EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Google Docs, Google Workspace

Kini Anda Bisa Insert Emoji Lebih Cepat di Google Docs, Bagaimana Caranya?

 Pada awal bulan April 2022 lalu, Google Docs menghadirkan fitur reactions menggunakan emoji. Fitur tersebut dihadirkan sebagai bentuk dukungan untuk menciptakan suatu ekosistem kerja yang suportif. Emoji dipilih karena dirasa lebih kasual dan ekspresif dibanding respons dalam bentuk tulisan. Perilisan fitur kala itu telah menyertakan set emoji versi terbaru (Emoji 14.0) dengan opsi yang lebih variatif untuk mencerminkan identitas Anda secara akurat. Kemudian pada akhir bulan Agustus 2022, Google Docs mengembangkan fitur tersebut. Tepatnya adalah dengan mengatur ulang cara mencari dan insert emoji. Kini emoji yang Anda masukkan bisa langsung sejajar dengan teks di Google Docs. Bagaimana caranya? Update Docs, insert emoji pun makin mudah Dalam update yang dihadirkan oleh Docs pada tanggal 29 Agustus 2022, Anda bisa menemukan satu fitur baru yang berhubungan dengan emoji. Lewat fitur baru tersebut Anda dapat insert emoji dengan cepat tanpa merusak tatanan teks yang sudah diketik sebelumnya. Menariknya lagi, fitur ini tidak memerlukan pengaturan administrator. Dengan kata lain, Anda bisa langsung menggunakannya tanpa harus menunggu izin dari administrator Workspace. Baca juga: Cara Buat Google Docs dan Tentukan Tugas dengan Mudah Cara menggunakan fitur Untuk mencari dan menambahkan emoji langsung sebaris dengan teks di Google Docs, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini: Ketik “@” diikuti dengan penanda, seperti “@smile,” untuk mencari emoji tertentu di antara item menu lainnya. Photo Credit: Google Workspace Updates Ketik “@:” atau “:” untuk melihat daftar dropdown emoji dan opsi untuk menavigasi ke seluruh katalog emoji yang tersedia. Photo Credit: Google Workspace Updates Jika Anda merasa kesulitan untuk menggunakan fitur, silakan kunjungi Help Center Google Workspace. Pihak Google telah menyediakan dokumentasi lengkap yang bisa Anda pelajari. Baca juga: Cara Membuat Dokumen Kolaboratif dengan Template Tabel Baru Google Docs Ketersediaan fitur Fitur emoji baru ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace. Anda yang masih berlangganan rangkaian produktivitas G Suite Basic maupun G Suite Business pun bisa menggunakan fitur baru ini. Selain itu, fitur ini juga dapat digunakan oleh pemilih akun Google pribadi. Perlu diketahui, fitur ini dirilis secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun untuk rilis terjadwal. Untuk domain rilis cepat dimulai pada tanggal 29 Agustus 2022 dengan peluncuran bertahap (membutuhkan waktu maksimal 15 hari untuk visibilitas keseluruhan fitur). Sementara untuk domain rilis terjadwal dimulai pada tanggal 12 September 2022 juga dengan peluncuran bertahap (membutuhkan waktu maksimal 15 hari untuk visibilitas keseluruhan fitur). Baca juga: Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan Fitur insert emoji di Google Docs ini mulanya dihadirkan untuk mendukung ekosistem kerja yang suportif. Dengan menambahkan emoji, para pihak yang berkolaborasi bisa memberikan respons yang lebih santai namun tetap penuh dukungan. Fitur ini memang dapat berjalan di akun Google pribadi. Namun kinerjanya akan lebih optimal jika Anda juga menggunakan aplikasi lain yang terdapat dalam rangkaian produktivitas Google Workspace. Jika saat ini lingkungan kerja Anda belum menggunakan Google Workspace, EIKON Technology siap membantu proses implementasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Produk Google Workspace yang kami sediakan pun telah berlisensi resmi sehingga implementasinya akan jauh lebih mulus dan stabil. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Strategi Kolaborasi Efektif bagi Perusahaan yang Menerapkan Hybrid Work

