EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Cloud

Region Google Cloud Baru Akan Hadir di Asia Pasifik, Apa Saja?

Hadirnya cloud telah memicu transformasi di seluruh dunia, termasuk di Asia Pasifik., IDC bahkan memperkirakan bahwa total pengeluaran untuk layanan cloud di Asia Pasifik (kecuali Jepang) akan mencapai USD282 miliar pada tahun 2025. Untuk memenuhi permintaan layanan cloud yang terus meningkat di Asia Pasifik, Google mengumumkan tiga region Cloud baru, yaitu Malaysia, Thailand, dan Selandia Baru. Penambahan ini diharapkan dapat membantu perusahaan dari seluruh industri, perusahaan rintisan, dan sektor publik di Asia Pasifik akan mendapat manfaat dari kontrol utama yang memungkinkan mereka mempertahankan latensi rendah dan standar keamanan, residensi data, dan kepatuhan tertinggi, termasuk persyaratan penyimpanan data tertentu. Dapat sambutan meriah Photo Credit: pressfoto (Freepik) Dari retail hingga sektor publik, perusahaan terkemuka menjadikan Google Cloud sebagai partner inovasi tepercaya mereka. Region Cloud baru di Malaysia, Thailand, dan Selandia Baru akan membantu pelanggan tumbuh dan memecahkan masalah bisnis mereka yang paling kritis. Google Cloud menyebutkan akan terus mengembangkan region cloud mereka agar bisa terus memenuhi kebutuhan pelanggan yang selalu berkembang. Baca juga: 3 Fitur Security dnd Compliance di Google Cloud Logging yang Wajib Anda Ketahui Region Cloud baru ini mendapat sambutan meriah, terutama dari perusahaan asal negara yang baru ditambahkan. Salah satunya datang dari Kami, sebuah perusahaan edutech asal Selandia Baru. Jordan Thoms, CTO Kami menyebutkan bahwa Google Cloud merupakan partner yang dapat mendukung perjalanan inovasi berkelanjutan mereka. Dengan dukungan Cloud, Kami telah memberikan pengalaman yang menarik dan dapat diandalkan bagi jutaan guru dan siswa di seluruh dunia. Investasi dari Google Cloud ini diharapkan dapat memberikan layanan dengan latensi lebih rendah kepada pengguna serta meningkatkan dan mengoptimalkan penawaran premium gratis Kami ke semua sekolah di Selandia Baru. Photo Credit: yanalya (Freepik) Antusiasme juga datang dari Trade Me, situs lelang online dan iklan baris terbesar di Selandia Baru. Anders Skoe, CEO Trade Me menyebutkan, “Pelanggan adalah inti bisnis kami, dan membantu menemukan apa yang mereka cari, lebih cepat dari sebelumnya, adalah prioritas utama kami. Kolaborasi dengan Google Cloud sangat penting dalam memastikan stabilitas dan ketahanan infrastruktur kami, memungkinkan kami untuk memberikan pengalaman kelas dunia kepada 650.000 pengunjung situs kami tiap hari. Trade Me menyambut baik investasi Google Cloud di Selandia Baru, dan menantikan lebih banyak peluang untuk bermitra erat dalam perjalanan transformasi teknologi kami.” Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search “Perjalanan kami dengan Google Cloud berlangsung hampir setengah dekade, dengan inisiatif kemitraan dan inovasi terbaru kami membuka jalan bagi AirAsia dan Capital A untuk mendisrupsi arena platform digital dengan cara yang sama seperti yang kami lakukan pada maskapai penerbangan. Pengumuman region Cloud baru yang akan hadir di Malaysia menunjukkan keinginan berkelanjutan Google Cloud untuk memperluas kapabilitas guna melengkapi dan mendukung aspirasi kami untuk mendirikan Airasia Super App di pusat e-commerce, logistik, dan ekosistem fintech, sambil memperkaya komunitas lokal dan memberi inklusivitas, aksesibilitas, dan nilai bagi 700 juta orang di ASEAN. Saya sangat senang dengan pencapaian besar ini dan kemungkinan baru yang akan diciptakan oleh jaringan region cloud Google Cloud yang berkembang untuk kami, rekan-rekan kami, dan masyarakat luas.” – Tony Fernandes, CEO Capital A. Jaringan global Wilayah cloud baru ini merupakan bukti komitmen berkelanjutan Google Cloud dalam mendukung transformasi digital di seluruh Asia Pasifik. Ke depannya, Google terus berinvestasi dalam memperluas konektivitas di seluruh kawasan dengan bekerja sama dengan mitra di industri telekomunikasi untuk membangun kabel bawah laut, termasuk Apricot, Echo, JGA South, INDIGO, dan Topaz dan titik menambah kehadiran di kota-kota besar. Baca juga: Fitur Private Offers dari Google Cloud Marketplace, Apa yang Ditawarkan? Penambahan region Google Cloud ini diharapkan dapat mempercepat transformasi digital di kawasan Asia Pasifik. Indonesia sendiri sudah tergabung dalam jaringan ini dan sudah banyak perusahaan yang merasakan manfaatnya. Apakah Anda juga ingin menjadi bagian dalam jaringan global Google Cloud? Gunakan solusi komputasi awan Google Cloud untuk menunjang bisnis Anda. EIKON Technology siap membantu Anda dengan menghadirkan produk resmi dan berlisensi, serta konsultasi menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan solusi. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Education, Google Workspace, School

