EIKON Technology

Google Cloud

Google Cloud

Building Block Baru Google Docs, Lebih Mudah Memasukkan dan Memformat Kode

Tahun 2021 lalu, Google Workspace meluncurkan smart canvas, sebuah fitur yang memudahkan pengguna untuk berkolaborasi. Dengan fitur tersebut, Anda bisa lebih mudah terhubung, fokus pada waktu, hingga mengubah gagasan menjadi suatu aksi nyata. Sejak diluncurkan, smart canvas terus dikembangkan agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggan. Paling baru, smart canvas di Google Docs memungkinkan Anda untuk mempresentasikan kode dengan proses yang lebih sederhana. Smart canvas di Google Docs Photo Credit: Google Workspace Blog Model kerja hybrid yang terus berkembang belakangan ini memunculkan tantangan baru dalam aspek kolaborasi—bagaimana tim bisa tetap terhubung saat mereka bekerja, meski tiap orang berada di lokasi yang berbeda? Smart canvas membangun koneksi yang lebih dalam di seluruh jaringan Google Workspace untuk memudahkan para pelanggan berkolaborasi, di mana pun mereka berada. Salah satu kapabilitas andalan smart canvas, yakni @-mentions memungkinkan pengguna Workspace untuk melibatkan orang lain sekaligus menyertakan dokumen pendukung dalam satu tugas. Kapabilitas ini akan menghubungkan orang, konten, dan acara tanpa hambatan. Baca juga: Fitur Split Cell untuk Tabel Kini Tersedia Di Google Docs, Berikut Cara Menggunakannya Code block di Google Docs Photo Credit: Google Workspace Updates Salah satu pengembangan terbaru smart canvas di Google Docs adalah building block berupa code block. Block baru ini memungkinkan Anda dan kolaborator dokumen untuk menampilkan kode dan kemudian menerapkan gaya secara manual dengan menyorot sintaks. Dengan begitu Anda dapat memvisualisasikan kode dengan standar industri, membuat kode mudah dibaca, dan tentunya kolaborasi pun jadi lebih mudah. Baca juga: Kini Anda Bisa Insert Emoji Lebih Cepat di Google Docs, Bagaimana Caranya? Mulai menggunakan fitur Code block dari smart canvas ini tidak memerlukan pengaturan tambahan dari administrator. Kapabilitas akan muncul secara otomatis setelah pembaruan Google Docs. Itu artinya, pengguna bisa langsung menggunakan code block di Google Docs. Untuk memasukkan code block smart canvas, Anda cukup menekan Insert > Building blocks > Code blocks > pilih bahasa pemrograman Anda atau cari @ (Google menyediakan bahasa C/C++, Java, Javascript, Python, dan Unset. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai code block dari smart canvas, Anda bisa mengunjungi dokumentasi ini. Ketersediaan fitur Building block baru yang tersedia di Google Docs ini dirilis secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun untuk domain rilis terjadwal. Untuk domain rilis cepat dimulai pada tanggal 14 Desember 2022 (kemungkinan memakan waktu hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur). Kemudian untuk domain rilis terjadwal dimulai pada tanggal 3 Januari 2023 (kemungkinan memakan waktu hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur). Kapabilitas baru Google Docs ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Standard, Education Plus, dan juga Nonprofits. Namun kapabilitas ini tidak tersedia untuk pelanggan Google Workspace Essentials, Business Starter, Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Teaching and Learning Upgrade, Frontline, serta G Suite Basic dan Business. Fitur juga tidak tersedia bagi pengguna dengan Google Account pribadi. Baca juga: Cara Membuat Dokumen Kolaboratif dengan Template Tabel Baru Google Docs Untuk mulai menggunakan building block baru Google Docs. Anda bisa berlangganan Google Workspace for Business. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, EIKON Technology tidak hanya menyediakan produk Google Workspace, tapi juga menawarkan konsultasi perencanaan hingga pasca-implementasi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini.

