EIKON Technology

Author name: EIKON Technology

Info

Pengalaman Baru Akses Google Meet dari Glass Enterprise

Siapa bilang Google Meet hanya bisa diakses melalui perangkat seperti laptop, tablet, atau smartphone? Padahal, para pekerja lapangan seperti teknisi juga butuh berkolaborasi dengan anggota tim lain. Namun, dengan pekerjaan mereka di lapangan yang begitu menyita perhatian, penggunaan laptop atau tablet untuk mengakses Google Meet tentunya akan kurang praktis. Menjawab keresahan tersebut, Google telah membuka akses Google Meet untuk perangkat Google Glass Enterprise Edition 2 (Meet on Glass). Dengan Meet on Glass, kini para peserta rapat online dapat merasakan langsung sudut pandang dari perspektif pengguna Glass Enterprise. Di sisi lain, pengguna Glass Enterprise juga dapat mengikuti video meeting secara real-time. Apa itu Glass Enterprise? Photo Credit: Google Glass Google Glass Enterprise adalah perangkat head-mounted display AR berbentuk kacamata. Dirancang sebagai perangkat komputasi (cloud) yang bisa dipakai (wearable), pengoperasian Glass Enterprise didukung oleh internet sehingga memungkinkan pengguna untuk mengakses fungsi-fungsinya melalui perintah suara. Pada 2019 lalu, versi terbaru dari Glass Enterprise yang diberi nama Glass Enterprise Edition 2 resmi diluncurkan. Setahun setelahnya, tepatnya pada Oktober 2020, Google mengumumkan integrasi Google Meet pada Glass Enterprise Edition 2. Namun, saat itu, akses Google Meet on Glass masih sangat terbatas dalam program open beta untuk beberapa pengguna saja. Integrasi Google Meet dengan Glass Enterprise tingkatkan kolaborasi Photo Credit: Google Cloud Kabar baiknya, sejak pertengahan Juli 2021 lalu, program open beta tersebut telah diperluas sehingga kini seluruh pelanggan Google Workspace dapat mengakses Google Meet melalui perangkat Glass Enterprise. Melalui Meet on Glass, Google membawa pengalaman video conference ke level yang lebih tinggi. Dengan begitu, akan ada lebih banyak pelanggan di seluruh dunia yang bisa mengakses Google Meet, tak peduli perangkat apa pun yang digunakan. Kolaborasi dengan anggota tim di lapangan atau pekerja garda depan (frontliner) pun tetap mustahil dijalankan. Di samping itu, akses Google Meet pada perangkat Glass Enterprise juga merupakan salah satu bentuk komitmen Google untuk menciptakan pengalaman meeting yang inovatif dan mendalam. Pengalaman ini diharapkan mampu membantu Anda dan pelanggan lain untuk bekerja bersama (kolaborasi), bukan hanya meeting bersama. Bantu menyelesaikan berbagai tantangan kerja Photo Credit: Google Cloud Pengalaman Meet on Glass terbukti telah membantu banyak pekerja dalam menyelesaikan tantangan di lapangan. Hal ini dirasakan langsung oleh sejumlah pelanggan yang telah lebih dulu mendapat kesempatan untuk mengimplementasikan Meet on Glass. Di Amerika Serikat, misalnya, perusahaan layanan real estate bernama CBRE menggunakan Meet on Glass untuk menghubungkan pekerja di lapangan dengan project manager dan tim HQ. Dengan seluruh tim yang saling terhubung melalui live video dari pekerja di lapangan, bukan hanya komunikasi jadi lebih jelas, tapi proses pengambilan keputusan juga jadi lebih cepat. Hal tersebut juga didukung dengan kemudahan penggunaan Glass Enterprise sehingga tidak membuat bingung para pemakainya. Kabar baiknya lagi, akses Google Meet pada Glass juga terintegrasi dengan Google Workspace. Hanya dengan beberapa klik, Anda bisa bergabung dengan event di Google Calendar langsung melalui Glass Enterprise. Bagi perusahaan yang memiliki tim di lapangan, bekali mereka dengan perangkat Google Glass Enterprise Edition 2. Dilengkapi akses Google Meet untuk panggilan video, komunikasi dan kolaborasi pun bisa berjalan optimal. Merupakan perangkat komputasi, Google Glass Enterprise Edition 2 pun masih menjadi bagian dari produk Google Cloud. Karenanya, selain membeli perangkat Glass Enterprise, lengkapi pula dengan berlangganan Google Cloud agar bisa mengakses Google Meet dan program-program produktivitas lain seperti Calendar dan Gmail. Pastikan Anda membeli perangkat Google Glass Enterprise Edition 2 dan berlangganan Google Cloud hanya di partner resmi Google seperti EIKON Technology!