Kolaborasi di tempat kerja terus berkembang seiring dengan berkembangnya hybrid work. Sementara model kolaborasi “same-time” dan asinkron masing-masing umum digunakan, perusahaan terkadang lebih sering menerapkan salah satunya. Kemungkinan, hal tersebut karena pertemuan tatap muka atau berkolaborasi secara real-time telah menjadi setelan default bagi banyak perusahaan, sehingga mereka condong menerapkan kolaborasi same-time, bahkan saat muncul alat baru yang membuat pekerjaan lintas zona waktu dan lokasi menjadi mulus. Lantas, seperti apakah strategi kolaborasi yang efektif dalam penerapan hybrid work? Optimalkan kolaborasi same-time Dalam sejarah, banyak organisasi menghargai interaksi waktu yang sama untuk pertukaran informasi dan umpan balik yang cepat dan langsung. Namun di waktu yang sama, kolaborasi same-time pun memiliki beberapa kelemahan, terutama di lingkungan hybrid work. Baca juga: 5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul Pertama, interaksi same-time bisa jadi sulit diatur. Mengkoordinasikan jadwal memerlukan perencanaan yang matang, terutama ketika karyawan tersebar di seluruh zona waktu atau bekerja di luar jam kerja tradisional. Kedua, penjadwalan back-to-back dapat berkontribusi untuk memenuhi kelelahan. Dalam survei yang dilakukan oleh Google dan Economist Impact, 72% responden mengakui bahwa rapat virtual meningkatkan inklusi dan partisipasi. Pada saat yang sama, 68% mengatakan ada terlalu banyak pertemuan virtual, menunjukkan bahwa meski karyawan menghargai kolaborasi same-time, mereka menginginkannya dalam jumlah sedang. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk kolaborasi same-time yang efektif dalam hybrid work, karyawan Anda memerlukan alat yang membantu mereka mengoordinasikan interaksi real-time dan meminimalkan waktu yang dihabiskan untuk beralih aplikasi dan konteks. Dengan Google Workspace, tim dapat membuat dan mengakses agenda bersama atau Google Docs di dalam undangan Google Calendar, membantu menyelaraskan tujuan sebelum, selama, dan setelah sesi kerja yang dijadwalkan. Semakin terintegrasi alat kolaborasi Anda, semakin mudah bagi karyawan untuk langsung bekerja saat inspirasi muncul atau keputusan cepat diperlukan. Misalnya, anggota tim dapat memulai sesi kerja spontan dengan memulai Google Meet langsung dari Docs, Sheets, or Slides. Photo Credit: Google Cloud Blog Memperluas potensi waktu kerja asinkron Adopsi yang meluas dari hybrid work telah mendorong perusahaan untuk lebih sering beralih ke kolaborasi asinkron (anggota tim bebas untuk berbagi dan menanggapi informasi dalam waktu mereka sendiri). Manfaat utama dari kolaborasi bertahap adalah meningkatkan pengalaman dan kesejahteraan karyawan (dengan mendukung kebiasaan kerja yang fleksibel). Mengizinkan anggota tim untuk terlibat saat mereka paling produktif atau saat tidak mengganggu waktu fokus yang dijadwalkan, akan mendukung kesejahteraan mereka. Baca juga: Komunikasi dan Kolaborasi Hybrid Berbagai Ukuran Tim dengan Google Workspace Cara ini juga dapat membantu karyawan merasa didengar, dihargai, dan diberdayakan. Kolaborasi asinkron juga dapat memberi anggota tim yang mungkin merasa tidak nyaman atau rentan untuk berbicara secara real-time atau yang hanya perlu waktu untuk memikirkan respons mereka. Kolaborasi asinkron dapat meningkatkan berbagai skenario kolaborasi, termasuk menetapkan tugas dan item tindakan, berbagi pengetahuan dan resources, bertukar pikiran, serta memberikan respons. Untuk membuat interaksi ini berhasil, karyawan memerlukan alat yang aman dan intuitif yang memberi mereka informasi yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka dari mana saja, kapan saja. Misalnya, di Spaces, anggota tim dapat memulai dan mengambil bagian dalam utas obrolan grup yang dikhususkan untuk diskusi berbasis proyek dan topik, serta mengakses file dan tugas, untuk tetap mengikuti setiap kali mereka dapat berpartisipasi. Saat berkolaborasi pada dokumen bersama, fitur seperti Smart Canvas memungkinkan rekan satu tim untuk menetapkan tugas, membuat daftar periksa, dan berbagi file menggunakan @-mentions untuk akses informasi yang mudah. Sementara itu, ringkasan bawaan otomatis di Docs membantu tim mendapatkan kecepatan tanpa kehilangan fokus. Photo Credit: Google Cloud Blog Fleksibilitas dan kolaborasi adalah dua hal saling terkait Membantu orang mengetahui tugas mana yang memerlukan kolaborasi same-time dan tugas mana yang lebih baik dilakukan secara asinkron sangat penting untuk mempertahankan produktivitas dan kesejahteraan di hybrid work. Karyawan yang diberdayakan untuk bekerja dengan cara yang melengkapi kebutuhan, preferensi, dan jadwal mereka biasanya lebih menghargai perusahaan atas fleksibilitas tersebut. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Saat Anda membuat norma tim seputar kolaborasi same-time dan asinkron, Anda dapat membantu karyawan Anda tetap produktif dan terhubung (baik antar satu sama lain, maupun dalam konteks perusahaan yang lebih luas). Dengan memberi mereka alat yang mendukung pengalaman kolaborasi yang mulus dan aman dari mana saja, dampak pada produktivitas, kesejahteraan karyawan, dan moral dapat menjadi transformasional. Google Workspace menghadirkan berbagai aplikasi dan tool yang dapat Anda manfaatkan untuk mendukung kolaborasi same-time maupun mendorong model kerja asinkronisasi. Dapatkan produk Workspace resmi dengan metode penerapan yang efisien dan mulus melalui EIKON Technology. Selain menyediakan produk resmi berlisensi, kami juga menawarkan layanan konsultasi komprehensif, mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Hubungi kami di sini!

Google Meet, Google Workspace

Update Google Meet Hardware: Lebih Banyak Opsi untuk Framing di Konsol Admin

Google Meet hardware baru-baru ini mengalami update terkait dengan kapabilitas framing atau pembingkaian. Dalam update tersebut, tersedia beberapa perubahan, seperti peningkatan kemampuan untuk menemukan fitur “Frame people” dan peningkatan stabilitas keseluruhan pengalaman framing bagi pengguna. Sambil terus mengembangkan kapabilitas framing dan menyempurnakan Google Meet hardware, konsol Admin pun akan diperbarui sebagai penyesuaian. Selama beberapa waktu, Google akan mengganti pengaturan framing yang berlaku saat ini dengan opsi untuk mengatur default framing berdasarkan kemampuan kamera perangkat (seperti opsi untuk membingkai orang secara default, membingkai speaker, atau membingkai grup yang akan hadir sebagai update di masa mendatang). Hal ini membantu memastikan bahwa setiap perangkat hardware Meet menggunakan setelan yang paling sesuai untuk ruangan dan peserta. Mulai menambahkan opsi framing di konsol Admin Untuk menambahkan opsi framing baru ini pada Google Meet hardware di lingkungan kerja Anda, tidak diperlukan pengaturan dari administrator. Sebab pada dasarnya, update kali ini bersifat general dan dilakukan secara terpusat oleh Google Meet. Seluruh informasi mengenai update ini akan diperbarui secara berkala di Workspace Updates Blog mulai dari saat kontrol admin baru diluncurkan hingga visibilitas fitur lengkap. Sementara itu, end-user tidak perlu melakukan pengaturan apa pun karena perubahan ini berjalan secara otomatis. Namun penting untuk diingat, fitur baru ini tidak akan tersedia jika perangkat lain, seperti webcam, dihubungkan dengan meeting hardware kit. Baca juga: Device Google Meet Hardware yang Sesuai untuk Bisnis Anda Ketersediaan fitur Photo Credit: tirachardz (Freepik) Update baru untuk Google Meet hardware ini dilakukan secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Perilisan dimulai pada tanggal 8 September 2022 (dan akan membutuhkan waktu hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Update tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk bagi pengguna yang masih menggunakan rangkaian G Suite Basic maupun G Suite Business. Perlu diingat, fitur baru ini hanya tersedia untuk perangkat Google Meet hardware yang belum mencapai tanggal auto-update expiration. Berikut adalah daftar lengkapnya: Asus Chromebox CN62 (kedaluwarsa per Juni 2021) Acer Chromebox CXI2 / CXV2 (kedaluwarsa per Juni 2021) Acer Chromebase for Meetings CA24V (kedaluwarsa per Juni 2021) HP Chromebox G1 (kedaluwarsa per September 2019)  Dell Chromebox (kedaluwarsa per September 2019)  Asus Chromebox CN60 (kedaluwarsa per September 2019)  Samsung Series 3 (kedaluwarsa per Maret 2018) Sedangkan perangkat yang belum mencapai auto-update expiration date di antaranya: Acer Chromebase for Meetings 24V2 (CA24V2) (kedaluwarsa per Juni 2025) Asus Chromebox 3 (CN65) (kedaluwarsa per Juni 2025)       CTL Chromebox CBx1 (kedaluwarsa per Juni 2025)  ASUS Google Meet Compute System (kedaluwarsa per Juni 2028)     CTL Google Meet Compute System (kedaluwarsa per Juni 2028)       Meet Compute System – Series One (kedaluwarsa per Juni 2028)      ASUS Google Meet Compute System (Intel 10th Gen) (kedaluwarsa per Juni 2028)  Meet Compute System – Series One (Intel 10th Gen) (kedaluwarsa per Juni 2028)    Baca juga: 5 Strategi Menjaga Hardware Perusahaan untuk Jangka Panjang Cara mengubah pengaturan untuk semua perangkat Google Meet hardware Photo Credit: tirachardz (Freepik) Administrator juga dapat menerapkan setelan berikut ke semua perangkat Google Meet hardware yang ada di lingkungan kerja Anda: Masuk ke konsol Google Admin Anda. Buka Menu lalu klik “Devices” dan masuk ke opsi “Google Meet hardware”, klik “Devices”. Di panel “Devices”, klik “Settings” Pilih panel yang berisi pengaturan yang ingin Anda ubah. Untuk menerapkan setelan ke semua orang, biarkan unit organisasi teratas dipilih. Jika tidak, pilih unit organisasi turunan. Pada halaman System settings page, ubah satu atau beberapa pengaturan untuk perangkat Anda. Klik “Save”. Jika Anda mengonfigurasi unit organisasi turunan, akan tersedia opsi “Inherit” atau “Override” terhadap pengaturan unit organisasi induk. Baca juga: Meet Hardware Dapat Membantu Produktivitas Kerja Saat Work from Home Itu dia ulasan mengenai update Google Meet hardware terbaru. Anda tidak perlu melakukan pengaturan tambahan untuk menikmati seluruh fitur yang ditawarkan karena semuanya akan muncul secara otomatis. Agar pengalaman online meeting semakin mulus, gunakan Google Workspace sebagai rangkaian produktivitas ekosistem kerja Anda. Produk Google Workspace resmi dan berlisensi bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Tidak hanya menyediakan produk, EIKON Technology juga menyedikan layanan konsultasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan Google Workspace. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Laporan Work Insights untuk Google Chat dan Google Meet, Bagaimana Cara Kerjanya?