Google Cloud

Memahami Cara Kerja Cloud Load Balancing di Lingkungan Hybrid dan Multicloud

Aplikasi yang beredar saat ini sering kali dirakit di lingkungan terdistribusi, termasuk integrasi layanan di lingkungan multi-cloud, multi-SaaS, dan lokal. Meskipun pendekatan ini memiliki keuntungan yang memungkinkan Anda memilih layanan terbaik yang tersedia untuk mendukung aplikasi, namun penyampaian layanannya di lingkungan heterogen cenderung rumit. Untuk mengatasinya, Cloud Load Balancing mendukung strategi cloud terbuka, yang meliputi: Mendukung kebijakan manajemen traffic universal di lingkungan yang heterogen dengan memanfaatkan open-source dan open-standards. Mengaktifkan global front-end sehingga aplikasi dapat memanfaatkan serangkaian kebijakan umum dan postur keamanan. Menyediakan alat yang memberikan kinerja dan keandalan optimal. Manajemen lalu lintas universal dengan open-source dan open-standards Cloud Load Balancing menciptakan kebijakan traffic yang homogen di seluruh lingkungan heterogen yang terdistribusi dengan mendukung manajemen traffic berbasis standar dalam solusi yang terkelola sepenuhnya, memungkinkan open-source Envoy Proxy sidecars untuk digunakan di lingkungan multi-cloud, menggunakan traffic yang sama sebagai Cloud Load Balancer. Saat perusahaan mulai memodernisasi layanan dan memfaktorkan ulang aplikasi monolitik, mereka memerlukan solusi yang dapat menyediakan manajemen traffic konsisten di seluruh sistem terdistribusi dalam skala besar. Envoy adalah proksi open-source berkinerja tinggi yang berjalan bersama aplikasi untuk memberikan kemampuan jaringan platform-agnostic umum, termasuk: Algoritma load balancing baru, (seperti round robin, ring hash, least conns); Pembagian traffic berbobot; Fault injection; Request mirroring; Cross-origin resource sharing (CORS). Baca juga: Langkah Chrome untuk Memastikan Keamanan Data Anda Hybrid Load Balancing di multi-cloud dan private cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Selama bertahun-tahun Google telah menerapkan Load Balancers di 173+ lokasi Edge Pop, menghadirkan aplikasi pelanggan dalam skala besar di infrastruktur Google. Kini Google Cloud memperkenalkan Hybrid Load Balancing yang memperluas kemampuan Load Balancing di luar jaringan Google ke cloud pribadi dan solusi multi-cloud lokal. Hal ini memungkinkan pelanggan untuk memigrasikan aplikasi ke cloud secara iteratif atau membuat aplikasi hybrid dari layanan yang berjalan di lingkungan heterogen. Mendukung penyampaian aplikasi modern dengan HTTP3/QUIC Cloud Load Balancing adalah solusi load balancing terdistribusi penuh yang menyeimbangkan traffic pengguna (HTTP(s), HTTPS/2, HTTPS/3 dengan gRPC, TCP/SSL, UDP, dan QUIC) ke beberapa backend untuk menghindari kemacetan, mengurangi latensi, meningkatkan keamanan, dan mengurangi biaya. Solusi ini dibangun di atas infrastruktur frontend-serving Google, mendukung jutaan kueri per detik dengan kinerja tinggi yang konsisten dan latensi rendah. Baca juga: Memahami Jaringan Dasar Google Kubernetes Engine Untuk melayani traffic dalam jumlah besar, Google membangun load balancing pertama, Maglev, yang telah melayani sejak 2008. Guna mengakomodasi lalu lintas yang terus meningkat, Maglev secara khusus dioptimalkan untuk Linux Kernel Offload. Maglev juga dilengkapi dengan fitur hashing dan pelacakan koneksi yang konsisten, meminimalkan dampak negatif dari kesalahan tak terduga pada protokol berorientasi koneksi. Photo Credit: Google Cloud Blog Pengaktif utama lainnya untuk mendukung skala global ini adalah Cloud Load Balancer yang dibangun di atas QUIC (RFC9000), sebuah protokol yang dikembangkan dari gQUIC. HTTP/3 didukung antara Load Balancer HTTP(S) Eksternal, Cloud CDN, dan end client. Setelah diaktifkan, pelanggan biasanya melihat peningkatan dramatis dalam performa dan hasil. Photo Credit: Google Cloud Blog Jika layanan Anda peka terhadap latensi, QUIC akan membuatnya lebih cepat karena membangun koneksi yang lebih sederhana. Saat web client menggunakan TCP dan TLS, diperlukan dua hingga tiga perjalanan bolak-balik dengan server untuk membuat sambungan aman sebelum browser dapat mengirim permintaan. Dengan QUIC, jika klien telah terhubung dengan server tertentu sebelumnya, ia dapat mulai mengirimkan data tanpa bolak-balik, sehingga halaman web Anda akan lebih cepat termuat. QUIC memiliki keunggulan dibandingkan TCP lama sebagai berikut: Photo Credit: Google Cloud Blog Sejak 2008, Google telah menjadi pionir dalam jaringan software-defined, mendukung aplikasi yang berjalan dalam skala besar. Google Cloud Load Balancers mendukung HTTP3 dan QUIC sebagai protokol transportasi web generasi berikutnya, yang secara signifikan meningkatkan latensi lalu lintas pelanggan. Google Load Balancers juga telah memasukkan Envoy proxy sebagai teknologi dasar, yang memberikan manajemen traffic lanjutan yang kompatibel dengan ekosistem open-source Envoy proxy. Baca juga: Migrasi Cloud dengan Cerdas Menggunakan Google Cloud Migration Center Dapatkan solusi Google Cloud untuk mendukung pengembangan aplikasi Anda melalui EIKON Technology, authorized reseller resmi yang dipilih langsung oleh Google untuk melakukan distribusi di Indonesia. Untuk mulai berlangganan, hubungi kami di sini.

Google Cloud

Penyempurnaan Facet Google Cloud Search, Seperti Apa

Google Cloud baru saja meluncurkan update untuk Cloud Search. Kini pengguna bisa lebih mudah mengonfigurasi serta menggunakan filter dan facet penelusuran Cloud Search dengan beberapa peningkatan pada fungsi yang sudah ada. Dengan peluncuran ini, Anda dapat menggunakan Cloud Search Query API untuk mengonfigurasi kemampuan tambahan baru: Faceting dukungan untuk bidang tipe integer, seperti tingkat prioritas untuk tiket dukungan atau jumlah halaman dalam dokumen. Faceting dukungan untuk ukuran dokumen, pembuatan dokumen, dan kolom tanggal custom. Operator cadangan default baru untuk bidang ukuran dokumen dan tanggal pembuatan Respons Query API yang disederhanakan dengan filter yang langsung disediakan dalam respons. Memperluas opsi filter, menciptakan pengalaman pencarian yang lebih ramah pengguna, membuatnya lebih mudah dan lebih cepat untuk mempersempit hasil pencarian ke dokumen yang paling relevan. Mulai melakukan pembaruan Google Cloud Search Google Cloud telah menerbitkan dokumentasi khusus yang menjelaskan cara untuk melakukan pembaruan Cloud Search. Anda dapat mengaksesnya di sini. Per 13 Desember 2022, update dapat diakses oleh seluruh pengguna Google Cloud. Pembaruan ini tidak memerlukan pengaturan tambahan dari end-user. Pembaruan akan muncul secara otomatis, termasuk filter baru dari Cloud Search. Opsi filter baru akan langsung muncul setelah admin selesai melakukan konfigurasi. Baca juga: Memanfaatkan Confidential Space untuk Kolaborasi Data yang Lebih Aman di Google Cloud Cara membuat antarmuka pencarian dengan Query API Photo Credit: Freepik Query API menyediakan metode pencarian dan saran untuk membuat antarmuka pencarian atau menyematkan hasil pencarian dalam aplikasi. Untuk aplikasi web dengan persyaratan minimal, pertimbangkan untuk menggunakan widget pencarian. Pembuatan antarmuka untuk aplikasi web dengan widget bisa dilihat di sini, Baca juga: Migrasi Cloud Dengan Cerdas Menggunakan Google Cloud Migration Center Membangun antarmuka pencarian Photo Credit: lois_molinero (Freepik) Membangun antarmuka pencarian minimal memerlukan beberapa langkah, seperti: Mengonfigurasikan aplikasi pencarian. Membuat kredensial OAuth untuk aplikasi Menyusun permintaan indeks Menampilkan hasil kueri Anda dapat meningkatkan antarmuka pencarian dengan fitur seperti paging, pengurutan, pemfilteran, facet, dan saran otomatis. Mengonfigurasikan aplikasi pencarian Anda harus membuat setidaknya satu aplikasi penelusuran untuk dikaitkan dengan setiap antarmuka penelusuran yang Anda buat. Aplikasi penelusuran menyediakan parameter default untuk kueri, seperti sumber data yang akan digunakan, tata urutan, filter, dan faset yang akan diminta. Jika perlu, Anda dapat mengganti parameter ini menggunakan API kueri. Membuat kredensial OAuth untuk aplikasi Anda juga harus membuat kredensial OAuth untuk aplikasi web. Jenis kredensial yang Anda buat bergantung pada konteks tempat API digunakan. Gunakan kredensial untuk meminta otorisasi atas nama pengguna. Gunakan cakupan https://www.googleapis.com/auth/cloud_search.query saat meminta otorisasi. Menyusun permintaan indeks Gunakan metode pencarian untuk melakukan pencarian terhadap indeks. Setiap permintaan harus menyertakan dua bagian informasi: kueri teks untuk mencocokkan item dan searchApplicationId yang mengidentifikasi ID untuk menjalankan search application. Menampilkan hasil kueri Antarmuka pencarian diharapkan dapat menampilkan judul item serta tautan ke item asli. Anda dapat lebih menyempurnakan tampilan hasil pencarian dengan memanfaatkan informasi tambahan yang ada di hasil pencarian seperti cuplikan dan metadata. Baca juga: Inovasi Baru Google Sambut Era Baru Desain Sistem, Lebih Andal dan Aman Cloud Search menyediakan metode pencarian dan saran untuk membuat antarmuka pencarian atau menyematkan hasil pencarian dalam aplikasi. Kemudahan ini dapat Anda nikmati dengan berlangganan Google Cloud. EIKON Technology menyediakan paket berlangganan Google Cloud, resmi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi kami di sini.

