preferensi fitur-fitur tersebut tidak bisa diatur untuk masing-masing aplikasi. Namun dengan adanya peningkatan ini, Anda bisa mengatur preferensi fitur di tiap aplikasi. Baca juga: Apa yang Baru dalam Aksesibilitas Microsoft 365? Menariknya lagi, pengaturan preferensi ini tidak memerlukan konfigurasi dari administrator. Anda bisa langsung menyesuaikan fitur sesuai kebutuhan saat menggunakan aplikasi. Caranya pun mudah. Pada aplikasi Docs, Sheets, Slides, atau Drawings, klik menu Tools > Accessibility > pilih pengaturan yang Anda inginkan. Peningkatan ini diluncurkan secara bertahap. Untuk domain rilis cepat, perilisan dimulai sejak tanggal 15 Agustus 2022 (visibilitas fitur hingga 15 hari ke depan). Sedangkan untuk domain rilis terjadwal dimulai pada tanggal 29 Agustus 2022 (visibilitas fitur hingga 15 hari ke depan). Tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk yang masih menggunakan paket G Suite Basic dan G Suite Business lama, serta pengguna dengan Google Account pribadi. Baca juga: Membaca Peluang AI dalam Mendorong Inovasi Perangkat Asisten Pribadi dan Bahasa Isyarat Mengatur fitur screen reader Aksesibilitas Google Workspace sendiri terdiri dari beberapa fitur, di antaranya screen readers, braille devices, dan screen magnifier. Untuk membantu Anda mendapat gambaran penggunaan fitur, mari ambil contoh screen readers. Sebelum menggunakan fitur ini, pastikan perangkat Anda sudah memiliki software untuk screen reader seperti ChromeVox, JAWS, NVDA, atau VoiceOver. Jika sudah, ikuti langkah-langkah berikut: Buka Google Docs Spreadsheet, atau Slide, dan buka file. Di menu Tools, pilih Accessibility settings. Pilih Turn on screen reader support.  Setelah itu, fitur screen reader akan otomatis aktif. Anda bisa langsung mulai bekerja. Untuk menggunakan fitur lainnya, cukup ubah opsi. Katakanlah Anda ingin menggunakan fitur screen magnifier karena tampilan di layar kurang jelas. Untuk fitur yang satu ini, terdapat perbedaan antara MacOS, Windows, dan Chrome OS. MacOS Di browser Chrome, buka Google Docus. Di bawah “Tools,” pilih Accessibility settings lalu Turn on screen magnifier support. Jika kaca pembesar tidak mengikuti posisi di layar, Anda mungkin perlu menyesuaikan pengaturan komputer. Berikut langkah-langkahnya: Di “System preferences”, pilih Accessibility, lalu Zoom, klik Advanced. Pilih Zoom follows the keyboard focus. Windows Photo Credit: Freepik Untuk mengetahui cara menggunakan kaca pembesar layar, kunjungi Anda bisa mengakses dokumentasi yang telah disediakan Google Workspace ini. ChromeOS Di browser Chrome, buka Google Docus. Di bawah “Tools,” pilih Accessibility setting lalu Turn on screen magnifier support. Untuk menyalakan kaca pembesar di komputer Anda: Di “Settings,” klik Advanced, lalu Accessibility dan pilih Manage accessibility features. Pilih Enable fullscreen magnifier atau Enable docked magnifier. Baca juga: Update Terbaru Chromebook Menunjang Pembelajaran Bersistem Hybrid Dengan hadirnya upgrade ini, pengguna bisa menyesuaikan preferensi pengaturan fitur aksesibilitas untuk masing-masing aplikasi. Bekerja pun menjadi lebih efisien dan mudah. Solusi produktivitas Google Workspace menawarkan beragam aplikasi, fitur, serta kapabilitas untuk menunjang performa kerja Anda, bahkan saat bekerja dalam tim. Dapatkan Google Workspace for Business untuk menunjang kinerja bisnis Anda hanya di EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, kami menyediakan produk dan solusi bergaransi, yang disertai dengan layanan konsultasi. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini.

Scroll to Top