 Sejak diperkenalkan pada tahun 2018 lalu, Work Insights telah membantu banyak perusahaan dalam mengelola ekosistem kerja mereka. Work Insights sendiri merupakan sebuah tool yang menyajikan wawasan berbasis data terkait penerapan Google Workspace. Insights yang ditampilkan meliputi pola kerja hingga hasil kolaborasi antar tim. Dengan adanya upgrade dari Hangouts ke Google Chat untuk para pengguna Google Workspace, kini telah hadir Work Insights yang menyajikan laporan pemanfaatan Google Meet dan Google Chat. Simak ulasan berikut untuk mengetahui cara kerjanya. Mengenal apa itu Work Insights Photo Credit: Work Insights Help Work Insights adalah sebuah reporting tool untuk pemanfaatan Google Workspace yang memberi wawasan tentang dampak penerapan Google Workspace di lingkungan kerja Anda. Work Insights menyajikan laporan menggunakan diagram yang mudah dibaca, sehingga Anda dapat melihat metrik tentang adopsi, produktivitas, dan kolaborasi Google Workspace di perusahaan Anda. Work Insights memungkinkan visibilitas yang optimal ke dalam perjalanan transformasi digital perusahaan Anda, sekaligus membantu meningkatkan kolaborasi, mendorong pertumbuhan, dan banyak lagi. Sekarang, Anda dapat terus menggunakan diagram dan metrik yang mudah dibaca dari Work Insights untuk menganalisis dampak penggunaan aplikasi Google Chat dan Meet di lingkungan kerja Anda. Baca juga: Cara Menampilkan Metrik Pengguna Aktif Google Chat yang Lebih Detail Detail tambahan Photo Credit: Work Insights Help Work Insights menyertakan fitur untuk membantu mengurangi berbagai masalah terkait privasi. Ini termasuk membatasi akses data, menggabungkan data aktivitas, menjaga agar ukuran tim tetap minimum, dan juga melindungi item pekerjaan pengguna agar tetap pribadi. Tidak ada aktivitas Google Workspace pengguna individu yang ditampilkan secara terpisah dari pengguna lain dalam Work Insights ini, termasuk untuk laporan mengenai pemanfaatan Google Chat dan Meet. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai keamanan data pribadi di Work Insights, silakan cek dokumentasi dari Google di sini. Baca juga: Fitur Pencegahan Data Google Chat Sekarang Tersedia D\dalam Versi Open Beta Mulai menggunakan Work Insights untuk Google Chat dan Meet Penting untuk diketahui bahwa pengaturan Work Insights hanya bisa diakses oleh administrator yang mengelola ekosistem Google Workspace perusahaan Anda. Begitu pula untuk laporan yang menganalisis pemanfaatan Google Chat dan Meet. Bagi para administrator, pengaturan laporan Work Insights untuk Google Chat dan Meet dapat diakses melalui dashboard ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengaturan Work Insights, administrator bisa mengunjungi halaman bantuan ini. End-user tidak memerlukan pengaturan apa pun karena pada dasarnya pengelolaan laporan Work Insights hanya bisa diakses oleh administrator dan para pihak yang sudah ditunjuk oleh perusahaan. Ketersediaan Work Insights Work Insights untuk saat ini hanya tersedia bagi para pelanggan Google Workspace Enterprise Plus. Sayangnya, para pelanggan Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Education Fundamentals, Education Plus, Frontline, dan Nonprofits, begitu juga dengan rangkaian lama G Suite Basic dan G Suite Business, belum bisa menggunakan reporting tool ini. Untuk laporan pemanfaatan Google Chat dan Meet tersedia mulai tanggal 1 September 2022, baik bagi domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Namun perlu diingat, perilisan ini bersifat bertahap sehingga memerlukan waktu hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur. Baca juga: Mencoba Update Baru Google Chat Versi Web: Temukan Orang Lebih Mudah!

