EIKON Technology

Info

Info

Membangun Industri Manufaktur Berbasis Digital dengan SAP Google Cloud

  Pesatnya perkembangan digital membuat industri manufaktur harus menghadapi banyak tantangan, mulai dari besarnya biaya operasional hingga meningkatnya ekspektasi pelanggan. Kabar baiknya, berbagai tantangan tersebut tidak mustahil untuk diatasi selama ada data bisnis. Terlebih, kini umumnya perusahaan manufaktur telah menerapkan System Application and Product in Data Process (SAP) yang memang fokus pada pengolahan data. Namun, analisis data saja belumlah cukup untuk membangun industri manufaktur berbasis digital yang mampu meningkatkan produksi, meminimalisir masalah, dan jeli menemukan peluang. Agar bisa menghasilkan data yang lebih mendalam, perusahaan manufaktur perlu menggabungkan data SAP dengan data dari machine learning (ML). Caranya adalah melalui integrasi antara aplikasi SAP perusahaan dengan kemampuan ML, artificial intelligence (AI), dan analitik data dari Google Cloud. Kombinasi SAP Google Cloud mendukung percepatan digitalisasi perusahaan manufaktur. Migrasi ke sistem cloud dengan risiko minim Photo Credit: Science in HD (Unsplash) Bagi perusahaan manufaktur yang telah mengadaptasi SAP, Anda pasti paham betapa rumit prosesnya. Karenanya, wajar jika Anda merasa khawatir untuk melakukan integrasi SAP dengan Google Cloud. Bagaimana jika prosesnya lebih rumit dan memakan banyak waktu? Tenang saja, layanan Google Cloud dirancang dengan proses yang sederhana dan dilengkapi sistem keamanan mumpuni. Jika ingin mempercepat proses integrasi, Anda bisa menggunakan template otomatis SAP Google Cloud yang telah disediakan dan mengonsolidasi data SAP dalam cloud. Semua hal tersebut telah tergabung dalam Cloud Acceleration Program untuk para pengguna SAP. Menyediakan solusi migrasi bersifat pre-built, proses integrasi SAP Google Cloud pun bisa berjalan secara lebih efisien dan minim risiko. Manajemen dan integrasi data secara lebih efisien Photo Credit: Christino Morillo (Pexels) Dengan menjalankan SAP pada Google Cloud, Anda dan tim di perusahaan manufaktur dapat memanfaatkan layanan penyimpanan data yang fleksibel tanpa harus mengeluarkan biaya untuk perawatan infrastrukturnya. Nantinya, Anda tak hanya bisa mendapatkan insight berdasarkan riwayat data, tapi juga dari data-data yang bersifat real-time. Jika ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal, gabungkan pula data-data tersebut dengan sinyal data dari perangkat Google Cloud, misalnya maps, shopping, dan weather. Dengan begini, perusahaan manufaktur dapat memperoleh insight mendalam atas berbagai faktor penting dalam proses bisnis, mulai dari perencanaan hingga kebutuhan konsumen. Analitik data dilengkapi teknologi machine learning Photo Credit: Brett Sayles (Pexels) Dalam menyimpan dan mengolah data, Google juga memanfaatkan BigQuery, warehouse analisis data tanpa server yang dirancang dengan sistem scalable. Artinya, Anda bisa terus menyesuaikan pemakaian Google BigQuery sesuai kebutuhan sehingga membantu efisiensi biaya pengeluaran. Google BigQuery mampu menganalisis data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, termasuk sistem SAP Google Cloud, untuk menghasilkan insight yang mendalam. Bahkan Anda juga bisa mendapatkan prediksi tren dengan memanfaatkan Cloud AutoML yang dilengkapi dengan teknologi machine-learning. Dengan prediksi tren, perusahaan manufaktur dapat mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif terhadap masa depan bisnis. Contohnya untuk membantu meningkatkan hasil produksi, mengurangi keterlambatan produksi, dan sebagainya. Sudah saatnya industri manufaktur meningkatkan intensitas digitalisasi dalam pekerjaan sehari-hari. Menerapkan integrasi SAP Google Cloud merupakan solusi yang tepat. Sebagai langkah awal, pastikan Anda lebih dulu berlangganan Google Cloud melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Untuk mempermudah migrasi ke Google Cloud, Anda bisa berkonsultasi dengan tim EIKON Technology. Klik di sini untuk mempelajari lebih jauh tentang Google Cloud atau langsung saja hubungi EIKON Technology! 

