EIKON Technology

Google Workspace

Google Workspace

Cara Melihat Ketersediaan Jadwal di Calendar Interop melalui Google Calendar

Pada pengaturan default Calendar Interop saat ini, jika Anda ingin melihat ketersediaan pengguna Microsoft Exchange untuk menjadwalkan rapat, maka permintaan akan dilakukan melalui akun Exchange tersebut. Namun jika kemudian terjadi terlalu banyak permintaan dalam jangka waktu tertentu, role account Exchange dapat mencapai batasnya, dan akibatnya, layanan Calendar Interop pun mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Per 8 September 2022, administrator dapat melakukan konfigurasi beberapa role account di konsol Admin Calendar Interop. Hal ini akan memberikan dukungan tambahan terutama ketika jumlah permintaan lebih tinggi dari biasanya, sekaligus memungkinkan Calendar Interop bekerja lebih lancar dalam skala besar. Mari simak detail lengkapnya berikut ini. Apa itu Calendar Interop? Photo Credit: drobotdean (Freepik) Sebagai administrator, Anda dapat menggunakan Calendar Interop untuk memungkinkan Microsoft Exchange dan Google Kalender bekerja bersama. Pengguna di kedua sistem berbagi status ketersediaan mereka sehingga semua orang dapat melihat jadwal satu sama lain. Administrator dapat melakukan hal-hal berikut: Aktifkan Calendar Interop untuk domain. Memberi/menolak izin pengguna Calendar memesan resources dari kalender Exchange, seperti ruang rapat, saat mereka menjadwalkan rapat. Gunakan alat otomatis untuk memverifikasi penyiapan. Lihat pesan gangguan dan saran untuk mengatasi gangguan tersebut. Lacak permintaan pengguna lintas sistem untuk informasi ketersediaan di konsol Google Admin. Baca juga: Mengenal Fungsionalitas API “UserInvitation” dari Google Workspace Mengubah visibilitas di Calendar Interop Di konsol Admin, buka Menu dan masuk ke Apps, lalu klik Google Workspace, dan pilih Calendar. Klik Calendar Interop management. Centang kotak Enable Interoperability for Calendar. Photo Credit: Google Workspace Updates Blog Di bawah Type, pilih Exchange Web Services (EWS). Di bawah Exchange Web Services URL, masukkan URL titik akhir server Exchange Web Services default yang terkait dengan server Exchange Anda. Ini adalah server Exchange yang sama tempat Anda membuat akun peran. Di bawah Exchange Role Account, masukkan alamat SMTP utama akun peran Exchange dalam format namapengguna1@contoh.com. Pilih metode autentikasi Anda: Basic authentication atau OAuth 2.0 client credentials. Jika memilih Basic authentication untuk Exchange, ikuti langkah-langkah berikut: Klik Enter Password dan masukkan kata sandi untuk akun atau Exchange role account. Masukkan kembali kata sandi untuk mengonfirmasi. Namun jika Anda memilih OAuth 2.0 client credentials untuk Exchange Online, ikuti langkah-langkah berikut ini: Di bawah Token endpoint URL, masukkan URL titik akhir token OAuth 2.0 dari penyewa Azure Anda. Di bawah Application (client) ID, masukkan Application ID yang ditetapkan untuk aplikasi Anda selama pendaftaran aplikasi. Di bawah Client secret, masukkan nilai dari rahasia klien yang ditetapkan ke aplikasi Anda selama pendaftaran aplikasi. Klik Save. Baca juga: Text-To-Speech API Google Cloud Kini Mendukung Custom Voice Ketersediaan fitur Update baru Calendar Interop ini dilakukan secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Perilisan dimulai pada tanggal 6 September 2022 (dan akan membutuhkan waktu hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Fitur tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace yang menggunakan Calendar Interop. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Update ini memungkinkan Anda untuk melihat visibilitas di Calendar Interop melalui Google Calendar. Dengan begitu, produktivitas yang memerlukan integrasi antara Calendar dan Exchange pun bisa berjalan lancar. Produktivitas di lingkungan kerja Anda akan semakin meningkat dengan dukungan dari Google Workspace. Rangkaian produktivitas Google Workspace bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology yang juga menyediakan layanan konsultasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Docs, Google Workspace

Kini Anda Bisa Insert Emoji Lebih Cepat di Google Docs, Bagaimana Caranya?

 Pada awal bulan April 2022 lalu, Google Docs menghadirkan fitur reactions menggunakan emoji. Fitur tersebut dihadirkan sebagai bentuk dukungan untuk menciptakan suatu ekosistem kerja yang suportif. Emoji dipilih karena dirasa lebih kasual dan ekspresif dibanding respons dalam bentuk tulisan. Perilisan fitur kala itu telah menyertakan set emoji versi terbaru (Emoji 14.0) dengan opsi yang lebih variatif untuk mencerminkan identitas Anda secara akurat. Kemudian pada akhir bulan Agustus 2022, Google Docs mengembangkan fitur tersebut. Tepatnya adalah dengan mengatur ulang cara mencari dan insert emoji. Kini emoji yang Anda masukkan bisa langsung sejajar dengan teks di Google Docs. Bagaimana caranya? Update Docs, insert emoji pun makin mudah Dalam update yang dihadirkan oleh Docs pada tanggal 29 Agustus 2022, Anda bisa menemukan satu fitur baru yang berhubungan dengan emoji. Lewat fitur baru tersebut Anda dapat insert emoji dengan cepat tanpa merusak tatanan teks yang sudah diketik sebelumnya. Menariknya lagi, fitur ini tidak memerlukan pengaturan administrator. Dengan kata lain, Anda bisa langsung menggunakannya tanpa harus menunggu izin dari administrator Workspace. Baca juga: Cara Buat Google Docs dan Tentukan Tugas dengan Mudah Cara menggunakan fitur Untuk mencari dan menambahkan emoji langsung sebaris dengan teks di Google Docs, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini: Ketik “@” diikuti dengan penanda, seperti “@smile,” untuk mencari emoji tertentu di antara item menu lainnya. Photo Credit: Google Workspace Updates Ketik “@:” atau “:” untuk melihat daftar dropdown emoji dan opsi untuk menavigasi ke seluruh katalog emoji yang tersedia. Photo Credit: Google Workspace Updates Jika Anda merasa kesulitan untuk menggunakan fitur, silakan kunjungi Help Center Google Workspace. Pihak Google telah menyediakan dokumentasi lengkap yang bisa Anda pelajari. Baca juga: Cara Membuat Dokumen Kolaboratif dengan Template Tabel Baru Google Docs Ketersediaan fitur Fitur emoji baru ini tersedia untuk seluruh pelanggan Google Workspace. Anda yang masih berlangganan rangkaian produktivitas G Suite Basic maupun G Suite Business pun bisa menggunakan fitur baru ini. Selain itu, fitur ini juga dapat digunakan oleh pemilih akun Google pribadi. Perlu diketahui, fitur ini dirilis secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun untuk rilis terjadwal. Untuk domain rilis cepat dimulai pada tanggal 29 Agustus 2022 dengan peluncuran bertahap (membutuhkan waktu maksimal 15 hari untuk visibilitas keseluruhan fitur). Sementara untuk domain rilis terjadwal dimulai pada tanggal 12 September 2022 juga dengan peluncuran bertahap (membutuhkan waktu maksimal 15 hari untuk visibilitas keseluruhan fitur). Baca juga: Pembaruan Google Docs: Lebih Cepat Temukan Fitur yang Sering Digunakan Fitur insert emoji di Google Docs ini mulanya dihadirkan untuk mendukung ekosistem kerja yang suportif. Dengan menambahkan emoji, para pihak yang berkolaborasi bisa memberikan respons yang lebih santai namun tetap penuh dukungan. Fitur ini memang dapat berjalan di akun Google pribadi. Namun kinerjanya akan lebih optimal jika Anda juga menggunakan aplikasi lain yang terdapat dalam rangkaian produktivitas Google Workspace. Jika saat ini lingkungan kerja Anda belum menggunakan Google Workspace, EIKON Technology siap membantu proses implementasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Produk Google Workspace yang kami sediakan pun telah berlisensi resmi sehingga implementasinya akan jauh lebih mulus dan stabil. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Strategi Kolaborasi Efektif bagi Perusahaan yang Menerapkan Hybrid Work