Read Along: Bantu Siswa Belajar Membaca Lebih Cepat

Di tahun 2019, Google India meluncurkan Bolo, sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu siswa sekolah dasar (SD) belajar membaca. Aplikasi tersebut berhasil membantu lebih dari 30 juta anak di India dan menyediakan lebih dari 120 juta cerita. Pada bulan Agustus 2022 ini, aplikasi tersebut diluncurkan untuk global di 180 negara dan berganti nama menjadi Read Along. Apa saja fitur yang ditawarkan aplikasi belajar ini? Mengenal aplikasi belajar Read Along Aplikasi Read Along pada dasarnya merupakan aplikasi Bolo yang telah dikembangkan dan didukung oleh teknologi canggih seperti text-to-speech dan pengenalan suara (speech recognition) milik Google. Selain itu, Read Along juga sudah mendukung 9 bahasa dunia, yaitu Inggris, Spanyol, Portugis, Hindi, Bengali, Marathi, Tamil, Telugu, dan Gujarat. Seperti pendahulunya, Bolo, Read Along juga diluncurkan dalam versi aplikasi mobile (Android app). Namun kini Google sedang mengembangkan versi web dan Anda bisa mencoba versi public beta di readalong.google.com. Sedikit tambahan informasi, baik Read Along versi aplikasi maupun web dapat diakses dan diunduh secara gratis. Baca juga: Perangkat Google Workspace for Education untuk Kembali Memulai Pembelajaran Teman belajar Diya Photo Credit: senivpetro (Freepik) Untuk mendorong siswa agar dapat belajar membaca secara mandiri, Read Along telah dilengkapi dengan “seorang” asisten virtual bernama Diya. Ketika siswa membaca cerita, Diya akan mendengarkan. Setelah siswa selesai membaca, Diya akan memberikan penilaian dan mengoreksi jika ada kata-kata yang salah pelafalannya. Bukan cuma itu, Diya juga sudah dibekali kapabiltas untuk memberikan dukungan pada siswa agar mereka tetap semangat belajar membaca. Diya bisa ditemukan pada versi aplikasi maupun website. Selain itu, seluruh cerita yang tersedia di Read Along juga telah disertai dengan ilustrasi menarik yang akan memudahkan siswa membayangkan isi cerita. Baca juga: Google For Education Hadirkan Laporan Transformasi untuk Customer Bantu tenaga pengajar Photo Credit: Freepik Read Along versi web juga membuka peluang baru bagi guru dan pimpinan sekolah di seluruh dunia, untuk memanfaatkan Read Along sebagai alat latihan membaca bagi siswa. Aplikasi ini dapat diakses melalui beberapa browser populer seperti Chrome, Firefox, dan Edge, dengan dukungan untuk iOS dan lebih banyak browser seperti Safari akan segera hadir. Di samping itu, tenaga pengajar juga bisa masuk dari akun unik untuk setiap anak di perangkat yang sama. Sebaiknya gunakan akun Google Workspace for Education di sekolah serta akun Google dengan Family Link di rumah agar penggunaan Read Along tetap aman dan terkontrol. Selain peluncuran situs web, Google juga telah menambahkan beberapa cerita baru di Read Along. Cerita-cerita baru ini merupakan hasil kolaborasi Google dengan content creator YouTube seperti ChuChu TV dan USP Studios. Kolaborasi tersebut mengadaptasi beberapa video populer mereka ke dalam format buku cerita. Google juga melanjutkan kolaborasi dengan Kutuki untuk mengadaptasi koleksi buku alfabet dan fonetik bahasa Inggris serta Hindi yang sangat baik untuk pembaca pemula. Buku-buku tersebut akan tersedia akhir tahun ini. Baca juga: Merancang Sistem Belajar Online yang Aman dengan Google for Education Membaca adalah keterampilan penting untuk dikembangkan pada usia muda. Dengan aplikasi Read Along, anak-anak bisa belajar membaca secara terarah namun tetap menyenangkan. Konten yang ditampilkan pun telah dikurasi dengan ketat sehingga aman untuk anak-anak. Seperti yang telah disebutkan, aplikasi Read Along akan bekerja lebih optimal jika di sekolah siswa juga belajar dengan dukungan Google Workspace for Education. Integrasi antara Read Along dengan Workspace akan memudahkan tenaga pengajar dalam melacak perkembangan belajar siswa. Dapatkan solusi Google Workspace for Education melalui EIKON Technology. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, kami siap memberikan layanan menyeluruh mulai dari konsultasi perencanaan hingga penerapan solusi. Informasi lebih lanjut, silakan klik di sini

Google Meet, Google Workspace

Transformasi Google Duo Menjadi Meet, Apa yang Berubah

Di bulan Juni 2022 lalu, Google Duo mengalami upgrade besar-besaran. Aplikasi mobile dengan fungsi utama video call tersebut menghadirkan sebagian besar fitur Google Meet. Hingga pada akhirnya pada awal Agustus, Google mengumumkan bahwa dua aplikasi video call tersebut dilebur menjadi satu solusi. Peningkatan tersebut memberi semua orang akses ke fitur baru, seperti menjadwalkan dan bergabung ke rapat, latar belakang virtual, obrolan dalam rapat, dan lainnya, di samping fitur video call yang dimiliki Google Duo sekarang. Lebih banyak fitur menarik Photo Credit: Google The Keyword Peningkatan baru Google Duo ini memungkinkan Anda memulai panggilan video instan dengan seluruh kelompok belajar atau terhubung dengan rekan kerja pada waktu yang terjadwal. Sebelum bergabung ke rapat, Anda dapat mengubah latar belakang atau menerapkan efek visual. Selama rapat, Anda juga bisa menggunakan obrolan dan teks untuk lebih aktif berpartisipasi. Baca juga: Sensasi Video Call ala Google Meet Kini Hadir di Google Duo, Jadi Seperti Apa? Selain itu, upgrade ini juga menghadirkan kapabilitas untuk berbagi langsung. Kapabilitas baru yang disebut “live sharing” ini memungkinkan pengguna Google Meet berinteraksi dalam rapat melalui konten yang mereka bagikan. Jadi katakanlah Anda baru saja menemukan sebuah video menarik di YouTube kemudian ingin membagikannya pada rekan kerja. Melalui kapabilitas baru ini, Anda bisa langsung menampilkan video tersebut ketika meeting berlangsung. Photo Credit: Google The Keyword Bukan hanya video, Anda juga bisa membagikan playlist dari aplikasi Spotify untuk mendengarkan lagu bersama, bahkan bermain gim seperti Heads Up!, UNO! Mobile, atau Kahoot! Sebagai ice breaker sebelum rapat dimulai. Dengan begitu, seluruh peserta rapat lebih antusias untuk berpartisipasi. Baca juga: Mulai Meeting Lebih Cepat dengan Daftar Tamu di Google Meet PC Apa saja yang berubah? Lalu sebenarnya, apa saja perubahan yang akan dirasakan oleh end-user, terutama pengguna yang telah terbiasa menggunakan Google Duo? Sejak akhir Juli hingga awal Agustus, fitur dan kapabilitas baru ini mulai diluncurkan ke aplikasi Google Duo. Perubahan yang paling jelas adalah penggantian icon aplikasi. Kini, icon aplikasi Duo berubah menjadi icon Google Meet. Sementara fitur serta kapabilitas di dalamnya perlahan-lahan ditambahkan sepanjang bulan Agustus 2022 ini di seluruh perangkat seluler serta tablet, dan akan muncul untuk perangkat lain nantinya. Untuk memastikan transisi yang mulus, pastikan untuk perbarui aplikasi Google Duo Anda ke versi terbaru. Jika sekarang Anda menggunakan aplikasi Google Meet yang sudah ada, tidak akan ada perubahan. Aplikasi dan icon Meet Anda yang sudah ada akan berubah menjadi Google Meet (original). Anda dapat terus menggunakan aplikasi ini untuk bergabung dan menjadwalkan rapat, tetapi sebaiknya gunakan aplikasi Google Meet yang diperbarui untuk mendapatkan gabungan fitur video meeting dan panggilan di satu tempat. Photo Credit: Google The Keyword Ke depannya, Google berencana untuk menghadirkan lebih banyak fitur serta kapabilitas di aplikasi video meeting tersebut. Tujuannya tak lain adalah untuk membantu orang terhubung, berkolaborasi, dan saling berbagi pengalaman di perangkat apa pun, baik di rumah, di sekolah, maupun di kantor. Transisi dari Google Duo menjadi Meet ini pun telah didukung teknologi terbaru yang seamless sehingga perubahan terjadi begitu mulus dan tidak mengganggu produktivitas kerja. Baca juga: Fitur De-Reverberation Kini Tersedia di Google Meet PC Dan Aplikasi “Peleburan” Google Duo dan Meet ini bertujuan agar Google bisa memberikan aplikasi video meeting terbaik yang dapat diakses dari perangkat apa pun. Upgrade terbaru ini memungkinkan Anda menikmati pengalaman video call dengan Meet di PC meski sebenarnya sedang terhubung melalui smartphone saja. Untuk mendukung upgrade ini, Anda sebaiknya menggunakan rangkaian produktivitas Google Workspace, terlebih jika bekerja dengan banyak orang. Dengan Google Workspace, Anda bisa dengan mudah mengakses Meet meski sedang bekerja di aplikasi seperti Docs maupun Slides. Dapatkan paket berlangganan Google Workspace for Business di EIKON Technology. Klik di sini untuk mulai berkonsultasi mengenai solusi yang Anda cari.