Info

Mengelola Chrome Extensions Melalui Group Policy bagi User Windows

  Demi mendukung produktivitas harian, terutama yang berkaitan dengan aktivitas online browsing, banyak perusahaan memasang extensions atau fungsi tambahan pada browser Google Chrome mereka. Seiring dengan kebutuhan kerja yang meningkat, jumlah Chrome extensions yang dipasang pun ikut bertambah. Nah, banyaknya extensions tersebut kerap berujung pada kesulitan untuk mengelolanya. Terlebih, terkadang ada beberapa extensions tertentu yang dapat mengakses data secara lebih mendalam pada situs-situs yang Anda kunjungi. Sebagai pihak yang biasanya ditunjuk menjadi admin Chrome untuk kebutuhan korporasi, IT perusahaan pun membutuhkan solusi agar mereka bisa memonitor extensions secara lebih intens. Google sebetulnya telah memiliki Chrome Browser Cloud Management sebagai cara paling mudah untuk mengelola extensions. Masalahnya, tidak semua pengguna memakai sistem Chrome OS, yang memang hanya ada pada perangkat Chromebook. Beberapa pengguna, mungkin termasuk Anda, masih harus menggunakan Group Policy pada Windows untuk mengelola extensions. Berikut adalah beberapa opsi yang paling sering dipilih untuk mengelola Chrome extensions melalui Group Policy. Cara memasang Chrome extensions  Photo Credit: cottonbro (Pexels) Terkait pemasangan extensions pada Chrome, Anda perlu mengetahui sejumlah opsi yang kerap dipakai oleh para pengguna. Cek beberapa di antaranya berikut ini:   Extension Install Allow List – Daftar extensions yang telah Anda setujui untuk di-install atau dipasang pada browser Anda. Extension Install Force List – Mengesampingkan kebijakan daftar blokir, extensions tidak dapat dinonaktifkan sepenuhnya saat dicopot pemasangannya. Extension Install Sources – Kebijakan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan fungsi pemasangan terdahulu pada beberapa URL tertentu yang telah Anda sebutkan dalam kebijakan. Extension Allowed Types – Daftar extensions yang Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Extensions yang tidak disebutkan dalam daftar ini tidak akan bisa terpasang.   Cara memblokir Chrome extensions Photo Credit: Luca Sammarco (Pexels) Demi alasan keamanan dan privasi, kemungkinan akan ada beberapa Chrome extensions yang harus Anda blokir agar tidak dipasang oleh karyawan perusahaan. Setidaknya ada dua kebijakan dalam Group Policy yang mengatur tentang hal ini, yaitu:   Extension Install Block List – Daftar extensions yang tidak akan Anda izinkan untuk dipasang pada browser. Jika seandainya extension tersebut telah terpasang, maka akan dinonaktifkan. Apabila ada karyawan atau pengguna yang tetap berusaha memasangnya, maka extension pun segera diblokir. Tombol Add to Chrome pada Chrome web store akan berubah warna menjadi merah sebagai tanda bahwa suatu extension tidak bisa dipasang. Block External Extensions – Pengaturan ini akan memblokir extensions dari sumber eksternal yang sedang dipasang. Contohnya, jika suatu aplikasi yang telah terpasang ternyata menambah extensions pada Chrome, maka extensions tersebut akan segera diblokir dari proses pemasangan.   Pengaturan lain yang lebih advanced Photo Credit: Arnold Francisca (Unsplash) Selain beberapa pengaturan di atas, sebetulnya masih ada sejumlah jenis pengaturan dengan fungsi lain yang lebih advanced atau membutuhkan keahlian lebih. Anda perlu menggunakan script JSON sehingga penerapannya pun relatif lebih rumit. Beberapa fungsi yang dapat Anda gunakan dalam kebijakan satu ini adalah: Mencegah beberapa extensions tertentu agar berhenti berfungsi pada situs-situs tertentu. Menampilkan pesan custom pada pengguna untuk memberi tahu bahwa suatu extension telah diblokir. Memperbolehkan pemasangan extensions atau melakukan pemblokiran dengan memberikan izin atau akses khusus.   Bagi yang ingin mengaktifkan pengaturan bersifat advanced pada Chrome extensions, tapi tidak familiar dengan script JSON, Google menyarankan Anda untuk menggunakan Chrome Browser Cloud Management. Hampir seluruh fungsi dan pengaturan Chrome extensions di sana tidak membutuhkan penulisan script JSON. Namun, untuk itu, Anda juga perlu beralih menggunakan perangkat bersistem Chrome OS, Chromebook. Tenang saja, Anda bisa mendapatkannya dengan mudah melalui partner resmi produk Google di Indonesia, EIKON Technology.  Menyediakan beragam tipe perangkat Chromebook dari berbagai merek, Anda pun bisa memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang agar tidak kehabisan!