Kolaborasi di tempat kerja terus berkembang seiring dengan berkembangnya hybrid work. Sementara model kolaborasi “same-time” dan asinkron masing-masing umum digunakan, perusahaan terkadang lebih sering menerapkan salah satunya. Kemungkinan, hal tersebut karena pertemuan tatap muka atau berkolaborasi secara real-time telah menjadi setelan default bagi banyak perusahaan, sehingga mereka condong menerapkan kolaborasi same-time, bahkan saat muncul alat baru yang membuat pekerjaan lintas zona waktu dan lokasi menjadi mulus. Lantas, seperti apakah strategi kolaborasi yang efektif dalam penerapan hybrid work? Optimalkan kolaborasi same-time Dalam sejarah, banyak organisasi menghargai interaksi waktu yang sama untuk pertukaran informasi dan umpan balik yang cepat dan langsung. Namun di waktu yang sama, kolaborasi same-time pun memiliki beberapa kelemahan, terutama di lingkungan hybrid work. Baca juga: 5 Langkah Ciptakan Lingkungan Kerja Hybrid Inklusif yang Unggul Pertama, interaksi same-time bisa jadi sulit diatur. Mengkoordinasikan jadwal memerlukan perencanaan yang matang, terutama ketika karyawan tersebar di seluruh zona waktu atau bekerja di luar jam kerja tradisional. Kedua, penjadwalan back-to-back dapat berkontribusi untuk memenuhi kelelahan. Dalam survei yang dilakukan oleh Google dan Economist Impact, 72% responden mengakui bahwa rapat virtual meningkatkan inklusi dan partisipasi. Pada saat yang sama, 68% mengatakan ada terlalu banyak pertemuan virtual, menunjukkan bahwa meski karyawan menghargai kolaborasi same-time, mereka menginginkannya dalam jumlah sedang. Photo Credit: Google Cloud Blog Untuk kolaborasi same-time yang efektif dalam hybrid work, karyawan Anda memerlukan alat yang membantu mereka mengoordinasikan interaksi real-time dan meminimalkan waktu yang dihabiskan untuk beralih aplikasi dan konteks. Dengan Google Workspace, tim dapat membuat dan mengakses agenda bersama atau Google Docs di dalam undangan Google Calendar, membantu menyelaraskan tujuan sebelum, selama, dan setelah sesi kerja yang dijadwalkan. Semakin terintegrasi alat kolaborasi Anda, semakin mudah bagi karyawan untuk langsung bekerja saat inspirasi muncul atau keputusan cepat diperlukan. Misalnya, anggota tim dapat memulai sesi kerja spontan dengan memulai Google Meet langsung dari Docs, Sheets, or Slides. Photo Credit: Google Cloud Blog Memperluas potensi waktu kerja asinkron Adopsi yang meluas dari hybrid work telah mendorong perusahaan untuk lebih sering beralih ke kolaborasi asinkron (anggota tim bebas untuk berbagi dan menanggapi informasi dalam waktu mereka sendiri). Manfaat utama dari kolaborasi bertahap adalah meningkatkan pengalaman dan kesejahteraan karyawan (dengan mendukung kebiasaan kerja yang fleksibel). Mengizinkan anggota tim untuk terlibat saat mereka paling produktif atau saat tidak mengganggu waktu fokus yang dijadwalkan, akan mendukung kesejahteraan mereka. Baca juga: Komunikasi dan Kolaborasi Hybrid Berbagai Ukuran Tim dengan Google Workspace Cara ini juga dapat membantu karyawan merasa didengar, dihargai, dan diberdayakan. Kolaborasi asinkron juga dapat memberi anggota tim yang mungkin merasa tidak nyaman atau rentan untuk berbicara secara real-time atau yang hanya perlu waktu untuk memikirkan respons mereka. Kolaborasi asinkron dapat meningkatkan berbagai skenario kolaborasi, termasuk menetapkan tugas dan item tindakan, berbagi pengetahuan dan resources, bertukar pikiran, serta memberikan respons. Untuk membuat interaksi ini berhasil, karyawan memerlukan alat yang aman dan intuitif yang memberi mereka informasi yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka dari mana saja, kapan saja. Misalnya, di Spaces, anggota tim dapat memulai dan mengambil bagian dalam utas obrolan grup yang dikhususkan untuk diskusi berbasis proyek dan topik, serta mengakses file dan tugas, untuk tetap mengikuti setiap kali mereka dapat berpartisipasi. Saat berkolaborasi pada dokumen bersama, fitur seperti Smart Canvas memungkinkan rekan satu tim untuk menetapkan tugas, membuat daftar periksa, dan berbagi file menggunakan @-mentions untuk akses informasi yang mudah. Sementara itu, ringkasan bawaan otomatis di Docs membantu tim mendapatkan kecepatan tanpa kehilangan fokus. Photo Credit: Google Cloud Blog Fleksibilitas dan kolaborasi adalah dua hal saling terkait Membantu orang mengetahui tugas mana yang memerlukan kolaborasi same-time dan tugas mana yang lebih baik dilakukan secara asinkron sangat penting untuk mempertahankan produktivitas dan kesejahteraan di hybrid work. Karyawan yang diberdayakan untuk bekerja dengan cara yang melengkapi kebutuhan, preferensi, dan jadwal mereka biasanya lebih menghargai perusahaan atas fleksibilitas tersebut. Baca juga: Tips Tingkatkan Keterlibatan Karyawan dalam Lingkungan Kerja Hybrid Saat Anda membuat norma tim seputar kolaborasi same-time dan asinkron, Anda dapat membantu karyawan Anda tetap produktif dan terhubung (baik antar satu sama lain, maupun dalam konteks perusahaan yang lebih luas). Dengan memberi mereka alat yang mendukung pengalaman kolaborasi yang mulus dan aman dari mana saja, dampak pada produktivitas, kesejahteraan karyawan, dan moral dapat menjadi transformasional. Google Workspace menghadirkan berbagai aplikasi dan tool yang dapat Anda manfaatkan untuk mendukung kolaborasi same-time maupun mendorong model kerja asinkronisasi. Dapatkan produk Workspace resmi dengan metode penerapan yang efisien dan mulus melalui EIKON Technology. Selain menyediakan produk resmi berlisensi, kami juga menawarkan layanan konsultasi komprehensif, mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Hubungi kami di sini!