Cloud Computing, Google Cloud

Menimbang Kembali Open Source dan Keamanan Multicloud

Teknologi open source telah menjadi bagian integral dari komputasi sejak era paling awal, bahkan sebelum lahirnya pusat teknologi modern seperti Silicon Valley. Proyek open source merupakan fondasi lahirnya beberapa perangkat lunak paling populer di dunia, seperti Mozilla Firefox dan sistem operasi Linux. Ulasan kali ini akan membahas sekilas tentang konsep dasar teknologi open source, peran yang dimainkannya di dunia multicloud, serta perspektif developer dalam menggunakan teknologi tersebut dalam mendukung pekerjaan mereka sehari-hari. Memahami konsep dasar open source Photo Credit: lucabravo (Freepik) Konsep dasar multicloud ada pada kemampuan untuk menjalankan beban kerja di cloud, sekaligus mampu memilih penyedia yang paling cocok untuk mengerjakan bagian tertentu dari beban kerja. Mengadopsi teknologi dan bahasa open source akan membantu perusahaan untuk mengoptimalkan alat yang mereka butuhkan, terlepas dari penyedia cloud, tanpa takut terkunci di penyedia tertentu. Saat Anda memikirkan tentang berpindah di lingkungan yang berbeda, apakah itu cloud ke cloud, atau desktop pengembang ke tujuan akhir, atau justru dari pusat data ke cloud Anda, perangkat lunak open source selalu memungkinkan Anda melakukan itu. Kemudian, multicloud hanyalah perpanjangan dari itu. Dengan begitu, Anda tak perlu merasa kesulitan jika harus menjalankan perangkat lunak yang sama dengan perangkat yang berbeda. Baca juga: Mendapatkan Insights Baru untuk Mengelola Multicloud dengan Hybrid Cloud Logs Tantangan baru dalam keamanan dengan multicloud Photo Credit: creativeart (Freepik) Makin banyaknya perusahaan yang mengadopsi pendekatan multicloud, pertanyaan tentang bagaimana menjaga keamanan di lingkungan yang kompleks ini dan meningkatnya beban tim SecOps lantas menjadi perhatian utama. Tantangan cloud yang dihadapi oleh tim yang lebih tradisional berkisar dari jenis telemetri dan log hingga volume dan kurangnya kejelasan kasus penggunaan deteksi. Namun, masalah tersebut meningkat saat penggunaan diperluas dengan menyertakan banyak cloud. Situasi semacam ini dapat menimbulkan hambatan baru, karena cara menangani sesuatu di satu penyedia kemungkinan akan sama sekali berbeda di penyedia lainnya. Baca juga: 5 Tips Mempelajari Ekosistem Multicloud dan Peluang Kariernya Saat menggunakan multicloud, Anda harus memahami seperti apa cara kerja dengan satu penyedia terlebih dahulu. Ibaratnya, saat Anda perlu memperbaiki 3 buah mobil, maka sebelumnya Anda sudah harus tahu cara memperbaiki sebuah mobil. Pun demikian dengan multicloud.  Anda harus sudah paham betul dengan cara menggunakan cloud sebelum naik ke multicloud. Untuk mengatasi tantangan keamanan multicloud, Anda bisa menerapkan tips berikut ini: Pelajari lebih banyak cloud, bukan lebih sedikit, terlebih jika Anda menggunakan multicloud. Ini karena teknologi multicloud membutuhkan lebih banyak pengetahuan cloud, Anda tidak dapat mempelajari satu penyedia, kemudian menganggapnya selesai. Anda harus memahami perbedaannya agar dapat mengamankan beberapa lingkungan cloud sekaligus. Fokus pada pembelajaran manajemen cloud identity dan perbandingannya dengan fungsi layanan manajemen identitas tradisional Anda. Mulailah dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan di satu cloud, lalu lanjutkan dengan cloud lain yang Anda gunakan. Jelajahi di mana area ancaman berubah di lingkungan cloud saat Anda merencanakan aktivitas deteksi dan respons untuk memahami apakah deteksi tersebut masuk di cloud. Baca juga: Kemudahan Analisis Data Multicloud dengan BigQuery Omni Google Cloud menghadirkan diskusi rutin melalui akun Twitter mereka, @googlecloud. Melalui podcast bertajuk #MulticloudMindset, Anda dapat menyimak informasi mengenai keamanan cloud, pertimbangan dan tantangan utama yang dihadapi tim keamanan, dan beberapa praktik terbaik yang berguna untuk keamanan di lingkungan multicloud. Menggunakan teknologi cloud akan memudahkan Anda untuk mengembangkan perangkat lunak atau program tanpa harus terbatas dengan perangkat tertentu. Cukup dengan koneksi internet saja, Anda sudah bisa terhubung dengan progres pengembangan perangkat lunak, di mana pun dan kapan pun. Google Cloud menawarkan teknologi cloud tercanggih yang telah terjamin keamanannya untuk Anda. Dapatkan segera hanya di EIKON Technology, authorized reseller produk Google Cloud di Indonesia. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Cloud Computing, Google Cloud, Microsoft