Info

Meningkatkan Privasi dan Keamanan Google Chrome Extension

  Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 250.000 extension tersedia di web store Google Chrome? Bertujuan untuk meningkatkan pengalaman para pengguna dalam mengakses Google Chrome, tidak mengherankan jika setiap harinya ada sekitar empat juta extension yang diunduh. Terdapat berbagai cara untuk meningkatkan privasi dan keamanan Google Chrome Extension. Agar Anda dan pengguna lain bisa memiliki pengalaman optimal saat browsing di Google Chrome, Google selalu memastikan agar extension tersebut memenuhi kriteria privasi dan keamanan yang telah ditetapkan. Pada 2021 ini, Google Chrome extension kembali mengalami peningkatan privasi dan keamanan melalui berbagai penyesuaian. Informasi penggunaan data yang lebih transparan Photo Credit: Google Salah satu bentuk update privasi dan keamanan yang diberikan pada Google Chrome extension adalah peningkatan transparansi. Google telah menyesuaikan kebijakan bagi para developer untuk meningkatkan transparansi pada extensions yang mereka buat. Sejak 18 Januari 2021 lalu, setiap extension diwajibkan untuk menampilkan kebijakan privasi (privacy practice) secara publik. Dalam visual yang jelas dan bahasa yang mudah dimengerti, kebijakan tersebut harus menjelaskan bagaimana extension mengumpulkan dan memakai data milik para pengguna. Tak hanya itu, kini pihak pengembang atau developer extension juga tak bisa menggunakan data pengguna seenaknya karena Google telah menerapkan sejumlah pembatasan baru. Pengguna punya kontrol lebih terhadap data pribadi Photo Credit: Glenn Carstens-Peters (Unsplash) Per 2021 ini, Google Chrome  mengalami perubahan terkait akses data dan izin pengunduhan. Berkat adanya update tersebut, kini Anda sebagai pengguna bisa punya kontrol lebih terhadap data pribadi. Anda berhak menentukan website mana saja yang yang datanya bisa diakses Google Chrome extension saat Anda browsing.  Setelah Anda memberikan akses atau izin kepada extension untuk mengakses data pada website tertentu, pengaturan ini dapat Anda simpan untuk domain tersebut. Bagi yang ingin memberikan akses extension kepada seluruh website yang dikunjungi, Anda juga tetap bisa melakukannya. Namun, kabar baiknya, hal tersebut bukan lagi menjadi sebuah pengaturan default. Update terkait peningkatan kontrol pengguna ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari inisiatif yang telah dilakukan Google tahun lalu. Pada 2020, Google menambahkan ikon bergambar puzzle untuk extension pada menu Toolbar. Fitur ini sejak awal dirancang untuk memberikan kontrol lebih kepada pengguna dalam memberikan akses data website kepada Google Chrome extension. Proteksi lebih melalui Enhanced Safe Browsing Photo Credit: Google Selain kedua update di atas, Google juga melakukan peningkatan privasi dan keamanan extension melalui Google Safe Browsing. Pertama kali diluncurkan pada 2007, Google Safe Browsing telah membantu Chrome dalam mendeteksi extension yang berbahaya sebelum ditampilkan pada Chrome Web Store. Pada 2021 ini, Google Safe Browsing dirancang untuk mampu memberikan lebih banyak proteksi melalui update bernama Enhanced Safe Browsing. Fitur ini bahkan dapat memberikan perlindungan keamanan secara real-time. Saat Anda mengaktifkan mode Enhanced Safe Browsing dan mengunjungi website berpotensi berbahaya, Chrome akan mengecek website tersebut dengan Safe Browsing secara real-time. Lalu, jika Anda sign in ke Chrome, data URL real-time Anda akan terhubung secara sementara dengan akun Google. Dengan begini, Enhanced Safe Browsing dapat mengidentifikasi adanya ancaman siber seperti phishing dan malware yang menarget Anda melalui produk-produk Google lainnya seperti Gmail dan Drive. Keamanan menjadi salah satu faktor penentu pengalaman Anda dalam menggunakan Google Chrome. Berbagai peningkatan pun rutin dilakukan demi memastikan agar Anda selalu memiliki pengalaman terbaik selama browsing melalui Chrome. Akan lebih baik lagi jika Anda melakukan hal tersebut dengan memakai perangkat Chromebook. Berbasis sistem Chrome OS, Chromebook menggunakan Google Chrome sebagai default browser. Alhasil, sejak awal pun privasi dan keamanan Anda selalu dilindungi. Namun, pastikan Anda hanya membeli perangkat Chromebook melalui partner resmi produk Google seperti EIKON Technology. Hubungi sekarang juga!   Meta desc: Agar pengguna bisa browsing dengan maksimal di Google Chrome, berbagai peningkatan privasi dan keamanan pun diberikan pada Google Chrome extension.  

Info

Cegah Ancaman dan Penyalahgunaan, Google Workspace Tingkatkan Sistem Keamanan

    Google Workspace tidak hanya dirancang untuk menunjang produktivitas harian, tapi juga agar bisa digunakan secara aman. Update sistem keamanan dilakukan secara rutin untuk melindungi pengguna dari potensi ancaman dan penyalahgunaan pihak tak bertanggung jawab. Dengan begitu, admin IT pun bisa memiliki kontrol penuh untuk mencegah terjadinya pembobolan keamanan pada sistem Google Workspace perusahaan. Mewujudkan hal tersebut, sejumlah fitur keamanan pun telah ditambahkan dalam Google Workspace pada pertengahan Mei 2021 lalu. Optimalisasi sistem Alert Center dengan pemasangan VirusTotal Photo Credit: Google Cloud Sistem keamanan Google Workspace telah dibekali dengan Alert Center, yang akan memberikan notifikasi real-time kepada admin IT jika ditemukan aktivitas janggal pada domain Google Workspace perusahaan. Melalui update keamanan edisi kali ini, Google mengoptimasi Alert Center dengan menambahkan program bernama VirusTotal. Berkat adanya integrasi VirusTotal dengan Alert Center pada sistem keamanan Google Workspace, kini pihak admin IT bisa mendapatkan laporan analisis terkait ancaman keamanan secara lebih mendetail. Namun, tenang saja, Google tidak akan membagi informasi pengguna kepada VirusTotal. Berikut beberapa elemen analisis yang disediakan VirusTotal untuk mendukung sistem keamanan Google Workspace:   Threat graph – Berdasarkan setiap ancaman yang muncul, VirusTotal akan menganalisis hubungan di antara ancaman-ancaman tersebut dan menampilkannya dalam bentuk grafik sehingga bisa lebih mudah dipahami. In-the-wild details – Menyediakan data rincian waktu dan geografis terkait kejadian ancaman keamanan hingga teknik-teknik yang umum digunakan pelaku kejahatan. Indicators of compromise – Memeriksa hubungan ancaman keamanan dengan unsur lain yang ada dalam database VirusTotal, sehingga memungkinkan analis untuk memetakan infrastruktur jaringan berbahaya seperti server command-and-control dan distribution sites.   Pemblokiran pengguna pada Google Drive Photo Credit: Google Cloud Sebagai bagian dari Google Workspace, Drive mendukung produktivitas dan kolaborasi kerja melalui fitur penyimpanan dan share berbasis cloud. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa ancaman penyalahgunaan dari pihak-pihak tak bertanggung jawab masihlah ada. Demi mencegah masalah tersebut, Google pun meningkatkan kontrol keamanan melalui fitur pemblokiran pengguna (user blocking). Fitur satu ini memungkinkan Anda untuk menghapus akses orang lain terhadap konten Anda di dalam Drive. Bahkan jika sebelumnya Anda pernah berbagi konten dengan orang tersebut, Anda tetap bisa menghapus aksesnya saat diperlukan. Tak hanya itu, Anda juga bisa memblokir pengguna tertentu agar tidak membagikan konten kepada Anda. Fitur ini dapat Anda gunakan terhadap pengguna yang sebelumnya pernah membagikan konten spam kepada Anda. Lalu, kini Anda dapat pula menghapus seluruh konten spam dari satu pengguna tertentu dalam waktu bersamaan. Pembatasan akses pihak ketiga dalam Google Workspace Photo Credit: Google Cloud Data perusahaan idealnya bersifat sensitif karena mengandung beragam informasi dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Untuk membantu Anda menjaga keamanan data yang tersimpan di Google Workspace, Google melakukan dua bentuk peningkatan terkait pembatasan akses data, yaitu pemblokiran seluruh akses OAuth 2.0 API dan akses kontekstual baru (context-aware) untuk aplikasi seluler dan desktop Google. Pemblokiran akses OAuth 2.0 API dilakukan melalui fitur kontrol akses aplikasi. Melalui fitur baru ini, admin dapat memblokir seluruh akses API pihak ketiga terhadap Google Workspace dan data pengguna. Saat semua cakupan OAuth 2.0 diblokir, maka pengguna tidak bisa memakai akun Google Workspace untuk sign in ke aplikasi dan website pihak ketiga mana pun. Sedangkan pada akses bersifat context-aware, admin dapat mengontrol akses menuju aplikasi berdasarkan elemen tertentu seperti identitas pengguna, lokasi, hingga IP address. Dengan begini, hanya pengguna dengan hak khusus yang bisa mengakses aplikasi-aplikasi tersebut.   Agar Anda dan tim bisa menggunakan Google Workspace dengan aman dan nyaman, sistem keamanan pun senantiasa mengalami pembaruan. Namun, fitur-fitur keamanan lanjutan tersebut baru bisa Anda dapatkan jika upgrade langganan Google Workspace ke edisi premium seperti Enterprise Standard dan Enterprise Plus. Di Indonesia, berlangganan Google Workspace dapat Anda lakukan dengan menghubungi partner resmi Google seperti EIKON Technology. Nantinya, Anda akan mendapat bantuan dari tim EIKON Technology dalam memilih edisi langganan Google Workspace yang paling sesuai kebutuhan. Bahkan jika butuh panduan untuk mengoptimalkan sistem keamanannya, Anbisa juga bisa langsung menanyakan pada tim EIKON Technology. Jadi, jangan tunda lagi. Tingkatkan perlindungan Google Workspace Anda dengan upgrade langganan ke edisi premium!  