Calender, Google Workspace

Calendar User Availability API Meluncurkan Versi Beta, Bagaimana Cara Mendapatkan Aksesnya?

Calendar User Availability API akan segera hadir dalam versi beta. Nantinya, dukungan ini dapat digunakan untuk mengakses fitur lokasi kerja yang ada di Google Calendar secara terprogram. Untuk akses versi beta bisa Anda peroleh melalui Google Workspace Developer Preview Program. Sebelum mengajukan akses, ada baiknya Anda menyimak dokumentasi API terlebih dahulu sebagai persiapan. Langkah ini juga akan memudahkan Anda untuk memberikan feedback pengembangan API.  Cara kerja Calendar User Availability API Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur working location yang ada di Google Calendar merupakan cara yang mudah bagi pengguna untuk berbagi tempat mereka akan bekerja pada hari atau periode waktu tertentu. Hingga saat ini, hanya end-user yang dapat membuat entri kalender ini. Sekarang, informasi tersebut dapat dibaca dan ditulis menggunakan API untuk mengelola dan mengakomodasi kebutuhan karyawan Anda. Pelanggan mengandalkan aplikasi lain untuk mengatur konteks lokasi mereka, seperti memesan meja dengan alat pemesanan hot desk atau meminta dan mengatur hari untuk WFHdi alat manajemen SDM. Prosedur ini membuat end-user harus melakukan langkah-langkah yang sama secara berulang. Dengan API, lokasi kerja pengguna dapat diatur secara terprogram atau diakses langsung dari kalender pengguna ke aplikasi pihak ketiga lainnya. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Selain itu, dengan memunculkan konteks lokasi kerja ke dalam sistem dan alat lain seperti direktori tim internal, pelanggan dapat mengoptimalkan arus karyawan yang datang ke lokasi fisik kantor mereka. Anda juga dapat menggunakan API untuk mempersiapkan permintaan layanan makan, ruang konferensi, dan lainnya, berdasarkan data tersebut. Mulai menggunakan API Perlu diingat, Calendar User Availability API hanya dapat digunakan oleh administrator Workspace dan juga developer program, end-user tidak diperkenankan untuk mendapat aksesnya. Namun end-user bisa melakukan pengaturan pada fitur working location pada akun Google Workspace miliknya. Nah, sekarang mari simak panduan memulai Calendar User Availability API bagi administrator dan developer program. Untuk mulai menggunakan Working Location API, developer dapat mengajukan permohonan akses melalui Google Workspace Developer Preview Program. Nantinya Anda dapat menggunakan Calendar User Availability API untuk membaca dan menulis lokasi kerja pengguna. Penting untuk diingat, meski semua developer dapat menggunakan API, aplikasi yang dibuat menggunakan API hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki edisi Workspace yang memenuhi syarat. Di samping itu, Google juga telah menyediakan Help Center yang dapat diakses oleh para administrators jika mengalami kesulitan selama melakukan pengaturan working location bagi perusahaan mereka. End-user juga dapat mengakses Help Center untuk informasi lebih lanjut mengenai fitur working location di Google Calendar. Baca juga: Mengenal Fungsionalitas API “UserInvitation” dari Google Workspace Ketersediaan API  Photo Credit: DCStudio (Freepik) Meski semua pengembang dapat menggunakan API, aplikasi yang dibuat menggunakan API hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki edisi Workspace yang memenuhi syarat, yakni: Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Education Plus, Education Standard, the Teaching and Learning Upgrade dan Nonprofits, termasuk rangkaian produktivitas G Suite Business.  Adapun edisi Workspace yang tidak dapat mengakses aplikasi dari API adalah Google Workspace Essentials, Business Starter, Enterprise Essentials, Frontline, serta rangkaian produktivitas lama G Suite Basic. Baca juga: Text-To-Speech API Google Cloud Kini Mendukung Custom Voice Calendar User Availability API versi beta ini membuktikan bahwa Google Workspace merupakan solusi produktivitas yang lengkap dan bisa terus dikembangkan. Tertarik untuk mulai menggunakan Google Workspace dalam ekosistem pengembangan program dan aplikasi Anda? EIKON Technology siap mendampingi Anda mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology menyediakan solusi produktivitas Workspace yang resmi dan berlisensi. Untuk mulai konsultasi mengenai implementasi Google Workspace, silakan klik di sini!