Gmail, Google Cloud

Pengalaman Terpadu Log Gmail di BigQuery, Seperti Apa?

Sebelumnya, Google menyimpan log Gmail langsung ke lokasi tersendiri di BigQuery. Namun mulai 10 Agustus 2022, penyimpanan log Gmail secara bertahap dipindahkan ke log dan laporan Google Workspace di BigQuery. Untuk lebih memahami tentang transisi ini, mari simak ulasan berikut. Perpindahan ke log dan laporan Google Workspace Photo Credit: Google Workspace Updates Melalui update di blog resminya, Google Workspace mengumumkan bahwa kini log Gmail akan dipindahkan ke log dan laporan Google Workspace di BigQuery. Sebelumnya, log Gmail diletakkan di tempat terpisah di BigQuery. Namun perubahan ini hanya akan memengaruhi pelanggan Google Workspace yang mengaktifkan BigQuery Export. Sedangkan pelanggan baru akan dipandu dalam menyiapkan proyek BigQuery Workspace untuk log Gmail. Photo Credit: Google Workspace Updates Saat perubahan ini terjadi, data Gmail akan diekspor ke log Gmail dan log Workspace dalam waktu singkat. Pelanggan Google Workspace lama yang terpengaruh akan menerima pemberitahuan email dengan informasi lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang. Mengapa perpindahan ini penting? Perubahan ini akan membuat satu ruang untuk mengakses semua peristiwa audit Google Workspace Anda. Dengan begitu, Anda tidak perlu berpindah-pindah lokasi untuk mengecek log Gmail. Semuanya telah tersimpan dalam satu tempat dan saling terintegrasi. Setelah penggabungan ini selesai, Anda tidak bisa lagi menggunakan log Gmail di BigQuery melalui konsol Admin. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi Help Center. Google telah menyediakan dokumentasi khusus membahas perubahan ini, termasuk petunjuk langkah demi langkah terperinci tentang penanganan perubahan ini. Baca juga: 3 Fitur Rahasia BigQuery untuk Kelola Data Lebih Baik Periode ekspor ganda sementara dan persyaratan penyimpanan BigQuery Setelah log Gmail disetel untuk diekspor ke log Workspace, data ini akan diekspor untuk sementara ke dua tujuan: Proyek BigQuery khusus Gmail Anda sebelumnya Proyek BigQuery Workspace baru atau yang sudah ada, yang menyimpan data untuk semua aplikasi Google Workspace Hal ini juga akan memengaruhi batas kuota BigQuery Anda dan seberapa sering kuota tersebut harus diperbarui, serta biaya yang terkait dengan mengekspor log ke BigQuery. Untuk menghindari dampak pada kuota dan data duplikat, sebaiknya nonaktifkan ekspor log Gmail ke proyek BigQuery khusus Gmail Anda. Baca juga: Percepat Migrasi Data BigQuery dengan Penerjemah SQL Otomatis Mulai menerapkan transisi Perubahan ini memerlukan konfigurasi dari administrator, end-user tidak perlu melakukan pengaturan sendiri. Detail mengenai konfigurasi tersebut bisa Anda simak di sini. Transisi akan dimulai pada tanggal 10 Agustus 2022 baik untuk domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal melalui metode extended rollout (ada kemungkinan peluncuran lebih lama dari 15 untuk visibilitas keseluruhan fitur). Tersedia untuk pelanggan Google Workspace Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Plus, dan Education Standard  Namun tidak tersedia bagi pengguna Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Frontline, dan Nonprofits, termasuk pelanggan G Suite Basic dan G Suite Business (rangkaian produktivitas pendahulu Google Workspace).  Baca juga: Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema Transisi baru BigQuery tersebut tersedia untuk Google Workspace for Education yang bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology menyediakan produk Google resmi dan bergaransi. Di samping itu, kami juga menyediakan layanan konsultasi untuk memudahkan Anda mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. EIKON Technology juga menyediakan Google Workspace for Business yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan produktivitas bisnsi. Informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Calender, Google Workspace