Google Workspace, Productivity, School

Belajar Lebih Aman dengan Google for Education

Dalam merancang setiap produk, tim Google for Education selalu mengutamakan privasi dan keamanan para penggunanya. Fitur-fitur keamanan pun rutin ditingkatkan agar bisa memberikan proteksi terhadap data yang tersimpan di aplikasi-aplikasi Google for Education. Hal ini merupakan salah satu komitmen Google untuk menyediakan lingkungan pembelajaran online yang aman dan terlindungi tanpa mengorbankan privasi para pengguna. Dengan begitu, mereka pun bisa benar-benar fokus dalam aktivitas belajar dan mengajar. Tiga prinsip utama pengembangan Google for Education Photo Credit: Julia M Cameron (Pexels) Demi mewujudkan komitmen tersebut, Google for Education selalu menerapkan tiga prinsip utama dalam proses pengembangan setiap produk. Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing prinsip tersebut:   Secure by default – Google for Education dilengkapi dengan sistem keamanan bersifat built-in yang akan secara otomatis melindungi Anda dari berbagai ancaman siber seperti ransomware. Private by design – Menjunjung tinggi privasi para pengguna, Google tidak menggunakan data dari Google Workspace for Education Core Services untuk kepentingan iklan apa pun. Tak hanya itu, Google juga sama sekali tidak menjual data personal para pengguna ke pihak mana pun. Kontrol di tangan pengguna – Pengguna memegang hak kekayaan intelektual penuh atas data mereka sendiri. Sebagai pengguna, Anda juga berhak mengontrol siapa yang bisa mengunduh data tersebut dan kapan bisa diunduh. Jika terjadi hal tak diinginkan, Anda akan mendapat peringatan bersifat real-time. Tidak ketinggalan dashboard khusus untuk mendapatkan laporan terkait status keamanan Anda.   Kebijakan default baru untuk pengguna Chrome dari kalangan K-12 Photo Credit: Tima Miroshnichenko (Pexels) Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, Google for Education pun dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan seperti SafeSites, SafeSearch, Incognito Mode, dan Guest Mode. Sudah banyak sekolah yang mengaktifkan fitur-fitur tersebut untuk meningkatkan keamanan penggunaan Google for Education. Kini, Google telah menerapkan kebijakan default baru pada aktivitas web browsing untuk institusi K-12 atau setara jenjang pendidikan kelas 1 SD hingga 12 SMA. Melalui kebijakan baru ini, fitur SafeSites dan SafeSearch akan aktif secara default, sedangkan Incognito Mode dan Guest Mode akan nonaktif secara default. Namun, tenang saja, admin tetap dapat mengubah kebijakan tersebut pada Chrome OS untuk unit organisasi individual. Misalnya, memberikan akses penggunaan Guest Mode untuk para pengguna pada domain mereka. Penyesuaian akses berdasarkan usia pengguna Photo Credit: Katerina Holmes (Pexels) Baru-baru ini, Google meluncurkan kebijakan baru yang memudahkan admin untuk mengatur akses penggunaan aplikasi berdasarkan usia pengguna. Seluruh admin dari institusi pendidikan dasar dan menengah wajib memberi informasi siapa saja pengguna Google for Education yang telah berusia di atas delapan belas tahun dan berada dalam jaringan unit organisasi.  Perubahan tersebut akan berlaku setelah 1 September 2021. Sebagai contoh, nantinya murid berusia di bawah delapan belas tahun yang termasuk dalam domain K-12 tetap bisa menonton video YouTube yang ditugaskan guru, tapi mereka tidak dapat mengunggah video, memberikan komentar, maupun melakukan live stream menggunakan akun Google dari sekolah. Jika admin tidak menyesuaikan pengaturan hingga 1 September 2021, maka seluruh pengguna dari institusi pendidikan dasar dan menengah secara default akan tercatat berusia di bawah delapan belas tahun. Sedangkan institusi pendidikan dengan jenjang lebih tinggi akan tercatat berusia di atas delapan belas tahun. Namun, kebijakan terkait usia ini tidak bersifat mutlak. Artinya, admin dapat kembali melakukan penyesuaian berdasarkan usia asli tiap pengguna di institusi pendidikan masing-masing. Dilengkapi sistem keamanan optimal, Google for Education menawarkan pengalaman belajar online yang melindungi privasi para penggunanya. Buktikan sendiri dengan berlangganan Google for Education melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology siap membantu menjawab segala pertanyaan Anda seputar Google for Education. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology!

Google Workspace, Gsuite, Gsuite enterprise

Google Workspace, “Kantor” Baru untuk Sistem Kerja Hybrid

Bagi para pelaku bisnis atau pimpinan divisi yang menjalankan sistem remote working, baik secara sebagian atau keseluruhan, Anda pasti paham betapa pentingnya menjaga para karyawan untuk tetap terhubung dengan satu sama lain. Baik untuk menyelesaikan tugas individu hingga kolaborasi tim secara virtual, penting bagi perusahaan untuk membekali karyawan mereka dengan perangkat teknologi yang dapat mengakomodasi kebutuhan operasional kerja karyawan. Google Workspace merupakan solusi tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Berbasis pada sistem cloud, Google Workspace menawarkan serangkaian aplikasi untuk mendukung para karyawan dalam menjalankan sistem kerja hybrid. Kabar baiknya lagi, tak peduli seberapa besar maupun kecil skala perusahaan, Google Workspace dapat memenuhi kebutuhan Anda. Seluruh solusi kerja dalam satu tempat terpusat Photo Credit: Vlada Karpovich (Pexels) Hadir sebagai platform kerja terpusat, Google Workspace memberikan layanan berisi sejumlah aplikasi untuk mempermudah aktivitas kerja, khususnya bagi yang menjalankan sistem hybrid working. Sejumlah aplikasi yang dimaksud adalah Docs, Sheets, dan Slides yang dilengkapi dengan program bernama Smart Canvas. Program tersebut berisi fitur-fitur yang membuat Anda dan tim bisa lebih mudah berkolaborasi kerja melalui ketiga aplikasi tersebut. Bahkan Anda dan tim dapat melakukan panggilan video langsung dari aplikasi Docs, Sheets, atau Slides untuk membahas konten yang dikerjakan. Tentu tidak hanya itu, aplikasi lain yang juga bisa Anda gunakan adalah Gmail, Drive, Meet, Calendar, Form, Chat, dan Keep. Seluruh aplikasi ini berbasis cloud sehingga mempermudah kolaborasi antar anggota tim walaupun sedang berada di berbagai lokasi berbeda. Dapat memenuhi kebutuhan kerja berbagai skala perusahaan Photo Credit: Priscilla Du Preez (Unsplash) Untuk mempermudah perusahaan dalam menggunakan layanannya, Google Workspace telah menyediakan beberapa pilihan edisi untuk berlangganan. Jadi, baik untuk perusahaan dengan anggota kurang dari seratus orang hingga yang skalanya mencapai enterprise, Anda bisa memilih edisi berlangganan yang paling sesuai kebutuhan perusahaan. Tentunya setiap edisi langganan tersebut menawarkan kapasitas layanan yang berbeda, mulai dari kapasitas video meeting dengan 100-250 partisipan hingga penyimpanan cloud berkapasitas 2-30 TB. Semua dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan skala perusahaan Anda. Workspace dengan sistem keamanan terjamin Photo Credit: Pixabay (Pexels) Agar bisa menjadi “kantor” yang dapat mengakomodasi kebutuhan kerja bersistem hybrid, Workspace tak hanya mengutamakan layanan pada berbagai aplikasi, tapi juga memberi perhatian lebih pada sistem keamanannya. Google Workspace paham betul bahwa keamanan data perusahaan merupakan hal yang menjadi prioritas utama. Tak perlu khawatir, Google Workspace telah dilengkapi dengan sistem keamanan dan kontrol admin yang kuat, bahkan untuk edisi berlangganan paling basic sekali pun.  Sistem keamanan tersebut mencakup teknologi two-factor identification, kontrol terhadap kebijakan grup, hingga program perlindungan bersifat advanced. Tidak ketinggalan sistem penyimpanan bersistem cloud untuk memastikan agar seluruh data Anda selalu ter-back up, sehingga keamanan data pun terjamin. Sistem kerja hybrid menuntut banyak perusahaan untuk beradaptasi. Namun, dengan menggunakan Google Workspace, proses adaptasi tersebut akan jadi lebih mudah dan aktivitas operasional sehari-hari pun bisa berjalan lancar. Karenanya, mulailah perjalanan hybrid working dengan berlangganan Google Workspace. Pastikan Anda hanya berlangganan melalui partner Google resmi di Indonesia seperti EIKON Technology. Bersama tim EIKON Technology, Anda bisa bertanya lebih lanjut seputar paket langganan Google Workspace sehingga dapat menentukan yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk mulai berlangganan Google Workspace!