Cara Memigrasikan Pengguna Active Directory Lokal ke Google Cloud Managed Microsoft AD

Salah satu manfaat migrasi cloud adalah akses ke layanan terkelola, yang dapat mengurangi biaya operasional. Untuk perusahaan yang beroperasi di lingkungan yang berpusat pada Microsoft, Google Cloud menawarkan Managed Service untuk Microsoft Active Directory yang berjalan di virtual machine (VM) Windows. Managed Microsoft AD memberikan manfaat seperti pembaruan server AD otomatis, pemeliharaan, konfigurasi keamanan default, dan tidak memerlukan manajemen hardware. Biasanya, saat memigrasikan objek Active Directory, pengguna yang sudah ada tidak dapat terus mengakses resources di domain baru, kecuali riwayat security identifier (SID) dipertahankan. Ini dapat menyebabkan pekerjaan tambahan bagi administrator karena izin harus dibuat ulang setelah migrasi. Agar migrasi lebih mulus, Google Cloud meluncurkan kapabilitas baru di Managed Microsoft AD, yakni dukungan untuk migrasi pengguna AD dengan riwayat SID. Kini, pengguna dapat mempertahankan entri Access Control List (ACL) historis sehingga pengguna dapat mengakses resources tanpa harus membuat ulang izin setelah migrasi. Langkah-langkah untuk memigrasikan pengguna AD lokal ke Managed Microsoft AD Untuk memulai, Anda dapat menggunakan Active Directory Migration Tool (ADMT) untuk memigrasikan domain AD lokal ke Managed Microsoft AD secara khusus dengan riwayat SID. 1. Persiapkan Active Directory dan Managed Microsoft AD lokal Anda Sebagai prasyarat untuk migrasi, pengguna harus menyiapkan two-way trust antara domain AD lokal yang ada dan domain Managed Microsoft AD yang baru. Baik pengguna individu maupun tim, dapat melakukan aktivitas migrasi. Saat tim terlibat, sebaiknya tambahkan anggota tim ke grup domain lokal di Managed Microsoft AD. Pengguna dapat terhubung ke domain Managed Microsoft AD dan menggunakan alat Active Directory standar seperti Active Directory Users and Computers (ADUC). Baca juga: Memanfaatkan Confidential Space untuk Kolaborasi Data di Google Cloud 2. Siapkan Google Compute Engine Virtual Machine dan ADMT Photo Credit: DCStudio (Freepik)Selanjutnya, install dan siapkan Microsoft Active Directory Migration Tool (ADMT) dan Microsoft SQL Server 2016 Express di Google Compute Engine Virtual Machine. Gabungkan VM ke domain Google Cloud Managed Microsoft AD. 3. Aktifkan izin pada Managed Microsoft AD Setelah pengguna menyiapkan Active Directory lokal dan Managed Microsoft AD, mereka dapat mengaktifkan izin yang diperlukan di Managed Microsoft AD untuk memigrasikan pengguna dengan riwayat SID. Gunakan perintah gCloud CLI berikut: gcloud beta active-directory domains migration enable DOMAIN_NAME \ –onprem-domains=SOURCE_DOMAIN_NAME \ –disable-sid-filtering-domains=SID_FILTERING_DOMAIN_NAME Setelah pengguna mengaktifkan izin, tambahkan grup lokal domain ke “Cloud Service Administrators” dan “Cloud Service Migrate SID Administrators” sehingga pengguna yang ditunjuk akan memiliki izin untuk Active Directory dengan riwayat SID. Baca juga: Migrasi Cloud dengan Google Cloud Migration Center 4. Konfigurasikan ADMT dan install layanan PES Untuk memigrasikan sandi dengan aman selama migrasi domain, pengguna harus menggunakan layanan Microsoft Password Export Server (PES). Sebelum install PES di domain lokal, buat kunci enkripsi di VM yang menjalankan ADMT. Gunakan perintah berikut untuk membuat kunci enkripsi: admt key /option:create /sourcedomain:[SOURCE_DOMAIN_NAME] /keyfile:[KEY_FILE_PATH] /keypassword:{[PASSWORD]} 5. Migrasikan pengguna AD ke Google Cloud Managed Microsoft AD Selanjutnya, migrasikan pengguna & grup AD beserta riwayat SID. Pengguna harus menggunakan User Account Migration Wizard di alat ADMT. Pilih opsi “Migrate user SIDs to target domain” di halaman Account Transition Options. Photo Credit: Google Cloud Blog Jendela proses migrasi akan menampilkan status berapa banyak pengguna, grup, dan komputer yang telah dimigrasikan. Anda dapat mengeklik “View Log” untuk memeriksa kesalahan pada log migrasi dan memeriksa detail operasi. Setelah proses migrasi selesai, verifikasi bahwa pengguna ada di domain Managed Microsoft AD menggunakan alat Active Directory Users and Computers. Pengguna juga dapat menggunakan login AD untuk memverifikasi bahwa akses diatur dengan benar. Baca juga: Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Sekarang proses migrasi objek AD selesai. Ini termasuk untuk pengguna beserta riwayat SID dari domain AD lokal ke domain Managed Microsoft AD yang baru. Setelah migrasi berhasil, sebaiknya nonaktifkan izin pengguna yang diaktifkan untuk migrasi. Google Cloud terus mengembangkan kapabilitas untuk memudahkan berbagai tugas kerja Anda. Manfaatkan ekosistem komputasi awan terkelola Cloud dengan berlangganan melalui EIKON Technology, authorized reseller Google untuk Indonesia. EIKON Technology menawarkan paket langganan komprehensif, mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Memanfaatkan Confidential Space untuk Kolaborasi Data yang Lebih Aman di Google Cloud