Update Google Calendar: Lebih Banyak Opsi Tersedia untuk Working Location

Pada tahun 2021, GCal atau Google Calendar meluncurkan sebuah fitur yang memungkinkan Anda untuk membagikan lokasi kerja melalui menu Working location. Lewat fitur tersebut Anda bisa memberitahukan lokasi kerja, entah itu sedang bekerja di rumah atau di kantor. Kini, GCal menambahkan lebih banyak opsi untuk memperjelas posisi Anda. Pilihan lokasi kerja di Google Calendar  Photo Credit: Google Workspace Updates Sebelumnya, Google Calendar hanya menyediakan dua opsi untuk menu Working location: rumah (home) dan kantor (office). Namun kini opsi kantor dibuat lebih spesifik. Anda bisa mencantumkan gedung atau ruangan kerja. Selain itu, tersedia juga pilihan “Another office” jika Anda bekerja di kantor lain dan “Somewhere else” yang bisa dipilih ketika tidak bekerja di rumah atau pun kantor. Penambahan opsi gedung dan ruang diperhitungkan sebagai saran untuk rekan kerja Anda. Dengan melihat detail lokasi kerja, mereka bisa langsung tahu di mana Anda berada pada hari tertentu. Kolaborasi pun menjadi lebih praktis karena setiap orang memberikan detail lokasi kerjanya. Dengan fitur baru ini, mereka yang mengelola kalender orang lain, seperti asisten eksekutif atau sekretaris juga dapat memperbarui lokasi kerja kalender tersebut selama mereka memiliki akses untuk melakukan perubahan kalender. Baca juga: Cara Menampilkan Lokasi Kerja di Google Calendar Mulai menggunakan fitur Untuk bisa menggunakan fitur, Anda perlu mendapat persetujuan dari administrator Workspace terlebih dulu. Bagi administrator, berikut panduan untuk mengaktifkan fitur Working location: Masuk ke konsol Google Admin Anda. Di konsol Admin, buka menu Apps > Google Workspace > Calendar. Klik Sharing settings. Klik Working location. Untuk menerapkan setelan ke semua orang, biarkan OU (organizational unit) teratas dipilih. Jika tidak, pilih OU yang diinginkan. Centang atau hapus centang pada pilihan Allow users to set their daily working location. Klik Save. Jika Anda mengonfigurasi unit organisasi turunan, akan muncul opsi tambahan yaitu Inherit dan Override. Opsi ini digunakan untuk mengatur setelan OU, apakan mengikuti setelan induk (Inherit) atau justru menggantinya (Override). Apabila Anda menonaktifkan fitur ini, dibutuhkan waktu maksimal 36 jam untuk menghilangkan tampilan working location dan menghapus lokasi pengguna. Bagaimana working location ditampilkan? Photo Credit: Racool_studio (Freepik) Working location saat ini hanya muncul di permukaan Google Calendar, bukan di direktori profil. Jika Anda: Menonaktifkan lokasi kerja: Orang lain masih melihat bagian lokasi kantor utama, yang Anda kontrol dengan pengaturan berbeda. Mengaktifkan lokasi kerja: Orang dengan status “free” atau “busy” pada event di GCal bisa melihat nama lokasi kerja di kalender tersebut. Baca juga: Berbagi Janji Temu di Google Calendar Kini Lebih Mudah, Bagaimana Caranya? Mengaktifkan fitur untuk end-user Setelah fitur diaktifkan oleh administrator, Anda bisa langsung menggunakannya Klik jadwal GCal Anda tepat di bawah tanggal, navigasikan ke tab “Working location” > “Choose a location” > klik ikon “+” > “Another office“> pilih gedung kantor Anda. Buka “Working hours & location” di pengaturan GCal Anda. Di bawah menu drop-down lokasi kerja > klik “Another office” > pilih gedung kantor Anda. Ketersediaan fitur Update fitur Google Calendar ini tersedia untuk Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Education Plus, dan Nonprofits, termasuk seri G Suite Business lama. Namun belum tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Enterprise Essentials, Frontline dan G Suite Basic. Fitur ini juga tidak tersedia untuk pengguna dengan Google Account pribadi. Perilisan fitur diperpanjang (kemungkinan besar lebih lama dari 15 hari untuk visibilitas fitur) yang dimulai pada tanggal 8 Agustus 2022. Ini berlaku untuk domain rilis cepat maupun untuk domain rilis terjadwal. Jadi, jika fitur belum muncul di tempat Anda, ada kemungkinan visibilitas fitur belum utuh. Baca juga: Tampilan Email Undangan Google Calendar Berubah, Jadi Seperti Apa? Update fitur Google Calendar ini dimaksudkan untuk memudahkan Anda dalam berkolaborasi. Dengan mencantumkan lokasi kerja maka kolega Anda pun bisa lebih mudah menyesuaikan jadwal. Agar fitur Working location Google Calendar bekerja dengan optimal, gunakan Google Workspace for Business untuk mendukung lingkungan kerja Anda. Selain Calendar, suite ini juga memiliki aplikasi serta layanan produktivitas seperti Gmail, Docs, Sheets, hingga Slides, tentu saja semuanya telah disesuaikan dengan penggunaan skala besar. Dapatkan segera melalui EIKON Technology, authorized reseller untuk produk-produk Google. Informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Cloud