Google Workspace

Memberdayakan Inovasi agar Dapat Membangun Bisnis yang Adaptif

Inovasi sering dikaitkan dengan suatu hal yang besar: meningkatkan keunggulan kompetitif atau mengembangkan produk baru. Namun sebenarnya semua itu dimulai dari hal-hal kecil. Mulai dari cara perusahaan secara teratur menyediakan waktu untuk berpikir kreatif, bereksperimen dengan proses, hingga menerapkan teknologi untuk berkolaborasi. Pendekatan inovasi ini membuatnya menjadi suatu eksplorasi berkelanjutan dari mode kerja yang membuat para karyawan merasa lebih terdorong untuk mencari tahu cara membuat pekerjaan mereka menjadi lebih efisien sehingga bisnis pun lebih tangguh. Ketika tim secara teratur diberdayakan untuk bereksperimen, penemuan yang muncul dan peningkatan produktivitas dapat membantu organisasi mengatasi tantangan yang tidak terduga dan membuka peluang baru. Menciptakan lingkungan yang mendorong terciptanya inovasi Photo Credit: Google Cloud Blog Pada akhirnya, terserah kepada setiap organisasi untuk menentukan cara terbaik untuk mengadopsi inovasi sebagai praktik sehari-hari. Namun, sebagai titik awal, ada nilai-nilai tertentu yang bisa diperkenalkan untuk membangun budaya yang mendukung pendekatan baru dalam bekerja. Dimulai dengan menciptakan suasana keamanan psikologis. Agar karyawan dan tim dapat mengambil risiko dalam mengembangkan inovasi, mereka harus merasa nyaman untuk berbicara, mengajukan pertanyaan, dan membuat kesalahan. Dorong karyawan untuk mengungkapkan rasa ingin tahu mereka. Selalu berikan apresiasi atas apa yang sudah mereka lakukan. Ketika karyawan merasa didengar, peluang mereka untuk berkontribusi pada potensi inovasi pun lebih besar. Namun mendengarkan tidak akan lengkap tanpa dorongan dari kepemimpinan. Agar perusahaan Anda lebih inovatif, dorong karyawan tingkat senior untuk memperkuat kontribusi rekan junior mereka. Baca juga: Trik Optimalisasi Chrome Browser untuk Tingkatkan Produktivitas Kerja Mempraktikkan inovasi Menumbuhkan nilai-nilai seperti keselamatan, inklusivitas, dan kolaborasi adalah langkah pertama untuk membangun inovasi menjadi kebiasaan sehari-hari. Untuk memperkuat inovasi perusahaan Anda, pertimbangkan latihan yang dapat membantu tim Anda menjadi lebih kreatif berikut: Selenggarakan dan fasilitasi latihan brainstorming rutin yang ditujukan untuk inovasi. Anda dapat mencurahkan sesi yang berbeda untuk topik tertentu. Alat virtual, seperti Google Meet untuk bekerja secara real-time atau Spaces untuk percakapan yang berkelanjutan, memastikan karyawan hybrid bisa tetap berpartisipasi dari mana saja. Saring keingintahuan calon karyawan. Gunakan Google Forms untuk membuat survei guna membantu tim dan manajer departemen menilai kandidat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bereksperimenlah sedikit setiap hari. Secara khusus, dorong karyawan Anda untuk menggunakan teknologi dengan cara baru. Cara ini akan memberdayakan mereka untuk menjadi kreatif. Jadwalkan sesi berbagi pengetahuan atau buat utas obrolan yang memungkinkan karyawan dapat bertukar tips dan praktik terbaik untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi di tempat kerja. Photo Credit: Rawpixel Dukung karyawan Anda untuk fokus pada inovasi yang tepat bagi mereka. Pekerjaan semacam ini sering membutuhkan kombinasi antara waktu individu dan kolaborasi kelompok. Preferensi orang untuk setiap jenis pekerjaan mungkin bergantung pada beban kerja dan jadwal harian mereka, berikan fleksibilitas kepada karyawan Anda untuk memutuskan kapan dan bagaimana mereka berkontribusi pada upaya inovatif. Dorong karyawan Anda untuk menggunakan Google Calendar dan mengambil Focus Time yang dikhususkan untuk aktivitas yang mendukung inovasi, seperti riset tren. Bantu tim Anda menemukan alat pilihan mereka untuk pekerjaan individu dan kolektif serta kolaborasi waktu yang sama dan bertahap. Alat interaktif seperti Jamboard dan Miro di Google Meet dapat menyempurnakan sesi kerja real-time. Baca juga: 4 Fitur Baru Chrome untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Membangun budaya kreatif membutuhkan waktu, dan ini merupakan sebuah proses berkelanjutan. Pertama, Anda harus menerapkan praktik yang kreatif. Setelah memunculkan serangkaian ide bagus, Anda pilih yang terbaik untuk dikembangkan. Terakhir, ujilah ide-ide tersebut, luncurkan dan sempurnakan berdasarkan data yang tersedia dan feedback dari pengguna. Jika inovasi dapat berjalan, waktunya untuk mengembangkan dan menskalakannya. Namun jika tidak, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi kegagalan Anda. Google Workspace beserta aplikasi, fitur, kapabilitas, dan resources produktivitasnya siap mendukung Anda untuk menciptakan suatu budaya perusahaan baru yang lebih kreatif sehingga mampu menciptakan inovasi. Belum menggunakan Google Workspace? Hubungi EIKON Technology untuk penerapan yang mulus, praktis, dan hemat biaya. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Workspace

Cara Mengembangkan Add-ons Workspace Melalui Google Apps Script

Selama menggunakan Google Workspace, pernahkah Anda merasa ingin menambahkan fitur tertentu agar pekerjaan semakin mudah. Namun sayangnya, tidak pernah ada satu produk yang benar-benar bisa mengatasi masalah setiap orang. Meski begitu, bukan berarti hal ini tidak ada solusinya. Agar Workspace bisa memenuhi kebutuhan Anda, Google menghadirkan Apps Script. Apps Script sendiri merupakan subset dari JavaScript yang memungkinkan pengguna Google Workspace untuk memanipulasi kinerja aplikasi di dalamnya. Selain itu, add-ons buatan Apps Script dapat diunggah ke Google Workspace Marketplace, sehingga Anda bisa membagikan solusi yang sudah Anda buat atau menemukan add-ons gratis yang dibuat orang lain untuk memecahkan masalah serupa secara gratis. Mulai membangun add-on Google Apps Script dapat diakses dari aplikasi Workspace seperti Google Docs, Sheets, Slides, and Forms, membuatnya mudah untuk membuat skrip terbatas dalam dokumen tertentu. Anda dapat membuat sebuah add-on sambil menggunakannya ketika sedang menjalankan aplikasi. Add-on yang masih dalam pengembangan akan ditolak, tetapi karena Google mengizinkan fitur dan pembaruan tambahan untuk ditambahkan setelah disetujui, maka ada baiknya Anda merancang add-on sederhana yang dapat dikembangkan nantinya. Anda bahkan bisa meminta feedback dari orang lain yang sudah menggunakan add-on. Baca juga: Add-Ons to Docs and Sheets: A Little Something Extra Mempersiapkan add-on di Google Workspace Marketplace Setelah add-on siap digunakan, ada beberapa item yang perlu disiapkan sebelum dapat diunggah ke Marketplace untuk ditinjau: Situs web add-on: Marketplace mengharuskan semua add-on untuk memiliki situs web mereka sendiri yang hidup di domain yang dimiliki pembuatnya (bukan di Google Sites). Nama domain tidak harus berupa nama produk. Situs web add-on juga harus menyertakan halaman kebijakan privasi dan halaman persyaratan layanan. Halaman ini harus dapat diakses dari tingkat atas situs, dengan tautan ke kebijakan privasi dan persyaratan layanan yang tersedia. Logo aplikasi: Setiap add-on memerlukan logo aplikasi yang harus ditampilkan di situs web aplikasi. Ini tidak boleh menyertakan apa pun yang terlihat mirip dengan logo Google, termasuk semua logo produk. Ukuran logo kunci untuk verifikasi oAuth adalah 120×120. Menghubungkan add-on ke Google Cloud Project Setelah situs web dan logo aplikasi siap, saatnya menghubungkannya ke Google Cloud Project (GCP). Anda dapat memulai proyek baru di https://console.cloud.google.com, tetapi sebelum dapat menghubungkan proyek GCP ke skrip, selesaikan verifikasi OAuth terlebih dahulu. Photo Credit: Google Cloud Blog Dari Google Cloud Console, gunakan menu 3 baris di kiri atas untuk memilih “API’s & Services” dan pilih “OAuth consent screen” dari menu. Di sini, Anda dapat mengatur apakah add-on akan dipublikasikan sebagai aplikasi internal di domain Google Workspace Anda atau sebagai aplikasi eksternal yang dapat diakses siapa saja. Selanjutnya, unggah logo aplikasi dan masukkan tautan ke situs web aplikasi, kebijakan privasi, dan persyaratan layanan ke layar persetujuan OAuth. Setelah mengirimkan semua elemen yang diminta untuk layar persetujuan OAuth, Anda akan diarahkan kembali ke dasbor untuk meninjau aplikasi. Untuk menghubungkan skrip ke nomor project GCP, pilih editor skrip add-on dari dasbor di sidebar. Setelah itu, navigasikan ke project settings cog dan tempel nomor proyek. Baca juga: Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet Membangun pratinjau YouTube Anda Sebelum memublikasikan, Anda perlu menyiapkan video YouTube untuk tujuan. Berikut cara yang direkomendasikan untuk membangun pratinjau YouTube: Navigasikan ke bagian Security akun Google Anda dan pilih “Third party apps with account access”. Hapus akses otorisasi yang Anda berikan sendiri selama pengujian. Saat jendela otorisasi Anda merekam layar, pilih untuk menguji add-on. Perhatikan bahwa audio tidak diperlukan karena ini bukan tutorial, hanya demonstrasi. Pastikan untuk menunjukkan Client ID di otorisasi add-on. Dalam rekaman, gulir melalui URL di bagian atas pop-up otorisasi, jeda pada Client ID cukup lama agar peninjau dapat mengonfirmasi bahwa ID dalam URL cocok dengan nomor proyek pada proyek Google Cloud. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah video selesai, Anda bisa langsung mengunggahnya ke YouTube. Video ini dapat disetel ke format unlisted, tetapi tidak dapat disetel menjadi video pribadi. Baca juga: Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Menyederhanakan Proses Kerja Jika ini adalah percobaan pertama Anda mengirimkan add-on untuk Google Marketplace, prosesnya mungkin akan terasa begitu panjang. Bahkan tidak menutup kemungkinan Anda akan mendapat penolakan. Bagaimanapun juga, mereka harus selalu memastikan bahwa end-user memiliki pengalaman positif dalam menggunakan add-on Google. Namun jangan lekas putus asa, terus lakukan evaluasi terhadap skrip Anda dan mintalah feedback dari orang lain. Akan lebih baik lagi jika add-on buatan Anda kemudian diterapkan sebagai solusi produktivitas di tempat kerja Anda. Penggunaan Workspace pun akan lebih optimal. Perusahaan Anda belum menggunakan Workspace? EIKON Technology menawarkan solusi penerapan Google Workspace yang mulus dan terjangkau. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