Google Workspace, Gsuite, Gsuite enterprise, Technology

Data Regions Fundamental Kini Tersedia untuk Lebih Banyak Pelanggan Google Workspace

Kabar baik bagi para pelanggan Google Workspace yang selama ini ingin menggunakan layanan data regions, tapi belum bisa melakukannya karena alasan keterbatasan akses. Mulai 21 Juli 2021 lalu, layanan data regions fundamental dapat dinikmati oleh lebih banyak pelanggan Google Workspace.  Siapa sajakah pelanggan Google Workspace yang dimaksud? Apa bedanya data regions fundamental dari layanan data regions lain? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini. Membantu Anda mengontrol lokasi penyimpanan data Photo Credit: Christine Morillo (Pexels) Infrastruktur cloud Google Workspace, yang didistribusikan secara global, mampu melindungi data sekaligus mengurangi latensi berkat adanya teknologi geo redundancy. Itulah kenapa mayoritas perusahaan memilih untuk tidak membatasi penyimpanan data mereka secara geografis. Namun, jika Anda ingin mengontrol lokasi penyimpanan data, maka dapat membantu Anda. Pada dasarnya, memungkinkan Anda untuk memilih lokasi penyimpanan data Google Workspace. Data yang dimaksud adalah data yang sedang dalam keadaan nonaktif (at rest) serta data backup pada Gmail, Drive, Calendar, Docs, Sheets, Slides, Chat, Sites, Vault, Forms, dan Keep. Fitur penuh tersebut tersedia untuk pelanggan Google Workspace yang berlangganan edisi Enterprise Plus dan Education Plus. Kini, Google juga menyediakan versi terbatas (limited) dari yang dikenal dengan nama data regions fundamental. Berbeda dari data regions enterprise Photo Credit: Markus Spiske (Unsplash) Istilah yang populer di kalangan para pelanggan adalah data regions enterprise. Nah, data regions fundamental bisa dikatakan sebagai versi yang lebih terbatas dari edisi enterprise tersebut. Karena lebih terbatas, maka layanannya pun juga berbeda. Jika menggunakan versi enterprise, maka Anda bisa mengatur kebijakan untuk beberapa lokasi (region) sekaligus. Anda juga bisa mengustomisasi untuk kelompok atau unit organisasi berbeda di dalam perusahaan Anda. Sementara itu, versi fundamental hanya menawarkan satu opsi region. Karena hal ini pula, edisi fundamental hanya memperbolehkan Anda untuk mengatur satu kebijakan region pada level unit organisasi. Tersedia untuk beberapa edisi langganan Google Workspace Photo Credit: Daniel Romero (Unsplash) Perbedaan antara versi enterprise dan fundamental tak hanya terletak pada kebijakannya, tapi juga ketersediaan untuk para pelanggan. Dalam hal ini, data fundamental bisa dibilang lebih unggul karena cakupannya yang cenderung lebih luas. Versi fundamental tersedia untuk pelanggan Google Workspace yang berlangganan edisi Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, dan Frontline. Sementara itu, versi enterprise hanya tersedia untuk pelanggan Google Workspace yang berlangganan edisi Enterprise Plus dan Education Plus. Dengan kata lain, layanan ini tidak tersedia untuk para pelanggan Google Workspace yang berlangganan edisi Enterprise Essentials, Education Fundamentals, Nonprofits, Business, dan G Suite Basic.   Melalui layanan data regions fundamental, Anda dapat mengatur kebijakan lokasi penyimpanan data pada Google Workspace. Untuk mulai menggunakannya, Anda harus terlebih dulu berlangganan Google Workspace edisi Frontline, Business Standard, Business Plus, atau Enterprise Standard. Caranya sangat mudah, Anda hanya perlu menghubungi partner premium resmi Google yang tepercaya di Indonesia, EIKON Technology. Tim dari EIKON Technology akan membantu Anda memahami perbedaan tiap edisi langganan Google Workspace. Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk mendapatkan layanan data regions fundamental Google Workspace!