Google Meet, Google Workspace

Update Google Meet Hardware: Lebih Banyak Opsi untuk Framing di Konsol Admin

Google Meet hardware baru-baru ini mengalami update terkait dengan kapabilitas framing atau pembingkaian. Dalam update tersebut, tersedia beberapa perubahan, seperti peningkatan kemampuan untuk menemukan fitur “Frame people” dan peningkatan stabilitas keseluruhan pengalaman framing bagi pengguna. Sambil terus mengembangkan kapabilitas framing dan menyempurnakan Google Meet hardware, konsol Admin pun akan diperbarui sebagai penyesuaian. Selama beberapa waktu, Google akan mengganti pengaturan framing yang berlaku saat ini dengan opsi untuk mengatur default framing berdasarkan kemampuan kamera perangkat (seperti opsi untuk membingkai orang secara default, membingkai speaker, atau membingkai grup yang akan hadir sebagai update di masa mendatang). Hal ini membantu memastikan bahwa setiap perangkat hardware Meet menggunakan setelan yang paling sesuai untuk ruangan dan peserta. Mulai menambahkan opsi framing di konsol Admin Untuk menambahkan opsi framing baru ini pada Google Meet hardware di lingkungan kerja Anda, tidak diperlukan pengaturan dari administrator. Sebab pada dasarnya, update kali ini bersifat general dan dilakukan secara terpusat oleh Google Meet. Seluruh informasi mengenai update ini akan diperbarui secara berkala di Workspace Updates Blog mulai dari saat kontrol admin baru diluncurkan hingga visibilitas fitur lengkap. Sementara itu, end-user tidak perlu melakukan pengaturan apa pun karena perubahan ini berjalan secara otomatis. Namun penting untuk diingat, fitur baru ini tidak akan tersedia jika perangkat lain, seperti webcam, dihubungkan dengan meeting hardware kit. Baca juga: Device Google Meet Hardware yang Sesuai untuk Bisnis Anda Ketersediaan fitur Photo Credit: tirachardz (Freepik) Update baru untuk Google Meet hardware ini dilakukan secara bertahap, baik untuk domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Perilisan dimulai pada tanggal 8 September 2022 (dan akan membutuhkan waktu hingga 15 hari untuk visibilitas fitur). Update tersedia untuk seluruh pengguna Google Workspace, termasuk bagi pengguna yang masih menggunakan rangkaian G Suite Basic maupun G Suite Business. Perlu diingat, fitur baru ini hanya tersedia untuk perangkat Google Meet hardware yang belum mencapai tanggal auto-update expiration. Berikut adalah daftar lengkapnya: Asus Chromebox CN62 (kedaluwarsa per Juni 2021) Acer Chromebox CXI2 / CXV2 (kedaluwarsa per Juni 2021) Acer Chromebase for Meetings CA24V (kedaluwarsa per Juni 2021) HP Chromebox G1 (kedaluwarsa per September 2019)  Dell Chromebox (kedaluwarsa per September 2019)  Asus Chromebox CN60 (kedaluwarsa per September 2019)  Samsung Series 3 (kedaluwarsa per Maret 2018) Sedangkan perangkat yang belum mencapai auto-update expiration date di antaranya: Acer Chromebase for Meetings 24V2 (CA24V2) (kedaluwarsa per Juni 2025) Asus Chromebox 3 (CN65) (kedaluwarsa per Juni 2025)       CTL Chromebox CBx1 (kedaluwarsa per Juni 2025)  ASUS Google Meet Compute System (kedaluwarsa per Juni 2028)     CTL Google Meet Compute System (kedaluwarsa per Juni 2028)       Meet Compute System – Series One (kedaluwarsa per Juni 2028)      ASUS Google Meet Compute System (Intel 10th Gen) (kedaluwarsa per Juni 2028)  Meet Compute System – Series One (Intel 10th Gen) (kedaluwarsa per Juni 2028)    Baca juga: 5 Strategi Menjaga Hardware Perusahaan untuk Jangka Panjang Cara mengubah pengaturan untuk semua perangkat Google Meet hardware Photo Credit: tirachardz (Freepik) Administrator juga dapat menerapkan setelan berikut ke semua perangkat Google Meet hardware yang ada di lingkungan kerja Anda: Masuk ke konsol Google Admin Anda. Buka Menu lalu klik “Devices” dan masuk ke opsi “Google Meet hardware”, klik “Devices”. Di panel “Devices”, klik “Settings” Pilih panel yang berisi pengaturan yang ingin Anda ubah. Untuk menerapkan setelan ke semua orang, biarkan unit organisasi teratas dipilih. Jika tidak, pilih unit organisasi turunan. Pada halaman System settings page, ubah satu atau beberapa pengaturan untuk perangkat Anda. Klik “Save”. Jika Anda mengonfigurasi unit organisasi turunan, akan tersedia opsi “Inherit” atau “Override” terhadap pengaturan unit organisasi induk. Baca juga: Meet Hardware Dapat Membantu Produktivitas Kerja Saat Work from Home Itu dia ulasan mengenai update Google Meet hardware terbaru. Anda tidak perlu melakukan pengaturan tambahan untuk menikmati seluruh fitur yang ditawarkan karena semuanya akan muncul secara otomatis. Agar pengalaman online meeting semakin mulus, gunakan Google Workspace sebagai rangkaian produktivitas ekosistem kerja Anda. Produk Google Workspace resmi dan berlisensi bisa Anda dapatkan melalui EIKON Technology. Tidak hanya menyediakan produk, EIKON Technology juga menyedikan layanan konsultasi mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan Google Workspace. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Google Workspace