Tips Menciptakan Work-Life Balance di Era Hybrid bersama Microsoft

 Pandemi telah mengubah cara kerja orang-orang di seluruh dunia. Sejak Februari 2020, rata-rata pengguna Microsoft Teams mengalami peningkatan waktu rapat mingguan sebesar 252% dan jumlah rapat mingguan telah meningkat sebesar 153%. Penelitian Glint menemukan bahwa orang yang tidak mampu menjaga work-life balance dua kali lebih mungkin menunjukkan tanda-tanda kelelahan dibandingkan mereka yang mampu. Berikut beberapa tips menciptakan work-life balance di era hybrid bersama Microsoft. 5 tips untuk para pemimpin perusahaan Photo Credit: Rawpixel Ciptakan norma perilaku baru Membangun budaya kerja yang fleksibel membutuhkan eksperimen dan mindset untuk berkembang. Namun Anda dapat mengambil langkah-langkah di bawah ini untuk memberi sinyal bahwa orang dapat bekerja secara fleksibel tanpa merasa perlu bekerja sepanjang waktu. Rekam rapat Teams bila memungkinkan Dorong penyelenggara acara untuk menekan tombol rekam di bagian atas setiap rapat sehingga siapa pun yang tidak hadir bisa tetap mengikuti perkembangan terbaru. Anda juga dapat menunda pengiriman email di luar jam kerja dengan mengaktifkan fitur Delay delivery di Microsoft Viva. Sampaikan bahwa pesan yang tidak mendesak dapat menunggu Jelaskan kepada pemimpin, manajer, dan karyawan bahwa tidak apa-apa untuk tidak memeriksa email dan mengobrol di luar jam kerja inti. Lindungi waktu fokus. Dorong karyawan untuk mencatat di kalender mereka untuk pekerjaan terfokus atau meeting-free blocks. Viva Insights dapat membantu menyimpan waktu fokus berdasarkan preferensi. Ciptakan norma bahwa orang harus melihat jadwal di sekitar blok waktu tersebut bila memungkinkan. Baca juga: Menciptakan Lingkungan Kerja Inklusif dengan Microsoft Learn Dorong manajer untuk bereksperimen Dalam model kerja yang fleksibel, manajer adalah kunci untuk menyelaraskan kebutuhan individu karyawan dengan prioritas organisasi yang lebih luas, tapi mereka sering merasa buntu. Indeks Tren Kerja 2022 menemukan bahwa 74% manajer yang disurvei mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pengaruh atau sumber daya yang mereka butuhkan untuk membuat perubahan atas nama tim mereka. Untuk merangkul pola pikir belajar segalanya yang diperlukan untuk membantu karyawan mengatur ulang work-life balance mereka, manajer sebaiknya diberi izin untuk bereksperimen dengan tim mereka. Dukung karyawan untuk membuat daftar prioritas Prioritas adalah salah satu cara terbaik bagi karyawan untuk mengendalikan waktu kerja mereka. Fokus pada pekerjaan yang paling penting dan biasakan untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang kurang penting. Hal ini bisa dimulai dengan memastikan bahwa individu dan tim memahami: Tujuan bisnis yang lebih luas Bagaimana pekerjaan mereka mencapai tujuan tersebut Mengadopsi kerangka penetapan tujuan seperti Objectives and Key Results (OKR) dapat membantu individu dan tim memahami tujuan organisasi yang lebih luas. Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure 4 Langkah penting bagi setiap karyawan Photo Credit: Rawpixel Keterampilan manajemen waktu dapat membantu setiap orang menjaga keseimbangan kehidupan kerja, memberi Anda rasa kontrol sepanjang hari, menurunkan stres, dan meningkatkan kesehatan mental. Anda bisa mengajak tim untuk mulai menerapkan kebiasaan-kebiasaan berikut Menerapkan JOMO, Joy of Missing Out Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membiasakan diri dengan JOMO: Coba tolak rapat yang kehadiran Anda bersifat opsional. Anda bisa mendengarkan rekaman atau membaca transkripnya nanti. Tahan keinginan untuk bekerja selama istirahat makan siang dan waktu senggang. Coba matikan notifikasi atau beralih ke Focus Mode saat mengerjakan dokumen Word. Evaluasi selama apakah Anda menghabiskan waktu untuk proyek yang sebenarnya tidak memerlukan perhatian Anda. Tutup aplikasi dan tab media sosial saat bekerja. Periksa kotak masuk Anda pada waktu yang ditentukan dalam sehari alih-alih mengecek inbox setiap waktu. Jadwalkan waktu fokus Sering kali kita meremehkan betapa kuatnya waktu fokus. Beberapa hal, seperti tugas kreatif atau tugas-tugas yang menuntut kognitif, membutuhkan konsentrasi penuh dan interupsi terbatas. Tetapkan sebagian waktu di kalender Anda untuk pekerjaan yang terfokus sehingga rekan kerja dapat melihat kapan Anda sibuk dan tahu kapan tidak mengganggu Anda dengan permintaan email atau rapat. Butuh waktu untuk memulihkan fokus setelah gangguan apa pun, jadi gunakan Viva dan alat lain untuk menjadwalkan dan melindungi periode kerja yang terfokus. Anda akan mengurangi gangguan dan mendapatkan kembali waktu-waktu paling produktif. Jadwalkan juga waktu untuk dekompresi setelah tugas-tugas yang membuat stres agar Anda tidak merasa kelelahan. Baca juga: Peran Microsoft Teams dalam Mendukung Hybrid Working di Bidang Manufaktur Waktu tim Anda sangat berharga—begitu juga kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Membantu orang mengatur ulang work-life balance mereka adalah sebuah keterampilan kepemimpinan baru yang penting dalam pekerjaan yang fleksibel. Teruslah bereksperimen, dan Anda akan menemukan cara penting untuk membantu individu dan organisasi berkembang selama bertahun-tahun yang akan datang. Manfaatkan berbagai solusi dari Microsoft untuk mendukung pendekatan Anda. EIKON Technology sebagai Microsoft Partner siap membantu Anda menghadirkan solusi tanpa proses yang rumit. Hubungi kami di sini untuk informasi lebih lanjut mengenai implementasi solusi dari Microsoft guna menciptakan work-life balance.