3 Fitur Rahasia BigQuery untuk Kelola Data Lebih Baik

BigQuery merupakan sebuah tool yang disediakan Google Cloud untuk mengelola dan menganalisis data Anda dengan fitur bawaan seperti analisis geospasial, business intelligence, hingga machine learning. Tool ini memiliki banyak sekali fitur, yang beberapa masih belum banyak diketahui pengguna. Berikut 3 fitur “rahasia” di BigQuery yang bisa Anda manfaatkan untuk mengelola data berskala besar lebih baik lagi. AUTO column  Photo Credit: DCStudio (Freepik) Bisa dibilang, fitur yang satu ini adalah “hidden gem” BigQuery, Pasalnya, fitur AUTO column ini tidak tercantum di dokumentasi resmi BigQuery. Bagaimana cara kerjanya? Katakanlah Anda memasukkan beberapa data ke BigQuery, lalu sistem lain ingin menjalankan tugas terjadwal untuk memproses data yang baru datang. Misalnya, sistem dirancang untuk menarik data dari BigQuery ke penyimpanan lain atau menjalankan laporan per jam berdasarkan data. Dalam setiap kasus tersebut, disarankan menghindari pemrosesan catatan yang sama beberapa kali. Namun itu berarti Anda harus tahu catatan mana yang sudah diproses dan mana yang baru ditambahkan setelah pemrosesan berlangsung. Tidak seperti OLTP DB tradisional, BigQuery tidak mendukung kolom kenaikan otomatis atau kolom yang secara otomatis diisi dengan tanggal-waktu terkini (kecuali Anda menggunakan API Streaming) Dengan fitur AUTO column, Anda cukup menambahkan kolom TIMESTAMP ke skema tabel dan menetapkan “AUTO” di payload JSON. Hal ini memungkinkan BigQuery mengisi kolom yang disebutkan dengan waktu yang menunjukkan kapan data masuk secara otomatis. Baca juga: Fitur Penelusuran BigQuery: Bantu Tentukan Elemen Unik Data dengan Mudah Transaksi multi-statement Meski bukan OLTP DB, BigQuery mendukung transaksi multi-statement. Per bulan Agustus 2022, fitur ini masih dalam preview. Namun Google Cloud akan segera mengubah ketersediaannya menjadi general availability (GA). Tidak banyak yang bisa dibahas tentang transaksi dan cara penggunaannya. Google telah menyediakan dokumentasi resmi khusus untuk hal itu. Namun ada beberapa hal menarik yang perlu Anda perhatikan: Jika transaksi mengubah (memperbarui atau menghapus) baris dalam tabel, maka transaksi lain atau pernyataan DML yang mengubah baris dalam satu tabel sama tidak dapat berjalan secara bersamaan. Transaksi yang bertentangan dibatalkan. Transaksi tidak dapat menggunakan pernyataan DDL yang memengaruhi entitas permanen. Fungsi CURRENT_TIMESTAMP, CURRENT_DATE, dan CURRENT_TIME mengembalikan time stamp waktu mulai transaksi. Anda tidak dapat menggunakan klausa FOR SYSTEM_TIME AS OF untuk membaca tabel di luar time stamp waktu mulai transaksi. Melakukannya akan mengembalikan kesalahan. Dalam sebuah transaksi, views yang terwujud diinterpretasikan sebagai pandangan logis. Anda masih dapat menanyakan tampilan terwujud di dalam transaksi, tetapi tidak menghasilkan peningkatan kinerja atau pengurangan biaya dibandingkan dengan tampilan logis yang setara. Baca juga: Percepat Migrasi Data BigQuery dengan Penerjemah SQL Otomatis Clustering Photo Credit: Freepik Bicara tentang pengoptimalan kueri di BigQuery (sebagian besar adalah tentang optimalisasi biaya), pendekatan pertama yang terlintas dalam pikiran adalah partisi tabel (table partitioning). Namun sebenarnya partitioning bukanlah satu-satunya pilihan yang tersedia. Ada juga clustering atau pengelompokan. Sementara partitioning membagi data menjadi beberapa partisi (memungkinkan kueri untuk membaca hanya partisi tertentu bila diperlukan), clustering bekerja dengan menempatkan data terkait dan mengizinkan kueri mengakses segmen data tertentu jika filter untuk kolom pengelompokan digunakan. Baca juga: Memantau dan Menganalisis Performa BigQuery dengan Information Schema Dari ketiga fitur “rahasia” BigQuery di atas, adakah yang sudah pernah Anda gunakan? Dengan memngoptimalkan berbagai fitur serta kapabilitas yang ada dalam tool milik Google Cloud ini, Anda dapat mengelola sekaligus menganalisis data jauh lebih mudah dan optimal, terutama dari segi biaya. Tool ini bisa Anda akses dengan mudah jika menggunakan solusi komputasi awan dari Google Cloud. Dapatkan segera melalui EIKON Technology, authorized reseller yang menyediakan Google Cloud resmi untuk penggunaan skala besar. Kami juga menyediakan layanan konsultasi untuk mendampingi Anda mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan solusi. Informasi selengkapnya mengenai implementasi Google Cloud, silakan klik di sini!

Cloud Computing, Google Cloud

Menggunakan Data Advocacy untuk Menangani Data Privasi Konsumen

Ketika peraturan data privasi konsumen semakin ketat dan akhir dari cookie pihak ketiga semakin dekat, perusahaan dari berbagai ukuran cenderung mencari jalan menuju cara kerja yang berpusat pada privasi. Brand yang berhadapan langsung dengan konsumen harus mencermati data pelanggan yang mereka kumpulkan, dan belajar merangkul pendekatan berbasis data pihak pertama. Sementara beberapa brand sudah memahami pentingnya privasi dan persetujuan konsumen, sisanya masih belum tahu harus mulai dari mana. Parahnya lagi, masih banyak yang tidak tahu kebutuhan konsumen dalam hal privasi data. Saat ini, 40% konsumen tidak mempercayai brand untuk menggunakan data mereka secara etis. Meski kesenjangan antara bagaimana brand dan konsumen menyikapi data privasi terlihat jelas, sebaiknya tidak perlu ditekankan. Perusahaan harus mulai memperlakukan data konsumen sebagai pilar bisnis mereka: sebagai nilai yang memandu cara data digunakan, proses dijalankan, dan perilaku tim. Dengan menerapkan panel data advocacy lintas fungsi, brand dapat memastikan bahwa perlindungan data konsumen selalu menjadi perhatian utama. Mengapa harus data advocacy? Brand terbaik melihat pentingnya privasi data pelanggan sebagai peluang, bukan ancaman. Konsumen saat ini tahu pasti apa yang mereka inginkan dan menyerahkan penyampaiannya pada brand. Di sini, transparansi adalah kuncinya. Sebagian besar konsumen menuntut transparansi yang lebih dari brand yang kerap mereka gunakan, tapi sebanyak 40% konsumen bersedia membagikan informasi pribadi jika mereka tahu cara menggunakannya. Data advocacy yang ditanamkan ke dalam perusahaan dapat berfungsi sebagai pedoman untuk mencapai titik tengah persetujuan privasi data. Baca juga: Akses Analisis Data di Connected Sheets untuk Kolaborator dengan Delegated Access Bagaimana penerapannya? Photo Credit: tirachardz (Freepik) Misi data advocacy adalah membangun dan mempertahankan budaya positif persetujuan di seluruh perusahaan. Ini dapat berfungsi sebagai cara untuk mengasah kekuatan data pelanggan untuk bisnis Anda sekaligus memberikan kekuatan persetujuan kepada pelanggan. Namun apa sebenarnya panel data advocacy itu? Panel data advocacy Anda harus mencakup perwakilan dari setiap unit bisnis yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi, mengumpulkan, membuat, berbagi, atau mengakses data dalam bentuk apa pun. Anggota tim ini kemudian harus bersatu untuk menangani dua tujuan utama: menetapkan strategi dan kebijakan tentang penanganan data di seluruh perusahaan serta bereaksi dengan cepat terhadap perkembangan data baru seperti: potensi pelanggaran data, pergeseran sentimen pasar, atau persyaratan kepatuhan baru. Baca juga: Mengenal Data Loss Prevention (DLP), Kebijakan untuk Melindungi Data Sensitif Tips yang bisa Anda terapkan Menurut VP of Consumer Packaged Goods Google Cloud, Giusy Buonfantino, “Lanskap privasi dan ekspektasi konsumen yang berubah menandakan perusahaan harus memikirkan kembali cara mereka mengumpulkan, menganalisis, menyimpan, dan mengelola data konsumen untuk mendorong kinerja bisnis dan memberikan pengalaman yang dipersonalisasi kepada pelanggan.” Perusahaan mengadopsi Customer Data Platforms (CDP) untuk mendorong keterlibatan pelanggan yang berpusat pada privasi. Solusi platform data pelanggan Lytics dibuat dengan Google Cloud BigQuery untuk membantu perusahaan terus mengembangkan cara mereka menangkap dan menggunakan data konsumen. Lytics di BigQuery membantu bisnis mengumpulkan dan menafsirkan data perilaku pelanggan pihak pertama pada platform yang aman dan skalabel dengan machine learning bawaan. Singkatnya, ini bukan hanya tentang perubahan kecil. Ini tentang memulai dengan katalis yang akan mendorong perubahan skala besar. Katalis tersebut adalah panel data advocacy yang akan terus menjadi pusat pertukaran nilai antara brand dan pelanggan Anda. Baca juga: Masa Depan Data dalam Whitepaper Terbaru Google Cloud, Seperti Apa? Perkembangan teknologi mau tak mau mengubah bagaimana cara data dipandang. Kini data ibarat sebuah sumber daya yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, cara Anda menangani data, terutama data privasi konsumen, bisa sangat menentukan kesuksesan bisnis. Cara menangani dan mengelola data yang lama sudah tak lagi relevan karena tidak mampu mengeluarkan potensi terbaik data secara aman. Untuk itulah, Anda perlu membangun panel data advocacy yang baik. Tak lupa, dukung panel Anda agar mampu melindungi data privasi konsumen dengan solusi komputasi awan Google Cloud. Solusi komputasi dengan tingkat keamanan tinggi ini bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Google Cloud