Laporan Work Insights untuk Google Chat dan Google Meet, Bagaimana Cara Kerjanya?

 Sejak diperkenalkan pada tahun 2018 lalu, Work Insights telah membantu banyak perusahaan dalam mengelola ekosistem kerja mereka. Work Insights sendiri merupakan sebuah tool yang menyajikan wawasan berbasis data terkait penerapan Google Workspace. Insights yang ditampilkan meliputi pola kerja hingga hasil kolaborasi antar tim. Dengan adanya upgrade dari Hangouts ke Google Chat untuk para pengguna Google Workspace, kini telah hadir Work Insights yang menyajikan laporan pemanfaatan Google Meet dan Google Chat. Simak ulasan berikut untuk mengetahui cara kerjanya. Mengenal apa itu Work Insights Photo Credit: Work Insights Help Work Insights adalah sebuah reporting tool untuk pemanfaatan Google Workspace yang memberi wawasan tentang dampak penerapan Google Workspace di lingkungan kerja Anda. Work Insights menyajikan laporan menggunakan diagram yang mudah dibaca, sehingga Anda dapat melihat metrik tentang adopsi, produktivitas, dan kolaborasi Google Workspace di perusahaan Anda. Work Insights memungkinkan visibilitas yang optimal ke dalam perjalanan transformasi digital perusahaan Anda, sekaligus membantu meningkatkan kolaborasi, mendorong pertumbuhan, dan banyak lagi. Sekarang, Anda dapat terus menggunakan diagram dan metrik yang mudah dibaca dari Work Insights untuk menganalisis dampak penggunaan aplikasi Google Chat dan Meet di lingkungan kerja Anda. Baca juga: Cara Menampilkan Metrik Pengguna Aktif Google Chat yang Lebih Detail Detail tambahan Photo Credit: Work Insights Help Work Insights menyertakan fitur untuk membantu mengurangi berbagai masalah terkait privasi. Ini termasuk membatasi akses data, menggabungkan data aktivitas, menjaga agar ukuran tim tetap minimum, dan juga melindungi item pekerjaan pengguna agar tetap pribadi. Tidak ada aktivitas Google Workspace pengguna individu yang ditampilkan secara terpisah dari pengguna lain dalam Work Insights ini, termasuk untuk laporan mengenai pemanfaatan Google Chat dan Meet. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai keamanan data pribadi di Work Insights, silakan cek dokumentasi dari Google di sini. Baca juga: Fitur Pencegahan Data Google Chat Sekarang Tersedia D\dalam Versi Open Beta Mulai menggunakan Work Insights untuk Google Chat dan Meet Penting untuk diketahui bahwa pengaturan Work Insights hanya bisa diakses oleh administrator yang mengelola ekosistem Google Workspace perusahaan Anda. Begitu pula untuk laporan yang menganalisis pemanfaatan Google Chat dan Meet. Bagi para administrator, pengaturan laporan Work Insights untuk Google Chat dan Meet dapat diakses melalui dashboard ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengaturan Work Insights, administrator bisa mengunjungi halaman bantuan ini. End-user tidak memerlukan pengaturan apa pun karena pada dasarnya pengelolaan laporan Work Insights hanya bisa diakses oleh administrator dan para pihak yang sudah ditunjuk oleh perusahaan. Ketersediaan Work Insights Work Insights untuk saat ini hanya tersedia bagi para pelanggan Google Workspace Enterprise Plus. Sayangnya, para pelanggan Google Workspace Essentials, Business Starter, Business Standard, Business Plus, Enterprise Essentials, Enterprise Standard, Education Fundamentals, Education Plus, Frontline, dan Nonprofits, begitu juga dengan rangkaian lama G Suite Basic dan G Suite Business, belum bisa menggunakan reporting tool ini. Untuk laporan pemanfaatan Google Chat dan Meet tersedia mulai tanggal 1 September 2022, baik bagi domain rilis cepat maupun domain rilis terjadwal. Namun perlu diingat, perilisan ini bersifat bertahap sehingga memerlukan waktu hingga 15 hari ke depan untuk visibilitas keseluruhan fitur. Baca juga: Mencoba Update Baru Google Chat Versi Web: Temukan Orang Lebih Mudah!

Calender, Google Workspace

Calendar User Availability API Meluncurkan Versi Beta, Bagaimana Cara Mendapatkan Aksesnya?