Info

Kelola Perangkat Google Workspace dengan Endpoint Management

  Demi kelancaran produktivitas kerja sehari-hari, banyak perusahaan menggunakan Google Workspace. Program unggulan Google satu ini memang menyediakan rangkaian aplikasi untuk menunjang pekerjaan Anda, contohnya Docs, Sheets, Slides, Gmail, dan Drive dengan fitur Google Endpoint Management.  Masing-masing karyawan kemungkinan besar menggunakan perangkat berbeda untuk mengaksesnya. Hal ini bisa saja menimbulkan kesulitan bagi para admin perusahaan untuk mengelola penggunaan Google Workspace melalui perangkat-perangkat tersebut. Memahami kebutuhan tersebut, Google pun membekali Google Workspace dengan sebuah tool bernama Google Endpoint Management. Melalui tool ini, perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace dapat Anda kelola dalam satu platform saja. Dapat digunakan untuk berbagai jenis perangkat Photo Credit: Maxim Ilyahov (Unsplash) Lantas, perangkat seperti apa yang dimaksud? Apakah Google Endpoint Management hanya dapat memonitor perangkat buatan Google? Tentu saja tidak. Tool satu ini berlaku untuk seluruh jenis perangkat dan sistem operasi, baik itu Chrome OS, MacOS, Windows, hingga Linux. Bahkan tak hanya untuk perangkat desktop seperti komputer dan laptop, Google Endpoint Management juga compatible dengan perangkat mobile bersistem Android dan iOS. Nantinya, setiap akses Google Workspace dari setiap perangkat akan tercatat dalam Google Endpoint Management. Jika seandainya ditemukan perangkat yang sekiranya mencurigakan atau berpotensi membawa risiko, maka pihak administrator bisa memblokir akses perangkat tersebut. Kelola banyak perangkat dari satu platform saja Photo Credit: Google Workspace Google Endpoint Management dirancang untuk memberikan kemudahan pada para pengguna, terutama di berbagai perusahaan, dalam mengelola setiap perangkat yang mereka gunakan untuk mengakses Google Workspace. Kemudahan tersebut diwujudkan melalui pengelolaan yang bisa dilakukan hanya dengan menggunakan satu platform terpusat. Platform ini biasa disebut dengan konsol admin. Ada banyak hal terkait pengelolaan akses perangkat yang dapat Anda lakukan melalui platform ini, mulai dari menghapus akses perangkat tertentu hingga memasang kata sandi. Semuanya dapat Anda lakukan tanpa perlu mengunduh aplikasi atau software tambahan.  Dilengkapi sistem keamanan data yang mumpuni Photo Credit: Google Workspace Tak hanya memberikan kemudahan, Google Endpoint Management juga dilengkapi dengan sistem keamanan untuk melindungi seluruh data yang Anda hasilkan atau simpan menggunakan Google Workspace.  Salah satunya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, yakni memblokir akses dari perangkat-perangkat tertentu yang dinilai berisiko. Namun, selain itu, Anda juga bisa mengaktifkan screen lock, password, hingga menghapus data bersifat sensitif. Bahkan untuk akses menggunakan perangkat mobile, pengguna harus terlebih dulu mendapat persetujuan dari pihak admin. Sudah tergabung dalam rangkaian Google Workspace Photo Credit: Myriam Jessier (Unsplash) Google Endpoint Management masih merupakan bagian dari Google Workspace. Dengan kata lain, jika Anda telah berlangganan Google Workspace, maka Anda bisa langsung menggunakan Google Endpoint Management. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan lagi. Lalu, bagaimana cara berlangganan Google Workspace bagi yang belum melakukannya? Caranya mudah sekali, Anda hanya perlu menghubungi reseller resmi produk Google seperti EIKON Technology. Nantinya, tim EIKON Technology akan membantu Anda memilih edisi langganan Google Workspace yang sesuai kebutuhan Anda. Jika ada kesulitan dalam penggunaan Google Endpoint Management pun, Anda juga bisa berkonsultasi.   Berkat Google Endpoint Management, mengelola perangkat-perangkat yang mengakses Google Workspace jadi sangat mudah dilakukan. Bahkan hanya melalui satu platform, Anda juga bisa mengatur sistem keamanannya. Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk berlangganan Google Workspace dan permudah pengelolaan perangkat dengan Google Endpoint Management!  