Google Cloud Next bulan Oktober 2022 lalu, beberapa fitur baru diperkenalkan, salah satunya adalah Confidential Space yang merupakan bagian dari Confidential Computing. Lewat fitur ini pengguna dapat melakukan tugas-tugas seperti analisis data gabungan dan pelatihan model machine learning (ML) dengan jaminan bahwa data yang mereka miliki tetap terlindungi. Confidential Space dapat membantu Anda berkolaborasi menggunakan data sensitif atau teregulasi secara aman. Sebelumnya, Google meluncurkan Confidential Virtual Machines (VMs), sebuah solusi perintis yang menjaga data terenkripsi saat sedang diproses. Ini membantu memastikan bahwa data Anda dienkripsi saat diam, dalam perjalanan, dan dalam memori tanpa memerlukan perubahan pada aplikasi atau kode Anda. Solusi ini bahkan sedang digunakan oleh perusahaan besar seperti AstraZeneca, Bullish, HashiCorp, hingga Matrixx Software, Cara kerja Confidential Space Google Cloud Photo Credit: Google Cloud Blog Dibangun di atas Confidential Computing, dan memanfaatkan pengesahan jarak jauh, Confidential Space menjalankan beban kerja di Trusted Execution Environment (TEE). Bersama dengan versi keras dari Container-Optimized OS (COS), kontributor data dapat memiliki kontrol atas bagaimana data mereka digunakan dan beban kerja mana yang berwenang atas data tersebut. Terakhir, Confidential Space memblokir operator agar tidak memengaruhi beban kerja dengan cara apa pun. Baca juga: Migrasi Cloud dengan Cerdas Menggunakan Google Cloud Migration Center Contoh pemanfaatan Confidential Space Photo Credit: Google Cloud Blog Dengan Confidential Space, perusahaan dapat memperoleh nilai timbal balik dari menggabungkan dan menganalisis data sensitif seperti personally identifiable information (PII), protected health information (PHI), kekayaan intelektual, hingga rahasia kriptografi, sambil tetap memegang kendali penuh. Kolaborasi ini dapat mengarah pada inovasi, layanan pelanggan yang lebih baik, dan pengembangan teknologi transformasional. Misalnya pada lembaga keuangan seperti bank dan agen asuransi. Mereka perlu berkolaborasi untuk mengidentifikasi penipuan atau mendeteksi aktivitas pencucian uang di seluruh kumpulan data pelanggan mereka. Confidential Space memungkinkan pengguna untuk dapat berbagi data meski sifatnya sangat sensitif. Confidential Space memastikan bahwa data hanya akan digunakan untuk deteksi penipuan tanpa mengusik kerahasiaan informasi. Baca juga: Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Anda Contoh lainnya pada perusahaan teknologi kesehatan dan medis. Confidential Space Google Cloud akan membantu mereka mempercepat pengembangan obat-obatan dan meningkatkan diagnostik menggunakan ML, tanpa mengorbankan data pasien atau mempertaruhkan ketidakpatuhan terhadap undang-undang privasi data. Begitu juga dengan institusi Web3 yang dapat menggunakan Confidential Space untuk mentransaksikan aset digital dengan aman dan instan. Mengandalkan multiparty computation (MPC), kolaborator terdistribusi dapat berpartisipasi dalam proses penandatanganan yang dapat diaudit. Pengesahan Confidential Space yang dapat diverifikasi dapat membantu memastikan bahwa semua kolaborator menyetujui tanpa mengekspos kunci penandatanganan pribadi mereka kepada pihak lain, termasuk operator platform. Pengembangan selanjutnya Confidential Space telah menambah daftar produk Google Cloud yang berkembang menggunakan Confidential Computing. Awal tahun 2022 ini, Google meluncurkan Confidential Google Kubernetes Engine (GKE) Nodes untuk umum dan memperluas fleksibilitas Confidential VMs ke jenis instance baru. Selain itu, Google Cloud Security dan Google Project Zero bermitra dengan firmware AMD dan tim keamanan produk dalam audit keamanan mendalam terhadap teknologi AMD yang mendukung Confidential Computing. Secara default, Google Cloud menyimpan semua data terenkripsi, dalam perjalanan antara pelanggan dan pusat data mereka. Confidential Computing dapat memperluas privasi data dengan melindungi kerahasiaan data Anda dan menjaganya tetap terenkripsi meskipun sedang diproses. Baca juga: Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi ke Google Cloud Confidential Space memungkinkan Anda untuk berkolaborasi dengan data yang sifatnya sensitif sekalipun tanpa harus mengorbankan keamanan dan kerahasiannya. Layanan ini akan bekerja optimal dengan solusi komputasi awan Google Cloud yang bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Selain menghadirkan produk resmi berlisensi, kami juga menawarkan prosedur implementasi komprehensif guna memastikan penerapan solusi yang aman dan bebas gangguan. Untuk memulai implementasi Google Cloud Anda, silakan klik di sini  