Microsoft, Microsoft office 365, Office 365

15 Tahun OneDrive Microsoft: Hadirkan Pengalaman Baru yang Lebih Intuitif

Pada tanggal 9 Agustus 2022 lalu, OneDrive Microsoft merayakan ulang tahun yang ke-15. Memasuki usia baru ini, apa saja layanan yang telah dihadirkan oleh OneDrive. Bagaimana dengan potensi pengembangannya? Mari simak cerita selengkapnya berikut ini. Sejarah OneDrive Microsoft Photo Credit: Microsoft 365 Blog Sejarah OneDrive dimulai pada Agustus 2007 ketika Microsoft pertama kali meluncurkan sistem penyimpanan cloud yang memungkinkan penggunanya berbagi dan menyinkronkan file di cloud. Setahun kemudian, OneDrive menambahkan kemampuan untuk menyimpan dan mengakses foto dan video. Di 5 tahun pertamanya, OneDrive mengalami pertumbuhan yang begitu cepat. Penyebabnya tak lain adalah karena perusahaan mulai memindahkan solusi produktivitas dan kolaborasi mereka ke cloud dengan Microsoft 365 dan orang-orang mulai mengandalkan perangkat seluler mereka untuk mengelola semuanya, mulai dari foto pribadi ke email dan file kantor mereka. Baca juga: What’s Next In Security: Update Keamanan Microsoft untuk Ancaman Kompleks Sejak tahun 2016, Gartner® telah mengakui Microsoft sebagai Leader in the Content Services Platforms Magic Quadrant. Nilai yang diberikan OneDrive telah berkembang dari sekadar tempat untuk berbagi file menjadi sebuah wadah untuk berkolaborasi dengan anggota tim internal dan kolega eksternal dengan andal, lancar, dan aman di semua faktor baik melalui desktop, seluler, maupun web. Dalam lima tahun terakhir, OneDrive telah meningkatkan pengguna aktif bulanan sebesar 240 persen. Para pelanggan pun mengandalkan OneDrive untuk model kerja hybrid. Memperkenalkan pengalaman OneDrive Home baru Momen anniversary ini juga sekaligus menjadi momen bagi OneDrive untuk memperkenalkan pengalaman OneDrive Home baru. Pembaruan ini dirancang untuk membantu Anda melanjutkan pekerjaan dengan mudah dan mengejar apa yang terlewat. Segera, OneDrive akan menampilkan file Anda yang paling relevan dan mencantumkan file terbaru Anda bersama dengan pembaruan aktivitas apa pun, sehingga Anda dapat melihat semuanya secara sekilas dan dengan cepat menyusun daftar prioritas tugas kerja. file OneDrive Microsoft juga telah menambahkan fitur “Recent” ke OneDrive Home. Ini akan memastikan bahwa ketika Anda mulai bekerja, bisa langsung menemukan file yang perlu dikerjakan terlebih dahulu. Kini Anda juga dapat memfilter menurut jenis file (.docx, .pptx, .xlsx, dan .pdf) menggunakan tombol di bagian atas daftar Recent file. OneDrive Home beru ini akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang. Pengalaman baru di ini akan diluncurkan ke OneDrive untuk pengguna kantor dan sekolah. Hadirkan pengalaman yang konsisten untuk semua jenis file OneDrive berdedikasi untuk memberikan pengalaman kolaboratif yang koheren di seluruh Microsoft 365. Platform ini juga telah mendukung pengalaman berbagi yang lebih intuitif di seluruh aplikasi Office, OneDrive, SharePoint, dan Teams yang memberi Anda cara cepat dan andal untuk memberikan akses ke informasi, menyetel kontrol berbagi terperinci, melihat semua orang yang telah Anda bagikan file, dan mengelola pengaturan akses. Photo Credit: Microsoft 365 Blog OneDrive juga merancang familiar files experience di OneDrive, SharePoint, dan Microsoft Teams, sehingga Anda dapat dengan cepat menemukan file untuk dibagikan dengan rekan kerja. Entah itu untuk menelusuri, memindahkan, atau menyalin file di OneDrive atau saluran Microsoft Teams, menambahkan pintasan ke OneDrive dari pustaka dokumen di situs SharePoint atau Teams, pengalaman Anda akan selalu koheren dan konsisten. Baca juga: Mengenal Resources dan Tools Baru Microsoft Azure untuk Implementasi AI yang Lebih Aman Photo Credit: Microsoft 365 Blog Cara baru membagikan kenangan Anda Sejak 2007, OneDrive telah berkomitmen untuk melindungi seluruh file Anda yang tersimpan di cloud. Sekarang, komitmen tersebut ditingkatkan dengan menghadirkan pengalaman berbagi foto yang diperbarui untuk menghidupkan kembali kenangan seumur hidup Photo Credit: Microsoft 365 Blog OneDrive photo story membawa semua kenangan Anda ke dalam feed pribadi yang dapat Anda bagikan dengan keluarga dan teman. Fitur ini juga telah dilengkapi dengan komentar, reaksi, dan pemberitahuan untuk memacu interaksi otentik. OneDrive photo story kini tersedia di Australia melalui aplikasi seluler OneDrive untuk Android dan iOS dan dapat diakses melalui browser web favorit Anda. Nantinya fitur ini juga akan diluncurkan di wilayah lain nanti pada tahun 2023. Baca juga: Reading Coach, Tool Baru dari Microsoft Education untuk Tingkatkan Literasi Menyambut usia barunya, OneDrive Microsoft menghadirkan beberapa pembaruan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Bagi Anda yang berminat untuk menggunakan OneDrive sebagai solusi penyimpanan berbasis cloud, kami dari EIKON Technology siap membantu. Sebagai Microsoft Partner, EIKON Technology telah berpengalaman dalam implementasi solusi yang ditawarkan oleh Microsoft. Tertarik? Silakan hubungi kami di sini!