3 Fitur Security and Compliance di Google Cloud Logging yang Wajib Anda Ketahui

Adopsi cloud oleh perusahaan dan sektor publik terus berakselerasi. Di tengah situasi tersebut, mendapat gambaran akurat tentang siapa yang melakukan apa di lingkungan cloud Anda penting untuk tujuan keamanan dan kepatuhan (security and compliance). Log sangat penting saat Anda mencoba mendeteksi pelanggaran, menyelidiki masalah keamanan yang sedang berlangsung, atau melakukan penyelidikan. Berikut tiga fitur security and compliance Google Cloud Logging yang dapat membantu Anda membuat log untuk melakukan audit keamanan terbaik: Cloud Logging adalah bagian dari Assured Workloads Assured Workloads Google Cloud membantu pelanggan memenuhi persyaratan kepatuhan dengan software-defined cloud komunitas. Cloud Logging dan data log eksternal mencakup banyak peraturan, itulah sebabnya Cloud Logging sekarang menjadi bagian dari Assured Workloads. Cloud Logging dengan Assured Workloads makin memudahkan pelanggan untuk memenuhi retensi log dan persyaratan audit NIST 800-53 dan kerangka kerja lain yang didukung. Baca juga: Memahami Keamanan Infrastruktur Google Cloud Cloud Logging sekarang bersertifikat FedRAMP High Photo Credit: DCStudio (Freepik) FedRAMP adalah program pemerintah Amerika Serikat yang mempromosikan adopsi layanan cloud yang aman dengan menyediakan pendekatan standar untuk penilaian keamanan dan risiko untuk lembaga federal yang mengadopsi teknologi cloud. Tim Google Cloud Logging telah menerima sertifikasi untuk menerapkan kontrol yang diperlukan untuk mematuhi FedRAMP di tingkat High Baseline Level. Sertifikasi ini memungkinkan pelanggan untuk menyimpan data sensitif di cloud log dan menggunakan Cloud Logging untuk memenuhi persyaratan kontrol kepatuhan mereka sendiri. Di bawah ini adalah kontrol yang telah diterapkan oleh Cloud Logging sebagaimana diwajibkan oleh NIST untuk sertifikasi FedRAMP: Event Logging (AU-2) – Berbagai macam peristiwa ditangkap di cloud. Contoh peristiwa yang ditentukan termasuk perubahan kata sandi, akses gagal terkait sistem, perubahan atribut keamanan atau privasi, penggunaan hak istimewa administratif, penggunaan kredensial Personal Identity Verification (PIV), perubahan tindakan data, parameter kueri, atau penggunaan kredensial eksternal. Making Audits Easy (AU-3) – Untuk menyediakan semua informasi yang dibutuhkan pengguna dalam audit, Cloud Logging menangkap jenis peristiwa, waktu terjadinya, lokasi peristiwa, sumber peristiwa, hasil peristiwa, dan informasi identitas. Extended Log Retention (AU-4) – Cloud Logging mendukung kebijakan yang diuraikan untuk kapasitas dan retensi penyimpanan log guna memberikan dukungan untuk investigasi insiden setelah kejadian. Dengan begitu pelanggan dapat memenuhi persyaratan penyimpanan informasi dengan mengizinkan mereka untuk mengonfigurasi periode penyimpanan. Alerts for Log Failures (AU-5) – Pelanggan dapat membuat peringatan saat terjadi kegagalan log. Create Evidence (AU-16) – Jejak audit seluruh sistem (logis atau fisik) yang terdiri dari catatan audit dalam format standar ditangkap. Kemampuan audit lintas organisasi dapat diaktifkan. Baca juga: Menerapkan Keamanan Chrome pada Google Cloud dan Workspace Manage your own Keys Photo Credit: Rawpixel Manage your own Keys atau juga dikenal sebagai customer managed encryption keys (CMEK), dapat mengenkripsi keranjang log Google Cloud Logging. Untuk pelanggan dengan persyaratan enkripsi khusus, Cloud Logging kini mendukung CMEK melalui Cloud KMS. CMEK dapat diterapkan ke bucket logging individual dan dapat digunakan dengan log router. Cloud Logging dapat dikonfigurasi untuk memusatkan semua log untuk organisasi ke dalam satu bucket dan router jika diinginkan, yang membuat penerapan CMEK ke penyimpanan log perusahaan menjadi sederhana. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud Contact Center AI untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan Dengan adanya fitur dan kapabilitas ini, diharapkan proses adopsi dan penggunaan Cloud Logging menjadi jauh lebih mudah, lebih aman, dan lebih sesuai. Tertarik untuk menerapkan fitur security and compliance yang ditawarkan Cloud Logging? Semuanya bisa dinikmati dengan menerapkan solusi Google Cloud untuk mendukung ekosistem komputasi perusahaan Anda. EIKON Technology menyediakan solusi Google Cloud menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Anda bahkan dapat menyesuaikan solusi sesuai dengan kebutuhan. Untuk mulai konsultasi mengenai penerapan produk, silakan klik di sini!