Google Cloud

Migrasi Cloud dengan Cerdas Menggunakan Google Cloud Migration Center

Pada tahun 2022 ini, semakin banyak perusahaan yang mengadopsi cloud publik guna mendapatkan hasil bisnis dan lingkungan TI yang lebih baik. Namun, migrasi ke cloud adalah tantangan kompleks yang melibatkan pemahaman keadaan infrastruktur dan aplikasi saat ini untuk menentukan seperti apa keadaan masa depan dan apa yang diperlukan untuk mencapainya. Belum lagi, proses migrasi cloud melibatkan banyak pemangku kepentingan, alat, proses, dan mitra implementasi. Google Cloud menghadirkan Migration Center, sebuah platform yang menyatukan semua alat perencanaan, migrasi, dan modernisasi mereka. Dibangun di atas fondasi data baru yang skalabel dan dapat diperluas, Migration Center menyediakan jaringan penghubung antara antarmuka pengguna dan API untuk Google Cloud atau alat penemuan, analisis, perencanaan, dan migrasi yang disediakan oleh mitra. Hadirkan pengalaman migrasi yang lebih cepat Dengan hadirnya Migration Center, Anda kini dapat melakukan migrasi dengan cepat, bahkan untuk lingkungan yang kompleks. Google Cloud pun telah menyediakan kapabilitas penemuan dan penilaian melalui layanan Rapid Assessment & Migration Program (RAMP), sehingga Anda bisa mendapatkan inventaris lengkap mengenai rencana migrasi cloud. Layanan ni bahkan mampu mengidentifikasi lokasi dan redundansi yang dapat dipotong. Baca juga: Kolaborasi Google Cloud dan RAMP untuk Percepatan Migrasi Cloud Dilengkapi hasil kolaborasi dengan mitra desain Photo Credit: DilokaStudio (Freepik) Google Cloud Migration Center juga menghadirkan layanan hasil kolaborasi dengan mitra global dan regional seperti Accenture, HCL, Maven Wave, SADA, Thoughtworks, dan Tata Consultancy Services. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses adopsi Google Cloud sekaligus mempermudah end-user untuk melakukan migrasi beban kerja berat ke penyimpanan awan. Beberapa layanan unggulan Google Cloud Migration Center Untuk saat ini (Oktober 2022), Migration Center masih dalam tahap Preview. Meski begitu, Anda sudah bisa menikmati beberapa layanan unggulannya seperti: Portal satu atap yang terintegrasi dengan konsol untuk semua kebutuhan migrasi dan modernisasi. Prediksi cepat untuk menjalankan beban kerja Anda di Google Cloud dengan masukan pengguna yang minimal. Prediksi ini akan mencakup ukuran yang akurat dan campuran yang tepat dari infrastruktur Google Cloud dan dibuat berdasarkan asumsi yang dapat diedit dari migrasi pelanggan yang sebenarnya. Inisiasi penemuan dan penilaian yang lebih mudah dengan laporan dalam konsol untuk inventaris aset, memberikan wawasan dan rekomendasi jalur terbaik untuk bermigrasi ke VM, container, database, hardware khusus, dan layanan terkelola. Dokumentasi panduan preskriptif berdasarkan praktik terbaik untuk perencanaan dan pelaksanaan migrasi, yang disaring dari prosedur migrasi yang telah dilakukan oleh Google Professional Services. Launchpad eksekusi migrasi untuk memulai migrasi Anda yang sebenarnya dengan alat yang telah terbukti, seperti Migrate to Containers, Database Migration Service, dan Migrate to Virtual Machines. Permukaan API umum bagi pelanggan dan mitra untuk memungkinkan integrasi ekosistem. Baca juga: Alur Sederhana untuk Merencanakan Migrasi Cloud Proses migrasi ke VM yang aman dan mulus Photo Credit: rawpixel.com (Freepik) Migration Center memungkinkan Anda untuk melakukan migrasi ke VM (Virtual Machines) dengan andal dan dapat diskalakan. Layanan ini juga memiliki kapabilitas untuk memigrasikan aplikasi besar sambil memenuhi persyaratan downtime yang ketat. Kapabilitas ini berjalan di ekosistem Google Cloud sehingga keamanannya pun terjamin. Pembaruan RAMP Baru-baru ini Google Cloud juga menghadirkan pembaruan untuk RAMP, kerangka kerja holistik yang didasarkan pada analisis TCO (Total Cost of Ownership) dan ROI (Return on Investment) pelanggan. Layanan ini sekarang dilengkapi dengan paket penilaian dan konsumsi baru yang dikirimkan melalui ekosistem mitra Cloud yang telah menyelesaikan spesialisasi migrasi mereka. Selain itu, Cloud juga meluncurkan Customer Onboarding Program untuk membantu Anda dalam melakukan migrasi beban kerja yang memenuhi syarat dari Technical Onboarding Center. Program ini bisa Anda ikuti secara gratis. Baca juga: Tips Optimalkan Penggunaan Active Assist untuk Migrasi ke Google Cloud Hadirnya Migration Center diharapkan dapat membantu pelanggan dalam melakukan migrasi dan modernisasi komputasi awan. Dengan begitu, Anda pun dapat mengurangi biaya, waktu, dan energi saat menjalankan proyek migrasi. Awali perjalanan Anda dengan komputasi awan bersama EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google untuk Indonesia, EIKON Technology menyediakan produk Google Cloud resmi berlisensi. Kami juga memberikan layanan komprehensif mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan solusi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Inovasi Baru Google Sambut Era Baru Desain Sistem, Lebih Andal dan Aman

Belakangan ini, permintaan terhadap komputasi tumbuh begitu pesat hingga nyaris tak terpenuhi. Pada waktu yang sama, peningkatan kinerja CPU, konsumsi daya, memori, dan efisiensi biaya penyimpanan cenderung stagnan. Hambatan ini semakin diperburuk oleh tantangan baru dalam keandalan dan keamanan. Google menanggapi tantangan tersebut dengan menghadirkan inovasi desain sistem di seluruh lapisan, mulai dari akselerator silikon baru (IPU, VCU, dan TPU), hardware baru, infrastruktur pusat data, hingga solusi komputasi awan. Pada gelaran Open Compute Project (OCP) Global Summit 19 Oktober 2022 lalu, Google memperkenalkan dukungan terhadap ekosistem open hardware guna menyambut era baru desain sistem. Berikut adalah beberapa kontribusi utamanya. Desain server Google membagikan visi untuk server “multi-brain” di masa depan, mengubah desain server tradisional menjadi sistem terdistribusi terpilah yang lebih modular di seluruh komputasi host, akselerator, tray ekspansi memori, unit pemrosesan infrastruktur, dan sebagainya. Inovasi ini merupakan kerja sama Google dengan seluruh mitra OCP mereka, mulai dari hardware dengan DC-MHS, manajemen standar dengan OpenBMC dan RedFish, root of trust standar, dan antarmuka standar termasuk CXL, NVMe, dan seterusnya. Baca juga: Update Fitur Google Cloud Deploy: Pemanfaatan di Lingkungan GKE Makin Mudah? Komputasi tepercaya Photo Credit: DCStudio (Freepik) Root of trust adalah bagian penting dari sistem masa depan. Google memiliki tradisi memberikan kontribusi untuk keamanan yang transparan dan terbaik di kelasnya, termasuk solusi keamanan terpisah OpenTitan. Bersama dengan perusahaan teknologi terkemuka seperti AMD, Microsoft, dan NVIDIA, Google meluncurkan Caliptra, blok IP yang dapat digunakan kembali untuk pengukuran root of trust, ke OCP. Baca juga: 3 Fitur Security and Compliance di Google Cloud Logging yang Wajib Anda Ketahui Keberlanjutan Terakhir, Google juga mengumumkan dukungan untuk inisiatif baru dalam OCP guna mendukung keberlanjutan lingkungan sebagai prinsip utama di seluruh ekosistem. Google telah menjadi yang terdepan dalam kelestarian lingkungan selama bertahun-tahun. Raksasa teknologi ini telah menerapkan carbon neutral sejak tahun 2007, menggunakan 100% energi terbarukan sejak 2017, dan memiliki tujuan ambisius untuk mencapai emisi nol bersih di semua operasi dan rantai nilai pada tahun 2030 nanti. Sebagai penyedia cloud terbersih di industri ini, Google juga telah membantu pelanggan melacak dan mengurangi jejak karbon mereka dan mencapai penghematan energi yang signifikan. Praktik keberlanjutan tersebut kini hadir di OCP dengan pengukuran yang telah terstandarisasi. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Pengumuman ini adalah contoh terbaru dari sejarah Google dalam membina ekosistem hardware yang terbuka dan berbasis standar. Ekosistem terbuka memungkinkan pasar produk yang beragam, dengan kelincahan, dan peluang yang strategis terhadap inovasi. Ekosistem open-source Google bersifat multidimensi: mendorong standarisasi dan adopsi industri, kontribusi komunitas yang kuat dan beragam untuk menumbuhkan ekosistem, serta kebijakan luas dan kepemimpinan organisasi serta berbagi praktik terbaik. Photo Credit: DCStudio (Freepik) Kembangkan sistem desain di perusahaan Anda dengan ekosistem hardware Google yang terbuka dan standar. Mulai langkah baru Anda dengan berlangganan solusi komputasi awan Google Cloud melalui EIKON Technology yang merupakan authorized reseller produk-produk Google. EIKON Technology menyediakan produk resmi berlisensi yang didukung dengan prosedur penerapan mulus bebas hambatan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi kami di sini!