Microsoft, Microsoft office 365

Ciptakan Pengalaman Hybrid Learning Baru dengan Canvas dan Microsoft 365

 Tuntutan pengajaran dan pembelajaran terus berubah akhir-akhir ini. Hal tersebut mau tak mau mendorong para pendidik untuk terus menyesuaikan solusi teknologi yang mereka gunakan, terlebih jika melihat model hybrid learning yang semakin sering digunakan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Microsoft meluncurkan sebuah solusi yang menggabungkan Canvas and Microsoft 365 untuk memudahkan Anda dalam menyiapkan materi. Canvas + Microsoft Teams Kini tenaga pendidik dapat menggunakan Learning Management System (LMS) yang kaya fitur dari Canvas di Microsoft Teams. Menggabungkan kolaborasi dan alat produktivitas terbaik di kelasnya, Canvas + Microsoft Teams menghadirkan pengalaman belajar yang tak tertandingi. Photo Credit: Microsoft Education Blog Ratusan ribu perusahaan dan institusi pendidikan telah menggunakan Microsoft Teams untuk menyediakan panggilan video, fungsionalitas obrolan yang kompleks, dan kolaborasi berbasis grup. Fitur Microsoft Teams seperti Education Insights juga mendukung kesuksesan siswa. Alat tim seperti Viva Learning membantu staf berkoordinasi dan berkembang secara profesional. Dengan mengintegrasikan Teams dengan Canvas, Anda dapat mengakses pengalaman kolaborasi kelas dunia dan memberi siswa Anda keterampilan teknologi yang akan mereka butuhkan dalam karier mereka. Baca juga: Reading Coach, Tool Baru dari Microsoft Education untuk Tingkatkan Literasi Fitur LTI baru dilengkapi Canvas Microsoft telah menambahkan Canvas ke Learning Tools Interoperability (LTI). Ini juga telah mencakup Teams Classes LTI baru, Teams Meetings LTI baru, dan OneDrive LTI with Canvas baru. Teams Classes LTI memungkinkan guru dan siswa berpindah dengan mulus dari kelas mereka di Canvas ke tim kelas yang sesuai di Microsoft Teams. Dengan Teams Meetings LTI, pengguna dapat membuat, melihat, mengatur, dan bergabung dengan rapat Teams dari dalam Canvas. OneDrive LTI memungkinkan guru membuat tugas, menambahkan konten menggunakan Rich Content Editor (RCE) dan modul, serta membuat dokumen kolaboratif di Canvas. Baca juga: Menciptakan Lingkungan Kerja Inklusif dengan Microsoft Learn Akses situs Teams dan file bersama dari OneDrive LTI Pendidik dan siswa sekarang dapat mengakses file bersama dan file Teams mereka secara langsung dalam LTI OneDrive di Canvas. Ini membuatnya lebih mudah untuk membawa pekerjaan kolaboratif Anda ke dalam Canvas. Dengan menggunakan OneDrive LTI, Anda dapat membuat tugas, memulai kolaborasi, atau menambahkan file cloud ke kerangka dan halaman kursus di Canvas. Photo Credit: Microsoft Education Blog Dukungan untuk Channel Meetings di Microsoft Teams Meetings LTI Fitur baru lainnya memungkinkan Anda membuat channel meeting dari dalam Canvas di Teams Meetings LTI. Hal ini memungkinkan rapat berlangsung dalam Class Team, yang otomatis memberikan akses s ke semua fitur kolaborasi Teams dalam satu saluran. Photo Credit: Microsoft Education Blog Lihat pemberitahuan Teams Anda di Canvas Pendidik dan siswa kini dapat melihat pemberitahuan Teams secara langsung di dalam Canvas sehingga mereka dapat mengikuti obrolan atau diskusi penting tanpa harus berpindah aplikasi. Photo Credit: Microsoft Education Blog Buat postingan Teams langsung di Canvas Photo Credit: Microsoft Education Blog Aplikasi Teams Classes LTI di dalam Canvas membantu memfasilitasi kolaborasi pengajar dan siswa. Untuk menciptakan pengalaman yang lebih lancar, Microsoft kini mendukung kemampuan pembuatan konten dalam Canvas menggunakan aplikasi Teams Classes LTI, semuanya dengan cara yang intuitif dan tanpa harus meninggalkan Canvas untuk membuat konten. Baca juga: 3 Cara untuk Meningkatkan Pengalaman Cloud di Microsoft Azure Hybrid learning memunculkan beragam tantangan baru, bukan hanya bagi institusi pendidikan, tapi juga bagi pengajar dan siswa. Solusi baru yang dihadirkan Microsoft memudahkan para pengajar dan siswa untuk berkolaborasi. Tertarik untuk menggunakan berbagai solusi dari Microsoft untuk institusi pendidikan Anda? EIKON Technology siap membantu Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Scroll to Top