Info

Google Umumkan Fitur Baru dalam Event Google I/O

Setelah sempat absen tahun lalu akibat pandemi COVID-19, event Google I/O kembali digelar tahun ini pada 18-20 Mei 2021. Di ajang tahunan bergengsi ini, ada begitu banyak informasi menarik seputar inovasi produk Google yang diperkenalkan. Selain itu Google juga mengumumkan fitur baru dalam event Google I/O. Apa saja inovasi-inovasi tersebut? Berikut beberapa di antaranya yang paling mencuri perhatian! Peningkatan visual pada OS Android 12 Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O 2021 Android 12 menjadi salah satu sorotan dalam event Google yang ditujukan untuk para developer tersebut. Sistem operasi teranyar Android ini mendapat peningkatan desain visual melalui fitur baru bernama Material You. Fitur ini hadir dengan banyak penyesuaian warna, memungkinkan OS mobile untuk mengubah sistem warna agar lebih cocok dengan wallpaper Anda. Tak hanya dari segi visual, Android 12 juga menawarkan sejumlah peningkatan fitur privasi, termasuk dashboard privasi baru. Saat ini, sistem operasi Android 12 baru tersedia dalam versi Publik Beta untuk perangkat Google Pixel. Namun, ke depannya Google akan secara resmi merilis Android 12 versi final untuk pengguna perangkat Android lainnya.   Fitur Smart Canvas pada Google Workspace Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O 2021 Pada event Google I/O 2021, diperkenalkan pula sejumlah fitur baru pada Google Workspace. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Smart Canvas, sebuah program yang akan memudahkan Anda dalam pemakaian antar aplikasi seperti Docs, Slides, dan Sheets. Smart Canvas menghadirkan fitur “smart chips” yang memungkinkan Anda untuk mencantumkan tautan menuju aplikasi Workspace lain. Tak hanya itu, bahkan nantinya Anda juga bisa melakukan panggilan video Google Meet secara langsung dari dalam aplikasi Docs, Slides, atau Slides. Penggabungan antara Wear OS dan Tizen Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O 2021 Perangkat smartwatch juga mengalami peningkatan dengan adanya penggabungan Wear OS dan Tizen. Bagi yang belum tahu, Wear OS merupakan sistem operasi smartwatch dari Google, sedangkan Tizen buatan Samsung. Selama ini, Google memang berkolaborasi dengan sejumlah produsen luar untuk memproduksi smartwatch, salah satunya Samsung. Dengan adanya penggabungan antara Wear OS dan Tizen, performa smartwatch Google akan memiliki kualitas performa yang lebih baik dan cepat, tentunya dengan daya tahan baterai yang lebih lama pula. Penambahan sejumlah fitur baru pada Google Photos Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O 2021 Melalui event Google I/O 2021, Google juga menyampaikan sejumlah fitur baru yang disematkan pada Google Photos. Salah satunya adalah fitur yang memungkinkan Anda untuk membuat gambar bergerak dari dua file foto. Nantinya, hasil akhirnya akan menyerupai sebuah animasi yang membuat tampilan foto Anda jadi semakin menarik untuk dilihat. Sementara itu, fitur lainnya berhubungan dengan faktor privasi. Melalui fitur baru satu ini, Anda bisa menyimpan foto-foto dalam sebuah space dengan dilengkapi password. Karena disimpan dengan password, maka foto-foto tersebut tidak akan muncul saat Anda scrolling di dalam aplikasi Google Photos.  Fitur penyimpanan terproteksi tersebut akan hadir lebih dulu pada perangkat Google Pixel. Tenang saja, nantinya secara bertahap Google juga akan melakukan update tersebut pada lebih banyak perangkat Android dalam tahun ini. Pengenalan Google Project Starline Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O 2021 Selama ini, kebanyakan dari kita mengandalkan panggilan video untuk melepas rindu dengan orang-orang tersayang yang berada jauh dari kita. Memahami kebutuhan tersebut, Google memperkenalkan proyek baru bernama Starline pada event Google I/O lalu. Project Starline mampu menampilkan model 3D dari lawan bicara dalam video. Demi mewujudkan project ini, Google menggunakan teknologi 3D imaging berupa kamera beresolusi tinggi dan sensor kedalaman (depth sensor). Berkat kehadiran Starline, panggilan video pun akan terasa seperti pertemuan tatap muka langsung dengan lawan bicara.    