Google Meet, Google Workspace, Productivity, Produktivitas, School

4 Update Penting Google for Education dari Event The Anywhere School 2021

  Tahun ini, event tahunan The Anywhere School telah sukses diselenggarakan pada Juni 2021 lalu. The Anywhere School merupakan online event gratis dari Google yang ditujukan kepada guru, admin IT, dan para petinggi di bidang edukasi. Melalui event ini, Google for Education membagikan update seputar produk dan perangkat yang mereka kembangkan untuk memenuhi kebutuhan edukasi. Ada empat produk unggulan yang menjadi fokus utama Google pada event The Anywhere School 2021. Keempat produk ini tergabung dalam program Google for Education, yaitu Google Classroom, Google Meet, Google Workspace for Education, dan Chrome OS. Apa saja update yang diberikan? Cari tahu selengkapnya di bawah ini! Peningkatan keamanan dan kolaborasi pada Google Workspace for Education Photo Credit: Google Pada Mei 2021 lalu, Google meluncurkan fitur Smart Canvas untuk Google Workspace for Business. Fitur ini membuat aplikasi seperti Docs, Slides, dan Sheets menjadi lebih interaktif sehingga memperkuat kolaborasi di antara penggunanya. Ternyata Smart Canvas tak hanya ada pada Google Workspace for Business, tapi juga bisa diakses oleh para pengguna Google Workspace for Education. Hal ini tentunya akan memudahkan para guru dan murid untuk berkolaborasi walaupun tidak bertemu langsung. Tak hanya itu, Google Workspace for Education juga mendapatkan peningkatan sistem keamanan, khususnya bagi Anda yang berlangganan edisi Education, Education Plus, atau Education Standard. Ragam fitur terbaru untuk Google Classroom Photo Credit: Google Produk lain dari Google for Education yang juga mendapat update adalah Google Classroom. Sebagai learning management system (LMS), Classroom telah membantu banyak guru dan murid dalam melangsungkan kegiatan belajar dan mengajar yang efektif secara online. Berikut ini sejumlah fitur terbaru yang akan Anda temukan pada Google Classroom: Fitur impor daftar nama (roster) akan memudahkan pihak admin untuk menyiapkan kelas dalam skala besar sehingga lebih menghemat waktu. Guru atau pengajar kini bisa menambahkan konten atau aktivitas pembelajaran favorit ke dalam Classroom melalui fitur add-ons. Dashboard baru yang menampilkan aktivitas murid di Classroom, memungkinkan guru untuk memantau partisipasi murid. Kini guru bisa memberikan tugas kepada beberapa kelas sekaligus dalam waktu bersamaan. Google Meet jadi lebih mudah dan aman digunakan ​​ Photo Credit: Google Demi meningkatkan pengalaman kelas online, Google Meet sebagai salah satu produk Google for Education juga mendapatkan update. Berbagai fitur ditambahkan agar bisa terus mendukung kebutuhan para guru dan murid secara berkelanjutan. Berkat update tersebut, Google Meet jadi lebih mudah digunakan karena kini mampu mengaktifkan fungsi pin terhadap beberapa pembicara sekaligus dalam waktu bersamaan. Tak hanya itu, layanan panggilan video atau video conference juga mendapat peningkatan kualitas. Kini video conference di Google Meet dapat terintegrasi dengan fitur live streaming secara publik di YouTube. Tidak ketinggalan peningkatan performa pada fitur hand-raising dan teks terjemahan langsung (live translated captions) yang akan memudahkan para peserta untuk berpartisipasi. Personalisasi pada perangkat Chromebook Photo Credit: Google Google for Education memang pada dasarnya dapat diakses melalui beragam perangkat, mulai dari Windows hingga MacOS. Namun, tidak sedikit sekolah yang membagikan perangkat Chromebook agar dapat menjalankan program-program Google for Education secara optimal. Dibekali sistem Chrome OS, Chromebook memang dirancang untuk menjalankan program atau software buatan Google dengan performa maksimal, termasuk Google for Education. Agar para pengguna bisa lebih mudah menggunakan Chromebook, kini sistem login diubah lebih sederhana dengan adanya fitur PIN. Hadir pula fitur Chrome Insights Reports yang memudahkan admin untuk mengecek batas tanggal maksimal dari update otomatis pada Chromebook. Hal ini disebut juga dengan Automatic Update Expiration (AUE). Dengan begini, admin bisa tahu Chromebook mana saja yang AUE-nya akan berakhir sehingga dapat mempertimbangan untuk membeli perangkat baru. Dengan adanya update terbaru, produk-produk Google for Education pun dapat lebih maksimal dalam membantu Anda melakukan berbagai aktivitas pendidikan. Imbangi pula dengan pemakaian perangkat yang punya performa kuat seperti Chromebook. Tenang saja, kini Anda bisa membeli Chromebook dengan mudah dan aman melalui EIKON Technology. Sebagai partner resmi Google di Indonesia, EIKON Technology menyediakan berbagai perangkat Chromebook dalam berbagai merek dan spesifikasi. Dibantu tim berpengalaman dan profesional, Anda dapat memilih yang paling sesuai kebutuhan. Klik di sini untuk dapatkan perangkat Chromebook Anda agar bisa segera menggunakan Google for Education!