Google Cloud

Menjadwalkan Perintah di Google Cloud dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler

Kehadiran Google Cloud CLI memudahkan para engineer untuk memulai pengembangan awal mereka di GCP (Google Cloud Platform) dan melakukan banyak tugas cloud umum. Sebagian besar pengalaman pengembangan awal melalui antarmuka baris perintah menggunakan alat seperti gsutil, gcloud, namun untuk bisa mendapatkan kode produksi perlu penulisan kode seremonial atau membangun integrasi API-level. Developer sering menemukan skenario di mana mereka perlu menjalankan perintah sederhana di lingkungan produksi mereka secara terjadwal. Untuk menjalankannya dengan sukses, mereka diharuskan membuat kode dan membuat jadwal dalam alat orkestrasi seperti Data Fusion. Salah satu skenario tersebut adalah menyalin objek dari satu bucket ke bucket lain, yang umumnya dicapai dengan menggunakan gsutil. Gsutil adalah aplikasi Python untuk berinteraksi dengan Google Cloud Storage melalui baris perintah. Ini dapat digunakan untuk melakukan berbagai fungsi seperti tugas pengelolaan bucket dan objek, termasuk: membuat dan menghapus bucket, mengunggah, mengunduh, menghapus, menyalin, dan memindahkan objek. Artikel kali ini akan menjelaskan cara untuk menjadwalkan perintah seperti Gsutil menggunakan Cloud Run dan Cloud Scheduler. Metodologi ini menghemat waktu dan mengurangi jumlah upaya yang diperlukan untuk pra-kerja dan penyiapan dalam membangun integrasi API level. Arsitektur penjadwalan perintah dengan Cloud Run dan Cloud Scheduler Photo Credit: Google Cloud Ada pun tiga layanan GCP yang digunakan adalah: Cloud Run: Kode akan dikemas dalam container, gcloud SDK akan diterapkan (atau Anda juga dapat menggunakan base image dengan gcloud SDK yang sudah diinstal). Cloud Scheduler: Memanggil tugas yang dibuat di Cloud Run pada frekuensi berulang. Cloud Storage: Google Cloud Storage (GCS) digunakan untuk penyimpanan dan pengambilan data dalam jumlah berapa pun. Baca juga: 3 Contoh Penerapan Google Cloud Spot VMs Contoh ini mengharuskan engineer menyiapkan lingkungan mereka untuk Cloud Run dan Cloud Scheduler, membuat tugas Cloud Run, mengemasnya ke dalam image container, mengunggah image container ke Container Registry, lalu melakukan deploy ke Cloud Run. Ikuti langkah-langkahnya  di bawah ini:   Langkah 1: Aktifkan layanan (Cloud Scheduler, Cloud Run) dan buat akun layanan export REGION=<<Region>> export PROJECT_ID=<<project-id>> export PROJECT_NUMBER=<<project-number>> export SERVICE_ACCOUNT=cloud-run-sa   gcloud services enable cloudscheduler.googleapis.com run.googleapis.com cloudbuild.googleapis.com cloudscheduler.googleapis.com –project ${PROJECT_ID}   gcloud iam service-accounts create ${SERVICE_ACCOUNT} \ –description=”Cloud run to copy cloud storage objects between buckets” \ –display-name=”${SERVICE_ACCOUNT}” –project ${PROJECT_ID}   gcloud projects add-iam-policy-binding ${PROJECT_ID} \ –member serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com \ –role “roles/run.invoker” Untuk menerapkan layanan Cloud Run menggunakan akun layanan yang dikelola pengguna, Anda harus memiliki izin untuk meniru identitas (iam.serviceAccounts.actAs) akun layanan tersebut. Izin ini dapat diberikan melalui peran IAM peran/iam.serviceAccountUser.   gcloud iam service-accounts add-iam-policy-binding ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com   \ –member “user:<<your_email>>” \ –role “roles/iam.serviceAccountUser” –project ${PROJECT_ID} Langkah 2: Buat docker image dan dorong ke GCR. Arahkan ke folder gcs-to-gcs dan tekan image   cd gcs-to-gcs gcloud builds submit -t “gcr.io/${PROJECT_ID}/gsutil-gcs-to-gcs” –project ${PROJECT_ID} Langkah 3: Buat tugas dengan GCS_SOURCE dan GCS_DESTINATION untuk bucket gcs-to-gcs. Pastikan untuk memberikan izin (roles/storage.legacyObjectReader) ke GCS_SOURCE dan role/storage.legacyBucketWriter ke GCS_DESTINATION   export GCS_SOURCE=<<Source Bucket>> export GCS_DESTINATION=<<Source Bucket>>   gsutil iam ch \ serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com:objectViewer \   ${GCS_SOURCE}   gsutil iam ch \ serviceAccount:${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com:legacyBucketWriter \   ${GCS_DESTINATION}   gcloud beta run jobs create gcs-to-gcs \ –image gcr.io/${PROJECT_ID}/gsutil-gcs-to-gcs \ –set-env-vars GCS_SOURCE=${GCS_SOURCE} \ –set-env-vars GCS_DESTINATION=${GCS_DESTINATION} \ –max-retries 5 \ –service-account ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com \ –region $REGION –project ${PROJECT_ID} Langkah 4: Terakhir, buat jadwal untuk menjalankan pekerjaan.   gcloud scheduler jobs create http gcs-to-gcs \ –location $REGION \ –schedule=”0 1 * * 0″ \  –uri=”https://${REGION}-run.googleapis.com/apis/run.googleapis.com/v1/namespaces/${PROJECT_ID}/jobs/gcs-to-gcs:run” \ –http-method POST \ –oauth-service-account-email ${SERVICE_ACCOUNT}@${PROJECT_ID}.iam.gserviceaccount.com –project ${PROJECT_ID} Langkah 5: Buat pemantauan dan peringatan untuk memeriksa apakah Cloud Run gagal. Cloud Run terintegrasi secara otomatis dengan Cloud Monitoring tanpa memerlukan penyiapan atau konfigurasi. Ini berarti metrik layanan Cloud Run Anda ditangkap secara otomatis saat dijalankan. Anda dapat melihat metrik di Cloud Monitoring atau di halaman Cloud Run dalam konsol. Cloud Monitoring menyediakan lebih banyak opsi pembuatan bagan dan pemfilteran. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Langkah-langkah di atas menyajikan metode yang disederhanakan untuk menjalankan perintah CLI yang paling umum diterapkan pada jadwal, dalam pengaturan produksi. Kode dan contoh yang diberikan di atas mudah digunakan dan membantu menghindari kebutuhan integrasi level API untuk menjadwalkan perintah seperti gsutil, gcloud, dan lain sebagainya. GCP merupakan rangkaian layanan komputasi awan yang berjalan pada infrastruktur internal milik Google untuk berbagai produk end-user, seperti mesin pencari Google, Gmail, hingga YouTube. Rangkaian ini juga menyediakan layanan cloud modular termasuk komputasi, penyimpanan data, analitik data, dan machine learning. Untuk menikmati layanan GCP, Anda bisa berlangganan solusi komputasi awan Google Cloud melalui EIKON Technology. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa klik di sini.