Google Cloud

Penyempurnaan Infrastruktur Google Cloud untuk Menyesuaikan Beban Kerja Anda

Selama ini infrastruktur cloud fokus pada kecepatan mentah dan feed blok penyusun seperti VM, container, jaringan, dan penyimpanan. Google Cloud merancang infrastruktur khusus, arsitektur preskriptif, dan ekosistem untuk menghadirkan infrastruktur yang dioptimalkan untuk beban kerja. Berikut adalah penjelasan untuk beberapa di antaranya, mari simak bersama. Blok pembangun infrastruktur untuk beban kerja yang mengutamakan cloud Untuk sebagian besar proyek baru, pengembang lebih memilih beban kerja yang dioptimalkan cloud-first, dan hampir setengah dari semua pengembang menggunakan container saat ini. Google Kubernetes Engine (GKE) adalah layanan pengelolaan container otomatis dan skalabel di pasaran saat ini, dan dengan GKE Autopilot, pengembang dapat memulai lebih cepat daripada penyedia cloud terkemuka lainnya. Mengubah beban kerja tradisional Photo Credit: DCStudio (Freepik) Tidak semua beban kerja lahir di cloud. Google Cloud menawarkan berbagai program dan kemampuan untuk membantu mengoptimalkan beban kerja tradisional untuk era cloud baru, terlepas dari apakah Anda ingin memigrasikannya apa adanya, melakukan pengoptimalan ringan, atau memodernisasi dan mentransformasikan sepenuhnya: Migration Center (kini dalam Pratinjau): Untuk perusahaan yang ingin bermigrasi ke cloud dan mengubah bisnis mereka, Migration Center dapat mengurangi kerumitan, waktu, dan biaya dengan menyediakan pengalaman migrasi dan modernisasi terintegrasi. Ini menyatukan alat penilaian, perencanaan, migrasi, dan modernisasi di satu lokasi terpusat dengan platform data bersama sehingga Anda dapat bekerja lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih mudah. Google Cloud VMware Engine: Google Cloud adalah mitra VMware pertama yang memasarkan dengan dukungan VMware Cloud Universal, menyederhanakan migrasi VM VMware lokal ke VMware Engine di cloud. Dengan SLA ketersediaan 99,99% yang terdepan di pasar cloud dalam satu situs, VMware Engine telah membantu perusahaan besar pindah ke Google Cloud. Dual Run for Google Cloud (kini dalam Pratinjau): Solusi ini membantu menghilangkan banyak risiko umum yang terkait dengan modernisasi mainframe dengan memungkinkan pelanggan menjalankan beban kerja secara bersamaan pada mainframe mereka yang ada dan versi modern mereka di Google Cloud. Ini berarti pelanggan dapat melakukan pengujian real-time dan dengan cepat mengumpulkan data tentang kinerja dan stabilitas tanpa gangguan pada bisnis mereka. Google Cloud Workload Manager (kini dalam Pratinjau untuk beban kerja SAP, dan tersedia di Google Cloud Console): Menyediakan analisis otomatis sistem perusahaan Anda di Google Cloud untuk membantu meningkatkan kualitas, keandalan, dan kinerja sistem. Google Cloud Workload Manager mengevaluasi beban kerja SAP Anda dengan mendeteksi penyimpangan dari standar yang didokumentasikan dan praktik terbaik untuk membantu mencegah masalah secara proaktif. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud sebagai Pengamanan Tambahan bagi Developer Melindungi beban kerja Photo Credit: pressfoto (Freepik) Pada tahun 2022 ini Google Cloud telah memperluas jumlah region yang didukung dengan bucket dua region (GA) Cloud Storage, sehingga Anda dapat memastikan bahwa seluruh beban kerja terlindungi. Jika terjadi pemadaman, aplikasi Anda dapat dengan mudah mengakses data di wilayah alternatif. Anda juga dapat menambahkan replikasi Turbo (GA) dengan bucket dua wilayah. Replikasi turbo didukung oleh SLA Recovery Point Objective (RPO) 15 menit. Selain itu, Google Cloud juga baru-baru ini mengumumkan layanan Backup and DR (GA). Layanan ini adalah solusi perlindungan data terintegrasi untuk aplikasi dan database penting yang memungkinkan Anda mengelola kebijakan perlindungan data dan pemulihan bencana secara terpusat langsung di dalam Google Cloud Console, dan sepenuhnya melindungi database dan aplikasi hanya dengan beberapa klik saja. Baca juga: Google Cloud Backup and DR, Apa Keunggulannya? Optimalkan biaya Beban kerja pelanggan memerlukan opsi teknis dan komersial yang dapat memberikan pengembalian terbaik atas investasi mereka. Berikut adalah beberapa peningkatan baru yang dapat membantu: Flex CUD (segera hadir): Flex CUD (Flexible Committed Use Discounts) membantu Anda menghemat hingga 46% dari harga VM Compute Engine sesuai permintaan, dengan imbalan komitmen satu atau tiga tahun. Seperti CUD standar, Anda dapat menerapkan Flex CUD di seluruh project dalam akun penagihan yang sama, ke VM dengan ukuran berbeda, dan di seluruh sistem operasi. Batch: Layanan terkelola sepenuhnya yang membantu Anda menjalankan tugas batch dengan mudah, andal, dan dalam skala besar. Tanpa harus install perangkat lunak tambahan apa pun, Batch secara dinamis dan efisien mengelola penyediaan sumber daya, penjadwalan, antrean, dan eksekusi, membebaskan Anda untuk fokus menganalisis hasil. Tidak ada biaya untuk menggunakan Batch, dan Anda hanya perlu membayar sumber daya yang digunakan untuk menyelesaikan tugas. Baca juga: Update Fitur Google Cloud Deploy: Pemanfaatan di Lingkungan GKE Makin Mudah? Ini hanya beberapa contoh dari banyak cara yang dihadirkan Google Cloud untuk membantu Anda mengelola beban kerja. Google Cloud terus berusaha untuk menjadi ‘cloud infrastruktur terbuka’ yang paling intuitif untuk digunakan karena semuanya dirancang berdasarkan beban kerja Anda, memberikan manfaat TCO (Total Cost of Ownership) yang luar biasa. Nikmati segala manfaat di atas dengan berlangganan solusi komputasi awan dari Google Cloud melalui EIKON Technology. Sebagai authorized partner Google, EIKON Technology menyediakan produk resmi berlisensi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Cloud