Info

Google Kembali Selenggarakan Event Google I/O

  Google I/O merupakan ajang tahunan untuk para developer yang diadakan oleh Google di Mountain View, California. Pertama kali diselenggarakan pada 2008 silam, sayangnya tahun lalu Google I/O sempat absen akibat pandemi COVID-19.  Namun, pada 2021 ini, Google I/O akhirnya kembali hadir untuk mengumumkan berbagai inovasi baru pada produk-produk unggulan Google. Event Google I/O 2021 ini diadakan selama tiga hari pada 18-20 Mei. Seperti apa penyelenggaraannya? Simak ulasannya berikut ini. Google I/O diadakan secara virtual Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O Penyelenggaraan Google I/O 2021 agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apabila biasanya Google I/O kerap mengundang para developer untuk menonton mereka secara langsung, tahun ini bangku penonton di venue justru cenderung kosong. Ini karena Google I/O 2021 sepenuhnya bersifat virtual. Jadi, baik developer dan penonton lain hanya bisa menyaksikan secara online. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, Google telah menyiapkan platform khusus. Seluruh rangkaian acara Google I/O 2021 ditayangkan secara live di https://events.google.com/io. Tenang saja, bagi yang tidak sempat mengikuti acara pada 18-20 Mei lalu, Anda masih bisa menontonnya secara on-demand di platform yang sama. Secara umum, event Google I/O 2021 dibagi menjadi dua program utama, yaitu Keynotes dan Technical Sessions. Sesi Keynotes fokus pada berita perusahaan dan produk Google, sedangkan Technical Sessions fokus pada pengumuman produk dan cara mengadopsi fitur-fitur baru. Bersifat interaktif, tetap bisa tanya-jawab Photo Credit: Tangkapan layar halaman web event Google I/O Walaupun diadakan secara virtual, bukan berarti Google I/O 2021 hanya bersifat satu arah. Sebaliknya, Google I/O 2021 justru dirancang seinteraktif mungkin sehingga para developer sebagai sasaran utama event ini bisa tetap berkomunikasi dengan para pakar Google. Komitmen tersebut dibuktikan dengan adanya sesi Workshop dan Ask Me Anything (AMA). Pada sesi Workshop, developer dapat mengikuti demo codelab yang dipandu seorang instruktur. Sementara itu, AMA adalah sesi yang memungkinkan developer atau peserta event untuk mengajukan berbagai pertanyaan kepada para pakar Google. Selain kedua sesi tersebut, event Google I/O 2021 juga menghadirkan program bernama Learning Lab. Di sini, developer bisa menemukan beragam workshop, demo, tutorial, dan resources lain seputar teknologi Google. Developer tinggal pilih topik yang ingin mereka pelajari. Sampaikan banyak pengumuman menarik Photo Credit: Tangkapan layar video event Google I/O Tujuan utama diadakannya event Google I/O adalah untuk menyampaikan pengumuman terkait inovasi teknologi dan produk unggulan Google. Pada Google I/O tahun ini, hal tersebut tentunya tak luput dari penyelenggaraan acara. Salah satu informasi yang cukup menarik perhatian adalah terkait Android 12. Pada sistem operasi teranyar ini, terdapat peningkatan signifikan pada aspek visual. Saat ini, Android 12 memang belum diluncurkan secara resmi untuk umum. Namun, jika memang tertarik mencoba menggunakannya, Anda bisa mengunduh Android 12 versi Public Beta yang telah disediakan oleh Google. Platform Smart Canvas juga mengalami pengembangan cukup besar. Terdapat peningkatan pada aspek fleksibilitas yang memudahkan Anda dalam bekerja menggunakan aplikasi Google seperti Docs dan Sheets. Bahkan kini Anda bisa melakukan panggilan video Google Meet langsung dari Docs sehingga orang lain dapat melihat progress pekerjaan Anda secara live. Selain kedua hal tersebut, beberapa inovasi produk Google lain yang juga disampaikan pada ajang Google I/O 2021 adalah penggabungan antara Wear OS milik Google dan Tizen milik Samsung, pengenalan Google Project Starline, pembaruan Google Camera, serta peningkatan keamanan pada kunci mobil digital.   Ajang bergengsi Google I/O memang baru saja berakhir pada 20 Mei 2021 kemarin. Namun, Anda tetap bisa menonton seluruh sesi Keynotes di https://events.google.com/io. Bahkan Anda juga dapat mengakses konten-konten menarik lain yang tersedia dalam sesi Workshop, AMA, dan lainnya. Sampai jumpa di event Google selanjutnya!  

Google hangout, Google Meet, Info, Productivity, Rapat online, Teamwork, Technology