Calendar User Availability API akan segera hadir dalam versi beta. Nantinya, dukungan ini dapat digunakan untuk mengakses fitur lokasi kerja yang ada di Google Calendar secara terprogram. Untuk akses versi beta bisa Anda peroleh melalui Google Workspace Developer Preview Program. Sebelum mengajukan akses, ada baiknya Anda menyimak dokumentasi API terlebih dahulu sebagai persiapan. Langkah ini juga akan memudahkan Anda untuk memberikan feedback pengembangan API.  Cara kerja Calendar User Availability API Photo Credit: Google Workspace Updates Fitur working location yang ada di Google Calendar merupakan cara yang mudah bagi pengguna untuk berbagi tempat mereka akan bekerja pada hari atau periode waktu tertentu. Hingga saat ini, hanya end-user yang dapat membuat entri kalender ini. Sekarang, informasi tersebut dapat dibaca dan ditulis menggunakan API untuk mengelola dan mengakomodasi kebutuhan karyawan Anda. Pelanggan mengandalkan aplikasi lain untuk mengatur konteks lokasi mereka, seperti memesan meja dengan alat pemesanan hot desk atau meminta dan mengatur hari untuk WFHdi alat manajemen SDM. Prosedur ini membuat end-user harus melakukan langkah-langkah yang sama secara berulang. Dengan API, lokasi kerja pengguna dapat diatur secara terprogram atau diakses langsung dari kalender pengguna ke aplikasi pihak ketiga lainnya. Baca juga: Tips Gunakan Google Cloud Search Query API untuk Menyempurnakan Hasil Cloud Search Selain itu, dengan memunculkan konteks lokasi kerja ke dalam sistem dan alat lain seperti direktori tim internal, pelanggan dapat mengoptimalkan arus karyawan yang datang ke lokasi fisik kantor mereka. Anda juga dapat menggunakan API untuk mempersiapkan permintaan layanan makan, ruang konferensi, dan lainnya, berdasarkan data tersebut. Mulai menggunakan API Perlu diingat, Calendar User Availability API hanya dapat digunakan oleh administrator Workspace dan juga developer program, end-user tidak diperkenankan untuk mendapat aksesnya. Namun end-user bisa melakukan pengaturan pada fitur working location pada akun Google Workspace miliknya. Nah, sekarang mari simak panduan memulai Calendar User Availability API bagi administrator dan developer program. Untuk mulai menggunakan Working Location API, developer dapat mengajukan permohonan akses melalui Google Workspace Developer Preview Program. Nantinya Anda dapat menggunakan Calendar User Availability API untuk membaca dan menulis lokasi kerja pengguna. Penting untuk diingat, meski semua developer dapat menggunakan API, aplikasi yang dibuat menggunakan API hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki edisi Workspace yang memenuhi syarat. Di samping itu, Google juga telah menyediakan Help Center yang dapat diakses oleh para administrators jika mengalami kesulitan selama melakukan pengaturan working location bagi perusahaan mereka. End-user juga dapat mengakses Help Center untuk informasi lebih lanjut mengenai fitur working location di Google Calendar. Baca juga: Mengenal Fungsionalitas API “UserInvitation” dari Google Workspace Ketersediaan API  Photo Credit: DCStudio (Freepik) Meski semua pengembang dapat menggunakan API, aplikasi yang dibuat menggunakan API hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki edisi Workspace yang memenuhi syarat, yakni: Google Workspace Business Standard, Business Plus, Enterprise Standard, Enterprise Plus, Education Fundamentals, Education Plus, Education Standard, the Teaching and Learning Upgrade dan Nonprofits, termasuk rangkaian produktivitas G Suite Business.  Adapun edisi Workspace yang tidak dapat mengakses aplikasi dari API adalah Google Workspace Essentials, Business Starter, Enterprise Essentials, Frontline, serta rangkaian produktivitas lama G Suite Basic. Baca juga: Text-To-Speech API Google Cloud Kini Mendukung Custom Voice Calendar User Availability API versi beta ini membuktikan bahwa Google Workspace merupakan solusi produktivitas yang lengkap dan bisa terus dikembangkan. Tertarik untuk mulai menggunakan Google Workspace dalam ekosistem pengembangan program dan aplikasi Anda? EIKON Technology siap mendampingi Anda mulai dari tahap perencanaan hingga penerapan. Sebagai authorized reseller Google, EIKON Technology menyediakan solusi produktivitas Workspace yang resmi dan berlisensi. Untuk mulai konsultasi mengenai implementasi Google Workspace, silakan klik di sini!