Google Cloud Deploy Memperkenalkan Verifikasi Pasca Deployment

Google Cloud Deploy memperkenalkan fitur baru yang disebut deployment verification. Dengan fitur ini, pengembang dan operator dapat mengatur dan menjalankan pengujian pasca penerapan tanpa harus melakukan integrasi pengujian yang lebih ekstensif. Laporan State of DevOps tahun 2021 menunjukkan bahwa pengujian berkelanjutan adalah penentu utama dari keberhasilan pengiriman berkelanjutan. Dengan menggabungkan pengujian awal dan rutin selama proses pengiriman, serta penguji yang bekerja bersama pengembang, tim dapat mengulangi dan membuat perubahan pada produk, layanan, atau aplikasi mereka dengan lebih cepat. Bagaimana dengan melakukan pengujian pasca pengiriman untuk menentukan apakah kondisi tertentu terpenuhi guna validasi penerapan lebih lanjut? Bagi sebagian besar pengguna, kemampuan untuk menjalankan tes ini tetap penting bagi bisnis mereka dan merupakan kemampuan yang banyak dibutuhkan dari alat pengiriman berkelanjutan. Fitur baru ini bergantung pada fase Skaffold baru bernama “verify”, fase ini memungkinkan pengembang dan operator untuk menambahkan daftar wadah uji untuk dijalankan pasca penerapan dan dipantau untuk keberhasilan/kegagalan. Cara menggunakan Artikel ini menggunakan python-hello-world dari Cloud Code Samples untuk menunjukkan cara kerja deployment verification. Dengan pemicu Cloud Build, file yang dikonfigurasi, dan Cloud Deploy Pipeline yang telah dibuat, Anda bisa mulai mencoba fitur verifikasi pasca penerapan. Pertama, Anda perlu memodifikasi skaffold.yaml untuk memasukkan fase verifikasi baru: Photo Credit: Google Cloud Blog Kemungkinan untuk menggunakan image container apa pun (baik container yang berdiri sendiri atau dibuat oleh Skaffold) memberi pengembang fleksibilitas melakukan pengujian sederhana hingga skenario yang lebih kompleks. Dalam contoh ini, mari coba gunakan ‘wget‘ untuk memeriksa apakah halaman “/ hello” ada dan apakah sudah aktif (http 200 response). Meskipun Anda dapat menggunakan probe kesiapan Kubernetes untuk memeriksa apakah aplikasi/pod siap menerima permintaan, fitur Cloud Deploy yang baru ini memungkinkan pengguna untuk melakukan pengujian terkontrol yang telah ditentukan sebelumnya. Baca juga: Google Cloud Backup and DR, Apa Keunggulannya? Sekarang mari lihat clouddeploy.yaml. Verifikasi pasca penerapan dapat digunakan untuk target yang berbeda berdasarkan profil Skaffold yang berbeda, dalam kasus target ‘dev‘, juga perlu konfigurasi target yang ingin diverifikasikan penerapannya. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah perubahan ini, Anda bisa langsung memicu proses CI/CD menggunakan ‘gcloud builds submit‘ atau mendorong kode ke repo sumber untuk memicu Cloud Build. Setelah fase build (juga dikenal sebagai Continuous Integration), Cloud Build akan membuat rilis Google Cloud Deploy dan menerapkannya melalui pipeline pengiriman yang ditentukan ke target ‘dev‘. Baca juga: Cara Menunda Notifikasi Monitoring Melalui Cloud Alerting Google Cloud Untuk memeriksa status penerapan, buka Cloud Deploy lalu navigasikan ke pipeline pengiriman dan klik rilis terakhir di daftar rilis. Pada halaman detail rilis, pilih peluncuran terakhir dari daftar peluncuran. Photo Credit: Google Cloud Blog Tangkapan layar di atas menunjukkan verifikasi penempatan pos berhasil. Anda dapat mengeklik log verifikasi untuk melihat detailnya. Jika alamat verifikasi ‘wget’ di skaffold.yaml diubah dan prosesnya dijalankan kembali, Anda bisa langsung melihat apa yang terjadi ketika verifikasi gagal. Photo Credit: Google Cloud Blog Saat verifikasi penerapan gagal, peluncuran juga akan gagal Semua uji verifikasi penerapan harus lulus. Jika uji verifikasi penerapan gagal, peluncuran juga gagal. Namun, Anda masih bisa menjalankan kembali verifikasi pasca penerapan untuk peluncuran yang gagal. Anda juga dapat menerima pemberitahuan Pub/Sub saat verifikasi dimulai dan diselesaikan. Baca juga: Memanfaatkan Google Cloud sebagai Pengamanan Tambahan bagi Developer Halaman tutorial Google Cloud Deploy kini telah diperbarui dengan panduan verifikasi penerapan. Tutorial interaktif ini akan memandu Anda melalui langkah-langkah untuk menyiapkan dan menggunakan layanan Google Cloud Deploy. Pipeline ini mencakup verifikasi penerapan otomatis, yang menjalankan pemeriksaan pada setiap tahap untuk menguji keberhasilan aplikasi. Hadirnya fitur baru ini kembali menunjukkan kapabilitas Google Cloud sebagai dukungan untuk proyek pengembangan aplikasi. Dapatkan segera Google Cloud untuk proyek pengembangan aplikasi Anda hanya di EIKON Technology, authorized reseller Google. Kami menawarkan solusi menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Scroll to Top