Meet Hardware Dapat Membantu Produktivitas Kerja Saat Work From Home

    Work from home, atau bekerja dari rumah, telah menjadi gaya kerja baru yang kini diadaptasi oleh banyak pekerja. Walaupun mungkin pada awalnya terasa agak kagok, kini aktivitas work from home bisa semakin lancar dilakukan berkat kecanggihan teknologi. Salah satunya yaitu Meet Hardware yang dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja saat work from home. Kelancaran saat meeting tentunya tetap bergantung pada perangkat atau hardware yang Anda gunakan selama work from home. Jika menggunakan Meet Hardware, tak ada yang perlu Anda khawatirkan karena perangkat satu ini dapat membantu menjaga produktivitas Anda saat work from home. Tidak percaya? Buktikan sendiri melalui ulasan di bawah ini! Kolaborasi tetap berjalan dari mana pun Anda berada Photo Credit: Surface (Unsplash) Meskipun harus bekerja dari rumah masing-masing, bukan berarti Anda tidak bisa berkolaborasi dengan para rekan kerja lainnya. Di sinilah Google Meet Hardware dapat membantu Anda dalam mewujudkan kebutuhan tersebut. Meet Hardware adalah perangkat yang digunakan untuk melakukan online video meeting atau video conference. Beberapa contohnya seperti webcam dan mikrofon. Dengan menggunakan perangkat tersebut selama work from home, komunikasi dengan rekan kerja di tempat lain pun sangat mungkin dilakukan. Kehadiran Meet Hardware membantu melancarkan jalannya komunikasi tersebut sehingga kolaborasi kerja bisa tetap jalan. Namun, dengan catatan, harus tersedia koneksi internet yang mumpuni karena bagaimanapun juga, Anda masih membutuhkannya untuk mengakses aplikasi Google Meet.  Kualitas gambar dan suara yang jelas sehingga lebih kondusif Photo Credit: Anna Shvets (Pexels) Google Meet memang dapat diakses dari berbagai perangkat, mulai dari desktop, laptop, smartphone, hingga tablet. Namun, terkadang tidak semua perangkat tersebut dibekali dengan kamera dan mikrofon yang andal. Alhasil, saat Anda menggunakannya untuk video meeting selama work from home, kualitas gambar dan suara yang muncul pun kurang maksimal. Akibatnya, ketika video meeting berlangsung, baik Anda dan peserta lain jadi kesulitan mendengarkan dan merespons satu sama lain. Hal ini tentu berdampak kurang baik pada produktivitas kolaborasi kerja. Nah, Meet Hardware hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Bekerja sama dengan produsen ternama seperti Logitech dan Asus, Google memproduksi hardware yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan online video meeting. Mulai dari camera, speaker mic, hingga touchscreen, Meet Hardware mampu menghasilkan gambar dan suara dalam kualitas jernih. Dengan begini, Anda dan peserta meeting lainnya bisa saling menyimak secara jelas. Komunikasi berlangsung kondusif sehingga kolaborasi kerja pun tidak terganggu.   Lalu, di mana Anda bisa mendapatkan Meet Hardware? Photo Credit: Vanessa Garcia (Pexels) Perlu diingat kembali bahwa Meet Hardware bukan terdiri dari satu perangkat saja, melainkan berupa serangkaian perangkat yang juga bisa Anda beli dalam satuan. Lalu, di mana Anda bisa membelinya? Umumnya, toko-toko gadget menjual produk Meet Hardware. Namun, jika ingin yang telah terbukti keaslian dan kualitasnya, Anda bisa membeli perangkat video meeting  Meet melalui reseller resmi produk Google seperti EIKON Technology. EIKON Technology menyediakan beragam produk  Meet Hardware untuk berbagai kebutuhan. Tak hanya bagi Anda yang harus video meeting sambil work from home, tapi juga bagi Anda yang sering melakukan video conference di ruangan khusus meeting bersama banyak orang.    Work from home bukan menjadi alasan untuk tidak produktif bekerja, terutama yang bersifat kolaborasi. Sebaliknya, produktivitas kerja saat work from home tetap bisa terjaga dengan bantuan Meet Hardware. Segera hubungi EIKON Technology untuk mendapatkan perangkat video meeting yang paling sesuai kebutuhan work from home Anda!       

Collaboration, Gmail, Google Meet, Google Workspace, Info, Rapat online

Mengatur Jadwal Meeting dengan Google Kalender

  Rapat atau meeting menjadi salah satu bagian yang tidak pernah lepas dari bisnis. Melalui aktivitas satu ini, para pelaku bisnis atau anggota tim bisa berkolaborasi untuk menghasilkan banyak hal positif. Namun, dengan begitu banyaknya hal yang harus dibahas, jumlah meeting yang harus Anda hadiri pun tak kalah padat. Karenanya, dibutuhkan bantuan tool yang dapat membantu Anda mengatur jadwal meeting secara terperinci. Di sinilah Google Kalender bisa memberikan solusi atas kebutuhan tersebut. Baik untuk jadwal meeting offline maupun online, Google Kalender akan mengatur jadwalnya untuk Anda! Pastikan Anda sudah punya akun Google Photo Credit: Solen Feyissa (Unsplash) Google Kalender termasuk salah satu bagian dari rangkaian program Google Workspace. Oleh sebab itu, untuk bisa menggunakannya, Anda diwajibkan memiliki akun Google terlebih dulu. Dengan menggunakan akun Google inilah Anda bisa sign in untuk mengakses Google Kalender. Jika memang belum punya akun Google, Anda dapat membuatnya melalui Gmail di alamat mail.google.com. Hanya dengan satu akun Google tersebut, nantinya Anda tak hanya bisa mengakses Google Kalender, tapi juga produk-produk Google lain seperti Drive, Docs, Sheets, Slides, dan Meet.   Cara mengatur jadwal meeting offline Photo Credit: fauxels (Pexels) Mengatur jadwal meeting offline pada Google Kalender sangatlah mudah. Ketikkan alamat calendar.google.com pada browser Anda, lalu lakukan login menggunakan akun Google yang telah Anda buat sebelumnya. Jika sudah, halaman akan menampilkan kalender dalam format hari yang dibagi berdasarkan jam. Apabila ingin mengubah format tampilan menjadi mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan, Anda bisa klik opsi Day di bagian kanan atas, lalu pilihlah format sesuai preferensi. Sedangkan untuk cara mengatur jadwal meeting offline melalui Google Kalender, berikut langkah-langkahnya: Klik pada hari, tanggal, dan jam yang dipilih untuk meeting offline. Klik Create di bagian kiri atas halaman. Google Kalender akan memunculkan kotak khusus yang bisa Anda isi dengan detail jadwal meeting, mulai dari waktu, peserta, hingga lokasi. Jika seandainya ada dokumen atau materi yang harus dipelajari peserta meeting, Anda bisa melampirkannya pada kotak yang sama tersebut. Nantinya, begitu Anda membagikan jadwal meeting ke peserta lain melalui Google Kalender, peserta tersebut dapat langsung mengunduh dokumen terlampir. Cara mengatur jadwal meeting online di Google Meet Photo Credit: Surface (Unsplash) Aktivitas meeting tak hanya bisa dilakukan secara offline atau bertemu langsung, melainkan juga bisa melalui online conference. Mengatur jadwal online meeting pada Google Kalender akan lebih praktis jika Anda menggunakan Google Meet sebagai perangkat video meeting. Caranya pun sama dengan pengaturan jadwal untuk offline meeting: Klik pada hari, tanggal, dan jam yang dipilih untuk meeting offline. Klik Create di bagian kiri atas halaman. Pada kotak yang muncul, klik opsi Add Google Meet video conferencing.  Pada jadwal meeting yang telah ditentukan, peserta bisa langsung klik opsi Join with Google Meet untuk bergabung dengan video meeting. Bagi yang mengatur jadwal online meeting di Google Meet versi gratis, penting diketahui bahwa jumlah maksimal pesertanya adalah seratus dengan durasi maksimal enam puluh menit. Namun, dengan upgrade ke Google Meet premium melalui langganan Google Workspace for Business, kapasitas jumlah peserta bisa bertambah hingga 250 dan durasi video meeting mencapai 24 jam.   Mengatur jadwal meeting, baik yang bersifat offline maupun online, kini bisa mudah dan praktis dilakukan melalui Google Kalender. Agar bisa memanfaatkan seluruh fiturnya secara optimal, ada baiknya untuk segera upgrade ke versi premium dengan berlangganan Google Workspace for Business. Tak hanya Google Kalender, dengan Google Workspace for Business Anda juga mendapatkan akses maksimal untuk produk-produk unggulan Google lain seperti Drive, Gmail, Meet, Docs, Sheets, dan Slides. Jadi, tunggu apa lagi? Segera daftar langganan Google Workspace for Business melalui reseller resmi Google di Indonesia, EIKON Technology!   Meta desc: Dengan jadwal meeting yang begitu padat, gunakan Google Kalender untuk mengatur jadwal agar tak ada meeting yang terlewat.