Google Workspace

Memberdayakan Inovasi agar Dapat Membangun Bisnis yang Adaptif

Inovasi sering dikaitkan dengan suatu hal yang besar: meningkatkan keunggulan kompetitif atau mengembangkan produk baru. Namun sebenarnya semua itu dimulai dari hal-hal kecil. Mulai dari cara perusahaan secara teratur menyediakan waktu untuk berpikir kreatif, bereksperimen dengan proses, hingga menerapkan teknologi untuk berkolaborasi. Pendekatan inovasi ini membuatnya menjadi suatu eksplorasi berkelanjutan dari mode kerja yang membuat para karyawan merasa lebih terdorong untuk mencari tahu cara membuat pekerjaan mereka menjadi lebih efisien sehingga bisnis pun lebih tangguh. Ketika tim secara teratur diberdayakan untuk bereksperimen, penemuan yang muncul dan peningkatan produktivitas dapat membantu organisasi mengatasi tantangan yang tidak terduga dan membuka peluang baru. Menciptakan lingkungan yang mendorong terciptanya inovasi Photo Credit: Google Cloud Blog Pada akhirnya, terserah kepada setiap organisasi untuk menentukan cara terbaik untuk mengadopsi inovasi sebagai praktik sehari-hari. Namun, sebagai titik awal, ada nilai-nilai tertentu yang bisa diperkenalkan untuk membangun budaya yang mendukung pendekatan baru dalam bekerja. Dimulai dengan menciptakan suasana keamanan psikologis. Agar karyawan dan tim dapat mengambil risiko dalam mengembangkan inovasi, mereka harus merasa nyaman untuk berbicara, mengajukan pertanyaan, dan membuat kesalahan. Dorong karyawan untuk mengungkapkan rasa ingin tahu mereka. Selalu berikan apresiasi atas apa yang sudah mereka lakukan. Ketika karyawan merasa didengar, peluang mereka untuk berkontribusi pada potensi inovasi pun lebih besar. Namun mendengarkan tidak akan lengkap tanpa dorongan dari kepemimpinan. Agar perusahaan Anda lebih inovatif, dorong karyawan tingkat senior untuk memperkuat kontribusi rekan junior mereka. Baca juga: Trik Optimalisasi Chrome Browser untuk Tingkatkan Produktivitas Kerja Mempraktikkan inovasi Menumbuhkan nilai-nilai seperti keselamatan, inklusivitas, dan kolaborasi adalah langkah pertama untuk membangun inovasi menjadi kebiasaan sehari-hari. Untuk memperkuat inovasi perusahaan Anda, pertimbangkan latihan yang dapat membantu tim Anda menjadi lebih kreatif berikut: Selenggarakan dan fasilitasi latihan brainstorming rutin yang ditujukan untuk inovasi. Anda dapat mencurahkan sesi yang berbeda untuk topik tertentu. Alat virtual, seperti Google Meet untuk bekerja secara real-time atau Spaces untuk percakapan yang berkelanjutan, memastikan karyawan hybrid bisa tetap berpartisipasi dari mana saja. Saring keingintahuan calon karyawan. Gunakan Google Forms untuk membuat survei guna membantu tim dan manajer departemen menilai kandidat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bereksperimenlah sedikit setiap hari. Secara khusus, dorong karyawan Anda untuk menggunakan teknologi dengan cara baru. Cara ini akan memberdayakan mereka untuk menjadi kreatif. Jadwalkan sesi berbagi pengetahuan atau buat utas obrolan yang memungkinkan karyawan dapat bertukar tips dan praktik terbaik untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi di tempat kerja. Photo Credit: Rawpixel Dukung karyawan Anda untuk fokus pada inovasi yang tepat bagi mereka. Pekerjaan semacam ini sering membutuhkan kombinasi antara waktu individu dan kolaborasi kelompok. Preferensi orang untuk setiap jenis pekerjaan mungkin bergantung pada beban kerja dan jadwal harian mereka, berikan fleksibilitas kepada karyawan Anda untuk memutuskan kapan dan bagaimana mereka berkontribusi pada upaya inovatif. Dorong karyawan Anda untuk menggunakan Google Calendar dan mengambil Focus Time yang dikhususkan untuk aktivitas yang mendukung inovasi, seperti riset tren. Bantu tim Anda menemukan alat pilihan mereka untuk pekerjaan individu dan kolektif serta kolaborasi waktu yang sama dan bertahap. Alat interaktif seperti Jamboard dan Miro di Google Meet dapat menyempurnakan sesi kerja real-time. Baca juga: 4 Fitur Baru Chrome untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Membangun budaya kreatif membutuhkan waktu, dan ini merupakan sebuah proses berkelanjutan. Pertama, Anda harus menerapkan praktik yang kreatif. Setelah memunculkan serangkaian ide bagus, Anda pilih yang terbaik untuk dikembangkan. Terakhir, ujilah ide-ide tersebut, luncurkan dan sempurnakan berdasarkan data yang tersedia dan feedback dari pengguna. Jika inovasi dapat berjalan, waktunya untuk mengembangkan dan menskalakannya. Namun jika tidak, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi kegagalan Anda. Google Workspace beserta aplikasi, fitur, kapabilitas, dan resources produktivitasnya siap mendukung Anda untuk menciptakan suatu budaya perusahaan baru yang lebih kreatif sehingga mampu menciptakan inovasi. Belum menggunakan Google Workspace? Hubungi EIKON Technology untuk penerapan yang mulus, praktis, dan hemat biaya. Untuk informasi selengkapnya, klik di sini!

Google Workspace

Cara Mengembangkan Add-ons Workspace Melalui Google Apps Script

Selama menggunakan Google Workspace, pernahkah Anda merasa ingin menambahkan fitur tertentu agar pekerjaan semakin mudah. Namun sayangnya, tidak pernah ada satu produk yang benar-benar bisa mengatasi masalah setiap orang. Meski begitu, bukan berarti hal ini tidak ada solusinya. Agar Workspace bisa memenuhi kebutuhan Anda, Google menghadirkan Apps Script. Apps Script sendiri merupakan subset dari JavaScript yang memungkinkan pengguna Google Workspace untuk memanipulasi kinerja aplikasi di dalamnya. Selain itu, add-ons buatan Apps Script dapat diunggah ke Google Workspace Marketplace, sehingga Anda bisa membagikan solusi yang sudah Anda buat atau menemukan add-ons gratis yang dibuat orang lain untuk memecahkan masalah serupa secara gratis. Mulai membangun add-on Google Apps Script dapat diakses dari aplikasi Workspace seperti Google Docs, Sheets, Slides, and Forms, membuatnya mudah untuk membuat skrip terbatas dalam dokumen tertentu. Anda dapat membuat sebuah add-on sambil menggunakannya ketika sedang menjalankan aplikasi. Add-on yang masih dalam pengembangan akan ditolak, tetapi karena Google mengizinkan fitur dan pembaruan tambahan untuk ditambahkan setelah disetujui, maka ada baiknya Anda merancang add-on sederhana yang dapat dikembangkan nantinya. Anda bahkan bisa meminta feedback dari orang lain yang sudah menggunakan add-on. Baca juga: Add-Ons to Docs and Sheets: A Little Something Extra Mempersiapkan add-on di Google Workspace Marketplace Setelah add-on siap digunakan, ada beberapa item yang perlu disiapkan sebelum dapat diunggah ke Marketplace untuk ditinjau: Situs web add-on: Marketplace mengharuskan semua add-on untuk memiliki situs web mereka sendiri yang hidup di domain yang dimiliki pembuatnya (bukan di Google Sites). Nama domain tidak harus berupa nama produk. Situs web add-on juga harus menyertakan halaman kebijakan privasi dan halaman persyaratan layanan. Halaman ini harus dapat diakses dari tingkat atas situs, dengan tautan ke kebijakan privasi dan persyaratan layanan yang tersedia. Logo aplikasi: Setiap add-on memerlukan logo aplikasi yang harus ditampilkan di situs web aplikasi. Ini tidak boleh menyertakan apa pun yang terlihat mirip dengan logo Google, termasuk semua logo produk. Ukuran logo kunci untuk verifikasi oAuth adalah 120×120. Menghubungkan add-on ke Google Cloud Project Setelah situs web dan logo aplikasi siap, saatnya menghubungkannya ke Google Cloud Project (GCP). Anda dapat memulai proyek baru di https://console.cloud.google.com, tetapi sebelum dapat menghubungkan proyek GCP ke skrip, selesaikan verifikasi OAuth terlebih dahulu. Photo Credit: Google Cloud Blog Dari Google Cloud Console, gunakan menu 3 baris di kiri atas untuk memilih “API’s & Services” dan pilih “OAuth consent screen” dari menu. Di sini, Anda dapat mengatur apakah add-on akan dipublikasikan sebagai aplikasi internal di domain Google Workspace Anda atau sebagai aplikasi eksternal yang dapat diakses siapa saja. Selanjutnya, unggah logo aplikasi dan masukkan tautan ke situs web aplikasi, kebijakan privasi, dan persyaratan layanan ke layar persetujuan OAuth. Setelah mengirimkan semua elemen yang diminta untuk layar persetujuan OAuth, Anda akan diarahkan kembali ke dasbor untuk meninjau aplikasi. Untuk menghubungkan skrip ke nomor project GCP, pilih editor skrip add-on dari dasbor di sidebar. Setelah itu, navigasikan ke project settings cog dan tempel nomor proyek. Baca juga: Membuat Aplikasi Customer Experience dengan Google Docs di Appsheet Membangun pratinjau YouTube Anda Sebelum memublikasikan, Anda perlu menyiapkan video YouTube untuk tujuan. Berikut cara yang direkomendasikan untuk membangun pratinjau YouTube: Navigasikan ke bagian Security akun Google Anda dan pilih “Third party apps with account access”. Hapus akses otorisasi yang Anda berikan sendiri selama pengujian. Saat jendela otorisasi Anda merekam layar, pilih untuk menguji add-on. Perhatikan bahwa audio tidak diperlukan karena ini bukan tutorial, hanya demonstrasi. Pastikan untuk menunjukkan Client ID di otorisasi add-on. Dalam rekaman, gulir melalui URL di bagian atas pop-up otorisasi, jeda pada Client ID cukup lama agar peninjau dapat mengonfirmasi bahwa ID dalam URL cocok dengan nomor proyek pada proyek Google Cloud. Photo Credit: Google Cloud Blog Setelah video selesai, Anda bisa langsung mengunggahnya ke YouTube. Video ini dapat disetel ke format unlisted, tetapi tidak dapat disetel menjadi video pribadi. Baca juga: Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Menyederhanakan Proses Kerja Jika ini adalah percobaan pertama Anda mengirimkan add-on untuk Google Marketplace, prosesnya mungkin akan terasa begitu panjang. Bahkan tidak menutup kemungkinan Anda akan mendapat penolakan. Bagaimanapun juga, mereka harus selalu memastikan bahwa end-user memiliki pengalaman positif dalam menggunakan add-on Google. Namun jangan lekas putus asa, terus lakukan evaluasi terhadap skrip Anda dan mintalah feedback dari orang lain. Akan lebih baik lagi jika add-on buatan Anda kemudian diterapkan sebagai solusi produktivitas di tempat kerja Anda. Penggunaan Workspace pun akan lebih optimal. Perusahaan Anda belum menggunakan Workspace? EIKON Technology menawarkan solusi penerapan Google Workspace yang mulus dan terjangkau. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik di sini!