Google Workspace, Productivity, Produktivitas, School

5 Fitur Google Classroom Terbaru Penuhi Kebutuhan Belajar-Mengajar Masa Kini

Sejak 1,5 tahun belakangan ini, penggunaan teknologi di bidang edukasi (ed-tech) mengalami peningkatan. Seiring dengan sejumlah sekolah yang mulai kembali melangsungkan pertemuan tatap muka dan sebagian lainnya masih belajar online, Google optimis bahwa teknologi mampu membantu para guru dan murid dalam melaksanakan aktivitas tersebut. Google Classroom menjadi salah satu produk teknologi yang telah membantu jutaan guru dan murid dalam melangsungkan pembelajaran. Berfungsi sebagai learning management system (LMS), Google Classroom senantiasa memberikan update terhadap fitur-fiturnya agar bisa terus memenuhi kebutuhan pendidikan. Update versi terbaru telah dirilis pada Juni 2021 lalu. Berikut ini sejumlah fitur Google Classroom yang akan semakin menunjang kebutuhan aktivitas belajar-mengajar masa kini. Penjadwalan tugas pada banyak kelas   Photo Credit: Google Agar dapat terus memenuhi kebutuhan pendidikan seiring dengan berkembangnya zaman, Google Classroom sangat terbuka terhadap segala kritik dan masukan. Dari sekian banyak saran yang masuk, salah satu fitur yang paling dinantikan adalah penjadwalan tugas untuk banyak kelas. Tahun ini, fitur Google Classroom tersebut akan segera diluncurkan. Melalui fitur ini, nantinya para guru bisa menjadwalkan berbagai tugas untuk beberapa kelas sekaligus dalam waktu bersamaan. Tentunya hal ini akan sangat menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi. Kemampuan add-ons pada Google Classroom Photo Credit: Google Bagi yang berlangganan Google Classroom edisi Teaching and Learning Upgrade atau Education Plus, sebentar lagi Anda bisa menambahkan konten atau aktivitas favorit dari perangkat ed-tech lain ke dalam Classroom. Dengan kata lain, Anda tak perlu keluar Classroom untuk menggunakan konten atau add-ons tersebut. Sebagai permulaan, Google Classroom bekerja sama dengan sembilan partner. Beberapa di antaranya adalah BookWidgets, Edpuzzle, Kahoot!, dan Adobe Spark for Education. Secara perlahan, Google akan menambahkan konten dari lebih banyak partner.   Peningkatan performa Google Meet di Classroom   Photo Credit: Maria Thalassinou (Unsplash) Integrasi Google Meet pada Classroom telah terbukti memudahkan murid dan guru dalam pembelajaran tatap muka walau tak secara langsung. Mengingat pentingnya hal tersebut, fitur Google Classroom ini pun akan mengalami peningkatan performa dalam beberapa bulan ke depan. Melalui update ini, para guru yang menggunakan Meet pada Classroom akan secara otomatis menjadi co-host saat kelas online atau online meeting. Lalu, hanya murid yang tercantum dalam daftar nama (roster) Classroom yang bisa bergabung dengan Meet. Murid lainnya harus menunggu untuk bergabung hingga ada guru yang memberikan akses link kepada mereka. Sementara itu, pihak di luar roster harus “ask to join” sehingga tidak akan ada partisipan asing yang bisa bergabung sekenanya ke dalam Google Meet.   Dashboard untuk memantau keterlibatan murid   Photo Credit: Google Partisipasi murid berperan sangat penting dalam efektivitas kegiatan belajar-mengajar, terutama jika dilakukan secara online. Fitur Google Classroom satu ini akan membantu para guru dalam memantau tingkat partisipasi atau keterlibatan murid. Google Classroom akan kedatangan dashboard khusus yang dapat memudahkan guru untuk memontior aktivitas keterlibatan murid. Melalui dashboard ini, guru bisa melihat kapan murid terakhir kali aktif menggunakan Google Classroom, kapan mereka terakhir mengumpulkan tugas, hingga seberapa sering mereka berpartisipasi di kelas melalui fitur komentar.   Mode offline pada perangkat Android   Photo Credit: Daniel Romero (Unsplash) Tidak semua murid dan guru mengakses Google Classroom melalui perangkat laptop atau komputer. Ada pula beberapa dari mereka yang menggunakan perangkat Android. Walaupun memang praktis, pemakaian perangkat Android untuk mengakses aplikasi Classroom kerap disertai keluhan akibat pengguna harus selalu online. Kabar baiknya, dalam beberapa bulan mendatang, aplikasi Classroom di Android dapat segera diakses dalam mode offline. Para murid pun bisa mengecek dan mengerjakan tugas di Google Docs tanpa harus terhubung dengan internet.   Kebutuhan pada sektor edukasi akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman, khususnya untuk aktivitas belajar dan mengajar. Google mampu memenuhi beragam kebutuhan tersebut dengan rutin memberikan update pada fitur-fitur Google Classroom. Terlebih jika Anda berlangganan Google Classroom versi premium, pembelajaran online pun jadi lebih optimal mengingat ada fitur-fitur khusus yang tidak akan Anda dapatkan pada versi gratis. Kabar baiknya lagi, Classroom dapat diakses dari perangkat mana pun, baik MacOS, Windows, hingga Linux. Namun, untuk performa optimal, Chromebook merupakan pilihan perangkat yang tepat karena dibekali dengan sistem Chrome OS yang memang dirancang untuk menjalankan program-program Google seperti Classroom. Perangkat Chromebook bisa didapatkan dengan mudah melalui EIKON Technology, partner resmi Google di Indonesia.

Chromebook

Update Terbaru Chromebook Menunjang Pembelajaran Bersistem Hybrid

  Per 2020 lalu, tercatat ada 40 juta perangkat Chromebook yang digunakan di seluruh dunia untuk kebutuhan pendidikan. Jumlah tersebut meningkat 33% jika dibandingkan tahun 2019 yang angkanya hanya mencapai 30 juta pengguna. Tahun ini, jumlah tersebut diprediksi akan meningkat dengan adanya tambahan 40 perangkat Chromebook baru. Seiring dengan hal tersebut, Google juga baru-baru ini melakukan update Chromebook agar aktivitas belajar-mengajar dapat dilakukan dari mana saja, baik di sekolah, rumah masing-masing, maupun di antara keduanya (hybrid).  Dengan adanya update terbaru pada Chromebook, diharapkan agar para pelajar dan pengajar dapat tetap saling terhubung sehingga memudahkan partisipasi aktif selama kelas berlangsung. Berikut ini sejumlah update Chromebook yang akan semakin menunjang aktivitas belajar dan mengajar bersistem hybrid. Peningkatan keamanan dengan fitur PIN untuk login Photo Credit: Google Melalui Chromebook, Google tak hanya menyediakan perangkat edukasi yang aman, tapi juga mudah digunakan. Itulah kenapa mulai Agustus 2021 ini, Chromebook meluncurkan fitur PIN untuk login. Jadi, baik pelajar, pengajar, hingga admin tak perlu lagi mengetik password panjang demi bisa mengakses perangkat. Ketika login ke perangkat Chromebook, Anda hanya akan diminta menyiapkan enam digit PIN. PIN inilah yang nantinya digunakan untuk login atau men-unlock perangkat Chromebook. Bagi yang menggunakan perangkat terbaru Chromebook, fitur PIN untuk login ini akan langsung menjadi standar keamanan secara default. Pemberitahuan terkait Automatic Update Expiration Photo Credit: Google Salah satu keunggulan Chromebook adalah adanya update sistem secara otomatis sejak pemakaian pertama hingga delapan tahun ke depan. Tujuannya tentu agar perangkat Chromebook Anda selalu up-to-date dengan fitur dan sistem keamanan terbaru. Namun, Google menerima masukan bahwa beberapa pengguna kesulitan untuk mengetahui kapan fitur update otomatis tersebut akan berhenti. Batas waktu maksimal ini disebut juga dengan Automatic Update Expiration (AUE). Sebetulnya pada 2020 lalu, Google telah melakukan update Chromebook terkait hal ini, yaitu dengan memperbarui halaman Devices pada Google Admin Console untuk menunjukkan kapan perangkat Chromebook pengguna mencapai AUE. Kini, Google menambahkan halaman baru pada Admin Console yang memungkinkan admin untuk mengakses Chrome Insights Reports. Laporan pertama menampilkan tanggal AUE perangkat-perangkat Chromebook, memudahkan Anda untuk mengetahui kapan dan berapa banyak perangkat yang akan atau telah mencapai tanggal AUE. Berdasarkan laporan ini, Anda dapat membuat keputusan untuk mempertimbangkan kapan harus beli perangkat Chromebook baru. Point Scanning, mode navigasi baru untuk Switch Access Photo Credit: Kelly Sikkema (Pexels) Dibekali banyak fitur aksesibilitas bawaan, Chromebook dikenal sebagai salah satu perangkat edukasi yang cukup inklusif. Salah satu fitur yang telah membantu banyak pengguna adalah Switch Access, yang memungkinkan Anda menggunakan keyboard bawaan atau perangkat eksternal melalui Bluetooth atau USB untuk mengontrol kursor. Pada Agustus 2021 ini, Switch Access mendapatkan fitur navigasi baru bernama Point Scanning. Update Chromebook ini memungkinkan Anda untuk memilih titik mana pun pada layar. Caranya adalah dengan terlebih dulu menentukan lokasi horizontal dari titik yang Anda pilih, kemudian beralih ke lokasi vertikalnya. Tutorial baru untuk ChromeVox Photo Credit: Google ChromeVox adalah salah satu fitur pembaca bawaan yang tersedia pada Chromebook. Melalui update Chromebook terbaru, Google meluncurkan tutorial baru untuk ChromeVox, termasuk panduan singkat untuk pengguna baru yang secara otomatis akan muncul saat ChromeVox diaktifkan. Tak hanya itu, tutorial tersebut juga mencakup pelajaran interaktif (interactive lessons). Fitur ini akan meminta pengguna menjalankan suatu perintah atau menekan tombol tertentu untuk melanjutkan pemakaian. Tidak ketinggalan adanya bagian khusus pada ChromeVox untuk latihan. Melalui fitur ini, pengguna bisa melatih apa yang telah mereka baca atau pelajari. Tenang saja, seluruh fitur tutorial pasa ChromeVox ini juga tersedia untuk perangkat layar sentuh. Penggunaan Chromebook memudahkan para pelajar dan pengajar untuk menjalankan kegiatan pendidikan secara hybrid, terutama dengan adanya berbagai update di atas. Seluruh update Chromebook tersebut akan ter-install secara otomatis pada perangkat Anda. Bagi yang belum punya, pastikan Anda mendapatkan perangkat Chromebook edisi terbaru hanya dari partner resmi produk Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Menyediakan Chromebook dalam berbagai merek dan spesifikasi, tim EIKON Technology akan membantu Anda memilih perangkat yang paling sesuai dengan kebutuhan edukasi. Tak perlu tunggu lama, hubungi EIKON Technology sekarang juga untuk mendapatkan perangkat Chromebook Anda!