Collaboration, G Suite, Google Meet, Google Workspace, Info, Produktivitas, Rapat online

Fitur Baru Google Meet Memudahkan Saat Meeting

Fitur Baru Google Meet Memudahkan Saat Meeting Jauh sebelum pandemi, online meeting sudah menjadi aktivitas krusial bagi para anggota tim bisnis yang tersebar di banyak kota. Namun, sejak setahun belakangan ini, aktivitas tersebut berubah menjadi suatu kebutuhan mengingat banyak orang harus bekerja dari rumah masing-masing akibat pandemi. Alhasil, sebagai salah satu penyedia layanan online video unggulan, Google Meet jadi banyak digunakan. Demi terus memenuhi kebutuhan online meeting tersebut, Google selaku pengembang pun konsisten memberikan fitur-fitur baru. Sejumlah fitur baru Google Meet tersebut baru saja dirilis pada 21 April 2021 lalu dan akan semakin memudahkan Anda saat online meeting. User interface lebih canggih untuk tingkatkan produktivitas meeting Photo Credit: cloud.google.com Mulai Mei 2021 ini, Google Meet mengalami peningkatan user interface demi bisa mengoptimalkan pengalaman online meeting Anda. Seiring dengan update tersebut, berbagai fitur baru Google Meet pun disematkan untuk meningkatkan akses dan  produktivitas online meeting. Salah satu fitur tersebut adalah kontrol lebih terhadap cara Anda menampilkan diri selama meeting berlangsung. Anda bisa mengatur video diri sendiri agar tampil dalam bentuk grid atau floating picture, yang dapat diubah ukuran serta posisinya. Bahkan jika memilih untuk tidak menampilkan diri sendiri, Anda bisa melakukan minimize pada feed atau menyembunyikan tampilan seluruhnya. Lalu, untuk mengoptimalkan presentasi selama meeting, Google Meet juga telah meningkatkan fitur pin konten. Ketika di-unpin, tampilan presentasi akan berubah menjadi ukuran yang sama dengan tampilan video para partisipan lain. Dengan begini, selama presentasi berlangsung, Anda bisa melihat reaksi dari lebih banyak partisipan. Fitur video background replacement Photo Credit: cloud.google.com Walaupun sangat membantu kolaborasi di tengah pandemi, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang online meeting bisa terganggu oleh beberapa distraksi. Salah satunya adalah background video yang mungkin terlihat berantakan atau kurang layak. Memahami tantangan tersebut, fitur baru Google Meet pun diluncurkan dalam bentuk video background replacement. Melalui fitur baru ini, Anda dapat mengubah background dengan tampilan video. Jadi, tidak hanya membantu menjaga privasi, fitur ini juga dapat membuat aktivitas online meeting jadi lebih menyenangkan. Pada update pertama ini, akan ada tiga opsi yang bisa Anda pilih untuk video background replacement, yaitu tampilan ruang kelas, suasana pesta, dan hutan. Nantinya, Google Meet akan terus menambahkan lebih banyak pilihan video background. Lebih hemat data selama meeting dengan fitur Data Saver Photo Credit: cloud.google.com Menyediakan pengalaman video meeting dengan kualitas terbaik merupakan salah satu prioritas utama Google Meet. Sudah menjadi komitmen Google Meet untuk terus meningkatkan kualitas video dan audio, terlebih dengan para pengguna yang berada di banyak lokasi berbeda. Demi mendukung hal tersebut, fitur baru Google Meet yang bernama Data Saver pun diluncurkan. Fitur ini membatasi penggunaan data pada jaringan mobile Anda sehingga dapat membantu menghemat biaya untuk pembelian paket data. Hal tersebut sangat mendukung para pengguna yang harus melakukan online meeting di tengah perjalanan, terutama di area seperti Indonesia yang biaya paket datanya masih relatif tinggi.   Berbagai fitur Google Meet tersebut telah dirancang untuk memudahkan aktivitas online meeting Anda. Terlebih jika Anda upgrade ke Google Meet premium dengan berlangganan Google Workspace, akan ada lebih banyak privilege yang bisa Anda dapatkan. Mulai dari partisipan video meeting yang mencapai 250 orang hingga penyimpanan hasil rekaman video di Google Drive. Setidaknya ada tiga edisi Google Workspace yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan. Jika butuh penjelasan lebih jauh, Anda bisa menghubungi EIKON Technology selaku reseller resmi produk Google di Indonesia. Nantinya, tim dari EIKON Technology juga akan memandu Anda dalam menggunakan produk-produk Google Workspace. Segera berlangganan Google Workspace melalui EIKON Technology dan rasakan pengalaman optimal video meeting menggunakan Google Meet versi premium!    

Scroll to Top