Collaboration, Google Workspace

Keberhasilan Merger Gojek dan Tokopedia, Tak Lepas dari Peran Integrasi Google Workspace

Merger antara dua startup raksasa Indonesia, Gojek dan Tokopedia menjadi salah satu kabar bisnis terhangat pada tahun 2021 lalu. Kabar tersebut bahkan tidak hanya ramai diperbincangkan di Indonesia, tapi juga hingga mancanegara. Alasannya tak lain adalah karena performa Gojek sebagai perusahaan berbasis teknologi yang berkembang dengan pesat. Didirikan pada tanggal 5 Oktober 2009, pada tahun 2019 lalu, Gojek berhasil menjadi startup decacorn pertama Indonesia. Merger Gojek dan Tokopedia yang melahirkan Grup GoTo pun semakin membesarkan nama kedua startup tersebut. Tidak hanya sekadar populer, keduanya bahkan menawarkan lebih banyak layanan untuk memenuhi setiap kebutuhan masyarakat. Terlebih kini GoTo mulai merambah pasar Asia Tenggara dengan menghadirkan layanan di Vietnam, Singapura, Thailand, serta Singapura. Namun di balik semua itu, pada dasarnya merger bukanlah suatu mekanisme bisnis yang simpel, terlebih jika melibatkan dua perusahaan besar yang sama-sama bonafide. Masing-masing perusahaan tentu memiliki nilai, metode operasional. dan tentu saja cara kerja yang berbeda. Untuk mencapai merger cara kerja yang sukses, GoTo Group memiliki satu kunci rahasia: integrasi Google Workspace. Manfaatkan ekosistem kolaborasi Google Workspace Photo Credit: gotocompany.com Selain sama-sama identik dengan warna hijau, ternyata Gojek dan Tokopedia sama-sama menggunakan Google Workspace untuk mendukung sistem kerja mereka. Seluruh staf dari kedua raksasa startup Indonesia tersebut telah terbiasa untuk bekerja dalam ekosistem kerja Workspace. Pada dasarnya, Google telah mendesain Workspace sebagai sebuah ruang kerja yang kolaboratif dan intuitif. Pengguna bisa dengan mudah mengundang dan menambahkan anggota dalam ruang kerjanya untuk kemudian mengerjakan proyek kerja bersama. Jika satu-dua orang saja yang harus diundang, tentu tidak akan menjadi masalah besar, namun bagaimana jika harus menambahkan seluruh staf yang ada dalam satu perusahaan? Jelas akan menjadi suatu tantangan tersendiri. Tidak mungkin pengguna menambahkan satu per satu staf dari perusahaan merger, karena jelas akan memakan banyak waktu, tenaga, dan tentunya biaya. Operasional bisnis pun berisiko terganggu karena harus menunggu proses tersebut. Dukungan migrasi Google Workspace dari EIKON Technology Untuk memastikan agar merger ekosistem Google Workspace Gojek dan Tokopedia berjalan lancar, tentu dibutuhkan suatu solusi yang tidak sekadar berpengalaman, tapi juga mampu meminimalkan berbagai risiko yang mungkin timbul. Di sinilah EIKON Technology hadir sebagai solusi. EIKON Technology merupakan sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi (TI), outsourcing, dan pengembangan yang didirikan pada tahun 2007. Memulai debutnya sebagai salah satu dari 10 Google Apps Partner pertama di dunia, EIKON Technology telah berpengalaman dalam mengembangkan solusi teknologi inovatif untuk berbagai tantangan bisnis, termasuk mekanisme merger antara dua perusahaan atau lebih. Photo Credit: DCStudio (Freepik) Dengan dukungan migrasi dari EIKON Technology, proses merger ekosistem Google Workspace antara Gojek dan Tokopedia pun berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Total, proses merger ini menghabiskan waktu selama 3 bulan, terhitung singkat jika mengingat skala bisnis Gojek dan Tokopedia yang memang sudah begitu luas. Boris Hadjuk, Chief Information Security Officer (CISO) bahkan memuji lancarnya proses merger ekosistem Google Workspace Grup GoTo. Hadjuk mengungkapkan bahwa EIKON Technology berhasil menghadirkan sebuah solusi yang mustahil dijalankan dalam proses merger Global Fashion Group pada tahun 2018. Global Fashion Group sendiri merupakan sebuah e-commerce raksasa Singapura, tempat Hadjuk sempat menjabat sebagai Group CISO.   Solusi yang dihadirkan oleh EIKON Technology dalam proses merger Grup GoTo sekali lagi membuktikan bahwa ekosistem Google Workspace merupakan sebuah ekosistem kerja yang kolaboratif. Namun tentu saja hal ini juga tak lepas dari komitmen EIKON Technology dalam menghadirkan solusi teknologi inovatif yang dapat menjawab berbagai tantangan bisnis yang tengah dihadapi oleh perusahaan. Informasi selengkapnya mengenai berbagai solusi teknologi yang ditawarkan EIKON Technology, tersedia dalam website resmi www.eikontechnology.com.