Appsheet

Formula dan Expressions, Kunci Utama Membuat Aplikasi Tanpa Coding

Merancang aplikasi secara custom dapat menjadi salah satu cara efektif untuk menyederhanakan proses bisnis. Namun, jika Anda tidak memiliki background IT, dari mana Anda harus memulai? Kabar baiknya, kini Anda bisa membuat aplikasi menggunakan platform pengembangan bersifat no-code. Artnya, tak perlu kemampuan coding untuk menghasilkan aplikasi yang dapat membantu transformasi digital pada bisnis. Pastikan Anda memilih platform yang mengutamakan fleksibilitas dan fungsionalitas seperti AppSheet dari Google Cloud. Ini karena AppSheet menggunakan formula dan expressions dalam membuat aplikasi tanpa coding untuk Anda. Kedua hal ini menjadi kunci utama yang memudahkan para pengguna untuk mengembangkan aplikasi di AppSheet. Hanya perlu membutuhkan ilmu dasar spreadsheet ​​ Photo Credit: Campaign Creators (Unsplash) Istilah formula dan expressions mungkin terdengar sangat teknis, terutama bagi Anda yang bukan berasal dari bidang IT. Namun, sebetulnya kedua hal tersebut relatif mudah dipahami. Bahkan jika selama ini Anda terbiasa menggunakan spreadsheet, maka kemungkinan besar Anda akan bisa dengan mudah mengoperasikan platform AppSheet.  Formula adalah rumus yang digunakan untuk mendapatkan nilai dari suatu cell. Sementara itu, expression merujuk pada persamaan yang menggunakan data dan operator untuk mendapatkan hasil atau nilai. Pada AppSheet, expressions sangat mirip dengan formula yang biasa Anda gunakan di Google Sheets atau Excel. Misalnya, jika Anda membuat aplikasi tanpa coding yang memuat data seluruh tugas tim Anda, maka Anda bisa menggunakan formula untuk menyaring tampilan sesuai kriteria khusus, contohnya “tugas yang sudah selesai” dan “tugas yang belum selesai”. Tentu masih banyak hal fungsional lain yang dapat dilakukan formula. Dengan formula, Anda bisa merancang aplikasi tanpa coding yang menampilkan data-data tertentu secara spesifik dalam tampilan sesuai preferensi. Formula menyediakan pengalaman penggunaan aplikasi yang user-friendly dan bersifat dinamis. Tingkatkan penggunaan formula dan expressions dengan automasi  Photo Credit: Maxim Ilyahov (Unsplash) Pada level lebih tinggi, formula dan expressions memungkinkan Anda untuk menciptakan actions. Sebagai contoh, pada tiap tugas yang telah melampaui deadline, Anda bisa merancang agar nantinya aplikasi mengirimkan email berisi pesan yang dapat dengan mudah diedit oleh manajer sebelum dikirimkan ke supervisor. Anda juga dapat mencatat notifikasi email terkirim pada aplikasi. Dalam membuat aplikasi tanpa coding, fungsi formula dan expressions akan semakin powerful jika Anda memasukkan unsur automasi. Pada contoh di atas, pengiriman email mengharuskan manajer untuk membuka pesan serta memencet tombol khusus untuk mengirim dan menyimpan data email.  Aktivitas manual ini dapat diminimalisir jika Anda mengautomasikan aplikasi tanpa coding yang sedang dirancang. Jadi, misalnya, nantinya setiap pagi aplikasi buatan Anda akan mengirimkan notifikasi kepada manajer dan supervisor terkait tugas-tugas yang telah melampaui deadline. Dengan begini, akan tercipta proses kerja terautomasi (automated workflow) yang tidak hanya mengurangi aktivitas kerja manual, tapi juga meminimalisir terjadinya human error. Proses kerja pun bisa berjalan lebih efektif serta efisien. Tips singkat membuat aplikasi tanpa coding Photo Credit: Alex Kotliarsky (Unsplash) Untuk membantu mempermudah proses membuat aplikasi tanpa coding menggunakan formula dan expressions, di AppSheet, berikut sejumlah tips yang dapat Anda terapkan: Filter data menggunakan expressions pada fitur Security Filters atau Slices untuk memastikan pengguna aplikasi hanya akan melihat data yang memang relevan untuk mereka. Gunakan expressions sebagai fungsi “Show If” pada tampilan, action, dan data di seluruh bagian aplikasi untuk memastikan agar fitur-fitur spesifik aplikasi hanya muncul ketika benar-benar relevan terhadap pengguna. Manfaatkan detail pengguna aplikasi untuk meningkatkan fungsionalitas aplikasi sehingga nantinya benar-benar relevan terhadap mereka. Berikut beberapa formula dan expressions yang bisa digunakan:   USEREMAIL () – untuk mendeteksi siapa saja yang menggunakan aplikasi. HERE () – menggunakan data lokasi pengguna untuk menampilkan entri terdekat dengan mereka. CONTEXT () – mempelajari jenis perangkat yang pengguna pakai untuk membuka aplikasi.     Penerapan formula dan expressions memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding secara mudah menggunakan platform AppSheet. Buktikan sendiri dengan berlangganan AppSheet versi premium melalui EIKON Technology, partner resmi Google di Indonesia. Klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology!