Education, Google Workspace

Google Assignments for Canvas: Lebih Banyak Opsi untuk Berikan Penilaian

Mulai tanggal 4 Agustus 2022, menyediakan opsi untuk memberi penilaian dengan Canvas SpeedGrader di samping opsi penilaian Google Assignments. Nah, Google Assignments for Canvas sendiri merupakan layanan yang memungkinkan Google Docs Editors dan Google Drive agar kompatibel dengan Canvas untuk pengiriman file. Bagaimana tool baru ini bekerja? Opsi penilaian Canvas SpeedGrader Photo Credit: Google Workspace Updates Tool baru ini memungkinkan pengajar untuk terus menggunakan fitur yang telah mereka nikmati dengan Google Assignments, seperti memberikan file yang dipersonalisasi kepada siswa, melihat tugas siswa yang sedang berlangsung, dan mendeteksi plagiarisme. Jika pengajar memilih untuk menilai dengan Canvas SpeedGrader, mereka juga dapat menggunakan anotasi serta komentar audio dan video saat mereka melakukan penilaian. Untuk memberikan penilaian, pengajar cukup memilih opsi “Canvas SpeedGrader” pada menu “Create a Google assignment”. Namun perlu diingat, jika tugas yang dikumpulkan siswa berupa file Google Docs, opsi ini akan mengubahnya ke format PDF view-only. Baca juga: Mengapa Belajar Menjadi Mudah dengan Google for Education? Ketersediaan Opsi penilaian Canvas SpeedGrader di Google Assignments dirilis secara bertahap mulai dari tanggal 4 Agustus 2022, baik untuk domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Perilisan akan memakan waktu kurang lebih 15 hari ke depan hingga seluruh pengguna bisa menikmatinya. Opsi ini tersedia untuk pengguna Google Workspace Education Fundamentals, Education Plus, Education Standard, serta Teaching and Learning Upgrade. Namun tidak tersedia untuk Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Frontline, Nonprofits, dan pengguna G Suite Basic dan G Suite Business lama. Tidak tersedia pula untuk pengguna dengan Google Accounts pribadi. Baca juga: Data Audit Tugas Kini Tersedia di Google Admin Console Mulai menggunakan fitur Fitur baru ini memerlukan konfigurasi dari administrator Google Workspace Anda sebelum bisa mulai digunakan. Administrator juga sudah harus mengaktifkan Google Assignments LT 1.3 agar pengajar bisa menggunakan Canvas SpeedGrader. Setelah itu, administrator bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini: Aktifkan Google Assignments sebagai alat eksternal resmi. Tambahkan Google Assignments sebagai aplikasi ke Canvas. Langkah-langkah ini mungkin memerlukan bantuan dari administrator learning management system (LMS) di tempat Anda. Langkah 1: Aktifkan Google Tugas sebagai alat eksternal resmi Di Canvas, masuk sebagai administrator. Klik Admin > Developer Keys.   Photo Credit: Assignments Help Catatan: Jika tidak memiliki opsi Developer Keys, Anda mungkin tidak memiliki hak istimewa admin yang diperlukan untuk mengaktifkan alat tersebut. Untuk mencoba menyelesaikan instalasi, lewati ke langkah kedua di bawah ini. Jika langkah kedua gagal dan muncul pesan bahwa kunci dinonaktifkan, Anda memerlukan admin akun root Canvas. Di Developer Keys, klik Inherited. Photo Credit: Assignments Help Pada opsi Inherited, tepat di samping Google Assignments, klik On. Photo Credit: Assignments Help Catatan: Untuk melihat Google Assignments pada daftar, Anda mungkin perlu menggulir ke bawah atau klik opsi Show All Keys. Salin 170000000000573 ke clipboard. Anda akan membutuhkannya di pada Langkah 2.  Langkah 2: Tambahkan Google Assignments sebagai aplikasi ke Canvas Dengan menyiapkan Assignments di Canvas, pengguna Workspace dapat memilih untuk mengirimkan Docs dan nilai siswa ke Canvas. Persyaratan dan Kebijakan Privasi Canvas akan berlaku setelah data ditransfer. Baca juga: Cara Mengakses Tools Teknologi Pendidikan Populer Langsung Di Google Classroom Google Assignment adalah sebuah layanan dari Google yang memudahkan pengajar dalam proses penugasan siswa, mulai dari penugasan hingga penilaian tugas. Dalam update terbarunya, layanan ini berkolaborasi dengan Canvas sehingga memungkinkan pengajar untuk bisa memberikan penilaian melalui Canvas SpeedGrader. Layanan ini tersedia di Google Workspace for Education yang bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Sebagai authorized reseller Google untuk Indonesia, EIKON Technology menyediakan produk resmi berlisensi. Kami juga menyertakan layanan konsultasi untuk memastikan kelancaran proses implementasi produk. Informasi selengkapnya mengenai produk, silakan klik di sini!

Scroll to Top