Calender, Google Workspace

Upgrade Otorisasi OAuth 2.0 agar Calendar Interop Tetap Berjalan

Di tahun 2020 lalu, Google Workspace sempat mengumumkan dukungan OAuth 2.0 untuk memastikan Calendar Interop tetap tersedia meski Microsoft sudah menonaktifkan autentikasi dasar di Exchange Online mereka. Pada tanggal 1 Oktober 2022 nanti, Microsoft secara resmi akan mulai menghapus kemampuan untuk menggunakan autentikasi dasar di Exchange Online untuk Exchange Web Services. Ini akan memengaruhi pelanggan Workspace yang menggunakan Calendar Interop dengan autentikasi dasar Microsoft Office 365 untuk menjalankan Microsoft Exchange dan Google Calendar bekerja bersama.  Mengenal Calendar Interop Photo Credit: mamewmy (Freepik) Calendar Interop memungkinkan administrator untuk dapat menjalankan Microsoft Exchange dan Google Calendar bersamaan. Dengan begitu, pengguna kedua sistem kalender tersebut dapat berbagi ketersediaan mereka sehingga semua orang dapat melihat jadwal masing-masing. Dengan Calendar Interop administrator dapat: Mengaktifkan sistem di skala domain. Mengizinkan pengguna Calendar memesan item yang ada di Exchange, seperti ruang rapat, saat mereka menjadwalkan rapat. Menggunakan alat otomatis untuk memverifikasi penyiapan. Melihat pesan kesalahan dan saran untuk mengatasi kesalahan tersebut. Melacak permintaan pengguna lintas sistem untuk informasi ketersediaan di konsol Google Admin. Baca juga: Update Google Calendar: Lebih Banyak Opsi Tersedia untuk Working Location Sedangkan pengguna Calendar dan Exchange yang telah terhubung melalui Calendar Interop dapat: Melihat informasi ketersediaan pengguna, kalender grup atau tim, dan item pada kalender (seperti ruang rapat) di seluruh sistem. Telah mendukung ketersediaan dan pencarian informasi acara tambahan. Untuk ketersediaan, hanya blok “busy” yang terlihat oleh pengguna. Untuk informasi acara tambahan, hanya “title” dan “location” acara yang dapat dilihat. Informasi kalender dapat dilihat untuk peserta rapat di seluruh sistem saat menjadwalkan acara (misalnya, menggunakan opsi “Find a time” di Google Calendar atau “Scheduling Assistant” di Exchange). Selain itu, pengguna Exchange 2016 atau yang lebih baru dapat menambahkan kalender ke Google Calendar dalam tampilan utama mereka. Penting: Interop Kalender menghormati pengaturan privasi tingkat acara. Jika acara ditandai sebagai “private” di Exchange, detail acara tidak akan terlihat di Google Calendar. Demikian pula, jika acara ditandai sebagai “private” di Google Calendar, detailnya tidak akan terlihat di Exchange. Memesan item di Exchange (seperti ruang rapat) saat membuat acara di Google Calendar. Menggunakan Calendar Interop dengan Google Calendar di Android, Apple iOS, dan klien web. Menggunakan Calendar Interop dengan Microsoft Exchange 2013 atau yang lebih baru, atau klien Exchange Online (Microsoft 365). Ini juga termasuk versi Outlook komputer, seluler, dan web. Baca juga: Cara Menampilkan Lokasi Kerja di Google Calendar Meningkatkan autentikasi OAuth 2.0 untuk bisa terus gunakan Calendar Interop Photo Credit: Google Workspace Updates Seperti yang telah disebutkan di bagian awal, untuk bisa terus menggunakan Calendar Interop, administrator perlu melakukan upgrade ke OAuth 2.0. Namun perlu diingat, hal ini hanya berdampak pada implementasi Microsoft Exchange Online (Microsoft 365). Jika saat ini Anda menggunakan implementasi Exchange lokal, maka tidak perlu melakukan upgrade apa pun. Google Workspace telah menyusun sebuah panduan di Help Center untuk membantu administrator dalam menyiapkan Calendar Interop dan langkah-langkah yang diperlukan dalam upgrade ke OAuth 2.0. End-user tidak perlu melakukan pengaturan mandiri karena setelah administrator selesai menyiapkan, Calendar Interop bisa langsung digunakan. Baca juga: Berbagi Janji Temu di Google Calendar Kini Lebih Mudah, Bagaimana Caranya? Dengan Calendar Interop, Anda dapat mengakses informasi yang tersedia di dua sistem kalender sekaligus: Google Calendar sekaligus Microsoft Exchange. Agar tidak kehilangan kapabilitas tersebut, jangan lupa untuk melakukan upgrade ke OAuth 2.0 sebelum tanggal 1 Oktober 2022. Selain Calendar untuk menyusun jadwal Anda, Google Workspace juga menawarkan sejumlah aplikasi produktivitas lainnya seperti Docs dan Slides. Rangkaian produktivitas ini bahkan dapat digunakan untuk skala besar seperti di perusahaan atau instansi pendidikan. Dapatkan rangkaian Google Workspace for Business untuk bisnis Anda hanya di EIKON Technology. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik di sini!

Scroll to Top