Appsheet

5 Sampel Aplikasi Tanpa Coding untuk Mengurangi Risiko di Tempat Kerja Selama Pandemi COVID-19

  Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak kebiasaan di dunia kerja sejak 1,5 tahun belakangan ini. Ruang rapat kosong karena aktivitas pertemuan berpindah ke platform conference call. Begitu juga dengan percakapan harian yang kini lebih banyak terjadi di platform chatting. Lalu, bagaimana dengan pekerja yang masih harus datang ke kantor? Banyak perusahaan yang akhirnya mengandalkan software cloud computing agar mereka tetap bisa terhubung dengan tim di kantor. Ditambah dengan berbagai dinamisme tinggi di tengah pandemi, semakin banyak pula perusahaan yang memakai platform aplikasi tanpa coding seperti AppSheet dari Google Cloud untuk mengembangkan aplikasi dalam waktu cepat. AppSheet merupakan platform yang memungkinkan Anda untuk membuat aplikasi tanpa coding sedikit pun. Dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang dikembangkan dari berbagai sampel di AppSheet, para pekerja lapangan atau pekerja yang masih harus datang ke kantor pun dapat meminimalisir risiko selama pandemi COVID-19. Apa saja aplikasi yang dimaksud? Cari tahu selengkapnya di bawah ini.   COVID Disinfectants   Photo Credit: cottonbro (Pexels) Di tengah pandemi COVID-19, kebersihan lingkungan kerja menjadi salah satu faktor yang urgensinya meningkat. Kantor atau tempat kerja wajib dilengkapi dengan aneka perlengkapan pembersih untuk mengurangi potensi penyebaran virus. Pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi COVID Disinfectants. Menggunakan data dari file Google Sheet, sampel aplikasi tanpa coding dari AppSheet ini menyediakan daftar produk disinfektan yang telah memenuhi standar EPA dalam melawan virus penyebab COVID-19. Tak hanya itu, Anda juga bisa langsung memesannya melalui aplikasi tersebut.   Surface Sanitizer   Photo Credit: Matilda Wormwood (Pexels) Menyimpan perlengkapan pembersih saja belum cukup untuk mengurangi risiko di tempat kerja selama pandemi COVID-19. Anda juga perlu memastikan agar aktivitas pembersihan dan sanitasi rutin dilakukan di kantor. Manfaatkan aplikasi Surface Sanitizer yang sampelnya dapat Anda modifikasi di AppSheet. Aplikasi ini akan memudahkan Anda dalam memeriksa area mana saja yang perlu dibersihkan secara rutin. Secara default, aplikasi akan memberikan notifikasi setiap 24 jam sekali untuk melakukan sanitasi. Namun, Anda juga bisa mengubah pengaturan waktu tersebut.   Building Management   Photo Credit: Austin Distel (Unsplash) Karena COVID-19, banyak perusahaan harus memikirkan ulang pemakaian gedung kantor demi menjaga kesehatan dan keamanan para pekerjanya. Anda bisa kembali melakukan pengelolaan gedung dengan bantuan sampel aplikasi tanpa coding yang tersedia di AppSheet. Melalui aplikasi bernama Building Management, Anda dapat mengatur ulang denah lantai, mengatur pemeliharaan perabotan kantor, dan sebagainya. Bahkan Anda juga bisa mengatur ulang ruang kerja untuk menerapkan social distancing di antara para pekerja.   Building Inspections   Photo Credit: Matilda Wormwood (Pexels) Agar lingkungan kerja bisa terus menerapkan protokol kesehatan dan keamanan selama pandemi COVID-19, maka perlu dilakukan inspeksi gedung secara rutin. Gunakan sampel aplikasi Building Inspections di AppSheet agar prosesnya jadi lebih mudah. Memanfaatkan data dari file Google Sheet, aplikasi Building Inspections akan melacak, memonitor, dan langsung mengambil tindakan untuk memastikan agar gedung kantor Anda selalu up-to-date dengan kebijakan terbaru terkait protokol kesehatan dan keamanan selama pandemi COVID-19.   Safety Reporting   Photo Credit: John Tuesday (Unsplash) Demi menciptakan lingkungan kerja yang minim risiko selama pandemi COVID-19, maka pekerja juga turut berpartisipasi aktif. Jika menemukan masalah atau insiden terkait protokol kesehatan di tempat kerja, mereka harus segera melaporkannya. Anda dan tim dapat melakukan hal tersebut dengan menggunakan Safety Reporting. Sampel aplikasi tanpa coding ini memungkinkan Anda untuk mengajukan laporan keamanan yang mencangkup level prioritas, deskripsi detail, dan foto bukti terkait. Berdasarkan laporan tersebut, pihak pengelola gedung pun bisa segera melakukan peninjauan.   Beberapa pekerjaan tertentu mengharuskan sejumlah karyawan untuk tetap bekerja dari kantor saat pandemi COVID-19. Demi meminimalisir risiko kesehatan dan keamanan di lingkungan kerja tersebut, manfaatkan teknologi automasi melalui aplikasi-aplikasi tanpa coding di atas. Anda dapat mengembangkannya melalui sampel aplikasi yang bisa dimodifikasi pada AppSheet. Lalu, bagaimana caranya untuk mulai menggunakan AppSheet dari Google Cloud? Cukup menghubungi partner resmi Google di Indonesia seperti EIKON Technology. Tim EIKON Technology akan membantu Anda untuk mulai berlangganan AppSheet secara premium. Tenang saja, tersedia beberapa edisi langganan AppSheet sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Hubungi EIKON Technology sekarang juga!

Info

Meningkatkan Efisiensi Kerja di Bidang Retail dengan Teknologi No-code Automation

  Bisnis retail dituntut melakukan adaptasi besar-besaran selama pandemi COVID-19. Dari yang semula menawarkan pengalaman belanja di toko, kini bisnis retail harus beralih ke model penjualan digital demi alasan keamanan. Perubahan ini tentunya membawa tantangan tersendiri, tapi untungnya dapat dipermudah dengan mengautomasi aktivitas kerja. Tak dapat dipungkiri bahwa transformasi digital dapat terkesan berat, terlebih jika tidak didampingi oleh tim teknisi IT yang kuat. Namun, tidak begitu halnya jika Anda menggunakan teknologi no-code automation seperti yang disediakan AppSheet dari Google Cloud. AppSheet adalah platform pengembangan aplikasi tanpa coding untuk mengautomasi proses kerja (workflow), yang dapat berlaku pula di bidang retail. Menggabungkan kekuatan artificial intelligence (AI) dan teknologi no-code automation, AppSheet akan membantu meningkatkan efisiensi kerja di bidang retail melalui berbagai cara. Mempercepat pengecekan barang di gudang Photo Credit: Nana Smirnova (Unsplash) Saat tidak bisa menemukan barang yang dicari, umumnya konsumen akan bertanya apakah Anda masih memiliki persediaan barang tersebut di gudang. Untuk memastikannya, Anda perlu mengecek gudang terlebih dulu sehingga tak jarang konsumen harus menunggu cukup lama demi mendapatkan jawaban. Proses tersebut dapat dipersingkat dengan menggunakan aplikasi khusus stok barang yang dikembangan pada platform no-code automation seperti AppSheet. Melalui aplikasi tersebut, Anda bisa memeriksa persediaan barang di gudang langsung dari perangkat mobile sehingga tak perlu langsung mendatangi gudang. Jika stok barang yang dimaksud ternyata telah habis, Anda bisa menggunakan aplikasi yang sama untuk mencari stok di cabang toko atau gudang terdekat. Dengan proses yang lebih singkat, Anda bisa berpeluang menghasilkan lebih banyak penjualan. Berikan pengalaman berkesan kepada konsumen Photo Credit: Arturo Rey (Unsplash) Retail dikenal sebagai bidang bisnis yang sangat kompetitif. Agar bisa unggul, melakukan penjualan saja tidaklah cukup. Anda juga perlu memenangkan hati konsumen. Untungnya, hal ini juga bisa dilakukan melalui teknologi no-code automation. Melalui platform yang dikembangkan di AppSheet, Anda dapat membentuk sistem reward untuk konsumen agar mereka punya motivasi untuk kembali berbelanja di tempat Anda. Beberapa contohnya adalah memberikan loyalty point untuk dikumpulkan, membagikan kode diskon, dan memberikan hadiah khusus saat mereka ulang tahun. Lebih akurat dalam melakukan merchandise planning Photo Credit: Ksenia Chernaya (Pexels) Merchandise planning adalah metode untuk memilih, mengelola, membeli, menampilkan dan menetapkan harga produk agar bisa memberikan returns on investment (ROI) optimal serta menambah value pada brand produk tersebut. Mengingat tujuannya yang begitu penting, tak mengherankan jika umumnya retailer menghabiskan 20% waktu mereka untuk merchandise planning. Teknologi no-code automation dapat membantu melakukan hal tersebut secara optimal. Anda dan tim bisa mengembangkan aplikasi yang mampu menjalankan analisis prediktif untuk mempelajari tren pada masa lalu, saat ini, dan masa depan. Berdasarkan hasil yang didapat, Anda pun dapat mengambil keputusan yang relatif lebih akurat untuk kebutuhan merchandise planning. Peluang untuk mendapatkan ROI yang maksimal pun akan semakin tinggi. Automasi berbagai kegiatan akuntansi Photo Credit: Christina Hawkins (Unsplash) Accounting, atau akuntansi, merupakan salah satu area paling penting dalam kesuksesan suatu bisnis. Melalui praktik akuntansi yang baik, Anda dapat memanfaatkan hasil data untuk mengambil keputusan terkait pengeluaran, payroll, hingga utang dan piutang. Agar lebih mudah dalam melakukan berbagai kegiatan akuntansi, terapkan automasi workflow menggunakan teknologi no-code automation. Automasi workflow akan mempercepat proses berbagai aktivitas akuntansi. Terlebih, jika menggunakan AppSheet, telah tersedia sampel aplikasi Expensing and Procurement yang dapat Anda salin dan modifikasi sesuai kebutuhan bisnis. Penerapan teknologi no-code automation dapat meningkatkan efisiensi bisnis retail melalui berbagai area di atas. Kabar baiknya lagi, untuk melakukan hal tersebut, Anda tidak membutuhkan kemampuan coding karena bisa memanfaatkan platform AppSheet dari Google Cloud. Jadi, tunggu apa lagi? Buktikan sendiri manfaat teknologi no-code automation dengan berlangganan AppSheet melalui partner premium Google di Indonesia, EIKON Technology. Cukup klik di sini untuk terhubung dengan tim EIKON Technology yang akan membantu Anda berlangganan AppSheet dan mulai menggunakannya!

Scroll to Top